Dormitory Of Boys

Chapter 3

Rated T+

Warning: Yaoi/BoysLove, Typos, AU, etc.

Pair: Hali x Gempa slight other pair. Harem!Gempa

.

.

.

.

=3=

Dipagi hari, Taufan, Halilintar, dan Api kini sedang sibuk dengan kegiatan mereka sendiri di ruang tamu. Terlalu sibuk, sampai akhirnya mereka melupakan sesuatu di situ. Dimana Air dan Gempa?

"Hei, ngomong-ngomong dimana Air dan Gempa? Dari tadi aku tidak melihat mereka." Ucap Api dengan heran sambil melihat ke sekeliling ruangan.

"Saat aku ke kamar Gempa tadi, dia tidak ada di kamarnya. Mungkin dia keluar pagi untuk sebuah keperluan. Dia kan baru disini. Kalau Air, sepertinya masih tidur. Aku malas mengeceknya." Ucap Taufan seadanya.

"Kenapa hanya Gempa saja yang kamu cek sedangkan Air tidak?! Dasar pilih kasih!" Ucap Api sweetdrop.

"Oh ayolah, kau taukan Air itu tukang tidur jadi, untuk apa di cek. Kalau Gempa sih lain masalahnya, sebagai seme yang baik, aku harus menomor satukan hak milikku terlebih dahulu." Ucap Taufan blak-blakkan dan penuh dengan percaya diri.

"Apa-apaan itu?! Sejak kapan kau bisa jadi seme, hah?! Dan sejak kapan Gempa jadi milik kamu! Dia itu milik aku! Dia lebih pantas bersamaku dari pada bersamamu tau!" Ujar Api dengan rasa sedikit amarah karena tidak rela Gempa menjadi milik Taufan./ Gempa milik Hali oy~

"Apa kau bilang?! Tentu saja aku pantas menjadi seme dari Gempa! Dia itu imut, manis, dan juga polos. Cocok denganku yang keren, gagah, dan berani. Tidak seperti kau." Ucap Taufan dengan lantang.

"Oh.. jadi kau ingin bertarung denganku?! Ok! Siapa takut. Ayo kita buktikan, siapa yang lebih cocok untuk menjadi seme dari Gempa. Dan jangan berharap aku akan kalau darimu, Taufan."

"Ok! Aku tidak akan kalah darimu, Api!"

Halilintar yang mendengar pertengkaran keduanya itu mulai terbawa suasana. Hawa gelap dan suram sedikit demi sedikit mulai mengelilingi tubuhnya. Halilintar menatap Taufan dan Api dengan tatapan yang tajam dan menusuk. Sementara Taufan dan Api yang ditatapi itu mulai berhenti beradu mulut dan diam terpaku. Mereka sadar bahwa kejadian adu mulut ini menyebabkan singa yang berada pada tubuh Halilintar itu mulai terbangun.

"Tidak, jiwa singa Hali sudah terbangun! Aku masih ingin hidup, Tuhan. Aku belum menikah dengan Gempa! Selamatkan aku~" Batin Taufan sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain diam. Keringat nya sudah bercucuran di wajahnya.

"Aku tidak mau mati... Aku tidak mau mati... Aku tidak mau mati... huaaa Gempa tolong aku!" Batin Api komat-kamit tidak karuan karena takut.

"Aku harap kalian bisa untuk tidak berisik sehari saja dan jangan lakukan hal bodoh, mengerti? Sekarang lebih baik kalian diam dan ikut aku untuk mengecek kamar Air. Dilarang membantah!" Ucap Halilintar dengan nada yang penuh penekanan sehingga membuat siapa saja merinding karena suara itu.

"Siap tuan!"

Dengan kaku, Taufan dan Api melangkahkan dirinya mengikuti Halilintar dari belakang. Semoga saja dewi fortuna berada di pihak mereka untuk keselamatan nyawa.

Tok!Tok!Tok!

Halilintar mengetuk pintu kamar Air, namun tidak ada respon sama sekali. Diketuk sekali lagi namun tetap saja tidak ada respon.

"Separah itu kah Air saat tidur? Tidak biasanya dia telat bangun sampai jam 9 lewat." Ucap Api heran.

Karena penasaran, Taufan segera membuka pintu kamar Air. Dia terlalu penasaran apa yang terjadi pada Air sampai-sampai terlalu nyenyak tidur hingga sulit dibangunkan.

"Air, sudah waktunya ba-"

Dan ternyata dilihatnya lah oleh Halilintar, Taufan, dan Api bahwa kini posisi tidur Air itu memeluk seseorang yang tak lain adalah Gempa. GEMPA!

"-ngun."

WTF! Pantas saja Air nyenyak dengan tidurnya dan sulit untuk dibangunkan! Ternyata ia tidur seranjang dengan Gempa sambil B-E-R-P-E-L-U-K-A-N. Bagaimana bisa?!

"A-apa-apaan ini?!" Teriak Taufan dengan Api bersamaan. Sementara Halilintar hanya bisa membelakakan matanya melihat pemandangan yang membuat matanya iritasi.

Gempa yang mendengar sebuah teriakan itu mulai terusik dengan tidurnya. Perlahan, ia mulai membuka matanya dan menempatkan dirinya dalam posisi duduk di ranjang itu. Ternyata dilihatnya Taufan, Api, dan Halilintar yang memandang ke arahnya dengan pandangan yang terkejut. Gempa bingung dengan pandangan itu. Sebenaranya ada apa ini?

"Kalian... kenapa memandangku seperti itu? Apa ada yang salah?" Tanya Gempa memiringkan kepalanmya kesamping dengan polos sehingga membuat wajahnya nampak manis.

"I-imutnya!" Batin ketiga pemuda itu mulai ber-blushing ria.

"Kok diam?"

"A-aa.. I-Itu.."

Merasa terganggu dan tak merasa nyaman, Air perlahan mulai terbangun dari tidurnya. Dilihanya ketiga pemuda didepannya itu dengan tatapan yang datar. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke samping dan dilihatnya Gempa sedang memandanganya dengan tatapan yang polos minta di serang(?).

"Pantas saja aku merasa tidak nyaman. Dasar pengganggu." Batin Air tanpa dosa sambil memandang datar ketiga teman didepannya itu.

"Kalian kenapa disini? Menggangu saja." Ucap Air dengan datar sambil menekan kata 'menggangu' pada ucapannya.

"Apa katamu?!" Geram Taufan tidak terima.

"Em... sebenarnya ada apa ini?" Tanya Gempa dengan nada yang halus dan lembut.

Grep!

"Gempa! Kenapa kau bisa tidur dengan Air?! Kenapa kau bisa tidur semalaman dan seranjang dengan Air?! Kenapa Gempa?! Kenapa?! Aku butuh penjelasan." Ucap Api mengguncang-guncangkan bahu Gempa dengan tidak santai.

"A-aku bi-bisa j-j-jelaskan." Ucap Gempa dengan terpatah-patah.

"Hei, berhenti mengguncangkan bahunya, Api. Kau menyakitinya." Ucap Air menatap Api tajam. Api pun melepas tangannya dari bahu Gempa dan membalas tatapan Air lebih tajam.

"Dan tentu saja aku butuh penjelasan tentang hal ini darimu, Air." Ucap Api dengan nada yang sangat menakutkan. Kini hawa gelap mulai mengelilingi tubuhnya.

"Kau kira aku takut padamu, hah?" Balas Air tidak kalah menakutkan. Hawa gelap pun kini mengelilingi tubuhnya.

"Kalian berdua sudah cukup! Dan untukmu Air, aku harap kau bisa menjelaskan pada kami tentang hal ini." Ucap Halilintar dengan mengeluarkan hawa suram dan gelapnya kembali.

"Hali benar, Air." Ucap Taufan mendelik sinis pada Air.

Gempa yang merasa atmosfer kamar itu mulai terasa berat dan suram hanya bisa sweetdrop. Jujur saja, dia terlalu polos untuk mengetahui apa yang terjadi disini. Dia sangat bingung kenapa teman-temannya ini saling menatap sinis satu sama lain. Dasar Gempa dengan pikiran suci dan polosnya. Karena ia tidak suka keadaan ini, Gempa mencari solusi untuk mencairkan suasana dan aha! Dia punya ide.

"Em.. maaf, aku yakin kalian semua belum sarapan pagi hari ini. Jadi, biarkan aku membuat sarapan pagi ini ok?" Ucap Gempa lalu tersenyum ke arah mereka dan segera beranjak dari ranjang dan dengan cepat melangkahkan kakinya keluar ruangan.

Sementara keempat pemuda ini masih diam memantung di tempatnya masing-masing.

Huh? Apa katanya? Memasak?

"BENAR-BENAR UKE IDAMAN!" Batin mereka secara bersamaan.

=TBC=

Preview chap selanjutnya...

=1

"Hmph.. Kalian memang temanku yang terbaik." Ucap Gempa tersenyum manis lalu mengusap kepala mereka satu-satu dengan lembut.

=2

Halilintar memeluk Gempa dari belakang dengan lembut lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga Gempa.

"Kau tau, bahwa Taufan, Air, dan Api menyukaimu dan aku cemburu karenanya." Bisik Halilintar dengan nada yang sangat lembut. Sementara Gempa mulai merona karena bisikan Halilintar.

=3

"Perkenalkan Fang, ini Gempa. Dan Gempa, ini teman kami, Fang." Ucap Taufan dengan ceria.

"Halo aku Gempa, salam kenal Fang." Ucap Gempa tersenyum kecil tapi terlihat manis.

"A-aku Fang." Ucap Fang dengan gugup karena malu melihat senyuman Gempa yang terbilang cukup manis.

"Tidak buruk." Pikir Fang.

/OK! See you in next chapter! ^^