Aduh... Ngantuk.. Mumpung lagi ada koneksi nih, update dulu ah fic gaje yang kadang teringat dan kadang terlupakan oleh author sendiri. Hehehe.. Dasar nih author memang agak-agak pikun gitu loh... Maaf,maaf.. Lagi-lagi saya malah ngomongin sesuatu yang gak perlu..

Jadi, silahkan menikmati... Dan meski telat sih, Selamat Idul Fitri.. Semoga dosa-dosa kita diampuni oleh Tuhan Yang Maha Esa... (Termasuk juga polah dari bocah-bocah Gundam Seed Destiny di fic ini juga diampuni.. :D )

Disclaimer : Saya tidak pernah memiliki yang namanya Gundam Seed Destiny. Hahaha...

Malam yang Mubazir

Capek.. Ah.. Itulah yang dirasakan Shinn setelah terjebak di tempat monoton bernama sekolah selama hampir sembilan jam.. Pelajaran yang gitu-gitu aja dengan guru yang gitu-gitu aja, membuatnya ngantuk melulu..

Dan begitu bel pulang berbunyi menggelegar bumi dan langit, Shinn pun lekas angkat kaki dari kelas cepat untuk menghirup udara 'kebebasan'. Heh.. Pantas saja cowok ini senang, apalagi besok kan sudah weekend, jadi lumayanlah bisa buat berpuas diri di kamar tiduran..

"Ah.. Akhirnya besok libur..", gumamnya dengan sumringah. Berjalan menikmati langit sore yang menyapa manusia menuju weekend yang memang tiada tara. Terutama ketika telah sampai di pematang sungai yang luas dengan rerumputan yang masih hijau segar. Pantulan sinar mentari terbias dengan rupawan di permukaan air sungai yang jernih. Seolah sungai itu mengalir dengan warna keemasan yang eksotis. Ditambah lagi sambutan angin sore yang memanjakan tubuh. Membuat Shinn tidak bisa menolak untuk tidak berhenti di sana. Lekas ia berjalan ke arah pematang. Melihat sekeliling.. Sepi.. Hanya hembusan angin dan terkadang suara burung-burung kecil yang bisa ia dengar.

Tempat seperti inilah yang menjadi idaman Shinn. Berbaring di pematang menikmati sunset akhir minggu. Sungguh tiada duanya bagi Shinn.

"Hmm.. Damai sekali..", ucapnya lirik menikmati setiap nafas yang ia hembuskan.

Dibuka tas sekolahnya, mencari-cari jika ada buku yang bisa ia baca. Kecuali buku pelajaran tentunya.. Tapi mencari ke sana sini sama sekali tidak ada hasil.

"Uh.. Aku lupa membawanya..", ujarnya kesal pada diri sendiri. Yah, biasanya sih Sjinn kalau ada di tempat ini paling suka ditemani dengan membaca, terutama buku-buku tentang hal-hal misterius, seperti tentang Atlantis, UFO, dan sebagainya. Heh.. Memang Shinn paling antusias juga kalau membaca mengenai sesuatu yang belum pasti atau model konspirasi begitu. Hehehe..

"Ya udahlah, kalau gitu baca manga punya Athrun aja..", gumamnya setelah menemukan manga yang ia pinjam dari Athrun beberapa hari lalu dan belum selesai ia baca. Tidak ada rotan, akar pun jadi.

Hmm... Tampak Shinn begitu santai sekaligus serius menikmati setiap detail yang ada di manga. Membola-balik halaman dengan perlahan. Coba memahami cerita dan merasakan kekuatan gambar sang pengarangnya. Dia gak se-expert Athrun sih kalau soal manga, tapi tetap saja dia juga suka membacanya. Apalagi kalau cuma gratis alias pinjam dari Athrun yang juga meminjam secara gratis dari penyewaan manga..

"Hmmm.. Cerita yang menarik.", puji Shinn sembari mengangguk-anggukan kepala. Keheningan pematang di sore hari benar-benar membuatnya bisa lebih konsentrasi. Terbawa suasana..

Hingga tak menyadari ketika ada langkah kaki yang mulai mendekatinya...

"Jadi kau sudah ketularan Athrun jadi otaku ya..", ucapnya memecah keheningan dan mengacau 'pesta'nya Shinn.

Baru sadar Shinn kalau dia tidak sendiri lagi di tempat itu. Lekas ia menutup manga dan memasukannya ke dalam tas. Membaca manga gak ada enaknya jika sedang bersama cewek yang banyak ngomel melulu..

"Heh.. Jangan mengganggu weekend-ku dengan ocehanmu, Luna..", ketus Shinn yang kini lebih memilih berbaring di rerumputan hijau nan halus di pematang.

"Memangnya siapa yang tahan deket-deket sama kamu?", balas Luna gak kalah dongkol sembari mengistirahatkan kakinya dan duduk di sebelah Shinn.

"Kau ini, jangan suka mengacau momen istimewaku di tempat ini.."

"Memangnya kau saja yang hobi nongkrong di pematang ini?".

"Heh?! Ini sudah kebiasaanku sejak kelas tiga SD.."

Luna terkekeh sebentar sebelum kembali menyambung omongan Shinn,"Ini juga hobiku lho.. sejak dikandungan ibuku!"

"Apa-apaan tuh? Bukannya dulu kamu cuma asal mengikutiku ke sini doang?"

"Siapa bilang? Justru kaulah yang mengekorku terus..",bela Luna pada dirinya sendiri menatap Shinn yang tetap saja memasang wajah setengah malasnya.

Gah.. Terus saja tuh dua keturunan manusia sering ngobrol gak jelas ngalor ngidul membahas hal-hal yang sama sekali gak ada efeknya buat pertumbuhan tinggi badan mereka.

Meski sering diselingi dengan nada-nada kasar dan debat semaunya sendiri.

Sembari merasakan indahnya pemandangan sore hari di pematang sungai. Menikmati hembusan angin yang menyapa kulit dan rambut mereka. Serta menghayati lantunan aliran sungai yang tenang dan damai. Hmm... Menghabiskan waktu di pematang sungai pas weekend memang sering Shinn dan Luna lakukan bareng di sini.

Walau gak janjian dulu sih. Hehe.. kadang sering Shinn yang tiba-tiba nongol di hadapan Luna, atau sebaliknya..

Ya, walaupun mereka akur-akur gak akur, tapi tetep aja nyambung kalau ngobrol bareng..Maklum sih, Shinn dan Luna udah dari jaman sekolah dasar suka pergi ke tempat tersebut. Kebiasaan yang terus saja terbawa hingga sudah masuk ke Zaft High School..

"Oi.. Bawa cemilan gak?", tanya Shinn pada Luna merasakan perutnya mulai protes gak ketulungan.

Luna menoleh. Nih cowok sebelahnya baru masang tampang serius kalau kelaparan doang.

"Memangnya aku ini ibumu? Nih ambil!", timpal Luna seraya mengeluarkan beberapa snack dari dalam tasnya. Lumayanlah buat mengganjal perut dahulu.

Shinn pun tak perlu waktu lama untuk membuka bungkus dan melahap cemilan-cemilan di hadapannya. Sementara Luna juga tidak mau kalah dan juga turut menyantap makanan ringan yang ia bawa itu.

"Kau selalu saja membawa kripik rasa rumput laut kayak gini.. Lain kali bawa roti lah.."

"Apanya tuh?! Aku bukan pedagang asongan loh.."

"Hmmm.. Aku heran kok setiap kau bisa bawa snack melulu.."

"Kenapa? Jadi gak mau ngemil ya..", sahut Luna agak dongkol juga. Shinn sih seenaknya aja makan sambil berceloteh sepuasnya.. Udah makan punya orang, ngomongnya nyindir lagi..

"Bukan..bukan.. Apa kau gak takut gemuk? Biasanya cewek paling anti ngemil jajanan begini..", tanya Shinn.

Luna memandang Shinn, kemudian mengambil sisa snack yang ada di tangan cowok berambut hitam kelam itu. "Kalau aku.. santai aja sih. Lagian makan sebanyak apa pun, aku gak bakalan gemuk-gemuk kok..", terang Luna dengan senyum kepuasan dan menyombongkan diri sejenak.

"Be...benar juga sih..", balas Shinn. Dia jadi teringat, waktu SD saja Luna makannya sudah kayak singa kelaparan, se-warung aja bisa dihabisin. Shinn pun tak habis pikir bagaimana Luna mampu mendapatkan ability yang didambakan setiap wanita itu. Wuih, gak heran Flay dan Lacus pun jadi iri setengah mati dengannya.

Angin sore berhembus semakin kencang. Langit pun beranjak melepas warna biru cerah bergani jingga yang indah. Dan tidak terasa juga cemilan-cemilan diantara Shinn dan Luna pun telah ludes bersamaan dengan waktu yang terbuang dengan obrolan mereka.

"Huh.. Lain kali bawa yang lebih banyak..", pinta Shinn protes tidak ada yang bisa dilahap lagi.

"Huh.. Lain kali bawalah makanan sendiri, jangan jadi peminta melulu!", kesal Luna pada Shinn. Sudah berbaik hati ia mau berbagi, tapi tetap saja cowok di sebelahnya merasa kurang. Shinn sih pikir-pikir dulu kalau mau ngemil bareng Luna. Kecepatan Luna dalam melahap makanan pun super luar biasa. Malah dia bisa bokek lagi..

"Bisa-bisa aku malah gak makan cemilanku sendiri..", batin Shinn sweatdrop. Dasar cowok tak tahu terima ..

Cukup lama berada di pematang, Luna pun mulai mengemasi sampah-sampah sisa cemilan dan bersiap untuk pulang ke rumah. Tidak baik juga berlama-lama di sana saat pekerjaan rumah masih menumpuk.

"Hei, Shinn.. Malam minggu ini ada acara gak?",tanya Luna.

Shinn yang masih berbaring santai, beranjak dan perlahan duduk. Heran juga, ngapain pula cewek berambut magenta ini menanyakan hal yang rada-rada gak normal kayak gitu..

"Sibuk seperti biasa sih.. Banyak kegiatan rutin di malam minggu..", balasnya.

Luna mengorek-ngorek telinganya. Gak salah nih, lelaki seperti Shinn punya kegiatan rutin di malam weekend? Heh.. Aneh bagi Luna..

"Hah? Memangnya apa yang kau lakukan setiap malam minggu?", tanya Luna penasaran.

Shinn menghela napas sejenak. Memikirkan acaranya yang melelahkan baginya..

"Seperti biasa, ngenet, baca manga, nonton televisi, lalu tidur..".

GLEKK! Mendengarnya saja sudah bikin Luna mau muntah..

"PAYAH! Apaan yang sibuk kalau cuma begituan?! Kau ini bocah SD ya?!", timpal Luna dongkol dengan menarik-narik kerah baju Shinn dan mengepalkan tangan siap menonjok muka tuh cowok.

"Oi.. Itu semua sudah membuatku lelah..", balas Shinn.

"Mana ada orang yang lelah cuma gara-gara nonton tivi?!"

"Oi.. Energi yang terbuang gara-gara nonton tivi itu banyak, tahu!", sahut Shinn memerjuangkan kegiatannya yang sebenarnya gak penting-penting amat itu.

"Setidaknya lakukan hal yang lebih keren, lah! Duh, malam minggumu biasa banget..", timpal Luna. Kebiasaan lain dari Shinn yang gak hilang sejak kecil. Luna pun bisa menghitung jari berapa kali Shinn sering hang out bareng temen-temen di malem minggu. Huh.. Nih cowok gak ada kerennya sama sekali..

"Jangan menghinaku. Memangnya ada apa? Tumben kau sok peduli denganku?", tanya Shinn.

Luna diam sejenak. Sembari menatap balik Shinn dengan pandangan sinis, setengah menghina gitu, ia menghela napas. Tapi gadis itu belum juga menjawab pertanyaan dari Shinn tadi.

"Oi.. Kenapa kau jadi diam saja nih?", cecar Shinn dengan penasaran akut lagi. Dilihatnya Luna yang kini malah sibuk menggaruk-garuk pipinya sendiri.

"Ngg.. Nggak sih.. Cuma saja.. malam ini aku punya acara seru..", timpal Luna yang akhirnya buka mulut juga.

"Terus?", balas Shinn yang belum nyambung.

"Hmm.. Sepertinya gak ada salahnya kalau kau juga ikut.", kata Luna diiringi desiran angin yang dibalut suasana senja. Shinn mengorek-orek telinganya. Tumben banget nih cewek di depannya mengajaknya pergi bareng pas malam minggu. Entah jin apa yang merasukinya. Atau jangan-jangan tadi pagi Luna salah makan? Hmm.. Gak taulah..

"Hah? Pergi ke acaramu?", tanya Shinn berusaha memastikan lagi.

Luna mengangguk mantap. "Bagaimana? Lumayan lah hang out bareng, daripada cuma tiduran kesepian di kamar.", tukasnya dengan raut meyakinkan khas sales menjajakan jualan pada pelanggan.

Shinn memiringkan kepalanya. Pikir-pikir dulu deh. Entah, 'acara' apa yang Luna lakukan di weekend ini. Dia pun mengingat-ingat kejadian-kejadian di masa lampau yang kacau balau. Dimana setiap kali Luna ada niat mengajaknya hang out bareng malam minggu, pasti ada saja rencana kolot dan gak beres yang ada di otak yang tertutup rambut magenta itu.

"Ng.. Dijamin gak bakal kecebur ke sungai lagi kan?", seloroh Shinn agak was was.

"Tenang saja. Amaaannn..", timpal Luna dengan senyum mengembang.

"Ng... Gak bakalan dikejar-kejar anjing galak kan?"

"Santai saja..".

"Aman dari nabrak tiang listrik lagi kan?".

"Gak mungkin terjadi lagi deh..", Luna terus mengeluarkan kata-kata asuransi untuk membujuk Shinn, yang sedari tadi terus saja menyebutkan peristiwa-peristiwa apes yang telah terjadi ketika pergi dengan Luna. Entah mengapa, kesialan hampir selalu tertuju padanya. Sementara Luna bagaikan dinaungi dewi fortuna. Duh.. Apes banget tuh cowok.

"Sebenarnya aku ingin ikut sih, tapi..", SREKK! belum sempat Shinn meneruskan obrolannya, udah keburu Luna mencekik lehernya lagi dengan aura pembunuh menyebar kemana-mana. Langsung saja Shinn cuma bisa menelan ludah dan keringat dingin mengucur dari keningnya.

"Hah? Kau mau bilang apa?", seloroh Luna tersenyum secerah malam kepada Shinn. Glep! Tapi Shinn tau, senyuman itu hanya topeng yang dipakai Luna untuk menyembunyikan tatapan iblisnya yang menggelegar itu. Well, sebuah deathsmile yang ditakuti seantero kota.

"A..A...Aku ikut! Aku ikut! Benar-benar semangat nih!", balas SHinn terbata-bata dan coba menyunggingkan wajah antusias pada Luna.

Mendengarnya Luna pun menarik napas panjang. Wah, lambat laun aura membunuhnya luntur juga. Lega mendengar omongan Shinn yang dengan 'senang hati' menerima tawarannya.

"Baguslah.. Nanti malam jemput aku jam delapan.", pinta Luna.

Shinn pun hanya bisa mengiyakan saja permintaan Luna. Biasanya sih kalau gontok-gontokan sih Shinn gak mau kalah. Cuma kalau Luna sudah sampai memberinya tatapan bak assasin dan senyum yang diselimuti hawa pembunuh, duh.. lebih baik Shinn ngalah deh. Dan ia punya firasat sesuatu yang gak beres cepat atau lambat akan menimpanya malam ini...

Kegelapan malam mulai menaungi bumi. Memberi kesempatan untuk manusia beristirahat melepas kejenuhan aktivitas setelah bekerja selama seminggu. Menjadikan malam yang cocok untuk bersantai dengan keluarga atau tertawa dengan teman-teman. Namun, sepertinya Shinn tidak akan merasakan hal itu kali ini. Kehangatan keluarga akan ditinggalkannya untuk sementara. Memenuhi 'kewajiban'nya untuk jalan-jalan bareng Luna. Duh..

"Hmm... Merepotkan sekali", gerutunya begitu keluar dari kamar. Sudah siap dengan tampilan ala kadarnya saja. Memakai jeans yang biasa-biasa saja dipadu dengan baju lengan panjang yang juga biasa-biasa saja.

"Oni-chan.. Tumben.. Mau pergi ya?", tanya Mayu, adik Shinn yang tengah sibuk nonton sinetron prime time sambil sesekali ngemil.

"Yoi.. Bilang sama ibu dan ayah, ya.. Mungkin aku pulang agak larut", timpal Shinn yang bersiap meninggalkan adiknya sendirian di rumah. Maklum deh, orang tuanya merupakan pekerja kantoran yang lumayan sibuk. Bahkan biasanya sering lembur dan terkadang pulang jam sembilan malam. Hmm...

"Beres.. Memangnya mau main sama siapa?".

"Luna..", Shinn menjawab pendek.

Mendengar nama gadis berambut magenta itu, Mayu pun jadi tersenyum nyengir. Dipandangnya sang kakak seperti memandang maling yang baru ketangkep dan siap digebukin massa.

"Hihi.. Oni-chan mau kencan dengan Kak Luna?".

GEDUBRAK! Shinn nyaris terhisap black hole mendengar celotehan Mayu. Aduh gawat bener.. Tuh adik kecilnya sudah berpikir yang enggak-enggak.

" Ngawur.. Tidak mungkin kami kencan.. Lagian, setiap pergi bareng, aku sering di-bully sama dia".

Mayu malah makin menawarkan wajah penasaran dan sumringah dengan mata berkaca-kaca. Adiknya Shinn sudah mulai terkontaminasi tontonan sintron deh sama film-film romance deh..

"Jangan bohong ya.. Yang namanya lelaki dan perempuan pergi bareng berduaan itu 'kencan'", timpalnya bagai menggurui kakaknya sendiri.

"Terserah kau saja.. Lagian aku lagi males nih..", kata Shinn yang cepet-cepet mencari dan mengambil sandal jepitnya.

"Ya udah deh.. Selamat bersenang-senang. Semoga kencan kalian lancar ya. Hihihi..", goda Mayu lagi.

"Jaga rumah dan jangan lupa tutup jendela dan pintu sampai ayah dan ibu pulang..", pesannya pada si adik.

Well, jarak rumah yang tidak terlalu jauh, sekitar lima menitan saja sudah membuat Shinn kini berdiri dengan malas dan loyo di depan pintu rumah Luna. Dengan raut was-was, ditekannya bel rumah Luna, dan siaga satu jika iblis wanita itu muncul.

"Siapa itu?", terdengar suara Luna yang perlahan mendekati pintu utama.

"Ini aku..".

"oh, Shinn ? Tunggu sebentar ya, kampret..", tukas Luna dengan ramah. Belum apa-apa aja Shinn udah diejek-ejek duluan. Heh.. Cewek ini memang pedas mulutnya dan bikin telinga merah. Tapi Shinn sih sudah biasa dengan hal itu.. Meski jengel juga sih..

KREK!

Pintu terbuka dan sesosok makhluk hidup nongol batang hidungnya, keluar menghampiri Shinn.

"Duh, kenapa lama sekali?", protes Shinn pada Luna. Cewek bermata biru tadi mendengus,"baru datang sudah langsung mengeluh..".

Shinn pun menggaruk-garuk rambutnya. Gatal karena belum keramas sama alergi juga sama kesinisan Luna yang belum-belum udah nongol lagi. Padahal, ia sudah bersusah payah meluangkan waktu untuk menemani gadis itu, meski dipaksa sedikit sih..

"Baiklah, ayo berangkat..", ajak Luna sekalian menutup pintu. Melangkahlah duo ini berbarengan menuju tempat yang diinginkan Luna.

Penampilan Luna pun gak beda-beda amat.. Hanya memakai celana panjang biru dengan jaket hijau yang menyelimuti tubuhnya. Keduanya nampak seperti dua anak kecil yang ingin membeli permen cokelat di toserba terdekat..

"Apaan nih? Penampilanmu cuma segini doank?", baru sibuk memberi penilaian, sudah dulu Shinn dikomentari oleh Luna.

"Huh.. Memangnya kenapa? Lagian kalo pergi denganmu, begini juga udah maksimal..", jawab Shinn enteng.

"Memangnya aku ini apaan?! Kau mengolokku ya?!",ketus Luna.

"Bukannya kau juga sama. Selalu memakai jaket lusuh itu dan pakai celana yang sama. Apaan tuh? Seragam buat hang out ya?", balas Shinn gantian mengeluarkan uneg-unegnya.

"Hah... Terserah aku dong. Lagian kalo pergi denganmu, begini juga udah maksimal..".

"Oi! Itu kata-kataku!", celoteh Shinn tidak terima omongannya dibajak Luna.

Perbincangan malam minggu yang lagi-lagi kadang ngobrolin tema gak jelas membuat perjalanan mereka tak terasa juga. Sudah hampir dua puluh menit keduanya melangkah. Tapi belum juga sampai di tempat tujuan. Shinn yang sedari tadi cuma ngikut doang jadi bete juga. Apalagi ditambah cuma pakai sandal jepit yang membuat kakinya dikerubuti hawa dingin malam yang mulai menyerang.

"Lun, kemana tujuan kita sih?", tanya Shinn penuh tanda tanya di otaknya.

"Tenang saja. Sebentar lagi hampir sampai kok..", timpal Luna menenangkan rekannya yang mulai bosan jalan terus itu.

Dan benar saja. Keduanya telah sampai di jalanan yang agak sepi. Lampu-lampu penghias jalan terang benderang bersinar di sekitar pepohonan yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Dan Shinn pun kenal banget tempat itu.. Taman kota yang indah dengan semilir angin yang damai, berpadu dengan gemericik air sungai yang mengalir di sudut taman. Tempat dimana Shinn dan Luna sekarang berdiri, membuat mereka bisa melihat dengan jelas pemandangan kota di malam hari dari taman yang memang berada agak tinggi dari kota.

"Nah, sudah sampai!", tukas Luna sumringah.

"Taman kota ya..", ucap Shinn lirih. Diliriknya Luna yang kelihatannya asyik memandang jauh ke arah kota yang gemerlapan dan berkilauan di malam hari. Sembari sesekali ia membelai rambutnya yang diganggu angin malam.

"Ngapain kau mengajakku ke sini?", tanya Shinn yang ikut-ikutan menikmati pemandangan kota.

Luna hanya tersenyum... Matanya tidak mau lepas menatap kejauhan yang menawan.

"Kau ini.. Sesekali kau butuh merasakan angin segar di saat-saat seperti ini. Lagian, apa kau tak bosan jadi pemalas terus?", ujar Luna.

Shinn mendekat ke arah Luna. Tumben, agak baik juga Luna padanya. Haha... Teman yang menyebalkan memang paling paham apa yang terbaik buat kita..

"Jadi ini alasanmu mengajakku kemari? Menikmati pemandangan malam hari di taman.. Hmm.. Tidak buruk juga..", ucapnya.

"Jadi, bagaimana? Bukannya dulu kita sering kesini?", tanya Luna kembali bernostalgia ke masa-masa cilik.

"Haha.. Sejak TK sampai akhir SD ya... Setiap malam minggu sering nongkrong di taman ini. Dulu sih, pasti banyak banget bocah-bocah yang pergi ke sini.", kenang Shinn. Memang sih, kesukaan anak-anak jaman dulu adalah bermain bersama di taman pas malam minggu. Gak peduli apa mainnya, dari petak umpet, sepak bola malam hari, dan sebagainya, yang penting bisa kumpul. Apalagi ketika purnama terpampang sempurna di angkasa. Wuih.. Semakin komplit aja deh...

"Dulu, kau kan sering kalah melulu..", ingat Luna dengan tertawa kecil. Memaksa Shinn mengelus dada dan bersabar. Kenyataan yang menyakitkan memang, waktu SD, ia sering sekali jadi 'loser' dalam permainan apapun. Hehehe...

"Itu dulu kan? Kalau sekarang sih, game apapun aku jagonya..", jumawa Shinn pun keluar juga.

Mendengarnya, Luna jadi agak terpancing juga. Si 'loser' yang dulu selalu jadi korban pelecehan dan penghinaan kini sudah bicara lagaknya juara piala dunia lima kali berturut-turut.

"Oh.. Mau menantangku ya?", balas Luna dengan mata panas membara.

"Aku tidak bilang mau menantangmu.. Tapi jika kau memang mengininkannya, akan kuladeni..", balas Shinn yang juga ikutan semangat. Jiwa muda dan penuh persaingan mereka kumat lagi. Kalau tanding game anak-anak kayak dulu sih, Shinn gak bakalan takut sama Luna deh. Asal gamenya fair dan gadis itu tidak mengeluarkan bogem mentah sih, Shinn oke-oke aja..

"Keluar juga omongan sombongmu. Baiklah! Ayo kita tentukan siapa yang lebih baik! Kau atau aku!", teriak Luna menggelegar langit malam dan memecah keheningan taman.

"Oke deh.. Siapa takut..", balas Shinn tanpa pikir panjang. Yah, mumpung lagi gak ada di rumah. Sekali-kali memainkan sesuatu yang kekanak-kanakan dan merepotkan gak masalah sih. Lagian benar kata Luna, ia perlu refreshing dari kejenuhan malam minggu yang begitu melulu..

"Ngomong-ngomong, apa yang permainan apa yang akan kita lakukan?", tanya Shinn lagi meminta kejelasan. Luna masih dengan wajah antusias mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya. Shinn membayangkan apa yang aka dikeluarka Luna. Mungkin pistol atau semacamnya? Ah.. Terlalu berpikir yang aneh-aneh tuh bocah..

"Okelah! Bawa ini!", celoteh Luna menyerahkan sebuah benda pada Shinn. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah.. sebuah senter mini yang cahaya cukup tajam dan benderang pula.

Shinn mengkerutkan dahinya. Memang ini sudah malam sih, tapi untuk apa lampu senter ini segala? Benda ini kan tidak bisa mengubah ukuran benda seperti senter ajaibnya Doraemon..

"Oi.. Untuk apa ini? Kau mau bermain perang-perangan dengan pedang laser dari senter?", sembur Shinn yang bingung.

Eitss! Luna mengibas-ibaskan tangannya.. Sepertinya bukan itu yang diinginkan Luna. Memangnya ini star wars apa?

"Nama permainannya... 'catch my cat'!", teriak Luna lantang seperti membakar semangat pejuang muda merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

"Hah? Apa maksudnya tuh? Kenapa bawa-bawa kucing segala?", kembali SHinn yang bingung dibuat tambah linglung.

"Tenang Shinn. Sesuai namanya bukan, 'Catch my Cat'. Malam ini.. kita akan mencari kucingku, Death, sampai ketemu!"

GUBRAK! Langsung deh Shinn terkapar gak jelas. Jadi ini toh alasan sebenarnya Luna mengajaknya ke sini.. Heh.. Ternyata tetap saja ia hanya dijadikan budak oleh gadis tersebut..

"Jadi, endingnya cuma suruh cari kucingmu toh?! Kenapa hanya aku?! Kenapa malam hari?! Kenapa di taman?!", emosi Shinn tak karuan yang hanya ditanggapi Luna dengan menguap tanpa rasa dosa.

"Tenang-tenang, Shinn.. Jangan keburu terbawa amarah dong", jawab Luna.

Kemudian, ia pun melanjutkan,"akan kujelaskan, pertama, kau lah yang telah menghilangkan Death-ku tersayang.. Sudah sepantasnya kau ikut dalam perburuan ini.."

"Lalu dimana yang lain? Kau gak mengajak orang lain? Ini pasti hanya buat menyiksa doang kan?"

"Cih..Siapa bilang?! Aku sudah meminta bantuan hampir teman-temanku semua, tapi kebanyakan sibuk dengan acara malam minggu. Dan satu-satunya orang yang gak punya kegiatan jelas hanya kau doang sih.."

Oke deh. Jawaban Luna simpel, bener, dan bisa diterima tuh.

"Lalu kenapa malam hari?"

"Hmm.. Kucingku itu paling seneng tidur.. Biasanya sih jam segini Death udah tiduran di kamarku.. Jadi, paling mudah mencarinya sekarang.."

Hah.. Kali ini alasan aneh dan agak gak bisa diterima sama Shinn sih. Tapi, oke deh.. Terpaksa..

"Kenapa di taman?"

"Hmm.. Sebenarnya kemarin waktu pulang sekolah, aku sempat melihat sepintas kucing hitam wara-wiri di sekitar sini dan masuk ke dalam semak-semak. Kupikir itu Death.. Jadi, mungkin dia ada di sekitar sini.."

"Oi.. Kau gak bisa asal menduga begitu saja. Bagaimana jika itu kucing lain dan pencarian kita sia-sia?",protes Shinn, keberatan dijadikan 'tumbal' oleh Luna demi hal yang merepotkan begini.

"Tenang saja. Aku yakin 80% itu kucingku. Kami punya ikatan batin yang kuat..", celoteh Luna membanggakan diri. Entah apa yang membuat Luna merasa keren mengatakan itu, tapi buat Shinn sih gak keren-keren amat, dan bahkan malah aneh kalo ngaku-ngaku punya ikatan batin sama hewan..

Shinn sudah jelas-jelas menolak segala penyalahgunaan tenaganya untuk hal seperti ini. Seandainya tahu seperti ini yang bakal terjadi, mendingan sih pilih tiduran aja di kamar. Namun seperti yang sudah-sudah, sebelum Shinn mengutarakan pemberontakan lebih lanjut, Luna sudah terlebih dahulu memasang raut iblisnya dan siap menganiaya Shinn kapanpun cowok tersebut berniat ngacir...

GLEP! Jadi, disinilah Shinn.. Di taman melakukan pekerjaan yang tidak disenanginya bersama perempuan yang siap mencekiknya setiap saat.

Setengah jam berlalu, tapi kegiatan yang mereka lakukan belum membuahkan hasil. Shinn dan Luna sudah menyusuri hampir seluruh taman tersebut. Termasuk mengobrak-abrik semak-semak, memeriksa di bawah kursi taman, dan sejenisnya. Namun masih nihil...

"Luna, sepertinya pencarian kita hentikan saja deh..", nasihat Shinn, atau lebih tepatnya permohonan Shinn meminta belas kasihan yang telah memaksanya kerja rodi.

"Jangan bercanda.. Kita pulang jika Death sudah ketemu..", perintah mutlak dari Luna sudah ia sampaikan.

"Tapi..."

"Apa kau mau merasakan jurus baruku, tendangan pemusnah wajah?!", ancam Luna saking sebalnya melirik polah Shinn yang belum apa-apa sudah langsung kehabisan stamina...

Shinn sendiri cuma sanggup menggelengkan kepala. Meneruskan lagi pencarian yang aneh ini. Lagian, apa-apaan tuh 'tendangan pemusnah wajah'? Tidak ada nama yang lebih cool apa?!

Jam mulai menunjukkan pukul sebelas malam, namun tanda-tanda keberhasilan usaha mereka pun tidak terlihat. Malam semakin pekat, dan udara yang menusuk semakin dingin. Suara lalu lalang kendaraan yang melewati jalan sekitar taman pun menjadi berkurang.

"Luna, percuma saja. Kita teruskan besok pagi saja..", bujuk Shinn dengan keringat yang mulai membuat gerah tubuhnya walau udara di taman terasa dingin menusuk rusuk. Lagian sih, Shinn belum habis pikir, pencarian di malam hari kan malah sebenarnya merepotkan mereka sendiri. Justru bila dilakukan saat matahari melambung tinggi akan terasa lebih mudah..

"Ayolah, kita cari besok saja. Lagian, kenapa gak dari sore sehabis pulang sekolah saja? Bukankah lebih mudah?", imbau Shinn mendekat Luna yang tengah sibuk melongok ke kolong kecil yang gelap.

Luna pun berbalik ke arah Shinn. Nafasnya agak tersenggal-senggal. Sembari mengusap keringat yang mengucur deras dari keningnya. Ia pun tak mempedulikan tangannya yang kotor karena sering menyentuh tanah dan benda-benda asing lain di taman.

Melihat Luna yang tampak buruk seperti itu, bukan hal yang menyenangkan pula bagi Shinn.

Ia tak habis pikir kenapa gadis berambut magenta tersebut senantiasa memaksakan dirinya.

Kebiasaan lama yang sepertinya tidak mungkin hilang dari Luna.

"Sudahlah Luna. Hari ini cukup sampai di sini..", ujar Shinn. Dilihatnya kini Luna yang menyangga kedua tangannya dengan lutut. Sesekali ia memijat-mijat dahinya sendiri, menghilangkan rasa pening yang mulai datang.

"Tidak perlu Shinn. Lagian besok kan Minggu, jadi kita bisa mencari Death semalaman..", kata Luna.

Shinn semakin tidak menyukai hal ini. Bukan waktunya bagi Luna bicara enteng seperti itu, di tengah malam yang dingin dan dengan raut muka orang kehabisan tenaga. Selain itu, Shinn sendiri pun merasa sudah tidak memiliki gairah melanjutkan pencarian yang sia-sia ini.

Tidak mau menunggu lama lagi, segera ia menghampiri Luna. Lebih dekat. Luna yang tampak masih sibuk mengatur nafas, terkejut ketika Shinn menarik tangannya dan balik memaksanya untuk pulang..

"Hei.. Shinn. Tunggu dulu! Kita belum menemukan kucing manisku..", balas Luna menahan tarikan tangan Shinn.

"Jangan bodoh! Memangnya kita bisa menemukannya malam-malam begini?!", bentak Shinn.

Kali ini ia mencoba serius. Sudah cukup malam ini dirinya bersabar dengan segala tindakan Luna. Tapi, Shinn pun tidak bisa tahan, ketika gadis itu terus menerus memaksakan dirinya sendiri, dan tidak memperhatikan kondisi tubuhnya...

Luna agak terkejut ketika Shinn memakinya. Mereka sering sih, bentak-bentakan, tapi sepertinya kali ini agak berbeda...

Melihat pegangan tangan Shinn yang agak kendor, Luna lekas melepas tangannya dari genggaman Shinn. Dan lelaki bermata ruby itu pun membiarkannya.

"Selalu saja bertindak berlebihan. Apa kau tidak khawatir dengan tubuhmu sendiri?!", ujar Shinn lagi ketika semilir angin mulai merebak lebih ramai di sana. Luna memang mulai terlihat keletihan, memancarkan sorot mata yang mulai sayu, dan napas tersengal-sengal. Ditambah lagi raut muka yang mulai memerah disertai tubuh yang agak memanas...

"Aku baik-baik saja..", balas Luna pendek.

"Cih, jangan bercanda. Lebih lama lagi di sini akan menimbulkan masalah buatmu. Kau tidak ingin pingsan di tempat ini kan?", imbau Shinn.

"Sudah kubilang kan.. Tenang saja.. Lagian aku memakai jaket kok. Kau sendiri, yang hanya memakai baju panjang saja, tampak sehat.", jelas Luna, lagi sembari membasuh keringat yang terus mengucur di dahinya.

"Jangan memaksakan dirimu lagi. Ayo pulang.."

"Belum, aku belum menemukan kucingku..", jawab Luna lugas, ia langsung berbalik dan bersiap meneruskan aksi yang sempat terhenti sejenak.

"Tidak ada gunanya, malam-malam seperti ini. Mustahil..", jelas Shinn mencoba membuat pengertian kepada Luna.

Luna terus melangkah. Sesekali memanggil nama kucingnya tersebut. Walau dengan tubuh yang mulai melemah dan diserang rasa kantuk, tapi ia mencoba untuk menahannya. Meski Shinn pun sudah tahu keadaan Luna yang mulai tidak kondusif lagi.

"Ayo kembali. Udara dingin tidak baik buat kesehatan.."

"Tidak.."

"Pulanglah, Luna.."

"Pulang saja sendiri!", teriak Luna. Kali ini ia yang tidak tahan dengan celotehan Shinn yang terus saja memaksanya untuk . Tidak baginya sebelum semua usahanya membuahkan hasil.

Tentu Shinn semakin tidak senang dengan hal ini. "Bodoh! Jangan bicara konyol. SUdah kubilangkan, tidak ada gunanya, malam-malam.."

"Memangnya, hanya kali ini saja aku mencarinya?! Aku sudah mencarinya setiap hari, pagi, siang, sore, dan malam?!Tapi... tapi...", potong Luna. Shinn terperanjat. Memang benar, ia kerap melihat Luna pergi sendirian, entah kemana. Dan tidak bisa ia bayangkan...

"Hanya demi seekor kucing, kau sampai sebegitunya..", timpal Shinn masih mencoba menenangkan diri dengan bentakan Luna sebelumnya.

"Kenapa? Bukankah kau yang menghilangkannya?! Kenapa kau bisa ngomong seenteng ini?!", sahut Luna menunjukkan amarah lewat setiap kata yang terucap dari mulutnya.

Shinn terdiam. Benar juga. Gara-gara ia teledor menjaga Death yang dititipkan Luna padanya, sekarang kucing hitam yang nakal abis itu pun pergi entah kemana.

"Tenanglah. Death pasti ditemukan. Tapi malam ini kita sudahi dulu.", bujuk Shinn.

"Te..Tenang? Bagimana aku bisa tenang?! Kucingku... kucingku..", ratap Luna yang masih terdiam menatap bumi.

Shinn sendiri tidak mau terjebak lama-lama di taman. Kini hampir tengah malam, dan suasana tambah tidak menyenangkan saja. Lagi, buru-buru diraihnya tangan Luna. Menariknya untuk segera meninggalkan taman.

Luna bergeming. Bersikeras untuk tidak pergi. Sementara Shinn mencoba untuk mengajaknya kembali. Ia bisa merasakan tangan Luna yang mulai agak dingin..

"Death pasti akan pulang ke rumahmu.", jelas Shinn dengan baik-baik.

"Dia kucing yang manja.. Dia tidak tahu jalan pulang...Kita harus...".

"Jangan memaksakan dirimu seperti ini, idiot! Ayo pergi dari sini..", timpalnya yang kali ini mengeraskan genggamannya pada tangan Luna.

"Kau tidak peduli padanya, Shinn.. Tidak peduli pada Death.. Tidak peduli pada kucing.. yang telah kau berikan padaku dulu..?", sahut Luna. Matanya tampak berkaca-kaca di bawah sinar rembulan yang bebas dari gangguan awan.

Lelaki di hadapannya menelan ludah sejenak. Agak dikendorkannya kekangan yang ia buat di tangan Luna. Dilihatnya sorot mata gadis bermata biru itu yang tampak lelah. Letih menyelimuti tubuhnya. Tapi tatapan Luna terpancar rasa iba dan setengah putus asa. Harapan untuk melihat kembali si kucing hitam itu masih ada, walau dibalut keraguan yang tidak sedikit pula. Namun, Luna senantiasa memandang ke arah cahaya. Ia tidak pernah mau menyerahkan dirinya pada kata 'mundur' bila telah mengambil keputusan untuk maju..

"Kau tidak peduli padanya lagi?", Luna kembali mengulang perkataannya. Wajahnnya yang putih itu pun tampak perkataannya terucap lirih. Tapi keheningan malam memperjelasnya...

Shinn ingat. Anak kucing hitam yang ia temukan, terkapar sendirian di pinggir jalan.

"Nih... Hadiah buatmu.", ucap Shinn setengah memalingkan muka, bocah yang berumur 12 tahun kepada gadis di hadapannya. Luna pun segera mengambil dengan hati berbunga-bunga.

"Waahh... Kucing!", sorak Luna kegirangan,"darimana kau mendapatkannya?"

"Hah... Memangnya kenapa? Aku dapat di pinggir jalan lho..", jawab Shinn seadanya. Tapi bagi Luna tidak masalah. Walau pun hewan ini diambil dari manapun, kucing tetaplah kucing. Dan ia senang akhirnya bisa memiliki hewan peliharaan sendiri..

"Terima kasih,Shinn. Aku berjanji akan menjaganya!", tukas Luna kecil dengan riang.

Ingatan Shinn masih menerawang ke masa lampau yang baginya biasa-biasa saja. Dirinyalah yang memberikan hewan tersebut pada Luna. Dasar, karena cewek itu terus saja merengek minta dibelikan peliharaan, bahkan ia pun sampai merengek-rengek pula pada Shinn dan teman-teman lain. Dan beruntunglah, suatu hari sepulang dari sekolah, ia menemukan Death, yang masih kecil sendirian di jalan. Awalnya, Shinn tidak berniat untuk mengambilnya. Namun, ada rasa iba yang tiba-tiba muncul di hatinya, menatap mata hijau kucing lucu tersebut. Hanya karena ia seekor hewan, bukan berarti ia berhak ditelantarkan begitu saja.

Dan pada akhirnya, ia pun membawa pulang kucing tadi, dan menyerahkannya pada Luna. Karena, ia sendiri sebenarnya paling malas jika harus melakukan hal-hal merepotkan, seperti mengurus hewan dan sebagainya...

Shinn mencoba kembali dari ingatannya. Ditatapnya Luna sekarang, yang masih belum bergerak juga dan terdiam di depannya. Sama seperti dirinya. Dan, keheningan malam semakin menjadi, dengan pekatnya kegelapan yang mulai mewarnai atmosfir bumi. Tidak ada yang bisa mereka lakukan sekarang. Pencarian yang dilanjutkan mungkin hanya membawa sia-sia belaka.

"Luna, sudahlah. Lebih baik kita..."

Belum sempat ucapannya selesai, Shinn lebih dulu dikejutkan ketika tubuh Luna perlahan kolaps dan tersungkur. Beruntung, Shinn dengan sigap menahannya sehinga badan gadis itu tidak terkapar di jalanan.

"Hei, Luna!", teriak Shinn mencoba mencari kesadaran Luna. Gadis itu hanya bisa melenguh kecil. Shinn memegang dahi Luna. Panas. Tubuhnya pun tampak menggigil. Nafasnya mulai agak panas tidak beraturan kembali. Sementara keringat pun mengucur lebih deras dari biasanya, membasahi wajah Luna dan tubuhnya. Pertanda yang tidak baik...

"Sial.. Sepertinya kau terkena demam..", ucap Shinn tanpa ada balasan dari Luna yang tampak bisa menggerakkan jari-jemarinya walaupun hanya sedikit saja.

"Berapa kali kubilang. Jangan memaksakan dirimu malam-malam begini. Dasar..", imbuh Shinn lagi yang jadi sewot sendiri. Kesal dengan rasa keras kepala Luna. Tapi, bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang. Tidak ada waktu untuk mengurusi rasa jengkelnya pada Luna. Tidak ada waktu pula untuk mencari kucing yang baginya telah menyebabkan semua ini.

"Kita pulang sekarang.", kata Shinn lirih sembari mengendong Luna di punggungya. Luna masih membuka mata, meski sedikit, dan tidak bisa memberikan jawaban. Mulutnya sudah terlanjur lemah dan kepalanya sungguh pening. Membuatnya tidak bisa menjawab setiap perkataan Shinn selanjutnya.

Dirapatkannya reselting jaket Luna. Dan dengan langkah terpogoh-pogoh, ia pun menembus malam. Meninggalkan taman tanpa hasil apa pun...