Gadis pencuri
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Typo, hancur, dan segalanya yang buruk
Rated: T
AU/OOC *maybe*
Chapter 2
Tenten berlari kesudut gang yang hanya muat di lewati satu orang. Matanya yang melebar dalam kegelapan sedikit mengecil ketika melihat sosok yang ia cari berdiri di ujung gang. Hanya sebuah bola lampu berwarna kuning yang menerangi jalan itu.
"Kun!" Seru Tenten setelah bocah itu berbalik.
"Bagaimana Tenten Neechan?"
"Aku berhasil! Lihat, aku mendapatkan dompet yang sangat tebal." Seru Tenten mengayunkan dompet hitam kehadapan Kun.
"Aku tidak mendapatkan apapun. Kau benar, terlalu banyak aparat berjaga di sana. Dan aku juga takut melakukannya." Lirih Kun menunduk.
Tenten tersenyum teduh menatap Kun yang tidak berani mendongak. Tangan kanannya meraih dagu Kun lalu menatap lurus ke iris lavender bocah di hadapannya.
"Tidak apa-apa. Sangat wajar jika kau takut. Tenanglah, aku tidak akan marah padamu."
"Terimakasih Tenten Neechan." Lirih Kun.
Gadis itu segera mengambil barang jarahannya dari saku belakangnya dan membuka lipatan dompet tersebut. Awalnya Tenten tertawa melihat dompet tebal tersebut. Namun tawanya berganti muka masam setelah mendapati hanya kartu-kartu di dalamnya. Satu-satunya yang menarik perhatian Tenten hanyalah dua lembar uang ratusan di sana.
"Kenapa Tenten-chan?"
"Apa ini?! Hanya ada dua lembar uang di dalam dompet setebal ini?" Sebelah alis Tenten mengangkat heran. "Selain itu isinya hanyalah kartu nama, kartu pengenal, dan juga atm. Aku tidak membutuhkan semua ini." Imbuhnya menghela lalu memasukkan semua kartu-kartu tersebut dan membuang dompetnya kebelakang.
"Memang seperti itulah kami mengisi dompet kami. Bukan hanya untuk meringankan beban kami, tapi juga untuk melindungi hasil jeripayah kami dari orang sepertimu."
Suara bariton dari belakang mengejutkan kedua manusia tersebut. Tenten yang menghadap ke tembok segera berbalik. Ia mendelik dompet yang ia lempar jatuh tepat di bawah kaki pria yang baru saja bersuara tersebut.
"K-kau? S-siapa kau?" Tanya Tenten gemetaran.
"Baru beberapa menit yang lalu kau mengucapkan kata 'Maaf' padaku dan kau sudah melupakanku?"
Tenten terpaku pada posisinya. Wajah pria itu tidak terlihat karena tempat pria itu berdiri di tempat minim cahaya lampu.
"Nee-chan..." Lirih Kun bersembunyi di balik tubuh Tenten.
"Tenang Kun, kita akan baik-baik saja."
Pria itu membungkuk sesaat guna mengambil dompetnya lalu perlahan maju dan sedikit demi sedikit memperlihatkan wajahnya. Tenten masih tidak merasa aneh melihat pria ini. Sampai pada akhirnya, wajah pria berperawakan tinggi tersebut tampak sepenuhnya.
Rambut cokelat panjang yang terurai kebawah dan sedikit di kuncir di bagian ujungnya, kemeja putih serta celana hitam yang membalutnya sama sekali tidak menarik perhatiannya. Fokus perhatian iris hazel itu terpaku pada mata lavender yang sama sekali tidak asing baginya.
Tidak jauh berbeda dengan Tenten, Neji juga merasakan hal yang sama. Iris lavendernya menatap lurus kearah manik hazel yang tak jauh darinya. Percaya tidak percaya, mata hazel berkilau itu baru saja ia lihat beberapa menit yang lalu di tempat yang lain. Tepatnya di sebuah bola mata anak kecil perempuan yang mengenakan kimono merah.
"Neji-Niisan..."
Suara kecil yang tiba-tiba muncul menyadarkan keduanya.
"Apa Niisan baik-baik saja?" Tanya Tenichi menggelayut tangan kanan Neji.
Keterkejutan Tenten memuncak melihat gadis kecil yang baru saja datang. Gadis yang tadinya berdiri jatuh duduk tanpa melepas matanya dari bocah perempuan tersebut dengan wajah tak percaya. Tak lama setelah Tenten jatuh, mata Neji menangkap seorang bocah kecil yang berdiri di belakang Tenten. Bocah itu menatap dirinya polos. Sedangkan Neji hanya bungkam tak tau harus berkata apa.
"Kau sangat mirip denganku. Bagaimana mungkin?" Tenten meraih kedua bahu Tenichi.
Bocah perempuan itu masih tidak bergeming. Kedua mata hazel saling tatap tanpa ada suara setelah Tenten melontarkan pertanyaan.
"Bagaimana dengan dia? Siapa dia?" Giliran Neji buka suara melihat Kun yang masih terdiam.
Kun berjalan menghampiri Tenichi yang berdiri di sebelah Neji. Tangan Kun meraih Tenichi. Reflek Neji menarik Tenichi kebelakang. Kedua bocah itu menatap Neji heran. Begitu juga Tenten yang seraya mendongak melihat adegan kecil tersebut.
"Dia saudaraku." Kata Kun lirih.
"Tenichi?" Neji beralih menatap Tenichi.
"Kun adalah kakakku." Jawab Tenichi melepas tanganya pada Neji dan menghampiri Kun yang berdiri tak jauh darinya.
"Apa mereka berdua adikmu?" Tanya Neji pada Tenten.
Gadis itu mendongak melongo menatap Neji dengan wajah datarnya.
"Bukan. Aku..."
"Itu bocahnya! Tangkap dia!" Suara segerombolan orang merusak acara pertemuan kecil tersebut. Kun yang mengenal suara itu segera berlindung di balik tubuh Tenten dengan membawa serta Tenichi bersamanya.
"S-siapa mereka? Kenapa mereka berteriak seperti itu?" Tanya Tenten panik.
"Sebenarnya aku tadi ketahuan saat akan mengambil dompet seorang wanita tua. Tapi aku sedikit beruntung karena aku berhasil lari dari mereka. Tidak kusangka mereka menemukanku." Jawab Kun cepat.
"Kuunn!" Tenten sedikit geram pada bocah itu.
"Sekarang mana yang lebih penting? Mendengarkan ocehanmu pada bocah itu, atau lari dari sini?" Sela Neji cepat.
"Kau benar." Gadis itu mengernyit.
Neji segera memberikan sedikit pelajaran pada tiga aparat yang menghampirinya. Ketika mereka lengah, tangan Neji dengan cepat menyambar tubuh Tenichi dan meletakkannya di belakang pungunggnya.
"Berpeganglah dengan erat." Kata Neji sesaat di ikuti anggukan dari bocah itu.
Setelahnya, kedua tangan Neji meraih tangan Kun dan juga Tenten lalu menarik keduanya lari sebelum aparat-aparat itu berdiri.
"Hei!" Teriak Tenten terkejut saat Neji menarik tangannya kasar dan menggeretnya lari.
Rencana Neji untuk menyenangkan Tenichi dengan mengajak bocah kecil itu duduk di kursi paling depan saat festival lampion berlangsung berganti menjadi adegan action dengan dirinya sebagai seorang pemeran utama setelah menghajar para aparat yang seolah adalah kumpulan mafia lalu menyelamatkan anak dan istrinya dari cengkraman mafia-mafia tersebut. Tentu saja semua itu bukan keinginan Neji. Jika saja gadis itu tidak mengambil dompetnya, Neji yakin saat ini dirinya dan Tenichi sudah bersenang-senang dengan beberapa cemilan dan juga segelas milk shake di tangan mereka.
Tangan Neji terlepas dari Tenten ketika ia merogoh kunci mobilnya dan mematikan alarm mobil sedam hitam tersebut.
Pria itu membuka pintu belakangnya kemudian mendorong masuk kedua bocah tersebut ke mobil. Kini hanya tinggal Tenten yang ngos-ngosan di belakang Neji.
"Cepat masuk!" Katanya yang lebih terdengar seperti perintah.
"Untuk apa?" Tanya Tenten spontan.
"Banyak hal yang harus kutanyakan padamu, Wanita!" Tatap Neji tajam.
Melihat death glear Hyuuga itu, membuat Tenten seketika merinding dan segera masuk ke kursi samping kemudi. Pria itu segera memacu mobilnya begitu para aparat sudah berlari mendekat kearahnya.
"Terimakasih banyak. Berkat dirimu, mungkin setelah ini aku akan terlibat masalah hukum karena menghajar aparat yang sama sekali tidak bersalah."
"Bukan salahku. Ini semua kecelakaan. Lagipula tidak ada yang menyuruhmu menghajar mereka." Gadis itu mengelak.
"Itu semua kulakukan agar mereka tidak mengenali wajahku dan Tenichi. Aku tidak mau terlibat masalah karenamu."
"Sayangnya semuanya sudah tau Hyuuga." Sela Tenten cepat.
"Darimana kau tau namaku?"
"Semua kartu-kartu yang membuat dompetmu tebal itu yang membuatku tau siapa dirimu. Hyuuga Neji. Pengusaha muda sukses, jenius, displin, sangat beribawa dan juga dermawan. Tapi sayangnya, menurut kabar yang kudengar, kau masih sendiri. Kata mereka, kau terlalu mematri kriteria gadismu terlampau tinggi. Hingga hanya sedikit wanita yang berani mendekatimu." Cibir Tenten mendeskripsikan kepribadian Hyuuga Neji singkat padat dan jelas.
"Apapun yang mereka katakan, tidak semua sesuai kenyataan. Terkadang mereka berkata seolah mereka tau segalanya."
"Tapi benar kan hingga saat ini kau masih sendiri? Itu artinya sebagian besar kabar itu benar."
"Kenapa kau bertanya tentang kesendirianku? Apa kau bermaksud untuk menggodaku setelah kau tau siapa aku? Tapi maaf mengecilkan hatimu, kau bukanlah tipeku." Kata Neji melempar pandanganya kejalanan.
"Kau sangat menggelikan Tuan Hyuuga. Pria dingin dan juga arogan bukanlah tipeku. Jadi kau tenang saja." Balas Tenten sebal. Ia melipat kedua tangannya di depan dan melempar pandangannya keluar jendela dengan muka masam.
oOo
Sedan hitam memasuki kawasan elit. Beberapa meter kemudian mobil tersebut memasuki sebuah rumah mewah yang di dominasi putih dan abu-abu. Pagar besi berwarna tertutup otomatis saat mobil tersebut sudah berhenti tepat di depan rumah.
"Kenapa kau membawaku kemari?" Tenten mengernyit.
Tidak ada jawaban. Neji segera turun di ikuti dua bocah di belakangnya. Sedetik kemudian gadis itu ikut turun dan mengekori Neji dari belakang.
Kedatangan mereka di sambut oleh seorang pembantu yang berdiri untuk membukakan pintu. Sekilas Tenten melihat tatapan aneh pembantu tersebut padanya.
"Bawa mereka berdua pergi. Berikan apa yang mereka inginkan." Kata Neji menatap Kun dan Tenichi sekilas.
"Baiklah Neji-sama." Balas pembantunya.
Sepeninggal dua bocah itu, Neji melempar kunci mobilnya keatas sofa lalu beralih pada gadis yang berdiri di sampingnya.
"Baiklah. Pertama aku ingin tau, apa hubunganmu dengan dua bocah itu?" Tanya Neji berkacak pinggang.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka. Aku mengenal Kun. Sebulan yang lalu bocah itu kutemukan meringkuk di tempat pembuangan sampah di dekat tempatku tinggal. Ia tidak mau mengatakan dimana orangtuanya. Maka dari itu aku memutuskan untuk merawatnya sampai aku menemukan orangtuanya."
"Apa dia mengatakan kalau dia memiliki saudara?"
"Tentu saja tidak. Dia tidak memberitahu apapun tentang keluarganya padaku."
"Dasar gadis bodoh. Kau merawat seorang anak kecil yang tidak kau ketahui asal usulnya?" Neji tertawa renyah.
"Apa berbuat baik harus mengetahui asal usul dari seseorang itu? Kau juga tidak tau apapun tentang aku dan Kun. Tapi kau menyelamatkanku dan Kun dari aparat-aparat itu. Jika berbuat baik harus melalui proses serumit itu, maka orang baik di dunia ini bisa di hitung walau hanya dengan sebelah jari."
Neji bungkam. Baiklah, lain kali ia akan berpikir dua kali untuk beradu argumen dengan gadis ini. Otaknya tak sepolos bayanganya.
"Kau dan Kun sangat mirip. Untuk sesaat kupikir kalian berdua bersaudara. Tapi jika di pikir lagi, sifat kalian berdua jauh berbeda." Kata Tenten membuang muka.
"Kau dan Tenichi juga sangat mirip. Aku sempat berpikir kau dan Tenichi bekerja sama untuk menjebakku." Pria itu menggaruk belakang kepalanya.
"Untuk?" Tenten beralih pada Neji. Suaranya naik satu oktaf.
"Yah, kau tau tentu tau apa maksudku." Pria itu berjalan menuju sofa dan membanting diri di atasnya.
"Satu hal yang harus kau tau, aku rela menjadi pencopet karena aku tidak akan pernah mau melakukan hal sehina itu." Kata Tenten dingin.
"Lalu siapa mereka sebenarnya?" Tanya Neji frustasi.
"Jelas sekali mereka bersaudara. Mungkin mereka terpisah dari orangtua mereka lalu terpisah satu sama lain. Mereka masih kecil, apapun bisa terjadi."
"Sejak tadi Kun yang kupikirkan. Kun bukanlah orang biasa." Neji menatap Tenten serius.
"Maksudmu?"
"Matanya. Hanya keturunan Hyuuga yang memiliki mata itu."
"Mungkin saja dia anak dari kerabatmu?"
"Lalu bagaimana bisa saudaranya memiliki warna mata yang berbeda?" Tanya Neji lagi. "Tenichi mirip seperti... dirimu." Lirih Neji menatap Tenten intens.
"Aku juga tidak tau."
"Tidakkah kalian berpikir untuk mencoba mengetahui nama marga kami?" Kata Kun tiba-tiba.
Praktis dua orang itu menoleh pada dua bocah yang berdiri tak jauh dari tempat Tenten dan Neji itu menatap bergantian dua orang dewasa yang masih beradu argumen tersebut.
"Sepertinya akan sedikit membantu. Baiklah, katakan siapa nama margamu." Ujar Tenten.
"Aku.. Kun Hyuuga." Kata Kun mengulas senyum manisnya.
"Namaku adalah Tenichi Hyuuga, Tousan Kaasan." Imbuh Tenichi mantap.
Neji dan Tenten bungkam. Mereka seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dua bocah itu katakan.
"Jangan main-main. Katakan yang sejujurnya." Tenten menatap tajam Kun dan Tenichi.
"Apa penampilan kami belum cukup untuk meyakinkan kalian?" Kata Tenichi.
"Baiklah, sudah cukup main-mainnya. Aku tidak mau terlibat dengan masalah ini." Tenten mengangkat kedua tanganya di udara pasrah. Kedua alisnya terangkat menandakan ia benar-benar lelah dengan semua ini. "Kun, jika kau masih mau ikut denganku, kemarilah. Jika kau ingin mengajak adikmu untuk tinggal bersamaku, lakukan. Tapi tolong hentikan omong kosong ini."
"Kaasan.." Lirih Tenichi berkaca-kaca.
"Berhentilah memanggilku Ibu. Aku bukan Ibumu. Aku tidak pernah menikah dan melahirkan seorang anak. Bagaimana mungkin kini ada dua bocah yang entah darimana datangnya tiba-tiba memanggilku Ibu dan mengatakan padaku bahwa aku adalah istri dari seorang Hyuuga?" Tenten beralih pada Neji yang masih diam pada posisinya. "Katakan padaku, apa semua ini masuk akal? Kau dan aku yang baru bertemu hari ini tiba-tiba sudah memiliki dua anak. Sepertinya kejeniusanmu sekarang sedang di uji Tuan Hyuuga."
Tidak ada jawaban apapun terlontar dari bibir Neji. Pria itu hanya diam menatap kedua tangannya yang saling bertautan. Ia mencoba memikirkan sesuatu yang tidak orang lain ketahui.
"Kau tidak tau? Tentu saja semua ini tidak masuk akal. Bahkan jika kau memiliki otak secerdas Albert Einstein pun akan terasa percuma jika di hadapkan dengan situasi seperti ini." Kata Tenten lagi.
Lagi-lagi Neji tidak bergeming meladeni kata-kata Tenten. Gadis itu mulai kehilangan akal dan mondar-mandir kesana kemari memikirkan hal gila yang baru saja ia dengar.
"Kurasa cukup untuk malam ini. Aku akan pulang." Gadis itu segera melangkah keluar meninggalkan Tenichi dan Kun yang masih berdiri di tempatnya, juga Hyuuga Neji yang mulai menyadari kepergian Tenten.
Tangan kekar Neji meraih lengan Tenten begitu gadis itu berhasil melewati pintu rumahnya. Terkejut? Tentu saja. Bahkan Tenten sempat mengalami serangan jantung ringan ketika dirinya di tarik mendekati tubuh yang terbalut kemeja putih tersebut.
"Jika benar apa yang mereka katakan, apa yang akan kau lakukan?"
To Be Continued
Yoshhh minna-san. Terimakasih buat yang sudah menyempatkan waktu buat baca fanfic ini ^.^ Dan untuk masalah judul, Ran minta maaf yang sebesar-besarnya. Judul sebenarnya adalah 'Gadis Pencuri' tapi pas nulis tittle di atas jadi 'Gadis Lampion' Karena Ran masih terngiang sama kalimat Lampion selama pembuatan fanfic ini, hehehe. Sekali lagi maafkan Ran.
Yuka Ai: Waah, terimakasih udah sempatkan waktu buat baca, ehehehe. Untuk masalah judul, Ran nggak teliti waktu publish. Maafkan ya _
Arannis: Duuh, hehehe. Tentang judul Ran minta maaf ya :B Pas casting Tenten udah mau jadi pencopet kok XD Terimakasih udah sempatkan waktu buat baca. Di tunggu next nya yaaa \^0^/ With love: Ran Megumi ^^v
Sasara Keiko: Maafkan soal itu hehehe :p Iya nih, pas buat fanfic, barengan sama eyang uti bikin opor sama gulai. Harumnya bikin Ran nggak fokus. Makanya rada meleng XD Terimakasih karena udah mampir. Masih menunggu next chap nya kah? XD
Arum Junnie: Sipp! Masih tertarikkah dengan kelanjutannya? XD
Lidyasyafira: Makasih makasih makasih udah baca ^.^ See you di chap depan ne ^-^/
D. 'Gee-eun' oktaviani: Haloha Oktaviani. Salam kenal juga dari Ran :)) Yoshh, semangat banget bikin lanjutannya. Terimakasih ^-^
Marine Choi: Wohohoho, sabar Marine-san. Kalem XD Makasih karena selalu baca fanfic aku hehehe. Tenten addict juga?! Kyaaa.. Viva La Tenten! ^0^ Siapp. Tunggu next chap nya yaaa :))
Hunyeobo: Keep? Sudah hehehe. Makasih udah baca. Salam kenal ^-^
Akira Ken: Hei hei, sudah di lanjut looh XD
Kay249: hehehe, Kay-san mampir toh XD Makasih udah baca. Ran juga makasih buat reviewnya :))
Jelliesdewi: Ehehehe, makasih ya ^^. Neji sekarang doyan bad girl biar hidupnya nggak monoton XD *dandan bad girl* Sipp, makasih semangatnya :))
Sipp, chapter 2 tuntas dan semua review udah di balas. Masih penasaran sama next chap nya, atauuu udah kapok berhenti sampai di sini aja? XD RnR please!
