Dormitory of boys
Chapter 7
Rated: T+
Warn: Boys love/yaoi, typos, AU, etc.
Pair: Hali x Gempa slight other pair. Harem Gempa!
.
.
.
.
.
.
Enjoy~~
Pukul dua dini hari, Gempa terbangun dari tidurnya. Seperti nya ia terkena insomnia lagi.
Gempa mendengus kesal lalu menghela nafas panjang, "Ini sudah jam dua. Kenapa aku harus terkena insomnia lagi? Seperti nya aku tak bisa tidur sendiri."
Gempa pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju ruang tengah dan duduk disofa secara kasar.
"Sekarang apa? Berdiam disini sampai pagi? Haaah.. Mustahil." Sekali lagi ia menghela nafas lalu menyederkan kepalanya pada senderan sofa sambil menutup kedua matanya. Berharap bisa tertidur namun percuma saja.
'Ohh.. Ayolah, aku hanya ingin tidur. Besok hari pertamaku untuk belajar.' Batinnya dengan kesal.
"Gempa?"
Yang dipanggil pun tersentak kaget dan langsung membuka matanya, melihat siapa yang memanggilnya. Dan yang memanggilnya ternyata...
"Ah, ternyata kau Taufan."
Taufan berjalan mendekati Gempa dan duduk disampingnya. Ia tersenyum senang, hatinya sangat senang. Disini hanya ada dia dan Gempa. Tak ada seorang pun yang dapat mengganggunya. Ini kesempatan.
"Sedang apa kau disini? Tidak tidur?" Tanya Taufan menatap Gempa. Yang ditatap hanya bisa menggelengkan kepalanya lesu.
"Tidak. Aku terkena insomnia lagi. Ini menyebalkan. Kalau kau? Tidak tidur juga?" Tanya Gempa kembali. Taufan tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya dengan semangat.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar tadinya. Aku malas tidur. Tapi aku malah melihatmu, jadi aku lebih baik disini saja denganmu." Ucap Taufan terkekeh. Gempa hanya tertawa kecil menanggapi.
"Kau sepertinya sangat lesu, Gempa. Ada apa?"
"Aku ingin sekali tidur namun tidak bisa. Ini membuatku kesal. Aku tidak bisa tidur sendiri."
Taufan tampak berfikir setelahnya. Dan tanpa basa-basi, dipeluknya Gempa dan disenderkan pada badannya. Gempa yang mendapat perlakuan itu terkejut dan ia pun memandang Taufan dengan bingung. Taufan hanya tersenyum saja.
"Akan kutemani kau tidur. Sekarang tidurlah. Kau tidak sendirian sekarang." Ucap Taufan dengan tenang. Diusapnya rambut Gempa dengan halus, membuat Gempa merasa nyaman. Ia pun tersenyum.
"Terimakasih Taufan. Maaf merepotkan."
"Sama-sama Gempa. Apapun untukmu."
Dengan hal itu, Gempa terlelap dengan nyenyak dipelukan Taufan. Deru nafas yang beraturan, menandakan Gempa merasa nyaman dengan posisinya.
Taufan tersenyum bahagia melihatnya. Diam-diam ia mencium puncak kepala Gempa dengan lembut.
"Selamat malam, Gempa. Mimpi indah tentangku ya." Bisik Taufan lalu tertawa pelan.
Beberapa lama kemudian, Taufan ikut terlelap dengan posisi tubuh yang masih memeluk Gempa dengan nyaman. Mereka pun akhirnya tertidur di ruang tengah dengan tenang tanpa ada gangguan.
"Taufan... Taufan... Bangun."
"Hei, Taufan... Ayo bangun."
Taufan membuka matanya perlahan. Dan dilihat nya Gempa yang memandangnya dengan senyuman ramah. Ia pun ikut tersenyum.
"Oh hai Gempa... Selamat pagi. Jam berapa sekarang?" Taufan meregangkan tangannya lalu mengedarkan pandangannya kesekitar ruangan. Masih terlihat gelap.
"Sekarang sudah jam lima. Maaf membangunkan mu terlalu pagi." Ucap Gempa mengusap tekuknya dan tersenyum kikuk. Taufan hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebih lebar.
"Tidak, tidak apa-apa. Perlu bantuan sesuatu? Sekolah baru akan dimulai jam tujuh loh~"
"Ah ya, jika tidak keberatan, Taufan mau kan membantuku membuat sarapan? Tapi jangan memaksa kan diri hehehe.."
Taufan pun memeluk Gempa dengan gemas. Melihat perlakuan dan sikap Gempa yang sopan ini membuatnya tak tahan untuk memeluknya. Gempa sangat menggemaskan menurutnya. Dia harus segera mengklaim Gempa menjadi miliknya. Apapun caranya!
"Tentu saja aku tak keberatan! Ayo kita masak bersama!" Seru Taufan dengan semangat. Gempa pun tertawa pelan.
"Shh... Jangan bicara terlalu keras, yang lain masih tertidur." Bisik Gempa pelan. Taufan mengangguk dengan semangat. Bukankah itu artinya Gempa tidak ingin momen mereka berdua terganggu dengan yang lain? Ah, itu hanya pemikirannya saja.
Gempa berjalan mendahului Taufan menuju dapur. Taufan pun berlari kecil untuk menyusul Gempa. Dan sampailah mereka didapur. Jujur saja, Taufan bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ia sangat payah dalam memasak.
"Sekarang aku harus apa? Jujur saja, aku ini tidak pandai memasak hehehe..." Ucap Taufan tertawa atas ucapannya sendiri. Gempa hanya mengangguk dan tersenyum.
"Tidak apa-apa. Sekarang kau bisa belajar memasak bersamaku. Menurutmu, lebih baik kita membuat apa?" Tanya Gempa melihat-lihat bahan makanan dan tampak berfikir.
"Bagaimana jika omelette saja?! Itu sepertinya bagus untuk sarapan pagi." Saran Taufan dengan semangat.
"Baiklah. Ide yang bagus. Ok, bantu aku menyiapkan bahan-bahannya ya, Taufan."
"Siap master!"
Dengan itu, Gempa dan Taufan memasak sarapan bersama. Mereka melalui momen itu dengan canda dan tawa. Benar-benar menyenangkan.
Waktu sudah menunjukan pukul 05.50 A.M. Taufan dan Gempa telah selesai menyiapkan seluruh sarapan pagi ini. Mereka pun telah selesai menata omelette itu dengan rapi. Mereka tersenyum puas melihatnya.
"Akhirnya selesai juga! Ini cukup melelahkan." Seru Taufan merebahkan dirinya disofa ruang. Gempa hanya tersenyum melihatnya.
"Maaf jika aku menyusahkanmu, Taufan." Ucap Gempa merasa tidak enak. Dengan segera, Taufan menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak, tidak, kau sama sekali tak menyusahkanku. Malahan aku sangat senang bisa memasak bersama denganmu! Kau memang yang terbaik!" Seru Taufan sambil mengancungkan dua jempolnya. Gempa terkekeh geli.
"Syukurlah jika kau senang. Sekarang, Mari kita bangunkan yang lain. Sudah waktunya bersiap-siap."
Mendengar perkataan Gempa, raut wajah Taufan berubah tak senang. Gempa yang melihat itu tentu saja heran. Tadi senang, sekarang seperti marah. Ada apa sebenarnya?
"Kau kenapa, Taufan?" Tanya Gempa bingung. Taufan hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum dipaksakan.
"Tidak. Aku baik-baik saja." Ia menghela nafas lalu memandang Gempa dalam. "Kalau begitu, ayo kita bangunkan yang lain." Pasrahnya. Gempa pun tersenyum senang.
"Tidak perlu. Kami sudah terbangun sejak tadi."
Tunggu... Suara itu...
"Hali?! Se-sejak kapan?" Taufan terkejut melihat keberadaan Halilintar diruangan itu. Disamping nya, ada Api dan Air yang bersingkap dada sembari menatap tajam ke arah Taufan.
Gempa pun tak kalah terkejutnya. Ia menatap Halilintar yang memandangnya dengan tajam. Karena takut, ia pun menundukkan kepalanya.
'K-kenapa Hali menatapku seperti itu?! Hii.. Dia menakutkan.' Batin Gempa menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Tidak biasanya kau bangun sepagi ini, Taufan." Ucap Api dengan nafda yang mengejek. Taufan hanya mendengus kesal dan menatap tajam Api.
"Ini bukan urusanmu." Jawab Taufan dengan singkat. Api terlihat menahan emosi. Taufan acuh-acuh saja.
"Um... S-sebaiknya kita sarapan terlebih dahulu. Nanti kita bisa terlambat datang ke kelas." Ucap Gempa mencoba melerai.
Karena itu adalah permintaan Gempa, yang lain pun mengangguk saja. Halilintar berjalan terlebih dahulu lalu menarik tangan kanan Gempa agar mengikutinya menuju meja makan. Gempa terlihat terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Wajahnya merona samar.
"HALI!" Seru Api, Air, dan Taufan secara bersamaan. Mereka memandang Halilintar dengan kesal dan marah.
Merasa terpanggil, Halilintar pun menoleh dan memandang datar mereka. "Apa?"
"Tanganmu." Desis Api kesal.
"Lepaskan." Lanjut Air dengan nada yang mengancam.
"Dasar bodoh!" Maki Taufan sebal.
Halilintar melihat tangannya yang bergandengan dengan tangan Gempa. Ia pun mengangkat kedua tangan yang bergandengan itu lalu berkata, "ini?"
Mereka serempak mengangguk. Gempa memandang teman-temannya bingung.
"Tak akan." Ucap Halilintar dengan datar lalu menarik kembali tangan Gempa menuju meja makan.
"HALI BODOH!" Teriak mereka dengan serempak. Dalam hati, Halilintar menyeringai senang. Dan disaat yang bersamaan, Gempa tertawa geli dalam hati. Dan itu tanpa alasan.
Gempa telah sampai di kelas X-A, kelasnya. Masih terlihat sepi. Sebenarnya, ia satu kelas dengan Taufan, Halilintar, Air, dan Api. Rencana awalnya pun mereka akan berangkat ke kelas bersama namun setelah selesai sarapan, mereka memiliki urusan masing-masing di kantor guru. Jadilah ia sendiri disini.
Gempa menghela nafas lelah. Ia pun duduk di pojok belakang dekat jendela. Benar-benar sepi namun menenangkan. Sesekali ia tersenyum kecil mengingat kejadian konyol teman sekamarnya. Ia sangat beruntung mengenal mereka.
Tak disadari, seseorang memasuki ruang kelas dan memandang Gempa dengan bingung. Gempa masih asik melamun sambil melihat keluar jendela tanpa memperhatikan sekitarnya.
Karena penasaran, orang itu pun berjalan menghampiri Gempa dan berusaha menyapanya.
"Halo?"
Gempa yang medengar suara itu tersentak kaget. Ia langsung saja melihat siapa yang menyapanya.
"A-ah, maaf. Aku melamun tadi." Ucap Gempa tersenyum kikuk. Orang itu hanya mengangguk dan memandang Gempa datar. "Kau murid baru disini?" Tanyanya.
Dengan cepat Gempa mengangguk. "Ya, salam kenal. Namaku Gempa." Gempa tersenyum manis sambil mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman. Tanpa sadar, orang tersebut merona melihat senyuman Gempa. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya Dan menerima uluran Gempa.
"S-salam kenal." Ucapnya dengan gugup lalu melepaskan ulurannya. Ia pun memandang Gempa kembali. Hatinya berdetak tak karuan. 'Ada apa denganku?'
"Um.. Kalau boleh tau, namamu siapa ya?" Tanya Gempa penasaran. Wajahnya terlihat sangat imut. Tanpa sadar, orang itu tersenyum kecil.
"Fang. Namaku Fang."
Permainan yang sebenarnya pun dimulai.
=TBC=
A/n: Halo semua, kembali dengan saya. Maaf jika saya tidak update lama sekali, Dan maaf karena saya tidak bisa membalas review kalian. Tapi saya janji akan membalasnya untuk chap ini di chap berikutnya. Hahahaha, terimakasih yang sudah setia menunggu. Sekali lagi maaf ya. :) , Ok segini dulu buat chap ini, maaf jika kurang puas hehehe...
-Mind to Review?
¶Yukine M
