Kasus pembunuhan di chapter ini diambil dari Criminal Minds. Masih banyak chapter yang harus diterjemahkan ^ ^;;; Heist Kid di chapter depan plus heist note nya adalah karangan saya sendiri. Valentine untuk Kaito dan Shinichi lalu White Day di chapter selanjutnya lagi.

Disclaimer: Detective Conan and Magic Kaito are owned by Aoyama Gosho. I don't make money from writing this fanfiction. The story contains spoiler for Detective Conan and Magic Kaito. Also there are quotes from manga, anime, wiki and other sources. The case in this chapter is taken from Criminal Minds season 3. I don't own Criminal Minds.

Clair de Lune

Chapter V: Lieder Ohne Worte Part II

"Halo, Jodie-sensei?"

"Halo, Cool Kid." Jawab Jodie Starling. "Kau tidak mengangkat telepon kemarin."

"Aku pergi dengan Ran-neechan dan yang lainnya," jelasnya. "Lalu ketiduran setelah pulang ke rumah. Jadi, ada apa dengan kasus pembunuhan ini? "

Jodie memberinya ringkasan kasus. "Dua korban yang tewas adalah warga negara Amerika Serikat," tambahnya.

Oh. Pantas saja FBI terlibat dengan kasus ini.

"Apakah sudah ditemukan hubungan antara mereka?" Ia bertanya.

"Sejauh ini belum," jawab Jodie. "Kami akan menyelidiki tempat korban hari ini. Apakah kau mau ikut dengan kami? "

"Tentu," jawab Conan. "Aku akan menunggu di Taman Beika jam sepuluh nanti."

Hmm ... Dia tidak bisa hilang sepanjang hari atau Ran akan curiga. Dia akan bilang ke Ran kalau dia mau ke tempat Profesor Agasa. Ok, jadi sekarang menghubungi Profesor Agasa dulu untuk memberitahunya…

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Queen of Hearts, salah satu berlian paling langka di dunia, telah terjual senilai 25 juta pundsterling di balai lelang Sotheby di London. Setelah perang harga, berlian merah tujuh karat tersebut dibeli oleh Alice Mueller, putri Friedrich Mueller, seorang industrialis Jerman, dengan istri Jepang-nya. Sebelumnya, berlian merah terbesar di dunia adalah Moussaeiff Red Diamond 5.11 karat yang saat ini dimiliki oleh Moussaieff Jewellers Ltd," pembaca berita di TV mengabarkan.

"Kaitou Kid pasti senang sekali kalau bisa mencuri berlian ini," komentar Kogorou Mouri.

"Ya," Ran menyetujui pendapat ayahnya. "Untungnya, berliannya sekarang ada di Jerman."

"Aku heran kenapa orang tua gila itu tidak membeli ini," lanjut Kogorou.

"Otousan!" Ran protes. Tidak usah mengatai-ngatai paman Sonoko seperti itu. Meskipun Ran sebenarnya sepakat bahwa Suzuki Jirokichi terlalu ekstrim tentang obsesinya dengan Kaitou Kid. Sebenarnya, bukan tentang Kaitou Kid sih tapi obsesinya muncul di halaman pertama koran.

"Selamat pagi." Conan muncul di ruang tamu.

"Selamat pagi, Conan-kun," Ran menjawab. "Sarapan sudah siap."

Conan kelihatan senang begitu melihat nasi, sup miso, telur dadar dan salmon panggang. Karena hari ini adalah hari Minggu, Ran memutuskan untuk memasak sarapan tradisional Jepang.

"Mari makan."

Mereka pun memulai makan pagi.

"Ran-neechan."

"Iya?"

"Bolehkan aku pergi ke tempat Profesor Agasa hari ini?" tanya Conan. "Aku akan kembali sebelum makan malam."

"Baiklah," jawabnya.

Conan tersenyum senang padanya.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Conan tiba di Taman Beika pada waktu yang dijanjikan. Di mana Jodie-sensei? Ah, itu dia dengan Andre Camel.

"Siapa mereka?" tanya suara familiar.

Dia berbalik dengan kaget. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku datang untuk menemuimu. Meskipun aku mengharapkan sambutan yang lebih hangat dari ini," balas Kaito tanpa dosa.

Ia menghela napas. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dia tidak bisa meminta Kaito untuk pergi. Bagaimana pun Kaito sudah datang jauh-jauh dari Ekoda untuk menemuinya. "Mereka agen FBI," ia menjawab.

Kaito mengangkat alisnya. "Agen FBI?"

"Kau menonton berita tadi malam, kan?" Ia bertanya. "Semua korban itu dibunuh oleh pembunuh berantai. Dan dua korban adalah warga negara Amerika Serikat. Jadi FBI ikut terlibat dalam kasus ini sekarang."

"Mereka kenalanmu?"

"Iya."

"Wah, koneksimu lumayan juga," komentar Kaito.

"Cool Kid!" Jodie memanggilnya.

Dia melambaikan tangannya.

"Cool Kid?" tanya Kaito heran.

"Jodie-sensei suka memanggilku begitu," jelasnya.

Kaito menatapnya dengan pandangan menilai. "Ya, aku bisa mengerti kenapa dia memanggilmu itu."

"Jodie-sensei, Camel-san," katanya. "Ini adalah Kuroba Kaito."

"Senang bertemu Anda," kata Kaito sopan.

"Ini adalah Jodie Starling dan Andre Camel." Conan memperkenalkan mereka. "Mereka agen FBI."

"Apa kau detektif SMA juga?" tanya Jodie ingin tahu.

"Dia calon detektif," jawabnya sambil nyengir. Karena ia memiliki banyak teman detektif yang masih SMA, tidak mengherankan bahwa Jodie berpikir kalau Kaito adalah detektif SMA juga.

"Aku seorang pesulap," Kaito buru-buru meralat pernyataan Conan barusan. Dia mengeluarkan setangkai mawar merah entah dari mana dan memberikannya kepada Jodie. "Mawar merah untuk wanita cantik," katanya, sambil membungkuk.

"Terima kasih," jawab Jodie. Wajahnya merona merah.

Conan memutar matanya. "Di mana James-san?" tanyanya.

"Dia ada di kantor," jawab Jodie. FBI memiliki kantor di seluruh dunia. Kantor-kantor ini, yang disebut atase hukum atau legats, terletak di kedutaan besar Amerika Serikat.

"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya.

"Ayo kita pergi ke kedai kopi," saran Jodie. "Kita bisa bicara di sana."

Mereka pergi ke kedai kopi dan duduk di sudut.

"Apa pesanan Anda?" tanya pelayan begitu mereka duduk.

"Es krim cokelat,"ujat Kaito gembira.

Conan menatapnya. Es krim cokelat di musim dingin? Kaito benar-benar parah.

"Kopi hitam," ujar Conan.

"Teh. English breakfast," jawab Jodie.

"Kopi," kata Camel.

"Baik. Pesanan akan segera siap. "Pelayan tersenyum pada mereka dan pergi.

Mereka menunggu sampai pelayan kembali dengan pesanan mereka sebelum mereka mulai dengan kasus ini.

"Seperti yang kalian tahu, polisi patroli menemukan sebuah kuburan massal dengan tiga mayat, yang diperkirakan meninggal enam bulan yang lalu. Mereka juga menemukan mayat lain di dekatnya. Penyebab kisaran kematian dari dibakar hidup-hidup hingga sesak napas," kata Jodie. Dia menaruh folder tebal di atas meja.

Conan mengambil folder dan membukanya. "Korban tampaknya disiksa dulu sebelum dibunuh." ia berkomentar.

Kaito melihat foto-foto itu juga.

"Para korban adalah Rick Holland, Sarah Wyatt, Yamada Ken dan Tsukino Maya." Jodie menunjuk setiap gambar. "Korban terbaru adalah Tsukino Maya yang meninggal akibat kehabisan oksigen. Dia tidak dikubur seperti korban lainnya."

"Berapa lama dia hilang sebelum mayatnya ditemukan?" Conan bertanya.

"Dia tidak pernah dilaporkan hilang," jawab Jodie.

"Bagaimana dengan yang lainnya?"

"Hanya satu."

"Salah satu dari empat?" Conan mengangkat alisnya. Aneh sekali. Bagaimana dengan keluarga korban dan kenalan mereka. Masa tidak ada yang curiga kalau korban sudah lama menghilang?

"Orang tua Rick Holland tewas dalam kebakaran rumah tahun lalu. Dia tidak punya keluarga yang tersisa. "Jelas Jodie. "Yamada Ken dilaporkan hilang sembilan bulan yang lalu, tapi pencarian dibatalkan. Mereka menerima e-mail dari dia yang mengatakan bahwa dia perlu waktu untuk menenangkan diri setelah dipecat dari pekerjaannya."

"Pembunuh itu menyamar sebagai korbannya." Camel menambahkan. "Dia juga memanipulasi keluarga korban sehingga keluarga korban berpikir bahwa semuanya baik-baik saja. Email palsu dari korban Sarah Wyatt bahkan menyatakan kalau ia tengah berlibur di Bali untuk beberapa minggu. Keluarganya baru menghubungi pihak berwenang di Bali setelah dua bulan berlalu tanpa kabar berita."

"Jadi itu sebabnya tidak ada yang curiga meskipun korban menghilang untuk waktu yang lama."Conan menganalisa.

"Pembunuh itu menutupi jejaknya," ujar Kaito. "Tapi ini aneh sekali, untuk bisa mengirim email ia perlu tahu informasi pribadi tentang korbannya. Kalau tidak, mana mungkin ia bisa mengirim email tersebut? Kan perlu password."

Analisa Kaito itu benar.

"Tampilan namanya sama, tapi domainnya berbeda. Keluarga dan teman yang menerima email tersebut tidak menyadarinya," jelas Camel.

"Pelakunya cukup pintar untuk menutupi jejaknya." Jodie mengeluh. "Hal ini sangat berbahaya karena bisa saja ada korban berikutnya."

"Satu korban perempuan dan dua korban laki-laki ditemukan terkubur bersama di kuburan yang sama. Usianya berkisar antara 25 tahun sampai 30 tahun. Semua meninggal enam bulan yang lalu? Kedengarannya seperti tiga MO yang berbeda."

Modus operandi adalah frase Latin, yang digunakan untuk menggambarkan kebiasaan seseorang, khususnya dalam konteks investigasi. Kata itu sering digunakan dalam pekerjaan polisi ketika membahas kejahatan dan mengatasi metode yang digunakan oleh para pelaku.

"Bagaimana dengan kuburan baru?" tanya Conan.

"Namanya Tsukino Maya. Perempuan, berusia 28, meninggal kira-kira 48 jam yang lalu akibat sesak napas."

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Setelah berdiskusi, mereka memutuskan untuk pergi ke apartemen Rick Holland dan Tsukino Maya hari ini. Rick Holland tinggal di sebuah apartemen yang bagus dengan dapur modern yang canggih.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Kaito.

"Ada sesuatu yang aneh di dapur ini," jawabnya. Tapi apa itu? Dia melihat sekelilingnya."Tidak ada kompor," serunya. Rick Holland memiliki peralatan dapur terbaru namun ia tidak memiliki kompor.

Kaito mengangkat alisnya.

Jodie dan Camel bergabung dengan mereka di dapur.

"Kami tidak menemukan apa-apa." Kata Jodie.

"Jodie-sensei, bagaimana Holland mampu membayar sewa apartemen ini?" tanya Conan. Holland bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Gajinya tidak mungkin cukup untuk membayar sewa apartemen sebagus ini.

"Warisan. Ketika orangtuanya meninggal, mereka mewariskan banyak uang." Jelas Jodie. "Mereka juga memiliki perusahaan sendiri. Holland menjual perusahaan itu senilai beberapa juta dolar dan pindah ke Jepang untuk memulai hidup baru. "

"Apakah kau menemukan sesuatu?" Tanya Camel.

Conan menggeleng.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Berikutnya, Mmreka pergi ke apartemen Tsukino Maya flat. Tidak seperti tempat Holland, apartemen yang satu ini sudah tua.

" Tsukino tinggal di lantai empat." Jodie memberitahu.

Conan menatap lift dengan cemas. Liftnya jelek sekali. Dia meragukan liftnya berfungsi.

"Aku akan naik tangga saja," katanya.

"Eh, tunggu." Jodie disebut.

"Tidak apa-apa Jodie-sensei," jawab Conan. Dia dan Kaito berjalan menuju pintu keluar darurat. "Maaf," katanya setelah mereka sendirian. "Kita malah jadi menginvestigasi kasus pembunuhan."

Kaito mengangkat bahu. "Tidak apa-apa," katanya. "Lagipula aku penasaran. Aku mau melihat aksimu sebagai detektif."

Mereka telah tiba di lantai empat. Kaito membuka pintu untuknya.

"Conan-kun!"

Dia terkejut melihat Takagi Wataru dan Miwako Sato ada disana ditambah seorang wanita tak dikenal.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Miwako. "Dan siapa dia? Detektif SMA lagi?"

"Conan-kun punya banyak teman detektif," komentar Takagi.

Kaito tampak geli bahwa semua orang berpikir bahwa ia adalah seorang detektif. Kalau saja mereka tahu.

"Dia temanku," jawab Conan. "Kuroba-niisan, ini petugas Takagi Wataru dan Sato Miwako."

"Kuroba Kaito, siap melayani Anda." Kata Kaito.

Conan melirik wanita tak dikenal disamping Miwako.

"Dia adalah tetangga Tsukino." Kata Takagi.

"Aku Matsumoto Rei." Wanita itu memperkenalkan dirinya.

Lift terbuka dan Jodie serta Camel melangkah keluar. Wajah keduanya pucat pasi.

"Apa kalian baik-baik saja?" tanyanya, mengerutkan kening.

"Ya," jawab Jodie.

"Tadi liftnya sempat terhenti ditengah-tengah. Aku pikir kami akan terjebak di dalam lift," Camel menjelaskan.

"Kami naik tangga." Miwako memberitahu mereka. Dia tampak senang bahwa dia membuat keputusan yang tepat.

"Kami mau melihat apartemen Tsukino." Kata Jodie-sensei.

Mereka memasuki kamar Tsukino. Apartemenya kecil sekali dengan satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Ruang tamu dan dapur digabungkan. Takagi dan Miwako memeriksa ruang tamu sementara Conan diikuti Jodie dan Camel memilih memeriksa kamar tidur. Tidak ada yang aneh ataupun hal mencurigakan.

"Apakah ada sesuatu yang menurut Anda aneh dari Tsukino?" Tanya Miwako pada tetangga mendiang Tsukino.

"Ia selalu naik tangga."

"Aku sih tidak heran." Jodie bergumam.

Camel mengangguk setuju.

"Aku pernah bertanya sekali. Katanya dia tidak suka ruang sempit seperti lift begitu." Matsumoto menambahkan.

"Kami sudah berbicara dengan keluarga Tsukino," kata Takagi. "Mereka mengatakan bahwa dia ingin membangun karir di Tokyo."

Conan berpikir keras. "Para korban memiliki latar belakang yang berbeda baik sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan bidang pekerjaan. Tapi mereka semua pindah ke Tokyo tanpa keluarga atau teman. Itulah kesamaan drai semua korban, "katanya lantang.

"Mereka sasaran empuk. Dan dengan email palsu, si pembunuh pasti mengira kalau ia tidak akan ketahuan."ujar Kaito.

"Ada ratusan ribu orang yang sesuai dengan kriteria itu di Tokyo," kata Miwako cemas.

"Kita harus memperingatkan masyarakat." gumam Jodie.

"Baiklah. Kita harus bicara dengan Inspektur Megure dulu," kata Takagi.

"Tolong bilang ke Inspektur Megure untuk memeriksa tempat korban sebelumnya dikuburkan." Tambah Conan. Dengan kecepatan pembunuh berantai ini beraksi, ia menduga bahwa ada lebih banyak korban di luar sana. Dengan memilih Aokigahara sebagai tempat pembuangan nya, korban bisa dikira bunuh diri.

"Kau pikir ada lebih banyak korban di luar sana."

"Benar."

Takagi dan Miwako bertukar pandang. "Kami akan memberitahu Inspektur Megure."

"Kami akan ikut," kata Jodie. Dia berbalik ke Conan. "Bagaimana dengan kalian?"

"Bisakah tolong antarkan kami kembali ke Beika Park?" Tanyanya.

"Tentu." Jawab Jodie.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Aku harus kembali sebelum makan malam." Dia memberitahu Kaito.

"Ayo kita pergi ke karaoke dulu." ajak Kaito.

Mereka memilih sebuah karaoke keluarga tak tak jauh letaknya dari Taman Beika. Di ruangan karaoke, mereka bisa bebas bicara. Mereka juga bisa memesan makanan dan minuman.

Kaito mengunci pintu ruang karaoke setelah pelayan mengantarkan makanan dan minuman. "Kau masih memikirkan kasus ini." Kata Kaito.

"Ah, maaf." Kata Dia.

"Dasar detektif ..." gerutu Kaito.

"Aku tidak mau menyanyi," jelasnya.

"Jangan khawatir," balas Kaito. "Aku juga tidak mau mendengar suaramu kok."

Dia memberi Kaito tatapan dingin.

Kaito menyeringai.

Mereka hanya mengobrol sampai keasikan. Waktu berlalu dengan ia melihat jam tangannya lagi, hampir jam lima sore.

"Aku harus pulang sekarang," katanya.

Kaito menemaninya sampai jarak yang aman. Kaito juga sengaja mengenakan topi bisbol hitam untuk menyembunyikan wajahnya.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Jodie Starling memanggilnya keesokan harinya karena mereka menemukan korban baru."Abarai Seiji, 28 dan baru tiba di Tokyo," katanya tanpa basa-basi.

"Dimana alamat Abarai?" Tanyanya. Pembunuhnya berani sekali. Dia memiliki keberanian untuk membunuh lagi bahkan ketika pasukan polisi berusaha menangkapnya.

"Aku akan kirim lewat SMS." Kata Jodie.

"Sampai ketemu disana."

"Baik."

Conan mengarang alasan pada Ran bahwa dia ingin pergi ke tempat Profesor Agasa lagi karena ia belum selesai bermain game.

"Baiklah," kata Ran. "Tapi hati-hati, oke."

"Oke, Ran-neechan." Dia menjawab.

Conan sudah berita di telah menemukan delapan korban baru sehingga membuat jumlah korban meningkat menjadi dua belas. Mereka harus menghentikan pembunuh itu sekarang sebelum ia menemukan korban baru.

Conan tidak terkejut sama sekali ketika ia menemukan bahwa Kaito telah menunggunya.

"Kau tidak akan berhenti sampai kau memecahkan kasus ini. Dan aku sudah menonton berita tadi pagi, "kata Kaito. "Jadi, kemana kita akan pergi?"

"Apartemen Abarai Seiji." Dia menjawab. "Ada korban baru. Dia ditemukan tewas tenggelam di Kolam Renang Mirai."

"Tapi dia tidak dikuburkan seperti korban lainnya."

"Polisi menemukan tempat dimana pelaku membuang korbannya," katanya.

"Ah, itu berarti dia tidak bisa kembali kesana."

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Mereka tiba lebih cepat dari Jodie dan Camel sehingga mereka menunggu di lobi. Daripada duduk diam, Conan memilih untuk membaca pengumuman yang ditempel di papan untuk menghabiskan waktu.

"Maaf kami terlambat!" Kata Jodie.

"Macet," Camel menjelaskan. Karena itu adalah hari libur nasional, jalan-jalan yang lebih ramai dari biasanya.

"Cool Kid?" Jodie menatapnya penuh tanya.

"Pelaku menggunakan ini untuk mencari mangsa!" ujarnya.

"Apa?" Jodie dan Camel bertanya dengan serempak.

"BergabungIah dalam proyek proyek penelitian terkontrol dan Anda akan menerima 10.000 yen untuk menghilangkan rasa cemas dan takut Anda."

Dia menunjuk ke kertas yang tertempel di papan pengumuman. "Korban tewas karena api, sesak napas dan tenggelam."

Mereka menatapnya dengan bingung. "Maksudmu?"

"Mengapa pelaku membunuh begitu banyak korban dengan cara yang berbeda? Para korban memiliki fobia dan mereka dibunuh oleh ketakutan mereka. "

"Fobia?"

"Fobia adalah kategori gangguan mental yang ditandai dengan perasaan cemas dan takut." Kaito menjelaskan. "Biasanya didefinisikan sebagai rasa takut terus-menerus dari suatu obyek atau situasi di mana penderita berkomitmen untuk berusaha keras dalam menghindari hal yang ditakuti."

"Rick Holland tidak memiliki kompor di flatnya. Dia takut api sejak orang tuanya meninggal dalam kebakaran rumah. "Dia menjelaskan. "Dia tewas dibakar hidup-hidup oleh si pembunuh."

"Tsukino tidak suka ruangan sempoit seperti lift." Tambah Camel.

"Kita harus memeriksa papan buletin di apartemen korban lainnya."

Jodie mengambil gambar dari brosur dan mengirimkannya ke ponsel Takagi dan Miwako. Dia juga menelepon mereka untuk menyampaikan hal ini sementara Camel pergi untuk memanggil James Black untuk menyelidiki alamat situs yang tercantum di brosur.

"Aku sudah memberitahu Kepolisian Tokyo," kata Jodie saat dia bergabung dengan mereka."Tentang brosur ini dan situsnya."

Kaito juga sudah membuka halaman situs yang dimaksud. "Dr. Kitajima Akira. Pasti nama palsu, "Kaito bergumam.

Bagi yang tidak tahu, situs Kitajima Institute ini pasti dikira situs asli karena ditulis dengan baik. Plus banyak link ke beragam situs terkenal mengenai ilmu kejiwaan.

"Katanya di sini dia terkenal dalam menyembuhkan fobia."

"Ada kuesioner onlinenya juga." Kata Kaito, membuka link. "Jadi calon korban tinggal mengisi kuesioner ini dan pelakunya tinggal memilih korban yang cocok."

"Luar biasa." Jodie bergumam dambil menggelengkan kepala tanda tak percaya. "Para korban menjawab kuesioner yang menyebabkan kematian mereka sendiri."

Telepon Camel berdering. "James-san. pelakunya sudah ketemu?"

Mereka menatapnya.

"Baiklah." Dia mematikan telepon. "Situs ini dimiliki oleh Dr. Sawatari Akira, seorang psikiater. Kami melacaknya melalui internet. "Jelas Camel.

"Ayo! Kita harus cepat!"

Mereka berlari ke mobil. Jodie menyalakan mesin dan mereka menuju kantor Sawatari.

"Praktek Dr. Sawatari ditutup tahun lalu." Jelas Camel. "Dia merujuk pasiennya ke dokter lain begitu saja."

"Waktu ketika ia mulai melakukan pembunuhan." Kata Conan. "Camel-san."

"Ya?"

"Tolong panggil pemadam kebakaran," katanya.

"Kau berpikir bahwa pelakunya akan bunuh diri," kata Kaito.

Dia mengangguk.

Camel melakukan seperti yang dipinta.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Mereka akhirnya tiba di gedung tempat Dr. Sawatari berpraktek. Mobil polisi sudah mengepung tempat itu.

"Lihat!" Camel menunjuk keatap gedung.

Mereka mendongak.

"Dia akan melompat!"

Sawatari melompat tapi ia jatuh di kasur tiup yang telah dipasang oleh pemadam kebakaran. "TIIIIIIIDAK!" Sawatari menjerit ketika ia menyadari bahwa rencananya bunuh diri digagalkan.

Mereka menyaksikan dia dibawa pergi oleh polisi.

"Kenapa kau menyelamatkannya?" tanya Kaito.

"Seorang detektif yang menggunakan kemampuan deduksi untuk menyudutkan tersangka dan kemudian tidak melakukan apapun untuk menghentikan tersangka tersebut bunuh diri tidak lebih baik dari seorang pembunuh." dia menjawab.

Kaito berbalik menatapnya dengan mata penuh perhitungan tetapi remaja itu tidak mengatakan apapun.

Inspektur Megure, Takagi dan Miwako berjalan keluar dari gedung. Mereka diikuti oleh petugas polisi lainnya. Selain mereka, ada seorang wanita muda yang tengah menangis ketakutan.

"Tidak apa-apa. Anda akan baik-baik saja. "

"Kami di sini untuk membantu Anda." Kata Miwako dengan suara menenangkan. "Jangan khawatir. Kau akan baik-baik saja."

Miwako menemani wanita itu ke dalam ambulans.

"Calon korban selanjutnya," Jodie bergumam.

"Kita berhasil menyelamatkannya tepat waktu."

"Terima kasih atas bantuanmu, Cool Kid."

Inspektur Megure mendekati mereka. "Conan-kun, tampaknya kau berhasil memecahkan kasus lain," katanya.

"Aku hanya membantu Jodie-sensei, Camel-san, Takagi-san dan Miwako-san," Conan berkata dengan nada suara anak kecil.

Inspektur Megure mengangguk padanya dan berbalik untuk pergi.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Kaito terdiam selama perjalanan mereka ke Beika Park. Conan bahkan beberapa kali menangkap basah Kaito menatapnya dengan ekspresi aneh. Dia jadi bingung. Ada apa sebenarnya dengan Kaito?

Jodie mengantar mereka sampai di taman. Bye, Jodie-sensei."

Dia berbalik untuk melihat Kaito. "Apakah kau baik-baik saja?" Akhirnya dia bertanya karena penasaran.

"Ya," jawab Kaito dengan pandangan menerawang. "Kau berhasil menolong orang hari ini. Kalau pelakunya tidak tertangkap, entah berapa banyak lagi korban yang akan jatuh."

Conan jadi salah tingkah mendengarnya. Ia tidak tahu harus bicara apa.

"Aku selalu bilang bahwa detektif itu tidak lebih dari seorang kritikus. Kurasa menjadi detektif sebenarnya tidak terlalu buruk."

"Kau aneh sekali," katanya akhirnya.

"Tapi kau suka kan padaku," ujar Kaito sambil menyeringai kecil. "Aku harus pergi sekarang." Kaito lalu membungkuk untuk mencium keningnya.

"Kaito!" Dia mendesis. Mereka kan berada di tempat umum sekarang. Bagaimana kalau ada yang melihat?

"Sampai ketemu, Meitantei."

Author's Note:

The case is taken from Criminal Minds season 3 episod 3 which I tweaked a bit.

Please review everyone.