Gadis Pencuri

Discalimer: Masashi Kishimoto

Story by: Ran Megumi

Rated: T

Typo, Nista, Hancur

No Flame

RnR

Sedan hitam Neji sudah sampai di halaman rumahnya. Setengah jam perjalanan tidak ada perbincangan apapun antara Neji dan Tenten. Merasa sudah sampai tujuan, Tenten segera membuka pintu mobil hendak turun. Namun baru satu kakinya yang keluar, pria Hyuuga di hadapannya kembali menarik dirinya duduk dan sontak membuatnya terkejut.

"Saat kau masuk kesana dan terlihat oleh orang-orang yang berada di dalam, aku bersumpah demi nama Ayahku tidak akan kubiarkan kau meninggalkan rumah ini untuk menemui pria lain selain aku." Tatapan dingin Hyuuga itu membuat Tenten bergidik ngeri.

Sedetik kemudian Tenten melepas kasar pergelangan tangannya dari cengkraman Neji dan melangkah keluar menganggap perkataan Neji barusan hanyalah omong kosong semata.

Seperti biasa, Tenten melenggang masuk kedalam rumah mendahului Neji yang masih berjalan santai di belakangnya. Begitu masuk kesan pertama yang Tenten tangkap adalah 'berantakan.' Bagaimana tidak, berbagai mainan berserakan di lantai rumah. Bantal-bantal sofa di ruang tamu sudah tidak beraturan. Beberapa pelayan rumah tangga membersihkan ruangan berantakan itu. Sebrutal itu kah kedua anaknya? Apakah gen brutal yang ada pada dirinya menurun pada kedua anaknya?

Perlahan Tenten melangkah lebih dalam menuju ruang keluarga. Betapa terkejutnya dia ketika indera pengelihatannya menangkap beberapa orang yang sangat asing baginya. Salah seorang yang duduk di kursi sofa utama terlihat tidak jauh beda seperti Neji menatapnya tajam. Dan dua orang lainnya duduk berjajar, satu laki-laki dan satunya lagi wanita yang sepertinya usianya tidak jauh beda dengan Tenten.

Gadis itu terpaku di tempatnya. Lehernya terasa dingin mendapat tatapan tajam dari lelaki dewasa di sana. Untuk beberapa saat ia merasa lututnya lemas, jika saja Neji tidak datang dan menahan kedua lengannya, mungkin kini Tenten sudah tersungkur ke lantai.

Mata Tenten membelalak ketika Neji muncul dari belakang dan menahan kedua bahunya dengan senyum mengembang.

"Dia kah Ibu dari kedua anakmu?" Tanya Hiashi tanpa basa-basi.

"Hm, dia Tenten. Dia istriku, dan itu artinya kini dia adalah seorang Hyuuga." Jawab Neji santai.

"Kau tau siapa dia, latar belakangnya juga keluarganya, darimana dia berasal dan apa alasannya yang membuat dirinya berani menjadi istri seorang keturunan Hyuuga?"

Tenten termangu. Apakah serumit itu kriteria yang harus di capai seseorang jika ingin menikah dengan keturunan Hyuuga? Apa pria berambut pirang dan bersungut seperti kucing disana juga harus di seleksi hingga akhirnya menjadi pasangan Hyuuga wanita itu? Bagi orang awam seperti Tenten, nyaman, percaya, dan setia sudah lebih dari cukup.

"Dia sedikit berbeda. Tapi aku sangat mencintainya dan yakin untuk memilihnya."

"Aku menangkap kesan kau tidak mau membahas soal istrimu itu padaku. Baiklah jika itu maumu."

Tampang dingin milik Neji terlihat jelas ketika Hiashi mengerti gelagatnya.

Hiashi berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari sana dengan tampang garang. Kedua mata amethys Hiashi menatap tajam Tenten ketika lelaki itu melewatinya. Jelas Tenten takut. Ingin rasanya ia lari dari tempat itu dan mengubur dirinya hidup-hidup.

"Ayah,"

Panggilan Hinata tak menghentikan langkah Ayahnya. Gadis indigo itu mengejar ayahnya yang masih menjauh meninggalkan suaminya yang masih duduk di sofa.

"Apa yang akan Ayah lakukan?" Tanya Hinata begitu gadis itu berhasil menghentikan Ayahnya yang sudah bersiap masuk kedalam mobil.

"Neji menikah diam-diam, aku juga akan menyelidiki gadis itu diam-diam." Kata Hiashi singkat.

"Ayah tidak perlu melakukan itu, jika Neji-san saja sudah memutuskan untuk menikahinya, itu artinya dia gadis yang baik. Aku percaya dengan Neji-san."

"Lalu bagaimana kita mempertanggung jawabkan harga diri Hyuuga dari keluarga Matsuri? Mereka memiliki harapan tinggi pada Neji dan Matsuri."

"Tapi Ayah.."

"Tutup mulutmu Hinata. Jika memang yang kupikirkan tentang gadis itu benar, aku tidak akan sungkan membuang gadis itu jauh-jauh dari Neji."

Hiashi segera masuk dan membanting keras pintu mobilnya lalu melesat cepat keluar.

.

Hinata meraih dua gelas kaca yang ada di rak lalu menuangkan jus kedalamnya. Ia lantas menghampiri Neji dan meletakkan salah satu gelas tersebut di hadapan Neji yang duduk terdiam di kursi meja makan.

Gadis itu duduk di sisi meja yang lainnya. Ia menatap Neji dalam menyentuh tangan sepupunya tersebut.

"Neji-san, siapa lagi yang tau semua ini selain Ikuya Baasan?"

"Hanya kau, dan mungkin Naruto juga akan mengetahuinya jika kau menceritakannya."

"Situasi yang sulit. Jika kau mengatakan yang sebenarnya, sudah pasti Ayah akan menolaknya mentah-mentah. Mungkin akan berhasil jika kau mengatakan bahwa Kun dan Tenichi adalah anak yatim yang kau asuh."

"Tidak akan kulakukan Hinata. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka tau bahwa aku menganggap mereka sebagai anak asuh."

Gadis itu menunduk lemah.

"Jangan terlalu memikirkan itu Hinata. Bagaimanapun kau berusaha, Hiashi-sama tidak akan merubah pendiriannya."

"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Matsuri? Apa Matsuri tidak tau soal ini?"

Posisi Neji berubah. Jelas terlihat ia sangat tidak nyaman dengan pertanyaan Hinata. Matanya ia alihkan ke arah lain yang penting bukan mata Hinata.

"Tidak. Aku dan Matsuri menjalani kehidupan kami seperti biasanya. Beberapa kali Ayah Matsuri memintaku untuk datang ke jamuan makan malam nya. Aku menolaknya. Kun dan Tenichi lebih membutuhkanku daripada mereka."

"Matsuri sangat mencintaimu Neji-san."

"Aku tau." Neji membuang wajahnya.

"Kau mempermainkan perasaanya." Kata Hinata yang terkesan memojokkan sepupunya.

"Aku tidak bermaksud seperti itu." Jawab Neji cepat.

"Tapi kau telah melakukannya." Sela gadis itu. Suaranya naik satu oktaf.

"Aku tau Hinata. Kau juga tau yang sebenarnya. Hubungan palsu itu hanya untuk menghindari perjodohan antara aku dan Shion. Jika Ayahmu tidak bersikeras menjodohkanku, aku tidak akan berbuat hal sekeji itu." Pria itu sedikit geram.

Hinata menyerah. Ia tidak mau memojokkan Neji lebih dari ini. Hinata khawatir Neji akan bertindak gila jika ia terus mendesak Neji atas keputusan bodohnya yang menjadikan Matsuri sebagai umpan untuk menghindari perjodohan antara pria itu dan Shion. "Lalu sekarang bagaimana? Kau berada di antara dua wanita. Aku akan lega jika kau hanya mencintai satu di antara mereka."

"Aku tidak tau. Matsuri sangat baik padaku. Mungkin jika kami di beri waktu sedikit lama, aku juga akan merasakan hal yang sama. Maksudku, ada sedikit rasa tertarik dariku untuk Matsuri. Aku tidak tega menyakiti hatinya."

"Lalu Tenten?"

"Aku tidak yakin dengan apa yang kurasakan sekarang padanya. Yang kupikirkan tentang dia adalah, dia istriku. Ada perasaan bodoh dan aneh yang ada pada diriku di saat dia bersama pria lain. Bukan karena dia Ibu dari kedua anakku, tapi karena aku merasa dia istriku. Maka dari itu aku tidak suka dia bersama laki-laki lain selain aku."

"Kau berdiri di antara Surga dan Neraka. Surga jika kau memilih Matsuri, dan Neraka jika kau memilih Tenten dan Ayah mengetahui tentang latar belakang gadis itu."

"Aku tidak bisa memikirkan apapun. Tapi yang pasti sekarang, aku akan fokus pada Tenten."

"Tadinya aku yakin bahwa Tenten adalah gadis baik-baik. Tapi setelah mendengar ceritamu, sekarang aku jadi ragu. Kita lihat saja bagaimana tingkah gadis itu. Jika aku melihat hal yang tidak di inginkan darinya, aku akan mendukung Ayah untuk menyingkirkan Tenten dari hidupmu atau bahkan mungkin aku akan ikut turun tangan mendepak keluar gadis itu dari keluarga Hyuuga."

"Hinata, kau.." Neji tercengang mendengar kata-kata yang terdengar sedikit kasar keluar dari sepupunya tersebut. Tidak biasanya Hinata bersikap seperti ini.

"Kau melakukan hal yang sama padaku ketika aku dan Naruto menikah. Jadi sekarang giliranku. Kau pria baik Neji-san, tidak akan kubiarkan wanita sembarangan masuk kedalam kehidupanmu." Gadis itu mengulas senyumnya.

.

Langit cerah di malam hari di hiasi ribuan bintang di langit menghiasi mata dua manusia yang duduk bersebelahan. Mata berbeda warna menerawang ke atas dengan senyuman kecil terulas dari bibir mereka.

Naruto dan Tenten. Mereka berdua memilih untuk duduk di taman belakang selagi Hinata dan Neji berbicara empat mata di dapur.

"Boruto mengatakan padaku, dia menyukai Kun. Dia bilang Kun dan dirinya memiliki banyak kesamaan." Pria berambut pirang mencoba membuka pembicaraan setelah 20 menit berlalu mereka saling diam.

"Aku senang mendengarnya."

"Juga Tenichi. Hima sangat menyukainya."

"Aku belum bertemu dengan kedua anakmu." Jawab nya menatap Naruto sesaat.

"Pasti ada alasan kenapa Neji memilihmu. Bukannya sok tau, tapi aku rasa kau berasal dari kalangan biasa. Terlihat dari ekspresimu ketika Hiashi-sama menanyakan tentangmu." Kata Naruto tiba-tiba.

"Lebih buruk dari itu. Kau akan segera mengetahuinya. Neji pasti menceritakan semuanya pada Hinata." Helaan nafas berat Tenten cukup meyakinkan Naruto kalau perkiraannya itu benar.

"Jika memang benar seburuk yang kau pikirkan, tidak perlu mengecilkan hatimu, Neji tumbuh di keluarga yang baik. Aku yakin dia tau apa yang harus dia lakukan di situasi seperti ini. Dia tidak akan membiarkan Hiashi-sama menyentuhmu dan kedua anakmu."

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Dua tahun aku mendekati Hinata, tapi perjuanganku mendapatkan wanita itu tidaklah mudah. Bukan karena Hiashi-sama, tapi karena Neji yang terlalu protektif pada Hinata bahkan melebihi Hiashi-sama sendiri. Aku tau kenapa dia melakukan itu. Dia hanya tidak ingin wanita yang dia sayangi jatuh ketangan orang yang salah. Jika aku memiliki saudara perempuan, sudah pasti aku juga akan melakukan hal yang sama seperti Neji." Naruto mengayunkan kedua kakinya yang menggantung. "Setelah aku menikah dengan Hinata, Neji melunak. Dia menyerahakan sepenuhnya Hinata padaku. Sangat sulit membuat Neji percaya bahwa aku bisa menjaga Hinata sebaik dirinya. Sudah lebih dari delapan tahun, aku kadang rindu bertengkar dengan Neji ketika aku ingin bertemu Hinata. Terkadang sifat overprotektifnya pada Hinata dulu yang menjadi bahan guyonan kami berdua." Pria itu tertawa renyah.

"Aku dapat melihatnya." Gumam Tenten.

Naruto tertawa singkat. "Dia sudah melakukkannya. Aku tidak heran mendengarnya."

"Kau tidak akan bereaksi seperti itu jika kau tau siapa aku. Semua ini membingungkan bagiku."

"Membingungkan bagaimana? Neji suamimu dan kau istrinya, apa yang salah?"

"Tidak sesederhana itu. Jika kau berada di posisiku, aku yakin kau akan lebih memilih mati daripada harus menghadapi situasi tidak masuk akal seperti ini."

Dahi Naruto mengernyit. Kenapa gadis ini bersikeras bahwa situasi yang di hadapinya terlampau rumit? Jika memang hubungan keduanya memang seperti yang terlihat, ia yakin Neji bisa mengatasinya.

"Naruto-kun, waktunya pulang." Kata Hinata dari belakang.

"Baiklah."

Naruto beranjak dari duduknya menghampiri Hinata dan Neji. Di ikuti Tenten yang juga mengekori pria pirang itu dari belakang.

"Mana Boruto dan Hima?" Tanya Naruto celingukan mencari kedua anaknya.

"Mereka di atas sedang tidur. Mereka tidak mau pulang. Biarkan saja, mungkin mereka lelah." Jawab Hinata meraih tasnya di atas sofa.

"Baiklah, maaf jika merepotkanmu Neji." Naruto menepuk sesaat bahu Hyuuga itu.

"Tidak masalah. Aku senang mereka betah di sini."

Hinata menatap datar Tenten yang berdiri sedikit jauh dari mereka. Gadis itu menghampiri Tenten yang masih diam di tempatnya.

"Maafkan atas sikap Ayahku tadi Tenten-san." Ia menyentuh kedua bahu Tenten.

"Hm, aku sudah merasa lebih baik."

Naruto dan Hinata telah pergi. Yang tersisa kini hanya Tenten dan Neji yang masih berdiri di ambang pintu rumahnya.

Tenten segera berbalik masuk dan berlari kecil guna meraih tas nya dan masuk kekamarnya. Sesampainya di sana, Tenten melihat dua gadis kecil yang tidur di ranjangnya. Keduanya terlelap dengan selimut tebal menyelimuti tubuh mungilnya. Ia tidak sampai hati jika harus merusak wajah teduh dua malaikat kecil itu jika ia memaksa membersihkan dirinya di kamar mandi. Kucuran air dan suara gaduh yang akan di hasilkan sudah pasti akan membuat keduanya bangun.

Tenten kembali menutup pintunya dan berbalik. Ia sedikit terkejut melihat Neji berdiri tak jauh darinya dengan tatapan datar. Baiklah, mungkin masuk kedalam dan berusaha meredam suara agar kedua anak di dalam tidak bangun akan lebih baik daripada harus bertatap muka dengan Neji.

Satu tangan Tenten menyentuh ujung knop pintu. Mata Neji mengikuti gerakan tangan Tenten.

"Jangan ganggu mereka. Masuklah, ada yang ingin kukatakan padamu." Kata Neji sesaat dan segera masuk kedalam kamarnya.

Tidak mempedulikan kata-kata Neji, ia meninggalkan tempatnya hendak menuju ruang tamu. Baru saja ia akan meraih anak tangga, sebuah lengan mengapit dirinya dan menyeretnya masuk kedalam kamar. Ia sempat kaget dan akhirnya pasrah. Dengan wajah masam, ia membiarkan Neji menyeretnya menuju kamarnya. Ia hafal tabiat Neji, semakin dia menolak semakin erat pria itu akan mencengkeram dirinya.

"Apa saja yang kau lakukan seharian ini?" Tanyanya begitu pintu kamar tertutup.

"Wow, tunggu. Aku membiarkan diriku kau seret seperti tadi bukan untuk di tanyai hal semacam itu. Urusan pribadi, kau tidak perlu tau. Kau bukan siapa-siapaku." Gadis itu melipat kedua tangannya.

"Terserah. Aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal, mulai sekarang kau tidak boleh menemui pria lain. Jika itu menyangkut urusan pribadi, kau harus bicara dulu padaku. Hiashi-sama telah mengetahui bahwa kau adalah istriku. Dan mungkin ia akan menyewa mata-mata untuk membuntutimu. Dalam keluarga Hyuuga, ketahuan selingkuh sama saja dengan vonis mati. Jika kau tidak ingin terjadi hal buruk menimpamu atau pada Kun dan Tenichi, jaga sikapmu. Jangan pernah temui Itachi atau pria manapun. Sekarang kau milikku. Satu kesalahan kecil yang kau lakukan, bisa membuat kita semua hancur sehalus debu." Kata Neji panjang lebar.

Tenten melongo. Ia terus mencoba mencerna tiap kata yang keluar dari bibir Hyuuga itu. Mata-mata? Tidak boleh menemui Itachi atau pun pria lain? Wajib memberikan laporan pada Neji jika ia ingin bertemu seseorang? Vonis mati? Apa dosanya di masa lalu hingga ia di tempatkan pada situasi serumit ini? Kun dan Tenichi mungkin adalah alasan yang tepat untuk Tenten agar tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi kata-kata 'Milikku' yang Neji katakan membuat Tenten bergidik geli. Memang pria itu siapa? Seenaknya mematri bahwa dirinya adalah miliknya.

"Selama ini aku menahan diriku untuk bicara. Tapi situasi menggelikan ini membuatku tidak tahan ingin mengatakannya. Hei Neji, alasanku bertahan disini adalah Kun dan Tenichi, di luar itu aku tidak peduli. Bahkan di detik saat kau mengatakan aku adalah milikmu, masih tidak dapat kuterima. Masa bodoh dengan Hiashi-sama ataupun Hinata yang sepertinya tidak menyukaiku, selama aku berada di sini aku ingin hidupku seperti dulu. Aku rela meninggalkan profesiku dahulu hanya untuk menjaga nama baikmu dan kurasa itu sudah cukup baik bagimu. Tapi membatasi ruang gerakku?" Tenten tertawa remeh melemparkan pandangannya kearah lain. Gadis itu berkacak pinggang. "Aku memiliki usul, aku akan lebih senang jika setiap hari aku datang kemari untuk melihat keadaan Kun dan Tenichi. Kau tidak perlu menanggung biaya hidupku, aku bisa hidup sendiri di rumah kumuhku. Kau tidak perlu melihatku setiap hari jika itu yang kau inginkan. Aku akan kemari jika kau bekerja. Bagaimana? Apa usulku cukup adil bagimu? Katakan apa yang kurang, aku akan memikirkan kesepakatan lain yang tidak akan merugikan kita berdua." Tenten kembali melipat kedua tangannya.

Neji diam. Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya. Namun Tenten dapat melihat aura dingin menyelimutinya. Tatapan dingin Neji di tambah rahangnya yang mengeras sudah cukup meyakinkan Tenten kalau pria itu tidak setuju dengan usulannya. Jujur Tenten sedikit takut jika Neji sudah seperti ini, tapi ia berusaha menahan rasa takutnya supaya Neji tidak semakin menginjak-injak harga dirinya.

"Tidak ada jawaban? Aku anggap itu adalah sebuah persetujuan. Baiklah Tuan Hyuuga, terimakasih untuk beberapa hari ini. Aku sangat menghargainya. Aku harus pulang, besok aku akan kemari lagi untuk melihat Kun dan Tenichi." Gadis itu mengulas senyumnya lebar. Ia menghampiri pintu kamar yang terhalangi oleh tubuh Neji.

Hanya beberapa detik. Beberapa detik setelah Tenten memutuskan untuk keluar dari kamar Neji, pintu tersebut kembali tertutup, menghasilkan suara keras yang memekakkan telinga. Di tambah lagi Neji yang kembali menarik masuk dirinya dan membanting tubuh mungil Tenten di atas ranjang. Pandangan Tenten masih gelap karena kedua matanya tertutup ketika adegan sepersekian detik itu terjadi. Yang ia dapatkan ketika ia membuka mata adalah, Hyuuga Neji mengurung dirinya di antara kedua kakinya, kedua tangan Neji menahan tangannya yang berada di sisi kepalanya, rambut panjangnya tergerai begitu saja menutupi sisi kanan Tenten, tatapan dingin penuh amarah jelas terlihat dari mata amethys itu.

"Lihat mataku dan dengarkan baik-baik! Kau ingat sumpahku di dalam mobil tadi? Aku bersumpah demi nama mendiang Ayahku dan itu tidak main-main. Jika aku mengatakan kau adalah milikku, itu artinya kau adalah tanggung jawabku. Tidak peduli seberapa keras pun kau menolak, kini kau adalah bagian dari diriku berkat Kun dan Tenichi. Kau pikir aku suka denganmu? Tidak! Sekretaris pribadiku bahkan lebih molek darimu. Namun di keadaan seperti ini, menjadi milikku adalah sebuah keharusan bagimu. Jika kau menolaknya, saat ini juga aku bisa menjadikan kau milikku seutuhnya dengan merenggut kesucianmu. Kau ingin hidupmu seperti dulu? Lakukan! Tapi jika terjadi sesuatu pada Kun dan Tenichi, itu semua salahmu." Kata Neji memberi penekanan nada di setiap kalimat yang ia ucapkan.

"Jangan bermain-main dengan kesucianku. Kau mengancamku?!" Teriak Tenten.

"Aku tidak mengancammu. Aku hanya memberi pilihan yang tidak dapat kau pilih. Satu-satunya yang harus kau lakukan hanyalah menuruti semua perkataanku."

"Dengar Hyuuga, hidup di lingkungan keras dan brutal membuat 'Pembantaian' terdengar biasa bagiku. Aku bisa saja melakukan hal itu padamu sekarang jika kau tetap bersikukuh dengan pemikiran gilamu." Kata Tenten menggertak berharap Neji menyerah.

"Jauh lebih mudah bagiku membuka pakaianmu dan membereskanmu malam ini. Kau mau itu terjadi?"

Seringai tajam menghiasi wajah Neji. Tentu saja itu membuat Tenten takut dan menyerah. Ia tidak mungkin pura-pura pingsan sekarang, sungguh akan terlihat bodohnya jika ia melakukan hal itu.

Tenten melunak. Ia menghela nafasnya berat menelan kecewa pada dirinya sendiri. Ia tidak mau mengambil resiko, tubuhnya lemas. Ia sangat lelah. Tidak mungkin Tenten dapat mengelak jika benar Neji berniat merenggut sesuatu yang paling berharga dari dirinya.

"Akan kupikirkan kata-katamu. Sebagai permulaan, bisakah kau pergi dari atasku?" Gadis itu mengalihkan matanya ke arah bantal di sisi kanannya bersuara lirih.

Pria itu beringsut turun dari Tenten tanpa melepas cengkramannya dari tangan Tenten. Ia menuntun gadis itu duduk perlahan dengan menarik tangannya. Tenten pasrah. Dengan satu kali hentakan, Tenten sudah berdiri mengikuti Neji yang lebih dulu berdiri. Pria itu menghempaskan Tenten ke dadanya. Membuat Tenten membelalakkan matanya terkejut.

"Jika kau membenciku silahkan, tapi tetaplah berada di sisiku untuk anak-anak kita." Bisik Neji dengan deru nafas pelan.

.

Tenten duduk di tepi ranjangnya. Ia menatap Tenichi dan mengelus puncak kepala gadis kecil tersebut setelah ia membersihkan dirinya dan tentu saja keluar dari kamar Neji meski pria itu tidak mengizinkannya. Di samping Tenichi terdapat gadis kecil lainnya yang juga tertidur sembari memasukkan jempol kanannya kedalam mulut. Gadis itu tertawa kecil. Terlihat cantik di mata Tenten, wajah dan rambutnya sama seperti Hinata, hanya saja gurat di kedua pipinya persis seperti Naruto.

Hati Tenten tersentuh melihat wajah damai Tenichi di saat gadis itu tertidur. Haruskah ia mengesampingkan Kun dan Tenichi hanya demi mempertahankan egonya pada Neji? Tenten benar-benar tidak suka dengan sikap pria itu padanya. Mungkin jika Neji bersikap lebih lembut padanya ia akan sedikit luluh. Tapi kini, seolah pria itu telah merenggut semua dunianya. Di samping itu Tenten juga memikirkan Itachi. Mana mungkin ia mau menuruti perkataan Neji begitu saja dan meninggalkan Itachi. Pria itu yang selama ini baik padanya. Bagi Tenten, Itachi sudah memiliki tempat tersendiri di hatinya. Ia juga tau sejak lama bagaimana perasaan Itachi padanya. Tapi Tenten terlalu takut untuk membalas perasaanya pada Itachi. Ia takut kehadirannya dalam hidup Itachi hanya akan menghancurkan hidup pria itu.

Tenichi menggeliat pelan ketika tangan Tenten tak henti-hentinya mengusap kepala bocah itu. Beberapa detik kemudian dua mata hazel terlihat. "Ibu.." Lirihnya perlahan bangkit.

"Hai Tenichi. Apa Ibu menganggu?" Tanyanya mengulas senyumnya.

"Hm, tangan hangat Ibu menurunkan suhu dingin di kepalaku." Bocah itu tersenyum. "Apa Ibu senang dengan pekerjaan baru Ibu?"

"Sangat senang. Banyak yang peduli pada Ibu di sana." Tenten mencubit pipi kanan Tenichi gemas. "Bagaimana dengan kakakmu? Apa dia membuat masalah?"

"Seharian ini dia bermain dengan Boruto Niisan. Mereka berdua sangat nakal. Mereka sangat senang menggodaku dan Hima." Kata Tenichi dengan wajah sebalnya.

Tenten tertawa kecil. Namun tawanya hilang saat Himawari ikut kecil itu melepas jempolnya dari mulutya dan menggunakan punggung tangannya untuk mengucek kedua matanya. Ia duduk bersila lalu menatap Tenten dengan tatapan aneh.

"Tenichi, siapa bibi ini?" Tanya Himawari dengan polosnya. Himawari mengerjapkan matanya cepat ketika pengelihatannya mulai tajam. "Tenichi, bibi ini sangat mirip denganmu. Apa dia kakakmu? Atau Ibumu? Apa bibi istri dari Neji Jiisan?"

"Kau juga sangat mirip denganmu Ibumu Hima. Aku mirip dengannya itu artinya dia Ibuku." Tenichi mempotkan bibirnya.

"Hai Himawari," Sapa Tenten pada gadis itu.

"Hai Tenten Baasan."

"Sudah malam, lebih baik kalian tidur." Kata Tenten membaringkan dua bocah itu.

"Ibu akan kemana?" Lirih Tenichi ketika Tenten menyelimuti tubuhnya dan Himawari.

"Ibu juga akan tidur Tenichi."

"Dengan Ayah?"

Pertanyaan singkat Tenichi membuat Tenten sedikit tersentak.

"Iya, dengannya." Balasnya lirih.

"Baiklah, selamat malam Ibu." Tenichi perlahan menutup kedua matanya.

"Selamat malam putriku. Selamat malam juga Hima." Gadis itu mengusap puncak kepala Tenichi dan Himawari. Ia lantas pergi keluar setelah mematikan lampu kamar.

Perlahan Tenten menutup pintunya. Gadis itu berpikir akan lebih baik tidur di sofa ruang keluarga daripada harus memakan tempat di ranjangnya.

Pintu kamar Neji terbuka sedikit tanpa Tenten ketahui. Pria itu memperhatikan Tenten di balik pintunya dalam diam. Ia sama sekali tidak dapat mengartikan perasaan yang ia rasakan sekarang. Yang jelas, di balik paksaannya pada Tenten, Neji hanya tidak ingin gadis itu meninggalkannya. Kun dan Tenichi adalah sebagian alasan untuknya nekat mengancam kesucian gadis itu, tapi di balik itu semua ia merasa Tenten sudah menjadi istrinya. Terlebih lagi saat matanya melihat tatapan Itachi pada gadis itu, membuat Neji semakin yakin untuk mempertahankan Tenten di sisinya.

To Be Continued..

Chapter 6 is out! XD Apakah ini diskriminasi fanfic? Bisa di bilang seperti itu. Karena Ran hanya mengupdate fanfic ini aja akhir-akhir ini XV Ran hanya ingin merampungkan satu demi satu fanfic Ran yang menumpuk kok *mundung* Dan kebetulan inspirasi buat fanfic ini lagi deras kaya ingus Udon #plak Ran minta maaf jika ceritanya semakin lama semakin hancur dan rumit XD

Akira Ken: Pertemuan Tenten dan Itachi akan di jelaskan di chapter selanjutnya :3 See you di chapter depan ^.^

Sherry Ai: Sasuke? Oh tidak XD ItaTen lebih langka dari SasuTen. Maka dari itu Ran pake Itachi aja biar beda ^0^ Sudah.. sudah, Neji sudah kebakaran jenggot kok *tawa evil*

Eva Ryuki: Iya dong. Fanfic tanpa greget itu kaya Tenten tanpa Neji, hampa TAT *Ran baper*

Sooya: Makin seru ya? XD Neji, Menma, Itachi. Siapa kira2 nanti yang bakal dapetin Tenten? XD

Shinji r: Suka Neji sama Itachi? Okelah, tunggu mereka berdua bertengkar *ketawa evil*

Nazlia Haibara: Hu'um, Neji kudu hati2 ya biar Tenten nggak lari XD Secara Itachi sama Menma sikapnya lebih lembut dari Neji *poor Neji* XD

Rossadilla17: Iya, Neji rempong banget kaya emak2. Di tambah lagi si Neji malah bikin suasana tambah runyam XD

Marin Choi: Iya, NejiTen makin panas menjurus ke HOT XD Ketemu lagi di chap depan yaaa~ ^-^

Flackesscarlet: Sipoo~ makasih udah baca ^-^ See you di chapter 7 ne :))

Yuni: Masih belum bisa memperkirakan XD Makasih udah baca :))

RanMegumiKWSuper: Haii~ Ran Megumi KW XD Ngakak baca nama kamu LOL Oke silent readers, tunggu moment NejiTenItaMenma *panjang amat* LOL Ahahaha~ tenang aja, Ran nggak takut kok. Cuma lucu aja, sampe kepikiran bikin nama kaya gitu XD See you Ran-san XD

Sudah sudah sudah, Ran mau balik ke bulan. Di bulan apa2 masih murah nggak kaya di bumi XD Sampai jumpa di chapter depan readers, siders :*

Log in? Cek PM ^.~