Dormitory Of Boys

Chapter 6

Rated T+

Warning: Yaoi/BoysLove, Typos, AU, etc.

Pair: Hali x Gempa slight other pair. Harem!Gempa

.

.

.

.

=3=

Gempa terdiam menyerit kebingungan. Kini kamar asrama nya dikelilingi oleh hawa yang cukup mencekam. Mengapa demikian? Itu karena ketiga temannya- Taufan, Api, dan Air tengah menatap Halilintar dengan pandangan sinis dan tajam disertai hawa dendam yang besar. Sementara Halilintar hanya diam tak berekspresi mengabaikan tatapan ketiga temannya itu. Ia sama sekali tidak perduli.

"Um... Kalian kenapa? Ada hal penting kah?" Tanya Gempa dengan wajah polos namun tersirat kekhawatiran. Perasaannya tidak bagus tentang hal ini. Perlahan ia berjalan mundur menjauhi mereka.

"Hali curang. Kau merebutnya dariku." Desis Api disertai amarah. Halilintar tetap tak bergeming.

"Kau menyebalkan, Hali. Aku merasa ini tidak adil." Ucap Air dengan datar namun matanya berkilat marah disertai dendam.

"..." Taufan tidak berkomentar. Ia sibuk memandang Halilintar dengan tatapan marah dan kesal. Masalah ini akan sulit teratasi.

Halilintar diam tak berkutik. Ia berjalan perlahan menghadap mereka-kecuali Gempa lalu bergumam, "Aku curang dan tidak adil, hm? Kurasa tidak. Jangan menuduhku dengan sembarangan. Ah ya, tentang Gempa," Halilintar menyeringai dengan seram lalu menatap tajam ketiga teman asramanya itu, "Dia yang akan menjadi milikku nanti nya. Jangan berharap aku akan menyerah dan tidak perduli. Aku tak akan membiarkan kalian menyentuhnya sedikit pun, akan kujadikan dia milikku seutuhnya. Ku harap kalian bisa merelakannya."

"Jangan bercanda, Hali. Dia yang akan menjadi milikku kelak dan akan ku buktikan itu." Gumam Taufan dengan geram setelah mendengar perkataan Halilintar. Aura diruangan itu tambah mencekam. Gempa yang diacuhkan itu bergetar ketakutan.

"Sejak kapan kau jadi posesif begitu, Hali? Benar-benar bukan Halilintar." Seru Air dengan nada yang mengejek. Halilintar berdecak kesal.

"Kau tau apa tentang ku, Air. Jangan berani kau urusi hidupku." Ucap Halilintar dengan ketus.

"Siapa yang mau mengurusi hidupmu? Ha! Apa peduliku."

Brak!
Pintu kamar asrama itu tertutup dengan keras secara tiba-tiba. Keempat orang yang berdebat tadi pun terkejut dan mengalihkan pandangan mereka. Dilihatnya pintu itu dan mereka pun tersadar bahwa hal ini adalah ulah Gempa. Mereka melupakan keberadaan Gempa saat berdebat tadi.

"Ge-Gempa!" Mereka berlari tergesa-gesa dengan wajah penuh rasa bersalah. Sial, ini tidak bisa dibiarkan.


Di taman belakang sekolah terlihat Gempa yang diam terduduk di salah satu kursi taman itu. Ia terdiam menatap langit yang gelap dihiasi oleh bulan dan ribuan bintang yang indah. Gempa memeluk dirinya erat dan terisak kecil saat mengingat perdebatan temannya. Hal itu mengingatkan Gempa tentang pertengkaran kedua orang tuanya beberapa tahun lalu. Pertengkaran yang membuat ibunya terbaring dirumah sakit selama 2 bulan karena luka yang dibuat oleh ayahnya di depan matanya sendiri. Gempa trauma dengan hal itu, ia membenci kejadian itu. Walau ia menyukai kebebasan, ia juga membutuhkan kedamaian.

"Ibu... Ayah... Maafkan aku." Gumam Gempa yang perlahan mulai menangis. Ia semakin memeluk erat dirinya, ia takut kembali ke kamarnya. Gempa takut teman nya membencinya karena menyebabkan perdebatan itu walau ia tidak tau pasti kenapa hal itu bisa terjadi.

"Gempa?"

Gempa tidak bersuara namun masih tetap menangis. Ia tidak menghiraukan panggilan itu. Siapa yang memanggilnya?

"Gempa, kau menangis?" Ia berjalan maju mendekati Gempa lalu duduk disampingnya. Merasa ada usapan di pundaknya, Gempa mengangkat wajahnya.

"Hali?"

"Ya Gempa, ini aku." Halilintar mengusap pipi Gempa yang dibanjiri oleh air mata. Ia tidak suka saat Gempa bersedih seperti ini. Semua salahku, pikirnya.

"Maaf... Maafkan aku Gempa." Bisik Halilintar tepat di samping telinga Gempa. Ia lalu mendekapnya. Sangat erat, seakan takut terpisah. Gempa masih terisak kecil, ia membenamkan kepalanya pada tekuk leher Halilintar.

"T-tidak... Ini bukan s-salahmu, Hali. Maafkan aku." Bisik Gempa membalas dekapan Halilintar.

"Shh.. Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja, tenanglah."

Saat Halilintar dan Gempa masih berpelukan, dilihatnya oleh Halilintar ketiga teman lainnya yang melihat mereka dari kejauhan. Taufan, Air, dan Api terlihat khawatir dan cemas juga iri karena melihat Halilintar yang memeluk Gempa dengan erat. Halilintar perlahan memberi instruksi pada mereka agar berjalan kemari. Mau tak mau, mereka menurutinya.

Halilintar melepas pelukan mereka lalu memandang Gempa yang kini menundukan kepalanya sambil menghapus air mata dengan lengannya. "Terimakasih Hali." Ucap Gempa menatap Halilintar lalu tersenyum kecil.

"Tent-"

"Gempa, kau tidak apa-apa?! Maafkan aku ya. Semuanya salahku, maafkan aku." Seru Taufan dengan tiba-tiba. Diam-diam, Halilintar mendengus kesal karena Taufan memotong perkataannya.

"Maafkan kami ya, Gempa! Maaf karena membuatmu menangis! Uwaaa aku berasa seperti orang jahat disini." Ucap Api mengacak-acak rambutnya frustasi.

"Kau memang orang jahat kan." Gumam Air dengan rasa tak bersalah.

"Hei! Jangan seenaknya. Aku baik kok!"

Air mendengus geli. "Maafkan kami ya, Gempa. Kami bersalah, tolong jangan menangis lagi. Aku lebih menyukai wajahmu yang tersenyum." Ucap Air dengan halus dan lembut. Terdapat rasa kasih sayang dalam ucapannya. Tak sadar bahwa ketiga teman lainnya menatapnya dengan garang.

"T-Taufan, Api, Air... Ka-kalian tidak membenciku?" Tanya Gempa dengan gugup dan menundukan wajahnya takut. Mereka yang ditanya menyerit kebingungan.

"Apa maksudmu, Gempa? Kami sama sekali tidak membencimu. Kami sayang padamu. Kenapa kau berfikiran seperti itu?" Ucap Api terkikik pelan. Gempa mengangkat wajahnya terkejut, ia melongo.

"K-ku pikir kalian semua membenciku karena kehadiranku, kalian berdebat seperti sebelumnya. Te-ternyata aku salah, ya?" Ucap Gempa tersenyum kikuk lalu tertawa pelan.

"Hahahaha... Kau ini aneh-aneh saja. Kita tak akan mungkin membenci orang yang imut dan cantik sepertimu." Goda Taufan.

Wajah Gempa memerah mendengar perkataan Taufan. "A-aku tidak cantik dan imut. Aku ini laki-laki." Gerutu Gempa sedikit kesal.

"Ya, kau terlalu cantik untuk ukuran seorang laki-laki, Gempa. Akui sajalah." Ucap Halilintar datar. Api dan Taufan berusaha menahan tawa karena perkataan Halilintar. Gempa menggembungkan pipi nya kesal.

"Oh ayolah, jangan membully ku terus." Gempa memalingkan wajahnya kesal. Halilintar tersenyum kecil menanggapi.

"Hei, ayo kita kembali ke kamar. Ini sudah lewat jam malam." Ucap Air datar lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.

"Ah... Air benar."


"Selamat malam Taufan, Air, Api, dan... Hali." Ucap Gempa tersenyum kepada teman-temannya itu.

"Selamat malam juga, Gempa." Ucap mereka dengan kompak. Setelah itu, Gempa menutup pintu kamarnya dan beranjak tidur.

"Hei, jangan pikir setelah kejadian ini aku akan menyerah mendapatkannya. Dia tetap akan menjadi milikku nantinya." Ucap Taufan dengan penuh percaya diri. Ia sudah bertekad akan menjadikan Gempa miliknya.

"Jangan terlalu percaya diri, Taufan. Akulah yang akan mendapatkannya. Ia akan menjadi milikku dan setelah itu tak akan kuserahkan dia pada siapapun. Hanya aku yang boleh ada dipikirannya." Ucap Halilintar menyeringai lebar. Ia juga tak akan menyerah.

"Hei! Gempa lebih cocok bersanding denganku. Tentu saja ia yang akan menjadi milikku kelak." Ucap Api dengan kilat mata yang tajam. Hee.. Saingannya semakin berat saja.

"Bagaimana kalau kita bertanding saja untuk memperebutkan hati Gempa? Bukankah itu lebih bagus daripada berdebat setiap hari." Usul Air yang sudah muak dengan acara perdebatan mereka.

"Bertanding? Memperebutkan hati Gempa? Hmm... Boleh juga!" Seru Api dengan semangat. "Akulah yang akan menang!" Ucapnya.

"Cih! Tentu saja aku, bodoh. Hmm... Bagaimana dengan kalian?" Air menatap Taufan dan Halilintar bergantian. Dilihat Taufan dan Halilintar yang bersingkap dada dengan angkuh lalu menyeringai lebar.

"Aku setuju!" Ucap mereka dengan bersamaan.

"Baiklah, pertandingan dimulai besok. Berjuanglah~"

=TBC=

Balasan review:
1. Fuyaori: ini sudah update. Maafkan jika lama ya hehehe... Dan uh-oh sepertinya kau memang stalker. Bagaimana kau bisa tau aku telah me-fav cerita baru?! Aku terkesan *_*

2. Azka: maafkan kalau pendek cerita sebelumnya. Aku terlalu terburu-buru jadi ceritanya agak aneh hehehhe... Terimakasih ya telah menyukai ceritaku.

3. Adidasafitriso: cie yang mikirnya gak-gak hahaha... Tenang, ini fic rated T bukan M. Tapi kalau mau diubah bisa kok./plan

4. ShadowBloodHunter: maafkan jika updatenya lama ya. Dan thanks dukungannya. *terharu* T∆T

5. CeMiLauDelFlo BFF: ini sudah lanjut kok dan maaf jika ada kesamaan dengan cerita anda. Aku sama tidak tau tentang hal itu. Maafkan sekali lagi ya. smile emoticon

6. Khairun209: cie tebakannya benar. Namanya juga harem pastilah jealous. xD

7. Asha: yap! Kau benar! Ini kan harem jadi ada bumbu jealous lah! Hahahah...

8. Thex-killer: yap kau benar! XD Gempa memang favorit ku juga. heart emoticon

9. Nayu: maafkan jika pendek. Mereka emang so sweet di setiap kejadian XD hulululu... Hidup HaliGem *kibar Bendera HaliGem*

10. Ucha951: tentang aku gak akan hiatus kok. Tebakanmu benar nak!/ wat?! Maafkan jika updatenya tidak cepat he he...

11. Alyana: saya memang fujoshi! cie kita samaan *pelukan* ini dan dilanjut. Happy reading ya~

12. Delia: yap! Gempa emang polos dan imut! Chara fav saya tuh! *bangga*

OK that's all. See you in next chapter guys! Love you! ^∆^

-mind to review?

°Yukine Machiato