A/N : Hai haii Yuu balik lagi~ #dihajar readers

Gomen apdet semakin ngaret Hehe, Yuu tersesat dijalan yang bernama kehidupan XD #apaan

Masih adakah yang membaca fic ini?^^

Yuu balas review dulu^^

FayRin Setsuna D Fluorite: Gomen apdet ngaret :'( Disini Kushina udah tiada #Hiks. Kushinanya terpaksa ninggalin Naru T_T Iya bisa dibilang Sai tergoda #eh sama Naru-chan~ Nih lanjutannya. Hehe, Makasih dah review^^

Inez Arimasen: Gomen ne kalau Yuu buat binggung, iya Mikoto meninggal waktu melahirkan Sasu. Hehe Sasu-Teme emang mesum ne~ main cium Naru-chan aja XD Yang jadi raja si Keriput #diAmaterasu, tapi Fuga masih hidup kok. Nih udah update. Makasih dah review^^

Harpaairiry: Nih udah lanjut, makasih dah review^^

versetta: Iya SasuNarunya udah dimulai #jengjeng XD Benarkah cerita ini sedih? Makasih dah review^^

Ara Uchiha: Walaupun saya penyuka cerita angst tapi akan saya usahakan SasuNaru tetap bersatu, hiks. Ini lanjutannya :) Makasih dah review^^

Fuzai: Yuu juga sebenarnya kasihan sama Sai, tapi Sai disini harus nahan perasaannya sama Naru-chan, hoho #ketawa nista. Iya kalo Sasu berani ninggalin Naru, kita botakkin kepala ayamnya rame-rame XD Ini lanjutannya~ Makasih dah review Fuu-san^^

hanazawa kai: Sama-sama^^

UchiKaze Ammy: Kerenkah? #terharu. Yap benar sekali, Kushina emang ibunya Naru. Naru gak tau gimana orang tuanya, hiks T_T Nih lanjutannya, makasih dah review^^

Nyenyee: Emang Sasu mesum banget, hehe. Kalau mau cium saya aja XD #Ditendang. Nih dah lanjut, makasih dah review^^

aikhazuna117: Naru tinggal di panti asuhan sejak dia kecil, hiks T_T Gomen kalau chap ini masih kependekan^^ makasih dah review^^

Snow: Kapan ya~ Kapan yaa~ Kapan yaa~ #ditampar Snow. Tunggu aja kapan ketauannya (?) Nih lanjutannya, makasih dah review^^

Earl Nakayama Misaki: Makasih udah suka fic abal Yuu^^ Nih lanjutannya, arigato udah review^^

B-Rabbit Ai: Untung ngak keselek arang un~ XD Makasih hehe. Yuu usahakan SasuNaru tetap bersama walau badai menghadang (?) Huhu, makasih dah review^^

gici love sasunaru: nih udah lanjut, makasih dah review^^

Nope: Huhu, judulnya emang ngak banget, entah apa maksud itu judul #ditampar pake raket nyamuk. Jangan benci Sai, kasihan dia, hehe. Iya Yuu juga gak tega misahin mereka, hiks :'( Nih udah lanjut, makasih udah review^^

Jasmine DaisynoYuki: Nih dah lanjutt~ makasih udah review^^

Banyak yang bertanya ini fic bakal jadi angst atau ngak. Hmm apakah cerita ini cukup menyedihkan? Yuu emang pengemar angst, tapi Yuu juga kepengen SasuNaru bersama ({}) Hanya saja mungkin ditengah cerita akan ada sesuatu hal yang mungkin membuat readers greget dan ingin menghajar saya. #Te-he

Chap 5 Start! Enjoy! RnR please^^


Long Kiss Goodbye by Yuu Nightmarie Phantomhive

NARUTO by Masashi Kishimoto

(Naruto dan segala karakter didalamnya bukan milik saya)

Genre: Hurt/comfort/Romance

Warning: AU, OOC, typos, Newbie, EYD kacau balau, tata bahasa serampangan (?), abal, full of gajeness, BL, BoyxBoy, SasuNaru.

Bisa baca kan? =-="

I'VE WARNED YOU, SO DON'T BLAME ON ME

DON'T LIKE, DON'T READ!


Chapter 5 : Stranger


Naruto's POV

Cuaca pagi hari ini cukup bagus bila dibandingkan dengan cuaca ekstrim semalam. Tidak ada salju yang turun, namun tanah yang kupijak masih tetap tertumpuk salju putih. Udara masih mampu membuat tubuh gemetar, tapi itu tidaklah menjadi penghalang yang besar untukku menyusuri hutan luas ini. Yah, aku harus kembali pada hidupku, mencari kayu bakar. Tidak kerja, ya tidak makan. Aku mendengus pelan memikirkan hal itu. Aroma pinus menyapa penciumanku ketika aku semakin masuk kedalam hutan. Pohon-pohon besar terlihat dipandanganku, dan semak-semak berlapis salju menjamuri hutan ini. Jika saja aku tak terbiasa dengan keadaan ini, bisa dipastikan aku akan tersesat. Sasuke berjalan disampingku, mata hitamnya menatap awas kesegala penjuru. Entah apa yang ia pikirkan sekarang. Aku memutar kedua bola mataku.

"Disini tidak ada beruang, Teme."

"Hn."

Aku menghela nafas. Mataku menyipit mendengar jawabannya yang lagi-lagi hanya dua huruf itu. Sasuke yang sekarang sungguh sangat berbeda dengan Sasuke yang terbangun karena mimpi buruknya tadi. Sasuke yang kutemukan tadi pagi adalah seorang pria kalem yang menangis dipelukanku. Aku bahkan tak percaya ia bisa bersikap seperti itu. Sekarang ia kembali terlihat menyebalkan. Aku mendengus keras.

Kami semakin memasuki hutan, kemudian menyusuri jalan setapak yang biasanya aku lewati sendirian. Jejak kaki kami tercetak begitu jelas. Sasuke hanya mengikutiku dalam diam. Aku benci situasi ini. Aku ingin memulai percakapan, namun kepalaku segera sakit begitu memikirkan topik apa yang harus kuperbincangkan dengannya. Pada akhirnya aku tak mengetahui apa-apa tentang pria berambut raven itu.

Mataku menangkap sebatang pohon yang tidak terlalu besar dalam keadaan terjatuh. Mungkin dikarenakan badai dahsyat semalam. Aku segera berlari menuju pohon itu kemudian mengelus batang kayunya. Aku tersenyum, pohon ini pasti bisa menjadi kumpulan kayu bakar yang bagus.

"Teme! Ayo potong pohon ini!", seruku bersemangat sambil tersenyum lima jari.

"Hn."

TAK!

TAK!

Aku mengayunkan kapak milikku kearah batang pohon itu dengan sekuat tenaga. Shit! Keras sekali! Ini kayu atau besi?!

TAK!

TAK!

Aku berusaha semakin keras namun hanya bisa menghasilkan sedikit goresan pada batang kayu itu.

"Ah! Kenapa tidak mau terbelah?!", gerutuku sambil mengelap dahiku yang kini mulai bercucuran keringat. Aku menjauhi batang pohon itu lalu terduduk diatas tanah berlapiskan salju. Aku menghela nafas berat. Pohon sial!

"Sini Dobe, biar aku yang melakukannya.", kata Sasuke sambil mengambil alih kapak yang tadi kupegang.

"Eh?", beoku kebinggungan.

Sasuke berjalan menuju batang pohon itu, kemudian mengayunkan kapaknya kuat.

TAK!

TAK!

Ah! Sedikit terpotong! Bagaimana bisa Teme melakukannya?! Sihir apa yang ia gunakan?!

Sasuke terus mengayunkan kapaknya hingga tiba-tiba ia berhenti sejenak, menaruh kapaknya diatas tanah. Aku terkejut ketika tiba-tiba ia membuka mantel hitamnya, kemudian melucuti kemeja biru tua yang ia pakai dan hanya menyisakan celana hitamnya. Ia membiarkan pakaiannya teronggok diatas tanah. Mata biruku dengan bebas menelisik setiap sudut tubuhnya. Tangan indah berotot, bahu yang tegap, dada bidang, dan kulihat peluh mengalir membasahi tubuh putihnya. Aku meneguk ludahku dengan susah payah. Oh, Tuhan pemandangan macam apa ini?! Mata indahku telah ternodai!

Aku menutup mulutku, wajahku memerah, pipiku mulai memanas. Aku benar-benar iri padanya. Kenapa ia bisa mempunyai tubuh sebagus itu?! Aku juga ingin punya tubuh berotot seperti itu! Kenapa tubuhku kecil seperti seorang wanita?! Kenyataan memang kejam! Aku menghela nafas lagi. Kulihat Sasuke kembali melanjutkan pekerjaannya. Entah bagaimana, namun saat ia kembali mengayunkan kapak itu ia terlihat begitu menggoda dimataku. Hei! Aku kembali melamunkan hal gila! Aku jadi teringat kejadian semalam dimana ia dengan kurang ajarnya merampas ciuman pertamaku yang berharga!

"Teme! Apa yang kau lakukan?! Cepat pakai bajumu!", teriakku sambil memalingkan wajahku kesembarang arah. Pipiku semakin merona hebat dan dapat kurasakan ada panas yang menjalar hingga ke telingaku.

"Hn? Aku berkeringat, Dobe.", jawabnya santai sambil terus berusaha membelah pohon itu.

"Baka! Kau bisa sakit nanti.", kataku membuat alasan sembari mencoba menenangkan irama detak jantungku.

Sambil menutupi wajahku yang memerah tak karuan, aku berjalan menghampirinya dan memunguti potongan-potongan kayu yang telah dipotong Sasuke.

"Hei, Teme. Kau ini boleh juga. Seperti professional saja.", kataku sambil berjongkok, mengikat potongan kayu yang tadi kupungut.

"Hn."

TWICH

Tercipta dengan indah empat sudut siku-siku didahiku. Lagi-lagi jawaban yang menyebalkan itu.

"Kau sudah sering melakukan ini ya, Teme?", tanyaku lagi sambil menatapnya.

Kulihat ia berhenti melakukan kegiatannya dan menatapku lurus.

"Baru kali ini, Dobe."

Aku terkesiap dan mulutku mengangga lebar. Bagaimana mungkin ia baru pertama kali melakukan ini, tapi hasil pekerjaannya benar-benar memuaskan? Apa dia mencoba menipuku?

"Kau berbohong padaku, Teme.", kataku sambil menyipitkan kedua mataku dan memanyunkan bibirku.

"Tidak, Dobe. Apakah kayunya sudah cukup?"

"Ya kupikir sudah cukup, Teme. Terima kasih! Ayo sekarang kita kekota!", jawabku sambil tersenyum lebar padanya.

"Hn."

.

.

.

End of Naruto's POV

.

.

.


Sasuke's POV

Tubuhku berkeringat banyak dan membuat sekujur tubuhku lengket akibat memotong pohon tadi. Aku baru pertama kali melakukan hal ini, tapi syukurlah sepertinya Dobe cukup puas dengan hasil pekerjaanku. Jangankan memotong pohon yang cukup besar seperti itu, menyiapkan pakaianku sendiripun dilakukan oleh pelayanku. Aku mengalihkan pandanganku kepada Naruto. Kulihat ia sedang mengendong kayu-kayunya sambil mengulas senyum. Mataku menatap intens bibir merah muda miliknya. Aku ingin merasakannya lagi. Aku ingin merasakan bibir yang lembut itu lagi. Bibir manis yang dapat membuatku mabuk hanya dengan sekali kecup. Aku jadi ingin menelannya bulat-bulat. Kubiarkan pikiranku melayang jauh.

"Teme!"

"Teme!"

Aku terperanjat dan segera tertarik kembali kedunia nyata. Aku mendelik tak suka pada sosok berkepala kuning yang dengan kurang ajarnya membuyarkan lamunan indahku. Kulihat ia binggung dengan kelakuanku.

"Kau sedang melamun apa sih, Teme?", tanyanya sambil menuju kesebuah danau kecil. Air danau itu sudah membeku karena suhu ekstrim musim dingin ini. Aku berjalan dalam diam menghampirinya. Naruto berjongkok disisi danau, kayu-kayu bawaannya ia letakan diatas tanah. Ia terdiam sambil memandang pantulan wajahnya didanau beku itu.

"Nee~ Teme. Bolehkah aku tau seperti apa rupa ibumu?", tanyanya pelan sambil mengalihkan pandangannya kearahku. Ia menatap mata onyx milikku sendu.

Aku terkejut mendengar pertanyaannya dan hanya mampu diam seribu bahasa. Aku menundukan kepalaku, tak berani menatap mata birunya. Aku teringat mimpi burukku semalam. Aku merasa duniaku begitu hancur saat mengingat bahwa ibuku sudah tidak ada lagi didunia ini. Aku terus menyalahkan diriku sendiri saat menyadari ibuku sudah tiada. Aku tak ingin ibuku pergi dari sisiku.

"Maafkan aku, Teme. Aku sudah mengingatkanmu tentang ibumu. Aku tak akan bertanya lagi, maafkan aku.", katanya pelan sambil bangkit berdiri.

"Dia wanita yang baik."

"Rambutnya panjang berwarna merah, dan ia memiliki mata violet yang indah.", lanjutku sambil menegakkan kepalaku dan menatapnya.

Ia sedikit terkejut mendengar jawabanku. Mata biru cerahnya membulat. Mungkin kaget karena aku mau menceritakan tentang ibuku.

"Benarkah? Ibumu pasti wanita yang cantik, Teme!", katanya sambil tersenyum manis.

Dadaku terasa hangat melihat senyumnya yang kembali cerah. Aku tak ingin dia berwajah sedih lagi seperti tadi.

"Hn. Ibumu?", tanyaku sambil berjalan menghampirinya.

Seketika senyumnya memudar. Ia segera membalikkan badannya, memutus kontak dengan mata hitamku. Aku terkejut setengah mati. Apa aku salah bertanya?

"Dobe?"

Ia tak mengindahkan panggilanku. Aku segera menghampirinya. Kuletakan kedua tanganku diatas pundaknya kemudian membalikkan tubuh kecilnya. Ia menundukan kepalanya.

"Aku tak tau seperti apa ibuku, Teme. Ia meninggalkanku disebuah panti asuhan dipinggir kota sejak aku bayi. Aku tak punya kenangan apapun tentangnya.", jawabnya sendu. Mata birunya yang biasanya cerah kini nampak gelap. Kini aku ingat kalau Naruto tinggal sendiri. Bodohnya aku. Aku begitu menyesal telah bertanya.

Untuk beberapa saat kedua diantara kami hanya diam. Tak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara angin dingin yang berhembus dan menerbangkan helaian surai ravenku. Aku mengulurkan tanganku dan mengusap kepala pirangnya lembut. Mencoba menyuruhnya untuk membagi beban.

"Maafkan aku, Dobe. Aku tidak bermak-"

"Hei kenapa kau harus minta maaf?", tanyanya sambil kembali tersenyum kepadaku.

Aku terkejut melihat perubahan sikapnya yang begitu cepat. Mataku membelalak lebar.

"Ayo kita kekota sekarang, Teme. Aku tidak sabar ingin menjual kayu-kayu ini.", katanya sambil berjalan meninggalkanku.

Aku segera sembuh dari keterkejutanku dan berjalan mengikutinya dari belakang.

'Dobe tinggal dipanti asuhan semasa ia kecil? Itu semacam tempat dimana anak-anak yang tidak mempunyai keluarga berkumpul kan?'

.

.


"Pamaaaaann Teuuchiiiii~", seru pemuda berambut blonde riang saat ia mampir kesebuah kedai ramen yang cukup ramai pengunjung.

"Kau semangat sekali seperti biasanya Naru-chan. Tumben berkunjung?", tanya seorang pria paruh baya sambil tersenyum ramah.

"Iya paman, aku mau pesan ramen buatan paman! Yang spesial ya paman!"

"Baik, baik. Tunggu sebentar ya Naru-chan."

Sembari menunggu Naruto yang tengah berisik didepan kedai, aku mengalihkan pandanganku ke jalanan. Banyak orang yang berlalu lalang disepanjang jalan ini, tak terusik sedikitpun dengan suhu dingin yang begitu menusuk tulang.

"Naruto? Kau ada disini?", sapa seorang pemuda berambut hitam dengan seulas senyum yang selalu bertengger manis diwajahnya.

"Sai-sama?", jawab Naruto sambil memalingkan wajahnya.

"Hei, sudah berapa kali kubilang jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu Naru-chan.", kata Sai sembari mengelus rambut pirang Naruto.

Kulihat Naruto hanya tersenyum menerima perlakuan pemuda brengsek yang masih meletakan telapak tangannya dikepala pemuda kesayanganku. Dengan cepat kutepis tangannya, kemudian menarik Naruto menjauh dari pemuda itu. Naruto tampak kebinggungan. Kutepuk pelan kepala Naruto, mencoba menghilangkan jejak tangan pria asing itu. Aku tak suka ada orang yang mengelus kepala Narutoku. Hanya aku yang boleh melakukannya. Pemuda yang kuketahui bernama Sai itu hanya diam seribu bahasa.

"Cepat ambil pesananmu dan pergi, Dobe.", kataku sambil melangkahkan kakiku, tak lupa menarik pergelangan tangan Naruto.

"E-Eh? Te-Teme?! Kau ini tidak sopan sekali!", teriak Naruto sambil memukul kepalaku. Sakit sekali.

"Kenapa kau memukulku, Dobe? Aku hanya menyelamatkanmu.", kataku santai sambil mengusap kepalaku yang terkena hantaman Naruto.

"Menyelamatkanku?! Menyelamatkanku dari apa Teme?! Yang kau lakukan adalah menyeretku seolah aku ini sebuah karung beras!"

"Aku menyelamatkanmu dari pemuda itu."

"Dia kenalanku Teme, dia bukan orang asing."

"Dia terlihat cukup mencurigakan untukku, Dobe."

"Naru-chan~ Pesananmu sudah siap~", seru paman pemilik kedai.

"Ah~ Iya paman aku datang~ Tunggu disini, Teme. Jangan berbuat yang tidak-tidak."

Oh bagus, kini Naruto mengancamku. Kulihat Naruto berlari kecil menghampiri kedai itu untuk mengambil pesanannya, sementara aku memberikan death glare terbaikku kepada pria bernama Sai itu. Sepertinya ia bukan orang biasa. Dari penampilannya ia terlihat seperti bangsawan atau setidak-tidaknya orang kaya. Ia mengenakan kemeja biru sutra dan celana hitam panjang yang nampak mahal. Entah kenapa aku punya perasaan yang buruk soal pemuda ini. Aku pernah bertemu dengannya dirumah Naruto, dan memintanya untuk tak mengatakan kepada siapapun kalau aku berada disini. Reaksinya saat melihatku waktu itu yang membuatku mencurigainya sebagai salah satu orang yang diutus istana, oleh karena itulah aku mengancamnya. Ia seperti mengenalku, meskipun aku tak mengenalnya. Sekarang adalah saat yang tepat untuk tahu siapa sebenarnya pria ini.

"Siapa kau?", tanyaku sengit, melupakan apa yang dinamakan sopan santun.

"Aku?"

Kupicingkan kedua mataku tajam.

"Aku hanya seorang pemuda biasa.", jawabnya sambil kembali memamerkan senyum polosnya yang mampu membuatku mual. Perutku bergejolak, aku ingin muntah.

"Ck! Jangan bercanda denganku. Katakan siapa sebenarnya dirimu!"

"Aku Sai. Hanya Sai. Hanya seorang manusia.", jawabnya sambil mengalihkan pandangannya kearah Naruto. Pandangannya menyiratkan kekhawatiran. Aku tak mengerti apa yang orang ini pikirkan.

"Apa kau salah satu makhluk yang berasal dari tempat terkutuk itu?!", tanyaku muak. Aku lelah terus bertanya dan aku membutuhkan jawaban.

"Makhluk? Tempat .. terkutuk?", tanyanya kembali sambil mengerutkan keningnya.

"Ya. Tempat terkutuk."

".."

"Istana."

Satu kata dariku membuatnya tersentak. Matanya membelalak lebar. Perilakunya semakin membenarkan dugaanku tentangnya. Ia pasti ada hubungannya dengan tempat terkutuk itu.

"Kau mata-mata Itachi?", tanyaku tajam sambil menatap tepat kedua matanya.

Ia hanya diam seribu bahasa. Tak mau membenarkan perkataanku, namun juga tak mau menyalahkannya. Aku semakin terusik dengan kediamannya. Menghela nafas sejenak, kuputuskan kontak mata kami. Aku membalikkan tubuhku dan berjalan menyusul rubah kecilku. Aku tak peduli lagi siapa pemuda asing itu.

"Aku bukan mata-mata, Sasuke."

Aku berhenti melangkah. Aku terperanjat ketika mendengar ia memanggil namaku. Segera kubalikkan tubuhku dan menerjang lelaki itu. Ia tersungkur ditanah, akupun ikut jatuh menimpanya. Kutarik kerah bajunya tinggi-tinggi. Kini aku benar-benar emosi.

"Kau pasti mata-mata Itachi! Katakan apa maumu?!", teriakku tepat didepan wajahnya. Aku sudah tak mampu lagi memendam rasa kesalku kepada orang ini.

"Sudah kubilang aku bukan mata-mata."

"Jadi kau ini apa, hah?!", teriakku lagi semakin keras, aku kehilangan kendali. Tak kuperdulikan puluhan pasang mata yang kini melihat perkelahian kami.

"Kau tidak mengenalku, Sasuke?", tanyanya dengan tatapan sendu.

Melihat matanya yang menyiratkan kekecewaan membuatku mengendurkan cengkramanku pada bajunya. Aku menghembuskan nafas berat, mencoba menenangkan pikiranku dan mengendalikan emosiku.

"Ya. Aku tidak tau siapa kau ini, sungguh.", kataku lelah. Kulepaskan tanganku yang sedari tadi mencengkram kerah bajunya. Kuulurkan tangan kananku, membantunya berdiri. Kubersihkan serpihan debu yang menempel pada mantel hitamku akibat aksi berguling dijalan tadi.

"Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya, Sasuke? Dua belas tahun yang lalu, musim gugur."

"Musim .. gugur?"

"Ya, musim gugur. Kita bertemu dipemakaman. Kau ingat?"

"Pema-kaman?"

Tiba-tiba sekelebat bayangan buram terlintas dengan cepat dikepalaku.

"Ukh!"

Kututup mataku mencoba menahan rasa sakit yang menyerang.

Aku melihat daun-daun merah kering berguguran, dipermainkan angin dan berserakan ditanah tempatku berpijak. Pohon tua besar yang telah kehilangan dedaunannya menyapaku dalam diam, seakan ingin mengejekku. Aku melihat diriku dan kakakku berdiri didepan sebuah batu nisan. Puluhan bunga dukacita bertebaran diatas makam yang masih baru itu. Aku ingat, ini pemakaman ibuku. Jantungku berdegup cepat ketika mengingat kenangan ini. Kenangan yang tak sedikitpun ingin kuingat kembali. Kenapa aku harus bernostalgia dengan kenangan ini? Apakah aku harus mengukir memori kelam ini didalam lubuk hatiku yang terdalam supaya aku dapat sadar bahwa ibuku telah tiada? Apakah aku sudah terlalu lama lari dari kenyataan? Kenapa aku harus ditarik dari dunia semu indah yang telah kubuat dan kembali kepada realitas yang menyakitkan? Aku tak henti-hentinya mengutuk dunia ini dan diriku yang hidup didalamnya.

TAP TAP

Aku mendengar suara langkah kaki yang mengusik hari perkabunganku. Kulihat seorang bocah berparas pucat dengan surai ravennya berjalan mendekati diriku yang masih berdiri didepan nisan yang dingin. Ia membawa setangkai bunga lily putih. Ia berjalan lurus menuju nisan ibuku, memberinya hormat, kemudian meletakkan bunga itu diatas tanah. Ia memejamkan mata hitam kelamnya. Mungkin sedang berdoa. Kupandangi bocah itu dalam diam.

"Saya turut berdukacita, Sasuke-kun."

Terdengar suara-suara asing yang kini berdenging ditelingaku, membuat keadaanku semakin bertambah buruk. Kepalaku seakan mau pecah. Tubuhku bergetar hebat, perutku mual. Aku ingin berteriak namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirku, seperti ada puluhan batu yang menganjal ditenggorokanku dan mengancam akan segera hancur bila aku berusaha lebih keras melakukannya.

BRUK

Aku jatuh berlutut sambil memegang kepalaku. Kuremas surai hitamku kuat-kuat. Cukup! Sudah cukup! Aku tak mau lagi mengingat kenangan itu lebih dari ini! Siapapun kumohon tolong aku!

"Sasuke?! Kau tak apa?!", terdengar suara merdu yang tak asing ditelingaku. Suara rubah kecilku. Ia mengguncangkan tubuhku, namun semakin nyeri kurasakan pada kepalaku.

"Arrrghh!", teriakku kesetanan sambil menjambak rambut ravenku. Kepalaku sakit, aku ingin meledak.

"Sasuke! Sasuke sadarlah!", teriak Naruto kalut.

"Sasuke. Apa yang terjadi?!", seru Sai dengan nada khawatir yang kentara.

Kepalaku berputar hebat. Bayang-bayang samar tertangkap indera penglihatku, oh jangan lagi. Aku sudah tak mau lagi mengingat apapun.

"Sasu-chan anak baik~", suara merdu seorang wanita berambut merah masuk kedalam pendengaranku tanpa diundang.

"Ne~ Sasu-chan, mau dibacakan cerita apa sebelum tidur?", tanya sosok itu dengan suara yang riang. Raut wajahnya yang tersenyum hangat membuatku tersentak seketika. Ini mimpi. Ini ilusi. Siapapun bangunkan aku, tolong sadarkan aku. Dadaku sakit sekali. Kucengkram dadaku erat-erat. Nafasku terputus-putus. Deru nafasku memburu. Mataku terpejam erat. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisku. Tubuhku kembali bergetar, kakiku ngilu mati rasa.

BRUK

Kurasakan wajahku menghantam tanah solid yang keras, namun tanah itu tak mampu menarikku dari ilusi kelam yang terus menyiksaku ini. Dapat kurasakan pula suatu cairan hangat berbau besi mengalir dari kepalaku. Perih dan nyeri segera kembali kurasakan dikepalaku yang kini semakin berdenyut hebat.

"Sasuke!"

Pandanganku mulai memburam. Mataku mulai tertutup, menolak sinar apapun yang ingin masuk. Aku menyerahkan diriku kepada kegelapan yang menarikku secara paksa, aku sudah tak sanggup lagi melawannya.

"Teme! Teme!"

~TO BE CONTINUED~


Haha, satu lagi chapter gaje^^ Gomen kalo pendek ne XD Revieww Revieww \^o^/