Ciiiaaaaattt!
Horeeeyaaa!
Sebuah ungkapan dan teriakan dikumandangkan dengan sekuat tenaga oleh author.
Akhirnya, akhirnya, chapter 8 rilis juga. Hiks. Hiks...
Gomen, minna... Bagi yang telah menunggu kelanjutan fic ini.
Maafkan author karena updatenya lama banget, setahun lebih...
Doakan, doakan agar bisa lebih cepat lagi kedepannya... Amiinn...
Arrggh! Masih banyak yang ingin author katakan, tapi ya... silahkan nikmati dulu chapter kali ini!
Disclaimer : GSD bukan milik author...
Chapter 8
Just Ordinary Day
Hoaaam... Rasa kantuk sebenarnya masih saja menggelayuti tubuh dan pikiran seorang Shinn Asuka. Tapi mau bagaimana lagi? Dia punya kewajiban yang membuatnya 'terpaksa' terjaga semenjak mentari menampakkan senyum indahnya di ufuk barat eh... timur maksudnya...
"Ya ampun, berangkat sekolah lagi," ujarnya dengan aura malas.
Yah, walaupun dia protes begitu, tetap saja tubuhnya secara otomatis bergerak untuk memenuhi rutinitas yang dianggapnya buang-buang waktu itu.
Entah disadarinya atau tidak, dirinya kini sudah berdiri dengan pakaian sekolah rapi, bersiap menerjang segala pelajaran yang menghadang. Wuiiih lebay-lebay...
"Mayu, aku berangkat dulu."
Slepp! Tidak ada jawaban dari adiknya tercinta. Shinn memutar otak sejenak. Ah, benar juga. Mayu sudah berangkat agak pagian. Hahaha, maklum lah. Akhir-akhir ini Mayu sudah mengikuti les pagi yang diadakan SMPnya, mengingat dirinya juga harus berjuang agar bisa lulus dan mendapatkan SMA yang berkualitas.
"Aduh, bisa-bisanya aku yang harus mengunci pintu."
Ah, itu rutinitas yang paling Shinn benci di pagi hari. Menyegel pintu rumah di pagi begini memang tidak cocok dengan karakter matanya yang masih samar-samar melihat keindahan dunia. Ya, meski sudah mandi dan berdandan bak anak SMA sejati, tetap saja hati Shinn masih terlelap di kasurnya yang empuk. Hahaha...
"Cih, susah banget." batin Shinn yang tampak kesulitan mengunci pintu utama rumah. Butuh sedikit waktu, setidaknya dua menit baginya untuk menyelesaikan misi suci ini. Bahkan dia sudah harus mengelap keringat yang entah kenapa muncul di jidatnya hanya karena kegiatan sepele begini.
Yosh, waktunya Shinn berangkat!
Perjalanan ke sekolah di pagi hari selalu penuh warna. Kadangkala Shinn bertemu dengan kumpulan anak SD yang dengan ceria pergi menyambut para guru yang ditemui di tengah jalan. Atau pun para pekerja kantoran yang berlari mengejar waktu sembari membenahi dasi mereka yang belum tertata rapi. Aduhhduh...
Dan yang paling menyebalkan, apalagi kalau bukan melihat ada cewek SMA yang dengan sok innocent berlari dengan menggigit roti berselai di mulut, sambil berteriak, "Aku terlambat! Aku terlambat!"
Arrgghh.. Apa mereka tak menyadari betapa tingkah mereka itu bikin sakit mata? Shinn selalu saja mengelus dada setiap ada para cewek seumurannya yang bertingkah sok imut begitu bak heroine di anime-anime terkenal.
"Baka, memangnya mereka bisa menarik perhatian cowok SMA di dunia nyata dengan cara begitu?"kata Shinn berusaha membunuh waktu dalam perjalanan sambil memikirkan hal gak penting begitu.
Hmmm.. Satu lagi analisis Shinn. Biasanya cewek SMA yang begituan nanti ujung-ujungnya tertabrak... atau menabrakkan dirinya pada cowok SMA di persimpangan jalan. Arrgh.. Lalu keduanya terjatuh, Lalu sang cewek meringis sakit, sakit... lalu sang cowok mengulurkan tangannya untuk membantu. Lalu...lalu... terjadilah percakapan hangat... Lalu... entah kenapa keduanya bisa akur... Lalu..lalu...
Arrggh! Itu terlalu fantasi banget! Shinn hanya menggeleng-geleng kepalanya. Amit-amit dia tak mengalaminya. Maklum lah, dia sering melihat cewek-cewek dari SMA lain yang kadang berlari gak jelas begitu di waktu pagi hari. Haaahh! Padahal kalo Shinn pikir, mereka berangkat sekolah sektiar tiga puluh menit sebelum jam masuk dimulai, dan jarak ke sekolah mereka mungkin cuman lima belas menitan...
"Dasar. Mereka pasti sangat berharap ditabrak cowok yang keren. Apa sebegitu putus asanya para wanita yang belum mendapatkan pria dan melakukan modus seperti itu?"
Mustahil. Mustahil. Shinn berpikir berapa kali pun. Gak bakalan ada cowok SMA yang dengan senang hati ditabrak seperti itu. Bahkan mungkin, sang cowok sudah jelas bakalan marah.
Shinn yang biasanya bosan berpikiran rumit pun entah kenapa terbawa suasana. Maklum lah, akhir-akhir ini dia berangkat sekolah ditemani dengan kesendirian. Wuiss. Sok puitis. Luna yang sakit semenjak chapter 5, eh maksudnya sekitar lima hari yang lalu... tidak kunjung sembuh juga. Bahkan sekarang menjelang akhir minggu lagi, tidak ada tanda-tanda gadis berambut magenta itu berangkat sekolah...
"Ah, biarlah. Besok paling dia juga sudah berangkat," gumam Shinn sembari menutupi mulutnya yang menguap hebat.
Uarggh! Masih ngantuk rupanya seorang Shinn...
Dan tak berapa lama, setelah menyelesaikan nikmatnya menguap, tanpa disadarinya...
GEDUBRAKK!
Tubuh Shinn oleng ke kanan. Dan belum sempat menengok ke kiri ketika tubuhnya sudah jatuh duluan. Shinn masih bingung dengan sensasi hempasan yang menghantam tubuhnya.
"Aduh..." Shinn meringis. Tidak terlalu sakit sih. Tapi lumayan juga membuat jantungnya kaget dan sedikit memberi hadiah lecet di lutut siku kanannya.
Shinn pun mengumpat dalam hati. Kampret! Baru sebentar dia "lengah" saat tak memikirkan hal konyol tentang cewek SMA yang menabrak cowok SMA, hal itu malah menimpa dirinya sendiri!
Dengan jelas Shinn bisa mendengar suara rintihan dari wanita yang terdengar seumuran dengannya. Tidak ada Shinn yang baik hati kalau urusan kayak begini. Shinn tentu punya hak dong untuk menghajar dan memarahi cewek yang telah menodai paginya yang membosankan.
Segera Shinn membalikkan badannya. Dengan mata merah yang penuh amarah, dan ekspresi bak setan mengerikan. Shinn menyiapkan perlawanan terbaik untuk kejadian yang harusnya bisa jadi romance ini...
"Sialan! Dasar cewek, beraninya kau-"
GLEK! Ucapan Shinn terhenti. Bukan apa-apa sih. Masalahnya, ternyata cewek SMA yang di depannya adalah...
"Luna?!"
Shinn dengan sekejap langsung menghilangkan ekspresi marahnya. Dia berupaya meredamnya dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya yang terdalam. Dalam sebuah ruang hampa di jiwa yang menunggu untuk diisi. Diisi oleh kehangatan dan kenangan yang manis. Manis bagaikan embun pagi yang menorehkan jati diri di atas dedaunan hijau nan mungil. Dedaunan yang... Arrghgh Stop! Malah ngelantur gak jelas. Mari kembali ke problematika Shinn...
Shinn mengucek-ucek matanya. Beneran. Siapa lagi yang punya rambut magenta pendek dan mata biru menawan penuh intimidasi kalau bukan Luna.
"Te-Ternyata benar dia..." batin Shinn sambil menelan ludah.
Sementara itu, Luna masih saja memegang kepalanya. Sepertinya dia sendiri juga belum terlalu mengerti apa yang terjadi. Otaknya berusaha menelaah perkara yang baru saja menimpanya. Meski dia mendengar suara pria yang begitu dikenalnya.
"Shinn, itu kau ya?" ujar Luna. Tampaknya Luna agak sedikit pusing dengan tabrakan aneh tadi.
"I-Iya," balas Shinn penuh kegugupan.
Bagaimana Shinn tidak gugup? Luna tidak seperti gadis SMA yang menabrak cewek pada umumnya. Tidak ada roti berselai yang terjatuh di jalanan beraspal itu. Karena Luna memang tidak membawanya!
Sekarang yang bisa Shinn lihat di tangan Luna hanyalah sebuah tongkat baseball yang berlambangkan Zaft High School.
"Tunggu! Kenapa dia membawa pemukul baseball?!" pikir Shinn tak karuan.
Apa-apaan maksudnya ini? Bukankah cewek SMA begini harusnya polos dan membawa barang-barang yang lazim? Memangnya ada cewek yang berangkat pagi dengan membawa tongkat begitu?!
Ah, pikiran Shinn sudah melalang buana kemana-mana. Dia pun mengurungkan niatnya untuk memarahi Luna. Bagaimana tidak? Bisa-bisa malah dia yang dihajar oleh gadis beringas itu. Apalagi saat ini, Shinn tak membawa apa pun yang bisa meng-counter serangan Luna.
Ah, bendera putih sudah dikibarkan Shinn...
"Luna, kau tidak apa-apa 'kan?" ucapnya mengulurkan tangan kepada Luna.
Ciyee! Dengan berat hati Shinn pun berlagak layaknya sang hero yang tengah menolong heroine yang terluka. Sip Shinn! Inilah yang kutunggu-kutunggu darimu agar beraksi layaknya pria sejati. Aku bangga menjadikanmu main chara dalam fic-ku ini… :D
Ehmm... Kembali ke dunia fic...
"Kenapa kau menabrakku, bakayaro," balas Luna dengan cemberut seraya membenarkan posisi tasnya yang sedikit melenceng dari pundaknya.
Uluran tangan Shinn? Dengan senang hati Luna menolaknya.
"Tidak usah sok baik hati, Ba-ka..." celoteh Luna dengan pedas menohok hati dan harga diri Shinn.
"Ehmm. Baiklah," balas Shinn sambil menarik lagi lengan yang sudah terlanjur sok pahlawan it dengan hati penuh luka..
Luna dengan sendirinya bangkit. Kepalanya sudah tak pusing lagi. Dia pun segera melihat jam yang ada di HP-nya. Ah syukurlah, kejadian tadi tidak memakan waktu cukup lama untuk membuatnya terlambat. Setidaknya dirinya masih bisa berjalan dengan santai menuju sekolah.
Sambil mulai melangkah, Luna mulai mengomel kepada Shinn yang juga mengikuti derap kaki gadis berambut magenta itu.
"Kau harusnya lebih hati-hati, Shinn."
"Aku tahu. Kau juga sama."
"Apa? Maksudmu kau mau menyalahkanku?"
"Bukan begitu sih. Tapi aku tak habis pikir kenapa kau berlari-lari saat sudah sampai perempatan begitu," cetus Shinn dengan memegang siku yang terluka tadi.
"Uh, memangnya apa hakmu melarangku berlarian begitu?"
Ucapan Luna diiringi tongkat baseball yang diseretnya di aspal jalanan. Menimbulkan sensasi suara yang bikin merinding Shinn. Seolah benda dari besi itu bisa terbang ke arah kepalanya kapan pun Luna mau.
"A-Aku bukannya menyalahkanmu kok. Hanya saja, aku tak mau kau terluka. Coba saja tadi jika yang menabrakmu bukan aku, tapi kendaraan bermotor. Aku tak tahu bagaimana nasibmu kelak," kata Shinn berusaha untuk tidak mengatakan hal-hal yang menimbulkan masalah. Walaupun, kelihatannya ucapannya tadi malah membuat Luna sewot.
"Oh begitu?! Jadi kau mendoakanku tertabrak mobil, hah?!" ujar Luna naik pitam. Shinn langsung menggelengkan kepala. Berusaha untuk meyakinkan Luna dengan segala cara agar tubuhnya tidak hancur dihajar Luna.
Ya ampun, dasar. Keduanya selalu saja bertingkah apatis dan emosional terhadap pendapat dari yang lain. Entah mereka itu akur atau malah sebaliknya...
Namun, angin keberuntungan apa yang menaungi Shinn, kali ini Luna terlihat bisa lebih mengontrol emosinya. Setelah agak naik pitam tadi, nada bicaranya kembali normal dan ekspresinya lebih tenang.
"Ya sudahlah. Aku juga sudah jenuh memarahimu terus," kata Luna. Diserahkannya pemukul baseball tadi kepada Shinn. Berharap Shinn akan membawanya hingga perjalanan sampai di sekolah.
"Sekarang kau malah minta bantuanku, dasar?" tanya Shinn ketus. Walau dalam hati dia lega Luna tidak jadi mengamuk sih. Hahaha. Tanpa sepatah kata Shinn langsung mengambil pemukul tadi dengan tangan kanan lalu diletakkannya diantara dua pundaknya. Membuatnya tampak seperti berandalan sejati, apalagi dengan rambut acak-acakan bagai terkena badai.
Keduanya berjalan sejenak tanpa berkata apa pun. Hingga beberapa menit kemudian, Shinn memecah kebuntuan. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin ia katakan dari tadi.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah benar-benar sembuh?" ucapnya dengan pandangan tetap jauh ke depan. Tidak menoleh ke kanan sejenak di mana Luna berjalan di sampingnya.
Luna menengok ke arah Shinn. Dilihatnya mata malas yang tampak enggan untuk balik menatapnya. Luna hanya memasang senyum kecil yang tak bisa dilihat oleh lelaki di sebelahnya itu.
Sebuah pertanyaan sederhana yang entah kenapa selalu membuat Luna merasa hangat berada di samping Shinn. Sebuah pertanyaan yang menjadi bukti persahabatan mereka sedari masa kecil mereka. Pertanyaan yang akan mereka utarakan jika salah satunya tengah sakit atau terluka.
"Tidak. Tenang saja. Aku merasa baikan kok," balas Luna sumringah.
"Semoga saja begitu. Jangan sampai memaksakan dirimu dan pingsan di sekolah ya? Akulah yang repot karena harus mengantarmu pulang."
Luna sedikit terkekeh. Sebelum akhirnya membalas perkataan Shinn tadi.
"Oohh. Apa kau lupa? Memangnya dulu waktu SD siapa yang harus kugendong pulang saat merengek kesakitan gara-gara jatuh setelah bermain bola?"
Shinn agak menelan ludah. Apalagi setelah mendengar fakta memalukan yang entah kenapa Luna bisa ingat hingga sekarang.
"Sudah cukup. Jangan bahas masa lalu lagi," pinta Shinn dengan raut yang bete, enggan mengakui kejadian di masa lampau. Melihat itu, Luna semakin melebarkan senyumnya. Baru pagi hari, tapi dia sudah bisa membuat Shinn kalang kabut begini. Lumayanlah buat hiburan menjelang masuk sekolah.
Setelah puas dengan tawanya yang mengikis hati Shinn. Luna segera diam kembali. Sambil melihat bumi yang ia pijak, Luna lagi-lagi hanya tersenyum kecil yang tak bisa dilihat siapa pun, bahkan oleh Shinn. Rambut magentanya menutupi raut mukanya dari keinginan siapa pun untuk melihat senyum kecilnya.
Sesaat sesudah itu, Luna bergegas berjalan lebih cepat. Sehinnga kini tubuhnya telah mendahului Shinn. Shinn hanya diam saja, mengamati dan menunggu apa yang akan dilakukan wanita ini. Dan rasa penasarannya itu akhirnya berakhir dengan sendirinya. Luna dengan lembutnya membalikkan badan menghadap Shinn. Membiarkan rambut pendeknya yang halus diterpa angin pagi yang dipandu sinar mentari. Dan kini, rambut itu sudah tak menutupi wajahnya lagi. Dengan percaya diri, Luna telah menatap Shinn dengan kepala tegak serta senyum yang masih setia dipajangnya. Langkah Shinn terhenti sejenak. Tatapan mata Luna terasa berbeda...
Kali ini, tatapannya mata birunya lebih menenangkan hati. Terasa lebih hangat dan feminim. Dipadu dengan senyumnya yang tidak biasa. Senyum yang tak berniat untuk menghina Shinn seperti biasa. Sebuah ekspresi yang benar-benar tulus terpancar suci dari wajah Luna. Sebelum akhirnya gadis itu berkata...
"Arigatou, sudah menolongku malam itu, Shinn."
Mata Shinn sejenak terbelalak. Hatinya sedikit bergetar. Namun, dia dengan cepat bisa mengendalikan dirinya lagi. Sekarang yang dia ingat hanyalah kejadian di malam ketika Luna tiba-tiba tersungkur tak berdaya. Dan memaksa Shinn untuk membawa Luna kembali ke rumahnya. Malam yang lumayan menguras tenaganya. Tapi entah kenapa, tidak ada rasa mengeluh dalam diri Shinn waktu itu. Keletihan yang dialaminya tidak cukup untuk mengalahkan rasa khawatir terhadap kondisi Luna saat itu.
"Ya ampun. Kukira kau mau bicara apa," ucap Shinn seraya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Kemudian ia melanjutkan perkataannya yang tertunda.
"Tidak usah berterima kasih. Bukankah itu merupakan kewajiban untuk menolong sahabat yang sedang terluka? Tidak usah kau pikirkan. Kau juga tak perlu memberiku sesuatu. Anggap saja itu seperti saat kita berdebat atau saling berkelahi karena hal-hal tak penting. Bukankah kita bisa melupakannya dengan cepat dan semua kembali lagi seperti biasa?"
Shinn sendiri tidak tahu apa yang merasukinya. Tapi dia tanpa disadari mengatakan hal itu. Omongan yang cukup panjang untuk orang yang benci memikirkan sesuatu berlebihan seperti dia. Setelah itu, Shinn kembali berjalan. Bersamaan dengan Luna yang juga sudah menghentikan kebekuan langkahnya.
"Dasar, Asubaka. Memangnya siapa juga yang merasa berhutang padamu? Aku hanya ingin mengatakan terima kasih saja," kata Luna masih saja menggoda seraya menatap Shinn yang malah berusaha menghindar untuk menatap balik.
"Urusai, nenek cerewet. Berhenti menatapku begitu," balas Shinn yang masih saja malu-malu dan memilih menatap ke arah yang jauh dari wajah Luna.
"Kenapa? Dasar cowok... Kau memikirkan hal yang tidak-tidak 'kan?" celoteh Luna masih saja mengililingi Shinn agar bisa menemukan mata Shinn yang sibuk menghindarinya.
"Hentikan. Jangan menampilkan ekspresi itu lagi di depanku, Luna."
"Hah, memangnya masalah?"
Shinn menghela nafas sejenak. Ia agak berat mengatakannya sih.
"Senyumanmu kali ini menyebalkan. Aku tak tahan melihat wajahmu yang manis seperti itu," ujar Shinn. Dia bukan bermaksud mengumbar omongan gombal layaknya Kira. Tapi memang begitulah realita yang di hadapinya.
SLEP! Luna langsung menghentikan godaannya. Senyumnya langsung senyap. Kali ini dia malah yang memalingkan muka dari Shinn. Dan entah disadarinya atau tidak, wajahnya sedikit memerah gara-gara pujian... ataukah ejekan dari Shinn.
"Ma-Manis?"
"Begitulah," balas Shinn datar berusaha mempertahankan raut datarnya.
Manis. Kata-kata itu masih saja terngiang di telinga Luna. Hingga akhirnya...
"Ma-Manis?! Memangnya kau pikir aku ini gula apa?!"
Ooopsss! Sisi tsun-tsun Luna sepertinya mengambil alih. Namun, dia tetap berusaha untuk tak membuang stamina dan tenaga hanya untuk menghajar Shinn di sini. Luna hanya melipat tangan di dada sambil membuang jauh-jauh mukanya dari Shinn.
"Bakayaro, Shinn," katanya dengan nada tinggi. Meski begitu, keduanya tetap saja berjalan berbarengan dan tidak ingin memulai 'pertempuran' fisik di situ. Sepertinya Luna sudah cukup puas dengan membentak Shinn sekali dan memilih untuk puasa melihat Shinn sejenak. Yah, meskipun dia tetap berusaha menunjukkan sikap kalemnya dan tidak bereaksi berlebihan karena perkataan Shinn tadi.
"Ano, apa aku mengatakan hal yang salah?" gumam Shinn yang juga diam seribu bahasa daripada salah memilih kata lagi di hadapan Luna yang baru sembuh itu...
Tak terasa perjalanan Luna telah sampai pada tujuannya. Ia lekas bergerak cepat menuju cepat. Dan sesampainya di dalam kelas, kehadiran Luna yang telah empat hari tidak masuk ini membuat suasana menjadi cetar membahana.
"Luna, kau sudah sembuh?!" kata Flay yang dengan semangat tinggi langsung berlari dan melompat ke arah Luna. Dan sial baginya, Luna memilih untuk menghindari lompatan pelukan mematikannya itu.
"Iya. Aku sudah sehat nih," balas Luna yang kemudian diiringi suara benturan tubuh Flay yang mencium lantai kelas.
"Syukurlah. Kami sangat khawatir karena kau lama sekali tidak masuk," imbuh Dearka yang diamini oleh Miriallia.
"Stellar pikir Luna-chan tidak bisa sembuh selamanya dan band akan bubar. Hiksu..." tambah Stellar yang penuh kekhawatiran berlebihan dengan air mata berkaca-kaca.
"'Tidak sembuh selamanya'? Apa maksudnya? Hah, apa kau pikir aku terkena penyakit yang parah? Kemarin cuman demam tau, demam," balas Luna jengkel.
Tanpa ampun tangannya sedikit menjambak rambut Stellar yang senantiasa memberi tatapan tanpa dosanya. Wah, wah, sepertinya Luna dan kebengisannya memang sudah tak terbaring sakit lagi nih.
"Maaf Luna, kami sebenarnya kami sekelas ingin menjengukmu hari ini. Tapi karena kau sudah berangkat, sepertinya hal itu urung dilakukan," kata Lacus yang juga ikut masuk dalam pembicaraan.
Yah, karena Luna sudah datang rencana "kunjungan massal" ke rumah Luna batal deh. Luna sendiri merasa bersyukur. Bersyukur karena dirinya sudah berangkat hari ini sebelum teman-temannya datang membesuknya. Ia tentunya tak mau teman-teman sekelasnya melihat betapa kacaunya rumahnya hari ini karena tak ia bersihkan hampir selama empat hari. Dan saat berangkat hari ini pun, masih banyak barang di rumah yang berserakan tak di tempatnya. Apalagi di pekarangannya yang penuh dedaunan berguguran yang belum ia sapu.
"Un-Untung saja mereka tidak jadi datang. Syukurlah aku cepat sembuh," gumam Luna yang jadi waswas.
Sebenarnya dia cuman tidak ingin mereka melihat rumahnya yang masih kotor. Karena itu tentu saja bisa mempengaruhi image-nya. Hahaha... Cewek identik dengan kebersihan bukan?
Hampir hari itu, semuanya fokus dengan kehadiran Luna yang kembali mengisi warna-warna di hari mereka. Memang begitulah kelas ini, semua akan terasa berbeda jika ada satu saja anggota yang tiada. Ada yang hampa untuk mengisi puzzle yang tak sempurna. Karena setiap orang punya karakter tersendiri. Dan setiap orang punya peran sendiri di dalam kelas.
Hari pertama setelah sakit lumayan lama ternyata tidak membuat Luna merasa ketinggalan. Dengan semangat, dia berusaha mengikuti pelajaran yang beberapa bab ia tinggalkan. Terutama mapel Matematika dan Bahasa Inggris yang memang jadi salah satu kelemahannya. Ditambah lagi, keduanya akan masuk sebagai pelajaran yang harus ditantang dalam perang besar bernama ujian akhir nasional. Mulai sekarang, Luna tak ingin melewatkan kesempatan sedikitpun untuk memperhatikan selama pelajaran.
Lacus, yang kali ini duduk di samping Luna, merasa senang dengan kegigihan yang ditunjukkan Luna. Tidak seperti biasanya sih, tapi melihat Luna yang begitu tekun memperhatikan membuatnya jadi terpacu juga. Ia bahkan tak berbicara sepatah kata pun pada Luna, takut mengganggu konsentrasinya. Yang bisa dia lakukan adalah juga berusaha fokus pada materi sembari menikmati semangat membara yang dipancarkan aura Luna. Muahahaha...
Namun, Lacus dengan seketika menghentikan tangannya yang sibuk menulis keterangan guru. Kali ini, pikirannya melalangbuana. Entah mengapa dirinya tiba-tiba mengingat kembali pembicaraannya dengan Shinn di atap sekolah.
Dia mengingat Shinn yang dari tatapannya begitu mengkhawatirkan Luna pada waktu itu. Tatapan hampa yang menerawang langit siang, tatapan mata merah yang menyihir Lacus.
"Apa yang dipikirkan Shinn setelah Luna sembuh ya?"
Lacus lekas berbalik sedikit. Matanya agak melirik ke arah Shinn, yang tetap duduk di belakang. Tempat favorit si pemalas itu sepanjang masa. Dilihatnya Shinn yang kadang menguap. Sesekali pula lelaki itu melihat ke balik jendela, entah apa yang dilihatnya, membuat Lacus penasaran. Dan yang jelas, sering sekali di saat guru tak memperhatikan, Shinn memilih untuk pasrah menyerahkan kepalanya dalam pangkuan sang meja. Tidur sejenak di pagi hari.
Melihatnya, Lacus terkekeh kecil. Dasar kekanak-kanakan tingkah Shinn. Namun entah mengapa, akhir-akhir ini seolah ia begitu terhibur dengan polah simpel Shinn yang kadang tak melakukan apa pun itu.
Hap! Hap! Buru-buru Lacus berusaha untuk fokus lagi pada pelajaran. Sesi curi-curi pandangnya berusaha diakhirinya di sini. Namun, sekilas matanya kini malah 'berpaling' menatap Kira. Yang tak kalah dengan Luna juga tengah memperhatikan pelajaran dengan serius. Wah, tumben apa yang merasuki para penghuni kelas, banyak sekali para murid yang tidak melakukan tindakan konyol hari ini.
Melihat Kira yang sedang serius mode begini, bernar-benar membuat wajah Lacus memerah. Bagaimana tidak? Meskipun diam tak bersuara, tetap saja karisma Kira terpancar dengan hebatnya. Membuat Lacus tak bisa berkomentar apa-apa lagi. Sifat playboy yang selama ini melekat seolah tak terlihat lagi di saat Kira tengah fokus tingkat tinggi begini.
Sejenak, Lacus merasakan aura aneh yang terpancar dari arah depannya. Ohh... benar juga. Usut punya usut. Ternyata nan jauh di depan seberang sana, sepertinya Flay juga begitu menikmati pemandangan Kira yang begitu menawan ini. Dan begitu mata Flay dan Lacus -yang sama-sama terpesona dengan Kira- bertemu, keduanya hanya bisa batuk-batuk kecil. Sebelum akhirnya keduanya memalingkan pandangannya dari masing-masing.
"Sepertinya mataku agak sakit," kelakar Lacus dalam hati. Ketika matanya yang melirik Kira mendapati background berupa gadis lain yang penuh blink-blink di sekitarnya juga tengah melakukan kegiatan sama dengannya.
Di sis lain, Flay juga shock akut. Nafasnya jadi agak berat.
"Apa yang Lacus lakukan? Kenapa dia juga melihat Kira?" batin Flay.
Flay kembali agak memiringkan badan. Melihat Kira lagi.
Lacus pun juga melakukan hal yang sama. Dan pada akhirnya, mata gadis-gadis ini bertemu kembali. Dan dengan secepat kilat pula keduanya memalingkan wajah lagi. Sembari menahan tawa yang membuat perut mereka sakit.
Sementara itu, Cagalli yang duduk di belakang Flay hanya bingung dengan tingkah temannya itu, yang malah menahan tawa sambil menundukkan kepalanya. Oh iya, hari ini Cagalli belum mendapatkan slot peran. Hehehe...
Sosok Cagalli hari ini tidaklah begitu aktif seperti biasanya. Kepalanya lebih sering memperhatikan penjelasan guru ke depan. Daripada ngerumpi seperti biasa dengan teman di sekelilingnya. Yah, mau bagaimana lagi, kencan 'gadungan' yang dia lakukan bersama Athrun kemarin ternyata malah berujung bencana begitu. Dirinya dan Athrun jatuh di sungai, sembari dilihat oleh banyak orang. Bagaikan pasangan baru yang tengah memadu kasih. Setiap kali mengingatnya, Cagalli bakalan langsung menutupi telinganya dan menggeleng-gelengkan kepala gak jelas.
"Enggak! Enggak! Enggak!" entah kenapa Cagalli belum bisa melupakan kejadian itu. Memang sih hanya Kira saja yang tahu kejadian kemarin. Tapi tetap saja, dia khawatir jika ada kenalannya lain yang melihat momen 'emas' itu.
Cagalli sendiri merasa sangat malu dan berat untuk menolehkan kepala ke samping atau ke belakang. Dia malu untuk bertatapan muka dengan Athrun lagi. Sial. Sial. Sial. Dia sendiri bingung dengan apa yang dirasakannya kali ini.
Ah... Akhirnya jam pelajaran telah usai bagi semuanya. Para siswa harapan bangsa dan negara pun bergegas pulang. Tidak terlalu banyak momen yang terjadi di Kelas 3B hari ini. Kecuali tentu saja kembalinya Luna yang disambut gegap gempita seisi kelas.
Hari ini, Cagalli memutuskan pulang sendiri dengan cepat. Entah kenapa, pikirannya jadi agak galau jikalau terus menerus di dekat Athrun. Apalagi, dia sudah tak tahu harus berkata apa lagi pada pria berambut biru itu! Dia sudah kehabisan kata-kata...
"Pokoknya aku harus segera melupakan kejadian kemarin," gumamnya.
Sementara itu, di depan pintu gerbang sekolah, Luna memutuskan untuk menghentikan langkahnya sejenak. Ya ampun. Dia terlupa sesuatu!
Benar juga. Ada sesuatu yang harus ia lakukan. Ia lupa mengembalikan tongkat tadi kepada tim baseball!
Aduh, apalagi pemukul itu sekarang malah tertinggal di kelas. Dasar. Dia hanya bisa menggigit lidahnya sendiri, pasti Shinn sekarang juga sudah pulang dan tak peduli dengan kondisi pemukul baseball tersebut.
"Ya ampun, aku harus cepat," ujar Luna.
Di tengah perjalanan kembali ke kelas, Luna berpapasan dengan Cagalli. Benar juga, hari ini Cagalli terlihat sangat waswas dan agak ketakutan begitu. Dia tak secerewet biasanya sih. Pikir Luna.
"Hai, Cagalli."
"Ha-Hai, Luna," balas Cagalli yang terkejut karena dirinya sedang memperhatikan sekelilingnya. Berharap Atrhun tak ada di dekatnya.
"Kau lihat tongkat baseball yang ada di kelas?"
"Eh? Tongkatl baseball, eh.. itu... sepertinya tidak," balas Cagalli yang memang sedang tak fokus dengan pembicaraan itu.
"Hmmm. Bodohnya aku bisa melupakan hal itu. Cagalli, bisa temani aku?"
"Eh? Apa?"
"Temani aku ke kelas. Mengambil tongkat tadi. Maukah?"
Sial. Sial. Cagalli sangat ingin menolaknya. Tapi apa lacur. Tangan Luna sudah menyeretnya sebelum ia memberi konfirmasi setuju terlebih dahulu.
"Ayolah. Jangan diam saja dong," ajak Luna. Cagalli berusaha melawan sih. Tapi dirinya merasa berat juga menolak permintaan Luna yang baru saja sembuh itu. Dan dengan berat hati dirinya setuju. Dia hanya bisa berharap semoga Athrun sudah pulang dan tak berpapasan dengannya di lorong jalan ke kelas. Dan fuih... Untunglah. Sepanjang jalan semuanya lancar. Tidak ada tanda-tanda kehidupan Athrun di sini. Wah, pokoknya Cagalli hanya bisa bernafas lega.
Tak berapa lama, keduanya sudah di depan kelas. Luna pun dengan cekatan masuk. Karena dirinya juga tak mau berlama-lama di sana.
Dan begitu masuk...
Didapatinya Athrun yang masih sibuk membaca manga dengan gaya sok serius bagai pembaca novel misteri saja.
Gubrak! Cagalli langsung drop mengetahui orang yang saat ini paling dihindarinya malah ada di kelas. Aduh...
"Oh, hai Athrun," sapa Luna tanpa dosa. Padahal Cagalli sempat ingin mengumpal mulut Luna, tapi terlambat cepat.
Cagalli secepat kilat langsung mundur beberapa langkah. Memilih menunggu di dekat pintu saja. Luna yang merasa aneh dengan tingkah Cagalli hanya bisa diliputi tanda tanya di kepalanya.
"Mo, ada apa?"
"A-Aku menunggu di sini saja."
Luna diam sejenak. Tapi dia tak menaruh curiga apa pun. Biarlah mungkin Cagalli punya alasan tersendiri dan saat ini Luna belum berniat menguaknya.
"Terserahlah," kata Luna yang langsung masuk ke dalam mendekati pemukul baseball-nya.
Sementara dari tadi, untung bagi Cagalli, Athrun masih konsentrasi dalam membaca dan belum sadar akan keberadaannya dan Luna.
Cagalli pun dengan cepat langsung keluar kelas dan menunggu di luar. Di balik pintu. Sebenarnya dia ingin kabur saja dan meninggalkan Luna sih, tapi yah... gak enak. Luna yang ada di dalam, berusaha tak menganggu Athrun lagi. Biarlah. Nanti dia juga bakal pulang sendiri.
Yosh! Ternyata tongkat yang dicari-carinya ada di pojok belakang. Dia pun segera menuju ke sana. Dan ternyata, dia baru menyadari ada sosok lain di sana. Sosok yang seenaknya sendiri tengah tertidur lelap di sore hari begini. Tanpa menyadari bahwa bel tengah berbunyi.
"Shinn?!" teriak Luna kaget. Ya ampun, dia tak habis pikir kenapa cowok itu dengan santainya masih bisa tertidur begitu.
"Bangun, Asubaka!" teriak Luna dengan suara melengking yang nyaris memecahkan jendela. Dan dengan refleks mata Shinn terbuka begitu mendapati ada makhluk mengerikan berdiri di depannya. Dia sempat berpikir itu Shinigami, tapi hal itu tak berlangsung lama setelah matanya bisa melihat dengan jelas lagi setelah tidur.
"Hoaaammm. Luna? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berteriak?"
"Apa yang aku lakukan? Kau sendiri sedang apa?!" balas Luna bete.
Shinn hanya merenganggakan tangannya ke atas. Langsung dia berdiri dan mengemasi buku-buku ke dalam tas. Sip. Dia sudah siap pulang begitu saja. Seolah tak ada hal aneh terjadi. Luna lekas mengambil pemukul baseball dan membenturkannya ke lantai. Kenapa Shinn masih bisa tidur di sini? Bagaimana kalau dia ketiduran sampai malam hari? Beruntung sekali dirinya kembali ke kelas dan membangunkan Shinn. Dasar pria pemalas...
"Kau harusnya beruntung aku membangunkanmu, Asubaka."
"Hah? Aku tak memintanya kok."
"Dasar!"
Luna segera memilih untuk menyelesaikan misinya mengembalikan tongkat itu. Sore semakin menjadi, dan bisa saja mereka akan pulang agak larut. Pokoknya, Luna minta pertanggungjawaban Shinn agar lelaki itu menemani mengembalikan tongkat.
"Antar aku ke tempat tim baseball."
"Hah? Kenapa aku? Padahal aku mau pulang langsung..."
"Sudahlah jangan banyak bicara! Ikut saja!" bentak Luna yang sudah terlanjut kesal pada teman lamanya. Yah, karena Shinn tak mau urusan jadi panjang, dia ikut aja deh.
"Baik,baik. Terserahlah," ujar Shinn setengah hati.
Luna pun mendengus kesal, tapi juga senang juga Shinn hari ini agak penurut.
"Yosh! Athrun, kau tidak pulang juga. Sepertinya kelas akan dikunci..." Luna berusaha mengingatkan Athrun. Tapi, eh? Orang yang dia ajak bicara ternyata sudah tak ada di ruangan. Luna dan Shinn hanya bisa mendegar derap langkah Athrun dan sekelibat bayangannya yang baru saja keluar ruangan.
"Eh?"
"Dia sudah keluar? Dasar aneh," komentar Shinn, padahal dirinya sendiri bisa termasuk dalam kategori orang aneh. Meninggalkan Shinn dan Luna dalam keheningan dan keheranan akan tingkah pecinta manga itu.
cagalli mendengar derap langkah. Fuih! Akhirnya, dia bisa segera menyelesaikan bantuannya pada Luna. Ya ampun, Cagalli sempat tak habis pikir pula kenapa Luna lama sekali di dalam.
"Luna, kenapa kau lama sekali? Bisa tidak-",
Cagalli segera berkata ketika seseorang keluar. Tapi, sayang sekali yang nongol dari balik pintu kelas bukanlah Luna, tetapi malah pria yang sangat ingin ia hindari akhir-akhir ini :Atrhun.
"A-Athrun?!"
GLEK! Wajah Cagalli langsung merah padam. Keringat dingin entah kenapa bercucuran di wajahnya. Bisa-bisanya malah Athrun yang malah muncul di hadapannya. Apa yang Luna lakukan sih?
Cagalli langsung diam seribu bahasa. Aduh, Bingung Dia tak tahu harus bertingkah dan berkata apa. Yang jelas, ia tak berani menatap Athrun.
"A...Ano..E..Etto..." tak ada yang bisa keluar dari mulut Cagalli keluar kata-kata bak mantra sihir gak jelas begitu.
Di sisi lain, Athrun juga tak kalah terkejut. Dia pun juga tak tahu harus berbuat apa. Banyak referensi manga yang ia baca untuk kejadian seperti ini. Tapi, entahlah, Athrun tak berani mengeksekusi-nya seperti yang pernah ada di manga.
Hening. Sepi. Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Sepuluh detik. Satu menit terasa sangat lama dalam kekikukan itu. Dan suara dua orang yang sedang mengomel satu sama lain memecah kebuntuan itu.
"Yosh, Cagalli. Ayo antar aku ke tempat tujuan," kata Luna yang muncul dari dalam kelas.
"Hah? Ternyata kau mengajak Cagalli? Kalau begitu aku tak perlu ikut 'kan?" protes Shinn mengajukan keberatan.
"Diam. Turuti saja perkataanku. Kau sudah membuatku kesal, Asubaka," balas Luna. Kini keduanya malah terlibat adu mulut klasik tanpa makna lagi. Dan diantara kebisingan dua manusia yang saling bersuara itu, terdapat dua manusia lain yang masih diam mematung. Linglung merangkai kata untuk diucapkan.
Sampai-sampai, Luna pun harus memecahkan keheningan lagi.
"Oi, ayolah Cags. Aku mulai risih berada di sini," ujar Luna dengan melirik sinis ke arah Shinn. Lekas saja Luna menarik-narik lengan Cagalli dengan kedipan memohon yang bikin mata Cagalli sakit.
"Uh-oh. Baiklah," balas Cagalli pendek.
Shinn menggeleng-geleng kepala. Dasar. Tidak kepikiran baginya harus ke tempat tim baseball bersama Cagalli dan Luna. Dan dengan pertimbangan mendalam dan penuh perhitungan, dia pun menyeret Athrun dalam lingkaran 'kegelapan' tersebut.
"Athrun, ayo ikut," pinta Shinn dengan mata malesnya.
"Ah, tidak perlu. Aku bisa langsung pulang..."
Tapi kali ini Shinn tak mengenal kata tidak. Segera saja dirangkulnya pundak Athrun sambil berbisik.
"Oi, apa kau mau meninggalkanku bersama dua monster mengerikan itu? Tolonglah aku. Setidaknya kau bisa menjadi saksi jika mereka berdua berniat memangsaku."
Athrun sebenarnya tidak terlalu suka melakukannya. Tapi kali ini dia tak punya waktu untuk menolak karena Shinn juga langsung saja menyeret Athrun.
"Cepatlah, Shinn!" teriak Luna yang telah memulai langkahnya.
Perjalanan waktu sore mengelilingi sekolah di waktu sore menjelang senja sungguh menawan. Warna jingga yang mendominasi sinar mentari mulai menyirami segala penjuru sekolah. Menimbulkan kilatan berkilauan yang indah di pandang mata. Termasuk juga di tengah perjalanan yang dilalui oleh Shinn, Luna, Cagalli, dan Athrun.
"Ya ampun. Untuk apa sih sebenarnya kau meminjam tongkat ini?" tanya Shinn yang penasaran dari tadi.
"Oh. Kau tau 'kan? Untuk memukuli tikus-tikus yang sering muncul di rumahku."
"Hah? Tikus?!"
Teriak Shinn kaget. Bukankah tongkat itu harusnya punya job yang lebih baik dari itu?
"Dasar, kenapa kau tidak pasang jebakan tikus saja?"
"Cih, tidak ada satu pun yang kena. Tikus-tikus sekarang bertambah jenius saja," timpal Luna penuh alasan.
Mendengarnya, Shinn tambah sewot. Kenapa wanita selalu saja kehilangan akal sehatnya ketika berurusan dengan hewan menjijikkan seperti itu?
"Lagian Shinn, dengan tongkat ini aku sudah membunuh sekitar sepuluh tikus selama beberapa hari sebelum aku sakit kok."
"Hah? Sepuluh tikus?!"
Wuiihh... Kali ini Shinn benar-benar terpana deh. Hebat benar perempuan di sampingnya ini. Bagaimana tidak? Dia bahkan bisa membunuh tikus yang lumayan cepat pergerakannya dengan sebuah tongkat baseball. Mungkin saja, Luna merupakan counter yang lebih baik untuk melawan tikus daripada jebakan biasa...
"Meski begitu, apa kau gak repot sih?" tanya Shinn membayangkan betapa ruwetnya mengikuti pergerakan hewan liar itu ke sana kemari.
Luna diam beberapa saat. Sebelum akhirnya mengatakan hal yang paling, paling tidak ingin didengar Shinn.
"Itu sih. Kalau dulu aku tak perlu repot, Dulu, waktu Death kucingku masih ada, dialah yang mengurus semua tikus di rumah. Tapi, semenjak dia hilang, semenjak dia hilang..." Luna tak meneruskan kata-katanya. Ia hanya memasang wajah memelas bercampur sinis dan sindiran ke arah Shinn.
Ouucchh! Tetap saja Luna tak bisa melupakan kejadian dimana Shinn menghilangkan kucingnya itu.
"Aku paham. Aku paham. Baiklah. Aku akan mencari kucingmu lagi," balas Shinn berusaha mengurangi rasa dosanya.
"Benarkah?" tanya Luna meyakinkan dengan mata membesar dan penuh harap.
"Iya."
"Benarkah?"
"Iya iya."
"Benarkah? Benarkah?"
"Urusai, dasar cewek kucing!" timpal Shinn sambil mencubit hidung Luna hingga memerah. Mendapati dirinya diperlakukan begitu, Luna hanya bisa meringis kesakitan. Segera diayunkannya tongkat baseball yang ia pegang.
Wuiss! Tapi Shinn dengan reflek menghindari serangan yang mengarah ke kepalanya itu dengan menunduk. Tapi Luna tak kalah cerdik, melihat tubuh Shinn yang meloncat, Luna segera menarik tangan kanan Shinn yang telah menghakimi hidungnya, dan dengan serta merta kali ini dia menuntut balas dan balik mencubit hidung Shinn dengan sepenuh hati.
"Ittai! Ittai! Ittai!" teriak keduanya berbarengan.
Di belakangnya keduanya, Cagalli dan Athrun hanya sanggup melihat tingkah keduanya dengan terheran-heran.
"Mereka benar-benar mirip pasutri baru yang sedang bertengkar," komentar Cagalli. Dirinya sendiri juga dilanda kebingungan akut, karena sedari tadi belum juga berbicara dengan pria berambut biru itu.
Dan kekikukan itu akhirnya pecah. Tanpa Cagalli sangka, Athrun akhirnya mulai membuka mulutnya.
"Sepertinya menyenangkan ya?" ujar Athrun. Cagalli agak bimbang membalasnya. Mata Athrun sama sekali tak melihatnya. Tapi hanya memandang jauh ke arah Luna dan Shinn. Seolah dia hanya berbicara pada dirinya. Bagai tak ada niatan berbicara dengan Cagalli.
"Ya..." balas Cagalli singkat. Dia tak tahu lagi harus merangkai kata seperti apa.
Dan tiba-tiba…
"Imouto, awas!"
Sebuah suara yang Cagalli kenal terdengar. Cagalli menoleh ke kiri. Dan didapatinya sebuah bola basket melaju ke arahnya. Tidak terlalu kencang sih, tapi tepat menuju wajahnya. Dan PLAAKK!
Cagalli menutup matanya. Sudah pasrah dengan wajahnya yang akan jadi sasaran bola basket.
Namun, hal itu urung terjadi. Cagalli membuka mata perlahan, dan didapatinya Athrun telah menghentikan bola itu dengan kedua tangannya. Nyaris saja. Tepat di depan mata Cagalli.
Ah, beruntungnya dia...
"Kau tidak apa-apa?" tanya Athrun.
Cagali berkedip beberapa kali. Masih agak ketakutan dikit sih. Sebelum akhirnya bisa menenangkan diri. "A-Aku tidak apa-apa. Te-Terima kasih," balasnya terbata-bata.
Athrun segera memutar badan. Begitu pula Cagalli melihat ke arah sumber datangnya bola tersebut. Ternyata biang keroknya ada di lapangan basket yang bersebelahan dengan lapangan baseball. Dilihatnya beberapa siswa yang tengah sibuk berlatih di lapangan basket. Termasuk juga seseorang yang dengan wajah sok ramahnya melambai ke arah mereka berdua.
"Imouto! Athrun! Kalian tidak apa-apa 'kan?" tanya seseorang yang tak lain ternyata Kira.
Kejengkelan Cagalli bertambah memuncak. Apalagi melihat Kira yang dengan tampang begitu. Bikin muak deh...
Cagalli lekas mengambil bola di tangan Athrun dan melemparkan dengan sekuat tenaga ke arah lapangan basket dengan penuh amarah.
"Kampret! Kau itu yang adikku!" teriaknya. Dan bola basketnya pun meluncur dengan kekuatan penuh. Yah, walaupun bagi Kira menangkapnya tidak perlu memakan banyak tenaga.
"Oops! Thanks, telah mengembalikan bolanya, imouto!" teriak Kira dengan menjulurkan tangannya. Cagalli hanya mampu berkeringat tak karuan gara-gara membuang tenaga dengan sok-sok melempar sekuat-kuatnya tadi.
Dan sekarang, Kira bagai tak peduli langsung saja bermain lagi dengan anggota tim lain. Memang benar, banyak tim yang sekarang sedang intensif meningkatkan latihan menjelang kejuaran nasional yang akan segera berlangsung. Termasuk tim basket. Ditambah lagi dukungan para fans setia tim basket.. fans Kira yang banyak mengeku-elukan namanya membuat lapangan basket semakin ramai.
"Kampret. Harusnya dia minta maaf dulu padaku," ketus Cagalli. Dia punya feel tadi Kira pasti memang berniat membuang bola ke arahnya.
"Lihat saja nanti di rumah," gumam Cagalli dengan aura membunuh. Dia bersyukur tadi Athrun bergerak cepat menyelamatkannya. Arrgh! Melihat Athrun yang menolongnya denga sigap sunggulah membuat hatinya terasa bergetar. Rasa senang, bangga, dan sedikit malu campur aduk dirasakan gadis berambut pirang itu.
"Kau sangat akrab dengan kakakmu ya?"
Kembali Athrun yang memulai pembicaraan. Dan kali ini Cagalli pun membalasnya dengan lancar. Bagai mengalir seperti air.
"Begitulah. Dia adikku, bukan kakakku. Kenapa setiap orang berpikir aku lebih muda darinya sih?" balas Cagalli.
"Seperti apa rasanya?"
Sebuah pertanyaaan aneh dan ambigu dilontarkan Athrun. Cagalli kurang begitu paham. Dan balik bertanya,"Apa maksudmu?"
"Seperti apa rasanya punya seseorang yang bisa memahamimu?"
Blush! Entah kenapa Cagalli memerah saat Athrun mengatakan hal itu. Apa maksudnya dengan memahami? Apa ada hubungannya dengan Cagalli? Ataukah...
"Ya. Seperti itulah. Aku tak terlalu bisa menjelaskannya," balas Cagalli diiringi tawa kecil yang monoton dan terdengar gugup sekali.
Athrun kembali melihat ke arah lapangan basket. Kumpulan orang-orang yang tengah berinteraksi dan penuh komunikasi itu membuatnya tak bisa berpaling.
"Apakah... Apakah menyenangkan rasanya punya teman?"
Sebuah pertanyaan satir meluncur dari mulut Athrun. Sepoi angin mengiringi perasaan hampa yang terlihat jelas terpancar dari matanya, Cagalli pun juga merasakan sensasi yang berbeda. Sebuah tatapan Athrun yang tak bisa dia pahami sepenuhnya.
"A-Apa maksud perkataannya?" batin Cagalli.
Cagalli sama sekali belum bisa menelaah ungkapan yang terlontar oleh Athrun. Dia hanya bisa melihat... melihat Athrun yang begitu berbeda dari biasanya. Entahlah... Seolah tampak... kesepian.
Inikah Athrun yang sebenarnya?
Malam mulai memainkan perannya untuk menggantikan sore yang telah lelah menyelimuti langit. Tanah yang semula berwarna jingga mulai termakan oleh kegelapan. Lampu-lampu taman dan di ujung lapangan pun mulai menyala. Tak terkecuali juga di lapangan basket. Tempat di mana Kira berada. Kini dia telah sendirian. Sekitar setengah jam yang lalu, latihan rutinnya telah selesai. Walaupun begitu, sebagai seorang kapten, dia tetap menjalankan latihan demi meningkatkan kualitas permainan, baik pribadi maupun tim. Dan tak terasa, keringatnya semakin menjadi. Bercucuran tiada henti seiring dengan banyaknya shoot yang dia ciptakan dalam latihan hari ini.
"Yosh! Sepertinya aku sudahi dulu untuk hari ini," ujarnya seraya mengusap keringat dari dahinya. Nafasnya agak tersenga. Meski, raut kepuasan tetap terlihat dari sorot matanya. Ia merasa sudah ada kemajuan yang lumaya pesat dari timnya. Terutama dalam hal kerjasama dan pengembangan skill tiap pemain.
"Tahun ini, kami akan menjadi yang terbaik," gumamnya penuh percaya diri. Maklum, dua tahun berturut-turut tim dari Zaft High School senantiasa gagal memenuhi ekspetasi untuk mengangkat gelar juara. Dan Kira ingin menjadikan tahun ini sebagai titik baliknya. Tahun terakhirnya di SMA, akan menjadi awal di mana kejayaan panjang tim basket Zaft High yang ingin dia bangun.
Begitu selesai membersihkan diri dengan handuk putih pribadi, Kira lekas bersiap mengembalikan beberapa bola basket menuju ke markas tim basket. Hari sudah lebih dari senja. Hanya sedikit murid saja yang masih ada di sana. Terutama mereka yang aktif dalam ekskul olahraga, yang akan segera mendapat jadwal kejuaraan beberapa minggu lagi.
Kira melangkahkan kakinya melewati tangga. Dia harus naik ke lantai dua, tempat di mana bola basket itu kembali ke asalnya. Wah, lorong di lantai itu benar-benar sudah sepi. Hanya sedikit sepoi angin saja yang menemani dari balik jendela yang belum tertutup.
Kira tak mempedulikan semua itu. Saat ini pikirannya benar-benar ditujukan pada persiapan menjelang event akbar basket.
"Tahun ini kami pasti..."
SRETT!
Ucapan Kira terhenti. Bukan karena capek. Bukan karena sepoi angin yang mengganggu tubuhnya.
Namun, kali ini Kira mendengar suara. Lebih tepatnya, alunan nada yang menarik perhatiannya. Sebuah suara yang halus dan indah. Kira yang dipenuhi rasa penasaran sejenak berkeliling. Entah, tapi terasa seperti ada kekuatan tertentu yang membuatnya tertuntun ke arah sang suara.
Dan akhirnya...
Dia ada di depan ruang klub musik. Klub yang dipimpin Luna.
"Siapa yang hampir malam begini masih ada di sini?" gumamnya.
Seketika pula Kira menajamkan penglihatannya di antara pintu utama klub musik yang transparan dan tertutup oleh tirai putih. Tapi, tetap saja ia tak bisa menyaksiksan siapa dalang dibalik suara merdu itu. Tidak patah arang. Dia kali ini memilih menajamkan pendengarannya. Ya, dia berusaha mencari tahu siapa sumber suara itu. Namun tetap saja, suara merdunya seolah sama sekali belum pernah di dengarnya. Laksana bidadari yang turun ke bumi dengan lantunan suara yang belum pernah dibagikan kepada dunia manusia.
Pandangannya yang samar-samar ke depan, tak terlalu menghasilkan apa pun. Yang bisa dilihatnya hanyalah siluet hitam, dan suara merdu, yang sangat diyakininya berasal dari seorang gadis. Ah, Kira dapat melihat lambaian rambut panjang yang tertiup angin.
"Gadis dengan rambut panjang..."
Seketika rasa penasaran semakin menggelayutinya. Dia ingin sekali menyapa dan mengetahui siapa gadis itu. Namun, Kira takut itu akan membuat sang gadis berhenti melantunkan nada, yang saat ini sangat menyentuh hati Kira ini. Indah...
Menawan...
Kira yang terlelap dalam nada itu. Perlahan tapi pasti, mulai menyadari sesuatu.
"Lagu ini..."
Ya. Mata Kira terbelalak. Kira pernah mendengar lagu yang dinyanyikan itu sebelumnya. Lagu yang pernah sekali di dengarnya. Lagu yang menjadi sebuah pengikat antara dirinya dengan seseorang di masa lalu. Lagu yang hanya diketahui oleh dua orang. Dirinya sendiri dan juga...
"Kau...mungkinkah…."
bersambung...
Uggrhhh..
Lumayan panjang. Untung saja bisa dikebut dan diselesaikan dalam sehari...
Dan konsep untuk chapter2 selanjutnya sudah ada di otak nih. Tinggal menuangkannya. Dan semoga saja bisa lebih sering update terus..
Dan karena ini agak keburu2 update-nya, maaf kalo typo, gaje, dan segala macam keganjilan lain dalam tulisan ini ya.
(Sial! Paketan mau habis!)
Buat Luna, selamat datang kembali di fic ini. Sudah lama banget kau tidak nongol. Senang kau muncul lagi...
Luna : Sama-sama, author-san...*sambil membungkuk walau dia memegang pisau tajam di belakang punggungnya...*
GLEKK! Gawat nih, author kabur dulu ah! BYE-BYEE!
