A Princess and The Ganks
Summary : Setelah Sasuke dan Naruto menjadi musuh besar dengan dua Gank berbeda, Sakura yang merupakan sahabat mereka kembali. Ia kembali dan menjadi gadis yang dipuja semua orang. Akankah ketiganya kembali menjadi sahabat? Atau mungkin sesuatu yang lebih dari sekedar sahabat? /AU/SASUSAKUNARU/Highscool-fic.
Previous Chapter
"Persahabatan antara kita hanya masa lalu. Aku tahu,"
.
"Kalau begini, terasa seperti dulu, ya?" Naruto menatap Sasuke sinis lalu tersenyum ragu pada Sakura. "Kita masih bersahabat saja rasanya. Hanya sedikit berbeda."
.
Hanya sebuah foto lama yang menampilkan potret bahagia.
.
Ya, potret bahagia dari tiga orang insan yang masih hijau dan ceria. Ketiganya adalah anak yang baru beranjak 12 tahun. Seorang pemuda berambut blonde spike yang tengah saling melempar tatapan membunuh dengan seorang pemuda tampan berambut raven. Di apit oleh kedua pemuda tersebut, seorang gadis berambut panjang dan berwarna merah muda tengah merangkul keduanya. Pohon akasia besar dengan ayunan dari ban di salah satu cabangnya menjadi latar dari foto tersebut.
.
"Aku juga berjanji kalau aku kuat nanti, aku akan selalu melindungi kalian dan melerai kalian kalau kalian bertengkar. Ya, bahkan jika semuanya tiba-tiba berubah. Kupegang janjiku! Kalian janji juga, ya?"
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
A Princess and The Ganks © Shinji Aime
Inspired by Beelzebub © Ryuhei Tamura
WARNING : OOC, SASUSAKUNARU, Semi Sakura-centric, Alur Lambat
a Highscool-fic
Leave your concrit support with Fave/Follow/Especially Review ∞
Enjoy! Enjoy! Enjoy!
Italic untuk flashback.
Haruno Mebuki benar-benar merasa bahagia saat menatap kedua sahabatnya yang sekaligus tetangganya ini. Uchiha Mikoto nampak terharu saat melihat bayi kecilnya yang tampan dan berambut raven. Lain lagi dengan Uzumaki Kushina yang sedang menyeringai menatap Buah hati pirangnya yang tengah terlelap, anaknya sangat jahil karena senang mencolek pipi Sasuke. Mebuki sendiri tengah terpukau menatap gadis kecilnya yang memiliki rambut-rambut halus berwarna merah muda dikepalanya.
Sungguh pemandangan yang indah menatap 3 kereta dorong bayi yang sedang dijajarkan di depan kursi taman tersebut. Ketiga bayi tersebut terikat erat berkat persahabatan para Ibu mereka yang tinggal berdekatan.
Meski tidak lahir secara bersamaan, namun ketiganya lahir pada tahun yang sama. Uzumaki Naruto baru saja lahir dua minggu yang lalu pada tanggal 10 Oktober dia merupakan anak dari Uzumaki Kushina dan Namikaze Minato. Sasuke Uchiha sudah lahir beberapa bulan sebelumnya pada 23 Juli, Ibu dan Ayahnya ialah Uchiha Mikoto dan Uchiha Fugaku. Satu-satunya bayi perempuan disana, Haruno Sakura yang merupakan putri dari pasangan Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki lahir pada 28 Maret.
Ketiga Ibu muda tersebut memiliki harapan agar ketiganya menjalin persahabatan yang erat dan takkan pernah terpisahkan sampai ajal memisahkan. Harapan yang berat bukan?
Bab III : Kekuatan Sebuah Janji
Sakura benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kushina dan Mikoto yang menjadi aneh semenjak ia kembali. Kemarin, kedua Ibu tersebut menyuruhnya untuk pulang bersama anak mereka. Ia telah menurutinya. Namun, siapa sangka kalau pagi tadi para ibu tersebut kembali mendesak Sakura. Ya, untuk pergi ke sekolah bersama Sasuke dan Naruto.
Ia berusaha mengabaikan keberadaan dua pemuda itu dengan menatap langit pagi. Lain lagi dengan Naruto dan Sasuke yang tengah sibuk memandangi sosok merah muda yang berjalan di depan mereka.
Benar saja, hari itu Sakura benar-benar memakai seragam KGH yang berwarna marun-hitam. Sosoknya kini benar-benar berbeda ketimbang kemarin yang lebih terkesan chic. Kini Sakura terlihat tangguh dan percaya diri. Helaian soft pink sebahunya sedikit diuntai menjadi kepangan kecil dari sisi dahi kebelakang. Ia terlihat cantik dan tangguh secara bersamaan.
Yap, untuk satu hal itu, Naruto dan Sasuke takkan munafik. Sakura memang telah menjelma menjadi gadis yang berbeda-dalam artian baik. Padahal dulunya gadis itu hanyalah gadis cengeng yang sering mengikat rambutnya menjadi berbentuk air mancur. Pubertas itu indah, bukan?
"Ehm." Naruto berdeham untuk menghindari suasana canggung yang kini tercipta diantara mereka bertiga. Sasuke menanggapinya dengan dingin, sedangkan Sakura memelankan laju jalannya dan menoleh ke arah Naruto.
"Kalau memang tidak nyaman…Kita ke sekolah sendiri-sendiri saja. Aku duluan-" Kalimat Sakura terinterupsi oleh Sasuke.
"Kau bodoh? Sekolah hanya tinggal beberapa meter."
"Benar, Sakura-chan. Sudah kepalang tanggung." Timpal Naruto. Kemudian ketiganya kembali melanjutkan perjalanan ke sekolah dalam diam. Ketiganya kini sampai di gerbang KGH. Yang membuat Sakura terkejut adalah keberadaan para anggota Dark Aoda dan Fox Claw yang menunggu di sekitar gerbang.
"Kaichou!" Seru dua kelompok dengan ciri khas berbeda tersebut. Sakura sedikit berjengit mundur karena terkejut, namun tak lama Sasuke dan Naruto menabrak bahunya dari belakang.
"Ke kelas duluan saja." Naruto berkata pada Kiba, ditanggapi dengan anggukan. Kurang lebih Sasuke juga mengatakan hal yang serupa pada Suigetsu. Dua kelompok besar tersebut akhirnya meninggalkan gerbang KGH sambil sesekali melirik ke arah Sakura.
"Cantik."
"Seperti tuan puteri~"
"Beruntung sekali Kaichou bisa pergi ke sekolah bersamanya." Kurang lebih itulah gumaman dari mereka yang membuat Sakura salah tingkah, juga membuat telinga Sasuke dan Naruto panas. Ingatkan keduanya untuk menegur anggota mereka dengan celetukan asal mereka nanti.
"Hm, baru dua hari sudah jadi populer, Sakura-chan?" Goda Naruto yang ditanggapi sinis oleh Sakura. Ia mengibaskan tangannya ke arah Naruto, sedikit memancing senyuman dari si Pemuda Pirang itu.
"Pencari perhatian." Komentar Sasuke yang membuat hati Sakura langsung terasa panas dan kebas. Apa-apaan? Pencari perhatian? Sakura yang sudah terlanjur tersinggung pun kini tengah menatap pemuda itu tajam. Kalau tatapan itu nyata tajamnya, maka pastilah kini wajah Sasuke sudah tercabik-cabik.
"Siapa yang pencari perhatian?" Sakura berujar dengan nada yang dipenuhi segala kemarahan dan ketersinggungan. Ia memicingkan manik emeralds-nya pada Sasuke. Yang ditatap hanya mendecih lalu menyeringai.
"Memukul Ketua Gank, Menduduki tempat Gank di kantin, Menyeret Ketua Gank pulang secara paksa, dan kini Berangkat bersama Ketua Gank," Sasuke membalas tatapan Sakura dengan sorot mata menantang. "Apanya yang bukan pencari perhatian?"
"Teme, jangan cari ribut!" Naruto mendorong Sasuke yang berusaha mendekati Sakura. Rupanya perlakuan Naruto memancing kemarahan Sasuke. Ia pun menepis tangan Naruto dan mencengkram kerah kemeja Naruto erat.
"Seorang Dobe tidak pantas menyentuhku." Ucap Sasuke datar, namun tersirat kemarahan dalam manik kelamnya. Sepasang permata sapphire Naruto menatap tajam, tak mau kalah.
"Selalu berlagak paling jago, huh?" Ucapan Naruto barusan sukses memancing kemarahan Sasuke hingga baku hantam antar keduanya hampir tak terelakan lagi.
Hampir? Ya, tentu saja hampir. Karena seorang gadis berambut merah muda yang sedari tadi hanya menonton kini mulai beraksi. Sakura menarik kerah kemeja bagian belakang keduanya agar saling menjauh lalu menyarangkan pukulan yang menyakitkan di wajah keduanya.
"Naruto, jangan bertingkah bodoh. Semua tahu kalau mulut Uchiha ini sama pedasnya dengan cabai," Kini permata viridian Sakura melirik Sasuke. "Dan kau…aku bukan seorang pencari perhatian. Aku memiliki alasan yang kuat untuk itu semua." Kemudian-seperti biasanya-gadis itu pun melenggang pergi meninggalkan Naruto dan Sasuke dengan wajah tercengang mereka.
Ya, mereka kini tahu bahwa pukulan menyakitkan Sakura bukan sekedar kebetulan. Mereka merasakan bahwa pukulan Sakura kali ini jauh lebih berat dari yang sebelumnya. Gadis itu telah menjadi kuat kini. Entah apakah mereka menyukai perubahan itu atau tidak. Yang jelas, kini keduanya sama-sama tertarik untuk mencari tahu mengenai Sakura.
∞ A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞
Sakura berjalan cepat menyusuri koridor sekolah. Ia memasang wajah yang mengeras. Padahal hatinya benar-benar menjerit menahan tangis. Siapa juga yang tidak sakit hati saat mendapat tanggapan menyakitkan dari seorang sahabat? Ah, mungkin tepatnya 'Mantan Sahabat'.
Tetap saja, itu menyakitkan sekali. Bahkan, setelahnya ia harus menjadi saksi semi-bisu dari perkelahian Naruto dan Sasuke. Benar-benar janji yang bodoh, bukan? Bagaimana kau bisa terus ikut campur dalam melerai dua orang yang bahkan kini menganggapmu asing?
'Ah! Aku bisa gila!' Jerit Sakura dalam hatinya. Sesungguhnya ia ingin sekali untuk bersandar di suatu sudut yang sepi kemudian menangis sejadi-jadinya. Namun, mana mungkin itu terjadi? Ia harus membangun imej 'Tangguh' sebisa mungkin dalam dirinya. Ia takkan menangis.
"S-sakura-sama!" Seru seseorang yang sukses membuat Sakura menoleh ke sumber suara. Ia bukan hanya mendapati seorang, melainkan belasan orang Siswa Laki-laki yang tengah menatap kagum kearahnya.
"N-nani? Ada apa?" Balas Sakura gugup. Lebih gugup lagi saat mendapati mereka semua ber-ojigi di hadapannya. Dari garis putih yang tertera diatas dasi mereka, menandakan bahwa mayoritas dari mereka adalah senior. Tidak sepantasnya ber-ojigi padanya, bukan? Yang seangkatan dengannya pun sama saja, karena seumuran harusnya tidak harus bersikap begitu.
"Kalian kenapa? E-eh? J-jangan membungkuk begitu! Hoi!" Sakura akhirnya memegang bahu seorang Siswa yang berdiri paling dekat dengannya, membantunya berdiri. Siswa itu pun langsung berjingkat senang karena mendapat 'sentuhan' dari Sakura.
"Sakura-sama! Perkenalkan, kami adalah Spotless!" Seru seorang Siswa yang memiliki rambut berpotongan seperti mangkuk. Yang lain langsung mengangguk mengiyakan, masih dengan wajah sumringah mereka.
"S-spotless? Nani…apa itu?" Sakura menatap mereka dengan wajah yang terlihat seperti menahan tangis.
"Supporters always love Princess!" Ucap mereka bersamaan, membuat Sakura langsung bergidik. Apa-apaan, sih? Baru juga dua hari sekolah disini, langsung saja dihadapkan dengan yang beginian.
"P-princess? Apa hubungannya denganku, hoi?!" Kini suara Sakura mulai terdengar frustasi, walau ia masih berusaha menjaga sikapnya agar tetap sopan di hadapan mereka.
"Karena kau adalah Princess kami, Sakura-sama!" Balas mereka semua, lagi-lagi secara bersamaan hingga membuat perut Sakura serasa bergejolak. Apa ini? Kenapa bisa begini?
Benar-benar sesuatu yang di luar dugaan. Ia berpikir hidupnya di sekolah ini akan tenang-tenang saja mengingat ia takkan berusaha menjadi pusat perhatian. Satu-satunya hal yang menjadi fokusnya hanyalah berusaha memenuhi janjinya dan menyelesaikan misinya.
Rupanya kata-kata Sasuke kala itu sedikitnya mulai mempengaruhi Sakura.
.
"Pencari perhatian."
.
"Pencari perhatian."
.
"Pencari perhatian."
.
"Pencari perhatian."
.
.
'Apa aku benar-benar seorang pencari perhatian?' Batin Sakura, makin frustasi ketimbang sebelumnya.
∞ Bab III : Kekuatan Sebuah Janji ∞
Sasuke tengah sibuk berkutat dengan buku catatannya. Seingatnya, siang ini akan diadakan kuis matematika, yang artinya ia harus belajar ekstra keras agar tidak mendapatkan nilai yang memalukan. Ia memicingkan matanya ke kursi di depannya, tempat Naruto duduk. Terlihat pemuda blonde itu tengah tertidur diatas tumpukan buku matematika.
'Bodoh. Dobe.'
BRAK
"Sasuke!" Seorang pemuda yang diketahui bernama Suigetsu berlari menghampiri kursi Sasuke dengan tergesa. Hanya dibalas dengan tatapan tajam dari sang empunya nama yang dipanggil.
"Apa?" Ia melirik Suigetsu sekilas kemudian kembali terfokus pada buku catatannya.
"Kau lupa? Kita harus kumpul membahas penyerangan dari SMA Suna, tahu!" Seru Suigetsu kencang, hingga beberapa siswa-siswi yang ada di kelas sedikit bergidik mendengarnya. Bayangkan saja, di saat mereka tengah sibuk belajar Matematika, masih ada orang yang membahas soal 'Penyerangan' dan sebagainya.
"Aku tidak bisa. Ada kuis matematika siang ini." Balas Sasuke tajam sembari mengangkat buku catatannya. Tentu saja rumus-rumus eksponen rumit lebih menarik bagi Sasuke. Walaupun ia berdedikasi pada Gank-nya, ia takkan mau menukarnya dengan masa depannya nanti.
"Arghh! Tapi aku tak mau menggantikanmu, loh. Hari ini anggota akan lebih beringas dari biasanya." Suigetsu akhirnya duduk diatas meja yang berada di sebelah kursi Sasuke.
"Memang bukan kau yang akan menggantikanku. Suruh Juugo." Setelah mengucapkan itu, Sasuke pun bangkit dari kursinya dan berniat untuk belajar di perpustakaan.
"Grr…Mentang-mentang ketua, dia jadi seenaknya." Desis Suigetsu sambil memperhatikan punggung Sasuke yang semakin jauh meninggalkan kelas. Tak sengaja tatapannya bertubrukan dengan Naruto yang masih tertidur pulas diatas tumpukan buku. Seingatnya Fox Claw juga tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan dari Suna.
Ya, SMA Suna memang sudah lama dendam pada Gank-gank yang menguasai Konoha karena dianggap mengganggu kepentingan mereka. Dalam waktu dekat SMA Suna akan segera memulai penyerangannya dalam rangka balas dendam.
'Cih, kalau para ketuanya begini semua, pasti semua Gank di Konoha akan lumat oleh SMA Suna.' Pikir Suigetsu gusar. Ya, Dark Aoda memang telah sepakat untuk mengesampingkan dulu permusuhannya dengan Fox Claw agar fokus menghadapi Suna. Tapi bukan berarti dua gank itu saling bekerja sama.
∞ A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞
Sasuke berjalan pelan menuju perpustakaan sembari menghafal beberapa rumus-rumus logaritma yang rumit. Walaupun jenius, Sasuke harus mengakui bahwa ia agak sedikit lemah dalam pelajaran matematika. Maka dari itu dia mengambil jurusan Sosial saat tes potensi akademik.
Langkahnya sedikit melambat saat melihat keramaian di koridor yang berada di seberang lapangan sana. Ya, seorang gadis berambut merah muda yang tengah diikuti puluhan siswa laki-laki dengan atribut yang nyaris semuanya berwarna merah muda.
'Sakura?' Pikir Sasuke sambil kembali melanjutkan langkahnya. Ia memang sadar bahwa 'Sakura yang sekarang' pasti akan menjadi idola lelaki. Tapi, ia tidak mengira bahwa fans-nya akan sebanyak itu. Rombongan Sakura dan fansnya pun kini sudah mengitari lapangan dan berada tepat di koridor tempat Sasuke tengah berjalan di depan mereka.
Senyum tipis terulas di wajah ayunya. Dengan langkah cepat, ia mensejajarkan dirinya dengan Sasuke kemudian merangkul lengannya. Sasuke menoleh dan memberinya tatapan tajam, namun hanya dibalas dengan wajah 'masa bodoh'-nya Sakura.
"E-em…Spotless-san sekalian, seperti yang kalian lihat, aku ada sedikit urusan dengan Uchiha Sasuke. Jadi jangan ikuti aku, ya!" Ujar Sakura gugup sembari menoleh ke arah gerombolan spotless, mau tidak mau Sasuke ikut menoleh juga.
Para Spotless yang awalnya amat bersemangat untuk menempel pada Sakura pun kehilangan animonya. Mereka cukup sadar diri untuk tidak mencari masalah dengan Ketua Dark Aoda. Perlahan tapi pasti, mereka mulai membubarkan diri sambil menggumam kecewa.
"Spotless-san?" Tanya Sasuke sinis pada Sakura yang masih saja bergelayut dilengannya, seperti tak mau melepaskannya. Sadar akan hal itu, Sakura cepat-cepat melepaskan cekalannya dari lengan Sasuke.
"Supporters Always Love Princess. Duh, benar-benar merepotkan sekali. Awalnya ada belasan orang, tapi tiba-tiba saja semua anak laki-laki di kelasku ikut bergabung, lalu yang dari kelas sebelah juga-"
"Sudah 'kan? Sekarang kau yang berhenti mengikutiku." Ujar Sasuke tajam lalu mulai meninggalkan Sakura. Dengan tergesa Sakura mengikuti Sasuke.
"Jangan tinggalkan aku, hoi! Mereka pasti akan kembali menempel padaku kalau aku sendirian. Setidaknya kalau ada kau mereka pasti menyingkir karena-"
"Karena aku adalah ketua gank berpengaruh yang disegani? Masih saja ingin memanfaatkanku, huh?" Sasuke menatap sepasang emeralds Sakura secara langsung.
"A-ah, bukan itu 'kok maksudku. Tapi untuk satu hal ini saja aku benar-benar minta tolong padamu. Jangan biarkan mereka kembali mengikutiku seperti itu, aku risih." Sakura membalas tatapan Sasuke, tapi tidak seperti yang kemarin-kemarin. Tatapan penuh percaya diri Sakura telah melemah, dipenuhi kegugupan.
"Bagaimana kalau kubilang aku juga risih kalau diikuti olehmu, hah?" Seru Sasuke, nadanya agak sedikit meninggi. Meskipun ia merasa menyesal karena telah membentak Sakura, ia masih harus membuat gadis itu gentar. "Kau sendiri yang bilang kalau semua sudah berakhir. Harusnya kau tahu diri dan jangan mengganggu!"
"Aku juga tahu diri, Sasuke. Untuk kali ini saja, lagipula aku punya alasan mengapa aku terus saja mengganggumu dan Naruto." Terlihat benar bahwa Sakura tengah mencoba menguatkan diri mati-matian.
"Mau menggunakan janji itu sebagai alasan? Lupakan saja janji bodoh itu. Kau lihat sendiri bahwa aku dan si Dobe itu sudah bisa mengurus diri sendiri," Tatapan tajam masih Sasuke tujukan pada Sakura. "Mempunyai seorang pelindung lemah sepertimu takkan membuat kami berubah atau lebih kuat. Sekarang ini aku melihatmu sebagai pengacau saja."
"KAU!" Sakura menuding wajah Sasuke, ekspresinya kini benar-benar mengeras. "Baik, kita jangan pernah lagi melihat masa lalu. Lupakan bahwa aku pernah menghancurkan semuanya. Tapi, anggaplah aku hanyalah seorang gadis yang peduli pada kalian kini. Tak ada sangkut pautnya dengan masa lalu."
"Bodoh. Masih menyebalkan saja." Sasuke pun meninggalkan Sakura berdiri sendirian di koridor itu. Ia merasa berbicara empat mata saja dengan Sakura sangat tidak baik. Bisa-bisa semua kekesalan dan kepedulian yang ia pendam bisa meluap semua. Setidaknya jika ada Naruto ia takkan bertindak sebodoh itu.
"Kau masih mengira aku menyukaimu, eh Sasuke?" Gumam Sakura, masih berusaha menahan air matanya agar tidak merembes keluar. Ia sudah berjanji takkan kembali rapuh, ia akan menjadi kuat.
.
.
.
.
.
"Kita lupakan saja semuanya. Jangan anggap aku sebagai sahabatmu lagi. Abaikan saja Naruto. Aku ingin kamu melihatku sebagai seorang yang bisa disukai. Aku ingin kita pacaran…"
.
.
.
Sakura seolah tersadar akan sesuatu, maka dari itu ia berlari ke arah kelas X Sosial I secepat yang ia bisa. Ia takkan membiarkan Sasuke terjebak dalam kesalahpahaman, lagi.
.
.
"Kau benar-benar ingin mengacaukan semuanya? Jangan jadi menyebalkan begitu. Aku tidak mau bersahabat denganmu lagi."
.
.
"Kenapa kau tega? Kau tahu bagaimana aku menyukaimu 'kan? Aku kecewa padamu. Jangan pernah bicara lagi denganku."
.
.
.
.
.
∞ Bab III : Kekuatan Sebuah Janji ∞
Naruto terbangun dari tidur siang singkatnya yang agak menyakitkan. Lehernya terasa kaku dan pipinya luar biasa perih, terlihat dari cetakan buku matematika yang terpampang jelas di pipi tan-nya.
Ia melirik jam yang menunjukkan pukul 12.30. Satu setengah jam sebelum kuis matematika yang mengerikan itu. Setelah merapihkan sedikit penampilannya yang berantakan, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas dan teringat akan sesuatu saat mendapati bangku kosong Sasuke.
'Si Teme itu pasti sedang kumpul dengan Dark Aoda. Duh, berarti aku ketinggalan kumpul dengan Fox Claw.' Rutuknya dalam hati. Ia memang tidak seperti Sasuke yang sering di susul oleh anggotanya, ia terbiasa mandiri. Bahkan ia sering memarahi Kiba apabila menyusulnya ke kelas.
'Ya sudahlah. Nanti aku dengar laporannya saja.' Pikirnya kemudian mulai membolak-balik lembar halaman buku matematikanya, berusaha mengumpulkan apa saja yang mampu otak lambatnya cerna. Setidaknya nilainya tidak boleh dibawah 30 kali ini.
"Naruto!" Seru seseorang yang sukses mengalihkan perhatian Naruto dari sederet rumus memuakkan. Wajah Naruto sukses terkejut kini, saphire-nya membulat melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Gadis itu masih mencengkram pintu kelasnya erat. Wajahnya terlihat lelah, namun masih terlihat cantik.
"Ada apa, Sakura-chan?" Tanya Naruto saat ia sudah berhadapan dengan gadis berambut merah muda itu. Sakura terdiam sejenak untuk mengatur napasnya, namun sejurus kemudian ekspresinya berubah.
"Mana Sasuke?" Sakura justru balik bertanya. Sikap Sakura yang tidak setenang biasanya membuat Naruto heran.
"Kenapa, sih? 'Kok sampai panik begitu?" Naruto berusaha bersikap biasa pada Sakura, namun nampaknya gagal karena yang ada nada bicaranya terdengar bergetar.
"Ikut aku, Naruto." Sakura menarik lengan Naruto agar mengikutinya, tentu saja pemuda berkulit tan itu setuju. Ia masih bingung bagaimana harus bersikap di depan gadis berambut merah muda ini.
Jika ia kasar pada gadis itu seperti yang Sasuke lakukan, tentu saja itu akan bertentangan dengan perasaannya pada Sakura. Yah, walaupun ia sendiri sudah melupakannya, namun tentu saja masih ada yang membekas.
Apabila ia terlalu baik dan dekat dengan Sakura, maka kenapa? Kenapa dia harus baik pada gadis yang telah menghancurkan hati dan persahabatannya dengan Sasuke? Kenapa?
Masih dalam keadaan dilema, Naruto menatap tangan putih Sakura yang kini mengamit lengannya. Tangan yang dulunya selalu ada disana, sempat menghilang selama beberapa lama, dan kini telah kembali.
.
.
.
"Kau itu adalah sahabatku. Wajar 'kan kalau aku menyayangi sahabatku? Sampai kapanpun aku akan menyayangimu 'kok!"
.
.
.
"Kau tahu? Yang selalu kau lakukan selama ini hanya membuatku kesal…ugh, aku benci kamu."
∞ A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞
Dengan langkah tegas, Sasuke berjalan menuju Kelasnya. Bodohnya ia sampai bisa lupa waktu karena asyik belajar di perpustakaan. Setidaknya masih ada waktu dua puluh menit menjelang kuis matematika sialan itu. Yah, setahunya Genma-sensei-si guru matematika untuk kelas sosial-selalu datang lebih cepat kalau menjelang kuis.
Alasannya adalah agar para siswa mendapat waktu lebih dalam mengerjakan kuis. Yah, para siswa juga masih mengalami kontradiksi mengenai hal tersebut, karena guru nyentrik itu takkan mengizinkan siapapun yang terlambat untuk mengikuti pelajarannya.
Sasuke melongok melihat keadaan kelas. Huf, untung saja Genma-sensei belum tiba. Ia pun berjalan santai menuju kursinya yang berada tepat di belakang Naruto di barisan tiga.
Ada yang aneh dengan Naruto. Wajah cerianya yang biasanya tenang dan penuh ekspresi itu terlihat melamun dan gamang. Seolah-olah ada sesuatu hal besar yang mengusik pikirannya.
Ya, apapun yang sedang dipikirkan Naruto tentunya takkan menarik bagi Sasuke. Ia sudah tidak ingin lagi peduli pada urusan mantan sahabatnya itu.
Hanya saja, ekspresi Naruto yang seperti itu sedikitnya telah membuat Sasuke kepikiran. Yah, meskipun dalam beberapa detik kemudian telah sukses ditepis olehnya.
Sedangkan Naruto sendiri masih saja melamun. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya. Hal yang menjadi pokok pikirannya kini adalah perbincangannya tadi dengan Sakura.
.
.
Flashback
"Naruto, sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Sasuke selama aku pergi? Kenapa…kalian jadi musuh begini?" Sakura menatap Naruto yang berdiri di hadapannya, terlihat bahwa Naruto enggan untuk duduk di sebelahnya.
"Ada baiknya apabila aku tidak memberitahumu sekarang ini. Belum waktunya," Balas Naruto sambil menggaruk tengkuknya. "Ah, sebenarnya aku juga…mm-"
"Masih enggan padaku? Ah, itu akan ada yang mau terbuka pada seorang penjahat sepertiku 'kan?" Sahut Sakura terhadap ekspresi enggan Naruto.
"Sakura-chan…apa kau masih..ng..yah, kau tahulah." Kini Naruto memalingkan wajahnya dari Sakura.
"Aku sudah tidak menyukai Sasuke lagi, Naruto. Apa ya kata yang tepat untuk menggambarkannya?" Sakura tampak berpikir. "Ah, perasaan yang itu sudah lama mati semenjak pesta kelulusan Sekolah Dasar kita. Dan, ya…kita sama-sama tahu kalau waktu itu kita masih terlalu kecil. Kau pasti tahu kalau perasaan itu tidak nyata."
"Tidak nyata katamu? Berkat kau-"
"Ya, aku memang mengacaukan segalanya. Tapi biarlah itu berlalu, oke?"
"Mana bisa begitu? Kau…kau tolong jangan sok peduli begini. Yang ingin kukatakan adalah…tolong berhenti memperdulikan aku dan Sasuke!" Tanpa sadar nada bicara Naruto telah meninggi.
"Ya, tidak masalah, sih. Aku sendiri tahu kalau kau dan Sasuke akan sama-sama menolak," Sakura mencengkram celana Naruto. "Tapi…biarkan aku tetap berpegang pada janji ini, ya. Tolong abaikan perasaanku pada kalian berdua di masa lalu."
"Sakura-chan…" Naruto berpaling dan berniat untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Namun, suara parau Sakura membuatnya menghentikan langkahnya.
"Aku sudah tidak lagi menyukai Sasuke. Dan…kau harus tahu bahwa sesungguhnya aku tidak pernah membencimu." Kalimat Sakura barusan sukses membuat emosi Naruto menjadi tidak karuan. Pemuda berambut blonde itu pun segera meninggalkan tempat itu, ia takut perasaannya akan meluap.
∞ A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞
"Ketua, kapan waktu yang tepat?" Seorang pemuda berseragam blazer coklat-putih menghampiri pemuda yang berseragam sama di ujung ruangan.
"Ah, kita jangan gegabah. Kita harus memastikan bahwa semuanya sudah siap, baru kita serang mereka." Balas pemuda berambut acak-acakan itu.
"Persiapan kita akan selesai dalam waktu lima hari lagi." Pemuda tadi menatap ketuanya dalam.
"Jadikan persiapannya menjadi seminggu. Kirim dua puluh orang dan pastikan bahwa informasinya itu terpercaya." Ketua itu bangkit dan berdiri menghadap anak buahnya.
"Seseorang yang ingin disebut 'Mizu' telah mengirimkan informasi akurat mengenai 'dua' orang itu selama seminggu ini. Sepertinya dia adalah orang dalam, kujamin dia sangat terpercaya."
"Ah, begitu ya? Tapi tetap saja kita jangan gegabah. Konoha adalah wilayah yang strategis sekaligus berbahaya. Kita harus ekstra hati-hati," Ketua itu menyeringai. "Yang terpenting kita harus memotong dua kepala laba-laba super ini terlebih dahulu.
∞ Bab III : Kekuatan Sebuah Janji ∞
"Sakura-san?" Sapa seseorang pada Sakura yang kini termenung di taman sekolah. Ia mengangkat wajahnya dan tersenyum pada orang itu, berusaha bersikap semanis mungkin. Orang itu berjalan mendekati Sakura lalu berhenti tepat di depannya.
"Ah, ne. Ada apa? Kau…bukan salah satu Spotless 'kan?" Tanya Sakura hati-hati, masih tetap tersenyum. Ia menyelipkan anak rambutnya yang menghalangi pandangannya. Sosok itu tersenyum.
"Spotless? Aku Juugo," Ia mengangsurkan tangan besarnya pada Sakura, berniat untuk menyalami Sakura. Respon yang diberikan Sakura memang agak lambat karena ia setengah melamun, namun ia akhirnya menerima jabat tangan Juugo. "Ne, jadi apa itu spotless? Rasanya seharian ini kata itu begitu terkenal."
"Supporters Always Love Princess. Huh, mereka menyusahkan. Kau kelas dua belas?" Tanya Sakura saat melihat tiga garis putih di atas dasinya. Juugo mengangguk lalu sejurus kemudian pemuda berambut oranye itu melirik jam tangannya.
"Kau sangat terkenal, ya? Ku ingatkan saja untuk berhati-hati. Di KGH ini banyak sekali gadis pendengki yang bertebaran. Mungkin mereka akan nekat karena sadar tidak mampu menyaingimu." Juugo mengisyaratkan untuk segera pergi pada Sakura, dibalas oleh anggukan kaku dari Sakura.
'Apa itu ancaman? Ah, tidak. Kelihatannya Juugo-senpai itu baik.' Pikir Sakura.
Sakura pun bangkit dari kursinya dan berniat untuk menuju kelas, hingga datang beberapa orang siswi KGH datang dan mengepungnya. Ada sekitar sepuluh orang siswi tengah mengitarinya kini. Sakura masih berusaha tersenyum untuk meredakan ketegangan, walau sepertinya tidak terlalu mempan.
"Sakura-sama, ya? Huh, mananya yang princess?" Seru seorang gadis berambut semerah darah yang mengenakan kacamata. Sakura dapat mengetahui bahwa gadis itu adalah siswi kelas XI.
"Ini sih bitchess yang kebelet fames!" Ejek salah seorang lagi. Sakura tidak dapat melihat sumber suara karena sepertinya gadis itu berada di belakangnya.
"Heh, Ryuuzaki. Tutup mulutmu. Jangan berkata kasar begitu. Meskipun cewek ini menyebalkan, dia tidak pantas untuk dikatai begitu." Sanggah gadis berkacamata tadi hingga membuat gadis bernama Ryuuzaki itu salah tingkah.
"N-ne, Karin-chan." Sahut Ryuuzaki.
"Maaf, senpai. Sebentar lagi bel masuk. Aku harus cepat-cepat ke kelas. Sumimasen." Sakura masih mencoba untuk respek pada kakak-kakak kelas yang terlihat garang ini. Ternyata kalimat Juugo langsung terbukti dalam kurun waktu kurang dari lima menit saja.
'Mungkinkah mereka ini gadis pendengki yang dimaksud Juugo-senpai?' Pikir Sakura lelah. Hari ini bahkan sudah cukup melelahkan baginya tanpa harus ditambah masalah baru.
"Kau ingin pergi buru-buru? Padahal ada yang ingin kami sampaikan padamu, loh." Balas seorang gadis cantik berambut pirang panjang dan berponi. Nama Mikochi Shion tertera diatas nametagnya.
"Begini, Sakura. Aku ingin membuat pernyataan di depanmu, loh. Sungguh. Ini adalah pernyataan dari hati terdalamku," Karin menatap Sakura dalam dengan sepasang permata ruby-nya. "Ore wa Sasuke no daisuki." Bisik Karin perlahan di telinga Sakura, sedikit membuat Sakura bergidik.
Jadi gadis ini menyukai Sasuke? Lucu juga mengingat Sasuke itu sangar namun ada juga yang menyukainya. Tapi, masalahnya bukan itu. Apa karin berpikir ia juga menyukai Sasuke?
"Aku tidak menyukai-"
"Aku juga, Sakura! Aku menyukai Naruto-kun!" Kalimat Sakura disela oleh Shion yang kini cemberut.
"B-begini, aku sama sekali tidak menyukai Sasuke ataupun Naruto. Sungguh." Sanggah Sakura yang sesungguhnya kebingungan bagaimana harus bereaksi mendengar pernyataan Karin dan Shion yang terlalu tiba-tiba baginya.
"Sebenarnya kami tidak terlalu memperdulikan perasaanmu. Yang ingin kami tekankan disini adalah perasaan kami. Kau sudah dengar sendiri 'kan? Kami ada rasa dengan Sasuke maupun Naruto," Karin kembali menguasai percakapan, membuat Sakura sedikit terhenyak namun tidak terintimidasi. "Maka dari itu jangan seenaknya, ya. Kami tahu kau itu cantik dan menarik. Tapi itu takkan lagi kalau ada seseorang yang mencabik wajahmu 'kan?"
"Maaf? Apa kalian baru saja mengancamku?" Bukannya terintimidasi mendengar ancaman Karin, Sakura justru tertantang untuk melawan mereka.
"Sudah, ah. Dia juga pasti mengerti, Karin. Ayo pergi." Ajak Shion sembari merangkul lengan Karin.
"Nah, kau harus mengerti suka maupun tidak. Karena ini peringatan untukmu yang pertama dan terakhir. Sekali kau berulah, kami takkan tinggal diam. Sakura hanya diam mendengar ancaman terakhir yang dilancarkan Karin.
Ia diam bukan karena takut. Ya, sama sekali bukan karena takut. Ia hanya tidak ingin memancing keributan. Meskipun begitu, ia juga takkan tinggal diam apabila gadis-gadis tadi mulai membuktikan ancaman mereka.
'Mereka meremehkanku, huh?' Batin Sakura.
.
.
.
∞ Bab III : Kekuatan Sebuah Janji ∞
To be Continue to :
Bab IV : Pertarungan Pertama
.:AUTHOR ZONE:.
Salam untuk para warga FFN~
Wawawaw Ini tiba-tiba udah Bab III aja ya. Hoho, Authornya lagi lempeng nih. Updatenya lancar, soalnya selancar idenya, hoho. Maaf ya kalo motong chapternya gak sreg gimana gitu, berhubung sebenernya chapter ini aslinya 6k+ jadinya aku belah (?) dua sama chapter depan. Bab I-III (Prolog). Bab IV-VI (Inti cerita-Semi klimaks). Bab VII-IX (Klimaks-akhir cerita). Bab X (Epilog). Nah rencananya sih gitu. Mudah-mudahan ga usah dirubah lagi. Btw Bab I-III udah selesai nih! Berarti chap depan udah ada action…yey.
Oh ya, mengingat kecepatan update-ku sepertinya malah bikin kalian gak penasaran, mungkin kecepatan updatenya aku kurangin, ah. Setuju kah? *diguillotine*
Yo, yo. Lagi-lagi aku mau nanya sama readers sekalian yang baik hati, kalian setujunya update ≤seminggu sekali atau ≥seminggu sekali? Yah, update kilat atau update biasa? Kalau update kilat minimal 30 review per chapter. Soalnya aku ngerasa kecepatan update aku akhir-akhir ini gak sebanding sama reviewnya. Alias feedback dari kalian masih standar, padahal aku nge-gas banget nyari hotspot buat update loh. *pundung*
Langsung aja cek deh balasan review buat yang non-login dibawah sini. Kalo yang login silahkan cek pm kalian *wink
Pojok balas review untuk non-login
Kurobaaddicted : Aku bingung mau konsisten kemana, karena yang jelas…genre utama dari cerita ini bukan romance. Masa sih lebih ke SS? Yah, sedih nih. Berarti Cluenya itu gak nyampe, ya NS-nya.
Nakize Irawan : Aduh, aku jadi bener2 mempertimbangkan kata2 kamu. Tapi, sumpah deh fic ini udah jadi endingnya, dan setelah aku baca lagi…rasanya *spoilersensor*. Yah, pokoknya kamu baca fic ini dulu sampe selesai baru kamu simpulkan ya, Naruto itu mengalah atau gak. Aku emang SSL *ngaku, tapi aku juga sayang naruto*wink. Jangan prejudice-judice aku dulu ya, hoho.
Guest : Tuh, kan…kok pada prejudice aku gitu sih *pundung. Iya aku tahu ini emang mainstream gitu ceritanya, tapi aku bener2 nulis ini sesuai ide dan kreatifitas ide terbatas yang otakku punya, loh. Kamu baca ceritanya sampe akhir dulu, baru kamu bisa liat akhirnya gimana. Sakuranya jadi punya siapa…plis jangan prejudice-judice aku dulu ya. Aku bukan elizabeth bennet yang selalu di prejudice sama , loh *wink.
SPECIAL THANKS TO :
Philosopher|kimberchan| 76 | Yanti Sakura Cherry | sebut saja mawar | nkaalya |DAMARWULAN | nakize irawan | daisaki20 | smilecherry | neripyon | embun | Rinda Kuchiki |Kurobasaddicted | Guest |suket alang alang | nofita817 |via256 |
Flame? Boleh. Annon? Jangan.
Kalo mau flame tolong jangan annon ya. Kalo Annon langsung aku hapus tanpa dibalas karena aku tidak akan mau nanggepin komentar miring dari orang yang gajelas, hoho. Jangan lupa gunakan tata bahasa indonesia yang baik, yoo.
Akhir kata, Fave/Follow/Especially Review~
Don't be silent readers.
Sweet smile, Aime~
