Suatu malam, ketika Ichigo menjemputku dari kantor dan mengajakku pulang bersama, mobil kami tak sengaja melewati jalan yang dulu sering kami tempuh menggunakan bus.

Tiba-tiba aku teringat masa ketika kami baru berpacaran. Saat Ichigo belum memiliki mobil pribadinya sendiri, dia sering mengantarku pulang menumpang bus, ada kala ketika kami pulang berdua sehabis berkencan, aku dan Ichigo duduk di baris pertama dalam bus itu. Lampu neon di jalan itu bersinar terang dan jendela di sampingku meniupkan angin malam musim gugur yang dingin. Entah kenapa segala sesuatunya tampak sempurna bagiku. Hingga aku berpikiran waktu itu adalah waktu yang tepat untuk membuat sebuah kenangan yang tak terlupakan, semisal berciuman?

Tanpa sadar, aku menyerukan isi hatiku padanya, "Bukankah ini waktu yang tepat untuk berciuman?"

Ichigo tertegun diam, menatapku heran. Seketika lampu lalu lintas berubah merah, bus secara perlahan menghentikan lajunya. Aku mulai menghitung mundur dalam hati, berencana untuk mencium Ichigo saat lampu berubah hijau. Mataku secara otomatis terpaku pada angka yang berkurang di samping lampu lalu lintas.

"5 ... 4 ... 3 ..."

Namun tiba-tiba, Ichigo mencondongkan tubuhnya ke arahku, bibirnya dengan lembut menyentuh bibirku. Aku sempat terkejut, rasanya seperti ada bulu-bulu halus yang menyapu sekujur tubuhku, membuatku gemetar hebat. Aku membalasnya gugup. Wajahku berubah memerah seketika, aku mencacinya karena tak tahu malu.

Dia menunduk dan tertawa, "Yup, aku memang tak tahu malu. Sama sepertimu, kan?"

Harus kuakui, itu adalah ciuman pertama kami.