A Princess and The Ganks

Summary : Setelah Sasuke dan Naruto menjadi musuh besar dengan dua Gank berbeda, Sakura yang merupakan sahabat mereka kembali. Ia kembali dan menjadi gadis yang dipuja semua orang. Akankah ketiganya kembali menjadi sahabat? Atau mungkin sesuatu yang lebih dari sekedar sahabat? /AU/SASUSAKUNARU/Highscool-fic/Semi Sakura-centric.

Previous Chapter

.

"Kalau itu, sih. Kami curiga informan-nya ada diantara kita dan Dark Aoda."

.

"Kami memutuskan untuk memilih nama Bad Velvet."

.

"Mereka sepertinya menganggap Sakura-sama sebagai orang yang kuat. Entah bagaimana,"

.

"Onee, coba lihat siapa yang datang! Sasuke dan Naruto!"

.

Naruto © Masashi Kishimoto

A Princess and The Ganks © Shinji Aime

Inspired by Beelzebub © Ryuhei Tamura

WARNING : OOC, SASUSAKUNARU, Semi Sakura-centric, Alur Lambat

a Highscool-fic

Leave your concrit support with Fave/Follow/Especially Review ∞

Enjoy! Enjoy! Enjoy!

Italic untuk flashback. (Chapter ini banyak flashback-nya)

DUAR

DUAR

DUAR

Kembang api dengan berbagai warna telah ditembakkan ke langit Konoha, membentuk suatu pola bunga yang merekah dan indah. Setiap mata yang memandangnya benar-benar terbius dan terpaku. Semua orang yang berada di tanah lapang itu benar-benar terpesona. Pertunjukkan kembang api yang spektakuler.

Semua orang yang ada di lapangan Konoha benar-benar tidak menyadari kebersamaan tiga sosok mungil-dan kotor, di bawah sana. Ya, tepat di tepian danau konoha yang sangat indah. Warna-warni kembang api yang cantik terpantul oleh air Danau Konoha yang jernih dan tenang. Refleksi tersebut membuat perasaan ketiga bocah kecil yang kini tengah berjongkok itu membuncah gembira.

"I-indahhh!" Teriak Sakura senang, rasanya ingin sekali ia menari-nari. Namun tubuhnya yang serasa nyaris remuk takkan mungkin kuat untuk melakukan itu. Yukatafuschia-nya telah koyak dan sobek disana-sini. Rambut merah mudanya pun terlihat berantakan karena ikatan yang sudah longgar. Jangan lupakan juga pipinya yang cemong akibat debu dan tanah.

"Berisik! Kau senang, huh? Puas sudah membuat kita semua terluka begini?" Balas Sasuke dengan sarkasme di wajahnya yang kentara. Kebahagiaan di mata Sakura meredup, bagaimanapun kata-kata Sasuke barusan benar-benar menohok hati kecilnya. Naruto yang dapat menangkap ekspresi Sakura pun menoleh pada Sasuke.

"Hei! Kau sendiri juga bersalah, tahu! Kalau kau tidak melepas kakiku, kita takkan berakhir compang-camping begini!" Bentak Naruto sambil menarik kerah kemeja Sasuke yang dilapisi jaket hitam. Penampilan Sasuke juga nyaris sama dengan Sakura, rambutnya lepek dan wajahnya cemong, belum lagi lutut dan dagunya juga terluka.

"Tidak. Aku tidak bersalah. Aku 'kan hanya berniat menolong, tapi aku malah ikut kena getahnya." Ujar Sasuke datar, suaranya nyaris teredam suara letupan pesta kembang api yang masih berlangsung.

"K-KAU! KAU INI SAHABAT MACAM APA, HAH?" Naruto mendorong Sasuke hingga jatuh ke tanah. Tak lama kemudian Sasuke bangkit dan menatap Naruto galak.

"Kenapa kau mendorongku, hah?" Sasuke mengepalkan tinjunya dan mengarahkannya ke pipi Naruto yang berdebu. Seketika bagian yang ditinju Sasuke pun membiru. Sakura yang melihat kejadian tersebut berusaha memisahkan keduanya, namun sangat sulit. Malahan Sasuke mendorong tubuh Sakura agar tidak usah ikut-ikutan. Adu jotos dan umpatan kasar pun dilakukan Duo Uchiha-Uzumaki tersebut.

"H-hentikan…kumohon! Jangan bertengkar!" Sekali lagi Sakura berteriak, namun keduanya berusaha untuk tidak menghiraukannya. Mereka masih asyik saling tinju dan mengumpat. Merasa tak berdaya, Sakura pun menangis. Awalnya hanya lelehan air mata, namun tak lama kemudian suara isakan mulai mengiringi tangisannya. Seketika Sasuke dan Naruto menghentikan aktivitas mereka dan menoleh ke arah Sakura. Naruto yang berinisiatif duluan untuk menghampiri gadis itu untuk menenangkannya.

"Maaf, Sakura-chan. Jangan menangis, kumohon." Naruto mengusap air mata Sakura dan dalam posisinya yang tengah berjongkok, ia menundukkan kepalanya. Ia tidak berani bertemu tatap dengan Sakura. Ia merasa ialah penyebab dari air mata tersebut.

"Hikss…Naruto bodoh! Jangan bertengkar! A-aku tidak suka…hiks!" Gadis itu berusaha menyeka sisa-sisa air matanya, namun percuma saja karena cairan itu masih saja mengalir. Sasuke menatap sekilas keduanya lalu ikut berjongkok karena ingin bergabung dengan kedua sahabatnya.

"Jangan cengeng." Sasuke menyentuhkan kedua jarinya di dahi Sakura, membuat gadis kecil itu bingung. Tangisannya pun mereda setelah melihat tatapan menyesal dari dua sahabat tampannya.

Ia berhenti menangis karena tidak ingin membuat kedua sahabatnya khawatir. Namun, yang membuat Sakura luluh adalah hal yang sama sekali berbeda. Ketulusan benar-benar terpancar jelas di sepasang iris dua sahabatnya.

A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞

Dua orang gadis dengan seragam berbeda tengah berjalan berdampingan di bawah temaram lampu kota. Salah satu dari mereka mengenakan blazer coklat dengan rok rimple berwarna putih. Sedangkan yang satunya berseragam ala siswi Sekolah Putri. Siswi SMA Suna dan Siswi Sekolah Putri Suna. Maki dan Pakura.

Hampir semua orang telah tahu bahwa Maki adalah adik dari Baki yang merupakan Pentolan Kuroteam. Setiap misi berbahaya selalu dilimpahkan pada Duo Baki-Maki, dan semuanya selalu berhasil. Tidak pernah ada kata gagal dalam kamus keduanya.

Kali ini Maki terpaksa harus berpisah dari Sang Kakak dikarenakan misi yang mereka emban mengharuskan keduanya berpencar. Untuk berjaga-jaga, Maki mengajak seorang lagi dalam misinya. Pakura dari Sekolah Putri Suna yang merupakan master kendo terkemuka di Kota Pasir itu.

Maki tahu benar bahwa lawan utama yang akan ia hadapi esok adalah seorang ahli kendo. Tentu ia takkan mau menggunakan taktik yang salah dalam menghadapi lawannya itu. Yang jelas, baik malam ini maupun besok, para Siswa Kuroteam akan menjadikan Konoha sebagai teritori mereka. Lambat maupun cepat.

"Ah, ya. Kau tidak keberatan untuk menemaniku dalam misi ini 'kan?" Maki menatap gadis berambut ombre Hitam-oranye di sisinya.

"Sama sekali tidak. Apa saja akan saya lakukan agar Gaara-Kaichou senang." Ujar Pakura, masih dengan wajahnya yang datar.

"Kau memang luar biasa," Maki menyelipkan beberapa bilah pisau kecil di kaus kakinya. "Kuharap kau sudah mengalihkan perhatian Matsuri-san terhadap misi ini."

"Sudah kupastikan. Matsuri-san kini sedang study tour ke Kiri." Balas lawan bicara Maki tersebut. Keduanya pun kembali berjalan beriringan menuju tujuan mereka malam itu. SMA Negeri Konoha, sarang dari beberapa Gank kelas teri kota itu. Menurut mereka, setelah menghabisi Gank-gank kecil, maka jauh lebih mudah untuk mengalahkan yang besar.

Seringai pun tercetak jelas di wajah keduanya.

Bab VI : Wajah-wajah Baru ∞

"Kenapa Sasuke-kun kemari? Katanya tidak mau ikut." Tanya Sakura sambil menolehkan kepalanya ke kiri, tempat Sasuke terbaring di sebelahnya. Ya, ketiga bocah kecil itu kini tengah berbaring di tepi danau sambil menatap langit.

"Ibumu menyuruhku menjemputmu. Ia tidak tahu kalau Naruto bersamamu," Sasuke balas menatap kepada Sakura yang ada disebelahnya, sedikit membuat gadis itu berjengit dan merona. "Ibuku tidak pulang malam ini. Kata Bibi Mebuki aku disuruh menginap."

"B-boleh." Sakura mengucapkannya sambil malu-malu. Lain dengan Naruto yang terasa panas mendengarnya. Eh? Yang benar saja? Sasuke menginap di rumah Sakura? Tidak boleh!

"Aku ikut ya, Sakura-chan?" Tanya Naruto. Minimal ia harus ikut untuk memastikan Sakura aman dari Sasuke. Ia juga bisa menjadikan kesempatan tersebut untuk mendekatkan diri dengan Sakura.

"Boleh juga." Balas Sakura sambil tersenyum kepada Naruto yang terbaring di sebelah kanannya.

"Asyik!" Seru Naruto girang sambil meninju udara diatas. Sakura terkikik melihat tingkah Naruto, sedangkan Sasuke mendecih tak suka melihat Naruto yang ikut-ikutan.

"Naruto, Sasuke-kun," Kedua pemilik nama itu menoleh pada Sakura, sedangkan Sakura tetap memfokuskan pandangannya ke langit. "Kalau kalian besar nanti, mau jadi orang yang seperti apa?" Ia menoleh pada Naruto, isyarat bahwa ia ingin mendengar jawaban Naruto terlebih dulu.

"A-aku? Aku ingin jadi orang yang hebat. Aku ingin jadi hebat agar bisa membela apa yang kuanggap benar." Jawabnya dengan berapi-api. Sakura sampai ikut-ikutan semangat setelah mendengar jawaban Naruto. Kemudian ia menoleh pada Sasuke.

"Hn, aku akan jadi orang yang berkuasa. Semua orang akan melihatnya." Tutur Sasuke datar, berusaha mengabaikan ocehan 'dasar sombong'-nya Naruto. Sakura tersenyum kecut mendengar jawaban Sasuke yang percaya diri. Sangat terkesan 'Self-centric'.

"Kalian tahu? Aku…ingin jadi orang yang kuat." Sasuke dan Naruto masih asyik menyimak kalimat Sakura. "Aku muak menjadi satu-satunya yang tak berdaya saat kalian terluka. Apalagi saat kalian bertengkar. Aku berjanji akan jadi kuat nanti. Saat aku sudah kuat, kalian janji, ya? Jangan pernah bertengkar lagi?" Sakura mengacungkan dua buah kelingking kanan dan kirinya kepada Sasuke dan Naruto. "Aku juga berjanji kalau aku kuat nanti, aku akan selalu melindungi kalian dan melerai kalian kalau kalian bertengkar. Ya, bahkan jika semuanya tiba-tiba berubah. Kupegang janjiku! Kalian janji juga, ya?"

"Ya!" Naruto menyambut kelingking kanan Sakura dengan bahagia.

"Hn." Balas Sasuke sambil menautkan kelingking kanannya dengan kelingking Sakura.

Malam itu, baik Sakura, Sasuke maupun Naruto telah menjalin ikatan batin yang lebih kuat dan erat dibanding sebelumnya. Ketiga bocah yang baru menginjak usia sembilan tahun itu mengucapkan janji mereka dengan perasaan lepas. Sama sekali tidak sadar dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Ya, mereka sama sekali tidak sadar bahwa nantinya takdir akan mengacaukan segala janji dan ikatan diantara mereka.

A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞

Sakura menatap Sasuke dan Naruto hati-hati. Ia benar-benar gusar akhir-akhir ini apabila harus berhadapan dengan keduanya. Namun, nyatanya kini ia harus berbicara dengan keduanya.

Kini ketiganya berada di atap sekolah yang sepi. Langit biru yang sedikit mendung menjadi latar dan suara desau angin melengkapi suasana.

"Jadi…Apa yang sebenarnya ingin kalian bicarakan?" Lagi-lagi Sakura merasa kesal karena selalu dia yang harus memulai pembicaraan. Naruto mengalihkan tatapannya dari Sakura.

"Apa motifmu untuk membentuk Gank?" Tanya Sasuke. Sebelah tangannya ia selipkan ke saku celana sekolahnya.

"Sebenarnya aku terpaksa-"

"Katakan yang sesungguhnya, Sakura-chan." Sanggah Naruto yang merasa Sakura berbohong.

"Gank yang kau bentuk akan memberi dampak yang besar bagi seisi Konoha." Imbuh Sasuke.

"Ano…begini, ya. Kalau kalian berdua memanggilku kemari hanya karena itu, lebih baik aku pergi." Sakura sudah siap untuk beranjak hingga tangannya dicekal oleh Naruto.

"Sakura-chan, kau tahu 'kan resiko sebagai ketua gank?" Naruto sedikit mengendurkan cekalannya. "Semua tidak akan seperti yang kau bayangkan!"

"Oh? Wow? Jadi kalian ingin mengancamku? Wah.," Sakura memasang wajah tak percaya yang seolah mengejek. "Kalian sebegitu merasa tersaingi dengan keberadaan Bad Velvet? Well, aku tahu kita memang sudah tidak bersahabat lagi. Tapi aku tidak menyangka bahwa aturan persaingan di sini sangat ketat."

"Jangan bodoh! Mana mungkin aku merasa tersaingi dengan Gank kelas teri. Letak Gank-mu dalam hierarki sosial adalah yang terbawah." Seru Sasuke dengan nada kemarahan dalam suaranya.

"Kau baru saja mengejek 'kami'?" Tanya Sakura dengan aura kemarahan dan ketersinggungan yang luar biasa. Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya.

BUAGH

BUAGH

Sakura baru saja meninju perut Sasuke secara telak. Sesungguhnya ia sangat ingin melakukan hal yang lebih nekat jika saja Naruto tidak menahannya.

"Sakura-chan, aku bersumpah aku senang melihat Teme kesakitan. Tapi melihatmu yang begini membuatku sedih." Naruto masih menahan tangan Sakura. Dan sepertinya pemuda blonde itu cukup terkejut saat bahunya didorong dengan kasar hingga ia pun jatuh tersungkur.

"Dengar…jujur saja aku sebenarnya sudah menerima putusnya persahabatan kita, dengan hati yang lapang tanpa ada sedikitpun kebencian," Mata Sakura menggelap. "Hanya saja, aku tidak tahu bahwa kalian sudah berubah sejauh itu." Gadis berambut sebahu itu pun beranjak pergi meninggalkan Sasuke dan Naruto.

Keduanya masih sangat terguncang dengan kejadian barusan hingga melupakan kepentingan mereka menemui Sakura. Niat awal mereka hanya ingin mengingatkan Sakura soal rencana serangan dari Suna. Namun sepertinya cara penyampaian mereka kelewat manis hingga membuat emosi Sakura meledak.

Bab VI : Wajah-wajah Baru ∞

Sakura berjalan dengan langkah tergesa. Ia mengeratkan cengkramannya pada tas tangan hitam yang tengah ia kenakan. Ia benar-benar merasa kesal pada Naruto dan Sasuke. Ia juga menganggap bahwa apa yang dilakukan Keduanya sudah mengancam dirinya.

Well, ia sendiri sadar bahwa ide mengenai Bad Velvet merupakan pemaksaan yang tak terelakan. Bahkan sampai sekarang pun ia masih tidak menerima posisinya sebagai ketua. Tapi entah mengapa tadi emosinya tersulut saat Naruto dan Sasuke seolah-olah mengancam eksistensi Gank pimpinannya.

Sepertinya janji dan misi itu harus ia tunda selama beberapa lama. Setidaknya ia harus mendapatkan sedikit waktu untuk menghela napas. Karena terlalu banyak melamun, Sakura sama sekali tidak sadar bahwa sedari tadi ada dua orang yang mengikutinya.

Dalam beberapa gerakan cepat, Kedua orang itu kini telah menghadang Sakura. Gadis bersurai merah muda itu luar biasa terkejut kala mendapati seorang pemuda dan gadis bertato di depannya.

"Huoo…Ini yang disebut Hime itu? Pas sekali namanya." Baki menyeringai menatap Sakura. Sesungguhnya ia ingin meninggalkan urusan gadis ini pada Maki, namun Ketua Kuroteam memintanya untuk ikut membantu.

"Kau jangan luluh hanya karena penampilan fisiknya, Baki. Bisa-bisa nanti bokongmu ditendang olehnya saat kau sedang memperhatikan bokongnya." Ejek Maki sambil mengibaskan rambut coklatnya.

"Mana bisa begitu! Secara teori, bokong manusia sama-sama terletak di belakang. Kalau aku memperhatikan bokongnya, tentu ia tidak bisa menendang bokongku." Balas Baki

"Jadi begini…um, kalian ada perlu apa ya? Dan bisa berhenti membahas soal bokong? Itu terlalu vulgar." Sakura akhirnya angkat suara. Ia sedikit melupakan fakta bahwa tadi Baki menyebutnya Hime.

"Kenalkan, Aku Maki dan disebelahku ini adalah Kakakku Baki. Kami adalah-"

"Ya, aku tahu. Kalian adalah Duo Baki-Maki yang terkenal seantero Suna." Interupsi Sakura sambil memutar bola matanya.

"Wah, rupanya kita benar-benar terkenal. Sampai seorang gadis Konoha pun mengenal kita dengan baik." Baki berkomentar.

"Bukan begitu. Waktu SMP aku sekolah di Sekolah Putri Suna, tahu." Lagi-lagi Sakura harus menahan diri untuk tidak mengumpat. Suasana hatinya saat ini sudah cukup buruk tanpa harus ditambah satu masalah lagi.

"Wah, berarti dia adik kelasnya Pakura." Maki tersenyum, tanpa diduga, ia melayangkan tendangan tepat di dada Sakura. Sakura yang memang sudah siap dengan kuda-kudanya tidak langsung jatuh. Ia hanya terdorong ke belakang.

"Maaf, Hime. Aku takkan menahan diri pada siapapun musuhku. Pria maupun wanita. Jelek maupun cantik." Ejek Baki sembari mengeluarkan double stick dari dalam tasnya.

Sakura tahu bahwa yang dihadapi-nya kini berkali-kali lipat lebih serius ketimbang dua puluh orang kemarin. Ia sedikit menyesal bahwa hari ini ia memutuskan untuk pulang sendiri tanpa Sasuke maupun Naruto.

A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞

Lembayung senja mulai tampak di ufuk barat langit Konoha. Semilir angin musim gugur yang dingin menerbangkan beberapa dedaunan mapple kering hingga menghiasi jalan di depan KGH.

Dalam latar yang indah dipandang itu, tampak seorang pemuda berambut raven sibuk memukuli seorang siswa SMA Suna. Di belakangnya, para anggota Dark Aoda tengah melakukan hal yang sama.

Tak jauh dari sana seorang pemuda berambut blonde juga tengah melakukan hal yang serupa bersama anggota Fox Claw. Dengan jumlah orang yang cukup banyak, mereka benar-benar di atas angin.

Dark Aoda dan Fox Claw kini tengah sama-sama menahan serangan SMA Suna. Walau keduanya tidak bekerja sama dan melakukan aksi secara terpisah, tak dipungkiri bahwa kedua Gank itu benar-benar sukses menumpas SMA Suna.

Rencana penyerangan SMA Suna memang sudah diketahui keseluruhannya oleh Dark Aoda. Secara diam-diam Fox Claw pun mengetahui hal tersebut. Maka dari itu keduanya sama-sama mengumpulkan kekuatan dan menyusun strategi yang pas.

Meski kini musuh sudah habis, kedua gank itu tetap waspada. Bagaimanapun juga mereka belum melihat Duo Baki-Maki dan Pakura. Mereka menduga bahwa akan ada serangan lagi yang dipimpin oleh Duo Baki-Maki. Kewaspadaan tetap berada pada tingkat yang wajar.

Dark Aoda kini berkumpul di gerbang timur Konoha Garden High. Sasuke tampak bugar dan sama sekali tidak kelelahan. Bertarung dengan para anggota Dark Aoda benar-benar mudah. Kebanyakan musuh justru ditangani oleh anggotanya.

Suigetsu menyeringai pada Juugo yang menatapnya curiga. Pemuda berambut ombre itu memang lagi-lagi datang terlambat. Ia nampak menghampiri Sasuke dengan santai.

"Um, Sasuke. Kau harus tahu, seperti yang telah kugambarkan kemarin…serangan dari SMA Suna sudah berakhir," Bisik Suigetsu. "Yang tersisa hanya Duo Baki-Maki dan Pakura. Para petinggi Kuroteam masih ada di Suna sana."

"Ya, lalu?" Balas Sasuke datar.

"Duo Baki-Maki tidak akan muncul di hadapan kita. Mereka sedang sibuk berhadapan dengan Sakura-sama." Suara Suigetsu yang nyaring seketika menusuk indra pendengaran Sasuke sekaligus pikirannya.

"Darimana kau tahu, Suigetsu?" Sasuke bertanya dengan tatapan menusuk. Urusan Baki-Maki tentunya jauh lebih parah daripada serangan barusan.

"Aku tadi mendapat info dari seseorang. Kalau infonya benar…Maka pertarungan sedang berlangsung di dekat gudang trem Konoha." Ujar Suigetsu mantap. Tanpa diduga Sasuke segera berdiri dari posisi duduknya.

"Sasuke, kau ingin kemana?" Tanya Juugo yang otomatis bangkit mengikuti Sasuke.

"Aku harus mengurus sesuatu." Balas Sasuke acuh.

"Kalau begitu aku ikut." Juugo melepas blazernya yang lusuh dan menggulung lengan kemejanya.

"Tidak. Awasi sekitar dan tingkatkan penjagaan. Masih ada resiko penyerangan mendadak dari SMA Suna," Sasuke berhenti berjalan dan matanya menatap Juugo dalam.

"Kau…Jangan-jangan soal Duo Baki-Maki?" Tebak Juugo.

"Itu urusanku. Satu lagi, aku benci mengatakan ini," Tatapan tajam Sasuke seolah menghujam Juugo. "Tapi awasi Suigetsu." Setelah mengatakan itu Sasuke pun benar-benar menghilang di tikungan, menuju Kyuubi street. Tempat Trem-trem terbengkalai disimpan dengan rapi.

Bab VI : Wajah-wajah Baru ∞

Saat Fox Claw tengah sibuk membenahi diri usai penyerangan, tak disangka-sangka sesosok gadis dengan balutan seragam sekolah putri muncul. Gadis berombre hitam-oranye itu berjalan dengan percaya diri diantara anggota-anggota Fox Claw yang memandang aneh padanya.

Pakura-nama gadis itu-berhenti tepat di hadapan Naruto yang terkapar di tangga masuk KGH. Sadar bahwa pandangannya terhalang, Naruto segera bangkit dan duduk di tangga KGH. Pakura tersenyum manis pada Naruto.

"Ah, ternyata Fox Claw no Kaichou itu luar biasa santai, ya?" Gadis itu terkekeh sembari menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, sangat feminim. "Aku sampai heran mengapa kalian bisa menguasai separuh kanto."

"Errr…ada perlu apa?" Tanya Naruto dengan wajah meringis sambil mengelap keringat yang bercucuran di sisi wajahnya, pemandangan yang begitu seksi.

"Aku hanya seorang penyampai pesan. Pesan ini hanya boleh di dengar Kaichou saja." Terang Pakura dengan tutur bahasa yang halus khas Siswi Sekolah Putri.

"Baiklah, ikuti aku." Naruto akhirnya mengalah dan mengajak Pakura ke tempat yang agak jauh dari para Anggotanya. Sedikit mengabaikan seruan anak buahnya untuk hati-hati. Tempat mereka berdiri ini sebenarnya lebih dekat ke tempat berkumpul anggota Dark Aoda.

"Begini, Kaichou. Kau harus tahu bahwa absennya Baki-Maki dalam penyerangan ini memiliki alasan khusus." Pakura kembali tersenyum dan kali ini membuat Naruto bergidik.

"Apa maksudmu? Kau ini di pihak SMA Suna?" Tanya Naruto gelagapan.

"Duo Baki-Maki kini sedang sibuk dengan Hime," Pakura meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Bad Velvet no Kaichou."

"S-sakura-chan?" Kini wajah Naruto menampakkan ekspresi khawatir luar biasa. "Jadi kau memang dari pihak SMA Suna, ya?"

"Sakura? Uh, aku bukan memihak SMA Suna. Sama sekali bukan," Pakura kelihatan tersinggung. "Aku ini kaki dan tangan kebanggaan Kuroteam."

Naruto hanya bisa diam saat Pakura mengangkat tinggi-tinggi bawaannya. Sebuah benda yang diduga pedang dan dibungkus kain. Pakura tersenyum melihat ekspresi Naruto.

"Kau manis sekali, Ah…ini hanya pedang kayu. Kalau kau memang ingin tahu soal pertarungan itu…coba mampir dulu ke Kyuubi Street." Bisik Pakura dengan nada yang kelewat manis sekaligus sadis.

"…" Naruto langsung beranjak dari tempat itu dan menuju Kyuubi Street.

"Sepertinya Dark Aoda no Kaichou juga harus tahu mengenai hal ini," Kalimat Pakura mengambang saat dari kejauhan ia melihat Uchiha Sasuke sedang melangkah dengan cepat, ke arah yang sama dengan Naruto. "Ah…sepertinya dia sudah tahu. Siapa yang memberitahunya? Apa mungkin Mizu?"

A Princess and The Ganks – Shinji Aime ∞

"Hosh…Hosh…" Sakura mengusap peluh yang bercucuran di pelipisnya dan menuruni lehernya. Semua bahunya terasa keram karena terlalu banyak bergerak. Kini penampilannya tidak jauh berbeda dari seorang atlet marathon yang telah menempuh jarak 30 km. Dua lawannya sendiri masih baik-baik saja

"Hime. Sudah kelelahan? Padahal waktu itu sanggup mengalahkan dua puluh orang sendirian." Sindir Baki sambil memainkan double stick-nya yang telah berpuluh-puluh kali mengenai tubuh Sakura.

"Kualitas kami luar biasa, ya?" Ejek Maki sambil tersenyum. Sedari tadi ia hanya menjadi penonton. Namun, sepertinya ia sudah sangat siap untuk menggantikan posisi Baki dalam melawan Sakura.

"…" Sakura sendiri sudah tidak sanggup berkata-kata. Tubuhnya serasa remuk redam. Sebenarnya ia bisa saja menghindari pukulan double stick Baki apabila ia bebas bergerak. Namun rasa nyeri di pinggangnya bekas pertarungan lalu benar-benar menghambat pergerakannya. Alhasil puluhan pukulan pun harus diterimanya mentah-mentah.

"Um, sudah jam segini tapi mereka berdua belum datang juga?" Maki menyeringai misterius. Di dalam kepalanya terekam berbagai skenario untuk mempermainkan Sakura.

Bab VI : Wajah-wajah Baru ∞

To Be Continue To

Bab VII : Harapan Baru

.:AUTHOR ZONE:.

Salam untuk para warga FFN~

First of all. Maaffffffff banget untuk ke-ngaret-an (?) updatenya. Awalnya emang mau hiatus dua minggu buat syuting lomba film pendek *doainmenang*, terus ganyangka setelah dua minggu, akun ffn aku malah ga bisa login. Sumpah ya, panik abis.

Terus, sekalinya bisa login, besoknya FFn nya yang gabisa diakses. Btw itu ada aposeh? Kok FFn gabisa diakses?

Yaudah deh, terserah mau hujat aku gimana atas keterlambatan (Termasuk kegajean) fic ini. Aku akan terima dengan hati yang lapang.

Hari ini ndak balas review dulu yak. Cepet2 nih soalnya pake tethering temen diem2.

SPECIAL THANKS TO :

| Philosopher|kimberchan| 76 | Yanti Sakura Cherry | sebut saja mawar | nkaalya |DAMARWULAN | nakize irawan | daisaki20 | smilecherry | neripyon | embun | Rinda Kuchiki |Kurobasaddicted | Guest |suket alang alang | nofita817 |via256 | Taka Momiji | Harika-chan ELF | Bluepink Cherrytomato | shaulaamalfoy | Imam453 |Shuu-kun |Nakashima Riebanyu biru | ferrish0407Arisa Hiiragi Sayaka| Aisya-Aoi-ChanLani-chan | raizel's wife Nurulita as Lita-san | flower on the spring

Flame? Boleh. Annon? Jangan.

Kalo mau flame tolong jangan annon ya. Kalo Annon langsung aku hapus tanpa dibalas karena aku tidak akan mau nanggepin komentar miring dari orang yang gajelas, hoho. Jangan lupa gunakan tata bahasa indonesia yang baik, yoo.

Akhir kata, Fave/Follow/Especially Review~

Don't be silent readers.

Sweet smile, Aime~