Gadis Pencuri
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Warn: Alur lompat-lompat dan lambat. Kacau.
Story by: Ran Megumi
Don't like don't read
No Flame
RnR
Sofa ruang keluarga Neji berderit pelan pertanda ada sesuatu yang bergerak di atasnya. Seorang gadis yang tengah tidur mulai bangun. Ia meregangkan ototnya yang kaku dan menguap kecil. Perlahan kedua matanya terbuka. Sesaat dahinya berkerut saat ia merasakan sesuatu yang halus menyelimuti dirinya. Pengelihatannya turun dan mendapati selimut sutra putih membalutnya. Di tambah sebuah bantal yang menyangga kepalanya. Pantas saja semalam ia tidur nyenyak walaupun tidur di atas sofa.
Aroma masakan dari dapur semakin menyadarkan dirinya, Tenten beranjak duduk. Sungguh di luar dugaan, gadis itu begitu terkejut ketika mendapati Neji tidur pulas dengan posisi terduduk di sofa tunggal. Tanpa selimut, tanpa bantal. Hanya duduk seperti orang yang sekedar melepas lelah dengan kedua mata tertutup. Apakah yang ia lihat itu benar?
Tenten beranjak cepat dan berlari menuju dapur yang letaknya tak begitu jauh dari sana. Tepat seperti dugaannya, Ikuya sudah berdiri di depan kompor sembari mengaduk sesuatu di dalam panci. Segera saja Tenten menghampiri Ikuya menggelayut bahu Ikuya gusar dengan wajah gugup.
"Tenten-san, kau ini kenapa?" Tanya Ikuya terkejut.
"Ne-Neji! A-apa yang dia lakukan di sana?" Tanya Tenten dengan alis menurun.
Ikuya tertawa sesaat lalu menggeleng pelan tidak menjawab pertanyaan Tenten. Wanita itu melanjutkan mengaduk makanan di atas kompor.
"Kenapa Baasan tertawa? Apa yang salah?"
"Pertanyaan yang menggelikan Tenten-san. Sebagai suami yang baik, tentu saja dia tidak ingin kau tidur seorang diri di ruang keluarga. Dia menyerahkan selimut dan bantalnya untukmu agar kau nyaman tidur di sana dan tidak kedinginan, dia menunggumu semalam suntuk khawatir kau bangun dan membutuhkan sesuatu. Sungguh suami sempurna idaman jutaan umat bukan?" Jelas Ikuya dengan kerlingan mata menggoda.
"Jangan bercanda." Gadis itu melongo menatap Ikuya yang cekikikan.
"Apa wajahku terlihat bercanda? Daripada kau bertahan dengan wajahmu itu, lebih baik bangunkan Neji dan bocah-bocah itu. Boruto dan Himawari harus pergi ke sekolah. Dan juga Neji, bangunkan dia. Dia harus pergi ke kantornya." Kata wanita itu tanpa mengalihkan matanya pada panci di hadapannya.
"Baiklah, aku tau." Balasnya lesu.
Tenten segera berbalik hendak membangunkan bocah-bocah di atas. Sesaat ia melihat Neji yang masih tertidur pulas di sana. Bibir Tenten maju kedepan sebal. Ia menghela nafas berat dan pada akhirnya menghampiri pria itu yang masih tidak bergerak.
"Neji, bangunlah. Ini sudah hampir siang." Kata Tenten melipat kedua tangannya acuh.
Merasa tidak ada respon, gadis itu sedikit mendekat pada Neji. Mereka kini hanya berjarak beberapa centi.
"Hei Neji, bangunlah." Lagi kata Tenten dengan suara sedikit keras.
Gadis itu mendengus kesal ketika Neji masih lelap dalam tidurnya. Tenten mendekatkan bibirnya pada telinga Neji dan berteriak tepat di telinga pria itu.
"Hyuuga, bangunlah!" Teriaknya lantang.
Sedetik kemudian Neji membuka matanya. Terkejut? Tentu saja. Tenten berteriak lantang seperti di hutan belantara tepat di telinganya. Dan kini, bukan salah Neji jika kaki panjangnya mengenai kaki Tenten dan membuat gadis itu tersungkur dengan pantat mendarat terlebih dahulu. Seketika Tenten meringis.
"I-itaaa..." Ringis gadis itu dengan dahi berkerut.
"Apa yang kau lakukan di situ?" Tanya Neji di tengah ketidaksadarannya.
"Pikirkan saja sendiri! Kau menyebalkan!" Sergah Tenten cepat dan bangkit. Gadis itu berjalan tertatih ke lantai atas. "Neji sialan, pagi-pagi sudah membuat masalah." Gerutunya.
.
Neji turun berbalut jas abu-abu senada dengan bawahannya juga kemeja putih. Dasi biru gelap yang ia kenakan melengkapi penampilannya pagi ini. Mata amethysnya melihat Kun, Tenichi, Boruto, dan Himawari sudah duduk manis di kursi meja makan. Di depan mereka terdapat satu piring kosong yang akan di isi sesuatu oleh gadia berambut hazel yang berdiri di salah satu sisi meja. Suasana pagi yang ramai ini membuat Neji mengulas senyumnya ringan. Betapa senangnya kini rumahnya tidak sepi seperti dulu lagi.
Neji menghampiri kursi kosong yang tak jauh darinya. Tanpa banyak bicara Neji segera duduk di sana. Di hadapannya sudah tersedia sepotong roti dan secangkir kopi. Dahinya mengerut dan menatap Tenten lama. Merasa di perhatikan, Tenten yang sedang menyendokkan nasi ke piring Boruto balik menatap Neji. Pria itu mengedikkan kedua bahunya sembari melirik sesaat apa yang ada di hadapannya.
"Apa?" Tanya Tenten ketus.
"Ini..."
"Iya, itu sarapanmu. Makanlah." Jawab gadis itu sekenanya.
Secangkir kopi dan sepotong roti? Baiklah, Neji merasa seperti anak tiri di rumahnya sendiri. Yang benar saja.
Dengan wajah dongkol Neji menyeruput kopi hangat di hadapannya. Lalu melahap roti di samping cangkirnya.
Tenten hanya tertawa geli melihat ekspresi Hyuuga itu. "Aku hanya bercanda. Terima ini." Katanya meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sup mengepul panas di mangkuk kecil.
"Tidak kusangka, ternyata gadis sepertimu bisa menyiapkan semua ini." Ejeknya.
"Jangan mulai, ini masih pagi." Sergah Tenten ketus.
"Bisa kita bicara sebentar?" Neji menggelayut pelan tangan Tenten. Mencegah gadis itu menjauh darinya.
"Ada apa? Bicara saja di sini." Kata gadis itu.
"Sebentar saja."
Mata hazel Tenten memutar malas. "Baiklah baiklah." Ia melepas celemeknya dan meletakkan benda itu pada sandaran kursi. "Ikuya Baasan, tolong berikan susu itu pada Tenichi dan Hima, mereka memintanya tadi." Kata Tenten menunjuk dua gelas susu di samping rak.
"Hm, pergilah." Balas Ikuya singkat.
Neji membawa Tenten keruang tamu. Beberapa saat kemudian pria itu merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah ponsel yang ada di tangan Neji ia berikan pada Tenten. Gadis itu menaikkan alisnya heran.
"Apa itu?" Tanya nya dengan dahi mengerut.
"Apa kau buta? Ini ponsel."
"Aku tau bodoh. Maksudku, kenapa kau memberikan itu padaku?"
"Aku tau kau tidak memiliki benda ini. Maka dari itu aku pikir akan penting jika kita tetap berkomunikasi. Apapun yang terjadi pada kau dan anak-anak, katakan padaku. Juga gelagat aneh penghuni rumah. Aku hanya berjaga-jaga jika Hiashi-sama menyuap pekerja di rumah ini. Tapi aku akan sangat bersyukur jika pria tua itu tidak melakukannya."
"Kau hanya curiga pada Pamanmu. Bagaimana dengan Hinata? Sepertinya dia juga tidak menyukaiku. Kau tidak curiga padanya?"
"Tidak. Aku tau bagaimana Hinata, dia tidak akan pernah melakukan hal semacam itu. Jika ia ingin mengetahui sesuatu, ia akan turun tangan untuk mencari tau. Satu lagi, jaga jarakmu dengan Itachi. Karena..."
"Aku menurutimu dan sudah kulakukan. Tapi jangan pernah membatasi ruang gerakku jika kau tidak ingin melihatku meninggalkan rumah ini." Sela Tenten membuat Neji seketika berhenti bicara.
"Bisakah kau diam? Aku belum selesai bicara. Hyuuga Corp memiliki proyek di Hokkaido, kami bekerja sama dengan Uchiha Grup. Dan Hyuuga mempercayakan proyek ini pada Hinata, sedangkan Uchiha mungkin akan menyerahkan semuanya pada Uchiha Sasuke. Tapi tidak menutup kemungkinan Itachi juga turut andil dalam proyek ini. Karena pengalaman Itachi yang membuat pimpinan Uchiha memintanya untuk menuntun proyek pertama adiknya ini. Itu artinya Itachi dan Hinata akan sering bertemu. Dan jika Hinata tau kau dan Itachi memiliki hubungan, bukan tidak mungkin Hiashi-sama dan Hinata akan mendepak keluar kau dari sini. Bukan hanya kau, Kun dan Tenichi pun akan mengalami hal yang sama. Yang kuminta adalah, jaga sikapmu. Jangan sampai membahayakan Kun dan Tenichi. Kau paham?"
"Baiklah, aku akan berusaha."
"Satu lagi, aku berpikir untuk menyekolahkan Kun dan Tenichi. Bagaimana menurutmu?"
"Terserah dirimu. Bukankah kau bilang aku harus menuruti perkataanmu? Bukan Kun dan Tenichi yang ku khawatirkan sekarang. Aku khawatir pada diriku sendiri. Aku takut padamu yang suatu waktu bisa saja mengancam kegadisanku." Kata Tenten melangkah lunglai meninggalkan Neji.
"Maafkan aku." Kata Neji tiba-tiba. Tenten berhenti.
"Untuk?"
"Kemarin dan beberapa hari ini. Aku bersikap kasar padamu. Aku minta maaf."
"Lupakan saja. Lagipula aku juga sudah bisa berpikir, sebagai seorang Ibu, aku tidak bisa mengutamakan egoku pada dirimu. Sekarang aku sudah tidak sendiri dan aku sudah menyadarinya. Ada seseorang yang membutuhkanku, dan orang itu berada di sini."
Neji diam. Ia sedikit senang karena sikapnya Tenten akhirnya bisa mengerti apa yang dia pikirkan. Tapi di sisi lain ia sungguh menyesal bersikap kasar pada Tenten. Semua itu semata-mata karena ia tidak tau bagaimana caranya berbicara dan memperlakukan seorang gadis asing yang di paksa masuk kedalam kehidupannya oleh keadaan. Tapi sekarang ia sudah mulai terbiasa dan mulai dapat mengendalikan emosinya. Tenten adalah gadis yang pengertian jika gadis itu di dekati secara halus dan perlahan. Neji tau itu sekarang.
"Dan terimakasih juga untuk selimut dan bantalmu. Lain kali jangan mengorbankan malammu tidur di ruang terbuka bersamaku. Hal itu membuatku merasa bersalah." Kata Tenten sedikit tertatih meninggalkan Neji.
oOo
Segera saja Tenten masuk kedalam restoran tepat pukul 7.30. Tenten lagi-lagi terlambat. Dia harus menunggu Neji berangkat terlebih dahulu agar Neji tidak mengetahui pekerjaanya sekarang. Baru saja masuk, matanya beralih pada bertumpuk-tumpuk box makanan yang di susun di salah satu meja ruangan. Gadis itu memperlambat langkahnya dan pada akhirnya berhenti. Ia melihat Ajisai yang tengah menghitung box-box tersebut di sisi meja. Tentu saja Tenten segera menghampiri gadis bersurai ungu tersebut.
Dengan tatapan lugu, Tenten menatap Ajisai dan box-box bergantian, "Ajisai-san, apa aku ketinggalan sesuatu? Untuk apa box-box ini?"
Beberapa detik setelah Ajisai selesai dengan urusannya, gadis bersurai pendek tersebut beralih pada tema barunya tersebut. "Setiap 2 minggu sekali restoran kita memberikan beberapa box bubur untuk para lansia di panti jompo. Dan hari inilah waktunya."
"Benarkah? Wah, Menma-sama sangat baik ya." Puji gadis itu mangut-mangut.
"Aku memang baik, tapi bukan berarti aku mengijinkanmu untuk datang terlambat lagi, Nona."
Sontak Tenten memundurkan dirinya kebelakang ketika hembusan nafas bos nya tersebut mengenai telinganya. Ia tertawa renyah menatap wajah datar Menma.
"M-Maafkan aku Menma-sama. Ada sesuatu yang menghalangiku tadi." Katanya tersenyum kecut.
"Alasan klasik." Sahut Menma singkat.
"Menma-sama, semuanya sudah siap. Seratus box sudah siap di kirim." Kata Ajisai tiba-tiba menatap Tenten dan Menma bergantian.
Tenten melempar senyumnya pada Ajisai. Gadis itu tau apa maksud Ajisai menyela percakapan antara dirinya dan bosnya. Ajisai mengedipkan sebelah matanya mengisyaratkan pada Tenten agar lekas pergi dari tempat itu. Kedipan mata Ajisan di balas anggukan kecil oleh Tenten. Tenten segera berlari kecil meninggalkan tempat tersebut.
Gyut!
"Mau kemana kau?" Tanya Menma menahan lengan Tenten.
Kedua alis Tenten berkerut takut. Perlahan ia membalikkan badan.
"Kau datang terlambat. Antarkan semua ini." Menma melepas tangannya dari Tenten dan berbalik menjauhi Tenten dan Ajisai yang masih terdiam di tempatnya.
"Ajisai, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku membawa semua bubur ini? Dan lagi aku tidak tau panti jompo mana yang Menma-sama maksud." Tanya Tenten bertubi-tubi sembari mengacak rambutnya frustasi.
"Tenang Tenten. Tenangkan dirimu. Mobil box yang biasa mengirim bubur-bubur ini akan segera datang. Dan pengemudi mobil itu sudah tau panti jompo yang biasa mendapatkan bubur-bubur ini. Kau hanya tinggal duduk di sebelah sopir dan membagikan bubur-bubur ini di sana. Sebagai perwakilan restoran, tugasmu hanya memastikan bubur-bubur itu sudah berada di tangan yang tepat dan semuanya mendapat jatahnya masing-masing." Jelas Ajisai.
"Benarkah? Hanya itu?"
"Tentu saja. Apalagi?"
"Apa aku akan melakukannya sendirian?"
"Biasanya Menma-sama akan menugaskan aku. Tapi kali ini kau yang akan melakukannya. Jika urusan Menma-sama sudah selesai, biasanya ia akan pergi kesana dan memantau langsung keadaan di sana."
"Apa kali ini dia akan kesana? Sungguh aku takut melakukan kesalahan."
"Entahlah. Sebentar lagi Menma-sama akan pergi ke salah satu sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sekolah tersebut mengadakan acara makan bersama dengan anak-anak penderita kanker. Jika sudah selesai, mungkin dia akan kesana."
oOo
Tenten mengenggam ponsel di tangannya erat. Kini ia tengah duduk di samping kursi kemudi. Sejak 15 menit yang lalu ia hanya melemparkan pandangannya keluar jendela. Ia sungguh gugup takut melakukan kesalahan. Kata Ajisai, jarak dari restoran dan panti jompo hanya 30 menit. Dan semakin dekat jaraknya dengan panti jompo, semakin gugup pula gadis itu.
Ia mengangkat ponselnya dan menekan tombol home di sana. Wajah teduh Kun dan Tenichi yang sedang terlelap menjadi wallpaper ponsel tersebut. Entah apa yang harus Tenten katakan, tapi ia berterimakasih pada Neji yang memasang foto itu di ponselnya. Tenten bisa sedikit lebih tenang sekarang.
Drrt.. drrt..
Ponselnya bergetar cepat sesaat setelah matanya kembali fokus kejalanan. Sangat jelas terbaca nama Neji di sana. Tenten menghembuskan nafasnya cepat dan menerima panggilan tersebut.
"Apa?" Tanya Tenten ketus.
"Bagaimana anak-anak? Apa mereka baik-baik saja?"
"Neji, kau baru saja meninggalkan mereka 1 jam yang lalu. Kekhawatiranmu terlalu berlebihan."
"Hiashi-sama bukanlah orang yang bisa di sepelekan."
"Baiklah aku tau." Gadis itu memutar dua bola matanya malas. "Mereka baik-baik saja di rumah."
"Di rumah? Dimana kau sekarang?" Suara sakartis dapat Tenten degar dengan jelas. Jika ia berada di hadapan Neji, sudah pasti ia dapat melihat kerutan di dahi pria itu.
"A-aku sedang di minimarket sekarang. Kau jangan khawatir." Jawabnya gugup. "S-sudahlah. Kau membuat barang belanjaanku jatuh semua. Sampai nanti." Secepat kilat Tenten memutus panggilan itu. Ia bernafas lega.
"Maaf nona, kita sudah sampai." Kata si pengemudi.
"Baiklah Jiisan."
oOo
Suara ketukan pintu dari arah luar membuat Neji mengangkat wajah dari berkas-berkas yang ada di tangannya. Tak lama kemudian seorang gadis dengan setelan abu-abu masuk kedalam.
"Maaf Neji-sama, istirahat siang kali ini jadwalmu menemui Itachi-sama dan juga Sasuke-sama bersama Hinata-sama. Baru saja Hinata-sama mengabari kalau dia sepakat untuk bertemu di sebuah cafe di pusat kota." Jelas Matsuri
"Lalu bagaimana dengan Hinata? Apa dia akan kemari?"
"Rencananya seperti itu. Tapi ada sesuatu yang harus Hinata-sama lakukan terlebih dahulu. Dia bilang jika sampai nanti jam istirahat siang ia tidak kunjung kemari, kita di minta untuk pergi terlebih dahulu. Kalian akan bertemu disana."
"Baiklah aku tau. Bisa tolong kau tinggalkan aku sebentar? Aku sedang ingin sendiri." Kata Neji meletakkan berkas di tangannya dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Ia berpikir bagaimana ia nanti harus bereaksi saat bertemu Itachi setelah mengetahui tentang pria itu dan Tenten. Apakah ia harus diam dan berpura-pura tidak tau apa-apa? Atau dia akan menghardik Uchiha itu dan berteriak di hadapannya untuk menjauhi wanitanya. Tunggu, wanitanya? Benarkah barusan Neji berpikir bahwa Tenten adalah wanitanya? Daripandangan orang lain mungkin iya. Tapi keadaan yang sebenarnya sangat jauh dari perkiraan orang-orang.
"E-eto Neji-sama. Ayahku menitipkan salam untukmu." Matsuri bersuara ragu.
"Benarkah? Terimakasih. Sampaikan salamku juga padanya." Kata Neji kembali pada berkas-berkasnya.
"Dan beliau juga ingin kau datang malam ini kerumah. Ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan denganmu."
Neji kembali meletakkan kertas-kertas di tangannya dan mendongak menatap Matsuri yang tertunduk. Pria itu mengulas senyumnya. "Baiklah, setelah urusan kita selesai dengan Uchiha bersaudara itu kita akan kerumahmu."
"B-benarkah?" Tanya Matsuri terkejut.
"Tentu saja. Aku sudah beberapa kali menolak undangan beliau karena kesibukanku. Tapi kurasa malam ini aku akan memenuhinya."
"B-baiklah kalau begitu. Aku akan segera menghubungi Ayahku. Beliau pasti senang mendengarnya." Kata Matsuri berlari keluar.
Neji terkikik geli melihat tingkah gadis itu. Mungkin malam ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan kelanjutan hubungannya dengan Matsuri. Ia bersumpah tidak akan melepaskan Tenten. Gadis itu perlahan sudah merangkul hatinya. Di tambah lagi kehadiran Kun dan Tenichi semakin membuatnya mantap untuk mempertahankan Tenten. Ia sempat heran, pergi kemana selera tingginya terhadap wanita? Tenten bukanlah gadis anggun, ia adalah gadis urakan. Bukan gadis sexy seperti tipenya, jika di bandingkan, tubuh Matsuri jelas lebih menggoda. Bukan gadis jenius seperti yang selama ini ia impikan untuk bersanding dengannya. Namun di balik itu semua, senyum gadis itu. Senyum manis Tenten yang telah berhasil menjungkir balikkan penilaian pada wanita. Senyum polosnya membuat Neji membuang jauh kata-kata 'Wanita High Class' di dalam otaknya. Dan itu semua baru Neji sadari ketika ia menyelimuti Tenten tadi malam. Entah apa yang gadis itu impikan, tapi yang jelas ia melihat Tenten tersenyum dalam lelapnya. Wajahnya membuat Neji gemas ingin memeluknya jika saja ia tidak memiliki kontrol dalam dirinya.
oOo
"Maaf Tenten-san, kau boleh kembali. Semua sudah mendapatkan jatah buburnya masing-masing." Kata seorang pengurus panti pada Tenten.
Gadis itu hanya menatap sekilas pengurus tersebut dan meneruskan mengepel lantai aula yang terkena tumpahan teh akibat para lansia yang sedikit mengendur otot tangannya ketika mengenggam gelas kaca berisi teh hangat.
"Tidak apa-apa Yugao-san. Sebagai cleaning service yang bertanggung jawab, sudah seharusnya aku membantu di keadaan seperti ini." Kata Tenten di iringi gelak tawa ringan dari mereka.
Setelah lantai kering, Tenten perlahan berdiri sembari menyentuh pinggang bagian belakangnya. Gadis itu meringis pelan ketika nyeri menyerang punggung bagian belakangnya.
"Tenten-san, kau baik-baik saja?" Tanya Yugao yang melihat gelagat janggal Tenten.
"Tidak apa-apa Yugao-san. Tadi pagi aku sempat jatuh. Sebentar lagi juga sembuh." Kata gadis itu mencoba menahan rasa nyeri di punggung dan kakinya.
"Boleh kulihat?" Kedua alis Yugao berkerut cemas.
"Si-silahkan."
Yugao terkejut. Kedua matanya membulat melihat lebam biru berukuran cukup besar di bagian pinggang belakang Tenten. Ujung jarinya menyentuh lebam itu dan seketika Tenten meringis.
"Kau yakin baik-baik saja? Lebam di tubuhmu cukup besar, sepertinya kau harus memeriksanya ke dokter."
"Aku yakin Yugao-san. Sebentar lagi pasti akan hilang. Mungkin sedikit kompres air dingin bisa membuat lebamnya hilang."
"Duduklah, aku akan mengambil es untukmu."
"Tidak Yugao-san. Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkanmu."
"Aku tidak menerima penolakan Tenten. Kau sudah banyak membantu kami."
.
.
Tenten meringis ketika permukaan dingin handuk kecil yang sudah di rendam dengan air es mengenai kulitnya. Satu handuk Yugao letakkan pada lebam di bagian pinggang belakang, sedangkan yang satunya lagi ada di pergelangan kaki kanan Tenten.
Tenten berbaring tengkurap menggunakan kedua tangannya yang terlipat sebagai bantalan dagunya. Sedangkan Yugao dengan sabar mengompres lebam Tenten yang sepertinya tidak kunjung reda.
"Tenten-san, jangan bekerja terlalu keras jika kau tidak ingin lebam dan nyerimu di kakimu semakin parah."
"Aku akan berusaha Yugao-san." Tenten tertawa kecil.
"Biasanya Ajisai yang melakukan ini. Tapi sekarang kenapa Bos muda nan hangat itu menyuruhmu?"
"Hm, tadi aku terlambat dan sebagai gantinya Menma-sama menyuruhku untuk mengantarkan makanan-makanan itu." Jelasnya di tengah ringisannya. "Ah tunggu, kau bilang Menma-sama pribadi yang hangat?" Sebelah alis Tenten naik.
"Iya. Apakah ada yang salah dengan perkataanku?"
"Aku tidak yakin dia pribadi yang hangat." Balas Tenten lirih.
"Aku tau. Dia sangat displin jika tentang pekerjaan, namun di luar itu dia pribadi yang hangat dan menyenangkan."
Kedua alis Tenten terangkat mengisyaratkan dia mengerti dengan apa yang Yugao katakan.
Pintu berwarna putih yang tadinya tertutup terbuka perlahan. Tak lama kemudian Menma dengan setelan kemeja dan jas yang terbuka kancingnya masuk. Kedua mata berbeda warna Menma segera teralih pada Tenten yang terbaring dan Yugao yang duduk tepat di sampingnya.
"Baguslah kau sudah datang. Sekarang kuminta jangan memporsir karyawanmu terlalu keras. Dia sedang tidak dalam keadaan baik sekarang." Yugao memperingatkan Menma yang mulai menggeret satu kursi di ujung ruangan untuk mendekat ke Tenten yang masih tengkurap.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Menma mengelus puncak kepala Tenten.
"Aku tidak apa-apa Menma-sama. Sebentar lagi juga sembuh." Balas Tenten tersenyum sekenanya.
"Lanjutkan pekerjaanmu Yugao-san, biar aku yang mengurusnya." Kata Menma mengambil alih handuk kecil yang baru saja Yugao angkat dari wadah plastik berisi es.
Yugao mengedikkan kedua bahunya ringan. Wanita itu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Tenten dan Menma di dalam salah satu ruangan kosong berisi ranjang kecil di dalamnya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Apa kau jatuh saat bekerja? Jika iya, aku yang akan bertanggung jawab." Menma mulai meletakkan handuk ke punggung gadis itu.
"Sshh~" Tenten mendesis pelan. "Tidak Menma-sama, aku jatuh tadi pagi saat dirumah."
"Kau yakin baik-baik saja? Tidak mau memeriksakan ini kedokter?"
"Tidak Menma-sama. Besok pasti sudah sembuh."
Menma menyingkirkan handuk tersebut dari tubuh Tenten dan menarik baju gadis itu menutupi bagian yang terbuka. Sontak Tenten terkejut dan menoleh kebelakang. Melihat Menma yang mulai beranjak dan kedua tangan kekarnya membalik tubuh Tenten yang tengkurap ke posisi telentang. Tak berapa lama tubuh Tenten terangkat keatas dan secepat kilat tangan Menma yang menyangga bagian kaki Tenten meraih ponsel gadis itu di atas ranjang dan di letakkan di atas perut gadis itu.
"Menma-sama!" Seru Tenten terkejut.
"Urusan kita disini sudah selesai. Sudah saatnya kembali. Tapi sebelum itu, kita akan mengobati lebammu dulu." Kata Menma tanpa menatap Tenten.
"Sungguh Menma-sama, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu repot-repot."
Pria itu menghentikan langkahnya di koridor menatap Tenten dengan wajah datar. "Aku tidak tau kenapa kau menolak pergi kerumah sakit bersamaku. Tapi jika kau sakit, tidak ada yang membersihkan restoranku. Pekerjaanmu akan kacau dan semuanya berantakan. Ditambah lagi kau ahlinya terlambat. Baru dua hari bekerja kau mau membuat usahaku bangkrut?"
"M-maaf Menma-sama. Aku hanya tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Baiklah aku akan kerumah sakit, tapi aku akan lebih nyaman jika Ajisai yang mengantarku." Lirihnya menunduk.
"Itu yang kau mau? Baiklah. Kau akan pergi dengan Ajisai. Kau puas?"
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk lemah tanpa berani menatap Menma yang masih belum menurunkannya.
oOo
Neji dan Matsuri sudah sampai di tempat yang Hinata maksud. Keduanya segera masuk setelah memarkirkan mobilnya. Iris Neji melihat Itachi dan Sasuke yang sudah duduk di sisi kanan cafe tepatnya di depan kaca. Mereka berdua sedang asik dengan ponsel di tangannya masing-masing.
"Duduklah terlebih dahulu Neji-sama, aku akan pesan sesuatu untukmu." Kata Matsuri hanya di balas anggukan ringan oleh Neji.
Pemuda berambut raven mendongak begitu menyadari ada seseorang yang menghampirinya. Sasuke segera bangkit dan menjabat tangan Neji di ikuti Itachi.
"Bagaimana kabarmu Neji?" Ucap Sasuke mengulas senyum ringan.
"Aku baik. Kuharap kau juga begitu."
Sasuke mengangguk sedangkan Itachi hanya melempar senyumnya kecil. Ketiganya duduk bersamaan.
Antara Neji dan Itachi melemparkan tatapan dingin mereka satu sama lain. Sesekali Neji mengalihkan matanya ke arah lain lalu kembali pada Itachi. Tak berbeda jauh dengan Itachi, kedua tangannya memainkan sendok kopi di atas meja tanpa melepas matanya dari Neji.
Sasuke yang merasakan aura janggal antara saudaranya dan Neji, menghela nafas panjang diiringi suara yang cukup keras untuk menyadarkan keduanya. Neji dan Itachi beralih pada Sasuke. Kedua alis Sasuke terangkat cepat mendapat tatapan dari Neji dan Itachi.
"Kurasa kita harus keluar dari suasana ini." Kata Sasuke membenarkan posisi duduknya. Bungsu Uchiha itu menatap Neji dan Itachi bergantian. "Aku tau semua ini tentang satu wanita yang bersemayam di pikiran kalian. Tapi alangkah baiknya jika sebelum presentasi di mulai, kita membicarakan rencana-rencana yang mungkin akan kita lakukan kedepannya. Secara profesional."
Keduanya diam. Neji dan Itachi sama-sama tidak tau harus memulai darimana. Sebelum Itachi mengetahui semua ini, sangatlah mudah baginya untuk berbaur dengan Neji. Begitu juga Neji, rasanya tidaklah sulit menyeimbangkan pemikiran antara dirinya dan Itachi. Tapi kini, karena satu hal yang masing-masing menganggap hal itu sangat penting dan berarti dalam hidupnya, mereka merasa berada jauh sejauh 100 kilometer meski kini antara dirinya dan Itachi hanya berjarak beberapa kaki.
"Tenten." Sasuke bersuara. Praktis Itachi dan Neji menoleh pada Sasuke yang menatap keluar menembus kaca sembari mengusap dagunya dengan ujung jari telunjuk dan jempolnya. "Dia gadis yang manis, cantik, baik, juga menawan. Tatapannya yang hangat seolah bisa membuat retakan di hati siapapun yang sedang beku. Senyumnya yang seolah mengeluarkan wangi lavender sudah pasti dapat membuat seseorang berada dalam sebuah taman surga yang sangat indah. Jika boleh jujur, sebenarnya dia hampir mendekati tipeku.."
Sasuke menghentikan kata-katanya sejenak. Uchiha itu menatap kakaknya yang melemparkan death glear padanya. Sasuke tidak takut, ia tetap berusaha tenang.
"Aku juga akan berusaha mendapatkan Tenten jika saja aku tidak memiliki tunangan." Lanjut Sasuke membuat amarah Neji mereda. Hampir saja ia meledak jika saja bungsu Uchiha Itu secara gamblang menyatakan ketertarikannya pada Tenten. Neji cemburu dan itu dapat dilihat jelas oleh Sasuke.
Itachi menyeruput minumannya lalu meletakkan gelas keramik itu perlahan. "Kurasa Sasuke benar. Kita harus keluar dari keadaan ini. Untuk sementara, kesampingkan dulu masalah pribadi."
Tidak ada jawaban dari Neji. Ia hanya mendengus pelan dan mengangguk ringan.
"Dimana Hinata? Kita tidak bisa memulai ini jika Hinata tidak ada. Semua desain dan rincian pengeluaran aku serahkan kepadanya." Kata Sasuke tenang.
"Dia akan segera datang. Ada sesuatu yang harus dia lakukan terlebih dahulu." Jawab Neji sekenanya.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Matsuri datang dan meletakkan tasnya di salah satu kursi yang masih kosong. Gadis itu menjabat tangan Sasuke dan Itachi bergantian.
"Maaf semua aku terlambat. Bisa kita mulai sekarang?" Kata Hinata duduk di samping Neji dan melatakkan tas besar berisi desain mall dan hotelnya.
"Kau mau pesan sesuatu Hinata-sama?" Tawar Matsuri.
Gadis indigo itu beralih pada Matsuri. Ia tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak Matsuri-san. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Sebentar lagi Himawari pulang sekolah. Tidak ada yang menjemputnya. Sopir pribadiku mengantar Boruto ke perkemahan sekolah bersama teman-temannya."
"Baiklah, kita selesaikan pertemuan ini sekarang juga." Kedua alis Sasuke naik menatap gulungan kertas yang di keluarkan oleh Hinata.
Neji dan Itachi membenarkan posisi duduknya bersamaan. Keduanya sempat saling pandang hingga akhirnya dehaman Sasuke memecah kekakuan di antara mereka berdua.
"Seminggu lagi pengosongan lahan akan selesai. Dan sekitar satu bulan dari sekarang, proses pembangunan akan di laksanakan. Kupikir semua akan berjalan lancar, sampai saat kemarin kepala arsitek menghubungiku dan mengatakan beberapa konstruksi bangunan belum di konfirmasi pemesanannya oleh perusahaan konstruksi sementara semua dana yang kita alokasikan sudah kita berikan." Jelas Hinata panjang lebar.
Sasuke memposisikan dadanya lebih dekat dengan sisi meja. "Maksudmu ada penyelewangan dana?"
"Aku juga tidak tau. Aku sempat bertanya pada Naruto-kun tentang hal ini. Dan dia bilang hal ini biasa terjadi karena kesalahan komunikasi. Yang terpenting, seminggu sebelum pengerjaan di lakukan, semua bahan konstruksi sudah berada di tempatnya. Tapi tidak perlu menunggu, jika besok ada waktu aku akan ke perusahaan konstruksi dan segera menyelesaikan masalah ini."
Pria bersurai hitam menarik mundur dirinya bersandar pada sandaran pintu. Kedua tangannya ia lipat kedepan. "Sepertinya Hinata sudah cukup mahir dalam bidang ini. Hanya tinggal Sasuke yang belum menunjukkan kemampuan berbisnisnya."
"Akan." Sergah Sasuke ketus.
"Dan tentang desain gedung hotel dan mall sudah selesai. Yang kurang hanya desain interior setiap ruangan yang ada. Jujur saja aku tidak tau apa-apa tentang hal semacam itu. Kudengar Sasuke-san ahli dalam bidang ini. Jadi kuserahkan pada Sasuke-san." Hinata mengulas senyumnya menyerahkan gulungan kertas di tangannya pada Sasuke. "Bawalah, siapa tau kau memerlukannya."
"Hm, kau datang pada orang yang tepat." Kata Sasuke mengulas senyumnya.
Itachi tertawa renyah menatap Sasuke yang membalas tatapannya remeh. "Baiklah baiklah, kutarik ucapanku."
"Kurasa kita tidak lagi di butuhkan disini. Bukan begitu Itachi?" Neji angkat suara. Semua mata tertuju padanya.
"Kau benar. Mereka sudah bisa mengatasi masalahnya sendiri. Tugas kita hanyalah mengontrol dari belakang. Aku bisa sedikit santai sekarang dan mengalihkan fokusku ke hal lain. Hal yang akan menjadi prioritasku misalnya."
Neji tau benar kemana arah pembicaraan Itachi. Namun seperti biasanya, ia bersikap cuek namun tak mau begitu saja menelan perkataan Itachi barusan.
"Hm, aku juga bisa bersantai sekarang dan mulai memperhatikan hal lain yang sudah menjadi tanggung jawabku saat ini. Layaknya tender besar yang selalu di perebutkan oleh banyak pihak, aku yakin akan memenangkannya. Posisiku lebih menguntungkan dari yang lainnya." Kedua bahu Neji mengedik santai.
Senyum ketir terulas dari bibir Itachi. "Tidak perlu posisi yang bagus jika kau ingin memenangkan tender menggiurkan. Saham besar yang kumiliki dapat kugunakan untuk memenangkannya."
Sasuke mengangkat sebelah alisnya mendengarkan percakapan antara Itachi dan Neji. 'Posisi menguntungkan Neji juga hubungan akrab Itachi dan Tenten. Ck, persaingan yang menarik.' Batin Sasuke menyeringai.
Sementara Neji dan Itachi sibuk dengan argumennya masing-masing dan Sasuke yang masih asik bicara dengan dirinya sendiri, dua wanita yang duduk di hadapannya hanya diam melihat tingkah para lelaki di depannya. Matsuri dan Hinata saling pandang dan mengedikkan kedua bahunya bersamaan tanda mereka tidak berhasil menerka maksud perkataan Neji dan Itachi.
"Urusan laki-laki. Biarkan saja." Kata Hinata lirih. "Baiklah Matsuri-san, urusanku sudah selesai disini. Aku tidak mau membuat Hima menungguku lama." Hyuuga wanita itu beranjak berdiri dan merangkul sesaat Matsuri tanda perpisahan.
"Baiklah, hati-hati di jalan Hinata-sama."
Matsuri kembali beralih pada Neji.
"Neji-sama, bisa kita pergi sekarang?"
Neji sedikit tersentak ketika namanya di sebut. Pria itu sedikit gelagapan melihat Matsuri.
"T-tentu saja Matsuri." Pria itu berdiri. Memberi salam pada Uchiha bersaudara di hadapannya dan segera keluar tanpa mempedulikan pesanannya yang baru saja datang.
"Gadis itu bagaikan inti bumi. Semua orang berputar di sekitarnya. Hanya tinggal menunggu pada siapa dia akan menentukan pilihannya. Seri. Posisi kalian sama-sama menguntungkan. Tapi dilihat dari keseriusan Neji, hal yang tidak kau sangka bisa saja terjadi." Kata Sasuke serius.
Mata gelap Itachi melirik Sasuke. "Aku jarang tertarik pada wanita. Sekali aku suka, akan kukorbankan semua untuknya. Persetan dengan Uchiha Fugaku yang tidak suka dengannya. Dia hanya menilai orang lain menurut presepsinya sendiri."
"Paling tidak Kaasan dan aku berada di pihakmu. Jangan pedulikan penilaian Tousan tentang Tenten. Dia tidak akan mengerti sampai dia melihat dengan mata kepalanya sendiri." Kata bungsu Uchiha itu mengeratkan tangannya pada bahu kanan Itachi yang entah sejak kapan berada di sana.
oOo
"Ahh, sssh..." Suara desisan kembali terdengar dari bibir Tenten. Semakin terdengar jelas ketika kakinya naik ke tangga pelatarana rumah Hyuuga Neji.
Dengan lengan kiri yang menggelayut pada bahu Ajisai, perlahan Tenten naik dengan posisi kaki kanan sedikit berjinjit. Ia sudah tiba setelah 1 jam yang lalu ia berada di rumah sakit berkat paksaan dari bosnya. Ia bersikukuh ingin Ajisai saja yang menemaninya. Ia ingat pesan Neji akan Hiashi yang bisa saja menyewa mata-mata untuk menguntitnya. Tenten tidak mau hal buruk menimpa anaknya jika pesuruh Hiashi melihat dirinya pergi dengan laki-laki lain.
"Tenten-san, aku heran padamu. Kau memiliki rumah sebesar ini dan kau masih saja bekerja di restoran bubur sebagai cleaning service?" Tanya Ajisai setelah gadis itu selesai dengan ekspresi terperanganya.
Gadis itu tertawa renyah. "Ini bukan rumahku Ajisai. Ada sesuatu yang belum bisa kuceritakan padamu. Aku akan mengatakannya jika aku sudah siap."
"Aku tidak akan memaksamu membuka mulut Tenten. Kapanpun kau siap, aku akan mendengarkan."
"Terimakasih atas pengertiannya." Sahut Tenten ramah.
Ajisai membuka pintu kokoh kediaman Hyuuga. Bersamaan dengan itu, Tenichi yang sedang berada di ruang keluarga menoleh. Gadis kecil itu terkejut melihat Ibunya di papah oleh seseorang dan pergelangan kaki kanannya di bebat. Sontak Tenichi berlari menghampiri Tenten yang masih berada di ambang pintu.
"Kaasan, ada apa denganmu?!" Tanya Tenichi dengan ekspresi polosnya. Tenten tertawa kecil.
"Perkenalkan, dia putriku. Tenichi. Dan Tenichi, dia bibi Ajisai." Hazel Tenten melihat Kun dan Ajisai bergantian.
"Hai bibi. Terimakasih sudah mengantar ibuku pulang." Gadis kecil itu menyipitkan kedua matanya dengan senyum mengembang.
"Tidak masalah gadis manis." Jawab Ajisai. "Jadi, dimana harus kuletakkan Ibu muda ini?"
"Di ruang keluarga saja Ajisai. Maaf merepotkanmu."
"Baiklah, aku sudah mulai kenyang menerima permintaan maafmu. Bisa kita hentikan sekarang juga?"
Keduanya tertawa.
.
"Apa perlu kuhubungi Neji-sama agar cepat pulang?" Ikuya meletakkan secangkir teh hangat di meja menatap Tenten yang tergolek lemah bersandar pada sofa ruang keluarga.
Gadis itu menggeleng. "Tidak perlu Baasan. Ini bukan masalah besar."
"Baiklah. Dan Neji-sama berpesan malam ini dia tidak akan makan malam dirumah."
"Kenapa?"
"Keluarga Matsuri mengundangnya untuk makan malam di sana. Tapi dia bilang tidak akan lama. Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan pada keluarga Matsuri, dia akan segera pulang."
"Matsuri? Siapa dia?"
"Sekretaris pribadi Neji-sama."
"Hanya sekretaris? Saat Neji bicara denganku, dia juga sempat menyebut sekretaris pribadinya."
"Baiklah, lebih dari itu." Ikuya menghela nafas berat menatap Tenten lesu.
"Teman?"
"Bukan."
"Sahabat?"
"Tidak juga."
Kedua mata Tenten menyipit ragu. "Kekasih?"
"Sepertinya."
Tenten menghembuskan nafasnya berat.
"Kenapa?" Tanya Ikuya.
"Tidak ada. Aku hanya heran dengan Neji. Jelas-jelas dia sudah memiliki kekasih. Tapi dia tetap bersikukuh mempertahankan aku. Apa karena dia pikir dia tampan, dia keren, dia kaya, dan juga sukses, semua wanita mau di duakan olehnya?"
"Tidak Tenten-san. Jangan berpikir seperti itu. Ada alasan lain kenapa Neji-sama mempertahankanmu.."
"Kun dan Tenichi. Aku tau." Selanya membuang muka. "Baasan, bisa tinggalkan aku sendiri? Aku ingin istirahat." Imbuh gadis itu.
Ikuya menatap Tenten lesu. "Aku mengerti. Jika kau membutuhkan sesuatu, aku ada di dapur." Wanita tua itu beranjak berdiri meninggalkan Tenten yang mulai membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang.
Tenicihi yang sejak awal duduk di soda tunggal tak juga pergi. Gadis cilik itu terus menatap ibunya yang tergolek lemah di sana.
"Tinggalkan Kaasan Tenichi, bermainlah bersama kakakmu." Kata Tenten dengan mata terpejam.
"Tapi Kaasan.."
"Kumohon Tenichi, untuk hari ini saja."
.
.
.
Langkah Neji terhenti ketika ia melihat Tenten tertidur pulas di atas sofa. Kedua iris amethys nya memutar malas. Kenapa Tenten harus tidur di sana lagi? Apakah kamar yang ia berikan kurang besar?
Pria itu melepas jasnya menghampiri Tenten yang masih terlelap. Mata Neji memicing melihat pakaian yang Tenten kenakan. Kemeja dan juga celana panjang. Di tambah lagu name tag di dadanya membuat Neji semakin penasaran mendekatinya.
"Restoran Bubur Jinkaku?" Lirih Neji menyentuh name tag tersebut. "Dia bekerja?" Dahi Neji berkerut.
Tanpa pria itu sadari, Tenten menggeliat sementara name tag di dadanya masih dalam genggaman Neji. Otomatis ada sensai tarik menarik di sana. Sontak kedua mata madu terbuka.
Mata Tenten turun ke arah tangan Neji yang menyentuh name tag nya. Sementara Neji masih tetap pada posisinya. Gadis itu terkejut dan langsung menjauhkan dirinya dengan mata membulat. Sial bagi Tenten, ia lupa kalau ia berada di sofa. Sudah pasti gerakan cepatnya membuat keseimbangannya kacau dan terjun ke lantai begitu saja.
Kaki terkilir dan nyeri di punggungnya semakin terasa menyengat ketika bagian itu menghantam lantai marmer di bawahnya. Kedua mata Tenten terpejam rapat menahan rasa sakitnya. Di tambah lagi kepalanya sedikit terantuk sisi meja yang tepat berada di sampingnya.
"Kami-sama.." Rintihnya berusaha bangkit.
Jiwa laki-laki Neji keluar. Ia menghampiri Tenten yang masih berada di lantai menaikkan gadis itu keatas tanpa bicara. Mata Neji tanpa sengaja melihat pergelangan kaki Tenten yang di bebat dengan perban kain.
"Kenapa dengan kakimu?" Tanyanya di tengah Neji membantu gadis itu duduk. Tangan kanan Neji tak sengaja menyentuh punggung Tenten. Gadis itu meringis lagi. Pria itu segera membuka pakaian yang menutupi punggung Tenten. Ia terkejut mendapatkan sebuah lebam cukup besar di sana. "Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, hah? Apa saja yang kau lakukan seharian ini?"
"Jangan banyak bicara Neji. Ini semua karena kau." Sergah Tenten ketus.
"Aku?"
"Hm. Kau tidak ingat tadi pagi aku jatuh saat membangunkanmu? Kakimu mengenai kakiku. Keseimbanganku kacau dan aku tersungkur di lantai." Jelasnya kesal.
"Kenapa kau tidak bilang?"
"Untuk apa? Kau urus saja Matsuri. Jangan pedulikan aku."
"Matsuri? Kau cemburu padanya?" Seringai kecil muncul dari wajah Neji.
"Cemburu? Untuk apa? Jangan bicara yang tidak-tidak." Tenten menggembungkan pipinya sebal.
"Terlihat dari wajahmu. Akui saja, kau tidak akan pernah bisa menolak pesonaku."
"Bisa kau tolong aku ambilkan minum saja? Tenggorokanku kering." Kata Tenten mempoutkan bibirnya. Kedua pipi Neji tersipu. Wajah Tenten membuatnya gemas setangah mati.
Tangan Neji meraih air putih yang ada di meja lalu menyerahkannya pada gadis di sampingnya. Tenten meneguk separuh isinya dan memejamkan matanya bernafas lega.
"Matsuri bukan siapa-siapa. Kau tidak perlu memikirkannya." Kata Neji memandang Tenten dalam.
"Bukan urusanku." Balasnya tanpa menatap Neji. Kedua tangan Tenten terlipat kedepan.
"Aku bertemu Itachi tadi."
Untuk kali ini Tenten menatap balik Neji.
"Terlihat jelas dari sikapnya dia tidak mau melepasmu."
"Lalu apa yang kau katakan?"
"Mengatakan hal yang seharusnya kukatakan."
TBC
Okeyy~ Ran minta maaf atas keterlambatannya XD Ran rasa alur cerita ini lambat sekali selambat Garry nya Spongebob XD Dan untuk kali ini, review Ran balas semua langsung di sini di karenakan koneksi jaringan yang agak menyebalkan. Ran hanya khawatir koneksi tiba-tiba putus dan ada yang nggak sempat di balas review nya. So, silahkan cari nama kalian di bawah XD Maaf kalau makin lama makin hancur. Kritik, saran Ran terima dengan senang hati untuk memperbaiki chapter kedepannya ^-^
Shinji r: Dari gelagat Menma kelihatannya gimana? *colek Menma* XD
Kay249: Ahaha~ maafkan update telat untuk chapter kali ini XD
Setyanajotwins: Uhuhu, iya. Emang cukup banyak yang nggak setuju sama hubungan NejiTen *yang buat siapa woy* XD
E12i07G0W05: Tenang, tenang. Udah Ran sentil si Neji nya biar agak lembutan dikit XD
Inotsateneji: Yuk yuk. Kamu jadi anak pertama aku jadi anak bungsungnya ya XD
Nazliahaibara: Mendingan Tenten di culik aja deh sama Itachi. Daripada di kasarin mulu sama Neji. Iya nggak? XD
Sherry ai: Saudaraan nggak ya sama Naruto? XD *digampar* Penampilan Menma di sini Ran bikin seperti dia di Road to Ninja. Wajahnya mirip sama Naruto hanya saja matanya yang beda dan warna rambutnya yang kaya Sasuke hehehe
Marin Choi: Neji memang makin absurd. Di barengi sama cerita fanfic ini yang juga makin absurd kelihatannya XD Neji bersikap seperti itu karena semata-mata nggak mau Tenten pergi kok T^T *puk puk Neji*
Sooya: Sudaah~ see you di chap depan ya XD
Shikadaii: Merinding ya rasanya? Apalgi kalo cowonya sekece Neji 0/0 *mimisan* XD
Akira Ken: Semi M ya? Nggak M aja sekalian? XD *kode kode* /Ran mesum. Tendang ke bulan
Rosadilla17: Hu'um tuh, si Neji udah cemburu sama Tenten. Kayanya bentar lagi mereka berdua mau bacok-bacokan deh :v
Angkerss. : Neji sudah nge cap Tenten jadi miliknya. Tinggal meresmikannya aja yang belum XD
Eva Ryuki: Bener tuh. Untung Tenten nggak jantungan terus mati XD "Gadis Pencuri Hati" udah sering di pake judul-judul ftv sist XD *lha emang yang ini kaga?* XD #plak
Mizusagawa Hyuuga: *kalo Tenten nya nggak mau di bula bajunya, Ran bersedia dengan senang hati kok bang Neji* XD /buang. Tadinya mau dinikahin. Tapi Tenten nya nggak mau soalnya masih ada Ran di hati akang XD
Yuni: Udah mulai akur kok. Tinggal nabur benih benih lope aja di antara mereka XD
Kiwi689: Scene romantis ya? Di tunggu ya Kiwi-san. Mereka masih proses pendekatan XD
Chae121: Sipp udah di lanjut XD Makasih udah kasih review ^-^
Fast Update?
Review! ^-^
