Fic ini dalam bahasa Inggris sudah sampai chapter belasan. Saya lebih merekomendasikan baca yang versi Inggris karena kata-katanya lebih mengena. Terjemahan saya tidak begitu bagus soalnya karena banyak idiom, kutipan dan lain-lain yang saya tidak tahu kata yang cocok/sesuai dalam bahasa Indonesia.
Disclaimer: Detective Conan and Magic Kaito are owned by Aoyama Gosho. I don't make money from writing this fanfiction. The story contains spoiler for Detective Conan and Magic Kaito. Also there are quotes from manga, anime, wiki and other sources.
Clair de Lune
Chapter III: Winterreise Part II
"Apa kau tersesat?" Kid bertanya dengan bingung. "Di mana orang tuamu?"
Kid benar-benar jago berakting. Conan harus mengakui itu. "Tidak usah berpura-pura seperti itu," jawabnya dengan jengkel.
Kid menatapnya sebelum ia menyeringai. "Sungguh tak terduga bertemu denganmu disini," balas Kid, kembali ke sifat aslinya. "Nah, kenapa kau ada di sini?"
Conan mengangkat bahu. "Aku penasaran." Dia bertanya-tanya tentang itu juga. Apa yang sebenarnya dia lakukan dengan bertatap muka dengan Kid?
"Rasa ingin tahu membunuh si kucing," ujar Kid.
"Aku ini bukan kucing," balas Conan.
"Tidak, tentu saja kau bukan kucing."
Mereka saling menatap dalam diam, masing-masing memberikan tatapan menilai lawan bicaranya.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Ketika Nakamori Aoko kembali dari meja prasmanan, dia menemukan bahwa teman masa kecilnya, Kuroba Kaito, sedang mengobrol riang dengan anak kecil berusia sebelas tahun. Untuk beberapa saat, Aoko hanya bisa menatap Kaito dengan bingung. Dia tidak salah lihat kan? Sejak kapan Kaito mau bergaul dengan anak kecil?
"Hi, Aoko-neesan," anak itu menyapanya. Anak itu tampak familiar. Tapi dimana ia pernah melihatnya?
"Aku Edogawa Conan," anak itu memperkenalkan diri. "Aku menonton pertandingan ski tadi malam. Itu keren sekali, "ujar anak itu.
"Oh terima kasih." Aoko menjawab.
"Conan-kun!" Seorang gadis tak dikenal yang wajahnya mirip dengan Aoko mendekati meja mereka. "Aku mencarimu dari tadi."
"Maafkan aku, Ran-neesan."
"Aku minta maaf," kata gadis itu padanya. "Aku Mouri Ran. Aku minta maaf jika dia mengganggu kalian."
"Oh tidak." Aoko buru-buru mengatakan. "Conan-kun tidak mengganggu kami."
Entah kenapa, wajah gadis ini juga familiar untuk Aoko. Dimana dia pernah melihat gadis ini ya?
Mouri Ran tampak terkejut melihat Kaito.
"Ada apa?" tanya Aoko heran.
Mouri menggeleng. "Tidak. Hanya saja ... dia mengingatkanku pada seseorang."
"Si bodoh ini adalah temanku dari kecil, Kuroba Kaito," Aoko menjelaskan.
"Hei! Aku ini bukan orang bodoh tahu!" Kaito protes, tidak terima dikatai orang bodoh.
"Hanya orang bodoh yang menjadi fans Kaito Kid!" balas Aoko.
"Siapa penggemar Kid-sama?" gadis lain dengan rambut dicat pirang bergabung dengan mereka.
"Aku," jawab Kaito dengan bangga.
"Aku Suzuki Sonoko," gadis itu memperkenalkan dirinya. "Kid-sama adalah idolaku!" ujarnya dengan bangga.
Astaga! Kenapa Aoko harus bertemu dengan orang lain yang mengidolakan pencuri bodoh itu? Sungguh menyebalkan sekali. Apa sih bagusnya Kid itu? Kid itu cuma pencuri kurang kerjaan yang selalu menyusahkan ayah Aoko.
"Jadi, kau penggemar KID-sama juga?" tanya Suzuki.
"Tentu saja! Aku ini seorang pesulap jadi aku mengidolakan Kid. Tapi tentu saja aku lebih hebat darinya!" ujar Kaito angkuh.
Urgh! Sombong sekali! Kaito begitu menjengkelkan!
"Apa?"
"Siapa yang pesulap?" Empat anak dan satu orang tua bergabung dengan mereka.
"Kaito adalah seorang pesulap," dia memberitahu anak-anak.
"Ini teman-temanku," kata Conan. "Genta, Mitsuhiko, Ayumi dan Haibara."
"Aku Nakamori Aoko," ujar Aoko. "Senang bertemu dengan kalian semua." Lalu ia teringat sesuatu. "Kau anak Kogoro Mouri, kan?"
"Iya," kata Mouri, menatapnya bingung.
"Inspektur Nakamori adalah ayahku," jelas Aoko.
"Oh. Benarkah?"
"Wah, kami bertemu ayahmu beberapa kali lho," kata Suzuki dengan penuh semangat.
Aoko ingat sekarang. Suzuki Sonoko, salah satu ahli waris dari Suzuki Corporation. Dia juga keponakan orang kaya kurang kerjaan yang ingin menangkap Kid . Tapi sampai sekarang belum berhasil. Orang kaya memang aneh. Apa mereka tidak bisa memiliki hobi yang lebih normal apa?
"Dan kau pasti Kid Killer." Aoko tersenyum. "Aku pernah membaca berita tentangmu di Koran."
Conan tersipu malu.
Aw. Anak itu kelihatan lucu.
Kaito di sisi lain tampak sangat kesal. "Dia bukan Kid Killer!" protesnya gusar. Tentu saja Kaito akan membela pencuri sialan itu.
Ayumi menatap Kaito. "Hei, kau kan orang yang berpakaian seperti Kid kemarin!"
"Iya!" Kata Genta.
"Kaito Kid dan istrinya," Haibara menambahkan.
Suzuki menatap Kaito. "Apakah kau benar-benar seorang pesulap?" tanyanya.
"Tentu saja!"
"Benar?" tanya Mitsuhiko.
"Ayo main sulap!" pinta Genta.
"Ayolah!" Ayumi ikutan memohon.
Kaito bangkit dari kursinya. "Nah, karena kalian semua sudah meminta maka silakan nikmati pertunjukan sulap dariku." Dia mengedipkan mata dan mengeluarkan dua mawar merah entah dari mana. "Mawar merah untuk gadis cantik." Kaito mengatakan, memberikan mawar untuk Mouri dan Suzuki.
"Oh, terima kasih," kata Suzuki dengan wajah memerah.
"Terima kasih," kata Mouri.
"Dan cokelat untuk anak-anak."
"Asik!" ujar Genta dengan mata berbinar begitu melihat coklat.
"Wow!" ucap Ayumi.
"Keren!" kata Mitsuhiko.
Ternyata Suzuki, Mouri, Profesor Agasa dan anak-anak sedang menikmati libur musim dingin. Suzuki dan Mouri adalah siswa SMA Teitan dan anak-anak adalah siswa SD Teitan di Tokyo. Sungguh kebetulan sekali mereka bertemu disini.
"Di mana Mouri-san?" Aoko bertanya.
Suzuki mencibir. "Tuh di sana."
Mouri Ran mendesah kesal.
Mouri Senior rupanya sibuk menggoda para penggemarnya yang wanita.
Aoko menatap anak-anak. Mereka mengunyah cokelat mereka dengan senang hati. Terkecuali untuk Haibara, yang hanya memasukkan cokelat itu ke dalam saku bajunya. Aoko jadi heran. Itu kan permen cokelat dari meja prasmanan. Kapan Kaito mengambil coklat tersebut?
Kemudian ia sadar bahwa Kaito melupakan seseorang. Conan belum mendapatkan coklatnya. Jangan sampai anak itu ngambek karena tidak kebagian. Anak-anak sensitif sekali kalau soal makanan apalagi kalau coklat.
Baru saja Aoko ingin protes, Suzuki sudah bicara duluan.
"Kami mau bermain ski. Apa kalian mau ikutan?" tanya gadis itu.
"Ah, aku tidak pandai bermain ski."
"Tidak apa-apa," Suzuki melambaikan tangannya acuh.
"Kami bisa mengajarimu." Mouri Ran menambahkan.
"Sungguh?" Tanya Aoko senang. Kaito selama ini menolak mengajarinya main ski karena dia tidak sabaran.
"Ya. Tenang saja."
"Terima kasih," katanya gembira. Kaito hanya bisa menggerutu ketika ia jatuh pas bermain ski kemarin. Ternyata karyawisata SMA Ekoda ini bagus juga. Aoko tidak menduga bahwa ia akan mendapatkan teman baru.
"Tapi kita kan belum sarapan," Kaito mengeluh. "Aku lapar nih."
"Dasar Kaito bodoh!" gumam Aoko kesal.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Setelah sarapan, mereka pergi ke lereng ski. Aoko memperkenalkan teman barunya kepada Keiko dan dalam waktu sekejab mereka menjadi akrab dan sibuk bertukar cerita dan bergosip. Panggilan Mouri berubah menjadi Ran-san dan Suzuki berubah menjadi Sonoko-san.
Profesor Agasa dan anak-anak sudah siap dengan peralatan ski mereka juga. Namun Conan malah membawa papan seluncur ski.
"Aku suka bermain seluncur ski," kata Conan.
"Ayo," kata Kaito dan ia menyeret anak itu pergi untuk naik lift ke puncak gunung.
"Kaito!" teriaknya cemas. "Tolong hati-hati!" Aoko tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu. Apa Kaito baik-baik saja pergi main ski berdua dengan Conan? Ada apa dengan Kaito sih sehingga sikapnya jadi aneh begitu.
"Jangan khawatir!" Kaito berteriak kembali.
"Apakah mereka akan baik-baik saja?" tanyanya cemas.
"Tidak apa-apa," kata Genta dengan santai. "Conan itu jago sekali lho."
"Iya," Ayumi mengangguk membenarkan.
"Conan itu adalah pemain ski terbaik dari kita semua," kata Mitsuhiko. "Dia bahkan lebih jago dari Ran-neesan dan Sonoko-neesan."
"Apa itu benar?" dia bertanya.
Anak-anak mengangguk.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Mereka berada di lift sekarang. Hanya ada mereka berdua di lift itu karena hari masih pagi.
"Mawar biru," kata Kid tiba-tiba. "Untuk kritikus favoritku."
Nyali Kid besar sekali. Conan merengut. "Untuk apa kau memberikan ini padaku?" Tapi dia mengambil mawar dan boneka beruang mini yang disodorkan Kid dan memasukkannya kedalam saku bajunya. Masa bodoh mawarnya akan tergencet. Siapa suruh Kid memberinya mawar. Pencuri itu benar-benar menjengkelkan. "Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan bertemu denganmu di sini," katanya tiba-tiba.
"Kebetulan sekali, eh."
"Putri Inspektur Nakamori," kata Conan geli. "Aku ingin tahu berapa banyak informasi yang berhasil kau peroleh dari Inspektur Nakamori selama ini tanpa ia sadari."
"Terlalu banyak," jawab Kid santai.
Mereka tiba di puncak lereng ski.
"Balapan ke bawah?" Kid menantangnya.
Conan menyipitkan matanya. Lalu ia menarik kerah jaket Kid dan menariknya ke bawah sehingga mereka berhadapan. Dia menempelkan bibirnya secara singkat sebelum mendorong Kid sampai jatuh diatas tumpukan salju.
"Sampai jumpa," katanya sambil menyeringai dan kemudian meluncur turun.
Meskipun Conan mencuri start, Kid hanya tertinggal beberapa detik darinya.
"Curang," Kid berbisik di telinganya begitu ia mendapat kesempatan untuk melakukannya.
Conan menyeringai. "Kau jago juga bermain ski," ia berkomentar. "Kaito Kid dan istrinya."
Kid menaikkan sebelah alisnya. "Kau cemburu?"
"Apa aku seharusnya cemburu?"
"Tentu tidak, Sayang."
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
"Di mana Conan?" Tanya Ayumi bingung. Dia jarang melihat temannya selama liburan. Conan hanya muncul selama sarapan, makan siang dan makan malam. Setelah itu dia menghilang entah kemana.
"Aku melihat dia dengan Kuroba-niisan," Mitsuhiko berkata.
"Mereka jadi akrab ya?" Sonoko berkomentar.
"Yah, Conan kan sedikit dewasa untuk anak seusianya," kata Ran. "Dia akrab sekali dengan Hattori kan."
"Kau benar juga," balas Sonoko. Menurut Sonoko sih, Conan itu sok tahu untuk anak sebayanya. Tapi mungkin pertemanan di antara pria itu beda dengan pertemanan di antara wanita. Buktinya, detektif SMA dari Osaka itu dekat sekali dengan Conan.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Malam ini adalah malam terakhir mereka di Yuzawa resort. Akan ada pertunjukan kembang api dan Conan akan menontonnya bersama dengan Kid. Ternyata dia dan Kid nyambung sekali kalau berbicara. Sebenarnya Conan tidak terlalu heran. Boleh dibilang tingkat inteligensi mereka kan sama. Conan tidak bertanya tentang motif Kid untuk mencuri dan Kid tidak bertanya tentang bagaimana ia berakhir sebagai anak berusia sebelas tahun. Beberapa hal lebih baik dibiarkan saja untuk saat ini.
Dia berpikir tentang orang-orang yang tahu tentang identitas aslinya. Ada orang tuanya, Profesor Agasa, Haibara dan Hattori. Orang tuanya sangat mendukung. Profesor Agasa sangat membantu dan Haibara telah menjadi temannya. Hattori yang adalah sahabat baiknya juga memperlakukannya seperti orang dewasa.
Tapi Kid itu berbeda...
"Kenapa?" tanyanya tiba-tiba.
"Orang berkemampuan rata-rata tidak tahu apa-apa yang lebih tinggi daripada dirinya. Tapi, orang berbakat selalu bisa menyadari suatu kegeniusan."
Conan mengangkat alisnya. "Sejak kapan kau mengutip Sherlock Holmes?" Tapi ada kebenaran dalam kata-kata Kaito. Jarang sekali ada orang yang bisa menyamai daya pikir Conan. Kid mungkin merasakan hal yang sama.
"Hal-hal yang kita tolerir untuk orang yang kita sukai," jawab Kid. Pencuri itu melepas kacamatanya dan mulai memeriksanya. "Sangat mengesankan," ujarnya. "Mirip seperti di film James Bond."
Ia mengembalikan kacamata tersebut.
Conan mengambilnya dan meletakkannya di meja sebelahnya.
Kid menatapnya dengan serius. "Kau tidak terlihat berbeda tanpa kacamata," katanya.
"Orang-orang melihat tetapi mereka tidak mengamati," jawab Conan, lagi-lagi mengutip Sherlock.
"Tidak ada yang lebih menipu dari fakta yang jelas." Kid membalas. Topi dan lensa yang dikenakan Kid tidak benar-benar menyembunyikan wajahnya. Siapa pun yang mengamatinya dari dekat pasti akan mengenali wajahnya.
Conan merenung sejenak. "Aku terkejut bahwa kau kelihatannya menerima ini semua tanpa beban."
Kid mendengus. "Aku tidak pernah menginginkan ini. Seharusnya aku tidak mengirimkan pesan padamu. Tapi aku tidak pernah bisa menolak tantangan."
"Kau benar-benar pacar yang tidak pernah ingin kutemui." Kid pernah mengatakan kalimat itu sebelumnya, tapi baru sekarang Conan mengerti artinya.
"Tapi sudah terlambat sekarang."
"Benar." Conan menyetujui. Pada dasarnya, dia dan Kid mirip sekali. Seharusnya, dia dan Kid tidak pernah memulai hubungan yang aneh ini. Sekarang, semuanya sudah terlambat.
"Kid..."
"Kau seharusnya memanggilku Kaito," katanya.
"Kaito…" Mereka sangat dekat sekarang.
Kaito tersenyum dan menutup jarak di antara mereka.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
"Di mana Conan?"
"Acara kembang api akan segera dimulai!"
"Dia mau nonton tidak sih?"
"Conan-kun mengatakan bahwa dia akan menonton dari hotel." Haibara Ai berkata.
"Tapi-"
"Tidak apa-apa." Kata Ai. "Sekarang ayo, kita tidak ingin ketinggalan menonton kembang api kan."
Ai tahu pasti bahwa Kudo pasti sedang bersama dengan Kaitou Kid. Kudo berutang padanya kali ini.
Ketika mereka kembali ke kamar mereka setelah pertunjukan berakhir, Kudo tidak terlihat. Detektif itu baru muncul sejam jam kemudian.
"Apa?" Kudo bertanya membela diri ketika ia melihatnya.
"Oh, tidak." Dia menjawab dengan seringai kecil.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Akhirnya, tiba waktu untuk meninggalkan resor ski Yuzawa. Semua barang sudah dikemas dan koper sudah ditaruh dalam bagasi mobil.
Ran dan Sonoko saling berpamitan dengan Aoko.
"Sudah siap?"
"Sudah!" jawab anak-anak serempak.
"Ayo kita jalan!" seru Profesor Agasa.
"Ada banyak tontonan menarik belakangan ini," Haibara bergumam dengan penuh kepuasan.
"Sudah sekali menyimpan rahasia disini." Conan menggerutu. Untungnya, dia tidak akan berada di mobil yang sama dengan Haibara selama perjalanan pulang.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Mengabaikan Haibara, ia melihat pesan baru yang masuk.
AL: Aku akan merindukanmu, Sayang.
Tersenyum, ia mengetik balasan untuk Kaito.
SH: Aku juga.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Mouri Kogoro menyalakan radio selama perjalanan pulang. Berita politik yang membosankan dan kemudian sesuatu menarik perhatian Conan.
"Miyama Kirika, pemilik biola Stradivarius ditemukan meninggal di kediamannya pagi ini. Kematiannya disebabkan oleh usia tua. Miyama menjadi terkenal di seluruh Jepang karena keterlibatannya dalam kasus pencurian Kaito Kid beberapa minggu yang lalu. Miyama meninggalkan biola Stradivarius senilai 1.2 miliar yen. Menurut wasiatnya, biola tersebut diwariskan kepada orang yang telah berjasa membantunya. "
Author's Note:
Thanks for reading everyone and please review.
