Gadis Pencuri

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T/T+

Neji Hyuuga x Tenten

Slight? Find your self :'

Warn: AU, Typo(s), Abal, OoC, EYD, Alur kacau, Serta kesalahan pemula lainnya

DLDR!

RnR

.

.

"Aku tidak pernah mau menerima kekalahan. Jika salah satu diantara kita kalah, harusnya itu dirimu, bukan aku."

Desir angin malam pukul satu dini hari, melesak masuk melalui dua pintu megah yang terbuka lebar. Semakin menambah kesan mencekam di tengah perbincangan kaku yang terjadi di sebuah ruang makan rangkap dapur kediaman seorang Hiashi Hyuuga.

Neji, harus melakukan sesuatu yang sudah seharusnya ia lakukan sejak lama. Memilih apa yang seharusnya dia pilih. Bahkan jika itu menghancurkan hidupnya, apapun akan dirinya lakukan untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya.

"Semua sudah kupikirkan. Bahkan jika..."

"... jika kau terdepak dari Hyuuga Corp." sela Hiashi masih terpaku pada secangkir teh di atas meja makan rumahnya.

"Ya." jawab Neji mantap dengan bibir terkatup.

"Entah seberapa besar arti dari gadis itu untukmu hingga kau berani mengangguku di jam istirahatku. Namun apapun itu, pilihan tetap ada di tanganmu."

Sosok wanita yang sejak tadi berdiri di belakang Hiashi hanya diam tanpa suara.

"Pergi." Kata-kata terakhir Hiashi menutup perbincangan alot yang sudah berlangsung sejak satu jam yang lalu tersebut.

"Ayah!" Suara halus di sertai sedikit teriakan otomatis menghentikan langkah Hiashi yang sudah beranjak dari kursi.

"Jangan ikut campur Hinata. Bukan porsimu untuk mengemukakan pendapatmu di sini. Lebih baik kau urus saja masalah kerugian perusahaan yang di sebabkan olehmu dan Sasuke." balas Hiashi melirik Hinata melalui ekor matanya.

"Tidak. Aku memiliki hak untuk bicara. Aku berbicara bukan sebagai bawahanmu ataupun anakmu. Aku berbicara sebagai seseorang yang juga mempunyai hak untuk bicara," kukuhnya dengan nada tajam. "Neji Niisan, melakukan semua yang ia bisa untuk membangun perusahaan ini lebih baik dari masa jabatan Ayah dahulu. Banyak perubahan besar yang terjadi ketika Neji Niisan duduk di kursi direktur dengan sejuta kecerdasan yang ia tumpahkan. Bukan hanya itu, di luar perusahaan, dia juga menjagaku dan Hanabi. Menjaga nama baik Ayah dan keluarga Hyuuga. Di usia semuda itu dia menjadi pria yang berhasil dan di kagumi. Namun di balik itu semua, tidak pernah Ayah memperhatikan apa yang Neji Niisan inginkan. Yang Ayah tau hanyalah Neji Niisan seorang maniak kerja dengan segala ambisi di tangannya. Detik ini, dia hanya menginginkan seorang Tenten untuk berada di sisinya. Tidak akan merugikan siapapun jika Ayah menerimanya sebagai bagian dari keluarga Hyuuga. Aku tau bagaimana Tenten lebih dari yang Ayah kira. Dan karena itu juga kini aku bernyali untuk mengatakan semua ini pada Ayah. Apakah tidak cukup bagimu dua pria berpangkat untuk menjadi pendamping keluarga Hyuuga? Baik Uzumaki dan Sarutobi, semuanya adalah keluarga bermartabat dan itu sudah cukup untuk membuat namamu semakin di elu-elukan di khalayak umum," di tengah senggukannya, ia mengusap air mata di ujung matanya sesekali.

"... aku dan Hanabi sepakat akan berada di belakang Neji Niisan dan Tenten bagaimanapun keadaanya. Tidak peduli seberapa keras Ayah menekan mereka berdua agar menjauh, kami juga akan menjadi tameng agar Ayah tidak bisa menyentuh mereka berdua. Kebahagiaan, bukan semata-mata kedudukan dan kehormatan. Menyerahlah pada hal yang sebenarnya hanyalah masalah sepele ini. Tidak akan berhasil sampai kapapun kau berusaha untuk memisahkan mereka. Cinta mereka... bisa mengalahkan ambisimu dengan mudah."

Diam. Hanya itu yang bisa Hiashi lakukan setelah mendengar apa yang Hinata katakan. Satu tangan mengepal erat, sementara yang lain masih rileks di sisi kanan tubuhnya. Pikiran dan hatinya sungguh tidak bisa di kendalikan saat ini.

"Pergi." lagi-lagi Hiashi hanya mengucapkan sepatah kata kemudian kembali berjalan. Menyisakan Neji dan Hinata di ruang makan di sertai gempuran kesunyian.

"Terimakasih Hinata." ucap Neji lirih. Ia berdiri dengan senyuman samar terulas. "Tapi lain kali, jangan mengatakan itu pada Hiashi-sama. Bagaimanapun dia Ayahmu." imbuhnya.

"Sesekali Ayah harus mengesampingkan ambisinya Neji-san. Aku begitu menyukai Ayah ketika berhadapan dengan Naruto maupun Konohamaru. Tapi aku begitu membencinya ketika kita sudah membahas Tenten. Apakah ada bedanya? Ini tidak adil."

"Beda. Jika kau juga menjadi pria pebisnis, taraf hidup antara Naruto dan Konohamaru jelas berbeda dengan Tenten. Tidak akan bisa kau menyamai Naruto dan Konohamaru jika kau berada di posisi Tenten. Jika kau masih berusaha, kau akan berjuang layaknya merangkak naik dari dasar jurang ke atas dengan rantai di lehermu, sebilah pisau di kedua kakimu, dan tapal panas di kedua tanganmu. Tapi apa arti itu semua bagiku? Segalanya sudah kumiliki, lalu untuk apa aku menuntut banyak hal dari wanitaku?"

"Neji-san..."

"Kemungkinan terburuk yang akan terjadi sudah kupertimbangkan. Jikalaupun aku di depak keluar dari perusahaan, jangan pernah melakukan apapun untuk melindungiku dan Tenten. Percayalah, sebagai seorang pria, segalanya sudah kupersiapkan untuk kami dan anak-anak kami kelak. Tetaplah jadi Hinata yang baik hati dan lemah lembut. Sebelum Naruto hadir, alasanku hidup adalah untuk dirimu. Tapi kini, dengan adanya Tenten, aku bisa mempercayakan dirimu pada Naruto dengan tenang dan mendapatkan alasan baru untukku hidup."

"Kau berkata seolah dirimu akan pergi tanpa kembali."

"Jika memang itu yang harus kulakukan, aku akan melakukannya. Lagipula aku tidak bisa menatap Matsuri dengan kehadiran Tenten di sisiku. Bukan karena hal lain, menyakiti Matsuri dengan pilihan yang aku ambil lebih dari sekedar menggores hatinya dengan sebuah kapak."

Hinata berhambur ke pelukan Neji. Dekapan erat itu ia tumpahkan dengan membawa serta derai air mata yang menggenang di kelopak matanya.

"Apapun yang kau lakukan, sekecil apapun itu, katakan padaku. Ingatlah, jika sampai kau menghilang secara tiba-tiba tanpa memberitahu aku ataupun Hanabi, sampai dalam kuburmu pun, aku akan mengutuk perlakuanmu pada kami." kata Hinata yang lebih terdengar seperti suara desisan.

Neji melepas lengan Hinata. Memindahkan tangannya dari pergelangan ke sisi lengan wanita tersebut. Seulas senyum mengembang.

"Aku berjanji."

Suara gaung di dalam kepala mendominasi. Mendengar percakapan antara Hinata dan Neji dari anak tangga ketujuh membuat Hiashi semakin terpuruk. Bukan karena ambisi Hiashi mengatur kehidupan Neji. Jujur saja, ia sudah membuang ambisinya jauh hari semenjak istrinya meninggal. Baginya, ambisi hanyalah cerita kuno yang tidak pantas untuk di realisasikan. Mungkin memang salah jika selama ini Hiashi hanya mengukur kedudukan sebagai tolak ukur kebahagiaan. Namun di balik itu semua, dirinya tau bagaimana Matsuri secara menyeluruh. Maka dari itu dia tetap kukuh ingin Matsuri menjadi menantu keluarga Hyuuga yang selanjutnya.

"Hinata, aku harus segera pergi. Tenten dirawat di rumah sakit. Aku harus segera kesana."

"T-Tenten di rumah sakit? A-ada apa dengannya?" Mimik wajah wanita itu berangsur berubah.

"Dia baik-baik saja. Kata dokter hanya kelelahan. Jika sudah baikan, dia akan pulang."

"Perlukah aku ikut kesana?"

"Tidak. Cukup pulang dan temani suamimu di rumah. Dia pasti cemas menunggumu tidak kunjung pulang hingga selarut ini. Bukankah kau kemari hanya berniat untuk mengunjungi Hiashi? Pulanglah." Hinata menurut melalui anggukan yang ia tampakkan.

oOo

Malam makin menampakkan kecantikan parasnya. Bintang bertebaran di mana-mana. Dengan anggun bulan muncul dari arah timur dan semakin tinggi menjulang setiap detiknya. Lirih dingin menyapa, menyergap setiap bagian punggung Neji.

Berdiri di depan kaca, memandang jauh suasana perkotaan yang sudah lengang karena memang waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Kedua tangan berada dalam saku dengan pikiran melalang buana ke segala hal. Ia masih tak bergeming, bahkan ketika sosok wanita di belakangnya menunjukkan bahwa dirinya sudah mulai sadar.

Setelah kurang lebih dua belas jam Tenten berbaring, akhirnya kelopak indah itu terbuka. Perlahan menampakkan manik karamel di dalamnya. Tidak ada apapun yang terjadi hingga dirinya menyadari seorang Neji tengah berdiri membelakanginya. Setelahnya, Tenten beralih pada jarum infus yang menancap di punggung tangannya. Menatap kosong benda berujung tajam tersebut lalu kembali beralih pada punggung yang membelakanginya.

Lengkap dengan busana rumah sakit yang ia kenakan, Tenten turun dari ranjang tanpa mengeluarkan suara. Tangannya menarik standart infus untuk di bawa serta menghampiri lelaki yang masih tak menyadari kesadarannya. Meskipun kepalanya terasa berputar, gadis itu masih tak menyerah menghampiri Neji.

Greb!

Punggung tangan berwarna pucat itu melesak masuk melalui celah lengan Neji, memeluk erat pinggang atletis itu dari belakang. Wajahnya tenggelam dalam punggung bidang. Menyembunyikan sesak yang ia sampul di balik rintihan dengan tangis kecil yang terdengar keluar sesekali.

"Kau sudah sadar?" Singkat pria itu melirik Tenten dari sudut matanya.

Tidak ada suara sebagai jawabannya. Hanya ada sedikit gesekan yang Neji rasakan saat wajah itu mengangguk di balik tubuhnya.

Senyuman getir terulas di balik wajah dinginnya. Neji masih tidak bergeming dari posisinya.

"Kita melakukan itu dan menyebabkan semua ini terjadi. Andai aku bisa mengendalikan diriku, mungkin kita masih bisa melihat dua bocah itu." Kata Neji dengan penuh penyesalan yang menyesakkan dadanya.

Sedikit sesak Neji rasakan saat rangkulan Tenten semakin mengerat.

"Kebodohanku. Kau boleh memakiku. Semua karena salahku. Maafkan aku." Lirihnya menunduk.

Tenten mulai mengangkat wajahnya. Menempelkan pipi kenyalnya pada punggung tersebut.

"Kau tau, secara teknis tidak ada yang bersalah dalam hal ini. Kau dan aku, kita berdua sudah sama-sama dewasa untuk memahami makna perasaan yang tersirat. Kau melakukan hal yang kau inginkan, dan aku menerimanya tanpa paksaan," Tenten terhenti tepat ketika lendir bening menggelitik ujung lubang hidungnya. "...selama aku tidak sadar, banyak spekulasi yang bermunculan. Bahkan keyakinan akan kitalah yang di bawa ke dunia Kun dan Tenichi mencengkeram setiap inci otak untuk mempercayai hal itu. Tapi beberapa saat ketika aku memikirkannya, semuanya masih terasa tidak masuk akal."

Neji menunduk sembari menunduk saat dirinya dan Tenten memiliki satu pemikiran yang sama. "Sempat terpikirkan olehku, namun segera kubuang jauh karena memang itu tidaklah masuk akal. Jika memang seperti itu kenyataanya, mengapa bisa begitu banyak orang yang terlibat dan terluka?" Senyum getir terulas. "Permainan kayangan, apa yang di harapkan dari otak si jenius jika sudah Tuhan yang mengambil alih,"

"Satu-satunya hal yang berkecamuk saat ini adalah tentang dirimu dan aku. Apakah setelah ini kita akan tetap bersama? Kun dan Tenichi, menjadi perekat diantara kita. Tanpa mereka berdua, apa yang bisa kita lakukan? Selain itu, tidak ada lagi alasan untuk Hiashi-sama membiarkan kita berdua bersama."

Telapak hangat Neji membalut kedua punggung tangan Tenten. Ia melepas tautan tersebut lalu berbalik. Menggunakan ujung jarinya, Neji mengangkat dagu meremang padam tersebut.

"Kun dan Tenichi terbentuk karena sebuah cinta. Cinta yang muncul antara kau dan aku. Jika kau ingin mereka kembali, yang harus kau lakukan hanyalah terus mencintaiku dan berada di dekatku hingga mereka kembali."

"Matsuri.."

"Bisakah kau berhenti membahas nama lain di sini? Aku tidak ingin mendengar nama lain. Tetaplah di sisiku bahkan hingga Kun dan Tenichi kembali. Kita akan utuh seperti ini untuk mereka."

"Kau berjanji?"

Neji mengangguk tanpa ragu.

"Kita berjuang bersama. Kau adalah wanita terkuat yang pernah kutemui. Bahkan mungkin melebihi ibuku. Kita bisa melalui ini."

"Tapi aku.. apa yang bisa kulakukan di hadapan Hiashi-sama. Tidak ada alasan kuat untukku tetap berada di sisimu."

"Ada. Kau adalah gadis pencuri, yang berhasil merampas separuh jiwaku untuk kau rengkuh seorang diri. Mencuri nafasku dan perhatianku yang hanya berpusat padamu. Dan atas semua yang kau lakukan, aku ingin kau bertanggung jawab."

Kedua kelopak yang membungkus manik karamel itu mengerjap tak mengerti.

"Seserakah itukah aku?" tanya Tenten polos.

"Baru menyadarinya Nyonya Hyuuga? Kemana saja kau selama ini?" goda Neji.

Sontak kedua pipi Tenten meredam merah.

"Neji,"

"Hm?"

"Aku ingin pulang."

"Besok kau akan pulang. Setelah cairan infusmu habis, kau akan pulang."

"Tapi aku ingin pulang sekarang. Karavanku lebih nyaman daripada ini."

"Bisakah kita melupakan tentang karavanmu itu? Kau memiliki rumah sendiri bukan?"

"Rumah? Yang mana?"

"Tentu saja rumah yang kau tinggali selama ini bersama Hyuuga Neji, Hyuuga Kun, Hyuuga Tenichi, dan Ikuya Baasan."

"Bukankah itu rumah milik keluarga Hyuuga?" Tenten mendongak polos.

"Dengar Panda, usiaku sekarang adalah 25 tahun. Dan aku sudah bekerja di perusahaan sejak aku berusia 19 tahun. Aku bekerja keras hingga tetes keringat terakhirku. Dengan sekilas pandang saja kau pasti tau, aku bukan tipe orang yang suka bergantung pada orang lain. Bukan begitu, Wanitaku?"

Tenten mengerucutkan bibirnya.

"Tapi pria angkuh sepertimu bukanlah tipeku." cercanya membuat Neji terkesiap.

"Angkuh? Aku angkuh? Dimana letak keangkuhanku?"

"Kau ingat saat kita bertemu? Kau berkata bahwa aku bukanlah tipemu. Lalu apa sekarang? Kau bahkan tidak melepas pelukanmu sejak sepuluh menit yang lalu."

"Hei Dungu, kau juga berkata demikian saat kita pertama bertemu. Lalu sekarang apa yang kau lakukan? Membiarkanku memelukmu tanpa melepasmu bukan?" balas Neji tak mau kalah. "Tenanglah, kau tidak memilih pria yang salah. Aku adalah pria bertanggung jawab dengan sejuta pesona yang kumiliki." imbuhnya terkekeh.

"Kau tetap saja arogan." ejeknya membuang wajah ke arah lain.

Pria itu melepas pelukannya. Menempatkan Tenten di depannya setelah dirinya hanya membalas perkataan Tenten melalui tawa renyah. Pantulan dirinya dan gadis itu terlihat jelas di depan kaca bening di hadapannya.

Sesaat kemudian, Neji mengalungkan kedua lengannya pada leher Tenten. Menempatkan kepalanya tepat di atas lengan kanannya. Menggunakan tubuh Tenten sebagai sanggahan untuk menahan beban tubuhnya yang tidak bisa di katakan ringan. Badan tegap tinggi tersebut membungkuk setelah sang pemilik berhembus perlahan.

"Aku sedikit lelah hari ini. Aku butuh kau. Hanya dirimu. Sebagai sandaran terakhirku."

Manik lavender itu tertutup seiring hembusan nafas perlahan yang ia keluarkan. Menenggelamkan separuh wajah tersebut. Bersembunyi di balik tengkuk sang wanita yang tak kunjung paham apa di katakan oleh Neji.

"Ada apa denganmu?" Tangan Tenten naik menyentuh pergelangan tangan Neji.

Tidak ada jawaban. Neji semakin menyembunyikan wajahnya. Menghirup wangi bunga krisan. Bau khas seorang Tenten.

Gadis itu mengerti. Ia sedikit menunduk dan tersenyum samar.

"Kau.. bertemu dengan Hiashi-sama bukan?"

Diamnya Neji seolah meng-iyakan pertanyaan Tenten.

"Bukankah sudah kubilang jangan terlalu memaksakan diri?" katanya menatap Neji melalui ujung matanya.

"Hal semustahil apapun akan aku lakukan asal ada dirimu di balik semuanya." Suara lirih yang lebih menyerupai desisan terdengar keluar dari bibir yang terhalangi tersebut.

"Entah apa yang doa apa yang Biksu Kotarou panjatkan untukku. Aku benar-benar beruntung bertemu dengan dirimu di antara miliyaran manusia di bumi." Semburat tipis menghiasi pipi Tenten. "Berjanjilah ini akan menjadi hal bodoh terakhir yang kau lakukan untukku. Aku tidak suka melihatmu menjadi maniak di depan seseorang yang sudah menjagamu selama ini."

Neji mengangguk samar. "Aku berjanji."

Telapak tangan Tenten meninggi, menepuk lembut sisi kepala Neji.

"Ada beberapa hal di dunia ini terjadi tanpa kita duga. Anggap saja saat ini, itu terjadi pada kita berdua. Sama halnya seperti saat untuk pertama kalinya, secara tiba-tiba kita di pertemukan oleh Kun dan Tenichi. Jangan terlalu menyesalinya. Maafkan aku jika tadi reaksiku terlalu berlebihan. Namun untuk sekarang, dengan aku berada di sisimu apakah tidak cukup?"

Berbalik. Pantulan cahaya lampu yang tadinya terlihat oleh Tenten dari kaca jendela tiba-tiba tertutup. Tak lama setelah itu, ia tidak dapat melihat apa-apa lagi selain kancing kemeja Neji yang berada tepat di depannya.

"Tidak hanya cukup. Kehadiranmu untukku adalah mutlak dan sempurna."

Permata jernih menetes. Pilu di hati terasa menyengat batin teriris Tenten yang hampa. Bukan karena Neji, melainkan karena Kun dan Tenichi. Bagaimanapun dirinya sudah meyakini bahwa Kun dan Tenichi adalah darah dagingnya. Kehilangan mereka berdua sekaligus adalah pukulan terberat dalam hidupnya. Namun untuk saat ini, bukan waktunya untuk Tenten kalah dari perasaanya itu. Tidak ada yang lebih penting lagi saat ini daripada menjadi kuat di hadapan Hyuuga Neji.

.

.

Gadis Pencuri: Last Chapter

.

.

Takdir yang telah di gariskan, dan Tuhan adalah sebab dari semua ini terjadi. Bertemu dengannya adalah takdir, namun mencintainya adalah sebuah keputusan tanpa penyesalan. Hanya itu yang memenuhi kepala Neji sejak pagi.

Gaun pengantin putih membalut anggun tubuhnya. Semua pasang mata dalam gereja tertuju padanya yang masih berjalan perlahan di depan pintu. Tiada Ayah yang mendampinginya, namun bukan berarti situasi itu akan mempermalukan dirinya. Seorang pria dengan garis tegas di tulang hidungnya, tengah menuntun anggun dirinya menuju altar. Bukan hanya dia, bahkan pria itu juga tersenyum sumringah seolah menunjukkan bahwa ia juga bahagia dengan adanya pernikahan ini.

Tepat di depan figur pria berbadan tegap, mereka berdiri. Mata itu masih menunduk, enggan menatap sosok di depannya. Sebuah bunga yang dia bawa menjadi perhatiannya. Sedetik kemudian pria pendampingnya mengatakan sesuatu melalui sebuah bisikan halus pada pengantin pria.

"Kalian di pertemukan oleh Tuhan, bahagiakan dia atas nama Tuhan, jangan sakiti dirinya hanya karena beberapa alasan. Kau mengerti?" ucapnya.

"Aku mengerti, Itachi." jawab Neji mantap.

Tangan Neji mengulur bersamaan dengan Itachi yang menyerahkan tangan Tenten. Tangan lembut dan sudah lama ingin ia miliki tersebut sudah dalam genggaman. Hanya tinggal satu langkah lagi, maka semuanya akan menjadi kehidupan baru bagi Neji maupun Tenten.

Sebelum Itachi benar-benar pergi dari sana, manik mata Tenten memandang penuh haru sosok pria yang baru saja mengantarkan dirinya ke gerbang kebahagiaan.

"Terimakasih banyak Itachi-san." lirihnya sedikit terisak.

"Jangan rusak semua ini dengan air matamu. Cinta tidak harus memiliki. Begitu juga perjuangan yang tidak selamanya dapat di menangkan." Seulas senyum penuh ketegaran tampak terukir jelas dari paras Itachi.

oOo

Kicau ratusan burung berbagai spesies dan serangga kecil lainnya berkicau. Seolah turut bersuka cita atas gelaran pernikahan sederhana di salah satu kuil di sebuah desa yang letaknya di kawasan Hokkaido. Pesta sederhana tanpa media dan kemewahan berlangsung sakral tanpa hambatan. Tepat di belakang kuil, Neji melihat seorang pria dengan setelan rapih, berdiri membelakanginya dengan segelas minuman berada di tangan kanannya. Sesaat ia membetulkan letak jas abu-abunya lalu menghampiri Itachi yang sudah menyadari keberadaan seseorang di belakangnya.

Kelopak lavender itu mengikuti ke arah mana Itachi memandang. Bukit hijau di desa Biei, menjadi objek yang mereka nikmati keindahannya.

"Aku terkejut saat kau berkata akan menjadi pendamping pengantin untuk Tenten. Entah pujian macam apa yang harus aku katakan padamu. Yang jelas, sikapmu patut mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar pujian." Neji memposisikan dirinya tepat di sisi kiri Itachi.

"Cukup buktikan padaku bahwa melepas Tenten untukmu bukanlah hal yang akan membawaku ke dalam penyesalan tanpa ujung." Pria itu menenggak minumannya dengan senyum datar. "Aku benci mengakuinya," Itachi berhenti bicara lalu menunduk dan tertawa renyah. "Tapi kuakui, dia adalah gadis beruntung karena bisa menikah dengan seorang Hyuuga Neji-sama." katanya lagi, menoleh pada Neji yang juga balik menatapnya entah sejak kapan.

"Aku, jauh lebih beruntung dari Tenten. Karena memiliki seorang istri dengan kemampuan memikat tanpa mengenalku sebelumnya, adalah suatu hal yang jarang kutemui pada kebanyakan wanita yang kutemui." katanya tanpa ragu. Keduanya tertawa renyah secara bersamaan.

Pada akhirnya, keputusan final ada di tangan Tenten. Menjadi cinta terakhir Neji adalah keputusan paling tepat bagi gadis itu. Tidak peduli berapa lembar Itachi turut mengisi buku harian di hidupnya, namun menjadi halaman terakhir dari petualangan cinta Neji adalah hal terakhir yang di inginkannya. Tidak peduli batu sebesar apa yang akan ia panggul untuk menjaga nama baik Hyuuga, Tenten tidak akan mundur walau hanya selangkah. Neji sendiri juga berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan menjaga Tenten lebih baik daripada sebelumnya. Jangankan melukainya, ia bahkan seolah enggan mengizinkan sebutir debu mengnganggu pengelihatan Tenten. Meski kini semuanya terasa jelas, namun mengubah Tenten tanpa menjadi orang laib adalah pekerjaan rumah yang wajib ia tuntaskan. Perlahan dirinya akan menjadi kertas amplas bagi Tenten dan menunjukkan kilauan gadis itu di mata dunia.

oOo

(Tenten POV)

Aku ingat, seseorang pernah berkata padaku sebelumnya. Hidup adalah bagaimana cara kita memaknai sebuah cinta. Cinta, adalah kata dengan jutaan arti di wikipedia. Tapi mengenal cinta dan mengetahui makna dari cinta yang tersirat, tidak perlu membaca jutaan artikel di sana. Mengenal cinta, cukup dengan bertemu dengan seseorang yang bisa membuatmu merasa menjadi sosok paling bahagia dia muka bumi tanpa mengenal apa itu titik jenuh hingga tubuhmu menyatu dengan tanah suatu hari kelak. Biksu Kotarou yang mengatakan hal itu padaku ketika aku berusia 7 tahun.

"Bagi kami, Neji adalah berlian suci yang sudah menampakkan kilaunya tanpa perlu kami asah dengan berbagai cara dan upaya. Dia adalah permata murni yang terlahir dari bibit luar biasa berkat kemurahan hati Tuhan dan juga berkat kepandaian serta keuletan Hisashi Hyuuga. Menyerahkan Neji padamu adalah hal yang tidak pernah aku duga seumur hidupku. Hyuuga bukanlah keluarga yang bisa kau pandang sebelah mata. Martabat kami jauh lebih mahal dari apa yang pernah kau bayangkan. Menyandang marga Hyuuga di belakang namamu bukanlah perkara mudah. Satu kesalahan kecil yang kau lakukan, kau harus membayar mahal untuk mempertanggung jawabkan tindakanmu."

"Jika aku boleh bertanya, kenapa anda tiba-tiba merestui hubungan kami?"

"Dia adalah pewaris tunggal jauh dari Hinata. Kami menjaga Neji sejak dirinya masih berada di dalam rahim Ibunya. Dia lebih baik dariku maupun Hisashi. Darah Hyuuga mengalir deras dalam tubuhnya. Tidak peduli dia adalah Bunke ataupun Souke, dia tetap menjadi keturunan Hyuuga terbaik sepanjang sejarah keluarga Hyuuga. Kami semua mengakuinya dan dia layak mendapatkan penghargaan atas itu semua. Membuang Neji hanya untuk ego kami adalah hal yang tidak akan pernah kami lakukan. Menyingkirkanmu dari kehidupannya juga sepertinya hal mustahil untuk di lakukan. Maka dari itu, demi mempertahankan seorang Neji, dengan segala hal yang kami punya, kami akan menerimamu dan mengubah statusmu serta derajatmu tepat setelah kalian mengucapkan janji suci di depan altar besok. Kelak, bukan hanya nama Neji yang kau pikul. Melainkan kami semua. Seluruh keluarga Hyuuga. Jadi mulai sekarang, biasakanlah untuk terbiasa dengan beban itu di atas kedua bahumu. Jangan mencoba untuk menjadi orang lain hanya untuk menjaga nama baik Hyuuga. Karena kelak, hal itu hanya akan merugikan dirimu sendiri. Cukup jadilah dirimu sendiri dan jaga nama baik keluarga Hyuuga dengan caramu. Aku yakin, kau cukup pandai untuk memahami perkataanku."

Hiashi-sama mengatakan itu semua tepat sehari sebelum acara pernikahan ini berlangsung. Bak spot jantung, ketika aku sudah berada di rumah Neji dengan seragam restoran masih melekat di tubuhku, pria senja itu menatapku dengan tenang tidak seperti biasnya. Tidak tampak aura menggebu-gebu yang biasa ia tampakkan padaku. Tepat pukul sore beliau pulang, dan satu jam setelah itu, Neji datang membawa serta setelan tuxedonya yang kini ia kenakan.

Malam sebelum pernikahan, di meja makan tempat kami berada. Melihat Neji makan dengan lahapnya di waktu makan malamnya, membuatku memutar otak dan kembali berpikir tentang perkataan Hiashi tadi sore.

Aku, tidak yang yakin bagaimana aku menemukan kuatku tanpa Neji Hyuuga, bagaimana aku menapakkan kakiku tanpa Neji Hyuuga di sisiku. Mungkin jika hanya untuk bertahan hidup, aku bisa tanpanya. Namun mengubah hitamku menjadi putih, hanya dengan berada di sisisnya semua itu bisa kulakukan. Sejauh ini dan aku yakin selamanya, kuatku hanya karena Neji Hyuuga dan partikel kecil di setiap inci hatiku sudah terbentuk dengan jutaan nama Neji di dalam tubuhku. Dan kini, aku meyakininya.

Telapak tanganku terangkat menyentuh hangat pipi mengembung penuh nasi di sampingku. Sontak saja dia terkejut lalu menoleh padaku sembari mengunyah pelan nasi di dalam mulutnya.

"Apa ada yang salah?" tanyanya dengan wajah polos bak malaikat kecil di surga.

"Tidak ada. Yang aku tau hanyalah, aku benar-benar tidak mungkin untuk pergi dari sisimu. Aku tidak mau dan aku tidak bisa." ucapku sesantai mungkin.

Ibu jari kananku mengelus pipinya. Seperti seorang bocah kecil, ia menampakkan ulasan senyum sucinya lalu melepas sumpitnya.

Hanya ada kami berdua di ruang makan. Tidak ada Ikuya Baasan ataupun pekerja rumah tangga lainnya. Meski kami tak melarang mereka berkeliaran di sini, tapi mereka lebih memilih menjauh dengan alasan waktu untuk kami berdua adalah hal yang paling berharga bagi mereka. Tidak ada yang bisa kami katakan dan kami berdua berterimakasih untuk hal itu.

Kedua tangannya lantas menjauhkan beberapa piring lauk di atas meja makan lalu kembali memegang sumpitnya. Aku yang menyangga dagu di sisi kanannya hanya berjengit melihat pemandangan tersebut.

"K-kenapa kau menyingkirkan semua itu? A-aku tau masakanku tidak seberapa enak, tapi itu semua layak untuk dimakan. Baasan sendiri sudah mencicipinya." ujarku di sertai perempatan di dahiku.

Tidak ada jawaban. Pria itu lantas memasukkan sesumpit nasi ke dalam mulutnya lalu segera mengecup bibirku sebelum ia mengunyah makan tersebut. Tidak perlu waktu lama untuk membuat semu merah di kedua pipiku muncul.

"Kenapa harus makan dengan itu semua jika bibirmu lebih menggoda?" ucapnya santai dan kembali melakukan tingkah konyolnya.

Brakk!

"Tenten!"

Beberapa suara teriakan menguar tepat setelah pintu kamar rias pengantin terbanting akibat ulah para perempuan brutal yang mendobraknya dengan sengaja. Menyadarkanku segera dari lamunan panjangku tentang kejadian kemarin. Segera saja tidak lama setelah itu, di balik pintu muncul sosok-sosok yang tidak asing bagiku. Siapa lagi jika bukan tunangan Sasuke, Sakura Haruno, istri Naruto, Hinata Hyuuga, serta gadis yang di kabarkan dekat dengan Menma Uzumaki-sama, Ino Yamanaka.

"Kuucapkan selamat untuk pernikahanmu Tenten-chan!" seru Sakura menggaet kedua tanganku begitu saja.

Gaun putih panjang yang kukenakan aku sibak ketika mendapati gelagat mereka yang mencari kursi untuk duduk. Kupersilahkan mereka duduk di sofa panjang yang aku duduki.

"Aku tidak menyangka dengan pilihanmu. Tapi tetap saja aku sangat bahagia dengan pernikahan ini. Kau sangat cantik dengan gaun putihmu ini." lanjut Sakura menampakkan wajah gemas.

"Sakura, kau ini kenapa? Bukankah sejak dulu memang Tenten dekat dengan Neji?" Sambar Ino dengan bibir mengerucut.

"Ino Pig! Apa kau tidak tahu, jauh sebelum Tenten mengenal Neji, Itachi lebih dulu menjadi bagian dari hidupnya kau tau." Cercah Sakura tak terima.

"T-Tenten-san pernah berhubungan dengan I-Itachi-nii?" tanya Hinata tidak percaya.

Sontak aku menyikut sisi kanan Sakura dengan seringai menghiasi wajah.

"A-aku hanya mengenalnya Hinata-sama. Tidak lebih dari itu." sergah gadis itu menunjukkan eye smilenya.

Wanita berambut indigo itu sedikit tertegun.

"Pantas saja. Sewaktu kami berada di restoran, aura antara Neji-san dan Itachi-nii sangat berbeda. Kupikir itu hanyalah sebatas masalah pekerjaan." Hinata menatapku.

Di ujung kursi, Ino hanya menggeleng pelan dengan mata memicing ke arahku. "Ternyata lebih dari itu," katanya singkat.

"Ayolah, bukankah itu hanya masa lalu? Yang terpenting sekarang Tenten adalah seorang Hyuuga. Tenten Hyuuga. Benar-benar nama yang indah bukan?" Sakura mencairkan suasana sementara ketiganya hanya tersenyum kecut.

"Maafkan aku telah menyembunyikan ini Hinata-sama." Tenten menatap Hinata.

"Tidak perlu minta maaf dan tidak ada yang perlu di maafkan. Dan satu lagi, jangan memanggilku 'Hinata-sama'. Kau sekarang adalah istri Neji dan itu artinya kau adalah kakakku. Memanggil seorang adik dengan embel-embel 'sama' adalah hal yang di larang dalam tradisi keluarga kami. Jadi mulai sekarang, panggil namaku saja. Kau mengerti?"

"Baiklah, Hi-na-ta," kataku terbata. Tak lama setelah itu, gelak tawa menguar dari masing-masing bibir kami.

Ckrek!

Blitz kamera menyala tanpa kusadari sebelumnya. Bidikan tersebut tepat menembak gambar ketika kami tertawa. Perangkat lunak di tangan kanan seseorang menjadi perhatian kami kali ini.

"Benar-benar momen yang indah. Aku iri pada kalian." kata seseorang tersebut naik ke tempat kami berada.

"M-Matsuri?" aku melongo.

Gadis berambut cokelat tersebut mengulurkan tangannya padaku. Dengan senyuman lebar dan mata menyipit bahagia, Matsuri masih setia menunggu jabatan tanganku.

"Selamat atas pernikahanmu. Meski kenyataan tidak sesuai harapan, tapi aku turut senang atas pernikahan ini." ujarnya.

"Terimakasih banyak Matsuri." jawabku membalas jabatan tangan tersebut.

Tidak ingin berlama-lama berada di sana, Matsuri segera mundur dan berniat untuk pergi. Aku tahu, meski dirinya sudah merelakan Neji, namun hatinya masih berteriak memanggil nama pria tersebut. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal satu sama lain.

"Aku harus segera kembali. Dan untuk ini," Matsuri menggoyangkan kamera SLR di tangannya, "... akan kucetak foto kalian berempat sebesar mungkin lalu meletakkan ini di dinding panti asuhan kalian nanti. Jadi, selamat menikmati kehidupan yang baru." katanya kemudian pergi.

Semuanya tertegun mendengar perkataan itu.

"Panti asuhan?" tanya Sakura.

"Apa maksudnya?" Giliran Ino yang bertanya.

"Aku juga tidak tau." aku ikut buka suara.

"A-ano.. sebenarnya," Suara dari Hinata otomatis membuat kami bertiga menoleh kearahnya secara bersamaan. "Kami sepakat untuk membangun sebuah panti asuhan untuk menampung anak-anak yang terbuang dan sejenisnya. Aku, Neji-nii, Sasuke, Itachi-nii, Menma, dan Naruto sepakat untuk membangun panti asuhan itu sebagai ganti dari proyek kami yang gagal. Bukan hanya itu, di panti asuhan tersebut kami juga akan mengadakan sekolah gratis bagi para anak jalanan yang kurang beruntung agar mereka juga bisa merasakan indahnya masa tua dengan kerja keras yang mereka lakukan selagi mereka masih muda. Sisa dana proyek sebelumnya sudah di serahkan dan lusa akan menjadi hari pertama pembangunan gedung sekolah. Dan mengenai dana dari sekolah itu, akan kami ambil dari penghasilan dari setiap perusahaan sebesar 10% untuk di alokasikan sebagai pembiayaan secara menyeluruh setiap bulannya. Baik itu sandang, pangan, asrama, dan juga hal-hal yang mengenai sekolah. Hyuuga Corp, Uchiha Group, Uzumaki Corporation, dan juga Sarutobi Residence sudah sepakat untuk bertanggung jawab atas semua dana tersebut. Bisa di bilang ini adalah proyek gabungan tanpa melihat celah untuk mendapatkan laba. Kami melakukan ini dengan harapan, semoga kelak tidak lagi ada Tenten lain yang menghalalkan segala cara demi sesuap nasi. Anak-anak di negeri ini terlalu berharga untuk di sia-siakan." jelas Hinata menatap ketiganya secara bergantian.

"Aku ingin segera menikahi pria itu. Men-ma U-zu-ma-ki-sama." kata Ino menangis terharu. "Berikan bunga itu padaku Tenten." katanya merebut rangkaian bunga kecil di tangan tanganku dengan deraian air mata haru.

"Aku ingin 1 bulan ini berjalan lebih cepat agar aku bisa segera mengubah namaku menjadi Sakura Uchiha." Imbuh Sakura menyeka air matanya.

"Terimakasih banyak Hinata. Kau benar. Aku harap, aku adalah orang terakhir yang hidup menderita di tengah kerasnya dunia. Terimakasih banyak." Aku memeluk Hinata. Di ikuti Sakura dan Ino.

"Tidak perlu berterimakasih. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling membantu bukan?" Hinata merentangkan tangannya membalas pelukan kami yang masih tak berhenti menangis tersebut. "Harusnya ini menjadi sebuah kejutan untuk para pengantin baru. Tapi Matsuri sudah membeberkannya," Imbuh Hinata tertawa renyah. "Lihat saja Matsuri, akan kupatahkan lehernya." lagi-lagi Hinata berkata dengan senyum sumringah di sertai seringai tajam. Membuat bulu kuduk kami berdiri ngeri seketika itu juga.

(Tenten POV End)

.

.

Gadis Pencuri: Last Chapter

.

.

Tepat pukul sembilan malam, Tenten keluar dari kamar mandi kamarnya dan tidak mendapati seorangpun berada di ruangan tersebut. Ia lantas turun lalu melihat Neji tengah sibuk dengan remote tv di tangannya serta keripik kentang di sampingnya. Gelak tawa ringan keluar begitu saja dari bibir Tenten.

Di atas sofa berwarna peach Neji duduk. Gadis itu memeluk suaminya dari belakang masih dengan balutan yukata tipis serta handuk yang membungkus rambut basahnya.

"Udara di sini lumayan dingin. Kau mau sesuatu yang hangat?" tawar Tenten melirik Neji melalui ujung matanya.

"Sesuatu yang hangat? Apakah itu pelukanmu? Kecupanmu? Ciumanmu? Atau lebih dari itu?" tanya Neji dengan seringai menggoda.

"Kau jenius tapi juga terkadang bodoh. Maksudku minuman hangat. Misalnya secangkir teh, kopi, atau susu. Apapun yang bisa menghangatkan tubuhmu." balas Tenten dongkol.

Neji tertawa. Membuat Tenten semakin memajukan posisi bibirnya.

"Aku tidak seberapa suka dengan kopi, karena minuman itu sering membuatku begadang di malam hari. Susu? Boleh. Tapi aku juga tidak menyukainya. Terlebih jika di minum di malam hari seperti ini. Bisa-bisa semua abs di tubuhku lenyap. Mungkin teh adalah pilihan terbaik." katanya menimbang-nimbang pilihannya.

"Baiklah, dua cangkir teh dan beberapa cemilan akan siap, Neji-sama!" seru Tenten menepuk punggung Neji sebelum gadis itu beralih ke dapur.

Selang beberapa menit, dua cangkir teh panas lengkap dengan kepulan asapnya tersaji di hadapan Neji. Tidak lupa juga semangkuk besar raspaberry juga bersanding di samping cangkir berwarna biru dan hijau tersebut.

"Kenapa buah berry?" Neji bertanya begitu Tenten meletakkan sebuah nampan di atas meja.

"Kau bilang tidak ingin kehilangan abs di perutmu bukan? Lalu kenapa kau masih melahap keripik kentang itu? Bukankah itu juga mengandung lemak jenuh? Jadi, buang saja ini." Gadis itu menyambar cepat bungkusan kripik kentang di samping Neji lalu melempar benda tersebut ke keranjang sampah di sudut ruangan.

Ia lantas berjalan melewati Neji, mengincar tempat duduk di sebelah kanan pria itu yang masih longgar untuknya. Belum sempat ia menempatkan dirinya, tanpa bicara sebuah tangan menarik pinggangnya.

Bruk!

"Aku sudah memesan tempat untuk Tenten Hyuuga-sama. Kursi VIP dengan pelayanan ekstra." ucap Neji sumringah begitu Tenten sudah berada di antara kakinya.

"Ayolah Neji, di sampingmu masih kosong." Rengeknya.

"Tidak. Kursi itu ilegal bagimu. Tempat terbaik dan legal bagimu adalah, pangkuanku. Kau mengerti?" sambar Neji cepat.

Tak ada yang bisa Tenten lakukan selain memutar kedua bola matanya malas. Ia menghembuskan nafasnya cepat lalu segera menyandarkan kepalanya di dada bidang tersebut.

Beberapa menit mereka menonton televisi bersama, tidak ada yang bicara. Acara di sana agaknya lebih menarik daripada membicarakan tentang satu sama lain. Hingga pada akhirnya layar televisi menampilkan sebuah gambar padang savana luas.

"Kau tau, aku masih heran. Kenapa kau memilih tempat ini untuk kau jadikan destinasi bulan madu kita?" tanya Tenten mendongak memandang Neji.

Ekspresi khas Hyuuga jelas tampak dari raut wajahnya. Neji menjawab sembari mengganti saluran televisi, "Kau bertemu dengan biksu Kotarou di sini, di sini juga kita kehilangan Kun dan Tenichi. Maka dari itu, aku ingin kita titik awal pertemuan kita dengan Kun dan Tenichi berada di tempat ini." jawabnya santai.

Tenten mengangguk paham. Ia lalu melahap berry di pangkuannya dengan perlahan.

"Bagaimana awalnya kau bertemu dengan Tenichi? Kau tidak pernah bercerita tentang itu padaku?" tanya Tenten lagi. Kedua ujung alisnya bertemu.

"Lebih tepatnya bukan Tenichi yang kutemui. Tapi dirimu. Jelas sekali terlihat saat itu aku bertemu dengan dirimu yang masih berusia 6 tahun."

Meski Tenten tidak begitu paham dengan apa yang Neji katakan, gadis itu lebih memilih diam daripada harus bertanya lebih jauh tentang hal tersebut.

Pip!

Tombol merah di remote di tekan oleh pria tersebut. Saat itu juga televisi mati dan meninggalkan warna pelangi di pengelihatan Tenten untuk sesaat. Tanpa banyak bicara Neji segera menyingkirkan baskom di pangkuan Tenten dan menggotong gadis itu ke atas bahu kanannya.

Neji berbalik dan membawa naik Tenten tanpa mempedulikan suara rontaan yang di keluarkan oleh istrinya.

"Neji apa yang kau lakukan? Turunkan aku." Pintanya memukul bagian punggung belakang Neji.

"Sekaranglah saatnya. Kita mulai dari Kun terlebih dahulu." ucap pria itu menutup pintu kamarnya lalu memutar kunci kecil di sudutnya.

"Tapi apa ini? Membopongku layaknya kau membopong sekarung beras. Kau tidak romantis sama sekali!" Tenten mempoutkan bibirnya sebal namun pasrah.

Bruk!

Satu hentakan keras dari Neji berhasil membanting Tenten ke atas ranjang dengan punggung mendarat terlebih dahulu.

"I-ita..." Tenten merintih. "Neji baka!" hardiknya tak terima.

Sedetik kemudian pria itu sudah memenjarakan Tenten di kedua kakinya lalu menyerang lekukan lehernya tanpa sepatah kata terlontar dari bibirnya.

Untuk selanjutnya, hanya ada suara desahan dan lenguhan yang terdengar di peraduan. Di malam dingin dengan status yang sudah berbeda mereka menikmatinya di tengah dinginnya salju di temani remang lampu dan kehangatan yang saling tersalurkan satu sama lain melalui tubuh mereka masing-masing.

Malam pertama untuk Neji Hyuuga dan Tenten Hyuuga. Terasa berbeda meski sebelumnya mereka sudah pernah melakukan hal itu. Tidak ada halangan ataupun paksaan. Mereka sudah sepenuhnya memiliki satu sama lain. Cinta di antara mereka sudah tumbuh dan kini mereka sepakat seperti apa mereka mengartikan makna dari sebuah cinta.

'Cinta bukanlah tentang dengan siapa kau bersanding bersama orang yang kau impikan dan idamkan, namun cinta adalah bagaimana kau kehilangan seseorang tersebut tanpa bisa membayangkan bagaimana kau bisa hidup tanpanya kelak.'

FINISH!

Okeeee~ dengan berakhir chapter ini, itu artinya berakhir juga penderitaan kalian setiap baca fanfic absurd bin gajelas ini :"D Tepuk tangan buat kita semuaaaa~ XD Ran sangat sangat sangat berterimakasih pada semua reader yang meluangkan waktunya untuk membaca fanfic yang updatenya ngaret setengah mati ini. Maafkeun Ran ya minna, maaf bangettt *bungkuk* :"3 You can hate me loh :" Karena Ran tau, di gantung selama berbulan-bulan itu gak enak rasanya XD *AADC2 syndrome*

Alasan fanfic ini ngaret sedemikian lama adalah alasan klasik yang mungkin kalian udah pada bosen dengernya :'v WB, kesibukan RL, serta tugas menumpuk tergabung menjadi satu kesatuan dan akhirnya terbentuk sebuah molekul-molekul kecil yang biasa di sebut Mager *ngomong ape lo?* Jadi sekali lagi Ran minta maaf jika ada salah-salah kata serta kesalahan yang tidak di sengaja lainnya. Mungkin di sini banyak alur yang tidak beraturan karena Ran udah lumayan lama nggak menjamah(?) fanfic ini. Jikalau memanglah begitu, apa dayaku sebagai manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa*drama*. Tapi semoga dengan updatenya chapter ini sekaligus sebagai penutup bisa menjawab semua pertanyaan minna-san ya :"D Kalo ada yang nanya Itachi gimana nasibnya, akan dengan senang hati Ran menjawab 'lagi ada di kamar Ran. Dese lagi bobok.' XD *ditabok*

Ran akan jawab semua pertanyaan minna di review sebelumnya. Jadi cocokan sendiri ya dengan pertanyaan kalian di chapter yang lalu :"D Bukannya mager atau apapun, kalo di bales satu persatu takutnya kebanyakan words balasan daripada fanficnya sendiri ^-^ (Ran kebanyakam bacod soalnya :'v)

Kemana Kun sama Tenichi pergi? Balik ke perut Tenten kah? Yap! That's right. Dari rahim akan balik ke rahim XD Jadi hanya tinggal nunggu waktu sampai mereka balik kembali di tengah Neji dan Tenten X"

Akankah ada fanfic NejiTen yang lain setelah fanfic ini tamat? Insyallah akan ada. Tapi entah itu kapan. Karena Ran berencana akan menyelesaikan semua hutang fanfic multichapter terlebih dahulu sebelum membuat fanfic yang baru. Jadi mulai sekarang Ran akan berusaha untuk tidak menumpuk hutang supaya kalian nggak kecewa nantinya ^-^

Ada gitu-gituannya? Oke untuk yang ini akan Ran jelaskan :"D Sebenarnya Ran khilaf dengan adanya adegan ini. Awalnya Ran akan bikin seorang Neji Hyuuga sebagai pria yang anti sama perbuatan seperti ini. Namun apa daya, bisikan setan lebih kuat. Alhasil adegan itu masuk tanpa Ran sadari. Sekali lagi maapkeun, Ran khilaf TvT

Fanfic GaaTen? Fanfic GaaTen yang gantung adalah Ambivalence. Jujur Ran masih kurang yakin akan di bawa kemana arah cerita fanfic tersebut XD Mohon maklum, ram otak ini hanya 10MB XD *dihajar masa*

Gimana tanggapan Matsuri? Jujur aja, untuk buat scene khusus Matsuri Neji untuk membicarakan masalah ini, Ran nggak sanggup bikinnya. Akan terlalu menyakitkan kalo sakita hati Matsuri di jabarkan dalam bentuk tulisan. Jadi mungkin, anggaplah Neji sudah berbicara empat mata dengan Matsuri, dan kalian sendiri yang mengimajinasikan bagaimana suasana dan perdebatan macam apa yang terjadi di antara mereka. Sungguh, Matsuri terlalu baik untuk di campakkan. Maafkan daku Matsuri-chan TTvTT

About flamers? Yeah! Ran nggak punya waktu untuk meladeni para flamers. So, don't be worry. They are can't drag me down *gaya ID* XD/sarap

Anaknya hilang, berarti Neji dan Tenten udah saling mencintai? Yap! Seperti itulah XD *prok prok prok*

Lemon? Oh my god *bersemu merah*/plakk XD Ran nggak jago di genre seperti itu. Pernah coba sekali dan jadinya absurd. Paling mentok semi-M. Itupun bikinnya sambil gigit bantal _ XD

Apa sebenarnya yang terjadi pas terakhir? Mungkin Ran nggak jelasin di atas. Tapi minna pasti tau apa yang Neji lakuin sebagai seorang pria. Membawa Tenten ke rumah sakit, terus berterus terang ke Hiashi tanpa peduli waktu saat itu juga untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya XD

Hiashi kebakaran jenggot? No~ selama Ran tau, Hiashi sosok yang tegas namun tenang. Kebakaran jenggot bukanlah gayanya. Jadi dia tetepa stay cool XD /dilempar shuriken

Kapan tamatnya? Udah tamat kok. Tenang aja X3

Wanna join in group Tennaisance? Just search my facebook name 'Evelyn Ayu Kurnia Sari' ne :3

Well, sudah sampai di ujung chapter. Sekali lagi terimakasih untuk rev/fav/foll dari minna. Tanpa kalian sadari, itu yang bikin Ran semangat lanjutin fanfic ini. Dan maafkan kalo Ran slow update. Thankyou for your review! See you in another fanfic. Ran Megumi here, sign out~! *ketcup atu-atu*