Hai hai~ Yuu balik lagi! #digebuk reader
Gomen updatenya lama #Te-he
Happy New Year! \^o^/
Yuu balas review dulu^^
Yukiko Senju: makasih dah review~ jawabannya ada dichap ini^^
Fuzai : Hehe gomen ne~ Yuu binggung mau buat penasaran kayak gimana. Jangan benci Sai Fuu-san~ Sai emang suka Naru-chan, tapi dia juga mau Naru-chan bahagia. Hehehe #ditampar Sai. Makasih Fuu-san udah review^^
Onyx sky : Nih udah lanjut^^ Iya Sasu mulai cinta sama Naru-chan. Kyaa~ Iyap! Sasuke itu pangeran ayam XD #chidoried. Makasih udah review^^
Ryuusuke583 : Boleh-boleh, ini dah Yuu tambahin wordsnya^^ Yeyy~ jadi fujoshi emang suatu kebahagiaan terbesar hehe. Makasih Ryuu-san udah review^^
Michhazz : Iya, Kushina jadi pelayannya Sasu-Teme. Itu jawabannya ada dichap ini ^^ makasih Michhazz udah review^^
Hanazawa Kai : sama-sama^^ makasih dah mau baca fic abal ini^^
B-Rabbit Ai : Nih udah lanjut XD Ini dah Yuu panjangin semoga gak mengecewakan ^^ makasih udah review^^
Gici Love Sasunaru : Hehe iya Sasu-teme mulai tergoda #eh sama naru-chan. Nih udah lanjut. Makasih Gici-chan udah mereview^^
Sakura Ame : Hallo juga Sakura-san~ hontou? Menarikkah? #nangis haru. Makasih udah dukung fic abal Yuu^^ Gomen chap pertama emang super abal hehe. Ini udah lanjut. Moga ngak mengecewakan. Makasih udah review Sakura-san ^^
Amd radeon : iya memang sasu duluan yang suka sama naru-chan^^ Ni udah lanjut semoga ngak mengecewakan. Makasih udah mereview^^
Nope : iya saya juga ngak tega memisahkan mereka~ huhuhu~ #nangis bombai. Makasih udah mereview^^
Inez Arimasen : Arigato na^^ ini lanjutannya. Makasih udah mereview Inez-san ^^
Makasih buat semua yang udah mendukung, baca, mereview, fav, atau follow fic abal Yuu.^^
Chap 4 start! Semoga ngak mengecewakan! Review please! Arigato na^^
Long Kiss Goodbye by Yuu Nightmarie Phantomhive
NARUTO by Masashi Kishimoto
(Naruto dan segala karakter didalamnya bukan milik saya)
Genre: Hurt/comfort/Romance
Warning: AU, OOC, typos, Newbie, EYD kacau balau, tata bahasa serampangan (?), abal, gaje, BL, BoyxBoy, LIME, SasuNaru. Bisa baca kan? =-="
DON'T LIKE, DON'T READ!
Chapter 4 : The Past
"Aku tidak mengerti apa maksudmu Kakashi.", jawab Sai kalem sambil memalingkan wajahnya dari seorang pria berambut perak. Iris hitamnya kembali meneliti lukisan indah yang telah dia buat. Ya, lukisan yang ia buat dengan sepenuh jiwanya.
"Aku tak tau dimana tuanmu berada.", lanjutnya pelan.
Perlahan-lahan jari telunjuknya mengusap pipi merona pemuda blonde pada lukisan itu. Ia tersenyum lembut menganggap pemuda dalam lukisan itu nyata dan benar-benar sedang berada dihadapannya. Sebut dia gila atau apalah, dia tidak peduli.
Kakashi sedikit mengernyitkan dahinya melihat kelakuan pemuda raven itu. Ia berjalan mendekati Sai, berdiri tepat dibelakang pemuda itu. Matanya mencuri pandang sejenak kearah lukisan tersebut.
'Cantik', batin Kakashi.
Sai tak memperdulikan Kakashi. Jemari panjangnya yang semula berada di pipi tembam pemuda beriris langit itu kini beralih menyusuri bibir merah muda si pirang. Sai tersenyum lagi.
"Ehem."
Kakashi berdehem membuyarkan lamunan si lawan bicara. Sai yang sedang tenggelam dalam fantasinya menjadi sedikit tersentak. Ia menoleh tak suka kearah Kakashi.
"Apalagi yang kau inginkan dariku? Bukankah aku sudah menjawab pertanyaanmu?", tanya Sai lelah. Matanya menyiratkan kekesalan yang teramat sangat. Ia menatap Kakashi tajam, tak ingin diganggu lagi oleh pria berambut perak itu. Tak ingin saat-saat berharganya terganggu ketika ia sedang berdua dengan pujaan hatinya.
"Aku hanya ingin mengetahui keberadaan Tuanku. Aku tahu kau dapat membantuku. Bukankah kau selalu mengetahui apa saja? Bukankah kau adalah sepupunya?", jawab Kakashi sambil tersenyum.
"Ck! Tak ada yang kuketahui tentang dia Kakashi sungguh! Bagaimana mungkin aku mengetahui keberadaan Tuanmu yang arogan itu?! Aku tak perduli pada semua yang dia lakukan!", seru Sai kesal. Entah kesal kepada Kakashi atau kepada Sasuke ia tidak tahu. Hatinya merasa kesal saat mengetahui bahwa pemuda pirang kesayangannya mengenal Pangeran dingin yang tak berperasaan itu. Ya, pemuda pirang kesayangannya. Entah sejak kapan ia tertarik pada Naruto. Yang ia tahu hanyalah Naruto selalu berada dipikirannya. Si pirang itu selalu hilir mudik diotaknya hingga menimbulkan getaran kuat dijantungnya hanya dengan memikirkan pemuda itu. Sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Apa kau tak mau membantuku, Sai?", tanya Kakashi sekali lagi.
Sai berdiri dari tempatnya, meletakkan lukisannya dengan hati-hati layaknya boneka porcelain yang rapuh. Ia berjalan kesudut ruangan dimana terdapat sebuah jendela besar yang telah terbuka lebar. Semilir angin berhembus lembut, menerbangkan helai demi helai rambut ravennya. Menutup matanya sejenak, ia menghela nafas berat. Jika Ia memberitahu Kakashi dimana Sasuke berada, ia pasti bisa dengan lebih mudah mendapatkan Narutonya. Tapi ia sadar sekarang dia sedang berhadapan dengan Kakashi. Seorang kaki tangan keluarga Uchiha. Bukan tidak mungkin Kakashi akan segera meluncur ketempat Naruto dan memaksa untuk membawa Sasuke pergi, tapi dia tidak mau Naruto terlibat masalah pelik ini. Bisa-bisa Naruto dicurigai sebagai pelaku yang membuat Sasuke kabur dari istana. Ia tak mau hal itu terjadi. Sasuke brengsek!
Sai memandang langit senja dengan tatapan sendu. Merasa binggung dengan apa yang sebaiknya harus ia lakukan.
"Ya. Tak ada yang kuketahui Kakashi.", jawab Sai pelan.
Kakashi menghela nafas panjang. Pemuda berambut perak itu membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah pintu keluar.
"Baiklah, terima kasih. Jika ada yang kau ketahui tolong beritahu aku nanti. Aku akan sangat menghargainya. Maaf sudah mengganggu waktumu."
"Ya.", jawab si raven seadanya tanpa berniat membalikkan badannya sekedar hanya untuk melihat kepergian Kakashi.
"Sai.", kata Kakashi sambil berhenti diambang pintu.
"Hn?"
"Karyamu itu sungguh sangat indah. Wajar saja jika kau lebih dikenal sebagai seorang pelukis daripada seorang bangsawan. Hei, sesekali berkunjunglah ke istana. Aku pergi."
BLAM
'Bangsawan eh?', Sai mendengus memikirkan hal itu.
Sai memandang langit jingga kemerah-merahan didepannya. Mata onyx miliknya menerawang jauh. Ia berfikir, apakah ini yang sebaiknya ia lakukan? Dia yakin ia pasti akan menyesali perbuatannya suatu saat nanti karena telah melepas kesempatan yang baik ini.
.
.
.
Naruto's POV
CKLEK
Kulihat Sasuke berjalan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan kepala ayamnya dengan sebuah handuk. Ia menghampiriku yang sedang duduk dipinggir ranjang kemudian ikut duduk disebelahku. Aroma mint menguar dari tubuhnya. Tanpa sadar aku mencondongkan badanku kearahnya. Hidungku mulai mengendus-endus dan menghirup sebanyak-banyaknya aroma mint segar yang entah kenapa sekarang menjadi aroma kesukaanku. Aroma tubuhnya membuatku nyaman.
"Kau kenapa Dobe?", tanya Sasuke sambil menatap mata biru langitku.
Aku tersentak dan kusadari tubuhku begitu dekat dengannya. Sedikit lagi dan nyaris saja aku mengenai bagian belakang telinga pemuda raven itu. Aku segera memalingkan wajahku, merasa begitu malu untuk menatapnya. Dan kusadari wajahku kian memanas. Pipiku merona hebat.
'Apa yang tadi aku lakukan?!', teriakku dalam hati.
"Dobe? Kau tidak apa-apa?", tanya Sasuke sambil menggengam tanganku.
Aku terkejut menerima perlakuannya. Belum sempat aku beradaptasi dengan perbuatannya, ia membalikkan tubuhku dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
"Kau sakit Dobe?", tanya Sasuke dengan wajah yang menyiratkan kekhawatiran.
"A-Aku-", kataku terbata-bata. Mata biruku bergerak-gerak gelisah. Tak dapat fokus. Detak jantungku semakin bertambah cepat ketika aku kembali mencium harum tubuhnya. Kepalaku serasa penuh dengan aroma mint yang memabukkan itu, membuat deru nafasku tak lagi stabil.
"Hn?"
"A-Aku mau mandi dulu!", sahutku kesetanan, menepis tangannya yang berada di pipiku dan segera berlari menuju kamar mandi.
BLAM
"Hosh.. Hosh.."
Kakiku serasa lemas, dan kini aku terduduk dilantai kamar mandi yang dingin. Aku mengerakkan tanganku menuju pipiku, tepatnya daerah yang tadi disentuh oleh pemuda raven itu. Tangannya yang lebar begitu hangat dan-
BLUSH
Kurasakan pipiku semakin memanas mengingat apa yang tadi terjadi.
'Apa yang Sasuke lakukan kepadaku?!'
"Hah~ Mungkin sedikit air dingin dapat menyegarkan kepalaku."
.
.
End of Naruto's POV
.
.
.
Sasuke's POV
Malam mulai datang. Terdengar sayup-sayup suara burung hantu yang mulai keluar mencari makan dan sejumlah makhluk nocturnal lainnya. Udara kian mendingin, mengingat saat ini sedang turun salju. Musim yang paling menyebalkan. Salju bertaburan dimana-mana membuat sekeliling menjadi lautan putih. Saat ini aku sedang berada didapur bersama Dobe. Kami berdua duduk saling berhadapan disebuah meja makan tua yang terbuat dari kayu. Kulihat ia memakan ramennya dengan lahap.
"Ne~ Teme? Kenapa kau tak menyentuh ramenmu sama sekali? Kau tidak suka? Padahal enak begini.", tanya Naruto sambil mengembungkan pipinya.
Aku menghela nafas sejenak kemudian mendorong ramen milikku kearahnya.
"Eh?!", ia terpekik melihat perbuatanku.
"Makan saja punyaku Dobe. Pipiku bisa tembam sepertimu kalau aku makan makanan berlemak seperti itu.", jawabku sambil berdiri dari tempat dudukku.
Kulihat ia mengerucutkan bibirnya dan mengerutu tidak jelas. Mungkin kesal karena kubilang pipinya tembam.
Aku berjalan menuju sebuah meja kecil dimana terdapat sekeranjang tomat merah segar disana. Aku memakan benda bulat kesukaanku itu dengan tenang. Mataku beralih pada sebuah jendela yang berada didapur ini. Sebuah jendela besar yang kini menampilkan jatuhan butiran salju. Salju malam ini turun begitu lebat. Aku yakin tak ada seorang pun yang ingin berpergian ditengah cuaca yang buruk seperti ini.
Aku jadi teringat malam dimana aku kabur dari istana. Mengendap-endap sambil menghindari para penjaga merupakan suatu pengalaman tersendiri bagiku. Seharusnya aku melakukannya sedari dulu. Begitu menyenangkan. Aku tak peduli kemana kakiku akan membawaku pergi, yang ada dipikiranku saat itu hanya menjauh dari sangkar emas yang kusebut istana. Aku muak dengan semua yang sudah digariskan ayahku untukku. Baik apa yang harus kulakukan bahkan dengan siapa aku harus menikah. Aku muak. Aku benci dengan semua orang yang berada ditempat itu. Mereka semua penjilat, mendekatiku hanya karena kedudukanku.
Hari itu aku berjalan menyusuri badai salju yang begitu lebat. Ditengah keremangan malam, aku berjalan terseok-seok tanpa tentu arah. Udara dingin semakin lama semakin menusuk tulang. Penglihatanku mengabur, hidungku memerah. Tubuhku bergetar hebat. Mulutku terus-menerus mengeluarkan kepulan asap. Kakiku terasa berat dan tanganku mati rasa. Aku tersungkur dan wajahku sukses mencium tanah dingin yang dilapisi salju putih. Perlahan-lahan kesadaranku menghilang. Aku kehilangan diriku. Dan saat aku terbangun lagi, yang kulihat adalah sesosok pemuda pirang dengan mata biru jernih yang memikat.
Aku mengalihkan pandanganku kepada Naruto yang kini sepertinya telah menyelesaikan makan malamnya.
"Hah~ aku kenyang Teme.", katanya sambil mengelus perutnya, tanda ia kekenyangan.
"Ayo kita tidur aku mengantuk. Hoam~", kata Naruto sambil menguap kemudian memejamkan kedua matanya.
"Hn.", jawabku sambil berjalan mendekatinya.
Mata onyxku tergoda menelisik setiap inchi tubuh tan yang kini terbungkus oleh piyama oranye bergambar rubah kecil. Aku mendengus pelan. Apa sebegitu sukanya ia dengan hewan itu? Ya, dia memang terlihat seperti seekor rubah kecil yang manis.
Aku mengeser sebuah bangku kayu tua dan mulai duduk disampingnya. Saat kuperhatikan wajahnya, mataku menangkap ada sisa ramen dimulutnya.
"Hn, kau makan seperti anak kecil saja Dobe.", kataku sembari mengambil sebuah serbet yang ada diatas meja makan kemudian mengelap sudut bibirnya dengan hati-hati.
Kulihat pipinya merona. Ah, manis sekali. Wajahnya yang merona itu membuatnya semakin mengemaskan saja. Entah sejak kapan aku mulai menyukai pemuda pirang ini. Pemuda yang telah menyelamatkan hidupku. Aku bahkan tak peduli jika kami baru saja bertemu. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang menarikku untuk semakin mendekati pemuda ini. Suatu perasaan asing yang membuatku merasa hangat dan nyaman.
Wangi jeruk menyapa indera penciumanku saat aku semakin mendekatkan tubuhku kepadanya dan nyaris membuatku gila. Kutatap iris cerulean miliknya intens, mencoba menyelami pikirannya. Aku melingkarkan tangan kiriku dipinggang rampingnya. Ia membatu ditempat. Kurasakan deruan nafasnya menerpa lembut wajahku. Kuusap pipi meronanya pelan dengan tanganku yang bebas. Pipi kenyalnya memanas dibawah telapak tanganku. Tanganku pun beralih menuju leher putih jenjangnya yang terekspos jelas. Jemariku menelusuri ceruk lehernya dan membuat gerakan melingkar disana. Dapat kurasakan tubuhnya gemetar karena perbuatanku.
"Te-Teme. Le-Lepas."
Kulihat ia mengeliat gelisah dalam pelukanku. Bukannya melepaskan pelukanku, aku malah semakin gencar mendekatkan wajahku kewajah tan miliknya. Aku mendekatkan bibirku dan nekat mencium bibir merah mudanya. Entah setan apa yang mendorongku berbuat gila seperti ini. Ia tersentak kaget dan membelalakkan matanya. Ia berusaha berontak mencoba melepaskan diri dari pelukanku namun tentu hasilnya sia-sia. Ia mencoba berteriak namun suaranya telah kubungkam dengan ciuman ganasku. Aku mencium bibirnya rakus. Kuhisap bibirnya hingga sedikit membengkak. Aku sudah tidak perduli yang kucium ini adalah seorang laki-laki.
"Ng. Hmp. Hmph. Hmphh!"
Aku menjulurkan lidahku, meminta izin untuk memasuki rongga basah mulutnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya menolak kehadiran bibirku yang terasa asing baginya. Penolakannya itu membuatku semakin kesetanan. Aku dibuat mabuk oleh rasa bibirnya.
"Argh!", aku meringis kesakitan ketika kurasakan ia menggigit bibirku. Ciuman panas kami pun terlepas. Ia segera mengambil langkah seribu, menjauhkan dirinya dariku. Aku mengusap mulutku yang mengeluarkan sedikit darah segar . Mata biru indahnya menatapku tajam. Penuh aura membunuh.
"Hosh. Hosh. Dasar Teme jelek! Hosh. Apa yang kau lakukan?! Itu ciuman pertamaku tau!", sahutnya mencak-mencak tidak terima. Ia mengusap mulutnya yang masih meneteskan saliva. Wajahnya memerah hebat.
"Hn. Itu juga ciuman pertamaku, Dobe.", jawabku santai sambil menyeringai. Merasa bangga sudah mendapatkan ciuman pertama rubah kecilku. Ya, Naruto adalah rubah kecilku, dan hanya milikku. Baru kali ini aku merasa begitu terobsesi pada sesuatu.
"Brengsek kau Teme! Bercanda itu kira-kira dong! Kau tidur diluar! Aku tak mau berbagi ranjang denganmu! Dasar mesum!", teriaknya sambil berjalan menjauhiku menuju kamarnya.
"Hei, salahmu sendiri yang mengundangku Dobe."
"Mengundang kepala ayammu, Teme!"
BLAM
Aku memandang kosong pintu kamar yang telah ditutup Naruto. Menghela nafas sejenak, aku mengaruk kepalaku yang sesungguhnya tidak gatal.
"Sepertinya aku harus tidur disofa malam ini."
.
.
.
"Bolehkan aku bermain disana, ibu?", tanyaku kepada sesosok wanita cantik berambut merah panjang yang telah kuanggap seperti ibuku sendiri. Ia menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyulam. Ia tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Ya, Sasu-chan. Tapi jangan jauh-jauh ne?", katanya sambil mengelus rambut ravenku lembut. Aku sangat menyukai saat-saat ia melakukan ini. Aku dapat merasakan sesuatu yang hangat menjalar didalam dadaku. Seperti ada yang menyayangiku, ada yang peduli padaku.
"Iya.", jawabku semangat sambil tersenyum lebar.
Aku melangkahkan kaki kecilku menuju tepi pantai. Kututup kedua mataku, dapat kurasakan angin berhembus dan menerbangkan helai demi helai rambut gelapku. Aku menarik nafas, kemudian menghembuskannya pelan. Nyaman rasanya. Aku merentangkan kedua tanganku, kubiarkan kaki kecilku yang tak beralas menerjang butiran-butiran pasir dipantai ini.
Hidupku sungguh terasa bahagia. Aku punya seseorang yang bisa kuanggap sebagai ibu. Ia memandikanku, menyuapiku, merawatku ketika aku sakit, dan ia membacakan dongeng sebelum aku tidur. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada ini. Setidaknya aku ingin merasakan bagaimana menjadi seorang anak yang hidup dengan keluarga yang normal, punya ibu dan ayah. Aku tersenyum. Kubiarkan pikiranku melayang jauh.
Aku mengernyit heran ketika kakiku merasakan sebuah getaran. Tubuhku bergoyang, kepalaku mulai merasakan pusing. Saat aku membuka kedua mataku, aku terkejut melihat ombak besar yang menggulung ganas menuju kearahku. Mataku membelalak. Kakiku terasa kaku dan tak dapat aku gerakan. Tubuhku gemetar . Lututku lemas, dan aku terjatuh. Aku takut. Ombak dahsyat itu semakin dekat kearahku. Perutku bergejolak dan aku mulai merasakan mual yang teramat sangat. Aku hanya diam memandangi ombak itu sambil mulai menangis. Lalu aku mendengar teriakan keras dibelakangku.
"Sasu-chan! Sasu-chan! Lari! Menjauh dari situ! Disitu berbahaya!"
Aku menolehkan kepalaku, melihat seorang wanita berambut merah tengah berlari tergesa-gesa menuju kearahku. Kakinya lecet karena tak memakai alas kaki. Tangannya menggapai-gapai mencoba untuk meraih tubuhku. Ia memeluk tubuhku erat, seolah-olah tak ingin melepaskan aku.
"I-Ibu. A-Aku takut.", kataku dengan suara parau. Aku terus menangis.
"Hush. Sasu-chan jangan menangis lagi.", katanya mencoba menenangkan aku.
Ia mengandeng tanganku erat kemudian mengajakku untuk berlari dari situ. Aku mengikuti langkahnya. Deru suara ombak dibelakangku terdengar jelas. Kami berlari terengah-engah. Teriakan ketakutan menggema dimana-mana.
"Cepat Sasu-chan! Ombaknya semakin mendekat!"
Aku mempercepat langkah kakiku. Namun aku terkejut saat wanita yang bersamaku tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"I-Ibu? Ayo cepat! Kenapa ibu berhenti?", tanyaku cemas akan keadaannya. Apa asmanya kambuh lagi? Penyakit sial! Kenapa harus kambuh disaat genting seperti ini?!
"Hosh. Sasu-chan, larilah. Hosh. Ibu tidak apa-apa.", katanya susah payah sambil mencengkram dadanya.
Aku terkejut mendengar perkataannya. Aku memeluknya erat dan kembali menangis keras.
"Tidak! Aku tidak mau pergi tanpa ibu!"
"Tapi Sasu-chan kau-"
Aku menenggelamkan wajahku didadanya. Aku menggelengkan kepalaku kuat tak mau menuruti perintahnya.
"Tidak! Tidak! Aku akan tetap bersama ibu!"
BRUAK
Sesaat kemudian aku merasakan tubuhku seperti didorong dan aku tersungkur. Wajahku menghantam tanah yang dipenuhi oleh butiran pasir. Aku segera bangun dan saat itu kusadari ibuku mendorongku kuat.
ZRASSH
ZRASSH
Saat aku mencoba memfokuskan pandanganku, aku melihat ombak yang dahsyat itu menerkam ibuku dan membawanya pergi. Ibuku hanyut dan terbawa ketengah laut.
"Ibu! Ibu!", teriakku kesetanan. Aku mencoba mengerakkan kedua kakiku yang terasa ngilu. Aku berdiri dan berlari terseok-seok. Aku tak perduli kakiku akan terluka atau putus sekalipun, yang kupikirkan saat ini adalah keselamatan ibuku yang aku sayangi. Aku tersandung sesuatu lalu terjatuh. Wajahku lagi-lagi telak menghantam tanah. Bibirku sobek, hidungku mengeluarkan darah.
"Arggh! Ibu!", aku berteriak lagi berharap ia dapat mendengar suaraku. Tenggorokanku terasa panas, seakan ingin hancur. Mataku kembali berlinang air mata. Aku kembali mencoba berdiri namun tubuhku tak mau menuruti perkataanku.
"Sasuke!", teriak seseorang dibelakangku.
"Sasuke! Apa yang terjadi padamu?!", teriak orang itu panik. Ia memelukku erat.
"A-Aniki. I-Ibu. I-Ibu.", kataku terbata-bata. Gemetar didalam pelukannya.
"Ada apa Sasuke? Apa yang terjadi dengan Kushina-san?", tanyanya cemas sambil mengusap surai ravenku, mencoba menenangkan diriku.
"Ibu terbawa ombak, aniki! Tolong dia!", jawabku kesetanan. Aku menangis semakin kuat. Seluruh air mataku membasahi wajahku.
Kakakku melepaskan pelukannya dariku. Ia berlari menuju laut. Yang kulakukan hanya berdoa untuk keselamatan ibuku dan menangis tersedu-sedu.
"Kushina-san! Kushina-san!"
Aku mendengar suara teriakan kakakku. Ia menelusuri seluruh pantai dan tidak menemukan tanda-tanda ibuku. Matanya bergerak liar, kulihat peluh membasahi sekujur tubuhnya.
"Kushina-san! Kushina-san! Jawab aku!"
Suara kakakku mulai terdengar putus asa. Aku berusaha sekuat mungkin menegakkan tubuh kecilku, kemudian berjalan tertatih-tatih mencoba menghampiri kakakku. Aku berdiri mematung ditepi pantai. Mataku menerawang jauh. Kulihat kakakku semakin menuju ketengah laut dan memasukkan tangannya kedalam air, mencoba mencari keberadaan ibuku.
"Aniki.", kataku parau, nyaris berupa bisikan namun masih bisa didengar olehnya. Air mataku terancam jatuh untuk kesekian kalinya.
"Tenang Sasuke, aniki akan mencari Kushina-san.", katanya sambil tetap memasukan tangannya kedalam air.
Mataku semakin menerawang jauh. Aku mulai memikirkan hal yang terburuk. Tak lama kemudian aku melihat sesuatu mengambang. Rambut merah panjang. Wajahku memucat. Mataku membelalak.
"Aniki! Aniki! Itu ibu!", teriakku kalap. Aku begitu ketakutan saat ini.
Kakakku segera berenang kesetanan. Ia menggendong seseorang yang kuyakini sebagai ibuku. Kakakku segera membawanya kedaratan. Menidurkannya ditanah beralas pasir. Ia terus menekan dada ibuku, namun ibuku tak memberikan reaksi apapun. Ia memberikan nafas buatan namun hasilnya pun nihil.
"Ibu! Ibu! Sadarlah! Ibu!", aku terus memanggil ibuku.
Kakakku menempelkan telinganya ke dada ibuku. Kulihat matanya membelalak. Ia segera menyentuh leher ibuku, mencoba merasakan denyut nadinya. Kini matanya berubah menjadi sendu. Aku mencoba untuk tak mempercayai apa yang kulihat.
"Sasuke, Kushina-san sudah-"
Aku mulai menangis meraung-raung.
"Ini tidak mungkin terjadi aniki! Ibu tak akan meninggalkan aku!", aku berteriak kencang hingga kurasakan pita suaraku akan putus. Ia memelukku erat.
"Tenang Sasuke tenang. Maafkan aniki.", katanya sambil mengusap surai ravenku.
"Tidak aniki! Ibu tidak boleh pergi!", aku menangis semakin keras.
"Kita doakan Kushina-san agar ia tenang disurga.", katanya pelan sambil mulai meneteskan air mata.
Aku berontak dalam pelukannya.
"Tuhan kembalikan ibuku! Mengapa Kau ambil lagi orang yang berharga bagiku?! Apa salahku padamu?!", teriakku sambil memeluk ibuku.
"Arrgggghh!"
"Arrrrrrrrgggggh!"
Aku terbangun dari mimpi terburuk yang pernah kualami.
"Sasuke?! Kau kenapa? Kau mimpi buruk?!", tanya seorang pemuda berambut pirang panik.
"Hosh. Hosh. Hosh."
"Ini minum dulu Teme.", katanya cemas sambil menyodorkan segelas air dingin padaku. Aku segera mengambilnya dan menghabiskannya. Nafasku memburu, keringat dingin terus mengucur didahiku. Mataku menerawang jauh. Itu bukan mimpi. Itu nyata. Kini aku ingat siapa wanita berambut merah yang selalu muncul dalam setiap mimpiku. Aku menundukan wajahku. Aku mulai menangis dalam diam. Mataku terus meneteskan air mata.
"Te-Teme?"
Aku diam tak menanggapinya.
"Teme, kau baik-baik saja? Kau tadi mimpi apa?", tanyanya pelan sambil mengelus punggungku, mencoba menenangkanku.
"Aku bermimpi tentang ibuku.", kataku parau. Aku sudah tak kuat menanggung semua ini sendiri. Aku butuh tempat berbagi.
"Ibumu? Ibumu kenapa Teme?", tanya Naruto lagi.
"Aku memimpikan bagaimana ia meninggalkan aku untuk selamanya."
GREB
Mataku membelalak. Pemuda berambut pirang itu memelukku erat.
"Menangislah Teme. Menangislah sepuasmu. Aku akan ada disini. Aku tak akan pernah meninggalkanmu.", katanya sambil mengeratkan pelukannya padaku. Tangan kecilnya terus mengelus punggungku.
Dadaku merasa hangat mendengar perkataannya. Aku membalas pelukannya. Aku mulai merasa tenang. Semakin kueratkan pelukanku padanya.
"Jangan tinggalkan aku sendiri, Dobe. Aku sudah tak punya apa-apa lagi.", kataku dengan suara parau.
"Ya, Teme. Aku tak akan meninggalkanmu."
~To Be Continued~
Hahaha =))
Apa-apaan chapter gaje diatas?
Review~ Review ^^
