Author : SeHyun
Cast : BaekYeol
Other cast : EXO Members ! etc~
Genre : Romance Yaoi School Life etc~
Rated : T ke M (berubah sesuai alur cerita)
Disclaimer : FF ini murni imajinasi dari sehyun sendiri. Jika FF sehyun memiliki kesamaan cerita silahkan dikomen atau kritik pedes sekalian juga gakpapa. So! No Plagiat yah Chingudeul Saranghae! ^^
a/n : Annyeonghaseyo chingudeul! Sehyun hereee! Sebelumnya sehyun mau ngucapin terima kasih banyak buat para readers. Review kalian lucu-lucu bangett hehe. Maaf sehyun gak bisa balesin satu-satu. Sehyun sibuk banget belajar sbm *curhat. Tapi masih aja sempet-sempetnya post ff wkwk~ Nanti kalau ada banyak kesempatan Sehyun jawab sebisa sehyun deh hehe
Keliatannya kalian pada bingung sama ff sehyun ya? Emang sehyun suka membolak-balikin cerita gaje yang suka bikin readers bingung dah gitu nggak ngefeels lagi -_- *mian yah
Pertanyaan kalian bakal kejawab kalau ngikutin terus alur ceritanya kok *mancing~ Oke segitu aja cuap cuap nyebelin sehyun. Kalau masih belum jelas tutup aja webnya yah daripada otak kalian sakit baca ff amatiran udik ini *hiks T-T
WARNING! YAOI! BOY X BOY! Gak suka baca FF YAOI mohon diclose! No Bash! Love Peace!
WE ARE ONE!
.
.
-Enjoy-
.
.
.
Baekhyun merasa gemetaran. Mau tidak mau dia harus berbalik dan memenuhi permintaan Chanyeol. Dirinya sudah merasa skak mat. Baekhyun akan mati hari ini. Kaki mungilnya mulai melangkah keluar sebelum akhirnya dia menarik suatu benda untuk menutupi wajahnya. Namun...
"Kau..."
-BaekYeol Area!-
Sejak keluarga Byun hancur akibat orang tuanya bercerai. Baekhyun pindah bersama ibunya ke Seoul. Sedangkan ayahnya berada entah dimana bersama dengan wanita jalang yang menghancurkan rumah tangga mereka.
Baekhyun yang saat itu sudah masuk sekolah menengah kelas satu pun harus ikut pindah sekolah. Keluarga Baekhyun awalnya memang orang punya. Tuan Byun, appa Baek memiliki perusahaan yang cukup besar. Bahkan dulu namja manis itu hidup terkesan serba mewah.
Namun sekarang tidak. Mereka lebih memilih meninggalkan rumah mereka dan pergi jauh dari appa Baekhyun. Hidup Baekhyun dan ibunya pada masa awal sangat sulit. Tentu saja mereka masih belum punya tempat tujuan dan uang mereka tidak banyak. Beruntung kerabat ibu Baekhyun mau meminjamkan klub malamnya untuk dikelola oleh ibu Baek. Karena itulah klub malam ini dijadikan sumber penghasilan untuk kehidupannya dan putranya tercinta. Memang terdengar agak kurang bermoral membiayai hidup dari sebuah tempat hina. Tapi mereka bisa apalagi? Inilah yang mereka punya sekarang.
Baekhyun tidak pernah bersedih dengan kondisinya. Justru dia membantu perekonomian ibunya dengan mendapatkan beasiswa disekolah yang terkenal elit. SM SHS. Pemuda berwajah manis itu juga tidak segan membantu ibunya diklub malam. Meski tidak jarang banyak pemabuk berat yang suka menggodanya.
Tapi setelah hampir tiga tahun Baekhyun menjadi terbiasa dengan semua ini. Kehidupannya memang sulit. Namun Baekhyun bukan orang yang pantang menyerah. Dan sekarang disinilah namja mungil ini. Berdiri kaku meratapi nasib sialnya..
Baekhyun POV
Tubuhku sama sekali tidak mau bergerak mendengar suara bassnya. Beberapa menit yang lalu setelah melihat ternyata si penguasa sekolah tukang bikin ribut sekaligus pembunuh berdarah dingin itu ada diklub malam ibuku! Oh Byun Baek kau memang berlebihan mengatainya. Tapi hey! Klub malam ibuku ini memang tidak begitu terkenal meski selalu ramai. Namun kenapa seorang Park Chanyeol yang suka bermain ditempat mewah mau bermain kesini? Apa dia sudah kekurangan uang?
Berkali-kali aku menggelengkan kepala pada Lay Hyung agar dia tutup mulut. Tidak memberitahu siapa aku dan apa yang terjadi dengan botol pecah itu meski Chanyeol bertanya terus padanya. Beruntung Lay hyung tahu tentang Chanyeol. Kenapa Lay hyung tahu? Tentu saja karena aku selalu curhat padanya. Jadi Lay hyung tahu kalau namja berandal itu yang selalu kumaksud dan harus kuhindari.
Tidak berapa lama ibuku datang melihat kekacauan yang kubuat. Salah sendiri kenapa menyuruhku membawa botol-botol itu sendirian? Tapi itu juga bukan salah ibuku! Melainkan salah si tiang listrik pembantai yang suka bikin onar yang duduk disana. Huh! Benar saja kan hari ini aku pasti kena incarannya. Incaran yang selalu dimaksud Chanyeol itu semacam mainan sehari-nya penguasa sekolah. Biasanya keempat orang itu (karena Luhan tidak suka ikut mereka jika sedang membully orang) selalu membuat masalah dengan membully siswa misalnya.
"Bisa aku minta tambah?" tiba-tiba suara bass itu mulai terdengar lagi.
DEG!
"Omo! Baby! Kau ini sudah eomma bilang kalau kau tidak kuat jangan bawa-bawa itu! Lay cepat bersihkan pecahan botol ini dan Baby kau gantikan Lay dulu untuk sementara! Sudah sana cepat layani pemuda itu"
Mati aku... Eomma... Apa kau tidak paham kalau aku sedang menghindar darinya?
Kepalaku terus berputar memikirkan bagaimana cara menutupi penampilanku sekarang. Chanyeol pasti tahu kalau aku anak sekolahnya dan saat ini hanya ini satu-satunya jalan. Aku melihat wig berwarna coklat terang yang tergeletak dimeja yang tidak jauh dari tempatku berdiri.
Apaboleh buat. Sudahlah sekalian saja malunya. Ini juga demi kebaikanku juga.
"Kau..."
Chanyeol memanggilku lagi ketika aku berbalik. Kakiku melangkah dengan cepat dengan gerakan seperti tentara sigap menuju meja berisi botol-botol yang tersusun rapih dirak belakangku. Kepalaku terus menunduk tanpa mau menatap wajahnya. Bahkan menjawab pertanyaannya saja tidak akan!
"Hey, Kau!" panggilnya lagi.
Duh, bagaimana ini? Dia memanggilku lagi. Apasih yang tiang listrik ini mau? Perlahan dengan degupan jantung yang berdentum lebih keras dari musik disini kepalaku menoleh tanpa berani melihat matanya. Aku takut Park Chanyeol langsung mengenaliku saat ini juga.
"Kenapa kupanggil sejak tadi tidak menoleh?" tanyanya kesal.
Tubuhku membungkuk pelan. "Ma...af" suaraku terdengar begitu gugup dan gemetar. Apa dia mengenaliku dan hendak mengejekku sekarang juga? Kulihat tidak banyak orang yang bisa di-bully disini selain aku. Ahhh... Aku selalu benci dengan kenyataan bahwa aku sangat takut berhadapan dengannya. Aku hanya tidak ingin kesialan setahun yang lalu terulang lagi! Beruntunglah aku selalu selamat dari keseharian membully si tiang listrik..
"Aku cuma mau minta tambah satu gelas lagi" ucapnya datar sambil menyodorkan gelas berukuran mini itu. Mataku membulat. Apa? Dia tadi bilang apa? Tapi... Dia tidak mengenaliku? Oh! Tentu saja penyamaranku berhasil! Yeayyyy!
"Ah... Maaf" dengan cepat aku langsung mengambil gelas mini itu dan berbalik. Lebih baik meracik minuman ini dengan membelakanginya dari pada berhadapan dengannya. Hahh...
"Kau terlihat familiar. Apa aku salah melihatmu?"
DEG!
Oh Tuhan apakah sekarang dia mengenaliku? Padahal kurasa penyamaranku seperti ini sudah berbalik dan memberikan gelas itu kepadanya. Tapi dengan gerakan cepat Park Chanyeol langsung menahan tanganku dan mata kami bertemu! Ohh tidak!
"Benar. Kau begitu familiar. Aku memang baru pertama kali kesini. Tapi begitu melihatmu aku merasa mengenalimu" ucapnya masih datar dengan tatapan tajam.
Aku berusaha menelan ludah menatap sorot matanya yang terkesan dingin. Namun memang harus kuakui. Dari jarak sedekat ini memang tidak wajar jika Chanyeol mengetahui bahwa aku pria sama dengannya. Baru kali ini aku memandang wajahnya. Ternyata Park Chanyeol yang terkesan dingin dan menakutkan mempunyai wajah yang tampan..
Eh! Apa yang baru saja kau katakan Byun Baek?! Kurasa otakmu sudah menggila karena memikirkan bagaimana cara keluar dari situasi ini. Oh ya! Aku malah melupakan niatku untuk menghindar darinya.
"Maaf Tuan... Bisa kau lepaskan tanganku? Aku tidak mengenalmu. Sungguh" lirihku memalingkan muka. Entah kenapa pipiku terasa panas saat menatap matanya.
"Ah, maaf"
Maaf? Apa telingaku salah dengar? Chanyeol meminta maaf pada seseorang? Meskipun suaranya memang terkesan dingin tapi dia meminta maaf?!
"Emh... Terima kasih" ucapnya lagi lalu mengangkat gelasnya dengan kikuk. Yak! Apa-apaan dia? Kenapa tingkahnya jadi aneh begini? Ekspresinya yang sedikit gugup saat meneguk gelasnya juga aneh! Ingatkan aku untuk memberi tahu seluruh dunia bahwa Park Chanyeol sudah gila..
"Sama-sama" balasku pelan dan langsung berbalik pergi.
"TUNGGU!" suara berderit kursi digeser membuatku berdiri kaku.
"Ya?"
"Bisakah aku tahu siapa namamu?" tanyanya lagi dengan nada sopan yang masih datar. Ini sangat langka dan rasional. Tunggu! Aku ini kan sedang menyamar menjadi yeoja! Pantas saja dia berekspresi begitu tadi. Cih, dasar genit! Dia mau menggodaku ya? Tapi tidak akan mempan! Aku ini namja tahu! Tenyata si tiang listrik itu memang sudah punya niat jelek padaku yang berpenampilan yeoja.
"Maaf tapi..."
"Baeby! Namanya Baeby" sahut satu suara yang langsung merangkul pundakku.
Kepalaku semakin menunduk dalam sambil terus mengumpat kata-kata kotor dalam hati. Sial! Zhang Yixing alias Lay hyung! Lehermu akan kucekik sekarang jugaa!
"Baeby?"
"Iya! Ada apa? Kau menyukai yeo-dongsaengku? Dia yang kumaksud tadi" senyum Lay hyung menekan kata yeo seakan-akan mengejekku (memang begitu bukan?) dan dia mendorongku mendekat pada meja bar tempat Chanyeol berada.
"Hyu— eh.. maksudku. Oppa!" pekikku kaget dan Lay hyung tersenyum penuh kemenangan. Siaaaal dia berhasil menjebakku dalam candaanya! Apa boleh buat dari pada Chanyeol tahu siapa aku. Kutahan saja nafsuku untuk menghabisinya nanti!
"Baeby" panggil Chanyeol dan entah kenapa dengan bodohnya aku malah menoleh. Ini kebiasaan karena Lay hyung selalu memanggilku begitu. Bodohnya aku.. *hiks
"Emh... Maaf aku harus pergi.."
"Tunggu. Boleh aku minta nomer ponselmu?"
What the...?
"Kurasa aku memang benar-benar mengenalmu. Apa kita boleh kenal lebih dekat?" ucap Chanyeol sopan dengan suara beratnya. Ini sangat berbeda dengan dia yang disekolah.. Ada apa dengannya?
"Maaf tapi aku tidak punya ponsel" bohongku.
"Kalau begitu ayo kita keluar. Kau tidak sibukkan? Kita bisa ngobrol"
Apa? Hey apa benar kau ini Park Chanyeol? Ups! Pikiranku melantur lagi. aku ini sedang berpenampilan yeoja! Wajar jika dia tertarik denganku. Malangnya aku...:(
"Tapi..."
"Sudahlah Baeby. Lebih baik kau ikut saja dengannya biar aku yang jaga disini" cengir Lay hyung yang langsung mendapatkan death glare dariku.
"Tidak. Aku masih banyak urusan tuan. Sebaiknya kau cari wanita lain!" sahutku terdengar cukup kasar setelah tahu niatnya. Mata Chanyeol yang membulat mulai menyipit menatapku. Apa-apaan dia? Seperti menyelidikiku. Jangan-jangan..
"Sudah puas mainnya?" suara lain dibelakang Chanyeol membuatku menganga lebar. Dia...
"LUHAN!" pekik Chanyeol cukup keras. Keliatannya dia sangat kaget.
"Aku baru saja meninggalkanmu 15 menit dirumah dan kau malah duduk disini sambil minum dan menggoda pelayan bar?! Dasar anak bodoh!" amuknya cukup keras dan membuatku tersentak. Ini benar Xi Luhan yang manis dan berkelas?
"Bukan.. ini—" Chanyeol berusaha berdalih tapi kalimat pembelaannya berhenti melihat Chen dan Kai yang diseret Luhan didepannya dengan cukup kasar. Ternyata Luhan punya wajah imut tapi galak juga. Kulihat Kai meringis memegangi kepalanya sepertinya dia habis dipukuli Luhan.
"Maafkan sepupuku yang bodoh ini tadi telah menggodamu. Dia tidak bermaksud begitu kok" ucap Luhan sambil membungkuk maaf dihadapanku. Aku hanya mengangguk memaklumi.
Tunggu! Tadi Luhan bilang apa?
Sepupu? Jadi Luhan dan Chanyeol bersaudara?! Pantas saja Chanyeol bisa bersikap seenak jidat Kim Jongdae alias Chen yang semakin lebar disekolah! Chanyeol ternyata cucu pemilik SM SHS?! Ohh... Dunia sungguh tidak adil...
"Nah ayo cepat pulang! Haraboji menunggumu bodoh!" titah Luhan menarik jaket kulit Chanyeol yang tidak terkancing. Chanyeol pasrah saja dengan Chen dan Kai yang mengikutinya dari belakang. Tapi aku tidak melihat Kris? Dimana dia?
"Baeby" suara bass itu membuatku menoleh kembali.
"Kita akan bertemu lagi" ucap Park Chanyeol dengan senyuman nakal yang menurutku cukup menakutkan.
.
.
.
"Kau tau peraturannya kan?" terdengar suara bariton yang membuat siapapun bergidik ngeri dengan tatapan tajamnya.
Sang incaran Park Chanyeol pagi ini mengangguk dengan lemas. Sesekali menghela nafas dengan susah payah. Sangat sial dipagi buta ini dia bertemu dengan Chanyeol. Entah angin apa yang membuat Chanyeol datang pagi bersama dengan Kai dan Chen. Asal namja incaran itu tahu saja. Semalam mereka,Chanyeol, Kai dan Chen bahkan tidak pulang kerumah masing-masing. Malah menginap dirumah Kris tanpa mengindahkan omelan Luhan.
"Kalau begitu lakukan sesuai dengan perintah!" ucap Chanyeol lalu mendorong dengan keras bahu sang namja malang keloker sampai bunyinya menggema dilorong yang masih sepi.
"Ayo Kai! Chen!" dan Chanyeol pun berlalu meninggalkan incarannya pagi ini dengan senyum kemenangan.
"Pagi Hun!" Baekhyun seperti biasa masuk kedalam kelas dan menyapa teman sebangkunya dengan ceria. Meski tadi malam bagaikan menonton film horror dia bertemu dengan para penguasa sekolah diklub malam ibunya. Tapi Baekhyun orang yang cepat berganti mood. Dirinya berusaha bersikap biasa hari ini.
Sehun yang sedang mencorat-coret buku mengangkat kepalanya lalu tersenyum. "Pagi Baek"
"Ada tugas apa? Kok kau baru mengerjakannya disekolah?" tanya Baekhyun sambil sesekali mendelik kearah Sehun.
"Aniya. Bukan apa-apa. Aku hanya lupa membuat laporan biologi kemarin" papar Sehun sambil menyembunyikan catatannya. Baekhyun mengangguk-angguk ayam memaklumi. Tetapi kemudian dia menggoda Sehun yang notabane-nya siswa terpandai disekolah.
"Haha ternyata kau siswa terpandai disekolah bisa lupa juga mengerjakan tugas. Biasanya kau yang paling rajin Sehun"
Sehun hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Baekhyun. Membetulkan letak kacamata tebalnya yang sedikit miring. "Kurasa.. Aku pikir pagi ini aku sedikit lalai.." lirih Sehun pelan. Namun Baekhyun masih bisa mendengar jelas perkataan Sehun. Raut muka sahabatnya ini berubah datar dan kosong. Sehun masih mencorat-coret buku didepannya tanpa ada aura semangat hidup. Baekhyun hanya mengangkat bahunya. Mungkin temannya saat ini sedang kelelahan akibat belajar.
"KYAAAAAAAAAA!" satu teriakan membuat Baekhyun terlonjak kaget.
"Sial! Pasti mereka lagi" dengan cepat Baekhyun berdiri dan menjulurkan kepalanya keluar. Padahal Sehun yang duduk disampingnya terlihat kesusahan ketika Baekhyun memajukan semua badannya kejendela disamping tempat duduk Sehun. Sehingga dia berhenti menulis.
"Baek! Singkirkan tubuhmu aku tidak bisa mencatat!"
"Ohhh! Sehun! Sehun! Lihat itu Kris!" sahut Baekhyun antusias. Sehun menghela nafas berat.
"Bukannya tadi kau mengumpat kelompok itu?"
"Aishhh.. Lupakan! Dia sangat tampan pagi ini~" Byun Baek... Dimana sikap ketidak pedulianmu pada mereka pagi ini? -_-
Sehun mendesah lemas lagi. Pandangannya dialihkan keluar. Disana para yeoja berkumpul seperti biasa. Berfoto ria dan memberikan kado-kado kecil kepada para penguasa sekolah. Tidak berapa lama sesosok manusia yang merupakan tempat berlabuh arah pandangan Sehun, berada disana.
Dia tersenyum. Gumam Sehun dalam hati. Sudut bibirnya sedikit tertarik. Sehun masih memandang seseorang bertubuh mungil yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Baekhyun mengalihkan pandangan menatap Sehun. Lalu keluar jendela lagi. Terus berkali-kali sampai dia menemukan jawabannya.
"Hun. Apa yang kau lihat?" tanya Baekhyun penasaran. Seketika Sehun gugup dan langsung menjauhkan tubuhnya dari jendela.
"Bukan apa-apa" dustanya
Baekhyun menyipitkan kedua matanya. Menatap sinis Sehun dengan penuh selidik. Kepalanya kembali menoleh keluar jendela. Dibawah sana Kris bersandar dimobilnya sambil memainkan ponsel. Pipi Baekhyun merona ketika sekilas Kris menatap keatas. Pandangan mereka bertemu sekilas. Jantung Baekhyun serasa berhenti saat itu.
Namun pandangannya beralih ketika Luhan mendekati Kris dengan gaya yang menurut Baekhyun sangat manja. Padahal semalam Luhan terlihat sangat galak pada Chanyeol CS minus Kris. Tidak berapa lama Kris tersenyum seadanya. Senyum yang tidak pernah Baekhyun lihat. Kris tersenyum kepada Luhan dengan sangat lembut. Apalagi tangannya! Tangan Kris mengelus kepala Luhan dengan mesra! Ohh! Apa-apaan kau Kris?! Baekhyun seketika memanas melihat adegan yang menurutnya cukup mesra untuk sekedar teman kelompok.
Tiba-tiba dirinya terlihat gusar. Tanpa Baekhyun sadar sedari tadi ada yang memandangnya dari bawah dengan tatapan tajam. Mata Baekhyun teralihkan ketika menatap sosok nista itu dibawah sana. Debaran mematikan lebih besar dia rasakan. Bahkan aura membunuh juga terasa disekitarnya. Memorinya kembali berputar mengingat kejadian kemarin malam.
Park Chanyeol menatapnya.
Mati aku. Rutuk Baekhyun menyesali pandangannya untuk kesekian kalinya. Chanyeol masih memandangi Baekhyun dengan mata dinginnya. Disampingnya ada Kai dan Chen yang asik bermain game diponsel. Kenapa mereka bahkan tidak masuk kelas? Apa mereka memang sengaja disana untuk menjadi pusat perhatian?
Ketika Chanyeol memperhatikan seseorang. Saat itulah dia akan menjadi incaran mainannya hari itu. Sekujur tubuh Baekhyun terasa lemas. Namja mungil ini berusaha bergerak untuk menghindar dari jendela. Tapi sangat sulit. Menelan ludahnya masuk kekerongkongan saja susah apalagi bergerak? Pikirannya memang selalu pesimis.
"Baek? Kau kenapa?" tanya Sehun melihat perubahan wajah Baekhyun menjadi memucat.
"Sehun mati aku..." ringisnya sambil memejamkan mata.
"Maksudmu?"
"Itu" Baekhyun menunjuk kebawah dengan tangan didepan perutnya tanpa terlihat Chanyeol. Sehun mengikuti arah pandang Baekhyun. Namun belum sempat dia melihat keluar jendela lantai tiga bahunya sudah ditarik mundur.
"Jangan!" jerit Baekhyun.
"Aku sudah melihatnya. Mati aku! Hari ini aku pasti akan habis!" pekiknya histeris. Baekhyun benar-benar namja pesimis yang lebai. Beberapa murid yang baru datang langsung memperhatikan mereka. Sehun hanya menghela nafas. Mencoba menenangkan Baekhyun yang menutup muka dengan kedua tangan sambil menggeleng-geleng gelisah.
"Baek. Tenang.. Itu tidak akan terjadi. Berpikirlah hal yang positif!" saran Sehun lalu mengelus lengan Baekhyun lembut. Baekhyun membuka tangannya. Wajahnya terlihat pucat. Sehun tersenyum meyakinkan. Lalu mengangguk dan mengarahkan dagunya ketempat duduk Baekhyun. Mengisyaratkan namja mungil ini untuk duduk. Baekhyun mengangguk. Lalu duduk ditempatnya.
Dibawah sana Chanyeol melihat Baekhyun dan Sehun bertatapan mesra seperti halnya Kris dan Luhan tadi dipikiran Baekhyun. Amarahnya sudah diubun-ubun. Pagi-pagi sudah ada yang merusak moodnya. Membuat Chanyeol geram saja. Chanyeol langsung menendang plang bertuliskan tanda 'parkir' disebelahnya dan seketika papan kayu itu roboh. Chen dan Kai yang baru sadar langsung melongo.
"Apa yang kau—"
"CEPAT MASUK!" teriak Chanyeol dan mereka berdua langsung mengikuti Chanyeol. Begitupun Kris yang menghela nafas berat lalu menggeleng-geleng pelan. Diikuti Luhan yang menatap Chanyeol dengan tatapan lelah.
Baekhyun POV
Sudah hampir seminggu kehidupan sekolahku sangat nyaman! Ini adalah hal langka karena ini tidak seperti biasanya. Jujur saja kalian pasti kaget jika jadi aku. Ya.. Tentu saja! Aku anak yang selalu bisa menjadi sasaran empuk disekolah ini dan hal tersebut diluar incaran para namja penguasa sekolah. Tidak sedikit ada namja-namja usil yang mengerjaiku setiap harinya. Teman sekelasku misalnya. Meski tidak rutin juga sih.
Mereka hanya suka menjegal kakiku saat aku susah berjalan membawa buku-buku kekelas. Menyuruhku menggantikan tugas mereka jika disuruh seonsangnim. Membelikan mereka minuman kalau mereka malas kekantin. Menggantikan tugas piket mereka atau..
Oh sial!
Bahkan kehidupan sekolahku sudah sangatlah BURUK! Dan entah kenapa aku menjadi anak yang sangat penurut dengan segala permintaan menyusahkan mereka. Bodoh kau Byun Baekhyun... Sebenarnya kau ini namja terpintar disekolah dengan beasiswa disekolah atau tidak sih?
Jika dipikir-pikir jadi namja underdog memang tidak enak. Anak dari kalangan kecil sepertiku disekolah sering disebut dengan istilah itu, seperti pengecut disekolah. Atau mungkin pembantu disekolah?
Tapi bukan hanya aku saja kok. Masih banyak yang LEBIH bernasib sial lebih daripadaku. Sehun memang geek. Tapi dia tidak pernah terkena incaran Park Chanyeol si brengsek penguasa sekolah itu. Aku masih sangat bersyukur sampai saat ini Sehun belum terkena imbas dari kekesalan Chanyeol. Mungkin tiang listrik berjalan itu terlalu sibuk menghabisi siswa yang lain. Lagipula bukan hanya Sehun geek disekolah ini.
Kurasa orang-orang seperti itu membully kami juga karena iri. Mereka tidak pintar atau selalu memenangkan olimpiade seperti kami. Makanya mereka melampiaskannya pada yang berhasil berbuat begitu dan itu termasuk aku! *baekki emosi~
"Baek. Aku ada urusan. Kau kekantin duluan saja" kata Sehun sambil menarik kursinya hendak berdiri.
"Tunggu! Kau mau kemana?" cegahku menahan lengannya. Sehun tersenyum. Sebuah buku yang cukup tebal dihimpit didepan dadanya.
"Tadi sudah kukatakan bukan? Aku ada urusan Baekki" ucapnya lembut seperti biasa. Suara Sehun memang berat dan sedikit serak. Namja ini sangatlah sopan, pendiam, dan juga kalem. Siapapun yang mendapatkan Sehun nantinya pasti akan sangat beruntung. Sehun namja yang sangat baik.
Aku melepas tanganku yang menahannya. Wajahku menyinggungkan ekspresi cemberut. Namun ada hal yang aneh pada namja tampan ini. Raut muka Sehun sejenak berubah. Ada apa dengannya? Apa dia masih sakit? Sudah seminggu ini Sehun selalu pergi sendiri seperti kemarin-kemarin. Jika kuajak dia kekantin dia selalu menolak dengan alasan ada urusan seperti ini. Sebenarnya urusan apa sih?
"Boleh aku menemanimu?" Sehun melebarkan mata mendengar tawaranku. Kepalanya menggeleng cepat seperti anak kecil menolak makan sayuran hijau. Oh, dia terlihat polos dan manis. Aku jadi ingin selalu melindunginya..
"Kenapa?" kesalku. Tingkah Sehun mulai aneh.
"Ini urusanku Baek. Kau tidak perlu ikut campur" ucapnya dan langsung mengambil langkah seribu. Sehun berlari keluar kelas dengan cepat dan aku lengah! Sial! Si kacamata tebal kalau lari ternyata cepat juga.
"Aishh... Anak aneh itu menyebalkan sekali akhir-akhir ini!"
Tidak ada pilihan lain selain kekantin sendiri. Ah! Mungkin aku bisa bertemu dengan Kyungie temanku yang bermata besar itu disana. Yasudah lebih baik aku cepat-cepat makan daripada perutku kelaparan minta diisi sejak tadi.
"Byun Baekk~" panggilan manja itu membuatku berhenti dan menoleh. Aku mendesis saat melihat sekelompok anak kelas yang biasa menyuruhku mendekat. Hah... mereka pasti akan melakukannya lagi. Sial!
"Apa?" ketusku berusaha sangat dingin didepan mereka.
"Aih sikap seperti itu tidak cocok untukmu manis~" Daehyun mulai maju dan menyentuh daguku. Namun dengan cepat kutepis.
"Hentikan! Aku tidak suka! Aku tahu maksud kalian kan? Kau mau apa? Cola dingin? Ya ya ya aku sudah tau semua pesanan kalian berempat seperti biasa. Sudah yah aku pergi dulu!" kataku sambil teriak-teriak dan mereka tertawa heboh.
"Baekhyunnieee memang tahu kami mau apa. Thanks yah baby~" sahut Daehyun lagi. Aku tidak suka berlama-lama dengan mereka lebih baik segera keluar kelas daripada kena yang macam-macam. Sudah menjadi kebiasaan jika Daehyun akan mendatangiku seperti ini. Menyuruhku bak babu tentunya. Cih dasar namja-namja brengsek!
Ternyata benar Kyungsoo sedang makan disana. Langsung saja aku menghampirinya, memesan makanan, dan menceritakan hariku. Tidak berapa lama aku sudah keluar dari kantin bersamanya. Kyungsoo juga salah satu sahabat terbaikku setelah Sehun. Tubuhnya kecil. Matanya bulat besar dan bibirnya sangat lucu. Sikapnya yang polos dan pendiam membuat siapa saja senang berteman dengannya. Dan untungnya Kyungsoo bukan namja underdog sepertiku disekolah. Dia hanya siswa biasa tanpa beban.
"Kyungie apa yang harus kulakukan terhadap Sehun? Dia menghindariku terus dari kemarin. Apa aku berbuat salah?" ucapku kesusahan dengan empat kaleng soda dingin didepan dadaku. Tanganku tidak cukup untuk membawa semuanya.
"Memang kau berbuat apa sampai Sehun begitu?"
Aku menggeleng. "Tidak tahu. Sepertinya Sehun sedang kesulitan dengan pelajarannya akhir-akhir ini. Dia juga tidak mau bercerita meski aku memaksanya. Aishh... apa yang harus kulakukan Kyungie?"
Kyungsoo terlihat berpikir. Matanya kemudian membulat lebih lebar seperti ingin mengeluarkan seluruh bola matanya dengan jari telunjuknya diacungkan keatas. Menyeramkan!
"Apa?" tanyaku heran.
"Seminggu yang lalu aku melihat dia berbicara dengan seseorang dilorong!" sahut Kyungsoo seperti mendapat berita pencerahan dan sangat antusias memberitahukannya kepadaku.
"Siapa?" sekarang gantian Kyungsoo yang menggeleng dengan wajah polos.
"Aku tidak tahu"
"Ya! Kalau tidak tahu kenapa kau bercerita?"
"Itu karena aku memang melihat Sehun berdiri lemas didepan loker. Lalu beberapa namja yang habis berbicara dengannya pergi meninggalkan Sehun. Mereka berjalan menjauh membelakangiku. Jadi aku tidak bisa menebak siapa mereka Baek" jelas Kyungsoo dan aku mulai terlihat berpikir keras bak detektif conan.
"Hmm... Kau tau Kyungie?"
"Apa?" kami berdua mulai berhenti berjalan. Aku masih terlihat berpikir. Tanpa kusadari Kyungsoo jadi iba melihatku berjalan kesusahan seperti itu dengan empat cola yang masih bertengger masih didepan dadaku. Apa Baekhyun tidak kedinginan? Gumam Kyungsoo.
"Baek colanya—"
"—SEHUN!" potongku seraya berteriak keras memanggil namja berkacamata tebal yang berjalan keluar area taman sekolah.
"Eh! Dia mau kemana? Bukannya hampir bel?" tanya Kyungsoo yang penasaran.
Aku mulai menyipitkan kedua mata. Berusaha memperjelas pengelihatan dari mataku yang memang lumayan sipit ini. Sehun tidak sendiri. Ada beberapa orang disana tapi mereka membelakangiku dan Kyungsoo. Lagipula jarak mereka cukup jauh sehingga tidak terlihat jelas. Tak terkecuali denganku yang memang peka akan penampilan culun Sehun. Area disekitarnya terlihat sepi karena beberapa murid sudah hampir masuk kekelasnya masing-masing.
Mataku melebar ketika melihat Sehun mulai ditarik paksa oleh beberapa dari mereka. Tubuhku sontak bergerak penuh kecemasan dan langsung melempar beberapa cola dingin ini kearah Kyungsoo.
"Baek! Cola dinginmu—"
"Kyungie! Titip yah cola ini. Aku ada sedikit urusan!" dengan cepat tanpa aba-aba lagi aku langsung berlari ketempat Sehun yang diseret. Meninggalkan Kyungsoo yang keheranan dengan sikapku yang selalu overaktif ini.
Aku sangat bersyukur dengan tubuh kecil yang selalu menjadi bahan ejekan Sehun yang lebih tinggi dariku. Nyatanya? Tubuh kecil ini bisa mengendap-endap tanpa ketahuan namja-namja kasar yang masih membelakangiku.
Jika emosiku tidak bisa mereda dengan cepat dua namja itu sudah kuhabisi sejak tadi! Hanya saja aku tahu diri. Tubuh mereka lebih besar dariku. Bisa-bisa daripada menolong Sehun malah aku yang babak belur nantinya. Lebih baik aku mengikuti mereka saja dulu mau menyeret Sehun kemana. Jujur saja aku tidak pernah mengenal mereka. Pasti mereka siswa kelas lain. Dilihat dari perawakan mereka kedua namja yang menyeret Sehun seperti berandalan layaknya Park Chanyeol. Eh, kenapa aku malah memikirkan dia? Heiishh.. pikiranku jadi ngaco. Lagipula mau apa mereka dengan Sehun si kutu buku ini? Apa Sehun berbuat kesalahan? Ah.. tidak-tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk! Ayo selamatkan Sehun terlebih dahulu Byun Baekhyun!
Akhirnya setelah berjalan lumayan jauh dari areal taman sekolah. Sehun ditarik kedalam sebuah ruangan. Aku tahu tempat ini. Ini adalah gudang sekolah yang jarang dipakai. Tempatnya memang jauh dari gedung sekolah. Letaknya dibelakang pula. Ada yang bilang tempat ini cukup menyeramkan untuk menguji nyali para siswa siswi disini. Tapi aku tidak percaya adanya hal seperti itu.
Ah! Mereka malah menutup pintu gudang itu! bagaimana ini? Sehun sudah dibawa masuk dan aku tidak bisa apa-apa selain mengintip dari jendela yang sedikit berlubang ini. Apa boleh buat.. Bertahanlah Oh Sehun..
"Sunbae ini orangnya sudah kami seret kesini" ucap salah seorang dari namja itu. Ternyata mereka hobae! Sialan sekali mereka itu. Padahal mereka adik kelas tapi berani bersikap sekasar itu dengan Sehun yang notabane-nya lebih tua dari mereka? Sial!
"Bagus sana kau boleh pergi!" usir seorang namja yang duduk diatas meja. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang oleh kedua namja itu. Tidak berapa lama terdengar suara pintu terbuka. Aku mulai bersembunyi dibalik tumpukan kardus-kardus entah apa ini. Setelah dikiranya mereka menjauh baru aku kembali mengintip kedalam gudang.
Mataku melebar melihat tubuh Sehun yang sudah terbaring lemah dilantai sambil memegangi perutnya. Namja yang tadi duduk berdiri tepat didepan Sehun yang merintih kesakitan. Belum sempat aku berteriak mataku kembali dikejutkan dengan pemandangan seseorang yang menganiyaya Sehun tadi.
Dia...
.
.
.
TBC
Sehyun jadi bingung apa sehyun harus ngelanjutin ini ff atau ngga? Apa readers masih pada bingung? Takutnya makin kesini makin bingung deh. Sehyun bikin ff emang gaje banget -_- Maklum lah pemula ff yaoi hehe~
