Disclaimer: Detective Conan and Magic Kaito are owned by Aoyama Gosho. I don't make money from writing this fanfiction. The story contains spoiler for Detective Conan and Magic Kaito. Also there are quotes from manga, anime, wiki and other sources. The case is taken from Criminal Minds season 3.
Clair de Lune
Chapter IV: Lieder Ohne Worte Part I
AL: Aku bosan.
AL: Aku bosan.
AL: Aku bosan.
SH: Memangnya apa yang harus kulakukan?
AL: Apa saja. Aku bosan nih.
SH: Ini adalah jam sekolah! Perhatikan gurumu saja!
AL: Aku sudah tahu semua yang diajarkan. Aku bisa lulus dari SMA kapan pun aku mau.
SH: Percaya diri sekali.
AL: Tentu saja. Aku ini kan jenius.
SH: Genius itu satu persen bakat dan sembilan puluh sembilan persen keja keras.
AL: Siapa pun yang mengatakan itu belum pernah bertemu denganku.
SH: Kesombonganmu pasti membuat kepalamu bengkak sampai tidak muat di pintu.
Edogawa Conan menekan tombol kirim dan kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Jangan sampai ia tertangkap basah main ponsel di kelas. Kaito itu parah sekali. Entah apa yang dia pikirkan. Meskipun itu benar bahwa Kaito itu jenius dan bias masuk kuliah kapan pun saja, tidak berarti kalau dia harus bermain-main di kelas sepanjang hari. Setidaknya Kaito masih di SMA, Conan malah terjebak menjadi siswa SD.
Sudah seminggu sejak liburan musim dingin di Yuzawa resor ski. Dia dan Kaito masih saling mengirim pesan setiap hari. Malah makin sering dari sebelumnya. Menyenangkan memiliki teman untuk bertukar pikiran yang juga tahu kondisi Conan yang sesungguhnya.
Bel berbunyi menandakan akhir sekolah. Besok adalah hari Sabtu dan hari Seninnya adalah hari Coming of Age yang merupakan hari libur nasional di Jepang bagi orang-orang yang mencapai usia dua puluh tahun. Usia dimana seseorang dianggap dewasa. Jadi itu berarti tiga hari liburan. Lumayan juga.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
"Conan-kun! Sarapan sudah siap! "Ran memanggilnya.
"Ya, Ran-neechan!" teriaknya kembali.
Conan pergi untuk bergabung Ran dan ayahnya di ruang tamu. Ada Sonoko juga. Apa yang Sonoko lakukan disini pagi-pagi begini?
"Kapan mereka datang?" tanya Sonoko.
"Jam sepuluh nanti,"jJawab Ran.
"Siapa yang datang, Ran-neechan?" tanyanya.
"Aoko-chan dan Kuroba-kun," jawab Ran. "Aoko-chan mengirim sms kemarin." Ran menambahan. "Dia bilang mereka mau ke Beika jalan-jalan. Jadi kuajak saja mereka kesini."
Kaito tidak mengatakan apapun tentang ini sama sekali dalam pesan-pesannya. Conan menggerutu dalam hati. Awas saja nanti.
"Aku mengajak Sera untuk ikutan," kata Sonoko. "Tapi dia bilang kalau dia lagi sibuk."
Sayang sekali. Mungkin Sera bisa menendang Kaito lagi. Kaito sangat layak mendapatkan tendangan maut dari Sera.
Pada waktu yang dijanjikan, Nakamori Aoko dan Kuroba Kaito tiba di kantor detektif Mouri.
"Masuklah," kata Ran sambil tersenyum.
Ran, Sonoko dan Aoko sangat bersemangat membicarakan mau kemana saja dan meninggalkan Conan sendirian dengan Kaito.
"Kenapa kau tidak bilang kalau mau datang?" tanyanya dengan galak.
"Kejutan," jawab Kaito sambil menyeringai.
"Hmph."
Sebuah mawar biru tiba-tiba mengaburkan pandangannya.
"Untuk kritikus favoritku," kata Kaito, mengedipkan mata ke arahnya.
Ia mengambil mawar tersebut dan pergi untuk mencari vas atau gelas untuk menaruh bunga itu. Karena Kaito sudah bersusah payah membuat mawar biru dengan merendam mawar putih dalam larutan pewarna biru, akhirnya dia terima juga bunganya.
"Kita bisa pergi berbelanja di Beika Department Store," saran Sonoko.
"Dan kemudian kita bisa pergi ke karaoke," tambah Aoko.
"Baiklah," kata Sonoko antusias.
Conan mengerang dalam hati.
Kaito yang melihat ekspresinya dengan cepat menawarkan untuk menjaganya sementara Ran, Sonoko dan Aoko pergi shopping. Untungnya, Ran, Sonoko dan Aoko akhirnya setuju dengan ide Kaito.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya setelah mereka tiba di department store. Gadis-gadis sudah menghilang entah kemana.
"Apakah itu caramu untuk berbicara dengan penyelamat hidupmu?" balas Kaito.
Conan menaikkan satu alisnya. "Penyelamat hidupku?"
"Aku menyelamatkanmu dari cengkeraman gadis-gadis itu!" klaim Kaito.
Conan cuma menatap Kaito dengan datar. Apa tidak terlalu berlebihan? Kaito suka sekali mendramatisir semua hal.
"Apakah kau tahu apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan pergi melihat-lihat barang yang mereka anggap lucu dari satu toko ke toko lain selama berjam-jam!"Kaito bergidik membayangkan diseret dari satu toko ke toko lainnya. Tidak hanya itu, ia harus membawakan tas belanja mereka juga. "Dan kita cuma bisa mengikuti dengan pasrah! Apa kau mau itu terjadi apa?" tuntut Kaito, berakting histeris sekarang.
"Aku akan pergi," ucap Conan sebal.
"Hey! Ayo kita main ke game centre!" ajak Kaito dengan penuh semangat. Dia lupa dengan ratapannya barusan dalam sekejap.
Beika Department Store memiliki game center untuk anak-anak dan remaja sementara orang tua mereka sibuk dengan belanjaan mereka.
"Ayo kita main yang ini!" Kaito benar-benar bersemangat sekarang. Dia menyeret Conan dari satu mesin game ke mesin game lainnya. Sebagian besar, dia yang bermain dan Conan hanya menonton. Kaito mengatakan bahwa hal itu tidak adil sehingga ia setuju untuk mencoba beberapa game.
Mereka sedang bermain game menembak sekarang.
"Perfect Score!" Begitu tulisan di layar mesin game setelah Conan menembak semua sasaran dengan tepat dengan controller berbentuk pistol yang terhubungan dengan mesin tersebut. Jadi mereka seperti menembak betulan.
"Kau benar-benar jago menembak," komentar Kaito.
"Ayah sering mengajakku ke lapangan tembak," jawab Conan dan berbalik untuk melihat Kaito. "Aku dulu pernah menembakmu. Dua kali. "Yah, dia tidak benar-benar menembak Kid sebenarnya. Shinichi waktu itu menembak kain yang digunakan oleh Kid untuk mengkamuflase jam di Menara Jam Ekoda.
"Kau menembakku?" tanya Kaito bingung. "Kapan?"
"Di menara jam Ekoda." Conan menjelaskan. "Aku tidak tahu kalau itu kau sih waktu itu."
"Ah, rupanya itu kau ya," Kaito menghela napas. "Aku sempat bertanya-tanya siapa yang mengarahkan Inspektur Nakamori. Kenapa dia mendadak jadi pintar?"
Conan menyeringai.
"Kau itu menyusahkanku saja." Gerutu Kaito.
Seringai Conan melebar. "Tapi kau itu seorang pencuri yang mulia," katanya, separuh menyindir Kaito, "mencoba menyelamatkan menara jam Ekoda dari pemiliknya yang serakah."
"Dan bagaimana denganmu?" balas Kaito sigap. "Menembak warga yang tak bersalah. Ck ...ck... ck ..."
"Jika kau melihat warga yang tak bersalah itu tolong tunjukkan padaku."
"Dari mana kau punya senjata api sih?" tanya Kaito penasaran. Memiliki senapan api di Jepang meskipun bisa dilakukan tapi luar biasa sulit. Banyak sekali dokumen yang harus dilengkapi.
"Aku meminjamnya dari Inspektur Megure." Dia menjawab, mengangkat bahu. Sebenarnya sih, dia diam-diam mengambilnya dari Inspektur Megure.
Kaito mengangkat alisnya. "Wah, wah." Remaja telah menangkap makna di balik kata-katanya."Kau benar-benar sadis." Kaito bergumam. Dia terdengar sangat geli. "Meitantei ternyata tidak sepolos penampilannya dari luar."
Conan menatapnya dengan sebal. Apa maksud Kaito barusan, huh?
Ponsel Kaito berdering. "Halo, Aoko," katanya. "Ah, kita ada di game centre sekarang." Diam untuk sejenak. "Ok. Sampai jumpa."
"Apa mereka sudah selesai dengan acara belanja mereka?" tanya Conan.
"Ya," jawab Kaito. "Mereka mengajak kita makan siang sekarang."
Ran, Sonoko dan Aoko telah menunggu mereka di Olive Tree, sebuah restoran yang menyajikan makanan Italia yang terletak di dalam department store Beika.
Sonoko melambaikan tangan pada mereka. "Ayo sini!" serunya.
Dia dan Kaito duduk di seberang Ran, Sonoko dan Aoko.
"Aku yang traktir hari ini!" kata Sonoko. "Pesan saja yang kalian suka."
Aoko mulai protes karena merasa tidak enak hati tapi Sonoko mengabaikannya. "Sudah, pesan saja."
Conan menatap kantong plastik belanjaan mereka. Dilihat dari mereknya, kebanyakaan tas plastik itu punya Sonoko yang tidak mengherankan soalnya uang jajan Sonoko banyak karena dia dari keluarga kaya
"Apakah Anda siap untuk memesan?" tanya pelayan.
"Bruschetta dan fried calamari untuk hidangan pembuka," kata Sonoko. "Makanannya rice with chicken masala dan minumannya lemon tea."
"Aku mau spaghetti Bolognese," ujar Conan, "dan orange juice."
"Grilled chicken panino dan lemon tea," kata Kaito.
"Lasagna dan orange juice." Kata Aoko.
"Fettuccine alfredo dan lemon tea," kata Ran.
Pelayan menuliskan pesanan mereka dan berkata. "Baiklah, mohon menunggu sepuluh menit." Dia meninggalkan meja mereka.
Aoko berpaling ke Kaito. "Jadi, apa kalian lakukan tadi?" tanyanya.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Setelah makan siang, mereka pergi ke karaoke. Semua orang mendapat giliran mereka, termasuk Conan. Dia tetap menolak untuk menyanyi meskipun dipaksa.
"Sekarang giliranmu, Conan-kun," kata Aoko setelah ia selesai dengan bernyanyi.
"Aku tidak mau," katanya.
"Kenapa?" tanya Aoko, mengerutkan kening.
Sonoko mulai terkikik geli.
Ran tersenyum.
"Dia payah sekali pas menyanyi," kata Sonoko akhirnya.
Dia merengut padanya. "Apa aku benar-benar harus menyanyi?" tanyanya dengan suara anak kecil yang menyedihkan. Dengan berakting seperti itu, Conan berharap dia tidak usah bernyanyi sama sekali.
"Ayolah. Semua juga menyanyi kok. Dan aku yakin suaramu tidak jelek," Aoko membujuk.
"Suaranya tidak jelek tapi sangat jelek," kata Sonoko, tertawa-tawa.
"Sebenarnya suara Conan-kun tidak jelek," ujar Ran. "Tapi dia itu buta nada."
"Kita belum pernah mendengarmu menyanyi." Kaito menambahkan, sambil menyeringai padanya.
Conan memelototinya. Dia tahu kalau Kaito itu sengaja berkata begitu.
Aoko memberinya mikrofon.
Conan akhirnya mengalah. "Baiklah," katanya.
"Oh, ini akan lucu sekali." Sonoko bergumam jahil.
Dia memilih lagu terpendek ia tahu dan mulai menyanyi.
"Ini lebih buruk daripada yang kukira," Aoko bergumam dan kemudian dia menyadari apa yang baru saja mengatakan. "Maaf Conan-kun. Aku, eh, yakin kalau kau sering latihan pasti kau bisa menyanyi dengan lebih baik. "Dia berkata dengan nada menyesal.
"Aku sangat meragukan itu," katanya datar.
"Sekarang giliranku!"kata Sonoko.
"Suaramu menyanyi benar-benar mengerikan," Kaito berkomentar dalam suara rendah sehingga hanya Conan yang mendengarnya.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Hari sudah gelap ketika mereka keluar dari tempat karaoke.
"Kami pulang dulu," kata Aoko. "Hari ini sangat menyenangkan."
"Ya," Sonoko setuju, tersenyum gembira.
"Sampai jumpa lagi."
"Sampai jumpa."
"Hati-hati dijalan ya."
Setelah Aoko dan Kaito, Sonoko juga mengucapkan selamat tinggal.
Conan menghela napas. Hari ini adalah hari yang melelahkan.
"Aku mengantuk," gumamnya.
"Aku akan menyiapkan makan malam dan kemudian kau bisa pergi tidur, Conan-kun," kata Ran.
Conan tersenyum kecil. Ia sangat berterima kasih pada Ran yang benar-benar memperlakukannya seperti seorang adik.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Sepulangnya ke kantor detektif Mouri, seperti yang dijanjikan Ran memasak makan malam. Lalu mereka menikmati makan malam sambil menonton berita di televisi.
"Polisi Patroli menemukan sebuah kuburan massal di Aokigahara dengan tiga mayat. Waktu kematian diperkirakan sekitar enam bulan yang lalu. Mereka juga menemukan mayat lain di dekat kuburan masal tersebut. Penyebab kematian bervariasi, dimulai dari pembakaran hidup-hidup hingga sesak napas," ucap pembawa berita di TV.
"Ini pasti bunuh diri," Kogoro bergumam.
Meskipun sangat tragis, perjanjian bunuh diri antara dua atau lebih orang untuk melakukan bunuh diri bersama bukanlah hal yang baru di Jepang. Jepang juga masuk dalam kelompok negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Perjanjian bunuh diri beramai-ramai seperti itu mungkin menarik bagi mereka takut untuk mati sendirian.
Aokigahara adalah hutan yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Fuji, membentang dari kota Kawaguchiko hingga desa Narizawa, Prefektur Yamanashi. Aokigahara disebut juga hutan lautan pohon dan lautan pohon gunung Fuji. Disebut demikian karena jika angin meniup pepohonan di sana terlihat seperti keadaan ombak di laut. Usia hutan ini diperkirakan sekitar 1200 tahun. Hutan ini dikenal sebagai tempat bunuh diri populer di Jepang. Tempat itu telah lama dikaitkan dengan kematian dan konon dihantui dihantui oleh roh-roh penasaran dari mereka yang bunuh diri disana. Katanya, roh orang-orang yang mati di sana akan bergentayangan di Aokigahara selamanya.
"Aokigahara benar-benar tempat yang menakutkan," kata Ran, bergidik ketakutan.
Ya ampun. Ran itu kan jagoan karate. Kenapa sih dia selalu takut akan hal-hal supranatural seperti hantu.
"Aku sudah selesai," katanya.
"Pergilah beristirahat, Conan-kun," Ran mengatakan kepadanya lembut.
Dia kembali ke kamarnya dan ganti baju tidur. Conan tertidur segera setelah ia berbaring di tempat tidur. Jalan-jalan seharian membuatnya capek.
XXXXXXXXXXXXXXXX
Jam alarm membangunkannya esok pagi. Mengantuk, ia mematikan alarm. Hmmm... masih pagi, mungkin dia bisa tidur lagi. Lalu ia melirik telepon dan melihat ada tiga panggilan masuk tak terjawab serta pesan baru dari Jodie-sensei. Apa yang sedang terjadi? Apakah Jodie-sensei memiliki informasi baru tentang organisasi Hitam?
Dia membaca pesan itu. 'Cool Kid. Did you watch the news? I'm afraid that we have a serial killer on the loose."
Author's Note:
Hi! Thanks for reading everyone and please review even though it's only a short one.
Songs without Words ( Lieder ohne Worte) is a series of short lyrical piano pieces by the Romantic composer Felix Mendelssohn , written between 1829 and 1845.
Sherlock Holmes embarked on some of Mendelssohn's Songs without Words for Watson's listening pleasure in A Study in Scarlet.
The Tokyo metropolitan government administers the 23 Special Wards of Tokyo (each governed as an individual city), which cover the area that was formerly the City of Tokyo before it merged and became the subsequent metropolitan prefecture in 1943. Aoyama Gosho added three fictional wards: Beika, Haido and Ekoda.
Kasus di chapter depan diambil dari Criminal Minds season 3 karena saya suka nonton drama itu.
