Karena pekerjaannya yang sering mengharuskan Ichigo melakukan perjalanan bisnis, ia sering khawatir tentang aku yang tinggal di rumah sendirian.

Suatu kali, sementara aku sedang sibuk membantunya mengepak koper, dia tiba-tiba memberiku pertanyaan kekanak-kanakan.

"Bagaimana kalau kau ikut bersamaku, Rukia?"

"Tidak mau." Aku menolak dengan tegas.

Karena jadwal penerbangannya adalah yang paling awal, dia sudah pergi ketika aku terbangun di pagi hari. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke dapur dalam keadaan linglung.

Selagi aku menenggak segelas air, aku melihat sebuah catatan di pintu kulkas. Aku melangkah mendekat, dan melihat coretan tergesa-gesa Ichigo:

Jangan membukakan pintu untuk orang asing.

Terkejut, aku menyemburkan air keluar dari mulutku dan langsung meneleponnya dengan ekspresi tidak percaya.

"Apa kau pikir aku bocah umur tiga tahun?"

"Akan sangat bagus jika kau bocah berumur tiga tahun. Dengan begitu aku bisa membawamu bersamaku ke manapun aku pergi."

.

Aku suka mengumpulkan kartu pos. Makanya, setiap kali Ichigo mengunjungi tempat baru dalam perjalanan bisnisnya dia akan selalu mengirim kartu pos padaku. Belum lama ini, aku berhasil mengumpulkan banyak sekali kartu pos. Namun, semua kartu pos itu ditujukan kepada orang-orang berikut: Yamamoto Ken, Gorou Akinori, Araya Masao.

Sekali lagi, aku memanggilnya dengan perasaan tak karuan. Kali ini dia menjawab lagi dengan nada santai.

"Itu supaya si tukang pos itu tahu bahwa ada seorang laki-laki di rumah."

Ichigo, apa kau tidak pernah berpikir, kalau membiarkan orang lain tahu ada banyak laki-laki yang berbeda berada di rumah ini akan lebih berbahaya?