Alhamdulillah... Akhirnya bisa update lagi deh.. Udah alma juga nih... Mari kita lanjutkan kisah klasik anak-anak sekolah di ZAFT High School. Setelah kemarin gak ada scene sekolah, waktunya balik lagi ke tempat untuk menuntu ilmu itu!
Silahkan menikmati sembari menyeruput kopi panas di bawah langit yang menangis ( walah.. chuunibyou mode on nih.. -_-)...
Disclaimer : Gundam Seed bukan punya saya. Di mimpi pun gak bakalan nih.. Hehehe...
Chapter 6 : Menyelesaikan Masalah tanpa Masalah (?)
Gaduh. Kata yang tepat untuk menggambarkan suasana kelas 12 B di saat jam istiarahat. Maklum lah, mereka bagai singa yang terkekang dalam penjara kelas bersama seorang 'sipir' bernama Talia. Dan, begitu bel tanda istirahat berbunyi, jreng! Langsung deh segel yang mengunci mereka seperti lepas begitu saja. Setidaknya ada waktu sekitar setengah jam, untuk bersuka ria sebelum kembali berhadapan dengan Talia Sensei.
Termasuk di dalam kelompok orang yang kumat lagi penyakitnya ialah Athrun. Sret! Langsung deh diambilnya manga dari dalam laci. Kali ini tidak perlu baca sembari sembunyi-sembunyi lah. Kebebasan membolak-balik halaman manga tanpa ketahuan Talia-sensei merupakan nikmat tiada tara bagi dirinya.
Meskipun pada akhirnya...
"Athrun. Lagi-lagi kau malah bersantai seperti ini!" suara cewek yang begitu dihindari Athrun akhirnya terdengar.
Athrun menengadah dan melihat Lacus dengan raut sebal di wajah manisnya.
"Oh. Selamat siang Lacus." sapa Athrun yang tanpa babibu lagi kembali melirik bacaan di tangannya.
Sebuah keputusan yang slaha. karena malah membuat tangan-tangan halus Lacus melayang ke rambut biru Athrun dan menjabak-jambaknya. Layaknya bayi kecil yang sedang memainkan boneka.
"Dengerin orang lain, dong. Bukankah hari ini kau harus mempersiapkan meeting untuk anggota klub buku?"
TING! Otak Athrun jadi menyala. Ia baru ingat jika nanti sore pertemuan rutin dengan junior-juniornya. Ya ampun. Bagaiamana nih bocah bisa lupa ya? Hmm..
"K..Kau benar. Tapi pertemuannya masih lama kan. Lagipula ini masih jam..."
""Paling tidak siapkan dulu perlengkapannya!', sahut Lacus memotong pembicaraan Athrun sembari mencekik leher pria itu.
"Ta..tapi kan ada seksi perlengkapan yang -.."
PALK! PLOK! PLAK! PLOK!
"Kau tetap harus memeriksa kerja anggota lain kan?!" timpal Lacus tanpa memberi kesempatan Athrun untuk memanjangkan alasannya. Tamparan dari gadis berambut pink itu sungguh membuatnya kalang kabut.
"Ba..baiklah. Baiklah.." nah, ini baru ucapan yang ingin didengar oleh Lacus. Kalau saja Athrun taat dari awal sih, gak bakalan juga dibully kayak gini.
Buru-buru ia melangkah tertatih seraya memegangi pipinya yang memerah legam. Keluar kelas menuju ruangan klub diikuti Lacus yang kini telah mengumbar senyuman dan berseri-seri lagi.
"Mengerikan ya..", bisik Yzak kepada Dearka yang ngobrol di sampingnya.
"Kau benar. Lacus bisa jadi monster juga kalau marah." komentar Dearka yang jantungnya jadi dag-dig-dug juga. Aura ketakutan tepancar dari keduanya yang sedari tadi mengamati tontonan menarik itu.
"Oi.. Bukankah selain Lacus masih banyak cewek monster lain?" kali ini Dearka mengeluarkan pendapatnya.
"Ya. Benar..."
"Kita lihat. Cagalli, dia seperti gembong para monster,lalu Luna, hmm, mulutnya lebih tajam dari pedang. Miriallia, dia benar-benar iblis kalo soal mengendus aib orang. Shiho, pendiam tapi sekali emosi bisa dibantai kita. Flay, cerewet dan sok kemayu-nya bisa membunuh orang juga. Tambah Stellar, meski ceweknya imut manis begitu, dia punya fans fanatik yang tak segan menguliti orang yang menghinanya."
Hiii.. Kedua cowok tersebut merinding sendiri membayangkan penguasa-penguasa kelas 12 B tadi.
"Ooohhhh.. Jadi siapa yang kalian bilang monster?! HAH?!"
DEG! Sebauh suara nyaring terdengar dari belakang keduanya. Begitu Yzak dan Dearka membalikkan badan, uhh.. tidak dinyana Mir berdiri di belakang mereka dengan jumawa. Memperlihatkan senyum setannya yang membuat bulu kuduk keduannya merinding.
"Y..Yzak.. Se..sepertinya.. kita tengah berhadapan dengan monster.."
DI tempat lain ah, duet petinggi klub buku, Athrun dan Lacus telah berada di markas besar mereka. Sibuk menyiapkan diri demi pertemuan rutin yang serin g mereka lakukan bersama an ak-anak klub itu.
"Baiklah. Kita bersih-bersih dulu.." timpal Lacus memberi komando pada Athrun. Dijawab dengan senyuman palsu yang dipajang Athrun.
Kasihan kau, Athrun. Hidupmu untuk membaca manga tidak akan pernah mudah selama Lacus masih berkeliaran di sampingmu.
Begitulah, mumpung ada waktu luang, membersihkan ruangan klub merupakan kegiatan yang patut dilakukan oleh Athrun dan Lacus. Lumayan lah, sebagai contoh dan teladan bagi junior-juniornya. Hihihi..
"Athrun, sapu debu di bawah meja itu.."
"Baik"
Dan sang pria pun menunduk, mencari-cari sampah yang berkeliaran di bawah meja.
"Athrun, rak buku nya masih belum rapi nih"
"Baik, akan kurapikan."
"Athrun, jendela masih kotor."
"Baik"
"Athrun, kumpulkan buku ini sesuai kelompoknya"
"Baik"
.. Nasib-nasib. Menjadi Athrun yang seorang maniak manga benar-benar repot juga ya. Benar-benar, hidupnya senantiasa galau dan tidak tenang jika Lacus ada di dekatnya. Bagaimana tidak, kedamaian yang ingin ia rasakan ketika menjelajahi lembaran manga seringkali rusak oleh kengototan Lacus untuk membuat Athrun berhenti menjadi maniak manga.
Hmm. Dan kini pun Athrun, sebagai ketua hanya bisa pasrah ketika Lacus turut menyuruhnya menjadi pelayan membersihkan seluruh ruangan tersebut.
"Sepertinya, aku harus mencari wakil ketua baru yang tidak menyiksaku terus-terusan" gumam Athrun dengan keringat bercucuran dan debu menmeple di wajahnya. Melihat Lacus yang tengah santai duduk manis membaca novel sembari sesekali menyeruput teh hangat buatan sendiri.
"Heh.. Enak banget cewek ini..", gerutu Athrun. Tapi dia tidak bisa apa-apa sih. Hanya bisa memendam kejengkelannya menatap Lacus yang tengah 'damai'.
Susah jadi cowok. Mau menegur, dikira sok tahu. Mau memberitahu, malah bales dimarahi. Mau marah, malah balas dihajar sama Lacus!
Lacus pun melirik ke arahnya. Memberi Athrun senyuman yang innocent dan aura semangat untuk bekerja. "Athrun, berjuanglah!", seru Lacus dengan keras pada cowok yang hanya berada lima meter dari tubuhnya itu. Telinga Athrun pun jadi panas rasanya mendengar ucapan itu. Apalagi omongan tersebut dikeluarkan oleh cewek yang mengajaknya bersih-bersih, lalu sekarang malah keenakan nyantai di sini. Oh God why...
Di sisi lain, nampak Lacus begitu menikmati momen-momen menjadi 'bos' ini. Hahaha.. Jarang sekali Athrun mau menuruti omongannya. Terlalu sering bagi cewek tersebut mendengarkan bantahan-bantahan Athrun yang baginya tidak mutu sama sekali. Hidup dengan membaca manga? Wuih.. Tidak ada itu dalam benak seorang Lacus Clyne. Baginya, ia lebih memilih standar seni yang baginya lebih tinggi, misalkan novel...
"Bagaimana, Athrun?" tanya Lacus dengan ekspresi tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Kau bisa lihat sendiri kan.." balasnya. Fuih.. Walau keringat dan bau sudah mengucur dari dahi Athrun, pemandangan tempat itu gak beda-beda jauh amat dari sebelumnya. Setengah bersih, setengah kotor. Jelas sekali Athrun mengerjakannya dengan ogah-ogahan. Hmm.. Dia memang sulit untuk do something sepenuh hati selain baca manga doang.
"Mo! Lebih niat dong. Lihat, masih banyak yang berantakan nih.." gerutu Lacus.
"Memang benar. Tapi semua ini akan lebih cepat selesai jika kau turut membantu." balas Athrun memberanikan diri untuk membela jiwa lelakinya yang tengah terinjak-injak.
"APA? Masih saja menggerutu?! Seharusnya kau bersyukur, aku mau menemanimu di sini. Hanya disuruh bersih-bersih sebentar saja sudah lelah. Memangnya kau tidak tahu perasaanku yang HAMPIR setiap pulang sekolah mampir ke sini. Menjaga dan merapikan buku. Bla..bla..bla...", wuih.. keren banget nih. Baru sekalimat saja Athrun mau protes, malah kini balik Lacus yang menghujani Athrun dengan ocehan bertubi-tubi. Sayang sekali si Athrun tidak membawa headset atau penutup telinga apalah untuk berlindung dari cibiran Lacus ini.
"Ba..baiklah. Akan kubersihkan ruangan ini.." pada endingnya pun Athrun tunduk juga pada Lacus. Ia jadi berpikir dua kali jika ingin menceramahi Lacus lagi.
"Baguslah kalau kau mengerti.."komentar Lacus sumringah.
Suara gemerisik dan debu yang berterbangan dari ruangan klub buku keluar dari celah-celah pintu dan jendela. Meski tidak ada yang begitu peduli pada, karena pada jam istirahat memang berbagai markas ekskul disemayami anggota dari strata kelas yang berbeda-beda.
Namun, ternyata ada juga yang tengah sibuk memerhatikan polah Athrun dan Lacus. Diam-diam mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Tampak seorang gadis berambut pirang, tengah serius melihat ke dalam ruangan klub buku sembari memegang gagang pintu dengan tangan agak gugup.
"Oi.. Cepatlah, Cags. Jika ingin masuk cepatlah. Selesaikan masalahmu ini..".
Cagalli, si pengintip yang lagaknya seperti maling itu dibuat kaget dengan suara dari belakang.
"Diamlah, Shinn. Ini juga masalahmu kan.." bisik Cagalli pada Shinn yang tengah berjuang mengobrak-abrik hidung mencari upil itu.
"Memang sih. Tapi aku lagi males nih. Lebih baik mengistirahatkan tenaga dan pikiranku daripada ngurus masalah seperti ini.." jawab Shinn panjang agak diplomatis juga.
"Hah? Jadi kau tidak keberatan jika Athrun sampai menyebarkan kesalahpahaman waktu itu?!".
"Ogah lah. Tapi pokoknya selesaikan dengan cepat dan beritahu yang sebenarnya.."
"Makanya, kau juga harus membantuku juga!"
"Tsk"..
Memang sih, si Cagalli masih kepikiran banget kejadian beberapa hari lalu. Ketika dirinya telat dan terjebak di atas tembok sekolah. Mendapat pertolongan dari Shinn. Tapi malah keduanya terjerembab di dalam posisi yang provokatif banget. Siapapun yang melihatnya pasti berpikir keduanya mau ber'ehhmm'.. Dan malangnya, si Athrun secara gak sengaja malah melihat kejadian memalukan itu. Dan.. hmm.. pastilah pikiran tuh anak melayang kemana-mana. Berpikiran yang enggak-enggak..
Sejak kejadian itu, si Athrun jadi agak menghindari Cagalli dan Shinn. Takut jika keduanya membuat perhitungan dengannya karena telah merusak momen berharga mereka berdua, begitu pikir Athrun. Sedangkan Cagalli jadi malah was-was sendiri. Ia merasa perlu meluruskan semua pada cowok berambut biru tersebut. Sementara Shinn yang pada awalnya juga panik, tapi lambat laun malah malas memikirkan hal itu. Hehe.. Dasar nih cowok gak ada yang lebih asyik daripada males-malesan apa?
Si Cagalli yang dari tadi berada di garis depan untuk membuka pintu. Masih saja sibuk dengan tingkahnya yang jadi aneh dan kikuk sendiri. Kakinya bergetar karena perasaan gugup yang tiba-tiba menyelimutinya. Kaki Shinn juga ikutan bergetar, karena kecapekan berdiri. Nih bocah... -_-
"Oi.. Jangan buang waktu" komentar Shinn menyaksikan Cagalli tetap berdiri mematung tanpa maju selangkah pun.
Cagalli menatap Shinn tajam. Ingin sekali dicoloknya bola mata merah si pemalas itu. Sedangkan Shinn juga sendiri juga ingin menonjok Cagalli yang sama sekali no action dari tadi.
"Aku sedang mengumpulkan keberanian dulu, tahu."jawab Cagalli mengatur nafasnya bak pendekar yang mau bertanding di kejuaraan beladiri dunia. Mendengar itu, tentu Shinn tambah sebel, nih cewek pirang banyak cingcong aja..
"Kau ini jadi aneh. Hanya mau ngomong sama Athrun aja sampai segitu kikuknya.."
Hah! Panas telinga si Cagalli dengan ocehan yang dilontarkan kapten tim sepakbola sekolah tersebut.
"Apa maksudmu, kampret?! Ini masalah serius bagi seorang cewek. Pokoknya kesalahpahaman ini harus berakhir hari ini.." pekik Cagalli, mengepalkan tangan ke muka Shinn.
"Hmm.. Sudah kubilang, makanya buruan. Jangan ngomong hal yang sama berulang-ulang dong."
"Aku tahu.." timpal kembaran Kira itu meredakan tensinya yang sempat meninggi.
"Jangan-jangan, kau salting kayak gini gara-gara kau... menyukai Athrun ya?" celoteh Shinn.
GAGGG! Cagalli serasa tertohok wajah dan pikirannya. Kontan saja, tuh cewek langsung membantah habis-habisan.
"Ja..jangan bercanda. Idiot! Mana mungkin aku bisa suka dengan si kutu buku itu?!" cerca Cagalli.
"Heeh.. Wajahmu memerah tuh.." goda Shinn, yang kelihatannya menemukan hal yang asyik untuk dijadikan pengusir kejenuhan sejenak.
"Ini make-up.. Make up!" bantah Cagalli menunjuk-nunjuk pipinya sendiri, mencoba menyanggah apa yang dikatakan Shinn. Fuuiihh.. Shinn memandangi lebih seksama. Suer deh.. wajahnya Cagalli memang agak bersemu gimana gitu...
"Make up ya.."
"Be..beneran!"
Keduanya malah jadi asyik sendiri melakukan perdebatan yang bisa dibilang kagak ada manfaatnya sama sekali. Si Shinn asal ngomong menyangkut pautkan tingkah Cagalli dengan Athrun. Sementara Cagalli sendiri ngotot membantah dengan segala omongan yang ia punya.
Dan perpaduan nyaring suara kedua manusia itu pun mengusik telinga makhluk di ruangan klub buku. Si Lacus, yang asyik bersantai. Mendengar samar-samar suara yang sepertinya ia kenal dari balik pintu masuk. Karena penasaran, ia pun mencoba mengampiri sumber suara yang baginya sepertinya dua orang baru beradu mulut.
"Sepertinya aku kenal suara ini.." gumam Lacus dalam hati. Dan benar saja, ketika pintu klub dia buka. KREK! Tampaklah dua sosok yang sangat-sangat tidak asing baginya. Tapi, bagi Lacus sangat asing sekali melihat keduanya bersama.
"Cagalli... dan Shinn?", serunya menyaoa kedua manusia yang dari tadi celingak-celinguk gak karuan bagai teroris mencari mangsa.
Kaget deh tuh dua manusia yang lagi debat kusir melulu...
"Y...Yo...', balas Shinn ala kadarnya sembari mengangkat dua jari membentuk tanda Victory. Sedangkan Cagalli hanya bisa melongo gak karuan. Rencananya biar bisa ngobrol sebentar sama Athrun dengan diam-diam sepertinya bakal gagal nih. Lacus sudah muncul duluan. Tambah lagi si Shinn di sebelahnya kagak ada rasa grogi atau gugup sedikitpun.
"Yo gundulmu! Jangan bertingkah normal begitu dong?! Bagaimana nih, bagaimana nih, kita gak bisa njelasin semua ke Athrun lagi dengan diam-diam?!" bisik Cagalli panik sekalian nepuk-nepuk jidat Shinn yang dari tadi bikin dia sebel melulu.
Lacus tentu saja heran dengan keberadaan dua makhluk aneh yang bertingkah aneh di depannya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Lacus penasaran. Shinn dan Cagalli pun jadi sibuk berpandangan. Nih, jawaban apa yang tepat diberikan pada Lacus ya?
"Shinn, gimana nih?", tanya Cagalli. Kayaknya otaknya sudah ketemu jalan buntu untuk mencari solusi.
Shinn pun menggaruk-garuk kepalanya. Gatal karena hal ribet begini. Gara-gara Cagalli yang terlalu membesar-besarkan sesuatu yang sepele itu, ya ampun deh.. Ingin sekali rasanya ia segera lepas dari keterkekangan ini dan kembali ke kelas untuk tidur lagi.
Mau bagaimana lagi deh.. Shinn pun terpaksa mengambil pilihan yang dianggapnya paling cepet menyelesaikan masalah...
"Baiklah, akan kutangani Lacus." bisiknya pada gadis pirang di sampingnya.
Cagalli mengangkat alisnya. Belum paham apa yang dimaksudkan Shinn. "Hah?"
Duh, Cagalli...
"Begini. Akan kuajak Lacus buat pergi dari sini. Kemudian kau bisa bicara dengan Athrun. Katakan sejujurnya. Masalah selesai. Beres." jelas Shinn sesimpel-simpelnya.
"WHAT?! Apaan tuh? Kenapa harus aku yang bicara dengan Athrun? Sendirian lagi?!"
"Sudah, lakukan saja Cags."
"Diem lu. Dasar! Pasti kau hanya ingin kabur dari masalah ini dan gak mau membantuku menjelaskannya pada Athrun kan?!"
"Ini opsi paling efektif, tahu. Kalau Lacus di sini, bisa-bisa ia nanti ikutan salah paham". Benar juga Shinn. otakmu memang encer. Cagalli pun mulai menerima perlahan usulan Shinn. Jika sampai Lacus ikut nimbrung dalam obrolan dengan Athrun nanti, malah jadi repot nantinya. Apalagi Lacus yang juga anak klub buku juga pasti punya 'fantasi' gak kalah edan dari Athrun. Hehehe...
"Ba..baiklah." balas Cagalli lirih. Yosh! Sudah ditentukan. Cagalli yang akan face to face dan one on one dengan Athrun!
Lacus sendiri, semakin tidak mengerti dengan polah yang dipertontonkan Cagalli dan Shinn. Dari tadi keduanya hanya bisik-bisik melulu. Seolah merencanakan kejahatan untuk menguasai dunia.
"Ano... Ada perlu apa nih?" tanya Lacus.
Cagalli pun memberi tatapan pada Shinn. Dan Shinn pun membalas dengan anggukan mantap.
"Serahkan Lacus padaku" begitu raut mukanya seolah berkata.
"Oi, Lacus. Bisa bicara sebentar gak?" ajak Shinn menunjukkan keramahan di balik muka malasnya.
"Ya ngomong aja langsung." jawab Lacus sok innocent.
BRAK! Ayolah Shinn, kau pasti bisa melakukannya dengan lebih baik. -_-
"Maksudku, aku ingin bicara empat mata denganmu." timpal Shinn, kali ini menampilkan keseriusannya. Sontak Lacus jadi terkejut. Apa yang merasuki Shinn sehingga ingin bicara dengan dirinya? Begitulah pikir Lacus.
Apalagi selama ini dirinya juga jarang ngobrol dengan Shinn. Paling-paling hanya obrolan sederhana dan tidak sedekat Shinn dengan Luna.
"A..Apa?" tukas Lacus jadi sedikit gugup.
"Kumohon, Lacus. Shinn benar-benar sungguh-sungguh kali ini." Cagalli pun ikut-ikutan mengompori suasana.
Melihat kesungguhan dari keduanya, Lacus menelan ludah. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Shinn darinya sehingga Cagalli pun turut campur tangan juga?
"Tapi, aku tak bisa meninggalkan Athrun begitu saja di sini.."
"Tenanglah. Athrun sudah besar. Dia bisa menemukan jalan pulang ke kelas kok.." celoteh Shinn.
Dan tanpa banyak cincong, langsung saja Shinn menarik Lacus yang tengah dilanda ketidakpahaman dengan apa yang terjadi. Sip Shinn! Lebih cepat lebih baik deh...
"Tu..tunggu Shinn! Apa yang kau lakukan?" timpal Lacus yang tersentak melihat polah Shinn yang tiba-tiba menyeretnya pergi tanpa rasa dosa sedikitpun.
"Nanti juga tahu. Ikut saja" tukas Shinn.
Ah! Lacus jadi semakin penasaran nih. Belum pernah ia melihat Shinn ngotot seperti ini selain dengan Luna. Dan lagi, kenapa harus menjauh dari Athrun dan lainnya? Kenapa Shinn mengajaknya bicara berduaan saja?
Pikiran Lacus pun menjalar kemana-mana...
"Ja..jangan-jangan. Shi..Shinn mau menembakku?!" jerit Lacus dalam hati. Wajahnya jadi menegang dan memerah membayangkan hal-hal yang akan terjadi selanjutnya.
Dilihatnya Shinn lagi yang sibuk menggandengnya. "Se..sepertinya benar. Wajahnya serius sekali." batin Lacus lagi. Ia pun mencoba menenangkan dirinya. Sepertinya gadis berambut pink itu belum siap mental dan fisik nih...
Dari kejauhan, Cagalli melihat keduanya dengan tatapan berbinar. Joss deh! Rencananya untuk bisa bicara dengan Athrun tanpa diketahui orang lain bakalan lancar nih. Walaupun ia sebenarnya jengkel juga karena Shinn terkesan 'kabur' dan tidak mau ikut bertanggungjawab menjelaskan kronologi sebenarnya.
Tapi peduli amat deh! Lagian Shinn sudah menghandle Lacus. Sekarang Cagalli pun juga harus siap! Ia menghela nafas sejenak. Persiapan terbaik disiapkannya bagai prajurit yang akan meluncur ke medan perang.
Yosh! Sekarang saatnya!
BREKK! Secepat kilat Cagalli membuka pintu ruang klub buku yang tadi sempat tertutup lagi oleh Lacus. Tinggal menatap lurus ke depan saja. Ia sudah bisa melihat Athrun yang lagi sibuk merapikan isi ruangan tersebut.
Athrun, yang mendengar suara pintu terbuka, lekas membalikkan badannya. Dan.. Waduh!
Dikucek-kuceknya matanya sendiri, agak tidak percaya yang berdiri sempurna di hadapannya adalah Cagalli..
"Ca..Cagalli?!" pekiknya sembari membaluh peluh yang tiba-tiba mengucur deras dari keringat.
"A..Athrun. Kita perlu bicara.." sambar Cagalli berusaha langsung menunjukkan maksud kedatangannya ke sana.
Athrun pun tersigap. Segera ia merapikan tangannya dan menunda sejenak pekerjaan yang dihibahkan Lacus padanya. Sedangkan Cagalli pun lantas menutup pintu ruangan tersebut. GREK! Tingalah dua manusia di dalam sana...
Hening...
Athrun tidak mencoba untuk memulai pembicaraan dulu. Matanya kadang berkeliaran ke mana-mana berusaha menghindar dari pandangan Cagalli. Sementara Cagalli.. aduh.. dia malah jadi kikuk sendiri! Bukankah tadi ia sudah siap perang?
"Jangan buang waktu".
Ucapan Shinn sebelumnya kembali terngiang di telinga Cagalli. Membayangkan si cowok pemalas itu ngomong sok cool begitu sambil menguap itu benar-benar membuatnya sebal. Hehe..
"Begini, ada yang ingin kuomongin soal kejadian di belakang ruang UKS kemarin lusa!"
JREP! Athrun langusng terbelalak. Nih, ia yakin kalau Cagalli bakalan mengancamnya jika sampai membicarakan hubungan Cagalli dan Shinn. Begitu pikir si ketua klub buku.
"Te..tenang saja. Tenang saja. Aku sudah bilang kan tidak akan membocorkan hubungan kalian." balas Athrun secepatnya..
Wajah Cagalli sontak agak merah. Dianggap punya hubungan khusus dengan Shinn sunguh membuat hatinya panas. Mana mau ia dijodoh-jodohkan dengan jagonya malas dan tidur itu?
"Bukan begitu, Athrun! Kau salah paham!" timpal Cagalli membahana membelah angkasa.
Jadi merinding Athrun menyaksikan kengototan tuh cewek. "Te..tenanglah Cagalli..."
Sementara itu, Shinn menghentikan langkahnya. Tampaknya sudah lumayan jauh juga ia membawa Lacus untuk tidak mencampuri 'pertempuran' Cagalli. Lekas saja Lacus menyambar tangan Shinn agar melepaskan pegangannya.
"Oh, baiklah." kata Shinn simpel.
"Kenapa kau membawaku ke... atap sekolah? Sebenarnya apa maumu?" kembali Lacus mencoba bertanya. Masih berusaha mengulik motif apa yang ada di balik otak Shinn.
"Uhmm.. Sebenarnya..." Shinn berhenti sejenak. Benar juga, kenapa pula ia membawa Lacus ke tempat paling romantis se sekolah? Arghh! Gak sadar nih. Kayaknya tadi Shinn asal jalan aja menjauh dari ruangan klub. Dan takdir telah menuntunnya ke tempat ini. He.. lebay ah..
Sembari menunjuk ke arah langit yang cerah, ia berkata,"Aku ingin menunjukkan pemandangan ini.". Omong Shinn asal nyeplos aja apa yang ada di pikirannya.
Lacus pun terperangah. Sepoi angin semilir membuat rambutnya menari. Mendramatisir suasana.
"Be..benar. Ternyata Shinn ingin menyatakan cintanya padaku." batin Lacus bersemu. Jantungnya jadi berdegup kencang. Aduh, dia tidak tahu bagaimana caranya berhadapan dengan cowok seserius ini!
"Ma..maaf, Shinn. A..Aku harus kembali ke klub.." seketika Lacus yang jadi salting pun berusaha nyelonong kabur dari kejadian mendebarkan ini. Woit! Tapi Shinn tentu gak mau dong si Lacus merusak rencana Cagalli di sana. Maka secepat Hokage Keempat ia menghadang Lacus.
"Tunggu Lacus. Tetaplah di sini, sebentar lagi saja." pinta Shinn, berusaha mengulur waktu buat cewek pirang somplak di lantai bawahnya.
"Ah! Shinn, a..aku tidak bisa.. aku tidak bisa.." si Lacus yang imajinasi udah melebihi kadar batas pun jadi konyol sendiri.
"Oi, kenapa nih cewek?" batin Shinn sweatdrop.
"Maaf, Shinn. Tapi aku harus pergi."
Dan Shinn tetap berusaha menghadang Lacus. Sepertinya orang yang lagi main gobak sodor tuh.. Keduanya malah jadi kejar-kejaran di atap.
Tak jauh dari tempat keduanya, tepatnya di atap gedung seberang, terlihat sosok Miriallia dan Dearka dengan tatapan bak kucing pencuri. Rupa-rupanya, dua wartawan ini, secara gak sengaja menangkap pemandangan langka antara Lacus dan Shinn tersebut.
"Lihat baik-baik. Duo sejoli yang main kejar-kejaran. Mesra sekali, seperti pasangan film India saja." celoteh Mir, seraya memotret motret 'buruan' yang menggiurkan ini. Di sebelahnya, Dearka sibuk membuat tulisan, yang nantinya siap diterbitkan di Majalah Zaftzine mengenai si Lacus dan Shinn.
"Mengejutkan. Si pemalas dan putri innocent pemalu ternyata sejoli." komentar Dearka dengan wajah penuh lebam. Habis dipukuli Mir di kelas, karena mengatai cewek-cewek sebagai monster sih. ( Si Yzak juga turutan dihajar kok..).
"Berita bagus. Berita bagus." tambah Mir dengan senyum mengembang.
Oke, si Lacus dan Shinn, yang tadi sibuk berlarian kucing ke sana kemari. Akhrinya berhenti. Capek juga. Hosh! Hosh! Akhirnya pun, keduanya tetap stagnan di atap sekolah.
"Kau keras kepala." kata Shinn, melihat Lacus yang keletihan dan duduk lemas penuh keringat.
"Kau juga."
Keduanya pun malah tertawa bersama. Konyol. Memikirkan apa yang barusan mereka lakukan.
"Dasar, sudah kubilang tak perlu berlari dariku kan. Emang aku terlihat seperti om-om mesum?" tukas Shinn berusaha mencairkan suasana lagi.
"Enggak sih. Mirip kakek-kakek mesum!" balas Lacus yang sepertinya sudah mulai terbawa suasana. Tapi gak perlu waktu lama, Lacus buru-buru memalingkan mukanya dari Shinn. Hmm...
"Baka! Baka! Baka! A..Apa yang kulakukan sih?" pikir gadis itu lagi.
Shinn, yang melihat Lacus bercucuan keringat dengan wajah memerah, jadi kasihan juga. Gawat nih. Dikeluarkannya sapu tangan dari sakunya. Dan disodorkan kepada Lacus. "Nih, bersihkan wajahmu.."
Tentu saja hal ini tidak terpikirkan oleh Lacus. Si cowok pemalas meminjamkan sapu tangan padanya? Hmm... Seumur-umur baru kali ini ada cowok yang mau meminjamkan itu padanya. Hiks...
"Uhmm. Terima kasih." sahutnya, mengambil pemberian Shinn. Dirinya tak menyangka, begitu serius Shinn mengejarnya dan berkorban demi mendapatkan hatinya. "Dia benar-benar jatuh cinta padaku.." gumam Lacus lagi setengah malu tapi full ge-er banget.
"Oh, ya. Bagaimana keadaan Luna?" tanya Lacus, berusaha untuk membuka topik dengan pembicaraan lain.
Shinn menggaruk kepala. "Tidak apa. Dia hanya demam kok. Paling sehari dua hari sembuh."
"Begitu. Tapi tak kusangka, Luna bisa sakit juga ya."
"Oi, Lacus. Dia kan juga manusia.."
Shinn jadi terbayang kejadian sabtu malam kemarin lusa. Tetap saja tidak bisa memahami segala kebodohan Luna yang susah-susah mencari kucing di malam hari. Sampai mengajak dirinya lagi..
Buat repot saja tuh. Ditambah lagi pake acara sakit segala lagi. Aduh...
"Dasar. Jangan pernah merepotkan orang lain seperti itu lagi.." gumam Shinn menerawang angkasa.
Beruntung sekali Shinn berada bersama Luna. Sehingga setidaknya bisa menggendongnya sampai ke rumah. Selama perjalanan itu, Shinn pun acapkali mendengar desahan Luna yang tersengal-sengak. Juga tubuhnya yang terasa panas, dengan keringat dingin deras membasahinya. Aneh rasanya. Luna yang terlihat lemah seperti itu bukan seperti Luna yang ia kenal. Sikap menyebalkan dan hobinya membentak Shinn seakan sirna. Yang Shinn bawa hanyalah gadis lemah yang tengah terluka...
Lacus memperhatikan dengan seksama. Bagaiman Shinn malah melamun menatap cakrawala di kejauhan. Sedari tadi, ia belum pernah menyaksikan Shinn jadi sibuk sendiri seperti ini. Hmm.. Apakah gara-gara pembicaraan tentang Luna?
"Apa yang sebenarnya Shinn pikirkan ya?" gumam Lacus.
Seketika Lacus pun teringat. Beberapa hari yang lalu, ketika ia melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Saat Luna dan Kira tengah berduaan di taman. Pemandangan yang indah, tapi juga menyakitkan baginya. Menatap Kira yang dia kagumi tengah mesra bersama Luna. Tidak lain tidak bukan, Lacus yakin jika keduanya telah menjalin hubungan yang lebih jauh dari pertemanan.
"Benar juga. Luna sekarang telah berpacaran dengan Kira. Pasti... Shinn merasa kesepian dan kehilangan." pikir Lacus mengambil kesimpulan dari intuisi yang asal-asalan deh..
Agak menelan ludah,ia memberanikan diri untuk bertanya,"A..apa yang kau pikirkan tentang Luna, Shinn?"
Heh! Shinn yang mendengarnya langsung ngucek telinganya. Darimana datangnya pertanyaan Lacus yang aneh dan ke-cewek-an banget itu...
"Ngomong apa sih. Gak biasanya tanya soal orang lain seperti ini..." balas Shinn.
"Nggak kok.. Bukan begitu. Hanya saja..kau tampak berbeda ketika membicarakan Luna."sahut Lacus.
Heh? Shinn mencoba menelan perlahan omongan dari cewek di sampingnya itu. Ia berpikir sebentar. Benar juga sih, kalau ngomongin Luna memang jadi agak gelap gitu suasananya. Maklum lah, membicarakan orang yang nyebelin bikin Shinn jadi sewot melulu. Tapi, ketika melihat Luna tengah bersedih, entah kenapa Shinn jadi merasa tidak nyaman juga.
"Entahlah.. Luna itu orang yang keras kepala. Sudah tak terhitung lagi berapa kali menghajarku. Cewek yang kasar dan terkadang, suka menang sendiri. Meski begitu, orang-orang begitu mudah tertarik dengannya. Dia orang yang terbuka. Membawa keceriaan kepada siapapun di sekitarnya. Tidak peduli berapa kali Luna sering membentak dan memarahi, dia selalu peduli dan menyayangi teman-temannya. Dia tak suka orang lain menangis dan terluka, walaupun dirinya sendiri terluka. Ia hanya berusaha menjadi Luna yang senantiasa ramah dan easygoing kepada setiap orang. Mungkin karena itulah, banyak orang merasa nyaman berada di dekatnya..."
Penjelasan Shinn yang panjang lebar, membuat Lacus berdecak kagum. Sudah seperti penceramah kelas ulung saja. Sama sekali tidak menyangka, Shinn yang kadang juga malas bicara itu bisa membicarakan Luna segitu panjangnya. Cepat dan tanpa pikir panjang. Bagai mengenal Luna segitu jauhnya.
"He..hebat. Kau bisa mendeskripsikan Luna dengan indah. Kau ini seorang pujangga ya." puji Lacus berbinar-binar.
WEKK! Dipuji seperti itu membuat Shinn agak salting dan memerah. "Ja..jangan bercanda, Lacus. Semua orang juga pasti gampang mendeskripsikan si gadis somplak itu.."
Mendengarnya, Lacus hanya tertawa kecil. Shinn yang melihatnya jadi bingun sendiri. Semudah itukah dirinya ketika membicarakan Luna? Awalnya terasa biasa, tapi kemudian menjadi agak memalukan. Sangat gampang, sangat gampang bagi Shinn untuk menjelaskan siapa Luna menurut pendapatnya sendiri.
Arghh... Shinn geleng-geleng kepala sendiri. Entahlah, pasti karena kedekatan aneh mereka sejak kecil yang sering bersama. Lacus menatap ke bawah. Menyaksikan bunga sakura bermekaran, berpisah dari pohon yang telah menjaganya selama ini.
"Kalo Luna gak masuk, jadi terasa sepi ya.." komentarnya. Shinn diam sejenak, sebelum memberi anggukan kepada Lacus.
"Biasanya dia pagi-pagi langsung menjitak kepala Shinn yang lagi tidur.." tambah Lacus meniru-niru gaya Luna memoles Shinn.
"Saat dia bareng Cagalli, wah tuh duet udah seperti destroyer aja." celoteh Shinn, ikut menyumbangkan suara.
"Pas sama Flay, keduanya cerewetnya minta ampun.." kata Lacus. Shinn sendiri pun menganggap si Lacus dan cewek lainnya juga sama saja sih, kalau soal ngerumpi.
"Ingat, setiap kali Luna nge-band bareng Stellar. Benar-benar lucu ya. Si tomboy dan hiperaktif main gitar akustik, sedangkan Stellar yang innocent abis megang drum. Bukannya seharusnya kebalik ya?" seloroh Lacus lagi. Hanya disambut tawa oleh Shinn.
"Jangan lupa, saat kelas dua ketika kelas kita pentas drama. Si Luna jadi tuan puteri yang aneh abis, sedangkan Athrun pangeran yang gak banget. Kelihatannya gak meyakinkan sih, tapi kok bisa-bisanya kita menang ya? Hihihi.."
Keduanya terus-terusan ngobrol. Bersahut-sahutan mengingat momen ketika Luna berulah dengan karakter lain di kelas. Benar-benar nih, teman lagi sakit malah si Shinn sama Lacus sibuk ngerumpiin Luna seenaknya. -_-
"Ingat-ingat! Ketika Luna bersama Kira..." eh.. Lacus memotong omongannya. Menyebut Kira dan Luna, membuatnya teringat ketika keduanya tengah.. berduaan di taman. Entah mengapa, semangatnya ngobrol jadi surut. Ia hanya bisa membayangkan tangan Kira yang begitu lancar membelai rambut Luna...
Ngilu rasanya. Lelaki yang ia sukai bermesraan dengan teman baiknya.
Shinn yang melihat sikap Lacus yang tiba-tiba jadi murung, mendekati dan memerhatikan wajahnya dengan seksama. Lacus yang menyadari Shinn sudah begitu dekat dengannya, lekas memalingkan matanya.
"Oi, Lacus. Kenapa kau? Tiba-tiba murung begini?"
"Eh.. Oh.. Tidak apa-apa kok.."
"Dasar aneh."
"Ha? Ke..kenapa?"
"Kau ini aneh, Lacus. Tadi kau malu-malu, lalu bertingkah gaje sendiri, kemudian jadi ceria, sekarang malah cemberut begini."
Mendengar itu Lacus mengumbar sedikit senyumnya.
"Ano.. Shinn. Kalau Kira, bagaimana pendapatmu tentangnya?" tanya Lacus. Sudah barang tentu, Shinn cuma bisa nyengir. Nih cewek dari tadi tanya hal-hal yang diluar nalar cowok sih.
"Gila.. Kenapa sekarang malah ganti topik ke Kira nih. Jangan bertanya soal cowok padaku. Memangnya aku homo apa?!" sindir Shinn menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku hanya bertanya pendapatmu kan? Memangnya cowok ngomongin cowok itu pasti homo?"
Ngg..Ngaak juga sih. Hehe.. Shinn terlalu cepat mengambil kesimpulan deh. Payah tuh. -_-
Uh.. Garuk-garuk pipi dulu deh si Shinn. "Si Kira ya... Dia itu playboy..". Singkat jelas dan padat. Penggambaran yang diberikan untuk sosok seperti Kira, memang kata 'playboy' sungguh tepat.
Lacus mau protes sih. Masa sosok yang dikaguminya dikatakan seperti itu. Tapi, kalo dinalar sih memang realitanya begono. Mau diapakan lagi? Hehehe...
"Apa kau tidak berpikir, jika sebenarnya Kira mungkin sudah punya kekasih?" ujar Lacus lagi. Kembali kalimat tak terduga meluncur dari mulut manisnya.
"Uhm... Meneketehe.. Aku 'kan bukan stalker-nya Kira.." celoteh Shinn menuding Lacus, yang dipikir-pikir memang hampir jadi penguntit si Kira. Well, meski wajar sih. Wong hampir sebagian besar cewek-cewek sekolah juga sering diam-diam mbuntutin Kira. Weeeww...
"Kenapa kau bisa berpikiran begitu?" kali ini Shinn yang balik bertanya.
"Nggak papa..nggak papa.. Cuma tanya doang.." seru Lacus mengibas-ibaskan tangan. Walaupun dipikirannya masih terngiang bayangan Kira dan Luna yang lagi bareng dulu. Aduh. Tuh gambar diotaknya kok gak ilang-ilang sih?
"Shinn, lalu apa kau pernah berpikir, jika Luna juga sudah punya kekasih?"
GUBRAK! Nih cewek! Dari tadi tanya yang bikin Shinn mau jantungan aja. Apalagi nih?! Balik ngomongin Luna ya..
"Jangan ngomong aneh-aneh dong.. Mana mungkin Luna dah punya pacar? Cewek seperti itu.. gak mungkin" balas Shinn pede. Siapa emang yang paling kenal Luna sekelas. Ya Shinn lah! Pertanyaan sableng kayak gitu tadi sih gampang banget dijawabnya. Meski kaget juga sih...
"Kalau ternyata punya gimana?" eh, Lacusnya malah membantah nih.
"Gak bakal"
"Kalau punya?"
"Mustahil"
"Kalau punya?"
"Tidak mungkin"
"Kalau punya?"
Uurrgghh... Nih cewek buat kepala Shinn pusing aja. Lacus sekarang malah repeat omongannya sendiri berulang-ulang kayak robot lagi error. Dan kenapa, topiknya Luna lagi? Bikin Shinn risih aja.
"Kalau punya? Apa kau akan diam dan menerima begitu saja. Dia kan teman baikmu.."
Shinn diam sejenak. Melemaskan otot-otot di keningnya yang nongol. Berusaha mengontrol aliran darahnya yang tengah diuji oleh gadis lugu tapi keras kepala bernama Lacus ini. Sejenak ia berpikir. Seandainya memang benar, apabila si Luna ternyata telah memiliki kekasih, apa yang akan dirinya lakukan?
...
Ah! Peduli amat! Itu kelak jadi urusan Luna sendiri. Tidak ada alasan baginya untuk mencampurinya.
"Dengar Lacus. Ada waktunya bagi manusia untuk menjadi dewasa, dan mengenal yang namanya cinta. Cinta dan kasih sayang itu, kita berikan kepada pasangan hidup dengan sepenuh hati. Keingingan untuk saling melindungi, tersenyum, dan tertawa bersama. Setiap manusia membutuhkan pasangan untuk melengkapi hidupnya dan mampu menutupi kekurangan mereka. Jika kau merasa telah menemukan orang yang membuat hatimu nyaman dan mampu melengkapi hidupmu, ungkapkan perasaanmu yang sesungguhnya. Dan walaupun ia tidak bisa memenuhi keinginanmu, tetaplah tersenyum. Hatimu tidak diciptakan untuk meratapi cinta lama milikmu yang telah layu.."
Lacus, sekali lagi, terpana. Lelaki dihadapannya, mengeluarkan kata-kata yang terasa berbeda. Ia tidak melihat seorang Shinn yang pemalas di sana. Namun, pria yang tengah memandang jauh ke langit biru, ditemani angin yang membelai rambut hitamnya...
"Keren.." gumam Lacus. Seperti di novel-novel saja.
Sedangkan Shinn, capek juga ngomong agak mikir model seperti itu. Huff.. Maklum, terpaksa dia cingcong agak panjang, tentunya agar si Lacus gak tambah menggila lagi. "Sip deh. Dia jadi diem begitu. Jadi gak tanya aneh-aneh lagi."
Lacus, masih terbuai perkataan Shinn. Tidak menyangka sih. Lagi, Shinn sepertinya berbakat disuruh menulis novel. Lacus melihat Shinn, entah mengapa seperti ada pancaran kesedihan dari mata rubinya, pikirnya Lacus. Padahal itu cuma tatapan kosong biasa Shinn yang lagi males aja.
Gara-gara omongan Shinn tadi, bayangan Lacus tentang si Shinn jadi beda. Dia seolah seperti melihat pangeran yang terbuang. Kesepian, dan terasing dari dunianya selama ini. ( Dasar Lacus. Novelnya kebanyakan baca tuh..).
"Be..benar. Sebenarnya Shinn mengetahui hubungan Kira dan Luna. Tapi ia tidak sanggup untuk menghentikan semua itu. Dia memilih untuk terluka, demi Luna. Hiks... Sungguh pengorbanan yang luar biasa.." imajinasi Lacus melayang-layang lagi. Perlahan, berusaha menyatukan kepingan puzzle tentang apa yang dianggapnya 'kisah bertepuk sebelah tangan' tersebut.
Lacus pun mencoba membandingkan dengan nasibnya sendiri. Benar. Tidak jauh berbeda dengan dirinya. Dia pun juga sering melihat Kira pergi dengan banyak perempuan. Menggoda gadis-gadis lain. Dan sering melihatya sekilas saja. Tatapan sama seperti yang Kira berikan kepada cewek-cewek pada umumnya. Seolah dirinya hanya biasa saja bagi Kira...
Nasib yang sama. Dirinya dan Shinn. Takdir...
"AHH! Ja..Ja..jangan-jangan aku dan Shinn, kami ditakdirkan bersama?!" teriak Lacus dalam hati. Sembari menelan ludah ia mengamati Shinn seksama yang sekarang sikapnya kok jadi cool mirip Sasuke gitu ( di mata Lacus doang sih -_-..)
"Ka..kalau dilihat-lihat. Shinn.. juga keren sih. Dia kan kapten tim sepakbola. Juga jenius. Walau tukang tidur di kelas..." Lacus sibuk menilai Shinn sendiri dengan segala ke-lebay-an imajinasinya.
Ini..itu...ini..itu...
Aduh! Lacus tidak menyangka. Kenapa sekarang dia malah condong ke Shinn sih?! Apa-apaan ini? Melihat Shinn yang lagi diam begitu saja sudah buatnya agak blushing...
KYAAA!
Gak tahan lagi dengan sikapnya sendiri. Lacus pun tanpa banyak ngomong, terbirit-birit meninggalkan atap sekolah. Cuing! Shinn yang lagi santai, menyadari hal itu...
"Oi! Mau kemana, Lacus?" ujarnya. Tapi tak ada balasan dari Lacus yang telah meninggalkan pintu di lantai teratas itu. Shinn sih udah gak niat ngejar tuh Lacus. Lagian, ia merasa waktu yang diberikan kepada Cagalli untuk menyelesaikan masalah dengan Athrun sudah cukup..
"Terserahlah. Waktunya untuk tidur sejenak..."
Shinn lumayan lama menyita waktu bersama Lacus. Tapi di ruang klub, 'negosiasi' antara Cagalli dan Athrun belum menemui titik temu. Well, setidaknya hampir menemui kok..
"Jadi, kau sudah paham kan, Athrun? Semua ini, sa-lah pa-ham. Tidak seperti yang kau bayangkan." jelas Cagalli segamblang-gamblangnya. Ia tidak menyangka, bakal membuang banyak waktu juga untuk meluruskan hal ini dengan Athrun. Tuh cowok memang gak mudeng terus sih...
"Ehm.. Cagalli, kau sebenarnya tidak perlu malu-malu. Bila memang kau punya hubungan dengan Shinn, aku janji tidak akan ngomong ke orang lain. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah mengganggu kalian waktu itu.."
Bener kan? Bikin jidat Cagalli mau meleleh aja deh. Kebanyakan baca manga sih, makanya Athrun jadi mengkhayal jauh, terlalu jauh dari kenyataan yang tengah dipaparkan Cagalli.
"Jangan ngomong gitu! Kami cuma kebetulan ketemu di tempat itu! Kenapa kau tidak percaya omonganku sih?!" kesal Cagalli menjambak-jambak rambutnya sendiri. Frustasi tingkat tinggi nih..
"Tenanglah, Cagalli. Aku berjanji akan tutup mulut, makanya-".. CLURUT! Belum sempat lidah Athrun merampungkan kata-katanya, keburuan dulu Cagalli menarik-narik kerah bajunya. Aduh, pusing tujsuh keliling..-_-
"Diem! Diem! Diem! Pokoknya jangan berpikir macam-macam lagi. Semua itu hanya kebetulan..."seloroh Cagalli, nada suara memberat dan tatapan kesetanan, penuh ancaman untuk melebamkan mata cowok di depannya tersebut.
"O..Bak,baik. Le..lepaskan aku.." pinta Athrun merengek. Dan akhirnya, nyawanya pun terselamatkan. Amin..
Keduanya diam sejenak. Mengatur napas. Dari tadi sama-sama mau menang sendiri deh. Si Athrun, begitu percaya dengan intuisi dari dunia imajinasinya.. Sedangkan Cagalli, gontoknya setengah mati.
"Ca..Cagalli, boleh aku bertanya?"
"Hah? Apa?" timpal gadis berambut pirang tersebut.
"Apa kau ... jangan-jangan shinigami yang nyasar tidak bisa pulang ke Soul Souciety, terus nginep di rumah Shinn, begitukah?"
Kampret.. Dikira mau tanya agak 'normal' atau apalah. Eh, nih Athrun malah kagak punya dosa banget. Cuma bisa membuat Cagalli melongo mendengar ucapan Athrun, yang ah.. otaku abis tuh cowok!
"Jelas gak mungkin kan?! Otakmu itu yang nyasar kemana-mana?!" judes Cagalli berkacak pinggang.
"Jadi, kau ternyata gadis immortal yang membuat kontrak dengan Shinn, lalu berniat menguasai dunia?"
"Ngaco! Dasar kau ini ya, berapa banyak manga dan anime yang telah kau tonton sih?! Apa otakmu tidak ada isi selain hal itu!" jengkel Cagalli. Ditendangkanya meja di sampingnya karena saking kesalnya. Gak peduli kakinya jadi nyut-nyutan...
"Kau.. mungkinkah punya kekuatan super?!" jadi ngelantur kemana-mana deh nih obrolan..
"Dasar! Kalo aku punya kekuatan super, sudah kubuat kepalamu jadi botak!" bentak si pirang. Buat sewot banget si Athrun ini. Dari tadi malah memikirkan hal-hal yang aneh. Dapet darimana dia ilmu macam itu sih? Siapa yang ngajarin dia jadi maniak manga begini. Weleh...
"Kau masih tidak percaya dengan omonganku, Athrun?"
"Ehmm..Begitulah.."
"Masih menganggap aku..dan si pemalas itu.. pacaran? Gitu?"
"Semua orang yang melihat kalian saat itu, pasti juga memiliki pemikiran yang sama 'kan?"
Ueh.. Sulit ditaklukan juga si Athrun. Tapi bener juga sih, manusia yang kebetulan nongol, dan jadi saksi mata kejadian pas Cagalli turun dari pagar sekolah, pasti berpikiran macam-macam. Lha gimana? Wong yang terlihat adalah dua sosok beda jenis kelamin tengah berduaan, bertindihan lagi, meski gak sengaja...-_-
Si Athrun dan Cagalli sekarang malah kelihatan seperti sepasang kekasih yang lagi cekcok gak jelas gara-gara orang ketiga. Hehehe..
Cagalli menghela napas dalam-dalam. Terpaksa nih...
"Baiklah, kalau begitu, akan kubuktikan jika aku dan Shinn tidak punya hubungan apapun!" tegas Cagalli dengan menyilangkan lengannya biar lebih mantap. Athrun merasa agak merinding. Sekarang, apalagi nih yang mau diperbuat Cagalli? Hmm.. Jadi penasaran deh Athrun..
"Apa maksudnya? Sudah kubilang, mulutku akan kututup mengenai hubungan kalian-"
"Ei! Berapa kali dibilangin sih?! Kami gak ada apa-apa?! Telingamu kemana sih?!" Sewot Cagalli. Dasar ngeyel beribu-ribu ngeyel si cowok berambut biru tadi.
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Athrun. Terserah deh, yang penting, sekarang Athrun memang ingin bisa keluar dari masalah ini dengan aman-aman saja.
Cagalli melihat sekeliling sejenak. Dilihat tidak ada siswa lain woro-wiri di lorong bagian klub. Sekarang, ia malah jadi sibuk mengelus-elus belakang lehernya sendiri. Dan dilihatnya sepeasang burung pipit kecil tengah bercanda mesra di jendela.
"Ah! Tidak..tidak..tidak!" batinnya, sambil sibuk geleng-geleng kepala sendiri. Cagalli jadi bingun sendiri, tubuhnya jadi kikuk, dan wajahnya malah memanas. Apa-apaan sih? -_-
Athrun yang melihatnya, malah menyangka Cagalli bakalan mengeluarkan ninjutsu rahasia atau apalah, yang bisa menghapus ingatannya.
"Ca..Cagalli?"
Cagalli masih diam. Tapi, tidak ada waktu lagi nih. Ia ingin menyelesaikan semua dengan cepat.
"Kalau begitu... A..Athrun..", ujar Cagalli terbata-bata.
"Y..Ya", Athrun pun jadi ikutan gugup. Seolah seperti ada aura aneh memancar dari si pirang itu.
"BE...BERKENCANLAH DENGANKU!"
EEKK! Kalimat Cagalli yang barusan, gak salah omong tuh? Athrun terkaget, author-pun juga ikutan kaget!
Seperti ditindih seluruh ZAFT saja. Si Athrun nyaris jantungan jadinya. Matanya terbelalak seperti melihat penampakan makhluk dunia lain. Belum pernah ia menghadapi kondisi macam ini. Cagalli, bakal mengajaknya nge-date? Heh?
"A..ano.." Athrun tidak bisa lagi mengutarakan kata-kata. Jadi repot nih.
"Ja..jangan salah paham! Ini hanya untuk membuktikan, kalau Shinn dan aku gak ada apa-apa! Paham?!" jelas Cagalli meski rada memalingkan muka gitu deh...
..Diam..
Tidak ada suara lagi yang dikeluarkan keduanya. Masing-masing sibuk mengurus dirinya sendiri yang lagi pada gugup sendiri itu. Cagalli sih, ngomon yang nyeleneh-nyeleneh.. Cuma kepingin agar Athrun gak salah paham aja sampai sebegitunya.. Hehemm..
Dan... Athrun melihat ke arah handponenya dahulu. Mencoba mencarikan tubuhnya yang tadi kayak manusia es aja.
Tapi setelah itu pun, ia juga gak banyak gerak atau ngomong lagi. Hingga akhirnya..
"Ca..Cagalli..."
Cool, Athrun ngomong akhirnya. Gitu dong, jadi cowok. Hehe.. Cagalli kini memberanikan diri menatap Athrun. Sudahlah, ia mencoba untuk tidak berpikiran macam-macam. Lagian, dia dan Athrun sendiri juga.. hemm.. teman biasa..
"Ada apa?" jawab Cagalli berusaha bertingkah normal.
"Aku tidak tahu.. apa ini saat yang tepat untuk mengatakannya... Tapi..."
"Kenapa?"
Hening sejenak... Hingga Athrun memerlihatkan muka melasnya..
"Sepertinya, jam istirahat sudah habis... Kita.. telat satu jam.."
GUBRAK!
Rambut Cagalli yang lancip tampat lancip aja tuh. Benar-benar bencana nih! Telat gara-gara kekonyolan seperti ini! Aduh, kenapa akhir-akhir ini keapesan menaungi dirinya sih?!
"KA..KAMPRET! BILANG DARI TADI NAPA?!"
To be continued...
Sip, panjang juga nih.. Sorry untuk kisah yang terlalu simpel macam ini ya.. Hihihi...
Dan untuk yang sudah review ZAFT High School ini, saya ucapkan terima kasih... Arigatou! Semoga rilis berikutnya lebih cepat dari biasanya.. ( Janji yang biasanya gak bisa ditepatin nih..)...
Wa'alaikum salam... Ganbatte, everyone!
