Previously
Baekhyun terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa. Dirinya merasa dungu jika harus mengatakan kebohongan lagi bahkan ketika Chanyeol telah mengetahui semuanya. Hatinya lelah karena Chanyeol. Dan dia hanya ingin terbebas dari makhluk berandalan ini.
"Aku..."
Thanks for all the readers about your sweet supports ^_^
Saranghaeyo! xoxo
Sehyun and Baekyeol/ChanBaek Always here!
I'll not give up! I hope you guys also think the same way like me
We Are One
.
.
.
.
-Enjoy-
.
.
.
-BaekYeol Area-
Play BGM :
2NE1 - It hurts
Hyorin - Don't love me
[Let's go back to the first time we meet, boys. Shall we?]
Desember 20XX 22.45 KST
Malam di bulan akhir tahun memang kian menusuk persendian tubuh. Angin musiman yang berhembus semilir terasa begitu kejam. Bagaikan menggoda kulit manusia yang berlapisi jaket-jaket tebal. Udara dingin menyeruak masuk secara paksa. Tubuh ini serasa menerima rangsangan langsung sehingga badan mengigil kedinginan.
Langit hari ini terlihat mendung tanpa bintang yang menghiasinya. Yang ada hanyalah gemerlap lampion-lampion kecil di jalan yang memutih akibat salju. Butiran-butiran benda kapas itu melayang perlahan turun dari langit sampai benar-benar menumpuk.
Meskipun dingin seperti es. Namun begitu indah untuk di lewatkan seseorang. Tentu saja! Siapa yang mau melewatkan salju pertama pada bulan Desember?
Bagi seseorang, turunnya salju sekarang berada di malam yang tidak tepat. Malam ini adalah malam kelam untuk dirinya. Menikmati salju tanpa seseorang yang sebut saja telah pergi meninggalkannya. Seseorang yang di kasihinya. Seseorang yang di sayanginya. Bahkan dirinya akan 'selalu' mencintai sosok itu.
Lantas kenapa salju menjadi salah satu permasalahannya? Oh, sebenarnya pemuda bersurai coklat itu hanya mengingat satu momen manis mengenai salju pertama dengan orang tersebut. Meski sekarang segalanya hanya kenangan.
Tubuhnya sangat sakit setelah mati-matian melawan semua berandal yang anggap saja musuh bebuyutannya. Luka ini tidak seberapa dengan luka membekas selamanya kepada orang itu. Ditinggalkan seseorang yang dicintai memang tidak mudah.
Apakah malam ini Tuhan sedang menghukumnya? Atau Tuhan sedang memberitahukan padanya sesuatu yang akan menyadarkannya sebentar lagi.
'Apakah jika aku tidak bertemu denganmu aku tidak akan menyadari hal itu?'
.
.
.
Seorang namja berlari kecil di tengah hujan salju yang masih ringan. Uap panas yang keluar dari mulutnya terlihat kentara sekali di cuaca seperti ini. Tubuhnya mengigil. Dia memang tidak tahan dengan hawa dingin. Ingin rasanya dia segera masuk kedalam rumah dan memakai selimut hangatnya sambil meminum secangkir susu strawberry hangat.
"Uhh, kenapa mesti bersalju hhh…" gemetarnya mengeratkan jaket biru berhoodie yang menutupi seluruh kepala dan wajahnya.
Langkahnya mulai di percepat ketika memotong jalan melewati sebuah taman sekitar yang cukup sepi. Tentu saja. Siapa yang mau bermain malam-malam di musim ekstrim ini? Lebih baik tidur dirumah bergumul dengan selimut tebal.
Kecepatan lari namja itu semakin bertambah. Namun dia lengah dan badan mungil itu tergelincir oleh jalanan yang mulai membeku. Dengan posisi dada yang menyentuh tanah terlebih dahulu.
"Auhh.. Appoo…" ringisnya seperti anak bayi baru pertama kali jatuh. Matanya memandangi telapak tangan yang tadi menopang tubuhnya sebelum menyentuh tanah dingin itu. Darah mulai keluar dari sela-sela kulit tangannya. Mungkin dia sempat tergores batu kecil saat terjatuh.
"Ahh… Dingiinn…" ucapnya gemetaran kembali.
Dia lebih mengabaikan perih yang menjalar ke tangannya dan segera bangkit untuk pulang kerumah. Tapi sayang, darah itu tidak mau berhenti membeku sepeti bibirnya yang sudah kelu.
"Argghh…." terdengar suara rintihan lain.
Namja itu menegakkan tubuhnya mendengar suara aneh ditelinganya. Kepalanya menoleh kesana sini. Mencari sumber suara. Namun hening. Sejauh mata memandang hanya ada taman yang hampir seluruhnya tertutup hujan salju ringan. Suasana sangat sepi. Seperti kuburan nyentrik lebih tepatnya.
Kakinya kembali melangkah takut-takut. Taman ini cukup luas meski dengan penerangan lampu seadanya. Jangan-jangan suara desahan berat tadi berasal dari orang gila? Atau… Hantu?
Kepalanya menggeleng cepat. Mana mungkin ada hantu? Selama lima belas tahun hidupnya namja itu belum pernah melihat namanya hantu makanya dia tidak percaya.
Tidak berapa lama matanya menangkap sosok manusia yang sedang duduk di bawah pancuran. Langkahnya berhenti. Dirinya takut melihat penampilan orang itu. Dia ragu apakah dia harus mendekat untuk bertanya.
'Kenapa orang itu duduk di sana dengan cuaca tidak bersahabat seperti ini? Apakah dia tidak kedinginan?' batinnya. Hati namja mungil itu sungguh baik layaknya malaikat kecil.
"Emhh.. Permisi. Kenapa kau duduk di sini?" tanyanya sambil menundukkan tubuhnya.
Pemuda bersurai dark brown tidak menjawab. Kepalanya menunduk dengan satu kaki menekuk dan satunya lagi lurus di depan namja mungil itu.
"Hey, apa kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
"Kau bisa mati kedinginan. Lebih baik kau pulang jangan duduk di sini"
"Berisik! Sebaiknya kau pergi! Jangan ganggu aku!" gertak si pemilik suara berat dan wajahnya terangkat.
"Ya ampun! Wajahmu!" tanpa bisa di jaga mulutnya pemuda mungil itu berteriak cukup keras. Memberikan reaksi heboh ketika melihat banyak lebam dan darah mengalir di pelipis namja itu.
"Sudahlah lebih baik kau pergi!"
"Kau habis berkelahi?" tanyanya lagi menghiraukan usiran orang di depannya. Pemuda itu mendengus kasar tidak peduli. Lalu menepis tangan pemuda mungil yang sudah menyentuh wajahnya.
"Ya! Kau mau apa?! Ini bukan urusanmu bocah! Sudah kubilang pergi kenapa tidak mengerti juga! Pergi kau!" umpatnya kasar berusaha berdiri namun dia tidak sanggup.
"Tunggu! Lebih baik kau jangan berdiri dulu sepertinya lukamu sangat parah. Omo… darahnya terus mengalir. Aihh.. Bagaimana ini?" cemasnya terlihat panik.
Hey! Ini adalah kali pertama kau bertemu dia, pemuda manis. Tapi kenapa kau malah sangat ketakutan seakan dia adalah kerabatmu yang terluka parah? Oh, mari kita ingat sekali lagi. Dirinya adalah malaikat mungil..
"Kira-kira apa yang bisa menutup lukamu itu yah? Kalau tidak segera di tutup nanti kau terkena infeksi" gelisahnya celingak-celinguk melihat apakah ada toko yang masih buka di jam segini?
Nihil. Lagipula hari sudah hampir larut. Kondisi namja bersurai coklat gelap ini juga cukup memprihatinkan. Luka-luka basah di wajah dan pelipisnya harus segera di obati.
"Ah! Iya aku lupa!" sahutnya tidak tahu diri lagi bahwa pemuda yang merasa nyaris sekarat itu pengang mendengar jeritan cemprengnya.
"Ini! Pakai ini saja tidak apa-apa kan?" tanyanya. Pemuda itu melirik keatas.
Matanya menangkap sebuah band aid kecil berwarna pink dengan gambar strawberry yang terkesan sangat girlish. Oh, god… Siapapun pria bodoh yang mau memakai band aid itu pasti sudah gila.
"Ck…" hanya desahan yang keluar dari bibir si surai coklat gelap. Namja ini mungil ini mengigit bibir menahan malu.
'Benar juga.. Dia pasti tidak mau memakai band aid konyol ini. Aiishh… Kenapa hanya motif ini yang aku punya. Aku benar-benar bodoh hhh!' rutuknya dalam hati.
Akhirnya si pemuda mungil berhoodie menemukan alternatif lain. "Ah.. rumahku tidak jauh dari sini! Apa kau mau kesana?" tawarnya.
Namja itu hanya meringis dan terdiam. Tubuhnya mungkin terlalu sakit untuk berjalan.
"Kalau begitu aku akan bawakan obat dari rumahku. Kau tunggu di sini yah. Ini. Coba di pakai dulu meski motifnya tidak sesuai yang kau harapkan. Paling tidak darahmu bisa berhenti mengalir. Tunggu sebentar ya!" ucapnya sambil menyodorkan band air bermotif strawberry pada si pria bersurai coklat.
Kaki kecilnya melangkah dengan cepat. Sedangkan pemuda yang masih terduduk tadi memandang punggung si kecil yang mulai berlari menjauh. Hatinya terasa nyeri. Bahkan nyeri di tubuhnya akibat pukulan berandalan lain tidak begitu sakit dari ini.
Dia ingin menangis kembali. Entah karena apa. Tapi seluruh nafasnya terasa terkecat dan sulit untuk menghirup udara bebas disekitarnya.
Kenapa namja pendek itu peduli padanya? Kenapa dia mau membantu namja menyedihkan seperti dirinya? Apa Tuhan memang sedang memberikan pengecualian padanya? Memberitahukan bahwa sebenarnya masih banyak yang peduli padanya meski sikapnya sangat brengsek dan tidak bermoral.
Apa Tuhan mengirimnya dengan sengaja untuk menyembuhkan hatinya malam ini? Atau mungkin… tidak?
Tangannya terangkat sambil memegang band aid pink di hadapannya. Matanya kembali menoleh pada lahan kosong tempat namja tadi pergi kerumahnya untuk mengambil obat.
"Sial… Kenapa masih ada manusia seperti itu? Benar-benar bodoh.." lirihnya menahan pilu.
.
.
.
"Maaf aku lama. Tadi eomma tidak mengizinka….."
Kalimat si namja mungil terhenti ketika menatap lahan kosong di sekitar kolam air mancur taman. Kepalanya mencari-cari si namja bersurai coklat tadi yang seingatnya masih duduk lemah disini. Tapi kemana namja itu sekarang?
"Ah.. Kemana dia pergi? Apa dia baik-baik saja? Omo… Tubuhnya kan terluka.. Apa dia bisa.. berjalan?" ucapnya pelan.
Si pemuda mungil itu menatap lagi lahan kosong tempat pria tadi terduduk. Beberapa tetesan darah masih ada di sana. Hatinya terasa nyeri mengingat kondisi pria itu.
Tangannya menarik hodiee menutupi seluruh kepala. Sementara tangan yang lain menggenggam erat sebuah payung yang sengaja di bawanya karena salju turun semakin lebat.
Tanpa sadar sebutir airmata jatuh ke pipi mulunya. Tiba-tiba dia sedih membayangkan pria bersurai coklat tadi. Dia lengah kembali dan tidak sempat menolongnya. Bodoh benar kau Byun Baekhyun..
"Hiks… Aku harap dia baik-baik saja…." Isakknya lalu menaruh plastik berisi obat merah dan beberapa perban di tepi kolam tersebut. Tidak lupa plastik itu dipayungi agar tidak terkena salju.
Kemudian kakinya berjalan pelan meninggalkan taman. Tanpa dia sadari. Bahwa namja bersurai coklat gelap tadi ternyata masih berada di sana. Bersembunyi di balik pohon melihat semua perilaku Baekhyun yang telah merubah pandangan hatinya.
'Ternyata masih ada seseorang yang begitu memperhatikanku…'
.
.
.
.
.
Januari, 20XX
"Annyeonghaseyo. Byun Baekhyun imnida. Bangapseumnida" ucap si namja mungil sambil membungkukkan badan penuh semangat.
"Nah, Tuan Byun. Sekarang duduklah di sebelah Oh Sehun" titah seonsangnim dan Baekhyun mengangguk.
"Psst! Dia pasti si anak baru berbeasiswa itu kan? Kelihatannya dia menarik. Cepat kerjai dia, Hyun!" bisik Young Jae yang duduk di belakang Daehyun.
Daehyun tersenyum miring lalu mengeluarkan sedikit kakinya saat Baekhyun hendak berjalan menuju tempat duduknya. Baekhyun yang tidak melihat tersandung hingga terjatuh. Tubuh mungilnya langsung menyentuh tanah dengan tidak elit. Membuat gelak tawa heboh yang cukup keras oleh seluruh murid kelas.
"Aigoo.. Kau tidak apa-apa anak baru?" tanya Daehyun pura-pura bersimpati menahan tawa.
Baekhyun berdiri membereskan seragamnya yang sedikit lecek lalu tersenyum pada Daehyun. "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja kok"
"Ya! Sudah jangan tertawa lagi! Sekarang buka buku kalian halaman 56!" sahut Kim Seonsangnim dan semua murid mulai diam.
"Hai Baek" sapa si namja berkacamata tebal.
Baekhyun hanya diam lalu duduk dengan ekspresi sok cuek. Tanpa membalas sapaan hangat teman barunya. Tangannya mulai sibuk mengeluarkan buku catatan dan tempat pensilnya tanpa mengindahkan ucapan si kacamata tebal disebelahnya.
"Byun Baekhyun kau sudah lupa padaku?" bisik Sehun dengan tatapan tidak percaya melihat sikap dingin temannya.
Baekhyun menoleh menahan tawa. "Puhahahaha!" gelakkan kecilnya terendam seruan Kim Seonsangnim yang membelakangi mereka dan memang selalu bersuara keras ketika mengajar matematika.
"Ya! Baekhyuniee!" kesal Sehun sambil berbisik.
"Hahaha mian Sehunnie. Ekspresimu lucu sekali!"
"Begitukah caramu menyapaku ketika sudah lima tahun kita tidak bertemu?"
"Mian.. mian, Hun. Aihhh kau ini! Kemari kau!" senyum Baekhyun lalu menarik punggung Sehun dan memeluknya erat.
"Sial! Aku sangat merindukanmu, Hun!" ucap Baekhyun di telinga Sehun.
Pemuda berkacamata itu tersenyum. "Aku juga, Baek. Selamat datang kembali di Seoul"
.
.
.
Kehidupan sekolah Byun Baekhyun pada minggu awal tidak semulus semua murid yang mengharapkan masa sekolah menengah yang menarik. Baekhyun terbilang murid baru di semester kedua sudah menjadi buah bibir.
Hal itu pun terdengar sampai ketelinga para penguasa sekolah. Seperti biasa. Mereka yang notabane-nya juga murid baru kelas satu SM SHS juga sudah mencolok. Lain halnya soal perbedaan mencolok di sekolah jika dbandingkan dengan Baekhyun.
Sebelum menjadi incaran penguasa sekolah. Sudah banyak kakak kelas yang lebih dulu iseng pada Baekhyun. Murid-murid yang penasaran juga tertarik untuk mengerjainya. Secara! Siswa berprestasi di sekolah memang selalu di elu-elukan. Namun sayang, Baekhyun jatuh pada kategori namja underdog (pengecut) sekolah.
"Kapan akan dimulai Yeol? Aku sudah gatal ingin melakukan sesuatu pada si anak baru" rengek Chen pada teman-temannya di gudang belakang sekolah.
Park Chanyeol, ketua penguasa sekolah terdiam. Dirinya tidak begitu tertarik. Asal kalian tahu saja. Chanyeol sudah masuk sekolah ini sejak JHS dan melanjutkan ke SHS yang sekolah ini memang hak paten miliknya.
Tapi tidak banyak siswa yang tahu kalau Chanyeol adalah salah satu cucu pemilik sekolah. Karena tidak ada Luhan. Namja itu masih sering bolak bailk ke Amerika pada semester awal SHS. Untuk hak waris Luhan mempunyai kuasa lebih besar dari Chanyeol. Apalagi dia salah satu anak berprestasi juga disekolah miliknya sendiri.
"Aku tidak suka repot. Suruh saja dimulai besok. Aku hanya akan menikmati bagian akhirnya" acuh Chanyeol terkesan dingin.
Chen mengangguk antusias sementara Kai tersenyum miring sambil melipat tangannya didepan dada. Kris? Dirinya hanya ikut melaksanakan 'tradisi SM SHS' yang sebenarnya sudah mendarah daging di sekolah laknat itu. Dengan para penguasa sekolah baru. Kekuasaan mereka semakin berlipat ganda.
Hari pertama minggu kedua Baekhyun sekolah. Dia mendapatkan kertas coklat bergambar rilakkuma manis yang menggantung di dalam lokernya.
'Selamat datang di SM SHS anak baru. Silahkan menikmati sambutan special dari kami ^_^
PS : Ketua Park'
"Apa ini?" tanyanya dengan tampang polos.
"Wah.. Kau.. Mendapat kartu dari Ketua Park?!" pekik namja yang berdiri di loker sebelah Baekhyun. Baekhyun hanya memiringkan kepala bingung. Dia hendak bertanya. Tapi seluruh murid-murid memandangnya ketakutan bahkan berbisik-bisik.
"Ada apa sih sebenarnya?"
Dan di mulailah sambutan selamat datang ala para penguasa sekolah.
Pelajaran kedua hari ini adalah olahraga. Ketika Baek hendak mengambil baju olahraganya di loker sekolah nyatanya baju olahraga baru itu sudah basah dan bau amis.
"Yakk! Kenapa bau ikan?!" pekiknya menutup hidung. Akhirnya mau tidak mau Baekhyun memakai baju basah itu. Berolahraga tanpa teman yang mau mendekatinya karena dia bau ikan amis. Terkecuali untuk Sehun yang selalu setia disampingnya.
Pelajaran olahraga selesai. Baekhyun berganti baju dan mandi sebentar untuk menghilangkan bau amisnya dengan Sehun yang berjaga di depan pintu kamar mandi. Namun pemuda itu lengah.
Ketika Baekhyun sudah selesai mandi ternyata sepatunya yang hilang. Padahal Baekhyun sudah yakin dia menaruh sepatu birunya di dalam loker. Mau tidak mau, pemuda mungil itu masuk kelas tanpa sepatu dan mendapat omelan dari Choi Seonsangnim yang terkenal galak.
Hari kedua Baekhyun juga kena sial. Pagi ketika masuk kelas meja Baekhyun tertimbun plastik bekas snack juga kaleng minuman dan sebagainya. Baekhyun melongo melihat mejanya yang kotor akibat sampah-sampah itu. Matanya memandang sekitar dan nyatanya teman sekelasnya hanya cekikikan tanpa ada yang mau membantu. Lagi-lagi Baekhyun harus bersabar.
Tradisi SM SHS itu terus berlanjut sampai hari kelima. Baekhyun di suruh membersihkan daun-daun maple yang berjatuhan dipekarangan sekolah. Hal ini terjadi karena kelas pagi-pagi terlihat sangat kotor. Dan Baekhyunlah yang tiba-tiba di jadikan kambing hitam.
Maka inilah hukuman dari Baekhyun. Setiap harinya dia selalu mendapat kesialan dan pekerjaan bertubi-tubi dari para murid laknat SM SHS. Padahal mereka hanya disuruh dan terlebihnya saat hari pertama adalah kerjaannya Chen dan Kai yang sengaja menjahili Baekhyun.
"Hahh…. Baru dua minggu bersekolah di sini kenapa terasa sangat berat?" keluh Baekhyun wajahnya ditekuk bersandar pada tangannya yang memegang ujung sapu.
"Eomma.. hiks" tanpa sadar Baekhyun menangis.
Bulir airmatanya berlomba-lomba keluar. Hatinya pilu menghadapi kesehariannya yang begitu menyedihkan. Sebenarnya Baekhyun tidak ingin menangis. Tapi dia sudah tidak tahan.
"Apa aku harus mati saja?" ucapnya asal. Namun namja mungil itu menggeleng cepat. Menepis ide konyolnya. Maklum Baekhyun memang terbilang anak polos.
"Apa yang kukatakan?! Kalau aku mati eomma akan sedih dan sendirian.. Ani! Aku harus kuat! Segini saja tidak ada apa-apanya. Paling besok mereka sudah bosan, huh!" tangan pemuda manis itu terkepal di depan dadanya.
Dirinya berkomitmen tidak akan menyerah. Di kerjai seperti ini bukan berarti Baekhyun harus pupus harapan sekolah. Dia sudah bersusah payah masuk kedalam sekolah ini.
Tanpa sadar seorang namja dari lantai atas memandangnya dengan tatapan tajam. Sejak sejam yang lalu Baekhyun membersihkan pekarangan itu matanya tidak bisa berhenti menatap sosok malaikat kecil di bawah sana. Bibirnya menyinggungkan senyum ketika Baekhyun bersorak-sorak heboh menyemangati dirinya sendiri.
"Bertahanlah. Besok adalah hari terakhir pendek" ucapnya pelan.
Yap!
Hari ini adalah hari jumat. Seharian ini tidak ada yang mengganggu Baekhyun dan entah kenapa pemuda itu merasa cemas. Ya ampun Baek.. Seharusnya kau senang bukan cemas. Apa yang kau harapkan?
"Hun, kok hari ini aku tidak kena incaran anak-anak yah?" tanya Baekhyun pada Sehun yang berjalan hendak keluar gedung sekolah.
"Entahlah Baek. Sepertinya mereka sudah bosan terhadapmu. Bersyukurlah hari ini kau baik-baik saja!" ucap Sehun membetulkan letak kacamatanya. Baekhyun tersenyum bodoh. Benar juga. Mungkin mereka telah bosan menjahilinya terus selama hampir seminggu.
Tidak berapa lama pikiran bahagianya sirna ketika seseorang berteriak.
"AWAS!"
Dan…
.
.
.
.
BYUUURRRR!
Tubuh pemuda kecil itu basah kuyup dengan mata terpejam. Baekhyun menyibak air yang mengalir di tangan dan wajahnya. Dia mengucek perlahan matanya. Menyesuaikan pandangan ketika kelopak tersebut ingin terbuka.
Gelak tawa para murid yang baru keluar area gedung menjadi pecah seketika. Baekhyun menoleh ke kiri dan kanan. Sehun juga terkena cipratan air meski tidak begitu basah seperti kucing habis tercebur kedalam got layaknya Baekhyun.
Dirinya berpikir cepat. Guyuran air itu berasal dari atas. Kepalanya mendongak pada lantai tiga. Dan terlihat jelas siapa pelakunya. Sedang melipat tangannya di depan dada sambil bersandar pada jendela kelas.
"Itu hadiah special untuk hari ini. Namaku Park Chanyeol. Dan selamat datang di SM SHS, pendek" ucap Chanyeol tersenyum miring menatap Baekhyun dengan Chen, Kai, dan Kris dikiri dan kanannya memandang puas mainan mereka dalam seminggu ini.
"Park Chanyeol…." Lirih Baekhyun pelan. Menggeram dalam hati penuh amarah. Mata mereka bertemu dengan sejurus pandangan mematikan. Tatapan tajam seorang penguasa sekolah, Park Chanyeol dan juga sirat penuh kekesalan terpendam pada Byun Baekhyun.
'Lihat saja Park Chanyeol! Kau akan merasakannya suatu saat nanti!'
.
.
.
.
.
Memasuki bulan Maret, Baekhyun mulai terbiasa dengan kehidupan sekolah SM SHS. Terkadang dia juga butuh menghindar barang sehari. Namun kadang dia juga bisa sebulan penuh merasa tenang.
Hal itu terjadi karena jika dilihat dari sisi Chanyeol. Tradisi itu sudah di hilangkan. Beberapa hari setelah ketahuan bahwa Chanyeol terkenal membully para siswa siswi baru. Luhan yang datang kembali dari Amerika mendengar dan menentang keras tradisi bodoh itu.
Setelah Chanyeol di beri peringatan mengancam oleh kakeknya di rumah mengenai anak baru ber-beasiswa yang dia bully. Chanyeol dan teman-temannya tidak di perbolehkan melaksanakan tradisi konyol itu lagi. Dan para murid yang ber-beasiswa dilarang di bully karena merekalah yang membawa nama baik sekolah. Tapi tatapan tajam Chanyeol tidak pernah berubah pada anak itu— Byun Baekhyun.
"Baekhyuniiee~"
Baekhyun menoleh. Salah satu teman sekelasnya Jeong Daehyun terkenal cukup berandal dikelas. Baekhyun awalnya sempat takut dengan pemuda ber-eyeliner itu. Tapi dia mulai terbiasa.
"Apa?"
"Bisa tolong aku tidak kali ini?" mohon Daehyun sambil menyatukan kedua tangannya dengan wajah memelas.
Disinilah Baekhyun. Berjongkok. Sudah lebih dari dua puluh menit waktu istirahat. Hanya untuk mencari cincin Daehyun yang hilang di pinggir kolam renang— Katanya Daehyun.
Baekhyun masih sabar menatap lantai basah itu dengan teliti. Tiba-tiba tubuh mungilnya terhuyung. Kepalanya serasa mendapat hentakan keras. "Duh, kenapa kepalaku pusing yah? Apa aku demam?" ucapnya memegangi kepala.
Tiba-tiba saat Baekhyun berdiri merenggangkan tubuhnya dia melihat seberkas benda perak yang terkena cahaya matahari di dasar kolam. Jangan-jangan itu cincin Daehyun! Baekhyun hampir bersorak kegirangan. Kalau saja dia tadi mendengar bel masuk sudah berbunyi.
"Aku harus cepat mengambilnya! Ahh… bagaimana caranya?" panik Baekhyun mondar mandir mencari alat untuk mengambil cincin perak itu.
Tanpa sadar tubuh Baekhyun limbung kembali. Sepertinya dia memang sakit. Kepalanya sangat pusing. Kaki Baekhyun berjalan mundur menuju kolam dan keseimbangannya kurang sampai akhirnya dia tergelincir. Alhasil, Baekhyun tercebur kedalam kolam renang.
"Akkhhh… Tolooonghhh…Umbbhhh" sahut Baekhyun berusaha berenang. Jika kalian tahu. Pemuda mungil itu sama sekali tidak bisa berenang. Baekhyun takut dengan kolam renang entah itu dangkal atau dalam.
"Tolooongg... Akuumbbbh…" jeritnya tidak kenal lelah.
Kakinya bergerak-gerak menendang air kolam itu dengan gerakan tidak teratur. Tangannya juga menggapai-gapai pinggir kolam. Tapi sial. Badan Baekhyun tidak bergerak maju untuk menggapai tiang. Malah semakin mengambang jauh dari pinggir kolam.
Nafasnya sudah diambang batas kemampuannya. Saking paniknya tubuh Baekhyun melemas. Kepala yang sedari tadi berusaha naik untuk bernafas akhirnya tenggelam perlahan. Tangannya masih terulur entah harus menggapai apa lagi.
Oh tidak! Seseorang tolonglah Baekhyun!
.
.
.
Jeritan memekakkan telinga terdengar cukup keras untuk membangunkan pemuda jangkung yang sedang tertidur. Membolos pelajaran sambil terlentang menikmati waktu santainya di papan loncat area kolam renang.
Sebut saja Park Chanyeol, yang tadi hampir tertidur. Terusik karena teriakan minta tolong dari seseorang. Apalagi ruangan ini memang menggema saat orang berteriak sekencang itu.
Chanyeol tidak mau ambil pusing. Dia masa bodoh dengan orang yang masih memohon-mohon minta di tolong keluar dari air kolam di bawahnya. Merasa terganggu kepalanya menjulur melihat siapa si pemilik suara cempreng yang sudah menggangu acara mari-membolos-di siang-hari-nya.
Mata bulatnya melebar menatap sosok mungil yang berusaha menggapai tiang yang sudah menjauh. Tidak berapa lama tubuhnya kelelahan dan akhirnya tertelan oleh air kolam yang berhenti beriak akibat usaha si kecil.
Tanpa berpikir dua kali lagi Chanyeol segera melepas sepatunya dan meloncat dari papan indah setinggi lima meter. Dirinya begitu lihai berenang menuju Baekhyun yang badannya sudah hampir menyentuh dasar kolam.
Chanyeol menyelam melihat Baekhyun yang matanya terpejam dengan bibir terbuka. Sial! Anak itu malah menyedot semua air kolam masuk kedalam paru-parunya?! Apa anak itu bodoh?
Chanyeol segera menggapai tubuh mungil Baekhyun. Tidak berpikir dua atau tiga kali lagi. Bibirnya langsung mendarat pada Baekhyun. Menyalurkan oksigen yang sudah terputus-putus bagi Baekhyun sendiri. Kakinya menendang permukaan air dibawahnya dan membawa mereka naik keatas.
"PUAHHH… hahh.. hahh…" desahnya kalap mengambil oksigen.
Setelah mereka berhasil keluar dari kolam Chanyeol membaringkan Baekhyun di tepi kolam. Hening. Tidak ada pergerakan dari Baekhyun yang terpejam seperti orang mati.
"Ya! Bangun!" titah Chanyeol menepuk pelan pipi chubby Baekhyun.
"Ya! Baangun pendek! Aishh… Buka matamu! Yaa!" sahutnya lagi seperti orang bodoh. Tetesan air yang membasahi rambutnya jatuh mengenai wajah Baekhyun. Namun pemuda itu tidak kunjung sadar.
Persetan dengan harga diri dan gengsi terhadap incarannya dua bulan yang lalu. Chanyeol kembali mendaratkan lagi bibirnya di atas bibir Baekhyun dengan panik. Membuka mulutnya dengan ibu jari dan telunjuk yang menutup rongga hidung Baekhyun. Mencoba memberi bantuan pernapasan sekali lagi.
Lalu memompa dada Baekhyun dengan kalap. Sambil terus memohon dalam hati agar si kecil ini berusaha untuk bangun dan bernafas normal. Chanyeol sendiri bingung entah kenapa dia terlihat begitu panik pada kondisi keadaan Baekhyun.
"Hey! Ayo bangun!" gertaknya dengan satu nafas buatan lagi dalam sebuah pagutan memburu. Chanyeol tetap tidak menyerah. Mengeluarkan semua pasokan udara yang dia punya pada Baekhyun. Sambil melumat sedikit bibir manis itu.
Tidak berapa lama Baekhyun tersedak. Dirinya terbatuk-batuk heboh dengan air yang berlomba-lomba keluar dari mulutnya. Wajah Chanyeol langsung berubah lega ketika Baekhyun kembali bernafas.
"Ya! Pendek!"
BRAK!
"Chanyeol! Sedang apa kau disini? Apa yang kau lakukan dengan anak itu?!" pekik Luhan histeris ketika mendapati Chanyeol dan Baekhyun yang masih terbaring lemas dengan mata terpejam.
"Luhan! Cepat bawa dia ke UKS!"
"Ya! Kau sudah kubilang jangan membully orang lagi! Kenapa kau tidak jera juga Yeol?"
"Apa?! Tunggu! Ini tidak seperti yang kau ki—"
"Kris! Cepat bawa anak itu ke ruang kesehatan! Palli dia susah bernafas Kris!" sahut Luhan yang panik ketika mendekat melihat kondisi Baekhyun.
Kris mengangguk dan mengangkat tubuh mungil itu. Baekhyun masih terbatuk tidak sadarkan diri. Tangannya terkulai lemas dengan tubuh yang benar-benar basah.
Chanyeol hanya bisa memandang kaku pada Baekhyun yang di gotong Kris ala bridal style. Seharusnya Chanyeol yang melakukannya bukan Kris! Umpatnya dalam hati sebelum akhirnya satu jeweran di kuping mengalihkan dunianya.
"Kau harus di omeli haraboji lagi Yeol!"
"YAK LUHAN APPO! AKU TIDAK BERSALAH DENGARKAN AKU DULU!" belanya tanpa Luhan mau mendengarkan penjelasan Chanyeol lebih lanjut. Sepertinya kuping Chanyeol akan semakin lebar setelah ini.
.
.
.
"Ugh…. Dimana aku?" erang Baekhyun lemas.
"Kau di ruang kesehatan. Apa kau merasa lebih baik sekarang?" ucap suara berat itu.
Baekhyun menoleh menyesuaikan pandangannya yang memburam. Kepalanya terputar kesumber suara dan matanya membulat mendapati sesosok tampan yang sedang duduk disamping ranjang rawat.
"Kau… Yifan-ssi…."
"Kris. Panggil saja aku Kris" ucapnya tersenyum lembut.
"Ah… ne.." Baekhyun mengangguk semburat rona wajahnya keluar tiba-tiba.
"Kris-ssi.. Apa yang terjadi padaku?" tanya Baekhyun ragu.
"Kau sepertinya terjatuh ke kolam renang" mata Baekhyun membulat kepalanya berusaha mengingat kejadian yang baru saja dia alami. Baekhyun cukup terkejut ketika menyadarinya.
"Dan sepertinya kau tidak sadar kalau kau sedang demam" tambah Kris lagi.
"Demam?"
"Ya. Demammu cukup tinggi. Tapi dokter sudah memberikan mu obat saat kau tertidur" Baekhyun mengangguk patuh mendengar penuturan Kris.
Pemuda tinggi itu begitu mempesona. Wajar jika banyak yang menyukainya meskipun Kris terkadang terkesan dingin dan cuek. Tiba-tiba bibir Baekhyun terasa panas ketika memandang wajah tampan Kris.
'Jadi.. Saat aku terjatuh dia menolongku? Berarti dia…. Oh! Benarkah?' gumam Baekhyun dalam hati. Jantungnya berdetak cepat mengingat kemungkinan yang terjadi bahwa dia telah di beri nafas buatan oleh Kris.
"Baiklah sepertinya kau sudah membaik. Aku harus kekelas dulu. Kuharap kau cepat sembuh. Bye"
"Ah! Kris-ssi!" pekik Baekhyun panik.
Kris menoleh. Ya Tuhan… Dia tampan sekali. Pipi Baekhyun semakin merona membayangkan kejadian yang baru saja dialaminya. Meski pria di hadapannya ini adalah salah satu dari para penguasa sekolah tapi entah kenapa Baekhyun tidak membencinya. Malah memujanya dan terbius akan pesona Wu Yifan.
"Ya?"
"Te.. Terima kasih sudah menolongku…" gugup Baekhyun yang memerah seperti apel segar.
Kris tersenyum miring. "Sama-sama. Cepatlah sembuh. Aku pergi dulu. Bye" dan kalimat Kris sontak membuat Baekhyun tersadar akan cinta yang baru tumbuh dari lubuk hatinya.
#Flashback end
-Its BaekYeol Area-
.
.
.
.
.
"Aku…"
Bibir Baekhyun terasa sangat kelu. Tangisnya mereda akibat sentuhan jemari Chanyeol yang terus mengusap pipinya. Menghilangkan jejak airmata bagaikan sungai yang mengalir deras tadi.
Chanyeol terdiam. Menunggu jawaban yang keluar dari square lips itu tanpa lelah. Hitung-hitung dia juga menikmati pemandangan wajah Baekhyun yang manis dengan rona merah dipipi chubby-nya.
Baekhyun kembali memandang mata Chanyeol. Kenapa pemuda itu menatapnya berkesan penuh cinta? Apa otak Chanyeol masih waras?
"Aku.. tidak tahu" ucap Baekhyun dengan satu hembusan nafas.
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. Memberikan reaksi kurang puas terhadap jawaban Baekhyun. Bukan itu jawaban yang diinginkan Park Chanyeol, Baekhyun…
Tapi Baekhyun merasa lebih baik Chanyeol mengingatnya sendiri. Lagipula itu kan perlakuannya. Apa Chanyeol pura-pura bodoh?
"Apa maksudmu tidak tahu? Apa kau tidak sadar telah melakukan itu' dengan siapa?" tanya Chanyeol lagi sedikit membentak. Sepertinya kesabaran Chanyeol telah habis.
Baekhyun menatap tidak percaya pada pria di hadapannya. Tangannya mendorong keras dada bidang Chanyeol sampai pelukkan mereka terlepas. Raut kesal tampak di seluruh sudut wajahnya.
"Yak! Kau yang babo sama sekali tidak sadar atau bahkan mengingatnya! Babo! Kau benar-benar babo Park Chanyeol!" jerit Baekhyun menunjuk-nunjuk Chanyeol seakan dialah tersangka utama pelecehan terhadapnya. Memang benar sih..
Chanyeol hanya terdiam kaku. Berusaha mencerna perkataan Baekhyun namun pemuda mungil itu telah lari meninggalkannya tanpa sempat Chanyeol kejar.
"Argghhh!" gerammnya menendang udara kosong dengan wajah frustasi. Kenapa dia begitu bodoh untuk melupakan kejadian di perpustakaan waktu itu?
.
.
.
.
Dua hari kemudian Chanyeol tetap uring-uringan. Semua kembali seperti biasa. Hanya saja yang terlihat berbeda sekali lagi adalah Tuan Park sendiri.
Dirinya berusaha menemui Baekhyun meski gengsinya tinggi. Tapi dia tidak mau ambil peduli lagi. Yang terpenting adalah Baekhyun. Sudah bagus Chanyeol bisa menyimpulkan dengan cepat bahwa Baekhyun itu Baeby. Kali ini dia tidak ingin melewatkan hal apapun dari Baekhyun.
"Baekhyun. Kau dipanggil Park Chanyeol di lab biologi" ucap salah seorang siswa kelas Baekhyun dengan takut-takut pagi tadi.
Baekhyun mendengus lelah dan berterima kasih pada namja itu. Tapi tidak sedikit pun niatnya untuk bertemu dengan Chanyeol.
Kepalanya menoleh keluar jendela. Pelajaran hampir usai. Tiba-tiba matanya menangkap sosok jangkung yang sedang bermain basket di lapangan outdoor yang jaraknya lumayan dari gedung sekolah. Tapi terlihat jelas.
Baekhyun terus memandang gerak gerik Chanyeol. Sampai akhirnya pemuda itu merasa di perhatikan saat selesai men-shoot tree point. Mata mereka bertemu meski dengan jarak yang lumayan jauh.
Chanyeol mungkin terlalu peka akan pemuda mungil itu. Dia mengangkat tangannya. Berusaha terlihat keren meski hanya memberikan salam tanpa sepatah katapun. Tapi reaksi yang di berikan oleh Baekhyun hanya sebatas mengangkat kedua alisnya. Tanda bertanya heran atas sikap Chanyeol dan kembali melihat papan tulis didepannya.
Sungguh malang uri Chanyeol…
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tepat. Itu artinya klub malam ibu Baekhyun sudah mulai ramai dan kali ini shift Baekhyun sedikit lebih lama. Dia pikir berdiam diri memikirkan sikap Chanyeol akhir-akhir ini padanya juga bukan hal baik. Maka dari itu dia berusaha menyibukkan perkerjaannya.
"Baeby. Kau terihat rajin sekali sekarang" kata Lay sambil berkacak pinggang melihat Baekhyun mengepel lantai meja Bar.
"Kenapa hyung? Memang biasanya aku tidak rajin?" sindir Baekhyun dan Lay tergelak.
"Anii! Kau adalah anak baik. Madam beruntung punya anak manis sepertimu Baek"
"Hyung aku tidak manis!" dan terjadi perdebatan kecil seperti biasa.
Jarum jam terus berputar seiring dengan pelanggan yang semakin berdatangan. Wajar saja. Sekarang malam minggu dan suasana Bar semakin meriah dengan DJ yang tidak henti-hentinya memutar musik ber-beat membuat riuh lautan manusia di lantai dansa.
"Silahkan. Mau pesan apa, Tuan?" ucap Baekhyun ramah pada pria berusia sekitar empat puluh tahun lebih di hadapannya.
"Hey. Kau manis sekali. Apa kau gay?" tanya si pria tua tidak tahu malu.
Baekhyun mengangkat sebelah alisnya. "Maaf Tuan?"
"Ku tanya apa kau gay? Kau mau menghabiskan one night stand bersamaku? Kau terlihat manis untuk ukuran pria muda"
'What the….?'
Baekhyun sebenarnya sudah terbiasa dengan pelanggan yang suka berbicara ngaco ketika sudah mabuk, depresi berat, atau bahkan semesum pria di depannya. Tapi Baekhyun berusaha bersikap sopan jika masih di batas aman. Selama dia berdiri di balik meja Bar ini dia masih terlindungi. Begitulah prinsipnya selama bekerja di klub ibunya.
"Maaf Tuan. Aku tidak menjual diriku" sinis Baekhyun. Tapi pria tua itu tidak menyerah.
"Yang benar saja! Ayolah… Kau manis sekali! Akan kuberikan bayaran mahal!" sahutnya karena suara musik semakin kencang. Baekhyun bergidik ketika pria itu berdiri mencoba menggapai Baekhyun lewat meja Bar.
"Hentikan! Atau kupanggil polisi!"
"Untuk apa? Karena berusaha menggodamu? Hah, yang benar saja! Kalau tahu begitu kenapa kau malah bekerja disini!?"
"Tapi aku bukan pelacur murahan seperti yang kau kira Tuan!"
"Dasar banyak omong! Sudah ikutlah denganku!" bentaknya. Sepertinya pria ini benar-benar mabuk. Tangannya menggapai-gapai tubuh Baekhyun yang semakin menghimpit kebotol-botol di belakangnya.
GREB!
"Maaf. Ada perlu apa dengan dia?"ketus pemuda dengan jaket kulit berwarna hitam sambil memegang kerah belakang pria tua itu. Pria itu hanya mendecih dengan muka memerah. Lalu ambruk ketika Chanyeol menonjok pipinya.
"Dasar bodoh"
"Sedang apa kau disini?" ucapan ketus kali ini keluar dari bibir Baekhyun.
Chanyeol berjalan memutar kearah Baekhyun. Sedangkan Baekhyun memberikan gerakan waspada dengan cara mundur berkali-kali. Tidak lama kemudian Lay keluar dari toilet.
"Loh, Baeby kenapa di situ?" tanya Lay pada Baekhyun yang sudah berdiri di sudut meja Bar. Lalu Chanyeol datang dan hal itu menjelaskan semuanya.
"Hyung. Aku pinjam 'Baeby' dulu sebentar" ujar Chanyeol dengan senyum dan penekanan pada kata Baeby.
"YAK! MANIAK TINJU LEPASKAN TANGANKU!" jerit Baekhyun tapi di hiraukan oleh Chanyeol yang terus menyeretnya keluar meja Bar.
"Ckckck.. Ada-ada saja anak jaman sekarang" ujar Lay heran.
.
.
.
BRAK!
"Lepassss!"
"Tidak!"
"Lepaskan aku! Atau aku akan berteriak!"
"Silahkan saja kalau menurutmu mereka akan menoleh pada kita" desis Chanyeol di depan wajah Baekhyun yang sudah memerah menahan amarah dan (ehem) tentu saja detakan jantungnya. Karena Park Chanyeol telah menyudutkan tubuhnya di lorong klub.
"Chanyeol hentikan… kenapa kau selalu begini? Lepaskan aku Yeol…" lirih Baekhyun dengan wajah memerah. Hasrat Chanyeol malah semakin naik untuk segera memangsa Baekhyun. Tapi dia sadar kalau namja mungil ini pasti akan langsung mengamuk dan Chanyeol bukan siapa-siapa Baekhyun.
"Aku hanya ingin bertanya"
"Tapi tidak dengan kondisi menghimpit seperti ini"
"Kau hanya beralasan agar bisa kabur dariku lagi bukankah begitu hem?"
Baekhyun skak mat. Akhirnya dia menghela nafas dan pasrah. Kepalanya menunduk lalu terangkat dengan wajah malas. Berkebalikan dengan suara gemuruh jantungnya.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak ada yang berubah. Hanya itu" ucap Chanyeol dan mengarahkan pandangannya pada leher Baekhyun.
Namja itu hanya terkekeh miris. Chanyeol benar-benar melupakan perbuatan bejatnya. Apa dia begitu bodoh tidak ingat kalau itu hasil karyanya sendiri?
"Jawab aku Baek.." pinta Chanyeol sedikit lembut.
Baekhyun terdiam. Memandang Chanyeol tidak yakin. Hatinya terasa nyeri. Memang apa yang akan dilakukan Chanyeol jika dia tahu kebenarannya? Menghabisinya lagi? Atau bahkan melecehkannya lagi? Sekarang Baekhyun hanya bisa berpikir buruk pada Chanyeol meski dadanya sendiri merasa sesak entah karena apa.
"Baek. Jangan menangis" pinta Chanyeol ketika melihat Baekhyun menangis kembali.
"Aku lelah.. Sudahlah Yeol. Terserah kau mau menghabisi aku atau apa.. Aku tidak peduli lagi. Kumohon lepaskan aku. Aku minta maaf waktu itu menyirammu sungguh.. Sekarang lepaskan aku.." penuturan Baekhyun membuat Chanyeol heran.
"Kenapa kau malah mengatakan hal itu? Aku hanya ingin tahu kissmark itu dari siapa? Apa benar Oh Sehun yang melakukannya?"
Baekhyun menggeleng lemah. "Kau tidak ingat?" alis Chanyeol berkerut mendengar ucapan pemuda yang lebih pendek darinya.
"Ingat apa?"
"Sudahlah.. lepas!" pekik Baekhyun lagi.
"Jawab pertanyaanku dulu Baek!"
"Tidak!"
"Byun Baekhyun!"
"Yak! Park Chanyeol kenapa kau begitu bodoh?! Ini semua perbuatanmu saat kau demam! Apa kau puas sekarang?!" jerit Baekhyun kalap dengan air mata berurai.
Mata Chanyeol membulat. Sedangkan Baekhyun sudah menutup kedua matanya. Bersiap menerima pukulan atau bahkan tamparan Chanyeol karena telah mengatakan hal yang tidak-tidak dengan menuduh Chanyeol atau semacamnya. Tapi demi Tuhan! Chanyeol kau lah pelakunya.
"Jadi.. Kau berbohong soal Sehun sebagai pacarmu?" tanya Chanyeol lagi.
Baekhyun hanya diam dalam isakkannya. Sudah jelas jawabannya adalah iya. Apa lagi yang kau harapkan Park Chanyeol?
Chanyeol menarik paksa tangan Baekhyun yang menutupi wajahnya. Dengan gerakan cepat ketika wajah basah Baekhyun terlihat pemuda jangkung itu memiringkan kepalanya dan mencium bibir Baekhyun untuk kesekian kalinya.
Baekhyun yang kaget mulai memberontak. Tapi usahanya nihil. Entah kenapa Chanyeol sangat kuat saat ini. Bibir Chanyeol terus melumat bibir Baekhyun tanpa ampun. Menimbulkan efek yang cukup menyakitkan ketika kepala Baekhyun membentur dinding dibelakangnya.
"Yeol… emmhh" belum sempat Baekhyun berucap lagi bibir Chanyeol sudah kembali melumat bibir Baekhyun dalam pagutan yang cukup panas.
Chanyeol terus memiringkan kepalanya kekanan dan kekiri mencari posisi nyaman karena rasa dari bibir mungil Baekhyun begitu manis dan memabukkan. Belum lagi hatinya terasa sangat lepas ketika dia tahu bahwa kissmark itu adalah hasilnya. Berarti Baekhyun sudah menjadi miliknya secara tidak langsung.
Baekhyun terbuai dalam ciuman Chanyeol. Tangannya perlahan melingkar di leher Chanyeol. Menekan kepala belakang pemuda itu sambil sesekali menyisir surai coklat gelap itu dengan gerakan lambat. Entah kenapa Baekhyun rasa ini salah. Tapi dia tidak bisa berhenti seperti halnya Chanyeol. Mereka sudah masuk terlalu jauh dalam dunia mereka sendiri.
Kepala Baekhyun terasa penuh dengan Chanyeol ketika pemuda menghisap lembut bibir bawahnya. Mereka saling menghisap perpotongan mulut masing-masing dan menimbulkan efek getaran hati yang cukup besar. Suasana menjadi sangat panas dan Baekhyun mulai kehabisan oksigen. Maka dia mendorong pelan dada Chanyeol dengan satu tangannya.
"Hahh… hahh.. Apa yang kauhh.. laku…khan… Park Babo…hh" desah Baekhyun ketika ciuman mereka terlepas dan kening mereka bertemu.
Chanyeol membuka sedikit matanya sementara mata Baekhyun tetap terpejam. Merasakan sensasi yang baru pertama kali dia alami ketika berciuman seperti ini. Apalagi dengan orang yang sudah merusak otak dan hatinya sehingga tidak bisa berfikir dengan jernih.
Chanyeol tersenyum tampan tanpa melepaskan kening mereka. Hidung Chanyeol kembali bergesekan dengan hidung bangir Baekhyun sehingga nafas mereka bisa terasa begitu dekat dan hangat.
"Kurasa aku menyukai panggilan baruku darimu, Baek" bisik Chanyeol didepan bibir Baekhyun. Sekali lagi, belum sempat Baekhyun bertanya apa maksud dari perkataan Chanyeol. Bibir Baekhyun kembali di lumat dengan gerakan cepat.
"Emhh…" erang Baekhyun nikmat. Perasaannya melambung jauh hanya dengan ciuman Chanyeol yang terkesan lambat dan menggairahkan.
Chanyeol berusaha memasukkan lidahnya. Namun Baekhyun tidak kunjung membuka mulutnya. Akhirnya bibir manis itu dia gigit perlahan.
"Ahh….." tanpa perlu pikir dua kali lidah Chanyeol masuk kedalam gua hangat Baekhyun. Mereka saling memagut lidah. Berperang merasakan hangatnya daging tidak bertulang. Hal yang sangat asing bagi Baekhyun sebab dirinya pertama kali berciuman sampai seperti ini.
Tangan nakal Chanyeol perlahan turun ke bawah. Tubuh Baekhyun gemetar merasakan sentuhan sensual Chanyeol. Jemari itu berhenti tepat di junior Baekhyun. Chanyeol mengelus milik Baekhyun membuat Baekhyun melepas ciumannya dan berteriak kaget.
"Yak! Yeol… Ahhh…. Eughh…. Stophh it…" erang Baekhyun yang malah menarik kepala Chanyeol mendekat pada lehernya. Pemuda mungil itu terkejut dengan perlakuan Chanyeol yang tiba-tiba. Baekhyun belum pernah merasakan juniornya di sentuh oleh siapapun dan ini adalah hal baru lagi untuknya.
Chanyeol menghisap leher mulus Baekhyun. Sementara pemiliknya mengerang nikmat mendorong kepala Chanyeol lebih dalam pada setiap sentuhan di tubuh mungil itu.
Satu tanda tercetak dengan bunyi decakan bibir ketika Chanyeol melepaskan kulumannya di leher Baekhyun. Tidak lupa namja jangkung itu menjilat lembut bercak merah itu.
Chanyeol mengangkat wajahnya. Matanya bertemu mata sayu Baekhyun yang sudah sangat menaikkan libidonya. Baekhyun menutup mata. Menggelengkan kepala dengan nafas terengah.
"Yeol…." Desisnya.
Tuhan.. Wajah kesusahan Baekhyun sangatlah menggoda pria jangkung di hadapannya.
'Kau sangat cantik…seperti malaikat'
"Aku… menyukaimu Baek…" ucap si pemilik suara berat sambil menatap dalam satu sama lain. Baekhyun sedikit melebarkan matanya tidak percaya dengan ucapan Chanyeol.
Tapi tidak butuh waktu lama sampai akhirnya mata itu kembali terpejam ketika Chanyeol mulai mendekatkan wajahnya lagi. Dan bibir mereka kembali bertemu dalam lumatan sederhana. Pelan dan lembut. Tidak terburu-buru seperti tadi.
"Chanyeol?" satu suara familiar membuat kedua namja itu menoleh pada seseorang yang memanggil Ketua penguasa sekolah.
"Baek..hyun?" namja manis di depannya melongo tidak percaya oleh pria yang di rengkuh Chanyeol.
"Kalian—?!"
"KAI/LUHAN!" pekik Chanyeol dan Baekhyun memanggil dua orang yang berbeda dalam satu sahutan yang sama.
.
.
.
.
.
TBC
Kepanjangan yah? ._.
Hyaaa adegan poppo macam apa itu?!
Sebenarnya sehyun mau bikin NC tapi bentar lagi puasa *terdengar suara galau (yahhhhh)
Ya oloh byuntae abis emang sehyun! Gpp lah kan udah 18 tahun ini kekeke *mencari alasan~ Jadi NC-nya kita lihat saja nanti ada atau nggak hehe. Oya! Sekalian kalo mau ff nc smutt kaisoo mampir aja ke = myeoni1120 *promosi
Untuk yang chap kemaren..
Sehyun berterima kasih banget! Para readers yang nyemangatin sehyun, menyadarkan sehyun, terus nungguin ff abal-abal ini, suka ff amatiran ini.. Pokoknya kalian THE BEST the bagi sehyun ^_^
Berkat saranghae readres, sahabat sehyun, myeoni, temen-temen se-author, eonni readers, chingu twitter, eomma yang suka kasih saran dan nguatin sehyun karena abang baek dating. Sehyun kasih BIG HUG + KISSEU buat kalian semua XOXO :*({})
Maaf mungkin sehyun belum bisa ngasih ff yang terbaik. Tapi sehyun akan berusaha keras! Tanpa kalian sehyun gak bakal bisa ngelanjutin uri BadBoy BaekYeol ini *hiks
Sebelum puasa biar apdol sehyun juga minta maaf yah kalo sehyun kadang nyebelin terlalu menistakan Sehuniee uri maknae kita yang menyebalkan makin hari makin tinggi + ganteng abiss. Terus bikin readers ga puas sama baekyeol momen. Mengecewakan kalian juga..
Terus maaf juga bagi penggemar BAP daehyun sama youngjaenya sehyun nistain T_T Abis sehyun bingung mesti pake siapa.. Mianhaeee TT_TT
Readers jangan sedih lagi yah. Sehyun juga ikutan sedih :(
Sehyun minta maaf kemaren ngomong yang nggak-nggak.. Kalau kalian mau curhat di kotak review about exo or anything gpp kok. PM sehyun juga gpp. Kita saling menguatkan sesama shipper dan exo fans! *peluk BaekYeol
Terima kasih buat juga buat yang udah nyempetin reviews. Sampai bikin akun cuma buat reviews ff sehyun. Sehyun doakan semoga kalian sehat sukses puasanya lancar (bagi yg berpuasa) dan bisa ketemu uri EXO someday haha YEHET!
SARANGHAEYO! 3 3 3
