Gadis Pencuri
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
NejiTen slight ItaTen/MenmaTen
Warning: OC, Typo, etc
Don't like don't read
RnR
Kelopak mata Tenten menyipit cepat saat sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendelanya. Ia meregangkan kedua tangannya yang tadinya berada di bawah selimut. Lagi-lagi rasa nyeri menyengat kaki dan punggung namun tidak separah kemarin. Nyeri tersebut semakin menyadarkannya. Ia berangsur duduk dan mengucek mata kanannya perlahan. Ia ada di kamar. Entah apa yang terjadi semalam, namun terakhir yang Tenten ingat adalah Neji membopong dirinya ke kamar sementara ia dalam keadaan setengah terlelap. Ia juga ingat sebelum itu Neji memijit pergelangan kakinya di atas sofa ruang keluarga.
Kedua pipi Tenten bersemu merah ketika ia mengigat itu semua. Tenten sama sekali tidak menyangka, bagaimana bisa seorang Hyuuga Neji melakulan hal seperti itu? Selama ini bukan Neji seperti itulah yang ia kenal. Menurut Tenten Neji adalah pria yang arogan dan juga egois. Tapi sikapnya tadi malam sangat berbanding terbalik dengan apa yang Tenten pikirkan. Jika di ingat lagi, sikap Neji sejak kemarin juga berubah. Apa pria itu sudah tidak waras?
"Hei, apa yang kau pikirkan Tenten? Masa bodoh dengan perubahan sikapnya. Apa urusanmu?!" Rutuk Tenten pada dirinya sendiri.
Perlahan ia turun dari ranjang. Benar, kakinya tidak sesakit kemarin. Tenten sedikit tertatih menuju pintu. Begitu terbuka Tenten tercekat saat dirinya melihat Neji hendak masuk ke kamarnya sendiri lengkap dengan setelan kemeja dan jas hitam yang dia kenakan. Perhatian Neji segera teralih begitu telinga mendengar suara pintu terbuka.
"Oh, kau sudah bangun." Katanya singkat lalu masuk ke kamar tersebut.
"Hm." Balas gadis itu malas. Satu tangannya masuk kedalam saku piyama atasannya sementara yang lainnya menggelayut pada kusen pintu. Tunggu.. Piyama? Tenten tersentak melihat busananya.
Sesaat kemudian Neji kembali keluar dan menutup pintu kamarnya membawa serta ponsel di tangan kanannya.
"Apakah kau yang mengganti bajuku?" Tanya Tenten dengan rahang mengeras menatap Neji yang berjalan turun ke lantai bawah.
"Menurutmu?" Balas Neji datar tanpa menatap gadis itu yang mengekorinya turun.
"Apapun yang kau lihat, aku ingin kau melupakannya. Kau mengerti?!" Suara gadis itu naik satu oktaf.
"Ya aku tau. Aku akan segera meminta Ikuya Baasan untuk melupakan apa yang dia lihat saat mengganti bajumu. Kau tenang saja." Pria itu terkikik dalam hati.
Keduanya sudah sampai di lantai bawah. Tepatnya di ruang keluarga yang letaknya tak jauh dari dapur. Ikuya berdiri di salah satu sisi meja melihat Neji dan Tenten yang tengah meributkan sesuatu.
"I-Ikuya Baasan?" Gadis itu mematung.
Neji berbalik menatap Tenten yang berdiri tepat di bibir tangga dengan wajah bodohnya. Pria itu menggeleng pelan dengan seringai kecil di wajahnya.
"Jika aku mau, aku bisa saja melakukan hal yang lebih dari itu kepadamu. Tapi aku tidak akan melakukannya jika tidak suka sama suka. Martabat Hyuuga jauh lebih mahal dari bayanganmu, Gadis Dungu. Jadi berhentilah menakuti dirimu sendiri dengan pikiran kotormu tentang diriku. Malam itu aku terpaksa mengatakan hal itu hanya untuk menggertakmu." Jelasnya mengusap puncak kepala Tenten sesaat dan pergi dari tempat itu.
Tenten melongo. Gadis itu tertawa renyah menatap punggung Neji yang semakin menjauh. "Apa? Menggertak? Apa dia tidak waras atau hanya imajinasiku yang terlalu meliar?" Bibirnya mengerucut. "Dari tatapannya saja sudah jelas terlihat seolah dia akan menelanku masih bilang 'hanya sebuah gertakan'? Ha-ha-ha, kau lucu sekali Hyuuga." Kedua tangan Tenten terlipat ke depan.
"Tenten-san kemarilah." Panggil Ikuya.
Tenten berbalik dan menghampiri wanita itu.
"Ada apa Baasan?" Gadis itu duduk di salah satu kursi meja makan.
Ikuya melanjutkan pekerjaannya membereskan piring-piring bekas pakai diatas meja lalu meletakkan benda lebar itu kedalam wastafel.
"Apa kakimu masih sakit?"
"Masih. Tapi tidak separah kemarin." Ia meraih gelas-gelas di atas meja membawanya ke wastafel. "Terimakasih juga atas batuanmu tadi malam."
Wanita itu merebut halus gelas di tangan Tenten. "Tidak masalah." Seulas senyum menghiasi wajahnya yang sudah mengalami pengerutan disana-sini. "Mulai hari ini Kun dan Tenichi masuk sekolah. Kurasa rumah akan terasa sepi tanpa mereka." Kata Ikuya tersenyum kecut sembari mengedikkan kedua bahunya.
Tenten tersenyum pada Ikuya. "Masih ada aku Baasan."
"Kau tidak bekerja?"
"Aku akan menghubungi Ajisai untuk bicara pada Bos ku agar aku bisa masuk agak siangan untuk hari ini."
"Kenapa?"
"Aku berencana untuk menjemput Tenichi sepulang sekolah. Dia gadis pemalu, aku takut dia tidak akan nyaman jika berada satu mobil dengan sopir yang dikirim Neji nanti."
"Lalu bagaimana dengan Kun?"
"Kun?" Tenten tertawa. "Dia masih berusia 8 tahun, tapi Baasan tenang saja dia bahkan lebih bengal dari anak usia 15 tahun. Aku sangat mengenalnya." Ia mengibaskan telapak tangannya ke udara. "Tapi aku juga akan tetap menjemputnya. Itupun jika dia mau ikut denganku."
"Kenapa tidak?"
"Yah.. kau tau bukan seperti apa anak-anak jika memiliki teman baru."
"Sekarang aku makin percaya darah siapa yang ada pada diri Kun." Lirih Ikuya mulai menggosok permukaan piring di hadapannya.
"Apa?" Celetuk Tenten tak mengerti.
"Kubilang sifat Kun mewarisi Ayahnya." Perhatian Baasan teralih sebentar pada Tenten. "Mereka berdua sama saat kecil. Hanya saja Neji lebih pendiam tanpa melepas sifat bengalnya. Berbeda dengan Kun yang menunjukkannya secara terang-terangan. Sifat Kun sebelas duabelas dengan Boruto. Aku yakin mereka akan cocok."
'Ternyata kau juga urakan Hyuuga.' Tenten menyeringai. "Oh iya Baasan, boleh aku tau dimana Kun dan Tenichi bersekolah?"
"Di tempat yang sama dimana Boruto dan Himawari bersekolah. Jika kau tidak tau dan tetap ingin menjemput Tenichi, aku bisa menghubungi supir kiriman Neji-sama untuk kemari dan membawamu kesana."
Gadis itu menyesap bibir bawahnya dengan kedua alis terangkat cepat. "Kurasa itu ide yang bagus. Baiklah aku akan bersiap-siap."
"Hm, kau tidak lihat betapa semangatnya Tenichi saat mengenakan seragam juga tas dan sepatu barunya. Dia bahkan memintaku untuk membuatkannya rolade untuk dia makan siang nanti. Aku sangat menyukai putrimu itu Tenten-san." Kata Ikuya dengan mimik wajah menggemaskan.
Hanya ulasan senyum manis yang Ikuya dapatkan dari Tenten. Setelahnya Ibu muda itu segera naik kekamar melakukan apa saja yang perlu ia lakukan sebelum menjemput Tenichi ke sekolah.
oOo
Tangan Neji meraih satu cangkir kopi di mejanya tanpa menghiraukan hiruk-pikuk para karyawan yang lalu lalang di sekitarnya. Sejak tadi ia hanya fokus pada kertas-kertas di hadapannya yang menjadi makanan sehari-harinya di kantor.
Setelah menyesap seperempat bagian lattenya, ia kembali meletakkan cangkir putih itu di atas tatakan cangkir lalu meraih bolpoin di sisi tangan kanannya dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.
Matsuri datang dari arah lain dengan membawa serta satu map berwarna biru dan menghampiri Neji yang masih tenang dengan kegiatannya.
"Kau masih betah berada di sini Neji-sama?" Tanya gadis itu duduk di hadapan Neji dengan tatapan datar.
Pria itu mendongak sebentar lalu kembali mengecek kertas di tangannya. "Hm. Aku jenuh di ruanganku. Dan sepertinya ini tempat yang tepat untuk mengerjakan pekerjaanku."
"Di cafe? Kau tidak terganggu?" Kembali gadis itu bertanya dengan mimik wajah yang sama.
"Sejauh ini tidak. Hanya berjarak 5 lantai dari runganku, tidak terlalu jauh untukku. Jika aku membutuhkan sesuatu aku bisa memanggilmu bukan? Seperti yang sekarang ini kau lakukan."
Alis Matsuri terangkat cepat menyudahi perbincangan ringan antara dirinya dan Neji. "Jangan terlalu fokus pada berkas itu Neji-sama. Itu tidak begitu penting. HRD kita bisa mengatasinya. Kau bukan bagian penyeleksi dan penerimaan karyawan baru."
Neji meletakkan benda di tangannya di sisi cangkir lalu melipat kedua tangannya menatap dalam Matsuri. "Lalu jelaskan padaku, apa ada hal lain yang lebih penting dari itu? Jika iya, katakan padaku."
"Jangan menggodaku Neji-sama. Lebih baik kau lihat ini,"
Gadis itu menyerahkan barang bawaannya pada Neji. Neji tau benar ada perubahan sikap Matsuri pada dirinya.
"Penjualan kita bulan ini menurun cukup drastis. Angka 10 persen bisa di bilang yang terparah sepanjang 5 tahun ini."
Neji menatap Matsuri. "Lalu?"
Gadis itu mendongak heran pada Neji dengan alis berkerut. "Lalu kau bilang?" Tanyanya tak mengerti.
Tak kunjung mendapat jawaban dari Neji, Matsuri memutar kedua bola matanya malas. "Tentu saja kita harus melakukan sesuatu Neji-sama. Jika ini terus terjadi, bukan tidak mungkin PHK besar-besaran terjadi pada perusahaan ini." Jelasnya sedikit ngotot.
"Kau ada ide?" Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada menatap Matsuri sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Kemarin saat pertemuan Hinata-sama sempat bertanya tentang keadaan perusahaan. Kujawab keadaanya baik namun tidak bisa di katakan stabil. Maka dari itu Hinata-sama menyarankan agar Mall kita mengadakan pameran fashion. Kebetulan Hinata-sama punya teman yang membutuhkan tempat untuk mengadakan launching busana malamnya sekaligus acara lelang untuk gaun-gaun tersebut. Jika Neji-sama setuju, kita bisa bicarakan tentang hal ini lebih lanjut pada Hinata-sama dan juga teman desainernya itu."
"Apa menurutmu itu ide terbaik?"
"Kupikir iya. Banyak istri dan juga kerabat para pengusaha dan pejabat yang berkunjung untuk membeli sesuatu di Mall kita. Kita bisa mengundang mereka semua untuk menghadiri acara tersebut. Dan hasil dari acara tersebut bisa kita gunakan untuk menambal kerugian 10 persen tersebut."
"Hanya gaun malam wanita dewasa? Bagaimana dengan anak-anak? Bisakah kita tambahkan fashion musim dingin untuk anak-anak? Bukankah tak lama lagi musim salju akan tiba?"
"Masukan yang bagus. Kita bisa bicarakan masalah ini nanti. Yang penting sekarang, kau menyetujuinya atau tidak?"
"Menurutmu? Jika aku tidak menyetujuinya, untuk apa aku menambahkan fashion musim dingin untuk anak-anak?"
"Baiklah kalau begitu. Aku akan membuat jadwal pertemuan antara dirimu dengan Hinata-sama dan temannya itu. Aku sudah membuat proposal tentang acara ini sesuai dengan keadaan perusahaan kita. Jika ada sesuatu yang tidak kau setujui kita bisa membicarakannya lagi."
Neji mengayunkan kertas di genggamannya ke udara. "Ini? Baiklah, akan kubaca nanti."
Gadis itu memundurkan posisi kursinya, lalu berdiri dan membungkukkan badannya sesaat tanpa melepas wajah datarnya.
"Duduklah lagi Matsuri, ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu."
Matsuri diam sesaat. "Jika itu tentang tadi malam, maaf aku sedang tidak dalam mood untuk membicarakannya Neji-sama. Lagipula ini masih di wilayah kantor. Tidaklah pantas membicarakan hal pribadi disini."
Neji berdiri memposisikan dirinya lebih dekat dengan Matsuri. Kedua tangannya berada di bahu Matsuri menatap dalam wajah cantik gadis itu yang menundukan tak menghiraukan tatapannya.
"Kau gadis yang sangat baik Matsuri. Bahkan Hiashi-sama menyukai kepribadianmu. Jujur saja aku terkejut kau masih membelaku di depan Ayahmu malam itu. Jika seandainya gadis itu tidak hadir dalam hidupku, mungkin hubungan kita akan berhasil. Aku suka padamu, tapi ada sesuatu yang mengharuskanku untuk lebih memilih wanita itu. Ini pilihan yang sulit tapi aku harus melakukannya."
Matsuri sesenggukan dalam diamnya. Kedua bahu Matsuri yang berada dalam genggaman Neji bergetar pelan.
"Lalu apa yang wanita itu miliki dan hal itu tidak ada padaku?" Lirihnya pelan masih dengan posisi yang sama.
"Sesuatu yang tidak akan pernah kau duga dalam hidupmu. Terlalu menyakitkan untukmu jika kau mengetahuinya. Tapi percayalah aku ini pria brengsek dan kau tidak pantas bersanding dengan pria sepertiku."
"Sebrengsek apa?" Matsuri mulai mendongak di sertai dengan cairan liquid mengalir di kedua pipinya.
"Lebih brengsek dari pria brengsek manapun."
"Sebrengsek apapun dirimu aku tidak peduli Neji-sama. Selama aku bersamamu tidak pernah ada hal buruk menimpaku. Jika kau hanya menggunakan kebrengsekanmu yang kuragukan itu hanya sebagai alasan agar aku melupakanmu, kau tidak akan berhasil. Munafik jika aku mengatakan aku tidak kecewa padamu saat ini terlebih saat makan malam kemarin. Tapi yang lebih membuatku kecewa adalah, kau tidak mengatakan apa alasan sebenarnya kau melakukan semua ini hingga kau rela mempermalukan dirimu sendiri di depan orangtuaku."
Neji sedikit terkejut. Air wajah Matsuri berubah seram secara tiba-tiba. Rahangnya mengeras menatap mata Neji dalam dengan tatapan menusuk.
"Matsuri, aku hanya tidak ingin kau terluka."
"Tanpa kau sadari sikapmu yang seperti ini sudah membuat luka untukku. Entah apa setan yang merasuki dirimu, tapi kau bukan seperti Neji yang kukenal sebelumnya."
Satu hentakan halus kedua tangan Matsuri melepas genggaman Neji pada bahunya. Gadis itu melangkah pergi begitu saja meninggalkan Neji dalam diam.
Langkah seribu Matsuri pilih untuk menjauh meninggalkan Neji. Sesekali punggung tangannya menyapu air mata yang menggenangi sudut matanya. Bibirnya terkatup rapat dengan posisi wajah sedikit menunduk. Menutupi wajah kacaunya dari semua orang yang mulai merasa aneh pada dirinya.
Jika saja bukan karena 'Cinta', Matsuri tidak akan sudi berada di posisi seperti ini. Sudah 6 tahun ia bekerja di sini dan hampir 5 tahun terhitung sejak saat itu ia sudah mulai mengagumi bos mudanya tersebut. Selama ia bekerja, tidak ada tanda-tanda pria Hyuuga itu menunjukkan eksistensinya pada dirinya. Namun tepat 2 tahun yang lalu, hubungan antara dirinya dan Neji mulai berkembang ketika Neji meminta bantuannya untuk menjadi kekasih palsunya agar Hiashi membatalkan perjodohan Neji dengan putri Relasinya. Selama itu Matsuri merasa nyaman dengan Neji. Begitu Juga Neji yang berkata kalau Matsuri adalah pribadi yang menyenangkan. Mereka melewati segalanya berdua hingga asumsi publik bahwa mereka adalah sepasang kekasih mulai mencuat dan tertanam di pikiran mereka. Baik Neji atau Matsuri tidak keberatan dengan sebutan itu. Toh mereka tidak terganggu dengan perkataan orang tentang dirinya dan Neji.
Namun di balik itu semua, terselip rasa hampa pada Matsuri. Selama itu ia mengenal Neji baik luar maupun dalam begitu juga sebaliknya, tidak ada pernah ada kata 'Aku mencintaimu' keluar dari bibir Neji untuknya. Sempat Matsuri berpikir Neji menjadikannya hanya sebagai pelarian, tapi sikap Neji padanya menampik semua itu hingga ia semakin yakin bahwa Neji juga mencintai dirinya sama seperti yang ia rasakan selama ini.
Gadis itu menggeleng cepat menyingkirkan perasaan negatifnya. Ia yakin Neji tidak sekejam itu, ia yakin Neji hanya sedang sedikit berpaling pada gadis lain dan suatu saat nanti akan kembali padanya. Bukankah semua lelaki pernah merasakan ketertarikan sesaat? Tapi apa yang membuat pria itu sampai hati mengatakan pada orangtuanya bahwa hubungan antara dirinya dan Neji tidak dapat di lanjutkan lagi karena seseorang? Semudah itukah Neji jatuh cinta lagi? Apakah ada sesuatu di balik ini semua? Akankah ada seseorang yang sudi menjelaskan situasi rumit ini pada Matsuri? Gadis itu sudah bertahun-tahun di buat gila karena cinta matinya pada Neji, dan sekarang untuk yang kesekian kalinya lagi-lagi Neji membuatnya gila karena hal lain yang tak dapat ia pahami.
"Kau sangat menyedihkan Matsuri." Lirih gadis itu. Jemarinya teremas gemas.
oOo
"Bubur sudah siap!"
Suara Tenten terdengar menggema di telinga bocah perempuan yang duduk di salah satu meja restoran yang letaknya tak begitu jauh dari ruang ganti. Ekspresi wajah kelaparan jelas terlihat di wajah Tenichi. Kedua mata bocah itu berbinar melihat mangkuk bubur di hadapannya masing-masing.
"Terimakasih Kaasan." Ujarnya mendongak melihat Tenten.
Gadis itu mengusap sesaat puncak kepala Tenichi. "Sama-sama."
"Tapi.. mana minumannya? Aku bisa tersedak." Celoteh Tenichi.
"Akan segera datang. Lagipula ini bubur Tenichi, kau tidak akan tersedak." Kata Menma yang entah darimana datangnya. Pria itu duduk di kursi tepat di hadapan Tenichi. Tenten menatap pria berambut raven itu heran.
Tenichi hanya mengulas senyum sembari menggembungkan kedua pipinya.
"Minuman yang kau minta sudah tiba." Ajisai datang meletakkan segelas jus kiwi di atas meja tersebut.
"Terimakasih Ajisai Baasan." Ucap bocah perempuan itu.
Menma beralih menatap Tenten yang berdiri tepat di samping Tenichi. "Kau bilang kau memiliki dua anak. Mana yang satunya?"
"Dia masih di sekolahnya. Aku sempat menawarinya untuk menjemputnya saat pulang nanti, tapi dia menolak. Katanya dia ingin bermain videogame di rumah sepupunya."
"Kau bisa mengajaknya kesini lain waktu." Menma menatap penuh wajah Tenten.
Ekspresi Tenten berubah takut melihat tatapan Menma yang tak dapat ia artikan. "I-iya, tentu saja." Jawabnya terbata.
Ajisai menarik perlahan lengan Tenten menjauh dari meja Menma dan Tenichi. Mereka berdua berdiri tepat di depan pintu yang bertuliskan 'Staff Only'. Ajisai menyeringai melihat Tenten yang membalas tatapannya bingung.
"Apa?" Tanyanya dengan nada datar.
"Bukankah sikap Menma-sama kepadamu sangat manis?" Kata gadis itu mengernyit gemas.
"Aku tau kearah mana pembicaraanmu ini Ajisai."
"Apa lagi yang kau tunggu? Sepertinya Menma-sama tertarik padamu. Menma sama masih sendiri, begitu juga dirimu. Bukankah kesempatan terbuka lebar untukmu?" Godanya menyenggol bahu Tenten.
"Tidak Ajisai."
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa Ajisai... Ada seseorang." Ujar Tenten dengan nada yang semakin melemah. Gadis itu tertunduk.
"Oh, benarkah?" Lirih Ajisai kecewa.
"Hm. Dia pria yang sudah lama kukenal. Dia sangat baik padaku. Aku mencintainya sejak lama tapi tidak kukatakan karena aku takut kehadiranku hanya akan mengacaukan kehidupannya." Tenten tertawa renyah sesaat. "Lagipula aku tau diri, pria sepertinya tidak pantas bersanding dengan gadis kacau sepertiku."
"Jangan merendahkan dirimu Tenten. Aku penasaran dengan ceritamu, tapi sayang ini masih jam kerja. Akankah kau mau menceritakan tentang pria itu saat pulang nanti?"
"Iya, tentu saja." Balas Tenten cepat. "Sekarang, bisakah aku kembali pada anakku?"
"Tidak ada yang menghalangimu. Silahkan." Kata Ajisai santai.
Setelah selesai, Ajisai masuk kedapur meninggalkan Tenten yang menghampiri Tenichi dan Menma.
Kling..
Lonceng yang terpasang tepat di atas pintu masuk berbunyi. Awalnya Tenten tak masalah. Gadis itu merundukkan badannya memberi salam pada pelanggan yang baru datang tersebut. Sampai pada akhirnya matanya melihat dua orang yang tidak asing baginya. Kedua orang tersebut terlihat biasa saja hingga Menma melambaikan tangannya memanggil orang tersebut.
"Disini!" Seru Menma melambai.
Praktis Tenten mundur. Ia berdiri di belakang punggung Menma yang sudah terlebuh dahulu berdiri. Menma sempat bingung melihat tingkah aneh Tenten. Namun tidak ia hiraukan karena tamunya sudah berada di hadapannya.
"Aku kira kau tidak jadi datang." Kata Menma.
"Maunya begitu. Aku agak sibuk dengan urusan kantor. Tapi Hinata memaksaku. Dia bilang sedang ingin bubur kari jamurmu itu." Naruto mengerucutkan bibirnya sebal.
Hinata menyikut lengan Naruto cukup keras hingga pria itu sedikit mengaduh.
Pandangan Naruto dan Hinata turun kearah Tenichi yang masih melahap buburnya. Sontak keduanya terkejut mendapati Tenichi berada di sana.
"M-Menma-san, d-dia..."
"Anak dari salah satu pegawaiku." Menma menyela dengan kedikan bahu ringan.
Perlahan Tenten keluar dari balik punggung Menma dengan mimik wajah ragu. Ia tertawa renyah sesaat memberanikan diri menatap Naruto dan Hinata yang masih tak mengerti dengan situasi ini.
"M-mau pesan sesuatu?" Lirihnya dengan suara parau.
"Ambilkan saja dua mangkuk bubur kari jamur dan teh hijau untuk mereka." Kata pria berambut raven itu menoleh pada Tenten.
"B-baiklah Menma-sama." Gadis itu melenggang pergi ke dapur.
"Hai Tenichi, apa kabar?" Seru Naruto pada bocah tersebut berharap keadaan dingin yang di alami dirinya dan Hinata sedikit mereda.
Tenichi mendongak mengulas senyumnya. "Baik Jiisan."
"Kalian sudah saling mengenal?" Menam tertegun.
"Ceritanya panjang Menma." Ucap Hinata seraya duduk di samping Tenichi. Sementara Naruto mengangkat tubuh Tenichi sesaat lalu duduk di kursi Tenichi dan meletakkan bocah itu di atas pangkuannya.
"Dilihat dari situasinya, sepertinya kau dan Tenichi sangat akrab."
"Lupakan tentang itu. Sekarang aku tanya, siapa gadis itu?" Hinata menyela.
Mata Naruto menatap Hinata. "Ayolah Hinata, kita tidak perlu membahas ini."
"Diam Naruto."
"Seperti yang kukatakan tadi, dia pegawai baru disini. Dan Tenichi adalah putrinya... Dia gadis yang cantik bukan?" Menma berujar santai sembari menarik dirinya kebelakang. Bersandar.
"Apa katamu?"
"Kau tentu tau. Aku sendiri dan dia juga sudah menjadi orangtua tunggal." Seringai penuh kemenangan jelas nampak di wajah Menma.
"Orangtua tunggal katamu?" Naruto berjengit.
"Iya."
Hinata meletakkan ponselnya di atas dashboard mobil setelah menghubungi temannya untuk membatalkan pertemuannya. Gadis itu bersungut sebal sembari memasang sabuk pengaman. Sementara Naruto yang duduk di kursi kemudi tetap diam sejak Tenten datang mengantar dua mangkuk bubur ke mejanya hingga detik dimana ia hanya menyalakan mesin mobilnya di parkiran restoran bubur Menma. Keduanya bungkam saat makan. Terlebih saat Menma meninggalkan mereka untuk mengurus pekerjaanya. Hanya terjadi perbincangan kecil dan ringan saat Tenichi berceloteh dengan polosnya.
Naruto tau benar apa yang akan di lakukan Hinata. Dan ia tidak sependapat dengan istrinya itu.
"Naruto, kita ke kantor Ayah sekarang!" Kata wanita itu tajam.
Pria itu mendengus sebal. Ia diam sesaat dan menatap dalam Hinata. "Aku bukan supirmu Hinata!" Sergahnya dengan nada sedikit emosi.
Hinata terperanga melihat sikap Naruto yang dirasa cukup kasar padanya. Seumur hidup ia mengenal Naruto, baru kali ini pria Uzumaki itu membentaknya.
"A-apa? Naruto-kun.. kau.."
"Sudah cukup Hinata. Kau tidak berhak melakukan hal ini." Pria itu mencoba tenang.
"Tidak berhak katamu? Jelas-jelas dia sekarang berstatus sebagai istri Neji. Mengapa dia harus berkata kalau dia seorang janda? Apa tanggapan orang-orang jika mereka mendengar hal ini?"
"Hanya kita yang tau mereka suami istri. Hubungan mereka tidak memiliki perjanjian hitam diatas putih, tidak di akui secara sah oleh agama dan negara karena mereka memang belum menikah. Tenten mengaku bahwa dirinya masih sendiri karena memang itulah kenyataannya. Dia tidak terikat oleh lelaki manapun. Tidak Neji atau bahkan siapapun."
"Kau benar-benar tidak memahamiku di situasi ini Naruto. Bagaimana jika semua orang tau bahwa Ibu dari kedua anak Hyuuga Neji, bekerja sebagai cleaning service di restoran bubur Jinkaku milik Menma Uzumaki yang tak lain adalah adik iparnya sendiri. Kau tau, martabat Hyuuga benar-benar tercoreng disini."
"Mereka tidak akan tau Hinata. Aku yakin yang mengetahui hal ini hanyalah Kau, aku, dan juga Hiashi-sama dan mungkin juga para pekerja rumah tangga di rumah Neji. Sekarang coba kau pikir, apa masuk akal jika seorang Hiashi-sama mengatakan hal ini. Apa kau pikir Hiashi-sama akan dengan bangganya memperkenalkan menantunya di khalayak umum secara tiba-tiba? Maafkan aku Hinata, bukan maksudku untuk menjelekkan Ayahmu. Tapi selama yang aku tau, Hiashi-sama selalu menjujung tinggi strata keluarga Hyuuga di banding apapun."
"Bahkan di detik ini, kau lebih memilih bertengkar denganku dan membela gadis itu daripada harus menurunkan tensiku yang sudah naik ke ubun-ubun. Aku tidak tau apa yang membuatmu begitu yakin pada gadis itu?" Gadis itu melipat kedua tangannya kedepan dan tertawa remeh.
"Dengar Hinata. Semua orang memiliki alasan mengapa ia harus hidup di dunia ini. Begitu juga Tenten. Dia pasti memiliki alasan mengapa ia menyembunyikan identitasnya sebagai Ibu dari Kun Hyuuga dan Tenichi Hyuuga dan mengaku sebagai orang tua tunggal. Kau terlalu fokus menyalahkan Tenten. Bagaimana dengan Neji? Bagaimana jika alasan Tenten menyembunyikan identitasnya adalah karena Neji? Atau bahkan bukan hanya pada Menma dia menyembunyikan identitasnya, bahkan pada Neji pun mungkin dia merahasiakan tentang pekerjaanya ini. Pikirkan itu Hinata."
"Sekarang bahkan Neji-san kau salahkan. Dia sudah menjamin kehidupan Tenten. Semua yang gadis itu mau bisa Neji berikan hanya dalam sekejap mata. Mengapa ia harus rela bersusah payah bekerja?"
"Kau tidak bisa menyamakan dirimu dengan orang lain. Baiklah, bagi mereka yang sudah terbiasa hidup mewah dari mereka lahir hingga dewasa, mengisi hari-harinya di hotel bintang lima dengan nuansa Eropa adalah hal yang biasa bagi mereka. Karena mereka sejak awal tidak pernah merasakan bagaimana susahnya menghasilkan uang yang mereka gunakan untuk menikmati kehidupan glamournya. Sementara Tenten, batu kehidupan sudah menghantamnya sejak ia kecil. Mencari pekerjaan kesana kemari bahkan ia rela menjadi pencopet hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Sekarang karena Kun dan Tenichi kehidupannya mutlak berbalik, kau pikir orang seperti itu bisa hanya berleha-leha di ranjang empuk nan lembut sementara selama bertahun-tahun dalam hidupnya ia bekerja keras? Tenten adalah tipe pemberontak. Dia tidak bisa di kekang agar hanya fokus pada satu kehidupan."
"..."
"Masa lalu Tenten memang kacau. Tapi sejauh ini dia bisa menjaga sikap. Cobalah untuk tidak memandang Tenten sebelah mata."
"..."
"Jika orang suci memiliki masa lalu, maka orang bejat sekalipun berhak untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Kau mengerti sekarang?"
Gadis itu mengangguk lemah tak berani menatap Naruto.
"Kau memang berhak melakukan ini jika Tenten mencoreng nama klan Hyuuga. Tindakan Tenten yang seperti ini bukanlah hal brutal Hinata. Biarkan ini menjadi urusan antara Neji dan Tenten. Bukankah di matamu mereka sudah menjadi suami istri? Jika memang begitu, kita tidak berhak mencampuri urusan rumah tangganya."
"Tapi bukankah Neji-san juga melakukan hal yang sama padaku? Aku hanya tidak ingin Neji-san terluka." Lirihnya.
"Itu dulu. Saat kau dan aku belum menikah. Tapi sekarang lihat, apa pernah Neji mencampuri urusan kita? Neji bisa mempercayaiku untuk menjagamu. Dan sekarang, giliranmu untuk mempercayai bahwa Tenten tidak seburuk bayanganmu."
"Lalu bagaimana dengan Menma-san? Sepertinya dia menyukai Tenten."
"Dia adikku, aku akan bicara padanya nanti. Jangan khawatir." Ulasan senyum Naruto yang tidak tampak sejak tadi menghiasi wajahnya. Kumis kucing yang ada di pipinya naik perlahan.
"Aku mengerti sekarang Naruto-kun."
"Lalu apa yang kau katakan tadi pada Tenten saat kau membawanya keruang ganti?"
"Aku lupa. Tapi yang jelas tidak banyak yang kukatakan. Aku juga sempat menamparnya dan menghardiknya 'tidak tau diri'." Lirihnya makin tertunduk lemas.
Naruto menepuk punggung istrinya pelan. "Tak apa, aku mengerti kau sedang emosi tadi. Aturlah waktu yang tepat untuk kerumah Neji untuk meminta maaf pada Tenten."
.
.
.
'Itachi, ada dimana kau sekarang?'
"Aku sedang mencari sesuatu yang Kaasan inginkan Sasuke."
'Itu artinya kau tidak ada di kantor bukan?'
"Apa aku harus menjawabnya?"
'Tidak. Baiklah, itu bagus.'
"Kenapa?"
'Aku berada di dalam mobil perjalanan menuju kantormu sekarang. Fugaku mengajakku untuk menghadiri rapat disana.'
"Di jam seperti ini?" Alis Itachi terangkat sebelah.
'Hn. Aku juga tidak tau mengapa ada rapat mendadak di jam bubaran kantor seperti ini. Tapi dilihat dari gelagatnya saat menelfonku tadi, kurasa dia ingin kau berkenalan dengan seseorang.'
"Cih, perjodohan yang menjijikkan." Itachi melempar tawa renyah sembari membuang muka tak percaya lelaki itu masih berusaha membuat dirinya melupakan Tenten.
'Memang. Baiklah, jika kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, tolong sampaikan salamku pada Kaasan. Bilang aku akan terlambat untuk menjenguknya.'
"Hm." Jawab Itachi singkat memasukkan ponselnya kedalam saku.
Itachi berdiri di ambang pintu karavan kumuh milik Tenten. Pria itu tau tak ada seorang pun di dalam sana. Namun entah kenapa ia sangat yakin Tenten akan segera datang.
Hampir setengah jam ia menunggu, namun tidak ada tanda-tanda gadis itu akan datang. Itachi masih tetap teguh pada pendiriannya sampai indera pengelihatannya menangkap sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobilnya. Tanpa berpikir pun Itachi sudah tau mobil siapa itu. Ia lantas berdiri dengan kedua tangan berada di dalam saku celana dengan dada sedikit membusung. Ia melempar tawa renyah setelah melihat Neji keluar dari sana dan berjalan menghampirinya.
"Hai Itachi. Tidak kusangka kita akan bertemu disini." Sapa Neji dengan nada datar.
Uchiha itu hanya menanggapi Neji dengan ulasan senyum tipis.
Tidak ada perbincangan antara keduanya. Baik Itachi maupun Neji tidak mau membuka pembicaraan terlebih dahulu. Keduanya memiliki tujuan yang sama dengan alasan yang berbeda berada di tempat itu. Itachi dan Neji saling melempar death glear mereka. Meski tidak ada satu kata pun yang terlontar dari bibir mereka, namun tatapan yang mereka tampakkan sudah cukup membuktikan adanya perang dingin diantara mereka berdua.
Neji menghela nafas cepat. "Baiklah, aku sudah tidak tahan berdiam diri seperti ini. Sebagai seorang pria, akan kukatakan terus terang, Uchiha Itachi."
Penekanan nada ketika Neji menyebut namanya jelas terdengar oleh Itachi. Ia bahkan sudah siap jika satu waktu Hyuuga itu menyerangnya.
"Aku berkata tanpa mengurangi rasa hormatku padamu sebagai rekan bisnis. Entah apa yang kalian sudah lalui di masa lalu, kini keadaanya sudah berbeda. Dia milikku dan kuharap kau mengerti itu."
"Dia bukan milikmu selama hatinya masih untukku. Hubungan kami bukanlah hubungan yang bisa kau remehkan hanya karena kehadiran Kun dan Tenichi di sisinya."
"Oh, jadi kau sudah mengetahuinya? Itu bagus. Dan menambah daftar alasan untukmu agar kau menjaga jarakmu darinya. Lenyapkan perasaan itu karena sampai kapanpun aku tidak akan melepasnya."
"Aku tidak tau kenapa kau begitu yakin perasaanmu padanya akan berhasil. Tapi kurasa, menaklukkan hatinya yang sudah lama denganku tidaklah semudah bayanganmu. Aku sudah siap menjadi Ayah dari dua orang anak."
Amarah Neji mulai terpancing saat Itachi melontarkan kata-kata itu. "Tidak akan ada yang menjadi Ayah dari Kun dan Tenichi selain aku, ingat itu!"
"Situasi yang terjadi antara kau dan Tenten tidaklah tepat untukmu yang yakin dengan obsesimu itu."
Brukk..
Tenten sudah sampai di rumahnya. Bosnya memaksa untuk mengantarnya pulang dan tentu saja Tenichi di jadikan sebuah alasan agar dirinya mau menerima tawaran pria raven itu. Tenten tidak ingin mengambil resiko dengan membawa Menma kerumah Neji. Jadi mau tidak mau, hanya rumahnya lah yang bisa ia datangi untuk saat ini.
Menma membuka pintu mobil belakang membiarkan seorang gadis kecil keluar dari mobilnya. Sementara Tenten yang duduk di samping kursi kemudi berlari kecil menghampiri Mereka berdua.
"Terimakasih Menma-sama sudah mengantarku." Kata Tenten meraih bahu Tenichi.
"Sama-sama. Dan.. jika kau tidak keberatan. Jangan memanggilku 'Menma-sama' Ini sudah di luar jam kantor. Lagipula, sepertinya usia kita tidak terpaut jauh. Bukan begitu?" Pria itu menggaruk tengkuknya ragu.
"A-akan aku usahakan." Gadis itu tersenyum kecut.
"Lalu, dimana rumahmu?"
"Tidak jauh Menma-sama, di balik dinding itu." Katanya menunjuk sebuah dinding yang di gunakan oleh penduduk sebagai pembatas antara jalan dan pemukiman.
"Baiklah. Dan juga terimakasih sudah membawa Tenichi ke restoran. Anakmu sangat manis." Kedua mata Menma menyipit ketika ia tersenyum.
"Tidak Menma-sama, justru aku yang harusnya berterimakasih. Terimakasih Menma-sama, maaf aku sudah merepotkanmu."
Pria itu hanya tersenyum sembari mengusap kepala Tenichi gemas.
"Terimakasih untuk bubur dan juga jus kiwinya Jiisan." Ujar Tenichi mendongak.
Pria itu jongkok di hadapan bocah itu. "Sama-sama. Apa lain kali kau mau datang kesana lagi? Kita akan menghabiskan waktu bersama."
Gadis kecil itu mengangguk bersemangat.
Mata Tenten teralih pada dua mobil yang terparkir tepat di depan jalan menuju rumahnya. Tentu ia tidak asing dengan mobil itu.
Gadis itu melangkah mendekati mobil-mobil tersebut. Awalnya tidak ada yang aneh, namun semuanya berubah saat matanya mendapati dua orang pria saling pukul tepat di depan rumahnya. Satu pria yang ia kenal bernama Raiga berusaha melerai keduanya namun sia-sia karena kelihatannya jiwa maniak mereka berdua sudah tak lagi dapat di bendung.
Mata Tenten mendelik terkejut. Tubuhnya mengejam di tempat.
"DEMI TUHAN! APA YANG KALIAN LAKUKAN!"
Teriakan Tenten barusan sepertinya tidak di hiraukan oleh Neji dan Itachi. Mereka tetap saling melukai diri mereka. Saling menyerang secara membabi-buta seolah menghajar seorang maniak.
Mendengar teriakan Tenten, praktis Menma dan juga Tenichi menghampiri Tenten. Segera saja gadis itu meraih Tenichi kepelukannya membenamkan wajah anaknya tersebut ke tubuhnya agar tidak melihat adegan kekerasan tersebut.
"Ada apa Kaasan?" Tanya Tenichi dengan suara terbenam.
Segera saja Menma membantu Raiga yang kepayahan memisahkan dua pria yang bertengkar tersebut. Ia menahan bahu Itachi menggunakan kedua lengannya lalu memberi jarak pada Raiga yang juga berusaha menghentikan pergerakan Neji.
Situasi sudah lebih baik saat Neji dan Itachi berhenti. Nafas mereka berdua tersengal-sengal lengkap dengan luka lebam di wajah mereka masing-masing. Darah mengalir di sudut bibir mereka. Keduanya saling menatap penuh kebencian.
Di tempat yang tidak jauh dari para pria itu berdiri, seorang gadis masih diam di tempatnya dengam tubuh bergetar ketakutan bersama dengan anak kecil berada di pelukannya dengan posisi membelakangi mereka. Kedua alis Tenten bertemu menimbulkan kerutan di dahinya.
"Tenten!"
To Be Continued..
Lalalalala.. maafkan Ran atas keterlambatan updatenya yaaa~ 0v0 Yosh.. yosh.. yosha! Gimana? Makin hancur dan berbelit kah? XD Oke, Ran akui di sini Matsuri ngenes sekali T^T Jadi korban 'friendzone' kalo kata bahasa para muda-mudi sekarang holololo ^0^ Dan juga karakter Hinata di sini terasa sangat OC nggak sih? Kan seperti yang semua tau, Hinata tidak semenyebalkan itu :v Nunggu Tenten cemburu sama Matsuri? Atau Neji cemburu sama Itachi? *sepertinya sudah terjadi sejak chapter lalu* Nggak jadi sama Itachi. Sama Menma XD Atau.. atau.. atau romance scene beserta kissu kissu nya? XD #buang
Sooya: Cemburu? Sama Matsuri? Ohohoho~ tenang saja. Untuk saat ini Tenten nya lagi kecantol sama Itachi :v
Sherry Ai: Dia suami idaman sejuta umat Sherry-san *lope lope di udara* Yash, pertarungan sudah terjadi. Neji udah bener-bener stak sama Tenten. Tapi dia masih nggak bisa lepasin Matsuri :3 *mau lu apa sih bang?! jangan labil jadi orang!* /buang XD Cinta Tenten akan bersemi pada Neji saat musim cherry wekawekawekaweka :v
Rossadilla17: Hm yah, lebih panas sama pantat panci yang baru diangkat dari atas kompor :v Menma bukan hanya perhatian, tapi juga tertarik :3 Maunya NejiMatsu selesai, tapi kayanya Neji lagi labil deh T^T *nah kan yang buat elu Ran* :v Tenten kaya air di musim kemarau. Banyak yang rebutin XD
Marin Choi: Ahahaha~ *dateng bersama kereta kencana* #plak XD Sudah di update dan maafkan atas keterlambatannya :B
Tanpa Id: Ehehehe~ makasih :3 Sudah di lanjutkan. Dan ngomong ngomong tentang bro or sist, percayalah saya berasal dari planet lain :v
Dragon: Hai new readers, salam kenal dari Ran mahkluk Tuhan yang paling tidak waras ini ^-^ Ohohoho~ jadi terharu Ran sampe belain begadang gitu T^T *gulung gulung di got* Iya, banyak para pemuda *eaa :v* yang suka sama Tenten. Dan dua di antaranya ada keluarga yang nggak suka :v Apa Tenten sama Menma aja ya? Kan kalo sama dia nggak ada masalah XD *jungkir balik* Oh no, Sasuke itu milik Ran seorang! *shanaro no jutsu* Tidak tidak tidak.. Tiga orang saja sudah puyeng Tenten nya. Kalo di tambah sama Sasuke lagi... jangan lupakan sifat serampangan Sasuke kalo udah jatuh cinta sama cewe. Egois, brutal tralala trilili *ngomong ape sih?* :v Bisa-bisa Tenten mati berdiri kalo sampai itu terjadi. Maafkan atas keterlambatan update nya XD Jaa ne ^-^
Yuni: Eh.. kecepetan ya? 0.0 Kok Ran malah ngerasa alurnya berjalan terlalu lambat ya XD
Akira ken: Enggak kok, Sasuke ngomong kaya gitu cuma buat godain Itachi aja biar perang batin (?) antara Neji sama Itachi berakhir :v Iya, Ran juga nggak berencana buat rated M kok, tenang saja XD
Eva Ryuki: Iya, Tenten udah mulai cemburu. Tapi cemburunya Tenten tidak semengerikan cemburunya Neji :v
Shinji R: Sudah di update. Maafkan kalau tidak kilat :v
Shikadaii: Neji sama Itachi makin panas kaya knalpot bajaj :v Menma... :3 Sepertinya akan XD
Nazlia haibara: Iya Itachi-san, jangan culik Tenten. Culik Ran aja, sekarang juga gak apa apa T^T Iya Neji, kamu yang lembut dong sama Tenten. Masa kalah sama popok bayi yang selembut sutra? :v *di tendang* Maafkan otak Ran yang dol ini Haibara-san XD
AkariJW: Hei hei, maafkan kalau update nya lambat XD See you ^.^
Ran ucapkan terimakasih untuk para readers yang membaca fanfic Ran. Terlebih untuk kalian yang meninggalkan review, Arrigatou Gozaimasu :))
See you minna-san ^-^
Log in? Cek PM :3
