BoboyBoy © Animonsta

BE MINE! © Penjual Senjata Haram Pa Gogo

Genre : Romance, & Drama

Rated : M

Warning(s) : AR, yaoi, rated M for lemon scene, OOC, OC, BoboiBoyXFang, 6 years skiptime, highschool life, Indonesian

.

Don't like, don't read!

.

.

.

Chapter 2 : Say "I Love You"

Sinar mentari berhasil lolos melalui celah jendela kamarnya, mengusiknya. Fang mengerjap-kerjapkan mata seraya menggerutu tak jelas, sambil menggeliat tak nyaman, sebelum benar-benar bangun, merasakan rasa pegal yang seolah menyumbat seluruh pembuluh darahnya. Ia terduduk, diam.

Tatapannya tertuju pada jam weker yang tergeletak di atas meja,yang menunjukkan pukul 6.30. Biasanya benda itu disetel pada angka lima, sehingga ia bisa bangun subuh dan bersiap ke sekolah sebelum jarum menunjukkan pukul enam. Namun kali ini ia membiarkannya. Menghela nafas sejenak, sebelum melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

Fang menggigit bibir bawahnya saat ia membuka seluruh pakaiannya, menemukan berbagai jejak kemerahan beraneka macam pada permukaan kulitnya.

Ah, sial…

.

.

Flashback

Matahari makin terlahap oleh garis horizon, membuat senja perlahan-lahan mulai menggantikan cahaya orangenya dengan kegelapan. Sepertinya hanya mereka berdua saja manusia yang berada di sekolah ini. BoboiBoy membawa Fang masuk ke dalam ruang perlatan olahraga, dan menaruh tubuh itu di lantai berkarpet dengan perlahan.

Pemuda itu lalu mencari seklar lampu, dan menekannya saat menemukannya. Tak genap sedetik ruangan yang awalnya gelap itu kini didominasi oleh cahaya putih yang remang-remang. BoboiBoy lalu menutup pintu, menimbulkan suara berdecit yang menggema di suasana sekolah yang nampak sepi. Ruangan itu hanya bisa terkunci dari luar, membuat BoboiBoy harus mengganjal pintu itu dengan keris petirnya.

Oke, semua beres.

Iris hazelnya kini menatap sedih kepada pemuda bersurai biru tua yang kini tengah berusaha melepaskan borgolan tanah di tangan ringkihnya sekuat tenaga. Ia sepertinnya tak mengetahui apa yang sedari tadi dilakukan BoboiBoy. Salahkan mata minusnya yang muncapai 3 dioptri itu.

"Fang…" yang dipanggil tersentak, menyipitkan matanya kepada pemuda yang berjalan mendekatinya. Fang menggeser bokongnya menjauh, namun ia terhenti saat punggungnya menabrak tembok.

BoboiBoy kini berada tepat di depannya, berlutut dan menatapnya. Sayangnya Fang tak bisa melihat jelas ekspresi itu, hingga ia tersentak saat merasakan pipinya dirangkup oleh kedua tangan yang agak kasar.

"Fang, maafkan aku,"

Ia lalu merasakan hembusan nafas hangat menabrak wajahnya.

"Aku mencintaimu,"

Untuk kesekian kalinya hari ini, iris karamel itu membelalak. Namun kali ini lebih lebar dari yang biasanya. Bahkan saking terkejutnya, mulut Fang terbuka, membuatnya terlihat sangat bodoh dengan ekspresi itu.

Fang rasanya ingin kabur dari dunia ini untuk hari ini saja. Pertama Kak Azroy, kapten tim basketnya. Lalu BoboiBoy, teman masa kecil, sekaligus rivalnya. Ia sudah terbiasa dikejar-kejar oleh perempuan sepanjang hidupnya, namun kali ini lain ceritanya. Yang menyukainya adalah LAKI-LAKI! Dua lelaki menyatakan cinta padanya hari ini. Dan parahnya lagi mereka adalah orang-orang yang tak bisa Fang hindari selama masa SMAnya.

Seandainya ia bisa menemui Adu Du dan kembali berkomplot dengannya, Fang lebih memilih untuk memerankan peran antagonis, yang penting ia bisa keluar dari situasi ini.

Fang masih kalut dalam pikirannya, hingga ia tak menyadari bahwa BoboiBoy semakin mendekatkan wajah mereka, hingga mereka pun berciuman untuk yang kedua kalinya.

Fang membelalakkan matanya, merasakan organ kenyal itu mengemut belahan merah mudanya. Meski ada sensasi nyaman saat BoboiBoy mengemut bibir tipisnya—seolah benar-benar terasa manis, Fang tetap saja melawan, mendorong dada pemuda itu sekuat tenaga.

"Mpphh…" awalnya ciuman itu terasa lembut, namun hanya mencapai beberapa detik.

BoboiBoy kembali menciumnya dengan bringas, membuat saliva mereka saling bercampur. Fang berusaha menolehkan kepalanya, hingga ciuman itu terlepas untuk beberapa saat. Namun dengan segera si pemuda bertopi reptile itu kembali menghadang wajah tirus si korban, kembali menikmati gua pemuda yang pernah menjadi rivalnya itu.

Tangan Fang yang terborgol berusaha mendorong tubuh BoboiBoy, namun pemuda itu malah semakin menekankan wajahnya, memperdalam ciuman mereka. Lidah BoboiBoy mengaduk-aduk isi mulut si pemuda China dengan penuh nafsu. Fang tentu saja mmberi perlawanan dengan cara mendorong lidah BoboiBoy dengan lidahnya sendiri. Akibatnya lidah mereka saling beradu di dalam dan BoboiBoy menikmatinya.

"Fangh…"

"Nghh… hahh… hhh…" Fang menetralkan nafasnya saat pagutan BoboiBoy akhirnya terlepas dari bibir tipisnya.

Pemuda itu menjilati rahang Fang, turun ke leher, dan mencumbunya seperti serigala kelaparan. BoboiBoy menggigiti kulit putih itu, meninggalkan beberapa kiss mark di sana.

"Ngkhh…" Fang mengejang geli. "H─hentikann… ahh! " ia menggeliat kegelian saat BoboiBoy berhasil menemukan titik sensitifnya, memainkannya dengan ujung lidahnya. Bahu pemuda itu tercengkram erat, membuatnya tak dapat lolos.

BoboiBoy merasa terganggu dengan dorongan yang sedari tadi diusahakan oleh pemuda bermata minus di depannya. Ia memang lebih kuat dari Fang, namun Fang juga sangat kuat. Semuanya pasti akan menjadi lebih mudah jika saja Fang seorang gadis, atau mungkin setidaknya Fang bukanlah anggota klub basket yang setiap hari harus menjalani latihan rutin, baik stamina ataupun fisik.

BoboiBoy melepaskan cumbuannya, membiarkan Fang mengatur nafasnya. Ia menyeka air liurnya sendiri yang berserakan di dagunya, menatap Fang dengan penuh hasrat.

Ah, sial…

BoboiBoy lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan mata hazelnya membulat senang saat menangkap sebuah tali yang biasa digunakan untuk olahraga lompat tali atau pemanasan.

Tanpa basa-basi ia langsung mengambil tali itu, dan mengikatkannya pada borgol tanah yang mengikat tangan si pemuda keturunan China.

"Bobo─Boy… hhh… Aku akan membunuhmu… hh…" Fang masih sempat-sempatnya memberikan delikan penuh kebencian meski nafasnya sedang tidak beraturan. Ia merasa tubuhnya begitu lemas. Memberikan perlawanan sepertinya hanya sia-sia.

BoboiBoy mengabaikan pemuda itu, lalu mengikatkan ujung tali tebal itu pada gantungan yang si pemiliknya sudah ia lemparkan sembarang. Kini Fang benar-benar tidak bisa melawan, mengingat kedua tangannya terikat ke atas. Namun bukan Fang namanya jika menyerah semudah itu. Setelah ia rasa nafasnya kembali normal, Fang meronta-ronta dengan kakinya, berusaha menendang pemuda di depannya.

"Lepaskan aku!" ia nyaris berteriak. "Kukira kau pahlawan Pulau Rintis yang dipuja-puja orang! Kau tak lebih dari pecundang penyuka sesama jenis!" bentaknya sengit. "Lepaskan aku bodoh! Kubunuh kau!"

BoboiBoy hanya menghela nafas pendek mendengar cacian Fang. Ia kembali bertekuk lutut, membungkam bibir tipis merah basah itu dengan bibirnya.

"Mpphhh!" perlawanan Fang menjadi lebih liar. Sepertinya ia telah mengumpulkan kembali tenaganya.

BoboiBoy pun tidak mau kalah. Tangannya yang awalnya mencengkram bahu pemuda oriental itu kini melesak masuk ke dalam kemeja putih sang empunya, menemukan dua daging kecil yang terasa empuk di tangannya.

Fang tersentak.

"Nggg… Mpphh!"

BoboiBoy memainkan kedua puting yang mulai mengeras itu. Memilinnya, menyentilnya, bahkan mencubitnya dengan gemas, membuat sang pemilik menggelinjang penuh kenikmatan. Ia lalu melepaskan ciumannya, dan kembali mencumbu leher Fang, membiarkan desahan pemuda itu menggiringi aksinya.

"Ahhh! H─hentikaaannhh… Ngghhhk!" kaki Fang meracau-racau tidak jelas, dan sialnya hal itu—kembali—mengganggu BoboiBoy.

Sekali lagi si pengendali elemen menghentikan cumbuannya, membiarkan si pengendali bayangan kembali menetralkan nafasnya. Wajah putih Fang kini semerah tomat, dan setetes saliva yang berhasil lolos dari sudut bibirnya. Hal itu membuat BoboiBoy semaki 'lapar', membuatnya mengerang, merasakan sesuatu yang sesak pada area bawahnya.

"Keris petir!" BoboiBoy mengeluarkan kekuatannya yang berwarna kuning itu, dan secepat kilat—

"!?"

—pakaian Fang yang tersobek menjadi beberapa bagian itu tergeletak di lantai.

"K─kau gila BoboiBoy!" Fang semakin emosi. Pemuda di depannya ini benar-benar berniat memerkosanya. Meski saat ini ekspresi wajahnya menunjukkan emosi penuh kemarahan, namun perasaannya diselubungi oleh ketakutan yang luar biasa.

Utamanya saat BoboiBoy mengangkat tubuhnya kurusnya, hingga ia terduduk di pangkuan pemuda itu.

BoboiBoy memeluk tubuh kurus itu dengan erat, menanamkan wajahnya di dada Fang yang agak terbentuk akibat latihan.

"Aku gila karena kau, Fang…"

Setelah itu BoboiBoy meraup puting merah muda Fang, mengemutnya seperti bayi. Si empunya tentu saja tersentak, menggelinjang geli.

"Ahhh… J─jangan di sanaaa! Ngghhh…" Fang berusaha meronta, namun tubuhnya benar-benar terkunci. BoboiBoy melumat puting kirinya, sementara yang sebelah kanan dimainkan oleh jemari besar si pemilik kuasa tiga. BoboiBoy melakukannya secara bergantian, memberikan sensasi yang tak pernah dirasakan oleh Fang.

"Haahhh… K─kubilang hentikanh… A─aku bukan… perempuan, bodohh… Akh!" ia memekik saat pemuda yang lebih rendah darinya itu menggigit puting kanannya. "K─kumohon hentikan… Boboi… ah! BoboiBoyhh… ngghh…"

"Ya, Fang… sebut namaku…" desahan Fang membuat BoboiBoy makin liar dengan permainannya. Ia menjelajahi tubuh yang terlatih dengan baik itu dengan lidahnya, meninggalkan beberapa cap kemerahan di sana.

"Fanghh…" BoboiBoy kembali mendongkak, lalu meraih leher Fang dan melumatnya lembut. Ia lalu menjilat cuping pemuda oriental itu dengan sesual, membuat sang empunya kegelian. "Aku mencintaimu Fang…" BoboiBoy berujar lirih, menyandarkan dahinya pada bahu korbannya.

Sejujurnya ia merasa begitu menyesal telah memperlakukan sahabatnya—atau mungkin rivalnya sejak kecil seperti ini. Namun kemarahan menguasainya. Kemarahan saat melihat Fang nampak biasa-biasa saja setelah dicium oleh lelaki yang bukan dirinya.

'Itu hanya ciuman,'

Kemarahan itu kembali menguasai pemuda berparas imut itu.

Mulutnya kembali mengemut setiap inci dari kulit pemuda China di depannya, membiarkan nafsu menguasainya.

"Danh…" suara BoboiBoy terdengar serak di telinga Fang. "Kau juga harus mencintaiku…" ucapnya lalu menggigit ujung teliga pemuda itu.

"Berhenti… BoboiBoyhh! Ngghh… sadarlahh…"

Mengabaikan rintihan Fang, tangan BoboiBoy lalu turun, meraba sebuah gundukan di sana. BoboiBoy mengelusnya, menggoda si pemilik yang tersentak geli itu.

"Kau bertingkah seperti membencinya Fang…" ia menjilat bibir Fang. "Tapi tubuhmu berkata lain…"

Tanpa basa-basi, BoboiBoy lalu menurunkan Fang dari pangkuannya. Fang meronta sekuat tenaga saat BoboiBoy membuka resleting celana sekolah miliknya, dan menurunkannya serta boxer yang dipakainya. BoboiBoy melempar kedua celana itu sembarang tempat, menatap lelaki yang dicintainya yang kini benar-benar polos. Tanpa pakaian, tanpa kacamata. Ah, benar juga. Sepatu serta sarung tangan ungu itu masih setia terpasang.

Kejantanan si pemuda China itu nampak menegang dengan ujung yang mengkilat, mengeluarkan setetes cairan kental. Menyadari tatapan lapar dari BoboiBoy, Fang segera merapatkan kedua lututnya.

Sayangnya tangannya terikat, membuat BoboiBoy dengan leluasa membuka kedua kakinya, memperlihatkan kenjantanan yang amat menggoda itu.

"Ah… Fang…" milik Fang termasuk ukuran normal untuk remaja seusianya, namun terlihat begitu putih dan mulus.

BoboiBoy meneguk ludahnya. Ia lalu menahan kaki Fang dengan sikunya. Fang meringis saat miliknya dipegang oleh BoboiBoy.

"J─Jangan BoboiBoy…" pintanya. Kini ia harus membuang harga dirinya, memberikan intonasi memelas pada kalimatnya. "Kumohon… Jang—ahhh…!"

BoboiBoy memasukkan benda itu ke dalam mulutnya, mengemutnya seperti permen. Ia memainkan ujung lidahnya pada lubang kencing pemuda itu dengan ganas, mengabaikan si pemilik yang kini nyaris berteriak.

"Ngaaahh… hh… ahhhh! B─berhentiii…! Haahhh! Boboihh...Boyhh!" Fang tidak tahan dengan sensasi yang diterimanya, apalagi saat BoboiBoy memainkan dua biji kembarnya. Pemuda itu memainkan privasinya dengan begitu ganas. Fang mau tak mau menggeliat, menahan sensasi yang seolah mendidihkan darahnya.

BoboiBoy makin terangsang dengan erangan yang dikeluarkan pemuda itu. Ia semakin merapatkan bibirnya, meremas benda itu dengan dua belahan merah mudanya. Lidahnya melesak-lesakkan diri ke lubang kencing Fang, seolah benda itu cukup untuk masuk ke sana. Tangannya tak lupa memainkan biji pelir Fang, mengelus, bahkan meremasnya.

Kaki Fang berusaha menutup, namun BoboiBoy menahannya dengan kuat. Fang terus mengerang penuh kenikmatan, mengabaikan salivanya yang kini mulai menetes, melewati sudut bibirnya.

Permainan BoboiBoy berlangsung cukup lama, hingga Fang merasa kepalanya seperti terpukul oleh sesuatu. Seluruh tubuhnya mengejang. Aliran darahnya seolah terpusat pada satu organ; kejantanannya yang sedang dimainkan oleh BoboiBoy.

BoboiBoy merasakan kejantanan Fang berkedut dalam mulutnya. Ia pun melepaskan lumatannya, dan mengocok benda itu dengan kencang.

"A─aa─aaaahhh!" Fang mengejang tertahan. Kepalanya serasa mau meledak saat cairan yang seharusnya keluar itu masih berada di dalam. Ia menunduk tak sabar, melihat ujung jempol BoboiBoy menahan lubang kencingnya, sementara empat jemari yang lain meremas benda itu, mencegah cairan yang kini sudah mendesak keluar.

Fang menggeliat liar. "L─LEPASKAN BOBOIBOOYY!" Fang tak bisa mengontrol dirinya untuk tidak berteriak. Kedua kakinya menendang-nendang tidak jelas, merasakan orgasme pertamanya harus tertunda oleh ulah iseng BoboiBoy.

Si pelaku hanya menyeringai, melihat ekspresi tersiksa Fang. "Akan kulepaskan jika Fang mau menjadi kekasihku,"

Mata Fang membelalak, namun ia tak bisa berpikir cukup jernih untuk mencerna kalimat BoboiBoy. Pemuda itu hanya menggelinjang seperti cacing kepanasan. "LEPASKAAANNHHH!"

"Tidak, sebelum kau mau menjadi kekasihku,"

"Terserah kau! Cepat lepaskaaannh! Nghhhh…!" Fang menggigit bibir bawahnya, menahan sensasi yang seolah akan meledakkan dirinya kapan saja.

BoboiBoy mendekatkan wajah mereka, menyeringai penuh kepuasan. Tanpa mengerti situasi korbannya ini ia malah menciumi wajah tampan itu. "Aku mencintaimu Fang…"

"Ngaaahhh… Haaahhh!" Fang makin tersiksa saat kejantanannya berkedut sesak.

"Ayo bilang kau mencintaiku..." BoboiBoy berbisik, lalu mengecup pelan cuping pemuda berparas China tersebut.

Fang menggeleng.

BoboiBoy menghela nafas pendek. Ia kembali turun, dan mulai mempermainkan bola kembar Fang dengan lidahnya. Dilahapnya bola itu seperti memakan permen, memainkannya dalam mulutnya.

Pemuda ini memang berniat membuat korbannya gila.

Air mata Fang berhasil lolos, menetes di pipinya yang semerah kepiting rebus. Ia sudah tidak tahan lagi.

"AKU MENCINTAIMU! PUAS!? LEPASKAN TANGANMU—!"

BoboiBoy seolah mendengar kabar bahwa ia akan hidup muda selamanya. Ia mendongkak, menatap Fang puas. Lelaki itu lalu mengecup bibir tipis Fang, dan melepaskan genggamannya pada kejantanan yang kini membiru itu.

Croottt…

"A─AAAHHHKK…!" Fang menggelinjang penuh kenikmatan. Tubuhnya melengkung saat cairan putih itu menyembur keluar dengan derasnya. Sensasi ini baru pertama kali ia rasakan. Orgasme pertamanya terasa begitu dahsyat, dan cukup banyak.

BoboiBoy merasakan tangannya basah akibat semburan sperma Fang. Ia menatap jemarinya itu, lalu menjiatinya tanpa rasa jijik.

"Kau begitu manis Fang…"

Fang hanya terengah-engah, kehabisan tenaga. Ia bahkan tidak ingat apa yang dikatakannya barusan hingga BoboiBoy mau berbaik hati membiarkannya orgasme. Lelaki itu menatap sayu pada pemuda yang kini tengah mengemut jemarinya, layaknya seorang bocah yang makan coklat dengan berantakan.

Mata sipit Fang terasa makin berat. Orgasme yang dahsyat tadi sungguh menguras tenaganya. Ia sempat mendengar perkataan BoboiBoy yang menyarankan mengenai ronde kedua, sebelum kantuk menguasainya sepenuhnya.

Pemuda itu pun tenggelam ke alam mimpi.

.

.

Flashback end

Ia begitu naïf mengharapkan kejadian itu hanyalah sebuah mimpi. Sebuah mimpi buruk yang mengiringi masa pubertasnya.

Namun bercak merah ini ialah sebuah bukti nyata.

Fang tidak begitu ingat bagaimana BoboiBoy bisa masuk ke rumah ini dan meletakkannya di tempat tidur. Mungkin saat Fang bergumam tidak jelas karena separuh jiwanya berada di alam mimpi, BoboiBoy memerika celana pemuda oriental itu dan mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dan Fang hanya berharap BoboiBoy tidak melakukan hal yang lebih.

Ia menggeleng cepat, sebelum membasuh seluruh tubuhnya dengan air yang terasa menusuk.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

"Selamat pagi Fang~" sapaan seorang gadis yang mengenakan hijab merah muda hanya ia balas dengan anggukan kecil sebelum ia duduk pada bangkunya yang berada di barisan pojok. Kelas itu sudah ramai, dan Fang menyadari beberapa orang tengah menatapnya heran.

"Eh Fang! Tumben sekali kau datang tidak cepat!" seorang pemuda gempal keturunan India mendatanginya, meyuarakan rasa penasaran dari sejumlah teman sekelasnya.

"Terserah aku mau datang cepat atau lambat, "ketusnya.

Si penanya hanya mendengus kesal. Namun sepertinya ia masih belum mau beranjak dari tempat itu, berniat untuk menggoda pemuda keturunan China di depannya. "Kau lagi badmood ya Fang? Lagi PMS?"

Fang berdiri dari kursinya. "Apa kau bilang!?"

"Hei, hei… sudahlah. Tidak baik bertengkar pagi-pagi…" Yaya datang melerai mereka berdua. Meski suaranya terdengar lembut, buku catatan serta pulpen berkepala dombanya setia ia pegang, membuat Gopal dan Fang terpaksa meneguk ludah.

"Hoi Fang. Tanganmu kenapa?" Ying ikut bergabung bersama mereka bertiga. Mata sipitnya tertuju pada lingkaran merah yang menghiasi pergelangan tangan pemuda ber-ras sama dengannya itu.

Respon Fang di luar dugaan teman-temannya. Pemuda itu seperti tersedak sesuatu, dan seketika wajahnya memerah. Fang mengelus pergelangan tangannya itu, mengingat kejadian memalukan yang menimpanya kemarin. Ia menyempatkan diri untuk melirik ke depan, mendapati bangku BoboiBoy masih kosong, membuatnya bertanya-tanya, kenapa pemuda itu belum datang? Biasanya BoboiBoy selalu berlomba-lomba dengannya untuk datang lebih dahulu.

Mungkin sebaiknya dia memang tidak datang hari ini.

"Dia diringkus aparat kemarin. Maklumlah, penjahat kelas kakap,"

Ah, dia datang.

Keempat orang itu langsung menoleh ke arah pemuda bertopi reptile yang baru memasuki kelas. Sekali lagi Gopal, Yaya, dan Ying dikejutkan dengan reaksi Fang yang lain dari biasanya. Padahal mereka yakin sekali pemuda China itu akan berdiri dari kursinya sambil menggebrak meja, mencaci BoboiBoy dengan kata-katanya yang pedas.

Tapi kali ini ia malah memalingkan wajahnya, dengan bibir bawah yang tergigit keras.

"Aku… aku harus ke toilet!" dan pemuda itu melesatkan diri ke luar kelas.

.

.

Fang menyesali nasibnya yang begitu buruk hari ini. Ia tengah berlari untuk menghindari BoboiBoy (setidaknya sampai jam pelajaran dimulai) namun ia malah bertemu dengan orang kedua yang ingin dihindarinya. Azroy. Mereka berpapasan di lorong, dan Fang mau tak mau menghentikan langkahnya.

"Eng…" Azroy nampak menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Kemarin kau langsung pulang yah?" tanyanya dengan nada canggung. "Aku kembali ke sekolah, mencarimu tapi kau tidak ada. Saat aku mampir ke rumahmu… masih terkunci rapat,"

Fang tersentak. Entah bagaimana ia harus bersyukur pemuda tinggi di depannya ini tak mencarinya ke ruang peralatan olahraga. Jika sampai hal itu terjadi, ia tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya selanjutnya. Meski saat itu ia berharap seseorang akan datang, menyelamatkannya dari kegilaan BoboiBoy.

Fang menggaruk pipinya. "A─aku mampir ke rumah teman,"

Mata Azroy menyipit. "Teman sia—"

"Maaf kak, aku harus pergi," tanpa memberi kesempatan pemuda yang telah merenggut ciuman pertamanya itu untuk bicara Fang pun kabur untuk yang kedua kalinya.

Secepat kilat ia masuk ke toilet, mengunci diri di sana. Ia mengatur nafasnya, lelah berlari.

Fang menatap pergelangan tangannya yang merah, bekas borgolan BoboiBoy kemarin. Hatinya seperti diremas saat ia mengingatnya. Ia berusaha untuk melupakannya, namun ingatannya masih berfungsi dengan sangat baik. Andai saja ia memiliki kelemahan seperti milik BoboiBoy, ia pasti akan terus menggunakan kekuatannya, hingga menjadi pelupa.

Fang mengelus tengkuknya. Ia menyesali dirinya yang menikmati permainan pahlawan Pulau Rintis itu. Ia tak bisa mengelak. BoboiBoy seperti tahu semua titik sensitifnya, dan saat lelaki itu menyentuhnya, Fang dengan memalukannya mendesah seperti seorang pelacur.

Ia bersyukur BoboiBoy tak cukup gila untuk menyetubuhinya yang kehilangan kesadaran. Ia malah dibawah pulang ke rumah, dan ditidurkan dengan damai di atas ranjang. Saat itu Fang merasakan aroma BoboiBoy pada tubuhnya. Mungkin lelaki itu memakaikan rompi orangenya pada Fang, dan menggantinya saat sampai di rumah.

'Kenapa BoboiBoy melakukan semua itu?' Fang menyandarkan punggungnya ke tembok. Ia seharusnya membenci pemuda itu setelah semua yang dilakukannya, namun ia tak bisa melakukannya. Ia malah mengharapkan semuanya menjadi normal, seperti semua ini tak pernah terjadi.

Tok tok…

Suara pintu yang diketuk dua kali menyadarkan Fang dari lamunannya. Pemuda itu hanya membalasnya dengan dua ketukan yang sama, menandakan bahwa toilet ini sedang dipakai.

Tok tok!

Pintu itu kembali di ketuk. Kali ini lebih keras. Fang memutar bola matanya. Apa mungkin toilet sebelah sedang dipakai, dan orang di balik pintu ini benar-benar harus buang air.

Ya sudahlah. Ia bisa menunggu bel masuk di luar, yang penting ia terhindar dari BoboiBoy.

Fang pun membuka kunci tempat itu, dan—

"—hmph!"

BLAMM!

Ceklek.

Seseorang langsung melesak masuk, menutup, serta mengunci pintu toilet itu. Menabrakkan tubuh Fang pada tembok dan membungkam mulutnya. Iris caramel Fang membulat.

.

.

.

Tbc

A/N :

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terumakasih yang sebesar-besarnya atas review yang kemarin ^/\^ Padahal saya mikirnya bakal dapat kritikan pedas, bahkan flame. Ga nyangka bakal disambut baik gitu… :'D /terharu/

Maaf atas ke-OOC-an para chara di sini. Maklum, author lagi 'terbawa suasana' pas ngetik, jadi… ya gitulah! XD Saya sendiri juga sering OOC jika menyangkut hal yang disukai~ /plak

Yosh! Sekarang, bolehkah saya meminta review anda lagi…? Silahkan memberikan kritik, saran, pendapat sekalian~ XD

Akhir kata, review please~