Akhirnya.. setelah hampir setahun kutinggal pergi, fic ini bisa lanjut lagi.. Hiks..Hiks.. Dasar author ini tidak berguna.. Hehehehe... Ya begitulah.. kesibukan yang terjadi selama setahun ini membuat author harus melupakan sejenak dunia fanfic. Sekarang, setelah hari kelulusan sekolah tiba, barulah ingat tentang fic ini... Bener-bener jahat... -_-
Yup.. Pokoknya lanjut aja deh.. Dan selamat kepada diriku sendiri yang telah lulus dari masa sekolah.. Sungguh tahun-tahun yang menyenangkan.. Haihaihai...
Pagi yang indah untuk mengawali kehidupan sekolah. Ah.. Mentari yang menyapa dengan penuh burung-burung kecil yang penuh melodi. Semilir angin pagi yang membelai lembut kulit. Juga langit cerah dengan awan pagi nan indah yang membuat perjalanan ke sekolah terasa menyenangkan..
Tapi semua itu tidak menyenangkan bagi Cagalli. Yee.. mau gimana lagi? Gadis pirang itu terpogoh-pogoh berlari sembari sesekali melihat jam di handphone-nya..
"Sial! Aku bisa terlambat nih!", ketusnya. Ia merasa kesal juga kenapa Kira tidak mau membangunkannya juga. Benar-benar saudara kembar yang menyebalkan...
"Kalo ketemu, awas kau, kembar kampret!", hardik Cagalli yang sudah membayangkan bakalan mengelus-elus wajah Kira dengan panci panas. Cagalli mempercepat langkahnya. Semakin cepat cepat dan cepat. Ia kerahkan segala tenaganya agar bisa berlari bagai Eyeshield 21. Tidak perlu waktu lama, ia telah bisa melihat gerbang sekolah.
Namun ada sosok yang paling dibencinya pada saat seperti ini.. pak penjaga gerbang..
"Tunggu! Tunggu! Jangan tutup dulu gerbangnya!", teriak Cagalli sembari menjulurkan tangannya. Dan usahanya itu pun di dengar oleh penjaga gerbang, tapi setelah gerbangnya tertutup.. Hehe..
"Maaf, Nak. Sekali telat tetap telat..", ucap penjaga gerbang sok berwibawa dengan mengelus-elus kumisnya sendiri. Melihatnya saja membuat Cagalli kesal. Sudah bangun kesiangan, kecapekan lari-lari, dan pada akhirnya terlambat masuk sekolah. Benar-benar pagi yang buruk untuk mengawali hari ini.
"Ayolah, Pak. Biarkan aku masuk. Hari ini ada ulangan MTK nih!", melas Cagalli menggucang-guncangkan gerbang sekolah. Sementara itu penjaga gerbang pun sama sekali tidak bergeming. Walau Cagalli telah bergaya layaknya pengemis yang belum makan tiga hari tiga malam, tetap saja usahanya itu nol besar.
"Maaf, yang terlambat dilarang mengikuti kegiatan belajar mengajar hari ini. Pulang sana"
Cagalli pun sudah bisa membayangkan kena damprat Talia-sensei dan mendapatkan skorsing keesokan harinya.
Aduh-aduh, ia tidak ingin berakhir dimarahi oleh gurunya yang galak itu! Ia pun jadi penasaran bagaimana Luna dulu bisa lolos dari dan masuk ke kelas. Apakah ada jalan lain? Cagalli celingak-celinguk kiri kanan, kemudian pura-pura berjalan gontai menjauh dari gerbang dan penjaga yang tanpa kompromi itu. Sebenarnya, cewek berambut pirang ini sibuk melihat sekeliling sekolah mencari celah yang bisa ia pakai menerobos masuk. Ditatapinya tembok yang begitu tinggi menjulang. Ah, meski hebat olahraga, tidak mungkin cewek sepertinya bisa menaiki tembok tersebut..
"Oh, benar juga!", tiba-tiba Cagalli mendapatkan ide cemerlang. Kenapa ia tidak lewat saja dari belakang sekolah? Di sana memang terdapat sebuah pintu kecil yang bisa ia lewati. Ya.. meskipun jika nantinya pintu itu telah terkunci, ia bisa memanjat dinding gerbang di belakang sekolah yang memang tak terlalu tinggi. Selain itu, ada pohon besar yang bisa ia jadikan tempat pegangan untuk menaiki dinding. Hihihi..
"Ide cemerlang nih!", gumamnya bangga atas otaknya yang bisa berpikir hingga sejauh ini. Maklum lah, Cagalli selama ini belum pernah telat, jadi pengalaman pertama ini sangat menegangkan. Ia pun juga heran, bagaimana Shinn atau Luna yang beberapa kali terlambat bisa melenggang bebas masuk kelas.
"Jangan-jangan para tukang telat suka lewat sini..", ucap Cagalli yang telah sampai di depan pintu belakang sekolah.
Dibukanya pintu... Krek! Krek! Satu dua usahanya sudah dicobanya. Oopss.. Pintunya terkunci..
Yah, terpaksa deh Cagalli mau gak mau harus memanjat dinding. Dipegangnya ranting pohon dengan hati-hati. Membuatnya bisa bergantungan di pohon yang memang memiliki posisi sangat ideal untuk dijadikan pegangan. Salah satu kakinya pun kini telah mantap berada di sebuah lubang di tembok yang bisa dijadikan sandaran.
"Ini seperti panjat tebing saja..".
Meski tidak terlalu tinggi, tapi butuh waktu sekitar 10 menit bagi Cagalli untuk bisa sampai di atas dinding. Dan ia bisa melakukannya dengan baik. Sekarang yang tinggal ia lakukan adalah turun.
Turun..
Turun..
"Ah! Bagaimana aku turun dari sini?", pekiknya penuh kepanikan. Kalau dilihat dari atas, tanah tampak lumayan jauh juga. Apalagi di sisi dalam sekolah tidak ada pohon atau apapun sebagai pegangan. Gadis panik ini Cuma mampu menahan tangannya yang jadi gemetar dan sulit bergerak itu.
"Aduh bagaimana nih? Kayaknya kalau jatuh dari sini sakit nih? Mana di bawah itu konblok semua lagi.."
Di kelas, pelajaran telah berlangsung hampit tiga puluh menit. Seperti biasan, Talia-sensei mengeluarkan aura mencekam, cukup untuk membuat dedengkot-dedengkot kelas 3-B mengerjakan ulangan dengan serius.
Di pojok depan, Luna memandangi buku tulisnya dengan seabrek pikiran di otaknya. Rumus-rumus yang disusunnya sama sekali belum bisa memecahkan soal satu pun! Aduh, ini gurunya yang kelewat kejam atau Luna yang kurang pintar ya..
Di sebelahnya, Lacus tampak begitu tenang dengan raut serius. Seluruh perhatiannya dipusatkan pada soal-soal pemberian guru paling ditakuti itu. Ya, lumayan lah, setengah dari soal sudah bisa ia kerjakan. Setengah lagi, masih ngambang..
Flay pun tidak kalah sewot. Seperti Luna, dia sama sekali tidak paham sedang mengerjakan apa. Sesekali ia hanya cemberut dan memalingkan wajah ke arah Kira, untuk menyegarkan jiwa. Hehehe.. Melihat Kira yang begitu lancar memainkan bolpoinnya di atas kertas.
"Aww.. Kira sudah keren, pinter lagi..", gumam Flay.
Seperti yang dilihat oleh Flay, Kira memang menggoreskan tinta di buku dengan lancar. Tapi dia tidak mengerjakan ulangan.. Yang playboy ini lakukan adalah... membuat grafity bertuliskan 'Kira si Keren' dengan segenap hatinya! Ia sama sekali nggak mau memikirkan soal-soal di depannya. Mau dipikirkan bagaimana pun, otaknya gak bakalan muat menampungnya..
Athrun pun tidak kalah edan. Memang sih ia sudah bisa mengerjakan lebih dari setengahnya. Eh, bukannya menyelesaikan ujian, bocah ini malah diam-diam membaca manga yang ia sembunyikan di dalam laci. Ckckck...
"Sensei, udah selesai nih..".
Sebuah suara yang memecah keheningan mengagetkan semua penduduk kelas. Mereka pun lekas menengok ke arah sumber suara.
Gila.. Baru setengah jam ujian dimulai, sudah bisa menyelesaikannya..
"Segera kumpulkan di depan dan keluar dari kelas... Shinn.", tukas Talia-sensei.
Shinn, menjadi murid pertama yang pergi dari neraka dunia itu. Masih dengan menguap dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya yang gatal, cowok ini pun melangkah ke meja guru dan menyerahkan hasil kerjanya.
"Heh, lagi-lagi Shinn jadi yang pertama selesai.", kata Mirilia.
Yoi, meski wajahnya sama sekali gak support, tapi kalau lagi serius, kejeniusan Shinn pun bisa muncul dan mampu menyelesaikan berbagai pelajaran sekolah dengan secepat kilat. Bahkan lebih cepat dari Miriallia atau pun Yzak yang notabene sering dapat rangking atas.
Sementara itu, Luna pun memandangi Shinn dengan raut tidak percaya. Ya, walaupun hal ini sudah sering terjadi, tapi Luna tetap saja gak habis pikir Shinn yang suka bolos dan paling males di kelas itu bisa selesai mengerjakan ujian paling cepat. Dan ia selalu saja mendapatkan nilai yang diatas rata-rata.
Shinn merasakan hawa-hawa gak enak dari meja Luna. Bisa dilihatnya gadis berambut magenta itu tengah berjuang mati-matian memompa pikirannya untuk bekerja semaksimal mungkin. Hehehe.. Melihat Luna yang lagi tersiksa seperti ini memang merupakan kesenangannya. Ia lekas memberikan mimik wajah dengan senyuman sinis kepada Luna. Sebuah senyuman yang seolah berkata "Hahaha.. Dasar cewek otak udang!"
Sebuah senyuman yang cukup untuk membuat Luna menjadi panas. Sayang sekali, Luna tidak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi seperti ini. Ia memilih berusaha menenangkan dirinya dan fokus dengan ujian. Sedangkan untuk masalah menghajar Shinn, bisa dipikirkan nanti saja..
Shinn pun lekas pergi keluar. Tujuan pertamanya ialah ruang UKS. Mumpung ada waktu, ia mau tidur-tiduran dulu deh...Beruntung sekali, ia kenal baik dengan si bocah UKS, Nicol. Anak kelas dua ini memang sering sekali nongol di UKS dan memeriksa siswa-siswa yang mengalami masalah dengan kesehatan. Tapi kalau Shinn sih, tidak perlu diberitahu pun Nicol sudah tahu kalau tuh anak cuma ingin tidur-tiduran doank..
"Oi.. Nicol, UKS kosong kan? Aku mau istirahat dulu..".
"Hahaha.. Kebiasaan malasmu masih belum hilang ya? Tumben pagi-pagi sudah keluar dari kelas.."
"Huh.. Tadi ada ujian dari Talia-sensei. Aku cepet-cepet selesai biar bisa tiduran di sini..".
Nicol hanya tertawa mendengar celotehan Shinn. Diam-diam pun Nicol memuji keenceran otak Shinn. kalau saja Shinn tidak terjangkit virus malas yang akut, tentu mudah baginya bisa berprestasi hingga tingkat nasional. Hihihi.. Shinn lekas merebahkan tubuhnya di atas ranjang UKS yang panjang dan empuk. Wangi ruangan benar-benar menanjakan cowok bermata ruby itu.
"Ah..Sungguh menyenangkan..", gumam Shinn. Tiada yang lebih nikmat selain bersantai di jam pelajaran. Shinn menutup matanya... Suasana hening seperti ini yang ia idamkan. Suasana hening..
Krek! Krek!
Shinn membuka matanya, ia mendengar ada suara aneh yang mengacau momen istimewanya. Pertama-tama sih Shinn cuek aja. Tapi suara-suara misterius itu terus saja bergema dan mengganggu. Akhirnya, pemuda tersebut pun terpaksa bangun dari tempat tidur. Penasaran siapa sumber suara gak jelas tadi. Apalagi di UKS hanya ada Nicol yang sibuk membaca buku. Pastilah bukan dia.
Kemudian Shinn menengok ke balik jendela..
"Hah? Cagalli?", ujar Shinn melongo melihat Cagalli sedang tampak konyol di atas pagar sekolah. Posisi UKS berada agak di bagian belakang sekolah dan dekat dengan pintu belakang.
Shinn buru-buru membuka jendela. "Oi, Cags! Sedang apa kau?", tanya Shinn mengucel-ucek mata setengah gak percaya.
Cagalli segera menoleh ke arah suara yang dikenalnya. Dirinya seperti mendapatkan oasis di tengah gurun pasir.
"Shinn! Syukurlah ada orang di sana. TOlong aku! Aku gak bisa turun nih!"
Shinn menghela napas sejenak. Aneh-aneh saja polah yang dilakukan kembaran Kira itu. Sok-sok bisa manjat dinding belakang sekolah, tapi gak bisa turun.
"Oi.. bukannya lebih baik pulang saja? Kau ini terlambat kan?", tanya Shinn dengan keluar melompati jendela.
"Ogah! Kan ada ulangan Talia-sensei! Aku gak mau ikut ulangan susulan!".
"Memangnya kalau kau ikut sekarang bisa mengerjakan soalnya dengan benar?".
"Hah? Jangan menghinaku ya.. Semalaman suntuk aku belajar loh.."
"Gara-gara belajar semalaman, kau jadi telat kan, Cags?"
"Diamlah, Kau ini niat nolongin gak sih?", bentak Cagalli jengkel.
"Hah.. Baik-baik..", balas Shinn setengah malas.
Keduanya diam sejenak. Masih berada di tempat mereka masing-masing..
"Shinn! Cepat bantu aku!", bentak Cagalli yang kesal karena Shinn gak bergerak barang secenti pun naik menolongnya.
"Kau ini idiot atau apa toh? Seharusnya kau itu yang melompat turun! Biar aku jaga!
"Apa?", teriak Cagalli. Sudah tentu gadis tersebut ogah-ogahan untuk loncat. Dia tentunya lebih memilih Shinn datang ke atas dan membantunya turun. Bukan malah menyuruh seorang gadis untuk meloncat. Haha.. Dasar Shinn cowok yang gak berperasaan...
"Mau gak? Kalau gak mau ya udah. Aku pergi..", balas Shinn membalikkan badannya.
Cagalli berpikir sejenak. Yah, mau gak mau ia harus menurut deh sama si pemalas itu.
"Ba..Baiklah!".
"Huh, akhirnya selesai juga..", batin Luna dengan melangkahkan tubuhnya keluar kelas. Dia sama sekali gak punya ide apapun untuk mengerjakan ujian hari ini. Daripada pusing-pusing di dalam, lebih baik menjawab sebisanya saja dan lekas keluar mencari udara segar. Memang sih, ujian seperti ini paling dibenci sama gadis berambut magenta ini.
"Sudah selesai juga ya?", sesosok pria menyambut Luna di luar ruangan. Luna pun menoleh ke arah cowok tadi,"Ah.. AKu sama sekali gak bisa mikir nih, Kira. Soalnya sulit sih".
Mendengar itu , Kira terkekeh kecil. Memang benar sih, Kira sendiri juga merasaka penderitaan yang juga dialami sebagian besar murid 3-B.
"Begitulah sensei kita. Ujian yang mengerikan.", imbuh Kira.
"Aku mau menyegarkan pikiran dulu ah..", cetus Luna.
"Kemana?"
"Di taman sekolah, pasti sepi dan masih segar kan kalau pagi-pagi begini..", jelas Luna,"mau ikut?".
"Baiklah. lagipula gak ada yang bisa kita lakukan di sini..", tandas Kira mengikuti langkah Luna yang berjalan di depannya.
Sampai hampir satu jam, baru ada segelintir murid yang berhasil menyelesaikan ujian berat dari Talia-sensei. Setelah Shinn, Kira, dan Luna, menyusul pula Miriallia meninggalkan kelas yang bagai medan perang itu dengan keringat membasahi dahinya. Senyumnya mengembang. Setidaknya gadis ini yakin nilainya bisa di atas rata-rata, sehinnga gak perlu mengikuti remidi.
Daripada geje-geje di sekitar ruangan kelas, Miriallia lebih memilih pergi sejenak ke ruangan klub jurnalistik yang ia ikuti. Disusul pula oleh Dearka yang senantiasa menjadi ekor sejati dari Mir.
"Ada beberapa bahan buat majalah sekolah yang belum selesai.".
"Tenang saja, nona. Aku pasti membantu", timpal Dearka menepuk dadanya sendiri. Setiap ada permintaan dari Mir, Dearka sih gak pernah menolak. Hehehe...
Athrun pun juga gak ketinggalan masuk dalam jajaran orang-orang yang pertama selesai. Dipikirannnya masih penasaran dengan beberapa manga yang ia baca online di internet semalam. Saking sibuknya ber-manga ria hingga hampir jam dua pagi, Athrun jadi kelupaan belajar deh. Tapi, untunglah, dia bisa mengerjakan sebagian besar soal dengan instingnya yang tajam.
Ahaha.. Entah bagaimana insting bisa berguna dalam hal pelajaran. Hanya Athrun yang tahu.. hmmm..
"Ah, saatnya membaca manga dulu ah..", ujarnya pada diri sendiri penuh semangat. Ia ingat ada beberapa bacaan yang disembunyikan di ruangan klub buku. Ah, momen yang tepat. Sembari menunggu bel pelajaran istirahat berdering sekitar satu jam lagi, manga adalah sahabat sejati untuk menemani.
Namun, baru melangkahkan kaki beberapa kali, ia buru-buru dicegat oleh seseorang. Seorang gadis yang paling dihindarinya jika ingin menikmati manga..
"Athrun! Mau kemana kau?".
Athrun memalingkan wajahnya. Dilihatnya sebuah tangan halus yang telah menahan baju belakang Athrun dengan gemasnya.
"Haduh, Lacus. The wrong women in the wrong place..", batin Athrun. Berantakan deh, rencana Athrun untuk memuaskan dunianya dengan manga sendiri.
"Pasti mau baca manga kan?".
"A..Emm.. Begitulah..", jawab Athrun berusaha menghindari tatapan Lacus.
"Mo! Dasar kau ini.. Bisa tidak menahan diri sebentar saja. Kau ini kan sudah besar, jangan kekanak-kanakan dan keseringan membaca manga", tegur Lacus lagaknya seperti ibu Athrun.
"Kau ini kasar sekali seperti ibuku..", komentar Athrun memasang wajah half-ass.
"Justru ini karena aku peduli padamu, baka!", balas Lacus dengan nyaring. Gadis berambut pink panjang yang kalem ini memang sering kehilangan sifat pemalunya tiap kali melihat Athrun 'berduaan' dengan manga. Hal itulah yang sering membuat Lacus sewot.
"Kalau kau peduli padaku, ijinkanlah aku membaca manga. Kumohon...", pinta Athrun mengeluarkan jurus mata berbinar-binar.
"Pokoknya gak bisa!".
"Tapi baca manga kan tidak menyebabkan impotensi ataupun keguguran janin..", balas Athrun yang mulai ngelantur kesana kemari.
"Terserah kau mau bilang apa, pokoknya coba jangan membaca manga sehari saja. Ubahlah kebiasaanmu itu!".
"Membaca kan merupakan kebiasaan yang bagus", elak Athrun lagi.
"Mo! Selalu saja mengelak. Sebagai ketua klub buku, berilah contoh yang baik kepada anggota-anggota kita. Misalnya ajak membahas tentang buku sastra atau budaya.", usul Lacus dengan wajah mulai nampak jengah meladeni si kutu manga ini.
"Manga kan juga termasuk sastra..", celoteh Athrun enteng yang lansung disambar omelan Lacus yang memekakkan telinganya.
"Jangan membantah lagi, ganti bacaan yang lebih bermutu! Jika tidak akan kuberitahu pada pembina klub kita".
Athrun mendesah panjang. Susah sekali kalau berurusan dengan Lacus...
Lacus mendesah panjang. Susah sekali kalau berurusan dengan Athrun..
"Jangan suka mengatu-atur dong..", pinta Athrun lagi yang ternyata belum menyerah juga.
"Kan sudah kubilang ini semua karena aku peduli..".
"Jika memang begitu, cobalah peduli juga pada Kira. Nasihati orang itu agar berhenti jadi playboy..", tukas Athrun.
Kontan mendengar nama Kira, Lacus jadi tersentak dan wajahnya memerah bagai tomat.
"A..Ja..jangan sangkut pautkan Kira. Jangan mengganti topik pembicaraan", ucap Lacus sedikit gelagapan.
"Oh, hai Kira! Sedang apa kau di sini?", ujar Athrun dengan tiba-tiba sembari melambaikan tangan. Matanya lurus memandang ke arah belakang Lacus.
Lacus pun sontak merasa terkejut, ia tak menyangka bila Kira berdiri di belakangnya. Tentu akan terasa tidak sopan seandainya Lacus tidak turut menyapa Kira seperti yang Athrun perbuat. Dengan seketika pula, Lacus membalikkan badannya dan dengan segenap keberanian yang dikumpulkannya berusah menyapa..
"Ah.. Ha..Hai Kira...",
Perkataan Lacus terhenti. Begitu membalik, sepanjang mata memandang ia tidak melihat sosok Kira di lorong tersebut. Celingak-celinguk kiri kanan pun gak ketemu…
Baru ia sadar, dirinya dikibuli Athrun!
Langsung Lacus bak kebakaran jenggot. Bergegas ia berpaling menghadap Athrun lagi dan bersiap mencak-mencak. "Athrun! tidak ada..", mata Lacus kembali terpana. Tadi setelah dirinya dengan lugunya dibodohi Athrun. Kembali kali ini ia dipermainkan ketua klubnya tersebut. Athrun telah berlari terbirit-birit meninggalkannya!
"Dasar Athrun!", dengan kekesalan memuncak, Lacus pun mengambil langkah seribu mengejar Athrun yang untung sempat dilihatnya sebelum mengambil belokan ke kanan dari lorong tersebut.
Di sisi lain, Athrun berusaha memanfaatkan kesempatan ini untuk menghapus jejak dari kejar-kejaran ala Tom and Jerry terjadi..
Di taman, Luna terlihat begitu asyik memainkan bunga-bunga matahari yang mekar sempurna menghiasi tempat tersebut. Sedangkan Kira hanya duduk-duduk di bawah pohon rindang seraya memandangi tingkah Luna.
"Oi.. Jangan sampai merusak bunga lho. Nanti bisa kena skorsing..", peringat Kira.
"Tenang saja.. Tidak usah khawatir..", jawab Luna tanpa memalingkan muka ke arah Kira.
Sepoi angin yang lumayan menenangkan di tempat itu memang menjadikan taman sebagai tujuan favorit untuk menghilangkan penat. Ditambah dengan pesona bunga-bunga yang memanjakan mata, sungguh perpaduan nan indah. Terkadang, jika beruntung burung-burung kecil pun turut meramaikan suasana di sana. Hingga akhirnya, terdengar suara yang menarik perhatian Luna,
"Meow..Meow..".
Luna menajamkan telinga. Matanya bergerak liar mencari hewan itu, kucing dengan suara manis.
"Luna? Ada apa?", tanya Kira heran menyaksikan Luna bergerak agak ke dalam kumpulan bunga-bunga.
"Kau tidak mendengarnya? Ada kucing di sekitar sini..", balasnya mantap.
"Hah? Kucing?". Kira bangkit dari duduknya dan mendekati Luna yang sibuk melakukan pelacakan. Tidak butuh waktu lama bagi Luna. kemampuan mendeteksi kucing yang menjadi
favoritnya memang tiada duanya. Begitu dilihat hewan mungil bergerak diantara bunga-bunga di taman, Luna dengan perlahan mendekati kucing itu dan mengelus-elus penuh kasing sayang.
"Puss..puss..", goda Luna dengan senyum merekah. Dengan skill tingkat tinggi, Luna pun mengangkat si kucing dari tengah bunga-bunga dan menggendongnya.
Dilihatnya hewan polos yang masih anak itu. Kulitnya putih kecokelatan dan masih halus. Sorot mata kucing tadi tidak tajam. Tapi mata hijaunya memancarkan kehangatan bagi siapa saja yang menatapnya.
"Ah... Kucing yang imut...", puji Luna memeluk erat kucing temuannya dan dielus-elus di pipinya.
"Kau ini benar-benar pecinta kucing ya..", celoteh Kira sedikit terkekeh yang telah berdiri di belakang Luna.
"Peganglah.. Bulunya sangat halus..", ajak Luna sembari menyodorkan kucing tersebut.
Sejenak Kira menatap kucing tadi dengan seksama. Wajahnya yang bulat dan mata besar menjadi keimutan tersendiri dari kucing tersebut. Dan tidak mau menunggu lama, Kira pun segera mencoba menggendongnya. Benar saja, seperti kata Luna, bulunya begitu lembut di kulit Kira. Ditambah lagi sifat si kucing yang tampak jinak walaupun tengah berhadapan orang yang baru dijumpainya sekalipun.
"Benar-benar manis kan?", kata Luna yang juga turut menyentuh bagian atas kucing yang sedang dipegang Kira.
"Memang, tapi lebih manis kamu..", celoteh Kira sembari mengumbar senyum penuh kharisma khas playboy.
Digoda seperti itu, apalagi sama Kira, Luna sih sudah kebal. Meski gak tahu juga Kira ngomong seperti itu serius atau cuma bercanda. Tapi kalau Kira sih, sama semua cewek, pasti bilang begituan. Kecuali pada Cagalli tentunya...
"Ngomong ngelantur lagi toh..", tukas Luna agak tersenyum dan sedikit mencubit pipi Kira.
"Hihihi... Memangnya kenapa? Kamu kan benar-benar manis loh..", jawab Kira lagi seraya menyingkirkan tangan Luna yang dari wajahnya dengan halus. Luna pun lekas mengambil kucing dari pegangan Kira. Tanpa perlawanan, cowok berambut cokelat itu menyerahkannya.
"Kalau gini.. Berarti manisnya double dong..", tukas Luna sambil mendekap si anak kucing dan menempelkan pipinya di muka sang kucing.
"Hahaha.. Manisnya selangit..", sahut Kira.
"Dasar gombal.. Maaf, playboy bukan tipeku. Hihihi..", ejek Luna menjulurkan lidahnya. Digerak-gerakknya juga kaki-kaki depan anak kucing sehingga mendarat di hidung Kira. Meski tidak begitu sakit, tapi tetap saja membuat Kira jadi geli. Dengan sedikit gerakan, Kira menghindar sehingga dirinya bisa lepas dari bulan-bulanan Luna.
"Ampun, deh. Memang sih, rayuanku selalu saja mentah jika berhadapan denganmu, Luna.".
"Huh.. Mana mungkin aku bisa terperangkap bujuk rayu seperti itu. Jangan samakan aku dengan kebanyakan cewek di sekolah kita ya..".
"Iya, deh. Kau memang berbeda kok", timpal Kira yang langsung dibalas senyuman Luna.
"Meow..meow", suara si anak kucing pun memecah sejenak percakapan keduanya. Mata Luna pun segera tertuju pada hewan yang dipegangnya. Dilihat-lihat lagi, dari sisi manapun, kucing tadi tampak sangat imut. Ingin sekali Luna membawanya pulang sebagai peliharaan.
"Ah, ingin sekali kujadikan peliharaan. Kucing ini kan betina.. Suaranya lucu lagi..".
"Tapi, kau kan sudah punya si Death kucing hitam itu kan?".
Mendengar nama kucing hitamnya disebut, Luna tampak murung sejenak. Kemudian rautnya berubah jadi agak cemberut. "Kau tau sendiri kan? Si Death masih hilang.. AKu sudah mencarinya ke mana-mana. Semua ini.. gara-gara si Shinn idiot!".
Kira hanya manggut-manggut saja. Benar juga, beberapa minggu lalu, keteledoran Shinn yang dipasrahi Luna menjaga Death, tapi malah membuat peliharaan kesayangan Luna tersebut hilang tanpa jejak.
"Aku berharap, jika ada kucing betina di rumah, mungkin Death bisa kembali ke rumah..", jelas Luna yang masih memiliki harapan akan kembalinya Death seperti menanti pulangnya kekasih yang telah tiga kali lebaran gak pulang-pulang.
"Lalu, mau kau beri nama siapa kucing ini?", tanya Kira.
"Nama? Ah benar juga..", Luna nyaris saja melupakan hal penting, tentunya ia pun harus lekas memikirkan nama yang cocok. Berpikir beberapa detik, Luna pun mendapatkan pencerahan.
"Life...", ujar Luna yang tanpa perlu waktu lama mendapat penolakan keras dari Kira.
"Teet! Teet! Nama apa itu? Biar cocok, jadi Death dan Life begitu? Norak..norak..", komentar Kira.
"Pussy..".
"Terlalu standar.."
"Neko..".
"Nama macam apa itu?".
"Bunga.."
"Nama itu sama sekali gak kreatif.."
Luna mendesah sebentar. Ia terus memutar otak. Memang sih, selama ini Luna gak begitu jago kalau memberi nama sesuatu. Mulai dari hewan peliharaan, akun jejaring sosial, nama kelompok,nama band, banyak yang gak jelas dan ngawur..
"Baiklah, aku mendapatkan nama yang cemerlang...", kata Luna memecah keheningan yang sempat mampir.
"Apa itu?", tanya Kira penasaran penuh.
"Ehmm.. Bagaimana kalau.. Kirana!", jawab Luna sumringah dengan mengangkat kucing itu tinggi-tinggi.
"Hah? Kirana?", nama itu sebenarnya tidaklah buruk, tapi tetap membuat Kira jadi garuk-garuk kepala,
"Ya, Kirana.. Karena kita yang pertama kali menemukannya di sini. Gabungan dari "Kira" dan "Luna". Bagaimana?".
Mendengar namanya dicatut dan digunakan, sebenarnya Kira sih agak konyol juga. Tapi menyaksikan Luna yang telah berjuang keras, walaupun gak seberapa untuk mendapatkan nama tadi, ya.. Kira memperbolehkan deh.. Lagipula, jarang-jarang Luna ngasih nama agak keren seperti ini.
"Hihihi.. Oke juga. Tapi bukankah nama Kirana, alias Kira dan Luna, lebih cocok digunakan untuk anak kita?", sahut Kira pede.
"Tuh kan? Tuh kan? Kumat lagi gombalnya toh...", jawab Luna bersiap mengancam Kira menggunakan cakar-cakar Kirana yang masih belum begitu tajam.
"Ampun deh..", balas Kira terkekeh lagi.
Angin semakin bertiup agak kencang di taman, beberapa helai daun pun berguguran, tidak terkecuali dengan ranting-ranting rapuh. Kira dan LUna yang berada di bawah pohon pun, beberapa kali harus berurusan dengan daun atau ranting kecil yang berjatuhan. Kali ini ,Luna kurang beruntung. Kepalanya menjadi tempat bersarang beberapa dedaunan kecil yang menyelip ke rambut magentanya.
"Luna, dirambutmu, ada yang nyangkut..", timpal Kira menunjuk-nunjuk ke arah rambut Luna.
"Hah? Beneran nih?", tanya Luna. Menyebalkan juga untuk menghilangkan dedaunan kecil tadi. Apalagi tangannya tengah memegang Kirana.
"Oi, jangan membersihkannya dengan cara mengacak-acak rambutmu, nanti malah semakin menyebar..", pesan Kira.
"Begitu ya?".
"Sini biar aku bantu..", tukas Kira dengan cekatan. Kemampuannya dan skillnya yang begitu dewa saat berurusan dengan cewek ingin dicoba dipraktekannya lagi sekarang.
Kira perlahan mendekati tubuh Luna, diliriknya dengan tajam rambut magenta Luna. Beberapa target berwarna hijau yang mengacau magenta pun diambilnya satu persatu dengan hati-hati. Ia melakukannya dengan perlahan dan dengan halus. Sesekali ia mengelus rambut Luna untuk mencari dedaunan atau ranting kecil yang tadi semakin menjorok masuk ke dalam gara-gara diacak-acak Luna.
"Lama banget..", timpal Luna.
"Sudah,sudah. Diam saja, biar kutangani hal ini..".
"Athrun, dimana kau?", teriak Lacus disepanjang pencariannya. Sial baginya, kemampuan lari Athrun jaruh diatasnya. Hehehe.. Ya ialah.. Bukankah Lacus sudah dikenal sebagai tuan puteri yang tak bisa berlari. Nilai olahraganya di sekolah pun bikin miris saja. Lacus pun sekarang hanya bisa menebak-nebak dimana kira-kira Athrun berada.
Gadis berambut pink ini terus menajamkan matanya. Athrun bisa berada di mana saja. Mungkin kini tengah sembunyi entah dimana. Huh.. Mengubah kebiasaan Athrun itu benar-benar repot juga. Selain demi kebaikan dirinya sendiri, ini semua juga demi citra klub buku yang ia pimpin. Lacus paling tidak mau citra klub buku jatuh hanya gara-gara ketua yang kurang tanggap yang lebih suka menghabiskan waktu membaca manga. Aneh, kenapa orang seperti dia bisa menjadi ketua ya?
Tapi Lacus tidak menyerah, mumpung ada kesempatan nih, ia pingin sekali menyingkirkan manga-manga dari Athrun sehingga dengan begitu klub buku bisa menjadi lebih produktif, tidak hanya berfokus saja pada manga gara-gara ketua yang super otaku itu..
Shinn memandang ke atas dengam bosan. Cagalli menatap ke bawah penuh kecemasan.
"Oi.. Lama sekali kau? Mau membuatku menunggu sampai kapan?", ketus Shinn mendapati Cagalli masih gak berani turun juga. Padahal ia sudah menjamin akan menjaganya di bawah, ya jika beruntung sih.. Rupanya, Cagalli masih pikir-pikir juga. Bisa naik, tapi untuk turun sulit juga. Aduh duh.. Bahkan untuk berpikir saja membuatnya menghabiskan waktu lebih dari setengah jam. Dan setiap kali Shinn merasa bosan dan mau pergi, selalu saja dibentaki Cagalli. Benar-benar repot deh..
"Cepatlah turun.. Aku tidak mau menghabiskan waktu lebih lama lagi di sini", ancam Shinn sembari menguap. Kali ini dia mencoba serius. Tubuhnya jadi ikut-ikutan capek harus terus berdiri dan berharap
Cagalli lekas meluncur dari tempatnya berada sekarang, sekitar dua hingga tiga meter di atasnya.
"Ba..Baiklah deh.", balas Cagalli. Gadis itu juga, berusaha mengumpulkan segenap keberanian dari segala penjuru mata angin. Dia tidak mau lagi terjebak lama-lama di sana. Ditambah lagi, jam istirahat yang semakin dekat, membuat gadis berambut pirang itu merasa malu juga apabila dirinya yang tengah tersangkut di pagar menjadi bahan tontonan siswa-siswa lain.
Kini Cagalli meruncingkan matanya. Ia memberi isyarat anggukan kepada Shinn, pertanda dirinya telah siap.
Shinn pun juga hanya membalas dengan menggaruk-garuk kepala. "Cepatlah.."
Satu..Dua..Tiga..
"HYAAATT!".
Cagalli terjun bebas! Dengan kecepatan penuh siap mencium tanah. Tapi tentunya ia berharap Shinn siap melindunginya dong..
Tapi...
BRUKK!
"A..ADUH!", lengkingan keras keluar dari mulut lelaki bermata ruby.
Gimana tidak? Cagalli datang 'menghampirinya' dengan seketika tanpa ia sempat siap. Ditambah lagi, kaki Cagalli yang liar bergerak ke sana kemari, pada akhirnya sukses mendarat di jidatnya. Krekk.. Shinn kesakitanr dengan luka yang sangat tidak keren di jidat...
Masalah belum selesai, Cagalli memang bisa 'diselamatkan' Shinn. Tapi keduanya kemudian hilang keseimbangan. Tubrukan Cagalli yang cepat dan terlalu bertenaga itu membuat Shinn yang udah puyeng tidak kuat menahannya. Begitu pun Cagalli yang tak mampu mengendalikan lajunya...
"Kyaaa!", jerit Cagalli kecil ketika keduanya tersungkur ke tanah.
Beruntung saja ia tidak langsung tersungkur ke tanah. Setidaknya dia bisa jatuh di tempat yang lebih baik.. atau mungkin lebih buruk sih..
Cagalli menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menetralkan kembali otaknya yang barusan bagai diaduk-aduk gara-gara loncat serampangan. Dan yang bikin Cagalli kesal, si Shinn bahkan tidak niat menangkapnya dengan sempurna. Malah begini deh jadinya..
"Shinn?", Cagalli celingak-celinguk kanan kiri. Hah? Dia tidak bisa melihat keberadaan orang yang seharusnya ada di sekitarnya saat itu.
"A..Aku di sini", balas Shinn meringis kesakitan.
Cagalli kaget. Segera ia memandang ke bawah..
Ya ampun! Ternyata dirinya kini tengah beralaskan Shinn! Hah, pantes saja tadi saat turun agak empuk sedikit.
Cagalli di atas...
Shinn di bawah...
Ah! Cagalli baru sadar jika mereka berdua berada di posisi yang salah. Dasar Cagalli, mikirnya agak lola...
"Ga..gawat..", pekiknya pelan sembari keringat mengucur dari keningnya.
Shinn yang membuka matanya pun, juga ikut-ikutan melongo juga, di depan mukanya sudah mejeng wajah Cagalli sebegitu dekatnya.
Glek!
"A..Apa-apaan nih?", ujar Shinn terbata-bata. Keduanya lekas diam sejenak. Sedetik..Dua detik.. Tiga detik..
"Minggir kau!", teriak keduanya hampir bersamaan.
Dengan cepat, bagai orang yang ingin mengusir kutu dari tubuhnya, kedunya lantas menjauhkan diri masing-masing. Cagalli agak melompat ke belakang menjauhi cowok yang telah 'menolongnya' itu.
"Ga..gawat. Posisi kami tadi benar-benar gak banget..", batin Cagalli masih berusaha menenangkan detak jantungnya.
"Semoga saja tidak ada orang lain yang melihatnya. Bisa-bisa malah salah paham nih..", gumam Shinn mengelap peluh di wajahnya sendiri.
Sudah barang pasti, baik SHinn dan Cagalli mengharap kejadian konyol dan tak terduga tadi luput dari pengliatan orang lain.
Shinn pun bangkit, ia sudah tidak mood lagi berada di tempat seperti itu. Ia ingin segera kembali ke UKS saja, membersihkan beberapa debu di pakaiannya lalu tidur-tiduran.
Begitu pula Cagalli, entah bagaimana caranya, ia ingin mengikuti ujian Talia-sensei hari ini saja... Walau untuk masuk ke kelas diam-diam tanpa ketahuan Talia-sensei sangat-sangat mustahil... Tapi kini pikiran gadis pirang itu tak lagi melulu tentang ujian, gara-gara pose aneh yang mereka berdua perbuat, ia kemduian mengawasi sekeliling, berharap tidak ada saksi mata di saat-saat genting tadi.
"Untung saja tidak ada...", baru mau mengutarakan kelegaaannya. Matanya yang telah berputar-putar menangkap sosok yang sama sekali gak diinginkannya melihat momen 'istimewa' tersebut.
Mulut Cagalli pun hanya bisa menganga. Bagaimana ia bisa menjelaskan hal ini? Shinn yang menatap Cagalli penuh kepanikan pun juga menyadari, ada saksi lain selain Tuhan Yang Maha Esa...
"Kampret! Athrun...", gumam Shinn.
Dilihatnya, si raja manga juga melongo gak berkedip. Tampak ia begitu tertegun, agak menikmati kejadian yang baru saja ia lihat tadi. Memang sih, Athrun yang tadi lari bersembunyi dari Lacus, sampai di belakang sekolah tepat ketika Shinn dan Cagalli dalam pose yang tidak senonoh tadi. Dan kalau Athrun sih, otak manganya pasti sudah langsung berimajinasi yang tidak-tidak dong..
"I..Itu tadi hanya salah paham!", teriak Cagalli dengan muka merah dan menyilang-nyilangkan kedau tangannya.
"Ah.. Be..benar, jangan percaya apa yang kau lihat..", tambah Shinn berusaha meyakinkan.
Athrun hanya mengangguk saja. Dalam batinnya, ia pun bingung juga harus berkata apa. Niatnya mau keluar dari masalah dengan Lacus, eh kini malah berhadapan dengan problem lain. Itu menurutnya sih..
"Ga..gawat. Aku telah mengganggu mereka berdua...", batin Athrun sedikit gugup. Ia malah merasa bersalah, merusak momen indah Cagalli dan Shinn yang menurutnya, tengah menjalin kasih di belakang sekolah..
"Apa? BU..Bukan begitu..Bukan begitu kejadiannya!", sahut Cagalli kembali.
"Gawat nih, Athrun pasti sudah membayangkan yang tidak-tidak..", batin Shinn jadi sweatdrop.
Menyaksikan Cagalli yang jadi agak marah-marah dengan muka memerah, Athrun malah makin yakin jika dirinya jadi biang kerok di tempat tersebut. Kemudian,ia memohon ampun pada keduanya dengan wajah memelas..
"Maaf, sekali lagi maaf. Gara-gara aku, kalian jadi tidak melakukan hal 'itu'..".
"Hah? A..Apa maksudnya 'itu'?", teriak Cagalli makin merah padam mukanya.
" 'Itu'.. yang sering diperbuat pasangan muda sekarang..", tukas Athrun lagi.
"Tunggu Athrun. Jangan berpikiran terlalu jauh. Kau sudah salah paham..", jelas Shinn mencoba mengembalikan pokok permasalahan.
Athrun jadi semakin gugup..
Cagalli semakin gelagapan..
Shinn tambah bingung...
Menyadari posisinya yang gak enak, Athrun pun mengambil opsi yang paling baik untuk dirinya.. lari!
"Selamat tinggal!", ucapnya mengambil langkah seribu. Ia berharap tidak dibunuh sama Shinn ataupun dicincang oleh Cagalli.
Larinya yang sangat cepat, dengan segera meninggalkan Shinn dan Cagalli berduaan lagi..
"Ma..masalah nih...", gerutu Shinn.
"Pokoknya.. aku harus menjelaskan kejadian sebenarnya..", sahut Cagalli yang sudah seperti kebakaran jenggot. Walau sebenarnya keduanya tidak memilik niat apapun, tapi orang lain yang melihat kejadian tadi pasti punya pandangan lain..
Lacus semakin kecapekan. Hehehe.. Ternyata pergi mencari Athrun di sekolah seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.
"Pintar sekali dia sembunyi!", gerutu Lacus dalam hati. Sesekali ia harus merapikan rambutnya pula yang agak jadi kacau diterpa angin.
"Ah, angin di sini memang kencang. Padahal masih pagi", komentarnya ketika melewati akhir lorong. Ia pun ingin segera menuntaskan pencarian ini. Tujuan akhirnya, tentu tidak lain adalah ruangan klub buku. Kemungkinan besar, Athrun berada di sana dan diam-diam mebaca manga di salah satu sudut ruangan atau bawah meja..
Lacus berjalan agak cepat. Matanya memandangi cahaya yang mulai terasa menyengat. Ruangan lorong yang agak jarang terjamah sinar mentari terasa sangat berbeda di bagian ujungnya. SInar mentari terasa hangat.
Ia pun terus melangkah. Sembari sesekali menikmati tarian bunga-bunga dan hijaunya dedaunan taman.
Taman...
Lacus berhenti sejenak. Bukan karena ia sudah bertemu Athrun. Ada pemandangan lain yang ia jumpai di sekitar taman. Pemandangan yang... tidak biasa..
Matanya terbelalak.. Sesekali ia mengusap mata dan menggelengkan kepala untuk mengetahui apa yang dilihatnya hanya mimpi atau bukan..
"A..Apa yang mereka lakukan?", tukasnya dalam hatinya. Segera ia bersembunyi di salah satu pilar yang ada di pojok lorong.
Sembari matanya terus mengintai dua sosok yang tengah berdua di tengah taman..
"Kira... dan Luna?"
Sungguh hal yang sangat tidak disangkanya. Bagaimana tidak? Ia menyaksikan Kira tengah berdua, dekat dengan Luna. Tangannya yang kokoh tampak membelai-belai dan mengelus-elus rambut magenta Luna.
"Apa mereka berdua... pacaran?"
Hati Lacus jadi tak menentu. Selama ini, memang Kira dan Luna tampaknya biasa-biasa saja.
"Atau mungkin.. mereka pacaran secara diam-diam?".
Dilihatnya agak lama, tampak Kira begitu hati-hati mengelus rambut Luna. Dan Luna pun tampak diam dan menurut saja, sembari memegang seekor kucing.
Ah, sungguh pemandangan yang romantis di mata Lacus.
Romantis tapi membuatnya teriris..
Seketika itu pula, ia pun memilih berbalik arah, tidak jadi melewati taman menuju klub buku. Entah mengapa, semangatnya jadi menghilang.. Ia ingin pergi ke.. entahlah..
Biarkan tubuhnya saja yang menuntunnya..
"Udah belum sih?", tanya Luna bete.
"Sabar dong, nih kotoran di rambut bandel banget!", balas Kira yang gemas juga tangannya beberapa kali gagal mengambil pengganggu di kepala Luna.
"Aww! Hati-hati dong! Jangan cabut rambutku! Kau mau aku botak ya?", teriak Luna emosi. Ternyata si Kira beneran gak ahli juga ngurusi hal sepel kayak gini.
Tapi setiap kali Luna mau pergi, senantiasa ditahan Kira. Rupanya si cowok playboy merasa penasaran juga, jika belum menyelesaikan misinya hingga tuntas.
"Tunggu dulU! Jangan sampai aku mati penasaran.", tukas Kira masih dengan serius menyibak rambut Luna.
"Kalau gitu cepetan! Aku sudah lapar nih..".
"Tenang saja. Nanti akan kutraktir..", balas Kira mengumbar senyumnya.
Yeeee... Segini dulu dah.. Semoga saja tetap continue ya... I Hope so...
