Nah, chapter kedua nongol juga deh... SO, jika berkenan membaca silahkan.. jika tidak juga silahkan baca (^_^)..
And, thanks buat yang udah review yach.. Jangan kapok buat review lagi..
buat gunpla, well. boleh juga idenya yang uke2 seme2.. Cuman di fic ini maunya sih si Shinn sama Luna sama-sama agresif.. Biar puas olok-olokan.. Mungkin idenya itu bisa buat fic ShinnLuna selanjutnya dech.. Amiinn..He..he..
DISCLAIMER : GSD serta anime-anime yang kadang tercantum di fic ini bukanlah milik saya ! Hiks..
Tiga hari pertama tahun pelajaran ini sudah usai. Dan singkat cerita, kegiatan ekstrakurikuler yang sempat mati suri selama lebih dari satu bulan akhirnya bangkit dari kubur. Seperti biasa, anak-anak 3-B yang beranekaragam polah dan tingkah pun melanjutkan perjuangan esktra yang ditinggalkan senpai-senpai angkatan terdahulu.
"Baik ! Saatnya membuat ekstra basket menjadi yang terbaik !", Kira bicara pada dirinya sendiri dengan semangat membara. Tidak heran, dia adalah kapten basket SMA dan tahun ini berniat membawa tim basketnya menjadi kampiun tingkat nasional. "Aku nggak yakin basket bisa bicara banyak, apalagi kaptennya womanizer kayak KAMU!", Cagalli dengan segera langsung menunjukkan sikap apatisnya. Merasa dilecehkan, Kira berusaha membalas,"Oh ya? Lalu apa kau Klub Pecinta Alam-mu bisa dapat penghargaan tahun ini ? Cari anggota saja susah..", sindir Kira kepada Cagalli, yang merupakan ketua Klub Pecinta Alam. Hiks..Cewek berambut pirang itu hanya bisa menggerutu tanpa bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Apa yang dibilang saudaranya itu memang benar. Selama ini Klub pimpinannya memang begitu kesulitan mendapat anggota. Selain itu, jarang sekali mengikuti event-event besar...
Sedangkan di pojok belakang kelas, Athrun tengah sibuk bincang-bincang dengan Lacus. "Kau ini bagaimana sih? Cepat dapatkan info terbaru dan segera cari buku-buku populer!", protes Lacus kepada Athrun, yang tidak lain dan tidak bukan merupakan pimpinan Klub Buku. Sebuah klub dengan kegiatan ekstrakurikuler yang cukup 'dipaksakan' keberadaannya. Walau memiliki lumayan banyak anggota, tetapi aktivitasnya hanyalah mencari, membeli, membaca, dan meresensi buku. Dan hasilnya nanti biasanya akan dipajang di mading atau dipublikasikan oleh majalah sekolah. "Aku tahu Lacus. Aku sekarang juga tengah memikirkan komik apa yang pantas dipajang di perpustakaan..", balas Athrun yang tak memandang Lacus karena konsentrasi membaca komik. Lacus serta merta menimpuk kepala pemuda berambut biru itu. "Apa-apaan sih! Jangan cari komik saja. Novel dong! Novel !", nasihat gadis berambut pink panjang kepada cowok berambut biru. Athrun hanya mengangguk-angguk saja berusaha menyenangkan Lacus. "Baik, baik. Akan kuusahakan.", timpal Athrun disambut senyum sumringah Lacus...
Miriallia pun turut sibuk menyusun berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Banyak juga foto-foto dokumentasi serta berbagai buku catatan kecil. "Banyak sekali bawaanmu. Lebih baik dibuang saja yang tidak penting..", usul Dearka yang duduk di samping dan ikut membantu pekerjaan kecil Miriallia.
"Tapi ini semua penting.", balas cewek tadi sembari menunjukkan isi kertas-kertas di sana.
"Aku tahu, Presiden. Jangan salahkan aku jika nanti tas merahmu ini rusak.", kata Dearka sekalian memasukkan berkas-berkas tadi ke dalam tas Miriallia.
"No problem. Itu sudah resiko pekerjaan kita sebagai jurnalis sekolah.", tukas Miriallia penuh semangat. Miriallia dan Dearka, mereka berdua adalah pimpinan Klub Jurnalistik yang mengurusi majalah dan mading sekolah. ZAFTzine, majalah sekolah yang dikelola klub tersebut sangatlah beken di kalangan pelajar. Banyak informasi yang didapat, termasuk seputar gosip terhangat tentang murid maupun guru. Klub ini bisa dibilang merupakan ekstrakurikuler yang sangat ditakuti karena mampu merupakan imej seseorang dalam sekejap. Sebegitu powerfull-nya Klub Jurnalistik, jarang ada murid yang berani 'main senggol bacok' atau macam-macam dengan kelompok ini. Salah langkah sedikit saja, majalah ZAFTzine akan langsung membeberkan borok-borok yang bersangkutan sehingga citranya langsung runtuh. "Tidak ada kekuatan di dunia ini yang melebihi kekuatan jurnalistik..khu..khu !" , ucap Miriallia dengan senyum manis iblisnya sembari memegang apel merah di tangan kanannya. "Hei..hei.. berhenti sok cool. Kau jadi mirip Light Yagami.", sindir Dearka.
Perbincangan ramai dan beraneka topik di kelas 3-B benar-benar berhasil membunuh waktu. Tidak terasa bel pelajaran berbunyi. Dan dengan secepat kilat Talia-sensei sudah berada di dalam kelas.
"Baik, anak-anak. Seperti kalian tahu, MOS untuk murid baru sedang berlangsung. Dan selama empat hari ini klub serta kegiatan ekstrakurikuler-nya akan menunjukkan kebolehan. Oleh karena itu, setiap anggota ekstrakurikuler diijinkan meninggalkan pelajaran untuk persiapan.", ujar Talia-sensei yang disambut meriah seisi kelas. "Ingat. Hanya yang menjadi anggota ekskul saja!", tambah guru wanita itu.
"Baik, sensei!", jawab semua kompak. Satu per satu mengambil peralatan yang dibutuhkan dan mulai meninggalkan kelas. Mulai dari Kira yang populer sampai Cagalli yang tidak populer, semua meninggalkan kelas. Ya, Semua. Tidak satu pun murid yang tersisa sama sekali. Tidak tersisa sepasang mata pun untuk menjalani KBM. Penasaran, Talia-sensei lantas mengambil kertas daftar muird kelas 3-B yang mengikuti ekstra. Diamati dari presensi pertama hingga akhir. Tidak ada satu pun siswa yang tidak ikut kegiatan organisasi !. Bahkan, hampir sebagian besar klub di sekolah tersebut dipegang alias dikuasai oleh anak-anak dari kelasnya. Benar-benar kelas 3-B telah memonopoli kehidupan klub dan ekstrakurikuler di sana. "Ya ampun. Dasar murid-murid banyak polah dan hiperaktif..", gerutu Talia-sensei mendapati tidak ada satu pun manusia yang akan mengikuti pelajarannya. Ia pun hanya bisa menggeram dan memilih kembali ke ruang guru.
Suasana ruang musik pagi itu tampak lebih hidup. Meski baru ada dua makhluk hidup di dalam sana. "Oke..oke.. Ayo latihan pagi sebelum pertunjukan!", teriak Flay penuh semangat. Sementara gadis berambut magenta pendek hanya celingak-celinguk mengamati isi ruangan yang terlihat lengang.
"Dimana anggota lain ? Kok lama banget..", keluh Luna.
"Tenanglah, Luna. Anggota-anggota lain tidak akan datang kok. Hanya satu band dari Klub Musik yang dibolehkan tampil oleh OSIS, dan akhirnya band kita yang terpilih!", jawab Flay penuh semangat dan riangnya.
Bukannya senang, Luna malah tambah sewot."APAA ? Tidak ada yang lain selain band kita? Dasar junior-junior sialan? Setidaknya mereka datang sebentar memberi support pada kita atau turut membantu persiapan.", keluh Luna. Disandarkan kedua tangannya di pipi dan mendesah panjang. "Santailah, Luna. Mungkin saja guru-guru mereka tidak mengijinkan. Cobalah berpikir positif.", ujar Flay penuh rasa sok dewasa.
"Sudahlah. Jangan mengguruiku ! Lebih baik kita latihan dulu..", pinta Luna. Diambilnya gitar berwarna biru yang tersandar di sudut ruangan. Namun sejenak kemudian pertanyaan besar segera menyelimuti kepalanya. "Heh? Dimana Stellar?", tanyanya sembari memasang kabel gitar. Flay hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa-apaan yang dilakukannya di saat genting seperti ini?", geram Luna. Dia sama sekali tidak suka jika urusan band dinomorduakan. "Awas kau kalau ketemu, STELLAR !", ujar Luna. Ia lalu secepat kilat keluar dari ruang musik dengan hawa pembunuh yang luar biasa. Meninggalkan Flay yang hanya bisa terbengong-bengong saja. "Yah, sendiri lagi dech.", ketus Flay dengan penuh kecemberutan.
Sementara itu di lapangan sepak bola, tampak klub sepak bola tentunya sedang melakukan pemanasan. Seluruh pemain tampak sigap dan penuh semangat. Maklum, untuk menarik minat siswa baru agar ikut kegiatan, mereka harus bisa lebih terlihat cool dan kompak. Walau pada akhirnya kemudian hari saat latihan harian digelar banyak pemain yang malas dan tidak nongol.
"Bagus..bagus. Teruskan pemanasan agar badan lebih sehat dan siap sebelum pertandingan.", ucap Shinn, kapten tim sepak bola.
"Kapten, kau sendiri malah enak-enakan duduk di tempat sejuk. Curang.", keluh Vino. "Hei..hei, jangan protes. Ini perintah langsung dari jenderal lapangan kalian.", balas Shinn sembari merentangkan tangannya dan berbaring di bawah tempat ganti official klub. Vino sangat jengah mendengar ucapan seniornya itu. Tapi saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa karena hanyalah junior yang tidak berdaya..
Namun, kekesalan Vino dan anggota tim lain sekilas menghilang melihat pemandangan yang menyegarkan mata. Sosok istmewa yang berlari-lari kecil menuju arah kapten mereka. "Shinn-kun, Stellar membawakan jeruk untukmu.", sesosok gadis berambut pirang dengan suara kecil manisnya menghampiri Shinn. Ditangannya sudah ada beberapa buah jeruk besar nan segar yang menggugah selera. Shinn menoleh, dilihatnya cewek manis telah berada di sampingnya.
"Stellar, tidak usah repot-repot.", balas Shinn malu-malu kepada Stellar, gadis berambut pirang tadi, meski sebenarnya perutnya sangat menginginkan buah-buahan fresh itu. "Tidak apa-apa kok. Lagipula Stellar nggak ada kerjaan sekarang.", tukas Stellar sembari duduk dan mengupas kulit jeruk untuk pemuda di sampingnya.
"Taratarat! Jeruk sehat dan bergizi untuk kapten kita !", imbuhnya dengan senyum. "Umm… terima kasih.", yach, akhirnya Shinn pun tergoda dan memilih memakan jeruk itu dengan lahapnya. Perutnya berbunga-bunga bisa merasakan makanan yang enak ini. DIbawakan Stellar lagi. Sementara dia makan, para anak buah Shinn di lapangan hanya bisa menahan ludah saja. "Itulah mengapa posisi kapten selalu menjadi incaran banyak pemain.", gerutu Vino kembali,"dihidangkan oleh gadis cantik, Kak Stellar lagi, berteduh di tempat yang nyaman, dan tinggal memberi perintah. Bagai seorang raja diktator saja.."
"Heh! Apa yang kalian lihat? Lanjutkan pemanasan !", teriak Shinn yang baru sadar dirinya menjadi bahan tontonan segenap anak buahnya. Sementara Stellar hanya bisa tertawa kecil saja melihat tingkah Shinn membentak-bentak pemain lain.
"Nah, mau tambah lagi,Shinn-kun?", ujar Stellar seraya menodongkan jeruk terkupas siap disantap.
"Be..beneran nih?", respon Shinn penuh terkejutan sembara melototi buah-buahan di hadapannya. "Tenang saja. Stellar punya banyak persediaan kok di rumah.", balas Stellar. Tanpa ampun lagi Shinn segera memakan jeruk kloter kedua yang disajikan gadis ramah di sebelahnya. Dia benar-benar beruntung memiliki teman seorang gadis baik hati dan penuh perhatian seperti Stellar, yang hanya bisa memasang senyum dan wajah penuh kepuasan melihat Shinn begitu senang dengan pemberiannya.
"STELLAARRR !"
Suasana indah di lingkungan lapangan seketika langsung retak ketika teriakan sekencang badai menggelegar. Dan terdengar suara derap kaki semakin lama semakin mendekat ke arah Shinn dan Stellar. "Uh, ada gempa ya?", cetus Shinn yang mulutnya dipenuhi makanan. Dan beberapa saat baru Shinn menyadari, sesosok manusia dengan aura geram luar biasa telah berdiri perkasa di belakang mereka.
"Oh, kau yang teriak tadi?", komentar Shinn begitu melihat gadis berambut magenta di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Luna.
"Stellar ! Apa yang kau lakukan di sini! Waktunya latihan, tahu!", perintah Luna dengan berkacak pinggang. Nafasnya terdengar masih belum teratur setelah berlarian mencari-cari Stellar sampai sepelosok sekolah.
"Ma..maaf, Luna-chan. Stellar terlalu keasyikan di sini sehingga lupa sama jadwal band...", ucapnya polos seraya menggaruk-garuk kepala sendiri.
"Asyik ? Kau bilang bermain-main dengan rambut-antah-berantah ini asyik ?", bentak Luna kepada Stellar sekalian menunjuk Shinn. Tidak terima gaya rambutnya yang memang amburadul tadi dihina, Shinn bangkit dan mulai menunjukkan perlawanan.
"Heh, apa-apaan ini ? Jangan suka meledek penampilan orang lain !", bela Shinn untuk dirinya sendiri.
"Diam kau ! Aku sedang nggak ada urusan denganmu !", ucap Luna dengan ketus sembari mengibas-ibaskan tangannya kepada Shinn. Meminta pemuda itu untuk menjauh dari sana.
"Ini wilayah kekuasaanku, tahu !", uja Shinn mengacungkan tangannya ke arah lapangan bola, yang tidak lain sudah menjadi wilayah kedaulatannya sebagai kapten.
"Aku nggak peduli ! Stellar, ayo pergi ke ruang musik. Jangan sampai kau terinfeksi penyakit malas orang ini !", ucap Luna seraya menarik tangan Stellar.
"A..aduh, tangan Stellar jadi sakit, Luna-chan.", keluh gadis pirang itu merasakan tangannya dipegang atau tepatnya diremas dengan eratnya oleh Luna. Shinn yang tidak tega melihat gadis polos itu dianiaya Luna mencoba membela Stellar. Hitung-hitung sedikit balas budi sudah diberi Stellar jeruk gratis nan segar tadi.
"Jangan berlaku dan bicara kasar dengan wanita..", sahut Shinn dengan muka sok serius dan hawa sok cool. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana untuk lebih menambah penampilannya agar terlihat keren. Ditambah lagi angin sepoi-sepoi berhembus memainkan rambut dan baju sekolahnya seperti di anime-anime saat adegan dimana si tokoh utama ingin menyelamatkan ceweknya.
"Tapi.. Shinn sering bersikap dan bicara kasar kepada Luna-chan 'kan?", ucap Stellar dengan muka tak berdosanya. Wkwkwk..! Shinn hanya bisa sedikit nyengir kuda mendengar perkataan Stellar yang simpel tapi mengena. Luna sendiri tertawa kecil dengan raut sinis penuh kelicikannya.
"I..itu karena si maniak kucing itu yang mulai duluan !", teriak Shinn yang seketika langsung menghilangkan sikap sok kerennya tadi sambil menunjuk-nunjuk Luna.
"Hah, apa kau tak salah bilang ? Bukannya kalau ada kau masalah selalu muncul !", ejek Luna dengan mengarahkan jari telunjuknya ke muka Shinn.
"Memangnya siapa yang pertama teriak-teriak dan membuat ribut di sini, hah ?", Shinn gantian menuding Luna sebagai biang kerok segala tragedi keributan.
"Jangan suka memutarbalikkan fakta ! Siapa yang telah menghilangkan kucingku, kalau bukan KAU !", celoteh Luna semakin emosi.
"Kau itu yang suka menjungkirbalikkan realita ! Kucingmu itu yang bersalah !", balas Shinn. Tensi semakin memanas. Dua anak manusia tadi terus saja ribut mempertahankan ego dan ideologi gak jelas masing-masing. Begitu asyiknya saling bentak sehingga hampir saja membuat Luna lupa apa tujuannya datang ke lapangan sepak bola.
"Cih ! Aku ke sini bukannya mau ribut sama orang gak jelas ini ! Stellar, ayo pergi !", ujar Luna sekali lagi membujuk.. atau tepatnya memaksa Stellar meninggalkan daerah tersebut.
"Jangan mau diperintah, Stellar. Kau jangan mau ditindas terus oleh wanita bengis kayak Luna !", nasihat Shinn kepada Stellar sekaligus ejekan kepada Luna.
"Sebagai cowok kau cerewet banget. Diamlah atau kusumbat mulutmu..", balas Luna dengan mata yang semakin meruncing dan dengan mengacungkan jari manisnya.
"Hah ? Gunakan jari tengahmu, bukan jari manis, BAKAA !", teriak Shinn. Namun, kali ini Shinn lengah, tanpa ampun Luna dengan power selevel bankai menginjak kaki Shinn yang memang sedang tak memakai alas. "Makan nih !", bentaknya ketika bagian bawah sepatunya berhasil menghantam kaki Shinn dengan telak. Luna benar-benar sangat kesal apabila berurusan dengan Shinn, dan ini adalah jurus andalannya untuk mengakhiri cekcok yang kadang tidak mengenal waktu.
Shinn sudah barang tentu merasa kesakitan. Tetapi dia merasa gengsi dong untuk meringis di depan gadis-gadis.
"A..Apaan i..itu ? Ha..hanya segitu ya tenagamu ?", celoteh Shinn sok kalem meski gelagapan karena harus menahan rasa sakit juga.
"NIH KUTAMBAH !", teriak Luna penuh emosi diikuti dengan melayangkan tendangan kedua yang tepat menghantam lutut Shinn yang tidak sempat menghindar. Kali ini Shinn tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sakitnya. "A..Aduh..aduh ! Sial ! Sial ! Awas kau, maniak kucing!", keluh Shinn sembari meratapi lututnya yang memar dan KO itu. Shinn memang sering sekali yang menjadi korban disaat perseteruan dengan mulut hampir tidak berujung. Luna sendiri hanya tersenyum penuh kemenangan dan mengajak Stellar pergi dari sana. Meninggalkan Shinn yang nyaris sekarat dan bisa masuk UGD.
"Uhm.. Semoga lekas sembuh, Shinn-kun.", hibur Stellar dengan lugunya sembari pergi bersama Luna ke ruang musik. Shinn pun tinggal di sana sebatang kara. Tidak ada Stellar lagi yang bakalan mengurusnya. Sementara anak-anak buahnya bersikap sok tidak tahu dan memilih melanjutkan latihan.
"Rasain, kapten. Itu balasan yang akan didapat jika menindas junior terus.", batin Vino berbunga-bunga. Begitu pula teman-temannya yang lain.
"Hei..hei ! Apa yang kalian lakukan ? Cepat ambilkan obat merah atau perban !", teriak Shinn kepada junior-juniornya di lapangan.
"Hah ? Maaf, kapten. Tapi kami 'kan harus pemanasan dan latihan dulu. He..he..", kata Vino diamini seluruh anggota tim bola lainnya. Shinn pun tidak bisa berkata apa-apa lagi dan mengumpat di hatinya sendiri. "Kurang ajar. Aku dipermainkan anak buah sendiri. Dasar tukang dendam..", ucapnya lirih merapati nasibnya yang apes hari ini.
Hari yang panjang dan padat ini benar-benar harus dimanfaatkan Luna cs. dengan semaksimal mungkin. "Ayo, teman-teman. Lanjutkan latihannya. Waktu kita tampil pukul satu siang. Tinggal setengah jam lagi.", jelas Luna. Dilihatnya jam dinding di klub musik yang sudah usang tapi masih layak pakai.
"Luna-chan. Istirahat dulu yuk. Kita sudah latihan dua jam berturut-turut nih.. Tangan Stellar capek main drum..", pinta Stellar sembari merenggangkan tubuhnya yang mulai kecapekan.
"Stellar benar. Tanganku rasanya mau copot nih. Bass-ku itu benar-benar beraaat..", tambah Flay yang tidak kuat lagi dan memilih menyandarkan bass kesayangannya di dinding.
Sayangnya Luna sama seperti Shinn, diktator dan gemar memerintah. Jika masih punya waktu untuk latihan dia akan terus dan terus. Bedanya kalau Shinn talk more do less, sedangkan Luna talk more do more. "Latihan ! Di saat seperti ini jangan mengendurkan semangat dong !", ujarnya kepada Flay dan Stellar yang jelas-jelas membuat keduanya hanya bisa cemberut.
"Lunamaria Hawke.. Biarkan kamis istirahat dulu donk.. Ayolah..ayolah.. Huhuu… !", ucap Flay yang merengek memeluk lutut Luna.
"Kau ini…", Luna masih tetap tegar pada pendiriannya.
"Luna- chan. Mari kita istirahat.. Stellar capek nih..", Stellar pun ikut-ikutan merengek seperti Flay.
Dan karena merasa tidak tahan dengan Flay dan Stellar yang membuat gendang telinganya hampir pecah, Luna pun melunak dan memberi waktu untuk istirahat. "Baiklah, kita break dulu..", tukas Luna disertai nafas panjang. Tak ayal, dua partnernya bersorak kegirangan.
Luna menyandarkan diri di kursi. Meski awalnya tidak suka, tetapi Luna perlahan merasa nyaman menikmati waktu break tersebut. "Lihat..lihat ! Taraatt ! Stellar membawa roti dan makanan ringan !", ucap gadis berambut pirang itu sembari meletakkan santapan di meja berbentuk persegi.
"Bagus, Stellar. Waktunya mengisi perut nih..", Flay sangat bahagia dapat makan gratis lagi.
Luna sendiri menjadi terkejut dengan apa yang dilihatnya di meja. Memang ini saat untuk istirahat, tetapi bukan berarti makan makanan yang bisa menurunkan konsentrasi saat konser nanti 'kan ?
"Apa-apaan ini ? Jangan terlalu kebanyakan makan menjelang konser. Kita bukan Houkago Tea Time !", kata Luna merujuk kepada sosok band yang muncul di anime K-ON itu.
"Ah, tidak apa-apa. Lihatlah HTT ! Mereka tetap bisa tampil keren di panggung meski sehari-hari sukanya makan dan minum teh doang..", bela Flay dengan memakan roti yang dibawa Stellar.
"Itu 'kan hanya di anime saja. Pokoknya jangan ditiru sikap malas-malasan mereka.", ujar Luna ketus. Membuat Stellar dan Flay makin cemberut dan gemes saja dengan sifat Luna yang nggak ada santai-santainya saat latihan nge-band.
"Huuhh… Luna-chan jadi mirip Azunyan. Buat semua jadi easygoing dong..", kata Stellar seraya menyodorkan makanan ringan kepada gadis berambut magenta tersebut. Sungguh sulit memang bagi Luna menasihati dua rekannya agar lebih giat berlatih. Dan sulit juga bagi Stellar dan Flay untuk membujuk Luna supaya lebih sering refreshing.
Jam berganti dengan cepatnya. Tidak terasa kini ketiga cewek pentolan klub musik sekolah sudah berada di atas panggung dan siap menunjukkan aksi terbaiknya. "Teman-teman, mari tunjukkan kehebatan kita. Pastikan tahun ini kita mendapatkan banyak anggota baru !", ucap Luna membara. "Yeah!", balas Flay dan Stellar bersamaan sembari mengangkat tangan tinggi-tinggi…..
Nah, itu chapter dua. Berhenti di saat penting ya.. Memang sih, aku nggak piawai kalau nggambarin suasan pas konser. Apalagi ditambah lagu. Duh, bingung mau diisi song apa. Yach, jadinya chapter dua ini dulu deh. R&R ya.. Berikan kritik dan saran yang membangun..
