Gadis Pencuri
Disclaimer: Masashi Kishimoto
By: Ran Megumi
Rated: T
Typo, Abal, OOC
Don't like don't read
No Flame
RnR
Pukul 9 pagi. Tenten benar-benar terlambat. Gadis itu segera melompat dari ranjang setelah ia sadar ia sangat terlambat. Tak butuh waktu lama setelah ia membersihkan dirinya ia menyambar beberapa helai baju dari dalam lemari dan lekas memakainya. Beruntung pria dungu itu membelikannya sebuah kemeja. Dengan begitu ia tidak perlu repot pulang kerumah untuk mengambil pakaiannya di hari pertamanya bekerja.
Selesai. Kemeja putih, celana jeans dan dua cepol rambut seperti yang biasa ia gunakan sehari-hari. Sebuah tas kecil yang ia gantung di bahu kirinya semakin melengkapi penampilannya. Yang tinggal ia lakukan kini hanyalah berlari menuju halte bus lalu pergi ketempat kerja barunya. Ya, inilah yang ia sembunyikam dari Neji. Tenten bekerja. Pria itu bisa saja menyuruhnya tinggal di rumahnya, merawat anak-anaknya, dan menuruti semua perintahnya. Tapi Tenten tidak akan membiarkan Hyuuga itu meminantanya untuk berdiam diri tidak melakukan apapun. Ia lebih baik berjalan di atas sehelai rambut yang di bawahanya terdapat kubangan api neraka daripada harus berdiam diri tak melakukan apapun. Tenten sungguh tidak bisa melakukan hal itu. Sebenarnya ia sangat rindu ingin mencopet, tapi Tenten ingin menjaga nama baik Hyuuga itu.
Flat shoes yang berwarna senada dengan iris hazel Tenten berlari kecil menuruni tangga. Ia benar-benar terlambat. Ia hanya memiliki sisa waktu 30 menit lagi sebelum bos nya datang. Ia tidak mau terlambat dan mencoreng namanya di depan bos nya di hari pertamanya bekerja. Semua ini karena Hyuuga itu. Lagi-lagi karena pria itu. Tentu saja, siapa lagi? Semenjak Neji masuk kedalam kehidupannya, Tenten merasa hidupnya semakin rumit. Jika saja Neji tidak menciumnya dan membuatnya insomnia, sudah jelas sekarang ia sudah berada di tempat kerjanya.
"Tenten-san, kau mau kemana?"
Gadis itu terkejut. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Ikuya berada di belakangnya yang hendak menuju pintu. Tenten diam sesaat. Haruskah ia memberitahukan tentang ini pada Ikuya? Bukankah Ikuya sangat setia pada Neji? Bagaimana jika wanita itu memberitahu Neji jika mulai hari ini ia bekerja? Bisa-bisa pria itu melarangnya dan kemungkinan yang lebih ekstrim lagi, Neji akan menguncinya di kamar. Ia bersumpah, sungguh ia tidak bisa berdiam diri di rumah saja. Itu membuatnya gila.
"Kau.." Sebelah alis Ikuya terangkat menatap Tenten.
"Baasan, kumohon padamu jangan katakan apapun pada Neji. Mulai hari ini aku bekerja. Jika kau mengatakan pada Neji, mungkin laki-laki itu akan membuat sel tahanan di kamarku. Kumohon." Pinta Tenten dengan mata terpejam.
"Bekerja.." Ikuya menatap Tenten ragu.
Tenten yang tau maksud Ikuya segera mengangkat kedua alisnya, "Bekerja dalam arti yang sebenarnya. Aku di terima bekerja di sebuah restoran bubur sebagai office girl." Jelasnya cepat.
Wanita itu diam sesaat. "Tenten-san, jika Neji-sama tau kau bisa..."
"Dibunuhnya. Aku tau. Maka dari itu aku mohon jangan katakan apapun pada Neji. Suatu saat nanti aku akan mengatakan ini pada Neji. Tapi tidak untuk sekarang. Aku belum siap." Sela Tenten di tengah kegundahannya yang makin terlambat.
"Baiklah cepat pergi sebelum kau terlambat. Tenang saja, aku tidak akan membuka mulutku tanpa seizinmu." Wanita itu mengulas senyum dengan kedua tangan yang penuh dengan pakaian kotor Neji.
"Terimakasih Baasan."
.
Hanya kurang dari 3 menit Tenten sudah berhasil mencapai pintu kedai setelah ia berlari sekencang yang ia bisa. Ia merada stroke ringan ketika matanya melihat sebuah mobil berwarna silver sudah terparkir dengan cantik di depan restoran. Baiklah, mungkin bos mudanya sekarang sudah berada di ruangannya. Yang harus ia lakukan sekarang hanyalah cek log dan mulai bekerja.
Baru saja ia hendak menyentuh gagang pintu ruang ganti, seseorang menepuk bahunya. Mau tidak mau Tenten berpaling dan menatap salah satu pegawai yang berdiri di belakangnya.
"Menma-sama menunggumu di ruangannya." Katanya.
'Menma?' Batin Tenten sesaat. "Baiklah. Terimakasih.. Ajisai-san." Jawab Tenten sembari memicingkan matanya membaca tag name pada baju perempuan berambut ungu tersebut.
Gadis itu melenggang masuk kedalam ruang ganti dan segera mengganti pakaiannya dengan kaos cafe berwarna hitam dengan aksen garis orange di sisinya. Tak lupa juga topi yang bergambar lambang cafe tempat ia bekerja.
Tenten sedikit memindik begitu suhu dingin AC di ruangan bos nya menerpa kulitnya. Ia melihat bosnya tengah memainkan ponsel di tangannya sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia memiringkan kepalanya kekanan melihat pria di hadapannya. Gadis itu heran. Seingatnya kemarin yang berbicara dengannya pria berambut cokelat dengan gurat merah di kedua pipinya, tapi dia..
"Apa kau bertanya siapa aku?" Tanya beranjak berdiri dan membungkuk dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas meja sebagai tumpuan. "Baiklah, kita kesampingkan masalah itu. Aku mendengar HRD ku, Kiba Inuzuka menerima pegawai baru. Kau yakin bisa bekerja di sini dengan baik?" Tanyanya menatap Tenten.
"Aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin." Jawab Tenten antusias.
"Dengan terlambat di hari pertamamu bekerja?" Kedua tangan pria berambut raven itu ia masukkan kedalam saku celana.
"Maafkan aku soal itu. Ada sedikit masalah yang membuatku sedikit terlambat." Gadis itu menunduk.
"Kau membuat catatan buruk di hari pertamamu. Aku tidak yakin kau tidak mengulangi kesalahanmu lagi di kemudian hari." Tatapan dingin dari mata tajam itu membuat Tenten bergidik ngeri. "Kau kupecat."
Kata terakhir yang di lontarkan oleh bos barunya itu membuatnya terkejut bukan main. Apa-apaan ini? Belum satu jam ia bekerja dan sudah terkena PHK?
"Ta-tapi Menma-sama..."
"Kau tidak dengar apa yang kau katakan? Keluar dari sini." Balasnya dingin lalu kembali duduk.
"T-tunggu. Beri aku satu kesempatan, aku berjanji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Kumohon." Pintanya menakupkan kedua tangannya dengan mimik wajah memohon.
"Keluar." Kata pria itu tanpa menatap Tenten yang masih membeku di depan pintu.
"Ada dua anak yang harus kuhidupi!" Kata Tenten tiba-tiba dan sukses membuat pria itu berpaling cepat menatapnya.
"Apa kau bilang?" Tanyanya memastikan.
"Ada dua orang anak yang harus kuhidupi, jadi kumohon terima aku. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini." Imbuhnya bersuara pelan.
Pria itu kembali berdiri dan berjalan perlahan menghampiri gadis bersurai cokelat itu tanpa melepas matanya.
"Kau memiliki anak?" Tanya Menma sakartis. "Di daftar riwayat hidupmu kau bilang kau masih lajang. Dan kini kau bilang kau memiliki dua anak?" Sebelah alisnya terangkat.
Gadis itu mengerjap cepat. Di detik itu dia merasa dia adalah wanita paling bodoh di dunia. Bagaimana bisa dia menggunakan alasan seperti itu agar di terima bekerja di sini? Tapi apa boleh buat, lebih baik seperti ini daripada ia harus menjadi pengangguran di rumah sebesar itu.
"Nona?" Panggil Menma hingga gadis itu sadar dari lamunan sesaatnya.
Tenten segera bangkit dari alam bawah sadarnya. Seketika gadis itu menunduk meghindari iris berbeda warna tersebut yang masih menatapnya.
"A-ada satu masalah tentang yang tidak bisa kukatakan. Yang bisa kuberitahu padamu hanyalah aku membutuhkan pekerjaan ini." Tenten tertunduk.
"Kau bekerja di restoranku dan kau tidak mengatakan apapun tentang latar belakangmu padaku? Apa itu masuk akal?"
"T-tidak Menma-sama."
"Jadi katakan, apa maksud perktaanmu barusan?"
"Ehm, begini. Anggap saja aku memiliki dua anak yang telah di tunjang kehidupannya oleh mantan suamiku dan aku membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi diriku sendiri." Tawa renyah keluar dari bibir Tenten.
"Jadi kau seorang janda." Kata Menma membuat Tenten sontak membelalakkan kedua matanya. Janda? Hei, kekasih pun ia tidak punya. Bagaimana bisa kini ia di cap sebagai janda? Baiklah, ia akui semua ini akibat pengakuannya tadi. Tidak salah jika bos mudanya ini menganggapnya sebagai seorang janda.
"Ehm, ya. Dan bukankah seorang janda dan lansia di pelihara oleh negara? Maka dari itu dengan Menma-sama menerimaku bekerja di sini, sudah membantu meringankan beban pemerintah. Dengan begitu dana yang pemerintah alokasikan untukku bisa di berikan pada lansia yang lebih membutuhkan. Toh aku juga masih sanggup bekerja." Kedua iris Tenten memutar setelah berhasil menciptakan beberapa alasan pada pria di hadapannya.
oOo
Neji mempercepat langkahnya menuju ruangannya di ikuti Matsuri yang mengekorinya dari belakang. Beberapa menit yang lalu gadis itu sengaja menunggu Neji di depan kantor di karenakan bos nya tersebut yang tak kunjung datang sementara Hiashi sudah mulai uring-uringan karena keponakannya tersebut tidak muncul juga. Setelah sedan Neji tampak, dengan sigap Matsuri membuka pintu mobil Neji dan memberitahukan bahwa Hisashi sudah berada di runganya sejak 30 menit yang lalu. Sesaat Neji melirik rolex hitamnya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Keduanya langsung masuk kedalam lift begitu salah satunya ada yang terbuka. Masih dengan wajah datarnya, Neji keluar dari lift dan langsung berjalan masuk ke ruangannya. Dan benar saja, pria tua itu sudah duduk di kursinya sembari menyesap secangkir kopi yang Matsuri sediakan untuknya sembari menunggu keponakannya yang tak kunjung datang.
"Aku tidak pernah menunggumu selama ini Neji. Apakah ada masalah?" Tanya Hiashi seraya mengahampiri Neji dan menepuk punggung lelaki itu yang berdiri tak jauh darinya.
"Sedikit masalah kecil di pagi hari Paman." Jawabnya singkat.
"Lalu bagaimana kerjasama kita dengan Uchiha? Apakah lancar?"
"Sesuai permintaan Paman, aku menanamkan 10 persen sahamku dan 25 persen saham milik Hinata agar Hinata juga dapat mengelola mall di Hokkaido selagi aku sibuk dengan kantor pusat. Dengan sedikit negosiasi, perwakilan Uchiha mengatakan mereka menerimanya dan bisa mulai di kerjakan proyeknya. Yang harus kami lakukan sekarang hanyalah melakukan pengosongan lahan. Sejauh ini kudengar kami masih dalam tahap negosiasi dengan warga setempat."
"Kerja bagus Neji. Namun perlu di ingat, kau juga harus terus memperhatikan perkembangan kantor pusat. Jika kantor pusat lengah sedikit saja, efek domino yang di timbulkan akan memperburuk keadaan kantor dan mall cabang milik kita. Jangan terlalu memusingkan Hokkaido, Hinata bisa mengatasinya." Kata pria itu seraya mengajak Neji duduk di sofa di sudut ruangan.
"Aku tau Paman." Pria itu membetulkan jasnya.
"Bagaimana kabar Boruto dan Himawari?"
"Mereka berdua tidak mau pulang sejak Hinata dan Naruto berkunjung kerumahku kemarin. Mereka bilang ingin menginap di rumahmu. Mereka rindu padamu juga tempura buatan Ikuya."
Tak perlu waktu lama wajah dingin khas Hyuuga milik Neji seketika luntur mendengar dua keponakannya ingin menginap di rumahnya. Jika sebelumnya ia akan baik-baik saja bahkan senang bila dua anak itu menginap di rumahnya, kini ia harus berpikir dua kali mengingat keadaannya kini yang berbeda.
"Mungkin sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju rumahmu bersama dengan supir pribadi Hinata." Imbuh Hisashi semakin membuat degup jantung Neji tidak karuan.
"Ehm, Matsuri-san tolong kau ajak Hiashi-sama untuk melihat produk terbaru yang tak lama lagi akan kita luncurkan." Pria itu menatap Matsuri dengan wajah gugup.
"Tapi Neji-sama, produk itu baru selesai 70 persen." Jawab Matsuri bingung.
"Mungkin akan lebih baik jika Hiashi-sama memeriksanya barang kali dia memiliki masukan untuk produk itu." Sergah Neji.
"Ide yang bagus." Kata Hiashi berdiri dan membetulkan jas nya yang sedikit kusut.
"B-baiklah Neji-sama. Mari ikut denganku Hiashi-sama." Matsuri berjalan terlebih dahulu dan mempersilahkan Hisashi keluar ruangan.
Sepeninggal mereka berdua otot Neji yang sedari tadi terasa kaku sedikit meregang. Segera ia merogoh ponselnya di sakunya dan menghubungi Ikuya. Tentu semua tau apa yang akan Neji lakukan.
Setelah nada 'tuut' terdengar beberapa kali, terdengar suara bocah kecil dari sana.
[Hallo, keluarga Hyuuga di sini.] Katanya dengan suara cemprengnya.
'Sial! Himawari.' Batin Neji merutuk dirinya sendiri.
"Hi-Himawari," Panggil Neji pada bocah kecil itu di seberang.
[Jiisan!] Seru gadis itu antusias.
"Hei, k-kau sudah berada di sana ternyata. B-bagaimana? Apa kau senang? D-dimana kakakmu?" Tanya Neji terbata.
[Dia sedang bermain dengan Kun-san. Sedangkan aku dan Tenichi membantu Ikuya Baasan membuat tempura. Kenapa Jiisan tidak bilang kalau Jiisan sudah memiliki anak?] Celotehnya tanpa henti.
'Kami-sama, pertanda buruk apalagi ini?' Batin Neji berteriak. "Ehm, nikmati saja hari kalian di sana. Akan kujelaskan semuanya ketika aku sudah sampai di rumah. Titipkan juga salamku untuk Bibi Tenten dan kakakmu."
[Bibi Tenten? Siapa dia?] Tanya Himawari praktis membuat Neji kembali terkejut untuk yang kedua kalinya. Bagaimana mungkin mereka bertemu dengan Kun dan Tenichi tanpa melihat Tenten?
"T-tidak Hima, bukan siapa-siapa. Aku harus bekerja, sampaikan salamku pada kakakmu saja. Hari ini aku akan pulang cepat, katakan pada Ikuya Baasan untuk membuat banyak makanan." Pria itu mengakhiri percakapannya. Ia meremas ponsel di tangannya sembari menatap geram kearah jendela kaca ruangannya.
"Kemana lagi gadis itu?"
oOo
Pukul 4 sore. Tenten masih berkutat dengan sapu dan kain lap yang ia letakkan di bahunya. Kata salah satu koki, pengunjung hari ini terbilang ramai daripada hari biasanya. Dan hal itu juga yang membuat Tenten harus turun tangan ke dapur untuk membantu mencuci piring. Meski sudah saatnya untuk dirinya pulang, namun lantai yang menjadi tanggung jawabnya masih belum beres.
Karena dirinya yang terlambat, bos mudanya menambahkan jam kerjanya 2 jam. Harusnya ia sudah pulang dari 1 jam yang lalu. Tapi apa boleh buat? Memang kesalahannya ia karena bangun kesiangan. Setelah ini mungkin ia akan pulang saja ke rumahnya. Tenten terlalu lelah untuk pulang kerumah Neji. Ia harap pria itu tidak mencarinya. Hanya untuk malam ini saja ia ingin sendiri. Terlebih setelah insiden ciuman tadi malam, ia sungguh tak tau harus berkata apa jika bertatap muka dengan pria itu.
"Kau yakin tidak membutuhkan bantuanku?" Tanya Ajisai yang sudah lengkap dengan pakaian pribadinya.
"Aku yakin Ajisai, terimakasih." Balas Tenten tersenyum.
"Hm, baiklah. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Jika kau lelah beristirahatlah sejenak." Pesannya sebelum gadis berambut pendek itu pergi.
Ajisai benar. Sepertinya Tenten perlu istirahat sejenak. Siang tadi ketika pelanggan ramai, dia hanya duduk selama 5 menit dan kembali di sibukkan dengan para pelanggan cilik yang membuat masalah-masalah kecil. Entah itu menumpahkan minuman atau bahkan memecahkan piring.
Restoran sudah tutup. Yang tertinggal sekarang hanyalah dirinya, Teuchi si koki dan juga bos nya yang entah sudah pulang atau belum. Tenten duduk di sofa paling ujung yang sudah ia bersihkan sebelumnya lalu meletakkan penyemprot kaca dan kain lap nya di atas meja. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding yang sengaja di hias dengan warna gradasi biru dan putih. Iris hazel perlahan menutup seiringan dengan hembusan nafas yang teratur. Peluh yang terlihat di kening putih gadis itu sudah cukup membuktikan kerja kerasnya seharian ini. Tiga koki, enam pelayan, dan dua office girl rasanya tidak cukup untuk mengatasi pengunjung yang datang ke restoran yang bisa di katakan tidak terlalu besar dan tidak bisa di katakan restoran kecil. Entah apa yang menarik minat para pelanggan sebanyak itu untuk mengisi perutnya dengan bubur penuh nutrisi di tempat ini. Jujur saja sudah lama Tenten mengetahui restoran ini, ia juga tau betapa ramainya restoran ini apalagi jika akhir pekan, namun selama itu pula Tenten tidak pernah tau bagaimana rasa bubur di tempat ini hingga detik dimana dia menjadi salah satu bagian dari restoran tersebut. Penghasilannya sebagai mencopet tidak sebanyak yang orang lain pikirkan. Sebagai pencopet, ia harus mencari sela aman, jika tidak ada kesempatan bisa-bisa ia tidak menghasilkan apapun meski ia sudah mengeliligi berbagai tempat seharian penuh. Pernah suatu kali ia terjaring razia polisi karena ketahuan akan mencopet. Untung saja dompet yang ia ambil jatuh ketika aparat menarik dirinya ke mobil polisi. Jadi mereka hanya bisa menghukumnya karena tidak memiliki kartu tanda pengenal dan di anggap sebagai warga ilegal.
"Jiisan, bisa kau buatkan aku semangkuk bubur ayam dan wijen?"
Seorang pria terlihat berbicara pelan pada kokinya.
"Segera Menma-sama." Balas koki tersebut lalu melesat ke dapur.
Pria berjas hitam itu meletakkan siku kanannya pada meja kasir. Satu jarinya menyentuh dagunya, tangan kanannya ia masukkan kedalam saku, sementara fokusnya teralih pada gadis bercepol yang terlihat tertidur di sudut ruangan sembari memeluk vacum cleaner. Cukup lama Menma memperhatikan Tenten yang tak kunjung membuka matanya tersebut. Sekitar 5 menit kemudian, semangkuk bubur yang sangat menggugah selera dengan taburan wijen hitam di atasnya tersaji di atas nampan bersamaan dengan semangkuk kecil kecap asin dan beberapa bumbu tambahan lainnya.
"Silahkan Menma-sama." Kata Teuchi mendekatkan nampan tersebut pada Menma.
Menma sedikit tersentak ketika ujung nampan mengenai dirinya. Sontak ia mengalihkan matanya pada Teuchi yang menatapnya dengan senyum ramah yang biasa pria tua itu perlihatkan pada dunia.
"Terimakasih Jiisan." Kata pria itu lalu mengangkat nampan tersebut dan berjalan perlahan menuju sudut ruangan.
Tanpa suara Menma duduk tepat di samping Tenten. Ia lantas meletakkan bubur tersebut di atas meja. Benturan antara nampan stainless dan meja kayu membuat Tenten terkejut dan langsung terbangun. Gadis itu mengerjap cepat dan sangat terkejut melihat bos nya sudah duduk di sampingnya dengan santainya.
Mata berbeda warna itu menatap Tenten. Ujung bibirnya sedikit tertarik karena pria itu berusaha menahan tawanya melihat tingkah konyol gadis di hadapannya.
"Senyaman itu kah vacum cleaner itu? Kau bahkan tidak membuka matamu se-centi pun." Celotehnya pada Tenten yang masih berusaha pulih dari keterkejutannya.
"M-Maafkan aku, Menma-sama. Aku akan melanjutkan pekerjaanku." Balasnya cepat dan beranjak berdiri. Gadis itu terhenti ketika bos nya menghalangi jalannya. Jarak antara kursi dan meja tidak cukup untuk ia lewati sementara jarak tersebut tengah di halangi dua kaki Menma yang tak kunjung merubah posisinya.
"M-maaf, Menma-sama, bisa tolong kau singkirkan kakimu sebentar? Aku mau lewat." Kata Tenten tersenyum renyah dengan kedua matanya yang menyipit.
"Duduklah." Kata Menma singkat.
"A-apa?"
"Kau tidak dengar apa yang kukatakan? Duduklah."
Tenten tetap duduk meski ia tidak tau apa maksud pria itu menyuruhnya untuk kembali duduk.
"Makanlah selagi hangat." Pria itu melirik bubur yang mengepulkan asap di atas meja.
"I-ini untukku?" Tanya gadis itu terkejut.
"Apa kau lihat ada orang lain lagi di sini selain kau dan aku?"
"T-tidak."
"Bagus. Sekarang jangan buat aku mengulangi perkataanku. Cepat makan." Kata Menma.
Dengan gerakan ragu Tenten meraih sendok di samping mangkuk dan mulai melahap bubur di perlu waktu lama untuk membuat dirinya takjub. Baru satu sendok ia melahap bubur itu, ia sudah merasakan berbagai macam rempah terkandung di dalamnya. Sekarang ia tidak heran kenapa restoran ini selalu ramai pengunjung.
"Jika sudah selesai kau cuci mangkuk itu dan bereskan semua pekerjaanmu lalu kunci semua jendela dan pintu. Satu jam lagi kutunggu kau di mobilku, serahkan kunci itu padaku." Kata Menma beranjak dari duduknya yang hanya di balas anggukan oleh Tenten yang masih terlena dengan bubur di hadapannya.
.
Cukup lama Menma menunggu gadis itu di mobilnya hingga akhirnya kedua matanya menangkap sosok wanita mengenakan kemeja putih keluar dari restorannya. Tenten berlari kecil menghampiri pintu kemudi yang langsung terbuka begitu ia sampai.
"Maaf membuatmu menunggu Menma-sama. Ini kuncinya." Tenten menyerahkan beberapa kunci pada Menma.
"Hm, kerja bagus. Mau kuantar?" Tawar pria itu.
"Oh, tidak perlu Menma-sama, rumahku hanya berjarak 300 meter dari sini. Aku bisa berjalan kaki atau naik bis." Tolak gadis itu.
"Begitukah? Kau yakin kau tidak takut pulang seorang diri?"
"Tentu saja tidak Menma-sama, apa yang harus aku takutkan?"
'Jika selama 5 tahun disinilah wilayahku mencari nafkah.' Lanjut Tenten dalam hati. Gadis itu tertawa renyah.
"Aku tau... Satu lagi, ini." Menma memberikan sebuah amplop cokelat besar pada Tenten.
"Apa ini?"
"Ijazahmu. Kemarin kau memberikan itu pada Kiba bukan? Tenang saja, kami hanya mengambil salinan nya. Yang asli silahkan kau simpan."
"Sekali lagi terimakasih Menma-sama."
"Hm. Ingat, jangan ulangi lagi kesalahnmu tadi pagi."
"Aku tau." Tenten mengulas senyumnya.
"Baiklah sampai besok." Kata pria itu lantas memacu mobilnya pergi.
Kedua tangan Tenten mengenggam erat tali tas yang melingkar di tubuhnya dan melangkah santai menuju rumah. Ia berterimakasih pada bos barunya itu, karena berkat dirinya, malam ini ia bisa menghemat pengeluaran untuk makan malam. Sekarang yang akan ia lakukan hanyalah pulang kerumahnya. Karavan tua yang terasa sangat nyaman baginya, ia sangat merindukan tidur di ranjangnya. Meski tak sebesar tempat tidur di rumah Neji, tapi Tenten merasa cukup nyaman tidur di sana.
Dua puluh menit ia berjalan, Tenten sudah sampai di rumahnya. Gadis itu tersenyum sesaat melihat karavan yang sangat ia rindukan. Baru saja ia hendak membuka pintu, seseorang memanggil namanya dan membuat dirinya berbalik.
"Hai Raiga-san, apa kabar?" Sapa gadis itu.
"Kemana saja kau? Kenapa baru pulang?" Tanya pria bersurai panjang itu.
"A-aku pergi ke rumah t-temanku. Aku menginap di sana. Ya, seperti itulah." Jawabnya terbata.
"Oh," Raiga ber 'oh' ria. Pria itu melipat kedua tangannya kedepan. "Ada yang ingin bertemu denganmu. Sudah lama dia mencarimu."
"Siapa?"
"Hai," Sapa seorang pria keluar dari rumah Raiga yang letaknya bersebelahan dengan karavan Tenten.
"I-Itachi-san?" Tenten sedikit terkejut melihat pria bersurai hitam tersebut berada di depannya.
"Terimakasih atas waktumu Raiga." Kata Itachi pada Raiga.
"Tidak masalah Itachi." Balas pria itu meninggalkan Itachi dan Tenten.
"Apa kabar Itachi-san?"
"Kabarku cukup baik. Apa aku menganggu?"
"Tidak juga. Masuklah." Tenten membuka pintunya dan masuk kedalam.
Itachi mengulas senyumnya ketika ia melangkah kan kakinya ke karavan tersebut. Rasanya sudah lama ia tidak masuk kesini. Dua minggu sebelum ia mengetahui gadis itu tidak menempati rumahnya, ia harus pergi ke Hokkaido untuk menyelesaikan proyeknya. Kini setelah ia bertemu dengan gadis ini, ia merasa rasa rindunya terobati.
"Maaf Itachi-san, tidak ada apapun untuk kuberikan padamu. Sekarang aku bekerja, aku menghabiskan sebagian besar waktuku di sana. Seperti yang kau lihat, bahkan kawanan debu mulai mengudara mengotori udara di tempat ini." Gadis itu tertawa renyah sembari duduk di kursi sebelah Itachi.
"Tidak masalah Tenten. Melihatmu saja sudah membuatku kenyang. Kau bilang kau bekerja? Itu bagus. Dimana?"
"Di sebuah restoran bubur yang tak jauh dari sini. Dan, maaf membuatmu menunggu." Tangan Tenten melepas tasnya dan meletakkan benda itu di pangkuannya.
"Tidak apa-apa." Jawab pria itu singkat.
Kedua mata Itachi terpatri pada iria hazel Tenten yang juga menatapnya. Kedua siku pria itu ia letakkan di atas pahanya dengan kepala menghadap Tenten yang duduknya tepat di sebelahnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanyanya pada Itachi yang masih tak melepas matanya dari dirinya.
"Aku senang kau tidak melakukan pekerjaan berbahaya itu lagi." Kedua alis Itachi terangkat cepat.
"Hm, aku berusaha merubah sifat brutalku demi seseorang."
"Seseorang? Beruntung sekali orang tersebut menjadi alasanmu untuk berubah menjadi lebih baik. Kun?" Lirih Itachi menyebut nama bocah kecil itu.
"Dia salah satu alasanku. Aku tidak ingin menghancurkan masa depannya dengan melihat kelakuanku."
'Dia putraku.' Imbuhnya dalam hati.
"Juga dirimu. Maksudku, aku tidak ingin melihat dirimu di pandang miring oleh teman-teman dan keluargamu jika tau memiliki teman yang berprofesi sebagai pencopet sepertiku. Aku sudah memikirkan semuanya. Seberapa keras pun aku membela diri, tetap saja pekerjaanku tidaklah benar. Jadi aku berpkir untuk menjadi pribadi yang lebih baik." Tenten menunduk dengan suara lirih.
Itachi mengulas senyum penuh arti mendengar namanya menjadi salah satu alasan gadis ini untuk menjadi orang yang lebih baik. "Itu sangat berarti baik bagiku dan aku berterimakasih."
Gadis itu tersenyum.
"Aku rindu kau." Kata Itachi tiba-tiba.
"I-Itachi-san.."
"M-maaf, aku terbawa suasana." Pria itu langsung berpaling.
"I-Itachi-san, jangan seperti itu. Sungguh aku baik-baik saja. Hanya saja mungkin mulai sekarang pertemuan kita tidak akan seperti yang biasanya. M-maksudku, keadaanya kini berbeda." Kata Tenten lirih sembari menunduk menatap kosong kedua tangannya yang saling bertautan.
"Apa maksudmu?"
"Dengar Itachi-san, mungkin kau akan berpikir semua ini gila. Tapi kini aku adalah seorang Ibu yang memiliki dua anak. Ceritanya sangat rumit. Aku tidak tau harus memulainya darimana, tapi yang pasti aku mengatakan ini karena aku tidak ingin kau merasa kecewa jika suatu saat kita tidak bisa bertemu lagi dan mungkin ini yang terakhir kali."
.
Itachi keluar dari karavan Tenten. Pria itu segera masuk ke mobilnya setelah sesaat ia mengulas senyum pada Tenten mengucapkan salam pada gadis itu yang berdiri di ambang pintu. Sesaat Tenten menggosok kedua lengannya menggunakan telapak tangannya yang di silangkan guna sedikit mengusir hawa dingin yang mengenainya. Ia lantas masuk dengan seulas senyum di wajahnya. Itachi sudah mengetahui semuanya. Dan syukurlah pria itu bisa mengerti. Meski Tenten tau ada perasaan tidak rela bersemayam pada diri Uchiha itu mengetahui jika dirinya tinggal serumah dengan Hyuuga Neji. Tenten sangat memahami apa arti dirinya untuk Itachi. Namun seperti yang Kun bilang dulu, ia merasa taraf hidupnya yang tak sebanding dengan Itachi membuat dirinya takut untuk menciptakan perasaan yang lebih jauh pada pria itu meski pria tersebut jelas-jelas tak mempermasalahkan statusnya. Tenten takut kehadirannya hanya akan menjadi bom waktu bagi Itachi yang suatu saat bisa saja menghentikan laju jantungnya.
Tok.. tok..
Ketukan pintu dari luar mengejutkan Tenten. Suara ketukan yang terdengar sangat kasar itu sontak membuat gadis itu segera beralih ke pintu dan membukanya. Tenten tidak terlalu terkejut melihat Hyuuga Neji berdiri di ambang pintunya mengingat hanya pria itulah yang selalu berbuat kasar padanya.
"Sudah kuduga kau disini."
"Kau berisik sekali." Sembur Tenten pada Hyuuga itu. "Kenapa kau kemari?"
"Aku tidak akan kemari jika kau tidak ada di sini." Jawab Neji tak kalah ketus.
Tidak ada jawaban dari Tenten. Ia hanya memandang Neji dengan sebelah alis terangkat dan bibir sedikit maju.
"Aku melihat Itachi keluar dari sini. Apakah dia kekasihmu?" Wajah dingin Neji mulai terlihat.
"Kenapa ada asumsi semacam itu di kepalamu?"
"Seseorang pernah bilang padaku, jauh sebelum aku kemari, ada seorang pria yang selalu datang mengunjungimu. Dan mereka berpikir bahwa pria itu adalah kekasihmu."
"Itu terserah mereka menganggap Itachi sebagai kekasihku atau bukan. Selama itu tidak mengangguku, aku tidak masalah."
"Aku memiliki satu kejutan untukmu. Semua orang di sini tau bahwa kau adalah istriku." Pria itu menyeringai.
"Apa?!" Teriak gadis itu terkejut. Dia menatap tajam Neji yang masih menampakkan seringainya. "Apa kau tidak waras? Kenapa kau mengatakan itu pada mereka?"
"Sudahlah, jangan di pikirkan. Kita dapat masalah besar." Kata Neji menarik gadis itu keluar.
"Satu-satunya masalahku hanyalah bertemu denganmu. Kau ingin lepas dari masalah? Pergi jauh dari hidupku." Sergah Tenten menahan langkahnya.
"Jika aku bisa, aku ingin mengusirmu dari rumahku dan membuang jauh-jauh kau dari hidupku. Tapi setiap melihat dirimu, yang kupikirkan hanyalah Kun dan Tenichi. Dia anak-anakku. Aku tidak peduli jika sampai mati pun kau dan aku tidak bersatu. Namun selama Kun dan Tenichi masih bersamaku, tidak akan kubiarkan mereka jauh dari Ibunya meski itu artinya aku harus menyingkrikan Uchiha itu."
To Be Continued..
Haii, ketemu lagi kita yak XD Masih belum bosen baca fanfic nista yang alurnya yang tak kunjung berkembang dan semakin membingungkan ini? :P Well, apakah ada yang penasaran gimana Tenten dan Itachi bisa kenal? XD *pasti udah bisa ketebak* Btw apakah ada yang bertanya kenapa nggak ada scene romance NejiTen? Nanti ya :)) Di sini Ran bikin panas dulu untuk memunculkan konflik biar Neji greget sama Itachi yang deket sama Tenten XD *buang* And, Ran mengucapkan terimakasih buat kalian yang menyempatkan diri memberi review dan fav fanfic ini. Terimakasih banyak ne~ ^-^
Shinji r: Sepertinya chapter ini masuk di kategori 'Update cepat' bukan 'Update Kilat' XD
Sherry ai: Tenten nggak ngapa-ngapain kok. Dia cuma mau kerja aja. Tenten cewe baik-baik kok *mainin ujung rambut tetangga* Siapa ya pria misteriusnya? *sodorin Itachi* Hirashinnya lagi di gadein. Nggak bisa di pinjem XD
Chevyta Alyafit: Hai~ salam kenal :)) Maaf agak lama XD
Tentensayangnejiplakk: Ahaha~ Neji ngebet banget ya mau kawin sama Tenten XD Pasti terjadi kok, tapi nanti ya, XD *Btw, I like your name! ^.~*
Sooya: Suka? Sepertinya tidak. Neji cuma suka wajah merah merona (?) Tenten kalo lagi di godain XD
Nazliahaibara: Haloha ^-^, Tau tuh, Neji kelewatan. Masa Tenten di bikin pingsan? -.-
Rossadilla17: Kapan Neji cinta Tenten nya? Coming Soon XD *hanya ada di lapak Ran Megumi*
Kay249: Oww, sudah tentu tsundere banget XD Well, Neji memang sudah siap jadi kepala keluarga yang baik *marry me please!* X3 XD #plakk Yes, sama2. Di usahakan update secepatnya :))
Guest: Sippooo sudah di lanjut :))
Akira Ken: Apakah Itachi sudah cukup keren untuk jadi orang ketiga di antara mereka? *mainin jari* XD Enggak. Ran nggak ada rencana buat masukin OC kok di si i XD *lah terus Kun sama Tenichi itu apa?!* /buang
Marine choi: Ow, terimakasih masih setia menunggu :)) See you di chap depan ;)
Yuni: Sipo, sampai jumpa di chap depan :))
Yess, chapter 5 done. Thank's for support and see you gaess~ *balik ke bulan*
Review?
Log in? Cek PM :3
