Suatu hari, aku pergi membeli buah-buahan di pasar dekat rumah kami. Aku memilih untuk membeli buah persik kuning untuk Ichigo. Ya, pria itu sangat menyukainya.
Lalu, orang yang berdiri di sebelahku tiba-tiba angkat bicara, "Buah ini apa namanya?"
Aku mengamati sekitar, mengkonfirmasi apa orang ini bertanya padaku bukan pada si pemilik kios buah, sebelum akhirnya menjawab, "Persik kuning."
Dia mengangguk sebelum bertanya lagi, "Apa ini enak?"
"Um ... itu tergantung selera pribadi."
"Apa kau menyukainya?"
"Ya."
Setelah membayar, aku langsung pergi meninggalkan kios. Pria yang tadi bersamaku di kios menghampiriku dan berjalan di sebelahku dengan kantong buah di tangannya. "Bisa aku minta nomor ponselmu? Aku harap kita bisa berteman."
Oh, apakah ini metode pendekatan seorang pria yang kupikir hanya ada dalam mitos itu? Ya ampun, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan benar-benar mengalami situasi seperti ini! Aku mencoba dengan keras menekan perasaan gembira dalam hatiku dan menjawab sungkan, "Tapi ... suamiku mungkin tidak akan terlalu senang tentang ini."
Orang itu sangat terkejut, "Kau sudah menikah?"
"Yup!" Aku menunjukkan padanya cincin pernikahanku.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berteman."
Dia memberiku kantong buah miliknya bersamaan dengan kartu namanya sebelum meninggalkan tempat kejadian. Karena itu, aku membawa dua kantong buah ke rumah dalam keadaan bengong.
Ketika aku menceritakan pengalaman ajaib itu pada Ichigo, dia mulai menghina. "Hanya sekantong buah persik? Apa dia sepelit itu?" Lalu dia menatap kartu nama orang itu dan mulai mencibir lagi, "Shiba Kaien, Manager dari Perusahaan Shiba?"
"Oh, mungkin dia anak pemilik perusahaan itu! Jangan cemburu."
Dia menyeringai dingin, "Apa aku sebegitu kekanak-kanakan?"
Aku meninggalkan kartu nama itu di atas meja makan, dan pergi ke dapur untuk membantu Ichigo mencuci buah. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba aku teringat kejadian ini, dan baru menyadari jika kartu nama di atas meja makan itu sudah tidak ada.
Saat aku menanyakannya pada Ichigo, dia menjawab acuh tak acuh, "Aku membuangnya. Kemarin, saat aku sedang membersihkan meja, aku tidak sengaja menumpahkan air di atasnya."
Biasanya, jika Ichigo melakukan kegiatan bersih-bersih secara sukarela, itu hanya terjadi di hari-hari tertentu saja. Lalu ada apa kali ini? Belum lagi ia bahkan "tidak sengaja" menuangkan air? Bukankah niatnya sangat jelas?
Kadang aku suka berpikir, apa ini yang disebut Tsundere?
