Previously

"Kalian?!"
"KAI/LUHAN!" pekik Chanyeol dan Baekhyun memanggil dua orang yang berbeda dalam satu sahutan yang sama.


Play BGM :

Akdong Musician - Give Love

We Are One
.

.

.

.

-Enjoy-

.

.

.


"Aku tidak menyangka ternyata akan seperti ini" ujar Kai menggelengkan kepalanya sambil duduk bersedekap.

"Kai, ini bukan hal buruk. Iya kan Kris?" tanya Luhan memiringkan kepalanya imut menatap pemuda cool yang berdiri di sampingnya.

"Aku tidak msalah. Hanya saja dia pasti sangat kesal karena terganggu" Kris tersenyum miring bersandar di sofa yang di duduki Luhan dengan gaya sama seperti Kai.

"ARRGGGHHH! KENAPA HAL INI TERJADI LAGI?! APA KALIAN SUDAH TIDAK NORMAL?!" tiba-tiba seruan nyalak Kim Jongdae membuat seluruh pria di rumah utama keluarga Park menoleh.

"Cih, itu hanya karena kau iri saja kan Chen?" cibir Kai. Jongdae atau Chen melotot horror pada Kai. Lalu menghembuskan nafas dengan tawa di buat-buat.

"Yang benar saja! Aku tidak gay!"

"Lalu masalahmu apa?" sinis Kai.

"Hah! Sudah kuduga kau juga ternyata sejenis seperti mereka Kai. Kalau begitu, selama ini kenapa kau malah bermain-main dengan gadis malam seperti yang kulakukan?"

"Ya! Itu hak-ku! Kau pikir kehidupan ini kau yang mengatur?! Memang kau Tuhan ha?!"

"Cih, tentu saja mengelak adalah hal terbaik Kim Jongin. Akui saja kau mulai tertarik dengan mantannya Chanyeol! Iya kan?" ejek Chen ikut bersedekap dengan tatapan sengit.

Kai hanya terdiam menatap Chen tajam. Emosinya tersulut dengan cepat. Padahal Kai bukan tipe temperamental meski dia juga suka berantem layaknya berandalan labil seperti Chanyeol.

"Kau.. Tutup mulutmu Kim Jongdae!"

"Ya! Kenapa kalian malah bertengkar?" sahut Luhan yang membuat perang dingin itu terendam.

"Chen, jangan berkata seperti itu. Lagipula yang punya perasaan bukan kau melainkan Kai" papar Luhan dan di jawab dengan dengusan dari si pemuda berpipi tirus. Sedangkan Kai melotot tidak percaya pada ucapan Luhan.

"Yak Lu! Aku tidak menyukai mantan Chan—"

"Jadi? Apa kau sudah bercinta dengannya Yeol?" potong Chen tidak tahu malu. Entah kenapa pria ini sangat mudah berubah mood dan topik.

Chanyeol terduduk di salah satu sofa besar bagaikan raja yang memiliki singgasana. Dia hanya memejamkan mata dengan kepala bersandar lelah. Sebenarnya Chanyeol ingin mengumpat habis-habisan Luhan dan Kai yang datang merusak acaranya ehem-nya dengan Baekhyun. Padahal suasana sudah sangat mendukung untuk ketahap selanjutnya meski terkesan terburu-buru.

Mereka tidak tahu saja kalau amarah Tuan Park sedang di ubun-ubun saat ini. Tentu saja!

Ketika Luhan di beritahu Kai bahwa Chanyeol pergi ke klub lagi. Mau tidak mau Kai di paksa oleh Luhan untuk ikut menjemput Chanyeol karena akan ada pertemuan keluarga. Tapi setelah sampai di sana mereka berdua malah menemukan Chanyeol sedang berciuman panas dengan pemuda mungil yang Luhan baru tahu kalau itu adalah Baekhyun!

Sungguh kabar ini sangat mengejutkan untuk para penguasa sekolah yang sedang berkumpul menggantikan acara pertemuan keluarga besar Park. Namun senyuman manis tidak pernah hilang dari wajah imut Luhan. Sebenarnya Luhan senang Chanyeol sudah mau membuka hatinya pada orang lain. Pantas saja akhir-akhir ini Chanyeol berubah sedikit demi sedikit.

"Maaf kami mengganggumu tadi.." sesal Luhan dengan senyuman termanis di sofa depan Chanyeol.
Sementara tidak ada jawaban dari Tuan Park yang terus memijat pelipisnya. Frustasi karena tadi libidonya sudah hampir diambang batas dan diberhentikan dengan tidak memuaskan menurutnya.


-BaekYeol Area-

Give love, give me some love

Give love, there's not enough love

I give the love that grows every day to him

But he doesn't accept

[sehyun change the lyric little (her to him/she to he) bit kekeke~]

.

.

.

.

.

Cuaca pagi ini terlihat lebih cerah dari biasanya. Pemuda bersurai krem baru saja melangkahkan kakinya turun dari bus. Tidak berapa lama tangannya di rangkul manis oleh seseorang di sampingnya.

"Pagiii Baekhyuniiee!" Baekhyun tersenyum mengeratkan rangkulan namja di sebelahnya.

"Pagii Kyungiiee!" sapanya ceria.

"Seperti biasa kau selalu datang pagi"!

"Kau juga, Baek!"

"Tunggu! Kenapa kau malah di turunkan disini? Bukan di depan sekolah saja?"

"Ah, tadi kusuruh supirku menurunkanku segera. Aku ingin berjalan sebentar bersamamu, Baek" ucap Kyungsoo sambil tersenyum.

Baekhyun terkekeh. Lalu mengangguk. Baekhyun memang setiap harinya harus naik angkutan umum tidak seperti Kyungsoo yang selalu diantar supir pribadinya. Ingat Baekhyun hanya anak sederhana yang bersekolah di tempat sangat elit dengan modal beasiswanya.

"KYAAAA OPPAAAA!" alaram pagi SM SHS mulai terdengar di halaman sekolah.

Para yeoja itu berjerit-jerit kesetanan ketika para penguasa sekolah telah sampai tempat parkir. Satu persatu dari mereka keluar dari kedua mobil sport. Yang tidak lain adalah satu milik Chanyeol bersama Luhan. Lalu satu lagi milik Kris dengan penumpang dadakan Kai dan Chen.

Mata tajam Chanyeol menangkap sosok si surai krem berbadan pendek di kerumunan para kaum hawa. Jantungnya berdebar ketika menatap Baekhyun. Sekilas pandangan mata mereka bertemu.

Tapi karena belum terlalu ramai Baekhyun menghiraukan pandangan cinta Chanyeol dan terus berjalan cuek. Masuk kedalam gedung utama bersama Kyungsoo di sebelahnya.

Chanyeol sempat menggeram heran. Kenapa Baekhyun terkesan dingin sekali padanya? Padahal tadi malam... Tadi malam mereka sudah saling memagut bibir satu sama lain dengan perasaan lepas dan penuh nafsu.
Oh! Bahkan Tuan Park yang terkenal paling ganas di SM SHS telah menyatakan perasaannya pada Byun Baekhyun si namja underdog sekolah! Apakah sekarang malah sebaliknya Baekhyun yang tidak sadar dengan ungkapan cinta Chanyeol?

Chanyeol hendak berjalan menghampiri Baekhyun yang sudah masuk dari tadi saat dia melamun. Tapi lengannya tertahan dengan oleh namja di belakangnya. Matanya menatap kesal si namja yang sudah dua kali merusak kesempatan mesranya bersama Baekhyun.

"Kenapa? Ada apa lagi?" sungutnya.

"Demi Tuhan, Yeol! Aku tahu kau ingin menemui si kecil itu. Tapi kali ini kalau kau kabur lagi aku benar-benar akan membunuhmu. Sebaiknya kita segera ke kelas dan mengerjakan laporan kelompok kita. Aku tidak mau menerima tambahan tugas sampah oleh si Choi Seonsangnim lagi!" umpat Kai panjang lebar.

Chanyeol mendengus. Sepertinya kegiatan untuk melepas rindunya. Menemui Baekhyun harus di tunda dulu untuk sementara.

Ya ampun Yeol Tingkahmu seperti Baekhyun sudah menerimamu saja menjadi namjachingu-nya. Baekhyun belum mengatakan apa-apa kan?

.

.

.

Sejak pagi entah kenapa para penguasa sekolah yang lain di kejutkan oleh sikap kurang waras Park Chanyeol. Hanya dengan di iming-imingi alasan bertemu Baekhyun setelah menyelesaikan laporan laknat itu Chanyeol nyatanya benar-benar serius mengerjakan tugasnya!

Ini sangat langka bagi Park Chanyeol yang tidak pernah mau mengerjakan tugas apapun. Atau bahkan sekedar duduk serius untuk suatu mata pelajaran. Tapi demi bertemu Baekhyun-nya rasa malas itu menguap entah kemana.

Pria jangkung ini bukan orang yang sabar menunggu. Waktu serasa habis terbunuh mengikuti pelajaran matematika Kim Seonsangnim. Chanyeol berdecak gusar. Matematika membuat otaknya sakit. Belum lagi dia sangat rindu ingin bertemu Baekhyun.

Jarum jam menunjuk kearah sembilan lewat sepuluh. Baru satu jam lebih dia masuk kelas dan ini pun pelajaran pertama. Chanyeol sudah kembali uring-uringan. Ingat! Chanyeol bukan orang yang suka di mengikuti peraturan.

Akhirnya badan pemuda itu berdiri dari kursinya. Kepalanya menunduk dengan aura menyeramkan yang menyeruak keluar di setiap sisi tubuhnya. Membuat semua siswa terdiam kaku menatap Ketua penguasa sekolah. Luhan yang duduk di meja samping Chanyeol saja bingung dengan sikap sepupunya.

"Ada apa Tuan Park?" tanya Kim Seonsangnim heran.

Chanyeol menggelengkan kepalanya.

"Seonsangnim. Kepalaku pusing. Aku ingin ke-UKS sekarang" dustanya acuh sambil berjalan santai melewati Kim Seonsangnim yang terdiam tanpa bisa berbuat apapun untuk menghalau Chanyeol.

Luhan hendak berdiri mencegah Chanyeol membolos. Tapi Kris di sebelahnya menahan Luhan.

"Biarkan dia bertemu Baekhyun. Sudah bagus tadi dia mau belajar meski hanya sejam. Itu salah satu perubahan besar untuk Chanyeol" papar Kris menatap pintu yang tertutup oleh Chanyeol.

Luhan mengangguk. Dalam hatinya dia sangat bersyukur Baekhyun sudah masuk kedalam kehidupan Chanyeol. Bahkan hatinya..

.

.

.

BRAK!

Suasana kelas hening mencekam. Sosok tinggi itu berdiri angkuh dengan ekspresi datar menatap semua murid satu persatu. Sang guru lanjut usia yang sedang menjelaskan pun terdiam tidak berani memarahinya. Guru tua itu hanya bertanya apa yang si pria lakukan disini saat jam pelajaran?

Badannya membungkuk tidak niat. Lalu kaki jenjangnya berjalan menghampiri seseorang yang masih sibuk dengan soal yang baru saja di bahas. Sehun yang duduk disebelahnya hanya terdiam kaku tidak mau buka mulut karena terlalu kaget. Tanpa sadar tangan si mungil tertarik dan kepalanya mendongak.

"Eh, apa yang—Hyaa! Park Chanyeol mau apa kau?!" sahut Baekhyun kaget tiba-tiba di paksa berdiri oleh pria jangkung di hadapannya.

"Yakk! Chanyeol! Lepaskan aku! Kau tidak lihat kami sedang belajar?" bisik Baekhyun cukup keras. Namun Chanyeol tidak mengindahkan perkataannya dan terus menarik Baekhyun keluar dengan ekspresi datar tanpa meminta izin pada guru yang mengajar.

"Lee Seonsangnim! Kumohon tolong akuuu! KYAAAA!" jerit Baekhyun sampai akhirnya kedua makhluk itu tidak terlihat lagi ketika pintu di tutup. Menyisakan lengkingan memekik Byun Baekhyun yang masih memohon minta tolong menggema di lorong kelas.

"Baiklah sekarang kita lanjutkan. Tadi sampai mana kita?" tanya Lee Seonsangnim membetulkan letak kacatama tuanya. Bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa ketika muridnya hilang satu di ambil oleh si Ketua penguasa sekolah.

.

.

.

.

"Chanyeol-ah! Kau benar-benar keterlaluan! Kita mau kemana? Hey ini masih jam pelajaran! Turunkan aku!" suara nyaring terus terdengar di dalam mobil sport Chanyeol.

Pemuda itu tetap diam. Pandangannya terfokus pada jalanan di depannya. Dia tetap membiarkan si mulut cerewet mengoceh tidak jelas di selingi umpatan-umpatan yang sudah biasa akhinya bagi Chanyeol sendiri.

"Hahhhhhh…." desahan panjang itu menandakan Baekhyun menyerah.

Chanyeol tersenyum miring. Wajahnya sangat tampan dengan gaya rambut tanpa poni yang mengekspos dahi seksinya. Jemari panjangnya mengetuk-ngetuk stir mobil sambil menimang-nimang tempat apa yang seharusnya mereka datangi.

"Sudah selesai?" godanya pada Baekhyun yang jengkel setengah mati.

"Ternyata kau cepat sekali menyerah" cibirnya merasa menang. Baekhyun menghembuskan nafas kasar. Melipat tangannya di depan dada. Tidak ada gunanya berteriak lagi sampai pita suaranya putus. Park Chanyeol tidak akan melepaskannya dengan mudah.

"Kita akan ke Lotte Park" ucapnya. Sukses membuat mata Baekhyun membulat dengan mulut terbuka.

Hampir sejam mereka terus berdebat. Chanyeol yang pusing akhinya mengalah. Dia memberhentikan mesin mobil di pinggir jalanan yang cukup ramai. Baekhyun segera mencabut seatbelt-nya. Membuka pintu dan berjalan cepat menjauhi mobil Chanyeol.

"Baekhyun-ah" tangan si kecil ini tertangkap kembali oleh Chanyeol.

Pundaknya di balik dengan sedikit paksaan. Menampakkan raut malas seorang Byun Baekhyun pada pria di hadapannya.

"Oke kita tidak ke Lotte Park. Sekarang terserah kau mau pergi kemana aku yang akan mengemudi" ujar Chanyeol dan Baekhyun terdiam.

"Sekolah" sudah pasti jawaban itu yang akan keluar dari si murid ber-beasiswa.

Chanyeol menggeleng. "Big NO! Dengar. Aku sudah bosan dengan pelajaran konyol tidak bermutu. Sekarang aku ingin mengajakmu pergi. Jadi sebutkan tempatnya dan aku yang akan mengemudi"

"Ayolah Yeol…. Kita harus sekolah" pinta Baekhyun dengan nada memelas. Tapi Chanyeol tetap menggeleng kuat.

"Aku tidak ingin sekolah"

"Tapi kita sudah kelas tiga Yeol! Seriuslah! Aku juga tidak bisa seenaknya membolos dengan beasiswa yang kudapatkan"

"Bukan masalah Baek. Ingat sekolah itu milikku. Terserah aku ingin melakukan apapun. Aku punya kuasa di sana dan beasiswamu tidak akan dicabut dengan semudah itu hanya kerena membolos sekali" papar Chanyeol berusaha meyakinkan Baekhyun.

Benar juga. Sekarang Baekhyun berstatus di sukai salah satu penguasa sekolah (ehem). Dan dia tidak perlu takut akan segala perasaan cemas yang mengusiknya. Namun bukan berarti Baekhyun bisa seenak jidatnya seperti Chanyeol. Baekhyun juga masih punya otak.

"Hari ini saja. Ayolah Baek.." pinta Chanyeol memegang tangan Baekhyun.

Namja mungil itu hanya bisa memberenggut kesal memajukkan bibirnya. Sebenarnya jantungnya sudah berdegup tidak karuan. Apalagi mengingat kejadian tolol kemarin. Kenapa dia bisa begitu terbuai dengan sentuhan tangan Chanyeol. Termasuk pada area Arrghh! Baekhyun bisa gila mengingatnya.

Jujur Chanyeol tidak kuat ingin segera mencium bibir merah muda itu dengan rakus melihat Baekhyun masih mem-poutkan bibirnya. Jika saja dia ingat bahwa ini di pinggir jalan dan suasana cukup ramai.

"Aku lapar" cicit Baekhyun merona dan mata Chanyeol melebar.

Demi Tuhan, Chanyeol ingin mencubit pipi Baekhyun sekarang! Tingkahnya sangat menggemaskan hanya menyebutkan kata lapar! Baekhyun seperti anak polos minta di belikan permen. Kenapa makhluk ini begitu manis?

"Lapar?" ulang Chanyeol menahan tawa.

Baekhyun mengangguk. Wajar saja pemuda ini mengatakan dia lapar. Sejak masuk mobil dia berkoar-koar tidak jelas dan pasti energi perutnya terkuras habis.

"Kajja. Kita makan di tempat yang ku kenal. Kau pasti suka" kekeh Chanyeol tanpa di ketahui Baekhyun. Mengandeng tangannya menuju mobilnya kembali.

.

.

.

.

"Chanyeol! Tempat ini mahal sekali babo! Kau salah pilih tempat. Ini bukan kantongnya anak sekolah menengah seperti kita" bisik Baekhyun di belakang Chanyeol ketika mereka memasuki sebuah restoran di daerah Cheondamdong. Dilihat dari tempatnya. Restoran ini sangat mewah dan berkelas. Pasti makanannya juga sangat mahal.

"Kau diam saja. Jangan berisik" ucap Chanyeol datar. Baekhyun balas mencibir tanpa suara menggerak-gerakkan mulutnya aneh. Tidak berapa lama pelayan sudah mengantarkan mereka pada kursi kosong.

Chanyeol terdiam. Sepertinya dia tidak suka dengan tempat yang di sediakan oleh di pelayan. Sedangkan Baekhyun terus mengekori gerak-gerik Chanyeol.

"Aku mau yang dekat dengan perapian. Bukankah menurutmu bagus?" ucapnya pada sang pelayan lalu bertanya pada Baekhyun.

"Kenapa disana?"

"Aku tahu cuaca sedang menipis dan aku tidak mau kau kedinginan" katanya tetap datar tapi sukses memberi efek semburat merah di pipi Baekhyun.

"Maaf Tuan. Tapi meja di sana sudah di pesan oleh seorang kolega yang hendak mengadakan rapat" jelas sang pelayan.

"Aku maunya disana. Apa tidak bisa di pindahkan kemeja ini?" Chanyeol menunjuk meja yang tadi disuguhkan. Pelayan itu terlihat ragu lalu menggeleng.

Salah besar. Tidak ada kata tidak untuk setiap permintaan Chanyeol. Namja keras kepala seperti dia tidak ada yang boleh menentangnya. Bahkan pelayan rendahan sekalipun. Semoga saja Chanyeol tidak mematahkan lehernya.

"Hahh.. Masa begitu saja tidak bisa?!"

"Tapi Tuan.. Kalau di pakai sekarang kami tidak akan bisa membuat kontrak kerja sama dengan kolega kami"

"Yeol.. Sudahlah. Kita pergi saja yuk. Lagipula kita bisa makan ditempat lain" lirih Baekhyun menarik lengan seragam Chanyeol yang sudah emosi dengan menambahkan kata 'tempat yang lebih murah tentunya' dalam hati.

"Aku tidak peduli"

"Sebaiknya anda pakai yang ini saja, Tuan. Kami akan memberikan pelayanan terbaik.." saran si pelayan takut-takut.

"Ya! Kau berani menentangku?!" bentak Chanyeol dengan tatapan tajam.

"Aku mau meja di dekat perapian sana! Apa sangat susah memenuhi perintah atasanmu sendiri? Kau mau dipecat hah?!" gertakan Chanyeol mengalihkan pengunjung di sana yang menoleh pada sumber keributan.

Baekhyun terkejut. Atasan? Jadi ini restoran Chanyeol? Baekhyun sempat terpesona menatap sekeliling interior restoran. Sungguh! Keluarga Chanyeol hebat sekali punya tempat semahal ini.

"Kau dipecat. Kerjaanmu tidak becus! Mana yang lebih penting? Kolega ayahku atau pekerjaanmu?" sinis Chanyeol. Pelayan itu hanya menunduk dalam tidak bisa menjawab dan Baekhyun merasa iba.

Baekhyun memutar otak. Lalu.. "Yak! Park Chanyeol! Tidak bisakah kau tidak menindas orang barang sehari saja? Aku tidak suka di dekat perapian. Lebih baik di dekat jendela ini bisa lihat pemandangan. Lihat! Jalanannya masih ramai Yeol!" sahut Baekhyun girang layak bocah sekolah dasar.

Chanyeol mendesah. Dia tahu Baekhyun sedang mengalihkan perhatiannya. Melihat namja mungil itu pura-pura antusias dengan meja yang di sugukan mau tidak mau Chanyeol terpaksa memilih meja ini untuk Baekhyun.

"Pergilah! Bawakan menu untuk kami!" titahnya angkuh. Pelayan itu mengangguk patuh.

"Tunggu!" cegah Baekhyun dan pelayan itu berhenti berjalan.

"Yeol. Tarik ucapanmu kembali dan minta maaf padanya!" tegas Baekhyun. Sekarang malah gantian Chanyeol yang di perintah. Mata Chanyeol melotot kesal.

Tidak ada yang berani memerintah Chanyeol. Dan Tuan Park tentu tidak akan mau memenuhi ucapan Baekhyun. Memang siapa dirinya berhak menyuruh Park Chanyeol?

Namun Baekhyun terus menunggu. Menunjuk pria bersurai coklat gelap sambil mengangkat kedua alisnya. Memaksa si pria jangkung untuk minta maaf meski dia tidak suka. Sebut saja Chanyeol bodoh. Tapi pesona Baekhyun meluluhkan semua syaraf kaku dirinya.

"Hahhh... Sial. Kau tidak akan kupecat!" acuh Chanyeol kesal.

"Lalu?" Baekhyun masih menunggu satu kalimat dari Chanyeol untuk pelayan yang telah dia maki-maki tadi.

"Aku... Ah, sial Baek apa aku harus mengatakannya?! Kau pasti bercanda!" bentak Chanyeol frustasi.

Baekhyun mengangguk sambil tersenyum manis. Chanyeol sungguh tidak kuasa dengan senyuman Baekhyun. Sekali lagi otaknya melemah. Benar-benar bodoh kau Yeol..

"Baiklah aku minta maaf! Puas?" ketusnya menahan amarah. Baekhyun tersenyum lalu membungkuk pada si pelayan yang balas membungkuk lebih dalam.

"Lega kan? Tidak ada salahnya meminta maaf pada seseorang Yeol. Berhentilah bersikap egois" papar Baekhyun lalu duduk manis di kursi yang telah di geser oleh Chanyeol.

'Aku egois demi dirimu babo!' rutuk Chanyeol dengan jantung yang berpacu cepat hampir ovedosis melihat senyuman manis Baekhyun.
.

.

.

.

Chanyeol membenamkan wajahnya dalam, pada meja kayu. Kepalanya berputar mengingat kesalahannya hari ini.. Oh, apa perlu di ingatkan semua kesalahanmu Yeol? Sudah pasti tidak akan terhitung mengingat kau memang si pembuat onar.

"Jangan tidur" perkataan tegas itu tidak menggubrisnya.

Kepalanya sama sekali tidak ingin terangkat. Dia lelah merendam marah. Chanyeol bukan tipe orang yang benar-benar suka di atur. Tapi demi si pendek ini. Sekali lagi! Demi si pendek ini, syaraf otaknya selalu melemah menuruti kemauan Baekhyun.

Satu kata untukmu, Yeol. Bodoh!

Niat Chanyeol ingin pergi ke Lotte Park tadi sudah sirna karena rengekan bising Baekhyun. Lalu si kecil ini minta makan tanpa ada acara romantis layaknya sepasang kekasih. Hey, memang kalian sudah resmi terikat? Baekhyun masih belum berkata apa-apa bukan?

Kemudian sekarang? Tebaklah Chanyeol berada dimana bersama namja mungil ini. Salah satu tempat paling tidak romantis dalam list kencannya seumur hidup.

Perpustakaan kota.

"Rrrgghhh" geraman tertahan itu menolehkan kepala Baekhyun. Tapi dia lebih tertarik pada buku penuh rumus matematika. Sedangkan buku di depan Chanyeol terbuka terabaikan.

"Yeol. Ini bukan tempat untuk tidur. Ayo belajar!" titah Baekhyun pelan. Karena ini perpustakaan. Tentu saja dilarang berteriak nyaring seperti kebiasaannya.

Chanyeol mengangkat wajahnya. "Demi Tuhan, Baek! Kenapa kita mesti kesini?! Kau tidak tahu aku sedang mengajakmu kencan? Apa kau pura-pura bodoh?!" bisik Chanyeol cukup keras.

Baekhyun terdiam mengatupkan bibirnya rapat memandang kearah lain. Sebenarnya Baekhyun tahu. Mengingat Chanyeol pasti akan menemuinya meminta jawaban atas ungkapan perasaannya semalam. Dan bersyukurlah Tuan Park masih belum membahas hal itu. Baginya bersama Baekhyun dan melakukan hal romantis lebih baik daripada terburu-buru mengetahui perasaan Baekhyun yang sudah jelas dirinya pasti juga menyukai Chanyeol. Menurut prinsip kepedean seorang Chanyeol.

"Atau memang ini caramu untuk menghindar?" tebak Chanyeol dan lagi-lagi Baekhyun skak mat.

Chanyeol tersenyum tampan dengan satu tangan menopang wajahnya. Memandang kesamping kanan pada Baekhyun yang sok fokus pada rumus laknat di hadapannya.

"Aku tahu kau tidak secepat itu melupakan kejadian semalam" suara berat itu mulai terdengar rendah. Uhh, Chanyeol sungguh hebat dalam memainkan debaran jantung Baekhyun yang meletup bak kembang api. Semburat merah sudah mendominasi wajah manisnya.

"Diam Yeol. Tidak boleh berisik disini" cuek Baekhyun pelan.

Chanyeol terkekeh kecil. Menggeser kursinya mendekat pada Baekhyun. Sedangkan Baekhyun memasang wajah 'mau apa kau mendekat padaku?' dengan waspada.

"Ternyata kau hebat juga dalam berciuman Baek" ucap Chanyeol tidak tahu malu. Dan..

BLUSHH!

Wajah Baekhyun memerah total. Chanyeol tertarik melihat reaksi Baekhyun semakin gencar untuk menjahilinya.
Mata tajamnya tidak berhenti menatap sosok yang terlampau manis melebihi yeoja sekalipun. Dia tidak peduli Chen mengatainya gay. Sebelumnya Chanyeol memang sudah pernah terikat dengan namja lain. Chanyeol ingin melupakan masa lalunya. Memulai kembali dengan si kecil bersurai krem ini.

Pria itu merubah posisinya. Mengambil buku matematika tadi lalu mengangkatnya menutupi wajah mereka. Baekhyun tidak sadar dengan pergerakan pemuda itu. Dia terlalu terlarut kedalam degupan jantungnya. Sebenarnya dia sudah tidak fokus sejak Chanyeol memandangnya penuh siratan cinta. Tapi Baekhyun berusaha menahan diri untuk tidak meneriaki Chanyeol. Supaya dia menjauh mengingat jarak mereka sekarang terbilang sangat tidak normal.

Baekhyun bergidik geli ketika merasakan hembusan nafas Chanyeol di telinganya. Bibirnya digigit sekeras mungkin agar tidak menjerit kaget. Entah sejak kapan tangan Chanyeol telah melingkar di pinggang kecilnya.

Mata Baekhyun menatap sekitar. Untung saja pengunjung perpustakaan ini tidak begitu memperhatikan tingkah bodoh Chanyeol. Setidaknya Baekhyun masih bisa bernafas lega. Hmm, kurasa itu salah besar..

Chanyeol benar-benar tidak tahu tempat untuk bermesraan! Mulutnya mulai menggoda kuping Baekhyun. Mengulumnya pelan, menjilatnya, bahkan menghembuskan nafas berat di sana. Baekhyun tidak tahan untuk semakin menutup rapat mata dan mulutnya. Jika saja buku matematika Chanyeol tidak menghalau mereka wajah apel busuk Baekhyun pasti sudah terlihat.

"Yeol…" panggil Baekhyun kepayahan. Si pemilik nama hanya bergumam merespon.

"Hentikan" bisik Baekhyun memohon frustasi.

"Hmm? Tidak" balas Chanyeol yang semakin merapatkan rengkunghannya pada pinggang Baekhyun.

Tanpa sadar tangan Baekhyun niatnya ingin menghentikan Chanyeol. Tapi pria kecil itu salah fokus dan tidak sengaja malah memegang paha Chanyeol. Hal itu membuat si pemuda jangkung menggeram tertahan.

Sial, libido Chanyeol bisa-bisa naik lagi di tempat publik seperti ini. Kalau di klub kemarin wajar saja. Banyak yang bercumbu jadi tidak masalah. Tapi sekarang?

"Baekhyun. Kau mencoba menggodaku?" bisik Chanyeol.

"Apa? Tentu saja tidak! Aishh.. hentikan tindakanmu sekarang juga Park Babo!" Baekhyun marah. Namun lebih terdengar seperti rengekkan bayi bagi pria itu. Chanyeol menarik sudut bibirnya atau lebih tepatnya menyeringai licik.

"Apa? Kenapa kau malah tersenyum? Kau menyeramkan!"

Chanyeol lagi-lagi tidak membiarkan Baekhyun tahu bahwa bibirnya merindukan bibir manis Baekhyun. Tangannya menarik tengkuk Baekhyun mendekat. Sehingga kedua belah bibir mereka kembali bertemu. Hanya menempel singkat sampai akhirnya Chanyeol melepaskan ciuman mereka dengan kening yang menempel.

"Sudah kubilang aku sangat menyukai panggilan baruku darimu pendek.. hhh" desahnya memandang Baekhyun lekat.

Pipi Baekhyun kembali merona. Jantungnya berdegup cepat menatap wajah Chanyeol yang tersenyum manis untuk pertama kalinya. Sungguh! Chanyeol sangat tampan jika tersenyum. Lebih baik begitu dari pada menatap tajam orang-orang dengan mata bulatnya.

"Baek" panggil Chanyeol.

"Hem?" Baekhyun tidak bisa bicara saking gugupnya.

"Jadilah kekasihku"

Permintaan tulus tersebut menggemuruhkan hati Baekhyun sampai melambung jauh. Mata pemuda mungil itu membulat. Hatinya sangat lepas entah kenapa. Bagaikan beribu kupu-kupu keluar dari sangkarnya. Bagian perut Baekhyun juga terasa dikocok asal. Merasakan sensasi aneh ketika Chanyeol mengucapkan kata yang bahkan tidak pernah Baekhyun pikirkan dibenaknya.

Baekhyun terdiam. Chanyeol mengangkat wajahnya sehingga kening mereka terlepas. Menatap keraguan di wajah Baekhyun. Ada apa? Bukankah Baekhyun pasti akan menjawab 'Ya' tanpa embel-embel konyol? Apa yang Baekhyun pikirkan?

"Aku—"

BIIIPPP!

Bunyi ponsel bergetar mengalihkan perhatian Baekhyun. Dia merogoh saku celananya sementara Chanyeol memutar bola matanya malas dengan erangan kesal. Kenapa orang senang sekali merusak suasana romantisnya sih?

"Yeoboseo. Oh, Sehunnie" ucap Baekhyun membuat Chanyeol melotot.

"Yak—" sahutan Chanyeol terhenti ketika tangan Baekhyun terangkat menyuruhnya diam

"Apa? Benarkah? Terima kasih, Hun. Iya aku akan segera pulang. Annyeong~" dan sambungan pun terputus.

"Ada apa dengan bocah kacamata itu?" ketus Chanyeol. Baekhyun mendengus mendengar ejekan Chanyeol pada sahabatnya.

"Sehun bilang dia baru saja menghantarkan tasku kerumah. Hahh.. Ini semua salahmu bodoh. Eommaku pasti akan marah besar begitu tahu aku membolos. Ck!" umpat Baekhyun.

Chanyeol melirik jam tangannya. Sudah pukul empat sore. Sepertinya mereka menghabiskan waktu begitu banyak di perpustakaan. Atau tadi saat makan siang dan sempat berputar-putar ingin ke Lotte Park? Ah, yang jelas Chanyeol gagal lagi mendengar jawaban perasaan Baekhyun. Dan Sehun sudah masuk kedaftar list orang-orang yang akan Chanyeol habisi setelah Luhan dan Kai.

.

.

.

"Baekkie-ya! Siapa suruh kau tasmu pulang diantar Sehun? Memangnya kau tidak belajar di sekolah? Apa yang kau lakukan seharian ini? Kemana saja kau Baby? Kau membolos?"

Pertanyaan beruntun Ibu Baekhyun membuat namja itu semakin merasa bersalah. Baekhyun tidak pernah membolos seumur hidupnya. Dia menyesal. Ini semua gara-gara Park Chanyeol! Omeli dia Baek!

"Maaf Nyonya Byun. Ini semua salahku. Aku yang mengajak Baekhyun keluar tanpa memberitahu Nyonya" ucap Chanyeol terkesan begitu sopan sambi membungkuk dalam.

Baekhyun melongo melihat perlakuan santun Tuan Park pada ibunya. Tunggu sebentar! Apa benar ini Park Chanyeol si tiang listrik penguasa sekolah pembantai manusia yang tidak punya etika dalam kehidupan sosialnya?

"Aku tidak pernah melihatmu. Kau teman Baekhyun?" tanya sang ibu melembut. Wajah tampan Chanyeol telah meluluhkan hati Ibu Baekhyun. Dimana anaknya mendapatkan namja tinggi setampan ini?

"Perkenalkan namaku Park Chanyeol. Emm.. Sebenarnya aku kekasih Baekhyun, Nyonya Byun" ujar Chanyeol tersenyum manis lalu menggenggam tangan Baekhyun di sampingnya.

'What the…..?'

"Omo Baby-yaa! Pria tampan ini pacarmu? Kenapa kau tidak bilang eomma sayang?" pekik Ibu Baekhyun histeris. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sifat ekspresif Ibu Baekhyun mirip seperti anaknya.

"Eomma! Dia bukan paca—"

"Ayo masuk kedalam Chanyeol-ah. Kebetulan ibu baru memasak sup ayam kesukaan Baekhyun. Kau pasti lapar kan?" ajak sang ibu ceria, menarik lengan Chanyeol sementara anaknya teridam melongo tidak percaya. Baekhyun ditinggalkan diluar. Satu kesimpulan. Ibunya telah berkhianat padanya.

"Jadi Chanyeol-ah kau cucu pemilik sekolah SM SHS?" tanya sang ibu setelah mendengar penjelasan Chanyeol mengenai dirinya.

Chanyeol hanya tersenyum sambil mengunyah masakan Nyonya Byun. Matanya sekilas melirik Baekhyun yang menatapnya sengit. Kasih sayang ibunya sempat teralihkan pada Chanyeol. Ohh.. Baekhyun seperti anak kecil yang manja..

"Baekki. Kau belum menghabiskan sup-mu. Mau tambah?" merasa diperhatikan kembali Baekhyun mengangguk cepat sambil tersenyum dengan pipi menggembung.

"Ini. Makan yang banyak yah sayang biar kau bisa tinggi seperti Chanyeol"

'What?!'

"Ya! Eomma! Kenapa malah berkata begi—"

"Chanyeol-ah. Kau sangat tampan. Orang tuamu pasti sangat bangga punya anak sepertimu. Sangat manly. Tidak seperti Baekhyun ini. Padahal dia namja. Tapi wajahnya sangat manis seperti yeoja. Apa eomma salah melahirkannya?" tutur Ibu Baekhyun memuji Chanyeol habis-habisan dan langsung dibalas dengan ambekan Baekhyun.

Chanyeol tersenyum kecil menatap Baekhyun yang sangat harmonis dengan ibunya. Pikirannya tiba-tiba melambung jauh. Kembali ke masa lalu yang tidak ingin dia ingat. Memori menyakitkan itu menyentak kepala dan turun kehatinya.

Sakit.

Rasa sakit ini kembali lagi.

Hatinya nyeri. Nafasnya sesak. Persendiannya terasa ngilu mengingat satu momen yang sangat dia rindukan. Sekujur tubuhnya bergetar kecil. Menyedihkan.. Hanya karena hal itu Chanyeol langsung lemah sepeti ini.
Ketahuilah bahwa hal ini bukan sesuatu yang main-main untuknya. Kehidupan Chanyeol tidak sesempurna yang Ibu Baekhyun katakan tadi. Dia sudah pernah mengalami masa sulit. Terutama ketika ditinggalkan seseorang yang dicintainya sampai rasanya ingin mati.

"Sudahlah eomma. Sepertinya sudah malam dan Chanyeol harus pulang" papar Baekhyun tidak lupa menambahkan dalam hati 'sebelum ibuku semakin membulatkan niatnya untuk menukar Chanyeol menjadi anaknya. Huh dasar! Aku juga bisa manly lihat saja nanti!'

Baiklah. Tetap bermimpi dalam gumaman-mu Baek -_-

Chanyeol dan Baekhyun melangkahkan kakinya keluar pagar rumah sederhana keluarga Byun. Sementara ibu Baekhyun belum terlihat. Sepertinya tadi dia kedalam untuk mengambil sesuatu.

"Jangan iri Baek" kekeh Chanyeol mengusak kepala Baekhyun gemas.

"Aku tidak iri! Jangan ambil perhatian ibuku tiang listrik"

"Ibumu saja bisa mengatakan bahwa aku lebih manly darimu. Kenapa kau tidak menyadarinya?"

"Ya! Park Chanyeol kenapa kau sangat menyebalkan? "

"Chanyeol-ah" satu panggilan membuat kedua remaja itu menoleh. Ibu Baekhyun berlari kecil kearah Chanyeol dengan sesuatu di tangannya.

"Ini. Pakailah. Udara semakin dingin tiap hari" ucap Ibu Baekhyun yang mengalungkan syal hangat pada Chanyeol. Mata Chanyeol membulat.

"Buatan Baby asal kau tahu hehe. Dia suka merajut dan tidak ada salahnya memberikan padamu karena kau sekarang resmi jadi anakku juga" celoteh Nyonya Byun yang semakin melantur.

Apa katanya tadi? Anaknya? Berarti Ibu Baekhyun merestui lebih dulu hubungan mereka bahkan sebelum Baekhyun mengatakan 'Ya' atas penyataan Chanyeol.

Chanyeol menoleh pada Baekhyun yang tersenyum tipis.

"Karena itu. Panggilah aku dengan sebutan eomma mulai sekarang. Jangan sungkan"

DEG!

Tubuh Chanyeol terdiam kaku. Hatinya mencelos akibat perbuatan terlampau lembut dari aura keibuan Nyonya Byun. Chanyeol merasa otaknya sakit. Jujur, dia tidak pernah mendengar kata itu lagi keluar dari bibir seseorang setelah sekian lama. Dan dia mengakui kalau dia merindukan hal itu sampai rasanya sangat sakit.

Pria jangkung itu tersenyum. Dadanya terasa hangat. Apalagi ketika Baekhyun menggenggam tangannya menyuruhnya untuk berjalan pulang. Chanyeol tersadar. Ternyata di dunia ini memang masih ada yang begitu memperhatikannya.

"Terima kasih, eomma. Aku pulang dulu" ucapnya pelan meninggalkan kediaman rumah Byun.

Mobil Chanyeol sengaja tidak terparkir di depan rumah Baekhyun. Ada portal besar yang tertutup menghalau sang mobil untuk masuk kedalam perumahan. Jadi mau tidak mau mereka harus berjalan sebentar menuju tempat mobil diparkirkan.

Hitung-hitung menghabiskan waktu bersama dengan Baekhyun. Tidak buruk juga mengingat tangan mereka bertautan sambil terus berjalan. Tapi suasana terlalu hening dan jarak menuju mobil masih lumayan jauh.

"Chanyeol-ah" panggil Baekhyun.

Chanyeol menoleh.

"Hem?"

"Kau kenapa?"

"Apanya?"

"Bukan 'apanya' kutanya kau kenapa?"

Chanyeol mengerutkan alisnya. Bingung. "Maksudmu?"

"Wajahmu tadi berubah" kata Baekhyun mendongak menatap mata Chanyeol.

"Tidak apa-apa"

"Bohong. Kau tidak pandai berbohong babo!" dan Chanyeol pun terkekeh.

"Kita baru dekat beberapa hari. Tapi kau berkata seolah sudah mengenalku lama? Jadi kau memang benar menyukaiku selama ini?"

"A—Aku tidak bicara begitu!"

"Lalu?"

"Aku hanya mengira… Jangan-jangan kau suka ibuku"

Loading...

.

.

.

"Bwahahahahaha!" gelak heboh itu terdengar menyeramkan. Tentu saja! Suara bariton itu tertawa seperti kesetanan tidak waras. Baekhyun bergidik ngeri dan melepaskan tautan tangan mereka ketika mobil Chanyeol sudah terlihat.

"Kenapa kau malah tertawa bodoh?!" sebetulnya ini langka. Karena baru kali ini Baekhyun melihat Chanyeol tertawa lepas dengan wajah bahagia.

"Aigoo. Kau lucu sekali—Ya! Kau mau kemana?" tubuh Chanyeol berputar ketika Baekhyun sudah berjalan berlawanan dengannya.

"Pulang tentu saja! Jangan keluyuran lagi babo! Sudah sana" usir Baekhyun dan hendak melangkah sebelum akhirnya Chanyeol mendekap erat tubuh mungil itu dari belakang.

"Chanyeol-ah! Cepatlah pulang. Udaranya dingin. Nanti kau sakit" titah Baekhyun namun Chanyeol hanya tersenyum mendengar Baekhyun secara tidak sadar mengkhawatirkannya.

"Baekhyun-ah" panggilnya. Baekhyun hanya bergumam.

"Gomawo"

Jantungnya berpacu cepat lagi. Chanyeol mengusap pelan surai Baekhyun yang lebih pendek darinya. Membalikkan tubuhnya lalu memeluk hangat tubuh si kecil.

"Untuk?" degupan jantung Chanyeol bisa dia dengar dengan jelas ketika telinganya mendekat pada dada bidang Chanyeol.

"Karena kau sudah membawa hatiku untuk menggantikannya. Kuharap kau tidak pernah pergi dariku" ucapnya. Baekhyun terdiam. Apa maksud dari perkataan pemuda itu? Baekhyun telah menggantikan siapa?

"Saranghae" dan satu kecupan manis mengiringi ungkapan cinta Park Chanyeol.

Chanyeol menangkupkan wajah chubby itu dan melumat sedikit bibirnya. Entah kenapa Baekhyun tidak menolak lagi. Tangannya menggenggam erat jaket pria itu. Nafas mereka memburu di udara yang dingin. Sehingga menimbulkan uap-uap hangat yang keluar dari mulut.

Baekhyun melepaskan ciuman mereka. Menatap sayu pada Chanyeol.

"Kurasa aku butuh penjelasan atas ucapanmu tadi" desahnya berusaha mengatur nafas.

.

.

.

.

.

TBC

Pada nanyain NC nih. Sehyun jadi bingung kan kita sedang berpuasa. Ini aja megap-megap Chanyeol minta poppo Baek terus /lah?/

Sebenarnya NC-nya masih rada lama. Kan Baek belum jawab perasan Yeol hohoho~ Tapi gatau juga deh hehe.

Mungkin ada yang bisa kasih saran FF ini harus lanjut gimana kedepannya? Perlu NC-kah/BaekYeol momen aja? Sehyun tunggu oke?

.

.

.

BIG THANKS TO :

Myeoni1120, chenchenchen, Lee Dong Hwa, N-Yera48, Jung Eunhee, belaaa, Caramelyeol, realkkeh, younlaycious88, indaaaaaahhh, DiraLeeXiOh, , parklili, Natsuko Kazumi, baekmate, RLR14, Maple fujioshi2304, Baekhyunniee, exindira, Zelo chanbaek, Haru3173, saici-chan, Special bubble, TrinCloudSparkyu, 90Rahmayani, delimandriyani, amalia1993, Chanbaek21, Dobi Hano Beef, Empire Melody, Park Byuna, Ririn Cross, chanbaekids,chanbaek, para Guest, dan para readers saranghaeyo!

*PS: Maaf buat yang belum ketulis disini. Nama para readers selalu ketulis dihati sehyun kok ^^ /gombal/