Gadis Pencuri

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Typo, Hancur, Nista

RnR!

No Flame *Flamer, go away!*

Jam baru menunjukkan pukul 5 pagi. Tapi seorang pria sudah kelabakan menyusuri setiap sudut rumahnya meski ia masih mengenakan piyama tidur dan juga sandal rumah guna mencari seseorang yang tidak ada di tempatnya. Sudah hampir semua ruangan ia datangi, namun orang yang ia cari tidak juga ia temukan.

Lelah mencari, ia segera turun kebawah menuju dapur. Di sana ia melihat para pelayan rumahnya tengah menyiapkan hidangan untuk sarapan. Ia lalu menghampiri pelayan rumah tangga senior yang tengah menumis sesuatu yang entah apa itu.

"Baasan, apa Baasan tau dimana Tenichi?" Tanya Neji.

"Bukankah dia di kamar di samping ruang kerjamu?" Jawab Ikuya mengangkat sebelah alisnya.

"Tidak ada. Aku sudah kesana dan hanya ada Kun yang masih tertidur." Jaeab Neji cepat.

"Sudah periksa seluruh ruangan?"

"Hm,"

"Mungkin dia ada di kamar bersama Ibunya."

"Ibunya?" Neji terdiam sesaat. "Dimana kamar gadis itu?"

"Di kamar yang letaknya tepat di depan kamar Neji-sama."

"Baasan tempatkan dia di situ?" Tanya Neji terkejut.

"I-iya. A-apa aku salah?" Ikuya sedikit takut.

Neji tidak menjawab. Pria itu segera beranjak meninggalkan Ikuya. Dengan langkah cepat ia menaiki tangga dan segera membuka kamar utama kedua di kamarnya. Dan benar saja, ia mendapati gadis itu duduk di tepi ranjang sembari mengucek kedua matanya. Tak jauh dari tempat gadis itu duduk, Tenichi tengah terlelap sembari memeluk guling dengan selimut tebal mengenggelamkan tubuh kecil gadis itu.

Tenten terkejut dan lantas berdiri ketika pintu kamarnya di buka kasar oleh seseorang. Orang itu tak lantas masuk, ia melihat sesaat gadis kecil di atas ranjang.

"Syukurlah, kupikir dia kabur." Kata Neji mengehela nafasnya lega.

"A-apa yang kau lakukan di kamarku?!" Kata Tenten spontan.

Pria itu lantas menatap Tenten yang terpaku melihatnya. Ia masuk dan menutup pintu kamar tersebut.

"Kamarmu?" Tanya Neji singkat berjalan pelan mendekati Tenten.

"K-kamarmu,, maksudku." Balas Tenten singkat.

"Kau bilang kau tidak mau merawatnya, kenapa sekarang kau malah tidur bersamanya? Apa kau mulai mengakui keberadaan anak kita?" Tanya Neji dengan nada menggoda tanpa menghentikan langkahnya pada Tenten yang mulai menjauh darinya.

Darah Tenten berdesir cepat saat kata-kata 'Anak kita' jelas terdengar keluar dari bibir Neji. Tidak kah pria ini tau kata-kata tersebut akan terdengar sangat sensitif bagi wanita yang tidak pernah melahirkan? Terlebih lagi yang mengatakan hal seperti itu adalah pria asing yang tidak lama ia kenal.

"A-aku tidak." Tenten menggeleng cepat. "Tadi malam aku mendapati bocah itu di luar. Dia bilang dia kelaparan dan ingin keluar karena bosan berada di kamarnya. Maka dari itu setelah membuatkan dia makanan, aku menawarinya untuk tidur bersamaku." Gadis itu masih berusaha mundur dari Neji yang masih tetap berjalan mendekatinya.

"Tidur bersamamu ya?"

"Hm, karena kamar ini terlalu besar untukku." Balas Tenten cepat. Bagus, sekarang ia sudah mencapai dinding ruangan. Ia terjebak.

"Terlalu besar ya? Jika memang begitu kenapa kau tidak menyuruhnya tidur di kamarnya saja agar dia bermain dengan Kun dan kau tidur bersamaku di kamarku. Bukankah kau istriku? Goda Neji lagi membuat semburat merah gadis itu muncul ke permukaan.

"A-apa maksudmu?" Tanya Tenten tercekat ketika pria itu memenjarakan dirinya dengan kedua tanganya di antara dinding.

"Maksudku? Tentu saja seharusnya kita tidak berpisah ranjang sebagai suami istri. Itu tidak baik. Bukankah begitu, K-A-N-A-I?" Pria itu memberi penekanan nada pada kata Kanai.

Neji menatap rambut panjang Tenten yang tergerai menghiasi jubah handuk yang gadis itu kenakan. Helaian yang terlihat tidak di sisir itu menambah kesan berantakan namun seksi di mata Neji. Tangannya menyentuh beberapa helai rambut Tenten yang jatuh di atas jubah handuk tersebut.

Tenten mendelik terkejut melihat tangan Neji yang hendak menuju bagian atas dadanya. Kedua iris lavender itu tak juga melepas matanya dari wajahnya.

"A-apa yang kau lakukan? Jangan menyentuhku!" Kata Tenten gugup.

"Kenapa? Apa kau takut?" Kedua alis Neji naik menggoda.

"Takut? Tidak! Aku hanya..."

"Hanya apa?" Sela Neji.

"Tidak memakai apapun selain jubah ini. Jadi kau tidak boleh menyentuhku." Jawab gadis itu cepat dengan kedua mata terpejam rapat.

"Umm, itu lebih baik." Desah Neji menyeringai tepat di telinga Tenten.

Tenten masih berusaha menjauhkan dirinya meski dinding ruangan juga Neji menghalangi dirinya. Kedua matanya terpejam rapat dengan kedua tangan meremas jubah putihnya takut.

'Kami-sama!' Batin Tenten menjerit.

"Huh, kau pikir apa yang akan kulakukan padamu hah?" Kata Neji tiba-tiba menjauhkan dirinya dari Tenten dengan kebingungan berputar di otaknya. "Aku hanya ingin tau, dengan sedikit godaan, apakah ada gen wanita murahan di balik kelakuan brutalmu. Ternyata memang tidak ada yang istimewa dalam dirimu." Kata Neji meninggalkan Tenten dan menghampiri Tenichi.

'Dia benar-benar brengsek!' Maki Tenten dalam hati.

"Ngomong-ngomong, apakah seorang pencopet bangun sepagi ini untuk mencopet dompet para ibu rumah tangga di pasar?" Tanya pria itu mengelus puncak kepala Tenichi.

'Kami-sama, beri aku kesabaran.' Kedua tangan gadis itu terkepal. "Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu yang sangat tidak berguna itu?"

"Biar kutebak, kau bangun pagi untuk membuatkan sarapan Kun semenjak ia tinggal bersamamu. Bukan begitu?"

"Hm." Jawab gadis itu singkat.

"Kau memang Ibu yang sangat peduli pada anak-anakmu. Tidak heran Tenichi langsung mau tidur seranjang dengan wanita yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu."

"Kau mengejekku?"

"Apa pujianku terdengar seperti ejekan bagimu?" Neji menoleh.

"Apapun yang keluar dari bibirmu terdengar seperti hinaan bagiku." Ujar Tenten singkat lalu melengos masuk ke kamar mandi.

oOo

Tenten mengemasi piring-piring juga gelas yang berada di meja makan sementara Ikuya mencuci semua yang Tenten berikan padanya. Setelah habis semua benda yang ada di meja, ia segera mengelap semua benda keramik dan kaca tersebut lalu meletakkan semuanya di rak piring sementara yang letaknya tak jauh dari tempat cucian piring.

Sesekali ia terlibat perbincangan ringan dengan Ikuya. Banyak hal yang mereka perbincangkan. Namun satu hal yang membuatnya kagok, ketika Ikuya menanyakan tentang pekerjaanya. Tidak mungkin kan ia mengatakan kalau dia adalah seorang pencopet. Bukan hanya karena ia tidak ingin semua orang mengetahui pekerjaan kotornya itu, tapi juga ia takut pandangan wanita ini terhadap Neji menjadi berbeda karena memilih seorang gadis pencopet yang sama sekali tidak pernah merasakan bangku sekolah.

"A-aku tumbuh seorang diri di lingkungan yang biasa. Kedua orangtuaku telah meninggal ketika aku masih kecil. Sejak saat itu, aku hidup atas belas kasihan orang lain sampai aku bisa mencari penghasilan sendiri. Daan~ a-aku bekerja di sebuah c-cafe. Yah, sebuah cafe." Jawab Tenten menggaruk belakang lehernya tak nyaman.

"Kau gadis yang sangat luar biasa. Pantas saja Neji-sama tertarik padamu." Ikuya terikik pelan.

"Jika boleh tau, bagamana sih seorang Neji Hyuuga itu?" Tanya Tenten penasaran.

"Bukankah kau istrinya? Kau tidak mengenal siapa suamimu?"

"B-bukan begitu. Hanya saja aku masih tidak tau kebiasaanya di rumah seperti apa."

"Oh," Ikuya mengangguk mengerti. "Neji-sama adalah pria yang pendiam. Dia hanya akan bicara jika ada perlunya. Pernah sesekali dia menjadi pria yang sangat menyenangkan. Tapi jika ia bertemu dengan orang yang tepat. Misalnya, Hinata-sama."

"Hinata?"

"Sepupu Neji-sama. Dia sangat menyayangi Hinata-sama. Bahkan dulu ketika Hinata berkenalan dengan Naruto yang kini menjadi suaminya, Neji-sama adalah orang pertama yang menyelidiki seluk-beluk Naruto. Maklum saja, diantara keturunan Hyuuga, hanya Hinata-sama yang terlahir sebagai wanita."

Gadis itu mengangkat sebelah alisnya dan mengangguk paham. Ia lantas melanjutkan aktivitasnya. Beberapa detik kemudian ia terdiam dan menoleh pada Ikuya.

"Baasan, apa Baasan tidak ingin bertanya bagaimana aku bisa berada di sini?"

Wanita senja itu tertawa lirih mendengar perkataan Tenten tanpa menghentikan kegiatanya membilas piring-piring keramik di tangannya. "Bukankah sudah jelas kau istrinya? Untuk apa lagi aku bertanya?"

"Tapi apa tidak terasa aneh bagimu? Maksudku, dengan sifat pria itu yang pendiam tiba-tiba sudah memiliki seorang istri dan dua anak?"

Ikuya berhenti dan berpaling menatap Tenten. "Neji-sama sudah menceritakan semuanya padaku pagi ini. Aku pikir semua ini hal gila yang ia karang untuk melepas stress nya di kantor. Tapi jika di pikir kembali, sedikit masuk akal mengingat sifat Neji-sama dan dirimu yang sangat bertentangan. Dan pada akhirnya, dua bocah itu yang menjadi korban akan sifat kalian."

Tenten tertunduk lesu. "Jadi Neji sudah menceritakan semuanya padamu?"

"Bukan hanya tentang Kau, Kun, dan Tenichi. Tapi juga tentang profesimu. Kenapa kau berbohong?"

"A-ah, aku tidak bermaksud untuk berbohong. Aku hanya tidak ingin kau memandang rendah Neji karena membawa gadis sepertiku kerumahnya. Sungguh hingga saat ini aku merasa tidak pantas berada di sini."

"Dasar gadis bodoh." Ikuya tertawa singkat, gadis itu mendongak bingung. "Tidak peduli seberapa hinanya dirimu, jika takdir sudah mengambil alih, tidak akan bisa di ubah sekeras apapun kau berusaha. Kini kau berada di sini, kau tidak lagi mencopet dan juga kau tidak perlu tinggal di dalam karavan yang menurut Neji-sama sangat tidak layak huni tersebut. Penderitaanmu selama ini yang membawamu hingga kesini. Tuhan mendengar doamu dan mengirim Kun dan Tenichi sebagai perantara dirimu dan Neji-sama. Dan sepertinya kalian berdua akan saling melengkapi. Neji dengan sifat arogannya, dan kau dengan kelakuan cadasmu. Kalian berdua cocok."

Gadis itu diam menatap Ikuya yang hanya tertawa pelan.

"Kau berbeda dengan gadis-gadis yang pernah di bawa Neji-sama kemari. Kau bukan pembual, kau tampil apa adanya. Gadis seperti dirimu lah yang Neji-sama cari selama ini."

Kedua bola mata Tenten membulat.

"Apa kau tau alasan Neji-sama membawamu kemari?" Tanya Ikuya mengangkat kedua alisnya. Tenten menggeleng pelan. "Neji-sama tau lingkungan seperti apa yang kau tinggali. Ia tidak ingin terjadi hal buruk menimpa Ibu dari kedua anaknya. Dia menyayangi Kun dan Tenichi. Dia berjanji padaku sebisa mungkin akan membuatmu nyaman berada di rumah ini,"

Alis Tenten berkerut 'Membuatku nyaman dengan menghinaku seperti tadi pagi?' Batinnya.

"Neji-sama senang bertemu kalian, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa memiliki tanggung jawab." Ikuya mengakhiri penjelasannya dengan helaan nafas ringan.

"Jika aku boleh tau, sudah berapa lama Baasan bekerja di sini?"

"Hampir 30 tahun. Sebelum Neji-sama lahir lebih tepatnya."

"Apa Baasan kenal dengan Hizashi?" Tanya Tenten ragu.

"Beliau yang paling berjasa di hidupku."

oOo

Tok.. tok.. tok..

Neji yang sejak tadi fokus pada layar komputer di hadapannya seketika beralih ke arah pintu kacanya. Kedua sikunya ia letakkan di atas meja sembari menunggu orang tersebut masuk.

"Neji-sama.."

Kedua alis Neji terangkat. "Ternyata kau, Matsuri."

"Aku sudah membawakan pesanan Neji-sama. Pakaian wanita, juga pakaian untuk anak laki-laki dan perempuan. Masing-masing 6 pasang." Gadis bersurai cokelat itu meletakkan beberapa kantong belanjaan di atas sofa ruangan Neji.

"Terimakasih Matsuri, kau sangat membantu."

Gadis itu mendekati meja Neji dan mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. "Dan ini kartu kreditmu, Neji-sama."

"Hm, kau boleh pergi."

"Ehm, jika aku boleh tau Neji-sama, kenapa Neji-sama menyuruhku membeli barang-barang itu di pusat perbelanjaan lain sementara kita sendiri mengelola pusat perbelanjaan yang sangat tersohor di kota ini. Apakah ada hubungannya dengan perusahaan?"

"Sama sekali tidak." Jawab pria itu tanpa menatap Matsuri.

Gadis itu tertunduk. "Neji-sama, menurut jadwal Neji-sama hari ini, perwakilan dari Uchiha Group akan datang kerumah Neji-sama untuk membahas masalah gabungan Mall kita dan Hotel milik mereka yang akan segera di bangun di pusat kota Hokkaido. Menurut persetujuan Neji-sama, anda meminta untuk mengadakan pertemuan tersebut di rumah."

Neji tercekat. Ia benar-benar lupa akan janji itu. Padahal rencanya ia ingin mengerjai gadis itu lagi semalam suntuk. Entah kenapa, ia sangat suka melihat ekspresi ketakutan Tenten ketika ia menggodanya. Seolah wajah itulah yang membuatnya tertawa di tengah kebosanannya.

"Neji-sama.." Panggil Matsuri lirih melihat Neji yang hanya diam tak bereaksi.

"Oh ya... Tentu saja. Pertemuan itu akan tetap di adakan di rumahku. Dan kau, langsung saja ikut bersamaku sepulang kerja ini. Aku butuh sekretarisku."

"B-baiklah Neji-sama." Balas Matsuri cepat.

oOo

Tenten turun segera turun hendak menuju dapur setelah ia selesai memandikan dua bocah itu. Ia bisa sedikit lebih tenang karena mereka sedang sibuk dengan komik mereka yang entah darimana mereka temukan. Tenten rasa komik-komik itu adalah milik Neji. Yah, sebagai pria seperti Neji yang selalu sibuk akan pekerjaanya sangat membutuhkan hiburan, dan komik adala salah satunya. Satu lagi kepribadian Neji yang ia tau.

Kedua mata Tenten membulat ketika ia melihat beberapa box makanan berukuran besar ada di atas meja makan. Ia menghampiri Ikuya dan juga pembantu lainnya yang masih sibuk di dapur.

"Baasan, ada apa ini? Kenapa banyak sekali makanan?"

Ikuya yang merasa di panggil segera menoleh pada Tenten dan menghentikan sesaat kegiatannya yang tengah menyiapkan piring-piring besar dari dalam rak. "Relasi Neji-sama akan datang malam ini."

"Mendadak sekali?" Kata Tenten sedikit terkejut dan segera membantu Ikuya menurunkan piring-piring tersebut.

"Hm, Neji-sama lupa akan janji itu. Maka dari itu tidak ada cukup waktu untuk memasak makanan. Aku memesan makanan dari restoran yang tidak jauh dari sini."

"Dasar Neji dungu. Membuat repot semua orang." Gumam Tenten mengangkat piring-piring yang selesai ia bersihkan ke atas meja. "Jam berapa relasi Neji-sama akan datang, Baasan?"

"Sepertinya akan datang bersamaan dengan Neji-sama. Dan memang seperti itulah biasanya."

Gadis itu mengangguk mengerti. Kedua tangannya sibuk memindahkan makanan yang berada dalam box ke atas piring saji lalu meletakkannya secantik mungkin di atas meja.

Ikuya berdiri di samping Tenten. Wanita itu sedikit tertunduk menatap Tenten lemah, "Tenten-san, Neji-sama memintaku untuk menyembunyikanmu."

"Hm, aku tau Baasan. Aku, Kun dan Tenichi tidak boleh terlihat oleh siapapun. Tidak perlu merasa cemas, aku akan pergi setelah selesai membantu Baasan." Gadis itu mengulas senyumnya.

"Kau tidak perlu pergi, Neji-sama hanya menyuruhmu untuk berada di lantai atas selama relasinya berada di sini." Jawab Ikuya cepat.

"Tidak Baasan. Akan lebih baik jika aku tidak di rumah. Mereka berdua masih kecil, tidak menutup kemungkinan mereka akan membuat kegaduhan di atas jadi daripada mengambil resiko, lebih baik kami pergi."

"Kau akan kembali bukan?" Kedua alis Ikuya terangkat.

"Mungkin." Jawab Tenten santai sembari menghela nafasnya.

Beberapa saat setelah gadis itu selesai dengan Ikuya, ia lantas naik dan menghampiri dua bocah itu yang masih sibuk dengan komiknya.

"Kun, Tenichi, bagaimana kalau kita pergi keluar? Matahari sore hari ini sangat indah."

"Benarkah? Kemana?" Tanya Tenichi antusias.

"Entahlah. Bagaimana kalau ke kedai ice cream? Di dekat rumahku ada kedai ice cream yang sangat lezat dan murah. Bagaimana menurutmu?" Gadis itu menaikkan kedua alisnya.

"Hm, tempo hari aku di ajak Kaasan ke kedai ice cream itu. Kau harus mencobanya Tenichi." Kun angkat bicara.

"Hm, aku mau!"

oOo

Jamuan makan perwakilan Uchiha oleh Neji berjalan sangat baik. Bahkan perncanaan yang mereka rencanakan jauh-jauh hari juga sudah hampir final. Kesepakatan antara dua perusahaan besar telah di umumkan. Yang tersisa hanyalah pembebasan lahan untuk melancarkan bisnis mereka yang akan segera berjalan.

"Terimakasih Tuan Hyuuga karena mau bergabung dengan kami." Kata Uchiha itu menjabat tangan Neji.

"Hm, aku juga berterimakasih atas kerjasama yang sangat menguntungkan ini Tuan Itachi, semoga bisnis kita berjalan dengan lancar."

"Terimakasih juga untuk jamuan makan malammu Neji, kami sangat puas."

"Bukan masalah Itachi." Kedua pria itu mengulas senyumnya.

"Terimakasih Neji-sama." Ucap sekretaris Itachi.

"Sama-sama Ino-san."

Itachi dan sekretarisnya yang bersurai pirang itu segera pergi meninggalkan kediaman Neji. Meninggalkan Neji dan Matsuri yang masih berdiri di ambang pintu melihat mobil Uchiha itu keluar dari rumahnya.

Sepeninggal relasinya tersebut, Neji segera masuk dan naik ke lantai dua. Sementara Matsuri yang masih berada di sana berniat untuk membantu Ikuya membereskan meja makan.

"Matsuri-san, tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. Istirahatlah. Kau pasti lelah." Kata Ikuya mengulas senyumnya kecil.

"Tidak Baasan. Aku sama sekali tidak lelah." Balas gadis bersurai cokelat itu.

Suara gemuruh kaki dari lantai atas yang sedikit memekakan telinga perlahan menghilang ketika si pembuat gaduh itu turun dan menghampiri dua wanita yang tengah sibuk dengan kegiatannya. Pria itu menatap Ikuya dengan nafas memburu.

"Kemana mereka?" Tanya Neji to the point.

"Mereka siapa?" Matsuri menatap keduanya heran dengan alis terangkat.

Ikuya tercekat ketika pertanyaan itu keluar dari bibir Matsuri.

"B-bukan siapa-siapa. Ayo, kuantar kau pulang ini sudah larut." Sergah Neji.

"Tidak perlu Neji-sama, aku bisa naik taksi."

"Tidak akam kubiarkan. Ayolah, tidak baik malam-malam wanita pulang seorang diri." Pria itu menarik Matsuri.

Setelah gadis itu mendapatkan tasnya yang ia letakkan di sofa, ia segera mengikuti Neji keluar dan segera masuk kedalam mobil Hyuuga tersebut. Setengah jam perjalanan yang di butuhkan kedunya untuk sampai di rumah sekretarisnya. Setelah Neji memastikan sekretarisnya itu sampai rumah dengan selamat, ia lantas memacu mobilnya keluar. Sesaat Neji meraih ponselnya yang ia letakkan di sebelahnya. Ia menekan sesaat panggilan cepat di ponselnya. Sebenarnya ia sangat benci mengemudi sambil menggunakan ponsel. Tapi ini adalah keadaan darurat.

Beberapa detik kemudian ia meletakkan kembali ponselnya setelah Ikuya yang mengangkat telefon di rumahnya mengabarkan kalau Tenten, Kun, dan Tenichi belum juga pulang. Pria itu menggeram kesal. Ia meremas kemudinya geram. Pantas saja sejak tadi ia tidak mendengar suara gaduh dari lantai atas. Ikuya juga tidak memberitahu kalau gadis itu membawa anak-anaknya pergi.

Neji akhirnya memilih untuk mendatangi rumah Tenten yang sebelumnya. Lagi-lagi ia di buat muak oleh tempat kumuh ini. Rasanya ia ingin lekas pergi dari kawasan ini. Tapi mau tidak mau ia harus masuk jika ingin menemukan anak-anaknya kembali.

Pria itu segera turun setelah ia memarkirkan kendaraanya tak jauh dari karavan Tenten. Suasanya sangat sunyi, tentu saja ini sudah hampir jam 11 malam. Tidak beda jauh dengan karavan abu-abu yang hendak Neji tuju, karavan tersebut tampak sepi-sepi saja seolah tidak ada orang di dalamnya. Kedua tangan pria itu mengetuk pelan pintu usang di depannya. Berkali-kali mengetuk namun tetap tidak ada sahutan dari dalam. Bahkan sesekali ia mengetuk besi dari karavan tersebut siapa tau gadis itu tidak mendengar ketukannya di pintu.

"Hei bung, ini sudah pukul 11 malam. Kau berisik sekali." Kata seseorang tiba-tiba keluar dari sebuah rumah yang tak kalah parahnya dari karavan Tenten. "Anak dan istriku butuh ketenangan untuk tidur." Imbuh pria yang memiliki dua buah tato di masing-masing lengannya tersebut.

"Maaf jika aku menganggumu. Tapi apa kau tau kemana pemilik karavan ini?" Tanya Neji beralih menatap pria dengan dandanan khas preman tersebut.

Pria itu menguap lebar sebelum menjawab pertanyaan Neji. Jelas sekali pria itu baru tidur dan terbangun karena suara berisik Neji.

"Tenten? Sepertinya dia tidak pulang sejak kemarin. Kami semua juga mencari gadis itu. Seseorang melihat kemarin malam dia di paksa masuk ke sebuah mobil hitam. Dan sejak saat itu dia tidak kembali." Ujarnya berkacak pinggang dengan menampakkan tampang malas.

Neji berpikir sesaat. Jelas yang di maksud pria gahar ini adalah dirinya. Tapi jika gadis itu tidak berada di sini, lalu kemana Tenten membawa anak-anaknya.

"Tapi kau ini siapa? Sepertinya aku baru melihatmu." Tanya pria itu.

"Maaf, aku harus pergi." Kata Neji berlalu.

"Oh ya, sampaikan juga pada temanmu yang berjas satunya itu, kami belum menemukan Tenten. Kami sedang mencarinya." Perkataan pria itu menghentikan langkah Neji.

"Pria berjas?" Neji berbalik.

"Hm, kau memakai jas dan pria yang tadi pagi kemari juga menggunakan jas. Kalian berteman bukan?"

"Siapa dia?"

"Aku tidak tau siapa dia. Tapi dia memberiku uang untuk menemukan gadis itu."

"Kau yakin yang dia cari adalah Tenten?" Neji menatap pria itu datar.

"Tentu saja. Jauh sebelum kau kemari, pria itu sering mengunjungi Tenten. Sepertinya dia kekasih Tenten."

'Kekasih?' Kedua alis Neji berkerut.

"Hm. Dan kau, siapa dirimu?"

"Aku suaminya!" Jawab Neji singkat lalu pergi dari tempat itu meninggalkan preman tersebut dengan mulut menganga lebar.

oOo

"Demi Tuhan Ten, kau dimana?!" Gumam Neji frustasi.

Ia mencari kesemua tempat yang sekiranya akan gadis itu datangi. Namun ia tidak juga menemukan gadis itu. Harusnya ia tidak terlalu cuek dengan gadis itu, harusnya ia lebih mendekatkan diri padanya. Di situasi seperti ini, akan sangat menguntungkan jika seandainya ia tau tempat mana saja yang biasanya Tenten datangi. Terlebih ia telah menyerahkan kedua anaknya pada Tenten, otomatis apapun yang gadis itu lakukan serta dimanapun dia berada, Neji harus mengetahuinnya.

Drrt.. drrt..

Ponsel Neji bergetar cepat. Seketika pria itu meraih ponselnya dan menerima panggilan masuk tersebut.

[Neji-sama, Kun dan Tenichi sudah kembali.]

Neji bernafas lega mendengar kabar dari Ikuya barusan. Bagai air es yang memadamkan kobaran api di kepalanya, semua beban Neji terasa hilang seketika itu juga.

"Baiklah Baasan, aku segera pulang."

Tanpa banyak bicara Neji mengakhiri panggilan tersebut dan melajukan mobilnya secepat yang ia bisa. Jujur saja ia sangat lelah, tapi saat melihat kedua anaknya, rasa lelahnya selalu lenyap entah kemana.

Waktu 30 menit yang harusnya ia tempuh menuju rumahnya berganti menjadi 15 menit di karenakan Hyuuga itu yang mengemudi layaknya sesosok iblis telah merasuki dirinya. Yang ada di pikirannya hanyalah Kun, Tenichi, dan Tenten. Terlebih gadis itu, ia harus bertanya banyak padanya karena telah membawa anaknya pergi entah kemana.

"Dimana mereka?" Tanya Neji tanpa Basa-basi begitu Ikuya membuka pintu untuknya.

"Diatas, Tenten-san sedang menidurkan Kun dan Tenichi."

Pria itu segera melangkah pergi menuju kamar Kun dan Tenichi. Ia membuka pelan knop pintu kamar dua bocah itu, takut jika Kun dan Tenichi sudah tertidur dan akan terbangun jika mendengar suara bising yang mungkin saja ia hasilkan. Dan benar saja, Tenichi telah terlelap di atas ranjang dengan piyama bergambar beruang. Begitu juga dengan Kun yang mulai menyebrangi alam mimpinya di ranjang bagian atas. Sementara Tenten, gadis itu tengah merapikan baju-baju Kun dan Tenichi dari dalam tas belanjaan untuk segera di masukkan kedalam lemari pakaian. Meski ruangan minim cahaya karena Tenten mematikan lampunya dan menggantinya dengan lampu tidur, Iris amethys Hyuuga itu dapat melihat jelas apa yang di lakukan Tenten.

Neji melangkah masuk lalu menutup perlahan pintu kamar tersebut dan menghampiri Tenten yang masih tidak menyadari keberadaanya.

"Darimana saja kau?"

Suara Neji membuat gadis itu tersentak. Saking kagetnya, Tenten hampir saja menjatuhkan tas belanjaan yang sudah kosong di tangannya. Gadis itu seraya mundur dan memicingkan matanya.

"Neji?" Lirih Tenten.

"Hm," Balas Hyuuga itu meyakinkan Tenten bahwa itu adalah dirinya.

"Bisakah kita bicara di tempat lain saja? Anak-anak sudah tertidur."

"Aku tunggu kau di kamarku." Ujar Neji cepat lalu pergi keluar meniggalkan Tenten yang termangu di tempat.

"Hm," Balasnya lemah.

Tenten segera membereskan semua tas belanjaan di tangannya lalu menyusul Neji yang sudah keluar terlebih dahulu. Ketika telah berada di luar kamar Kun dan Tenichi, ia berpikir sesaat, kamar mana yang pria itu maksud? Semua kamar di rumah ini adalah miliknya bukan? Baiklah, sepertinya di antara dua kamar utama itu.

Gadis itu segera membuka pintu kamar yang ia tempati sebelumnya, namun tidak ada seorang pun di dalam. Sebelah alisnya terangkat cepat. Otomatis ia beralih menuju kamar yang satunya. Kedua matanya mendapati Neji yang tengah membuka deretan kancing kemeja putihnya dengan posisi membelakanginya. Tenten lalu masuk bersamaan dengan Neji yang melemparkan kemeja tersebut kedalam sebuah keranjang berisi pakaian kotor di sebelah lemarinya.

"Kemana kau membawa Kun dan Tenichi?" Tanya Neji tanpa membalikkan badannya.

Gadis itu menepi di sudut kamar Neji. Kedua tangannya terlipat di depan tak mendekatkan dirinya pada pria itu yang masih melepas jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.

"Aku hanya membawa mereka ke kedai ice cream di dekat rumahku." Balasnya santai.

"Hingga selarut ini?"

Meski tak menatapnya, Tenten tau seperti apa wajah Neji saat ini.

"Aku ada sedikit urusan."

"Urusan apa?"

Gadis itu gelagapan. Kedua matanya berlarian kesana kemari mencari alasan. Apakah ia harus jujur pada pria ini? Tapi jika di pikir lagi, tidak ada gunanya juga Neji mengetahuinya. Yang ada mungkin Neji akan melarangnya.

"Kau tidak mencopet lagi, kan?

Tenten seketika mendongak mendengar pertanyaan Neji, "Tentu saja tidak!"

"Lalu apa yang kau lakukan?"

Tenten diam, ia tidak tau harus menjawab apa. Dan ia sangat tidak nyaman berada di posisi ini sekarang.

"Kau tidak mau mengatakannya?" Neji diam sesaat masih tak menunjukkan wajahnya pada Tenten. "Tidak masalah. Aku hanya akan menyuruh seseorang untuk memata-mataimu."

Kedua mata Tenten membulat terkejut. Kedua alisnya mengernyit heran, 'Memata-mataiku?' Batinnya. "Jangan coba-coba! Kau pikir kau siapa seenaknya mengekangku?"

Kini Neji berbalik. Ia memperlihatkan wajah dinginnya pada Tenten dan membuat gadis itu seketika terpaku di tempat melihat wajah mengerikan itu.

"Kau lupa siapa dirimu? Apa hubungamu denganku? Apa aku perlu mengingatkan lagi tentang peranmu di sini?" Lelaki itu melangkah mendekati Tenten.

"Hyuuga, aku tau posisiku saat ini dan kau tidak perlu mengingatkanku tentang hal itu.." Tenten berusaha bersikap santai meski Hyuuga itu masih tidak menghentikan langkahnya.

"..tapi kau terlalu berlebihan jika kau benar-benar menyewa orang untuk memata-mataiku, jadi.." Ia berhenti sesaat berusaha menstabilkan detak jantungnya yang sudah melebihi batas normal. Hanya tinggal beberapa langkah lagi pria itu akan mencapai dirinya, sedangkan ia berada di sudut ruangan antara dinding dan rak buku yang menjulang tinggi di belakangnya.

"Lanjutkan," Kata Neji menatap Tenten dingin.

"Jadi.. Berhentilah menatapku dengan tatapnmu itu dan berhentilah mendekatiku, kau membuatku takut!"

Belum sehari ia melewati harinya di rumah Neji, tapi dia sudah dua kali merasakan bagaimana rasanya di pojokkan oleh seorang Hyuuga Neji. Ia bersumpah ia sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini.

"Sederhana, katakan saja apa yang kau lakukan seharian ini bersama anak-anakku." Akhirnya tubuh pria itu benar-benar berada di hadapan Tenten, memenjarakan gadis itu menggunakan kedua lengan kekarnya yang tak terbalut apapun. Sedetik kemudian Neji memiringkan kepalanya mendekati bibir Tenten. Bukan untuk mencium gadis itu, hanya tinggal beberapa centi, Neji membuka mulutnya bersuara "Kau... tidak mengajak mereka bertemu dengan kekasihmu bukan?" Seringai licik terulas dari bibir Neji.

Kedua mata Tenten terpejam rapat. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya menahan gejolak amarah dingin yang pria itu berikan padanya. Ia bersungguh-sungguh, seberapa keras pun suara gaduh yang ada di sekitarnya, kedua telinganya tidak dapat mendengar apapun. Seolah kedua telinga tersebut tidak berfungsi seperti telinga kebanyakan. Yang ia dengar hanyalah suara 'nging' tinggi juga memekakan telinganya. Berada di posisi seperti ini membuatnya bungkam seribu bahasa. Jangankan untuk bicara, untuk bernafas saja ia sudah lupa bagaimana cara melakukannya. Di tambah lagi pria ini tak kunjung menjauhkan wajah tampannya dari dirinya.

"Hei, aku bicara denganmu Wanita." Lirih Neji memiringkan kepalanya ke sisi yang lainnya.

"Pertama, bagaimana kalau kita berbicara secara harfiah? Maksudku, dengan posisi normal seperti yang biasa orang lain lakukan?" Kata Tenten dengan suara lirih.

"Aku suka dengan posisi seperti ini. Terlebih denganmu. Kebanyakan wanita yang kutemui akan selalu membalas perlakuanku, tapi kau.. untuk sesaat aku berpikir jika kau adalah seorang penyuka sesama jenis. Tapi kurasa tidak. Semburat merah di kedua pipimu menjawab pertanyaan menggelikan itu."

Seketika kedua tangan Tenten menutupi semburat merah itu dengan kedua mata terbelalak menatap Neji yang hanya berjarak beberapa centi darinya. Iris hazel dan iris amethys bertemu. Keduanya merasakan keteduhan yang amat sangat menyejukkan di kala dua bola mata itu saling tatap tanpa di komando.

Kelopak mata keduanya perlahan menutup tanpa mereka sadari. Dalam alam bawah sadarnya Tenten merasa wajah itu semakin mendekat kepadanya. Beberapa detik kemudian bibir tipis seorang Hyuuga sudah menyatu dengan bibir seorang gadis biasa tanpa marga. Tidak ada gerakan ataupun lumatan. Hanya menyambung satu sama lain dalam keadaan bibir keduanya yang terkatup. Rencana Neji untuk menggoda gadis itu berganti dengan situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

'Sial! Aku terbawa suasana.' Batin Neji tanpa menjauhkan bibirnya dari Tenten barang hanya se-centi saja.

Entah hanya perasaanya saja atau bagaimana, Neji merasa bibir gadis itu semakin menekannya. Membuat dirinya memundurkan sedikit kepalanya. Kedua mata Neji terbuka begitu Tenten itu ambruk ke sisi kanannya. Baiklah, gadis itu pingsan. Entah apa penyebabnya karena sejak tadi Neji pikir gadis ini dalam keadaan baik-baik saja.

Praktis ia menyangga tubuh Tenten agar tidak jatuh mengenai lantai marmer keras di bawahnya. Sesaat ia memperhatikan wajah gadis itu.

'Benar-benar pucat.' Batinnya membopong tubuh wanita itu keranjangnya.

Setelah berada di atas ranjang, sesaat punggung tangan Neji menyentuh dahi Tenten. Suhu tubuhnya tidak naik, lalu kenapa ia bisa sepucat ini?

Kedua bahunya mengedik santai. Ia lantas meninggalkan Tenten dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Beberapa menit setelah Neji pergi, Tenten bangkit dari tidurnya dan pergi keluar meninggalkan kamar terkutuk itu. Gadis itu berlari keluar kamar dengan sisa tenaga yang ia miliki menuju kamarnya sendiri. Setelah berada dalam kamarnya, Tenten segera mengunci pintu tersebut dan merosot turun dengan degup jantung yang tidak karuan. Ia menutup kedua matanya lega.

'Hanya itu yang bisa kulakukan agar bebas dari Hyuuga itu.'

Yah, sangat kampungan memang. Ia harus pura-pura pingsan agar ia bebas dari situasi di luar kendali itu. Jika saja pria itu tau, beberapa detik sebelum Tenten melancarkan aksinya, jantungnya benar-benar berhenti untuk sesaat. Hampir ia pingsan jika saja alam bawah sadarnya tidak membangunkannya dan ide gila tersebut muncul di otaknya.

.

Neji keluar dari kamar mandi menggunakan bawahan piyama panjang, bertelanjang dada dengan sebuah handuk putih ia gosokkan pada kepalanya. Ia terkejut saat mendapati gadis itu tidak lagi berada di sana. Pintu kamarnya juga terbuka lebar. Di lihatnya dari dalam kamar, pintu kamar yang tepat berada di depannya tertutup rapat. Kedua ujung bibir Neji terangkat. Ia tertawa renyah sembari menggosokkan handuk di tangannya santai.

"Pemikiran yang sangat cepat." Gumamnya menutup pintu kamarnya.

To Be Continued

Hulahaaaa~ seperti perminataan minna-san sekaliaan, Ran update kilattt sekilat om Flash XD How? Semakin hancur, semakin nggak jelas dan semakin nista? XD Okelah, Ran hanya mau berpesan mungkin di chapter depan orang ketiga, keempat, dan kelima (?) di antara Neji dan Tenten akan muncul, so harap tabahkan hati ya baca chapter depan jikalau perhatian Tenten terbagi 4 (?) XD *iyalah, ada Neji, Kun, sama Tenichi, dan coming soon* Maafkan Ran yang membuat alur cerita di sini menjadi lambat selambat jalan pikiran Ran yang dari dulu nggak pernah berkembang hingga bisa bikin fanfic2 keren kaya milik senpai2 sekalian TAT. Padahal keinginan itu sangat menggebu-gebu TAT *pundung*

Shinji r: Hai~ sepertinya words chapter kali ini lebih panjang. See you ^-^

Akira Ken: Oh, maafkan Ran tentang fanfic Tell Me Akira-san, lagi2 otak Ran sedikit bermasalah dengan fanfic itu. Belum ada feel padahal kemarin sempat muncul TAT. Maafkan Ran sekali lagi, tapi tenang aja Tell Me nggak akan berhenti di tengah jalan kok TAT *meski nggak tau sampe kapan*

Marin Choi: Haloha ^-^ Ehehe, makasih Marin-san masih setia sama fanfic ini :) Buat chap yang banyak? Ohohoho, itu tergantung gimana nanti jalan ceritanya XD Yoshh! Next chapter masih di nanti kah?

KimiKishi821: Hei hei, salam kenal ^-^ Sipp, update kilat seperti permintaan Kimi-san sudah terkabul XD Terimakasih sudah mampir ^.^ *tosh* sesama NejiTen shipper

Yuni: Yakk, chapter 4 complete! Terimakasih udah mampir ^-^

Sooya: Hap, udah di lanjut ^-^

Sherry ai: Mungkin emang dulu cita2 Neji mau jadi satpol pp tapi nggak kesampaian XD *di gampar* Ehm.. Ran-san, Megumi atau apapun boleh kok ^-^ Selalu, Ran selalu memberi cinta di setiap fanfic Tenten yang Ran buat. Cukup sudah ia ngenes di serialnya, tidak akan Ran biarkan Tenten ngenes di dunia fanfiction juga TAT

Guest: Hai ^-^ Terimakasih udah baca. See you di chapter selanjutnya :))

Log in? Cek PM ^-^

Done! Sampai di sini dulu chapter 4. Review Please! Review itu penting ;)