Hai..hai.. kembali lagi nih.. Pertama-tama... saya mau minta maaf atas update yang supeeerr lambaatt.. Hiks, tugas sekolah numpuk nih, apalagi dari bengkel...

Nah, pokoknya semoga nanti updatenya bisa teratur dehh (amin)... Gak mau banyak kata lagi, ini dia chapter tiga ZAFT High School. Enjoy it ! Yang udah review makasih ya... ^_^

DISCLAIMER : I don't own Gundam Seed/Destiny.. Huhuhu...


Suasana di aula sekolah sungguh meriah. Teriakan dan siulan anak-anak peserta MOS dan siswa-siswa senior lain membahana dan menggema di sana. Maklum saja, sesi jam sepuluh hingga menjelang sore ini para murid baru mendapat hiburan gratis dari bermacam-macam klub ekskul ZAFT High School. Selain sebagai ajang promosi masing-masing organiasi, juga untuk memberi refreshing para pelaku MOS yang tampak kalang kabut dengan perlakuan senior-senior panitia MOS. Selain mereka, murid-murid dari kelas 2 dan 3 lain pun turut nongol ke aula dan menikmati setiap hiruk pikuk.

"Nah! Semuanya! Itu tadi penampilan yang menakjubkan dari Klub Sulap. Beri aplaus sekali lagi untuk mereka!", ucap Yzak penuh semangat dengan disambut tepuk gegap gempita seisi ruangan. Ya..ya.. Jangan terkejut, Yzak tahun ini didaulat menjadi MC pada kegiatan di aula hari ini. Padahal dia itu sebenarnya bukan anak klub jurnalistik maupun dari klub drama. Lebih tepatnya, dia sama sekali tidak mengikuti organsiasi apapun di sekolah. Tapi, berhubung dia tidak ingin tinggal di kelas sendirian dan mengikuti pelajaran Talia-sensei yang mengerikan itu, Yzak pun memilih menjadi MC saja. Berhubung pos satu ini belum ada yang mengisi.

"Baiklah! Selanjutnya penampilan yang tidak kalah istimewa! Mari kita sambut aksi dari Klub Musik!", seru Yzak sembari megacungkan tangan ke atas membuat suasana tambah memanas. Kembali riuh sorak sorai terdengar. Bersamaan dengan itu, tirai panggung mulai terbuka. Tampak tiga cewek telah bersiap di posisi masing-masing dengan mantapnya.

"Selamat siang semua! Senang bertemu kalian!", sapa Luna yang berdiri paling depan. Dan tidak ingin berlama-lama membuat para penonton menunggu, ia segera memberi tanda kepada Flay dan Stellar. Pertanda musik dimulai!

Stellar lekas menabuh drum dengan tempo lumayan cepat yang langsung disambut intro dari gitar Luna. Kemudian disusul nada dari bass Flay menyempurnakan kombinasi trio gadis ini. Teriakan-teriakan tidak henti-hentinya terdengar dari manusia-manusia di sana, terutama para murid baru.

"Ah, lagu ini ya? Ehmm.. Lagunya siapa ya? Kayaknya pernah dengar?", Lacus berusaha memutar otak mengingat-ingat dengan keras. Sedangkan Athrun yang duduk disebelahnya tetap memusatkan matanya pada komik di tangannya. Kali ini ia membawa komik K-ON dan Beck. Bacaan yang menurutnya pas banget di tengah-tengah konser seperti sekarang.

"Kau ini gimana sih? Ini 'kan lagu Smilife-nya Stereopony..", jelas Athrun..

Eh..bukannya senang, si Lacus malah mencak-mencak. "A..Athrun! Jangan nganggu orang lagi mikir dong! Aku hampir tahu kalau itu lagunya Stereopony! Argghh!". Lacus yang biasanya kalem ternyata bisa juga kesal sambil marah-marah geje cuma karena celotehan Athrun. Tangannya pun refleks mencubit lengan cowok berambut biru tadi.

"Aduh duh.. Jangan main kekerasan. Kau kesini mau nonton band atau menganiayaku sih?", sahut Athrun.

"Ya ampun. Coba ngaca dong. Kau sendiri kesini mau nonton band atau baca komik sih?", balas Lacus dengan balik bertanya. Ia semakin terheran-heran saja dengan ketua klub buku itu yang selalu saja membawa komik kemana pun berada. Bahkan bau bajunya sampai seperti cover Shonen JUMP.

Lagu Smilife yang dinyanyikan Luna cs. semakin memanas. Suara drum yang menggebu-gebu membangkitkan gairah orang-orang di aula besar itu. Tak terkecuali Cagalli yang baru saja masuk ke sana. "Oh, sudah mulai, sudah mulai!", ujar Cagalli menunjuk-nunjuk ke atas panggung. Di belakangnya Kira berjalan perlahan sebelum berhenti di agak di belakang peserta MOS.

"Hmm.. Banyak wajah-wajah baru disini. Gadis-gadis kelas satu lumayan juga..", bukannya fokus ke konser, Kira langsung memainkan matanya melihat-lihat pemandangan segar. Jiwanya yang doyan mencari dan menaklukan kaum hawa semakin menyala-nyala. Sebelum akhirnya diredupkan oleh colokan jari Cagalli ke matanya!

"AH! SHIT! DAMN! DAMN! Aw.. mataku..mataku..!", rintih Kira berguling-guling di lantai sambil menutupi wajah dengan kedua tangan. Gaya dan sikapnya yang cool kalau bertemu cewek pun sirna sesaat merasakan rasa sakit luar biasa itu. "Makanya, jangan suka melototi cewek melulu! Dasar mesum!", seru Cagalli memasang muka sewotnya.

"Cih! Siapa yang mesum! Aku cuma lihat-lihat doang!", jawab Kira membela diri sendiri. Ia berusaha bangkit dan membuka mata perlahan demi perlahan. Perihnya minta ampun colokan si Cagalli itu.

"Memang! Pertama kau hanya lihat-lihat! Lalu lama-lama nggombal! Akhirnya pasti mesum!", giliran Cagalli yang mengeluarkan uneg-unegnya.

"Kau ini! Bisa nggak bicara lebih halus pada kakakmu sendiri.", ucap Kira berusaha menggunakan alasan umur sebagai keuntungannya. Yang sudah barang tentu ditolak mentah-mentah Cagalli. "HAH? Kakak? Aku yang lebih tua, tahu!", gadis berambut pirang tersebut tidak terima dengan omongan Kira. Tangannya makin mengepal di muka cowok playboy itu dan sewaktu-waktu bisa berlabuh di muka Kira kapan saja.

"Heh? Aku yang lebih tua!".

"WHAT? Akulah yang lebih tua!".

"Aku!".

"Aku!".

Kedua anak kembar tadi malah sibuk sendiri. Walau tidak ada orang lain yang peduli dengan polah mereka. Mengingat penampilan Luna dan kawan-kawan lebih menarik perhatian para murid lain di sana.

Tonight bokura wa koe kakeru made kono oka de utai tsuduke

Ippo ippo kakujitsu ni fumishimeta

Hitotsu hitotsu kimi to nori koeta

Koko kara mieru keshiki kimi to miru utame koko made kita

Lantunan lirik di bagian reff tersebut semakin membuat semangat menjadi-jadi. Banyak pelajar di sana yang langsung berjingkrak-jingkrak mengikuti irama dari atas panggung. "Yeah! Yeah!", teriak Dearka dan Sting sembari berjoget ria yang dari tadi berada di baris paling depan. Tidak memedulikan kiri kanan yang acap kali kena senggol tangan dan siku. "Dasar idiot..!", cela Miriallia yang mengawasi keduanya agak jauh di belakang. Dia memilih tidak menghabiskan tenaganya percuma-cuma dan memilih duduk manis di kursi pojok bareng Lacus dan Athrun. "Lho.. Athrun nggak ikut-ikutan Sting dan Dearka?", tanyanya menyadari Athrun yang sibuk membolak-balik halaman komik.

"Mir, kalau Athrun sih nggak usah ditanya.. Dia tidak perlu joget kesana untuk jadi idiot..", sahut Lacus mendesah panjang. Miriallia pun cukup mengangguk pertanda paham. Bener juga sih, orang seperti Athrun lebih memilih menghabiskan waktu berfantasi dengan komik-komiknya daripada menggoyangkan tubuhnya seperti Dearka.

"Haha.. Tak kusangka gadis baik hati sepertimu tega menghina orang lain..", kini muncul lagi sosok yang mendekati ketiga manusia itu. Dan ternyata..

"Ki..Kira..!", ujar Lacus spontan menyadari siapa yang datang. Langsung saja dipalingkan wajahnya dari idola cewek sesekolah itu. Ia tak mau Kira melihat mukanya yang memerah tiba-tiba.

"Apa yang kau lakukan? Jangan menakut-nakuti Lacus dong!",seru Cagalli yang juga muncul dan langsung meremas erat bahu Kira. Kembarannya tersebut hanya membalas dengan tatapan jengkelnya dan cepat-cepat duduk di dekat Athrun.

"Heh, Athrun. Cagalli mencarimu lho. Katanya dia kangen banget..", celoteh Kira pada Athrun yang serta merta langsung disambut siulan Mir dan raut penasaran Lacus. "Apa benar, Cags?", tanya Lacus menatap gadis pirang yang masih berdiri dengan mulut menganga. Kaget juga Cagalli bagai disambar petir di siang bolong!

"A..APAA YANG KAU KATAKAN, KIRA? BOHONG! BOHONG! SI PLAYBOY MESUM INI BOHONG!", teriak Cagalli yang tanpa ampun menampar-nampar wajah Kira dengan sekuat tenaga. "AWW! AWW! AWW!", Kira tidak bisa berkutik lagi dan hanya mampu meringis kesakitan tiap kali tangan Cagalli mampir di wajahnya.

"Jangan percaya dia, Lacus, Mir! Kira ini pembohong! Athrun, jangan percaya omongan Kira tadi!", ucap Cagalli seraya mengibas-ibaskan berusaha menjelaskan pada yang lainnya.

"Benarkah?", eh.. bukannya langsung percaya omongan Cagalli, Miriallia malah makin tertarik saja dengan topik satu ini. Hitung-hitung buat mengisi majalah sekolah ZAFTzine. "Bener! Kira tadi bohong. Dan aku nggak punya rasa apa-apa sama Athrun..", timpal Cagalli memberi tanda 'peace' dengan kedua tangannya.

"Athun, Cagalli bohong kok. Lihat saja wajahnya sampai memerah begitu..", goda Kira lagi yang ternyata masih hidup setelah berkali-kali digampar Cagalli.

"Si..Siapa yang wajahnya memerah! Wajahmu itulah yang memerah!", balas Cagalli seraya menodongkan telunjuknya ke hidung Kira. "Aku memerah gara-gara tangan besimu, mak lampir!", timpal si playboy ketus.

Tak berapa lama, Kira memandang sejenak ke arah Athrun. Benar juga.. selama keributan geje tadi bocah satu ini bahkan belum memberikan komentar apa pun. "Hei.. Athrun, serius sekali bacanya..", ujar Kira penasaran komik apa yang tengah dilahap Athrun kali ini. "Hei.. Athrun.. Kali ini baca komik apa?", tanya Kira lagi. Namun, tidak ada jawaban dari cowok di sebelahnya. Membuat Kira jadi jengah juga.

"Hei..Athrun.. Athrun!", teriak Kira dengan menjambak-jambak rambut temannya itu. Nah, barulah Athrun menengok ke arahnya. "Gimana sih.. Dipanggil-panggil baru menoleh sekarang..", tukas Kira.

Athrun menghela nafas sejenak. Diamatinya sekeliling yang semakin ramai saja. "Oh.. Kira, Cagalli, dan Mir ya... Sejak kapan kalian ada di sini?", kata cowok berambut biru itu tanpa rasa berdosa sedikit pun... Ya ampun, si Athrun bahkan baru sadar kalau ada tambahan teman di sana...

"WHAAT! Jadi kau baru tahu kami ada di sini? Memangnya kemana saja kau?", sahut Cagalli yang heran keberadaannya dan Kira tidak dihiraukan sejak tadi.

"Ah, maaf, maaf. Aku tadi sedang konsentrasi penuh memasuki dunia BECK. Hebat, kan?".

"Hebat, kepalamu! Mana ada orang yang bisa nggak tahu kehadiran orang lain gara-gara baca komik! Padahal kami dari tadi ngomongnya sampai teriak-teriak, masa' nggak kedengeran?", timpal Miriallia ikut-ikutan sewot meladeni penggemar komik satu ini.

"Dasar, manga-mania! Hentikanlah kebiasaan burukmu melototi komik setiap hari..", nasihat Kira sok bijak.

"Kau juga sama, kan? Hentikanlah kebiasaan burukmu melototi gadis setiap hari..", balas Athrun balik memberi pencerahan pada teman yang duduk di sebelah kirinya tersebut. Sementara Cagalli, Lacus, dan Mir hanya memasang ekspresi sweatdrop mendengar dua orang maniak super idiot saling bertukar nasihat..

Goodnight kyou kara asu wo shinjita

Bokura kara yobi kakeru

Ituka kitto kanarazu tadori tsukeru yo

Doko mademo kimi to nara yukeru

Sou itsumo ookina egao bokura wa yuku

Kombinasi instrumen yang dimainkan dengan apik oleh Luna dan kawan-kawan mengakhiri lagu energik ini. Langsung disambut gegap gempita dan tepuk tangan meriah seluruh hadirin di sana, terutama kelas satu yang banyak terpana dengan penampilan memukau ini.

"La..lagunya selesai...", ucap Cagalli kehilangan setengah semangatnya. Gara-gara ribut dan ngobrol sendiri tadi, ia jadi tidak terlalu memerhatikan penampilan ketiga temannya di atas.

"Cih! Padahal sudah lama nggak dengar Luna nyanyi..", imbuh Kira yang juga sama kecewanya dengan kembarannya itu. "Gara-gara kalian rame geje sih..", tambah Mir.

Tidak ingin melewatkan penampilan Luna cs. selanjutnya, anak-anak 3-B itu pun langsung duduk manis di kursi panjang dengan tenang. Meski harus berdesak-desakan juga. "Jangan rame lagi. Aku ke sini mau nonton mereka nge-band..", kata Cagalli yang disetujui anggukan kepala oleh Kira. Ya.. ya.. lebih baik diam dan tenang mendengarkan musik daripada ribut yang nggak ada gunanya…

Perhatian sepenuhnya ditujukan di atas panggung. Selesai lagu pertama, Luna menyempatkan diri menyapa murid-murid baru di sana. "Sekali lagi.. selamat siang semua! Sebelumnya kami ingin mengucapkan selamat kepada para siswa baru yang berhasil diterima di ZAFT High School.". Sambutan yang tentunya segera mendapat aplaus meriah dari anak-anak kelas satu.

"Perkenalkan.. kami Luna Band dari Klub Musik. Siap memberikan suguhan lagu-lagu yang berkualitas dan enak didengar. Namaku Lunamaria Hawke..", ujarnya seraya mengusap keningnya yang berkeringat.

"Di bassis ada Flay Allster.". Flay langsung saja berjalan agak maju dan melambai-lambaikan tangan pada penonton setelah diperkenalkan Luna. "HAI ! HAI ! SENANG BERJUMPA KALIAN!", celoteh Flay terlalu keras di depan microphone sehinga menimbulkan suara berdenging. Luna pun segera memberinya tatapan 'jangan-memalukan-klub-musik' kepadanya.

"Sementara di belakang sana, ada Stellar Loussier sebagai drummer.", serunya seraya menunjuk ke belakang dan meminta Stellar ke depan. Sang penabuh drum tadi lekas ke depan dan memberi senyuman dan salam hangatnya kepada hadirin di sana. Sontak saja langsung disambut riuh dan siulan terutama dari para cowok.

"Lihat! Dia manis bangeett!".

"Hmm..Bener juga.". Pujian-pujian tak henti-hentinya diberikan kepada Luna Band, terutama Stellar yang baru saja nongol ke depan dan menyapa. Tidak disangka, dengan cepat ia bisa mendapatkan banyak penggemar baru dari adik-adik kelas baru.

"Wah..wah! Stellar memang hebat. Belum-belum sudah nambah fans-nya.", kagum Cagalli setengah tidak percaya. "Yach.. Gadis polos dan baik hati seperti dia memang mudah memikat banyak orang.", Mir memberi analisis gaya jurnalistiknya. "Selain itu Stellar juga anak orang kaya raya lagi. Benar-benar sempurna..", tambah Lacus tidak mau ketinggalan.

"Ya.. cewek yang sangat sempurna. Bahkan Kira yang playboy pun tidak mampu menaklukan Stellar.", cetus Cagalli seraya melirik ke arah Kira dengan mata mengejek.

"Jangan salah paham. Dulu 'kan waktu kelas satu Stellar pernah kuajak kencan, tapi aku malah diajar sama para bodyguard kiriman keluarganya yang super protektif. Terus lagi di sekolah sampai ditonjok berkali-kali sama anggota sekte Stellar Fans Club..", jelas Kira mengenang kegagalan masa lalu yang memalukan martabatnya sebagai playboy.

Kembali ke panggung, setelah memperkenalkan anggota dari band, Luna pun memberi penjelasan mengenai apa itu Klub Musik. Dengan begitu, ia berharap bisa mendapatkan anggota baru tahun ini, terutama dari kelas satu. Dan di saat Luna tengah asyik memberi informasi, sang seteru abadi, siapa lagi kalau bukan Shinn masuk juga ke aula.

"Cih, ramai banget.", komentar Shinn seraya mengamati sekitar. Lalu didapatinya Kira dan yang lain juga berada di ruangan indoor tersebut. Ia pun memilih bergabung dengan mereka. "Oh, Shinn.. Kesini juga ya.", tukas Kira menyadari siapa yang berdiri di belakangnya.

"Lho, kamu nggak latihan sepak bola?", tanya Lacus penasaran.

"Masih latihan sih. Tapi males.. Jadinya cuma anggota-anggota lain yang kusuruh latihan.", katanya. Sungguh tindakan seorang kapten yang tidak bertanggungjawab. Seenaknya sendiri pergi ke sana kemari. Heh.. Tapi memang sudah wataknya Shinn sih..

"Kau ini.. Benar-benar memberi contoh buruk bagi anak buahmu. Mana semangatmu bermain bola?", sindir Kira kepada sesama kapten. Shinn hanya mendengus saja. "Aku 'kan bukan Captain Tsubasa..". Ia lalu meminta Kira agak geser sedikit agar ia bisa duduk juga. Namun percuma saja, kursinya sudah penuh. Jadinya ia terpaksa terus berdiri deh.

"Shinn, kenapa kakimu itu? Jalanmu seperti orang pincang..", Miriallia mendapati langkah Shinn yang agak tertatih-tatih tadi. Yang lain pun mencermati kaki Shinn dengan seksama. "Benar. Saat jalan tadi agak aneh lho..", ucap Lacus.

"Anu…sebenarnya tadi saat aku sedang bersantai di lapangan, tiba-tiba ada gorilla betina yang lepas dari kebun binatang. Dan dengan membabi buta menendang kakiku tanpa ampun.", jelas Shinn memberikan perumpaan yang terlalu ekstrem.

"Go..gorilla betina? Di sekolah kita.. gawat nih. Kita harus melaporkannya pada pihak keamanan!", seru Lacus panik dengan menoleh ke kiri kanan kalau-kalau makhluk buas itu ada di sekitarnya.

"Tenang, Lacus. Tidak usah dicari kok. Lagipula gorilla itu sekarang sedang manggung..", tukas Shinn menunjuk ke arah panggung. Lebih tepatnya ke arah Luna.

"Argh! Kejam sekali kau menyamakan Luna dengan binatang!", sahut Cagalli yang turut merasa tidak terima teman wanitanya itu dihina oleh si cowok bermata ruby.

"Hei, Shinn. Jangan suka membandingkan Luna sama hewan. Kau hanya akan membuat baboon kuning ini ikut-ikutan marah..", kata Kira mengacungkan jari ke muka Cagalli.

"WHAATT! Siapa yang kau panggil baboon kuning? Lagian ngapain kau malah mengejekku?", teriak Cagalli penuh amarah pada kembarannya tadi. Matanya melotot urat-urat nampak di wajahnya. Dan lagi-lagi kedua kakak beradik itu saling adu jambak dan menghancurkan wajah yang lain.

"Oi..oi.. Kenapa kalian malah ribut sendiri sih.. Konsentrasilah ke panggung.", pinta Athrun yang akhirnya bicara juga. Komik-komik bacaannya tadi sudah ia masukkan ke dalam tas. Dan kini lebih memilih mendengarkan konser dulu.

Shinn pun tidak mau lagi ikut dalam omongan kecil yang bisa menyulut pertarungan konyol dan geje. Matanya lebih fokus melihat trio cewek yang tengah memberikan penjelasan tentang Klub Musik. Terutama pada sang gitaris dan juga vokalis, Luna. "Dia benar-benar beda kalau di atas panggung..", batin Shinn. Wajah gadis berambut magenta itu jadi lebih ramah dan cerah. Berbanding terbalik jika ketemu dengan Shinn. Maunya pasti sewot melulu. Ucapan-ucapan Luna pada penonton juga lebih sopan dan suara yang lembut. Tidaklah sama saat ngobrol dengan Shinn yang seringkali kasar dan mudah marah. Sorot matanya lebih bersahabat, jauh dari kesan menyebalkan yang sering ia temui. Luna yang dilihatnya kali ini benar-benar lebih…..

"ARGH! A..Apa yang kubayangkan sih? Itu pasti cuma aktingnya saja..", pikir Shinn kembali seraya menggeleng-gelengkan kepala. Mencoba mencari berbagai alasan untuk memunculkan lagi sosok Luna yang sombong dan menyebalkan sesuai gambaran asli.

"Ya..ya.. benar. Dia hanya ingin mendapatkan banyak anggota. Makanya pasang muka sok manis begitu.. Cih, seandainya pengikut MOS tahu sifatnya yang lebih kejam dari iblis..", TING! Otak Shinn yang biasanya penuh sarang laba-laba kini tiba-tiba muncul lampu terang benderang. Ide cemerlang ia dapatkan nih. "Benar juga. Kenapa nggak kubuat kacau saja konsernya. He..he..", gumamnya memberi senyuman setan meski dengan wajah yang nggak banget..

Shinn tidak ingin membuang waktu, segera pergi keluar aula. "Lho.. Shinn, mau kemana?", tanya Mir yang paling senang bertanya urusan orang lain. "Ke kamar mandi sebentar..", balasnya melambai-lambaikan tangan pada teman-temannya. Yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Kira maupun yang lain. Bagus deh, dengan begini rencananya Shinn bisa berjalan lebih lancar. Hitung-hitung juga buat balas dendam pada Luna yang telah membuat kakinya nyut-nyutan tak karuan.

Di panggung, begitu merasa penjelasan mengenai Klub Musik sudah cukup banyak dan ditambah waktu dari panitia semakin menyempit, Luna pun memberi tanda pada Stellar serta Flay untuk menyiapkan diri. "Baiklah semuanya. Ini lagu kedua sekaligus terakhir hari ini. Jika penasaran dan ingin tahu tentang Klub Musik lebih jauh, datanglah ke markas klub di lantai dua. Kami akan menyambut kalian dengan tangan terbuka!".

"One! Two! Three!", dari belakang Stellar memberi ketukan untuk mulai masuk ke dalam lagu. Dan langsung disambut oleh melodi gitar Luna dan bass Flay. Temponya tidak secepat lagu sebelumnya. Lebih santai dan nyaman di telinga.

There are times when your love is not returned

Even if you love someone to death

There are times when your dream doesn't come true

Even if you wish with all your heart

I am flying low, almost past the limit

But my destination still far away

What should I do now?

Suara Luna yang jernih menyihir indera pendengaran para audiens. Ditambah lagi begitu seirama dan serasinya setiap alat musik yang mereka mainkan, memberikan backsong yang pas menemani tiap kata yang gadis berambut magenta itu lantunkan.

"Seperti biasa, suara Luna membuat hatiku tenang saja.", puji Kira yang terlihat menikmati dan menghayati lagu kedua ini. Sementara Cagalli dan Mir pun turut memainkan kakinya mengikuti irama. Lacus sendiri asyik mengikuti gaya Luna memainkan kunci-kunci gitar. Sekalian coba-coba belajar gitar tanpa gitar. Tak ketinggalan Athrun yang tadi duduk bak pertapa kini malah sudah ada di depan panggung. Ikut-ikutan menggila di sana bersama Sting, Dearka, dan anak-anak penuh polah lain. "Nah, Athrun bisa juga hidup tanpa komik selama 10 menit..", kata Cagalli mengamati cowok berambut biru itu meski hanya sekejap mata saja.

Why, why, why do I keep reaching out my hands

Even though I want to give up?

Saat reff, keramaian semakin pecah lagi. Apalagi dengan nada Luna yang meninggi dan sedikit melengking, tapi tidak mengurangi kehalusan suaranya. Band satu ini memang tahu benar memberikan performa terbaik saat manggung.

I know that a single comet can't save me

But I still open my window anyway

Cathing a tailwind, I fly higher, to place beyond gravity

I can no longer go back

"Mantaapp, Luna Band! Lanjutkan!", seru Dearka yang semakin menjadi-jadi menggoyangkan tubuhnya. Membuat Sting dan Athrun sedikit was-was karena tangan jahil Dearka bisa saja mendarat di muka mereka.

Further, further, beyond consciousness

I leave behind a long trail of blue light

My creaking body holds on to hope

Ah, I sing a song…

PETT! Belum sempat lagu selesai, suara-suara histeris terdengar kembali. Tapi kali ini bukan karena aksi Luna Band di panggung. Suara Luna yang indah tadi pun tiba-tiba menghilang, atau setidaknya menjadi lebih sulit didengar terutama dari jauh. Gitar dan bass pun kehilangan genjrengan serunya. Hanya sedikit suara drum Stellar yang masih bisa didengar. Lebih parah lagi, kondisi di aula sekolah telah berubah menjadi gelap. Hitam pekat.

"Hah? Kenapa nih? Mati lampu ya?", keluh Dearka melihat kiri kanan yang menjadi samar-samar. Meraba-raba sekitar dan membuat tangannya tak sengaja mengutak-atik wajah Sting menjadi tambah buruk. "Hei! Ini kepala orang,tahu! Jangan asal cengkeram dong!", protes lelaki berambut hijau tersebut.

"KYAA!", jerit Lacus ketakutan di tempat gelap seperti itu. Tidak ingin jatuh dan diinjak-injak orang lain, Lacus pun mendekat rapat-rapat ke arah Cagalli dan memegang erat lengannya. "Cag, aku takut nih..", pekiknya gemetaran.

"Haha? Apa yang kau lakukan, Lacus? Aku disini, tau..", komentar Cagalli.. yang ternyata malah berdiri tegak di sebelah kanannya bersama Mir. "EEHH?", tentu saja itu membuat gadis berambut pink panjang tersebut kaget. Kalau si Cagalli di sana, berarti yang sedang ia pegang lengannya..

"KI..KIRA!", jeritnya lagi setengah tak percaya. Sejak kapan Kira bisa berada di sebelah kirinya? Padahal sepertinya tadi Cagalli yang berada di tempat itu. Buru-buru Lacus melepaskan cengkeramnnya yang melekat erat di tangan Kira. "Ma…maaf..", ujar Lacus sedikit malu-malu dengan wajah yang mulai memerah lagi. Beruntung saja keadaan di sana lumayan gelap, jadi orang lain tidak sampai mengetahuinya.

"Hahaha.. Tenang saja, Lacus. Tidak perlu minta maaf seperti itu, OK? Aku sudah biasa menjadi tempat sandaran para gadis di saat mereka mengalami masalah..", jelas Kira sekalian menggombal. Tidak peduli listrik hidup maupun mati, keahliannya dalam menggoda cewek tidak akan pernah padam.

"SERANGAN MAUT!", tanpa peringatan apa pun Cagalli melakukan invasi besar-besaran ke mata Kira. CLEP! Damage 100% pun lagi-lagi harus diterima sang playboy. "AH! DAMN! Kenapa kau mencolok mataku lagi?", seru Kira pada Cagalli sembari meraba-raba mukanya berharap matanya tidak lepas dari sana.

"Hah! Jariku ini sudah akrab dengan matamu. Ia akan bereaksi otomatis mencolok penglihatanmu begitu ada gombalan gak jelasmu yang membahayakan itu.."…

Listrik masih belum saja hidup. Dan penampilan Luna Band terhenti sejenak. Dan Kira kembali harus meringis kesakitan lagi. Shinn pun kini telah berada di aula lagi. Bergabung bersama Lacus dan kawan-kawan. "Oi..Shinn. Tumben ke kamar mandi lama banget..", komentar Cagalli yang langsung mengajak ngobrol Shinn. Tidak memedulikan Kira yang sibuk menutupi wajahnya dan menahan rasa perih teramat sangat. Cowok berambut hitam pekat diam sejenak. Tidak menjawab dengan perkataan, namun hanya dengan tawa kecil penuh kepuasan. Tentunya membuat Cagalli, Lacus, dan Mir bertanya-tanya.

"Ngapain kau tertawa sendiri, Shinn?".

"Ah, tidak apa-apa kok. Aku hanya merasa senang saja.", balas Shinn setelah menghentikan tawanya. "Senang? Memangnya kau menang undian berhadiah?", tanya Cagalli. Shinn menggeleng," Bukan..bukan itu. Nah, kalian lihat cewek galak dan sombong di sana? Dia sepertinya tidak bisa apa-apa saat lampu padam..", tukas Shinn menuding ke arah Luna.

"Memang benar, sih. Tapi kalau listriknya mati gini, mau gimana lagi?". Kira yang merasa mendingan dan bisa melihat kini memalingkan wajah ke cowok yang baru datang. Perasaannya jadi gak enak.. Sepertinya Shinn telah melakukan sesuatu yang aneh-aneh..

"Shinn… Jangan-jangan.. kau yang mematikan listriknya?", tanya Kira yang membuat kaget Cagalli dan dua cewek di dekatnya. "Mana mungkin sih? Siapa orang gila yang berani melakukan itu?", celoteh Cagalli merasa tidak yakin jika si kapten sepak bola jadi pelakunya.

"Ya. Memang aku yang jadi mematikannya..", balas Shinn santai. Jujur. Jujur banget. Ia pun juga menunjukkan sebuah kunci. Jelas sekali itu merupakan kunci ruangan elektronik di sebelah aula, di mana sekeringnya berada. Dan jelas sekali setelah Shinn mematikan sekering itu, ia pun 'menyegel' pintu rapat-rapat dan membawa kunci bersamanya. Entah bagaimana bocah satu ini bisa mendapatkan kunci dan gemboknya. Jelas sekarang panitia pasti sibuk serta kesulitan mencari-cari kunci itu.

"A..APA? Kau sudah gila, ya? Kau menggali kuburanmu sendiri, Shinn. Jika tahu, Luna pasti mencincangmu sampai sekecil bola bekel!", cela Kira merasa kaget sekaligus takjub dengan aksi Shinn yang berani berada di garis depan. Mengacaukan kegiatan Luna berarti sama saja menantang perang Zaraki Kenpachi sang kapten divisi 11 ..

"Tenang saja. Itu jika dia tahu. Hehe.. Dia tidak akan menyadarinya secepat itu. Sebelum itu, aku sudah pergi dari sini.", kata Shinn penuh percaya diri. Yakin bahwa Luna nggak bakal mengetahui biang kerok kekisruhan ini dalam waktu dekat.

"Oh ya? Tapi aku baru saja mengirimi Luna sms. Menceritakan semua kebodohan dan tingkah idiotmu..".

Bak disambar geledek, Shinn cuma bisa mengekspresikan diri dengan mulut menganga. Aksi Cagalli yang cepat membuat rencananya bisa tidak sempurna nih. Rencana Shinn ada dua. Satu, mengacaukan konser Luna. Dua, lekas menyelamatkan diri dan pergi sebelum dihajar Luna.

"K..Kau gila ya! Aku bisa mati nih! Ngapain sms Luna segala!", komplain Shinn pada Cagalli. Cih, sepertinya Shinn tadi terlalu banyak bicara sih. Seharusnya ia tidak perlu ngomong kalau dirinya-lah si tersangka. Ia sempat berpikir kenapa tadi tidak pergi saja dan menjauh dari aula. Dalam keadaan seperti itu, Shinn mencoba pergi saja dari sana.

"Well. dimana gayamu yang sok keren dan santai tadi..", ejek Cagalli memberi tatapan jahil pada Shinn yang kini berlumuran keringat dingin.

"Oi..oi.. Mau kemana kau Shinn?", tampak Kira menghadang laju Shinn dan menahan tubuhnya.

"Kira? Kau ada di pihak mana sih..", ucap Shinn tidak menyangka si Kira bakalan bersekutu juga dengan Cagalli. Padahal, ia mengira Kira itu teman seperjahilannya. Shinn berusaha memberontak, tapi apa dikata, kakinya yang masih tertatih-tatih tadi membuat usahanya sia-sia belaka.

"Shut up, Shinn. Bukannya aku nggak suka aksimu. Tapi kadang kau terlalu jahil sama Luna. Jika aku membiarkanmu kabur sekarang, sudah jelas Cagalli dan Luna pun bakalan membantaiku..", jelas Kira yang ternyata mencari aman sendiri dengan mengorbankan Shinn.

"…..", Shinn sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Rencana balas dendamnya yang beberapa menit lalu seharusnya mulus kini malah jadi kacau balau. Dan lebih parah lagi, Luna bisa-bisa mengamuk sekarang dan Cagalli juga ikut-ikutan cari kesempatan mengeroyok Shinn.

"Luna-chan, bagaimana ini?", di panggung, Stellar tampak agak kebingungan dengan suasana saat ini. Jika seperti ini, tidak ada alat musik yang bisa digunakan, kecuali drum saja yang pastinya nggak banget. Belum sempat menjawab, Luna keburu merasakan getaran dari saku. Ternyata ada pesan masuk. Siapa lagi kalau bukan Cagalli lagi. "Cagalli? Ada apa dia sms sekarang?", pikirnya sembari membuka pesan..

Tebak! Ternyata si idiot Shinn yang mematikan sekeringnya! Dia benar-benar serius mau mengacaukan konser kalian. Well, setidaknya sekarang ia berhasil kami tahan. Ayo hajar sama-sama..! -_-

GLEK! Luna benar-benar geram sekarang. Ulah Shinn-lah yang membuat rencananya tampil sempurna jadi berantakan. Tangannya sampai-sampai tidak bisa berhenti bergetar karena saking sebalnya. "Si sialan itu! Apa dia belum pernah dipanggang hidup-hidup?", batin Luna. Gadis berambut magenta memainkan bola mata, melihat agak jauh, dan akhirnya ditemukannya beberapa sosok yang ia kenal. Walau agak gelap, tapi ia bisa tahu dari polah dan gaya mereka, dan yang jelas Shinn juga berada di sana. "Ekk.. Aku merasakan hawa pembunuh yang luar biasa..", ujar Shinn mulai merasa tidak enak. Dan benar saja, dari atas panggung ia bisa melihat Luna yang tengah memberinya deathglare pamungkas.

Luna ingin sekali melompat dari panggung dan mendaratkan kakinya di muka Shinn. Namun, ia sadar tidak mungkin bertingkah sembrono dan kesetanan begitu saja. Setidaknya sampai acara ini selesai. "Tenang Luna. Tenangkan dirimu. Jangan memberikan citra buruk kepada anak kelas satu ini..", batinnya menenangkan diri sendiri. Tentu saja ia tidak mau kehilangan calon-calon anggota baru Klub Musik. Ia harus bersabar dan menahan diri untuk mematahkan hidung Shinn beberapa saat saja. Tapi di saat listrik padam seperti ini, apa yang bisa band miliknya lakukan?

"Oh! Benar juga..", CLING! Luna mendapatkan ide segar. Ide yang seharusnya sudah dipikirkannya dari tadi. "Flay, tolong ambilkan itu", pintanya pada sang bassis dengan menunjuk ke sebuah benda di pojok belakang panggung. Yang ternyata adalah sebuah gitar.. gitar akustik.

"Hah? Ka..kau mau main akustikan?", tanya Flay setengah berbisik pada Luna.

"Tentu saja. Jangan membuat penonton menunggu lagi. Berikan apa yang kita bisa..". Flay mengangguk. Benar juga kata leader-nya. Daripada geje nggak melakukan apa pun, lebih baik membiarkan Luna genjrengan saja. "Nih..", seru Flay memberikan gitar akustik yang baru saja ia ambil.

"Tapi, Luna-chan. 'Kan nggak ada microphone? Apa nanti suaramu kedengeran semua orang?", imbuh Stellar yang sedikit khawatir.

"Tenang saja. Aku bisa nyanyi lebih keras kok.", balas Luna penuh optimisme.

"Okelah. Kalau gitu kami serahkan sisanya padamu. Aku dan Stellar nonton aja deh..", timpal Flay kemudian pergi ke pojok panggung bersama Stellar. Luna mengangguk. "Masa depan Klub Musik ada di tanganku!", pikirnya berapi-api bagai sedang perang melawan penjajah.

Luna mengawali permainan gitarnya secara perlahan. Namun, secara perlahan tapi pasti juga, ia berhasil mengambil kembali perhatian para penonton di sana yang mulai ribut sendiri. "Ah! Dengar..dengar.. sepertinya Luna memainkan lagu versi akustik..", seru Dearka dan Sting yang memang paling semangat dalam kegiatan non-akademik macam ini.

"Lihat dan dengar itu. Sepertinya Luna menyanyi lagi!", dari belakang Cagalli pun juga mulai mendengar kembali suara Luna. Sayup-sayup pada awalnya, tapi semakin lama suasana di sana menjadi lebih tenang, dan suara Luna pun terdengar jelas. Semua tampak menikmati, meski hanya dengan penerangan dari pintu utama yang sedikit dibuka untuk membiarkan cahaya masuk..

I have forgotten little box hidden under my bed

A sliver box filled with special treasures

Since then, always..

Why, why, why do I keep reaching out my hands

Even though I want to give up?

Unable to contain my deep secret

Ah, I sing a song

Further, further, beyond consciousness

I leave behind a long trail of blue light

I dream inside a dream

Save me, me

Give me, me freedom

Give me, me a miracle

Begitu Luna memberikan genjrengan terakhir, tepuk tangan meriah spontan diberikan oleh orang-orang. Keramaian yang sempat terhenti oleh suara Luna yang menyihir kini muncul kembali. OK!OK! Good job, Luna Band!", salut Sting dengan aksi menawan mereka, terutama Luna yang bermain solo tadi.

"Wah, seperti cerita di komik-komik saja..", komentar Athrun.

"Aplaus-nya heboh banget!", kata Mir yang kini jadi sibuk mendokementasikan suasana di aula dengan camdig yang selalu dibawanya pergi. Tak heran sering muncul blitz-blitz tak terduga dari kamera Mir.

"Nah, Shinn. Sepertinya rencana idiotmu malah membuat Luna tambah populer..", Cagalli terlihat tersenyum penuh kemenangan di depan wajah Shinn, yang sekarang malah melongo tidak percaya apa yang terjadi.

"Ke…kenapa malah begini!", timpal Shinn lesu. Rencanya menjatuhkan Luna malah membuat gadis itu terbang semakin tinggi saja. "Menyebalkan! Curang nih! Padahal setiap rencanya sadisnya padaku selalu sukses..", ratap Shinn mengingat-ngingat kembali beribu-ribu keapesan kreasi Luna untuknya. Sepertinya dewi fortuna belum mau bernaung di atas Shinn.

"Lho, Shinn. Bukannya tadi kau juga menikmati lagunya juga?", celoteh Cagalli lagi. Langsung saja ditolak mentah-mentah oleh Shinn. "Bah! Mana mungkin aku menikmati lagu gadis sombong itu?".

"Tapi, tadi kuperhatikan.. kau melihat ke arah Luna terus. Bahkan sampai nggak berkedip loh..", celoteh Cagalli diamini sama Kira, Lacus, dan Mir.

"Ma..mana mungkin? Jangan mengada-ada!".

"Ah..ah.. Dasar nih cowok. Ternyata malu ngakuin hal kayak gitu ya..Hahaha..", goda Cagalli lagi. Yang lain pun jadi tak tahan pengen tertawa juga.

"Cih, orang-orang idiot..", gumam Shinn kesal digoda seperti itu terus. Dan beruntung, di saat Kira lengah karena tertawa, ia berhasil melepaskan diri daan kabur tunggang langgang meski agak terpincang-pincang.

"ARRGHH! Dia kabur! Shinn kabur! Kira! Apa yang kau lakukan!", teriak Cagalli menyaksikan santapannya itu sudah pergi melewati pintu utama. Belum sempat Kira membela diri, gadis pirang itu sudah buruan menyerang Kira. Dan tebak.. mencolok matanya! Lagi dan lagi.. Kira terluka..

"DAMN! Aduh..Aduh…Mataku lagi.. Mataku lagi..", lirih Kira berlari tak tentu arah saking perihnya. Ia bahkan yakin matanya sekarang bisa memiliki sharinggan karena saking merahnya. "Sepertinya aku bakalan jadi Kira Uchiha..", keluhnya…

Sore telah menjelang, dan Shinn memulai perjalanan pulangnya. Kali ini sendirian. Tentu saja ia menghindar dari Luna setelah apa yang ia lakukan hari ini. "Harus cepat pulang nih. Keburu ditangkap Luna..", ujarnya pada diri sendiri. Dan setelah merasa jaraknya dengan sekolah lumayan jauh, Shinn melambatkan langkahnya dan sedikit lega.

"Bagus deh. Kalau sekarang sih nggak bakalan ketangkap. Apalagi Luna 'kan pasti sibuk beres-beres…".

"Hai, Shinn Asuka…".

Eh? Ada suara yang memanggil. Suara cewek yang dikenal Shinn. Suara Luna! Cowok bermata ruby itu pun menoleh ke belakang. Dan…kosong. Tidak ada siapa pun di sana. "A..Aneh.. Sepertinya ada suara wanita buas itu..", pikirnya. Ia pun yakin itu hanya halusinasi saja. Membuatnya jadi sedikit bernapas lega. Setidaknya hidupnya bisa aman hari ini. Dan ketika kembali melihat ke depan..

"Hai, Shinn Asuka…". ARGH! Luna! Dilihatnya sosok Luna! Beneran, kali ini bukan mimpi atau halusinasi. Luna ternyata sudah nongol di depannya! Bagaimana ia bisa berada secepat itu di depannya. Jangan-jangan Luna mengambil jalan pintas untuk mencegat Shinn. Wah, sepertinya Shinn kecolongan nih..

"Ha..Hai, juga..Luna..", balas Shinn agak kikuk. Namun Luna belum balik membalas lagi. Dan ada yang aneh pada wajah gadis itu. Mukanya tidak sejutek biasanya. Baru saja disadari oleh Shinn..

Luna… tersenyum..

Luna tersenyum…

Luna tersenyum, berarti…

"ARGH! Ia mau membunuhku!", batin Shinn tak karuan. Keadaan benar-benar super duper gawat bagi cowok bermata ruby itu. Senyuman Luna ini merupakan senyum pencabut nyawa. Diperhatikan lebih seksama lagi, sepertinya Luna pun juga membawa sesuatu di tangannya. Sesuatu yang disembunyikan di belakang tubuhnya..

"ARGH! DIA MEMBAWA GOLOK! Dia beneran mau membunuhku!".

"Nah, Shinn. Pingin tahu nggak kenapa aku bawa golok?", tanya Luna masih dengan wajah tersenyumnya dan perlahan demi perlahan mendekati Shinn.

"Ng.. membunuhku..?", balas Shinn bingung dan bercucuran keringat.

"Salah..", balas Luna singkat sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Mendengarnya Shinn jadi merasa agak tenang, walau percaya tak percaya. "Syukurlah deh.. Kukira kau mau membunuhku..", timpal Shinn.

"Golok ini bukan untuk membunuhmu. Tapi… MENGULITIMU!".

GLEK! Shinn menelan ludah. Ternyata benar! Dari awal Luna pasti marah dan sebal gara-gara insiden mati listrik saat nge-band. Dewi fortuna sepertinya malah memayungi Luna di saat-saat kejam seperti ini, bukan Shinn.

Tidak mau kulitnya hilang. Shinn langsung saja mengambil langkah seribu menjauhi Luna. Tidak peduli dengan kakinya yang cenat-cenut. Sekarang ada yang lebih penting selain mengkhawatirkan lututnya..

"HEYY! KE SINI KAU, SHINN! KURANG AJAR SEKALI KAU MENGGANGGU KONSER KLUB MUSIK!", teriak Luna mengejar Shinn seraya melenyapkan senyumnya tadi dan kini telah berganti dengan muka iblis.

"Oi..Oi.. Bu..bukannya tadi malah sukses.. I..iya 'kan?", teriak Shinn mencoba mencari selamat.

"DIAM KAU! KEMBALI KE SINI, SHINN!".

"Ogah ah! Kembali kau ke alam bawah, jiwa yang terkutuk!".

Luna dan Shinn pun malah jadi melakukan aksi kejar mengejar hingga sampai satu kota dikelilingi berkali-kali. Yang satu ingin selamat, yang satunya ingin menyiksa. Dan dari hal ini, Shinn bisa mendapatkan satu pelajaran berharga. Sebuah kata mutiara bermakna..

Jangan pernah mengacau Luna yang sedang menyanyi jika tidak ingin dikuliti sampai hidup-hidup..


Nah...nah.. chapter 3 selesai.. Btw, untuk songnya tadi, lagu pertama dari Stereopony - Smilife (seperti kata Athrun). Lagunya powerfull banget, apalagi drum-nya. Gila keren abiss. Ditambah lagu vokalnya Aimi yang aduhai.. Lalu lagu kedua itu miliknya Maaya Sakamoto - Eternal Return, tapi versi translate Inggris. Aneh, nyari-nyari yang lirik Jepangnya malah gak nemu..(* ato author yang gak pinter cari di Google ya?*).

Siipp! Semoga bisa membuat para pembaca terhibur ya.. Tunggu lanjutannya.. Please R&R.. Arigatou..