Author : SeHyun
Cast : BaekYeol
Other cast : EXO Members !
Genre : Romance Yaoi School Life etc~
Disclaimer : FF ini murni imajinasi dari sehyun sendiri. Jika FF sehyun memiliki kesamaan cerita silahkan dikomen atau kritik pedes sekalian juga gakpapa. So! No Plagiat yah Chingudeul Saranghae! Semua cast milik TUHAN kecuali LUHAN yang punya hati Sehyun hehe~
WARNING! YAOI! BOY X BOY!Man X Man! BOYS LOVE! Gak suka baca FF YAOI mohon diclose webnya! No Bash! Love and Peace! Don't forget!
WE ARE ONE!
.
.
-Enjoy-
.
.
.
4.16 p.m KST
"JANGAN LARI KAU PENDEK!"
Tuhan memang sedang sangat tidak adil. Tubuh mungilnya dipaksa berlari kencang guna menyelamatkan diri. Meskipun itu memang karena ulahnya sendiri -_-
"KYAAAAAAA TOLONG AKUUUUU!"
.
.
.
BRAK!
"CHANYEOL?!"
Seorang namja bermata bulat menoleh cepat dengan horror menatap kedua namja yang baru saja masuk kedalam kelas. Tangannya memegang erat gagang sapu. Tubuhnya mengambil ancang-ancang seperti berniat ingin memukul kedua makhluk itu jikalau mereka mau macam-macam dengannya.
"Tidak ada" ucapnya datar meski jantungnya berdebar.
"Dimana dia?"
Kyungsoo mengangkat kedua bahunya. "Mana kutahu"
Namja yang berpipi tirus, Chen menepuk pundak Kai sambil terkekeh sesekali. "Sudah kuduga dia tidak akan kesini. Lagipula kalau aku jadi dia. Aku juga pasti sudah lari daripada mati disini" jelasnya di ikuti kerutan alis si namja bermata bulat.
"Dia tidak kemari?" tanya Kai kepada Kyungsoo yang menggeleng dengan wajah kesal.
"Kenapa namja itu tidak dihajar disini saja sih? Aishh.. Kita jadi susah kan mencarinya. Pasti Luhan akan ngomel lagi kalau Chanyeol tidak pulang. Aku tidak mau disalahkan lagi!"
"YAKK!"
Kai dan Chen langsung terkaget dengan seruan Kyungsoo. "Kenapa? Kau tahu kemana si-penyiram itu pergi?" tanya Kai lagi memandangi Kyungsoo dari atas sampai bawah.
Wajah Kyungsoo memberengut kesal. Manusia dihadapannya ini benar-benar brengsek! Sudah tidak mau ambil pusing dengan nasib namja mungil itu. Mereka juga masih saja menghina temannya pula. Enak saja!
"Tentu saja dia sudah melarikan diri! Kau pikir dia sudi berdiam diri menunggu mencabut nyawanya sendiri disini? Tentu tidak bodoh!" kali ini mata Kai dan Chen yang membulat lebar.
"Hah... Sudahlah percuma berdebat dengannya. Lebih baik kita pulang saja Kai" ajak Chen yang sudah berbalik.
"Lagipula sepertinya Chanyeol akan bermain-main sedikit dengannya. Hahaha!" tawa dan senyum licik Kim Jongdae terulas dibibirnya. Kai hanya mengangguk paham. Matanya terus berpandangan dengan Kyungsoo sebelum benar-benar pergi dari tempat itu.
-BaekYeol Area!-
.
.
.
6.10 p.m KST
Oh Tuhan...
Chanyeol menciumnya?
Tubuh Chanyeol sedikit bergerak lemah. Kepala pemuda itu terangkat olehnya sendiri. Hanya sekedar usaha kecilnya dikala nyeri kepala untuk menggapai bibir manis itu entah sejak kapan. Sementara yang tercium masih bisa membulatkan mata tidak percaya. Namja berandalan ini telah menciumnya...
Apa maksud Chanyeol melakukan semua ini?
Chanyeol melumat perlahan bibir Baekhyun. Sedangkan namja mungil ini masih menundukan kepala. Bibirnya hanya diam. Tidak berniat untuk merespon balik sebuah ciuman yang bagi Baekhyun sendiri cukup manis untuk diterima dari seorang Park Chanyeol.
Merasakan kening mereka yang berdekatan dan hidung Chanyeol yang menggesek pipi chubby-nya. Pikiran Baekhyun menjadi berubah seketika. Suhu tubuh Chanyeol yang panas membuatnya terangsang. Apalagi saat tangan Chanyeol menggenggam lemah tangan mulus Baekhyun.
Baekhyun serasa mendapat sengatan listrik sejenak. Tanpa dirinya sadari bibirnya bergerak kecil membalas lumatan Chanyeol yang sangat pelan. Menimbulkan sensasi debaran jantung yang semakin berpacu riang baginya.
Ini aneh. Sangat aneh.
Masalahnya Baekhyun tidak pernah berpikir akan berciuman dengan seorang penguasa sekolah apalagi pemimpinnya! Meski ini bukan merupakan ciuman pertama seorang Byun Baek. Dia juga sudah pernah melakukannya dengan namja lain. Tentunya namja itu adalah namja yang memikat hatinya saat ini.
Tapi sungguh!
Ini benar-benar diluar dugaannya. Namun sepintas dihatinya ada sedikit perasaan hangat ketika bibirnya mulai ikut menyesap pelan bibir panas Chanyeol. Mata indahnya sampai terpejam merasakan kenyamanan saat ini.
Mungkin reaksi ini akibat suhu tubuh si tiang listrik yang sedang demam. Bahkan Baekhyun dapat merasakan deru nafas Chanyeol yang panas. Membuat kulit wajahnya ikut merona dan merasakan hawa panas dari pemuda itu.
Tidak memakan waktu lebih lama kedua makhluk itu memutuskan tautan mereka. Bibir Baekhyun terbuka sedikit dengan saliva milik Park Chanyeol. Karena sebelum memutuskan kedua belah bibir manis itu Chanyeol menyapu perlahan bibir bawah Baekhyun dengan lidahnya.
Baekhyun perlahan membuka matanya.
Hening...
Tuan Park kembali tertidur. Entah dia melakukan itu dengan sadar atau tidak. Yang jelas sekarang juga Chanyeol terkapar sebelum dia sempat sedikit terengah lalu memejamkan matanya.
Tuhan... Apa yang kulakukan?
Baekhyun akhirnya tersadar seketika.
Gumaman dalam hatinya menggema berulang kali mengucapkan kalimat bodoh itu. Sudah terlanjur.. Semuanya sudah terlanjut Baekki.. Kau telah berciuman dengan Chanyeol. Dan apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya nanti?
Atau mungkin..
Saat Chanyeol telah bangun nanti dari ketidaksadarannya saat ini?
.
.
.
06.30 a.m KST
Seberkas cahaya yang cukup terang mulai menembus masuk melalui kaca jendela perpustakaan yang terpasang di seluruh ruangan. Sinar mentari pagi membuat mata Baekhyun sulit untuk merespon beberapa pancaran yang terdispersi. Pemuda bertubuh mungil itu merenggangkan tubuhnya. Mulai menyesuaikan diri setelah tersadar dari alam mimpi.
KLEK!
Bunyi kunci yang terputar cukup nyaring terdengar diruangan kosong itu. Baekhyun tertidur dengan bersandar disalah satu pintu kayu. Kini punggung rapuhnya berusaha duduk tegap. Paha Baekhyun sedikit terasa pegal setelah memangku kepala Chanyeol semalaman. Pantatnya juga terasa flat seperti meja akibat lantai marmer yang dingin dan datar.
"Loh? Kenapa kalian bisa disini?" suara serak paruh baya itu mengejutkan Baekhyun yang sedang mengucek matanya.
"Baekhyun?"
Namja mungil itu mengejapkan matanya imut sambil menoleh kesamping melihat sebuah kepala menyembul masuk kedalam.
"Jung Ajjushi?" panggil Baekhyun dengan wajah berbinar pada office boy sekolah yang memang kenal dengannya.
"Kenapa kau bisa disini? Ajjushi baru saja menemukan kunci didepan pintu perpustakaan. Apa kalian terkunci?" Baekhyun mengangguk dengan raut lelah. Sedangkan Jung Ajjushi terlihat kebingungan.
"Loh! Baekhyun! Tunggu dulu.. Bukankah itu Tuan Park?" tunjuk Jung Ajjushi yang terkaget melihat Chanyeol dipangkuan Baekhyun.
"Iya Ajusshi.. Chanyeol dan aku terkurung semalaman disini..."
"Jadi ada yang mengurung kalian? Siapa orangnya? Biar Ajusshi laporkan!" ucap Jung Ajjushi dengan nada kesal sementara Baekhyun terlihat berpikir sejenak.
Dia tidak ingin memberitahu Jung Ajjushi bahwa kemungkinan besar yang menguncinya disini adalah Chanyeol sendiri. Dan jika Jung Ajjushi melaporkan hal ini pada pihak sekolah lalu Chanyeol mengamuk. Jung Ajusshi bisa dengan mudah meninggalkan pekerjaanya kapan saja (dipecat maksudnya). Namun Baekhyun tidak ingin hal itu terjadi. Maka dia hanya bungkam.
"Aku juga tidak tahu Ajjushi. Sudahlah biarkan saja penting sekarang pintu ini sudah terbuka. Terima kasih Ajjushi.." senyum Baekhyun sambil membenarkan cara duduknya. Jung Ajjushi mengangguk.
"Lalu ada apa dengan Tuan Park? Dia kelihatan tidak baik"
"Ah.. Ini... Chanyeol sakit" lirih Baekhyun menatap wajah Chanyeol.
"Sakit?"
"Iya. Jung Ajjushi bisakah kau menolongku mengantarkan Chanyeol ke-UKS? Lebih baik dia tidur di sana saja. Kurasa dia masih demam dan udara di sini terlalu dingin. Tidak baik untuk suhu tubuhnya.." ucap Baekhyun sambil menempelkan punggung tangannya pada kening pemuda itu.
Benar. Chanyeol masih demam.
"Baiklah kalau begitu" ujar Jung Ajjushi.
.
.
.
Setelah usaha keras dari Baekhyun yang berbadan kecil dan juga Jung Ajjushi yang sudah berumur lima puluh tahun lebih. Chanyeol akhirnya berbaring di tempat tidur UKS. Mereka menggendong tubuh Tuan Park ketempatnya layak untuk beristirahat. (Chanyeol bukan dimakamkan yah -_-)
"Terima kasih Jung Ajjushi. Aku tidak tahu bagaimana harus keluar dari sana jika kau tidak membukakan pintu" kata Baekhyun lalu membungkuk singkat setelah menutup pintu UKS.
"Tidak apa-apa Baek. Lagipula itu memang sudah tugasku. Emh.. Sebetulnya ada yang ingin Ajjushi tanyakan.." tanya Jung Ajjushi dengan raut penuh keraguan.
"Apa itu Ajjushi?"
"Entah mungkin kau di gigit nyamuk atau apa. Tapi lehermu Baek.." ujar Jung Ajjushi tanpa melepaskan pandangannya pada topik yang dibicarakan.
"Leherku kenapa?" Baekhyun mulai memegang lehernya sendiri dengan wajah panik.
Kemarin Chanyeol memang berbuat sesuatu dengan lehernya. Dipikiran pemuda mungil ini mungkin saja Chanyeol sudah melubangi lehernya. Mengingat Baekhyun masih ber-presepsi bahwa Chanyeol adalah vampir gila. Oh, ayolah Baek.. Kau mulai tidak waras sekarang -_-
Baekhyun tidak sadar kalau lehernya suah berwarna ungu. Baekhyun juga terus mengira bahwa Chanyeol menghukum dirinya dengan cara mengigit itu seperti bentuk pelecehan semata baginya. Lagipula, hey! Dia bukan bistik yang empuk untuk menjadi santapan ketua penguasa sekolah. Maafkanlah kepolosan Byun Baekhyun kita yang sedang memasang wajah manis sambil mengejap-jepapkan matanya~
"Lehermu seperti mendapat kissmark Baekhyun.." akhirnya mau tidak mau Jung Ajjushi mengatakan itu. Karena raut wajah Baekhyun mulai berubah, terlihat sangat panik dan kebingungan meski tetap dengan wajah imut~
"Kissmark?"Baekhyun masih tidak paham.
"Iya. Apakah... Tuan Park yang melakukannya?" Jung Ajjushi memberanikan diri bertanya kembali.
"Aku tidak tahu apa itu kissmark... ?"
.
.
.
7.30 a.m KST
"Uhh.. Dimana aku?" Chanyeol mulai bangkit dari alam bawah sadarnya (?).
Tubuh jangkungnya direnggangkan sambil sesekali menguap lebar bak singa liar. Kepalanya masih merasakan pening yang luar biasa. Tanpa sadar sebuah sapu tangan berwarna biru langit jatuh dari kepalanya ketika dia hendak duduk.
"Punya siapa ini?" gumamnya bicara sendiri.
Dirinya menatap sekeliling dengan pandangan buram. Bau obat khas rumah sakit menyeruak penciumannya. Tirai putih yang tidak tertutup itu menjelaskan semuanya. Ini bukan rumah sakit. Melainkan UKS. Siapa yang membawanya kesini? Atau kenapa dia bisa di sini lebih tepatnya? Tuan Park mengerutkan alisnya. Mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin.
BRAK!
"Yeol!" seruan seorang namja membuatnya menoleh ke samping.
"Luhan"
"Ya Tuhan! Semalam kau tidak pulang lagi! Kemana saja kau? Apa yang terjadi padamu?!" teriak Luhan dengan wajah khawatir sangat frustasi mendekati Park Chanyeol.
Chanyeol hanya menghela nafas berat melihat tingkah ribut saudaranya ini.
"Kau tidak memberi kabar padaku semalam! Aku pikir kau kabur lagi dari rumah. Nyatanya kau disini.." Luhan menghela nafas lega.
Setelah itu dia duduk di tepi ranjang Chanyeol. Tangannya terangkat untuk mengukur suhu Chanyeol. Dan pikirannya benar. Luhan melotot memandang Chanyeol yang mendengus kembali.
"Yak! Apa yang terjadi padamu kemarin?! Badanmu panas sekali Yeol! Benarkan apa kataku kau sakit! Kau ini sudah jarang makan! Selalu keklub! Juga—"
"Tersiram oleh seseorang dari lantai 3" timpal si namja kulit seksi, Kai yang masuk kedalam UKS bersama Chen dan Kris.
Mata Luhan melotot lalu bergantian menatap Chanyeol. "APA?! TERSIRAM?!"
"Kau disiram? Oleh siapa?" tanya Luhan lagi, speechless.
Masalahnya Luhan juga tahu bagaimana posisi kelompoknya dan Chanyeol sendiri disekolah ini. Siswa biasa yang tidak mempunyai kuasa disini tidak berhak melarang, menceramahi, atau bahkan MENYIRAM seorang Park Chanyeol. Bisa-bisa siswa atau siswi yang melakukan itu akan langsung patah tulang jika berani melakukannya.
Luhan tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya. Yang terdengar hanya gelak tawa Chen yang heboh dan Kai. Sementara yang menjadi objek gurauan menatap tajam kedua makhluk laknat didepannya.
Tanpa pikir panjang lagi. Luhan segera melangkahkan kakinya kekotak obat dan mengambil beberapa kompres instan. Tentu saja Luhan mengenal betul UKS ini. Karena Luhan adalah salah satu asisten dokter sekolah. Tidak heran UKS ini terkadang selalu penuh oleh modus para siswa hanya demi melihat Luhan. Mendapatkan simpatinya atau perawatan lembut seorang Xi Luhan.
"Bagaimana rasanya ada yang menyirammu Yeol? Asyik-kah?" Kai mulai menggoda seperti biasa. Chanyeol tetap diam dan berbaring dengan tangan menyilang dibelakang kepalanya.
"Chanyeol disiram oleh siapa?" Kris yang sedari tadi terdiam mulai tertarik dengan percakapan Kai.
"Kurasa namja underdog sekolah. Si-bocah pendek ber-beasiswa" papar Kai lalu melempar pandangan pada Luhan yang masih sibuk mendengarkan.
"Kenapa dia menyirammu? Kau pasti berbuat buruk lagi yah pada seseorang. Jawab aku Yeol" Luhan juga ikut menimpali sambil terus bertanya.
"Kalian berisik" cukup dua kata datar yang keluar dari bibir Chanyeol seketika ruangan itu hening sejenak.
Namun tidak untuk Kim Jongdae yang masih tertawa. "Tapi hebat sekali bocah pendek itu haha! Dia bernyali besar Yeol Buktinya dalam sejarah sekolah ini. Baru dia saja yang berani melakukan itu padamu. Kau pasti memberikannya pelajaran yang setimpal kan kemarin?" senyum licik Jongdae terpampang dibibir manisnya.
Chanyeol tetap diam. Pandangannya lurus begitu menusuk siapa saja yang ditatapnya. Kepalanya masih pening. Bahkan untuk mengingat kejadian semalam pun sangat sulit.
Apakah dia sudah memberikan pelajaran pada si-bocah pendek Byun Baekhyun? Atau dia belum melakukannya sama sekali? Yang jelas saat ini Chanyeol tidak ingat. Dia hanya sebatas mengingat kalau dirinya sudah terasa pusing saat berhitung ngaco di perpustakaan. Dan untuk seterusnya... Chanyeol tidak mengingat perlakuannya sama sekali pada Baekhyun.
"Kau tau Yeol? Dari dulu kau itu tidak tahan demam. Sekali merasa pusing atau kedingingan dan bahkan lelah kau pasti langsung tumbang. Padahal wajahmu sangar. Tapi nyatanya kau juga punya sisi lemah seperti manusia biasa. Karena itu sayangi-lah tubuhmu sendiri Yeol." nasihat Luhan penuh kelembutan sambil menempelkan kompres instan itu pada dahi Chanyeol.
Chanyeol hanya menjawab dengan gumaman. Selebihnya otaknya terus berputar berusaha mengingat kejadian-kejadian yang dia lakukan pada Baekhyun. Namun sayang.. Dirinya terlalu pusing untuk mengulang kembali memori kemarin.
Seingat Chanyeol, kemarin dia mengunci pintu perpustakaan agar si pendek itu tidak kabur. Lalu kenapa sekarang dia malah terbaring disini? Apa Baekhyun yang membawanya kemari? Tidak berapa lama matanya terpejam merasakan hawa dingin kompresan instan itu. Kompres ini tidak senyaman dengan kompresan sebelumnya yang dia rasakan. Kenyamanan entah dari mana sekilas juga dia alami kemarin.
Ini sangat aneh...
Chanyeol merasa janggal. Bibirnya merasakan kelembutan yang asing baginya. Aneh.. Entah apa ini efek dari demamnya atau bukan. Yang jelas, perasaannya turut hangat mengingat wajah Baekhyun tiba-tiba.
Apa yang terjadi kemarin, sebenarnya?
'Baekhyun...' gumam Chanyeol dalam hati.
.
.
.
10.00 a.m KST
"Tuan muda. Anda mendapat kunjungan" ucap salah seorang suster pribadi di salah satu ruangan rumah sakit.
"Suruh dia masuk" Oh Sehun. Si Tuan muda yang di maksud tadi mulai mengambil posisi duduk sebelum akhirnya suara pekikan maut itu menghentikan pergerakannya.
"OH SEHUN! JANGAN BERGERAK DULU KAU BELUM SEMBUHH!"
Seorang namja mungil dengan jaket cukup tebal dan kantung belanja penuh buah masuk berteriak histeris di depan pintu kamar rawat. Matanya menangkap suatu pemandangan yang menakutkan baginya. Melihat Sehun yang terbaring ingin duduk -_- Sebetulnya hal ini biasa saja. Sehun juga biasa. Tapi bukan Byun Baekhyun namanya kalau tidak bereaksi lebai~
"Baek..." lirih Sehun menutup kupingnya.
"Tuan Baekhyun harap tenang. Ini rumah sakit" ucap sang suster mengingatkan. Baekhyun menutup mulutnya malu sambil mengangguk-angguk ayam.
"Mianhae.." kekehnya berjalan mendekati Sehun diranjang rawatnya. Sehun akhirnya juga ikut terkekeh sampai memperlihatkan eyes smile-nya.
"Pagi Baekhyun" sapaan hangat Sehun membuat namja mungil ini tersenyum.
"Pagi Sehunnie.. Bagaimana kabarmu? Kau merasa baikan?" Sehun mengangguk.
"Lebih dari itu. Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas Baek"
"Tapi..."
"Sudahlah. Aku cuma mendapat luka lebam diperut dan tulang tanganku sedikit bergeser. Tapi tenang saja. Dokter sudah menyembuhkanku kok" papar Sehun.
Raut wajah Baekhyun tersenyum mulai berubah. Meski Baekhyun berusaha ceria tapi wajahnya menyiratkan arti lain. Baekhyun sangat sedih mendengar kondisi Sehun saat ini. Apalagi melihat temannya sakit sampai di rawat dengan lengan ber-gips. Hati Baekhyun terasa nyeri mengingat kembali kejadian dimana Sehun di pukuli.
"Maafkan aku Sehun..." lirihnya sambil menunduk. Entah kenapa Baekhyun merasa sangat melankolis saat ini. Sebutir airmata mulai jatuh kepipinya. Tapi Sehun langsung tersenyum dan mengelus kepala Baekhyun dengan lembut.
"Hey, kenapa kau malah meminta maaf? Sudahlah Baekki jangan menangis.."
"Tapi... Kau terluka.."
"Aku tidak apa-apa. Sungguh Baekhyun berhentilah menangis"
"Aku tau Sehun siapa yang memukulimu! Park Chanyeol bukan?"
DEG!
Seruan Baekhyun tadi membuat tubuh Sehun menegang. Padahal Sehun sudah mengatakan pada Yunho untuk tutup mulut pada Baekhyun bahwa dia dipukuli. Sehun pura-pura mengaku kalau dia terserempet mobil namun hal itu tidak masuk akal. Mana mungkin terserempet mobil saat istirahat sekolah sedangkan siswa SM SHS tidak boleh meninggalkan sekolah seusai pelajaran? Sehun memang tidak pandai berbohong..
"Kenapa kau lakukan itu Hun?" suara Baekhyun terdengar bergetar.
"Baekhyun.. Aku.."
"Kau bilang kita teman! Kita sahabat! Kenapa kau malah melakukan ini semua sendirian? Kau bisa bilang padaku kalau kau di incar oleh si tiang listrik brengsek itu! Tapi kenapa kau malah menghadapinya sendiri? Apa kau tidak memikirkan perasaanku saat melihat langsung kau dipukuli Chanyeol?-"
"Bukan begi— Tunggu! Kau melihat aku dan Chan—"
"Ya! Aku melihatnya! Dan aku merasa sangat tidak berguna saat itu karena aku tidak bisa melindungimu... Maafkan aku Sehun.." Baekhyun mulai menunduk lemas dan semakin terisak.
Sehun terkejut. Ternyata Baekhyun mengetahui semuanya lebih yang dia tahu. Semuanya telah terbongkar. Tidak ada gunanya lagi berdalih Oh Sehun..
"Aku sama sekali tidak ingin melibatkanmu.. Karena aku menyayangimu Baek.. Aku ingin melindungimu juga" papar Sehun dengan senyuman lembut.
Tangan pemuda itu terangkat menghapus bulir-bulir airmata Baekhyun. Kepala Baekhyun terangkat. Pipinya sempat merona melihat wajah Sehun yang tampan tanpa kacamatanya saat ini. Sehun sungguh teman yang baik. Baekhyun merasa beruntung dapat memiliki teman sebaik Sehun.
"Aku juga menyayangimu Hun.. Tapi lain kali izinkan aku juga ikut terlibat dalam masalahmu oke? Kita akan menghadapinya berdua! Kalau berdua kita pasti kuat dan bisa mengalahkan tiang listrik itu! Kumohon jangan berpikiran egois lagi!" Sehun terkekeh mendengar penuturan Baekhyun.
"Arraseo. Lain kali aku pasti akan bercerita padamu. Sudah jangan menangis lagi! Kau jelek sekali tahu kalau mena— OH ASTAGA BAEK!" Sehun menggantungkan kalimatnya dan berteriak raut histeris. Namja bertubuh mungil ini terlonjak kaget dan malah mencodongkan sikunya pada tepi ranjang Sehun.
"Ada apa Hun? ADA KECOA?!" pekik Baekhyun lebih histeris. Sementara Sehun hanya berekspresi -_-
"Bukaaan!"
"Lalu apa? Kau membuatku kaget sekali bodoh!"
"YAK! Siapa yang memberimu tanda ini?!" sahut Sehun cukup keras dengan bentakan.
Baekhyun membulatkan mata ketika Sehun memegang lehernya dan menatapnya tajam. Sehun memalingkan rahang Baekhyun berkali-kali. Melihat beberapa mahakarya Chanyeol disitu yang membuatnya speechless. Lalu tercipta-lah satu pikiran dibenaknya. Leher temannya ini sudah tidak perawan..
"Emmh.. Kau juga tahu soal warna ungu (?) ini?" ucap Baekhyun sambil menggaruk tengkuknya gusar.
"Tentu saja! Ibu tiriku sering mendapat tanda ini dipagi hari! Dan aku yakin itu pasti perbuatan ayahku" jelas Sehun dan seketika Baekhyun melongo kaget.
"Kau mengintip kegiatan mereka?! Ya ampun! Kau mesum sekali Sehun!"
"Tidak Baek! Tentu saja ibuku mengatakannya padaku. Bukan aku yang mengintip langsung mereka. Tapi sungguh! Warnanya persis sekali. Omo.. Kau habis melakukannya dengan siapa?" tanya Sehun mulai membenarkan posisi duduknya.
Baekhyun mengigit bibir. Entah dia harus mengatakan ini atau tidak pada Sehun. Masalahnya Sehun pasti akan terus bertanya sampai dia mendapat jawabannya. Sehun orangnya keras kepala sekali.
Baekhyun juga sulit untuk menutupi tanda keunguan ini. Karena itu dia meliburkan diri setelah terkunci kemarin malam. Belum lagi penuturan secara jelas oleh Lay saat dia sampai dirumah pagi ini tentang kissmark Chanyeol membuat Baekhyun semakin bergidik ngeri tidak percaya.
Baekhyun masih bertanya-tanya. Kenapa si vampir gila tidak berotak itu melakukan ini padanya? Meninggalkan bekas ini? Ternyata benar Baekhyun di lecehkan (setelah Baekhyun baru paham). Baekhyun berpikir lebih baik dia tidak masuk sekolah dulu hari ini. Daripada dirinya terbunuh oleh Park Chanyeol setelah dia sadar.
Park Chanyeol?
Bagaimana keadaan pemuda itu? Baekhyun sedikit khawatir setelah meninggalkan Chanyeol sendirian di UKS. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau Baekhyun menunggu sampai Chanyeol sadar. Mungkin pemuda itu akan membunuhnya saat itu juga lalu menciumnya lagi. Oh, astaga! Menciumnya?!
Yap.. Baekhyun tidak akan melupakan fakta kejadian semalam bahwa dirinya memang berciuman dengan Chanyeol. Parahnya lagi dia terbuai! Sekali lagi! Baekhyun terbuai mencium Chanyeol balik!
Dirinya merasa sangat bodoh dan tidak berotak. Ingin rasanya Baekhyun terjun kedalam sungai terdalam agar melupakan tindakan refleksnya. Bukannya membalaskan dendam Sehun. Semalam Baekhyun malah merawat Chanyeol, memangkunya, bahkan menciumnya! Bodoh benar kau Byun Baek..
Sehun masih menatap Baekhyun meminta penjelasan setelah keheningan yang cukup lama. Pandangan Sehun entah kenapa saat ini terasa begitu menusuk. Baekhyun tahu Sehun pasti menghawatirkannya.
"Kalau kukatakan apakah kau mau membantu ku menghilangkannya?" Sehun mengangguk.
"Tentu saja" Baekhyun menghela nafas berat. Tidak ada gunanya menimang-nimang sebuah alasan lagi. Akhirnya mau tidak mau square lips itu terbuka. Lalu satu nama keluar mulus dari bibirnya. Menghasilkan pemandangan mata Sehun yang melebar tidak percaya.
.
.
.
Sudah hampir tiga hari atau lebih Baekhyun tidak masuk sekolah. Hal ini memang tidak berpengaruh banyak bagi para siswa. Tapi beberapa dari mereka yang sadar akan kondisi Baekhyun tiga hari yang lalu saat menyiram Chanyeol juga prihatin. Pikiran sementara mereka yang tidak tahu keadaan sebenarnya mengatakan bahwa Baekhyun telah tewas -_-
Yang benar saja! Siapa yang bisa lolos dari incaran seorang Park Chanyeol? Apalagi namja lemah berbadan pendek itu terlalu bernyali besar menumpahkan air pada Chanyeol dari lantai tiga. Dan hal itu cukup membuat satu sekolah ribut. Beberapa fans Chanyeol sebenarnya ingin memberikan pelajaran pada namja malang itu. Namun sayang. Baekhyun tidak juga menampakkan batang hidungnya.
Sekali lagi. Baekhyun menghilang sementara sama sekali tidak berpengaruh banyak sebetulnya bagi murid-murid SM SHS. Para siswa dan siswi tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya. Tidak ada yang jauh berbeda. Para penguasa sekolah? Mereka tetap saja populer dan menerima banyak kado setiap paginya.
Lihat? Tidak berpengaruh bukan?
Oh, sepertinya salah besar bagi ketua penguasa sekolah Tuan Park Chanyeol. Dirinya jadi lebih pendiam. Lebih tenang. Namun tatapan tajamnya tidak berubah. Bersyukurlah para murid SM SHS yang selalu menjadi incarannya. Karena Park Chanyeol sedang tidak ingin membully seseorang. Tentu saja! Absennya Baekhyun beberapa hari ini berpengaruh sangat BESAR baginya!
Haha, rasakan itu Yeol!
"Chanyeol! Sepertinya bocah pendek itu melarikan diri darimu lagi ya?" tanya Chen sambil mengemut lollipop pemberian fansnya.
Chanyeol tetap diam. Tidak memberikan reaksi lebih lanjut. Dia hanya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana dan bersandar angkuh pada pinggir mobil.
"Yeol. Apa yang kau lakukan pada anak itu? Apa kau menghajarnya habis-habisan?" akhirnya Luhan mulai bertanya mengingat pertanyaan Jongdae tadi terkesan berbahaya.
Chanyeol menghembuskan nafas kasar. "Sudah kubilang aku tidak melakukan apa-apa!"
Luhan tersentak. Kai dan Chen terdiam. Sedangkan Kris hanya menolehkan kepalanya dengan ponsel ditangannya.
"Akhir-akhir ini kau begitu sensi. Apa karena belum bisa membalaskan amarahmu pada anak itu?" ucap Kris membuat Chanyeol berdiri tegak.
Chanyeol berjalan kearah mobil Kris dan langsung mencengkram kerahnya kasar. Para siswi yang ada disana cukup terkejut dengan tindakan Chanyeol sebagai teman sekelompoknya.
"Bukan urusanmu brengsek!" bentak pemuda jangkung itu lalu menghempaskan tubuh Kris ke mobilnya dengan kasar.
"CHANYEOL!" Luhan yang melihat itu menatap Chanyeol penuh amarah sedangkan Kai dan Chen segera memisahkan mereka.
"DIAM KAU, LU!" Chanyeol balas membentak Luhan.
Namun Luhan tidak getir pada wajah beringas Chanyeol. Sementara suasana di antara para penguasa sekolah itu cukup menegangkan. Kris mengatakan pada Luhan bahwa dia baik-baik saja dan meminta kedua saudara itu untuk tidak berdebat heboh di sini. Tapi mereka sama-sama terlalu keras kepala.
"Sepertinya kau harus benar-benar bertemu haraboji hari ini Yeol.." desis Luhan menatap nanar pemuda jangkung itu.
Chanyeol menghela nafas meremehkan. Tatapannya sangat tajam pada Luhan yang memandangnya tidak kalah tajam.
"DENGAR LUHAN! Kau bukan pengatur segala urusan kehidupanku! Aku bebas mau melakukan apa saja sesukaku! Dan kau tidak bisa menghalangiku jika aku tidak pulang kerumah atau pergi keklub!" ketusnya lalu masuk kedalam mobil dan mulai menyalakan mesin.
Chanyeol tidak mengindahkan teriakkan Luhan yang berkali-kali memanggil namanya dengan cukup keras. Chanyeol tahu. Sangat tahu kalau Luhan peduli padanya lebih dari siapapun. Sebenarnya Chanyeol hanya punya Luhan yang selalu di sisinya dan menjaganya.
Namun Chanyeol tidak ingin Luhan mengatur kehidupannya. Dia ingin bebas. Chanyeol masih mencoba mencari-cari apa yang kurang dari hidupnya sehingga terkadang dia begitu emosional dan marah secara tiba-tiba.
"ARRRRGGHHHH!" geraman kasar keluar dari mulutnya.
Stir mobil tidak bersalah terus ia pukul sampai puas. Kepalanya terasa sangat penuh dengan seseorang saat ini. Chanyeol ingin bertemu dengannya. Tidak bisa selama tiga hari ini Chanyeol tidak menatap wajahnya. Hal itu justru membuatnya sangat frustasi melebihi amarahnya pada sikap si-pendek yang menyiramnya beberapa hari yang lalu.
Dengan kecepatan diatas rata-rata dan gaya berkendara yang bisa di bilang tidak cukup aman bagi seorang siswa sekolah menengah. Chanyeol melajukan mobilnya entah kemana.
Jauh..
Dia hanya butuh tempat jauh untuk melampiaskan penat dikepala dan hatinya. Pemuda ini juga mulai paham akan perasaannya sendiri. Chanyeol merindukan seseorang...
.
.
.
.
"Oh Ayolah Baeby! Sekalii sajaa. Ya ya yahh.."
"Tidak"
"Tidak akan menolak maksudmu bukan?"
"Bukan begitu hyung!"
"Kalau begitu apa? Kau mau kan?"
"Sudah kubilang tidak!"
"Lay! Baby! Kenapa ribut sekali?" ibu Baekhyun tiba-tiba keluar dari ruang staff mendengar suara Baekhyun dan Lay yang memperdebatkan hal kecil dimeja bar.
"Mam.. kumohon bujuk Baeby. Aku akan mengiringinya..." pinta Lay penuh harap dengan mata berbinar.
Sang ibu tersenyum. Sedangkan Baekhyun mulai memberengut kesal. Dalam hatinya Baekhyun menggumamkan doa-doa agar ibunya masih terlalu waras untuk tidak menyuruhnya memakai sesuatu ditangan Lay dan naik kepanggung kecil didepan.
"Baby... Mau yah?" kali ini ibu Baekhyun yang memohon dengan lembut.
"Tapi eomma.."
"Hiburlah pengunjung disini. Dari pada mereka bosan. Ayolah! Penampilanmu akan menghidupan klub meski sepi disiang ini!" tidak ada jawaban dari Baekhyun yang masih diam memelas.
"Kalau begitu biar eomma tambahkan uang jajan Baekki jika kamu mau melakukannya sayang" ibu Baekhyun mencoba alternatif lain. Yaitu dengan iming-iming uang. Sedangkan yang di beri penawaran malah menghela nafas lelah.
"Simpan saja uang eomma. Aku akan tampil" ucapan final Baekhyun membuat wajah Ibu Baekhyun dan Lay ceria.
Lay langsung meluncur(?) kebawah lantai dan melangkahkan kakinya kepanggung tempat biasa DJ memainkan musiknya. Tangannya mulai menyalakan mic yang bertengger nganggur di depan sana. Telunjuknya mengetuk-etuk pelan benda bulat berbahan besi itu. Para pengunjung yang sedang duduk dibeberapa meja kayu mulai menoleh.
"Mohon perhatiannya sebentar. Yap! Sebentar lagi kita akan ada penampilan spesial pada siang hari ini!" kata Lay sambil menyesuaikan senar gitarnya dan terlihat sibuk meski harus menjadi MC sesekali.
Sementara Baekhyun di belakang panggung mulai merapihkan bajunya. Baju pelayan ala bartender biasa dia pakai jika bekerja di klub. Entah kenapa tiga hari Baekhyun tidak sekolah ibunya malah membuka klub mulai dari jam dua belas sampai pagi kembali. Dan daripada dibilang klub. Pada siang sebelum menjelang malam klub ini nyaris terlihat seperti caffe.
Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan malam hari. Mungkin karena pengunjungnya sedikit dan suasana jauh lebih tenang dengan alunan musik jazz yang terputar dengan merdu di tempat ini. Belum lagi penampilan special oleh namja mungil ini selama dia absen.
Baekhyun mulai memakai wig pirang yang waktu itu dipakai menyamar. Karena ini lah ibu Baekhyun mendapat ide. Menyuruh Baekhyun untuk tampil ala bartender yeoja dan bernyanyi di iringi acoustic dari Lay sebagai pengiring. Setiap hari usahanya menolak juga sia-sia. Melihat ibunya begitu antusias padanya membuat Baekhyun tidak tega. Toh, sebenarnya Baekhyun tidak rugi. Dirinya memang pandai menyanyi. Itu juga merupakan salah satu hobinya. Jadi dia terima saja. Kendalanya hanya.. dia harus memakai wig sebagai kostum.
"Sambutlah Baeby!" teriak Lay penuh semangat. Baekhyun sempat mengumpat kecil akibat ucapan Lay yang terkesan mengejeknya. Namun setelah lampu sorot menyinarinya Baekhyun langsung tersenyum lembut. Uh.. Byun Baek sangat manis dan profesional~
"Selamat siang bagi para pengunjung" terdengar siulan iseng menggoda dari meja depan tempat pria tambun dan kedua temannya duduk. Baekhyun berusaha menahan hasratnya untuk menonjok orang itu. Dia kembali berdehem untuk menetralkan suasana hatinya.
"Seperti biasa. Aku akan membawakan sebuah lagu untuk kalian yang sudah bersedia menghabiskan siang kalian disini. Aku harap kalian menikmatinya"
Gemuruh tepuk tangan yang cukup banyak dan siulan penyemangat membuatnya senang. Lay mulai memetik gitarnya. Alunan nada sempurna nan indah mulai terdengar perlahan. Sementara Baekhyun mulai mendekatkan micnya sambil duduk di kursi bulat yang sudah di sediakan di samping Lay.
Pemuda mungil itu mulai bernyanyi dan suaranya memang terdengar sangat merdu. Baekhyun menyanyikan Love Song by Bumkey. Para pengunjung terbuai dengan suara lembut Baekhyun. Beberapa dari mereka ada yang memejamkan mata dan sesekali bertepuk tangan saat Baekhyun mencapai nada tinggi.
Demi Tuhan.. Suara Baekhyun begitu memabukkan. Lembut mengalun ketika dia mengeluarkan nada falseto yang sangat hampir sempura (menurut sehyun hehe).
Pertunjukan Baekhyun dan Lay selesai. Tidak henti-hentinya tepuk tangan para manusia itu terdengar. Mereka terlihat sangat menyukai penampilan Baekhyun. Pemuda mungil ini berdiri dan membungkuk dalam-dalam. Tidak lupa seulas senyuman manis mengembang. Membuatnya semakin cantik bak seorang yeoja sesungguhnya. Baekhyun kemudian melambai sambil berjalan dan sorot lampu itu membuat panggung kembali menjadi gelap.
PLAK!
"Auhh! Sakit Baeby.."
"Itu akibat karena sudah menjahiliku hyung!" umpat Baekhyun membuang muka.
"Aiihh.. Haha baiklah. Kau sangat manis jika marah my dongsaeng. Kerja bagus!" puji Lay lalu mengecup singkat pipi Baekhyun yang membuat empunya kaget dan berteriak.
"HYUNG!"
"Baeby"
Baekhyun menoleh mendengar seseorag memanggilnya. Mata Baekhyun membulat sangat terkejut dengan seseorang di belakangnya saat ini. Pemuda jangkung itu menyinggungkan senyum. Sedangkan mulut Baekhyun tetap terbuka lebar seiring dengan langkah tegap pemuda itu menuju padanya.
"Kau..."
"Lama tidak bertemu" ucap namja itu lagi di depan Baekhyun.
Tidak butuh berapa lama. Kaki mungil itu berlari cepat meninggalkan namja yang baru saja menyapanya. Namja itu terheran-heran namun dia juga tidak ingin berpikir lama dan langsung mengejar Baekhyun.
Baru saja namja itu menghampirinya setelah melihat Baekhyun bernyanyi dengan merdu dari kursi bar. Hatinya benar-benar rindu akan sesosok manis Baeby. Maka dia melangkahkan kakinya menuju belakang panggung untuk menemui yeoja yang sebenarnya adalah Baekhyun. Tapi reaksi yeoja pirang itu malah berkebalikan. Dia melarikan diri menuju ruang staf. Dan pemuda itu tidak ingin kehilangan yeoja itu lagi.
"Jangan ikuti aku!"
"Lantas kenapa kau lari?" tanya pemuda jangkung itu pada akhirnya setelah berhasil menggapai tangan Baekhyun di depan meja bar.
"A... aku..."
"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Itu saja. Kumohon jangan lari" Baekhyun tersentak mendengar penuturan namja ini. Kepalanya terangkat dan pipinya langsung merona melihat wajah pemuda ini yang terengah-engah sambil tersenyum tampan.
"Ma.. Maaf.." lirihnya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya meminta kau jangan lari lagi"
"Tapi aku harus bekerja Tuan.."
"Kalau begitu bekerjalah. Kita bisa sambil ngobrol disini. Lagipula kau tidak begitu sibuk kan? Melihat jumlah pengunjung yang lumayan sepi seperti ini" papar Chanyeol akhirnya lalu melihat sekeliling.
Baekhyun terdiam. Sekali lagi pipinya merona membayangkan kejadian beberapa hari yang lalu. Kepalanya mengangguk singkat lalu melangkahkan kakinya kedalam meja bar.
"Beri aku satu vodka" pintanya tersenyum. Baekhyun menggeleng dihadapannya.
"Kami tidak menyediakan vodka siang hari" bohong Baekhyun.
Padahal sebenarnya dia hanya tidak ingin Chanyeol meminum alkohol perusak tubuh itu diusianya yang terbilang masih muda. Apalagi mengingat kondisi Chanyeol yang sakit tiga hari yang lalu. Tunggu! Kenapa Baekhyun harus peduli pada kesehatan Chanyeol? Ada apa denganmu Baek?!
Chanyeol terlihat gusar. Masalahnya dia sangat ingin meminum vodka untuk melepas stress-nya.
"Kau bisa memesan cappucino atau yang lainnya. Aku akan membuatkannya" saran Baekhyun setelah melihat perubahan wajah Chanyeol. Pemuda itu akhirnya mengangguk. Lalu Baekhyun berbalik dan membuatkan minuman Chanyeol
"Shift-mu setiap hari apa saja Baeby?" tanya Chanyeol.
Baekhyun atau Baeby hanya diam.
"Kau masih sinis padaku setelah pertemuan kedua kita hem?" tanya Chanyeol lagi.
"Ini pesananmu Tuan"
GREB!
"Aku tahu kau berniat kabur lagi kan? Padahal kau tadi mengangguk meng-iyakan ajakanku. Ayolah.. aku hanya ingin mengenalmu. Apa salah?"
'Sangat salah Park Chanyeol' gumam Baekhyun dalam hati.
Pemuda mungil ini terdiam menatap Chanyeol. Jantungnya mulai berdebar memandang kembali wajah Chanyeol dari dekat.
"Kenapa kau ingin sekali mengenalku lebih jauh?" tanya Baekhyun akhirnya.
"Kenapa memangnya tidak boleh?" Baekhyun mengangguk sementara Chanyeol terkekeh.
"Tentu tidak"
"Kenapa?"
Baekhyun terdiam. Dia kehabisan ide untuk terus-terusan menolak ajakan Chanyeol. Sebenarnya dia lelah dan tidak ingin beragumen dengan pemuda ini. Namun Chanyeol terus memegang tangannya.
"Bisakah kau lepaskan tanganku, Tuan? Ini terasa sakit" Chanyeol yang tersadar mulai melepaskan tangan Baekhyun.
"Maaf"
"Tidak apa-apa" balas Baekhyun. Chanyeol mulai menggaruk tengkuknya canggung.
Tidak berapa lama keheningan panjang terlihat diantara mereka berdua. Baekhyun berusaha sibuk dengan gelas-gelas itu dan Chanyeol menyesap cappucino panasnya berkali-kali. Entah kenapa debaran jantung mereka mulai tidak beraturan seperti drum besar yang di pukul asal. Baekhyun menimang-nimang apakah Chanyeol ingat bahwa mereka sudah berciuman beberapa hari yang lalu? Apakah Chanyeol masih ingin membunuhnya karena dia sudah menyiram Chanyeol dengan air?
"Baeby..." panggilan Chanyeol membuat Baekhyun menoleh. Alis Baekhyun berkerut melihat ekspresi Chanyeol yang terbilang horror menatapnya.
"Kau... Itu? Kiss.. mark?"
DEG!
Jantung Baekhyun terasa berhenti berdetak ketika Chanyeol mengucapkan kalimat itu. Nafasnya tercekat di tenggorokan dan tubuhnya mulai menegang. Pikirannya gelagapan mencoba mencari alasan. Namun otaknya tidak mau di ajak berkerja sama. Sementara tangannya mulai keringat dingin.
Apa Chanyeol mengingatnya? Tapi dia kan sedang menyamar menjadi Baeby. Lantas kenapa Chanyeol terlihat sangat geram dan penasaran? Tenang saja Baekhyun. Beraktinglah sebagai Baeby. Ingat kau sedang menyamar dan Chanyeol tidak mengenalimu!
"Ah? I..ini yah.." Baekhyun berucap gugup seperti pertama kali mereka bertemu. Entah kenapa dia malah tersenyum bodoh dan memegang bekas kissmark-nya. Terkesan menutup-nutupi sesuatu yang sia-sia.
"Siapa yang melakukannya denganmu?" kata pemuda bermata bulat itu dengan tatapan tajam.
"Sebenarnya..."
"Kutanya siapa yang memberikan tanda itu padamu?" tanya Chanyeol tidak sabaran dengan tatapan menusuk. Baekhyun mulai takut. Dia berusaha menelan ludahnya dengan susah payah. Tatapannya menjadi sayu memandang Chanyeol mengingat dia sudah di lecehkan dengan hasil dari tanda ini.
'Ini perbuatanmu bodoh... Kenapa kau masih bertanya?' gumaman terkesan konyol itu terlontar sedikit pilu di dalam hatinya.
"Emm... Ini? Ah.. I..ini.. kissmark ini buatan pa.. pacarku..." jawab Baekhyun akhirnya.
Chanyeol membulatkan matanya. Jantungnya serasa mendapat hentakan keras mengetahui bahwa Baeby telah memiliki seseorang yang telah mengisi hatinya. Alisnya berkerut menatap cangkir cappucinonya tajam. Dia berusaha merendam emosinya. Tapi nihil. Entah kenapa hatinya terasa perih saat ini.
"Kau.. Mempunyai kekasih?" lirihnya tersenyum miris sambil menatap meja bar.
Baekhyun juga tidak memandang Chanyeol. Dia hanya menjawab dengan gumaman sambil menatap gelas yang masih sok sibuk dia bersihkan. Padahal nyatanya gelas itu tidak kotor sama sekali.
"Siapa?" Chanyeol mengangkat wajahnya.
Baekhyun cukup terkejut melihat wajah Chanyeol yang sangat frustasi. Tapi dia hanya bisa mengerutkan alisnya tanpa mau ambil peduli. Toh, Chanyeol kan tidak mengenal Baekhyun yang menyamar meskipun dirinya berbohong kali ini pada ketua penguasa sekolah yang masih ingin mengincarnya. Satu atau dua kebohongan tidak akan berefek buruk kan?
Ya.. Itulah yang bisa Baekhyun pikirkan saat ini tanpa memperhitungkan kedepannya akan seperti apa.
"Oh Sehun.."
TBC
a/n:
Annyeong~
Gilak banget sehyun abis tes SBM langsung update *gigitin gedung SM!
Sehyun juga bingung kenapa banyak yang mengira sehyun hiatus karena ukk (?) Pengen ketawa rasanya.. Apalagi pas sehyun bilangin itu dan sehyun dikatain temen-temen kalo sehyun emang anak kecil, loli, pendek, macem-macem lah *tawa miris. Sehyun calon mahasiswi chingudeul.. *hiks T_T Sehyun juga sudah cukup umur untuk menonton filem biru (oke ini gak ada hubungannya sama sekali) *abaikan!
Kenapa jadi sesi curhat (?)
Makin gaje yah? T_T
Gimana ffnya? Makin aneh ya? Ngebosenin? Garing? Gak ngefeels? Sehyun gagal jadi ChanBaek shipper ya? *dipukul BaekYeol
BaekYeol momennya juga masih kurang ya?
Rated juga masih aman~ Sabar saja para teman byuntae sehyun~
Kita perlahan-lahan dulu berjalan-jalan di ff ini hohoho..
Silahkan~
Bagi yang mau menghujat panjang kali lebar di kotak review masih kosong YEHET! ^_^
