Dormitory Of Boys

Chapter 4

Rated T+

Warning: Yaoi/BoysLove, Typos, AU, etc.

Pair: Hali x Gempa slight other pair. Harem!Gempa

.

.

.

.

=3=

Sret! Sret! Sret!

Gempa dengan telaten menata piring-piring di atas meja makan. Makanan yang di sajikannya benar-benar terlihat lezatdan wanginya sangat menggoda selera. Gempa tersenyum puas melihat hasil masakannya yang sudah terlihat rapi.

"Hei kalian, ayo makan. Jangan diam saja." Ucap Gempa menatap Halilintar, Taufan, Api dan Air yang diam memantung di depan meja makan sambil melongo. Bagaimana tidak, makanan yang di sajikan Gempa adalah 5 piring pasta atau bisa di bilang spaggeti dengan lumuran saus barbeque juga di beri beberapa potongan kecil daging ayam untuk pelengkap dan beberapa buah potongan seledri kecil di pinggiran piring untuk penghias. Lalu ada 5 piring yang masing-masing terdiri dari telur mata sapi yang berbentuk bulat sempurna disertai beberapa buah sosis yang di potong seperti gurita dan di lumuri oleh lelehan keju diatasnya. Juga, Gempa menyiapkan 3 macam minuman yaitu, susu vanilla putih, kopi, dan juga air putih biasa yang masing-masing berjumlah 5 gelas. Benar-benar menakjubkan.

"The Fu-! Dia ini chef atau apa?! Benar-benar istri idaman!" Batin mereka berempat tidak karuan.

"Hei, kenapa masih diam? Makanannya nanti dingin loh." Ucap Gempa menyadarkan lamunan keempat pemuda ini.

"A-aku ingin duduk dekat dengan Gempa!" Ucap Api tiba-tiba lalu dengan segera duduk di sebelah kiri Gempa.

Sial! Mereka kecolongan. Jika sebelah kiri Gempa telah terebut, berarti seblah kanan Gempa….

"Aku duduk sebelah kanan Gempa!" Seru Taufan sambil menarik kursi di seblah kanan Gempa bermaksud untuk segera duduk namun, Air yang tidak mau kalah langsung menarik balik kursi tersebut.

"Aku yang lebih pantas duduk dekat dengan Gempa!" Ucap Air datar namun dengan tatapan yang sinis.

"Aku yang lebih pantas!"

"Aku yang berhak dekat dengannya!"

"Jangan bercanda! Dia milikku!"

"Milikku bodoh!"

"Aku!"

"Aku!"

"AKU!"

Dugh! Krak! Krak!

Disela perdebatan mulut itu, terdengar bunyi pukulan juga retakan. Dan bunyi itu berasal dari Halilintar. Ternyata Halilintar yang kesal mendengar perdebatan itu segera meninju tembok di sebelah kanannya dengan tangan kanannya. Saking kesalnya, tenaga yang dikeluarkannya tidak bisa terkontrol sehingga membuat tembok itu retak. Taufan seketika itu juga diam memantung dan bergidik ketakutan. Sementara Air hanya bisa melihatnya datar dan tampak acuh. Bagiamana dengan Gempa dan Api? Api dengan segara berlindung di belakang punggung Gempa dan bergetar karena ketakutan. Tapi Gempa hanya bisa menatap Halilintar dengan berbinar-binar karena kagum dengan kekuatan yang dimiliki Halilintar.

"Woah! Keren sekali…. Aku memukul tembok saja tidak retak malah tanganku yang kesakitan. Benar-benar luar biasa! Jangan-jangan Halilintar memiliki kekuatan supranatural ya? Menakjubkan." Batin Gempa dengan polos namun masih terkagum-kagum.

"Berhentilah membuat keributan, kalian berdua! Jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian." Ucap Halilintar dengan nada yang sangat menyeramkan disertai aura-aura mistis disekitarnya.

Taufan sudah benar-benar ketakutan. Jika Halilintar sudah seperti ini, maka matilah dia. Air menghela nafas lalu mengangkat tangannya untuk berbicara. Sepertinya ia harus turun tangan untuk masalah ini.

"Sudahlah Hali. Lebih baik kita memulai sarapan kita, itu lebih baik daripada membuat keributan. Dan bolehkah aku duduk di sebelah Gempa?" Air mengucapkan hal itu dengan penuh harap. Setidaknya ini lah kesempatan yang bagus untuk bisa duduk dekat dengan Gempa. Taufan yang mendengar hal itu, tentu ingin membantah namun, ia menutup mulutnya rapat saat Halilintar memberikan deathglare pada nya. Ah, sepertinya dewi fortuna berpihak pada Air.

"Tidak, aku yang akan duduk dekat dengan Gempa. Kalian berdua menyingkirlah." Ucap Halilintar begitu datar dan dingin.

-Atau mungkin tidak.

"Ta-tapi..."

"Berani membantah, hm?"

"Ti-tidak!" Ucap Taufan dan Air bersamaan dan segera duduk di tempat duduk yang masih tersedia.

"Bagus." Halilintar menyeringai puas dan langsung duduk di sebelah kanan Gempa. Api yang melihat Halilintar sudah lebih tenang, menghela nafas lega dan tersenyum lebar. Gempa yang melihat Halilintar duduk di sebelahnya itu mulai merona namun tipis. Jantungnya berdetak tidak karuan. Namun ia mencoba mengabaikan perasaan itu dan memulai sarapannya.

Dan mereka pun memulai sarapan mereka dengan menu yang sedikit... Mewah.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o

Setelah menyelesaikan sarapan bersama, Gempa mulai mengumpulkan piring dan gelas yang mereka gunakan tadi untuk di bawa ke dapur dan mencucinya. Keempat pemuda itu pun dengan segera membantu Gempa membawa beberapa piring dan gelas itu lalu membawanya ke dapur.

"Aku ingin membantu Gempa mencuci piring, boleh?" Tanya Taufan dengan mata yang berbinar-binar. Tidak mau kalah, ketiga pemuda yang lainnya pun dengan segera mengajukkan diri untuk membantu Gempa. Gempa yang melihat tingkah teman sekamarnya ini tersenyum senang. Ternyata tidak buruk juga pindah sekolah disini. 'Disini sangat menyenangkan' pikirnya.

"Hmph.. Kalian memang temanku yang terbaik." Ucap Gempa sambil tersenyum manis lalu mengusap kepala mereka satu per satu dengan lembut.

Blush!
Keempat pemuda ini merasa bahwa muka mereka mulai menghangat. Usapan tangan Gempa pada kepala mereka sangat lembut dan menenangkan. Mereka menyukainya. Bahkan, Halilintar yang notabene nya cuek dan tidak perduli itu terjerat oleh kelembutan Gempa. Ia ingin memiliki Gempa seutuhnya.

"Hei, kenapa wajah kalian memerah? Kalian sakit?" Tanya Gempa heran sambil menyudahi usapannya.

"A-ahh kami tidak apa-apa kok. Oh ya kalau begitu aku akan memulai mencuci piring!" Seru Taufan lalu segara mengambil spons yang sudah di olesi sabun khusus dan segera mencuci piring satu per satu.

"Aku akan mencuci gelas!" Seru Api disertai senyum lebar.

"Aku yang akan membilas." Ucap datar Air lalu segera melakukan tugasnya. Kini tinggallah Gempa dan Halilintar.

"Jadi, apa yang bisa kubantu?" Halilintar bersingkap Dada dan memandang Gempa dengan datar. Gempa yang di pandang itu sedikit gugup dan malu. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah pada wajahnya.

"Mungkin Ha-Halilintar b-bisa membantuku membereskan bahan-bahan dan peralatan masak. B-boleh?" Ucap Gempa dengan gugup tanpa memandang Halilintar.

Halilintar menghela nafas lalu tersenyum tipis. Sangat tipis dan tidak terlihat. Ia mengangkat dagu Gempa dan memandang iris gold nya yang indah itu lalu tersenyum sekali lagi. Kali ini senyuman tulus. Nafas Gempa tercekat melihat senyuman itu. Dia yakin bahwa pipinya sudah memerah karena nya.

"Baiklah kalau begitu. Aku akan membantumu." Dengan segera Halilintar berjalan menuju alat dapur dan bahan masakan yang berceceran di meja. Ia mulai menyusun dan merapikannya. Gempa yang baru sadar, segera bergegas membantu Halilintar.

Hening. Keadaan dapur itu sangat hening dan sunyi awalnya. Sampai suara Api memecahkan keheningan itu.

"Oh ya Gempa, aku ingin bertanya. Kenapa kau membuat sarapan pagi ini dengan menu seperti itu? Kau tau itu tidak wajar dan terlalu ekstrim untuk ukuran makan pagi. Tapi masakan mu sangat lezat kok. Terbaiklah!" Ucap Api terkekeh kecil. Gempa yang mendengar ucapan Api tersenyum kikuk.

"Hehehe... Tadinya aku juga ingin membuat sarapan pagi yang wajar. Tapi setelah melihat banyak sekali bahan masakan di sini, entah mengapa tanganku gatal ingin memasak masakan yang sedikit berbeda dari biasa. Hehe.. Lagipula aku bingung kenapa banyak sekali bahan makanan disini. Jadi, sayang kan lalu di buang saja." Ucap Gempa sembari menggaruk tekuknya yang tidak gatal.

Sh*t! Gempa memang benar-benar uke idaman!

"Kalau itu, kami disekolah ini selalu di sediakan bahan-bahan makanan seminggu sekali. Kami di ajar untuk bisa memasak makanan kami sendiri. Tapi, karena tidak ada satupun dari kami bisa memasak, jadi kami hanya menggunakan roti saja hehehe... Aku ini memang payah dalam memasak." Ucap Taufan sambil tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Oh begitu. Keren sekali." Gempa tersenyum mendengar penjelasan Taufan. Kalau begitu, ia bisa leluasa memasak beraneka ragam makanan disini. Lagipula, memasak adalah hobinya. / kau terlalu feminin Gempa ∆

"Sekarang giliranku bertanya." Halilintar mulai membuka suara. "Mengapa kau bisa tidur dengan Air semalam?" Ucapnya menatap Gempa tajam. Air yang mendengar pertanyaan itu mendengus kasar. "Harus di bahas Sekarang, heh?"

"Ah itu, semalam aku bermimpi buruk dan terkena insomnia. Akhirnya, aku memutuskan untuk berdiam di ruang tamu. Tiba-tiba, Air datang dan menawariku tidur bersama. Katanya jika tidur bersama, akan menghilangkan mimpi buruk. Ya dan begitulah akhirnya." Jelas Gempa dengan lugu dan polos.

Taufan, Api dan Halilintar yang mendengar penjelasan Gempa membelakakan matanya lalu menatap tajam Air. Air yang ditatap itu hanya diam tak bersuara dan masih berwajah datar. Ia tau arti tatapan itu. Ya, tatapan itu bermakna, Berani-sekali-kau-merebut-ukeku! Yang seperti itulah kira nya. Tapi Air tidak perduli, lagipula tujuan nya hanya satu. 'Gempa harus menjadi milikku.'

Gempa yang menyaksikan hal ini hanya bisa memandang mereka dengan bingung. Dia memiringkan kepalanya di sertai wajah yang polos. Jujur, ia bingung sekarang.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Kini waktu telah berganti menjadi siang hari. Di kamar 158, hanya ada Gempa dan Halilintar yang masih menetap. Kemana yang lain? Air dan Api memiliki keperluan dengan guru mereka di kantor untuk mengurusi beberapa berkas. Sementara Taufan memiliki janji dengan temannya di kamar 145 yang berjarak cukup jauh dari kamar 158.

Gempa kini berada di dalam kamar nya untuk membereskan tempat tidurnya. Lalu Halilintar duduk di ruang santai sembari menonton televisi. Acara di tv itu, sama sekali tidak menarik perhatiannya. Karena bosan, ia mematikan tv itu dan beranjak pergi menuju kamar Gempa.

Dengan perlahan, Halilintar membuka pintu kamar Gempa tanpa mengeluarkan suara. Gempa yang masih asyik beres-beres itu tidak menyadari kehadiran Halilintar. Halilintar meneguk ludah nya lalu melangkahkan kakinya perlahan mendekati Gempa.

Grep!

"W-whuaa ada apa ini? Hah? Ha-Halilintar?"

Halilintar memeluk Gempa dari belakang dengan lembut lalu perlahan, ia membisikkan sesuatu tepat di telinga Gempa.

"Kau tau, bahwa Taufan, Api dan Air menyukaimu dan aku cemburu karena nya." Bisik Halilintar dengan nada yang halus dan lembut. Gempa yang terkejut itu diam terpaku dan wajahnya berubah merah padam menahan malu.

"A-apa maksudmu, Ha-Halilintar?"

"Panggil saja aku Hali, Gempa."

"Ha-Hali, maaf tapi bisakah kau melepas pelukanmu? A-aku tidak bisa bergerak." Ucap Gempa gugup sambil menundukkan wajahnya. Halilintar dengan berat hati melepas pelukkannya lalu membalikkan tubuh Gempa sehingga menghadap padanya.

"Ingatlah ini, Gempa..."

"Ha-Hali...?"

"Cepat atau lambat kau akan menjadi milikku. Dan jangan harap aku akan melepaskanmu." Ucap Halilintar terkesan datar dan dingin. Setelah itu, ia membalikkan badannya dan pergi dari kamar Gempa dengan cepat menuju kamarnya. Meninggalkan Gempa yang memandang hal itu bingung. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud Halilintar untuk menjadi miliknya. Salahkan otaknya yang masih polos dan suci sehingga gagal paham maksud Halilintar. Tapi, kenapa jantungnya selalu berdetak kencang jika berada di dekat Halilintar? Apa maksudnya ini? Ia tidak mengerti.

Brak!

Halilintar membanting pintu kamar nya dengan keras. Ia mengacak rambutnya frustasi. Sial! Apa yang baru saja ia katakan pada Gempa?! Itu sama saja seperti menyatakan perasaannya pada Gempa. Tunggu, perasaannya pada Gempa? Apakah ia sudah mulai menyukai Gempa? Apakah ia sudah mulai mencintai Gempa? Tapi, apakah Gempa memiliki perasaan yang sama dengannya? Tidak mungkin! Gempa masih terlalu polos untuk tau tentang penyimpangan sexual. Tapi bolehkah ia berharap? Ia sangat menginginkan Gempa. Hanya Gempa.

"Cih! Apa yang harus kulakukan?!"

=TBC=
A/N: Hai semua ^∆^ kembali lagi dengan saya. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih bagi kalian yang sudah me-fav, me-follow dan me-review ceritaku ini. Maaf bila di chapter ini kurang memuaskan dan menarik. Untuk preview scene ke-3 tidak bisa disatukan dengan chap ini karena terlalu panjang sehingga saja membaginya menjadi 2 chapter. Maaf minna-san *bow*... Dan maaf jika saya lama mengupdate ceritanya hehehe... Ok sekian dulu dari saya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya! 😀

-Mind To Review?

•Yukine Machiato