Halo semua~ Jumpa lagi dengan Pa Gogo, alien comel yang baik hati serta rendah diri iniiii~

Saya yakin abang-abang dan kakak-kakak semua masih ingat dengan fic awesome ini~

Apa? Tak ingat?! Aduh Baaang… Masa gak ingat siiih? Itu tuuhh… fic AU Schoollife yang certain tentang BoboiBoy yang suka Fang, trus marah karena Fang dicium Azroy, terus dia nge-r*pe Fang!

Hah?! Masi tak ingat juga?! Aduh Baaang, ininih akibatnya kalo tidak makan Kismis Minda S900! Itulah ingatan Abang-abang dan kakak-kakak sekalian tidak kuat! Jadi saya menyarankan untuk membeli Kismis Minda ini! Terbuka dengan harga promo seperempat tahun, 90 juta 90 sen!

Apa? Kemahalan? Sudah murah itu Bang, diskon pula! Kalo memang tak sanggup beli, abang-abang dan kakak-kakak sekalian baca saja fic ini dari awal~

Heheheee, ya sudah, kalo gitu silahkan baca epilog fic Be Mine ini!

.

.

BoboiBoy © Animonsta

BE MINE! © Penjual Senjata Haram Pa Gogo

Genre : Romance & Drama

Rated : M

Warning(s) : AR, yaoi, rated M for lemon scene, typo(s), OOC, OC, BoboiBoyXFang, 6 years skiptime, highschool life, Indonesian

.

Don't like, don't read!

.

.

.

Chapter 6 : Epilog

Fang hanya bisa memutar bola matanya kesal, berjalan dengan santai mencoba untuk mengabaikan pemuda dengan topi orange yang tengah asyik berceloteh di sampingnya. Pemuda itu tak habis pikir, mau sampai kapan BoboiBoy akan terus mengikutinya? Tidakkah anak pendek itu peduli atas tatapan aneh dari orang-orang yang mereka lewati?

Sebenarnya tidak begitu juga sih. Fang saja yang terlalu sensitif. Alasan orang-orang melihati mereka berdua itu hanya karena mereka memang sangat jarang ditemukan berjalan berdua. Biasanya berlima, atau bertiga bersama Gopal. Meski teman sejak SD, tetap saja dua orang tampan itu dikenal sebagai rival yang saling bersaing untuk memperebutkan posisi teratas di sekolah—bahkan di pulau tempat tinggal mereka.

"Fang!"

Panggilan pemuda pemilik iris hazel itu membuat Fang kembali memutar bola matanya. Ia sudah berulangkali mengabaikan panggilan BoboiBiy, namun kali ini kesabarannya sudah habis.

"Apa sih!?" sahutnya kasar.

"Gimana?" tanya BoboiBoy dengan senyuman sumirgahnya. Akhirnya dia diladeni juga.

Fang mendesis. "Gimana apanya?"

"Jawabanmu soal kemarin,"

Fang terdiam, berhenti melangkah. Ia menatap BoboiBoy dengan mata melotot. Tanpa ia sadari pipinya mulai merona, mengingat pernyataan BoboiBoy kemarin—tepatnya permintaan pemuda itu untuk diberi kesempatan kedua.

Fang menaikkan kacamatanya, lalu mulai berjalan. Melewati BoboiBoy yang tadi sempat ikut berhenti karenanya. Pemuda itu meringis sebal, lalu mengejar Fang.

"Woy! Kau belum menjawabnya, tau!" protes BoboiBoy saat mereka kembali berjalan beriringan.

"Aahh! Berisik!" Fang mempercepat langkahnya. Ia berencana akan melesatkan diri, berlari sekuat tenaga saat melihat adanya kesempatan dimana BoboiBoy lengah. Atau jika dirinya sudah benar-benar terpojok, tak sanggup menahan debaran jantungnya yang tak karuan.

"Kok susah amat sih jawabnya? Mau atau tidak?" BoboiBoy bermaksud mempermudah Fang. "Satu kata aja,"

Tidak direspon.

"Kalau kau diam kuanggap kau mau," BoboiBoy kembali mendesak Fang dengan seringai yang mulai mengembang. Ia tahu hal ini memiliki resiko yang besar, dimana Fang bisa saja terbawa emosi dan langsung meneriakkan kata tidak. Tapi ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia ingin mendengar kepastian dari pemuda itu, agar ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Namun tidak seperti yang diharapkannya, Fang masih saja diam, menatap ke depan. Mengabaikannya sepenuhnya.

BoboiBoy menghela nafas pendek, sebelum memaksakan senyumnya. "Berarti mau—"

—Syurr~

BoboiBoy cengo seketika saat melihat tiba-tiba Fang semakin menjauh darinya dengan kecepatan yang tidak masuk akal, hingga pemuda itu hilang dari pandangannya. Ia masih menangkap beberapa gumpal bayangan hitam, tanda Fang menggunakan kekuatannya untuk bisa berlari seperti pegasus itu.

BoboiBoy menggeram.

"Gerakan kilat!"

.

.

Saat berlari sekencang yang dia bisa Fang masih menggunakan otaknya. Ia memikirkan tempat-tempat yang tidak mungkin dipikirkan oleh BoboiBoy, dan ia memilih tempat pembakaran sampah sebagai tempat persembunyiannya. Tempat ini begitu kotor, banyak sampah yang belum dibakar. Ia yakin BoboiBoy pasti berpikir bahwa lelaki pembersih seperti dirinya tak akan sudi menginjakkan kaki di tempat seperti ini.

Yah, meski Fang sendiri harus menahan diri untuk tidak muntah di tempat saat itu juga, menahan aroma busuk yang menyengat indra penciumannya.

Ia harus bertahan. Paling tidak saat ia menemukan kesempatan untuk langsung berlari ke kelas, mengambil tasnya dan kabur begitu saja untuk pulang. Fang bersyukur tadi itu adalah pelajaran terakhir, membuatnya tak akan mendapat gelar sebagai siswa pembolos.

Fang menghela nafas panjang. Tatapannya tertuju pada pergelangan tangannya yang masih terdapat jejak kemerahan, meski tak sekentara kemarin. Saat mandi ia mencoba untuk menghilangkannya—beserta bercak merah lain pada sekujur tubuhnya—namun nihil. Sepertinya bercak itu masih ingin berlama-lama pada kulitnya, mengejeknya.

Wajah Fang kembali memanas mengingat betapa liarnya 'permainan' BoboiBoy dua hari yang lalu itu. Pemuda itu tak habis pikir, darimana BoboiBoy belajar. Wajah bulat itu jelas menunjukkan kepolosan dan keluguan. Naluri alamiah kah? Bagaimana pun BoboiBoy sudah terbiasa bertarung melawan Alien yang datang menakluki bumi demi koko yang dicari-cari *malah nyanyi*Pertarungan di lapangan sudah jago, jadi pertarungan di ranjang pun sepertinya sudah tidak perlu dipertanyakan.

Sementara dirinya yang juga mengaku sebagai lelaki normal tak pernah berpikir sampai sejauh itu, dan malah menikmati permainan yang dipersembahkan oleh sesama jenisnya—sekalipun ia membencinya.

Fang yakin sekali dirinya masih normal. Ia masih suka melihat kaki perempuan yang mengenakan rok setengah paha, meski ia tak menunjukkannya. Ia sering mencuri pandang saat gadis-gadis berok mini menaiki tangga, atau berlari maupun melompat. Ia senang melihat tim basket putri bermain, karena ia bisa menikmati benda 'memantul' selain bola merah itu.

Yah, itu memang normal untuk remaja seusianya.

Namun mengingat musibah yang menimpanya sejak beberapa hari yang lalu membuatnya jijik pada dirinya sendiri. Ia ingin menyalahkan BoboiBoy, namun ia berpikir, sebenarnya ia juga yang salah. Kenapa dirinya terbawa suasana oleh perlakuan pemuda itu.

Kenapa dia terangsang dan merasa keenakan?

Fang menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Pikirannya tertekan. Saat BoboiBoy memintanya—lagi—untuk menjadi kekasih pemuda itu, Fang tak tahu harus menjawab apa.

Ia ingin menolak, namun di sisi lain ia tak rela juga. Ia takut BoboiBoy akan menjauhinya setelah ini. Bukan berarti ia mau menjadi kekasih BoboiBoy. Pemuda itu sudah kembali seperti BoboiBoy yang biasa, membuat Fang menjadi lebih nyaman berada di dekatnya. Jika boleh memilih, Fang ingin semuanya kembali seperti biasa. Mereka berteman seperti dulu lagi. Tak ada kata cinta maupun cemburu. Hanya sebatas teman yang terikat dalam satu geng dengan tujuan melindungi bumi ini.

Ia sendiri tidak mengerti apa yang BoboiBoy sukai darinya. Ia selalu saja mengatakan hal yang pedas, menunjukkan rasa permusuhan yang nyata. Fang akui dirinya ini tinggi, tampan, cerdas, popular pula. Tapi masih banyak lelaki di sekolahnya yang memiliki cirri-ciri seperti itu. Mungkinkah atas hubungan mereka yang telah berlagsung sejak 6 tahun yang lalu…?

Lantas kenapa BoboiBoy tidak menyukai Ying ataupun Yaya? Kedua gadis itu sama-sama cantik, pintar, perempuan pula! Atau bahkan kenapa bukan Gopal? Memang sih pemuda gempal itu jauh dari kata sempurna, tapi jika membicarakan soal 'cinta karena hubungan yang sudah lama berlangsung', Gopal lebih pantas darinya. Pemuda itu sangat dekat dengan BoboiBoy, selalu mendengarkan apa yang si Pahlawan ucapkan.

Sementara dirinya hanyalah 'orang tambahan' yang tak bisa menjaga omongan.

Fang kembali menghela nafas panjang. Ia melihat jam digitalnya yang menunjukkan pukul dua siang. Ia akan menunggu sebentar lagi.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Iris coklat itu membelalak nyaris keluar dari matanya saat mendapati pemuda bertopi polkadot tengah duduk di depan teras sebuah rumah kosong, memasang gaya seolah tengah menunggu seseorang.

Iris hazel pemuda itu berbinar cerah melihat kedatangan si pemilik rumah, yang kini mencoba untuk tidak berteriak terkejut.

"Kau darimana? Kucari di sekolah gak ketemu-ketemu!" BoboiBoy mengutarakan protes seolah tak memahami situasi di sini.

Fang masih dikuasai oleh keterkejutan hanya bisa mengerjap-kerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mengendalikan kesadarannya. "A─apa… Apa yang kau lakukan di sini, hah!?" bentaknya.

BoboiBoy berdiri dari duduknya, merapikan topinya yang agak miring. "Aku menunggumu tau," ujarnya santai. "Aku gak menemukanmu di sekolah, jadi kuputuskan untuk menunggu di rumah,"

Fang menganga tidak percaya. Seberapa niat sih pemuda di depannya ini!?

Dalam urusan cinta, BoboiBoy benar-benar menyeramkan.

Fang menggelengkan kepalanya. "Pulanglah!" usirnya kemudian melangkah, mengeluarkan kunci dari sakunya. Pemuda itu belum berniat untuk membuka rumahnya sebelum BoboiBoy benar-benar menghilang dari sana. Ia harus mencegah sesuatu yang tidak diinginkan sebisa mungkin, bukan?

Sayangnya pemuda yang lebih rendah 7 cm itu hanya mengulas senyuman yang membuat Fang jengkel. "Aku gak akan pulang sebelum kau menjawab pertanyaanku yang kemarin,"

"Penting gak sih?" suara Fang meninggi satu oktaf. Ditatapnya BoboiBoy dengan sirat kekesalan yang jelas. "Bisa tidak, tidak mengacau kehidupan orang lain sekali saja?"

BoboiBoy makin mengembangkan senyum. Pemuda di depannya ini benar-benar manis, utamanya saat sedang marah-marah begitu. Ingin sekali ia langsung berhambur untuk memeluknya, bahkan melakukan lebih. Namun BoboiBoy menahannya. Ia hanya mengangkat tangan, mengacak-acak surai gelap itu dengan gemas—meski ia harus berjinjit untuk melakukannya.

"Apa sih?" kesal Fang langsung menepis tangan itu dengan kasar. Ia merasakan wajahnya memanas.

"Habisnya kau manis sekali sih Fang," ujar BoboiBoy enteng. Ia lalu meraih jemari kurus pemuda di depannya, menggenggamnya di dada, lalu memberikan senyuman terbaiknya. "Jadi kekasihku yah?"

Fang melotot tidak percaya. BoboiBoy benar-benar sudah tidak waras. Ia segera menggelengkan kepala, berusaha menarik tangannya sendiri, namun BoboiBoy mencengkramnya kuat.

"Mau atau tidak?" desak BoboiBoy makin mengeratkan pegangannya.

"Lepaskan!"

"Fang, aku serius—"

"PULANG DAN DINGINKAN KEPALAMU BOBOIBOY!"

Keheningan tiba-tiba melanda tempat itu bersamaan saat Fang berteriak, membentak lawan bicaranya. Sedangkan yang dibentak di sini diam seribu bahasa.

Fang langsung saja menyentakkan tangannya, agak mengusapnya. Cengkraman BoboiBoy tadi cukup keras nyaris membuat tulang jemarinya remuk. Ia juga harus menahan diri untuk tidak melayangkan tamparan panasnya pada pipi chubby itu.

Ditatapnya pemuda yang masih diam itu dengan sinis. "Jangan buat aku membencimu, bodoh!" setelah mengatakan itu, ia lalu berbalik, meninggalkan BoboiBoy dalam diam.

Fang sudah tak peduli lagi. Dengan buru-buru ia mengeluarkan kunci rumahnya, membukanya, lalu masuk ke dalam.

BAM!

Fang membanting pintu itu dengan keras dan menguncinya dari dalam. Sebelum pintu itu benar-benar rapat, ia sempat menangkap sosok BoboiBoy masih diam di sana, dengan ekspresi yang sama.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Pagi itu BoboiBoy datang lebih lambat dari biasanya. Ia memasuki kelas yang sudah ramai oleh teman-temannya dengan senyuman yang biasa.

Sejenak, iris hazelnya menangkap sosok Fang yang melirik ke arahnya, hingga mereka sempat beradu pandang selama sepersekian detik, sampai Fang kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

BoboiBoy tersenyum sendu.

"Selamat pagi BoboiBoy!" sapaan Yaya segera menyadarkannya, memaksanya untuk memasang ekspresi cerianya semula.

"Selamat pagi BoboiBoy!" seolah mengulang perkataan sahabatnya, Ying pun ikut menyapanya.

"Selamat pagi Yaya, Ying," balas BoboiBoy sedikit lebih tenang dari kedua gadis itu. Ia lalu melirik pada Gopal yang tengah asyik memainkan PSPnya, seolah dunia hanya miliknya seorang.

Ia pun menuju meja Gopal yang ada di samping mejanya, setelah ia meletakkan tasnya sendiri di atas meja. Ia mencoba melihat ke layar permainan itu, menangkap beberapa adegan pertarungan dua dimensi di sana.

"Kau main apa tuh Gopal?" tanya BoboiBoy penasaran.

"Maruto Ultimate Tinja," Gopal menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. "Terbaik banget!" sambungnya menyempatkan diri untuk melihat wajah lawan bicaranya, sebelum seluruh perhatiannya kembali terpusat pada flatscreen yang dipegangnya.

"Lha? Bukannya kau sukanya Game Papa Zola?"

"Itu 'kan dulu, pas kita SD Boboiboy. Sekarang sudah SMA! Lain jamannya,"

BoboiBoy hanya memutar bola matanya. Dasar tidak setia! Padahal dulu anak gempal itu rela membersihkan seluruh rumahnya biar dikasih izin untuk main game oleh sang ayah—meski hanya satu jam. Lagipula 'mereka' sering melanggarnya, bermain hingga petang. Dan BoboiBoy harus mendoakan Gopal dari amukan Pak Kumar, saat ia sendiri pulang dijemput Ochobot.

Merasa sang sahabat lebih memilih game dibanding dirinya, BoboiBoy memutuskan untuk membiarkan pemuda berkulit gelap itu sendirian. Ia lalu duduk di kursinya sendiri.

Lalu membaliknya ke belakang.

"Selamat pagi Fang," sapa BoboiBoy ramah.

Yang disapa hanya melirik pemuda di depannya sekilas, lalu kembali fokus pada langit yang entah menarik dari sudut mananya itu.

BoboiBoy masih tidak menyerah. Ia lalu makin memajukan kursinya, dan malah meletakkan kedua tangannya di atas meja Fang, kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya. Si pemilik meja mau tak mau harus berhenti menumpukan tubuhnya di meja, lalu menyandarkan punggungnya di kursi guna menambah jarak antara mereka.

"Sudah makan belum?" tanya BoboiBoy entah untuk apa. Ia tidak bisa lagi memikirkan topik yang cocok untuk membuka percakapan.

Fang pun nampak agak heran dengan pertanyaan itu, lalu mendengus. "Memangnya penting?" ketusnya yang hanya disambut dengan gelak tawa dari BoboiBoy.

Anak ini gampang sekali melupakan masalahnya.

Fang terkejut saat merasa kedua kakinya saling mengapit dengan kaki pemuda yang duduk di hadapannya. Ia tak bisa melawan. Meja itu memanglah terlalu kecil untuk menampung dua pasang kaki milik lelaki yang mendekati kedewasaan. Akibatnya, ia hanya diam, membiarkan BoboiBoy melakukan sesuka hatinya.

Ia hanya akan pergi jika pemuda itu berani berbuat macam-macam.

"Pentinglah! Kalau kau tidak makan, 'kan bisa sakit," terang BoboiBoy.

Fang hanya memutar bola matanya, mencoba untuk kembali mengabaikan pemuda di depannya. Ia lalu mengambil buku—entah dari mana, bersikap seolah-olah tengah membacanya. Ia merasa lebih nyaman dengan 'pembatas' itu, meski masih agak risih merasa seperti dipandangi dengan intens.

Nyatanya memang begitu. BoboiBoy terus menatapnya, hingga ia pun gemas sendiri. Menurunkan buku itu dengan paksa, menatap pemuda yang dicintainya dengan lembut.

"Apa?" akhirnya Fang menyerah, mencoba untuk meladeni pemuda di depannya.

BoboiBoy makin mencondongkan wajahnya ke depan, hingga mereka bisa saling merasakan deru nafas masing-masing. "Jawabanmu,"bisiknya sukses membuat jantung lawan bicaranya berdebar keras.

Ah, tidak bisakah dia membaca situasi?

Dan Fang langsung meninggalkan ruangan yang berisi orang-orang yang sepertinya tidak memperhatikan mereka berdua itu.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

Ia benar-benar sudah lelah. Bagaimana rasanya jika kau diikuti terus oleh orang yang menyatakan perasaannya padamu, dan dengan egois mendesakmu untuk menjawabnya segera? Jengkel? Kesal? Ingin menghajar si pelaku hingga babak belur, sehingga ia tak akan menguntit lagi? Sekiranya itulah yang dirasakan Fang.

Harusnya ini tak menjadi lebih buruk lagi, jika saja yang melakukannya itu seorang lelaki yang telah bersamanya selama enam tahun terakhir itu.

Berbagai sumpah serapah telah dilontarkannya untuk mengusir pemuda itu, namun BoboiBoy sepertinya tak menyerah juga, dan malah mengatainya manis saat sedang marah-marah. Fang sendiri juga tidak mengerti, seumur hidupnya ia tak pernah melihat orang yang berwajah manis saat sedang emosi.

BoboiBoy benar-benar aneh.

Lelaki itu type pecinta yang mengerikan. Rela melakukan apapun demi sang pujaan hati—dan Fang mulai takut dengan kenyataan itu.

Setidaknya satu-satunya saat dia bisa terbebas dari BoboiBoy pada jam sekolah yaitu saat kegiatan eskul, dimana BoboiBoy sibuk bermain sepak bola dan dia sibuk bermain basket.

Kini ia tengah merapikan peralatan olahraganya, bersiap untuk pulang dan mengistirahatkan diri, lelah sehabis latihan. Satu persatu orang-orang di ruangan itu mulai meninggalkan ruangan itu, meninggalkannya yang masih berkutat dengan barang-barangnya yang diupayakan agar serapih mungkin.

Fang menarik resleting sportbagnya, menyeka keringat yang sempat menetes di pelipisnya. Dia baru saja hendak bergegas meninggalkan ruangan itu.

"Hai Fang," seseorang tiba-tiba masuk.

Fang nyaris berteriak, namun ia mengupayakan sikap coolnya. "K─Kak Azroy…?" balasnya dengan agak kikuk. Ngomong-ngomong sejak pertandingan terakhir itu Fang memang tak pernah lagi melihat pemuda itu. Lagipula kakak kelas sekarang dilarang mengikuti segala kegiatan ekstrakulikuler, lantaran mereka diwajibkan untuk fokus belajar menjelang ujian.

Pemuda jakung itu tak membalas perkataannya, malahan menatapnya dengan pandangan nanar. Seketika bulu remang Fang langsung menegak bagai tersetrum arus llistik.

Utamanya saat pintu ditutup dengan pelan, lalu dikunci dari dalam.

BAM…

Fang tersentak, tanpa sadar melangkah mundur. Pemuda yang berada dalam satu ruangan dengannya itu pun mulai melangkah maju. Tak ada lagi ekspresi ramah dan bersahabat itu. Hanya wajah datar seperti orang yang terkena hipnotis.

Dan Fang harus menghentikan langkahnya saat dirasanya punggungnya tertahan oleh lemari, ia segera mengutuk lemari yang salah tempat itu, dan saat ia menoleh kembali ke depan, Azroy tiba-tiba ada di depannya.

"Akh!" Fang meringis saat dengan kasar pemuda itu mencengkram kedua pergelangan tangannya ke tembok, membuatnya terkunci.

Seolah déjà vu, Fang mulai ketakutan. Ia pernah mengalami ini, namun yang melakukannya adalah sahabatnya sendiri, BoboiBoy. Cukup berbeda sebenarnya. Saat BoboiBoy dulu, dia merasakan takut bercampur amarah yang seolah akan meledakkan dirinya kapan saja. Namun kini, ia hanya merasa ketakutan yang teramat sangat.

Saking takutnya Fang sampai lupa dengan keberadaan jam kuasa yang melingkar indah di tangannya. Lagipula ia harus melakukan beberapa formasi tangan untuk bisa membentuk wujud bayang, dan saat ini kedua tangannya sudah terkunci.

"Aku mencintaimu Fang,"

Fang ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok. Kenapa dia begitu sial, dicintai oleh dua lelaki yang posesif begini!? Ia hanya ingin hidup normal! Seperti kebanyakan siswa SMA lainnya. Apakah wajahnya se'cantik' itu sampai-sampai dirinya harus mengalami nasib sial seperti ini?

Fang mengalihkan pandangannya ke samping saat Azroy makin mendekatkan wajahnya. Ia merasa jijik. Jijik dengan pemuda tidak waras di depannya ini.

Di sisi lain ia merasa bingung. Saat BoboiBoy yang 'melakukan'nya ia hanya jijik terhadap dirinya sendiri, bukannya BoboiBoy. Namun kali ini pemuda di depannya benar-benar membuatnya mual, membuatnya ingin menendang pemuda itu hingga terpental jauh, sampai muncul lagi di belakangnya setelah melalui seluruh dunia.

Fang telah salah mengambil langkah dengan menolehkan pandangannya. Mata Azroy menyipit tidak senang.

Bercak-bercak kemerahan di area leher mulus Fang seolah mengejeknya.

"Akh!" cengkramannya makin mengerat. Ia menatap lelaki pujaannya dengan amarah yang tak main-main.

"Siapa yang melakukannya?" tanyanya dengan suara dingin yang membuat darah Fang seolah berhenti mengalir.

Yang ditanya hanya diam, memejamkan matanya erat. Sungguh, ia begitu takut. Kepalanya seolah blank tak bisa berpikir dengan baik.

Hanya satu yang di pikirannya saat ini.

BoboiBoy.

"Siapa!?" Azroy mendesak dengan membentaknya. Fang masih diam.

Tiba-tiba dia seolah terhenyak akan sesuatu, lalu kembali menatap Fang dengan tajam. "Apa teman pendekmu yang suka pakai topi itu?" tanyanya tepat di telinga sang tawanan.

Fang tanpa sadar tersentak, membuat Azroy memperoleh jawabannya. Pemuda itu lalu kembali menjauhkan wajahnya, menatap Fang dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Mengumpulkan keberaniannya, Fang balas menatap mata itu dengan kebencian yang tersurat jelas.

"Kupikir kau anak baik-baik. Nampaknya kau tidak lebih dari seorang gigolo," ujar Azroy sinis. "Apa yang anak ingusan itu berikan sampai kau mau-mau saja?"

Fang berdecih. "Setidaknya dia seribu kali lebih baik darimu, Azroy," balas Fang pedas. Ia tahu ini sama saja dengan minginjak ranjau yang sudah jelas terlihat, namun ia sudah tidak peduli. Ia hanya ingin mengutarakan apa yang ada di pikirannya, meski ia tahu hal itu hanya akan memancing emosi pemuda di depannya.

Mata Azroy memicing.

Fang tetap bertahan dengan tatapan tajamnya.

"Akan kubuat dia tak akan sudi untuk menyentuhmu lagi,"

.

.

BoboiBoy setengah berlari memasuki lapangan basket sambil meneteng sportbagnya di bahu. Pemuda itu membetulkan topinya yang agak merosot ke depan, karena langsung melesakkan diri seusai merapikan barang-barangnya.

Ia sengaja meminta Gopal untuk pulang lebih dulu. Saat ini BoboiBoy hanya mau pulang bersama Fang. Yah setidaknya sampai pemuda itu memperoleh jawabannya.

Dilihatnya lapangan basket sudah sangat sepi. BoboiBoy berharap Fang belum pulang. Awalnya ia memutuskan untuk menunggu di luar, namun kemungkinan semua anggota basket sudah pulang, hingga dia akan menunggu sendirian hingga larut malam, membuatnya memutuskan untuk masuk ke ruang ganti, memastikan apakah masih ada orang di sana.

Rasa kecewa menjalari hatinya saat koridor itu nampak sepi, dan pintu ruang ganti sudah tertutup.

"Fang tega sekali," gumamnya dengan sedikit rasa kesal. Namun beberapa saat kemudian dadanya menjadi hangat. Sikap Fang yang menyebalkan itu juga salah satu—dari segala alasan ia menyukai pemuda itu.

Ia hanya meggeleng-geleng pelan, lalu membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu.

"B─BoboiBoy!"

.

.

Fang berupaya memberontak sekuat mungkin saat Azroy tengah mencumbu leher jenjangnya. Kedua tangannya terikat ke atas pada gagang lemari oleh dasi milik seniornya ini. Tubuhnya yang duduk tergulai lemas di lantai, dengan Azroy yang menindih pahanya.

Fang sudah benar-benar kehabisan tenaga. Ia baru saja lelah sehabis latihan, ditambah pemuda yang 10 cm lebih tinggi darinya ini tentu memiliki kekuatan fisik lebih di atasnya. Apalagi fakta bahwa Azroy lebih tua setahun darinya, membuat Fang kalah di bidang kekuatan fisik.

Ia sudah tidak bisa apa-apa lagi. Ia ingin menangis, namun tak sudi menunjukkannya di depan orang yang ia benci.

Fang hanya berharap seseorang akan datang menolongnya, meski itu hanyalah harapan yang tidak mungkin terwujud. Sekolah mungkin sudah kosong. Semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing.

Dalam kondisi menyerah, Fang hanya bisa mengingat pemuda beriris hazel yang tersenyum ramah padanya. Saat pemuda itu menggenggam erat tangannya. Saat pemuda itu menciumnya. Saat pemuda itu…

Menikmati tubuhnya.

Fang benci mengakuinya, namun ia jauh memilih BoboiBoy. Bukan berarti ia mau BoboiBoy melakukan 'hal ini' terhadapnya, tapi sungguh! Ia mengharapkan kehadiran pemuda itu saat ini juga.

"B─BoboiBoy…" Fang tanpa sadar menggumamkan nama itu. Ia merindukan pemuda itu.

Air matanya menetes tanpa bisa ia antisipasi. Hanya setetes, tapi cukup untuk menarik perhatian Azroy.

Pemuda itu lalu menghentikan 'aktifitas'nya, menatap Fang dengan kejam. Ia mencengkram pipi pemuda itu, memaksanya untuk menatapnya.

Iris caramel itu menatap kosong. Seperti sebuah boneka manusia.

"Masih mengingat dia?" ucap Azroy sinis. Ia pun melepaskan cengkramannya dengan kasar, membuat wajah Fang seolah terlempar. Ia menghela nafas. "Setelah ini kau tak akan bisa mengingatnya lagi,"

Setelah mengatakan itu Azroy tiba-tiba mengoyak kemeja Fang, membuat kancing-kancing itu terlepas, berserakan di lantai.

Fang membelalakkan matanya saat merasakan lumatan pada bagian dadanya. Pemuda itu kembali memberontak, namun tubuhnya benar-benar terkunci.

Saat lidah Azroy perlahan menyentuh nipplenya, Fang seolah kehilangan pikiannya.

"B─BoboiBoy!" tanpa sadar meneriakkan nama itu.

Ia benar-benar tidak berkutik. Tenaganya sudah benar-benar habis. Azroy bermain begitu liar di bawah, tanpa sadar membuatnya terangsang. Meski begitu Fang merasa dirinya lelaki paling menjijikkan di dunia. Yang kedua adalah lelaki gila di depannya ini.

"Itu reaksi alami bodoh! Siapapun pasti akan terangsang jika titik sensitifnya disentuh! Tidak peduli siapapun yang melakukannya!"

Senjata makan tuan. Fang seolah termakan oleh omongannya sendiri. Pemuda itu tak berkutik saat tangan Azroy mulai menyentuh bendanya yang mulai menegang.

BAM!

Kedua pemuda itu tersentak saat mendengar pintu yang terkunci itu seolah dipukul dengan keras dari luar.

Saat keduanya menoleh ke sumber suara, terdapat tonjolan pada pintu besi itu.

BAM! BAMM!

Dan tonjolan demi tonjolan muncul dengan keras.

DWAARR!

Tiba-tiba suara ledakan terdengar, bersamaan saat pintu itu terlempar, menancap di dinding, hanya beberapa inci dari kedua pemuda yang terlibat kasus 'pemerkosaan' itu. Fang melirik pintu naas tersebut, tertancaplah sebuah pedang merah berarus listrik.

Iris coklatnya membulat. Ia segera menoleh ke depan, melalui tubuh Azroy yang juga melihat hal yang sama. Lubang pintu tanpa daun pintu itu sendiri. Asap—hasil ledakan tadi perlahan mulai menghilang, menampakkan sesosok manusia di sana.

Fang tak tahu harus bagaimana saat melihat BoboiBoy versi Halilintar berdiri di sana, memegang dua bilah pedang halilintar yang sudah siap menyerang siapapun.

Namun Fang tak bisa selega itu. Utamanya saat melihat iris ruby itu berkilat penuh kemarahan, setelah melihat 'milik'nya tengah dijamah oleh orang lain.

Azroy nampak terkejut dengan kemunculan adik kelasnya itu. Pemuda yang didominasi warna merah-hitam itu seolah akan membunuhnya kapan saja. Tanpa sadar ia mulai bergetar ketakutan.

Sing!

Dan BoboiBoy segera melesat dengan gerakan kilatnya, muncul tepat di depan mereka, menghunuskan pedang listriknya tepat di wajah si pelaku. Azroy menatap pedang itu bagai malihat nyawanya yang sudah setipis benang.

"Menyingkir dari sana," suara terdingin dari BoboiBoy yang pernah didengar Fang. Pemuda itu menatap benda merah yang sama, namun dengan wajah yang masih menunjukkan keterkejutan.

Azroy tak sempat mematuhi perintah sang Lightning, lantaran wajahnya harus berciuman dengan lutut Pahlawan Pulau Rintis itu, membuatnya terlempar hingga mendarat di atas meja.

Fang menganga tak percaya.

Ini pertama kalinya ia melihat BoboiBoy menyakiti orang lain. Pemuda itu menghabiskan masa mudanya untuk menghajar alien, dan yang paling mengejutkan Fang ialah pertama kalinya pula dirinya melihat BoboiBoy sepenuhnya menggunakan kekuatan fisik.

Dan ia tak tahu BoboiBoy sekuat itu.

Syung!

BoboiBoy mengibaskan pedangnya, sedetik kemudian ikatan yang menyiksa Fang pun terlepas. Pemuda itu segera ambruk di lantai seolah rasa lelah langsung saja menyerangnya, melumpuhkan seluruh tubuhnya. Fang terengah-engah dengan tubuh yang bertumpu pada kedua lengan.

Namun BoboiBoy mengabaikannya. Perhatian pemuda itu tertuju pada objek lain di ruangan itu. Ia—dengan langkah pelan—malah maju mendekati Azroy yang masih meringis kesakitan.

BRUAAKK!

Tubuh seniornya itu kembali terlempar, dan kini menabrak tembok. Saking kerasnya pukulan BoboiBoy dinding beton itu sampai retak, terkena momentum oleh tubuh sang atlit basket. Pemuda itu nyaris kehilangan kesadarannya.

Sayangnya BoboiBoy yang seolah kehilangan akal sehatnya masih belum puas, sebelum si brengsek ini benar-benar menemui ajalnya. Ia mengangkat pedangnya. Sepertinya serangan fisik biasa tidak cukup.

Azroy sempat membuka matanya, menatap adik kelasnya itu dengan tatapan memelas.

Yang makin membuat BoboiBoy marah.

"Berani kau—"

Pedang itu pun terhunus—

"Jari bayang!"

BRAKK!

—menghantam tembok hingga retak dan hangus.

BoboiBoy sekilas melihat tangan kanannya yang tercengkram oleh jari bayang versi kecil, lalu menoleh ke belakang, mendapati si pelaku menatapnya dengan marah.

"Kau ingin membunuhnya?!" bentak Fang. Ia harus berupaya menahan kekuatan BoboiBoy karena pemuda itu sepertinya masih belum sadar sepenuhnya. Buktinya BoboiBoy masih menarik tangannya yang terkunci, bersiap menyerang korbannya jika ada celah.

Namun Fang mencengkramnya lebih kuat.

BoboiBoy mendecih. "Setelah apa yang dilakukannya kau masih mau membelanya?" tanyanya dingin. "Kau suka dia ya?"

"Sadarlah BoboiBoy!"

BoboiBoy masih berusaha untuk meloloskan diri, namun Fang juga keras kepala.

Meski begitu Fang juga tidak akan setega itu menyakiti BoboiBoy. Tanpa sadar cengkramannnya melemah saat BoboiBoy meringis. Dan hal itu tak disia-siakan begitu saja.

BoboiBoy langsung melemparkan pedang di tangan kirinya ke arah Fang. Bukan pemuda itu yang diincarnya, meski begitu Fang refleks menghindar, membuat formasi bayangannya hilang beserta jari bayang yang mengikat tangan kanan BoboiBoy.

BoboiBoy dengan sigap kembali fokus pada Azroy dan dengan sekali serangan—

"BoboiBoy!"

Tubuhnya ditahan dari belakang.

BoboiBoy tetap saja memberontak, berupaya melayangkan serangannya.

"Hentikan bodoh!"

"L─Lepass…"

"Kau mau jadi seorang pembunuh hah!? Kau itu pahlawan!" suara Fang meninggi.

"Oh, jadi kau membelanya?" BoboiBoy menghentikan pemberontakannya. Meski begitu Fang nampaknya belum mau melepaskan pegangannya.

Barulah saat BoboiBoy menghilangkan pedangnya, Fang melepaskan pemuda itu, lalu mengambil dua langkah mundur. BoboiBoy membalikan tubuhnya, menunduk, hingga ekspresinya tertutupi oleh topi hitam yang menghadap ke depan itu.

"Kau benar-benar suka dia 'kan?"

Fang terdiam. Ia menatap Azroy yang nampaknya sudah kehilangan kesadaran, lalu mendecak. Meski pemuda itu telah melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan, tetap saja Fang merasa kasihan. Azroy sama dengan BoboiBoy. Mencintai orang yang sama, dengan cara salah yang sama, dan Fang tak bisa menyalahkan mereka.

Tanpa bicara ia pun ikut membalikkan badannya, menuju tasnya yang tergeletak di atas lantai.

Suasana di ruangan itu mendadak hening.

BoboiBoy memperhatikan Fang yang mengubrak-abrik isi tasnya, mengeluarkan sehelai pakaian basket dari sana. Ia pun membuka kemeja putihnya yang tak berkancing itu lagi, mengelap tubuhnya dengan benda itu, lalu memasukkannya ke dalam tas tanpa ia lipat. BoboiBoy agak terkejut melihat punggung pemuda itu dihiasi berbagai jenis bercak kemerahan yang ia ketahui akibat ulahnya sendiri. Wajahnya seketika dihiasi rona kemerahan.

BoboiBoy menghela nafas ringan, mengukir sebuah senyuman tipis. Fang memanglah lelaki yang paling manis yang pernah dikenalnya. Ia pun melangkah maju, menangkap tangan Fang dan terkejut saat merasakan tangan itu gemetar saat mencoba untuk memakai pakaian olahraganya. Akhirnya seragam yang tadi dipakainya berolahraga pun terpasang, menutupi tubuhnya yang mulai ikut gemetaran.

BoboiBoy menatap pemuda yang membelakanginya itu dengan sendu. Ia pun mendekati pemuda itu. ia membungkuk untuk meraih bahu Fang, membalikkan tubuhnya.

Iris hazelnya membelalak.

Fang nampak begitu hancur dengan mata yang berkaca-kaca serta bibir bawah yang digigit keras.

Hati BoboiBoy tiba-tiba terasa perih.

Tanpa pikir panjang ia langsung berlutut, menarik pemuda itu dalam pelukannya, menenggelamkan wajah Fang dalam dadanya yang naik turun menahan sakit.

"F─Fang…" BoboiBoy mulai panik. Ia berupaya menenangkan lelaki yang dicintainya, namun tubuh Fang bergetar hebat. BoboiBoy makin menenggelamkan Fang dalam dadanya, mencengkram surai biru pemuda itu dengan erat.

Fang tidak melawan. Ia malah ikut melingkarkan tangannya pada tubuh BoboiBoy, mencengkram kemeja bagian belakang pemuda itu tak kalah eratnya.

Ketakutan yang sedari tadi ia tahan kini ia tumpahkan, bersamaan saat melelehnya air matanya, membuat pakaian pemuda yang memeluknya itu basah.

"Fang, tenanglah," BoboiBoy tidak tahan dengan rasa sakit ini. Sungguh, ia lebih memilih untuk ditusuk ribuan jarum secara bersamaan dibanding merasakan perih yang teramat sangat, seolah mengoyak dadanya. Ia makin mempererat pelukannya. "Maafkan aku,"

Fang tak menyahut, menangis dalam diam.

"Jangan menangis Fang. Aku janji gak akan hilang kendali begitu lagi. Aku akan mendengarkan semua yang kau bilang,"

Masih tak ada respon.

"Fang!"

BoboiBoy sudah tidak tahan lagi. Hatinya begitu sakit melihat pemuda yang paling dicintainya itu seperti ini. Perlahan, air matanya pun ikut keluar, membasahi rambut Fang yang terduduk memeluknya.

Ia membiarkan Fang menangis—lagi.

"Maaf…" berulang kali BoboiBoy mengucapkan kata itu. "Maaf,"

Tanpa sadar perasaan mereka pun menyatu, bersamaan saat tumpahnya air mata pada petang itu. tubuh keduanya saling memeluk, menyalurkan kehangatan masing-masing.

.

~(^w^~) (~^o^)~

.

"Kenapa kau juga ikut menangis, bodoh?" Fang berujar kesal. Wajahnya merona merah, dan matanya terlihat sembab.

BoboiBoy yang kondisinya tak jauh berbeda dari pemuda itu hanya menyengir. Ia lalu mulai memaku engsel pintu yang telah ia rusak, sementara Fang memegangi pintu itu.

"Habisnya aku tak tahan melihat Fang begitu,"

Fang terdiiam. Wajahnya makin memanas. "Dasar bodoh," ujarnya mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Mereka melanjutkan pekerjaan dalam diam. Tak mau mendapat masalah, setelah membawa Azroy ke rumah sakit, keduanya sepakat untuk memperbaiki kerusakan akibat ulah BoboiBoy sendiri. Ngomong-ngomong dinding yang retak itu juga sudah lebih baik, dengan kekuatan tanah BoboiBoy. Yah, meski tak seperti semula, setidaknya tak separah tadi.

Fang sendiri juga tidak mengerti. Kenapa BoboiBoy bisa sekuat itu. Apakah emosi yang membuatnya seperti itu? Emosi lantaran miliknya dijamah oleh orang lain, membuat pemuda itu keluar dari batas potensi kekuatannya?

Wajah Fang makin menunjukkan rona merah. Ia tak tahu kenapa kehangatan menyelimuti dadanya. Ia melirik BoboiBoy yang tak melihatnya, dan tak bisa menahan senyuman tipisnnya.

Merasa terlalu lama memperhatikan pemuda bertopi itu, Fang pun segera mengalihkan pandangannya kea rah lain.

Keduanya menghela nafas panjang saat masalah pintu itu sudah selesai. Meski sudah penyok begitu tapi setidaknya masih bisa dipakai.

BoboiBoy memasukkan peralatannya kembali ke dalam tas peralatan yang mereka ambil dari gudang sekolah. Ia lalu melirik pada jam kuasanya yang menunjukkan pukul delapan malam.

"Sudah malam begini. Ayo pulang,"

Fang hanya mengangguk, dan mulai melangkahkan kakinya beiringan dengan BoboiBoy. Mereka berlajan dalam keheningan.

Keduanya keluar dari gerbang sekolah setelah mengembalikan tas peralatan itu ke tempatnya semula. Fang masih diam, tak berniat untuk memulai obrolan. Ia melirik sejenak, mendapati BoboiBoy tengah kalut dalam pikirannya sendiri.

Fang mengelus tengkuknya. Ia masih tidak nyaman saat mengingat kejadian menjijikkan tadi. BoboiBoy sudah menyarankan diri untuk 'membersihkannya' dan segera disambut dengan tamparan panas di pipi.

'Dia sama sekali tidak berubah,' Fang menggerutu dalam hati.

"Ng, Fang," panggilan BoboiBoy membuatnya menoleh.

"Hm?"

"Maaf yah,"

Fang sudah berulangkali mendengar perkataan itu keluar dari mulut BoboiBoy hari ini. Ia hanya memutar bola matanya. "Percuma kau minta maaf kalau kau selalu mengulangi kesalahan yang sama,"

"Maaf…"

Fang mendengus. Ia lalu kembali menoleh ke depan. "Tapi…"

BoboiBoy mendongkakkan kepala ke samping untuk menatap lawan bicaranya.

"Tapi aku bersyukur kau datang, terima kasih,"

BoboiBoy langsung merona seketika saat melihat senyuman tulus dari pemuda kurus itu. ia pun ikut mengukir senyum yang lebih lebar, bersamaan saat ia menghela nafas seolah melepas segala kegundahannya.

"Aku yang harusnya berterima kasih,"

"Hah? Untuk apa?" Fang menaikkan sebelah alisnya.

"Untuk semuanya,"

Fang nampak memasang ekspresi bingung, namun melihat BoboiBoy kembali berlajalan menatap ke depan, ia hanya mengangkat bahu. Keduanya berjalan dalam keheningan kala malam terang bulan itu.

Entah sadar atau tidak mereka berjalan beriringan dengan bahu yang menempel. Fang sendiri tidak protes, lagipula ia merasa nyaman dengan itu. Tubuh BoboiBoy terasa hangat—sehangat wajahnya saat memikirkan hal itu.

Ia kembali mencuri pandang pada pengendali elemen itu, mendapati topi orange yang dikenakan terbalik. Sesuatu yang aneh memenuhi rongga dadanya. Jantungnya berdebar keras. Fang sendiri tidak mengerti, ia merasa tidak nyaman dengan perasaan ini, namun ia tidak rela juga untuk melepaskannya.

Pemuda itu mengepalkan tangannya erat. Fang yakin dirinya masih normal.

Sampai kapan ia harus membohongi dirinya sendiri?

"Fang,"

Panggilan BoboiBoy menyadarkannya dari kegundahannya. Pemuda itu nampak berhenti, membuat Fang mau tak mau ikut menghentikan langkahnya.

"Apa?"

BoboiBoy nampak ragu untuk menyampaikan apa yang sedari tadi ia pikirkan. Ia menggaruk-garuk pipi, dan Fang menunggu dengan sabar.

"Pertanyaanku yang kemarin itu… tidak usah kau jawab,"

Iris karamel Fang melebar.

"Aku gak ingin itu jadi beban buatmu," BoboiBoy lalu mengembangkan seulas senyum. Senyum yang dibuat-buat—jika kau memandangnya lekat-lekat.

Fang terdiam.

"Dan soal kejadian beberapa hari yang lalu itu…" BoboiBoy pun berbalik, membelakangi pemuda berkacamata yang menunggu kelanjutan kalimatnya. "Anggap saja tidak pernah terjadi yah…? Maaf atas semuanya,"

"Ke…napa…?"

BoboiBoy cukup terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh lawan bicaranya. Ia hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan canggung. "Yaa, aku cuma ga mau bikin kau gak nyaman,"

Fang diam sejenak, menaikkan kacamatanya, lalu kembali melangkahkan kaki. BoboiBoy yang masih kebingungan hanya ikut, kembali menyusuri jalanan di malam yang tenang. Kali ini mereka terpisah jarak sejauh tiga jengkal.

Di sisi lain Fang sendiri tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Dadanya terasa perih, entah oleh apa. Pemuda itu mengeratkan kepalan tangannya, menahan luka yang seolah tertabur oleh garam itu.

Keduanya terjebak dalam keheningan. Tanpa ia sadari, jalan Fang menjadi melambat membuatnya berjalan semeter di belakang BoboiBoy. BoboiBoy sendiri nampak tak menunjukkan protes, tetap berjalan dalam diam.

Ia tahu yang dikatakannya barusan membuatnya kehilangan harapan atas cinta Fang secara total. Namun bayang-bayang saat lelaki yang dicintainya itu menangis—hancur atas cinta itu sendiri membuat BoboiBoy tak mau berpikir dua kali lagi.

Ia mencintai Fang. Ia ingin lelaki itu bahagia. Biarlah begini. Bermusuhan sekaligus bersahabat. Melawan alien, tumbuh bersama layaknya remaja pada umumnya. Biarlah hubungan mereka tetap seperti ini. Sampai Fang menemukan belahan jiwanya kelak. Hingga mereka harus benar-benar berpisah. BoboiBoy tidak keberatan—ia akan mecoba. Asal Fang bahagia, asal lelaki yang dicintainya bahagia.

BoboiBoy menarik nafas panjang saat merasakan matanya memanas. Tertawa kecil, menertawai dirinya yang masih sangat kekanak-kanakan di usianya yang telah melewati masa pubertas. Ia bersyukur Fang berjalan di belakangnya, hingga pemuda itu tak perlu melihat wajah memalukannya saat ini.

Tidak, sampai ia terpaksa harus berhenti, saat merasakan ujung pakaiannya ditarik pelan dari belakang.

.

.

Tbc/End?

A/N :

Maaf saya harus motong fic ini lagi! Padahal cuma mau bikin epilog, tapi malah kepanjangan~ Lanjutannya akan saya post minggu depan, kalau tidak ada kendala.

Ohya, terima kasih atas para pembaca yang bersedia mengikuti fic ini sampai akhir. Special thanks untuk yang menyempatkan diri untuk mereview chapter kemarin, juga reviewer-reviewer lainnya!

Sekarang, bolehkah saya meminta review untuk chapter ini lagi? Akhir kata, review please~

Sampai jumpa minggu depan~