The one of my happiness who almost crack..
Sehyun will always be here loving both of you my shipp
And this BaekYeol or ChanBaek Area will also always be here!
Even when we were get a big hit by sadness or happiness. We had to stay there for them.
Please don't go...
Keep support them. Loving them like usual we do. Like EXO Fans do with uri heart..
No Bash! Love and Peace! Don't forget!
Because always..
WE ARE ONE!
.
.
.
-Enjoy-
.
.
.
.
"Hun, besok kau sudah mulai masuk sekolah kan?"
"Tentu. Kau juga? Apa tandanya sudah hilang?"
"Sudah. Berkat bantuanmu tanda ini sedikit pudar"
"Baguslah kalau begitu. Sampai jumpa besok, Baek"
"Ah! Sehun!" Baekhyun dengan cepat memotong percakapan mereka sebelum Sehun memutuskan sambungan telepon-nya.
"Iya?"
"Perlu bantuanku besok?"
Sehun terkekeh di sebrang sana tanpa di ketahui Baekhyun yang memandang langit kamarnya menunggu jawaban seorang Oh Sehun. "Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri. Lagipula Yunho mengantarku"
Baekhyun mengangguk meski tidak terlihat oleh Sehun. "Sampai jumpa besok, Sehun"
-BaekYeol Area!-
.
.
.
.
"Baek! Kau dimana?!" suara histeris Kyungsoo mulai terdengar dari sebrang telepon.
Baekhyun menengok kearah jam tangannya. Masih jam tujuh kurang lima. Kenapa Kyungsoo panik sekali seakan Baekhyun telat? Padahal bel baru akan berbunyi jam setengah delapan. Aneh sekali..
"Aku masih dibus. Ah.. sekarang sudah turun di halte depan sekolah. Ada apa suaramu ketakutan begitu Kyung? Tenang saja aku tidak akan telat!" oceh Baekhyun mulai menoleh ke kiri dan kanan sebelum menyebrang.
"SEHUN DAN CHANYEOL! CEPAT KEMARI BAEK!"
.
.
.
.
.
Saking tidak bisa berpikir dengan jernih otak dan kaki Baekhyun juga tidak mau diam. Pemuda mungil itu menghiraukan segala umpatan semua murid-murid yang di tabraknya saat berjalan masuk kedalam lingkungan sekolah.
Dari halte bus menuju gedung sekolah memang lumayan jauh. Tapi Baekhyun sungguh tidak mau peduli. Kakinya juga merasakan hal yang sama. Saraf tubuh Baekhyun terasa bergerak dengan se-refleks mungkin mendengar nama Sehun termasuk Chanyeol yang di sahutkan Kyungsoo tadi.
'Ada apa lagi dengan mereka?!' gumam Baekhyun sambil terus berlari.
Gedung dalam sekolah belum begitu ramai. Tapi sepertinya memang ada yang tidak beres ketika Baekhyun melihat di kiri dan kanannya siswa-siswi lain melangkah sama cepatnya dengan dia menuju lantai tiga. Tentu saja lantainya anak kelas dua belas. Angkatan Baekhyun.
"Sehun..." sedari tadi bibirnya kelu menyebut nama itu.
Apalagi ketika sampai di tangga paling atas. Lorong depan kelas 12-2 terlihat begitu berisik. Jantung Baekhyun semakin berdebar kencang melihat murid-murid berkerumun seperti menyaksikan sesuatu.
"Baek!"
"Kyungsoo! Ada apa ini ribut-ribut didepan kelasku? Mana Sehun?" cemasnya seraya mengguncang badan Kyungsoo cukup keras.
Kyungsoo menunduk lesu. "Maaf Baek.. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.."
DEG!
Tubuh Baekhyun menegang kaku mendengar pernyataan Kyungsoo. Tanpa banyak berpikir lagi Baekhyun mencoba menerobos masuk kedalam kerumunan depan kelas. Badannya yang kecil memang memungkinkan dia untuk menyelinap meski harus bersusah payah.
Ketika dia berhasil menerobos sampai depan para siswa dan siswi tadi. Mata Baekhyun seketika membulat melihat pemandangan di hadapannya. Kyungsoo yang mengikuti Baekhyun di belakang juga berteriak memanggil nama si namja berkacamata tebal dengan histeris.
'Sehun...' lirih Baekhyun dengan tubuh kaku.
"Chanyeol... Cukup. Kurasa dia sudah jera" cegah Kai menahan si pemilik tubuh jangkung yang menatap tajam incaran paginya.
"Kelihatannya dia masih minta tambah, Kai" suara bariton itu seketika membuat bulu kuduk para murid yang berkumpul menonton ikut merinding.
"Yeol... Aku.. Sudah minta maaf... Apa hal itu.. belum cukup..?" ringis Sehun berusaha bangkit dari tempatnya.
Tubuhnya terasa sakit. Pipinya membengkak lagi dan darah kering mulai keluar dari sudut bibirnya. Belum lagi tangan yang di-gips sempat menahan badannya saat ingin jatuh. Menimbulkan rasa nyeri luar biasa untuk seseorang yang baru saja selamat dari tulang yang bergeser.
"IDIOT! KAU PIKIR KAU SUDAH KUMAAFKAN?! JANGAN PIKIR KAU SUDAH LEPAS DARI HADAPANKU!" Chanyeol menarik kerah seragam Sehun tinggi dan tangannya sudah siap hendak memukul Sehun.
"YAKK! TIANG LISTRIK BAJINGAN!" satu umpatan membuatnya berhenti melakukan aksinya.
Chanyeol menoleh. Mata tajamnya menangkap sosok Baekhyun yang sudah berkaca-kaca. Berdiri gemetaran sambil maju mendekat. Alisnya berkerut dengan ekspresi marah bercampur takut. Berbagai pasang mata di sana menatapnya dengan serius. Lalu yang lain seperti biasa. Memberikan reaksi yang cukup heboh ketika Baekhyun berani mengumpat Ketua penguasa sekolah.
"Lepaskan Sehun!" ancam Baekhyun tidak sayang nyawa.
Chanyeol tersenyum meremehkan. "Kau, datang juga akhirnya"
"LEPASKAN DIA!"
"Apa jika anak ini kusiksa baru kau datang hem?" goda Chanyeol licik sambil menyeringai.
"KEPARAT KAU! KUBILANG LEPASKAN DIA! KALAU MAU BALAS DENDAM PUKUL SAJA AKU! JANGAN LIBATKAN SEHUN!"
"Hah? Kau berani memberikan nyawamu padanya?" Chen yang sedari tadi diam memperhatikan sambil mengemut lollipopnya akhirnya angkat bicara.
"Chen!" sahut Kai.
"Apa? Aku hanya bertanya. Ternyata nyali anak ini besar juga. Apalagi dia sudah berani menyirammu Yeol, haha"
Ucapan Chen menyadarkan semua murid yang menjadi penonton di belakang Baekhyun. Benar. Ini dia si Byun Baekhyun yang telah menyiram Park Chanyeol dengan air hanya karena niat terdalamnya untuk membalaskan dendam seorang geeks. Akhirnya dia muncul juga..
Baekhyun terdiam menunduk. Tangannya terkepal keras sampai buku-buku jarinya terlihat. Kepalanya tidak berani melihat wajah Sehun. Lagi-lagi nyalinya menciut. Sejujurnya Baekhyun takut Chanyeol akan melecehkannya kembali di depan semua teman-temannya bahkan SM SHS. Tubuhnya juga gemetaran dengan debaran jantung yang tidak stabil.
"Brengsek kalian semua.. Lepaskan Sehun! Kau tidak tahu dia sedang sakit?" lirih Baekhyun memohon lebih sopan meskipun mengumpat. Dia pikir cara kasar juga tidak akan meluluhkan hati para penguasa sekolah ini.
"Apa hubunganmu dengan dia?"
DEG!
Baekhyun mengangkat wajahnya. Ucapan Chanyeol barusan mengingatkan Baekhyun dengan sebuah kejadian di Bar. Tapi tidak mungkin. Saat itu Baekhyun sedang menyamar sebagai Baeby dan Chanyeol tidak mengetahuinya. Kenapa Chanyeol sekarang malah mempermasalahkan hubungannya dengan Sehun? Apa si tiang listrik ini tahu siapa Baeby sebenarnya?
"Tidak mau menjawab ya.. Hmm.. Baiklah"
BUK!
Satu pukulan telak kembali mengenai pipi Sehun. Tubuh pemuda kurus itu terjatuh kelantai sebelum akhirnya sempat menimpa beberapa kursi. Kekejaman Chanyeol tidak sampai disitu. Namja jangkung itu menginjak kacamata tebal Sehun sampai salah satu framenya retak.
Baekhyun masih melongo tidak percaya menatap segala tindakan Chanyeol yang dianggapnya sangat tidak berkeprimanusiaan. Hatinya merasa nyeri. Apakah Chanyeol memang sekeji ini?
"Kau.. Benar-benar... brengs—"
"CHANYEOL!" jeritan Baekhyun terendam oleh teriakan Luhan yang tiba-tiba muncul diantara kerumunan itu.
Chanyeol mendesah malas melihat Luhan datang. Kesenangan paginya selalu tertunda karena sepupunya yang satu ini. Kai mulai mendorong pundak Chanyeol menjauh, begitu juga Kris yang baru datang. Menyuruhnya berhenti melakukan tindakkan kekerasan meskipun nantinya akan sia-sia. Paling tidak sekarang Chanyeol sudah mereda amarahnya.
"Sehun... Kau tidak apa-apa?" Baekhyun mulai berlutut di depan Sehun. Tangannya menangkupkan pipi Sehun yang lebam. Sehun sedikit meringis dan Baekhyun ikut memberikan reaksi yang sama. Tapi masih saja namja albino itu menyinggungkan senyum pada Baekhyun.
"Maaf...Aku tidak datang tepat waktu lagi.." bisik Baekhyun dan sebuah isakkan kecil lolos dari bibirnya.
Sehun menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa Baek.. Bukan salahmu"
Tuan Park yang melihat hal itu kembali tersulut emosinya. Namun dia hanya bisa bungkam dengan penuh tanda tanya kepada dua manusia itu. Pikirannya lebih dominan dari pada isi hatinya saat ini.
'Sial! Sebenarnya apa hubungan mereka?!' geraman dalam hati Chanyeol menggema.
"Ya Tuhan.. Kau baik-baik saja? Wajahmu lebam.. Tanganmu.. Sebaiknya kau segera di bawa ke UKS. Lukamu lumayan parah" ucap Luhan khawatir yang tiba-tiba mendekati Sehun dan Baekhyun.
Baekhyun mengangguk lalu membopong Sehun dengan bantuan Luhan. Para murid yang masih setia memperhatikan drama itu mulai membuka jalan untuk Sehun, Baekhyun, dan Luhan. Tidak lupa sebelum melewati Chanyeol, Baekhyun menatap sinis penuh dendam kepada pemuda jangkung itu.
Tidak berapa lama setelah mereka keluar. Chanyeol kembali mengamuk dengan menendang salah satu meja siswa dengan kasar. Lalu meninggalkan kelas bersama teman-temannya yang lain.
.
.
.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf..."
Ini adalah kesekian kalinya Luhan mengucapkan itu pada Baekhyun dan Sehun di UKS. Sedari tadi karena dokter kesehatan sekolah belum datang Luhanlah yang merawat Sehun. Kepalanya terus menunduk dengan obat merah yang di genggam erat di tangannya. Luhan kelihatan sangat bersalah. Padahal yang memukul Sehun adalah Chanyeol bukan Luhan!
"Sudahlah Luhan-ssi. Tidak usah meminta maaf.. Kesalahan Chanyeol bukan kesalahanmu juga" ucap Baekhyun dan Luhan mengangkat kepalanya.
"Mungkin kau benar Baekhyun-ah. Tapi Chanyeol sepupuku. Dia adalah tanggung jawabku.." lirih Luhan lesu.
Baekhyun mengangguk. Mengerti bagaimana posisi Luhan sebagai saudara Chanyeol. Mungkin berat sekali memiliki saudara yang tidak punya moral seperti Chanyeol. Lalu sebagai gantinya Luhan yang berhati baiklah imbasnya. Pemuda cantik itu menjadi korban Chanyeol juga secara tidak langsung.
BIIIPPP! BIIPPPP!
"Ah! Bel masuk! Sehun-ah. Apa kau mau pulang saja? Mau kutelponkan Yunho-ssi?" tanya Baekhyun yang duduk ditepi ranjang Sehun.
Sehun menggeleng. "Tidak perlu Baek. Sudah kubilang aku baik-baik saja"
"Aishh! Kau selalu mengatakan hal itu! Nyatanya? Coba lihat dirimu! Penuh lebam dan luka!"
"Makanya sudah kubilang aku tidak apa-apa. Lihat? Aku masih bisa bicara buktinya"
"Memang. Tapi lebammu itu membuat mukamu membengkak! Dan kau terlihat jelek sekali tahu!" ejek Baekhyun di iringi gelak tawanya. Luhan yang melihat kedua makhluk ini bertengkar juga ikut tersenyum kecil memandang keakraban mereka berdua.
"Yak! Kenapa kau malah mengejekku?! Sudah sana cepat masuk kelas!"
"Kau tidak apa-apa di sini sendirian? Kalau Chanyeol datang lagi menghabisimu bagaimana?" cemas Baekhyun takut-takut. Sehun tetap menggeleng meskipun dia sendiri tidak yakin. Tangannya perlahan mendorong tubuh Baekhyun menjauh.
"Aku akan di sini menjaga Sehun-ssi" ucap Luhan yang serentak membuat keempat bola mata teman masa kecil ini membulat.
"Apa?" seru Sehun dan Baekhyun serempak saking terkejutnya.
"Kalau aku yang di sini Chanyeol tidak akan berani menggangu Sehun-ssi lagi. Iyakan?"
Baekhyun terlihat berpikir dengan ucapan Luhan. Sementara kepala Sehun sudah menunduk dalam. Jantungnya mulai berdebar kencang. Tidak berani memandang wajah manis seorang Xi Luhan yang tersenyum lembut padanya.
Baekhyun memandang kedua orang itu bergantian. Terus sampai dia mendapatkan jawabannya. Lalu terciptalah sebuah kesimpulan yang membuat pemuda mungil ini tersenyum senang. Sehun sepertinya mempunyai perasaan khusus pada Luhan.
"Begitu ya? Hmm.. Baiklah Luhan-ssi. Aku titip Sehun yah! Kalau begitu aku kembali ke kelas duluan Hun! Annyeong~" sahut Baekhyun girang dengan wajah menggoda.
"Baek! Aiishh... Anak itu kenapa malah kabur? Ck!" gerutu Sehun sambil mengacak rambutnya dan mulai mengumpat sendiri dengan tidak jelas.
Sehun sadar kalau Luhan masih duduk di kursi sebelah ranjangnya. Kepala pemuda albino itu menengok kaku pada Luhan. Namja mungil itu tersenyum menatap wajah Sehun yang masih membiru penuh benjolan. Sedangkan Sehun malah nyengir konyol. Membuat Xi Luhan tergelak seketika.
"Kenapa kau tertawa Luhan-ssi?" heran Sehun menggaruk kepalanya. Sudah kesekian kalinya Sehun menggaruk kepala di depan Luhan. Bisa sajakan, Luhan mengira Sehun ketombean kalau dia bertingkah begitu terus?
"Ah, maaf. Bukannya bermaksud mengejek. Tapi kau terlihat lucu"
'Lucu? Aku lucu?' gumam Sehun dalam hati dengan mata membulat. Jantungnya kembali berdetak cepat. Sehun hanya menunduk dengan wajah merona sambil membetulkan letak kacamatanya yang retak.
"Kau yang suka membaca di perpustakaan kan? Aku sering melihatmu di sana. Ah, iya. Mungkin kau belum mengenalku. Salam kenal. Namaku Xi Luhan" ucap Luhan sambil menyodorkan tangannya.
'Apa? Dia sering melihat ku? Aihh.. Bagaimana aku tidak tahu namamu Luhan-ssi. Kau begitu terkenal disekolah ini..' gumam Sehun lagi lalu tersenyum kecil membalas jabatan tangan Luhan.
"Aku Oh Sehun, kelas 12-2" kata Sehun dan kembali memalingkan muka menahan rasa gugupnya.
"Sehun-ssi" panggil Luhan. Sehun menoleh.
Baginya suara Luhan begitu lembut ketika berbicara. Jantungnya tidak lelah bergemuruh ketika bibir mungil itu menyebutkan namanya. Apalagi mata Luhan yang menyiratkan sinar gemerlap. Luhan sangatlah indah. Mimpi apa Sehun semalam bisa berduaan begini dengan salah satu penguasa sekolah termanis Xi Luhan di UKS? Tolong bangunkan Sehun sekarang~
"Y... Ya?"
"Kuberi tahu satu hal. Tidak baik memakai kacamata retak Sehun-ssi. Itu bisa merusak pandangan matamu"
"Be..begitukah?" kikuk Sehun.
Luhan tersenyum mengangguk. Tiba-tiba tangannya terulur menyentuh gagang kacamata Sehun perlahan. Hendak mengambil kacamata itu. Jemari Luhan yang menyentuh kulit kepala Sehun menimbulkan efek yang cukup besar bagi Sehun sendiri. Oh Tuhan.. Sehun serasa ingin mati.
"Nah begini lebih baik" senyum Luhan menatap wajah Sehun.
"Ahh..Te.. Terima kasih... Luhan-ssi" gugup Sehun berusaha tersenyum.
"Sama-sama" balas Luhan tanpa mau memalingkan matanya dari wajah Sehun.
"Lu...Luhan-ssi?"
"Hem?"
"Maaf.. Tapi, kenapa kau menatapku terus? Apa aku masih terlihat lucu di hadapanmu?" kata Sehun pelan sambil memilin selimut yang di pakainya.
Luhan terkekeh. Senyuman-nya begitu memabukkan bagi Sehun. Tidak heran dia begitu di puja puji seluruh murid di sekolah ini. Selain Luhan berwajah manis, dia juga baik dan cerdas. Bahkan Luhan adalah salah satu cucu dari pemilik sekolah ini. Begitu sempurna kehidupan seorang Xi Luhan.
"Karena aku baru melihat wajahmu secara langsung tanpa kacamata yang selalu menyembunyikan matamu Sehun-ssi.." ucap Luhan pelan.
"Dan matamu ternyata sangat indah" tambahnya lagi. Mata Sehun langsung membulat. Jantungnya... Oh sudah tidak di deskripsikan lagi. Bawalah Sehun ke langit sekarang juga hey para malaikat. Detakannya hampir berhenti ketika Luhan mengatakan hal itu.
'Kau salah Luhan. Matamu-lah yang paling indah. Ah, anii.. Kaulah sebenarnya yang terindah..' Sehun ingin mengatakan ungkapan hatinya. Namun sayang. Keberaniannya hanya di batas benaknya.
Kepala pemuda culun itu hanya bisa menunduk dengan wajah merona. Sementara Luhan menghembuskan nafas menyesal ketika matanya kembali memandang lengan Sehun yang di-gips. Saudaranya itu benar-benar harus dia habisi nanti!
"Aku minta maaf Chanyeol telah memukulmu. Sepertinya dia hanya berniat memancing emosi Baekhyun dengan cara menjadikanmu sebagai umpannya. Chanyeol itu sebenarnya baik. Hanya saja.. Dia mulai berubah semenjak.." jelas Luhan tapi namja manis ini menggantungkan kalimatnya.
Sehun mengangkat sebelah alisnya mulai penasaran. "Semenjak?"
"Semenjak dia kehilangan seseorang yang dicintainya" papar Luhan di tengah keheningan ruangan itu.
.
.
.
Bel tanda istirahat telah berbunyi. Kaki pendek pemuda manis ini melangkah keluar kelas. Matanya melirik kekanan kiri mencari Chanyeol. Bukannya Baekhyun ingin menemui namja brengsek itu. Dirinya hanya terlalu waspada ingin menghindarinya sementara. Bisa saja tiba-tiba makhluk buas itu keluar dari kelas 12-1 dan menghabisinya sekarang.
Tapi Baekhyun berusaha tidak takut. Niatnya memang sudah bulat untuk membalas Chanyeol nanti. Namun sebelumnya dia ingin kekantin dulu membelikan Sehun makan siang.
"Baekhyun! Kau mau kemana?" sahut Kyungsoo yang baru keluar dari kelas 12-3 sebelah kelas Baekhyun.
"Ah, Kyung! Kajja! Ikut aku beli roti untuk Sehun ke kantin" ajak Baekhyun menarik lengan Kyungsoo. Pemuda bermata bulat itu mengangguk semangat. Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat makan siang.
Kantin SM SHS memang luas. Tentunya saat siang tempat ini selalu menjadi tempat berlabuhnya para siswa-siswi yang perutnya kelaparan minta di isi seperti Baekhyun dan Kyungsoo. Jadi kata 'ramai' sudah sangat tidak asing lagi.
Belum sempat mereka sampai di tempat memesan makanan. Tangan Baekhyun tiba-tiba di jegal oleh seseorang dari belakang. Baekhyun menoleh. Alisnya berkerut tanda tidak suka ketika menatap siapa lawan bicaranya.
"Baekhyunieee~" panggilan manja itu membuat Baekhyun serasa ingin muntah di wajahnya.
"Apa?" sinis Baekhyun.
"Haha, kau sangat manis kalau sedang marah. Kau tahu? Semua orang sedang membicarakan sikapmu loh pada si Ketua Park" goda Jeong Daehyun sambil melirik ke beberapa murid yang memperhatikan Baekhyun dengan tatapan berbeda-beda. Baik siswa maupun siswi mulai bergosip ria dan saling berbisik-bisik memandang Baekhyun.
"Aku tidak peduli apa kata mereka. Memang dia brengsek. Kenapa? Kau ada masalah? Mau menyuruhku lagi?" Baekhyun langsung to the point pada Daehyun. Memang sudah keseharian Daehyun menjahili atau bahkan menyuruh Baekhyun layaknya babu pribadinya. Pemuda ber-eyeliner itu menyeringai.
"Kau memang selalu tahu keinginanku Baekhyunnie. Kajja!" tanpa mendapat jawaban iya atau tidaknya dari Baekhyun. Daehyun menarik tangan Baekhyun berjalan mendekati meja teman-temannya. Sementara Kyungsoo tangannya juga di tarik oleh Young Jae, teman Daehyun.
"Ya! Kau mau apa?!"
"Simple saja. Tidak macam-macam kok. Mukamu sebenarnya manis, Baek. Jadi aku ingin kau memakai ini dan berfoto seolah-olah kau memang pacarku" ujar Daehyun sambil menyerahkan wig berwarna coklat terang pada Baek.
'What the...? Ya! Itu namanya permintaan macam-macam Jeong Daehyun bodoh!' umpat Baekhyun dalam hati.
"Ah, Kalau untuk Kyungsoo cocoknya yang warna hitam. Lihat dia maniskan?" tambah Young Jae yang ternyata sudah memakaikan wig itu pada Kyungsoo.
Mata Baekhyun membulat melihat teman baiknya sudah terkena ke isengan kelompok laknat itu terlebih dahulu. Kyungsoo sempat meronta tapi teman-teman Daehyun yang lain memaksanya duduk dan memegangi tangannya. Murid-murid lain juga tidak ambil pusing. Toh, mereka juga sudah biasa melihat pem-bullyan semacam ini di sekolahnya. Asal bukan mereka saja yang kena.
"Bagaimana? Ayolah. Satu foto saja" pinta Daehyun. Namun Baekhyun tetap menolak. Menatap horror wig itu.
Tiba-tiba tubuh Daehyun condong kedepan. Baekhyun terdiam sedikit gugup ketika tangan Daehyun memegang pundaknya dan berbisik ditelinganya.
"Kau tahu kan kalau kau menolak Kyungsoo juga akan ikut kena, Baek? Kau mau melihat Kyungsoo yang kupermalukan di sini?" ucapan licik Daehyun sukses membuat Baekhyun tunduk. Dengan kesal Baekhyun akhirnya duduk manis di bangku panjang meja teman-teman Daehyun.
"Bagus. Anak pintar" puji Daehyun sambil mengelus pelan pucuk kepala Baekhyun.
Daehyun mengeluarkan ponselnya. Tidak berapa lama matanya membulat menatap Baekhyun yang telah memakai wig. Demi Tuhan.. Baekhyun tampak sangat cantik melebihi seorang yeoja.
Pemuda mulai ber-eyeliner itu menyeringai. Tidak salah memang dia memilih Baekhyun sebagai yeojachingu palsunya. Padahal niatnya hanya ingin mengerjai Baekhyun. Namun sekarang pemuda brengsek itu malah termakan pesona manis pemuda mungil ini.
Daeyun ikut duduk di samping Baekhyun. Tangan kanannya menarik posesif pinggang mungil Baekhyun agar mendekat padanya. Lalu dia mulai mengangkat ponselnya tinggi. Berusaha mengambil foto selca. Tubuh Baekhyun sempat meronta beberapa kali. Tapi Daehyun tidak mengindahkan penolakan Baekhyun. Dirinya berusaha mengambil selca yang menurutnya mirip adegan sepasang kekasih.
"Baekhyuniee ayo tersenyum!" pintanya karena Baekhyun tidak kunjung mengeluarkan ekspresi senang.
Tentu saja! Siapa yang senang jika dipaksa seperti ini? Apalagi jantungnya berdebar mengingat wig ini sangat mirip dengan wig yang sering di pakainya saat ingin menyamar dari Chanyeol.
"Daehyun. Kau kurang mesra sepertinya. Buat pose yang lebih meyakinkan!" titah Young Jae iseng sambil merangkul Kyungsoo yang mulai kesal.
Daehyun tersenyum licik memandang Baekhyun. Karena Baekhyun tidak kunjung tersenyum. Daehyun semakin mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Baekhyun. Hal itu membuat tubuh Baekhyun langsung menghadap wajah Daehyun. Pemuda mungil itu menatap namja di depannya dengan tatapan tidak suka. Tapi sepersekian detik kemudian. Bibir Daehyun mendarat tepat di atas bibirnya.
Baekhyun terbelalak kaget. Tangannya berusaha mendorong keras Daehyun. Sementara teman-teman Daehyun bersorak kaget sekaligus riang karena Daehyun berhasil menjahili Baekhyun semakin jauh. Kyungsoo juga berusaha melepaskan tangannya dari rengkungan Young Jae namun nihil. Jeong Daehyun itu enggan melepaskan bibir mereka sampai akhirnya..
BUK!
Satu pukulan keras mengenai pipi namja ber-eyeliner itu sampai dia terjatuh dari tempatnya. Baekhyun menutup mulutnya. Mengusap bibirnya berkali-kali. Airmata menggengang di pelupuk mata sipitnya. Dirinya sangat kesal dan penuh amarah.
Namun bukan Baekhyun yang memukul Daehyun melainkan..
.
.
.
"Park Chanyeol..."
BUK!
Kali ini suara pukulan keras berasal dari belakang Kyungsoo. Young Jae terjatuh.
"Ups maaf tanganku juga licin. Aku tidak sengaja menghajarmu. Maaf yah hehe" ucap Kai yang langsung mengangkat kedua tangan. Berpura-pura memasang wajah tidak bersalah setelah memukul wajah Young Jae.
"Kai" panggil Kyungsoo dengan tubuh gemetar.
"Kau di apakan oleh mereka? Wah... Kau mirip sekali dengan yeoja. Kukira kau siapa. Aku hampir tidak mengenalimu" ujar Kai yang memandangi Kyungsoo dari atas sampai bawah. Sejenak dirinya sempat terpesona ketika melihat Kyungsoo sangat manis saat ini. Seperti perempuan lemah yang terkurung di tempat gelap.
Kuberi tahu satu hal. Kai dan Kyungsoo juga sebenarnya sudah saling mengenal cukup lama. Jadi jangan heran kalau Kyungsoo terlihat sangat malu di pandangi Kai seperti itu.
"Ck! Kenapa orang-orang seperti kalian tidak pernah tahu aturan sih? Di sini tidak ada yang boleh membully siapapun kecuali Chanyeol!" sahut Chen cukup keras dan kejadian tersebut sukses menarik perhatian semua murid yang sedang makan.
Chanyeol masih terdiam dengan raut yang sulit di artikan. Aura pembunuhnya mulai keluar. Tatapannya datar dan berkali-kali dia menghembuskan nafas kasar. Mungkin dia masih menahan amarahnya untuk langsung menghabisi si brengsek ini. Sementara Daehyun di hadapannya terbaring sesekali meringis memegangi bibirnya yang sobek. Atau mungkin malah gigi Daehyun yang retak sehingga dia sempat memuntahkan darah dari mulutnya?
Sebelum adegan kissing itu terjadi. Chanyeol sudah melihat Baekhyun dan Kyungsoo yang masuk kedalam kantin dari sudut kantin tempat para penguasa sekolah biasa duduk. Namun tidak berapa lama perasaan tidak enak ketika Baekhyun mulai memakai wig dan ternyata Daehyun dengan cepat menciumnya. Lalu inilah hasil dari perbuatan bodoh Daehyun.
Chanyeol mengangkat tubuh Daehyun dan mendorongnya kasar dengan asal sampai mengenai beberapa murid yang menjadi penonton. Semuanya menghindar saat Chanyeol berjalan mendekat. Pemuda jangkung itu menarik seragam Daehyun untuk berdiri dan menghujaminya dengan beberapa pukulan.
"Chanyeol sudahlah!" teriak Kai yang tidak berani mendekati Chanyeol saat dia sedang mengamuk layak singa liar saat ini.
Kris mencoba menghentikannya tetapi tubuh namja cool itu malah terhempas dan punggungnya terbentur sudut dinding. Chen mendekat menolong Kris. Sementara kepalanya berputar mencari-cari keberadaan Luhan. Namun Luhan tidak ada. Luhan sedang menjaga Sehun di UKS. Lantas sekarang siapa yang bisa menghentikan Chanyeol yang memukul dan menendang Daehyun dengan membabi buta?!
Ketika Chanyeol hendak memukul Daehyun lagi gerakannya seketika terhenti dengan kedua tangan mungil yang telah melingkar sempurna di perutnya. Tubuhnya terdiam bagaikan adegan yang di pause dengan tangan terangkat. Kemeja belakangnya terasa basah. Mata Chanyeol membulat seakan sadar dari ke-kalapannya.
"Hentikan brengsek... Jangan memukul orang lagi. Kumohon.. hiks.." isak Baekhyun menenggelamkan wajahnya di punggung Chanyeol meski sekarang perbedaan tinggi mereka kentara sekali.
Semua murid baik siswa maupun siswi, para penguasa sekolah, dan juga Kyungsoo melongo tidak percaya. Chanyeol berhenti mengamuk? Dan Baekhyunlah yang berhasil menghentikannya?! Tidak berapa lama Luhan datang dan sama terkejutnya ketika melihat Baekhyun yang gemetaran memeluk Chanyeol dari belakang.
Chanyeol mendecih pelan. Lalu menghempaskan tubuh Daehyun yang sudah babak belur dengan kasar. Baekhyun yang menyadari Chanyeol berhenti memukuli namja itu mulai melonggarkan pelukkanya. Namun dirinya kembali tertarik kedalam pelukkan tubuh jangkung pemuda itu. Matanya melebar tidak percaya.
"Dengar! Kalian semua yang berani macam-macam dengannya akan mendapatkan balasan yang sama seperti makhluk bodoh ini! INGAT ITU!" sahut si pemilik suara bariton itu pada orang-orang yang berdiri di sekelilingnya. Mereka terdiam kaku mendengar ancaman yang sama sekali bukan main-main bagi Chanyeol dan lainnya.
Chanyeol menarik tangan Baekhyun berjalan cepat menjauhi kerumunan itu. Sedangkan Kai dan Kyungsoo yang berdiri tidak jauh berpandangan heran. Mata Kyungsoo memandang punggung kedua orang yang mulai menjauh dengan tatapan kepiluan.
'Ternyata memang benar Baekhyun..' batinnya
"Kris.. Kau tidak apa-apa?" Luhan mulai berjalan mendekati Kris saat Kim Jongdae menyuruh mereka semua untuk bubar dari tempat mereka berdiri.
"Aku tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan namja itu?" tanya Kris sambil berusaha duduk.
"Chanyeol tidak akan menghajarnya. Buktinya dia sudah mengatakan hal seperti itu. Namja pendek itu memang tidak sayang nyawa. Berani sekali tadi dia menghentikan Chanyeol" papar Chen sambil melipat tangannya di depan dada.
Luhan mengangguk. Matanya menangkap kedua sosok yang sekarang sudah tidak terlihat. "Kurasa Chanyeol menyukainya" ucapnya lalu tersenyum.
.
.
.
.
-BaekYeol Area-
Tangan mungil itu terus di seret layaknya karung beras oleh si pemuda jangkung. Baekhyun hanya bisa menatap punggung lebar Chanyeol dari belakang. Kepalanya menunduk mengingat kejadian tadi. Entah apa dia waras atau tidak. Tapi Baekhyun tidak suka melihat Chanyeol memukul orang seperti tadi. Hal itu mengingatkannya pada Sehun.
Sebenarnya Baekhyun cukup gugup saat Chanyeol menariknya. Dia tidak tahu mau di bawa kemana. Apa jangan-jangan Chanyeol akan menghabisinya? Tapi mengapa Chanyeol tadi memberikan ultimatum itu kalau dia ingin menghabisi Baekhyun?
Tidak berapa lama kaki mereka telah menapak pada lantai paling atas yaitu atap sekolah. Chanyeol membuka pintu lalu menutupnya dan mendorong tubuh mungil itu dengan kasar kearah pintu.
"Auhh sakit.." rintih Baekhyun mengusap punggungnya pelan.
Nafas mereka mulai tidak beraturan karena sempat berlari. Baekhyun tidak berani menatap Chanyeol karena tindakan bodohnya tadi. Jadi, kepalanya hanya menunduk tanpa tahu bahwa Chanyeol sedang menatapnya dalam.
Suasana sangat hening. Hanya suara angin berhembus yang terdengar. Tiba-tiba tangan besar itu terulur mengelus pipi chubby Baekhyun. Baekhyun sedikit tersentak dengan perlakuan Chanyeol. Entah kenapa sentuhan ini sangat lembut dan membuatnya nyaman.
Perlahan jantungnya mulai berdegup kencang. Ada apa dengan jantungnya? Apa jantungnya sudah mulai tidak mau berfungsi sesuai dengan otak Baekhyun? Tapi sekarang yang ada di pikiran Baekhyun memang tidak ada siapapun selain Chanyeol.
Ketua penguasa sekolah itu masih belum berbicara. Wajahnya perlahan mulai mendekat pada kuping Baekhyun. Chanyeol menghembuskan nafas beratnya di sana. Menempelkan hidungnya pada kepala Baekhyun. Menghirup aroma khas Baekhyun yang wangi strawberry manis seperti seorang yeoja.
Baekhyun mulai merasa risih akibat perlakuan Chanyeol. Bukannya tidak suka. Tapi dia hanya bingung harus berbuat apa ketika tubuh pemuda itu mulai mendekat sampai menghimpit badan kecilnya. Sedangkan tangan nganggur Baekhyun menahan dada Chanyeol yang semakin merapat. Hidung mancung Chanyeol tidak beranjak dari kepala Baekhyun. Sedangkan tangan kirinya menangkup pipi Baekhyun dan sikut kanannya sudah menempel pada pintu.
"Chan...Yeol..." lirih Baekhyun akhirnya. Dia tidak tahu harus bagaimana pada situasi yang cukup aneh baginya karena tingkah Chanyeol. Hey! Apa dia ingin mempermainkan kau lagi Baek?
Mengingat hal itu tangan kecilnya berusaha mendorong pelan dada Chanyeol. Baekhyun meronta gelisah. Tapi Chanyeol tidak punya niat sedikit pun menyingkir dari tubuhnya. Malah, saat ada celah terbuka akibat usaha mendorong pemuda mungil itu Chanyeol semakin merapatkan punggung Baekhyun pada dinding dan memeluknya erat.
"Chanyeol... Ada apa sebenarnya denganmu?!" sahut Baekhyun panik dengan raut cemas.
Chanyeol tetap diam. Kepalanya mulai menjauh dan beralih pada kuping Baekhyun tanpa mau melepaskan pelukkannya.
"Baeby..." bisiknya dengan nada berat.
Mata Baekhyun membulat tidak percaya. Gerakan penolakannya berhenti. Otaknya berusaha mencerna perkataan pemuda ini. Apa kata Chanyeol tadi? Apa Baekhyun salah dengar? Baeby?! Chanyeol memanggil nama Baeby tadi?
Tiba-tiba hati Baekhyun terasa nyeri ketika Chanyeol menyebutkan nama lain. Alis Baekhyun berkerut. Dalam dadanya terasa sesak. Padahal pelukan ini terasa possessif dan hangat. Baekhyun sebenarnya merasa nyaman. Namun kenapa Chanyeol malah memanggil Baekhyun dengan nama itu?
Hey Chanyeol! Ingatlah kau sedang bersama siapa saat ini!
Tunggu...!
Apa Chanyeol telah mengetahui siapa Baeby sebenarnya?!
"A... Apa maksudmu?" gugup Baekhyun dan Chanyeol melepaskan pelukkan mereka.
Mata mereka bertemu dengan kerutan alis Baekhyun yang menatap Chanyeol was was. Tangan Chanyeol kembali terarah pada leher Baekhyun. Menyentuh tanda kemerahan di sana yang mulai memudar. Tuan Park tersenyum. Entah apa arti sebenarnya dari senyuman itu. Baekhyun tidak melihatnya karena memalingkan muka menahan gugup.
"I knew it. All the time. It was you" ucap Chanyeol lalu terkekeh pelan.
"Apa?" tanya Baekhyun seolah dia tuli.
"Aku bilang. Aku sudah tahu bahwa itu kau pendek" kata Chanyeol sambil mengusap kembali leher mulus itu. Baekhyun mengikuti arah pandang Chanyeol. Tenggorokannya tercekat saat dia berusaha meneguk ludahnya dengan paksa. Tatapan Chanyeol berubah menjadi teduh dan saat ini Chanyeol tersenyum sangat tampan! Tapi kenapa wajahnya kembali menyeringai dengan senyum pahit?
"Tidak ada salahnya aku menghajarnya tadi, hah. Ternyata memang benar dia kekasihmu" mendengar penuturan Chanyeol yang terkekeh memilukan, Baekhyun sadar dan langsung mendorong kuat tubuh Chanyeol sampai pelukan mereka terlepas.
"Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti! Lepaskan aku!" sahut Baekhyun bergerak cepat membalikkan badannya. Tangan mungil itu berusaha meraih gagang pintu yang hampir terputar sebelum akhirnya tangan besar Chanyeol menghadang sang pintu untuk terbuka lebar.
"Lihat? Bahkan caramu kabur mirip sekali dengannya" ucap Chanyeol di telinga Baekhyun.
"A... Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan! Sudahlah lepaskan aku Chanyeol!" gugup Baekhyun dengan nada panik seperti habis kepergok korupsi (?)
"Kau pura-pura lupa?"
"Aku harus pergi!"
"Kenapa kau menyembunyikannya dariku?"
"Lepaskan tanganmu dari pintu ini!"
"Jadi benar kau kekasih Oh Sehun?"
"YAK PARK CHANYEOL!"
DEG!
Sahutan Baekhyun terhenti ketika Chanyeol merengkuh tubuhnya lagi membalikkan tubuh Baekhyun. Namja ini meronta lagi seperti tadi. Tapi Chanyeol menatapnya dengan sangat tajam membuatnya berhenti dan menatap kesal Chanyeol.
"Jangan bicara yang tidak-tidak Park Chanyeol! Apa maumu hah? Kau masih ingin menghabisiku karena sudah menyirammu dengan air?! Kau masih tidak terima?" Baekhyun berteriak dengan airmata yang nyaris membasahi pipinya.
Sepertinya tidak ada gunanya berdalih ataupun mencari alasan. Chanyeol telah mengetahui siapa itu Baeby. Dan Baekhyun malah semakin ingin menangis karena penyebab masalah Chanyeol memukul Sehun adalah karena ucapan bodohnya.
Yah, Baekhyun sebenarnya tidak bodoh juga. Buktinya dia bisa menyimpulkan semuanya dengan cepat. Sebenarnya saat di Bar, Baekhyun terlalu gugup. Pikirannya mengatakan kalau Chanyeol pasti tidak akan mengetahui penyamarannya. Lalu dia mengingat Sehun. Maka dari itulah bibirnya tanpa sengaja mengucapkan nama Sehun. Tapi sayang sekali Baek. Pikiran sempitmu itu menjadi penyebab semua luka-luka di tubuh Sehun.
"Baekhyun..." panggil Chanyeol dengan tatapan yang berbeda lagi. Kembali teduh seperti memandang seseorang yang rapuh. Oh, apakah Chanyeol akan mengungkapkan semua yang selama ini dia pendam?
"Apa benar Oh Sehun kekasihmu? Jadi benar tanda ini darinya?" lirih Chanyeol tanpa melepaskan pandangan dari Baekhyun.
Baekhyun tidak menjawab. Sebutir airmata telah jatuh kepipinya. Dia merasa sangat bodoh. Kepalanya hanya bisa menunduk atau memandang kearah lain. Wig yang sedari tadi di pakainya sudah di singkap oleh Chanyeol. Kemudian Chanyeol menangkupkan pipi Baekhyun dan mengusap airmatanya dengan lembut.
"Aku tidak akan menghabisimu tenang saja. Lupakan hal itu pernah terjadi. Sekarang aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku hanya membutuhkan jawaban bukan isakkanmu" jelas Chanyeol dengan ekspresi datar.
Baekhyun terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa. Dirinya merasa dungu jika harus mengatakan kebohongan lagi bahkan ketika Chanyeol telah mengetahui semuanya. Hatinya lelah karena Chanyeol. Dan dia hanya ingin terbebas dari makhluk berandalan ini.
"Aku..."
.
.
.
.
TBC
Maaf lama update.
Sehyun sempat berpikir apakah akan melanjutkan atau tidak...
Sehyun bukan sedih karena Tae eoni jadian sama Baek. Mereka berdua juga bias sehyun. Sama-sama lead vocal dan gak ada yang kurang. Cocok kok. Emang sih sempet shock tapi wajar kan kalau Baek stan menangis sebentar? Asal Baek Oppa bahagia sehyun bahagia kok *terdengar suara potekan
Tadinya sehyun mau end aja di Chap 5 gamau ngelanjutin lagi biarin ngegantung aja... dan Sehyun rasa sehyun memang berpikir egois. Maaf, tapi sehyun punya alasan sendiri dan bahkan mungkin beberapa dari kalian udah tau.
Sebagai ChanBaek/BaekYeol shipp pasti kalian ngerti kan? Nah, sehyun sedihnya karena itu. Ya.. Mungkin ini hukuman dari Tuhan karena sehyun belum jadi anak baik...
Oya sehyun ganti username twitter jadi ohansehyun
Last!
Sehyun gak muluk-muluk minta kalian reviews. Mungkin kalian juga udah pada ilfil bacanya because Chanbaek crack..
Tapi kalau kalian masih menantikan FF ini lanjut sehyun bakal berusaha lanjutin kok tenang aja. Cuma sehyun masih berpikir apakah kalian menantikan ff yang berpairing BaekYeol ini?
ChanBaek or BaekYeol Shipper Fighting! YEHET!^_^
