Sebelumnya saya minta maaf, di chapter kemarin saya lupa ngasih tau kalo chapter lima bakal jadi last chapter! Dx

Jadi… This is the final chapter for this fic~

Hope you enjoy it~


.

.

BoboiBoy © Animonsta

BE MINE! © Penjual Senjata Haram Pa Gogo

Genre : Romance & Drama

Rated : M

Warning(s) : AR, yaoi, rated M for lemon scene, typo(s), OOC, OC, BoboiBoyXFang, 6 years skiptime, highschool life, Indonesian

.

Don't like, don't read!

.

.

.

Chapter 5 :Second Change

"Ini," BoboiBoy menyerahkan sebuah saputangan putih yang telah ia basuh dengan air dingin kepada pemuda yang kini tengah tengkurap di atas ranjang, mengenakan piyama putih dengan ikon listrik-listrik kuning yang nyaris memenuhi permukaan piyama itu.

Dengan lemah Fang menerima saputangan tersebut, memberi isyarat agar BoboiBoy membalikkan tubuhnya, dan pemuda itu pun menurutinya.

Fang lalu membuka selimut yang sedari tadi menutupi bagian kakinya yang tak memakai sehelai benang pun, melepas sebuah saputangan putih basah lainnya yang terselip di sela bokongnya dan menggantinya dengan yang baru. Fang pun kembali menutupi dirinya dengan selimut, dan menyandarkan pipinya pada bantal tanpa mengeluarkan suara.

"Sudah?" BoboiBoy dengan sabar bertanya. Karena jika ia tidak melakukannya ia akan terus duduk membelakangi pemuda itu semalaman.

"Hmm…" yang ditanya hanya bergumam cuek. Menyembunyikan rona merah di wajahnya dengan membaringkan pipi kirinya sehingga membelakangi BoboiBoy, Fang pun menyerahkan saputangan itu kepada pemiliknya, untuk dibersihkan agar nanti bisa dipakai lagi.

BoboiBoy menerima benda itu sambil tersenyum. "Pendarahannya sudah berhenti," ia berujar senang saat melihat kain putih itu tak memperlihatkan jejak kemerahan seperti kain-kain sebelumnya.

"Tapi masih sakit,"

"Maaf…"

Mendengar nada sedih dari pemuda di sampingnya memaksa Fang untuk menoleh, mendapati BoboiBoy menatapnya sendu. Ia lalu menghela nafas pendek. "Sudahlah. Tak ada gunanya kau menyesalinya,"

BoboiBoy memaksakan senyumannya, meski saat ini air mata menggenang di pelupuk matanya. "Kubuatkan coklat panas yah?"

Fang terlihat berpikir. "Aku mau Ice choco,"

"Hahahaha, baik Tuan~" mengacak-acak surai indigo milik pemuda itu, BoboiBoy pun berlalu meninggalkan tempat itu.

Tak lama kemudian BoboiBoy kembali dengan pesanan Fang yang ia letakkan di atas nampan. Ia juga membawa salonpas penurun demam juga termometer. Diletakkannya nampan itu di atas meja, dan BoboiBoy pun mengambil tempat untuk duduk di sisi ranjang.

Ia mengambil termometer itu, dan menyerahkannya pada Fang. Si Pemuda China hanya memutar bola matanya, dan dengan malas menerima benda kecil itu lalu memasukkan ujungnya ke dalam mulutnya. BoboiBoy lalu memegang dahi Fang yang ditempeli salonpas, menyibak poninya lalu menarik pelan ujung benda penyerap panas itu hingga terlepas seluruhnya. Ia pun menempelkan yang baru setelah membuang yang lama di keranjang sampah.

Fang memberikan termometer itu kembali pada BoboiBoy, dan kembali membaringkan pipinya pada bantal yang empuk.

"Hmmm… kau masih agak demam. Tapi untungnya tidak separah tadi," BoboiBoy memberi laporannya usai melihat termometer itu menunjukkan angka 38.

Fang hanya menanggapinya dengan gumaman tidak jelas.

BoboiBoy menghela nafas lega. Ia teringat saat kejadian beberapa jam yang lalu, dimana Fang jatuh ambruk ke lantai tak sadarkan diri. Saat ia menyentuh tubuh pemuda itu, ia terkejut saat merasakan suhu badan Fang naik.

Tanpa pikir panjang ia langsung mengangkat pemuda itu naik ke ranjang, memberikannya pertolongan pertama. Dan saat kekhawatiran itu seolah menggerogoti hatinya, Fang akhirnya siuman empat jam setelahnya.

Saat itu BoboiBoy sangat takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap pemuda yang dicintainya itu. Namun saat Fang menyuarakan aksi protesnya mengenai piyama BoboiBoy yang terkesan kekanak-kanakan, BoboiBoy hanya bisa menghela nafas penuh kelegaan, seraya memeluk erat pemuda itu. Sepertinya dia baik-baik saja.

Fang juga sempat nyaris mengamuk saat menyadari benda basah yang terselip di bokongnya. BoboiBoy mengatakan benda itu sebagai kompres, karena dinding anusnya terluka atas 'permainan' liar mereka tadi. Mendengar hal itu wajah si pemuda oriental langsung saja menjadi semerah kepiting rebus, dan dengan suara serak ia berkata, 'biar aku saja yang menggantinya!'

BoboiBoy kembali mengukir senyum. Sepertinya Fangnya sudah kembali seperti sedia kala, begitu pula dengan dirinya. Ia pun mengambil es coklat buatannya di atas meja, menyerahkan minuman itu pada 'pasien'nya.

Fang menerima minuman itu, menyeruputnya dengan sedotan, lalu menaruhnya kembali di atas meja. Sekarang perasaannya menjadi lebih baik.

Ia melirik BoboiBoy melalui sudut matanya, merasa tak nyaman dipandangi seperti itu. Terlalu malas untuk protes, Fang hanya menolehkan pandangannya ke arah lain, menghindari kontak mata langsung dengan pengendali 5 elemen itu.

Awalnya Fang ingin sekali kabur dari tempat ini setelah siumannya. Namun menyadari bahwa pemuda bertopi itulah yang merawatnya semalaman, hingga menimbulkan jejak kehitaman di bawah matanya membuat Fang tidak tega juga. Yah, meski penyebab semua ini adalah pemuda itu sendiri.

Fang lalu melirik jam tangannya yang entah sejak kapan dikembalikan oleh BoboiBoy. Jarum jam tangan biru itu menunjukkan pukul empat subuh, dan BoboiBoy belum juga tidur hingga saat ini hanya untuk menjaganya. Ngomong-ngomong kacamata ungunya juga sudah dikembalikan sediakala.

"Kau pergilah tidur…" Fang akhirnya kembali menoleh, berucap pelan. "Kau tidak tidur semalaman,"

Mendengarnya membuat binar di wajah BoboiBoy mengembang. Lelaki itu berpikir bahwa Fang mungkin akan membencinya seumur hidupnya setelah kejadian malam ini. Mendengar sirat kekhawatiran dari pemuda itu (entah BoboiBoy terlalu peka atau mungkin terlalu ge-er) membuatnya bisa mendengus penuh kelegaan untuk yang kesekian kalinya.

Melihat ekspresi—yang menurutnya—aneh itu membuat Fang mendengus. "Bukan berarti aku mengkhawatirkanmu tau!"

BoboiBoy terkikik geli, sebelum meraih tangan pemuda itu dan menempelkannya di pipinya. Fang tidak menolak perlakukan itu. Ia hanya menolehkan kepalanya lagi, menyembunyikan ekspresinya yang memalukan.

"Fang…"

"Hmm…"

"Maafkan aku yah," BoboiBoy mengusap punggung tangan pemuda itu dengan jempolnya.

"Terserah,"

"Aku janji tidak akan melakukannya lagi…"

Pernyataan itu sukses menarik perhatian Fang. Sejujurnya sedari tadi ia mengkhawatirkan hal itu. Meski saat ini BoboiBoy sudah kembali 'normal' lagi, hal itu tak menutup kemungkinan pemuda itu bisa menjadi liar lagi sewaktu-waktu. Lihat saja, setelah Fang mendeklarasikan putusnya hubungan mereka, BoboiBoy malah melakukan hal yang sudah di luar batas.

Satu kesimpulan yang didapatkannya. Saat pemuda itu sudah terbawa emosi atau apa, ia tak akan mempedulikan status, maupun perasaan Fang padanya. Tak mempedulikan dampak yang ditimbulkan dari perbuatannya.

Jadi sepertinya kata maaf ini hanya akan berdampak sia-sia, jika suatu saat BoboiBoy akan terbawa emosi lagi.

Namun ia bisa membuat pemuda itu berjanji.

Fang menolehkan kepalanya, menatap mata hazel BoboiBoy, mencari kesungguhan di sana dan ia menemukannya. "Kau janji…?" tanyanya ragu.

"Janjiii! Kau harus percaya padaku!"

Fang mendecih. "Setelah semua ini kau masih memintaku untuk mempercayaimu?" sindirnya sinis.

BoboiBoy menggenggam jemarinya semakin erat. "Aku tak akan ingkar janji kepada orang yang kucintai…"

"Kau tidak mencintaiku, kau hanya mencintai tubuhku. Itu bukan cinta, melainkan nafsu jasmaniah belaka!" suara Fang meninggi.

Ruangan itu mendadak hening untuk waktu yang agak lama. Ia bisa menemukan sirat terluka di wajah BoboiBoy, membuat hatinya sedikit miris. Namun ia mencoba untuk tidak peduli. Pemuda itu telah melukainya lebih dari siapapun! Menyingkirkan rasa kemanusiaannya, Fang menarik paksa tangannya kembali.

Namun tanggapan itu runtuh seketika saat setetes cairan bening berhasil lolos, mengaliri pipi tembem pemuda bertopi dinosaurus itu. Mata Fang membelalak, sementara BoboiBoy sendiri nampak heran dengan benda cair yang keluar tanpa ia sangka itu.

BoboiBoy menghapusnya segera dengan punggung tangannya. Hatinya seperti dirobek saat mendengar pernyataan itu. Ia memang mencintai Fang. Semuanya! Tubuhnya, juga sikap pemuda itu yang selalu sinis terhadapnya. Sayang rasa cinta itu terkadang tak bisa ia kontrol, membuatnya melakukan kesalahan paling bodoh di sepanjang sejarah hidupnya.

"Maaf…" akhirnya perkataan itu lolos dari bibir mungil Fang.

BoboiBoy menatapnya heran, sebelum pemuda itu tertawa kecil. "Pfftt… Hahahahahaa! Kau ini lucu sekali Fang!" ia pun kembali meraih jemari pemuda di depannya, menggenggamnya sangat erat. "Aku yang salah kenapa kau yang minta maaf?"

Wajah Fang langsung saja memerah. Dengan segera ia kembali menolehkan kepalnya. "A─aku hanya merasa bersalah… eh, maksudku aku hanya tidak enak padamu saja!"

BoboiBoy tersenyum penuh arti. Ia lalu menaikkan lututnya di ranjang, lalu membungkuk di atas kepala Fang dan mengecup pelan pelipis pemuda itu.

Fang tentu saja terkejut dengan perlakukan tiba-tiba itu. Langsung saja ia menenggelamkan wajahnya pada bantal. Gerutuan tak jelas darinya membuat BoboiBoy tertawa kecil, sebelum ia kembali turun dari ranjangnya.

"Kalau begitu kau istirahat saja yah. Kalau butuh apa-apa panggil saja aku. Aku tidur di sana," BoboiBoy pun menujuk sofa ukuran sedang yang ada di dalam kamarnya, lalu berjalan dan membaringkan tubuhnya di sana. Sofa itu terlalu kecil untuk tubuh remajanya, membuat satu kakinya turun membengkok 90 derajat, dan satunya lagi naik di atas sandaran sofa. Meski begitu pemuda itu nampak nyaman-nyaman saja dengan posisi itu.

Fang yang tak mendengar suara apa-apa lagi pun memunculkan wajahnya dari 'tempat persembunyian'nya, menatap pemuda imut itu dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Fang memutuskan untuk pergi dari rumah itu, beberapa saat sebelum melihat BoboiBoy meninggalkan rumah untuk ke sekolah. Pemuda itu yang melarangnya ke sekolah hari ini, menyuruhnya untuk menghabiskan satu hari ini untuk beristirahat. Pemuda itu juga mengatakan bahwa Tok Aba dan Ochobot mungkin akan datang jam 9 nanti, jadi ia tak perlu khawatir.

Namun tetap saja Fang bersikeras. Ia ingin secepatnya meninggalkan tempat ini! Kamar yang menjadi saksi bisu atas kejadian naas yang menimpanya semalam.

Pemuda itu dengan cekatan turun dari ranjang BoboiBoy. Tanpa merasa bersalah sedikit pun, ia mengobrak-abrik lemari si pemilik rumah, mencari pakaian yang bisa dikenakannya untuk pulang.

Senyuman puas terukir di wajahnya saat memperoleh sebuah kaos putih yang ukurannya pas dengannya. Tanpa pikir panjang, ia pun melepas piyama manisnya, dan segera menggantinya dengan kaos sederhana itu.

Fang berpikir dua kali untuk cepat-cepat meninggalkan tempat yang terlihat berantakan itu. Ia menghela nafas pendek. Kenapa di saat seperti ini naluri kebersihannya muncul di permukaan?

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

"Kemarin kau yang sakit! Sekarang Fang?" Gopal berujar sambil melahap sarapannya yang tak sempat ia makan lantaran nyaris terlambat ke sekolah. Pemuda berkulit gelap itu bersyukur ia datang tepat waktu, bahkan beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Membuatnya bisa menyempatkan diri untuk mengisi perut gemuknya.

"Mungkin dia syok. Kemarin dia kalah 'kan?" Ying mengutarakan pendapatnya.

Si pemuda dengan rompi tebal merah hanya menggaruk pipinya, memasang cengirannya. "Siapapun pasti akan syok atas kejadian tak terduga 'kan?"

"BoboiBoy, tumben kau ngebela si Fang tuh? Biasanya ikut-ikutan menjelek-jelekkan dia?" kata Gopal, membuat BoboiBoy harus memasang senyum canggung.

"Heiihh… Baguslah kalau begitu," Yaya angkat bicara. Ia lalu menoleh pada BoboiBoy. "Ngomong-ngomong, kau darimana kemarin? Kau bilang mau lihat pertandingan Fang. Tapi kau malah hilang gitu. Kita nyari kami kemana-mana tahu!"

"Ehehehee… Sori, aku ada urusan mendadak…" BoboiBoy teringat saat kemarin ia langsung mengunci rumahnya, menaruh Fang di kamarnya tanpa mengeluarkan suara. Ia terkejut saat mendengar teman-temannya memanggilnya di bawah, namun ia berusaha mengabaikannya, hingga akhirnya mereka pergi.

"Kami pikir kau sakit, tapi sehat-sehat saja kemarin. Pas kami datang kau langsung mau lihat pertandingan Fang. Terus main hilang saja! Dasar!"

"Hmmm… mencurigakan!" Gopal sudah mulai dengan akting Detektif Kononnya. "Fang juga menghilang di saat yang sama…"

BoboiBoy tak tahu harus berkata apa.

"Selamat pagi murid-murid kebenaran~!"

Dan untuk pertama kalinya ia harus mensyukuri kedatangan Papa Zola di pagi hari, membuatnya bisa terbebas dari introgasi teman-temannya.

Ia pun kembali ke bangkunya sendiri, melakukan 'ritual salam pagi yang bersemangat' bersama dengan teman sekelasnya. Saat duduk, BoboiBoy menyempatkan diri untuk melirik ke belakang, melihat bangku Fang yang kosong.

Ia menghela nafas berat.

Sungguh, ia menyesali perbuatannya kemarin, dan BoboiBoy tak tahu bagaimana harus menebusnya. Satu hal yang mengganggu pikirannya. Bagaimana jika Fang membencinya? Bagaimana jika pemuda itu tak mau lagi mengenalnya?

Menyingkirkan segala kegalauannya, BoboiBoy pun membuka buku matematika, halaman 35 setelah mendengar instruksi dari sang pengajar.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Esoknya BoboiBoy mendapati Fang datang ke sekolah dengan wajah ketus seperti biasa, seolah tak ada yang terjadi padanya. BoboiBoy tak bisa menahan diri untuk tidak mengembangkan senyum. Bagaimana tidak? Ia tak bisa mengingat bagaimana dentuman yang seolah menghantam jantungnya saat dilihatnya kamarnya kosong tanpa Fang yang terbaring di tempat tidur. Saking terkejutnya BoboiBoy bahkan tak menyadari bahwa ruangan itu terlihat rapih tanpa ada setitik noda pun di sana.

Saat bertanya kepada Ochobot dan Tok Aba mengenai keadaan rumah saat mereka datang, mereka mengatakan bahwa rumah baik-baik saja, tanpa menyinggung soal Fang. Sepertinya pemuda itu 'melarikan diri' tepat setelah BoboiBoy meninggalkan rumah untuk ke sekolah.

Berbagai kepesimismean mulai berkecamuk dalam dada BoboiBoy. Semuanya menjadi bertambah buruk saat melihat rumah pemuda berkacamata itu kosong, saat ia dan ketiga temannya mengunjugi rumah kecil itu di sore hari, bermaksud untuk menjenguknya.

Akhirnya BoboiBoy bisa menghela nafas lega, menyaksikan pemuda yang membuat tidurnya tak nyenyak semalam, berjalan dengan santai, duduk di bangkunya, lalu menatap langit dengan dagu yang ditumpukan pada sebelah tangannya.

"Selamat pagi Fang!" sapa Yaya dengan ramah, diikuti oleh Ying. Kedua perempuan itu mendatangi bangku teman sekelas mereka tersebut.

Yang disapa hanya menoleh ke arah mereka sekilas, memberi senyuman tipis singkat, lalu kembali menatap langit.

Seolah terbiasa dengan reaksi itu, Yaya kembali membuka mulut. "Kau kemarin kemana? Kami ke rumahmu tapi kau tak ada,"

Tubuh pemuda di depannya tersentak. Tanpa Yaya sadari, iris yang terlindung kacamata berframe nila itu melirik ke arah orang di depannya sejenak, sebelum segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Aku ke rumah sakit," jawab Fang seadanya. Ia sempat melihat bahu BoboiBoy tersentak, sebelum pemuda itu membalikkan tubuh, ikut serta dalam 'obrolan pagi' ini bersama ketiga temannya. Fang tanpa sadar menghindari iris hazel yang menatapnya antusias tersebut.

"Rumah sakit mana? Dokter bilang apa?" tanya BoboiBoy penuh selidik. Ia tak menyangka pemuda itu akan benar-benar ke rumah sakit akibat ulahnya. Lantas kenapa Fang tidak memberitahunya? Setidaknya BoboiBoy bisa mengantarnya, guna menebus kesalahannya. Kenapa Fang pergi sendirian?

"Ya rumah sakit Pulau Rintis lah! Memangnya ada rumah sakit lain di pulau ini?"

"Kau ngapain di rumah sakit Fang? Memangnya kau sakit apa?" kali ini Ying yang melotarkan pertanyaan.

Lalu terlihat sedikit rona kemerahan di kedua belah pipi yang ditanya. "Aku agak demam kemarin, jadi pergi periksa… Juga mengalami sedikit iritasi pada beberapa bagian tubuh,"

"Heh!? Memangnya kau sudah makan apa? Atau kau alergi sesuatu?" untungnya kedua teman perempuannya masih terlalu polos untuk menyadari arti dari kalimatnya.

"Entahlah, mungkin aku sudah dikutuk,"

"Heh kau ini! Tidak baik bicara begitu pagi-pagi!" ujar Yaya berkacak pinggang. Ia tak menyadari BoboiBoy yang mengulum bibir di belakangnya.

"Jadi dokternya bilang apa?" tanya pemuda itu.

Fang memutar bola matanya. "Gak ada yang speaial. Dia cuma kasih aku obat, terus dia menyarankan agar aku tinggal di rumah sakit untuk dirawat sampai aku pulih,"

"Lha, terus kenapa kau di sini sekarang?" tanpa disangka-sangka Gopal muncul di sana, membuat keempat temannya nyaris terlonjak terkejut.

"Apalah kau ini Gopal!" sungut Ying.

Pemuda gempal itu terkekeh. "Kau kabur dari rumah sakit yah Fang?" tuduhnya sembarangan.

"Enak saja! Aku ini 'kan hebat. Aku cepat sembuh. Jadi semalam sudah dibolehkan pulang,"

"Terus kenapa tidak hubungi kami? Setidaknya kami bisa membantumu," raut wajah tak senang dari pemuda bertopi dinosaurus itu membuat Fang jengkel. Tidakkah pemuda itu sadar siapa yang membuat Fang menjadi seperti ini?

"Sudahlah! Aku bisa mengatasi masalahku sendiri! Pergi sana. Hush hush…" Fang mengibas-kibaskan tangannya, memberi instruksi mengusir kepada keempat temannya.

Yaya dan Ying mendengus, namun menurut saja. Kedua perempuan itu pun berjalan ke depan, ke tempat duduk mereka masing-masing. Setidaknya Fang baik-baik saja. Gopal sendiri juga menjauhi bangku pemuda itu, menuju meja BoboiBoy. BoboiBoy mau tak mau harus kembali membalikkan tubuh.

"Hoi BoboiBoy! Kau sudah tau soal rumah hantu dekat toko burger itu?"

Dan kedua pemuda itu pun memulai obrrolan mereka, megabaikan Fang di belakang.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Fang tengah asyik membaca sendirian di perpustakaan, hingga sepasang lengan yang melingkar di pinggangnya dari belakang menyentakkannya. Pemuda itu nyaris memekik, jika saja ia tak sadar posisinya yang tengah berada di dalam tempat tertenang di sekolah ini.

Refleks, ia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, memastikan tak ada satupun orang yang dapat melihat kejadian ini. Setelah dirasanya aman, ia pun mendengus, melirik si pelaku melalui ujung matanya.

Dengan satu sentakan keras, dilepasnya pelukan itu. Ia mengurungkan niatnya untuk marah, memutuskan untuk kembali membaca buku.

Merasa diabaikan, BoboiBoy langsung mengambil tempat di sampingnya, duduk dengan badan yang dicondongkan ke arah pemuda itu.

"Lagi apa?" godanya.

"Memasak," Fang menjawab singkat, berusaha memfokuskan dirinya pada deretan huruf yang tersusun menjadi kalimat hingga membentuk sebuah paragraf dalam buku itu.

BoboiBoy tertawa kecil, ia ingin menggoda Fang lebih jauh lagi, namun ia sepertinya sedang tak mood membuat pemuda itu marah. BoboiBoy pun membaringkan kepalanya di atas meja, memutuskan untuk tetap diam, memandangi pemuda yang dicintainya itu.

Keheningan berkuasa dalam ruangan yang hanya terdengar suara jarum jam itu. Ini adalah waktu istirahat, sehingga para siswa lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di kantin.

Sebenarnya tadi Fang sudah dipanggil oleh keempat temannya untuk ke kantin bareng, namun ia menolaknya. Dia bilang kalau ada buku yang harus dibacanya hari ini untuk menyelesaikan tugas yang tak sempat ia kerjakan lantaran absen kemarin. Awalnya Gopal mengeluh karena itu, namun akhirnya mengalah juga setelah Yaya angkat bicara.

Saat itu ia sempat bertemu pandang dengan BoboiBoy, dan pemuda itu hanya memberinya seulas senyum tipis.

'Dasar munafik,' Fang memutar bola matanya, menganggap kehadiran BoboiBoy di sana hanyalah angin lalu.

Diperhatikan seperti itu sebenarnya membuatnya tak nyaman. Namun ia tetap mencoba untuk mengabaikannya. Lama-lama BoboiBoy pasti akan bosan juga dicuekin seperti itu.

"Fang," akhirnya pemuda itu angkat bicara juga. Lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Fang tak menyahut, sampai BoboiBoy mengeluarkan sesuatu dari kantung kertas yang ia bawa (entah sejak kapan) menarik perhatiannya. Ujung hidungnya bergerak, mengenali betul aroma lobak merak yang digoreng, bercampur dengan aroma terigu dan cream, serta bahan lainnya.

Fang menaruh bukunya di meja, menatap makanan kesukaannya berada di tangan pemuda yang kini tengah tersenyum jahil kepadanya.

Ia meneguk ludah, sebelum kembali melanjutkan bacaannya. Tentu saja setelah berusaha keras menahan hasratnya untuk tidak merebut donat lobak merah itu dari tangan BoboBoy.

Kryuuukk~

Dan sialnya suara perutnya yang terdengar jelas di ruangan hening itu menghancurkan semuanya. Fang makin mendekatkan bukunya kepada wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang memanas.

"Kau lapar?" BoboiBoy bertanya dengan nada polos.

Fang tak menjawab.

"Kalau mau akan kuberikan donat ini,"

"S─sini!" Fang tak bisa menahannya lagi. Mendengar kalimat itu langsung saja pegangannya pada buku terlepas, bermaksud untuk merampas donat yang berada di tangan BoboiBoy.

Namun pemuda itu dengan lihai menghindar, membuat Fang hanya menggenggam udara.

"Tentu saja tidak cuma-cuma!" seringai jahil di wajah BoboiBoy makin mengembang saat melihat rona kemerahan menghias wajah tampan pemuda di depannya.

"Uangku tertinggal di kelas! Nanti aku ganti deh,"

"Siapa bilang aku mau uangmu?" BoboiBoy kembali duduk di samping Fang, menggoyang-goyangkan donat di tangannya untuk menggoda pemuda itu lebih keras.

"Kalau begitu kau mau aku bayarnya pake apa?" tanya Fang gemas.

BoboiBoy mengembangkan senyum, membuat lesung pipinya terlihat. Ia lalu memajukan tubuhnya, menggenggam dagu Fang dengan sebelah tangannya yang bebas.

"Kalau bisa bertahan kucium sampai lima menit, kukasih semuanya deh!"

Fang menggerutukkan giginya jengkel. Pemuda pendek itu memang kurang ajar. Mencoba mengontrol amarahnya, ia mendorong pelan tubuh itu, menjauhkannya darinya. Ia kembali mengabaikan BoboiBoy dengan fokus pada bacaannya.

"Woy! Kok malah dicuekin sih?" BoboiBoy mengutarakan protesnya.

Pemuda di depannya hanya mendengus pendek, lalu menatap lawan bicaranya dengan datar. "Bukannya kau sudah janji untuk tak melakukan ini…?" Fang mempertanyakan kesungguhan BoboiBoy.

BoboiBoy terdiam.

"Kau itu Super Hero, tapi melanggar janji yang kau buat sendiri dua hari yang lalu. Konyol sekali,"

Fang berjuang untuk tetap memasang ekspresi datarnya yang biasa. Entah kenapa ia merasa sakit di dadanya. Saat BoboiBoy berpikir bisa menukar harga dirinya dengan donat lobak merah yang seharga 1 ringgit itu. Memang sih, makanan itu adalah makanan terenak di dunia (menurutnya) dan lebih berharga dari apapun. Tapi tetap saja itu hanyalah makanan, dan ia manusia. Mengabaikan sesak di dadanya, ia pun berdiri.

Fang baru bersiap untuk meninggalkan tempat itu, hingga BoboiBoy menahan pergelangan tangannya.

"Apa sih?"

"Maaf…"

Fang bisa menangkap sorot penyesalan di iris hazel itu. BoboiBoy menahannya, menatapnya penuh sesal. Pemuda itu seperti menarik tangannya, memaksanya untuk duduk kembali. Namun Fang tetap berdiri, menyipitkan matanya yang memang sudah sipit itu, memberi tatapan mengancam pada pemain sepak bola itu.

Lama mereka saling menatap, hingga akhirnya Fang menyerah juga. Dengan sangat terpaksa, ia kembai menyamankan posisinya untuk duduk, sukses mengukir senyuman lega dari BoboiBoy.

"Terserah,"

Meski telah kembali pada posisinya semula, BoboiBoy tidak melepaskan tangannya. Pemuda itu malah dengan nekat mengapit jemarinya, menggenggamnya erat. Fang meringis, lalu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan menghela nafas saat ia tak menemukan seorang pun kecuali mereka berdua.

Setelah dirasanya aman, barulah ia mulai memberontak. "Kau ini gila yah!? Lepaskan tanganku!" perintah Fang dengan suara yang sebisa mungkin ia buat lirih.

BoboiBoy membantah perintah itu dengan menempelkan bahu mereka berdua. "Tidak akan ada yang lihat kok," ujarnya santai, mengabaikan Fang yang menggerutu tak jelas. "Kau baca buku apa sih?"

Merasa perlawanannya sia-sia, Fang pun menyerah. Lagipula ia merasa nyaman saat BoboiBoy menggenggam lembut tangannya, meski debaran tak karuan di jantungnya itu mengganggunya. Kembali mengecek situasi, Fang pun akhirnya menarik buku itu di depannya, dan membacanya di atas meja. Ia mencoba untuk mengontrol nafasnya yang terasa berat, saat menghirup aroma jeruk BoboiBoy yang membuat tubuhnya panas.

"Sudah lihat masih nanya,"

"Ayolah Faaangg… aku hanya ingin ngobrol denganmuu…" BoboiBoy pun langsung saja ke intinya. Daritadi ia mencoba untuk basa-basi dengan pemuda ini, namun tetap saja mendapat respon tawar—bahkan pahit.

"Kau tahu sendiri 'kan, tidak boleh ngobrol di perpus?"

Tuh 'kan?

"Kalo gitu aku ajarin deh! Kan penjaga perpus tidak akan marah kalo kita diskusi soal pelajaran di sini!"

Fang menatap BoboiBoy dengan mimik 'are you kidding me?'. Ia tertawa sinis, lalu menaikkan kacamatanya. "Butuh seratus tahun untuk kau menyamai kemampuanku, dan sekarang malah mau mengajariku?" ujarnya sombong.

BoboiBoy mengerucutkan bibirnya, membuatnya terlihat err… imut. Fang tidak mau mengakui hal itu.

"Ini 'kan sudah kupelajari kemarin. Jadi aku tau lebih banyak dong,"

"Aaahh… berisik! Pergi sana! Aku mau belajar,"

BoboiBoy memutar bola matanya. Cowok cuek di depannya ini benar-benar nyebelin, tapi gemessin. Andai saja ia tak membuat janji malam itu, pasti saat ini dirinya sudah menerjang Fang, melahapnya hidup-hidup untuk memuaskan rasa laparnya.

Tapi janji tetaplah janji. Lagipula BoboiBoy tak ingin melukai Fang lagi. Ia tak bisa menahan rasa takut dalam dirinya, saat melihat pemuda yang dicintainya ambruk di lantai tak sadarkan diri saat itu. Sesuatu mengoyaknya saat melihat air mata Fang mengalir begitu saja. Karena dirinya.

BoboiBoy telah berjanji kepada Fang untuk tak melakukan hal 'itu' lagi. Sekaligus, ia berjanji pada dirinya untuk tak membiarkan pemuda yang dicintainya itu menangis lagi. Tak membiarkan apapun menyakiti Fang.

BoboiBoy mengeratkan genggamannya.

Ia lalu mengambil sekantung donat lobak merah yang tadi ia letakkan di sampingnya, menaruhnya di depan Fang. Otomatis, pemuda bersurai biru gelap itu menatap kantong coklat itu sebelum memandang BoboiBoy dengan tatapan terkejut.

"Kukasih semuanya, tapi ladeni aku sebentar saja," BoboiBoy memberikan senyuman penuh arti.

Membuang beberapa menit (bahkan detik) waktu belajarnya untuk donat lobak merah…?

Fang berpikir keras, sementara BoboiBoy menungguinya dengan sabar. Akhirnya Fang menghela nafas, mengambil satu donat dari sana dan memakannya. Semburat kemerahan merona di kedua belah pipinya, sebelum ia menoleh pada si pemberi.

"Tiga puluh detik saja. Cepat bilang apa yang ingin kau bilang," ujarnya sambil memakan donatnya dengan lahap.

Senyuman di wajah imut BoboiBoy mengembang jelas. Ia lalu mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Fang ke atas meja, mengelus punggung tangan yang terbalut sarung tangan itu dengan jempolnya.

"Dengar, mungkin kemarin-kemarin aku sudah kelewatan. Tapi, percayalah padaku Fang. Aku melakukannya di luar akal sehatku. Aku janji tidak akan melakukannya lagi,"

Fang berhenti mengunyah.

"Aku tahu kau membenciku dan merasa jijik padaku. Tapi aku ingin kau tahu kalau aku cinta kamu. Mungkin sudah terlambat untuk minta maaf, tapi…"

BoboiBoy mengeratkan genggamannya. Kini satu tangannya yang lain ikut menggenggam jemari kurus itu.

"Boleh aku minta kesempatan kedua…?"

Ia menatap lurus pada iris karamel itu, berusaha menunjukkan keseriusannya. BoboiBoy sudah memperhitungkan segala kemungkinan yang akan diterimanya, dan ia sudah siap dengan hal itu. Sebenarnya ia bisa mendekati Fang semaunya. Apalagi pemuda itu nampak sama sekali tak menunjukkan penolakan. Namun dirinya butuh kepastian. Ia benar-benar ingin mengetahui apa isi hati pemuda itu, apa yang diinginkannya.

BoboiBoy siap menanggung segala resiko, termasuk jika Fang menolaknya. Jika lelaki itu bilang tidak, maka BoboiBoy dengan berat hati harus menurutinya.

Mengorbankan perasaannya demi kenyamanan cinta pertamanya itu.

Fang menganga dengan kunyahannya yang masih tertinggal di mulut. Ia merasakan wajahnya kini kian memanas. Jantungnya berdebar keras, membuatnya tersiksa.

"Mau tidak jadi kekasihku… lagi…?"

Fang nyaris tersedak saat ia berusaha menelan makanannya. Sialan. Darahnya mengalir makin deras saja. Ia lebih memilih dikerumuni puluhan gadis yang menyatakan cinta dibanding satu orang lelaki yang—entah resmi atau tidak—merupakan mantan kekasihnya ini.

"Aku janji deh, gak bakal kecewain kamu,"

Keheningan berkuasa dalam waktu yang cukup lama. Si pemuda China lalu menaikkan kacamatanya, lalu mengalihkan wajahnya, menyembunyikan rona merah di sana.

"Waktumu habis,"

.

.

.

Fin


A/N :

Udah gitu aja! :v

Maaf kalo endingnya mengecewakan! XD Saya udah ga bisa mikirin ide lain buat ngelanjutin fic ini. Lagian kalo saya bikin konflik baru nanti jadinya bakal beneran Out of Topic. Untuk kelanjutaannya silahkan gunakan imajinasi kalian sendiri~ *digotong ke api*

Mohon maaf kalo fic ini ga memuaskan! Alurnya ga sesuai, kesalahan penulisan, dan jalan cerita yang terkesan ngawur, serta kesalahan lainnya! Saya masih kurang pengalaman! X'D

Saya mau mengucapkan banyak terima kasih untuk para pembaca yang telah mengikuti fic ini sampai akhi~ X'D Juga yang menyempatkan untuk member review, mengklik fave dan follow~ Kalian sungguh terbaik~ XD

Big hug for Healice Adelia, Vivi Ritsu, Kukuraishi deli-chan, Kuas tak bertinta, latte amour, FoinChu, Fudan-San 22, Charllotte-chan, Celestial Namika, ArdhanaChan, Oranyellow-chan, higitsune84tails, thunderpearl, Xiang Qi, Hanaciel Jaeger, DesyNAP, 306yuz, B0yf4n9, ReKoko, Healice Adelia, Angel Nam'Woohyunie, Phantom 3148, The Fujoshi, hiluph 166, Yamashita Riko, & Guest

Review kalian sungguh membuat saya bersemangat untuk melanjutkan fic ini sampai akhir... :')

Yosh, sekarang bolehkah saya meminta pendapat kakak-kakak dan abang-abang sekalian mengenai chapter ini? Silahkan member kritik, saran, dan pendapat sekalian!

Akhir kata, review please!