Etto… Author kembali. -_-
Glek!
Disclaimer : Gundam Seed Destiny dan karakter-karakternya bukanlah milik author. Itu milik Bandai dan Sunrise…
ZAFT HIGH SCHOOL
Chapter 9 : The Day I Met Her Under Cherry Blossoms
Flashback…
"Kira, Kira, bangun Kira. Kira!"
Sebuah suara yang sangat bising dan begitu dikenal membangunkan telinga Kira. Kira, bocah berusia sembilan tahun tahun itu pun tak kuasa menahan hentakan gadis kecil yang begitu berisik di sebelahnya. Seketika pula dipaksakan tubuhnya yang masih lunglai untuk bangun.
"Berisik sekali, imouto..." balas Kira seraya mengusap kedua matanya.
Gadis berambut pirang di sebelahnya segera berkacak pinggang serta menatap Kira dengan tajam.
"Sudah kubilang 'kan. Aku ini kakakmu, dasar!" teriak si imouto, eh atau kakak(?) Kira itu.
"Hmm, terserah kau sajalah, Cagalli. Lagian untuk apa pagi-pagi begini kau kesini?" tanya Kira heran.
" Tentu saja menjengukmu 'kan? Sebagai kakak kan aku sangat khawatir padamu," ucap si pirang dengan mata berkedip-kedip, sok imut. Yang malah membuat Kira mual.
Beneran mual.
"Enyahlah dikau wahai iblis, jangan merasuki saudariku. Hoshaaa!." seru Kira dengan menggerakkan kedua tangannya asal-asalan dan mulai melakukan ritual pengusiran setan yang abal-abal.
Sebuah tindakan idiotic non heroic yang langsung dibalas anarkis oleh Cagalli. Dimana sepatu pink imut Cagalli yang bergambar beruang langsung terbang menyambar wajah Kira. Memerahkan pipi dan hidungnya tanpa ampun sekalipun.
"Yosh! Critical hit!" teriak Cagalli dengan polos sambil mengangkat kedua tangan.
Kira serta merta meringis kesakitan.
"Dasar kembaran sadis! Jangan asal lempar sepatu, tau! Tambah sakit nih!"
"Kau sendiri yang mengejekku! Kau pikir jika aku berbuat baik padamu, aku kesurupan apa!" balas Cagalli tak mau kalah.
"Diam kau, Cagalli. Cepetan sana pergi sekolah. Jangan ganggu aku!"
"Eh, jangan asal usir aku, dasar adik nakal!"
"Pokoknya pergi! Awas, nanti kuberitahukan ke papa lho!"ancam Kira yang ditanggapi Cagalli dengan menjulurkan lidahnya.
Dan begitulah, pertengkaran dua kakak beradik di pagi yang cerah, tanpa alasan jelas terjadi begitu saja.
Hingga akhirnya...
"Ssstt. Tolong jangan berisik ya, anak-anak."
Sebuah suara pelan, tapi penuh hawa mengancam terdengar dari balik pintu. Oh, ternyata seorang pria tua dengan pakaian putih telah memberi sebuah peringatan halus pada si duo tersebut. Membuat Kira dan Cagalli langsung sigap terdiam. Kira kembali berbaring di atas ranjang, sedangkan Cagalli lekas duduk di sebelah kanan Kira.
"Ba..baik, Pak Dokter," ujar keduanya bersamaan. Disambut senyum ramah dokter paruh baya itu.
"Nah, begitu dong, anak pintar." ujar sang dokter memuji keduanya. Hal ini pun membuat Kira dan Cagalli yang sempat gugup menjadi sedikit lega. Senyum mengembang di wajah keduanya.
"Hehe, Terima kasih Dokter." ucap Kira dan Cagalli.
Sang dokter pun juga membalas dengan wajah ramah.
"Pintar. Lain kali kalau kalian ribut dan mengganggu ketenangan di rumah sakit lagi, kalian akan OUT.. OUT dari dunia ini!", ujarnya sambil memberi tanda berupa "menyembelih" leher kepada Kira dan Cagalli.
Glek!
Wajah dokter ramah itu pun langsung berubah jadi dongkol dibumbui tatapan tajam bak pembunuh berantai di serial televisi. Hawa hangat yang ia pancarkan tadi berubah jadi dingin mencekam kedua bersaudara itu.
Senyum di wajah Kira pun langsung bertransformasi menjadi mulut menganga lebar dan mata terbelalak tak karuan. Tak terkecuali dengan Cagalli. Ekspresi yang sama persis.
"Ma-Maafkan kami, Pak Dokter!" pekik keduanya meronta-ronta minta ampun.
Yang hanya disambut dengan cara memalingkan wajah khas tsundere oleh dokter tua tadi.
Sekitar beberapa menit setelah dokter tua itu pergi. Kira dan Cagalli bisa bersantai sebentar. Berusaha melegakan jiwa bocah mereka.
"Fuih. Dokter yang menyeramkan. Kenapa ayah memasukkanmu ke rumah sakit ini sih?"protes Cagalli.
"Mana kutahu? Tanya sama ayah," timpal Kira setengah jutek.
Setelah itu, meskipun masih dalam keadaan terhenyak karena kejadian-kejadian sebelumnya, Kira dan Cagalli mulai bisa menguasai situasi. Tak berapa lama, obrolan santai dan sepele, terkadang agak menyulut emosi seperti sebelumnya saling dilontarkan oleh keduanya. Kira yang terbaring di rumah sakit dengan baju pasien itu menampakan sumringah dan begitu antusias bercakap-cakap dengan saudarinya. Sungguh menyenangkan baginya. Hingga tak terasa waktu telah berlalu dengan cepat. Sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dan ini tandanya...
"Aduh! Aku bisa terlambat sekolah," seru Cagalli menyadari masa mulai tak bersahabat dengannya.
"Sudah kubilang 'kan. Ya sudah kau berangkat sana," kata Kira.
Dengan cekatan Cagalli segera memasang lagi sepatu-yang sebelumnya sempat melesat menghantam Kira- dan bergegas memakai tas kecil yang ia geletakkan di pinggir kursi.
"Yosh. Kakak Cagalli berangkat dulu ya, Kira." ucap Cagalli yang dengan jahilnya mencubit hidung Kira hingga memerah, entah karena saking sayangnya pada Kira atau karena rasa jengkel.
"Sudah cepat sana pergi," celoteh Kira, diiringi dengan derap langkah Cagalli yang menjauhinya.
"Dadaaa, Kira."
Dan, beginilah kisah Kira Yamato kecil. Sebuah suasana membosankan sedang menaungi dirinya, semenjak berada di rumah sakit sejak seminggu yang lalu. Ya. Kembaran Cagalli ini harus menerima pil pahit, bahwa kakinya "hanya terkilir" ketika bermain bola bersama teman-temannya.
Hmm. Sebenarnya bukan sembarang terkilir sih. Semua itu terjadi karena Kira yang terlalu bersemangat bermain di lapangan yang masih becek tanpa sepatu. Dan takdir pun telah menentukan, sebuah benturan keras antara Kira dengan seorang anak yang memakai sepatu bola yang lengkap.
Sebuah benturan yang dalam sekejap meretakkan tulangnya (eh...berarti namanya bukan terkilir lagi dong! haha) dan sontak membuat Kira guling-guling tak karuan di atas rumput yang bergoyang menyambut runtuhnya calon playboy ini di masa mudanya.
Aduh.
Setiap kali Kira mengingat kejadian seminggu lalu.
"Huh. Padahal kakiku yang terluka sampai harus jalan pincang begini. Tapi kenapa, hatiku juga terasa sesak ya." batin Kira sok serius.
Beneran sesak nih si Kira. Dan kepalanya kadang mulai panas juga. Semua itu gara-gara benturan konyol itu yang memaksanya berubah status jadi pasien begini. Aduh duh...
Ini semua juga karena Kira yang terlalu percaya diri bertanding sepak bola tanpa memakai sepatu. Memang sih, skill-nya berada di atas rata-rata. Tapi, seperti kata pepatah, perlengkapan yang lebih baik juga akan menentukan siapa pemenang perang. Dan dalam hal ini yang membuat Kira kalah.
"Cih. Aku terlalu meremehkan SD sebelah," gerutu Kira masih tidak terima dengan kekalahan sekolah dasarnya, dan juga "kekalahan" dirinya ini.
"Padahal penyerang mereka saja terlihat malas, dan tidak niat begitu. Tapi tak kusangka dia kuat juga," seru Kira lagi bak komentator handal.
" .Sial. Harusnya aku melawannya dengan kekuatan penuh. Gara-gara si wajah malas itu aku jadi cedera begini," ketus Kira yang masih saja menggalau ria.
"Siapa nama anak yang membuatku cidera itu ya? Kalau tidak salah..Ehmm..Etto..." Kira memasang wajah pikir-pikir yang amat sangat selama beberapa detik. Menguras setiap sel-sel otaknya itu.
"Sh-Shinn Asuka. Ya Shinn Asuka! Tunggu pembalasanku, Shinn!"
Kira langsung berjingkrak berdiri di atas ranjang dipenuhi aura semangat dan dendam membara. Dan sedetik kemudian ia langsung duduk kembali, menyadari perbuatannya itu malah membuat rasa nyeri di kakinya yang cidera kambuh.
"Aww aww!" ujarnya lirih, yang langsung terdiam dan tiduran.
Ternyata anak yang telah membuat Kira cidera adalah Shinn. Haha. Yah, keduanya berada di dua sekolah dasar yang merupakan musuh bebuyutan dalam banyak hal.
Jadi tidak salah, pada akhirnya terjadi 'clash of two useless boy' di lapangan hijau. Dan itu adalah duel dan pertemuan pertama Kira dan Shinn. Kira masih saja terngiang dan teringat muka malas dengan mata merah ngantuk Shinn, yang tanpa dosa malah menguap seolah tak terjadi apa-apa setelah menghajar kaki Kira.
"Maaf. Terpeleset," hanya itu kata-kata yang Kira dengan dari Shinn waktu itu.
Hahaha. Sebuah pertemuan yang sangat berkesan bagi Kira.
Matahari mulai memberikan terik yang panas. Pertanda bahwa telah memasuki tengah hari. Kira kecil, yang sedari pagi terjaga dan tak melakukan apapun, mulai bosan. Beberapa kali ia hanya melakukan olahraga jari, dengan menekan tombol remote untuk mengganti chanel TV. Terkadang juga kelingking nya berpetualang dalam gua gelap bernama hidung untuk mencari mangsa bernama upil.
Nguik, nguik!
Kegiatan yang itu-itu saja sudah tentu membuat jiwa anak-anak yang senantiasa ingin bermain di luar memberontak. Ah! Kira sudah tak tahan lagi berdiam diri saja di sana. Segera ia mematikan televisi. Lalu bangkit, dan dengan hati-hati memakai sandal jepit, serta mengambil tongkat penyangga untuk membantu jalan.
"Membosankan sekali. Sendirian di sini."
Kira berpikir untuk mencari udara segar. Lagian, dia juga telah diperbolehkan untuk berjalan-jalan kecil, walaupun hanya sesaat saja oleh dokter. Setidaknya, bisa membantu mengatasi kejenuhan serta sedikit melatih otot-otot kakinya lagi.
Segera ia menyusuri lorong rumah sakit. Siang ini masih terlihat sepi. Memang tidak terlalu banyak lalu lalang dan aktifitas di sana. Sebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar, namun memiliki fasilitas yang bisa dibilang mumpuni. Yah, setidaknya mampu untuk merawat kaki Kira.
"Lebih baik aku ke taman saja," gumamnya.
Benar juga. Melihat suasana hijau ala alam di taman akan melegakan hatinya. Yah, setidaknya dia dapat ganti pemandangan, menjauh dari visual ruangan pasien yang monoton. Kira melangkahkan kakinya dengan perlahan. Matanya cekatan untuk tetap memperhatikan halangan sekecil apapun di sekitarnya yang mampu menyulut rasa sakit di kaki kambuh lagi. Dan untunglah, bocah berambut cokelat itu dapat melewati lorong rumah sakit dengan selamat.
Wuih.. Plok! Plok! Plok
Sekitar beberapa menit berlalu, dan akhirnya Kira telah sampai di taman. Wah, langsung ia menghirup nafas dalam-dalam. Tidak ada bau obat, tidak ada bau kamar pasien yang khas. Sungguh menyejukkan sekali.
Taman di rumah sakit itu berada agak jauh di ujung barat. Sedikit jauh dari suasana rumah sakit. Bisa dibilang, menjadi tempat refreshing yang nyaman bagi para pasien maupun penjenguk di sana. Kira awalnya menduga di sini akan ramai. Tapi ternyata hanya segelintir orang saja yang menikmati fasilitas nyaman ini. Yah, setidaknya dia bisa bersyukur tidak ada yang mengganggunya mencari "kedamaian" di sini. Haha.
Kira memilih duduk di sebuah kursi kayu panjang berwarna kecokelatan. Wajahnya menengadah ke atas. Ah, sudah lama sekali dia tak melihat awan indah di luar ruangan seperti ini. Angin yang berhembus melewati pepohonan rindang di taman, membuat Kira semakin betah di sana.
Setelah agak lama duduk di kursi, Kira mulai tertarik untuk bersandar di bawah pohon rindang yang ada di tengah-tengah taman. Hamparan rumput hijau yang menjadi alas, serta posisinya yang berada agak membukit dibandingkan tempat lain di taman, membuatnya terlihat nyaman.
"Ah. Ini benar-benar tempat bersantai paling nyaman. Aku harus sering-sering kesini besok," ujarnya sembari menyandarkan punggung di pohon sakura yang mulai bermekaran. Kira memejamkan mata sesaat.
Segala pikiran kolot dan jengkel sebelum-sebelumnya mulai meluntur. Cukup lama Kira terhanyut dalam kondisi rileks. Hingga akhirnya dia mulai menyadari ada orang lain di sana.
Kira segera membuka mata. Tidak lain tidak bukan karena dia mendengar suara-suara "aneh" di sekitarnya.
Kresek...Kresek..!
Kira segera melihat ke depan. Hmm. Tidak ada apa-apa. Mungkin saja ia salah. Bisa saja itu hanyalah khayalannya saja atau hanya hewan kecil yang cuman numpang lewat. Tapi Kira ingin memastikan lagi. Kali ini, ia memutari pohon sakura besar itu. Dan...
Kira melongo.
Didapatinya gadis kecil, mungkin seumurannya sedang tertidur melingkar seperti kucing.
Tanpa beban, tanpa peduli sekitar, dan yang jelas, tanpa malu...
"EEEHHH?!" pekik Kira.
Dia benar-benar tidak habis pikir. Kenapa ada anak kecil bisa tertidur di sini? Well, meskipun tadi dirinya juga nyaris terlena dalam alam mimpi karena suasana yang menyejukkan di sini. Namun ini, entah kenapa terlihat aneh bagi Kira.
"Apa yang dia lakukan?" Kira hanya memandangi saja gadis berambut panjang di hadapannya. Sama seperti Kira, dia juga memakai baju pasien.
Yang menandakan bahwa gadis tidur tersebut juga sedang mengalami nasib kurang baik sepertinya.
Kira yang mulai bisa "menerima" keadaan gadis itu pun memilih untuk membiarkannya saja. Kira mulai bisa memaklumi, mungkin saja dia juga mengalami kejenuhan layaknya Kira.
"Yah, biarkan saja lah, dia mungkin hanya-"
"Ramen!"
GUBRAK!
Kira nyaris terpeleset saat mendengar gadis itu bicara. Iya bicara. Tapi, dia bicara dalam keadaan masih tidur. Sebuah igauan yang bikin Kira kaget, lagi.
"D-Dia mengigau?! Kenapa bisa? Dan kenapa ramen?!"
"Ramen!"
Lagi, gadis itu masih saja mengeluarkan kata yang sama. Kira pun mulai merasa ada yang aneh dengan gadis ini. Aneh, atau konyol?
"Hei, jangan mengigau. Itu hanya akan memalukan dirimu sendiri, tau," ujar Kira pelan.
Meski bukan bermaksud untuk membangunkannya.
"Ramen!"
SYUUTT! Kira menghela nafas lagi. Entah kenapa hanya mendengar bocah mengigau di sampingnya membuatnya jadi emosi.
"Jangan mengigau lagi. Aku jadi tak bisa bersantai nih!" ketusnya.
"Ramen!"
"Kenapa masih ramen? Memangnya berapa banyak kau makan ramen dalam mimpi?"
"Ramen!"
"Sudah cukup. Aku yakin masih enak mie ayam!"
"Ramen!"
ARRGHHH! Kira yang jadi jengkel sendiri hanya mampu menggelinding dari atas bukit kecil itu. Kemudian naik lagi, dan menggelinding lagi. Naik lagi, menggelinding lagi. Ia terus saja melakukan tingkah konyol seperti itu setiap kali kata Ramen mampir di telinganya. Hingga akhirnya, gadis itu berhenti menyebut kata tersebut.
Eh?
Kira yang jadi penasaran lagi kenapa igauan sang gadis berhenti. Mulai melihat ke samping pohon. Dan seperti dugaannya, gadis berambut panjang itu ternyata mulai terbangun. Terjaga dari igauan yang tak disadarinya membuat Kira kalang kabut tanpa alasan jelas.
Gadis berambut panjang itu merenggangkan kedua tangannya ke atas. Pertanda bahwa ia tadi tertidur dengan pulas. Kemudian ia pun juga mengusap-usap matanya. Berusaha menjernihkan penghlihatan. Sesekali mulutnya masih menguap, membuatnya harus menutupi mulut dengan punggung tangannya. Sementara itu Kira masih terdiam, menunggu saat yang tepat untuk bicara.
Sang gadis, yang merasakan kehadiran orang lain di tempat sepi nan rindang itu, segera menoleh ke sebelah kanan. Dan benar juga. Sudah didapatinya bocah berambut jabrik cokelat yang sedari tadi melihatinya tanpa bicara sepatah kata pun.
"Oh, hai. Selamat pagi." sapanya kepada Kira dengan ramah. Santai, tanpa merasa berdosa sedikit pun. Haha.
"H-Hai juga. Selamat pagi. Eh. maksudku siang. Ini sudah siang. Se-selamat siang," balas Kira.
Kira sepertinya masih gugup. Kenapa bocah cilik di depan Kira ini dengan santainya menyapa orang lain tak dikenal, setelah tidur pulas di bawah pohon sakura? Jangan-jangan dia bukan manusia. Hmmm. Pemikiran Kira yang mulai berfantasi kemana-mana.
"Ah, sudah siang ya? Sepertinya aku tidur terlalu lama? Tee-hee," ucap gadis kecil seraya menjitak kepalanya sendiri. -_-.
Benar-benar sok innocent sok polos.
"Lalu, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya kepada Kira.
"Emmm... Hanya beristirahat sebentar, mencari suasana baru," balas Kira.
"Wah, aku juga. Ternyata pemikiran kita sama!" timpal cewek kecil tadi dengan senyum yang sumringah.
Kira hanya mengangguk kecil saja. Sedikit setuju, banyak tidak setuju. Setidaknya, dia tidak "sama" dengan gadis itu, karena Kira tentu tidak akan dengan sembrono-nya tidur di tempat sembarangan seperti ini tanpa pengawasan siapa pun. Haha. Siapa tau nanti aku pria genit maho yang berniat menculik Kira? Hiii.
Di saat Kira masih diam saja dan pasif, serta merenungi segala tindak-tanduk konyol gadis di dekatnya itu. Tiba-tiba saja sang gadis tadi mendekat dengan cepat ke arah Kira. Matanya terlihat penasaran dengan kaki kanan Kira yang masih bersahabat dengan perban.
"Waahh, kakimu kenapa?" tanyanya polos dengan mata berbinar. Seolah baru menikmati sekali penderitaan yang tengah dialami Kira.
"Etto... Aku terjatuh dari tangga," bual Kira.
Meskipun pada orang yang tak dikenal sekali pun, dia tak ingin menceritakan betapa menyedihkan dirinya bisa dihajar oleh benturan maut dengan anak pemalas dari SD lain (baca = Shinn).
Gadis berambut panjang itu hanya mengangguk-angguk beberapa kali. Entah kenapa dia terlihat tertarik sekali pada perban di kaki Kira. Pandangannya terus saja terarah ke sana. Sementara itu, Kira hanya terdiam saja. Dia jadi bingung sendiri mau bertindak seperti apa menanggapi tingkah manusia di dekatnya. Dan di saat seperti itulah, kali ini giliran mata Kira yang dengan sembarangan dan tanpa izin menatap wajah gadis itu. Yah, mumpung perhatian sang cewek tersebut masih teralihkan ke tempat lain...
Hmm. Wajah yang lumayan cantik. Dua bola matanya benar-benar menunjukkan dia gadis yang mudah penasaran. Dan tentu saja yang membuat Kira mulai enggan berpaling adalah melihat rambut panjang sang gadis yang bagai berkibar dengan gemulai menerima angin taman yang datang. Rambut yang terlihat lembut.
"Rambut yang indah..."
Itulah kesan Kira melihat rambut yang begitu mempesona matanya. Ditambah lagi, warnanya begitu serasi dengan helai bunga sakura yang harus gugur tak mampu menahan deru sang angin. Rambut berwarna merah muda yang bahkan membuat iri bunga-bunga sakura yang masih bersemayam di ranting. Entahlah, bagi Kira seolah bunga sakura yang berguguran dikarenakan ingin mendekat ke arah rambut itu. Bak berusaha mengambil warna indah dari sang pemilik rambut.
"Indah sekali. Benar-benar-"
"SAKIT!"
TUIKK! TUIKK!
Gumaman Kira yang dari tadi tak henti memuji rambut gadis itu, langsung berubah menjadi teriakan meringis tak karuan. Rasa nyeri dan nyut-nyutan kembali mampir di kakinya yang cidera. Dan setelah ia menengok ke arah kakinya, akhirnya ia tahu jawabannya.
"Ne, ne. Apa ini sakit?"
Usut punya usut, ternyata gadis di dekatnya itu, dengan polosnya mendulit-dulitkan jarinya untuk menyentuh kaki Kira yang cidera. Kontan saja luka lama Kira langsung bereaksi. Nyeri mulai menjalar dimana-mana.
TULIT! TULIT!
"Sa-sakit! Sakit. Hentikan," ujar Kira langsung menjauhkan kakinya dari tersangka "penganiayaan".
"Wah, ternyata sakit ya? Lucunya."
NGOK!
Sebuah balasan super simpel tanpa tahu malu dari gadis itu, membuat emosi Kira pada gadis itu pun muncul lagi.
"Jangan sentuh-sentuh lagi! Awww!" pinta Kira.
"Kenapa?" tanya si gadis cilik yang segera menyangga kepalanya sendiri dengan kedua telapak tangannya yang telah ia lipat.
"Sudah jelas sakit 'kan? Jangan seenaknya tanpa minta izin dahulu, paham?" tukas Kira.
Sang gadis tadi pun mengambil nafas panjang,
"A-Ah. Minta izin pun juga tidak akan kau perbolehkan untuk memegang kakimu 'kan?"
Be-Benar juga sih ya. Lagian mana mau Kira membuat luka-luka-luka-yang-Shinn-berikan kambuh lagi.
"I-Iya. Tetep takkan kuizinkan. Jika lukanya kambuh, bagaimana kau akan bertanggungjawab?" tegas Kira. Kali ini pokoknya ia harus bisa memproteksi dirinya sendiri. Sudah cukup kakinya yang terluka ini menjadi mainan Cagalli di setiap pagi.
Sang gadis tadi tertawa kecil. Tawa yang cukup membuat Kira tersipu. Dan sejurus kemudian, dia pun menatap Kira dengan pandangan tajam dan senyum seperti rubah licik. Namun tetap dalam kondisi santai, dan masih menyangga kepala dengan kedua tangan. Dan hal itu entah kenapa membuat Kira sedikit gugup.
"Lalu, kau sendiri juga sama 'kan?"
"Heh, apa maksudmu?" tanya Kira yang tidak paham.
Gadis kecil itu melebarkan senyumannya. Dan tangan kirinya sedikit memainkan rambut merah muda yang ada di sekitar telinganya.
"Bukankah kau juga tanpa izinku menatap rambut merah mudaku yang indah ini? Kau pikir bisa seenaknya melakukan itu?"
GLEG! Ke-ketahuan deh!
Kira ketahuan saat tadi memandang rambut merah muda sang gadis. Entah kenapa, padahal kan dia "hanya" melihat saja. Tapi gadis itu membuatnya terdengar seperti Kira telah melakukan "sesuatu yang lebih". Dan dengan mudahnya kini tekanan malah berbalik ada di pundak Kira.
"Ehhh?! I-Itu..E..Etto...A..Anu... E..."
Kira benar-benar gelagapan dan tak bisa menyusun kata-kata dengan baik. Dia telah berubah status dari korban menjadi tersangka dalam waktu singkat. Keringat dingin kini mulai menyambanginya. Matanya berputar tak karuan. Otaknya berupaya keras memikirkan kata-kata counter yang masuk akal.
Sementara itu, sang gadis di hadapannya, hanya tersenyum dan tertawa kecil. Tawa kecil, yang tentunya berusaha ia sembunyikan dari Kira tentunya. Dia begitu menikmati pemandangan saat bocah lugu berambut cokelat di depannya menjadi kikuk seperti ini. Menarik. Begitulah pikirnya.
Dan pada akhirnya, dia sendiri pun tak tahan untuk terhanyut dalam tawa terbahak-bahak yang mengusik kegugupan Kira.
"Hahaha. Kau ini lucu sekali. Kenapa jadi gugup begitu."
Kira, yang mulai merasa "dipermainkan" oleh sosok di depannnya pun mulai menata dirinya. Menyingkirkan gugup dan juga keringat dingin yang tadi sempat mampir. Mulai bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya tadi.
"Diam. Jangan tertawa setelah berkata seperti itu, tau!" pekik Kira dengan menudingkan jari telunjuknya ke arah gadis itu. Namun semua itu malah membuat tawa yang terdengar oleh Kira menjadi-jadi.
"Hihihi. Lucunyaa," ucap sang gadis yang semakin lama malah semakin gemas kepada Kira.
Kini dengan cepat kedua tangannya telah berada di pipi Kira, dan mulai melakukan penyiksaan, ehh... maksudnya cubitan-cubitan penuh kegemasan. Membuat Kira jadi sibuk sendiri untuk menyingkirkan dua tangan nakal yang mempermainkannya.
"Hentikan, dasar. Oii..." pekik Kira.
Satu jam telah berlalu. Layaknya anak-anak kecil pada umumnya, dalam waktu singkat "pertengkaran" kecil antara keduanya pun mereda. Dan kini telah berganti dengan obrolan-obrolan khas anak kecil. Hmm. Setidaknya, kini Kira bisa bernafas lega karena tubuhnya tidak lagi menjadi objek eksprimen gadis berambut merah muda tersebut. Yah, akhirnya keduanya dapat berbincang dengan suasana santai. Meskipun terkadang Kira juga masih terkejut dengan tingkah polah aneh yang sering ditunjukkan sosok di dekatnya itu. Sungguh gadis yang aktif dan banyak bicara.
"Oh, jadi kau punya kembaran ya?" tanya sang gadis dengan wajah terkesima.
"Benar. Dia itu orang yang menyebalkan. Selalu saja menganggapku sebagai adik. Padahal aku ini 'kan yang lebih tua," keluh Kira dengan polosnya.
"Kenapa tidak tanya ayah ibu kalian saja?"
"Hmmm, mereka selalu saja menjadikannya bahan candaan. Mereka tak pernah serius menanggapinya," gerutu Kira sembari memanyunkan bibirnya.
"Haha. Menyenangkan sekali ya. Kalian sepertinya sangat akur dengan orang tua," timpal si gadis.
"Yah, begitulah."
Pembicaraan pun terkadang menjadi tak tentu arah. Terkadang penuh canda. Terkadang juga sedikit serius. Terkadang pula membuat bulu kuduk berdiri. Haha.
Kira merasa senang sekali mendapatkan teman bicara yang menyenangkan sepertinya. Hari-hari di rumah sakit sepertinya akan lebih seru dari yang ia duga.
Kira kemudian memperhatikannya sejenak. Aneh. Sepertinya dia tidak terluka. Kelihatannya sih. Kenapa dia bisa masuk rumah sakit? Mungkin saja, dia tak mengalami luka luar seperti Kira.
"Etto, sebenarnya kau sakit apa?" tanya Kira.
Gadis yang sebaya dengan Kira itu tersenyum kecil. Memberikan seringai yang penuh misteri.
"Hei, kau sangat peduli ya terhadapku? Wah, romantisnya!" ujarnya yang kemudian langsung memeluk Kira begitu saja. Membuat Kira jadi kesulitan bernafas.
"He-Hentikan. Jangan memelukku. Sakit tau!" protes Kira. Dengan perlahan gadis di sebelahnya pun menyingkirkan tangannya dari Kira. Sembari memberi tatapan sok sedih.
"Ups. Sorry, Hehe," sahutnya.
"Dan juga, jangan mengalihkan pembicaraan. Kau sakit apa?" tanya Kira langsung tegas bebas jujur adil. Lhoh? Kok malah jadi slogan pemilu sih?!
Gadis itu terdiam sejenak. Butuh beberapa saat sebelum akhirnya dia menjawab dengan malu-malu,
"Aku sakit maag."
GEDUBRAK!
Kira lagi-lagi dibikin kaget dengan segala kekonyolan yang ia temui dalam diri wanita cilik ini.
"Maag? Cuman sakit maag?" Dia tak habis pikir kenapa sakit maag bisa membuat seseorang sudah berada di rumah sakit selama tiga hari.
"Ne!Ne! Jangan meremehkan sakit maag, tahu! Akan berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat. Makanya aku berada di rumah sakit." ujarnya.
Terdengara agak berlebihan bagi Kira, tapi ia berusaha menerimanya saja dengan tatapan melongo. "Oh. Be-begitu ya. Pasti orang tuamu juga sangat penyayang padamu. Sampai-sampai sakit maag saja harus menginap di rumah sakit," timpal Kira.
Sang gadis itu pun terkekeh kecil lagi. Sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang mengejutkan Kira (lagi).
"Tee-hee. Sebenarnya tidak parah sih. Aku sendiri yang minta pada orang tua agar aku menginap di rumah sakit."
Ya ampun...
"Apa?!Kau ini, huh. Dasar."
Dan Kira pun mulai mengetahui sisi manja dari gadis ini. Sebegitu "manja" dan "rempong"-nya hingga harus berada di rumah sakit hanya gara-gara hal seperti itu. Kira hanya bisa membayangkan betapa orang tua gadis ini sangat kerepotan saat mengurusnya setiap hari. Setelah menceritakan hal itu dengan malu-malu dan tanpa malu(?), si gadis berambut merah muda itu pun cukup tertawa lagi, seolah menunjukkan kebolehannya dalam membujuk orang tuanya.
Pada akhirnya, Kira pun juga tak bisa menahan tawanya, memikirkan bagaimana kelakuan dari si rambut merah muda itu, hanya agar bisa masuk ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan khusus. Hmm. Sekali lagi, perasaan resah Kira sebelumnya pun mulai menghilang, dan berganti dengan suka cita khas anak-anak.
Tapi tawanya hanya bertahan sebentar saja. Tanpa sengaja Kira menengok ke arah belakang teman barunya itu. Dan matanya tertarik pada sebuah buku kecil berwarna biru, yang tergeletak di rerumputan.
"Hei, buku apa itu? Punyamu?" tanya Kira.
Gadis itu pun melihat kebelakang sejenak. Kemudian mengambil benda yang dimaksud oleh Kira tadi. Diikuti sebuah anggukan yang menyatakan bahwa memang ia pemilik buku biru itu.
"Yup. Ini punyaku."
Dan dengan senang hati ia membuka dan memperlihatkan isinya kepada Kira. Terdapat banyak sekali tulisan-tulisan yang hampir memenuhi seluruh halaman buku biru. Tetapi, tidak sedikit pula coret-coretan yang menghiasi.
"Apa ini? Cerita? Bukan- Puisi?" tanya Kira.
"Bukan. Ini lagu. Lagu buatanku!" sahutnya sumringah. Kira pun hanya memiringkan kepalanya.
"Lagu buatanmu?"
"Yup. Tapi, belum selesai sih..."
Kira pun terkesan juga. Tak disangka, ternyata ada bakat istimewa yang dimiliki si rambut pink ini. Kira pikir, dia hanyalah gadis manja biasa yang tak bisa apa-apa selain membuat orang tuanya kerepotan.
"Wah, hebat! Kau bercita-cita menjadi penyanyi?" tanya Kira lagi yang ikut bersemangat.
"Iya. Aku ingin menjadi penyanyi. Aku ingin menyanyikan lagu yang kubuat sendiri!" ujar si cewek kecil dengan berapi-api.
"Berapa banyak lirik lagu yang sudah kau buat?"
"Nol."
EHHH!
Dan gadis itu pun mulai menjelaskan dengan seksama, seraya memerlihatkan lebih rinci buku birunya.
"Sebenarnya, ini adalah rancangan lirik yang ingin kugunakan. Tapi entah kenapa hingga sekarang, aku belum bisa membuat satu lagu pun yang sesuai. Selalu saja ada bagian yang harus diubah. Dan pada akhirnya, buku ini penuh dengan coret-coretan yang tak penting. Yah, lihatlah. Tinggal lima lembar lagi kertas kosong yang ada di buku ini. Dan selebihnya, telah berakhir dengan sia-sia."
Oh...
Kira baru mulai paham. Ternyata seberat itu yang dalam menyusun lirik dan menyesuaikan dengan nada yang pas. Gadis ini pasti telah berusaha dengan keras.
"Wah, sesulit itu kah?" tanya Kira.
"Mungkin. Bisa jadi memang sulit, atau karena aku yang tidak berbakat. Hahaha," ucapnya menghina diri sendiri diselingi tawa yang tak biasa.
Sekilas Kira seolah menangkap gambaran sosok yang berbeda dari teman barunya ini. Sekilas, tampak terlihat negatif dan penuh keputusasaan yang menghampiri gadis periang itu. Matanya yang sedari tadi penuh kecerahan terlihat kosong untuk sepersekian detik. Hanya sesaat. Namun, Kira dapat menangkap semua anomali itu.
"Hei, jangan merendahkan dirimu sendiri. Aku yakin kau bisa membuat lagu yang indah."
Mendengar dukungan dari Kira, gadis belia itu menatap balik dengan penuh rasa sumringah. Rasa suka cita bagai meluap di dalam dirinya.
"Benarkah? Kau yakin aku bisa?"
"Tentu saja! Lihatlah semua usahamu di buku ini. Semua coret-coretan ini tidaklah sia-sia. Aku percaya kau akan menyelesaikan lagumu dalam buku biru ini!" ujar Kira menyemangati.
Mata berbinar sang gadis menjadi jawaban yang pas untuk pernyataan Kira. Rasa percaya dirinya pun meningkat kembali, semua berkat Kira.
"Hebat! Kau memang baik sekali. Yaaayy!" Dan sebuah pelukan pun kembali bersarang di tubuh Kira. Lagi-lagi membuatnya harus menyingkirkan beban berat dari cewek yang berusaha menindihnya itu. Hahaha.. Sudah anak-anak masih...
"Sudah, sudah. Hentikan. Jangan peluk aku!"
"Aku jadi bersemangat!" ujar sang gadis.
Ia pun segera berdiri. Mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Sebelum akhirnya berbicara dengan penuh percaya diri.
"Yosh! Aku akan mewujudkan impianku. Aku akan membuat lagu yang paling hebat. Dan aku akan menjadi penyanyi terkenal!"
Sebuah teriakan yang membuat Kira jadi tersenyum-senyum sendiri. Tak disangka sedikit ucapannya mampu memantik keseriusan gadis ini.
"Dan kau...!" ujar gadis tadi seraya menunjuk ke arah Kira.
"Eh? Aku?" timpal Kira bingung.
"Pastikan kau melihat dan mendengarkan, saat lagu-ku pertama kali dinyanyikan dalam sebuah konser yang meewaaahhh!"
"Heh? Kenapa aku?" batin Kira.
Yah, tapi biarlah. Setidaknya melihat sang gadis berambut merah muda bersemangat, dan juga tidak memeluknya lagi, membuat Kira menjadi lega.
"Baiklah. Aku akan melihatnya," balas Kira.
"Janji?"
"Janji," jawab Kira seraya membalas jari kelingking yang ditawarkan sosok di depannya.
Tidak terasa, waktu juga berlalu dengan cepat. Sudah waktunya, terutama bagi gadis tadi untuk kembali ke kamar pasien. Ia tentu tak ingin kena damprat dokter jika terlalu lama berada di luar ruangan.
"Hei, besok kita bertemu di sini lagi. Bagaimana?" ujarnya kepada Kira.
"Baiklah. Tentu saja," kata Kira.
Gadis kecil itu pun berlari kecil menuruni tempatnya sekarang. Berusaha meninggalkan Kira dan juga taman yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka.
Namun, sebelum dirinya menghilang dari pandangan Kira, cowok berambut cokelat itu memanggilnya sejenak. Membuatnya harus berpaling ke arah sumber suara.
"Hei, tunggu sebentar!" ucap Kira.
"Iya, ada apa?"
Kira tertegun. Terdiam sejenak. Benar juga, ada sesuatu yang belum ia ketahui. Sesuatu yang harusnya ia tanyakan dari awal pertemuan mereka.
"Siapa namamu?"
Gadis berambut merah muda tadi tersenyum kecil. Senyuman yang begitu damai di mata Kira. Sesaat waktu bagai berhenti bagi Kira. Hingga akhirnya, dia memberi jawaban.
"Namaku..."
Flashback end….
Kira masih terdiam di tempatnya. Ia tak beranjak dari depan pintu ruangan musik itu. Memandangi gadis yang tengah bernyanyi dari balik pintu dengan anggunnya, Hingga akhirnya sebuah nama keluar dari mulutnya. Menyebut nama sosok yang memberi awal dunia yang berwarna baginya.
"Lacus?"
Bersambung
Tuttuturuu!
Arrghh! Hiks terharu lagi bisa ngerjain fic ini kembali.
Setelah hiatus dan hiatus dan hiatus.
Wkwkwkwkwk.
Maaf kalo ceritanya jadi ngaco, maaf kalo banyak typo, maaf kalo ga rapi bikin sakit mata.
Maaf kalo tiba-tiba hiatus lagi (waaaaakkk!)
*PLAK*
Ditampar Kira yang lagi seneng-senengnya dapat scene banyak pffft.
Yah, setelah dua chapter sebelumnya bahas AsuCaga. Memasuki chapter ini akan menjadi Kira's Arc.
Hmmm. Ngerasa aneh dengan Lacus? Kenapa sifatnya seolah-olah berbeda terhadap Kira di masa kini dan dulu?
Ada apa dengan keduanya di masa lalu? Dan kenapa Kira baru sadar sekarang, jika Lacus adalah gadis di masa itu? Adakah sesuatu yang terlewat? Apa yang terjadi diantara mereka sebenarnya?
Ada apa dengan Cinta… eh.. .Lacus?
Hmm. Tunggu saja. Di chapter2 selanjutnya akan banyak dijelaskan. Mungkin bisa makan 2-3 chapter lagi membahas kisah Kira ini. Hmmm…
Dan Shinn serta Luna semakin lama semakin terpojok, apakah peran mereka sebagai main chara akan digantikan yang lain? Kita tunggu sajaaa..
*PLAK! PLOK*Ditampar Luna*
"Kamu jahat!" katanya kepada author!
Please… Lunamaria, aku bukan Rangga dan kamu bukan Cinta. -_-
By the way, selamat menikmati! Ditunggu review-nya ya.. Hihihi
