Gadis Pencuri

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warn: Typo(s), OOC, Nista, Abal, etc

Neji x Tenten

Slight: Itachi x Tenten, Menma x Tenten

Don't like don't read

RnR

No Flame!

.

.

"Terimakasih Menma-sama untuk semua yang kau lakukan hari ini. Maaf jika aku selalu merepotkanmu. Sekali lagi terimakasih."

Menma yang berdiri di ambang pintu rumah Tenten hanya menyunggingkan senyum melihat sikap sungkan pegawainya. Satu tangannya yang tak ia masukkan kedalam saku celana mengelus pelan puncak kepala Tenten yang sedikit menundukkan wajahnya.

"Tidak perlu sungkan. Aku senang melakukannya." Ujarnya ringan. "Baiklah sampai besok."

Tenten tersenyum lega melihat Menma yang melenggang pergi. Benar kata Yugao, Menma adalah pria yang pengertian. Setelah semua yang terjadi, Tenten hanya takut Menma akan bertanya yang tidak-tidak padanya. Namun dengan dewasanya pria itu berkata,

'Biarlah itu menjadi urusanmu. Aku tidak berhak ikut campur dan bertanya apapun tentang masalah ini. Tapi jika suatu saat kau ingin menceritakan semuanya padaku, aku akan mendengarnya dengan senang hati.'

Gadis itu kembali muram tepat ketika ia membalikkan badannya menghampiri Neji dan Itachi yang duduk di tepi ranjangnya. Satu kotak P3K yang ia dapatkan dari mobil Menma ia remas gemas. Baiklah, lagi-lagi ia harus merepotkan Bosnya.

Hanya beberapa detik setelah kepergian Menma, ia kembali memunculkan batang hidungnya di hadapan Itachi dan Neji. Terlihat perbedaan posisi saat Tenten meninggalkan dua pria itu tadi. Kini Itachi duduk di kursi kayu yang tak jauh dari ranjangnya menjaga jarak dari musuhnya yang setengah berbaring diatas ranjang sembari sesekali mengusap darah di sudut bibirnya.

"Dimana Tenichi?" Tanya Neji sedikit bangkit.

Tatapan Tenten beralih pada Neji, gadis itu melemparkan tatapan sinis.

"Dirumah Raiga-san. Aku tidak mungkin membiarkan anak sekecil itu melihat keadaan kalian yang kacau seperti ini. Bisa-bisa dia trauma."

"Aku baik-baik saja Tenten, kau tidak perlu khawatir." Kata Itachi.

Gadis itu beralih pada Itachi.

"Baik-baik saja bagaimana? Kalian begitu kacau. Menyerang satu sama lain secara membabi buta seolah menghajar seorang maniak. Lebam di wajah kalian merata dimana-mana dan kau masih bisa berkata kau baik-baik saja Itachi-san?!" Omelnya tanpa henti.

Itachi tersenyum. Ia sangat suka ketika Tenten mengkhawatirkannya seperti ini. Sama seperti yang lalu-lalu, perhatian Tenten akan berlipat ganda jika Itachi sedang sakit dan itu membuat Itachi lebih menginginkan sakit daripada sehat.

"Lalu siapa laki-laki tadi? Kenapa kau..."

"Kau juga diam Hyuuga!" Sergah Tenten memotong perkataan Neji. "Jangan katakan apapun lagi padaku. Inikah hal terbaik yang bisa kau tunjukkan pada anakmu sebagai seorang Ayah? Kau ingin putrimu itu tumbuh besar seperti seorang preman? Kau benar-benar Ayah yang buruk!"

Kali ini Neji yang mengulas senyum kemenangan. Kata-kata Tenten yang sarat akan kedua anaknya membuat pandangan Itachi pada Tenten sedikit teralih. Uchiha itu cemburu? Sudah jelas. Tampak terlihat dari raut wajahnya.

"Aku benar-benar marah pada kalian berdua. Bisa-bisanya kalian melakukan hal sekonyol ini."

Tenten menghampiri Neji terlebih dahulu setelah melihat keadaan Neji yang lebih parah dari Itachi. Gadis itu meletakkan kotak bening tersebut di atas ranjang dan mengeluarkan semua isinya.

Bola kapas yang sudah di basahi antiseptic ia balurkan perlahan pada luka Neji. Pria itu meringis sesekali. Matanya terpejam cepat menahan perihnya. Beberapa kali bahkan Neji menjauhkan tangan Tenten dari wajahnya.

"Bisakah kau menyingkirkan tanganmu? Kau menghalangi aku mengobati lukamu." Kata Tenten dengan suara sedikit meninggi.

"Dan kau bisakah melakukannya lebih halus? Kau membuat keadaanku makin buruk." Balas pria itu tak mau kalah.

"Sudah tau akan seperti ini, kenapa kau masih mau bertengkar? Dasar bodoh!"

Gadis itu mengakhiri perkataanya bersamaan dengan melekatkan plester bening di dahi Neji yang tergores. Setelah selesai dengan Neji, Tenten kembali bangkit dan menghampiri Itachi. Neji menatap tajam kepergian Tenten.

Hanya tinggal beberapa centi bola kapas yang telah di basahi obat merah menyentuh sudut bibur Itachi, pria itu menghentikan pergerakan tangan Tenten. Tenten termangu menatap bingung pria di depannya.

"Ada apa Itachi-san?" Tanyanya singkat.

"Tadinya aku akan bermaksud untuk memberitahumu sesuatu. Ibuku ingin bertemu denganmu." Jawabnya.

"Baiklah setelah ini kita akan menemuinya. Tapi aku harus melakukan sesuatu pada wajahmu terlebih dahulu."

"Tidak masalah tentang lukaku. Aku bisa mengobatinya di rumah sakit nanti. Tapi untuk sekarang bisakah kau ikut bersamaku?"

"R-rumah sakit?" Gadis itu menarik dirinya sedikit kebelakang. "Mikoto Basan sakit?"

Itachi mengangguk pelan tanpa melepas matanya dari Tenten.

"Kaasan sangat ingin bertemu denganmu. Dia bilang, dia sangat merindukanmu. Tapi aku tidak akan memaksamu. Dilihat dari keadaanya saat ini, sepertinya kau tidak bisa."

Tenten mengerjap cepat dan menggelengkan kepalanya. Ia lantas bangkit dan mengemasi semua benda yang ada di tangannya.

"Aku bisa Itachi-san. Mari kita pergi sekarang." Kata Tenten singkat.

Wajah Neji yang terlihat kacau makin tak berbentuk saat kerutan dahinya muncul begitu saja. Pria itu terkejut mendengar kata-kata Tenten yang akan pergi meninggalkannya.

"Kau mau kemana? Bagaimana denganku?"

Tenten diam sesaat. Ia menatap Neji mulai ujung kaki ke ujung rambut berkali-kali dengan tatapan yang tak di mengerti oleh kedua pria itu.

"Yang terluka hanya wajahmu. Kedua tangan dan kakimu baik-baik saja. Kau pasti bisa mengemudi sendiri dengan selamat sampai kerumah."

Neji terdiam. Baiklah, ia salah mengira bahwa Tenten benar-benar mengkhawatirkan dirinya. Tapi bukan itu yang Neji khawatirkan sekarang. Yang akan terjadi setelah ini adalah, Tenten pergi bersama Itachi. Itu artinya Tenten akan meninggalkan dirinya dan Tenichi. Hei! Benar! Tenichi!

"Lalu bagaimana dengan Tenichi? Kau mau meninggalkannya begitu saja?" Ujarnya penuh percaya diri.

"Kau bisa membawanya pulang bukan? Tapi jika kau tidak mau, aku bisa membawanya bersamaku." Jawab Tenten enteng. "Bagaimana?"

"..."

"Baiklah, aku akan membawanya bersamaku." Kata Tenten mulai pergi.

"J-jangan.. Aku yang akan membawanya. Pergilah. Dan pastikan aku melihatmu berada di rumah pukul dua belas malam nanti." Pria itu mulai berdiri.

"Kau ingin aku menjadi Cinderella? Baiklah, kalau begitu kau ibu perinya." Tukas Tenten asal lantas meninggalkan Neji yang terdiam di ikuti Itachi.

.

Meski permadani langit bertabur bintang semakin terlihat pekat, tak membuat Tenten menyesal menginjakkan kakinya di loby salah satu Rumah Sakit elit di kotanya.

Tenten bergidik ketika ia dan Itachi melewati pintu otomatis rumah sakit. Bulukuduknya berdiri seketika merasakan hawa dingin yang menerpanya. Tak perlu menampakkan sikap atau bahkan gesture yang memperlihatkan bahwa ia kedinginan, sebuah jas hitam langsung menyambangi punggung Tenten. Gadis itu menoleh cepat pada Itachi dengan wajah terkejut dan hanya di balas senyuman dan tepukan pelan pada punggungnya.

"Kamar nomer 269, letaknya ada di lantai 5. Pergilah terlebih dahulu, aku akan menyusul. Mungkin Sasuke sudah ada disana." Kata Itachi.

"Kenapa tidak masuk bersama? Itachi-san mau kemana?" Tanya Tenten dengan wajah polos.

"Aku butuh sesuatu untuk lukaku, ini mulai terasa sakit." Pria itu tertawa canggung.

"Kalau begitu aku akan membantu mengobati lukamu dan kita bisa pergi bersama."

"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Pergilah, Kaasan sudah lama menunggumu."

"Kau yakin?" Tanya Tenten sekali lagi.

Pria itu mengangguk pelan dan pergi meninggalkan Tenten kearah yang berlawanan.

Baiklah, Tenten menerawang jauh kedepan menghirup nafas panjang. Ia melangkah ragu ke arah lift. Rumah sakit sebesar ini terlihat sangat menakutkan di malam hari, di tambah keadaanya yang sepi membuat aura dingin semakin erat merangkul Tenten walau lampu terang masih menyoroti setiap sudut ruangan dari segala arah. Hanya beberapa orang yang mungkin kerabat pasien atau petugas yang berjaga malam melintas menampakkan dirinya di hadapan gadis itu.

Satu orang pria berbadan tambun dengan tongakat hitam dan topi berwarna gelap menghiasi pinggangnya membuat Tenten gatal untuk memanggil pria itu.

"M-maaf Jiisan, aku akan ke kamar 269, arah mana yang harus aku tuju?" Tanyanya ragu.

Sang penjaga yang sedikit terkejut tersenyum sesaat menoleh pada Tenten.

"Naiklah kelantai lima, setelah itu ambil jalan ke kiri. Setelah kau berada di ujung koridor, berbeloklah ke kanan. Kamar 269 ada sebelah kanan di ujung lorong." Jawabnya ringan.

"Baiklah Jiisan, terimakasih."

Ia melenggang ringan setelah sang penjaga rumah sakit meninggalkannya. Kedua alis Tenten terangkat cepat. Sepertinya tidaklah sulit menemukan kamarnya.

Gadis itu bergumam pelan ketika lift mencapai lantai lima. Entah apa yang ia gumamkan, ia segera berhenti setelah pintu lift terbuka. Tas slipbag yang menghiasi bahunya sejak dari rumah ia genggam rapat talinya seraya melangkah keluar.

Setelah menuruti interuksi si penjaga yang ia temui tadi, Tenten berhasil menemukan kamar yang dimaksud dan mendapati Sasuke dan seorang gadis duduk di kursi tunggu bagian luar kamar. Tepatnya di salah satu sisi lorong.

Kedua manusia itu berdiri bersamaan ketika sang gadis bersurai cokelat menghampiri mereka.

"Hai Tenten, apa kabar? Lama tidak bertemu." Sapa seseorang di samping Sasuke.

"Hm, aku baik-baik saja Sakura. Terimakasih." Balas Tenten tersenyum.

Onix Sasuke melirik sekilas jas hitam yang melindungi punggung Tenten.

"Dimana Itachi?" Tanya bungsu Uchiha itu singkat.

"D-dia masih dibawah. Sebentar lagi akan kemari."

Sasuke mengangguk paham.

Tenten masih diam.

"Kau tidak masuk?" Tanya Sakura.

"Ehm, itu... apakah..."

"Tidak ada Fugaku di dalam. Ayahku masih sibuk dengan urusannya. Kau tenang saja." Sela Sasuke terikik ringan di ikuti Sakura.

Tangan Tenten menggaruk belakang lehernya ragu.

"Sangat jelas terlihat ya?" Kata Tenten lirih.

Sakura tertawa kecil. Ia menutup bibirnya dengan ujung jarinya melihat tingkah polos Tenten. "Jelas sekali terlihat. Andai kau tau seberapa transparannya wajahmu itu."

"Aku ada disini. Jangan takut." Singkat sang Uchiha.

"T-tapi.. apa tidak apa-apa aku berkunjung selarut ini? Apa Mikoto Baasan tidak istirahat?" Tanya Tenten ragu.

"Tidak. Masuklah, Kaasan sudah menunggumu."

Gadis itu mengangguk. Ujung jarinya menyentuh knop pintu berwarna silver lalu memutar benda itu dan mendorong pintunya masuk.

Seorang wanita yang setengah bersandar di atas ranjang dengan sebuah bantal di bagian punggungnya sedikit kepayahan hendak mengambil gelas air putih di laci samping ranjang. Sontak Tenten menutup pintunya cepat dan berlari ke arah gelas yang berusaha diraih oleh Tenten.

Sedetik kemudian gelas yang tadinya berada di atas laci beralih ketangan Tenten. Ia lantas memberikannya pada Mikoto. Wanita berparas cantik itu sontak terkejut.

"Ah, Tenten. Terimakasih." Mikoto berujar sembari menampakkan senyumnya.

"Sama-sama Basan. Kenapa tidak memanggil orang lain untuk menolongmu?" Kata Tenten membetulkan letak bantal di punggung Mikoto yang sedikit miring akibat gerakan wanita itu.

Hening. Tenten membiarkan Mikoto meneguk isi gelasnya.

"Aku bisa melakukannya sendiri." Balas Mikoto tersenyum.

"Bagaimana kabar Basan? Kenapa bisa sampai terbaring disini?"

"Hanya terkena tifus ditambah asam lambungku yang naik." Jawabnya ringan.

"Semoga lekas sembuh Mikoto Basan, Itachi-san bilang seminggu tanpa kehadiran Basan dirumah sangat membosankan. Dia sangat merindukan masakan Basan." Ujarnya.

Wanita bersurai gelap itu tersenyum. "Benarkah? Seingatku dia jarang pulang kerumah. Selalu sibuk dengan pekerjaanya dan jarang menikmati masakanku."

Keduanya tertawa.

Tangan Mikoto meraih pergelangan tangan Tenten dan perlahan menarik gadis itu untuk duduk di sampingnya.

"Mungkinkah Itachi akan lebih rajin pulang kerumah jika disambut olehmu?" Wanita itu menatap Tenten penuh harap.

"B-Basan.."

"Dia mungkin akan lebih sering pulang jika seseorang menunggunya dirumah, akan lebih senang jika memakan masakan dari orang yang dicintainya, akan lebih menjadi pribadi yang periang jika bersama dengan wanita seperti dirimu."

Tenten menunduk lemah. Tatapannya turun kearah tangan Mikoto yang menggenggam erat tangannya.

"Hanya kau yang ada di pikirannya Tenten. Dia tidak peduli pada Ayahnya yang menentangmu, Itachi tetap pada pendiriannya. Dia tidak sedikit pun goyah untuk mencintaimu meski puluhan wanita cantik di sodorkan oleh Fugaku padanya."

"Aku takut... aku takut kehadiranku hanya akan menjadi beban untuk Itachi-san. Aku bukan wanita baik-baik. Banyak hal akan terjadi jika aku ada ditengah kalian. Selama ini aku mencoba untuk menekan perasaanku padanya berusaha untuk tidak mencintainya."

Mikoto diam. Ia tidak menyalahkan sikap Tenten seperti ini untuk melindungi keluarganya. Lagipula ia tidak mau egois memaksa Tenten untuk menjadi bagian dari Uchiha mengingat Fugaku yang akan melakukan segala cara untuk mendepak keluar Tenten dari kehidupan Itachi. Bukan menyakiti Tenten yang Mikoto inginkan.

Tangan Mikoto mengelus puncak kepala Tenten menggiring gadis itu kedalam pelukannya. Matanya terpejam tak lama kemudian liquid bening menghiasi sudut matanya.

"Aku mengerti.. aku mengerti." Gumamnya tanpa melepas pelukannya pada Tenten.

.

"Kenapa kalian begitu tegang?"

Suara berat Itachi menggema pelan di koridor rumah sakit. Sasuke dan Sakura yang sedari tadi duduk diam di luar kamar Mikoto sontak berdiri menatap Itachi. Membuat sulung Uchiha itu membalas tatapan mereka tak mengerti.

"Darimana saja kau?" Tanya Sasuke dingin.

Itachi diam sesaat. "Aku baru saja selesai mengobati lukaku. Ada apa?"

Segera pandangan Sasuke dan Sakura beralih pada lebam-lebam pada wajah Itachi yang baru mereka sadari. Baiklah, itu tidak penting.

"Masalah. Tenten belum keluar." Kata Sasuke singkat.

Itachi masih tak mengerti maksud kata-kata Sasuke. "Lalu?"

"Fugaku Jiisan ada di dalam." Imbuh Sakura sukses membuat mata gelap Itachi membulat.

"Bagaimana bisa?" Tanya Itachi menegang.

Pria berambut raven itu tak lantas menjawab pertanyaan Itachi. Sasuke segera duduk, menutup wajahnya dengan kedua tangannya lantas menyapu rambut emonya kebelakang.

"Aku tidak tau. Dia tiba-tiba saja datang tanpa berkata apapun padaku dan langsung masuk kedalam."

Dengan langkah berat, Itachi bermaksud untuk masuk kedalam.

"Jika boleh aku sarankan, jangan dulu masuk kedalam Itachi-san." Kata Sakura menatap sendu calon kakak iparnya itu. "Akan semakin keruh jika kau tiba-tiba muncul. Percayalah, Fugaku Jiisan tidak akan berbuat macam-macam pada Tenten di depan Mikoto Basan."

Pria itu diam. Sakura benar, keadaan akan semakin runyam jika ia masuk tiba-tiba.

Klek..

Tenten keluar dari kamar rawat Mikoto. Tak butuh waktu lama untuknya menyadari kehadiran Itachi yang berdiri tak jauh dari tempatnya sementara lainnya berada di bangku tunggu duduk beriringan. Tempat yang sama saat Tenten melihat Sasuke tadi. Itachi mendekati gadis itu yang baru saja menutup pintunya.

Tangan Tenten terlipat di depan meremas bagian lengan jas Itachi yang berada di samping tubuhnya. Ia menghela lalu melempar senyum teduhnya pada Itachi.

"Kau baik-baik saja? Apa yang..."

"Sst, jangan tanya apapun. Aku baik-baik saja." Katanya tersenyum.

Itachi bungkam ketika telunjuk kanan Tenten menyentuh bibirnya.

Sudut bibir Itachi mengembang. "Baiklah, kuantar kau pulang."

"Selamat malam Sasuke, Sakura." Kata Tenten pamit. Keduanya menangguk canggung dengan tanda tanya besar di kepala mereka. Mereka berdua tidak yakin Tenten baik-baik saja.

Itachi dan Tenten. Dua manusia yang saling mencintai namun sang gadis masih tetap pada pendiriannya untuk menyembunyikan perasaanya. Kini mereka tengah berjalan beriringan dengan tempo perlahan menuju lift. Koridor rumah sakit terlihat sepi saat jam menunjukkan pukul 12 malam.

Jas hitam Itachi yang masih setia melindungi tubuh Tenten dari dinginnya malam terayun dengan tempo teratur setiap ia bergerak.

Gadis itu masih setia dengan kebungkamannya sejak mereka meninggalkan Sasuke dan Sakura di depan kamar rawat. Wajahnya terlihat biasa. Namun Itachi tidak sebodoh itu untuk ditipu. Wajah Tenten memang menampakkan bahwa dirinya baik-baik saja, tapi tidak untuk sorot matanya.

Perjalanan ke arah lift masih cukup jauh. Membuat Itachi gatal untuk bertanya.

"Kau tau, seberapa keras kau berusaha menyembunyikannya, aku akan tetap menyadarinya." Kata Itachi.

Tenten berhenti melangkah. Ia menatap lurus sepatunya berpikir sesaat lalu kembali berjalan menyusuri lantai 5 koridor rumah sakit tersebut.

"Katakan sesuatu." Imbuh Itachi sedikit gusar.

Gadis itu tetap diam. Ia mendengar jelas apa yang Itachi katakan tapi ia benar-benar tidak ingin membahas masalah itu.

Itachi berhenti, "Aku tidak bisa berbuat kasar padamu untuk membuat kau mengatakan apa yang terjadi. Tapi aku lebih tidak sanggup lagi jika seseorang menyakitimu.. termasuk Ayahku sendiri."

Ucapan Itachi membuat Tenten terhenti. Kepalanya masih menunduk namun ia perlahan berbalik menatap Itachi.

"Tidak ada yang tersakiti Itachi-san. Itu hanya akan terjadi jika kau memaksaku untuk bertahan disisimu. Ayahmu benar, terlalu besar konsekuensi yang akan kau terima jika kau masih terus bersamaku."

"Tidak ada yang tersakiti? Kau tidak memikirkan aku?"

"Lalu apa kau tidak memikirkan Ayahmu? Yang telah membesarkanmu dan merawatmu selama ini? Bagaimana dengan rekan kerjamu jika tau kau menyukai seorang gadis kacau sepertiku? Dan juga Neji? Kun ataupun Tenichi? Bagaimana dengan mereka semua? Kita berdua sama-sama ada di posisi yang sulit. Dan karena semua itu juga aku kini bisa berpikir lebih jernih. Sekeras apapun kita berusaha, tidak akan pernah ada jalan untuk kita bersama."

Pria itu mendekati Tenten yang tak juga beranjak dari tempatnya. Itachi mendekatkan wajahnya pada gadis di hadapannya. Mata onix dan manik hazel bertemu.

"Tegakah kau menghancurkan harapanku?"

Kedua mata Tenten tertutup cepat. Diluar kendalinya, matanya berair dan tak lama kemudian cairan bening itu menetes membasahi pipinya lalu masuk ke mulutnya memberikan sensasi rasa ditengah Itachi melumat bibirnya.

Ditengah rasa pedih yang berkecamuk di hatinya, Tenten membalas ciuman Itachi. Sulit untuknya menolak Itachi. Setahun dia mengenal Itachi, benih cinta di hatinya mulai tumbuh tanpa bisa ia kontrol. Ia berbohong pada Mikoto bahwa ia telah menekan perasaanya untuk Itachi. Sesungguhnya, Itachi adalah sosok yang sangat ia inginkan. Namum keadaanya yang seperti ini membuatnya minder dan lebih memilih untuk mundur.

Kedua tangan Tenten mengudara hendak menjauhkan Itachi darinya. Namun urung ketika disaat yang sama pria itu memperdalam panggutannya dengan menangkup rahang Tenten rapat.

Tenten terlena. Ia kalah dengan pesona sang Uchiha yang sudah lama mengisi hatinya. Gadis itu lebih memilih diam dan membalas apapun yang akan di lakukan Itachi padanya. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk melepas tegang di bahunya, menikmati setiap sapuan bibir Itachi yang menghipnotisnya.

.

.

.

.

"Otousan, hari ini Matsumi Sensei bilang kami akan ada pelajaran tambahan di museum. Saat pulang nanti, apakah Otousan bisa mengantar kami ke kedai ice cream? Sejak kemarin aku ingin sekali mengajak Hima ke kedai ice cream yang di tunjukan oleh Kaasan. Tapi tidak jadi karena kemarin saat pulang Kaasan menjemputku." Kata sang bungsu Hyuuga dengan mulut penuh panekuk.

Manik lavender Neji menatap putrinya. Wajahnya yang semula datar berubah hangat.

"Baiklah, siang ini. Pukul 12 nanti Ayah tunggu di depan gerbang." Kata Neji menarik sudut bibirnya keatas.

Gadis itu tersenyum senang dan menangguk semangat.

"Lalu.. Kun, bagaimana dengan sekolahmu? Apa semuanya lancar?" Neji beralih pada Kun yang masih lahap menelan panekuk madu di hadapannya.

Kun membalas tatapan Neji kemudian mengangguk.

"Kudengar kau kemarin pulang terlambat. Darimana saja kau?"

"Sepulang sekolah aku ikut kerumah Boruto untuk bermain videogame. Karena kelelahan aku tertidur disana. Sorenya Paman Naruto yang mengantarku pulang."

"Selamat pagi."

Suara Tenten memecah kehangantan anara Ayah dan anak di ruang makan rangkap dapur tersebut.

Gadis itu segera duduk di samping Tenichi yang masih fokus pada makanannya. Raut wajah Neji kembalu berubah datar melihat kehadiran Tenten. Tenten sadar akan perubahan sikap Neji, namun ia lebih memilih diam dan tak peduli.

"Maafkan aku tidak bisa membantumu menyiapkan makanan pagi ini Basan. Aku bangun kesiangan tadi."

"Tidak masalah Tenten. Semuanya lancar tanpamu." Jawab wanita itu meletakkan piring panekuk di hadapan Tenten.

Tenten tersenyum singkat. "Terimakasih Basan."

Drrt.. drrt..

Ponsel sang Hyuuga bergetar lama. Tanpa banyak bicara pria itu menerima panggilan tersebut tanpa merubah ekspresinya.

"Ya Matsuri?"

Tenten yang baru saja mulai melahap panekuk di hadapannya segera teralih fokusnya saat Neji menyebut nama Matsuri. Ia memasukkan makanan tersebut dan mengunyah pelan di dalam mulut dengan melirik Neji dengan tatapan sedikit tajam melalui sudut matanya.

"Baiklah aku akan segera ke kantor." Sahut Neji pada Matsuri.

Pria itu segera bangkit dari kursinya dan segera pergi setelah mencium puncak kepala kedua anaknya.

"Tenten-san, apa Neji-sama sudah tau tentang pekerjaanmu?" Tanya Ikuya sekilas melirik seragam dan tag name yang melekat ditubuh gadis itu.

Gadis itu meletakkan garpu yang ada di tangannya.

"Banyak hal yang terjadi diantara kami tadi malam Basan. Tidaklah sulit untuknya menerka apa yang aku lakukan."

Ikuya mengangguk paham.

"Pagi ini dia terlihat sangat kesal. Entah apa yang dia pikirkan. Tapi kelihatan sekali moodnya sedang tidak dalam keadaan baik." Kata Ikuya meletakkan segelas air putih di samping garpu Tenten.

"Kenapa bisa begitu? Apa yang terjadi?"

Wanita itu menggeleng sembari menurunkan sudut bibirnya. "Entahlah. Setelah tadi malam pulang bersama Tenicihi, dia langsung masuk ke kamar. Saat aku tanya kenapa, dia hanya bilang 'aku kehilangan satu paru-paruku Baasan. Aku sedang sulit untuk bernafas sekarang' begitulah."

Tenten terdiam. Matanya menatap kosong piring di hadapannya. Apa yang di maksud Neji adalah dirinya? Tapi.. apa secepat itu Neji mencintainya? Atau Tenten hanya terlalu percaya diri? Terlebih telah apa yang terjadi antara Itachi dan dirinya di koridor rumah sakit tadi malam, Tenten merasa bersalah. Hei, merasa bersalah? Kenapa Tenten harus merasa seperti itu? Siapa Neji? Apa arti Neji dalam hidupnya? Tidakkah ini semua terasa aneh? Saat Tenten memantapkan hatinya untuk menyerah pada Itachi, disaat yang sama Neji hadir dalam hidupnya.

Ia mengusap lembut puncak kepala Tenichi dan menatap Kun dengan senyum rapat dan mengembang. Apakah dengan beralih pada Neji bisa membuatnya melupakan Itachi? Sungguh demi apapun, melihat Itachi hancur di hadapannya adalah hal paling menyakitkan dibanding membohongi Itachi akan perasaannya yang sebenarnya.

'Haruskah?'

oOo

Neji masuk kedalam ruanganya. Ia membetulkan kancing jasnya sesaat lalu duduk di kursinya. Hanya selang beberapa detik, Matsuri ikut masuk kedalam dengan membawa serta beberapa map berisi berkas.

"Ini laporan tentang proyek yang di tangani Hinata sama dan Sasuke-sama. Tidak ada kendala berarti. Hanya sedikit kesalahpahaman antara arsitek dan pihak kontraktor. Tapi Hinata-sama bilang dia bisa menyelesaikan masalah itu." Kata Matsuri meletakkan map berwarna merah di atas meja Neji.

"Baiklah, sepertinya itu tidak perlu di khawatirkan... Kau bilang kau punya info tentang peragaan busana. Apa itu benar?" Tanya Neji.

"Tentang itu, iya. Kebetulan saat Hinata-sama memberikan laporan itu kemarin, aku menyinggung masalah peragaan busana itu. Teman Hinata-sama dengan senang hati menerima tawaran Neji-sama untuk mengadakan acara fashion di mall kita. Tapi berhubung Neji-sama menambahkan persyaratan untuk membuat fashion musim dingin untuk anak, Ino-sama memerlukan sedikit waktu lagi untuk mendapatkan konsep yang tepat." Jelas Matsuri.

"Tidak masalah. Biar dia menggunakan waktunya untuk berpikir. Tapi jika bisa, lebih cepat lebih baik bukan?"

Matsuri mengangguk.

"Tim kami juga sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari dekorasi hingga konsumsi sudah kami siapkan. Jadi sebelum hari H, persiapan dari pihak kita sudah selesai." Kata Matsuri setelah meletakkan kertas berisi rincian kebutuhan acara tersebut.

"Bagaimana dengan modelnya? Apakah kita yang harus menyediakannya?" Neji mendongak.

"Tidak Neji-sama. Ino-sama memakai agency tempat temannya bernaung. Kudengar yang akan menjadi maskot dalam peragaan busana tersebut adalah tunangan Sasuke-sama, Haruno Sakura."

Lagi-lagi hanya anggukan ringan yang didapat oleh Matsuri.

"Apa hanya itu laporan yang ingin kau tunjukkan padaku?"

"Untuk saat ini hanya itu Neji-sama."

"Baiklah kalau begitu... Apa jadwalku siang ini?"

"Siang ini Neji-sama harus menghadiri rapat bersama para kolega.

"Tolong kau undur rapat itu menjadi besok."

"Kenapa Neji-sama? Apa ada masalah?" Tanya Matsuri sedikit terkejut. Tidak biasanya Neji seperti ini.

"Tidak ada. Aku hanya harus melakukan sesuatu siang ini." Balas Neji tersenyum.

oOo

Ruangan bernuansa putih yang tadinya sunyi tiba-tiba menimbulkan gema ketika seseorang terkekeh.

"Bukankah sebelum kau memutuskan untuk mencintainya, harusnya kau tau sifat aslinya." Celoteh Sasuke.

Itachi mendengus sebal melempar pandangan kearah lain. Kedua tangannya berada di atas meja dengan jemari kanannya memainkan pena hitam miliknya.

"Memaksanya untuk mengatakan sesuatu yang tidak ingin dia ceritakan adalah hal yang sia-sia. Jangan membuatnya merasa di sudutkan oleh pertanyaanmu. Buat dirinya merasa seakan-akan apa yang mengganjal di hatinya harus di ceritakan padamu." Imbuh Sasuke menggeleng tipis.

"Aku kalap Sasuke." Singkat Itachi.

Lagi-lagi Sasuke tertawa geli. Ia menyeruput cangkir berisi kopi di atas meja Itachi kemudian mengangkat kedua alisnya cepat.

"Kalap itu biasa. Apalagi melihat orang yang kita cintai di intimidasi oleh orang lain. Tapi dengan kau menciumnya disaat dia dalam keadaan terburuknya, kau membuat keadaan semakin memburuk."

"Aku tau. Itu semua diluar kendaliku."

"Bagaimana sikapnya setelah kau melakukan ciuman sepihakmu itu?"

"Tidak ada percakapan diantara kami. Sepertinya dia diselimuti rasa canggung. Saat aku mencoba untuk mengajaknya bicara, dia hanya mengangguk dan tersenyum. Mungkin setelah ini dia tidak akan mau bertemu denganku lagi."

"Jangan pesimis Itachi. Bukankah kau bilang di membalas ciumanmu? Itu artinya dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu bukan? Jika hanya karena itu dia tidak mau menemuimu, rasanya tidak mungkin itu terjadi."

"Baiklah, anggap saja itu tidak pernah terjadi diantara kami. Lalu bagaimana dengan Neji? Dia jelas-jelas berkata tidak akan melepas Tenten apapun yang terjadi. Ditambah lagi Kun dan Tenichi. Jika dibandingkan, posisiku dan Neji tidak sebanding."

"Sebanding atau tidak, sebelum Tenten menyandang nama marga dari orang lain, kesempatan untukmu masih terbuka lebar Itachi."

Itachi tertawa sinis. Jujur saja ia percaya Tenten juga mencintainya, tapi ia tidak yakin gadis itu akan jatuh kepelukannya. Menjadi Ayah dari dua orang anak tidaklah masalah baginya. Kun juga sudah akrab dengannya sejak lama. Tapi entah bagaimana dengan Tenichi.

"Jika tidak bisa memenangkan Tenten, banyak teman Sakura yang tergila-gila padamu." Celoteh Sasuke asal membuat bungsu Uchiha itu menerima tatapan tajam dari pria di hadapannya.

"Sebentar lagi makan siang. Bagaimana kalau kau membelikanku makanan. Adikmu ini kelaparan." Kata Sasuke bangkit dari duduknya.

oOo

"Apa aku merepotkanmu?" Tanya Neji pada seorang wanita yang baru datang.

"Tidak. Tapi kau harus cepat, waktuku tidak banyak." Jawabnya meletakkan tas slipbag kecilnya diatas meja.

"Baiklah, aku akan langsung ke intinya. Tapi perkenalkan, namaku Hyuuga Neji. Aku suami dari Tenten." Kata Neji mengulurkan tangannya.

Gadis itu diam memaku di tempatnya meski tangannya membalas jabatan tangan pria itu. Kedua matanya melebar. "S-suami?"

Neji melepas jabatan tangannya lalu mengangguk.

"A-aku Ajisai. S-senang bertemu denganmu." Ajisai tertawa canggung. "T-tapi bagaimana kau tau kalau aku teman Tenten?"

"Aku mengambil nomer telefonmu dari ponselnya tadi malam. Tapi itu tidaklah penting. Kau bilang langsung ke pokok permasalahan bukan? Aku ingin tau, apa kau mengenal Itachi?"

Seorang pelayan menghampiri mereka berdua lantas menyodorkan buku menu pada Ajisai.

"Aku tidak ingin memesan. Maaf." Kata Ajisai pada pelayan tersebut.

"Kau yakin tidak ingin memesan sesuatu?" Tanya Neji ketika pelayan tersebut pergi.

Ajisai mengangguk.

"Istitahat makan siangku hanya 20 menit. Aku tidak punya banyak waktu disini. Baiklah, kau bertanya tentang Itachi? Baru kemarin Tenten bercerita sedikit padaku tentang pria itu. Apa yang ingin kau ketahui tentang dirinya?"

"Bagaimana Tenten dan Itachi bisa bertemu?" Neji menatap Ajisai serius.

"Tapi sebelumnya aku masih penasaran, bukankah kau kakak ipar dari Uzumaki Naruto? Bagaimana mungkin kau bisa menjadi suami Tenten? Yang aku tau dia adalah seorang janda."

"Kau benar. Maka dari itu, kuharap kau merahasiakan pertemuan kita ini dari bos mu. Tentang status janda itu, entah apa yang dipikirkan Tenten tapi mungkin dia sengaja menyembunyikan statusnya agar aku tidak marah jika sampai aku tau dia bekerja."

Ajisai mengangguk. Jujur ia tidak mengerti bagaimana bisa semua ini terjadi. Tapi bagi Ajisai, akan lebih baik jika ia mengetahui permasalahan ini langsung dari Tenten daripada harus mencari tau kesana-kemari.

"Baiklah. Apa kau tau, sebelum Tenten bekerja di tempat kami, dia adalah seorang pencopet?"

Pria itu diam dan hanya mengangguk tipis.

"Dia adalah salah satu korbannya."

"..."

"Lebih tepatnya bukan Itachi yang menjadi sasarannya, tapi Ibunya. Mikoto Uchiha." Gadis itu menarik diri kebelakang untuk bersandar. "Entah kebetulan atau tidak, setelah Tenten mendapatkan dompet wanita itu, dia lari tunggang langgang saat penjaga swalayan memergoki perbuatannya. Dia berlari kemanapun dan secepat yang dia bisa, tapi entah kenapa kakinya membawanya kejalan raya yang sedang dalam keadaan ramai. Kata Tenten, semuanya terjadi begitu saja. Saat dia siuman, tiba-tiba dia bangun di ICU rumah sakit dengan perban disekujur tubuhnya dan gips di lehernya."

"Lalu?"

"Disanalah Itachi muncul. Saat dia bertanya apa yang terjadi, Itachi menjawab semua yang terjadi pada Tenten adalah salahnya. Hampir satu bulan dia dirawat intensif karena tulang belikatnya yang patah dan sedikit remuk serta tulang lehernya yang agak bergeser dari tempatnya akibat terkena hantaman keras dari mobil Itachi."

Kedua mata Neji membelalak terkejut mendengar cerita dari Ajisai. "Separah itu?" Tanyanya dengan mulut membeo.

"Iya. Tenten juga pernah berkata padaku dia memiliki luka yang cukup besar di pinggang dan juga bahu kanan bagian belakangnya. Aku juga sudah melihatnya saat dia ganti seragam di ruang ganti. Goresan panjang tepat di pinggang belakangnya cukup membuktikan padaku seberapa parah keadaan Tenten waktu itu meski aku tidak ada disana."

Kedua tangan Neji mengepal. Bibirnya terkatup rapat lalu melemparkan pandangannya kearah lain.

"Ada lagi?"

Ajisai mengangguk singkat. "Hm, sejak saat itulah Itachi sangat protektif pada Tenten dan selalu tau apa yang Tenten lakukan setiap harinya. Karena jika ada sesuatu yang mengambat gerak tubuh Tenten, Itachi merasa itu adalah salahnya dan dia harus bertanggung jawab."

Neji menghela nafas berat. Pikirannya berkecamuk tentang Tenten. Entah sejak kapan perasaan itu muncul, namun ia seolah sudah mengenal Tenten sejak lama dan masih tidak dapat menerima hal seperti itu pernah terjadi padanya.

Neji mencintainya. Mencintai gadis itu. Mencintai seorang gadis pencopet tanpa keluarga maupun marga. Ya, Neji tidak akan munafik lagi sekarang, dan dirinya mengakui itu. Kini baginya, Tenten bukanlah sebuah alasan untuk Kun dan Tenichi. Mempertahankan Tenten disisinya adalah sebuah keharusan baginya karena dia membutuhkan wanita itu dan sangat menginginkannya.

Hyuuga itu kembali beralih menatap Ajisai dengan tatapan datar.

"Lalu Menma, bagaimana dengannya?"

"Secara terang-terangan dia menunjukkan rasa ketertarikannya pada Tenten. Menma-sama sangat baik pada Tenten dan juga Tenichi." Jelas Ajisai mengangkat kedua alisnya. "Tapi Tenten sepertinya tidak tertarik pada Menma-sama. Dan sepertinya tanpa kusebutkan pun kau pasti tau siapa orang itu."

Pria itu menyeringai disertai keluarnya kekehan kecil meremehkan. Sudah pasti Neji tau siapa pria itu.

"Jika tidak ada hal lain lagi aku akan pergi. Jam makan siangku hampir habis."

"Apa perlu kuantar?" Tawar Neji pada Ajisai yang mulai menggunakan mantelnya.

"Tidak perlu Neji. Akan terlihat aneh jika seorang pegawai biasa sepertiku yang izin keluar untuk membeli obat flu kembali ke restoran menggunakan mobil itu." Tolak Ajisai halus sembari melempar pandangannya sesaat kearah mobil Chevrolet SS milik Neji yang parkir di bawah trotoar khusus lajur parkir tepat di depan cafe.

Neji terkikik geli mendengar kata-kata Ajisai.

"Baiklah jika itu maumu. Tapi aku berterimakasih padamu untuk semuanya. Kau sangat membantu."

"Tidak masalah Neji. Aku senang bisa membantumu dan Tenten." Balas Ajisai melempar senyum.

Gadis itu berbalik pergi meninggalkan Neji yang berdiri di balik meja yang mereka tempati.

Baru dua langkah Ajisai berjalan, ia kembali berbalik menghampiri Neji.

"Neji.. Entah yang akan kukatakan ini penting atau tidak bagimu, tapi kemarin Naruto-sama dan Hinata-sama datang ke restoran kami dan bertemu dengan Tenten serta Menma-sama. Aku tidak tau apa yang terjadi dan Tenten juga tidak mau menceritakannya padaku, tapi saat Tenten dan Hinata-sama keluar dari ruang ganti, aku melihat istrimu meringis dengan bercak merah di pipi kanannya. Kuharap tidak terjadi apapun pada Tenten."

Lagi-lagi Neji dibuat terkejut oleh perkataan Ajisai. Tanpa perlu berpikir pun Neji tau apa yang terjadi antara Tenten dan Hinata. Sesuatu mengganjal di hatinya, sejak kapan Hinata yang dia kenal sebagai pribadi yang lemah lembut berubah menjadi orang yang ganas? Sebegitu bencikah wanita itu pada Tenten hingga sikapnya berubah seperti itu?

"Aku hanya khawatir dia merasa tertekan jika memang ada sesuatu diantara dirinya dan Hinata-sama. Karena terakhir sebelum aku kemari, untuk kesekian kalinya aku bertanya tentang masalah itu dia tetap bungkam padaku. Menma-sama juga mengetahui hal itu tanpa tau alasannya dan kami sepakat untuk diam jika bukan Tenten sendiri yang mau menceritakan hal itu kepada kami."

"A-akan aku pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi Ajisai. Kau jangan khawatir."

.

.

Gemericik air yang berasal dari shower kamar mandi di kamar Tenten. Pintu kaca yang membatasi antara tempat mandi serta bath up dengan wastafel dan kloset, terlihat rapat menutup. Seolah gadis itu tak ingin ada celah yang terlihat dari luar maupun dalam. Tak membiarkan siapapun mengintip bahkan lalat sekalipun.

Seperti biasa, pulang petang membuat tubuhnya terasa lelah. Keadaan restoran memang tidak seramai biasanya, namun tetap saja pekerjaan sebagai pelayan dan cleaning service yang ia emban ia akui menguras hampir semua tenaganya.

Gadis itu telah selesai dengan mandinya. Rambut hazel panjangnya yang basah ia bungkus handuk dan meletakkan buntalan tersebut diatas kepalanya. Tubuhnya di tutupi sebuah handuk berbentuk kimono berwarna putih. Ia menghampiri wastafel lantas memperhatikan pantulan dirinya di depan kaca. Tangannya terangkat keatas. Ujung jemarinya meraba tipis pipi kanannya. Kedua alisnya terangkat bersamaan dengan sudut bibir yang mengarah kebawah.

"Kupikir bercak itu akan bertahan lama, ternyata sudah hilang." Katanya sedikit remeh.

Kakinya membawa dirinya keluar dari kamar mandi. Setelah ini Tenten berencana untuk turun dan membantu Ikuya menyiapkan makan malam. Hal yang biasa Tenten lakukan selama ini.

Gadis itu mengigit bibir bawahnya sembari bersenandung lirih. Kedua tangannya mengeratkan tali kimono di pingganya. Matanya terfokus pada ranjang king size di depannya. Tenten menyeringai tajam dan tak lama kemudian gadis itu melompat keatasnya. Membuat ranjang tersebut berderit dan berguncang.

Dengan posisi telungkup, Tenten membenamkan wajahnya. Ia sangat lelah, punggungnya terasa nyeri. Berbaring beberapa menit disini sepertinya tidak masalah. Hanya 5 menit waktu yang dia butuhkan.

Ia tersenyum damai menikmati kenyamanan yang ia rasakan. Betapa beruntungnya orang-orang seperti Neji yang sudah terlahir menjadi keturunan konglomerat. Tidak perlu memikirkan apa yang harus dimakan esok hari, tidak pernah menghadapi pemilik rumah yang galak, tidak perlu kepanasan ketika musim kemarau, kedinginan ketika musim salju, atau bahkan kelaparan akibat tidak adanya penghasilan yang di dapat.

Mata Tenten terbuka. Gadis itu tertegun dalam diam. Ia berpikir, apakah jika dia memiliki orangtua hidupnya akan seperti ini? Atau bahkan akan lebih buruk daripada hidupnya sebelum bertemu dengan Neji. Apakah seperti ini rasanya memiliki keluarga? Memang belum lama Tenten berada disini, namun ia sangat suka akan kehangatan rumah ini. Tenten senang ketika ada yang menyambutnya saat dia pulang kerja, ia senang saat Kun dan Tenichi berhambur kepelukannya saat ia lelah. Meskipun Neji masih terlihat tidak peduli padanya, tapi Tenten merasa dia adalah pria yang baik. Apapun yang Tenten butuhkan selalu diberikan dalam sekejap mata meski sejauh ini tidak ada permintaan apapun dari Tenten. Tapi satu hal yang paling penting, janji Neji yang akan memberinya kehangatan.. sudah terwujud. Dengan adanya Ikuya, Kun, Tenichi, dan juga pekerja rumah tangga lainnya, Tenten merasa sudah memiliki sebuah keluarga dan gadis itu sangat berterimakasih. Meski ia tidak tau sampai kapan keadaan ini akan berakhir.

Cklek...

Pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok Neji dengan tatapan datarnya berdiri di ambang pintu. Tenten sontak terkejut dan segera beringsut duduk dan membetulkan letak kimononya yang tersingkap.

Pria itu masuk dan menutup pelan pintunya. Tenten masih tak bergeming, dia masih setia dengan posisi duduknya di atas ranjang. Buntalan handuk yang ada di kepalanya lepas akibat gerakan cepat Tenten tadi.

"Katakan padaku, apa Hinata telah menamparmu?" Tanya Neji ke pokok permasalahan.

Tenten terkejut dan sontak mendongak menatap Neji.

"Ekspersimu sudah cukup untukku." Imbuh pria itu dengan nada datar.

Neji berjalan santai kearah ranjang dan naik keatasnya. Tentu saja Tenten kelabakan melihat gerakan cepat Neji yang menghampirinya. Baru saja dia berniat untuk mundur dan turun dari ranjangnya, tangan Neji menahan tangan kanannya. Tatapan tajam dari sang Hyuuga yang tak dapat Tenten artikan membuatnya merinding. Tanpa banyak bicara Neji melucuti ikatan tali kimono di pinggang Tenten. Jelas gadis itu berontak, ia berusaha meronta menjauhkan dirinya dari Neji. Namun urung.

Wajah Tenten pucat pasih. Kedua matanya terbelalak terkejut ketika ia sadar wajahnya sudah berada tepat di atas perut Neji yang berada di hadapannya menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan diatas ranjang. Tangan kanan Neji masih menahan tangan Tenten meski gadis itu sudah tidak lagi memberontak, sementara tangan kirinya berhasil menyingkap bagian bahu dari kimono tersebut.

Mata lavender Neji menatap dingin guratan luka berukuran besar pada bahu gadis itu. Dahinya berkerut nanar. Hatinya tersayat melihat gadis yang dia cintai memiliki bekas luka yang tak bisa hilang sebesar ini di punggungnya.

Tenten bergetar dalam dekapan Neji. Nafasnya terhenti saat tangan Neji pelan namun pasti semakin merendahkan posisi kimono tersebut. Tenten tak dapat melihat wajah Neji, namun Tenten dapat mendengar suara detak jantung Neji yang berpacu jauh dari normal terdengar.

Neji mengerutkan hidung bagian atasnya. Bibirnya terkatup rapat dengan sedikit memicingkan matanya. Gerakannya melambat ketika tangannya hampir membuka kimono di bagian yang ia maksud. Ia ragu akan membuka luka tersebut. Jika tidak dibuka, rasa penasaran Neji tidak akan terjawab. Namun jika ia sampai melihat luka tersebut, entah apa yang akan ia rasakan nanti.

Blatz..

Satu gerakan cepat Neji berhasil membuka kimono Tenten memperlihatkan punggung polos tanpa apapun namun di hiasi beberapa luka disana. Benar kata Ajisai, luka terbesar ada pada pinggang Tenten dan hal itu membuat hati Neji nyeri.

Jemari tangan Neji menyentuh bagian luka bak sabuk yang sudah menjadi scar tersebut. Meski sudah cukup lama, namun bekas jahitannya masih kelihatan. Tepat di bagian tengah luka tersebut, bagian dagingnya sedikit menjorok kedalam. Neji tidak tau bagaimana bisa itu terjadi, namun sepertinya operasi perbaikan tulang ikut andil tentang itu.

"Sampai kapan kau akan menyembunyikan ini dariku?" Tanya Neji dingin.

"Kenapa kau harus tau? Kau bukan siapa-siapaku." Balas Tenten.

"Di detik dimana untuk pertama kalinya Kun dan Tenichi menginjakkan kakinya di ambang pintu rumahku, itu artinya kau adalah ibu dari kedua bocah itu yang tak lain kau juga adalah istriku. Itu artinya, kalian bertiga adalah proritas utamaku. Dan meski luka ini terjadi sebelum aku masuk ke kehidupanmu, aku merasa bertanggung jawab meski bukan aku yang melakukannya."

"Jangan merasa bersalah dan tidak perlu bertanggung jawab. Semua ini kesalahanku dan kau tidak perlu memikirkannya." Kata Tenten menaikkan kimononya.

"Baiklah, aku akan mencoba untuk berkata jujur padamu." Neji sedikit menarik dirinya menjauh dari Tenten yang sibuk dengan tali dipingganya. Pria itu menatap dingin Tenten yang posisinya lebih rendah darinya.

"Aku memang tidak seperti Menma, yang secara terang-terangan menunjukkan rasa ketertarikanku pada seseorang. Menjadi baik untuk semua orang terlebih lagi pada wanita yang kucintai bukanlah keahlianku. Tidak juga seperti Itachi, yang berperilaku ramah dan romantis dihadapan gadis yang dia cintai. Perhatian? Mereka berdua memperhatikanmu karena mereka tertarik padamu dan itu jelas. Aku bukan mereka yang bisa melakukan itu semua karena aku memang tidak tau bagaimana caranya memperlakukan wanita yang kucintai sebab ini kau adalah wanita pertama yang berhasil membuatku seperti ini."

Gadis itu sontak mendongak terkejut. Mendapat tatapan serius dari seorang Hyuuga Neji adalah hal baru dan membuatnya tak bisa bergerak meskipun dia ingin.

"Tanpa kusadari namamu terukir di urat nadiku. Semua tentangmu menyatu dalam tubuhku. Berulang kali aku menepis perasaan itu, namun semakin aku berusaha memori tentangmu semakin mencengkeram otakku. Mendapat perlakuan dingin darimu setiap pagi seolah mengikat kedua tangan dan kakiku. Aku tidak bisa melakukan apapun karena kau yang dengan kejamnya membiarkanku hanya memikirkan dirimu. Bagaimana bisa seorang gadis sepertimu membuatku seperti itu?"

"..."

"Beritahu aku bagaimana caranya membuatmu bahagia. Akan kulakukan segala cara bahkan jika aku harus menghancurkan tulang belikat dan pinggangku agar aku bisa merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan."

Tenten membeo. Tatapan Neji tetap tidak berubah sejak tadi. Membuat Tenten membeku tak bergerak. Tatapan teduh itu, membuat Tenten merasakan hal aneh yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya.

"Aku... menginginkanmu."

To Be Continued..

*Lambai-lambai ke kamera* Oi, pada masih ingat fanfic ini? XD Lebih dari satu bulan Ran anggurin fanfic ini dan baru bisa di update sekarang. Maafkan atas keterlambatannya minna 0^0 Well sejauh ini bagaimana? Tenten udah mulai cemburu dan Neji... ah, sudahlah XD *tebar confetti* Neji, kau terlalu agresif nak :")) /buang. Ran mau minta maaf karena membuat karakter Hinata menjadi OOC disini. Tapi percayalah, Hinata aslinya tidak semenyebalkan itu kok /dor . Dan untuk reader yang bertanya siapa tunangan Sasuke, sudah terjawab bukan? XD Disini semuanya canon pair. Mungkin hanya cerita slight antara ItaTen dan MenmaTen yang crack pairing.

.

Rikarika: Hai~ makasih udah mampir :)) Yoroshiku. Itachi sama Tenten ya? *di pelototin Neji* XD See you Rika-san ^^

Hera: Yoroshiku Hera-san. Terimakasih sudah mau mampir dan meninggalkan review. Semoga chapter ini nggak bikin kecewa ne :))

Rossadilla17: No~ ribut kok. Ran takut ntar fanfic Ran di kasih surat peringatan sama kapei XD/buang.

Sherry Ai: Ahaha~ segitu lamanya kah? :")) Maafkan Sherry-san, Ran terkendala waktu. Jadwalnya bentrok sama jam kuliah. Jadilah ngaret :")) Iya ya, Hinata OOC banget ya? XD *dihajar* Iya, Naruto dewasa banget. Sherry-san mau? Ntar Ran bungkusin satu kagebunshin nya XD

Akira Ken: Lagi-lagi ngaret. Maafkan Ran, Akira-san XD *dijedotin* Menma mah kalem orangnya. Tiper Ran banget ituuu~ XD Untuk saat ini mungkin Ran akan merampungkan terlebih dahulu fanfic ini sama Ambivalence :))

Yuni: Iya kudu ngirit sekarang. Soalnya harga pada naik XD *ditendang* Makasih ya udah ninggalin review. Semoga nggak gumoh baca chapter yang ini :))

Marin Choi: TAT jangan di panggil senpai doong~ Senioritas disini terasa kental banget :)) panggil Ran aja ne. Ran lebih nyaman di panggil nama aja :)) Ahaha~ lama banget ya? Maafkan :") *ditabok* Makin belibet? Sekali lagi maafkan, fanfic-fanfic Ran memang nista :"v See you in next chap Marin-san :)

AkariJW: Scene romantis NejiTen ya? *ketuk ketuk meja* Maybe chapter depan XD Tenang Akari-san, pelan tapi pasti Itachi akan keluar dari hidup Tenten kok XD Tenten itu pasangannya... Ran jadi baper. Kebawa perasaan waktu Neji mati di serialnya. Maafkan Ran, Ran tidak kuat menanggung beban berat itu :"v *baper + drama.* /golok mana golok?

Sooya: Hai Sooya-san. Makasih ne :))

RanMegumiKWSuper: Heyah~ adegan intim? 0/0 Sabar, sabar, akan ada saatnya scene intim mereka berdua. Tapu bukan lemon loh XD Hiashi-sama di singkirkan? Oke, gimana caranya? Ran juga sebel sama dia nentang NejiTen XD *dilempar tombak* It's oke nggak masalah :)) See you ^^

Shinji R: Menma gimana Menma? Dia juga cucok :3

Guest: Next chapter is done :))

Nabilah: Chapter 9 complete. See you Nabila-san :))

Sribiyondo: Hai, yororshiku :)) Maafkan kalo updatenya ngaret :"v *ditendang* Terjadi di kehidupan Ran? Ahhh~ amin amin aminn~ XD Eh tapi, haruskah Ran jadi pencopet juga? 0.0

NamikazeRael: Kalo beneran Hyuuga dama Uchiha berantem gara-gara Tenten lucu kali ya XD Tapi sayang, Hyuuga dan Uchiha yang jadi pemeran utama disini sudah tenang di alamnya :")) Konflik sepertinya masih ada XD Makasih supportnya. No~ selama mood masih baik, insyallah fanfic ini tidak akan berhenti di tengah jalan :)) Semoga chap ini memuaskan :)) See you~

Kazuha: Yosh! Makasih udah mampir Kazuha-san. See you :))

Hera-chan: Yoroshiku Hera-san. Makasi untu RnR nya :)) Konfliknya banyak kaya sinetron ya XD Chapter 9 sudah selesai, see you di chpater 10 Hera-san, ciao~ * dilempar ke bulan*

Nazlia Haibara: Yosh! Tepat sekali pekiraan Haibara-san, Tenten ngomel-ngomel kaya emak-emak XD *ditendang* Menma curiga, tapi dia dewasa :") Tipe Ran banget itu mah :"v No~ Neji sudah cinta sama Tenten. Romansu banget Neji sampe mau hancurin tulang belikatnya buat Tenten :")) (Yaoloh, kirimin Ran cowo kaya Neji yaoloh. Amiinn~) XD

Fiuh~ Chapter 9 sudah rampung. See you minna XD

Log in? Cek PM :))