.

BoboiBoy © Animonsta

BE MINE! © Penjual Senjata Haram Pa Gogo

Genre : Romance, & Drama

Rated : M

Warning(s) : AR, yaoi, rated M for lemon scene, typo(s), OOC, OC, BoboiBoyXFang, 6 years skiptime, highschool life, Indonesian

.

Don't like, don't read!

.

.

.

Chapter 4 : Selfishness

BRAKK! PRANG!

Keributan bergema dalam malam sepi itu, saat dua orang pemuda tengah main 'kejar-kejaran' tanpa mengerti bagaimana kesalnya para tetangga.

"BoboiBoy Halilintar! Gerakan kilat!" secepat nama jurusnya, si pemilik kekuatan melesatkan dirinya, berusaha menangkap pemuda bersurai biru tua yang saat ini tangah berusaha menghindarinya.

"Elang bayang!" Fang mengeluarkan kekuatannya, menungganginya dan terbang mengitari rumah yang tak terlalu besar itu. Ia berusaha mencari jalan keluar, lantaran pintu utama sudah diblok dengan senjata bengkok berwarna merah.

"BoboiBoy Taufan!"

Fang terkejut saat tubuhnya ditangkap, membuat elang bayangnya yang kelebihan muatan tertarik oleh gravitasi. Pemuda itu tersungkur ke lantai, di dalam pelukan BoboiBoy. Merasakan tubuhnya pegal karena terjatuh dari ketinggian yang cukup tak menyurutkan semangat Fang untuk kabur. Ia berusaha meloloskan diri dari pemuda berpakaian serba biru itu, hingga ia mencapai tasnya yang tergeletak di atas sofa.

BoboiBoy mengeluh atas kesakitan pada punggungnya. Ia sudah kembali ke versi BoboiBoy biasa. Ia pun berdiri, dengan perlahan mendekati Fang yang tersentak atas kehadirannya.

Tanpa aba-aba ia langsung meraih lengan kurus itu, menarik si empunya dalam pelukannya. "Kau milikku Fang. Kau tak bisa lari dariku," diraihnya dagu Fang, mencoba mendekatkan bibir mereka berdua.

Plak!

Telapak tangan Fang terasa panas setelah menampar keras pipi tembem pemuda yang memeluknya itu. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh BoboiBoy, hingga pemuda itu mundur beberapa langkah. BoboiBoy nampak memegangi pipinya yang memerah, lalu menatap Fang dengan mata menyipit.

"KAU GILA BOBOIBOY!" Fang berteriak, melepaskan segala emosi yang ditahannya sejak kemarin. Ia sudah tak sanggup lagi. Ia lelah berusaha merespon BoboiBoy sementara ia takut pemuda itu melakukan hal 'itu' lagi kepadanya. Ia tak peduli lagi. Terserah, apa hubungan yang berlangsung selama 6 tahun ini berakhir, ia tak peduli.

"Kau seenaknya memperlakukanku sesuka hatimu, seolah kau tahu perasaanku yang sebenarnya! Kau tidak lebih dari lelaki mesum penyuka sesama jenis!" mata karamelnya terasa panas. Ia lalu mengambil tasnya, merogoh sesuatu di sana.

Dengan kasar ia melemparkan lembaran pecahan 50 ringgit pada pemuda yang nampak terkejut dengan ucapannya yang tidak terduga itu.

"Jika kau sebegitu bernafsunya silahkan saja kau sewa gigolo atau sejenisnya untuk memuaskan hasrat homomu itu! Aku akan memberimu uang asal kau tidak menggangguku lagi!"

Fang terengah-engah. Hatinya benar-benar terkoyak. Sahabat sekaligus rivalnya ini benar-benar sudah gila.

Namun ia belum mengeluarkan semuanya.

"Oh, oh! Atau jika mau kau bisa tidur bersama kak Azroy! Kalian sama-sama homo 'kan? Pasti menyenangkan menyetubuhi orang yang sama-sama memiliki kelainan orientasi seksual sepertimu, agar dia juga tidak akan mengusikku lagi!"

Fang menarik nafas dalam-dalam, berharap bisa mengeringkan cairan yang kini menumpuk di pelupuk matanya. "Aku benar-benar jijik dengan orang-orang seperti kalian," berbeda dengan nada bicaranya yang tadi meledak-ledak, kini ia terdengar dingin dan monoton.

Ia pun menggantung tas birunya pada bahunya, lalu membalikkan tubuhnya, menghindari dirinya melihat ekspresi BoboiBoy saat ini. "Jangan pernah menggangguku lagi. Aku hanya ingin hidup normal,"

Ia pun berjalan, merusak pintu rumah Tok Aba dengan kekuatan bayangnya. Ia sudah tidak peduli. Padahal tadi ia berusaha semampunya untuk meminimalisir kerusakan saat ia tengah kabur dari keliaran BoboiBoy. Namun ia sudah muak menahan semuanya. Ucapannya, perasaannya. Ia tak sanggup lagi menanggung beban ini.

"Kau menganggapku sebagai kekasihmu, kalau begitu malam ini hubungan kita berakhir," Fang membetulkan posisi tasnya. "Baik sebagai kekasih juga sebagai teman,"

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Esok harinya BoboiBoy tak pergi ke sekolah. Pertanyaan-pertanyaan langsung dilemparkan kepada dua orang keturunan China di kelas itu, yang merupakan teman kelompok si siswa absen. Ying berkata bahwa BoboiBoy sehat-sehat saja sebelum ia pulang ke rumahnya, mengakibatkan seluruh pertanyaan dilemparkan kepada Fang. Orang terakhir yang bertemu dengan pemuda itu.

"Aku tidak tahu. Dia juga sehat-sehat saja saat aku pulang," Fang terpaksa berbohong demi menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan menyudutkannya. Sebenarnya dia tidak berbohong. BoboiBoy memang dalam keadaan sehat secara jasmani saat ia meninggalkan rumah Tok Aba. Jika bicara soal kesehatan rohani, dia tidak bisa menjaminnya.

"Hmmm… sebaiknya kita mengunjunginya sepulang sekolah nanti," ucapan Yaya membuat Fang ingin sekali menjambak rambut biru tuanya. Fang tahu 'kita' dalam kalimat gadis itu adalah keempat orang yang sudah berteman selama enam tahun itu, termasuk dirinya.

"Kalian pergi duluan saja. Aku ada pertandingan penting hari ini," Fang beralasan. Sekali lagi ia tidak berbohong.

"Haiyaa… kau lebih mementingkan pertandingan basketmu daripada temanmu sendiri?" Ying berucap kesal.

"Ho-oh! Tidak setia kawan!" Gopal menambahkan.

Fang langsung menggebrak mejanya penuh emosi. Andai saja ia bisa berteriak sekuat tenaga, menegaskan pada dunia ini bahwa hubungannya dengan pahlawan Pulau Rintis itu sudah benar-benar berakhir. "Terserah akulah!"

"Ish! Sedikit-sedikit marah! Menstruasimu kelamaan yah!?"

Dan Gopal pun harus berlari mengitari penjuru sekolah untuk menghindari serangan Fang.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

"Nice shoot!"

"Apa yang kau lakukan Fang!? Kenapa kau tidak menjaganya?" Fang berdecih mendengar bentakan dari salah seorang seniornya. Meski ini memang salahnya, tetap saja ia tak patut disalahkan di sini. Dia satu-satunya anak kelas dua yang masuk tim inti, dan malah dirinya yang disuruh menjaga lawan sebesar itu.

Menggumamkan kata maaf dengan tidak ikhlas, ia kembali fokus.

Dan ia tak bisa melakukannya.

Pikirannya masih kalut, penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan BoboiBoy. Apa benar pemuda itu tidak ke sekolah karenanya? Setahunya BoboiBoy lebih kuat baik dalam hal fisik maupun mental darinya. Namun masa gara-gara 'putus' dengan 'kekasih'—yang hanya berusia lebih dari 24 jam—nya ia sudah mojok dan tidak mau pergi sekolah.

Di sini seharusnya Fang-lah yang frustasi. BoboiBoy telah melakukan sesuatu yang 'buruk' padanya dua hari yang lalu, dan nyaris melakukannya lagi kemarin. Fang-lah yang seharusnya tidak pergi ke sekolah lantaran shock. Namun ia mencoba membuang jauh-jauh sifat yang menurutnya cengeng itu. Bahkan bencana sekalipun tak akan menyurutkan niatnya untuk pergi menuntut ilmu.

Namun BoboiBoy dengan menjengkelkannya malah absen, hanya karena alasan bodoh seperti itu? Kenapa pemuda beriris hazel itu begitu egois!?

Bukan berarti ia mengkhawatirkannya.

Pemikiran aneh mulai berkecamuk memenuhi alam sadarnya. Mulai dari kemungkinan BoboiBoy bunuh diri, dan kepesimismean lainnya.

'Ah, tidak mungkin. Dia pahlawan, ingat?' Fang berusaha berpikir senormal mungkin. Membuang segala pemikirannya mengenai BoboiBoy, pemuda itu memperoleh bola orange yang mudah memantul itu dari rekan setimnya.

Tanpa basa-basi ia langsung melemparkannya, dan benda bulat itu pun lolos ke ring.

.

.

.

Fang mengepalkan tangannya keras melihat ekspresi kecewa dari senior-seniornya. Sebenarnya kekalahan ialah hal yang wajar untuk pelajar SMA, apalagi lawan mereka kali ini masuk sepuluh besar nasional. Namun kekalahannya kali ini benar-benar menyedihkan. Selisih yang begitu jauh, teman-temannya yang sudah keburu menyerah sebelum pertandingan benar-benar usai membuat mereka kalah dengan tidak terhormat.

Bahkan setelah itu mereka mulai saling menyalahkan, dan Fang hanya memutar bola matanya, meninggalkan orang-orang yang sangat tidak dewasa itu.

"Kau baik-baik saja Fang?" pemuda itu menoleh, mendapati kaptennya yang bercucuran keringat. Orang yang sangat tidak ingin ia temui hari ini.

Namun Fang memaksakan senyuman tipisnya. Ia harus bersabar untuk beberapa bulan ke depan, hingga siswa kelas 3 dilarang ikut eskul dan dialah yang akan menjadi kapten. "Aku baik-baik saja. Seharusnya kak Azroy mengkhawatirkan yang lain. Ini pertandingan terakhir kalian, bukan?"

Pemuda jakung di depannya nampak memaksakan senyumannya. Matanya berkaca-kaca. "Kau benar… Ini… ini pertandingan terakhir,"

Meskipun masih kesal kepada Azroy, mau tak mau Fang merasa prihatin dengan pemuda itu. Ia melirik gerombolan timnya yang berada beberapa meter dari mereka. Sedari tadi pemuda di depannya inilah yang menghibur teman-temannya, berkata bahwa ini hanyalah kompetisi biasa. Padahal Fang tahu, yang paling terluka atas kekalahan ini adalah Azroy sendiri, dan ia menyembunyikannya.

Ragu, Fang akhirnya menepuk pelan pundak pemuda itu. "Tidak apa-apa. Kakak 'kan masih bisa bermain basket di universitas nanti," ucapnya menghibur.

Di luar dugaannya, pemuda yang 10 cm lebih tinggi darinya itu langsung saja menanamkan wajahnya pada bahu Fang, dan mulai terisak di sana.

Fang yang terkejut hanya bisa diam tanpa kata. Ia tak tega juga mendorong pemuda itu seperti yang selalu dilakukannya dengan BoboiBoy. Meski telah melakukan hal yang kurang ajar padanya dua hari yang lalu, Azroy tetaplah kakak kelas serta kapten tim basket yang sangat dihormatinya. Sayangnya rasa hormat itu perlahan menyusut saat ia tahu perasaan pemuda itu padanya.

Fang memaksakan tangannya untuk terangkat, mengelus pelan bahu pemuda itu.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Fang keluar dari ruang ganti dengan pakaiannya yang biasa. Pertandingan hari ini cukup panjang, membuat tenaganya terkuras habis. Dengan tertatih-tatih ia berjalan keluar, meneteng tasnya yang berisi peralatan olahraga basketnya.

Para anak kelas tiga sudah pulang duluan, menyisakan dirinya yang harus membersihkan tempat itu. Sebenarnya hal itu bukanlah kewajibannya. Salahkan saja sikap pembersih yang tak mau hilang itu. Melihat ruangan sepi, kotor nan bau keringat itu membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak meninggalkan tempat itu. Tidak, sebelum semuanya menjadi mengkilap.

Ia menghela nafas panjang.

"Mesra sekali tadi," iris caramelnya membelalak sempurna, begitu mendengar suara yang amat dikenalnya. Dengan cepat ia melihat di balik tembok yang akan dilewatinya, mendapati BoboiBoy tengah berdiri di sana dengan tangan terlipat.

Entah kenapa Fang merasakan kelegaan melihat sosok berwajah imut itu dalam keadaan baik-baik saja. Ia segera menggeleng cepat, memasang ekspresi dinginnya yang biasa. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Hanya lewat," BoboiBoy memejamkan mata sejenak.

Sebelum Fang tersadar, pemuda itu dengan tiba-tiba mendorongnya ke tembok dan mencengkram kedua tangannya. Terlalu terkejut untuk melawan, bibir tipis itu sudah keburu menyentuh bibirnya, membawanya ke dalam sensasi aneh yang membuat Fang muak.

BoboiBoy memiringkan kepalanya, mencoba memperdalam ciuman mereka. Fang memberontak sekuat tenaga, namun kelelahan seusai bertanding dan membersihkan membuatnya tak bisa berbuat banyak. Lama kelamaan tubuhnya jadi lemas sendiri, dan BoboiBoy memanfaatkan kesempatan itu untuk berbuat lebih jauh.

Lutut pemuda itu terangkat, menyentuh kemaluan Fang, sukses membuat si empunya tersentak. Fang berupaya untuk menjaga bibirnya tetap rapat, namun saat BoboiBoy menggoyangkan lututnya, menggoda kemaluannya, mau tak mau ia memekik tertahan.

Melihat kesempatan, BoboiBoy langsung melesakkan lidahnya ke dalam gua hangat Fang, menelusuri tiap sudut tempat itu. Mereka beradu lidah dalam ciuman panas itu, membuat saliva keduanya saling tercampur.

Lutut BoboiBoy tak tinggal diam. Ia semakin ganas menggesek kemaluan Fang, membuat pemuda itu menggeliat tertahan.

"Mpphhh…!"

BoboiBoy lalu turun ke leher Fang yang berkeringat, mengemut kulit mulus itu dengan penuh nafsu. Seolah tubuh kurus itu merupakan gumpalan permen berbentuk manusia yang terasa begitu manis.

Aroma khas Fang yang berkeringat sehabis latihan bercampur dengan aroma anggur yang tak terlalu kentara membuatnya terbuai, mabuk ke dalam nafsu yang menggebu-gebu.

"Ngghhh… Lepaskaannh…" Fang memberontak semampunya, namun rasa lelah benar-benar menguasainya. "Ahh!" ia tersentak saat lutut BoboiBoy menekan miliknya lebih keras.

"Aku mencintaimu…" BoboiBoy bergumam di sela lumatannya. "Kau milikku Fang…" tangan kirinya lalu melepaskan cengkramannya. Jemari telunjuknya mengeluarkan sebuah jarum kuning berarus listrik, dan menyentuhkannya pada leher si pemuda China.

"Akh!" Fang tersentrum dengan tegangan entah berapa volt, dan sukses membuatnya kehilangan kesadaran. Ia sempat mendengarkan BoboiBoy menggumamkan kata maaf hingga segalanya benar-benar menjadi gelap.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Saat ia membuka matanya, pandangannya mengabur. Ia baru tersadar bahwa kacamata yang setia bertengger di wajahnya itu terlepas entah di mana. Fang mengedarkan pandangannya ke segala arah. Jantungnya berdegup makin kencang saat menyadari tempat ini adalah kamar BoboiBoy. Meski pandangannya rabun, ia sudah sering ke sini bersama Gopal, membuatnya hafal betul tiap sudut ruangan ini.

Dan Fang makin terkejut saat menyadari saat ini kedua tangannya terikat pada masing-masing sudut sandaran ranjang, membuatnya tak bisa bergerak banyak. Fang juga menyadari bahwa jam tangannya—sumber kekuatannya kini terlepas, lenyap bersama dengan kacamatanya.

"Sudah bangun?" sebuah suara menyentakkannya. Pemuda itu menoleh, mendapati BoboiBoy (yang terlihat buram) mendatanginya. Pemuda itu duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa Fang lihat dengan jelas. "Kau tidur lama sekali,"

"Apa… apa yang kau lakukan padaku!?" Fang bertanya dengan nada tinggi. Ketakutan mulai menguasainya. Entah kenapa ia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi setelah ini. Ia menyesali untuk bangun saat ini, membuat BoboiBoy menemukan apa yang sudah ditunggunya. "Lepaskan aku, bodoh!" Fang tahu perlawanannya ini sia-sia. Namun ia hanya bisa berharap pada keajaiban.

Pemuda itu merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. BoboiBoy menangkup wajahnya, mengelus lembut kelopak matanya dengan ibu jari.

Perlahan namun pasti ia mulai merasakan deru nafas BoboiBoy menabrak wajahnya. Pemuda itu menundukkan wajahnya, mencium bibir mungil yang nampak pucat itu. Si pemilik tentu saja tidak terima dengan perlakuan ini. Tubuhnya berusaha meronta. Kedua kakinya menendang ke segala arah.

Namun saat ini ia dalam keadaan berbaring dengan kedua tangan terikat. Dan entah sejak kapan BoboiBoy sudah berada di atasnya, tetap menciumi bibirnya, seolah benda itu terasa begitu manis.

BoboiBoy memaksakan lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Fang. Semuanya menjadi lebih mudah karena Fang dalam keadaan berbaring, dan tidak bisa apa-apa. BoboiBoy cukup mencubit kecil puting pemuda itu, menyebabkannya memekik, dan organ tak bertulang itu pun lolos dengan mudah.

"Hmmpphh!" Fang meronta sekuat tenaga. Ia mencoba menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, namun BoboiBoy malah menahannya, dengan cara menjambak surai biru gelap itu.

Pemuda itu makin bringas di dalam mulut korbannya. Ia melumat bibir itu seperti hewan kelaparan, membiarkan saliva mereka teraduk, dan tertelan oleh orang yang berada di bawahnya.

Fang terbatuk, membuat BoboiBoy menghentikan aktifitasnya. Ia lalu bangkit, duduk di atas Fang. Tanpa basa-basi BoboiBoy mengambil gunting yang sudah ia persiapkan—entah sejak kapan—di atas meja, dan mulai menyobek pakaian yang dikenakan oleh pemuda oriental di bawahnya.

Si korban hanya membelalakkan matanya. Tubuhnya mulai gemetar, utamanya saat ia tak merasakan sehelai kain kaos yang menempel pada badannya.

"BoboiBoy… Sadarlah!" Fang berteriak, mencoba untuk menyadarkan temannya itu. Tubuhnya bergerak ke segala arah yang memungkinkan, namun hal itu hanya menghabiskan tenaganya.

"Kau bilang kalau kau bukan homo…" Fang kembali merasakan nafas BoboiBoy pada wajahnya. "Tapi kau malah berpelukan dengan Azroy di lapangan usai pertandingan," suara pemuda itu terdengar kekanak-kanakan, namun terkesan mengerikan. "Kau menyukainya 'kan?"

Mata Fang membelalak lebar. "A─aku… aku—akh!" ucapannya terhenti saat dirasakannya nipplenya diremas dengan dua jari dengan keras. Fang menggeliat tak tahan. "S─sakit BoboiBoy!" rintihnya. Tak pernahkah pemuda di atasnya ini meremas miliknya sendiri, untuk mengetahui rasa dari kekuatannya yang tidak masuk akal itu?

"Kau minta putus denganku agar bisa dekat dengannya 'kan? Kupikir kau memiliki harga diri yang tinggi…" BoboiBoy mulai menjilati dagu Fang, dan semakin turun ke bawah. Lidah itu sampai pada pertengahan dada sang bottom. "Kau tidak lebih dari lelaki murahan," dijilatnya area itu penuh nafsu, hingga menimbulkan suara ecapan yang terdengar nyaring.

"Nghh… Aku… tidak m─menyukainya!" Fang memaksakan dirinya untuk bicara, meski saat ini tubuhnya sudah benar-benar tidak bisa menahan sensasi itu. Dirasakannya sesuatu yang sesak pada area bawahnya.

Organ oral BoboiBoy berpindah pada puting kiri Fang, sementara yang kanan dimainkannya dengan gemas. Tangan kirinya tak tinggal diam, turun ke bawah, masuk melalui celana Fang dan meraba benda yang sudah menegang itu dengan lembut.

"Aaahhh! J─jangan!" tubuh Fang menggelinjang geli. Ia berusaha menahan diri agar tidak mendesah, namun setiap sentuhan BoboiBoy benar-benar membuatnya terangsang, nyaris membuatnya gila. Pemuda itu begitu lihai memainkan setiap inci dari tubuhnya.

"Apa yang kau suka darinya Fang…?" BoboiBoy kembali merangkak naik, menciumi wajah oriental pemuda itu dengan lembut. "Apa karena dia jauh lebih tinggi…?" lidahnya menjilati jakun pemuda itu, mengemut beberapa area sekitar sana dengan penuh nafsu. "Kalau masalah itu kau tenang saja…"

"Ngghhh…" Fang hanya memejamkan matanya, menahan setiap sensasi yang diberikan BoboiBoy untuknya. Ia tak bisa menyangkal bahwa ia menikmati setiap sentuhan pemuda itu. Fang bahkan mengabaikan BoboiBoy yang berada di atasnya, memasang seringai yang tak dapat dilihatnya dengan jelas.

"Karena suatu saat tinggiku akan melebihi Fang… Juga si kakak kelas bodoh itu,"

Setelah mengatakan itu BoboiBoy pun turun ke bawah, menjilati pusar pemuda China itu, sebelum menurunkan celana sekaligus boxer si pemilik, dan melemparkannya asal. Fang tentu saja terkejut setengah mati. Pemuda itu berupaya merapatkan kedua lututnya—lagi, namun hal itu hanya sia-sia lantaran BoboiBoy kembali membukanya.

"Berhent—ngghhkk!" Fang mengigit bibir bawahnya saat kejantanannya yang tegang itu untuk kedua kalinya masuk ke gua hangat milik BoboiBoy. Pemuda itu melumat tiap sudut alat kelamin itu, tanpa ada setitikpun yang tersisa. Bahkan kedua testis Fang pun tak luput dari isapan pemuda beriris hazel itu.

"Milikmu hangat Fanghh," BoboiBoy makin liar melumat benda itu.

"Ahhh! Ngghhh! Berhent—mhhh…" Fang meracau tidak jelas. Ia benci tubuhnya yang menerima perlakukan BoboiBoy dengan sukarela. Otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih.

Dan ia menyesali perasaan kecewanya saat BoboiBoy menghentikan permainan lidahnya yang luar biasa itu. Dengan pandangan buram, ia melihat pemuda itu tengah melepas pakaian atasnya, lalu mengambil sesuatu di atas meja. Fang menangkap aroma harum melalui indra penciumannya, menduga benda yang diambil BoboiBoy tadi adalah lotion atau sejenisnya.

Tunggu… mau apa BoboiBoy dengan lotion?

Mata Fang kembali terpejam saat BoboiBoy kembali memainkan kejantanannya dengan mulutnya.

"Ahh... ngg—akh! Apa—!? Akkhhh!" iris karammelnya membelalak lebar saat merasakan benda asing memasuki lubang anusnya. "Apa yang kauh… ahhh! K─kau gila!? K─keluarkaannh!"

Awalnya BoboiBoy memasukkan jari telunjuknya yang terlumuri lotion dengan aroma anggur, dan ia tersenyum puas saat memperoleh respon yang diinginkannya. Pinggul Fang terangkat sedikit, merasakan ketidaknyamanan namun terasa nikmat itu. BoboiBoy lalu mengeluarkan benda Fang dari mulutnya, dan mulai memainkan ujung benda itu dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya bekerja di bawah, menunggu hingga si pemilik lubang merasa terbiasa.

Saat dirasanya Fang mulai tenang dengan pemberontakannya, BoboiBoy mulai memasukkan jari tengahnya, hingga dua jarinya kini bersarang di lubang anal si pemilik.

"Anggghh!" Fang menggeliat tak nyaman. Kedatangan jemari ketiga BoboiBoy seolah merobek anusnya. Setetes cairan berhasil lolos melalui ujung matanya, dan sayangnya hal itu tak dilihat oleh BoboiBoy.

Bodoh sekali dia, mengharapkan belas kasih dari pemuda yang telah kehilangan akal sehatnya ini.

"K─keluarkaan benda ituuh! Kau menjijikaan—ahh! Uwaahhh!" Fang seakan hampir gila saat BoboiBoy mulai mengeluar-masukkan ketiga jarinya itu pada anusnya. Ditambah permainan tangan kanan BoboiBoy pada kejantanannya sungguh membuat kepalanya blank.

"Ahh! Ah! Haahh! Boboi—nghh! BoboiBoyhh!" BoboiBoy makin mempercepat ritmenya. Ia semakin terangsang dengan desahan Fang yang begitu menggodanya.

Fang tanpa sadar ikut menggerakkan pinggulnya, mengikuti tempo cepat yang dilakukan BoboiBoy. Suara erangan pemuda itu menggema di seluruh kamar itu. Keringat bercucuran membasahi kulitnya. Tubuhnya terasa panas semakin panas.

Hingga ia merasakan sensasi itu—lagi. Dimana seluruh aliran darahnya terfokus pada kejantanannya, dan tubuhnya seolah tersengat arus listrik. Kepalanya seperti berkunang-kunang. Fang mengejang.

BoboiBoy dengan sigap langsung melahap benda yang berkedut itu ke dalam mulutnya.

"AAAKKHHHHH! NGHHHH!" tubuh Fang melengkung parabol saat merasakan orgasme keduanya, dan untungnya kali ini BoboiBoy dengan sukarela mengizinkannya. Pemuda itu menghisap cairan sperma Fang, meski ada beberapa tetes yang lolos dan menelannya seolah itu adalah special hot choco Tok Aba. Sepertinya BoboiBoy telah menemukan minuman favorite keduanya, setelah coklat resep kakeknya.

"Kau benar-benar manis Fang…" BoboiBoy mengusap sudut bibirnya, bekas cairan cinta Fang. Ia pun mengeluarkan ketiga jemarinya, membuat si pemilik merasakan kekosongan di sana.

Fang tergeletak dengan nafas tak beraturan. Ia benar-benar dipermainkan. Tenaganya karena orgasme tadi terkuras habis, membuatnya bahkan tak sanggup untuk berbicara lagi.

BoboiBoy lalu merangkak ke atasnya, kembali mengecup bibir tipisnya dengan lembut. Ia tersenyum puas tak mendapat perlawanan apapun dari pemuda di bawahnya. Hanya suara desahan nafas tak beraturan.

Berbeda dengan ciuman penuh nafsunya beberapa menit yang lalu, kini BoboiBoy mengecup wajah pemuda di bawahnya penuh kasih sayang. Dijilatnya bibir Fang yang terbuka karena sulit bernafas dengan lembut. Pemuda itu menyandarkan dahi mereka berdua, menatap mata sayu Fang dengan sirat kelembutan.

"Fang…"

Pemuda itu kembali turun ke bawah, perlahan-lahan menciumi tubuh Fang, hingga ia sampai di selangkaan pemuda itu. BoboiBoy lalu menggoda milik Fang yang lemas setelah orgasme dengan menyentil-nyentil buah pelirnya, serta menciumi alat vital itu.

Diperlakukan seperti itu mau tak mau membuat Fang kembali terangsang. Ia mengutuk bendanya yang sudah mulai tegak kembali atas perlakukan BoboiBoy. Tanpa sadar ia mengerang.

Melihat hal yang diinginkannya tercapai, BoboiBoy mulai mengganas. Kembali ia kulum milik Fang dengan nikmat, membiarkan lidahnya melakukan tugasnya. Tangannya yang bebas memainkan bola kembar pemuda itu, sementara tangan yang lain menjaga agar kedua kaki Fang tetap mengangkang.

"Mhhh… nghhhh…" BoboiBoy tersenyum saat Fang sudah terangsang sepenuhnya. Tubuh kurus pemuda itu menggeliat pelan, menahan sensasi aneh itu lagi.

Fang bertanya-tanya, apa rencana BoboiBoy selanjutnya. Ia harus orgasme berapa kali hingga pemuda bertopi itu puas?

Fang melirik ke bawah, mendapati BoboiBoy mempermainkan miliknya dengan lihai. Melihat hal itu secara langsung sukses membuat Fang malu setengah mati. Ia mengalihkan pandangannya, lalu memejamkan mata. Ia benar-benar membenci tubuhnya yang seperti ini.

Lalu ia kembali melirik saat merasakan BoboiBoy berhenti. Matanya membelalak kaget, saat melihat pemuda itu mulai membuka celananya. Seketika bulu kuduknya bergidik naik, utamanya saat BoboiBoy meloloskan benda miliknya yang sudah tegak bak tiang itu.

Fang mengernyit heran. Mau apa BoboiBoy dengan benda itu? Fang ini laki-laki, ingat? Ia tak memiliki lubang tempat untuk benda itu bersarang.

Tunggu…

Lubang?

"B─BoboiBoy…" suaranya terdengar serak. "K─kau mau apa…?" dengan ragu ia bertanya. Jaga-jaga, Fang kembali merapatkan kedua lututnya.

BoboiBoy hanya meresponnya dengan seulas senyum tipis. Pemuda itu lalu mengambil sebuah bantal, dan meletakkannya dibawah bokong Fang. Ia lalu mebuka lutut pemuda berkaca-mata itu, mengangkangkan kakinya.

Fang yang merasakan firasat tidak enak langsung saja memberontak keras, seolah rasa lelahnya tadi menguap entah kemana. Saat kau ketakutan, tubuhmu bereaksi tidak terduga, bukan?

BoboiBoy agak kewalahan menanggapi Fang yang bergerak liar, menendang-nendang ke segala arah, berharap dapat lolos.

"Lepaskan aku bodoh! Dasar kau lelaki cabul!"

"Diam sebentar,"

"Lepaskan akuu!"

"Fang, tenanglah! Fa—"

BRAK!

Dengan satu tendangan—entah sengaja atau tidak—sukses membuat BoboiBoy terlempar, terjatuh dari ranjang. Fang yang mendapat gelar tersangka di sini hanya melongo, tak percaya bahwa serangannya kena.

Entah ia harus senang. Atau malah menyesalinya.

Mengingat saat BoboiBoy bangkit, menatapnya dengan marah, seperti tatapan yang biasa dikeluarkan BoboiBoy Halilintar.

"Kau benar-benar membuatku marah, Fang…" suara yang biasanya hangat dan menenangkan itu kini terdengar begitu dingin layaknya es.

Fang meneguk ludahnya. Awalnya ia berpikir BoboiBoy akan naik ke ranjang, dan kembali pada aktifitasnya yang sempat tertunda. Namun dugaannya sirna, saat BoboiBoy malah ke sisi kanan ranjang melepaskan ikatan tangannya.

Fang terbelalak terkejut.

Bukan karena senang saat ikatan yang menyiksa itu akhirnya terlepas, melainkan BoboiBoy malah mengikatkan tangan kanan dengan pergelangan kaki kanannya. Tubuhnya mulai gemetaran.

"K─kau gila! Sadarlah BoboiBoy!"

Fang memberontak makin liar, dan lelaki beriris hazel itu mengabaikannya. Saat BoboiBoy melakukan hal yang sama pada tangan dan kaki kirinya, Fang seolah kehilangan harapan. Ia ingin melompat dari ranjang, kabur meski hanya dengan dagunya. Sayangnya kehadiran pemuda yang sudah kehilangan akal sehatnya itu membuat semuanya menjadi mustahil.

"Kau yang membuat ini menjadi lebih sulit, Fang," BoboiBoy lalu kembali naik ke ranjang, dengan kasar membuka kaki Fang hingga kejantanan yang masih tegak itu terlihat menantang BoboiBoy. Fang meringis dengan perlakuan itu.

BoboiBoy menyempatkan diri untuk mengemut kepala kemaluan Fang, sebelum mengangkangkan kaki pemuda itu lebih lebar. Ia lalu menempelkan ujung batang miliknya ke lubang anal Fang yang masih licin, membuat sang pemilik tersentak tak nyaman.

"J─jangan BoboiBoy…" kini nada suaranya terdengar penuh harap, serta keputusasaan. "Kumoh—AAHHHHHH!" bola matanya nyaris saja keluar, saat BoboiBoy dengan tiba-tiba memajukan pinggulnya, membuat setengah kemaluannya mendobrak masuk.

"Ahhh… Fanghh…" BoboiBoy melenguh pelan, merasakan otot anus pemuda yang terbaring di depannya itu menjepit bendanya dengan kuat.

"S─SAKIT! KELUARKAN! KELUARKAN MILIKMU! AAAHH!" Fang masih merasakan perih yang teramat sangat di lubang analnya. Air matanya kembali menetes. Pemuda itu hanya menggeliat liar, berharap BoboiBoy mau berbaik hati membebaskan lubangnya.

BoboiBoy lalu memajukan tubuhnya, mengecup bibir Fang untuk menenangkan pemuda itu. Dimainkannya puting Fang yang sudah amat menegang. Berulang kali BoboiBoy membisikkan kalimat cinta di telinga pemuda oriental itu, dan sesuai harapannya, Fang sudah mulai agak tenang.

Pemuda itu bernafas terengah-engah. Kelegaan tersirat jelas di wajah manisnya saat BoboiBoy mengeluarkan kejantanannya.

"Hahh… hahhh… hh—"

Slappp!

"—AAAAAAKKKHHHHH!"

Dengan sekali hentakan BoboiBoy mendesak miliknya masuk, merebut keperjakaan sang pemuda China.

Setelah teriakan menggema itu Fang tidak lagi megeluarkan suara. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia hanya menganga tak jelas, dengan mata yang terpejam erat. Sirat yang menunjukkan kesakitan yang teramat sangat.

"Shhh… kau sempit sekali Fanghh… ahh…" BoboiBoy juga butuh waktu untuk membiasakan diri dalam lubang itu. Otot anus Fang benar-benar mencengkramnya kuat.

Mengabaikan Fang yang merintih kesakitan, BoboiBoy mulai menggerakkan pinggulnya secara maju mundur dengan irama konstan. Hal ini tentu saja membuat si pemilik lubang kembali berteriak penuh kesakitan.

"Berhenti BoboiBooyyy… Sakiitt—unghh! Kumohon berhenti… ahhhh!"

Seolah tuli, BoboiBoy tetap memaju-mundurkan pinggulnya. Makin lama temponya semakin kencang, juga semakin dalam.

Plak! Plak! Plak!

Suara keciplak akibat tubuhnya yang bersentuhan dengan bokong Fang menggema di ruangan itu. kejantanan Fang bergoyang ke sana-sini akibat tubuhnya yang berguncang hebat. Bahkan ranjang tempat mereka bercinta sampai berdecit, menandakan keganasan permainan BoboiBoy.

"AHHH! AHHHHH! BOBOIHHBOOYHH! SHHHH! SAKIIITT! NGAAAAHHHH!" Fang kembali meracau tidak jelas. Anusnya benar-benar terasa perih. Namun ada perasaan lain yang dirasakannya. Ia merasakan rasa nikmat tidak terkira. Semakin keras dan cepat, semakin nikmat ia rasakan. Rasa nikmat ini agak berbeda saat BoboiBoy memainkan kejantanannya.

Kepalanya seperti dipukul sesuatu yang keras saat kejantanan BoboiBoy masuk sepenuhnya, menyentuh sebuah titik di sana dengan momentum yang besar. Lalu dikeluarkan lagi, dan dihentakkan lagi. Pemuda itu melakukannya dengan berulang-ulang, dengan tempo yang semakin cepat.

"Ahhh… Faaangg!" BoboiBoy juga mulai mengerang. Ia mendongkak ke atas, menahan kenikmatannya. Ritme gerakannya makin tidak masuk akal.

Fang benar-benar membuatnya gila.

Peluh membanjiri tubuh kedua pemuda itu. BoboiBoy mencengkram erat paha uke-nya, sedangan sang uke hanya bisa menggigit bibir bawahnya.

"NGAAHHH! BOBOIBOOOYYHHH!"

Dan kecepatan itu makin bertambah, hingga tak mecapai sedetik. Pergerakan maju-mundur itu menjadi makin tidak beraturan, saat BoboiBoy merasakan kejantanannya berkedut keras dalam anus Fang yang meremas miliknya itu dengan kerasnya.

"F─Fanghh! A─aku mau keluaarrhh… AAAHHHHH!"

"NGKHHHHH!"

Keduanya klimaks secara bersamaan. BoboiBoy mengeluarkan cairannya dalam tubuh Fang, sedangkan cairan Fang tersemprot, membasahi dada BoboiBoy.

BoboiBoy mengeluarkan kejantanannya, dan saat itu pula anus Fang mengeluarkan cairan putih milik BoboiBoy. Nafas keduanya terengah-engah. Tenaga mereka terkuras habis.

BoboiBoy lalu ambruk di samping Fang, menatap pemuda yang seolah kehabisan nafas itu dengan lembut. Dielusnya pipi tirus itu pelan, sebelum dikecupnya.

"Hahh… hahh…" Fang nampak kekurangan oksigen. Dadanya naik turun, sementara kedua bibirnya terbuka, lantaran pernafasan normal tak bisa mengembalikan nafasnya dengan cepat.

"Sekarang kau milikku seutuhnya, Fang…" sementara BoboiBoy yang juga dalam keadaan sama hanya menatap lelaki yang dicintainya dengan lesu. Ia tak menyangka berhubungan sex akan membuatnya selelah ini. Sungguh, jauh lebih melelahkan dibanding harus melawan alien setiap waktu.

Tiba-tiba iris hazel itu membelalak terkejut.

Air mata Fang kembali menetes—tidak. Kali ini mengucur, mengalir deras. Tentu saja hal ini mengejutkan BoboiBoy, utamanya saat cairan itu terus keluar tanpa mau berhenti.

"S─sakit…" bibir pucat itu bergumam tak jelas. Nafasnya masih tidak beraturan, namun ia sudah tak sanggup lagi menahan air matanya.

Memang, anusnya terasa sakit dan perih. Namun kesakitan itu tergantikan oleh sensasi nikmat yang ingin sekali dilupakannya. Yang sebenarnya sakit di sini ialah hatinya. Harga dirinya sebagai laki-laki hancur, di tangan sahabatnya sendiri. Ia jijik pada dirinya sendiri. Fang melihat dirinya sebagai perwujudan dari gigolo, meski semuanya terjadi karena BoboiBoy.

Andai saja ia lebih kuat…

Andai ia bisa melawan BoboiBoy…

Anda saja ia bisa melawan dirinya sendiri, melawan hasratnya.

Pertama kalinya BoboiBoy melihat Fang menangis seperti itu. Pemuda itu langsung bangun, tanpa pikir panjang melepaskan kedua ikatan yang menyiksa alat gerak Fang.

"Fang…" BoboiBoy berucap bingung. Rasa bersalah memenuhi rongga dadanya, membuatnya sesak. Ia merasa bodoh membiarkan dirinya dikuasai oleh nafsu. "Fang, maafkan aku… Aku… aku…"

BoboiBoy menghentikan kalimatnya saat menyadari Fang sama sekali tak mendengarnya. Pemuda itu hanya menutup matanya dengan lengannya, menangis tanpa suara.

BoboiBoy melirik sedih pada kejantanan Fang yang sudah lemas kembali itu. Ia dikejutkan begitu melihat sedikit cairan merah bercampur dengan cairan spermanya yang keluar dari anus Fang. Apa ia bermain seliar itu hingga melukai pemuda yang dicintainya ini?

"F─Fang! Kau berdarah!" BoboiBoy mulai panik. "Ayo kita ke rumah sakit!" ucapnya seraya meraih lengan pemuda itu—

Plak!

—dan ditepis dengan kasar.

Pergelangan tangan kurus itu meninggalkan jejak merah yang begitu jelas, menandakan seberapa keras usaha sang pemilik untuk meloloskan diri—meski hasilnya nihil. Tangan Fang terlihat gemetaran, sepertinya kesakitan.

BoboiBoy menatap Fang dengan tatapan amat bersalah. Langsung saja ia menarik pemuda itu untuk bangun, membawanya ke pelukannya. BoboiBoy memeluknya erat. Begitu erat, seolah tak akan melepaskannya bahkan saat kiamat sekalipun.

"Maafkan aku Fang… Aku terbawa emosi tadi,"

Fang menulikan dirinya. Ia berupaya mendorong dada BoboiBoy agar menjauh darinya, namun pemuda itu lebih kuat.

"Lepaskan aku…"

"Fang, dengarkan aku dulu…"

"KAU SUDAH DAPAT APA YANG KAU INGINKAN, SEKARANG MAU APA LAGI!" Fang membentak, sukses mengagetkan pemuda yang tengah memeluknya itu. BoboiBoy membatu di tempat, dengan lengan yang masih melingkar di tubuh kurusnya.

Pemuda itu tak kuasa saat Fang bangkit darinya untuk memisahkan diri. BoboiBoy dengan sigap menggenggam pergelangan tangan ringkih itu dan langsung ditepis begitu saja. Fang menatapnya dingin, menusuk hatinya. Jejak air mata masih terlihat di pipinya, namun ekspres datari Fang sungguh membuat BoboiBoy seolah kehabisan akal.

"Fang… Aku,"

Saluran suaranya tercekat. Ia tahu maaf saja tidak cukup setelah semua yang dilakukannya. Ia terlalu terbawa emosi tadi. Mengingat kejadian dimana ia melihat Azroy 'memeluk' Fang usai pertandingan tadi membuatnya tak dapat mengontrol akal sehatnya. Tanpa pikir panjang ia langsung saja memutuskan untuk menjadikan Fang MILIKNYA seutuhnya.

Dengan memperkosa pemuda itu…?

Sungguh pemikiran terbodoh yang pernah ada di muka bumi ini.

BoboiBoy menatap sendu pada Fang yang turun dari ranjang, mulai meraba-raba lantai untuk mencari celananya. BoboiBoy menggigit bibir bawahnya. Ia melihat celana Fang—entah bagaimana bisa—tergeletak agak jauh dari tempat itu.

BoboiBoy lalu memakai boxernya terlebih dahulu, sebelum ia turun dari ranjang hendak mengambilkan celana itu dan mengembalikannya pada si empunya.

BRUKK!

Iris Hazel itu melotot hampir keluar dari tempatnya.

Melihat si pemuda berambut anggur itu ambruk tak sadarkan diri.

.

.

Tbc


A/N :

Hai semua~ Ada yang rindu alien hijau comel nan baik hati ini?

Akhirnya saya bisa mengupdate chapter nista ini! XD Maaf kalo karakternya OOC sangatt! Ditambah, sepertinya fic ini lebih mengarah ke nafsu belaka. Saya udah berusaha agar feel mereka sampe, tapi apa daya… Jari ini berkata lain. Tapi nanti saya usahakan biar lebih emosional deh! XD

Maaf juga atas typo yang berserakan di chapter-chapter lalu. Padahal sudah saya abaca ulang beberapa kali, tapi tetap aja ada yang lolos :'( Untuk abang-abang dan kakak-kakak yang mengalami hal serupa, silahkan membeli Kismis Alzak dari saya. Bisa menajamkan penglihatan serta meningkatkan konsentrasi~

Okelah! Segitu aja dulu! Makasih banyak buat abang-abang dan kakak-kakak yang telah menyempatkan diri mereview chapter sebelumnya~ Pendapat para readers sekalian sungguh memotivasi saya! X'D

Sekarang, bolehkah saya meminta review anda sekalian lagi? Silahkan member kritik, saran, dan pendapat sekalian!

Akhir kata, review please~