AHHH! Akhirnya update dengan sangat lama.. Terima kasih semua yang sudah read & review..

Maafkan si author males ini yg tidak bisa memenuhi ekspetasi kalian. Hihihihi..

So,so.. Ini adalah lanjutan kisah Zaft High School bagian 7 !

Sorry kalo cerita gaje, jelek abiss, OOC, Typos, dsb.. Hiks..Hiks..

Enjoy it yayaya !

DISCLAIMER : Gundam Seed / Destiny dan segala hal di dalamnya bukan ciptaan saya deh.. Sueerr...


Athrun dan Cagalli !


Cagalli termenung. Merebahkan diri di dalam kamar dengan kasur nan hangat. Memandang ke arah langit-langit penuh rasa galau. Lebih tepatnya bingung sepenuh hati…

"Athrun, be..berkencanlah denganku!"

ARRGHH!

Cagalli sekejap berguling ke berbagai arah mengingat ucapannya sendiri itu. Bahkan dalam kesendirian itu, ia tak kuasa untuk tidak menutupi wajahnya saking merasa malu dengan aksinya kemarin.

"Malu! Malu! Malu!" teriaknya bagai orang kesurupan dan sesekali menghantamkan mukanya ke arah ranjangnya. Ia benar-benar tak habis pikir, dirinya bisa mengatakan hal yang menakjubkab, eh... memalukan maksudnya...

"Aduh, aku memang bodoh," keluhnya. Sekarang dirinya malah harus 'terjebak' dengan Athrun untuk beberapa saat nanti. Padahal niatnya hanya ingin meluruskan kesalahpahaman diantara dirinya dan Shinn. Kenapa hal simpel bisa berakhir ruwet seperti ini ?! Dasar Cagalli, tapi toh, nasi udah menjadi bubur, mau tidak mau ia harus menanggung konsekuensi omongannya sendiri.

"Kencan ya?" toh sampai detik berlalu di sore ini, gadis berambut pirang acak-acakan itu pun tak habis pikir mulutnya refleks mengatakan kata 'kencan' tersebut. Apa sebegitu seriusnya ia harus meluruskan kejadian waktu lalu kepada Athrun?

Cagalli berguling dan bertingkah asal-asalan lagi. Melampiaskan kejengkelannya dan kemudian bangkit. Bukan saatnya untuk terus galau, pikirnya.

"Aku harus meminta saran dari makhluk itu mengenai kencan ini.." ujarnya lirih kemudian bergegas meninggalkan kamar.

Kira tengah menikmati siang menuju sore yang menyenangkan ini di kamar pribadinya yang ia sulap menjadi istana. Itu menurutnya sih. Laptopnya menyala dengan jumawa, dengan tampilan facebook dimana Kira tengah asyik chatting ria dengan beberapa perempuan sekaligus. Tidak hanya situs itu, banyak sekali tab yang ia buka, dan hampir semua isinya berbagai situs jejaring sosial dan Kira sangat sangatlah aktif dalam melemparkan gombalan di dunia maya.

Sembari duduk di kursi layaknya seorang bos, tangannya pun kadang melihat ke arah handphonenya, melihat dan membalas pesan dari cewek-cewek lain. Dia kadang juga menelepon -pastinya wanita lain- dengan handphone berbeda. Kira benar-benar ahli melakukan semua itu dalam satu waktu. Yah, walaupun dirinya sih lebih senang hang out daripada terjebak di kamar seperti ini. Tapi nasib dah, orang tuanya menyuruh dirinya dan Cagalli menjaga rumah. Hmm.. Sebagai anak berbakti tentu ia tidak bisa meninggalkan perintah ortu begitu saja dong...

"Hmm... Mungkin weekend aku bisa mengajak cewek sekelas kencan, Flay, Stellar, Lacus, atau Luna? Mungkin.. Atau siswi sekolah lain ya? Hmm.. Ada beberapa yang menarik sih.. Ah! Bagaimana kalo Murrue sensei aja deh.. Boleh juga," gumam Kira tengah menyusun rencana matang-matang.

Dan konsenstrasi si cowok berambut cokelat itu buyar saat suara ketukan menusuk-nusuk dari pintu kamar. Kira menghela nafas. Pasti deh, ini lagi-lagi Cagalli, adiknya itu..

"Apa dia tidak ada waktu untuk tidak menggangguku?" keluhnya dan berjalan gontai untuk membuka pintu.

"Nii-san, kau di dalam? Nii-san.." ujar Cagalli lirih.

SREK! Kira menghentikan langkah tepat sebelum pintu ia buka. Dikorek-korek telinganya dengan hati-hati. Sepertinya ada yang aneh..

"Hah? Nii-san? Dia memanggilku Nii-san.." gumam Kira setengah tidak percaya.

Yah, walaupun mereka kakak beradik, ehm.. kembar tapi selalu saja saling gontok-gontokan menentukan siapa yang paling tua. Dan yang bikin sebel lagi juga, ayah dan ibunya tidak pernah memberitahu siapa yang jadi kakak! Ayahnya bilang sangat menikmati ketika Kira dan Cagalli saling cekcok demi hal seperti itu. Dasar...

Kira diam. Mencoba menganalisa. Seperti kejadian-kejadian yang telah lalu..

"Jika dia memanggilku begitu, berarti..."

Krek! Pintu pun terbuka.

Dia mendapati Cagalli dengan wajah berakting memelas dan sinar mata yang dibuat sok meredup. Bikin Kira sakit mata dibuatnya.

"Kir, eh maksudku Nii-san," ujar Cagalli melihat Kira. Dengan gaya sok lemah lembut dan bagai tuan puteri yang rapuh. Jelas, dalam hati Kira sweatdrop abis..

"Kau ini... Sekarang ada masalah apa lagi?!"

Cagalli tersenyum kecil. Ia senang kakaknya mengerti. Maksudnya, Kira sangat paham jika Cagalli memanggilnya 'Nii-san' begitu, berarti dia dalam masalah dan jelas berharap agara Kira membantunya. Yeee...

Bikin kesel Kira aja. Dan biasanya begitu semua beres, Cagalli yang judes dan arogan padanya kembali bangkit dari alam lain.

Cagalli pun masuk. Duduk di dalam kamar yang sangatlah memuakkan baginya. Ia melihat dua laptop menyala dan terpampang tampilan chat Kira dengan perempuan-perempuan nan jauh di sana. Gila! Cagalli sama sekali gak kenal satu pun...

"Ehem," dahak Kira mengagetkan Cagalli yang asyik melototin laptop Kira.

"Oh, sorry," balasnya menjauh dari 'privasi' Kira. Ia pun duduk di atas kasur Kira yang tak kalah empuk dari punyanya. Sedangkan Kira duduk di hadapannya dengan kursi terbalik. Setelah sebelumnya menutup laptop agar tidak 'dimata-matain' Cagalli.

"Jadi, ada masalah apa?" ucap Kira memulai perbincangan sore.

Cagalli diam. Sebenarnya agak ragu juga meminta tolong sama nih orang. Tapi yah, siapa lagi yang bisa dia buat share kegundahan hatinya jika bukan saudara kembarnya ini? Masa bodoh deh..

"Begini, ano..uhm.. etoo..,"

"Ngomongnya yang jelas dong," hardik Kira yang sedari awal memberi tatapan intimidasi padanya.

"Ba-baiklah, sebenarnya-,"

KRIIINGG! KRINNG!

Suara RBT handphone Kira berbunyi. Memutarkan lagu AKB48 yang jadi kesukaan Kira. Ia pun meminta waktu sebentar untuk menjawab panggilan. "Tunggu dulu, Cag."

Cagalli mengangguk. Dan kini malah mendengar Kira lagi telepon dengan entah siapa itu. Tapi dari gelagat-gelagat Kira, pasti itu cewek.

"Wah, ternyata jauh juga rumahmu ya? Kapan-kapan boleh aku mampir? Oh begitu.. Tenang saja... Baiklah." Kata Kira kepada orang yang tengah menelelpon-nya.

Cagalli hanya bisa membayangkan apa yang tengah mereka bincangkan. Yang jelas rayuan Kira pasti keluar deh. Aneh sekali, Cagalli sangat bingung bagaimana saudaranya itu begitu mudah akrab dengan orang lain, terutama lawan jenis. Seolah-olah mereka sudah kenal lama. Hmmm.. mungkin karena itu merupakan skill dari seorang playboy?

Klek! Panggilan tertutup. Sepertinya sudah selesai.

"Itu tadi Sakura-chan, anak dari kota sebelah," ujar Kira yang tanpa angin tanpa badai langsung memberi penjelasan pada Cagalli dengan raut sok polos.

"Oke, lanjutkan tadi, Cag," pinta Kira.

"Baik. Masalah yang kuhadapi ini-,"

KRIING! KRIINGG!

Eit! Lagi HP Kira berdering, ia pun memberi Cagalli isyarat untuk menunggu lagi. Cagalli mengangguk sabar.

"Moshi..moshi, Hana-chan! Ya, baik-baik aja kok. Seneng rasanya denger suaramu lagi. Blablabla..."

Hampir lima menit dan akhirnya, akhirnya selesai juga tuh panggilan. Cagalli bernapas lega.

"Itu tadi Hana-chan, anak kelas tiga SMA. Dia itu juga seorang model lho," ujar Kira pada Cagalli memaparkan betapa mengagumkannya teman teleponnya itu. Yang jelas bikin Cagalli kesal saja.

"Oh, begitu ya.." balas Cagalli pura-pura terpana.

"Tadi sudah sampai mana ya? Oh ya, kau kan belum menceritakan masalahmu, Cag. Bagaimana sih?!" kata Kira seolah-olah menganggap semua ini yang jadi kambing hitam adalah Cagalli. Dan gadis pirang itu hanya menahan marah dan tersenyum kecil meski tangannya mengepal dengan sangat keras di atas kasur itu. Bagaiman tidak? Jelas-jelas semua ini 'kan gara-gara Kira ada telepon melulu? Kenapa dia yang disalahkan? Oi, dimana logika dunia berada?!

"Akan kuberitahu sekarang. Nii-san aku sebenarnya-",

KRIING! KRIIING!

Lagi, lagi dan lagi..

Handphone Kira mendapat call tuh. Dan Kira kembali memberi tanda agar Cagalli menunggu sebentar.

"Tunggu sebentar ya, Cag. Biar aku-"

Srett! Dengan tatapan dingin Cagalli mengambil handphone itu. Kemudian mematikannya tanpa berkata sepatah kata pun. Dan terakhir dibuangnya di kolong kasur Kira.

"Oh, sorry Nii-san. Tanganku terpeleset," kata Cagalli dengan aura cerah ramah dan innocent di wajahnya. Memaksa Kira melongo dan tidak bisa berkata apa-apa. Sepertinya sang adik lagi marah nih..

Yup, Kira tidak mau ambil pusing untuk sekarang ini. HP-nya bisa ia urus nanti.

"Terserahlah, cepat segera curhat dan selesaikan semua ini," sahut Kira dengan menyilangkan tangan.

Cagalli pun merasa lega mendengar omongan Kira. Setidaknya sekarang tidak ada yang mengganggu mereka.

"Begini..."

Lima belas menit berlalu, Cagalli telah puas melontarkan segala uneg-unegnya. Berharap Kira segera bisa membantunya.

"Kau.. Athrun.. kencan?" Kira tersentak dan hampir tak percaya untuk berkata apa. Tapi ekspresi yang ditampilkan Cagalli benar-benar membuatnya pecaya.

"Be...begitulah. Tapi kami tidak ada apa-apa! Sudah kujelaskan tadi kan?!" balas Cagalli membela diri agar Kira pun tak berpikiran aneh-aneh.

Kira diam sejenak. Otaknya masih berputar-putar mencerna segala informasi yang ia terima mengenai adiknya ini.

"Tunggu sebentar, Cagalli. Aku ingun ke kamar mandi dulu," ujar Kira sambil berjalan sempoyongan.

"Hah? Ba..baiklah, Nii-san."

Begitulah, Cagalli pun terpaku sendiri di sana. Sedangkan Kira agak sedikit berlari ke kamar mandi. Dan tak berapa lama..

"HAHAHAHAHAAHHAAHA!"

Suara gelak tawa yang menggelegar rumah itu pun terdengar dari kamar mandi. Cagalli yang masih berada di kamar Kira pun jadi sewot. Ternyata kakaknya jauh-jauh ke sana hanya untuk menertawakan apa yang ia utarakan tadi. Dasar, padahal Cagalli tengah butuh bantuan darinya.

"Si playboy itu! Awas ya . Akan kubalas kelak," geram Cagalli dalam hati.

Dan tak berapa lama, Kira pun nongol lagi di sana. Kembali duduk dengan tenang di depan Cagalli. Memasang raut wajah keren dan serius. Berlagak tadi dia tidak tertawa dan seolah-olah dia itu orang yang sangat pengertian pada adiknya. Padahal Cagalli jelas-jelas mendegar ledakan tawanya.

"Begitu ya, ternyata masalahmu rumit juga," kata Kira tiba-tiba dengan tangan menopang dagu dan berpikir bagai detektif kenamaan.

"Nih cowok. Kenapa dia asal duduk seolah gak ada apa-apa?! Ngapain tadi tertawa ngeledek di kamar mandi?!" batin Cagalli.

Tapi tidak bisa diekspresikannya sekarang. Nanti sajalah jika masalah kencan dengan Athrun ini selesai.

"Ya. Karena itu.. bisakah kau memberiku saran, Nii-san," pinta Cagalli dengan mengerdipkan mata beberapa kali penuh manja. Kira pun kudu meneteskan pembersih mata setelah melihat Cagalli jadi sok manis begitu.

"Sebentar, mataku sepertinya ada yang salah," ujarnya dan lekas mengucek-ngucek mata.

Dan setelah itu, si cowok berambut cokelat lagi-lagi memasang ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal jelas yang baru dilakukannya di depan Cagalli tadi bikin jengkel tuh cewek. Ah, Cagalli berusaha untuk tidak menggubrisnya. Sabar Cag, sabar…

"Jadi, apa yang harus kulakukan Nii-san?"

Kira berpikir sejenak. Ini akan jadi agak rumit pikirnya. Si cewek tomboy nan realistis dengan cowok manga nan penuh fantasi. Si pirang cerewet dan si biru kalem. AH! Keduanya bertolak belakang! Bakalan sulit nih batin Kira.

"Cagalli, ini... kencan pertamamu 'kan?" tanya Kira dengan gaya interogasi.

"Uhm..Ya.." balas Cagalli memalingkan wajah malu. Malu karena baru pertama kali ia kencan! Dan tidak tahu cara menghadapinya! Berbanding terbalik dengan Kira.

"Hhhmm, menurutku, mungkin Athrun juga baru mengalami kali ini. Tahu 'kan? Dia itu bagaimana sifatnya. Yah, walau dia kenal lama dengan Lacus, tapi tidak ada kabar jika keduanya jadian. So, berarti ini juga kencan pertama Athrun.." kata Kira menghayati.

"Eh, darimana kau..err Nii-san bisa menyimpulkan hal itu?"

"Intuisi pria.." jawab Kira dengan gaya cool abis.

"Pokoknya Cagalli, biarkan seperti air mengalir. Jalani saja kencanmu dengan Athrun dengan santai. Jadilah dirimu sendiri !" ungkap Kira.

"Hmpf. Kalau penjelasan teoritis dan motivatif seperti itu sudah sering kudengar. Gak bakalan ngaruh nih.." balas Cagalli yang tampak murung.

"Oh, iya ya. Kau memang gadis yang tidak terlalu suka sesuatu yang teoritis doang," simpul Kira.

Kira memangut-mangutkan dagunya. Dengan alis yang naik turun seolah meracik strategi menghadapi perang. Dia pun kemudian memandangi Cagalli dengan tatapan yang memaksa si gadis menjadi risih.

"Kenapa kau melihatku begitu?" cercanya pada Kira.

"Cagalli, apa pendapatmu mengenai dirimu sendiri?"

Sebuah pertanyaan yang aneh bagi Cagalli meluncur dari mulut saudaranya.

"Ehmm.. Aku.. tomboy, keras kepala.. galak mungkin.." ucap si pirang dengan agak ragu juga sih. Tapi dia tidak bisa melihat hal lain yang bisa diutarakan pada kira.

"Itu dia! Memang benar kau itu urakan, berandalan, cewek iblis, cerewet.."

"Tu..tunggu dulu,Nii-san. Aku gak pernah bilang hal itu. Maksudmu apa sih?"

"Begini. Kau hanya menyebutkan mengenai sisi negatif dirimu saja.."

"Jadi?" tanya Cagalli yang tetap bingung.

"Jadi? Kau masih gak paham?! Sebagai cewek bukan itu yang harus kau tunjukkan. Kau harus mengenali sisi positifmu sendiri lebih baik. Sebelum memancarkannya pada orang lain.." jelas Kira mulai serius menunjukkan kemampuannya menganalisa wanita.

"Uh-eh, tapi.. aku tidak merasa punya sisi positif yang bisa kubangakan,Nii-san?"

Kira seketika langsung berdiri dengan tangan mengepal ke depan. Penuh aura semangat seperti kebanyakan karakter utama manga Shounen.

"Kalau begitu, mulailah sekarang! Buatlah sisi positifmu dari detik ini juga!" teriaknya seperti mau menghabisi Cagalli saja.

"Ba-baiklah," jawab Cagalli yang gantian melongo melihat kegajean Kira.

"Maaf, terbawa emosi ," balas Kira santai,"Cagalli, apa yang menurutmu biasa diinginkan lelaki dari perempuan?"

Cagalli melongo, memutar bola matanya melihat langit-langit sembari berpikir.

"Baik hati dan ... cantik?"

PLOK ! PLOK! Kira bertepuk tangan. Pertanda setuju dengan ucapan kembarannya.

"Excellent.. Memang. pada dasarnya kebanyakan pria menginginkan setidakknya dua hal itu ada dalam perempuan. Perempuan yang tidak hanya cantik di luar tapi juga di dalamnya."

"Lalu?"

"Kau harus minimal jadi cantik dan baik hati, Cagalli!"

"EH?!" Cagalli terkaget-kaget. Ia sebenarnya sudah merasa ada yang gak beres dengan nasihat Kira ini.

Baik hati? Hmm.. Ia bisa mengusahakannya sih. Tapi kalo cantik?! Duh, dia sendiri malah merasa sebaliknya nih. Repot deh..

"Tapi, Nii-san. Aku tidak-"

SLEP! Kira secepat kilat menutup mulut Cagalli dengan tangannya.

"Jika tidak mau mendengar nasihatku, aku gak mau membantu aja deh," kata Kira sedikit mengancam.

Cagalli pun mengangguk-ngangguk agak sewot jadinya.

"Yosh. Pertama, saat berkencan, cobalah untuk lebih sabar. Maksudku, cowok biasanya sering telat 'kan? Singkirkan sejenak sikap mudah marahmu.."

"Ba-baik."

"Kedua, sapa teman kencanmu dengan senyuman. Pokoknya buat suasana secair mungkin dan jangan kaku. Paham?"

"Iya,Nii-san."

"Ketiga, jangan terlalu asal ngikut saja. Maksudnya jika dia mengajakmu pergi ke suatu tempat, jangan cuma bilang 'terserah kamu' doang. Beritahu tempat yang ingin kau kunjungi ! Oke?!"

"Be-beres."

"Keempat, bla-bla-bla.."

Cukup lama dan menguras waktu juga Kira membagi wejangannya. Cagalli kudu memaksimalkan otaknya untuk mengingat semua itu.

Tapi sepertinya belum selesai. masih ada hal yang ingin Kira wariskan ilmunya pada si pirang.

"Sekarang, yang tidak kalah penting.." ucapnya dengan mata menyala.

"Apa itu, Kir- Nii-san?"

"Mengenai.. pakaian yang akan kau pakai di kencan nanti.."

Glek! Denyut nadi Cagalli berdetak kencang. Gak beres nih. Kira pasti punya rencana yang abnormal deh. Cagalli pun menolak dengan halus tawaran Kira soal hal ini. Lebih baik ia memutuskannya sendiri. Tapi sudah terlanjut basah nih. Kira pun memilih untuk sekalian mendekorasi Cagalli menurut pendapatnya. Hehehehe..

"Diamlah, Caga. Kau harus menurut padaku. Habisnya.. aku sudah membuang waktuku dan meninggalkan cewek-cewek gara-gara persoalanmu ini.."

"Baiklah," ketus Cagalli melipat tangannya. Mendengarnya, Kira tertawa kecil penuh kemenangan.

"Tapi sebelum itu, Cagalli. Apa yang ingin kau pakai nanti saat kencan bareng Athrun?"

"Itu... mungkin kaos casual cokelat polos itu dengan jeans hitam.."

Dan raut ketidakpuasan menjadi jawaban Kira yang paling afdol. Sembari memegangi dahinya ia berkata,"Aduh, bukankah itu terlalu biasa? Membosankan banget? Kenapa harus cokelat? Kenapa cuma kaos?"

Cagalli hanya tertawa satir dan menggaruk-garuk rambutnya. Habisnya, dia sama sekali tidak terlalu paham soal beginian sih..

"La-lalu, sebaiknya apa sih,Nii-san?" tanya Cagalli penasaran tapi juga jengkel. Sedari tadi kudu mengikuti omongan Kira melulu.

Kira menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. Dengan mimik yang meyakinkan bagai pakar model terkemuka.

"Tenang. Serahkan padaku.."

Buru-buru Kira mengobrak-abrik rak baju yang ada terpampang di pojok ruangan tersebut. Dan..

SETT!

Senyum mengembang mantap di wajahnya. Dimana sekarang ini tangannya tengah megembawa beberapa jenis pakaian cewek. Dan jelas lah itu membuat Cagalli terperangah. Darimana sih Kira dapat semua itu? Kenapa cowok malah menyimpan pakaian cewek? Aneh.. Jangan-jangan kalo malam hari Kira...

"Oi, jangan buru-buru berpikiran yang ngawur dulu. Ini semua sebenarnya pakaian yang ingin kuberikan pada gadis-gadis cantik yang kutemui. Yah, tapi sekarang kau pakai dulu tidak apa," jelas Kira yang menyadari Cagalli menatapnya dengan pandangan jijik gimana gitu.

Dia pun lekas menyerahkan sejibun model baju yang menurutnya keren pada Cagalli.

"Nah, coba pakai yang ini.. humm.. ini juga,"perintah Kira yang disambut Cagallli dengan setengah hati. Agak risih nih si pirang, mengingat yang disodorkan Kira semuanya.. hmm. serba feminim kalau dibilang. Benar-benar kurang pas dengan style Cagalli yang agak tomboy, kalau gak mau dibilang urakan ..

"Masa' aku harus memakai ini?! Jangan macam-macam, Nii-san?!" protesnya.

"Hah, lalu apa maumu?"

"Sudah kubilang 'kan. Hanya baju santai lengan pendek saja. Simpel dan tidak banyak embel-embel deh."

Kira menghela nafas. sebelum kembali duduk di depan adiknya penuh pikiran yang kalut nih. Punya kembaran tapi disuruh nurut aja susah gini.

"Dengar Cagalli, seorang wanita itu harus menunjukkan sisi manis dan feminimnya.."

"A-aku tahu sih, tapi tidak harus terlalu mencolok kali," bela Cagalli pada dirinya sendiri.

"Siapa yang bilang mencolok. AKu hanya memintamu memakai pakaian yang cocok saja."

"Tapi tetap saja-"

"Sudah,sudah! Cepat pakai, Bakagalli !" atur Kira yang gak sabaran dan dengan gayanya bagai siap menonjok-nonjok hidung adiknya itu jika melawannya lagi. Apes deh, Cagalli terpaksa menurut. Dan kemudian mengikuti instruksi Kira. Tapi tentu saja saat ganti baju, Kira memutuskan untuk keluar sebentar. Jelas ia tidak mau mengintip Cagalli kan? Lagian, tuh cewek bakalan marah kalau sampai Kira melihatnya ganti baju. Hihihii...

"Sudah belum?" tanya Kira penasaran dari balik pintu.

"Tunggu sebentar deh," ujar Cagalli setengah tak yakin. Mau ganti baju buat kencan saja ribetnya minta ampun. Maklum lah, baru pertama kali nih..

Dan sekitar lima belas menit kemudian, Cagalli memberi isyarat telah selesai dengan kegiatannya. Dan dengan semangat kemerdekaan Kira sekonyong-konyong membuka pintu. Ingin melihat hasil 'kreativitas'nya itu. Dan..

"Waw.. Kawaii !" sebuah pujian pun meluncur dari mulut playboy itu. Melihat Cagalli yang bertransformasi sedemikian rupa.

Tampak Cagalli memakai celana biru panjang. Dengan baju terusan lengan panjang berwarna merah muda. Ditutupi dengan jaket manis berwarna biru langit. Dan juga sebuah slayer biru terlilit rapi mengitari sekitar lehernya. Ditambah tatapan malu-malu cewek pirang itu sangatlah menggemaskan.

"Keren, Cagalli ! Kau tidak kalah cantik dengan teman-teman kencanku ! Humm.. Tapi akan lebih menarik jika rambutmu panjang seperti Lacus atau Flay sih.." komen Kira sang ahli menilai wanita.

"Ngomong apa sih ! Jangan bercanda begitu," sahut Cagalli merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri.

"Tenanglah. Percaya diri ! Kalau begini sih Athrun bakalan langsung keok nih."

"A-Apa maksudmu ?! Jangan aneh-aneh ! Tujuanku berkencan bukan untuk itu tahu !" sontak Cagalli memerah saat Kira menyebut-nyebut nama pria yang sebentar lagi ditemuinya tersebut.

"Ups.. Sorry deh.. Habisnya kau kelihatan niat sekali nih kencannya," goda Kira lagi yang disambut dengusan hidung Cagalli.

"Nii-san.. tapi aku merasa seperti tidak nyaman.." ujarnya seraya melihat-lihat baju yang tengah ia pakai.

"Hah, kenapa?"

"Entahlah... Aku merasa.. tidak menjadi diri sendiri saja. Bukankah tadi kau bilang kita harus menjadi diri sendiri apa adanya saat kencan?"

Kira tersenyum kecil. Lalu memberi tanda pada Cagalli untuk duduk di sebelahnya. Dan Kira pun megelus-elus rambut Cagalli. Memberinya pandangan yang menenangkan hati. Seolah berkata agar tidak perlu khawatir.

"Dengar Cagalli.. Perempuan itu pada dasarnya memiliki sifat lembut dan perasa yang lebih dari pria. Tidak terkecuali dirimu yang keras kepala ini. Kau tahu? Seorang perempuan yang memiliki sebuah senyuman menyejukkan terkadang lebih berharga dari berlian paling mengkilap sekalipun. Perempuan dengan perilaku baik lebih menawan dari bunga terindah. Begitu juga, perempuan yang mampu menjaga kesantunan dalam berpakaian lebih terhormat dan dihargai di mata pria. Dan kau, kini terlihat sebagai gadis baik dengan senyum indah dan berpenampilan feminim.."

Sedikit wasiat diberikan Kira kepada adiknya. Memunculkan decak kagum yang diutarakan Cagalli dari rautnya yang makin berbinar. Keren juga ternyata kakaknya jika lagi bergaya cool begini..

"Begitu ya.." balasnya pelan. Ia tersenyum kecil dengan menundukkan kepala.

Dan Kira pun tambah memainkan tangannya di rambut adiknya tersebut.

Setidaknya, omongan tadi bisa sedikit menenangkan kegundahan hati Cagalli.

"Yosh, cepat berangkatlah. Sudah waktunya kencan. Jangan membuat Athrun menunggu lho.."

Si blonde pun telah siap dengan spirit menggebu. Tidak lupa berterima kasih kepada si Nii-san..

Kini pergi meninggalkan Kira yang jadi sibuk membereskan kamarnya dari sisa-sisa pakaian lain yang tidak jadi dipasang di tubuh Cagalli.

"Enak sekali langsung pergi.. Kamarku 'kan berantakan begini gara-gara dia," keluh Kira yang merasa 'dibuang' adiknya.

Oh benar juga ! Kira jadi ingat dengan handphone miliknya yang dihajar Cagalli sampai terjebak di kolong ranjang. Lebih baik segera diambil sebelum kelupaan. Apalagi masih banyak perempuan yang belum ia hubungi hari ini.

Memaksanya agak bersusah payah menjulurkan tangan di tempat nan gelap itu.

"Mana sih HP-ku? Kalau tidak salah Cagalli membuangnya di sekitar pojok sini.."

SET! Kira meraba bentuk HP-nya yang mulai ketemu. Dan lekas mengambilnya keluar dari kegelapan yang mengerikan tersebut.

Tapi sesaat sebelum beranjak, mata Kira melihat sesuatu yang agak mengusik perhatian. Sebuah benda yang tidak jauh dari tempat HP-nya tadi berada.

"Apa itu?"

Awalnya, ia tak terlalu peduli. Namun entah mengapa, seolah tubuhnya bergerak sendiri mengambil barang itu.

Dan setelah berpegal ria menyusuri bawah kasurnya. Kira pun akhirnya mengetahui apa yang ia pegang.

Sebuah kalung…

Kalung biru berbentuk bintang yang sederhana. Simpel, tapi sungguh menawan. Dan entah mengapa bagai memancarkan kesepian sang benda.

Memandangnya dengan penuh perhatian, dan seketika pula Kira tersenyum.

"Arigatou, Kira-kun..."

Sekelibat kenangan klasiknya terlintas di benak Kira. Sebuah senyum tipis yang tersungging dari seorang gadis manis. Dengan rambut panjang yang tergerai indah di bawah sebuah pohon rindang..

Kira terhenyak sejenak sebelum menggeleng-gelengkan kepala. Tangan kanan pun ditempelkan dan menutupi matanya. Ia tak menyangka menemukan cinderamata istimewa itu. Bayangan masa lalu itu pun samar-samar menampakkan sosoknya. Gadis pendiam yang cantik..

"Gadis itu... bagaimana kabarnya ya? Apa dia masih mengingatku?"ujar Kira menerawang langit sore dari jendela.


Pesona warna jingga kini terpancar dari angkasa. Sebuah sore yang biasa. Tapi tidak untuk gadis pirang tersebut. Cagalli terkadang mondar-mandir gak jelas, masih ada gugup yang menyembul darinya. Semakin waktu berlalu semakin galau saja tuh. Maklumlah, sebentar lagi kencannya akan dimulai. Tinggal menunggu mempelai ..err.. si Athrun maksudnya.

"Tenanglah Cagalli ! Kenapa bisa gugup seperti ini sih," pekiknya pada diri sendiri.

Aneh, semua ini 'kan hanya agar Athrun tidak salah paham tentang hubungannya dengan Shinn. Tapi kok, sekarang malah Cagalli berdegup sendiri.. -_-

Ia pun berdoa agar semua lancar.. dan tidak muncul masalah lain lagi !

Diam-diam tingkah kikuk Cagalli ini pun diawasi dengan mantap oleh seseorang dari tempat persembunyian. Hmm.. Siapa lagi kalau bukan Kira? Sepertinya dia begitu tertarik dengan kisah Cagalli hari ini. Berarti percintaan adiknya yang datar-datar itu akan memasuki level baru nih, hehehe...Kira sekarang duduk tidak terlalu jauh dari Cagalli. Tapi lumayan strategis dan adiknya sepertinya gak bakalan tahu ia di sana. Ditambah banyaknya orang lalu lalang di sana, cukup membantu Kira memata-matai.

Tidak lupa, Kira menggenggam handycam dengan pede dengan tangan kanan. Lumayan untuk merekam momen-momen berharga dan kelak bisa digunakan untuk 'memeras' Cagalli nih.. Sedang tangan kirinya tetap sibuk sms-an dengan cewek-cewek.

Wuih, dasar cowok muka polos berhati iblis.

"Kesempatan nih. Pasti keren kalau kelak teman-teman sekelas tahu.." ujarnya menahan tawa. Selain itu, ia ingin melihat bagaimana aksi dua manusia yang bisa dibilang lugu soal cinta ini dalam berkencan.

Dan akhirnya tak berapa lama, sosok Athrun yang ditunggu pun terlihat. Kira lekas mengarahkan kamera ke arah pria berambut biru itu yang tengah celingak-celinguk mencari Cagalli.

Athrun pun mulai bergerak lebih cepat begitu tertarik melihat sosok berambut pirang. Awalnya ia sempat ragu untuk kesana, karena merasa sangsi bahwa itu Cagalli. Mengingat penampilan gadis tersebut yang sungguh anggun. Berbeda dengan Cagalli tentunya.

Tapi setelah diamati lebih seksama..

"Cagalli ?"

Cagalli yang agak tersentak, berbalik arah. Dan, didapatinya Athrun, tengah berdiri dengan kedua kakinya. ( ya iya dong.. )

"A-Athrun ?" balasnya ringan berusaha untuk tampil se-natural mungkin.

Athrun menjadi terdiam. Dikedip-kedipkan matanya berkali-kali. menyangka gadis ini Cagalli. Penampilan yang sungguh feminim. Tidak berlebihan, tapi sangat pas untuk Cagalli..

Cantik.. Itulah kesan pertama yang dialamatkan Athrun melihat 'new' Cagalli ini.

Pandangan Athrun pun buyar saat Cagalli memanggilnya lagi. Berusaha memastikan si rambut biru itu baik-baik saja.

"Athrun ? Halooo," seru Cagalli agak keras.

Mendadak Athrun tersigap. Dan kini didapati seorang Cagalli yang benar-benar waw menatapnya walau dengan malu-malu.

"Ada apa,Athrun ?"

"Ngg.. Tidak. Hanya saja.. tapi kupikir kau bukan Cagalli."

"Heh, kenapa ?"

"Habisnya, kau terlihat beda dari biasanya. Gimana bilangnya ya... manis, menurutku."

Blush deh! Serta merta jadi tomat matang nih Cagalli dibilang 'manis' sama Athrun.

Tapi tenang Cag. Tenang.. Kira bilang bahwa kau harus lebih santun kan? Hehehe.

"Thanks.." balasnya pendek menjaga sikapnya walau benar-benar malu. Malu banget. Apalagi orang lalu lalang kadang melihat keduanya. Dan hmm.. wajarlah kalau sampai mereka menganggap Athrun dan Cagalli ..berpacaran.

WAKK! Cagalli mengeleng-gelengkan kepala. Tidak mau toh ia berpikiran yang aneh-aneh dulu. Walaupun disadari atau tidak, wajahnya benar-benar merah padam lho..

"Jadi, kita mau kemana ?" tanya Athrun.

"Eh?" benar juga, Cagalli 'kan yang memelopori nih kencan, tapi malah lupa nih menentukan tempat yang asyik. Waduh.. Gara-gara keasyikan dengar wejangannya Kira sih.

Tapi agak beruntung nih, soalnya mereka lagi di taman rekreasi. Di sini banyak sekali tempat hiburan yang patut dicoba. Jadi, ingat omongan Kira nih, sebagai cewek dia 'kan gak boleh melulu 'terserah' aja sama cowok. Apalagi sama Athrun yang kelihatan pendiam dan uhmm.. aneh gitu.

"Hmm.. Bagaimana kalo dimulai dengan naik roller coaster?" pinta Cagalli menunjuk-nunjuk kereta yang tengah beratraksi di trek ekstrem.

"Baiklah," timpal Athrun dengan tenang dan tidak perlu banyak waktu. Humm.. sepertinya hari ini akan berjalan lancar nih. Apalagi Athrun dan Cagalli pun sedikit demi sedikit mulai menghilangkan kecanggungan mereka. Terutama Cagalli yang sedari tadi gugup, sekarang malah mencoba enjoy aja. Toh, keduanya 'kan gak ada apa-apa juga. Dan Athrun pun, terlihat lebih kalem dan tidak tampak seperti bocah otaku dan maniak manga. Hemm, sampai sekarang Cagalli belum mendengar omongan dari fantasi-fantasi Athrun sih. Semoga saja tidak deh.

"Well,well. Start yang baik Cagalli,"komentar Kira tetap setia menjadi stalker keduanya. Meski tetap saja intensitas obrolan antara si biru dan pirang masih kurang menurutnya.

Athrun kini bersiap menunggangi roller coaster. Yah, entah keberuntungan atau kesialan, dirinya dan Cagalli mendapat tempat duduk di barisan terdepan.

"Oh.." hanya itu yang keluar dari mulut Athrun mendengar informasi dari operator.

"Ada apa Athrun?" tanya Cagalli yang menyusul setelah lepas dari antrian.

"Ano.. Kita ada di tempat terdepan. Tidak masalah 'kan?"

"Gak masalah kok."

Ting! Sejurus kemudian keduanya segera duduk damai sembari menunggu peluncuran dengan tenang. Cagalli sendiri dalam benaknya benar-benar merasa agak terkejut dengan segala 'kelancaran' ini. Ia berhasil membawa dirinya sendiri untuk bersikap lebih friendly pada Athrun dan tak gugup tentunya.

Ia juga rada penasaran nih, Athrun sangat sangatlah kalem dan eh.. keren hari ini. Emang sih kalau di sekolah Athrun itu tenang dan keren juga sih. Tapi hobinya terhadap manga dan anime yang berlebihan itu benar-benar.. uurggh! menurut Cagalli.

Dan ternyata sekarang.. jika lihat Athrun tanpa embel-embel manga di sekitarnya begini, sungguh.. cool. Keren dan terasa nyaman berada di sampingnya.

AAKK!

"Aku mikiran apa sih, baka !" berontaknya dalam hati walau tetap terlihat tenang di luar setenang air danau Toba.

Tapi tetap, refleks Cagalli sering mencuri kesempatan menatap wajah Athrun, yang malah meneraang nan jauh ke depan.

Entah, apa yang dipikirkan Athrun sekarang ini ya?

Apa juga sebenarnya Athrun waswas pula seperti dirinya?

"Ada apa, Cagalli ?"

Athrun yang tiba-tiba menoleh ke arahnya, membuat Cagalli hampir kebakaran jenggot.

"Ti-tidak ada apa-apa kok. Tidak apa," balasnya sambil menundukkan wajahnya. Duh, kaget banget deh..

Sedang Athrun jadi rada penasaran dan hmm. sedikit terhibur juga dengan sisi feminim Cagalli ini.

Dan ketika keduanya malah saling mendiamkan begitu, pengumuman dari operator pun roller coaster siap beraksi menggairahkan hati pengguna.

"Para penumpang dimohon menggunakan sabut pengaman dengan baik. Jika tidak ingin jatuh dan tewas mengenaskan.."

Mendengar nasihat dan sedikit bernada sarkastik itu, para penumpang segera menurut. Sepertinya mereka benar-benar masih ingin hidup dan meminta ampunan kepada Yang Kuasa akan segala dosa-dosa. Wuih, sok ustad nih.. Tidak terkecuali dua orang di baris terdepan.

Dan Klik! Cagalli dan Athrun sudah siap menempuh perjalanan memusingkan kepala ini.

Tidak hanya keduanya sih, karena diam-diam menghanyutkan Kira pun telah nyelonong masuk ke dalam roller coaster bak ninja saja. Duduk tiga bangku di belakang adiknya yang tengah berkencan. Dia tetap menjaga kewaspadaan agar tidak ketahuan oleh Cagalli maupun Athrun.

"Duh, kalau saja aku bisa duduk di depan mereka. Pasti lebih mudah merekamnya," gumamnya kelu. Dari sudut pandangnya kini, hanya punggung keduanyalah yang bisa diabadikan. Heehh... -_-

Perlahan, roda kereta berputar, dan mulai menggerakan roller tersebut. Naik..naik dan naik. Hingga sampai di titik tertinggi untuk berhenti sejenak. Humm, Cagalli yang ada di barisan ujung depan beneran ngilu pas melihat ke bawah. Baru sadar betapa tingginya mereka sekarang. Dan..

WUSS !

Sejurus tanpa ba bi bu sang roller langsung terjun dengan kecepatan mantap. Diikuti oleh jeritan nyaring para penumpang di sana. Tidak terkecuali Cagalli yang tadinya bersemangat malah jadi merinding sendiri.

"Kyaa !" teriaknya nyaring dan err..terdengar kawaii..

Dan tanpa disadari Cagalli, diam-diam pun kini gantian Athrun yang malah mencuri-curi pandang ke arah gadis yang tengah ketakutan itu.

"Ba..baru kali ini aku melihatnya seperti ini," gumam Athrun.

Uh, karakteristik Cagalli yang begitu girly ini benar-benar memukaunya secara sadar dan tidak sadar.

Plek! Atrun tambah.. tambah terkejut lagi saat kedua tangan Cagalli memeluk tangan kirinya dengan erat. Sangat erat. Terasa sekali jemari Cagalli yang bergetaran. Sangat klop dengan wajahnya yang takut itu. Sepertinya Cagalli pun tidak sadar jika kini tengah menyandarkan tangannya pada Athrun. Refleks seseorang yang tengah kalut nih. Aneh. Padahal tadi dia sendiri yang dengan pede memilih wahana ini.

"Ti..tidak kusangka akan menyeramkan begini !" batinnya dalam hati masih sambil menutup matanya. Benar-benar, Cagalli tidak bisa menikmati kesempatan di barisan depan deh. Dia hanya berharap, putaran yang menyebalkan ini segera tuntas.

Athrun juga tidak terlalu fokus menikmati kecepatan tinggi ini. Dirinya malah kepikiran Cagalli yang tengah erat,sangat erat menempel padanya. Seperti perangko yang setia pada amplop saja..

Penderitaan itu berakhir. Si pirang tomboy akhirnya bisa merasakan kebebasan. Roller yang mereka tumpangi telah berhenti.

"Fuih, akhirnya.." ujarnya lega.

Ketegangan dalam dirinya menjadi sedikit mereda. Cagalli bersiap melangkah keluar tempat duduknya sebelum akhirnya menyadari...

Dia memeluk Athrun !

Sontak wajahnya hangus.. eh merah padam.

"A-Ap yang telah k-ku lakukan ?!" teriaknya dalam hati.

Buru-buru Cagalli melepaskan dekapannya langsung melompat dari tempat duduk untuk membuat jarak dengan Athrun.

"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja !" spontan Cagalli membela dirinya sendiri.

"Um.. Tidak apa-apa.." balas Athrun dengan tenang sembari keluar dari roller coaster.

Cagalli pun berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak terjadi kekikukan diantara keduanya. Tentunya dia pun tidak ingin terlihat konyol di depan Athrun dan orang-orang di sana.

Brek! Tidak terlalu jauh, Kira juga telah keluar dari wahana yang dinaiki saudarinya tadi. Tubuhnya sempoyongan dan kepalanya pusing tujuh keliling.

"Huekk! Jadi begini ya rasanya naik roller coaster. Aku terlalu meremehkan permainan ini," ujarnya dengan gaya keren dan kalemnya walau jelas-jelas mukanya pucat pasi tangannya sibuk menyumpal mulutnya sendiri agar tidak muntah gara-gara efek kereta itu. Dia tidak habis pikir, bagaimana orang-orang sanggup menikmati semua ini.

"Dasar, bagaimana Cagalli bisa tahan dengan semua ini ? Dia tidak mabuk lagi. Padahal kami kembar 'kan. Apa aku tidak punya ability menaiki roller coaster sebaik dia ?" gumam Kira sibuk sendiri tentang 'kekurangan' dirinya.

"Sekarang, mau kemana?" tanya Cagalli memberi kesempatan Athrun memilih. Dan cowok itu melihat sekeliling. Dia tidak terlalu yakin sih, mengingat tidak banyak yang menarik perhatiannya sekarang ini. Hanya sedikit yang ingin ia kunjungi di taman tersebut, diantaranya..

"Itu.." tunjuk Athrun setelah melihat sebuah stand manga yang tidak terlalu jauh. Bagai oasis di padang pasir nih. Langkahnya dengan pasti bergerak mendekat tempat tujuan.

"Eit! Eit! Tunggu dulu, Athrun ! Jangan kesana, tahu!" tiba-tiba Cagalli langsung berlari di hadapannya dan mencegat Athrun. Rautnya jadi agak jengkel karena si Athrun tiba-tiba mau pergi begitu saja, menuju dunianya yang selama ini bikin jengkel Cagalli.

"Tapi, Cagalli aku mau.."

"Tidak boleh, baka !" protes Cagalli menyilangkan tangan.

"Kenapa?" tanya Athrun.

"I..Itu..Ano.. Kita sedang.. kencan kan ? Ti..tidak bisakah memilih tempat yang lebih eh... etto.." ucapan Cagalli terbata-bata dan kagak jelas begitu sepertinya ditanggapi dengan baik oleh Athrun.

Pria berambut biru tersebut pun jadi sadar, tidak baik jika meninggalkan Cagalli begitu saja demi kesenangannya sendiri membaca manga. Apalagi melihat Cagalli yang sekarang ini, dengan tampilan ter-mutakhirnya.. benar-benar sweet..

"Seperti heroine di manga saja.." batin Atrun dalam hati.

"Baiklah. Tapi lebih baik kau saja yang memilih tempat. Aku tidak terlalu pandai dalam hal seperti itu," timpal Athrun menggaruk-garuk belakang kepala.

Mendegarnya membuat Cagalli menjadi agak girang, tapi tidak ingin terlalu ditonjolkannya sih. Dan dengan semangatnya lagi, yang entah kenapa muncul kembali, ia menentukan pilihan.

"Athrun, kita pergi ke sana,"ujarnya. Yang dirinya maksud tidak lain tidak bukan yaitu..

"Oh, rumah hantu ya?" seru Athrun tertantang juga.

"Jangan bilang kau takut, Athrun," ujar Cagalli memamerkan seringainya.

"Uhm. Sepertinya tidak kok."

"Hati-hati saja. Teman-teman bilang kalau rumah hantu di sini agak berbeda. Jadi persiapakan dirimu dengan baik," imbau Cagalli. Dan setelah sedikit berbasa-basi, keduanya pun memasuki zona kegelapan tersebut.

Disusul pula oleh Kira yang meski setengah terengah karena perutnya masih mengalami trauma kemualan.

"Hosh. Hosh.. Sepertinya mereka masuk ke rumah hantu," ujarnya lirih seraya mengamati sekeliling. Tidak lupa handycam ditangannya sudah dialihkan ke mode malam. Siap merekam keduanya dalam kegelapan yang mencekam jiwa. Perasaannya kurang begitu enak sih. Ada hawa-hawa mistis yang seolah terpancar dari tempat itu, walau ia tahu semuanya hanya bohongan saja. Tapi masa bodoh ah! Jika tidak ke sana ia tidak bisa mengabadikan momen-momen langka Cagalli dengan Athrun seperti ini. Ia pun masuk menyusul dua manusia yang terlebih dulu masuk mendahuluinya.

Rumah hantu, tempat yang benar-benar menguji bulu kuduk. Athrun menajamkan indera-indera yang ia miliki untuk meredam kekagetan yang dimunculkan hantu-hantu gadungan di sana. Ya, meski palsu tetap saja make up tebal mengerikan itu bisa bikin kaget karena penampakan, Athrun barang tentu ingin untuk menghindar dengan tenang dan cepat. Tapi masalahnya, sekarang...

"Kyaa !"

Sebuah jeritan, lagi-lagi terdengar dari sebelahnya. Sumbernya, bukan sulap bukan sihir ialah Cagalli. Athrun mendesah pendek. Tubuhnya terasa berat. Berat... Langkahnya pun tidak seluasa biasanya. Bukan karena Athrun sakit sih. Bukan..

Masalahnya, Cagalli kini tengah menempel padanya dengan sangat rekat. Mencengkeram lengan Athrun begitu nyeri dan nyut-nyutan di tangan Athrun tentunya.

"A-Athrun, pelan-pelan jalannya !" bisik Cagalli banjir keringat dari wajahnya.

Athrun menoleh. Huh... Beneran deh. Dilihat dari manapun ,Cagalli sedang mengalami periode yang dinamakan takut. Takut yang sungguh akut.

Payah deh. Dimana semangat membara yang menyelimuti si pirang itu tadi ?

Haha.. Ternyata Cagalli nyalinya secuil doang nih. Pede di awal tapi pas masuk langsung jleb! hilang deh tomboy-nya. :D

"Tak kusangka Cagalli ternyata takut dengan hal beginian," gumam Athrun. Sedikit merasa kasihan, tapi juga rada terhibur melihat mimik muka Cagalli yang penuh ekspresif begini. Hihi..

Seonggok makhluk dengan paras menakutkan buru-buru nongol. Memaksa Cagalli yang baru membuka mata sesipit mungkin kembali begidik.

"Kya!" teriaknya pendek melengking nyaring sembari semakin mendekatkan tubuhnya pada Athrun. Sangat lekat. Bahkan Athrun bisa merasakan kehangatan yang diradiasikan Cagalli walau berada di tempat dingin seperti itu.

"Ca.. Cagalli, tenanglah. Ini semua hanya bohongan 'kan," timpal Athrun agar Cagalli lebih bisa menahan diri dan agar dirinya sendiri bisa bernafas lebih leluasa ! Karena dirinya benar-benar sesak diperlakukan Cagalli seperti ini..

Cagalli tetap saja tidak bergeming, Mau gimana lagi ya? Orang sudah takut ya sulit diberi nasihat kayak gini.

Pluk! Cagalli merasa ada sesuatu yang aneh di sekitar lengannya. Entah mengapa tiba-tiba menjadi berat. Dia melihat sejenak. Aneh. Bentuknya seperti benda bulat agak bersinar. Tampaknya itu nongol sedari tadi. Baru tersadar sekian detik hingga ia tahu benda bulat tersebut adalah...

"Gaakk! Kepala orang !" teriak Cagalli sejadi-jadinya. Membuat Athrun di sebelahnya kaget bak tersambar geledek.

"Ca..Cagalli, santai saja. Itu hanya labu ! Labu !" timpal Athrun berusaha mengatasai Cagalli yang seperti kesetanan itu. Sebenarnya ia juga kaget, tapi karena Athrun bisa berpikir lebih tenang membuatnya bisa menganalisa benda apa yang dipegang Cagalli. Tidak seperti si gadis pirang yang menggila tak karuan.

Doom! Cagalli dengan sekuat tenaga dan kepanikan merajalela buru-buru melempar kepala.. err.. yang sebenarnya adalah labu itu ke belakang. Tidak peduli apa yang terjadi selanjutnya. Yang penting dirinya bisa menjauh dari kepala gadungan itu.

Tidak tahan lagi dengan segala kengerian yang terpancar di sana, Cagalli semakin ingin menyelesaikan semua ini. Segera..

"Athrun! Cepat! Cepat! Ke arah sini!" Ujar Cagalli sembari berlari tanpa pandang bulu menggasak segala yang ada di hanya satu : pintu kelaur dimana cahaya hangat bisa menyelamatkannya.

"Ba..baiklah," balas Athrun simpel dan mengikuti Cagalli.

Hah..hah.. Dengan gabungan keringat dingin karena takut dan keringat hangat karena lelah, Cagalli berhasil keluar dari apa yang disebutnya labirin lagi di kehidupan yang hangat dengan orang lalu lalang di taman tersebut.

Oh ya, dia jadi ingat mengenai Athrun yang juga bersamanya lagi. Semoga dia tidak apa-apa.

" Cagalli menoleh ke belakang. "Athrun, kau terluka ? Kau tidak apa-apa 'kan ?! Tenang, sudah aman sekarang !" tukas Cagalli.

Sebuah awal pembicaraan yang terasa terbalik bagi Athrun. Terlebih lagi pria berambut biru itu merasa bahwa dirinyalah yang harusnya berkata begitu.

"Hmm.. Ya.." balasnya setengah menggelengkan kepala. Cagalli benar-benar membuatnya jadi repot dan pusing deh..

"Cagalli, bisa tidak kau.. engg.. tanganku.." ujar Athrun lirih. Cagalli pun reflek melihat ke arah tangannya.. yang ternyata sejak dari rumah hantu terus saja menggenggam erat jari jemari Athrun. Aduh... Di tempar ramai seperti ini, apa yang dipikirkan orang-orang ya? Mereka tampak mesra bergandengan tangan seperti itu. Seperti sepasanga suami isteri saja.

"Akk! Ma-maaf!" pekiknya dan secepat kilat menarik tangan dari kehangatan sang Athrun. Hehehe.. Tidak menyangka juga ternyata Cagalli menggenggam sangatlah kuat hingga rasa nyut-nyutan turut menjalar pula di tangan kedua orang itu.

Athrun hanya mengigau kecil. Keduanya saling berpandangan sebelum sama-sama berpaling lagi.

"Ya ampun. Kami seperti orang kencan saja.. Tunggu, kami 'kan memang kencan! Yah, meski bukan kencan beneran sih.." gumam Cagalli bersemu. Lamunannya terhenti saat Athrun menepuk bahunya.

"Selanjutnya mau kemana, Cagalli ?"

Cagalli diam sebentar. Ternyata Athrun tidak terlalu memermasalahkan hal-hal kecil sebelumnya. Yang membuat keduanya tampak mesra begitu. Yosh, seharusnya begitu ! Cagalli pun mencoba untuk lebih.. dan lebih enjoy saja menikmati sore ini. Tidak perlu memikirkan macam-macam. Apalagi mengenai status keduanya saat ini, yang pasti orang lain menganggap sudah seperti dua insan yang tak terpisahkan saja. Biarkan bagai air mengalir, ingatnya meniru perkataan Kira.

"Uhmm... naik komedi putar ?" usulnya. Dengan lugas Athrun pun menyetujui, atau tepatnya asal setuju saja. Tentu dia tidak ingin berdebat panjang dan malah disuruh memilih destinasi berikutnya.

Keduanya setengah berlari ke arah wahana selanjutnya. Mengingat antrean di sana sudah hampir penuh, tentu mereka tidak ingin terlambat dan harus menunggu satu giliran lagi, yang pasti memakan waktu lama.

Di saat keduanya menanti, ternyata ada satu sosok lagi yang keluar dari rumah hantu itu. Dengan langkah terpogoh-pogoh, siapa lagi kalau bukan Kira.

Tapi kini tampak beda. Tampilannya benar-benar sangar dengan warna orange dan sedikit jingga menghiasi rambut dan wajahnya. Dan itu benar-benar lengket.

"Urgh.. Dasar kampret betina, Cagalli. Bisa-bisanya dia melemparkan labu itu ke belakang. Dan mengenai aku lagi !" protesnya dengan jengkel setinggi ubun-ubun. Benar sih, saat dalam kepanikan dalam kegelapan, lemparan Cagalli yang sembarangan tak karuan itu, ternyata malah mendarat dengan sempurna di kepala Kira. Entah bagaimana bisa seperti itu. Yang jelas, sekarang kekumuhan Kira bisa menjadi bukti.

Kira hanya bisa meratapi dirinya yang keren menjadi mengerikan begini. Sepertinya dia cocok jika bekerja di rumah hantu tadi. Hehehe..

Sementara ini, Kira memilih mundur dari pengejaran kencan adiknya. Berusaha untuk membersihkan diri terlebih dahulu.

"Huh.. I'll be back," seru Kira memasang raut serius berlumuran getah labu.

Lima belas menit Kira bergumul dengan lendir aneh di dalam kamar mandi. Ia harus berkali-kali mengecek wajah dan rambutnya agar benar-benar kinclong kembali. Tidak lupa sedikit menyemprotkan parfum praktis yang ia bawa setiap saat. Diceknya lagi handycam di tangan. Sip, baterai masih cukup nih. Dan juga ia sudah mendapatkan momen-momen berharga Athrun dan Cagalli. Tapi kayaknya masih kurang deh..

"Waktunya melanjutkan lagi," gumam kira.

Dia melangkah berkeliling. Tampak sekali dua buronannya sudah tidak ada di komedi putar. Hah. Cepat sekali keduanya selesai. Dan dengan intuisi detektif dan naluri-nya, ia pun sedikit demi sedikit berhasil mengendus keberadaan kembarannya.

Cagalli kini duduk santai di sebuah kursi taman. Di bawah pohon rindang dan tidak terlalu banyak dilewati orang. Sedang Athrun tengah berdiri di depannya. Kira penasaran, di lihat dari kejauhan, tampaknya adiknya lagi meringis kesakitan tuh. Sembari memegang dahinya sendiri.

"Kau tidak apa-apa 'kan, Cagalli ?" tanya Athrun khawatir.

"Urggh! Ini sih, cuma benjol kecil. Jangan dipikirkan," sahutnya. Usut punya usut, saat tengah asyik ber-komedi putar ria, kepala Cagalli tanpa sengaja membentur tiang penyangga kuda buatan yang ia naiki. yah, tidak sampai parah dan berdarah sih. Kini hanya benjolan merah menjadi saksi akan kengerian wahana tadi.

"Habisnya, kau tidak hati-hati sih. Bukannya duduk manis malah bertingkah aneh-aneh," ingat Athrun. Benar, Cagalli tadi dengan pedenya mencoba untuk lepas tangan, tapi karena tak hati-hati, jadi kehilangan keseimbangan dan endingya menabrak deh. Untung saja dia tidak jatuh.

"A-aku tahu," ketus Cagalli cemberut.

Kira yang samar-samar mendengarnya, hanya bisa menahan gelak tawa yang amat sangat.

Ada sedikit rasa syukur ketika Cagalli mendapat musibah begitu. Maklum lah, mungkin itu balasan karena tadi melempar dirinya dengan labu. Hehehe.. Sekali kembar nasibnya tidak jauh-jauh amat hari ini.

Tidak terasa, hampir dua jam telah dilalui Athrun dan Cagalli bersama. Kencan pertama mereka. Ehmm. tidak bisa dibilang dari hati sih karena Cagalli 'memaksa' Athrun agar cowok manga itu bisa bebas dari kesalahpahaman tentang Shinn.

Dan karena lelah berputar kesana kemari, Athrun pun mengajak Cagalli beristirahat.

"Cagalli, mau makan es krim ?" tanyanya.

"Boleh. Tapi kau yang traktir..", balas Cagalli memasang seringai manja sekaligus mengancam.

"Uhm.. Oke.. Kali ini saja," timpal Athrun.

Cagalli senang. Tidak mengira, ternyata keduanya bisa bicara dengan santai dan cair seperti ini ya. Mirip saat dirinya ngobrol bareng Kira atau orang tuanya. Athrun tidaklah sekaku yang ia kira. Mungkin.. hanya kurang terbuka saja dengan orang lain.

Dan lebih lagi, sore ini untuk pertama kalinya Cagalli bertemu Athrun tanpa membawa manga. Wuss.. Ternyata bisa juga Athrun bertahan tanpa 'jimat' nya tersebut selama berjam-jam. Hehehe..

"Oh, tolong pesan dua es krim ya.." pinta Athrun pada penjual yang berhasil mereka temui di pinggiran sungai taman.

"Mau rasa apa, tuan?" tanya si penjual memasang muka ramah.

Athrun menoleh ke arah gadis di sampingnya. Seperti sudah tahu isyaratnya, Cagalli pun menjawab.

"Strawberry.." balasnya pada Athrun pelan.

"Kalau begitu, dua strawberry.." jelas Athrun disambut anggukan sang penjual.

Menunggu hampir tiga menit, pesanan keduanya pun telah jadi.

"Baiklah ! Ini dia tuan dan nona, dua buah es krim strawberry spesial untuk kalian !" ujar penjual penuh semangat.

"Arigatou," balas Cagalli menerima dengan antusias.

"Berapa harganya tuan?" tanya Athrun seraya mengecek dompetnya.

"Oh..." hanya itu yang diutarakan si penjual. Membuat Athrun dan Cagalli berpandangan penuh bingung. Hingga penjaja es krim tadi menunjukkan jari ke atas. Agar keduanya membaca papan pengumuman yang tertara di atas tenda jualannya.

"Apa kalian tidak membaca.. Hari ini istimewa.. karena sepasang es krim akan diberikan kepada ... sepasang kekasih dengan gratis !" teriaknya penuh semangat.

Dibalas teriakan yang tidak kalah agung dari Cagalli.

"A-APAA!"

"Tuh, kan. Kau tidak baca sih. Jadi terkejut karena ada gratis toh.." imbuh penjual tersebut pede.

"Bu-bukan itu, baka! Ka-kami bukan pasangan kekasih.. bukan kekasih !" teriak Cagalli. Entahlah, wajahnya malah jadi blushing dan jantungnya berdetak cepat ketika meneriakkan kata 'kekasih'.

"AH! Masa sih?!" jawab penjual tak percaya.

"Benar kok. Kami tidak ada apa-apa.." jelas Athrun dengan lebih berwibawa dan kalem. Walau sebenarnya dirinya sungguh terkaget-kaget dengan pernyataan si penjual es krim barusan. Apakah dirinya dan Cagalli sebegitu terlihat bak sepasang merpati yang tengah memadu kasih ?

"Maaf deh kalo gitu. Tapi tetap saja. Es krim gratis itu buat ..."

Cagalli pun sebisa mungkin pergi dari area orang aneh yang sok tahu hubungan orang. Diikuti Athrun yang tersenyum mencoba memaklumi anggapan orang lain tadi.

Keduanya berhenti, saat Cagalli melihat indahnya sunset sore di atas jembatan mini berwarna biru. Terlihat begitu indah sinar sang surya memantul di atas permukaan air. Berkilau penuh keemasan. Tidak menyadari jika tempat itu benar-benar memiliki spot yang menakjubkan seperti ini.

"Sugoi.." ujarnya berbinar-binar.

Athrun pun tak kuasa untuk memuji panorama yang menakjubkan mata. Walaupun ini terjadi setiap hari, tetap saja, dirinya merasa kurang memerhatikan keindahan yang telah Tuhan turunkan untuk menghiasi alam ini.

Pandangannya pun beralih sesaat. Pada sosok Cagalli yang masih sibuk terpukau. Sepertinya es krimnya yang tinggal setengah itu hampir meleleh. Athrun melihat, Cagalli yang begitu flamboyan dan anggun, berbalutkan pantulan sinar matahari yang menimbulkan warna keemasan itu. Dia bagaikan seorang puteri anggun berparas rupawan.

"Cagalli..."

Gadis itu terhenyak saat Athrun memanggilnya. "Eh? A-Ada apa?" Sepertinya Cagalli menjadi malu sendiri karena malah melamun begitu.

"Apa arti kencan ini bagimu ?"

SRUKK! Tumben.. sangat tumben Cagalli menyaksikan Athrun agak serius begini. Aura yang dipancarkan seolah berbeda dari biasanya. Ada getaran aneh yang mengisi tubuh Cagalli.

"Ke-kencan ini ?"

"Ya.."

Cagalli berpikir sejenak. Kencan ini...

"Ja-jangan berpikir macam-macam. Bu-bukannya aku melakukan ini karena a-aku s-su-suka kamu ya ? Ini hanya agar tidak ada salah paham lagi antara kita soal waktu itu, me-mengerti !" jelas Cagalli agak membentak-bentak dengan gaya yang kawaii abis.

"A-Aku tidak berpikiran seperti itu kok, " balas Athrun jadi kalem dan jinak lagi sambil menggoyang-goyangkan kedua telapak tangan.

"Ma-Makanya aku bilangin. Jangan sampai berfantasi berlebihan ya. Kita ini 'kan... cuma teman," tambah Cagalli sedikit menunduk.

"Iya ya. Kita hanya teman 'kan.."

"Hmm.. Be-begitulah, Athrun."

Suasana mendadak jadi kikuk kembali. Seolah waktu berjalan sangat lambat. Cagalli ingin sekali punya pintu kemana saja dan langsung pergi sejauh mungkind dari Athrun karena malu wajahnya yang memerah akan terlihat oleh pria itu.

Terlalu sibuk dengan dirinya sendiri yang lagi salting dan jengkel itu, Cagalli tidak berhati-hati dalam melangkah.

Sebelah kakinya tersandung batu yang nongol di jembatan pendek itu. Membuat Cagalli hilang keseimbangan.

"Kyaa !" pekiknya pendek. Tubuhnya pun jadi terombang-ambing gak jelas begitu.

Tidak lama, ia tahu dirinya akan terjatuh. Dan sayangnya Cagalli pun tak kuasa mengendalikannya.

Tubuhnya perlahan, dengan cepat sih.. terjatuh tidak kuat melawan gravitasi bumi.

Dan parahnya, dia tersungkur ke arah sungai dan tidak di atas jembatan. Soalnya jembatan ini hanya jembatan kecil yang tidak memiliki pembatas di kiri kanannya.

( Cagalli : Author kurang waras nih.. Buat setting tempat yang lebih baik napa sih ?)

Dan... BYUUURR!

Dalam dua detik saja, Cagalli telah tercebur dalam sungai. Basah kuyup seketika.

"Cagalli !"

Athrun yang terlambat melihat dan menyadari segera turut melompat ke dalam sungai. Berusaha menyelamatkan Cagalli.

Di kejauhan Kira malah semakin bernafsu merekam kejadian ini. "Bagus, bagus. Selamatkan adikku, Athrun.. Sehingga bisa menjadi kenangan yang tak terlupakan.." ujarnya dengan seringai iblis.

Athrun pun turut bergumul dengan air sungai yang berwarn keemasan. Ingin secepatnya menolong Cagalli yang tampaknya kesusahan.

"Cagalli !" Athrun terus berteriak dan mendekat ke arah gadis itu. Dan segera menggenggam tangan Cagalli dan segera menariknya.

"Cepat, nanti kau tenggelam !" tukas Athrun. Cagalli yang rada pusing dan kepalanya terbentur air tadi mencoba tidak panik.

"Gawat nih, aku tidak mau mati tenggelam begini!" pekik Cagalli dalam hati.

Ia pun bangkit dengan bantuan Athrun tadi, dan tak lama telah menampakkan wajah di permukaan air.

BYUURR!

Dia bisa bernafas lega. Oksigen bisa ia hirup dengan bebas di tempat terbuka ini setelah sempat bergumul dalam air yang membuat kepalanya menjadi sakit.

Tubuhnya terasas ringan. Dan setelah ia menoleh ke belakang, terlihat Athrun dengan gentle sedikit mengangkat sembari memegang bahunya dari belakang.

Tidak peduli , walau keduanya basah kuyup, Athrun tetap berusaha memegang dan sedikit memeluk Cagalli dari belakang.

Padahal ... setelah dipikir-pikir, air sungai itu tingginya hanya sepinggang saja!

"Be..benar juga nih, air di sini 'kan tidak tinggi. Ke-kenapa aku harus panik segala tadi?" gumam Cagalli yang semakin merasa hangat dalam kedinginannya.

Sayangnya terlanjur basah deh,dan Athrun pun kini juga kepedean berusaha menolongnya. Cagalli tidak menyangka kini dirinya agak bersandar di tubuh Athrun, bermandikan air sungai yang telah mengguyur keduanya. Sinar mentari yang memantulkan cahaya yang menenangkan. Melengkapi kemewahan sore itu.

"Cool ! Mereka tampak seperti berpelukan sekarang !" sesumbar Kira bersemangat dari balik persembunyian di semak-semak. Tidak hanya Kira yang berpikir begitu. Para pengunjung tempat wisata itu pun banyak yang tertegun.

Melihat saat-saat yang - menurut mereka sih - romantis ini..

"Oi, lihat-lihat ! Ada sepasang kekasih di sungai itu.."

"Apa yang mereka lakukan di sana ?"

"Sepertinya sang pria baru menyatakan cinta mungkin.."

"Bisa saja mereka pasangan yang sedang mengalami masalah percintaan.."

"Apa tidak malu berpelukan di sana ?"

Suara-suara bernada sumbang dan juga yang mengelu-elukan perlahan tapi pasti mulai ramai mengitari sungai itu. Sepertinya 'pertunjukan' Athrun dan Cagalli lebih menarik perhatian daripada semua wahana di sana..

Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Cagalli buru-buru melepaskan diri dari 'dekapan' Athrun. Lelaki berambut biru itu pun juga paham bahwa situasinya yang mencoba sok pahlawan tadi malah jadi ruwet begini.

"Ma-Maaf.." ujar Athrun dengan wajah memerah.

"Engg.. Ti-tidak apa-apa. A-Arigatou.." balas Cagalli juga dengan semu merona melintas pipinya.

Keduanya lekas melangkah keluar dari tempat kejadian perkara. Berusaha untuk tidak memedulikan orang-orang di sekitarnya dahulu. Dengan raut muka memerah yang memenuhi wajah Cagalli dan Athrun.

Ah, sore ini tidak akan dilupakan oleh mereka..


to be continued...


Se..selesai.. Argh! Ingin lanjut tapi sepertinya udah kepanjangen nih..

Nah.. gimana Asucaga dapat slot banyak ;kan kali ini ?!

Hemmm.. Next siapa ya ? Ato masih urus Asucaga lagi.. Hehehe..

Tunggu aja deh...

Ps : Sepertinya Shinn dan Luna gak nongol hari ini. Aneh... Akhir-akhir ini keduanya jarang dapet slot deh..

Biarin ! MNext chaoter aja kalo gitu..

Thanks, minna !

Arigatou ! 0_0