A Princess and The Ganks
Summary : Setelah Sasuke dan Naruto menjadi musuh besar dengan dua Gank berbeda, Sakura yang merupakan sahabat mereka kembali. Ia kembali dan menjadi gadis yang dipuja semua orang. Akankah ketiganya kembali menjadi sahabat? Atau mungkin sesuatu yang lebih dari sekedar sahabat? /AU/SASUSAKUNARU/Highscool-fic.
Previous Chapter
.
"Karena kau adalah Princess kami, Sakura-sama!"
.
"Mempunyai seorang pelindung lemah sepertimu takkan membuat kami berubah atau lebih kuat. Sekarang ini aku melihatmu sebagai pengacau saja."
.
"Mana bisa begitu? Kau…kau tolong jangan sok peduli begini. Yang ingin kukatakan adalah…tolong berhenti memperdulikan aku dan Sasuke!"
.
"Yang terpenting kita harus memotong dua kepala laba-laba super ini terlebih dahulu.
.
"Sebenarnya kami tidak terlalu memperdulikan perasaanmu. Yang ingin kami tekankan disini adalah perasaan kami. Kau sudah dengar sendiri 'kan? Kami ada rasa dengan Sasuke maupun Naruto,"
.
Bab IV: Pertarungan pertama
Suigetsu menatap heran tiga sosok yang kini berdiri dihadapannya. Niatnya tadi hanya ingin pulang dengan bus, namun sesampainya di halte ia malah disuguhi pemandangan yang tidak biasa.
Sasuke, Sakura, dan Naruto tengah duduk dikursi halte dengan santai. Yah, meskipun kemarin-kemarin ia juga melihat kejadian yang serupa, bukan berarti pemuda berambut ombre itu telah terbiasa. Yah, meski telah seminggu ini ketiga muda-mudi itu pulang bersama, tak ada satu pihak pun yang mampu terbiasa.
Bahkan sepertinya Sasuke, Sakura, Naruto sendiri masih belum terbiasa mengingat reaksi ketiganya yang berlebihan saat Suigetsu tiba. Ketiganya langsung berdiri dan menatap Suigetsu dengan tatapan horror yang kentara. Nyaris saja Suigetsu mati berdiri saat itu juga.
"Aa, pulang naik bus itu menyenangkan ya?" Suigetsu berusaha memancing percakapan yang bersambung namun tampaknya gagal.
"Hm, menyenangkan." Giliran Naruto yang menjawab sambil menggaruk tengkuknya. Wibawanya sebagai ketua gank benar-benar tidak terlihat
"Iya, dan lebih murah." Balas Sakura. Ia agak waswas apabila ada yang memergokinya tengah bersama dengan Sasuke maupun Naruto.
Meski telah berikrar bahwa ia takkan takut menghadapi ancaman fans Sasuke dan Naruto, bukan berarti ia akan menantang mereka secara langsung. Untungnya selama seminggu ini ia tidak mendapatkan perlakuan yang jauh lebih buruk selain coretan di lokernya, untungnya.
"Jangan memaksakan diri untuk memulai percakapan. Aneh."
JLEB
Yah, cukup sudah. Kata-kata Sasuke sukses menancap di benak Suigetsu. Ia pun memilih untuk tutup mulut setelahnya karena komentar pedas Sasuke.
"Mm, sebelum naik bus…ayo temani aku beli es krim," Seperti biasa, tanpa meminta persetujuan Sasuke maupun Naruto, Sakura menarik keduanya. "Mata ashita,…ng.."
"Hozuki Suigetsu." Ujar Suigetsu buru-buru.
"Ah, mata ne, Hozuki-kun." Sakura sendiri tidak mengerti mengapa ia harus menambahkan suffiks 'kun' pada nama Suigetsu. Yang jelas, dipanggil selembut itu oleh gadis secantik Sakura sukses membuat pipi Suigetsu bersemu merah.
∞ A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞
"Wah, si Suigetsu tadi benar-benar merona." Celetuk Naruto sambil masih menoleh pada Suigetsu yang berada jauh di belakang sana.
"Heh? Masa?" Sakura ikut-ikutan menoleh kebelakang, walaupun sebenarnya sosok Suigetsu sudah tidak terlihat.
"Sengaja memanggil dia begitu 'kan? Selalu saja cari sensasi baru." Komentar Sasuke, lagi-lagi dengan kata-katanya yang setajam silet. Sakura memutar bola matanya, masih berusaha menahan nyeri dan kesal yang terasa di hatinya.
"Sekarang ini tolong jangan dengarkan ocehan berengseknya, Sakura-chan." Naruto menatap Sakura yang ada di sebelah kanannya dengan lembut. Kedua insan yang masih sibuk bertatapan itu rupanya mengabaikan tatapan tajam dari Sasuke yang berada di sebelah kanan Sakura.
Sakura menoleh dan memperhatikan wajah Sasuke dan Naruto. Yang ditatap olehnya memberikan tanggapan yang berbeda. Naruto dengan wajah yang memerah dan Sasuke dengan wajah yang tak pernah terlihat bahagia. Sesungguhnya ia masih sangat canggung untuk berada di sekitar dua mantan sahabatnya itu.
Obrolannya dengan Sasuke dan Naruto seminggu yang lalu masih saja lekat di benaknya. Betapa kedua pemuda itu sama-sama tidak ingin menerima dirinya secara wajar, menandakan bahwa apa yang ia lakukan di masa lalu benar-benar tak termaafkan. Dan tentunya itu membuat Sakura nyaris gila
Janjinya dan misinya, semua bisa saja kacau balau apabila dua pihak yang bersangkutan terus saja berusaha menjauhinya. Ya, itu akan dia pikirkan lain waktu. Masih banyak waktu, begitu pikirnya.
"A-ah. Aku sampai sini yang ada kedai es krimnya dimana?" Sakura sedikitnya menyadari tatapan tajam Sasuke. "Maklum, sudah tiga tahun di Suna. Jadi, Naruto, dimana kedai es krim terdekat?"
"Loh? Memangnya jadi beli es krim? Kukira tadi hanya untuk menghindari Suigetsu." Naruto terlihat heran, begitu juga dengan Sasuke. Hanya saja Sasuke menutupinya dengan wajah arogannya.
"Siapa bilang begitu? Ayo beli es krim." Sakura kini berjalan duluan meninggalkan Naruto dan Sasuke. Sebenarnya kali ini tujuan Sakura bukan hanya untuk menghindari Suigetsu, melainkan untuk menghindari suasana canggung bersama Naruto dan Sasuke.
"Satu-satunya penjual es krim di daerah sini ada di ujung gang sana." Akhirnya Sasuke angkat suara, sekaligus mengangkat tangannya untuk menunjuk sebuah gang sepi di seberang jalan.
"Ah. Ayo kesana." Lagi-lagi Sakura berjalan mendahului Naruto dan Sasuke. Sebenarnya, kedua pemuda itu tidak habis pikir mengenai agenda pulang bersama yang tiba-tiba menjadi wajib bagi mereka bertiga ini. Yang jelas, mereka merasakan sedikit kehangatan saat bersama dengan Sakura.
Bahkan, kedua pemuda yang berlawanan sifat itu sedikitnya mampu mengesampingkan permusuhan mereka apabila sedang bersama Sakura. Mungkin saja kembalinya gadis itu adalah awal yang baik bagi mereka berdua. Meski mereka tidak terlalu yakin.
"Begini, kalian tunggu saja disini. Aku yang akan membelikan es krim sekaligus mentraktir kalian. Yah, anggap saja balasan karena akhir-akhir ini sering 'mengganggu' kalian." Sakura menekankan kata 'menganggu' sambil menatap Sasuke tajam. Ia tampak ingin membalas kata-kata Sasuke seminggu yang lalu.
Pemuda itu pun mengangguk dan berdiri diam di tengah gang saat Sakura mulai menghampiri penjual es krim yang berada di ujung gang. Meski hanya beberapa lama, rasanya baik Sasuke dan Naruto takkan tahan apabila harus berduaan dengan musuh besar mereka.
"Kau…bagaimana perasaanmu saat ia kembali. Sudah lama aku ingin mengetahuinya." Naruto berusaha memulai percakapan yang terasa kaku.
"Kau dulu." Yah, kata-kata Sasuke barusan sungguh sukses memancing kekesalan Naruto. Namun, mengingat rasa ingin tahu Naruto yang begitu besar, Naruto pun mengikuti alur permainan Sasuke.
"Senang, tapi terasa ada yang mengganjal. Seolah-olah dengan kembalinya dia telah membawa luka lama sekaligus harapan yang baru." Mata biru Naruto menatap dinding gang yang dipenuhi mural, seolah tatapannya mampu menembus dinding tersebut.
"Hn, sama." Balas Sasuke singkat, padat, namun tidak jelas.
"Kau ini, selalu saja. Bisa beri jawaban yang lebih jelas? Um, jawaban yang tidak memancing emosi orang?" Naruto sepertinya mulai emosi.
"Bagian mana dari jawabanku yang membuat orang emosi?" Tanya Sasuke, sok polos.
"Wah, banyak sekali Sasuke. Bagian dari dirimu tepatnya yang membuat orang emosi. Misalnya, saat kau merekrut anggota Kuroteam untuk bergabung dengan Dark Aoda, saat kau menggagalkan proyek recruitment kami di KGS, um…masih banyak." Sasuke berjengit mendengar kata-kata itu. Tentu saja itu bukan kalimat Naruto apalagi Sasuke.
Segerombolan Siswa yang mengenakan seragam blazer coklat khas SMA Suna telah memblokir jalan mereka menuju ujung gang yang berlawanan dengan penjual es krim.
"Hai, Dark Aoda no Kaichou. Oh, ada Fox Claw no Kaichou juga. Informan kita benar-benar terpercaya. Sekali dayung satu dua gank pun mati. Hahahaha." Seru seorang pemuda dengan nama 'Yura' tercetak di nametagnya.
∞ Bab IV : Pertarungan Pertama ∞
"Um, tolong dua es krim macha dan satu vanilla, dengan cone tawar dan rainbow sprinkles." Sakura akhirnya mendapatkan giliran untuk memesan. Si penjual es krim yang masih muda nampak merona menyadari Sakura yang tengah tersenyum manis padanya.
"Orang baru, ya?" Tanya si Penjual es krim pada Sakura sambil tangannya sibuk menyeduk es krim.
"A-ah? Iya. 'Kok bisa tahu?" Balas Sakura sambil matanya sibuk menatap aktivitas si penjual es krim.
"Aku sudah dua tahun kerja sambilan sebagai penjual es krim disini. Dan sepertinya sudah dua tahun juga tidak pernah melihat gadis cantik berambut merah muda memesan es krim disini," Goda si penjual es krim yang mengenakan masker kesehatan itu. Sakura menanggapi kata-kata si penjual es krim dengan senyuman, walau sebenarnya ia sedikit gugup. "Aku Kakashi."
"Oh, Kakashi-san hebat juga, ya. Sampai bisa menghafal wajah orang, hehe." Entah mengapa Sakura lupa untuk memperkenalkan namanya pada Kakashi. Ia menerima pesanan es krimnya dengan hati berbunga, tidak sabar untuk menyantap es krim vanilla yang menjadi kesukaannya.
"Gratis, untukmu." Kakashi mengedipkan sebelah matanya pada Sakura, sedikit membuat gadis itu terkejut.
"Ah, tidak bisa begitu. Semuanya berapa, Kakashi-san?"
"Tidak usah, Hime." Balas Kakashi lagi. Sepertinya pemuda bermasker itu benar-benar tertarik pada Sakura.
"Mana bisa begitu. Ah, tolong jangan panggil hime, namaku-"
"Hei, Pinky!" Seru seseorang yang sukses membuat Sakura menoleh. Ia mendapati Karin dan Shion tengah menatapnya dengan garang.
"Karin-senpai, Shion-senpai. Ah, kalian ingin beli es krim juga?" Sakura berusaha bersikap seramah mungkin pada kedua gadis itu. Meski ia sendiri bukan gadis yang lemah, ia tetap tidak ingin mengambil resiko dengan cara kekerasan.
"Tidak. Kami ingin bertemu Sasuke dan Naruto. Dimana mereka?" Tanya Karin sambil mencari-cari sosok Sasuke dan Naruto. "Kudengar lagi-lagi kau pulang bersama mereka 'kan?"
"Ah, iya. Tapi bukan karena apa-apa 'kok. Rumah kami memang dekat…jadi," Sakura terlihat bingung. "Makanya kami pulang bersama. Ah, kalian ada urusan apa dengan mereka?"
"Bukan lagi, kau harusnya masih mengingat percakapan kita tempo hari." Balas Shion sinis. Meski keduanya tidak mengatakan tujuan mereka, sedikitnya Sakura mengerti bahwa keduanya ingin memberikan hadiah untuk Naruto dan Sasuke. Itu terlihat dari bingkisan cantik yang tengah mereka pegang.
"Oh begitu. Mereka ada di Gang sana. Temui saja mereka dulu." Sakura menunjuk gang yang berada di belakang penjual es krim. Karin dan Shion pun melengos tanpa memperdulikan Sakura-apalagi Kakashi.
"Mereka kenalanmu, Hime?" Tanya Kakashi pada Sakura.
"Ya, kakak kelas yang baik." Jawab Sakura dengan senyum tertahan, berusaha memaklumi sikap Karin maupun Shion.
"Gadis-gadis itu akan segera menyesal telah bersikap begitu padamu." Ujar Kakashi ringan, namun membuat Sakura bergidik. Apa mungkin Kakashi sedang meramalkan Sakura yang nantinya akan menghajar Karin dan Shion? Brr…itu menakutkan.
"A-ah. Kenapa begitu?"
"Entah, hanya perasaanku saja." Kakashi menggendikan bahunya.
KYAAA
Terdengar jeritan histeris dari seorang, atau mungkin dua orang gadis. Sakura dan Kakashi refleks berlari ke arah gang itu. Sakura pun tanpa sadar menjatuhkan tiga cone es krim-nya. Bahkan, ia belum sedikitpun mencicipi es krim pesanannya.
∞ A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞
"Sasuke!"
"Naruto-kun!"
Hening. Shion dan Karin refleks menutup mulutnya kala melihat Sasuke dan Naruto yang kini terpojok oleh segerombolan siswa SMA Suna. Keduanya nampak ketakutan. Hingga akhirnya beberapa orang siswa SMA Suna itu mencengkram lengan Karin dan Shion karena telah mengganggu acara mereka.
"KYAAA!" Jerit keduanya bersamaan.
"Hei, lepaskan mereka, hoi!" Seru Naruto yang sudah babak belur.
"He, kau diam saja Kaichou. Kami tidak akan menyakiti mereka. Kecuali kalian melawan, maka dua gadis ini akan baik-baik saja 'kok," Balas Yura. "Nah, ayo kalian habisi Pimpinan Fox Claw ini. Setelahnya baru kita tuntaskan urusan kita dengan Uchiha Sasuke."
Naruto memejamkan matanya saat merasakan bat yang terbuat dari besi sedang meluncur ke arah wajahnya. Namun, anehnya setelah beberapa lama ia memejamkan matanya, ia tidak juga kesakitan. Perlahan tapi pasti ia membuka matanya.
"HYAH!" Yang bisa Naruto dengar adalah suara benturan bat dan bambu panjang. Dan yang bisa ia lihat hanyalah Siswa-siswa SMA Suna yang sibuk menghadapi seorang gadis berambut merah muda dengan bambu panjangnya-bambu penyangga tenda kedai es krim Kakashi.
"ARGH!" Nah, kini yang terdengar adalah jerit kesakitan para Siswa SMA Suna saat bambu maut Sakura menghantam bagian tubuh mereka. Tanpa terasa, sudah ada sepuluh siswa SMA Suna yang tumbang berkat Sakura. Tersisa setengahnya lagi kini.
"Nah, kalian masih ingin mencengkram Naruto dan Sasuke begitu?" Tanya Sakura sambil menatap Sasuke dan Naruto yang sudah habis babak belur. Dua orang yang ditugaskan untuk memegangi Naruto dan Sasuke pun melepaskan keduanya secara refleks.
"Jangan jadi pengecut begitu, hoi! Masa kalian lumat hanya dengan gadis begini?" Yura pun maju dan dengan satu gerakan cepat ia menendang bambu yang menjadi senjata andalan Sakura. "Nah, ayo hadapi aku tanpa senjata konyolmu, cantik."
"Bertarung dengan tangan kosong ya? Wah, sudah lama aku ingin menunjukkan kemampuan Kungfuku. Kebetulan sekali." Sakura pun memasang pose kuda-kuda. Tak peduli dengan keadaannya yang kini tengah memakai rok sekolah.
"Jangan banyak laga!" Yura pun menerjang maju sambil menghunuskan tinjunya ke arah Sakura, namun dengan gerakan lincah Sakura menghindari tinju itu dan menguncinya menggunakan lengannya. Dalam keadaan tersebut, Sakura pun menyeruduk perut Yura menggunakan lututnya, membuat Yura menjerit kesakitan dan batuk darah.
"Wah, baru segitu saja sudah menyerah. Mana semangatnya yang tadi?" Tantang Sakura sambil membanting Yura ke tanah lalu menginjak dadanya dengan kakinya. Kakashi yang sedari tadi menjadi penonton aksi Sakura pun mimisan.
"Hime, jangan berdiri dengan posisi begitu! Nanti dalamanmu terlihat olehnya!" Seru Kakashi, sukses memunculkan kerutan di dahi Sakura. Apa-apaan seruan mesumnya itu? Benar-benar memalukan.
"Kakashi-san! Kau tidak terlalu membantu dengan caramu itu. Jadi diam saja, oke?" Balas Sakura lalu kembali menatap Yura. "Menyerahlah dan suruh antek-antekmu pergi meninggalkan tempat ini. Sekarang juga."
"SANDERANYA!" Bukannya mengiyakan perkataan Sakura, Yura justru balik menatap dua anak buahnya yang masih menyandera Karin dan Shion. Kakashi yang kebetulan berdiri di dekat kedua orang itu pun meniupkan bubuk macha yang dibawanya sedari tadi ke mata keduanya.
"Argh!" Kedua orang tersebut pun melepaskan cekalan tangan mereka dari Karin dan Shion karena sibuk mengucek mata mereka. Karin dan Shion pun segera menjauh.
"Nah, kalian jangan berani berbuat begini lagi, ya." Sakura pun menendang dada kedua pemuda yang masih sibuk mengucek mata mereka hingga tumbang ke tanah.
"…" Karin dan Shion hanya mampu terdiam melihat aksi Sakura barusan.
"Masih ingin mencoba?" Sakura menoleh pada Yura yang telah meraih bat di tangannya dan berniat memukul Sakura dari belakang. Seketika itu juga nyali Yura menciut saat Sakura menendang bat itu hingga terpental. Yura pun segera memberi isyarat agar anak buahnya yang masih tersisa untuk mengangkut yang telah tumbang dan segera melarikan diri.
"Wah, Hime. Kau memang luar biasa." Kakashi mengacungkan jempolnya pada Sakura. Ia pun menyimpan bungkus bubuk macha tadi ke dalam kantung apronnya dan menggulung lengan kemeja kotak-kotaknya.
"Terimakasih, Kakashi-san," Sakura kini mengalihkan pandangannya pada Karin dan Shion yang masih terpaku. "Kalian berdua tidak terluka 'kan?"
"ARIGATŌ!" Seru Karin dan Shion bersamaan sekaligus langsung berlutut di hadapan Sakura. Melihat reaksi Karin dan Shion yang menurutnya berlebihan, Sakura pun membantu keduanya untuk kembali berdiri dengan gugup.
"Kami telah banyak salah padamu. Maafkan kami." Karin mengangkat sedikit kacamata coklatnya untuk menyeka air matanya.
"Maafkan aku, sungguh." Shion kini memeluk kaki Sakura. Dengan gerakan cepat Sakura membantu Shion untuk berdiri.
"Tidak apa-apa. Memangnya kalian pernah salah apa?" Balas Sakura, sedikit sok polos. Setelah memberi isyarat pada Kakashi untuk menenangkan kedua gadis yang tengah menangis itu, Sakura berjalan menghampiri Sasuke dan Naruto yang terkapar.
"Nah, Sasuke, Naruto. Apa kalian tidak menyerah saja dengan dunia 'gank' kalian setelah kejadian barusan?" Tanya Sakura sembari terkekeh mengejek. Bagaimana pun juga kedua pemuda itu pantas diejek. Mereka dari awal sudah mati-matian berlagak berkuasa, namun nyatanya mereka langsung lumat saat dikeroyok.
"Kami takkan kalah kalau tidak dikeroyok begitu." Sasuke berusaha membela diri dan tanpa sadar ikut membela Naruto. Sakura sendiri sudah menduga bahwa Sasuke akan berkata begitu.
"Sakura-chan, terimakasih." Naruto berkata pelan dengan wajahnya yang sedikit memerah. Rupanya melihat sosok tangguh Sakura beberapa saat yang lalu telah memunculkan desiran aneh di hatinya.
"Douita, Naruto. Hm, Sasuke, Kau lihat? Tak ada salahnya, loh untuk berterimakasih." Ejek Sakura lagi sambil mengulurkan tangannya pada Naruto dan Sasuke. Kedua pemuda itu menyambut uluran tangan Sakura dan berusaha berdiri walau nampaknya benar-benar kesakitan.
"Sepertinya yang tadi itu Siswa-siswa dari SMA Suna, ya? Jauh-jauh begitu sampai kemari." Celetuk Kakashi, menyadarkan Sakura, Sasuke, dan Naruto mengenai kejadian barusan.
"Sepertinya banyak gank dari kota pabrik pasir itu yang dendam pada kalian, ne? Ah, aku sepertinya tidak jadi mentraktir es krim untuk kalian." Sakura tersenyum tipis ke arah Naruto dan Sasuke. Keduanya hanya memalingkan wajah malu.
∞ A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞
Sakura meringis saat menyadari bahwa ternyata pinggangnya lebam. Rupanya saat adu bat besi dan bambu terjadi, salah satu bat mengenai pinggangnya dengan cukup keras. Awalnya Sakura tidak terlalu mementingkan hal tersebut, namun semakin lama dibiarkan ternyata malah jadi lebam.
Ia menatap pintu ruang gawat darurat dengan cemas. Apakah luka-luka lebam di wajah Naruto dan Sasuke akan segera pulih? Ah, yang lebih penting lagi adalah bagaimana reaksi Kushina dan Mikoto nanti saat mendapati anak-anak mereka.
"Sakura?" Seseorang memanggilnya hingga ia pun terpaksa mengalihkan pandangannya dari pintu UGD. Di dekatnya kini berdiri seorang wanita paruh baya pirang yang cantik.
"S-shishou! Ah, Tsunade-shishou belum pulang?" Sakura refleks berdiri untuk menghormati gurunya tersebut. Ya, Senju Tsunade adalah pembinanya di Palang Merah Suna dulu. Dan fakta bahwa Tsunade merupakan Kepala RS. Konoha sedikitnya masih membuat Sakura tidak percaya. Seolah takdir akan selalu merekatkan guru dan murid tersebut.
"Ya, aku ingin mengecek UGD dulu. Kabarnya hari ini UGD ramai oleh para siswa dari Suna." Tsunade mengintip pintu kaca UGD yang menampakan bangsal-bangsal dari tirai.
Rupanya Siswa SMA Suna juga berobat disini, ya? Ah, bagaimana jika Tsunade tahu bahwa luka-luka siswa SMA Suna itu disebabkan olehnya?
Sakura tampak baru tersadar akan sesuatu. Sasuke dan Naruto kini berada di wilayah dimana terbaring banyak Siswa SMA Suna, yang mungkin masih dendam. Bagaimanapun keadaan dua pemuda itu masih terlalu lemah apabila harus kembali bertarung.
"Tapi rupanya mereka hanya sebentar disini. Buktinya bangsal-bangsalnya sudah kembali lenggang." Kalimat Tsunade memberi kelegaan bagi Sakura. Yah, bagaimanapun ia masih mengkhawatirkan keadaan kedua 'mantan sahabat'-nya itu.
"Kau masih ikut ekskul PMR di sekolah barumu?" Tanya Tsunade, sekedar berbasa-basi. Sakura menggeleng lemah.
"Aku sebenarnya belum memilih ekskul apapun. Tapi rencananya aku ingin mengikuti klub musik dan renang saja," Ia mempersilahkan Tsunade untuk duduk di sebelahnya. "Berhubung sekarang aku bagian dari Palang Merah Konoha, jadi rasanya aku tidak ingin ikut ekskul PMR di sekolah."
"Ah, begitu. Lalu bagaimana dengan kendo dan kemampuan bahasamu? Kau tidak ingin ikut kendo atau klub bahasa?"
"Belakangan aku baru saja mendaftar di salah satu dojo dekat sini. Soal bahasa…rasanya agak sedikit membosankan." Sakura tersenyum. Ia sendiri baru sempat memikirkan hal ini. Mengurus janji dan misinya terhadap Sasuke dan Naruto sedikitnya telah membuat ia melupakan diri sendiri.
"Kau ini seperti biasanya, selalu luar biasa. Oh, ya..kau disini sedang apa?" Tanya Tsunade heran. Tidak biasanya Sakura kemari. "Kau sedang sakit? Atau terluka?"
"Tidak, Shishou. Aku sedang mengantar dua temanku. Luka-luka hasil perkelahian ala cowok." Jawab Sakura, sedikit menyembunyikan fakta bahwa sebenanarnya ia juga terluka.
"Hm, keduanya adalah pemuda beruntung karena telah sukses membuatmu peduli pada mereka." Komentar Tsunade barusan seolah menghujam Sakura. Ia teringat akan janji dan misinya yang mengharuskannya untuk selalu peduli pada Sasuke maupun Naruto.
Janjinya untuk selalu melindungi dan melerai keduanya.
.
Dan misinya untuk mengembalikan kembali persahabatan mereka seperti semula.
.
'Akan semuanya berjalan sesuai keinginanku?' Batin Sakura.
∞ Bab IV : Pertarungan Pertama ∞
"Bagaimana kalian bisa kalah! Bukannya si Mizu itu bilang bahwa Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto sedang sendirian saat itu?" Seorang pemuda dengan rambut berantakan dan tato di pipinya tampak kesal. "Infonya memang tidak terpercaya, ya? Duh, kalau begini Ketua pasti marah."
"Baki, dengarkan kami dulu. Sepertinya info dari Mizu sama sekali tidak salah. Awalnya Sasuke dan Naruto memang sendirian." Yura angkat suara.
"Awalnya? Memang selanjutnya apa yang terjadi." Seorang gadis dengan rambut coklat dan tato di kedua pipinya ikut bicara.
"Tiba-tiba ada seorang gadis…ah, gadis itu hebat. Sungguh, disaat Sasuke dan Naruto tidak berdaya, si gadis itu benar-benar menghajar kami semua." Yura mengaku, walau sebenarnya ia sadar dengan mengakui semuanya maka harga dirinya sudah hilang. Yang terpenting sekarang ini adalah info untuk Kuroteam.
"Wah, takluk oleh seorang gadis, ya? Pasti dia gadis yang sangat hebat. Aku jadi penasaran siapakah yang mampu menghajar dua puluh anggota kuroteam sendirian." Gadis tadi menyeringai pad Yura.
"Hoi, Maki. Sepertinya urusan gadis itu kami serahkan padamu saja, ya. Kau pasti bisa mengurusnya." Baki yang merupakan Kakak dari Maki menepuk bahu adiknya itu.
"Yeah, tentu saja. Tapi…dia tergabung di Gank apa, Yura? Fox Claw atau Dark Aoda?" Maki menatap Yura.
"Entahlah. Dia menyelamatkan Sasuke dan Naruto sekaligus. Tapi kemungkinan saja ia bukan salah satu anggota keduanya. Berdasar info dari Mizu, Dark Aoda dan Fox Claw hanya memiliki satu anggota wanita," Yura memalingkan wajahnya ke kiri, berusaha mengingat. "Amaru di Fox Claw dan Yakumo di Dark Aoda. Dan gadis itu bukan salah satunya. Namanya berbeda."
"Oh, ya? Siapa nama gadis itu?" Tanya Baki.
"Seseorang memanggilnya Hime. Jadi kurasa ia bukan salah satu dari mereka."
"Ah, seorang gadis super tanpa gank, ya? Rasanya tidak terlalu berbahaya. Tapi aku akan mengajak Pakura dari Sekolah Putri Suna untuk turut membantu," Maki menatap Baki. "Hanya untuk berjaga-jaga saja."
"Baiklah, lakukan sesukamu, Maki. Tapi tunggulah beberapa lama. Kalau kita menyerang sekarang pasti langsung terbaca," Baki pun menyeringai misterius. "Yang terpenting adalah jangan sampai ketua turun tangan langsung dalam hal ini."
∞ A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞
Sasuke keluar dari kamarnya karena mendengar panggilan Mikoto, Sang Ibu. Langkahnya sedikit tertatih mengingat lebam di perutnya. Saat sudah berada di ruang keluarga, Sasuke hanya mampu memalingkan wajahnya dari Mikoto.
"Ne, Sasuke-kun. Kau sudah baik-baik saja?" Mikoto meraih lengan putranya dan memaksanya untuk duduk di sebelahnya. Sasuke hanya terdiam sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Hn." Balas Sasuke singkat.
"Ibu sebenarnya hari ini bangga padamu. Sama Naruto juga, sih. Tapi lebih dominan bangga ke kamu." Ujar Mikoto sambil tersenyum, membuat Sasuke merasa bersalah.
"Jangan dibicarakan lagi." Sasuke lagi-lagi memalingkan wajahnya dari ibunya.
"Sebenarnya ibu cukup khawatir karena sejak SMP kau sering pulang kerumah dengan luka-luka semacam itu. Karena ekskul karate 'kan?" Mikoto kembali tersenyum. "Ibu sempat berpikir kalau sebaiknya kau mencari ekskul baru di KGH, yang lebih ringan ketimbang karate."
"Sudahlah, bu. Aku tetap akan mendaftar Karate di KGH." Timpal Sasuke sebelum pembicaraan Ibunya semakin menjurus. Ya, selama ini ia memang berkilah bahwa luka-luka perkelahian ganknya adalah hasil latihan karate. Untungnya Mikoto mudah saja percaya.
"Tapi kali ini ibu senang karena luka-luka itu bukan karena latihan karate-mu," Sahut Mikoto, masih dengan wajah sumringahnya. "Ibu senang saat Saku berkata kau dan Naruto hari ini menyelamatkannya dari berandal."
"…" Sasuke tidak mampu berkata apapun karena sekarang ini ia malu pada diri sendiri. Kebohongan Sakura sebenarnya sukses melukai harga diri Uchiha-nya. Padahal Sakura-lah yang menjadi pahlawan, namun para orang tua akan berpikir sebaliknya.
"Ibu yakin kalau sebenarnya kamu juga menyukai Sakura-chan." Ucap Mikoto tanpa merasa bersalah atas ekspresi salah tingkah putranya.
"Diam, Bu. Mana mungkin." Sebenarnya kata-kata barusan lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Mana mungkin ia suka pada gadis aneh yang sering mengacau itu?
Ya, mana mungkin 'kan, Sasuke? Kau tidak sedang membohongi perasaanmu 'kan, Sasuke?
"Ah, selalu saja mengelak," Mikoto menggoda Sasuke karena sedikitnya ia teringat bahwa putranya ini sama seperti suaminya. Tsundere. "Siapa ini?" Mikoto mengeluarkan ponselnya yang bergetar dan membuka percakapan grup Line. Tepatnya dari 'Lovely Neighbourhood'.
Kini wanita itu menyeringai licik.
'Fufufu. Sakura-chan akan jadi menantuku. Segera.'
∞ Bab IV : Pertarungan Pertama ∞
"Kau harus lebih sering-sering berbuat begitu, Naruto." Ucap Kushina sembari menekan kompres es diatas dahi Naruto, dengan kencang tentu saja. Ya, kelembutan seorang wanita memang bukan bagian dari diri Kushina.
"Ah, Ibu. Jangan dibahas, ah." Balas Naruto sembari meringis untuk menangani perlakuan kasar Sang Ibu.
"Sakura pasti lama-lama akan luluh kalau kau sering-sering menolongnya begitu." Minato yang sedang duduk di sofa tak jauh dari sana ikut berkomentar.
'Mananya yang luluh? Ini saja sebenarnya yang menolong semua adalah Sakura-chan. Aku dan Sasuke benar-benar K.O.' Pikir Naruto gusar.
"Benar itu. Daripada babak belur karena latihan karate, lebih baik fokus melindungi sahabatmu saja," Kushina mengacungkan ibu jarinya. "Pasti Sakura nanti akan berpaling dari Sasuke dan kepincut sama kamu."
"Ibu. Sudah, ah." Sahut Naruto malu-malu menahan rona di pipinya. Bagaimanapun juga, sosok tangguh Sakura siang tadi telah meracuni pikirannya. Membawa perasaan aneh yang asing baginya. Yang jelas bukan cinta monyet seperti dulu lagi.
"Tidak masalah kalau memang masih ingin ikut karate. Tapi tolong kurangi intensitasnya. Selingi dengan ekskul yang lebih ringan." Usul Minato. Tentu saja perkataan sang ayah hanya dianggap angin lalu oleh Naruto.
CTING
CTING
"Ah, pasti dari Line." Kushina mengeluarkan iPhonenya dan segera mengakses Line. Seketika itu juga wanita berambut merah itu tersenyum misterius.
'Wah, dewa akan segera memudahkan langkahku untuk menggaet Sakura-chan sebagai menantuku, hoho.'
∞ A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞
Meski masih merasakan kantuk, Sakura tetap berusaha untuk terjaga. Ia harus berangkat lebih pagi hari ini untuk menghindari Naruto dan Sasuke. Untuk hari ini saja ia tidak ingin berangkat bersama dua pemuda itu. Ia takkan sanggup apabila ditatap tajam oleh dua pemuda itu lagi.
Walaupun Sakura menyelamatkannya kemarin, tentu saja keduanya takkan mau untuk mengakui kekuatan Sakura. Bahkan, nampaknya dua pemuda itu sedikit-sangat-marah saat Sakura berbohong pada Mikoto dan Kushina. Tapi, biarlah dulu. Yang terpenting ia ingin menyendiri dan menjauh dari keduanya selama beberapa lama.
Janji dan misinya akan ia kesampingkan sementara untuk menata hidupnya dulu. Setelah dirasa ia cukup kuat untuk berhadapan dengan mereka, baru ia akan kembali menjalani misinya.
Bagaimanapun, imej kuat yang selama ini ia bangun tentu hanya diluarnya saja, kepribadian cengeng dan rapuh masih ada di dalam pribadinya. Hanya saja Sakura menekan sisi tersebut kuat-kuat.
Yak, lupakan sejenak soal dua pemuda biang onar itu. Yang sekarang harus ia lakukan adalah membersihkan diri untuk segera berangkat ke sekolah.
Dengan tergesa, ia segera menuju kamar mandi dan bersiap. Dalam waktu setengah jam saja Sakura sudah siap dengan seragam dan tasnya. Ia menyelipkan jepit rambut mini untuk menahan poninya.
Ia bercermin dan puas melihat sosok langsing yang tengah menatapnya balik. Wuhuu, hari ini dia akan mendaftar ekskul dan kembali tenggelam dalam rutinitas hobinya.
Ya, setidaknya hal itu akan sedikit mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang berbau spotless, gank, dan yang pasti dari Sasuke dan Naruto. Yeah, hari yang baru untuk memulai sesuatu yang baru.
"Aku pergi…" Ujar Sakura pelan saat melihat Ibunya sedang sibuk di dapur dan sang ayah yang sedang fokus membaca koran.
"Pagi sekali. Sudah mau berangkat ke sekolah?" Tanya Kizashi lalu menyesap kopinya. Sakura hanya mengangguk mendengar pertanyaan ayahnya. "Tidak ingin berangkat dengan Naruto dan Sasuke?" Pertanyaan Kizashi barusan sukses membuat Sakura mulas.
"Aku ingin berangkat bersama ayah sekali-kali. Antar aku ke sekolah, ya?" Pinta Sakura sambil mengambil salah satu roti isi di meja.
"Tidak biasanya. Padahal kau paling sebal kalau dimanja begitu, 'kan?" Mebuki meletakkan wafel ke atas meja makan.
"Entahlah. Rasanya aku ingin berangkat bersama ayah hari ini." Kilah Sakura. Yah, selain karena tidak ingin berangkat bersama Sasuke maupun Naruto, pinggangnya yang lebam juga tidak memungkinkan untuk berjalan ke halte.
"Ya, sudah. Lima belas menit lagi. Tunggu ayah selesai sarapan." Sakura segera mengangguk mengiyakan kata-kata sang ayah. Yeay, ke sekolah naik mobil! Tanpa harus berjalan ke halte bersama Sasuke dan Naruto.
Sakura sudah merasa bebas hari itu. Sebenarnya ia hanya merasa karena ia takkan tahu apa saja yang akan menunggunya di KGH nanti.
∞ Bab IV : Pertarungan Pertama ∞
"ONEE-SAMA!" Jerit segerombolan gadis di depan gerbang begitu Sakura tiba. Yah, lihatlah. Seorang Haruno Sakura rasanya takkan pernah terbebas dari hal-hal yang memusingkan di KGH.
"A-ada apa? Kenapa kumpul disini?" Sakura berusaha tersenyum, padahal ia sudah merasakan keringat dingin mengucuri tengkuknya. Ada apa lagi ini? Bukankah beberapa dari gadis-gadis itu adalah kelompok yang pernah mengancamnya dulu? Lalu kenapa mereka kelihatan ramah betul hari ini?
Oh, rupanya Sakura melupakan fakta bahwa gadis-gadis itu tadi memanggilnya 'Onee-sama'. Yah, mungkin sekarang Sakura terlalu bingung menghadapi semua hal semacam ini.
"Onee, mulai hari ini terimalah kami menjadi pengikutmu." Sahut Karin yang akhirnya memberanikan diri untuk maju dan ber-ojigi di hadapan Sakura.
"K-karin-senpai? Kau sadar 'kan kalau kau barusan memanggilku Onee?" Sakura membantu Karin untuk bangkit.
"Onee-sama. Kami akan melakukan apa saja untukmu. Maka dari itu ajarilah kami untuk menjadi kuat." Kini Shion ikut maju dan memasang wajah memohon pada Sakura.
"Kuat? Onee-sama? Kalian ini kenapa, sih?" Seru Sakura frustasi.
"Kemarin kami baru saja sadar bahwa harusnya yang menjadi perhatian kami bukan hanya masalah cowok. Kami juga harusnya memiliki sesuatu untuk membela diri," Karin membetulkan letak kacamatanya. "Hanya kau seorang yang kami yakin bisa membantu kami."
"Oke…kalau masalah itu aku mungkin bisa membantu. Tapi masalahnya adalah…kenapa kalian harus memanggilku Onee-sama?" Tanya Sakura.
"Itu sebagai tanda penghormatan dan pengabdian kami padamu, Onee-sama." Ryuuzaki menyahut.
"Kami sudah siap untuk membentuk Gank baru untuk mengabdi padamu, Onee." Karin tersenyum pada Sakura, ditanggapi dengan ekspresi tersambar petir Sakura.
"G-gank?" Gumam Sakura parau. Sedikit tidak percaya bahwa rupanya hari-hari bebas memang mitos untuknya.
∞ A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞
"Kaichou, sepertinya SMA Suna sudah mulai bergerak untuk menguasai Konoha. Tapi sepertinya usaha mereka sedikit terhambat." Seorang pemuda dengan sweater pull and bear berwarna merah-hitam berdiri dari duduknya dan menghampiri seorang lagi yang memakai sweater sama dengannya.
"Ah. Begitu? Kita lihat saja dulu bagaimana aksi SMA Suna." Balas Kaichou tersebut.
"Apa tidak sebaiknya kita ikut andil? Bagaimanapun juga Gank-gank di Konoha itu cukup kuat dan berpengaruh." Pemuda dengan snapback bermotif spiral ikut terlibat dalam percakapan.
"Tidak masalah. Kita akan jadi burung bangkai. Begitu SMA Suna menyerah untuk menghadapi Konoha, kita akan muncul," Kaichou itu menyeringai. "Walaupun aku yakin SMA Suna saja tidak cukup untuk membasmi Gank di tetap saja serangan SMA Suna akan melemahkan pihak Konoha."
"Sampai saat itu tiba?"
"Terus rekrut orang-orang secara diam-diam." Setelah itu sang kaichou kembali memasang hoodie ke kepalanya.
∞ Bab IV : Pertarungan Pertama ∞
To be Continue to :
Bab V : Sesuatu yang hilang
.:AUTHOR ZONE:.
Salam untuk para warga FFN~
Bab IV kunyatakan selesai. Udah keliatan konfliknya 'kan? Maaf ya akhirnya updatenya ga secepat biasanya. Soalnya krisis uang jajan buat beli kuota, jadinya mesti cari free-hotspot dulu.
PERHATIAN UNTUK READERS : Cerita ini tuh SasuSakuNaru. Jadi berusaha kubuat imbang antara SS sama NS-nya. Untuk ending juga udah kusiapin, terserah readers untuk berandai-andai. Ingat, ya…fic ini alurnya lambat. Kemungkinan juga lebih dari 10 chap, tapi pengennya sih gak lebih. Doa'in.
Weh, ada yang sadar kalo scene saku dengan karin dkk itu terinspirasi dari red tail? Hoho, hubungan antara SasuSakuNaru emang agak gamang gitu soalnya kan namanya juga mantan sahabat yang pernah konflik perasaan, eh tiba-tiba disatuin lagi. Apalagi ada janji konyolnya saku. Yagitu..mudah-mudahan readers gak bosan. Kalo yang ngerasa fic ini datar, sabar aja ya. Seperti yang aku bilang…fic ini alurnya agak lambat. Suabarrr*wink
Balasan review untuk yg login, cek pm. Untuk yang non-login ada dibawah nih.
Pojok balas review untuk non-login
Sebut saja mawar : Trims udah sempetin baca lagi. Aku gak bilang ini NS, loh. Fic ini pure SasuSakuNaru, jadinya clue SS ataupun NS kubuat imbang, RnR lagi yaa *wink
DAMARWULAN : Trims udah sempetin baca. Kenapa Naru harus menjauh? Kalau Naru menjauh memang impact untuk SS apa? *ditjintjang.
Kimberchan : Sankyuu udah sempetin baca. Iya, gara-gara Saku-chan nih. Untuk ending, silahkan kamu ikuti jalan cerita abal ini *ditjintjang. Ini udah update, banzaaiii. RnR again? *wink
Embun : My embun di pagi buta kembali~ Trims udah sempetin baca. Jangan panggil senpai… *blush* aku kan masih alay, hehe. Untuk ending, silahkan terus ikuti jalan cerita aneh ini ya. Gaara dan Sasori? Hohoho, aku udah siapin bagian buat duo merah itu. RnR again? *wink
Nakize Irawan : Trims udah sempetin baca. Aku paling semangat bales ripiyu kamu, loh. Iya, aku tau kamu gak nge-flame kok. Untuk si Naru unyu itu aku sudah buat rencana khusus, buat Sakura dan Sasuke juga. Dan rencana itu akan saling bertalian antara ketiganya sampe akhir. Aku sadar kalau aku udah cantumin nama Sasusakunaru, berarti aku harus buat hints dan momments yang rata antara SS dan NS, makanya aku gak berniat untuk menghapus nama Naruto dari pairing itu. Karena inti dari cerita abal ini adalah Friendship and Love Triangle. Malah gak nutup kemungkinan bakal jadi segi empat dan segi-segi lainnya. Soal Naruto mengalah apa gak, kayak yang aku bilang…lihat saja endingnya, ya. Masih agak lama sih. Tapi stay tune~ Maaf balesannya panjang, hoho.*wink
Shaula : Trims udah sempetin baca. Ini udah lanjut, loh. RnR again? *wink
SPECIAL THANKS TO :
Philosopher|kimberchan| 76 | Yanti Sakura Cherry | sebut saja mawar | nkaalya |DAMARWULAN | nakize irawan | daisaki20 | smilecherry | neripyon | embun | Rinda Kuchiki |Kurobasaddicted | Guest |suket alang alang | nofita817 |via256 | Taka Momiji | Harika-chan ELF | Bluepink Cherrytomato | shaula | Imam453 |
Flame? Boleh. Annon? Jangan.
Kalo mau flame tolong jangan annon ya. Kalo Annon langsung aku hapus tanpa dibalas karena aku tidak akan mau nanggepin komentar miring dari orang yang gajelas, hoho. Jangan lupa gunakan tata bahasa indonesia yang baik, yoo.
Akhir kata, Fave/Follow/Especially Review~
Don't be silent readers.
Sweet smile, Aime~
