Gadis Pencuri

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Typo, Bad ff, OOC

RnR!

No Flame!

Chapter3

Ruang keluarga Neji terasa sangat mencekam. Seorang gadis yang duduk di sebelahnya membuang muka ke arah lain dengan kedua tangan terlipat. Neji tau apa yang gadis ini rasakan. Mood Tenten sangat tidak baik malam ini dan Neji bisa memahaminya.

Dua bocah kecil yang duduk di seberang meja menatap Tenten dan Neji takut. Keduanya saling bergandengan tangan sejak Neji berhasil membawa Tenten kembali masuk kedalam rumahnya tersebut.

"Bisa kau jelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Neji menghela nafas membuka topik pembicaraan setelah hampir 20 menit mereka saling diam.

"Seseorang dari surga mengirim kami untuk menyatukan kalian berdua. Orang tersebut mengatakan ingin melihat kalian berdua bersama. Dia bilang kalian saling melengkapi. Dan tanpa Tousan sadari, orang itu selalu memperhatikan Tousan." Jawab Kun seadanya.

"Dann.. siapa orang itu?" Alis Neji terangkat sebelah menatap Kun penuh tanda tanya.

"Di sana kami biasa memanggilnya Kakek." Sahut Tenichi bersemangat.

"Kakek?" Tenten menoleh pada kedua bocah itu dengan alis berkerut.

"Garis takdir telah memutuskan menyatukan kalian untuk selamanya. Namun karena Kaasan yang selalu merasa taraf hidupnya tidak selevel dengan kalangan Tousan lah yang membuat semuanya sulit. Beberapa waktu yang lalu ada seorang pria kaya yang mendekati Kaasan. Padahal kami berharap dengan adanya pria itu, Kaasan akan dapat merubah jalan pikirnya. Namun Kaasan menolak pria itu dengan alasan yang serupa. Jika sampai di ujung usia kalian sifat Kaasan masih seperti itu, tidak akan ada jalan untuk kalian bersatu. Jika kalian bersatu, sudah jelas kami akan lahir di dunia ini. Tapi jika tidak, kami tidak akan mendapatkan hak kami untuk merasakan hidup di bumi. Hidup di sini, di tengah kalian adalah hak kami." Jelas Kun panjang lebar menatap lemah Neji dan Tenten.

"Bagaimana jika sampai mati kami tidak bisa bersatu? Apa kalian akan tetap di sini?"

"Kalian pasti akan bersatu. Kami akan menghilang jika kalian sudah mulai mencintai satu sama lain." Tenichi memandang Tenten.

"Kau dengar apa yang mereka bicarakan? Apa terdengar masuk akal bagimu?" Tenten sedikit ngotot menatap Neji.

"Setiap langkah baik yang kita ambil, akan menentukan seberapa baik pula takdir kita di masa depan. Jika kau memutuskan untuk menyerah pada takdir dan memilih pasrah dengan keadaan, hidupmu di dunia ini tidak lebih dari sebutiran salju yang perlahan akan hilang. Entah itu karena tertiup angin atau bahkan lenyap sama sekali oleh matahari ketika terik menghujaninya." Kata Kun di tengah Neji bergumul dengan otak dan hatinya.

Dalam sekejap Neji menatap Kun yang juga balik menatapnya. Dua mata lavender bertemu. Mata Kun mengingatkan Neji pada Ayahnya. Dan kata-kata yang baru saja Kun lontarkan, adalah petuah favorit yang ia dapatkan dari Ayahnya. Dan dari situ juga ia semakin yakin bahwa hubungan antara dirinya dan Kun juga Tenichi tidak sesederhana itu.

"Kau bertemu dengan Hizashi?" Tanya Neji.

"Hm, dialah kakek kami di alam sana." Lagi-lagi Tenichi menyahut pertanyaan pendek dari Neji.

"Hizashi? Siapa dia?" Giliran Tenten bertanya.

"Kakek kami, Hizashi Hyuga." Tenichi menjawab dengan kedua alis terangkat.

Kepala Tenten semakin berputar meski jawaban yang di lontarkan oleh Tenchi sama sekali tidak sulit untuk ia cerna. Namun kejadian seperti ini yang bahkan mungkin hanya terjadi pada dirinyalah yang membuat Tenten merasa gila dan ingin membenturkan kepalanya ke dinding.

"Bagaimana menurutmu?" Tanya Neji tiba-tiba menggeser sedikit duduknya pada Tenten yang sejak tadi berada di ujung sofa.

"Bagaimana apanya?" Kedua alis Tenten bertemu.

"Bagaimanapun kita orangtuanya. Kita harus merawat mereka selama mereka berada di sini?"

"Apa kau bilang? Kenapa kau begitu yakin kalau kau dan aku adalah orangtua mereka?"

"Karena mereka bertemu dengan Ayahku. Bahkan mereka tau apa yang selalu Ayahku katakan padaku. Juga penampilan mereka yang sangat kontras denganmu dan aku. Apalagi yang membuatmu ragu?"

"Semuanya!" Tenten berteriak. "Kupikir kau jenius. Tapi tidak kusangka kau masuk kedalam jebakan murahan seperti ini."

"Jangan katakan hal buruk jika itu menyangkut Ayahku." Neji menatap Tenten tajam. "Apa kalian tidak menemui orangtua ataupun kerabatnya di sana agar ia yakin kalau kalian adalah anaknya." Pria itu beralih pada Kun dan Tenichi.

"Soal itu..." Kun menatap lemah pada Tenten.

"Kalian tidak akan pernah bertemu dengan siapapun yang berhubungan denganku di alammu. Aku di buang saat aku bayi. Dan aku berani taruhan dua manusia tak bertanggung jawab itu masih bernafas hingga detik ini." Sahut Tenten cepat.

Mood Tenten yang dari awal buruk semakin hancur saat Neji melontarkan pertanyaan yang sangat tidak berkenan di hatinya.

"Maafkan aku." Kata Neji singkat.

"Lupakan. Sudah malam. Aku akan pulang. Rawat mereka semaumu. Apapun yang mereka katakan, semua ini tidak masuk akal bagiku."

Tenten beranjak berdiri dan berjalan cepat menuju pintu sebelum Neji berhasil meraih tangannya untuk kembali menempatkan gadis itu di sampingnya.

Sedangkan Kun dan Tenichi hanya diam memandang Tenten yang semakin menjauh menuju pintu tanpa sedikit pun menoleh kebelakang.

Satu tangan Tenten meraih knop pintu logam di depannya. Pintu terbuka bersamaan dengan tangan Neji yang meraih lengannya.

"Kumohon..."

Kata-kata Neji terhenti ketika beberapa polisi berdiri di ambang pintunya dengan posisi tangan hendak mengetuk pintu.

Praktis keduanya terkejut. Terlebih Tenten yang hendak melangkah keluar terhalang oleh polisi yang menghalangi jalannya.

"Selamat malam Tuan Hyuuga." Sapa Polisi tersebut memberi hormat.

"Selamat malam. Ada yang bisa kubantu?" Jawab Neji ramah sembari menarik Tenten kebelakang punggungnya.

"Ada yang ingin kami bicarakan. Boleh kami masuk?"

"Oh tentu saja. Silahkan."

.

"Kami mendapat informasi bahwa telah terjadi insiden saat festival lampion tadi. Tiga anggota kami yang sedang bertugas melapor bahwa mereka telah di serang oleh seseorang yang tidak mereka kenali. Dan saat kami memeriksa tempat kejadian, kami menemukan kartu nama anda di lokasi." Jelas Polisi tersebut tanpa basa-basi setelah Hyuuga tersebut mempersilahkan mereka duduk di sofa ruang tamu.

"Oh ya, tentu saja. Aku sungguh minta maaf atas perbuatanku yang sangat tidak menyenangkan itu. Kami memiliki dua anak. Dan anak sulung kami memiliki sifat yang agak sedikit, yaah bisa dibilang urakan. Dia memasukkan seekor kecoa hidup ke dalam tas seorang nenek tua. Dan perbuatan itu di ketahui oleh aparat. Mereka pikir putraku hendak mencuri. Padahal itu sama sekali tidak benar. Dan saat aku memarahinya di sebuah gang sempit dan gelap, aparat-aparat itu berteriak sembari menunjuk putraku. Aku lalu menyerangnya tanpa bertanya terlebih dahulu. Kupikir mereka preman." Ujar Neji di akhiri tawa renyah. "Bukan begitu sayang?" Neji meremas jemari Tenten berharap jawaban yang akan Tenten lontarkan semakin meyakinkan Polisi-polisi ini.

"A-ah, t-tentu saja. I-itu semua benar. Sekarang bocah nakal itu sudah kami kurung di kamarnya. Anda tenang saja, dia tidak akan melakukan hal brutal lagi." Imbuh Tenten tersenyum palsu.

"Baiklah. Kami tidak akan membawa masalah ini terlalu jauh. Anggotaku berkata bahwa mereka baik-baik saja dan hanya sedikit mendapat dorongan dan mengalami sedikit luka gores di dahi dan juga siku. Maka dari itu, kami meminta Tuan Hyuuga Neji untuk melakukan wajib lapor setiap harinya selama satu bulan penuh. Apa anda menerimanya?" Polisi tersebut menyodorkan kertas berisi surat perjanjian.

"Tentu saja aku bisa melakukannya. Jangan khawatir pak." Jawan Neji cepat.

.

Langkah Tenten terlihat cepat menuruni setiap anak tangga di rumah Neji. Sepasang mata lavender melihat gadis itu dengan tatapan datar.

"Sudah kulakukan yang kau mau. Mereka sudah tertidur. Aku akan pulang sekarang." Tenten menatap Neji sekilas dan segera berjalan menuju pintu.

"Kenapa kau terburu-buru seperti itu?"

"Bus terakhir hanya tinggal 5 menit lagi. Aku harus bergegas." Jawabnya singkat.

"Kuantar kau pulang." Pria itu berdiri sembari merapikan kemejanya.

"Tidak perlu. Kau urus saja bocah-bocah itu."

"Jangan membantah."

.

Sedan hitam Neji masuk kedalam kawasan kumuh. Jalannya sangat kecil dan hanya muat untuk satu mobil saja. Neji celingukan sembari memikirkan tempat apa ini sebenarnya?

"Dimana rumahmu?" Neji beralih pada gadis di sebelahnya.

"Di sana." Jawab gadis itu sembari menunjuk karavan berwarna abu-abu.

"Kau tinggal di dalam karavan?" Tanya Neji begitu mobilnya berhenti.

Tenten turun dan melihat Neji yang juga ikut turun. "Kenapa? Apa terlihat menijikkan bagimu?" Tawa renyah terdengar keluar dari bibir gadis itu. "Kau boleh pulang. Terimakasih sudah mengantarku."

"Masuk."

"Apa kau bicara padaku?" Tanya Tenten polos.

"Kubilang cepat masuk!"

"Aku sudah sampai di rumahku. Untuk apa lagi aku masuk ke mobilmu? Pulanglah. Udara malam membuat isi kepalamu mengendur."

"Kau tidak dengar apa yang kukatakan? Masuk!" Suara Neji naik satu oktaf.

"Kau sudah gila." Gadis itu tertawa remeh dan melangkah meninggalkan Neji.

Baru 2 langkah gadis itu berjalan, ia merasa ada yang menarik kasar lengannya. Ia di tarik dan di dorong masuk kedalam mobil Neji lagi.

"Hei, apa yang kau lakukan?" Tenten berontak.

Dengan mudah Tenten membuka kembali pintu mobil Neji dan berlari keluar. Namun lagi-lagi Neji berhasil meraihnya dan membawanya kembali. Pria itu mendudukkan Tenten dan memasang seat belt pada gadis itu.

"Sekali lagi kau mencoba lari, akan kubuat kau duduk di pangkuanku di kursi kemudi. Tentu kau tidak mau itu terjadi kan? Jadi diam dan lakukan apa yang kukatakan." Neji menatap dingin mata Tenten.

"Siapa kau berani mengaturku, hah?!"

"Aku bersungguh-sungguh tentang pangkuan itu. Tenagaku lebih besar darimu, aku tidak akan ragu untuk melakukannya dan kau tidak mungkin bisa memberontak. Jangan menggerutu dan tutup mulutmu." Neji menutup kasar pintunya.

Pria itu segera memacu mobilnya keluar dari kawasan kumuh tersebut. Sementara Tenten menatap hanya bisa meracau dalam hati mendapat perlakuan kasar dari pria yang bahkan baru ia temui beberapa jam yang lalu.

Sepanjang jalan hanya suara deru AC mobil yang menghiasi telinga mereka berdua. Sama sekali tidak ada pembicaraan. Sesekali suara helaan nafas berat dari Tenten yang membuat Neji melirik gadis di sampingnya sesaat.

"Apa kau bisu? Paling tidak katakan apa alasanmu membawa paksa diriku? Dan, kemana kau akan membawaku?"

"Rumahku. Selama bocah itu masih ada, kau akan tinggal di rumahku."

"Untuk apa aku berada di rumahmu? Untuk merawat mereka? Aku tidak mau." Balas gadis itu geram.

"Berapa yang kau inginkan?" Tatapan dingin Neji kembali membungkam Tenten.

"Apa?"

"Rawat anak-anakku. Sebagai gantinya aku akan membayar berapapun yang kau mau. Kau tidak perlu mencopet lagi dan hanya tinggal di rumahku bersama Kun dan Tenichi. Bukankah itu berarti baik untukmu?"

Tenten melongo melihat sikap Neji. Alisnya berkerut memikirkan sesuatu yang sulit ia temukan jawabannya. Beberapa jam yang lalu ia mengetahui bahwa pria ini adalah pria arogan, tapi kini pria yang berada di hadapannya bersikap sangat hangat dan penyayang.

"Tunggu, kenapa kau yakin sekali kalau mereka berdua adalah anak-anakmu?"

"Hubungan batin antara Ayah dan anak tidak akan pernah bisa di putus. Itulah yang aku rasakan ketika Ayahku masih hidup."

"Oh." Tenten menunduk lemah. Ia melirik Neji perlahan. "Apa hubungan batin seperti itu terasa sangat menyenangkan?"

"Hm. Bukan hanya cinta yang kau dapatkan, bahkan kehangatannya bisa kau rasakan meski kau berada ber mil-mil jauhnya dari orangtuamu."

Gadis itu tertawa renyah dan melempar wajah ke luar jendela. Satu alisnya terangkat.

"Kenapa kau tertawa?"

"Bagi beberapa orang yang tidak beruntung sepertiku menganggap perkataan itu hanyalah omong kosong."

"Aku tau. Kau tidak pernah merasakan betapa lezat nya sup buatan ibu ketika musim dingin tiba, tidak pernah mengenakan sweater hangat yang di rajut oleh tangan seorang ibu, tidak pernah merasakan rasa bahagia ketika Ayahmu pulang bekerja, berlibur di akhir pekan bersama mereka berdua, juga kehangatan yang kau rasakan ketika ulangtahunmu tiba..."

"Sudah selesai? Perkataanmu membuat telingaku sakit!" Ujar Tenten dongkol. 'Dasar Neji brengsek.' Batin Tenten.

"Dan jika kau mau tinggal bersamaku, akan kubuat kau merasakan itu semua." Lanjut Neji menatap Tenten penuh arti bersamaan dengan berhentinya mobil Neji di depan teras rumahnya.

Neji melangkah masuk dan membuka pintu rumahnya kasar. Ia sudah cukup lelah dengan hari ini. Sungguh ia ingin segera membersihkan dirinya lalu berbaring di ranjang empuknya.

"Ikuya Baasan." Panggil Neji lantang dan tak lama kemudian seorang pelayan rumah tangga yang berusia hampir senja menampakkan batang hidungnya.

"Aku ingin Baasan memenuhi apapun kebutuhan gadis itu dan dua bocah tadi."

'Gadis?' Ikuya membatin bingung. Ia celingukan mencari gadis yang Neji maksud. Nihil, tidak ada wanita lain selain dirinya di sekitar sini. "Baiklah Neji-sama. Tapi jika aku boleh tau siapa mereka?"

"Istri dan anakku." Jawab Neji sekena nya lalu melangkah pergi.

"Apa?!" Ikuya terkejut bukan main.

"Ta-tapi Neji-sama..." Ikuya membuntuti Neji dari belakang. Namun urung karena seorang gadis tiba-tiba masuk dengan sungkan.

"Selamat malam, ada yang bisa kubantu?" Tanya Ikuya ramah menghampiri Tenten.

"A-aku..."

"Beri dia kamar dan juga pakaian sementara untuk dia kenakan malam ini." Ujar Neji sembari menaiki tangga hendak menuju kamarnya yang berada di lantai atas.

"Kamar? Bukankah kau istrinya?" Dahi Ikuya berkerut menatap Tenten.

"Ehm, ya- aku bukan istrinya. Aku hanyalah Ibu dari anak-anaknya." Jawab Tenten linglung. Ia sungguh tidak tau harus menjawab apa. Keadaan ini membuatnya seperti orang sinting. Atau mungkin dia sudah mulai sinting.

'Bukankah sama saja?' Ikuya menatap Tenten heran.

.

"Ini adalah kamarmu. Karena Neji-sama mengatakan kalau kau adalah istrinya dan memintaku untuk memberimu kamar, sepertinya kamar yang berada tepat di depan kamar Neji-sama adalah pilihan yang tepat." Jelas Ikuya sembari menekan sakelar lampu.

Baru saja lampu menyala, gadis itu langsung takjub. Tentu saja, selama ini tinggal berada di dalam karavan kumuh yang sangat sempit dan juga pintunya yang sudah lepas dan terpaksa ia ganti dengan pintu kayu dengan paku seadanya sebagai sambungan agar tidak jatuh sekaligus melindungi dirinya dari hawa dingin malam yang menusuk.

Ranjang king size, home theater, AC, lemari kayu jati berukuran besar dengan aksen rumit di setiap incinya juga sofa santai di dekat ranjang menjadi perhatian Tenten. Di sudut kamar terdapat pintu yang Tenten rasa itu adalah kamar mandi. Yah, semua orang kaya meletakkan kamar mandi dalam untuk dirinya sendiri agar tidak di jamah orang lain.

Ikuya memberikan beberapa helai baju pada Tenten. "Ini adalah piyama milik Hinata-sama yang sengaja ia tinggal di sini. Kau bisa mengenakkanya." Kata Ikuya.

"Hinata?" Tanya Tenten.

"Hm, sepupu Neji-sama." Jawab Ikuya singkat.

"Oh," Tenten hanya ber 'oh' ria lalu masuk kedalam kamar tersebut.

"Kau benar-benar wanita beruntung." Ikuya tersenyum menatap Tenten.

"Beruntung?"

"Hm, banyak wanita yang coba Hiashi jodohkan dengan Neji-sama. Beberapa dari mereka berhasil menyambangi rumah ini bahkan mereka sempat berlibur dengan Neji-sama selama beberapa hari di luar negeri. Tapi hanya kau wanita yang bukan hanya berhasil masuk kedalam rumahnya, bahkan kau bisa masuk kekamar rumah ini tanpa kau minta. Neji-sama sangat sensitif dengan ruangan-ruangan di rumahnya jika di masuki orang yang tidak ia kenal."

"Bukan mengizinkan, lebih tepatnya semua ini pemaksaan." Gumam Tenten dongkol.

"Apa kau bilang?" Tanya Ikuya.

"Ah, tidak. Aku tidak mengatakan apapun." Balas Tenten cepat.

"Dan.. daritadi aku bertanya-tanya, siapa dua bocah yang di maksud Neji-sama?" Perempuan senja itu mengangkat kedua alisnya.

"Kun dan Tenichi. Mereka di tempatkan Neji di sebuah kamar yang terdapat ranjang susun di dalamnya. Aku tidak ingat di mana kamar itu." Tenten tertawa renyah. 'Rumah ini terlalu besar untukku.' Lanjut Tenten dalam hati.

"Aku tau. Baiklah semoga kau tidur nyenyak." Wanita itu tesenyum sesaat lalu menutup pintu kamarnya.

Gadis itu menyapukan matanya di setiap sudut kamarnya. Sungguh ia tidak pernah menyangka bisa berada di tempat seperti ini. Bahkan bermimpi berada di tempat yang 7 kali lebih luas dari karavan nya ini pun tidak pernah.

"Baiklah, sudah cukup sesi mengaguminya. Aku butuh mandi." Tenten celingukan mencari handuk.

Ia menghampiri lemari jati yang tak jauh darinya lalu segera membuka kedua pintunya. Ekspresinya kecut ketika tidak ada apapun di dalam sana. Hm, dia lupa kalau Neji adalah seorang pria kesepian.

Ia lalu menutup pintunya kembali dan langsung melangkah menuju kamar mandi. Meski tidak ada handuk, ia bisa menggunakan kaos yang ia kenakan untuk mengeringkan tubuhnya. Memang terdengar jorok, namun hal seperti ini sudah sangat biasa mengingat kehidupan di luar yang sangat mengerikan.

Baru masuk kedalam kamar mandi, matanya melihat sebuah lemari kaca kecil berdiri di sebelah wastafell. Tak banyak bicara ia segera membuka lemari tersebut dan mendapati beberapa handuk dengan berbagai ukuran terlipat rapi di sana.

"Sebenarnya ini rumah atau hotel?" Katanya sembari menyambar cepat sebuah handuk berukuran sedang.

Tenten keluar dari kamar mandi dengan jubah handuk melekat di tubuhnya. Di atas kepalanya ia gunakan handuk yang lainnya untuk menutupi rambut basahnya.

Gadis itu memasukkan kedua tangannya kedalam saku jubah tersebut. Ia celingukan mencari sesuatu yang mungkin bisa ia makan. Tapi ia tak menemukan apapun selain segelas air putih yang ada di atas meja laci di samping ranjang. Yah, seperti yang Tenten ketahui dari film-film yang ia tonton, orang kaya selalu meminum air putih sebelum dan ketika mereka bangun tidur. Tidak beda jauh, ia juga melakukan rutinitas menyehatkan itu setiap hari. Meskipun dengan cara yang berbeda. Tidak akan ada yang menyiapkan segelas air di rumahnya ketika ia akan menutup dan membuka mata.

Gadis itu mengusap perutnya yang meronta meminta hak nya. Jika di rumahnya sendiri, ia akan mencari makan keluar jika ia mendadak kelaparan. Takut? Tentu tidak. Kawasan yang Tenten tinggali sangat bersahabat dengannya. Bagaimana tidak, sebagian besar profesi yang di gauli oleh orang-orang di sana tidak jauh-jauh dari profesi yang Tenten lakukan selama ini. Jadi atas nama solidaritas, orang-orang di sana tidak akan menusuk temannya sendiri. Maka dari itu Tenten merasa aman tinggal di sana.

"Mungkinkah jika aku turun dan mencari makanan di dapur?" Gumamnya ragu.

Persetan dengan pemilik rumah ini. Neji yang membawa paksa dirinya kemari. Pria itu juga tidak memberi makan dirinya. Lelaki sekaya ini, tidak akan masalah jika ia mengambil beberapa makanan di dapurnya.

Senyum penuh kemenangan terulas di bibir Tenten. Ia segera keluar dan membuka knop pintu. Raut wajahnya seketika berubah ketika matanya menangkap seorang bocah kecil yang hendak menuruni tangga. Hanya melihat sekilas saja Tenten tau bahwa itu adalah Tenichi. Terlihat dari rambut cokelat sebahunya terayun pelan setiap bocah itu berjalan.

"Hei." Tegur Tenten ramah.

Bocah itu seketika menoleh pada sumber suara. Raut wajahnya berubah melihat Tenten tersenyum padanya.

"Kaasan.." Katanya pelan.

"A-apa.. A-aku bukan.." Gadis itu melirik belakangnya sesaat. "Baiklah. Kaasan." Tenten tersenyum penuh arti. "Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"

"Aku lapar." Jawabnya menunduk lirih.

"Aku juga. Mau kubuatkan sesuatu?"

Tenichi menatap Tenten berbinar. "Tentu saja Kaasan."

'Sepertinya aku harus membiasakan diri dengan panggilan itu.' Batin Tenten sembari tersenyum renyah dan menggandeng gadis kecil itu turun.

"Bisakah kita keluar saja? Aku bosan berada di rumah." Tenichi mendongak menatap Tenten yang lebih tinggi darinya.

"Keluar? Tentu saja boleh. Tapi aku tak yakin dengan daerah di sekitar sini. Dan lagi, aku tidak memakai apapun di balik handuk ini. Akan lebih baik jika kita mencari makan di dapur saja. Jika kau bosan, kau bisa ke kamarku." Ujar Tenten panjang lebar.

"Di kamar? Tidur bersama Kaasan?" Tanya Tenichi dengan raut wajah tak percaya.

"Tentu saja, kenapa tidak? Kamar itu terlalu luas untuk kutiduri seorang diri."

"Akan tiba waktunya dimana kalian akan tidur bersama."

'Kuharap itu tidak akan terjadi. Jika terjadi pun, semoga Tuhan melenyapkan sifat egois nya itu.' Batinnya dengan wajah masam.

To Be Continued..

Update kilat lageee! XD Lagi nganggur dan inspirasi lagi mengucur deras buat fanfic ini. Daripada di tunda2 dan lupa, mending langsung di tulis aja, ya kan? X3 Ran ucapkan terimakasih buat minna yang selalu nunggu dan baca ff freak Ran ini ^-^

Sasara Keiko: Udah nggak minum aqua, Ran mandinya pake aqua sekalian biar fokusnya mentok XD Yang ini words nya masih kurang ya? :)) Siapp, see you di next chap ya Sasara-san ^.^/

Herocyn Akko: Umur Kun sama Tenichi akan di jelaskan di chapter selanjutnya *insyallah* :D Pokoknya mereka berdua umurnya belum menginjak 10 tahun kok. Jadi masih kecil imut-imut. Bayangin aja Kun itu kloningnya Neji kecil dan Tenichi kloningnya Tenten kecil. Soalnya sepanjang bikin ff ini, Ran bayanginya kaya gitu soalnya XD Wedeehh, jangan dong. Kasian Tenten, udah di serialnya dia nggak kumpul sama Neji, masa di sini juga dia harus di buang ke laut? XD Waalaikumsalam wr. wb :))

Shinji r: Siapp udah kapten :))

Setyanajotwins: Bisalah, karena mereka anak NejiTen :D Well, makasih juga udah sempatkan waktu buat baca dan kasih review. See you di next chap ya ^-^

Yehetmania: Maaf gan, sepertinya words di chap ini lebih panjang dari chapter selanjutnya ^.^

Shikadaii: Iya, Kun dan Tenichi datangnya terpisah. Alasannya karena Tenten lebih keras kepala dari Neji. Makanya butuh sedikit waktu buat deketin Tenten XD. Dan insyallah di chapter selanjutnya akan di jelaskan kemana aja Tenichi selama Kun sama Tenten :))

Kay249: Ran juga sebenarnya rada kasian sama Tenichi pas kasih adegan itu XD *plak* Allhamdulillah lagi-lagi update kilat karena mood Ran buat lanjutin ff ini lagi bagus2 nya :D Ran juga nunggu lanjutan ff Kay-san loh ^-^

Akira ken: Umm, sepertinya yang ini lebih panjang dari chapter sebelumnya XD Iya memang. Tapi paling enggak pair canon NaruHina, SasuSaku, SaiIno, sama ShikaTema terealisasi. Sedangkan pair canon NejiTen... *semoga Neji dan Tenten bertemu ketika di surga kelak* TAT *plak* XD

Marin Choi: *tosh* sesama Tenten addict XD Harus di lanjut dooonggg.. :)) Keep read and review ne. Arrigatou ^-^

Kiwi689: Arrigatou untuk review nya. Sampai jumpa di chapter depan ^-^

Yossshaaa! Udah di bales semua review. And... Chapter 3 is complete! \(^0^)/ See you minna-san.