Aku terbangun suatu pagi di hari Sabtu akibat lapar yang mendera. Aku ingat kalau aku memiliki beberapa lembar keju siap santap yang tersisa di lemari es. Aku bertanya pada Ichigo apa dia ingin sarapan roti isi saja? Ichigo hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.
Aku meminta Ichigo untuk membuatkan roti isi untuk kami berdua, tapi Ichigo menolak untuk bergerak dari posisinya. Kemudian, kami memutuskan siapa yang akan membuat roti isi dengan permainan 'gunting batu kertas'. Dan akulah orang yang kalah, tapi sama halnya dengan Ichigo, aku juga tidak ingin keluar dari tempat tidur.
Akhirnya, kami berdua hanya bermalas-malasan di atas ranjang sebelum akhirnya memutuskan untuk menahan rasa lapar dan kembali tidur.
Ichigo kemudian mendesah panjang, "Aku kira sudah waktunya kita punya anak. Nantinya dia bisa membantu kita di saat-saat seperti ini."
Pikiranku melayang jauh, membayangkan adegan di masa depan ketika anakku bertanya dengan polosnya, "Ibu, kenapa kau dan ayah melahirkanku?"
Dan aku pun akan menjawab dengan tampang tanpa dosa, "Karena ibu dan ayah terlalu malas, kami membutuhkan seseorang untuk melakukan pekerjaan rumah tangga."
Ugh, tiba-tiba aku merasa bersalah. Entah pada siapa.
