Gadis Pencuri
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T/T+
Warn: Abal, Nista, etc
No Flame
RnR
.
.
Jalan setapak berselimut salju mengugah hati dua bocah gembira untuk bergulung-gulung di sana untuk sekedar melengkapi kesenangan mereka berdua di saat kedua orangtuanya masih berangkulan mesra di belakang mereka di tengah waktunya menghabiskan hari ini bersama-sama. Meski tidak ada hal yang berbau mewah dari liburan keluarga kecil tersebut, tapi bagi Neji yang notabenya adalah manusia dengan hidup serba berkecukupan sejak ia bayi, hal itu sama sekali bukanlah masalah baginya. Bahkan pria itu merasa hari ini adalah hari paling membahagiakan seumur hidupnya.
Air danau yang terlihat membeku menjadi daya tarik bagi kedua bocah tersebut setelah mereka merasa puas bermain dengan butiran salju di tanah. Baik Neji maupun Tenten tak melarang kedua anaknya bertingkah selama tak lepas dari pandangan dan tidak membahayakan orang lain.
"Tunggulah di sini, aku akan mencari sesuatu yang hangat." Kata Neji meniup dekat kedua tangan Tenten yang mulai membiru karena udara dingin.
Gadis itu hanya mengangguk sembari menyunggingkan senyumnya. Sedetik setelahnya, Neji sudah berjalan menjauhinya menuju sebuah mini market di ujung jalan.
Coat tebal dan syal yang tergantung di leher Tenten ia rapatkan letaknya. Nafasnya mengeluarkan kepulan asap setiap gadis itu menghembuskannya. Ia berjalan menghampiri kedua anaknya yang bermain di atas danau beku. Kedua bocah yang masih berpakaian seragam dan di balut coat tebal berwarna pastel tersebut menyambut hangat kedatangan sang Ibu yang berlari kecil kearahnya.
Sankeien Garden, adalah taman yang menjadi destinasi Tenten untuk mengajak keluarga kecilnya untuk berakhir pekan. Bukan secara tiba-tiba, tentu ada alasan khusus kenapa Tenten memilih taman yang letaknya di sebelah barat kota Tokyo tersebut.
"Dimana Tousan?" Tanya sang bocah perempuan sembari melongokkan kepalanya kesana kemari.
"Membeli sesuatu untuk menghangatkan kalian." Balas Tenten dengan senyum tersungging.
"Aku senang kita berada di sini." Ujar Kun dengan wajah semangat.
Lagi-lagi hanya senyuman yang Tenten lontarkan. Baru saja ia hendak berkata, sesuatu yang hangat menyambangi rahang kirinya dan sontak membuatnya nyaris terjerembab kebelakang jika saja Neji tidak sigap menghalau Tenten dengan tubuh tegapnya dari belakang.
"Kau hampir membuatku jantungan Neji!" Titahnya sebal.
Pria itu hanya tertawa renyah sembari menyerahkan segelas cokelat panas kepada sang gadis yang masih merengut sebal menatapnya.
"Sepertinya mereka masih tidak mau di ganggu." Ucap Neji memandang kedua anaknya yang masih berlarian kesana kemari di atas batu es licin.
"Sepertinya begitu." Balasnya seadanya. Meninggalkan Neji yang masih tak kuasa menahan tawanya melihat ekspresi Tenten yang tak kunjung reda dan kedua anaknya yang masih bermain di atas danau yang beku bersama pengunjung lainnya.
"Apa kau marah padaku?" Godanya mengekori Tenten duduk di bangku kayu di bawah pohon tepi danau.
"..."
"Baiklah, maafkan aku Kaasan." Imbuhnya di iringi kikikan kecil.
"Kaasan?" Tanya Tenten setengah berteriak.
"Bukankah kau Ibu dari kedua anakku? Apa ada yang salah?"
"Oh ayolah Neji, kau pembual yang buruk. Jangan memanggilku dengan sebutan 'Kaasan'. Sangat menjijikan jika itu keluar dari bibirmu." Ocehnya membuang muka.
"Bagaimana dengan 'Kanai'?"
Tenten diam.
"Sayang?"
Masih tetap diam di tambah ekspresi muak.
"Nona Hyuuga?"
Tak bereaksi.
"Ibu dari anak-anakku?"
Masih tetap bungkam.
"Wanitaku?"
Kali ini perlahan Neji dapat melihat wajah Tenten sedikit demi sedikit menoleh pada dirinya dengan wajah merah padam.
"Wanitaku, tetaplah berada di sisiku untuk memompa denyut jantung di tubuhku." Desis Neji lembut sembari menatap Tenten.
Tenten tersenyum samar dengan pipi merona. Jemari Neji terangkat guna mengusap lembut pipi memerah tersebut. Wajah Tenten membuat Neji semakin gemas. Terlebih dengan ekspresi tersipu itu.
"Tempat ini sangat indah. Jaraknya tidak begitu jauh dari Tokyo, tapi aku sama sekali belum pernah kemari." Kata Neji terkekeh pelan.
"Kau benar. Bagiku tempat ini sangat indah dan penuh kenangan. Tidak jauh berbeda sejak terakhir aku melihatnya 3 tahun yang lalu."
"Maksudmu?"
"Tidak ada." Balas Tenten cepat.
"Bagimu tempat ini sangat indah dan penuh kenangan. Kau mengajakku kemari bukan tanpa alasan kan?" Tanya Neji menyelidik.
"Kau benar. Tempat ini, adalah tempatku tumbuh dan besar." Lirihnya menunduk. Menyorot kedua tangannya yang berada di pangkuanya.
Neji masih setia dengan kebungkamannya. Bersabar mendengar lanjutan cerita dari Tenten yang makin muram wajahnya.
"Di sekitar sini terdapat sebuah kuil. Disanalah seorang biksu tua menemukanku di pinggiran tempat sampah ketika usiaku baru menginjak 1 bulan. Beliau membawaku pulang dan merawatku hingga aku menjadi seperti ini." Jelasnya disertai air yang menggenangi kedua sudut matanya. "Kini Biksu bernama Kotarou yang merawatku dahulu sudah berpulang karena batas usia maksimal seorang pria tua 3 tahun yang lalu. Sejak itulah aku hidup sebatang kara tanpa siapapun di sisiku. Hidup yang keras membuatku terpaksa menjadi seorang pencopet meski aku tau sebuah pekerjaan akan kudapat jika aku mau sedikit berusaha. Kau tau kan tipikal orang jaman sekarang adalah senang dengan cara instan. Itulah moto hidupku dahulu."
"Tidak perlu di sesali. Sekarang semuanya sudah berubah." Ujar pria itu hangat sembari merangkul rapat bahu Tenten yang di balut coat tebal berwarna merah gelap. "Oh iya, kau bilang ada yang menarik di sini? Mana?" Tanya Neji mengalihkan pembicaraan.
"Hm, nanti malam akan ada perayaaan kembang api di kuil. Di adakan setiap 1 tahun sekali dan malam ini adalah perayaanya."
"Kau yakin akan ke kuil?"
"Tidak. Aku tidak akan kesana. Kenangan akan biksu Kotarou masih belum bisa hilang dari otakku. Jika aku kesana, aku tidak yakin bisa menahan diriku. Kau saja yang kesana bersama Kun dan Tenichi. Aku akan menunggu di sini."
"Apa ada cara lain supaya kita bisa melihatnya bersama-sama? Maksudku, aku yakin Kun dan Tenichi ingin melihatnya bersamamu. Termasuk aku."
"Sepertinya bisa. Kita bisa menyusup lewat pintu belakang villa yang tak jauh dari sini. Di sana kembang api akan terlihat lebih indah dan hidup."
"Menyusup?" Tanya Neji tak percaya.
"Iya menyusup. Tenanglah, aku sudah hafal jalannya. Dulu aku dan biksu Kotarou sering melakukan itu saat perayaan tiba." Balas Tenten cepat.
"Bagaimana kalo kita buat keadaanya menjadi legal? Maksudku, kita benar-benar menyewa villa."
"Neji yang benar saja, hanya untuk melihat kembang api kau harus menyewa villa? Itu pemborosan Neji."
"Tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan dan kenyamananmu dan anak-anak kita. Apapun akan kulakukan untuk kalian."
Byurr~
Suara benda besar yang memaksa masuk kedalam air terdengar oleh Neji dan Tenten. Keduanya sontak berlari menghampiri asal suara yang tanpa disangka berasal dari kedua anaknya yang sedang bermain. Lapisan salju yang membeku di danau retak dan menenggelamkan kedua bocah tersebut kedalam air bersuhu rendah. Bagian es tipis yang Tenichi pijak turut membuat retakan pada es yang di pijak oleh Kun hingga keduanya terperosok kedalam. Orang-orang yang berada disana berusaha menolong bocah-bocah malang itu dengan sebatang kayu berharap kedua bocah itu meraihnya. Tidak satupun di antara mereka yang berani terjun ke air di karenakan suhu air yang begitu dingin. Usaha mereka gagal karena baik Kun dan Tenichi sudah tak terlihat lagi bagian tubuhnya di atas permukaan air.
Neji yang panik terlihat langsung masuk kedalam air tanpa peduli betapa dingin air yang akan menyergapnya. Sementara Tenten yang hendak ikut terjun di hentikan seorang wanita tua yang berusaha menenangkannya. Tubuh dingin Tenten bergetar hebat dalam pelukan orang tersebut. Tangisnya pecah khawatir terjadi sesuatu pada kedua anaknya. Beberapa menit Neji menyelam, kedua lengan pria itu sudah penuh dengan Kun dan Tenichi yang tidak sadarkan diri. Tubuh mungil putra Neji tersebut lemas dengan wajah membiru dan tubuh mengigil.
"Kun, Tenichi!" Seru Tenten menjunjung kedua anaknya ke tepi di bantu oleh orang-orang di sekitarnya.
Dengan satu gerakan cepat, Tenten melepas syal tebal yang menghangatkan lehernya untuk di pasangkan pada leher Neji ketika pria itu masih dalam posisi hendak keluar dari danau. Tubuh kekar Neji mengigil. Bibirnya juga membiru. Tenten mengenggam erat kedua tangan Hyuuga itu lalu meniupnya dekat guna memberi kehangatan. Sesaat telapak tangan hangat yang tadinya berbalut sarung tangan mengelus pipi kanan sang pria. Setelah selesai dengan Neji, Tenten kembali melepas mantel dan sweaternya untuk di pasangkan pada masing-masing anaknya. Ia membalut tubuh mungil Tenichi dengan sweater tebal sementara Kun di hangatkan oleh sang Ibu menggunakan coatnya.
"Kenapa ini bisa terjadi?" Gumam Tenten sesenggukan.
"Lapisan es yang di pijak Tenichi belum membeku sempurna hingga membuatnya rapuh jika di injak sedikit saja." Jelas Neji dengan suara bergetar menahan dingin yang menderanya.
"Ibu, aku baik-baik saja." Gumam Tenichi dalam pelukan Tenten.
Sementara tidak ada jawab dari Kun yang sepertinya masih tidak sadarkan diri, Tenten segera bangkit dengan membawa serta Tenichi diikuti Neji yang membopong Kun mengikuti Tenten. Meninggalkan kerumunan yang sejak awal kejadian menyaksikan mereka.
"Kita menginap di villa yang kau bicarakan saja. Anak-anak tidak akan kuat jika kita membawanya pulang." Seru Neji berjalan cepat mendahului Tenten.
"Terserah kau saja selama itu yang terbaik." Balas Tenten cepat.
Secepat kilat tangan Neji merogoh sakunya meraih kunci mobil yang turut basah. Setelah pintu mobil terbuka, kedua bocah itu sudah terbaring di jok belakamg bagian mobil. Sedangkan Neji yang hendak membuka pintu kemudi di halau secara tiba-tiba oleh Tenten yang menatapnya.
"Biar aku saja. Kau tidak dalam keadaan baik untuk mengemudi."
"Tapi.."
"Jangan membuatku marah di saat seperti ini Neji. Kau juga perlu di khawatirkan kau tau!" Katanya sedikit membentak.
oOo
Lampu temaram kamar utama di villa sederhana terlihat menyala. Suara tetesan air dari kamar mandi dari dalam kamar tersebut terdengar oleh seorang gadis yang kini berdiri di ambang pintu dengan membawa serta setelan baju sederhana berwarna gelap dan segelas ocha di tangan kanannya. Pintu yang tak tertutup sepenuhnya itu ia dorong menggunakan punggungnya. Setelah terbuka ia segera masuk dan meletakkan ocha di atas meja lampu. Tak ada suara yang terdengar keluar dari gadis itu. Setelah ia selesai dengan urusannya, Tenten segera melangkah mundur dan keluar dari sana. Namun baru separuh jemarinya menyentuh knop pintu, suara derit engsel pintu kamar mandi menguar dan otomatis membuatnya berbalik.
"Entah cocok atau tidak denganmu, tapi aku hanya menemukan itu di supermarket bawah. Tapi kau tenang saja, ukurannya sepertinya pas di tubuhmu." Ujar Tenten melirik sepasang baju di atas ranjang.
"Terimakasih." Balas Neji singkat.
Ia membiarkan Tenten keluar kamarnya sementara dirinya mengganti bajunya. Senyumnya tersungging ketika manik lavendernya mendapati segelas ocha yang masih mengepul ada di dekatnya.
Kembali pintu kamar terbuka tepat setelah celana panjangnya terpasang. Sontak ia menoleh mendapati seorang Tenten salah tingkah di depan pintu.
"M-maaf aku tidak tau." Katanya cepat berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tidak apa. Masuklah." Kata Neji mengayunkan sesaat kepalanya.
Dengan langkah ragu Tenten masuk kedalam membawa sebuah baskom berisi air hangat dan sebuah handuk kecil.
"A-aku membawa air hangat untukmu. Kulihat tadi sekilas punggungmu terbentur sisi es yang tebal. Aku hanya takut akan menjadi memar yang lebar." Ucapnya terbata.
Neji mendekat pada Tenten yang masih terpaku di tempatnya berkat penampilan Neji yang hanya bertelanjang dada. Tangan Hyuuga itu mengambil baskom serta handuk di tangan Tenten dan meletakkan benda itu di atas ranjang tanpa melepas tatapannya pada gadis di hadapannya. Sesaat kemudian Neji merengkuh Tenten. Perlahan namun pasti, jemari Neji menaikkan kemeja putih yang Tenten kenakan sejak tadi pagi. Setelah terbuka setengah bagian punggung Tenten, Neji merendahkan posisinya menyentuh lembut bekas luka sang gadis di atas permukaanya.
"Tidaklah seberapa jika di bandingkan ini." Desisinya dengan nafas teratur dan nada lembut.
"N-Neji.. aku harus kembali ke kamar Kun dan Tenichi. Barangkali salah satu dari mereka bangun." Ucap Tenten masih terpejam rapat menahan gejolak yang nyaris tak dapat ia tahan ketika sang Hyuuga tak juga melepas rengkuhannya.
"Jangan menggunakan anak-anak untuk menghindari situasi seperti ini. Itu tidaklah mempan bagiku."
Bukan tanpa alasan Neji masih tak mau melepas rengkuhannya. Sungguh ia bersumpah baru kali ini ia merasa seperti berada di bagian surga paling dalam bila berada di sisi gadis brunette ini. Setiap inci aroma tubuh Tenten seolah memabukannya untuk dicium setiap bagiannya. Bagi Neji, Tenten adalah lilin di tengah kegelapan hidupnya. Detik ini, dimana lengannya makin mengerat mengikat sang gadis dalam pelukannya, suara gemuruh perayaan kembang api di tengah turunnya salju menyadarkan mereka dan seketika menoleh ke arah jendela.
"Sepertinya perayaanya sudah di mulai." Kata Tenten melepas begitu saja pelukan Neji yang sedikit melonggar.
Tapak kaki Tenten melangkah cepat menuju beranda villa. Gadis itu menyunggingkan senyumnya. Pancaran cahaya warna-warni dari kembang api yang memamerkan keindahannya terpantul di wajah polos Tenten. Membuat Neji kembali teringat ketika dirinya dan Tenten bertemu untuk pertama kalinya di festival lampion. Perisis seperti wajah Tenichi ketika bocah kecil itu memandang deretan lampion yang akan di terbangkan dengan wajah dan tatapan yang berbinar.
Neji menyambar cepat atasannya dan mengikuti Tenten lalu berdiri tepat di belakangnya. Kedua lengannya naik melingkari leher Tenten. Gadis itu terlihat tak terkejut sama sekali. Sepertinya ia mulai terbiasa dengan perlakuan Neji.
"Bukankah mereka indah." Gumam Tenten tersenyum damai.
"Tak seindah dirimu, Wanitaku. Kau adalah hal terindah di banding apapun di muka bumi." Balas Neji mengecup puncak kepala Tenten yang posisinya lebih rendah darinya.
Cuaca dingin yang mengelilingi mereka begitu terasa. Sesekali Tenten mengigil sembari menggosokkan kedua tangannya.
"Udara di sini sangat dingin. Kau bisa sakit." Kata Neji menarik perlahan Tenten kedalam lalu menutup pintu beranda berbahan kaca tersebut.
"Kau benar. Di luar sangat dingin. Aku hampir beku." Timpal Tenten menyetujui perkataan Neji.
Tatapan Neji berubah sendu melihat gadis itu. Atmosfir ruangan terasa mencekiknya. Bagaimana tidak, sudah berhari-hari ia menahan diri, dan kali ini adalah saat yang paling tepat untuk mengatakan apa yang Neji ingin katakan. Wajar jika Neji sama sekali gagap tentang hal ini, namun apa boleh buat, bagaimana pun nanti yang akan terjadi dan apa tanggapan Tenten tentang hal ini, bagi Neji itu adalah sesuatu yang terakhir akan ia sesali. Yang terpenting adalah mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan.
"Ehm-" Hyuuga itu berdeham ringan dan berhasil membuat Tenten menoleh padanya.
"Ada apa Neji? Apa kau merasa tidak enak badan?" Tanyanya dengan tampang polosnya.
"Tenten, menikahlah denganku!" Seru Neji cepat.
Setelah beberapa kalimat itu terlontar, Neji yang salah tingkah hanya bisa memandang Tenten ragu.
"D-dengar, aku tidak akan memaksamu untuk segera menjawabnya. Tapi satu hal yang harus kau tau, kau bukanlah sekedar kekasih bagiku. Maksudku, tanpa kehadiranmu aku merasa separuh nyawaku lenyap. Tanpa kau sadari, kau menyentuh bagian hitam dari hatiku dan mengubahnya secara bertahap dari abu-abu kini menjadi putih. Hembusan nafasmu adalah bahagiaku, sehelai rambutmu adalah harta bagiku, bahkan aroma tubuhmu adalah hal pokok yang selalu ingin aku dapatkan setiap harinya. Jangan berpaling pada yang lain dan mencoba untuk menghindariku karena itu hanya akan membuang-buang waktumu. Kau.."
Tap..
Satu telapak tangan Tenten menangkup pipi kiri Neji. Pria itu diam seketika.
"Kau semakin banyak bicara jika sedang jatuh cinta, Lelakiku." Kata Tenten dengan nada selembut mungkin.
1
2
3
"Neji!" Pekik Tenten terkejut. Kedua bola matanya membulat sempurna ketika sedetik kemudian dirinya berada di atas ranjang dengan Neji merangkapnya.
"Kini apapun yang terjadi padaku, itu semua karena dirimu. Dan apapun yang terjadi padamu, semuanya adalah tanggung jawabku." Kata Neji dalam.
Hyuuga berparas tampan itu melumat lembut bibir ranum Tenten tanpa izin. Perlakuan Neji tersebut sukses membuat wajah Tenten memadam. Ia masih tak membalas perlakuan Neji karena dirinya masih belum terbiasa dengan situasi yang terjadi secara tiba-tiba itu.
.
'Tuhan adalah segala pemilik kehidupan dan semua manusia bahkan mahluk sebesar plankton pun mempercayai hal itu. Begitu juga takdir yang Tuhan berikan untukku. Sebuah takdir yang lebih pantas disebut sebuah kejutan yang tak pernah terlintas di benakku sekalipun. Kejutan indah penuh warna di setiap sisi dan bagiannya. Seolah setiap gerakan yang aku lakukan adalah sebuah hal manis yang tak akan pernah dapat aku lupakan bahkan hingga kelak kulitku berganti menjadi tulang belulang dalam lubang peristirahatanku nanti.
Tenten. Hanya pemilik nama itu yang membuatku melupakan hal lainnya. Hanya wanita itu, satu-satunya yang membuat setiap kedipan mataku terasa lebih berkesan. Tak dapat kupungkiri, siapapun yang kelak mendengar kehidupan cintaku yang tak biasa ini akan menyebutku gila atau bahkan pengarang handal. Namun bagaimanapun tanggapan orang lain yang akan mendengar ceritaku suatu saat nanti, tak akan merubah keadaan yang kini terjadi. Situasi yang ada berkat dua malaikat kecil yang telah berjasa besar mempertemukan aku dengan seorang manusia yang menjadi tulang rusuk yang sudah seharusnya berada di sisiku hingga nanti lambaian tangan Tuhan mengarah padaku.
Hembusan nafasku, denyut nadi yang masih aktif bergerak di setiap pembuluh darahku, apapun yang aku pikirkan, semuanya hanya akan mengarah padanya. Tak peduli dirinya jauh dari pelupuk mata, setiap detik yang kulalui aku merasa dirinya selalu berada di sisiku, merangkul hangat bahuku membisikkan semua kata indah yang tak pernah dia ucapkan secara gamblang padaku, menggelitik relung hatiku untuk memukul mundur diriku agar kembali hidup jika keadaan sedang tak berpihak padaku.
Di kehidupan sebelumnya, aku percaya uang adalah sumber kebahagiaan. Namun kini, adanya Tenten dan kedua anakku, aku merasa Tuhan telah mencambukku untuk membuang jauh persepsi itu. Uang dan apapun yang berkaitan dengan harta dan kekayaan, bukanlah sesuatu yang mutlak untuk mendapatkan kebahagiaan. Kehangatan dari seseorang yang kita sayangi dan kehadirannya yang mengisi setiap lubang nafas tubuh yang tak terisilah yang melengkapi hidup meski tak se-sen pun harta ada pada dirimu.'
Indera peraba dua insan yang baru saja selesai menyalurkan gejolak asmara mereka yang terpendam, bersentuhan memberikan kehangatan yang di hasilkan oleh tubuh mereka masing-masing. Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir Tenten. Namun meski begitu, tidak sedikitpun ia menyesali apa yang telah terjadi antara dirinya dan Neji.
Tenten tidur pulas membelakangi Neji yang terlihat masih terjaga. Siapa sangka, Hyuuga itu tak dapat menahan godaan kuat sang iblis cinta yang merangkap setiap bagian hatinya untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar cumbuan. Awalnya Neji menyesal tidak bisa menjaga Tenten seperti yang ia inginkan dulu, namun mendengar jawaban sang kekasih yang begitu dalam, perlahan Neji mulai lega dan bahkan pria itu tidak akan segan jika ia menginginkan hal itu lagi.
Neji menengadahkan kepalanya. Meluaskan pengelihatanya ke arah langit-langit lalu beralih pada Tenten yang masih terpejam membelakanginya sembari memeluk bantalnya. Iris lavender itu tak berhenti menatap punggung polos sang gadis brunette.
Baru saja Neji hendak bangun dari posisinya, secara tiba-tiba Tenten bergerak cepat dengan mengeluarkan suara erangan yang sangat memilukan menahan rasa sakit yang teramat sangat. Entah kenapa, tiba-tiba Tenten meringkuk dan melengkungkan tubuhnya lalu meremas perutnya yang tiba-tiba terasa seperti di tusuk entah kenapa. Neji yang melihat Tenten kesakitan segera beringsut dari posisinya.
"Ugh!" Rintihnya.
Keringat dingin terlihat menggenangi pelipis sang gadis malang itu. Giginya mengigit bibir bagian bawahnya. Dahinya berkerut berusaha menahan suara erangan yang mungkin saja akan terdengat hingga keluar jika ia tak dapat menahannya. Sementara Tenten masih meringkuk kesakitan, Neji yang tidak tau apa yang terjadi hanya bisa menenangkan Tenten sembari mengusap puncak kepala Tenten dan memikirkan hal apa yang mungkin terjadi dan apa yang harus ia lakukan.
"Kun.. Tenichi." Rintih Tenten tertahan sembari bangkit dari ranjang.
Dengan langkah terseok, Tenten yang kepayahan berjalan melangkah gusar ke kamar kedua anaknya setelah menyambar cepat sepotong kemeja yang ia belikan tadi untuk baju ganti Hyuuga itu. Tak peduli kemeja Neji yang terlihat kedodoran di tubuhnya ia terus melangkah meninggalkan Neji yang hanya menggunakan bawahan panjang dan bertelanjang dada. Sedetik kemudian Neji mengekori Tenten dari belakang.
Setelah pintu kamar Kun dan Tenichi terbuka, keduanya terkejut karena tak melihat kedua bocah itu di dalam sana. Justru bau semerbak wangi masakan kari yang mirip seperti kari kesukaan Kun dan aroma ice cream mangga seperti kudapan favorit Tenichi lah yang mengisi relung paru-paru mereka.
"Kemana mereka?!" Tanya Tenten memejamkan sebelah matanya sembari setengah berdiri masih menahan sakit yang teramat sangat di perutnya.
Neji membelalak dan sontak menyorot ke arah perut Tenten.
'Mungkinkah?'
To Be Continued..
Yosh! Dilihat dari keadaanya, seperti fanfic ini akan tamat :"D Apakah adegan NejiTen terlalu vulgar? Haruskah Ran ganti rate nya jadi M? _ XD
Oke, Ran mau menyampaikan sedikit kesalahan di sini. Entah di chapter berapa, ada scene dimana Itachi dan asistennya datang kerumah Neji. Masalahnya, di sana Ran salah nulis nama Ino jadi asisten Itachi, sementara di chapter sebelumnya, Ino adalah desainer sekaligus sahabat baik Sakura. Sekali lagi Ran minta maaf untuk kesalahan yang teramat fatal itu. Dan untuk mengatasi situasi itu, kita lupakan Ino si asisten Itachi, akan ada cerita lain dari Ino sang desainer handal di chapter berikutnya, so terimakasih banyak untuk perhatiannya :"))
Dan Ran juga berterimakasih pada Diana Ross, Westlife, dan juga Celine Dion, selaku pelantun lagu 'When You Say That You Love Me' dan 'Beauty And The Beast' yang telah menemani Ran mengerjakan chapter 11 fanfic ini. Berkat beberapa kalimat dari lagu beliau-beliau, Ran jadi tergugah dan mood untuk membuat fanfic ini kembali menyambangi di tengah keterpurukan Ran berkat seorang flamers yang sangat kasar kata-katanya. Maafkan kalo chapter ini hancur dan pendek, karena hanya di kerjakan satu hari :"D Tidak seperti fanfic lainnya yang bisa samoe berhari-hari. Dan juga Ran sedang membuat sesuatu spesial ultah Gaara-kun sebentar lagi. Maka dari itu Ran memutuskan untuk mengupdate fanfic ini secepatnya :")) Sekali lagi Ran meminta permohonan maaf yang sebesar-besarnya *bungkuk*
Anna: Ran ada rencana sendiri untuk Ino. Tunggu saja :"D
No Name: Ahaha~ Ran juga pengen kaya Tenten :"D *ditendang ke laut* See you ^.^
Sooya: Iya dong, masa tiap ketemu berantem mulu. Kasian Tentennya dibully mulu sama Neji :"D
Leny Chan: Ahaha~ maafkeun kalo nggal upate kilat :"3 Ehm.. ano~ bagian itunya,, ituh,, ya gitu itu,, gimana ya,, *digampar tangan Saitama* XD
Nazlia Haibara: Demi cinta, apapun Tenten lakukan. Untuk akang Neji, jangankan kaki lecet keringin samudra hindia pun akan Tenten lakukan :'3 #plak. Nggak ada apa2 kok di antara mereka _ Mereka cuma menghangatkan satu sama lain aja :"v
Eva Ryuki: Iya abang Neji puitis banget. Siapa dulu dong, anaknya Hisazhi gitu loh, langsung to the point X"D Gomen nggak bisa update kilat.
SilentReader: Masih mau nambah tissunya? Ran masih punya banyak. Ada tisu kering, tisu basah, tisu mamel juga ada :'3 *digampar bolak-balik*
Sherry Ai: Itu artinya secara nggak langsung Ran merusak suasana romantisnya ya :"D *dipandang wajah diktator* Sudahlah, jangan di karetin Neji sama Itachinya. Mereka nggak pantas di kecapin, pantesnya di nikahin XD
Marin Choi: Kenapa Neji berpulang terlebih dahulu? Apa salah Hyuuga tampan itu Om Masashi? X Yosh! Thank you so much dan see you ;))
Yuni: 'Nunggu kakak update bikin jamuran.' Astaga, itu seperti tamparan keras buat Ran :")) Gomen sekali lagi gomen, Ran nggak selalu bisa ngetik setiap harinya. Tapi akan tetap Ran usahakan update secepatnya. Semoga nggak bosen nunggu ne :"))
Hera-chan: Ehm~ ano, yang di atas kurang banyak atau gimana? *mainin jari* See you Hera-chan :"))
Guest: Yap! Kun dan Tenichi menghilang secara misterius. Seperti datangnya yang juga misterius dan tiba-tiba :"D
Rossadilla17: Chapter ini full NejiTen tanpa ada campur tangan pihak lain. Jadi bapernya di chapter depan aja, dimana semuanya bakal berkumpul X"D
Itachi-hime: Sudah di lanjut :")) Makasih sudah berkunjung ^.^
Sribiyondo: Endingnya Itachi sama Ran Megumi XDD *di amaterasu Itachi* Nggak akan sampe chap 15 kok, Ran nggak bisa bikin fanfic yang sepanjang itu XD
Chapter 11 is done! See you minna-san :"))
Log in? Cek PM ;))
Wanna join in group facebook for Tenten-centric? You can cek my bio. Thank you ^.^
