A Princess and The Ganks


Summary : Setelah Sasuke dan Naruto menjadi musuh besar dengan dua Gank berbeda, Sakura yang merupakan sahabat mereka kembali. Ia kembali dan menjadi gadis yang dipuja semua orang. Akankah ketiganya kembali menjadi sahabat? Atau mungkin sesuatu yang lebih dari sekedar sahabat? /AU/SASUSAKUNARU/Highscool-fic/Semi Sakura-centric.


Previous Chapter

.

"Nah, Sasuke, Naruto. Apa kalian tidak menyerah saja dengan dunia 'gank' kalian setelah kejadian barusan?"

.

Janjinya untuk selalu melindungi dan melerai keduanya.

.

Dan misinya untuk mengembalikan kembali persahabatan mereka seperti semula.

.

"Kami sudah siap untuk membentuk Gank baru untuk mengabdi padamu, Onee."

.


Naruto © Masashi Kishimoto

A Princess and The Ganks © Shinji Aime

Inspired by Beelzebub © Ryuhei Tamura

WARNING : OOC, SASUSAKUNARU, Semi Sakura-centric, Alur Lambat

a Highscool-fic

Leave your concrit support with Fave/Follow/Especially Review ∞

Enjoy! Enjoy! Enjoy!


Italic untuk flashback. (Chapter ini banyak flashback-nya)


"Kelihatan, tuh. Yang ada di belakang tempat sampah itu Sasuke!" Seru seorang bocah berambut blonde spike sambil berlari kecil menghampiri 'Sasuke' yang dimaksud. Benar saja, dibelakang tempat sampah itu ada seorang bocah laki-laki lain yang berambut raven. Senang betul perasaan Si bocah blonde tersebut karena berhasil menemukan tempat persembunyian Sasuke. Bocah berusia tujuh tahun itu meleletkan lidahnya kepada Sasuke yang berumur sama dengannya.

"Huh." Sasuke mendengus. Namun ada sesuatu yang lebih menarik perhatian Bocah pirang yang bernama Naruto. Ya, Sasuke berada dalam posisi merangkak, namun dibawahnya tampak seorang gadis kecil berambut merah muda-dengan rona merah di pipinya.

"AAAAA! SASUKE APA YANG KAU LAKUKAN PADA SAKURA-CHAN, HOIIIIII!" Jerit Naruto heboh, setengah frustasi pula. Cepat-cepat ia mendorong tubuh Sasuke hingga nyaris terjengkang. Ia mengulurkan tangan kepada Gadis kecil bernama Sakura itu. Namun bukannya meraih uluran tangan Naruto, Sakura justru menghampiri Sasuke yang tengah kesakitan mendapati siku kirinya berdarah.

"Kyaaaaaa! Sasuke-kun berdarah. Duh, darah! Darah sungguhan!" Sakura nampak panik melihat luka lecet yang mengeluarkan darah di siku tangan Sasuke. Karena merasa tak berdaya, Sakura malah meneteskan air mata. Suara sesenggukan mulai terdengar, bahunya juga bergetar. Ia sangat ketakutan mendapati salah satu sahabatnya terluka.

"Eh, kau kenapa?" Tanya Sasuke yang sama sekali tidak peka dengan apa yang terjadi. Ia sungguh tidak mengerti. Lukanya kecil, pasti cepat sembuh apabila ditutupi plester dan dirawat dengan baik.

"Sakura-chan, 'kan yang terluka itu Sasuke. Kenapa Sakura-chan yang menangis?" Naruto berjongkok di hadapan Sakura, ia sedikit cemas dengan keadaan sahabat sekaligus tetangganya ini. Reaksi yang didapatnya dari Sakura sungguh mengejutkan. Tiba-tiba saja gadis kecil itu mendorong Naruto hingga terjengkang dengan posisi yang nyaris sama dengan Sasuke.

"Ini semua karena Naruto! Hiksss…kenapa mendorong Sasuke-kun? Dia 'kan tadi cuma ingin menyembunyikan aku agar tidak ketahuan…hiksss. Naruto no baka..hikss!" Sakura meluapkan segala kekesalannya dengan mata terpejam dan pipi yang memerah akibat tangisannya. Sasuke hanya bisa diam melihat drama antara Naruto dan Sakura.

"Awww…" Naruto mengaduh sakit saat menyadari siku kanannya terluka dan berdarah. Sakura yang mendengarnya terbelalak melihat siku tangan Naruto juga berdarah. Tangisannya semakin pecah melihat hal tersebut.

"Kyaaaaa! Naruto juga berdarah..hiksss…maaf, Naruto…hiksssss…" Sasuke dan Naruto benar-benar kebingungan melihat kelakuan sahabat cengeng mereka.


Bab V : Sesuatu yang hilang


"Kyaaa!" Jerit Sakura saat ia merasakan seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh dan mendapati Shikamaru tengah menatapnya intens. Ketua kelas X Sains 3 itu menatap Sakura kesal.

"A-ano…maaf, Nara-san.Ada apa, ya?" Sahut Sakura dengan suara yang agak serak mengingat ia baru saja bangun dari tidurnya. Dalam tidurnya tadi ia bermimpi sedang dikepung oleh para gangster berandal, jadi yah…wajar saja kalau ia teriak barusan.

"Sekarang ini sedang ada kumpul anggota baru klub renang. Kau ikut daftar 'kan, Sakura?" Tanya Shikamaru kemudian menguap bosan, sepertinya melihat Sakura yang tidur barusan telah menginspirasinya.

"A-ah? Iya! Benar juga. Ayo kesana bersama, Nara-san." Sakura pun menarik lengan Shikamaru terburu-buru. Pemuda berkuncir itu memperhatikan lengannya yang sedang dicengkram Sakura kemudian tersenyum.

"Panggil saja Shikamaru." Ucap Shikamaru pelan. Sakura menoleh lalu mengangguk mengiyakan, tak ketinggalan pula senyum ramahnya.

"Kumpulnya di aula olahraga 'kan?" Tanya Sakura pada Shikamaru, segera diiyakan oleh pemuda yang kelihatan malas itu. Keduanya pun tiba di dalam aula olahraga yang sudah dipenuhi banyak orang.

Pengurus klub renang memang sengaja mengumpulkan anggota-anggota barunya pada jam istirahat pertama ini agar mereka bisa langsung latihan siang ini.

"Nah, sekarang tolong kalian isi absen yang sebelumnya sudah diedarkan. Tulis nama dan kelas kalian." Ketua klub renang itu mengedarkan pandangannya dan berhenti di satu titik, tepatnya tempat dimana Sakura sedang berdiri bersama Shikamaru. Temujin-nama pemuda itu-menyeringai.

"Selebihnya aku serahkan pada Ayame untuk menjelaskan detail selebihnya untuk latihan siang ini." Kemudian Temujin mengeluarkan iPhone-nya dan mengetikkan sesuatu. Ia melangkah ke tempat dimana Shikamaru dan Sakura berdiri.

"Temujin-senpai." Sapa Shikamaru saat Temujin semakin mendekat. Temujin mengangguk lalu tersenyum menanggapi sapaan Shikamaru.

"Kau pasti ketua klub renang, ya?" Sakura tersenyum pada Temujin. Pemuda berambut pirang itu sedikit salah tingkah setelah melihat senyuman Sakura.

"Ah, ya…sepertinya aku sedikit lupa," Temujin memberikan iPhone-nya pada Sakura. "Anggota baru juga diharuskan untuk menuliskan nomor ponsel mereka. Karena kebetulan kau disini, langsung saja tuliskan disitu."

Shikamaru dan Sakura sedikit terkejut mendengar penuturan Temujin. Ini, sih hanya modus akal-akalan Temujin untuk meminta nomor Sakura. Bahkan, nomor ponselnya Shikamaru tidak ditanyakan juga.

"Ah, ng, senpai-"

"Hei! Itu, sih namanya modus. Mana ada kakak kelas yang begitu?" Seru seseorang dari belakang Temujin. "Masa memanfaatkan jabatan untuk mendekati gadis incaran?" Suara dari orang tersebut yang sengaja dikeraskan membuat seisi aula olahraga menoleh.

Temujin nampak tak berkutik, Shikamaru masa bodoh, dan tentunya Sakura terkejut. Pemuda itu menyeringai melihat ekspresi tak berdaya Temujin.

"Kau ikut klub renang juga?" Tanya Sakura pada pemuda itu. Pemuda itu mengangguk perlahan.

"Mau bagaimana lagi? Aku dipaksa." Balas sosok itu.


A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞


Sakura benar-benar tidak konsentrasi lagi untuk menyimak materi mengenai anoda dan katoda yang diberikan oleh Rin-sensei. Ia masih terbayang-bayang sosok yang tadi ditemuinya di klub renang. Huh, dari sekian banyak orang yang harus ditemuinya di klub renang, kenapa harus orang itu yang muncul, sih?

Seolah itu saja belum cukup, Sakura pun teringat bahwa hari ini ia tidak membawa baju renang, otomatis ia harus absen dalam latihan perdananya.

KRINGGGGGGG

Ya, bel pelajaran akhir sudah berbunyi. Rin-sensei pun menyudahi sesi homeroom-nya. Sakura segera tersadar dari lamunannya dan lekas merapihkan alat-alat tulisnya. Ia teringat bahwa hari ini akan diadakan latihan perdana klub musik.

Setidaknya jika ia gagal mengikuti latihan renang, maka ia bisa mengikuti latihan klub musik. Sakura pun kembali memasang wajah riangnya dan memasukkan alat-alat tulisnya dengan gesit.

Yeah, setidaknya tidak akan ada hambatan di klub musik. Kemarin ia sudah cross-check keadaan klub musik saat kumpul perdana. Anggota klub itu seratus persen normal. Ah, catat juga betapa tampannya ketua klub musik itu, Hyuuga Neji. Ya, lengkap sudah segala dorongan untuk mengikuti latihan klub musik.

Sakura segera berlari keluar kelas dengan riang menuju ruang kesenian KGH. Sambil melangkah, Sakura berusaha mengingat-ingat rangkaian nada dalam lagu fur elise dan korobeiniki yang sederhana. Karena seingatnya hari ini para anggota akan diminta untuk memainkan satu simfoni klasik dengan alat musik andalan mereka, Sakura memilih cello.

Ia mengetuk pintu ruang kesenian dan seseorang pun membukakan-nya. Sakura tersenyum pada Terumi Mei yang merupakan instruktur musik KGH. Mei mempersilahkan Sakura untuk masuk. Sakura langsung menempati kursi kecil di sebelah cello di tengah ruangan.

"Wah, sekarang posisi cello sudah terisi. Jarang sekali ada orang yang memilih cello selama aku mengajar." Ujar Mei, memuji pilihan Sakura yang tidak biasa.

"Ah, aku memang ingin sekali mempelajari bagaimana bermain cello yang sesungguhnya." Balas Sakura, berusaha menyembunyikan rona di pipinya.

"Ajari aku lebih pelan lagi, bisa?" Sakura menoleh ke sumber suara yang berisik itu dan mendapati Hyuuga Neji sedang sibuk mengajari seorang pemuda bermain piano klasik.

"Aku sudah pelan-pelan. Sekarang coba kau sendiri tanpa aku." Sahut Neji.

"Ehm, Neji-kun. Sebaiknya kita segera mulai saja tes-nya. Pemain cello sudah terisi." Terumi Mei berhasil membuat Neji dan pemuda itu sama-sama menoleh kearahnya dan Sakura.

"Sakura-"

"KAU!" Sakura memotong kalimat pemuda itu.

"Kenalanmu, ya?" Mei bertanya pada Sakura, namun tidak ditanggapi.

"Kau ikut klub musik?"

"Ya, begitulah. Terpaksa." Sahut pemuda itu, sukses membuat Sakura frustasi.

Hidupnya memang takkan pernah tenang lagi setelah ini.


Bab V : Sesuatu yang hilang ∞


"Aku akan ikut para siswa pecinta alam untuk naik gunung!" Seru Sakura antusias sambil mengacungkan selembar formulir kegiatan travelling pecinta alam. Gadis kecil berkuncir air mancur itu terlihat girang sendiri setelah mengamati formulir tersebut.

"Kenapa ikut naik gunung? Memangnya kemah di hutan shi no mori tidak asyik?" Tanya Naruto polos sambil menghabiskan ramennya.

"Hanya pramuka SD yang berkemah disana. Namanya memang seram tapi medannya sama sekali tidak menantang." Komentar Sasuke asal karena fokus memainkan psp-nya.

"Kau 'kan juga masih SD, Sasuke. Anak pramuka pula," Wajah Naruto terlihat kesal, namun berusaha ia tahan. "Memangnya kau juga ingin naik gunung seperti Sakura-chan?"

"Tidak. Minggu ini ada training camp untuk para pengurus kelas di Oto. Kau 'kan juga harus ikut, Naruto." Balas Sasuke, mata obsidiannya tidak sekalipun lepas dari layar psp-nya.

"Training camp? Kedengarannya membosankan. Bisakah kita tidak usah ikut? Aku lebih suka liburan musim panass bersama Sakura-chan." Pinta Naruto sambil menatap bocah laki-laki berumur sepuluh tahun di sebelahnya.

"Mana bisa begitu? Acara ini wajib dan kalau kita absen, bisa-bisa dicabut jabatannya dari pengurus kelas." Yak, kata-kata dari Sasuke barusan sukses membuat Naruto bungkam.

"Grr…begini pasti jadinya. Naruto dan Sasuke-kun akan pergi ikut training camp. Masa aku harus kemah sendirian? Pokoknya aku akan ikut pecinta alam untuk liburan musim panas ini!" Sahut Sakura dengan wajah cemberut andalannya yang membuat Sasuke muak.

"Sakura-chan jangan begitu. Naik gunung 'kan berbahaya! Lagipula kita masih kelas lima SD! Yang biasa naik gunung 'kan siswa kelas enam." Naruto masih berusaha membujuk sahabat merah mudanya untuk tidak nekat.

"Ah, tidak masalah. Ada Kentarou-kun yang akan menjagaku, 'kok!" Sakura tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putihnya. Wajah ceria Sakura berlawanan drastis dengan wajah kaku Naruto dan Sasuke.

"Kentarou? Siapa dia?" Tanya Sasuke. Kini ia mematikan psp-nya dan melipat tangannya di depan dada.

"Kentarou, yang kelas enam itu? Wah, yang banyak penggemarnya? 'Kok kau bisa kenal dengannya? Kapan dan dimana kenalnya? Terus…kenapa juga si Kentarou itu ingin menjagamu?" Naruto yang awalnya seperti berusaha mengingat-ngingat siapakah Kentarou itu, nampaknya memulai interogasinya. Tentu saja ia harus tahu segala hal mengenai gadis favoritnya itu, termasuk siapa saja yang ada kaitannya dengan Sakura.

"Ne? Kalian belum tahu, ya?" Sakura justru balik bertanya. "Kentarou-kun itu pacarku, loh! Baru saja kemarin kita jadian!"

Tanpa harus berkomentar lebih jauh, Sasuke dan Naruto sudah membuat keputusan. Mereka akan nekat untuk bolos dari training camp dan menemani Sakura untuk kemah di Shi no mori ala Pramuka SD.

Yah, itu jauh lebih baik ketimbang membiarkan kepolosan Sakura dimanfaatkan oleh seorang cowok kelas enam yang tidak jelas.


A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞


"Kaichou! Kau sudah dengar infonya? Beberapa anggota Fox Claw di SMA Konoha baru saja dihajar oleh segerombolan siswa SMA Suna," Kiba tampak terenah-engah setelah lelah berlari. "Kabarnya, gank yang berada dibalik itu semua adalah Kuroteam!"

"Kenapa baru beritahu padaku sekarang?!" Naruto yang tadinya asyik menyeruput sisa kuah ramennya seketika berdiri dan nyaris tersedak.

'Kuroteam itu yang tempo hari menyerangku dan Sasuke 'kan?' Batin Naruto, tentu dia takkan menyatakan itu pada Kiba karena peristiwa penyerangannya itu sengaja dirahasiakan. Semua anggota Fox Claw dan Dark Aoda tak terkecuali tidak mengetahui hal tersebut.

"Salah sendiri akhir-akhir ini kau sering bolos dari pertemuan. Mentang-mentang sibuk dengan Sakura-sama." Celetuk Chouji yang baru saja berhasil menyusul Kiba. Dua kader Fox Claw itu memang sengaja bergegas menuju cafetaria KGH untuk mengabari Naruto.

"-S-Samaa? Kenapa kau memanggilnya begitu, hoi?!" Naruto mengangkat alisnya tak suka. "Dan lagi…aku sering bolos dari pertemuan karena markasnya itu beda kelas, 'kan jadinya sulit. Banyak tugas menumpuk tahu!"

"Hee? Seperti bukan dirimu saja, Naruto. Oh, iya. Kau memangnya baru tahu? Hampir semua laki-laki di sekolah memanggilnya begitu…Sakura-sama." Kiba akhirnya mendudukan dirinya di sebelah Naruto, Chouji mengikutinya. "Makanya, jangan merasa bahwa Sakura-sama itu hanya milikmu dan Sasuke seorang. Banyak, loh yang mengincar dia!"

"Masa, sih? Aku juga baru tahu soal itu." Sahut Naruto sembari menggaruk perlahan belakang telinganya, sedikit ragu bagaimana harus berekspresi. Apa ia harus cemburu? Tapi, kenapa harus cemburu? Apa dia harus marah? Lalu, kenapa marah?

'Arghh…'

"Sepertinya sekarang Sakura-sama juga mulai banyak memiliki pengikut wanita." Chouji ikut berkomentar sambil sibuk mengunyah keripik kentangnya. Naruto hanya memutar bola matanya. Kenapa obrolannya jadi seputar Sakura, sih? Tentu saja Naruto masih salah tingkah untuk menanggapinya.

Apa ia harus senang karena hubungannya dengan gadis-plus Sasuke-itu telah-nyaris-kembali seperti dulu? Rasanya tidak juga. Sebenarnya hubungan Naruto dan Sakura memang stagnan. Bahkan, rasanya ada yang janggal dengan gadis itu. Kalau hubungannya dengan Sasuke…Ah, Naruto enggan untuk memikirkannya sekarang.

"Sudah, ah. Coba jelaskan mengenai penyerangan itu, Kiba. Bagaimana mungkin SMA Suna sudah mulai bebas bergerak di Konoha?" Naruto bertanya seolah-olah baru mengetahui pergerakan SMA Suna di Konoha.

"Itu dia! Deichi dan Mashiro juga tidak menjelaskan detil-nya. Yang jelas, katanya persiapan SMA Suna itu sudah benar-benar mantap! Seolah-olah-"

"Ada seseorang yang menginformasikan segala hal tentang kita. Dan yang pasti 'seseorang' itu adalah orang dalam yang kemungkinan mengetahui seluk beluk Gank-gank yang ada di Konoha." Imbuh Kiba terburu.

"Begitu, ya? Memangnya siapa saja selain anggota kita yang diserang Suna?" Tanya Naruto, ia masih berusaha mencerna info dari Chouji dan Kiba barusan.

"Beberapa anggota Dark Aoda dan Skull Head-gank dari pinggiran Konoha-juga diserang. Sepertinya mereka sengaja ingin menghabisi Gank-gank cabang sebelum menyerang yang pusat." Timpal Chouji.

"Ah, begitu? Kalian ada dugaan siapa yang kira-kira menjadi informan mereka?" Naruto menumpukan wajahnya dengan bertopang dagu diatas meja.

"Kalau itu, sih. Kami curiga informan-nya ada diantara kita dan Dark Aoda." Gumam Kiba, sedikit sedih sekaligus marah.

"D-dark Aoda?!" Iris cerulean milik Naruto pun sukses membulat.


Bab V : Sesuatu yang hilang ∞


Haruno Mebuki kini tengah sibuk mengobati dua luka yang kurang lebih sama dihadapannya. Ia membersihkan kedua luka tersebut menggunakan kapas yang telah dicelupkan kedalam alkohol. Setelah lukanya bersih, Mebuki membubuhkan cairan obat merah ke atas kapas baru dan menempelkannya ke kedua luka tersebut. Terakhir, ia merekatkan kedua kapas tersebut menggunakan perekat bening khusus keperluan medis.

"Nah, sudah selesai. Sasuke-kun, Naruto-kun, kalau terkena air segera ganti menggunakan plester luka, ya." Mebuki mengusap kepala kedua bocah berusia 7 tahun itu dengan asal. Ya, tadi sore putrinya tiba-tiba saja datang dengan wajah memerah sehabis menangis. Sakura datang sambil menggandeng dua sahabatnya yang menampakkan wajah bingung. Gadis berusia tujuh tahun itu memohon kepada sang ibu agar mengobati luka keduanya. Untung saja perlengkapan P3K dirumah Haruno selalu lengkap.

"Terimakasih, Bibi Mebuki. Terimakasih, ya, Sakura-chan." Ucap Naruto sambil berjalan berniat memeluk Sakura, namun gerakannya terhenti karena dihalangi oleh Sasuke yang mengangkat ibu jarinya untuk Sakura. Naruto hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan Sasuke yang menyebalkan. Sabar. Sabar.

"Hn, terimakasih." Ujar Sasuke dengan wajah datar. Jarang sekali Uchiha kecil itu mengumbar pujian. Maka dari itu Sakura benar-benar merona mendengar pujian Sasuke. Lain lagi dengan Mebuki yang sedikit kesal karena sadar bahwa Sasuke hanya berterimakasih pada Sakura saja. Padahal 'kan yang mengobati lukanya adalah Mebuki.

"Um, sama-sama, Naruto. Sama-sama juga Sasuke-kun." Balas Sakura dengan sedikit terbata. Sudah jadi rahasia umum bahwa Uzumaki Naruto selalu terlihat menyukai Haruno Sakura. Sayangnya, Sakura ternyata menyukai Uchiha Sasuke. Sasuke sendiri masih tidak jelas perasaannya. Meski masih kecil, namun tingkah mereka yang menarik perhatian membuat para orang tua semakin menyadari interaksi mereka. Tak jarang pula interaksi mereka memancing tawa dari para orang tua.

Setelah insiden luka tersebut, Sakura mengantar Satu persatu sahabatnya itu kerumah masing-masing. Pertama ia mengantar Naruto kerumahnya yang berada di samping kanan rumahnya lalu meminta maaf kepada Kushina atas luka Naruto yang diakibatkan olehnya. Kemudian ia mengantar Sasuke ke kediaman Uchiha yang terletak tepat di samping kiri rumahnya. Sama seperti tadi, ia juga meminta maaf kepada Mikoto karena Sasuke terluka akibat melindunginya.

Sejak hari itu, persahabatan antara ketiganya semakin erat. Sakura semakin peduli dan menyayangi kedua sahabatnya. Begitu juga dengan Sasuke dan Naruto yang selalu berusaha menjadi sahabat yang baik dengan Sakura. Hubungan antara Sasuke dan Naruto sendiri juga berjalan dengan baik walau kadang keduanya sering bertengkar kecil.


A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞


Sakura menghentakkan kakinya agar mampu berjalan sedikit lebih cepat menuju lokernya. Sekilas ia melihat seberkas bayangan hinggap di belokan koridor tepat di belakangnya. Oke, sekarang gadis bersurai merah muda itu mulai ketakutan.

Ia yang tadinya hanya berjalan pun memutuskan untuk mulai berlari. Jaraknya dengan loker hanya terpaut beberapa meter saja. Ia harusnya bisa mencapai tempat sakral yang menyimpan ponsel dan tas make-upnya tersebut.

SATU

DUA

TIGA

'YA!' Jerit Sakura girang dalam hatinya setelah ia mampu mencapai loker bertuliskan angka 317 itu. Ia memasukan kunci dengan bandul cherry-nya lalu membuka lokernya. Ia sedikit heran karena melihat tidak ada lagi tumpukan surat mengerikan dari para spotless. Tapi, masa bodoh. Justru bagus apabila para spotless bertaubat dini dengan tidak mengganggunya.

Ia telah menemukan tas make-up dan ponselnya. Namun, jepit rambut badai-jedai-nya lolos dan jatuh ke lantai koridor. Sakura pun lekas menunduk untuk memungut benda sakral tersebut. Tapi, ada yang aneh.

'TADI AKU MELIHAT SESUATU!' Jerit Sakura lagi dalam hatinya, kali ini karena frustasi. Ia yakin benar bahwa saat ia menunduk tadi, sekilas terlihat barisan kaki bersepatu milik belasan orang. Dengan satu gerakan cepat, Sakura menutup lokernya dan nyaris mati terkejut saat itu juga.

"KALIAN!" Sakura menuding belasan sosok itu dengan jari telunjuknya yang lentik.

"ONEE-SAMA!" Seruan Sakura pun segera dibalas dengan tak kalah meriah oleh belasan gadis itu. Tubuh Sakura kini terasa kejang saking kagetnya.

"Sebenarnya kenapa akhir-akhir ini kalian sering muncul di tempat-tempat yang tak terduga?" Tanya Sakura setelah akhirnya ia merasa mampu menata kembali nafasnya.

"Bukan apa-apa. Kami hanya mengawasi agar para spotless tidak lagi mengotori lokermu dengan surat perasaan mereka yang picisan." Balas Karin sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Oke…aku berterimakasih untuk itu. Lalu apa lagi yang ingin kau lakukan disini?" Sakura secara refleks melangkah mundur.

"Kudengar belum lama ini mereka menghubungi vendor sweater terkenal untuk menempatkan wajahmu ditengahnya." Ryuuzaki angkat suara sambil tetap menatap Sakura.

"Ya, dan lalu sweater bodoh berwarna merah muda itu akan menjadi seragam baru mereka di KGH. Itu pasti sangat mengganggumu 'kan?" Sakura berusaha tidak tersinggung dengan kata-kata Shion barusan yang secara tidak langsung menyindir warna rambutnya.

"A-aahh, memang benar itu pasti sangat mengganggu." Balas Sakura.

"Nah, maka dari itu kami memutuskan untuk membuat vendornya kewalahan dengan menangani pesanan baru dari kami dan menolak pesanan spotless." Karin tersenyum pada Sakura sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Pesanan baru? Maksudnya apa?" Tanya Sakura dengan hati-hati sembari mengeratkan cengkraman terhadap tas make-upnya.

"Tunjukkan pada Onee!" Seru Karin hingga gadis-gadis itu pun menunjukkan benda yang sedari tadi mereka sembunyikan di belakang mereka.

"Tadaa~" Seorang gadis berambut merah lurus-Minna-menunjukkan benda itu sambil tersenyum pada Sakura.

'ASTAGA! APA LAGI ITU?!' Sakura sungguh ingin mencakar wajahnya sendiri saat ini.

Sebuah Sweater tanpa hoodie berwarna hitam dengan tulisan vertikal berwarna pink terang di tengahnya.

BAD VELVET.

"Ya, Onee. Aku dan yang lain sudah sepakat melalui cara voting. Um…untuk menentukan nama gank kita," Karin menyampirkan sweater itu di pundaknya. "Kami memutuskan untuk memilih nama Bad Velvet."

'Mungkin sebenarnya Para Spotless jauh lebih baik ketimbang gadis-gadis ini.' Sakura kini tidak mampu menjerit lagi, bahkan dalam hatinya sekalipun.


Bab V : Sesuatu yang hilang ∞


Bulan kedelapan dalam setahun selalu menjadi akhir musim panas bagi para warga Konoha. Untuk melepas musim yang identik dengan kehangatan tersebut, warga mengadakan festival hanabi di akhir agustus. Mereka membuka bazar dan berbagai pawai yang meriah. Sebagai penutup yang cantik, mereka juga mempersembahkan pertunjukkan kembang api yang spektakuler untuk semua orang.

Semua warga Konoha berbondong-bondong untuk menyaksikan perhelatan tersebut. Sama halnya dengan Sakura yang benar-benar antusias untuk menghadiri festival tersebut. Bahkan ia sampai meminta kepada sang Ibu untuk menjahitkan yukata baru untuknya jauh-jauh hari.

Namun kini yang menjadi masalahnya adalah satu. Sasuke sama sekali tidak ingin ikut ke festival tersebut. Lain dengan Naruto yang memang sudah menyetujui ajakan Sakura sejak awal, namun Sakura tidak akan ikut apabila Sasuke benar-benar tidak ikut. Kenyataannya ancaman Sakura tidak berpengaruh bagi Sasuke yang masih tetap tidak berminat.

Dengan kesal, Sakura melangkahkan kakinya menuju rumah Sasuke. Begitu sudah sampai di depan gerbang yang dihiasi lambang kipas tersebut, Sakura menendangnya. Ia berani melakukan itu karena setahunya hari ini Mikoto ada di luar kota. Benar saja, yang menyambut salam kasarnya adalah bocah berusia sembilan tahun dengan rambut raven mencuat plus wajah super datar.

"Ada apa?" Tanyanya singkat saat melihat Sakura yang berada di luar gerbang rumahnya. Sakura nampak cantik dengan yukata fuschia yang dihiasi motif bunga Sakura beserta batangnya. Helaian merah muda sebahunya diikat dua tinggi. Ia memegang dompet kecil berwarna putih yang terhubung dengan tali yang kini ia jadikan gelang. Secara keseluruhan, gadis kecil itu nampak manis.

"Ayo ke festival hanabi, Sasuke-kun!" Seru Sakura dengan tidak sabar. Ia benar-benar akan merasa canggung apabila hanya berdua saja dengan Naruto karena bocah itu pasti akan terus menggodanya. Alasan lainnya mengapa ia begitu ingin Sasuke ikut adalah karena bocah raven itu merupakan orang yang amat ia sukai.

"Tidak bisa. Aku disuruh menunggu rumah. Rumah hari ini kosong." Balas Sasuke lagi. Ia terlihat begitu santai dengan celana kargo hitam dan kaus bergambar siluet goku yang berwarna putih. Bahkan walau hanya dalam penampilan seadanya, Sasuke masih tampak keren dan mampu membuat Sakura merona.

"Kata Bibi Mikoto tidak apa kalau kau datang ke festival. Tinggal kunci rumahnya." Sakura menatap Sasuke kesal. Selain kesal karena ke-keras kepala-an Sasuke, ia juga kesal karena belum juga dipersilahkan masuk. Hoi, sedari tadi ia berbicara dengan Sasuke dengan dihalangi gerbang Uchiha, loh! Ya, dari tadi Sakura melongok melalui celah antara gerbang.

"Aku tidak tertarik." Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Sasuke berbalik dan berniat masuk ke dalam rumahnya, namun teriakan Sakura membuatnya mengurungkan niatnya. Ia berhenti berjalan namun masih membelakangi gerbang.

"IYA! TIDAK MASALAH! AKU AKAN KESANA BERDUA SAJA DENGAN NARUTO! YA, DENGAN NA-RU-TO!" Teriak Sakura frustasi. Sasuke sedikit bingung mendengarnya. Begitu ia menoleh ke gerbang, Sakura sudah tidak disana lagi. Sasuke berpikir apabila ia tidak jadi ikut maka Sakura juga sama. Namun, ternyata Sakura masih berusaha datang kesana dengan Naruto saja. Dia tidak salah 'kan? Sakura ke festival hanabi hanya berdua saja dengan Naruto. Iya, hanya berdua seperti sepasang kekasih.


A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞


Sasuke yang saat itu hanya mengenakan kemeja putih KGH dan celana sekolah hitamnya tampak kesal. Nyaris setengah jam ia menunggu kedatangan Suigetsu di kelas XI Sains 2, sendirian. Beberapa lama kemudian pintu kelas yang sepi itu terbuka dan menampakkan sosok Juugo.

"Juugo." Panggil Sasuke yang kemudian segera ditanggapi oleh empunya nama yang dipanggil. Juugo menghampiri Sasuke dan menyerahkan map berwarna biru tua.

"Lihatlah isinya, Sasuke." Juugo membuka map tersebut. Isi map itu sedikitnya telah membuat manik obsidian Sasuke membeliak. Kini ia bahkan sedikit melupakan janji temunya dengan Suigetsu. Apa yang ditunjukkan Juugo saat ini jauh lebih darurat.

"Tiga puluh anggota Dark Aoda dalam waktu bersamaan? Yang diserang pun terletak di wilayah yang menyebar. Bagaimana mungkin?" Sasuke kini menatap Juugo dan meletakan map tersebut di meja yang ada di depannya.

"Sepertinya Kuroteam memiliki juru kunci berupa informan orang dalam, yang mengetahui segalanya tentang Konoha. Dan lebih parah lagi…" Juugo sepertinya tidak sanggup untuk meneruskan kalimatnya.

"Tentang Dark Aoda." Imbuh Sasuke sambil berusaha keras untuk mempertahankan wajah datarnya, sedikit berkhianat pada perasaannya yang kalut.

"Itu juga yang harus menjadi kekhawatiran utama kita. Apalagi isu soal penyerangan SMA Suna ke KGH. Mereka pasti-"

"Aku sudah mempercayakan Suigetsu untuk mencari tahu mengenai kapan tepatnya waktu penyerangan itu, beserta pola-nya kalau bisa. Harusnya dia memberitahuku sekarang." Sasuke melirik jam di dinding kelas XI Sains 2. Sudah tepat tiga puluh menit si Suigetsu itu terlambat.

"Akhir-akhir ini Suigetsu juga sering sekali bolos dari pertemuan." Juugo menatap iris onyx Sasuke. "Hanya sekedar informasi, berhubung kau juga sering bolos dari pertemuan. Sakura-san benar-benar menyibukkanmu, ya?"

"Tidak biasanya Suigetsu begitu. Aku banyak bolos karena kesibukan pelajaran. Hanya itu." Kilah Sasuke sambil kembali mengamati jam dinding.

BRAK

"Hoi, maaf menunggu Sasuke!" Suigetsu mengangkat sebelah tangannya untuk memberi salam, hanya dibalas dengan tatapan sinis Sasuke. Senyum lebar Suigetsu seketika luntur saat ia melihat sudah ada Juugo di sebelah Sasuke.

"Sudah selesai semua?" Tanya Sasuke pada Suigetsu saat pemuda itu duduk di depannya. Suigetsu langsung mengangkat ibu jarinya pada Sasuke.

"Ah, jadi begini…eh, tidak masalah kalau aku bicarakan di depan Juugo?" Suigetsu melirik Sasuke hati-hati. Menurutnya info yang akan dia berikan adalah informasi rahasia yang harus ditangani hati-hati.

"Juugo juga kepercayaanku. Dia berhak tahu." Kalimat Sasuke langsung dibalas anggukan Suigetsu.

"Sepertinya sasarannya adalah gank-gank kecil di pinggiran Konoha. Dan berdasar pengamatanku, tindakan mereka untuk menghabisi anggota kita dan Fox Claw hanya sekedar gertakan belaka." Pemuda berambut ombre tersebut mengambil secarik kertas dari dalam saku celana-nya dan membacanya dengan teliti. "Terbukti bahwa yang diserang hanya anggota gank cabang saja. Sepertinya mereka ingin menyerang pusat belakangan."

"Dark Aoda dan Fox Claw dianggap sebagai pusat, huh?" Timpal Juugo.

"Lebih tepatnya semua Gank yang ada di KGH." Balas Suigetsu.

"Di Konoha Garden High hanya ada dua Gank. Kau juga tahu itu." Tatapan tajam masih juga belum luput dari mata Sasuke.

"Oh, ya? Memangnya kalian belum dengar?" Suigetsu menunjukkan seringai lebarnya. "Kudengar Karin dan kawan-kawannya sudah menemukan seorang ketua yang pas untuk memimpin gank baru mereka."

"Karin? Gank baru?" Sasuke kini teringat dengan seorang gadis berambut merah berkacamata yang setengah mati ingin bergabung dengan Dark Aoda sejak di Konoha Garden Secondary dulu.

"Yep! Kudengar namanya adalah Bad Velvet. Sense penamaan-nya memang luar biasa. Tapi sangat cocok untuk menggambarkan ketuanya," Suigetsu terkekeh, teringat betapa ia menyukai gadis berkacamata itu. "Kau tahu 'kan? Ketuanya adalah Sakura-sama."

'Sakura?' Batin Sasuke. Sedikit tidak percaya bahwa gadis itu ternyata tertarik untuk memimpin sebuah awalnya Sakura nampak mati-matian menentang ideologi mengenai gank.

"Yah, terlepas daripada itu…kudengar pihak Suna juga mulai mengincar Bad Velvet." Suigetsu menghela napasnya.

"Bagaimana bisa? Bahkan aku juga baru mendengar nama gank itu." Alis oranye Juugo kini saling tertaut.

"Yah, salahkan anggota Bad Velvet yang sangat lihai untuk mempromosikan Gank tersebut di medsos. Tapi, sepertinya incaran utama mereka adalah Sakura-sama." Tutur Suigetsu sembari mengusap wajahnya.

'Jangan-jangan, soal penyerangan itu?' Pikir Sasuke.

"Mereka sepertinya menganggap Sakura-sama sebagai orang yang kuat. Entah bagaimana," Suigetsu memberikan secarik kertas yang sedari tadi digenggamnya pada Sasuke. "Ne, maaf Sasuke. Aku masih ada urusan setelah ini. Ketemu lagi di Studio besok, ya." Pemuda itu pun pergi meninggalkan kelas.

Sasuke menilik isi kertas itu, dan sukses dibuat terkejut. Isi dari kertas itu adalah waktu penyerangan, pola penyerangan dan siapa-siapa saja yang akan dikirim nantinya oleh pihak Suna. Sebenarnya ia agak sedikit khawatir karena penyerangan itu melibatkan duo Baki-Maki yang sadis.

Tapi, saat ini ada satu hal yang lebih menjadi pikirannya.

'Bagaimana Suigetsu bisa mendapatkan informasi seakurat ini?' Sebelum-sebelumnya Sasuke takkan mempermasalahkan sumber Suigetsu asalkan pemuda itu bergerak cepat dan cerdik. Namun, dalam situasi yang tidak mengenakan ini…ia wajib mencurigai semuanya.


Bab V : Sesuatu yang hilang ∞


"Um, iya, Sakura-chan. Kakaknya Sasuke itu tinggal bersama Kakek dan Neneknya di Oto. Pokoknya Kak Itachi benar-benar dimanja oleh Nenek dan Kakeknya." Jelas Naruto sambil tersenyum hangat pada Sakura, saking tulusnya senyuman itu, tanpa sadar pipi Sakura jadi merona melihatnya.

"A-ah, Wah, aku baru tahu. Setahuku Sasuke-kun memang punya Kakak. Tapi aku baru tahu kalau dia di Oto. Kalau kau, Naruto? Bagaimana keadaan saudara kembarmu?" Sakura berusaha mengalihkan perasaan berdesir dihatinya. Ya, hari ini Naruto bertingkah tidak seperti biasanya. Bocah sembilan tahun itu hari ini sangat tenang dan tidak banyak bertingkah. Ia benar-benar membuat Sakura nyaman saat menikmati festival.

"Um, Menma mendapatkan yang terbaik dibawah asuhan Paman Asuma dan Bibi Kurenai." Jelas Naruto.

Sakura juga tahu bahwa dulu saat lahir, Naruto memiliki saudara kembar yang nyaris identik dengannya. Namun, seminggu kemudian Kushina dan Minato memutuskan untuk memberikan kakak kembar Naruto itu kepada pasangan Asuma dan Kurenai. Ya, Kurenai divonis mengidap kanker rahim sehingga tidak mungkin ia memiliki anak. Karena persahabatan erat antara Minato dengan Asuma, Menma pun kini menjadi anak Asuma dan Kurenai.

"Tahu tidak?" Sakura menatap Naruto sekilas dengan cahaya mata emeralds-nya yang berbinar. Naruto sendiri sampai terpaku menatap gadis pujaannya tersebut.

"Hari ini aku senang karena kamu, Naruto," Wajah Naruto memerah mendengar pujian dari Sakura untuknya. "Festivalnya jadi lebih asyik!" Jelas Sakura lagi hingga membuat Naruto nyaris terkena serangan jantung.

"A-ahh..Sakura-chan juga... terimakasih sudah mau menemani aku, loh." Balas Naruto malu-malu sambil menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Sakura jadi heran sendiri dengan perasaan berdesir yang muncul dihatinya saat sadar bahwa ia yang membuat Naruto tersenyum. Meski hanya sedikit, Sakura yakin ia jadi sedikit menyukai Naruto.

Kedua bocah berumur sembilan tahun yang sedang sibuk dengan drama cinta monyet mereka terlalu terhanyut. Mereka sama sekali tidak sadar bahwa ada seekor anjing liar yang sedang berlari ke arah mereka. Anjing itu dengan sigap menggigit dompet putih Sakura yang terhubung dengan tali gelang.

"KYAAA!" Dengan panik Sakura berusaha menyingkirkan anjing yang masih menggigit dompet berisi koin milik Sakura. Rupanya anjing tersebut tertarik akan suara gemerincing koin yang berasal dari dompet Sakura.

"HUSH! JAUH-JAUH DARI SAKURA-CHAN!" Naruto menimpuk anjing tersebut menggunakan batu kecil yang ia pungut dari jalanan. Sekarang mereka berada di lapangan tempat pertunjukkan kembang api yang masih senggang. Tidak ada yang melihat mereka sehingga mereka terlihat kesulitan. Karena lemparan batu dari Naruto yang membabi buta, Anjing itu pun mulai berlari sambil menggigit dompet Sakura yang berhasil dilepas.

"DOMPETKU! TABUNGANKU!" Sakura ikut mengikuti langkah anjing tersebut. Dengan sigap Naruto mengikuti langkah sahabat merah mudanya yang berlari kencang mengejar si anjing. Tanpa sadar, Sakura berlari hingga tepian lapangan yang dibawahnya terdapat tanah lereng yang dilapisi rerumputan. Sakura yang terlambat mengerem langkahnya pun tergelincir, beruntung Naruto sempat menangkap tangan kanan Sakura. Si anjing yang dikejar Sakura berlari dengan santai menuruni lerengan tanah tersebut menuju Danau Konoha dibawah.

"S-sakura-chan!" Naruto yang notabene masih kecil tentu saja tidak sanggup menahan beban Sakura. Ia pun ikut terperosok, namun seseorang menangkap kakinya.

"S-SASUKE!" Seru Naruto lagi. Ia nampak bersyukur karena ia tidak jadi terjatuh ke bawah secara bebas. Ia masih berusaha menahan beban Sakura yang terlihat mati-matian menahan tangis.

"J-jangan banyak bergerak. Sakura, coba kau panjat badan Naruto secepat mungkin. Aku sudah tidak kuat." Ujar Sasuke terbata karena sedang menahan beban dua orang sekaligus.

"M-mana bisaaa…aa-aku tidak bisaa…!" Jerit Sakura frustasi.

"B-bodoh!" Bentak Sasuke. Tiba-tiba ia merasa sepatu yang dipakai Naruto mulai mengendur. Sasuke dengan sigap menangkap betis Naruto, namun karena kurang cepat, Naruto dan Sakura pun mulai terjun kebawah karena tak ada yang menahannya. Yang lebih sial, kancing jaket Sasuke tersangkut dengan tali sepatu Naruto yang satu lagi. Hasilnya? Ia pun ikut terjun dan bergelinding di lereng tanah dengan posisi yang kurang lebih sama dengan Naruto, wajah duluan di tanah.

"AAAAAAAA!" Jerit ketiga bocah itu.


A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞


Sakura kini tengah makan di cafetaria KGH, dengan wajah yang tidak secerah biasanya. Bahkan rasanya aura gadis itu kini menghitam. Sudah seminggu sejak peresmian Gank Bad Velvet, yang rasanya sangat terpaksa. Dan sudah beberapa hari sejak Sakura kesulitan untuk tidur nyenyak.

Sebenarnya ia memang menolak untuk menjadi ketua Bad Velvet. Namun, terror Karin dan kawan-kawan selama tiga hari penuh sudah cukup menggoyahkan pendiriannya. Gadis-gadis-yang menurut Sakura gila-itu telah membombardir Sakura dengan permohonan plus wajah memelas.

Maka dari itu, jadilah Gank super terpaksa ini. Bahkan saking terpaksanya, mereka akhirnya segera memilih dojo kendo Sakura sebagai markas mereka. Para anggota Bad Velvet sepakat untuk kolektif membayar sewa dojo selama pertemuan.

Sakura pun sudah mulai mengajarkan dasar-dasar bela diri pada seluruh anggotanya, dibantu teman latihannya Tenten. Alhasil, kedekatan dan keseganan para anggota Bad Velvet terhadap Sakura meningkat drastis. Saat istirahat dan pulang sekolah pun mereka sepakat untuk mengenakan sweater spesial mereka.

Hanya saja, Sakura takkan pernah merasa wajar terhadap keadaan ini. Ia yang mati-matian menentang gagasan mengenai Gank, kini malah mengepalai salah satunya. Mungkin, bagi Naruto maupun Sasuke, mantan sahabatnya seperti menjilat ludahnya sendiri.

Belum lagi, kini sebagian besar siswa KGH memperlakukannya dengan rasa segan yang berlebihan. Sebelumnya mereka memperlakukannya selayaknya tuan puteri, kini mereka memperlakukan Sakura seperti Permaisuri diktator saja.

Keahliannya dalam berbagai bidang-termasuk bela diri, Hubungannya dengan dua ketua gank berpengaruh, aura dan kharismanya, serta betapa banyak pengikutnya telah menjadikan Sakura sebagai isu yang lebih panas dari sebelumnya.

'Hilang sudah imej gadis baik hati yang manis. Padahal sudah susah-susah aku melatih imej itu selama di sekolah putri.' Batin Sakura yang kini nyaris kehilangan kesadarannya.

"Onee, coba lihat siapa yang datang! Sasuke dan Naruto!" Bisik Karin dengan volume suara yang tidak pantas untuk sebuah bisikan. Sakura hanya berusaha tersenyum.

Yah, sudah menjadi rahasia umum bahwa Karin dan Shion telah menyerah atas perasaan suka mereka pada Sasuke maupun Naruto. Di mata keduanya, Sasuke dan Naruto memiliki ikatan khusus dengan ketua mereka. Maka dari itu mereka memilih untuk tidak mengusik hubungan tersebut atas alasan kesetiaan.

'Sekarang apa lagi?' Sakura kembali membatin saat melihat tatapan tajam dua mantan sahabatnya itu.


Bab V : Sesuatu yang hilang ∞

To Be Continue To

Bab VI : Wajah-wajah Baru


.:AUTHOR ZONE:.

Salam untuk para warga FFN~

Grrr. Makin gaje aja. Maaf ya kalo motongnya gak pas. Berhubung chap ini aslinya 7k+. Yang nanya tokoh seperti Ino, Hinata ataupun Saso Gaara sabar aja ya. Bakal ada bagian masing-masing untuk setiap tokoh. Adios-see you in next chap.

Chap depan akan semakin gaje, nantikan terus kegajean saya di fic ini yoo. Rencananya kalo fic ini selesai, aku mau publish Bluestone Alley and Aurora. Fic yang inspired by Piano tiles. .


Pojok balas review untuk non-login

Kimberchan : Udah lanjut loh~ RnR again? *wink

Embun : Kakashi itu bukan tukang es krim biasa loh gitu2 *smirk* Yang pake hoodie itu nanti..(Spoilersensor)…Hohohoho. RnR again? *wink

Shuu-kun : ARIGATO! ATAS COMPLIMENT KAMU YANG BOOMBASTIS*narikecak* Jangan panggil senpai…*blush* Iya, aku juga agak gimana gitu sama Sakura yg canon, tapi aku saku-centric, hoho. Aku juga suka banget sama Sakura Onee-sama. Gak nyangka reaksi untuk bagian itu luwarbiasahh. Udah lanjut nih kegajean ceritanya, hoho. RnR again? *wink


SPECIAL THANKS TO :

Philosopher|kimberchan| 76 | Yanti Sakura Cherry | sebut saja mawar | nkaalya |DAMARWULAN | nakize irawan | daisaki20 | smilecherry | neripyon | embun | Rinda Kuchiki |Kurobasaddicted | Guest |suket alang alang | nofita817 |via256 | Taka Momiji | Harika-chan ELF | Bluepink Cherrytomato | shaulaamalfoy | Imam453 |Shuu-kun |


Flame? Boleh. Annon? Jangan.

Kalo mau flame tolong jangan annon ya. Kalo Annon langsung aku hapus tanpa dibalas karena aku tidak akan mau nanggepin komentar miring dari orang yang gajelas, hoho. Jangan lupa gunakan tata bahasa indonesia yang baik, yoo.

Akhir kata, Fave/Follow/Especially Review~

Don't be silent readers.

Sweet smile, Aime~