BoboiBoy menatap sendu kepada pemuda yang kini tengah tersandar di tembok, mengenakan celana sekolah dan jaket tanpa lengan merah. Pandangannya tertuju pada bekas kemerahan pada pergelangan tangan pemuda ringkih itu, bukti bahwa seberapa keras ia mencoba untuk lolos dari borgolan tanah yang mengikatnya beberapa menit yang lalu.

"Maaf Fang…" bibir tipisnya bergumam sedih. Dengan lembut—mencoba untuk tidak membangunkan si pemuda—ia pun mengangkatnya, membawahnya di atas punggungnya.

"Ng…" pemuda yang ia panggil Fang itu melenguh tak nyaman, namun tak terbangun.

BoboiBoy tersenyum tipis, menyamankan posisi Fang di punggungnya, lalu berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah yang sengaja ia buat cepat agar mereka bisa sampai di tempat tujuan tanpa harus menghirup banyak angin malam. Tentu saja setelah ia merapikan tempat itu, menghapus segala bekas 'permainannya'.

Entah dirinya yang memiliki kekuatan di atas manusia biasa, atau tubuh Fang terasa lebih ringan dari kelihatannya. Fang masih terlelap ke alam mimpi, meski beberapa kali harus melenguh, tak nyaman dengan angin malam yang manusuk hingga ke tulang. Maka BoboiBoy pun mempercepat langkahnya.

Tak butuh waktu yang lama sampai ia tiba di sebuah rumah kecil sederhana yang terletak agak dekat dari sekolahnya. Jika diingat-ingat, ini pertama kalinya ia pergi ke rumah teman SDnya itu, mengingat betapa keras Fang menolak, jika keempat temannya hendak main ke rumahnya.

"Kalian hanya merepotkan," katanya.

BoboiBoy kembali mengukir senyum. Ia menaikkan tubuh Fang yang sempat agak merosot dari punggungnya, membuka pagar besi putih itu lalu masuk ke dalam.

Ia cukup naïf, berpikir bahwa orang seteliti Fang lupa mengunci pintu rumahnya sendiri. Ia pun menolehkan kepalanya ke belakang, menangkap wajah tidur Fang yang nampak tenang.

"Fang, kau taruh kuncimu dimana…?" setengah-setengah, antara harus membangunkan pemuda itu atau tidak, BoboiBoy bertanya lirih. Ia menghela nafas pendek saat tak memperoleh sahutan, hanya mendengarkan suara dengkuran kecil dari pemuda manis itu.

Dengan pelan, didudukkannya Fang di atas lantai teras rumah yang gelap gulita tersebut, mencari benda kecil bergerigi di saku celana si pemilik rumah. Senyumannya merekah saat menemukan benda yang dicarinya di sana.

BoboiBoy pun membuka pintu rumah itu, sehingga menimbulkan suara berdecit. Ia harus menggunakan kuasa apinya untuk menemukan seklar lampu, dan seluruh ruangan yang awalnya gelap gullita kini menjadi terang benderang.

Ia cukup kagum, melihat rumah kecil itu dalam kondisi bersih dan rapih. Sangat langka, untuk ukuran lelaki SMA yang tinggal sendirian. Mungkin Fang bisa menjadi istri yang baik di masa de—

BoboiBoy segera menepis pikirannya yang sudah melantur kemana-mana. Ia kembali keluar untuk mengambil pemuda China itu, mengangkatnya masuk ke dalam setelah ia menutup kembali pintu itu.

Rumah itu tak terlalu besar. Ia langsung menemukan tempat tidur, sofa, meja ,televisi dan lemari di ruangan utama. Ada sebuah ruangan lain yang dibatasi sebuah korden, dan BoboiBoy menduganya sebagai dapur dan kamar mandi.

Dengan—sangat—lembut dibaringkannya tubuh kurus itu di atas ranjang. Ia lalu membuka lemari Fang, mengobrak-abrik isinya, dan tersenyum saat mendapatkan piyama ungu yang tergantung di sana.

Ia pun membuka jaketnya yang ia pasangkan pada pemuda itu, dengan hati-hati, mencoba untuk tak membangunkannya. Semburat kemerahan tipis mewarnai pipinya saat mendapati tubuh putih Fang terdapat banyak bercak kemerahan, bekas permainan liarnya. Ia segera menggelengkan kepala, memakaikan piyama ungu tersebut ke tubuh kurus sang pemilik, lalu menarik selimut untuk menutupinya.

BoboiBoy mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu segera. Ia malah mengambil tempat duduk di sisi ranjang, memperhatikan wajah tidur Fang.

Tangannya terangkat, mengelus lembut wajah tirus pemuda itu. Mulai dari alis, kelopak mata, pipi, hidung hingga jemari besar itu menyentuh bibir pemuda itu. Bibir merah yang sedikit terbuka. Perlahan, BoboiBoy memajukan tubuhnya, hingga kedua bibir mereka saling menempel.

Ia bisa merasakan deru nafas Fang yang beraturan menabrak wajahnya. Memang menyenangkan mencium Fang, utamanya jika pemuda itu memberontak… atau bahkan lebih baik jika ia mau membalas ciumannya. Namun Fang yang tidur tanpa perlawanan menimbulkan sensasi menyenangkan, seolah pemuda yang terbaring itu adalah miliknya seutuhnya. Diam, tak berdaya.

BoboiBoy memagut bibir tipis yang mulai basah olehnya itu, menikmatinya seperti permen. Setelah puas, BoboiBoy pun memisahkan wajah mereka, setelah memberi kecupan singkat di pipi pemuda itu.

Aroma maskulin yang bercampur dengan aroma anggur rambut lelaki itu menguar, seolah menghipnotis BoboiBoy. Ia bisa saja menerjang Fang saat ini juga, 'melahap'nya tanpa sisa. Namun mengatasnamakan kerasionalan otaknya, BoboiBoy menggeleng cepat.

Kasmaran ini benar-benar membuatnya mabuk. Ia tak menyangka dirinya akan senekat itu melakukan hal tidak senonoh pada sahabat karib sekaligus rivalnya itu, hanya karena terbawa emosi.

Tapi mau diapa? Nasi sudah jadi bubur. Besok dan seterusnya Fang pasti akan menjauhinya, memutuskan hubungan mereka.

BoboiBoy tidak punya pilihan lain. Ia harus menjadikan Fang miliknya seutuhnya.

.


.

BoboiBoy © Animonsta

BE MINE! © Penjual Senjata Haram Pa Gogo

Genre : Romance, & Drama

Rated : M

Warning(s) : AR, yaoi, rated M for lemon scene, typo(s), OOC, OC, BoboiBoyXFang, 6 years skiptime, highschool life, Indonesian

.

Don't like, don't read!

.

.

.

Chapter 3 : Decision

Fang merasa tidak berkutik, saat pemuda di depannya mengunci tubuhnya di tembok dan membekap mulutnya, membuatnya tak bisa apa-apa.

Apa yang dilakukan BoboiBoy di tempat ini!? Apa pemuda itu mengikutinya? Fang meneguk ludahnya, merasakan sebuah firasat buruk. Utamanya saat BoboiBoy mengangkat sudut bibirnya, memberikan seringai yang sukses membuat bulu kuduk Fang bergidik ngeri.

Fang kembali mendapatkan nafasnya saat BoboiBoy dengan pelan menarik tangannya, membuka bungkaman dari mulut lelaki itu. BoboiBoy member isyarat—lebih terlihat seperti ancaman—agar pemuda di depannya ini tak berteriak.

Fang dengan kasar mendorong tubuh yang lebih pendek darinya itu "Apa yang kau lakukan di sini!?" tanyanya dengan suara berbisik. Meski saat ini ia dalam posisi berbahaya, namun ia tak mau seorang pun menemukan dirinya dan BoboiBoy tengah berduaan di dalam toilet. Bisa hancur reputasinya.

"Mengikutimu," BoboiBoy menjawab dengan polosnya, disertai senyuman anak-anak yang sering dilihat Fang akhir-akhir ini. Pemuda itu lalu kembali maju, mengurung Fang dengan kedua tangannya yang menyentuh tembok. Senyuman manis itu lalu terganti dengan sebuah seringai. "Mau lanjutkan yang kemarin?"

BoboiBoy pun berjinjit dan mendekatkan wajahnya—

"?"

—dan ia menyadari mulutnya ditutupi oleh semacam kain kulit. Fang menahan bibir pemuda itu dengan telapak tangannya, menatapnya dengan tatapan sedingin es.

"Kuharap kau berhenti melakukan ini," Fang berujar dengan nada rendah dan tajam. Satu dorongan kecil membuat pemuda di depannya mundur dua langkah. Ia lalu melangkah, melewatinya begitu saja.

Baru saja ia hendak membuka pintu toilet itu, matanya kembali membulat saat merasakan sesuatu melingkar di pinggangnya. Fang menoleh, medapati sebuah topi orange terbalik dengan lambang listrik di sana. BoboiBoy memeluknya dari belakang, dan menenggelamakan kepalanya sendiri pada tengkuknya.

Jantung Fang derdetak dengan cepat. Aliran darahnya kini terpusat pada wajah orientalnya membuat warnanya berubah menjadi kemerahan. Fang menggenggam tangan BoboiBoy yang memeluknya, berusaha melepaskan diri. Namun pemuda beriris hazel itu juga tak ingin kalah, memeluknya lebih erat dan makin erat.

"Lepaskan bodoh! Kita harus masuk ke kel—angh!" Fang tanpa sadar mendongkak, saat merasakan sensasi aneh dimana BoboiBoy menyentuh nipplenya dari luar dan memilinnya pelan. Tak sampai setengah menit untuk membuat dua tonjolan kecil itu menegang.

"K─kau gila!? Lepaskan…" Fang berusaha sekuat tenaga melepaskan kedua tangan itu dari tubuhnya. Namun semakin kuat ia melawan semakin keras pula cubitan BoboiBoy pada daging kecil yang terlapisi seragamnya itu.

"Bukannya kau mencintaiku…?" BoboiBoy mulai menciumi tengkuknya, membuat si empunya kegelian. "Kau sendiri yang mengatakannya, bukan…?" ia pun berpindah ke daun telinga pemuda itu.

"Kau yang memaksaku melakukannya!"

"Kau melakukannya untuk memperoleh orgasmemu… Itu keinginanmu,"

Perkataan itu sukses membuat Fang mematung di tempat. Saat itu dirinya benar-benar terangsang hingga ia kehilangan akal sehatnya. Ingin sekali ia memebenturkan kepalanya ke dinding, berharap semua ingatannya mengenai hal itu terhapus seketika.

Memanfaatkan kesempatan saat Fang tengah lengah, BoboiBoy pun melesakkan tangannya melalui seragam Fang yang tak ia masukkan, menemukan puting yang sudah menegang di sana dan kembali memilinnya.

Fang terkejut dengan perlakuan itu. Ia mulai menggunakan seluruh tubuhnya untuk memberontak. Ia semakin liar saat tangan kanan BoboiBoy yang awalnya memainkan putingnya turun ke bawah, meraba sebuah gundukan yang mulai menegang dari luar.

"Nghhh! J─janganh!" Fang memberontak semakin keras.

"Tubuhmu meresponku dengan baik, Fang. Kau menyukainya 'kan?" BoboiBoy berbisik tepat di telinga pemuda itu, sebelum menggigit kecil daun telinganya.

"T─tidakh… mphhh…" merasa tak dapat menyamai, apalagi melebih kekuatan BoboiBoy, Fang memilih untuk menggunakan kedua tangannya untuk membungkam kedua mulutnya sendiri, sehingga orang di luar tak akan mendengar desahannya yang memalukan.

"Aku mencintaimu Fang…" BoboiBoy mulai membuka ikat pinggang yang dikenakan Fang, menjatuhkannya asal lalu menurunkan resleting pemuda itu. Dengan perlahan, tangannya masuk, melewati boxer Fang dan menemukan apa yang dicarinya di sana.

"Nghhh… Mhhh!"

"Belum apa-apa kau sudah tegang begini. Kau pasti sangat menyukainya,"

BoboiBoy memainkan ujung kejantanan Fang dengan jari telunjuknya, membuat sang empunya menggeliat tertahan. Perlahan namun pasti, ia mulai mengelus-elus benda itu.

"H─henti—"

Kring kring kring…

BoboiBoy menghentikan gerakan tangannya saat mendengar bel sekolah berbunyi, tanda pelajaran pertama akan dimulai. Ia mendengus sebal, sebelum mengeluarkan tangannya dari celana milik Fang.

Si pemilik harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan desahan kecewa saat permainan itu harus terhenti sebelum ia 'keluar'. Namun di sisi lain ia merasa bersyukur, sekaligus merasa marah pada dirinya sendiri. Ia membenci dirinya yang menikmati setiap sentuhan dari BoboiBoy. Ia tidak menyukainya, namun ia menikmatinya. Perasaan ini sungguh membuatnya bingung.

Sambil menetralkan nafasnya yang tak beraturan, Fang merutuki dirinya sendiri.

Lamunannya tersadar saat BoboiBoy menyerahkan ikat pinggang yang sempat tergeletak di lantai itu padanya. Fang menatap ikat pinggang itu dan wajah BoboiBoy secara bergantian, sebelum ia merampasnya dengan kasar dan mulai merapikan pakaiannya.

BoboiBoy hanya tersenyum tipis, menanti pemuda itu selesai dengan urusannya. Setelah semuanya beres, ia lalu membuka perlahan pintu toilet itu, dan mengintip keluar, memastikan tidak ada siapa-siapa di sana.

Ia pun masuk kembali, berjinjit, menempelkan bibirnya pada bibir tipis Fang.

Kecupan singkat itu cukup mengagetkan Fang. Dilihatnya BoboiBoy menatapnya penuh kelembutan, sebelum mengacak-acak rambut biru tuanya dengan gemas.

"Sampai jumpa di kelas!" dan BoboiBoy pun memacu dirinya, meninggalkan ruangan itu terlebih dahulu.

Fang terdiam. Tangannya terangkat, menyentuh bibirnya dengan ujung jemari nya.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Satu-satunya yang harus disalahkannya kali ini ialah nasib sialnya. Fang menatap papan tulis dengan horror, melihat namanya ada di barisan tiga kolom tiga. Pada kolom yang sama barisan pertama, ia mendapati nama BoboiBoy di sana. Harusnya ia berteriak untuk meminta undian ulang, namun ia yakin, bukan hanya dirinya saja yang menginginkannya.

Gurunya baru saja memberikan tugas kelompok. Dan karena muncul berbagai perseteruan seperti si A yang tidak mau sekelompok dengan si B, si C yang harus sekelompok dengan si D, maka diadakanlah undian untuk menentukan teman kelompok. Nama masing-masing nama siswa di tulis pada secarik kertas, dan dipilih secara bergiliran untuk menentukan kelompok mana. Satu kelompok terdiri dari tiga orang. Keputusan undian ini mutlak, dan tidak bisa diganggu-gugat lagi.

Awalnya Fang bersyukur melihat orang kedua di kelompok BoboiBoy bukan dirinya, membuat kemungkinan ia sekelompok dengan pemuda itu makin kecil. Namun takdir masih ingin bermain-main dengannya, membuat kemungkinan nol koma sekian persen itu terwujud.

Ia sekelompok dengan BoboiBoy, dengan Ying sebagai penengahnya.

Fang melihat BoboiBoy yang duduk di depan berbaik ke arahnya, melambaikan tangannya dengan senyuman cerah. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Ying yang melakukan hal yang sama.

Ah, gadis yang setahun lebih muda itu tidak tahu apa-apa.

Saat guru pengajar keluar kelas, Ying pun mendekatinya, begitu pula dengan BoboiBoy. Fang harus berusaha terlihat senormal mungkin, meski ia tak bisa menahan diri untuk terus menatap Ying agar tak bertemu pandang dengan BoboiBoy.

"Jadi, kita kerjanya di mana? Di rumahku tidak bisa. Ada renovasi," Ying berujar dengan logatnya yang kental.

Fang memilih untuk ikut menolak dengan alasan ia malas mempersiapkan cemilan untuk dua orang itu saat datang nanti. Selain itu ia tak mau BoboiBoy melakukan hal yang 'aneh-aneh' kepadanya jika ada kesempatan. Meski kemungkinan hal itu sangatlah kecil dengan kehadiran Ying. Jika di rumah BoboiBoy 'kan ada Tok Aba dan Ochobot, jadi pemuda itu tak akan berani macam-macam.

Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk mengerjakannya di rumah BoboiBoy sore nanti.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Fang menatap pakaian basketnya, meremasnya. Ia harus berpikir keras untuk mengambil keputusan ikut latihan basket atau tidak hari ini.

Ia sangat ingin bermain basket untuk melepas stressnya, namun ia juga tidak mau bertemu dengan Azroy, kapten tim basketnya.

Fang mengela nafas panjang, sebelum membuka seragam sekolahnya dan menggantinya dengan pakaian basket. Ia harus latihan. Masalah Azroy, ia bisa menghindari pemuda itu bagaimanapun caranya. Lagipula Azroy pasti akan bertingkah normal di depan teman-teman serta juniornya.

Setelah mengganti seluruh pakaiannya, Fang pun berjalan keluar. Alisnya yang tebal mengerut saat melihat pintu ruang ganti itu agak terbuka. Padahal ia yakin tadi ia sempat menutupnya rapat. Mengangkat bahu tidak peduli, ia pun membukanya dan melangkah keluar.

Fang sampai pada lapangan basket yang sudah agak ramai itu. Tatapannya tertuju pada Azroy yang tengah duduk di sebuah bangku, nampak terengah-engah. Entah perasaanya, namun Fang melihat wajah pemuda itu nampak memerah.

"Kau ini darimana sampai berlari seperti habis dikejar anjing itu?" seorang pemain menegur kakak kelasnya itu.

Fang meneguk ludahnya, lalu menggeleng cepat. Sepertinya ia terlalu paranoid hingga memikirkan hal yang tidak-tidak. Lagipula tidak baik jika harus berprasangka buruk pada orang lain tanpa bukti yang jelas.

Ia pun mulai melakukan pemanasan, tanpa menyadari sepasang mata tengah meliriknya seperti seekor singa kelaparan yang menemukan mangsanya sendirian.

.

.

Bau keringat laki-laki menguar di ruangan itu membuat Fang ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu segera. Sebenarnya itu hanya lah alasan semata. Satu-satunya yang membuatnya tak nyaman dari tadi ialah perasaan dimana ia merasa terus diawasi. Saat ia melirik ke arah orang yang dicurigainya itu, si tersangka malah sibuk dengan urusannya sendiri.

Fang menghela nafas pendek. Setelah seragamnya sudah ia kenakan, ia pun melangkah keluar.

"Oi Fang!" sebuah panggilan menghentikan langkahnya. Padahal ia berniat langsung berlari setelah berada 3 meter dari pintu ruang ganti itu. Dengan sangat terpaksa ia menoleh, mendapati Azroy tengah berlari ke arahnya.

"Y─ya, kak?" Fang memaksakan dirinya untuk terlihat senormal mungkin, meski ia yakin saat ini ekspresinya pasti terlihat aneh dan gugup.

"Hari ini kau ada acara? Bagaimana kalau kita keluar? Ada café baru yang dibuka hari ini,"

Fang tersentak terkejut. Namun ia memaksakan senyumannya meski hanya sebuah senyum kikuk. Ia lalu melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga sore. Ia teringat akan janjinya untuk kerja kelompok pukul empat nanti.

"Maaf, aku ada kerja kelompok,"

"Jam berapa? Kau selesai jam berapa?" sepertinya pemuda di depannya tak mau menyerah. Fang yakin Azroy tetap akan mengajaknya meski tengah malam sekalipun.

"A─aku tidak yakin…" Fang kembali memasang senyum kikuknya. Jika saja orang di depannya ini bukanlah kakak kelas sekaligus kapten tim basketnya, ia pasti sudah memakinya dengan kasar, hingga pemuda itu tak berani mendekatinya lagi.

"Kau bisa menghubungiku setelah selesai. Boleh kuminta nomor—"

"Hoi Fang! Kau darimana saja? Aku mencarimu tahu!" sebuah suara menghentikan perkataan Azroy. Kedua pemuda itu menoleh, mendapati seorang pemuda yang mengenakan seragam sepak bola sekolahnya serta topi orange terbalik dengan duri putih di atasnya mendatangi mereka dengan setengah berlari.

"BoboiBoy?" Fang tanpa sadar menggumamkan nama itu.

"Katanya mau kerja kelompok…" saat BoboiBoy sampai, iris hazelnya menangkap sosok jakung yang diketahuinya adalah senior Fang di tim basket—pemuda yang merebut ciuman pertama Fang kemarin. "Eh, maaf. Aku tidak tahu kalian sedang bicara penting," BoboiBoy dengan senyuman ramahnya.

Mata Azroy menyipit tidak senang. Ia mengingat pemuda pendek inilah yang menangkap basah dirinya mencium Fang kemarin, saat ia menyatakan cintanya. Ia pun ikut mengukir senyum.

"Tidak apa-apa. Kami juga sudah selesai kok," ia kini menatap Fang yang memalingkan wajahnya. "Kalau begitu sampai jumpa besok, Fang," ujarnya lalu lekas pergi, masuk ke ruang ganti yang tadi sempat ditinggalkannya.

Fang bagaikan lolos dari singa dengan mengumpankan diri kepada buaya. Kini ia berdua dengan BoboiBoy, yang kini menatapnya.

"Bukannya kerja kelompoknya jam empat?" Fang angkat bicara, memecah suasana yang sempat canggung itu. Ia mulai melangkah, dan BoboiBoy menyamai langkahnya.

"Ooohh… jadi lebih senang berkencan dengannya dibanding kerja kelompok denganku dan Ying?" BoboiBoy berujar dengan nada yang sengaja ia buat kesal.

Fang hanya memutar bola mata menanggapinya. Ia makin mempercepat langkahnya, berharap ia bisa keluar dari suasana 'hanya berdua' ini dengan BoboiBoy.

Sebenarnya ia tak ingin berbicara dengan pemuda di sampingnya ini, namun kesalahpahaman BoboiBoy membuatnya tak nyaman. "Siapa yang mau berkencan dengannya," akhirnya ia berucap, dan detik itu pula ia menyesalinya.

Utamanya saat BoboiBoy memandangnya penuh binar.

"Hahaha, tentu saja. Kau 'kan kekasihku, mana boleh berkencan dengan orang lain!"

Fang menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak kencang, dan entah kenapa wajahnya memanas. Mengingat bagaimana upaya BoboiBoy memaksanya agar menjadi kekasih pemuda itu kemarin sungguh nyaris membuat kepalanya meledak. Ia sungguh tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Saat ia memelas pada BoboiBoy untuk membiarkannya orgasme.

Fang memutar badannya, menyembunyikan ekspresinya. Ia berspekulasi dengan menaikkan kacamatanya.

"Kau tidak perlu malu begitu," BoboiBoy muncul di belakangnya dengan pelan. Ia merasakan jemarinya digenggam oleh pemuda itu. "Aku tak akan bilang ke siapapun kok,"

Dan Fang pun ditarik oleh BoboiBoy, melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.

Fang berusaha menarik tangannya, namun BoboiBoy malah mengapitkan jemarinya di sela-sela jemari kurus pemuda oriental itu.

"BoboiBoy, lepaskan!" Fang mengajukan protes dengan tegas. Kepalanya menatap sekeliling, berharap tidak ada satupun orang di sini, melihat kejadian super memalukan ini.

"Kenapa? Apa salah berpegangan tangan dengan kekasih sendiri?" BoboiBoy bertanya dengan polosnya.

Wajah Fang kembali memerah. "Bisakah kau berhenti mengatakan hal itu?" tangan yang satunya kini membantu pasangannya untuk lepas dari dari genggaman BoboiBoy. "Aku tidak ingin dikatai homo! Apalagi dengan orang sepertimu!"

Fang sudah terbiasa mengeluarkan perkataan pedas kepada teman-temannya, hingga ia tak menyadari pernyataannya barusan sukses mengiris hati pemuda di sampingnya. Kali ini BoboiBoy yang berhenti melangkah, membuat Fang juga ikut berhenti lantaran tangannya digenggam.

"Kau bilang kau bukan homo. Lantas kenapa kau begitu menikmati dirimu disentuh oleh sejenismu?"

Mata Fang membelalak. Ia segera memalingkan wajahnya, menyembunyikan ekspresinya yang hancur. Tangannya kini telah dibebaskan oleh BoboiBoy, membuatnya bisa kabur secepat yang ia bisa.

Namun belum sempat ia melakukannya, pemuda yang berasal dari Kuala Lumpur itu malah menarik dagunya, memaksa agar mereka bertatapan secara langsung. Pandangan pemuda itu begitu tajam, seolah bisa mengiris Fang kapan saja.

"Jawab aku Fang," tegas BoboiBoy.

Fang menggertakkan giginya sebelum ia mendorong tubuh yang lebih pendek darinya itu. Ditatapnya BoboiBoy dengan sirat yang menunjukkan kemarahan. "Itu reaksi alami bodoh! Siapapun pasti akan terangsang jika titik sensitifnya disentuh! Tidak peduli siapapun yang melakukannya!" suara Fang naik satu oktaf.

BoboiBoy tersenyum sinis. "Jadi kau mau bilang kalau kau tidak masalah disentuh oleh siapapun?"

"Aku tak pernah bilang begitu!" Fang mengepalkan tangannya erat. "Kau benar-benar membuatku muak!" setelah itu ia pun berjalan cepat, meninggalkan BoboiBoy yang—untungnya—tidak mengejarnya.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Pemuda bertopi dinosaurus yang dikenakan terbalik itu menaruh nampan berisi dua gelas special hot choco di atas meja, lalu duduk di lantai.

"Terima kasih BoboiBoy!" gadis berkacamata menerima minuman itu dan menyeruputnya sedikit lalu mulai melanjutkan pekerjaan mengguntingnya. "Sebaiknya kita segera menyelesaikan ini sebelum malam…"

Fang hanya melirik coklat itu sekilas, lalu kembali pada tugasnya. Ia tidak terlalu haus, dan ia harus menyelesaikan pekerjaan ini secepat yang ia bisa agar dirinya bisa langsung pulang dan beristirahat dengan tenang.

Seharusnya ia tak perlu segugup ini, jika saja Tok Aba dan Ochobot ada di rumah. Saat mendengar bahwa manula dan robot itu tengah ke rumah kerabat dan harus menginap selama dua malam sukses membuat Fang bagaikan tersambar petir. Seharusnya ia tak perlu sekhawatir itu, mengingat ada Ying di sini. Namun dengan polosnya gadis itu menyarankan dirinya agar menginap di sini, menemani BoboiBoy.

Saat itu Fang memberi berbagai alasan untuk menolak, dan Ying hanya meresponnya dengan kesal. Ah, andai saja gadis itu tahu masalah yang sebenarnya…

Fang benar-benar ingin keluar dari suasana canggung ini secepatnya. Namun melihat tumpukan bahan yang seharusnya disusun menjadi sebuah parsel yang belum setengah jadi itu membuat keputus-asaan menyelimuti hatinya. Fang menengok jam tangan birunya yang menunjukkan pukul lima, dan ia hanya bisa menghela nafas panjang.

"Maaf yah Ying. Karena aku dan Fang ikut eskul, kita jadi tidak bisa mengerjakan ini saat pulang sekolah…" BoboiBoy berujar. Fang bisa menangkap rasa bersalah dari nada bicara pemuda itu.

"Tidak apa-apa. Aku juga punya banyak hal yang harus kukerjakan di rumah sepulang sekolah. Jadi sama saja,"

"Terima kasih, kalau begitu," kali ini Fang yang berucap, sambil melemparkan senyuman tipis pada gadis China itu, yang direspon dengan cengiran manis.

Mereka bertiga pun melanjutkan pekerjaan mereka.

.

.

Dua jam berlalu sejak mereka memulai pekerjaan mereka, dan baru selesai ¾nya. Matahari perlahan mulai tenggelam. Jantung Fang benar-benar nyaris copot saat Ying mendapat telepon dari orang tuanya, menyuruh gadis itu untuk pulang.

"Tapi mama, pekerjaanku belum selesai, dan besok harus dikumpuuul" Ying mencoba untuk menjelaskan hal itu kepada ibunya, berharap si ibu mau mengerti. Namun wanita itu tetap bersikeras, mengatakan bahwa hari sudah malam.

"Tidak apa Ying. Kau bisa pulang. Biar aku dan Fang yang mengurus sisanya,"

Ingin sekali Fang membantah hal itu namun ia benar-benar tidak enak dengan Ying. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah. "Dia benar, Ying. Serahkan sisanya pada kami,"

"Tapiii…"

"Tidak apa-apa... Ayo kuantar kau pulang," BoboiBoy berujar seraya memakai sepatunya, menatap Ying dengan lembut setelah ia melirik Fang sekilas. "Kau jaga rumah sebentar ya Fang,"

"Terima kasih… maafkan aku, merepotkan,"

Dan kedua orang itu pun pergi, meninggalkan Fang yang nampak pucat pasi, seolah menunggu kematiannya. Tanpa basa-basi ia langsung melanjutkan pekerjaannya, berharap bisa selesai sebelum BoboiBoy kembali, dan ia bisa pulang secepatya.

.

.

"K─kenapa kau mengunci pintunnya?" Fang bertanya setelah meneguk ludahnya. Benar-benar naïf berpikir pekerjaan ini akan selesai kurang dari lima menit.

Yang ditanya menatap si pemuda China dengan ekspresi bingung. Ia lalu melangkah, mengambil tempat duduk di tempatnya semula. "Ya 'kan sudah malam…" BoboiBoy lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia terdiam sesaat, lalu menatap Fang dengan seringai isengnya. "Kau takut aku melakukan 'sesuatu' padamu yah?"

Seketika wajah Fang memerah. Ia segera mengalihkan pandangannya pada pekerjaannya. Ia memutuskan untuk tidak mengobrol dengan pemuda ini lagi.

Fang terkejut saat BoboiBoy berdiri, dan mengambil tempat duduk tepat di sampingnya, dengan sengaja menempelkan bahu mereka berdua, lalu melanjutkan pekerjaannya dengan wajah tanpa dosa.

Merasa tak nyaman, Fang pun menggeser bokongnya agak menjauh, dan BoboiBoy melakukan hal yang sama hingga bahu mereka kembali bersentuhan. Kali ini ia menatap Fang dengan wajah yang sengaja ia buat sebal.

"Jangan banyak bergerak!"

Perempatan merah muncul di kepala Fang sebelum akhirnya ia menghela nafas dan memutuskan untuk mengabaikan pemuda itu.

Mereka bekerja dalam keheningan.

Hingga BoboiBoy kembali membuka mulutnya. "Hei Fang…"

"Hm,"

"Setelah ini kita melakukan 'itu' yah?"

Ditanya secara blak-blakan seperti itu tentu saja membuat Fang tersentak saking terkejutnya. Secara refleks ia kembali menggeser bokongnya menjauhi BoboiBoy, menatap pemuda itu dengan tatapan tidak percaya. Kenapa pemuda itu meminta hal seperti itu dengan nada seolah berkata 'nanti kita pulang bareng yah?'

"Ap─apa…?" Fang masih mengharapkan ia tadi salah dengar.

"Habisnya kita tidak menyelesaikannya kemarin karena kau keburu tidur," senyuman BoboiBoy mengembang saat melihat wajah pemuda berkacamata itu makin memerah. "Lagipula kita 'kan hanya berdua. Kesempatan yang bagus 'kan?"

Dia pasti bercanda…

"A─aku harus pulang!" merasa dirinya benar-benar dalam bahaya, Fang langsung mengambil tasnya dan segera berdiri. Baru saja ia hendak melangkah, tangannya langsung dicengkram oleh tangan BoboiBoy.

"Kau mau membiarkanku mengerjakan ini semua sendirian?"

"Lepaskan aku, bodoh! Aku mau pulang!" Fang nyaris berteriak. Utamanya saat ia melihat senyuman polos itu kini terganti dengan seringai yang membuat Fang bergidik ngeri. Alarm di kepalanya berbunyi, memerintahkannya untuk segera meninggalkan rumah ini. Ia berusaha menarik tangannya, namun BoboiBoy mencengkramnya lebih kuat.

Dengan sekali sentakan, pemuda beriris Hazel itu langsung menarik Fang, hingga pemuda itu terjatuh di dada bidangnya. Memanfaatkan Fang yang masih terkejut, BoboiBoy lalu melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang pemuda itu, dan tangan yang lain memegang dagu si korban yang sedang terkunci itu.

Kini Fang bagaikan anak kijang yang terjebak dalam mulut buaya.

"Jadilah milikku seutuhnya, Fang…"

.

.

Tbc


A/N :

Maaf atas keterlambatan update fic iniii… u/\u

Saya harus melakukan perjalanan angkasa untuk mempromosikan senjata baru~ Moga aja abang-abang dan kakak-kakak sekalian tidak jenuh menantikan fic saya yang maha awesome ini~

Maaf juga atas karakter yang OOC sangat! DX Maklum, fic ini memang didesain untuk memuaskan hasrat para fujo(?), jadi mungkin kesan canonnya tidak kentara, bahkan gak ada. Jika ada yang merasa tidak nyaman, silahkan ajukan protes. Saya akan coba perbaiki. Kenyamanan pelanggan (baca :readers) adalah nomor satu!

Terima kasih banyak atas review-review kemarin! Saya merasa sangat bahagia atas review kalian XD Ada yang bilang kalo chapter kemarin hot banget, ada juga yang bilang masih kurang hot. Haha, sebenarnya itu masih permulaan *evil smirk* Chapter depan mungkin akan lebih asem~ *no spoiler!* Jadi yang kurang suka sama yaoi silahkan…

UBAH PANDANGAN ANDA DAN BACA FIC INI SAMPAI SELESAI! *keluarin laser*

Hahahahaa, sekarang bolehkah saya meminta review anda sekalian lagi? Silahkan memberi kritik, saran dan pendapat anda sekalian! Chapter depan akan saya usahakan update tepat waktu! XD

Akhir kata, review please~