Previosly

Kurasa aku butuh penjelasan atas ucapanmu tadi " desah Baekhyun mengatur nafas.


Warn! Typo everywhere

We Are One
.

.

.

.

-Enjoy-

.

.

.


Hening

.

.

.

Chanyeol hanya diam membisu. Memandang lekat kedalam bola mata Baekhyun. Cahaya lampu jalanan yang sepi menyinari wajahnya.

Manis.

Entah kenapa pria keci ini selalu dapat mengalihkan segala pikirannya.

Tapi, Chanyeol terlalu ragu untuk menjelaskan maksud dari perkataannya. Chanyeol sendiri juga bukan orang yang mudah terbuka. Selama ini yang mengetahui segala seluk beluk kehidupannya adalah keluarga Park. Tentu saja Luhan juga ikut ambil bagian.

"Chanyeol berhenti memandangku seperti itu" semburat merah menghiasi wajah si pendek. Kepalanya tertunduk tidak tahu kalau Chanyeol sedang tersenyum kecil padanya.

Sungguh menggemaskan.

"Baekhyun-ah. Kau merasa butuh penjelasan?" tanya si pemilik suara berat.

Baekhyun mendongak. Lalu mengangguk pelan. Sepertinya dia juga terlihat ragu.

"Kenapa?" tanya Chanyeol lagi

"Aku hanya ingin tahu saja? Tidak boleh?"

Chanyeol menggeleng pelan dengan wajah datar.

"Ya! Waeyo?" kesal Baekhyun dan memukul dada pria itu. Chanyeol terkekeh. Memeluk tubuh Baekhyun kembali padahal si pendek sudah meronta minta dilepaskan karena marah pertanyaannya tidak dijawab.

Akhirnya Baekhyun terdiam gugup ketika hembusan nafas hangat itu menyentuh kulit kepalanya. Udara semakin dingin. Namun Baekhyun merasa hangat dalam dekapan si tiang listrik. Hey, apa kau sudah mulai menyukai pria ini, Baek?

"Kalau begitu dengan satu syarat" ucap Chanyeol dan Baekhyun mendongak menatap polos padanya.

"Syarat apa itu?"

Chanyeol tersenyum jahil.

"Cium aku"

Hening (lagi)~

.

.

.

BUK!

"Akhh! Appo…. Yaa! Baekki-ah! Ini sakit sekali uhh…" ringis Chanyeol memegangi lututnya yang di tendang Baekhyun.

Baekhyun segera melepaskan diri dari dekapannya. Melangkah lebih cepat, menjauh dari si binatang buas yang sedang mengaduh kesakitan.

"Rasakan! Seenaknya saja kau minta cium! Hari ini kau sudah menciumku banyak tanpa minta izin dan itu sangaaat dilarang!" sahut Baekhyun penuh penekanan.

Chanyeol berdiri tegak sesekali meringis. Tangannya menggapai udara kosong menyuruh Baekhyun mendekat. "Ya! Kemari kau dasar pendek!"

"Shireo! Kau pasti akan memelukku lagi. Lebih baik aku pulang saja! Annyeong,Yeol! Hati-hati di jalan babo! Jangan keluyuran lagi eoh!" ucapnya sambil menjulurkan lidah dengan cemberut lalu melambai imut.

Chanyeol hanya balas tersenyum menggelengkan kepala lalu melambai pada Baekhyun yang sudah berlari kecil menuju arah rumah. Tidak berapa lama dia terdiam lagi. Memasukkan tangannya pada saku jaket. Sementara tangan kanannya memegang syal buatan Baekhyun namun pemberian Nyonya Byun.

"Hangat" ucapnya pelan.

.

.

.

.

Mobil sport berwarna merah melintas paling akhir di halaman sekolah. Semua tentu mengenal betul siapa si biang telat hari ini. Namun, ada satu hal yang membuat murid-murid terkejut. Termasuk para fans penguasa sekolah yaitu karena Chanyeol tidak sendirian.

Pria itu berlari membukakan pintu sebelah pengemudi. Nampaklah seorang namja bersurai krem dengan ransel manis menggantung di pundaknya. Kelihatannya yang manis bukan ranselnya. Melainkan perlakuan Chanyeol pada namja itu hingga membuat para fans berjerit iri.

"Kyaa! Chanyeol-ssi bersama seseorang!"

"Siapa dia?! Kenapa namja itu berani naik mobil Chanyeol? Hyaa! Tangannya di pegang oleh Chanyeol!"

"Ahhh… Aku iri sekaliii…!"

"Tunggu bukankah dia si namja pembuat masalah yang menyiram Chanyeol waktu itu?"

"APA?!"

Begitulah ocehan histeris para yeoja yang mengiringi senin pagi. Chanyeol masuk kedalam gedung sekolah tanpa memberikan salam sapa pada teman-teman sekelompoknya terlebih dahulu. Dia hanya melintas bersama Baekhyun yang di ekorinya bak induk ayam.

Luhan terkekeh manis. Kai melongo heran dengan Kris sedangkan Chen terlihat frustasi. Kemana harga diri Chanyeol sebagai 'pemimpin' penguasa sekolah yang terkenal paling sadis dan ganas? Perlakuan lembutnya pada Baekhyun bahkan dianggap tidak rasional pada setiap manusia yang melihat peristiwa itu.

Satu penjelasan.

Chanyeol berubah (dan itu hanya demi Baekhyun).

Ketika sampai di depan kelas 12-2 Baekhyun sempat berhenti. Dia merasa ada tiang listrik berjalan di belakangnya. Padahal Baekhyun sejak pagi sudah menolak mentah-mentah saat Chanyeol menjemput kerumahnya. Sebelum masuk gedung dia juga sempat mengeluh kalau pria jangkung itu dan dirinya terlalu menarik perhatian para murid SM SHS.

"Berhentilah mengikutiku!" sahut Baekhyun merenggut.

Chanyeol berhenti berjalan dengan kedua tangan di saku celananya. Ekspresinya datar seperti biasa. Kemudian berjalan kembali mengekori Baekhyun. Semua murid kelas Baekhyun terdiam kaku bahkan sampai menahan nafas ketika Chanyeol masuk.

"Pagi! Ba….ek…." Sehun yang niatnya menyapa Baekhyun dengan semangat (mengingat dia sudah sembuh) mengecilkan volume suaranya begitu melihat pria itu.

"Pagi, Hun!" tapi reaksi Baekhyun berbeda dengan Sehun. Seperti biasa penuh semangat membara. Namja berkacamata tebal meneguk ludah ketika melihat death glare Chanyeol di samping Baekhyun.

"Pagi Chanyeol-ssi" sapa Sehun dengan suara bergetar. Baekhyun menoleh. Ternyata Chanyeol masih mengikutinya dan kehadirannya membuat Sehun takut. Ini akan merepotkan nantinya.

"Balas sapaan-nya Yeol. Salam pagi seseorang itu harus disapa balik agar pagimu menyenangkan" nasihat Baekhyun ketika Chanyeol menarik kursi dan duduk disebelahnya.

Chanyeol tetap menatap tajam Sehun.

Yah.. kalian tahu lah mereka kan pernah berdebat sampai Sehun babak belur. Pemuda culun itu hanya menunduk tanpa mau melihat pria ganas di samping Baekhyun. Lagipula kenapa Baekhyun bisa membawa Chanyeol kekelasnya? Sepertinya Sehun belum tahu.

"Pagi" jawabnya singkat dan suara bariton itu menghasilkan senyuman di bibir Baekhyun. Lain halnya dengan Sehun yang melongo tidak percaya dengan sikap Chanyeol. Meski dia tetap dingin dan terkesan cuek tapi Chanyeol memang benar-benar telah berubah.

"Istirahat nanti tunggu aku. Oke?"

"Untuk apa?" Baekhyun merenggut menaikkan sebelah alisnya.

"Kenapa masih bertanya? Tentu saja makan siang, Baek" Chanyeol mulai duduk santai menyilangkan kakinya dengan tangan di belakang kepala. Sikapnya masa bodoh dengan tatapan heran murid kelas Baekhyun. Sementara si kecil sendiri sudah gusar melihat pandangan sinis menusuk dari beberapa fans nekat Chanyeol.

"Bagaimana?" tanya pria itu lagi lalu duduk tegap mengarah pada Baekhyun yang menunduk malu.

"Emm.. Akan kupikirkan" balas Baekhyun tanpa niat.

Tidak berapa lama bel berbunyi dan semua segera duduk di tempatnya masing-masing. Chanyeol menatap malas pada seorang murid di belakangnya yang menunggu si Ketua Park untuk bangkit dari kursinya. Pemuda ganas itu mendesah lalu berdiri tanpa perlu di beritahu lagi. Kim Seonsangnim pun sudah berada di ambang pintu menunggu Chanyeol keluar.

"Aku akan menjemputmu istirahat nanti. Belajarlah yang baik"kata Chanyeol sok benar layaknya anak baik-baik.

Baekhyun tetap berusaha terlihat cuek. "Hem"

Chanyeol tersenyum miring lalu mendekatkan wajahnya pada kepala Baekhyun. Menangkup kepala mungil itu dengan satu tangan. Menariknya mendekat dan menciumnya singkat.

"Bye bye" ujarnya. Meninggalkan Baekhyun dengan semburat merah juga tatapan terkejut teman-teman sekelasnya.

"Baekki" Sehun memanggil dan Baekhyun menoleh malu.

"Sepertinya kau berhutang satu penjelasan mengenai semua ini" kata Sehun serius sambil membetulkan letak kacamatanya.

.

.

Baekhyun sudah di kantin. Perutnya memang lapar dan minta di isi sejak tadi. Tapi rasa malunya lebih di prioritaskan kali ini.

Baginya ini adalah hal yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali dalam kehidupan sekolah menengahnya. Duduk manis di sudut kantin bersama dengan para penguasa sekolah. Makan siang bersama anak-anak yang selalu menjadi pusat perhatian para yeoja maupun namja.

"Kau mau pesan apa Baekki?" tanya Chanyeol yang tangan panjangnya terulur manis di belakang tubuh Baekhyun.

"Emm... Aku tidak lapar" dustanya menunduk dalam.

"Hmm, kau sama sekali tidak pandai berbohong"

"Sungguh, Yeol. Aku bisa makan nanti" tolak Baekhyun dengan menambahkan 'setelah aku terbebas dari tatapan membunuh para yeoja itu' dalam hati.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan datar namun begitu lekat seakan pandangannya hanyalah Baekhyun seorang. Menurutnya Baekhyun yang malu-malu begini sangat manis. Sementara para penguasa sekolah lainnya menatap pasangan baru (yang belum resmi) itu dengan ekspresi berbeda-beda. Tentu saja yang paling antusias adalah Luhan.

"Ya sudah aku pesankan saja. Kau bisa memilih nanti. Hey! Kau kemari!" teriak Chanyeol pada seorang siswa.

"Pesankan dua ramyun, cola, dan susu strawberry. Cepat!" titahnya angkuh.

Lelaki malang itu menurut patuh dan segera berlari meninggalkan meja para penguasa sekolah. Baekhyun menyikut perut Chanyeol cukup keras. Membuat empunya mengaduh kesakitan.

"Tidak bisakah kau jalan sendiri jika mau memesan makanan? Kau kan punya kaki!" amuk Baekhyun.

"Aku tidak mengenal 'apa-arti-memesan-sendiri' jadi jangan heran Baekki-ya" balas Chanyeol lalu mencubit gemas pipi Baekhyun dengan jemarinya.

"Yeah. Welcome to our world sweety" ucap Chen merentangkan tangan layaknya raja yang menyambut tamu baru.

Baekhyun hanya mendengus menanggapi ucapan mereka semua.

"Nantinya kau juga akan terbiasa. Kami memang seperti ini. Kau sendiri sebentar lagi pasti akan menikmatinya Baekhyun-ah" papar Kris dan Baekhyun hanya melongo.

Ohh, sungguh. Anak-anak orang kaya ini memang benar-benar suka berbuat seenak jidatnya. Mereka santai saja dari tadi menyuruh murid lain memesan makanan bak babu pribadi mereka. Dasar iblis!

"Baekhyun-ah. Kemana Oh Sehun? Dia tidak bersamamu?" tanya Luhan membuka suara.

"Ah, sepertinya dia sedang di perpustakaan"

"Hmm begitu" Luhan menganggukkan kepalanya dengan satu tangan menopang pipinya.

Kepalanya berputar. Sebenarnya sedari tadi dia ingin menanyakan keberadaan Sehun pada sahabatnya ini. Tapi dia takut Baekhyun merespon aneh-aneh makanya Luhan hanya diam saja menunggu waktu yang tepat. Ternyata Baekhyun tidak bertanya macam-macam. Malah dia terlihat sibuk dengan Chanyeol yang berusaha menyuapinya layak baby siter pada majikan kecilnya.

"Kenapa kau bertanya tentang si kacamata?" tanya Kai membuyarkan lamunan Luhan. Pria manis itu menggeleng dengan senyuman.

"Tidak apa-apa. Memangnya aku tidak boleh bertanya?"

"Bukan. Hanya saja.."

"Apa?"

"Bukan apa-apa. Lupakan saja" papar Kai.

"Yap! Kalau begitu aku ingin keperpustakaan sekarang!" seru Luhan dan mulai berdiri dari kursinya.

"Kau mau menemui dia, Lu?" sinis Kai menyelidik.

"Kenapa sekarang kau jadi mengurusi Luhan? Dia sudah besar. Terserah dia mau pergi kemana pun dia suka. Kau bukan ibunya Kim Jongin" penuturan Jongdae membuat Luhan dan Kris tertawa.

Kai hanya membuang muka menahan malu. Tanpa menjawab pertanyaan namja berkulit tan itu, Luhan segera berjalan menjauh sebelum akhirnya pamit pada BaekYeol yang masih berdebat kecil.

Tidak berapa lama Baekhyun menyerah dan memakan ramyun-nya. Tapi dengan syarat dia harus makan sendiri tanpa campur tangan si tiang listrik ini. Chanyeol pun tersenyum puas.

Selagi makan, mata Baekhyun menangkap sosok Kyungsoo yang berjalan masuk kedalam kantin sendirian. Baekhyun menyahutkan nama sahabatnya. Menyuruh Kyungsoo ikut bergabung tanpa rasa sungkan pada para penguasa sekolah. Kyungsoo yang menoleh sedikit terbelalak.

Kenapa sahabatnya bisa bersama para penguasa sekolah?

Kyungsoo terlihat ragu. Tapi akhirnya dia mendekat juga. Matanya terus memandang namja yang duduk di sebelah Chen. Kakinya melangkah pelan pada meja mereka.

Tiba-tiba Chen terkikik geli melihat reaksi kaku pada wajah Kai. "Tuhan! Ini akan menarik sekali!"

"Hai, Baekki" sapa Kyungsoo ramah.

"Hai! Kau sudah makan Kyung?" tanya Baekhyun dan Kyungsoo menggeleng.

"Belum. Aku baru mau memesan sesuatu" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan pada orang yang sedari tadi memalingkan wajah ketika dia datang.

"Kalau begitu berdua saja makan denganku. Aku rasa aku tidak akan menghabiskan dua ramyun ini sekaligus. Palli bantu aku Kyungie!" rengek Baekhyun di ikuti tawa pria bermata bulat itu.

Baekhyun menarik lengan Kyungsoo untuk duduk di sebelahnya. Dia nyaris saja mendaratkan bokongnya pada kursi itu jika tangan seseorang dengan cepat menariknya kembali berdiri.

"Lebih baik ikut aku keluar. Cepat!" titah namja itu. Kyungsoo sempat heran namun akhirnya dia pun menurut. Baekhyun berteriak-teriak memanggil nama Kyungsoo dan namja yang baru saja merebut sahabatnya untuk membantu Baekhyun makan.

"Hahhhhh..." satu hembusan nafas panjang di keluarkan Kris. Sedangkan Chen terus saja tertawa seperti orang gila. Dia merasa sangat terhibur dengan kecangunggan yang telah terjadi meski si kecil yang baru bergabung ini tidak paham apa maksud tawa senang Kim Jongdae.

"Cepat habiskan ramyunmu" ucap Chanyeol membuka mulut yang sedari tadi tertutup rapat.

.

.

.

"Sakit... Kau mau membawaku kemana?"

Rintihan Kyungsoo membuat namja itu berhenti. Dia melepaskan cengkramannya pada tangan Kyungsoo. Lalu berbalik mengusap wajahnya kasar. Kelihatan namja itu terlihat sangat frustasi sekaligus menahan amarah.

"Kau itu bodoh?" sontak sebuah pertanyaan sinis terlontar dari bibir eksotis Kim Jongin.

Kyungsoo hanya diam dengan raut sendu.

"Hahh... Kalau kau tahu akan seperti ini nantinya lebih baik tadi kau menghindar saja. Kau tahu kan Chen akan semakin senang? Apalagi melihat reaksi wajahmu! Babo!" marah Kai panjang lebar. Tapi tidak sampai meninggikan suara. Pria ini sudah mengenal betul Kyungsoo sensitif akan bentakan.

"Aku tidak apa-apa kok" lirihnya pelan.

Kai menghela nafas berjalan sedikit di tempatnya. Kemudian menatap lekat Kyungsoo yang sedang menunduk. Entah kenapa dia sangat tidak suka melihat wajah muram pria bermata bulat ini.

"Sudahlah lupakan saja"

"Kai-ah..." panggil Kyungsoo ketika Kai hendak berjalan pergi. Kai berhenti tanpa menoleh kebelakang.

"Gomawo..." ucap Kyungsoo pelan.

Tubuh Kai berbalik. Mata mereka bertemu. Tatapan dingin Kai begitu menusuk pandangan Kyungsoo. Dia tahu bahwa Kai sangat mengkhawatirkannya. Namun Kyungsoo belum sadar. Bentuk perhatian Kai adalah karena dia menyimpan suatu perasaan khusus. Ingat waktu Kyungsoo di suruh memakai wig dan di permainkan? Saat itu Kai juga emosi dan tanpa sengaja tinju manisnya melayang pada wajah Young Jae.

"Sial" umpatnya kemudian berjalan cepat kearah Kyungsoo dan memeluknya erat.

Sepi.

Lorong taman belakang sekolah begitu sepi. Tapi sekarang tidak dengan isakkan kecil yang keluar dari bibir Kyungsoo. Memecah keheningan membuat hati Kim Jongin terasa sesak.

.

.

.

"Chanyeol tidak punya ibu! Hahahaha" suara bising itu terdengar beberapa kali di telinga Chanyeol kecil.

Kupingnya terasa pengang dengan beberapa anak berusia empat tahun yang berkerumun mengelilinginya. Berbagai pertanyaan, umpatan, bahkan ejekan sudah sering dia dengar di usia yang terbilang masih sangat muda. Tapi Chanyeol tidak pernah membalasnya. Karena semua yang mereka katakan memang benar.

"DIAM!" bentak Chanyeol menutup telinganya rapat. Kaki kecilnya melangkah menjauh dari kerumunan yang masih mentertawakannya.

Selalu seperti ini setiap harinya di taman kanak-kanak. Chanyeol di bully. Dikucilkan dan selalu di ganggu waktu bermainnya dengan anak-anak yang terbilang lebih rendah status sosial di bandingkan dirinya.

"Kami saja yang tidak punya rumah mewah punya keluarga bahagia. Makanya jangan jadi pangeran menyebalkan yang tinggal di kerajaan Chanyeol! Hahaha" ejek salah satu temannya yang bertubuh gendut.

Chanyeol tetap diam. Berjalan lebih jauh lagi sampai akhirnya duduk sendiri di bangku ayunan. Memandangi teman-temannya yang sedang asyik bermain bola berkumpul bersama-sama penuh kegembiraan.

Chanyeol bukan anak yang tidak supel. Dia hanya tidak di sukai karena fakta yang di katakan para temannya. Bagi mereka, keluarga utuh adalah hal terbaik. Lain halnya untuk Chanyeol yang selalu diantar pulang oleh supir dan butlernya.

"Tuan muda. Mari kita pulang" ajak Leeteuk, butler pribadi keluarga Park.

Chanyeol kecil menurut lalu meraih tangan Leeteuk. Berjalan bergandengan menuju mobil yang sudah terbuka pintunya oleh sang supir. Tidak berapa lama mobil berjalan. Bulir-bulir airmata jatuh di pipi chubby-nya.

Chanyeol kecil kembali menangis diam-diam. Dadanya terasa sesak. Tidak ada yang memeluknya dan mengatakan bahwa ejekan temannya itu hanya candaan biasa. Tidak ada. Hanya Leeteuk yang terus memandang Tuan Mudanya dengan tatapan pilu saat mengetahui kalau Chanyeol selalu menangis.

'Dimana ibuku?'

'Aku merindukan ibuku...'

'Kapan ibu akan memelukku lagi?'

Mata Chanyeol kecil terpejam. Lantunan pertanyaan itu tidak berhenti membayangi pikirannya. Umurnya baru empat tahun. Dan Chanyeol tidak pantas kesepian tanpa kasih sayang seorang ibu.

'Chanyeol-ah... Ibu menyayangimu. Jaga dirimu baik-baik, sayang'

"EOMMA!"

Chanyeol terbangun.

Keningnya berpeluh dengan beberapa cairan bening yang tidak sengaja keluar membasahi pipinya. Pria itu menghela nafas berat ketika mengambil posisi duduk. Mengusap keningnya perlahan sambil memejamkan mata. Jantungnya berdebar cepat akibat mimpinya di siang bolong.

"Sial... kenapa aku.. kembali mengingat hal bodoh itu lagi?" umpatnya dengan suara serak.

"Ughhh... sedikit lagiiii..." suara tertahan yang familiar membuyarkan lamunannya. Kepalanya menoleh heran pada sumber suara cempreng di belakangnya.

"Hahhh.. Coba tanganku lebih panjang! Aihhh…. Kenapa susah sekali!?" rengeknya sambil terus menjulurkan tangannya pada salah satu batang.

"Baekhyun?" panggil Chanyeol dan Baekhyun pun menoleh.

Dari atas pohon tentunya.

"Sedang apa kau disitu?"

"Justru aku yang ingin bertanya. Sedang apa kau disitu? Membolos siang hari seperti ini tidak baik tahu!" sungut Baekhyun cemberut.

"Ya! Tidak bisa lihat kondisimu sendiri? Kau bisa jatuh. Cepatlah turun!"

"Shireo! Ini lebih penting daripada nanti kena omel Choi Seonsangnim lagi"

Chanyeol mengikuti arah pandang Baekhyun. Tali sepatu berwarna putih itu menggantung manis pada batang pohon. Sedangkan sepatu kets Baekhyun bergelantungan dengan nyaman. Pemandangan itu sukses membuat mata Chanyeol melebar.

"Siapa yang melakukan hal ini padamu? Mereka mengerjaimu lagi?" tanya Chanyeol dan mulai bangkit dari tempatnya menghampiri Baekhyun.

"Molla…. Tahu-tahu aku dapat kertas di kolong meja kalau sepatuku ada disini. Padahal tadi aku cuma pergi keruang kesehatan sebentar untuk pemeriksaan. Tapi— akhinya malah begini" keluh Baekhyun memajukan bibirnya.

"Yasudah kau lebih baik turun. Biar aku yang ambilkan"

Baekhyun menggeleng. "Ini sudah setengah jalan Yeol. Tinggal sedikit lagi"

"Setengah jalan apanya? Buktinya tanganmu dari tadi tidak bisa menggapai tali itu. Kau ketakutan Baekki. Akui saja"

"Aku tidak bilang aku takut! Berhentilah mengangguku!"

"Ya! Kenapa kau keras kepala sekali?"

"Sudah jangan berisik Yeol. Aku pasti bisa mengambilnya!" tegas Baekhyun dengan suara tertahan memajukan lagi tubuhnya pada dahan batang yang lebih tipis.

Chanyeol menghela nafas berat. Kenapa Baekhyun benar-benar keras kepala? Bahkan dia sendiri tidak terlihat yakin melihat usaha getol pria mungil itu. Oh, lalu jangan lupa ingatkan Ketua Park pada seseorang yang menjahili namja-nya (yang belum resmi) saat ini. Ketika bertemu orang itu tulangnya akan remuk total.

"Tapi kau bisa jatuh! Kalau dahannya patah bagaimana?!"

"Jadi kau pikir aku gendut begitu?!" sungut Baekhyun yang emosi ketika perkataan Chanyeol mengarah pada beratnya.

Pria itu bersedekap sambil menyeringai tampan.

"Sebelumnya pernah kurasakan saat di lorong bar. Kau tau? Aku sedikit mengangkatmu saat kita melakukan sesi ciuman panas itu dan kau mendesah sangat seksi—"

"—HYAAA! LUPAKAN UCAPAN BODOHMU ITU! HENTIKAAAN!" histeris si mungil menutup matanya dan telinganya sambil bergerak-gerak heboh.

Chanyeol akhirnya tertawa puas bisa menggoda Baekhyun.

Karena pria kecil ini tidak bisa diam. Terdengar suara 'KREK' dari sang dahan yang menandakan kalau suara Baekhyun terlalu nyaring(?) Uhh, sepertinya bukan suara. Melainkan ucapan Chanyeol seperti ada benarnya mengenai berat badan si pria manis.

Dahan itu sedikit retak dan semakin retak sebelum Baekhyun sadar.

"BAEK! AWAS!"

BRUKK!

Alhasil tidak perlu di pertanyakan lagi. Tubuhnya jatuh kebawah tanpa rasa sakit. Loh? Tanpa rasa sakit? Bukankah seharusnya Baekhyun merasa tulangnya patah akibat menyentuh tanah berumput itu dengan keras?

Hmm pantas saja. Yang meringis adalah seseorang yang sedang di tindihnya dengan nyaman.

"Arrgggghhhh..." rintihan pilu terdengar dari bibir Tuan Park.

"Ya Tuhan! Yeol! Kenapa kau bisa dibawah sana?! Kau tidak apa-apa?" tanya Baekhyun panik yang duduk di atas pinggangnya.

Tidak berapa lama sepatu kets Baekhyun jatuh mengenai kepala pria jangkung itu. Baekhyun bersorak kegirangan bagai yeoja yang bertemu idolanya. Sepatunya telah selamat dan berhasil dia dapatkan kembali.

Hey Baek! Chanyeol masih dibawahmu!

"Ahhhh! Mian! Aku akan menyingkir!" jerit Baekhyun kembali panik.

Chanyeol perlahan membalikkan badannya. Sementara Baekhyun mengusap-usap pinggang belakang pria itu penuh kelembutan. "Astaga. Kurasa tulangku patah..."

"Ya! Jangan bicara seperti itu! Kau membuatku takut! Mianhae, Yeol. Aku tidak sengaja.. Lagipula kenapa kau malah disitu? Huhh.." celoteh Baekhyun lalu ikut meringis ketika Chanyeol berusaha duduk dengan kedua sikut yang menopang tubuhnya.

"Aku hanya berusaha menolongmu. Kenapa kau malah memarahiku?" ringis Chanyeol dengan wajah penuh kesengsaraan (?) dan Baekhyun mempoutkan bibirnya.

Sebenarnya dia hanya berakting kesakitan. Tubuh Baekhyun tidak seberat yang dia pikirkan. Mana mungkin berandal kelas kakap paling ganas dan sadis di SM SHS tidak kuat hanya tertimpa si mulut berisik Byun Baekhyun? Intinya pria brengsek itu sedang iseng pada si mungil ini.

"Maaf.."

"Tidak apa-apa. Kurasa aku baik-baik saja dan akan cepat sembuh kalau—"

"Kalau?" Baekhyun terlihat serius dan memajukkan badannya.

"Kalau kau menciumku sekarang juga... AUHHH! SAKIT BAEK! KENAPA KAU CUBIT BAGIAN ITU?!" pekik Chanyeol ketika Baekhyun mencubit pinggangnya.

"Kau memang benar-benar mesum! Park Babo! Aku benci padamu!" amuk Baekhyun sambil memukuli Chanyeol berkali-kali.

Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Chanyeol segera menarik pergelangan tangan Baekhyun sehingga tubuhnya condong kedepan. Dan dengan kecepatan kilat bibir Chanyeol langsung mencium singkat bibir mungil Baekki.

"Hukuman karena sudah menyakiti pinggangku dan bersikap manis" ucap Chanyeol di depan wajah Baekhyun. Pria mungil itu merona hebat tanpa perlu di deskripsikan lagi wajahnya. Dia mengigit bibir menahan rasa malu.

Demi Tuhan! Chanyeol menciumnya disekolah! Bagaimana jika ada yang melihat? Ini masih jam pelajaran!

"Kau memang licik! Menyebalkan!"

"Hem? Benarkah? Sepertinya kau baru tahu itu" goda Chanyeol dan Baekhyun menunduk menyembunyikan wajahnya pura-pura sok sibuk memakai sepatu yang baru saja selamat. Sementara pemuda jangkung itu hanya tertawa sambil memakaikan sepatu pada kaki Baekhyun.

"Ah! Yeol. Aku ingin bertanya"

Chanyeol menoleh menaikkan satu alisnya. "Apa?"

"Tadi saat kau tidur kau bergumam 'eomma' 'eomma' seperti anak bayi!" ejek Baekhyun menahan tawa.

Ekspresi Chanyeol berubah seketika. Sial, Baekhyun mengingatkannya lagi pada hal yang sedari tadi ingin ia lupakan. Membayangkan sekilas saja memori kelam itu sungguh menyakitkan. Bahkan sekarang wajah Chanyeol mulai murung dan terlihat kosong pandangannya.

"Yeol? Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun hati-hati.

Chanyeol tetap diam. Untuk apa dia masih memimpikan ibunya? Wanita itu tidak akan pernah kembali. Dan satu fakta lagi. Baekhyun telah mendengarnya mengigaukan nama itu sungguh memalukan..

"Inikah alasan kenapa kemarin kau seperti ini?" tanya Baekhyun mengambil posisi duduk disebelah Chanyeol.

Chanyeol tidak menjawab. Dia menghirup nafas sampai matanya terpejam lalu membuangnya dengan helaan panjang. Baekhyun mengigit bibir. Sepertinya Chanyeol akan sedih lagi. Dirinya merasa bodoh sudah menyakiti Chanyeol secara batin (dan fisik) tadi.

"Bukan apa-apa" papar Chanyeol terlihat kosong.

"Chanyeol.." Baekhyun berbalik. Sekarang mereka berhadapan. Pemuda manis ini menangkupkan tangannya pada pipi pria itu.

"Kau bisa cerita padaku. Aku akan mendengarkan semua masalahmu" ucapnya lembut dengan tatapan serius.

Chanyeol terdiam memandangi wajah cantik seseorang dihadapannya. Sudut bibirnya terangkat. Tuhan memang sangat baik telah menurunkan malaikat mungil berhati selembut kapas seperti Baekhyun. Belum pernah ada yang berani mengatakan itu pada Chanyeol meski wajahnya sekarang sudah sangat menyeramkan dan tidak bermoral sikapnya.

Tapi siapa sangka? Hatinya sekeras batu akibat menyimpan masa lalunya yang pahit. Begitu banyak orang yang takut padanya. Berniat menyapa saja tidak. Namun Baekhyun tiba-tiba datang pada malam itu. Malam yang tidak pernah pria ini lupakan atas segala kebaikan dan kepolosan Baekhyun.

Chanyeol sangat bersyukur. Bagaimana pun hatinya menghangat karena malaikat kiriman Tuhan di hadapannya. Byun Baekhyun.

"Aku akan bercerita.." kata Chanyeol.

Namun dia menggantungkan kalimatnya.

"Tapi sebelumnya...cium aku dulu"

.

.

.

PLAK!

Dan satu pukulan manis kembali mendarat di kepalanya.

"Bodoh benar aku sudah mengkhawatirkanmu tadi, ck! Sia-sia saja rasa simpati ini kalau bersama tiang listrik idiot seperti dirimu Park Babo! Ternyata memang otakmu penuh hal-hal mesum. Konyol! Aku pergi" umpat Baekhyun bak emak-emak kosan (?) dengan sadis.

Chanyeol tertawa keras lalu ikut berdiri mengejar Baekhyun dan memeluknya erat dari belakang. Baekhyun yang terkaget memukul lengan kekar Chanyeol sesekali. Namun sayang itu tidak cukup kuat untuk melepas rengkuhan manis si jangkung. Sehingga mau tidak mau dia menutup kedua matanya. Takut ada murid lain yang memergoki kemesraan pasangan dadakan ini.

"Haha, kau memang benar-benar menggemaskan jika sedang marah. Cium aku sedikit, Baek. Ayolahh!" pinta Chanyeol iseng dan Baekhyun tetap berteriak tidak mau sambil menggeleng.

Tanpa mereka sadari sejak tadi mata seseorang tampak sangat menusuk memandang adegan sepasang kekasih (yang belum resmi) dari lantai atas. Tangannya terkepal erat di jendela. Tatapan dinginnya begitu benci melihat kedekatan mereka berdua.

'Lihat saja Byun Baekhyun. Aku akan berusaha menarik perhatian Chanyeol lagi. Tidak akan kubiarkan kalian bersama! Tidak akan pernah!' geramnya dalam hati.

.

.

.

.

Kaki mungil itu melangkah menjelajahi rak-rak buku yang menjulang tinggi. Gerakannya begitu manis untuk seorang namja. Sebenarnya dia sedang mengendap-endap kecil agar tidak ketahuan seseorang yang sedari tadi dicarinya.

Tadi siang dia memang berniat mencari namja itu. Sebelum akhirnya tiba-tiba UKS menjadi begitu ramai akibat anggota klub sepak bola yang cedera semua secara serentak. Benar-benar bodoh untuk mencari alasan dekat dengan asisten dokter juga salah satu penguasa sekolah manis seperti dirinya.

Sosok yang di carinya terlihat. Namja jangkung berkulit susu itu sedang sibuk dengan satu buku di tangannya. Membelakangi si manis yang sedang berjalan hati-hati di belakangnya.

Tangannya terulur menutupi mata yang berkacamata. Meski harus ekstra berjinjit sedikit agar bisa sampai pada kepala si namja. Namun dia tidak menyerah. Lagipula namja cupu itu tidak menolak.

"Hmm... Aku tahu ini siapa?" ucapnya sementara si manis tersenyum mengigit bibir menahan senyum.

"Baekhyunie!" sahutnya dan langsung membalikkan badan. Memegang tangan si pelaku-penutupan-mata-Oh-Sehun.

Namja manis itu sempat terkejut dengan jawaban Sehun. Tapi sebuah senyuman ceria terulas di bibir pinknya. "Salah besar! Payah kau Oh Sehun!" ejek Luhan sambil menunjuk Sehun.

Sehun tergagap. Dia terlihat lebih terkejut dari pada Luhan dan langsung melepaskan genggamannya.

"Ah—Ma—maaf Luhan-ssi" gugupnya lalu membalikkan badan kembali.

Luhan terkikik geli melihat reaksi Sehun. "Kau masih membaca disini? Kan sudah hampir jam pulangnya murid-murid Sehun-ah"

"Emm, aku hanya sedang mengecek buku-buku ini apa sudah tersusun rapih atau belum. Sebentar lagi akan selesai kok" tutur Sehun lalu berjalan cepat dengan Luhan yang mengekorinya.

"Hmm... kurasa sudah tersusun rapih" komentar Luhan lalu mengambil satu buku yang tidak jauh darinya.

Sehun menatap Luhan yang sedang membaca buku. Jantungnya kembali berdegup cepat. Sehun tidak akan mengira seorang Luhan akan menemuinya dengan keadaan seperti itu. Menutup matanya dan bermain-main seolah mereka sudah kenal dekat lebih dari puluhan tahun.

Oke ini memang terdengar berlebihan. Tapi Sehun benar-benar tidak sadar ketika aroma wangi tubuh Luhan menyeruak indra penciumannya. Penciumannya? Sehun tersadar dan bangun dari lamunannya akibat bau harum itu. Luhan sudah berada tepat di depannya dengan satu buku di tangan.

"Aku mau pinjam yang ini" ucapnya dengan senyuman manis.

Sehun membetulkan letak kacamatanya kikuk lalu mengangguk cepat. Diambilnya buku itu dan berjalan ke meja pengawas perpustakaan yang telah kosong. Sementara Luhan masih setia mengikuti Sehun layaknya Chanyeol tadi pada Baekhyun. Saudara memang terkadang selalu sama sifatnya.

"Ini" ujar Sehun menyerahkan buku yang telah di beri cap tanggal pengembalian ke perpus.

"Gomawo Sehun-ah" senyum Luhan terlampau manis melebihi seorang yeoja. Sehun hanya balas bergumam memandang kearah lain.

"Sehun-ah" yang punya nama menoleh.

"Ya?"

"Kau tidak lupa janji kita hari ini kan?" tanya Luhan pelan. Entah kenapa jantungnya juga berdebar-debar menatap Sehun.

Mata Sehun membulat. Jantungnya bergemuruh tidak karuan. Pipinya memanas sampai kebelakang kupingnya. Perpustakaan ini sangat hening hanya menyisakan mereka berdua. Sehun berdehem untuk mencairkan suasana. Lalu mengangguk pelan.

Luhan tersenyum untuk kesekian kalinya. Sehun lama-lama bisa diabetes nanti. Surai coklat terang itu terlihat sangat menawan. Belum lagi aroma khas Luhan yang menyeruak kedalam hidungnya. Luhan benar-benar sosok yang sempurna. Tapi kenapa dirinya mau dekat dengan namja culun seperti Oh Sehun? Itulah yang sampai saat ini masih Sehun pertanyakan.

Tubuh Luhan mendekat pada Sehun. Sedangkan Sehun malah berjalan mundur secara refleks. Luhan kembali terkekeh melihat reaksi Sehun . Baginya Sehun benar-benar menggemaskan. Entah ada perasaan apa Luhan selalu tertarik menemui Sehun. Mengajaknya keluar dengan alasan sama-sama bookholic (penggemar buku). Padahal itu hanya akal-akalan Luhan saja karena merasa nyaman dekat dengan Sehun.

"Sehun-ah" panggil Luhan dan Sehun hanya bergumam. Terlalu sulit memilah kata untuk menjawab panggilan yang mengalun lembut di telinganya.

"Hap!" dengan gerakan cepat Luhan mengambil kacamata tebal Sehun.

"Lu—Luhan-ssi. Tolong kembalikan. Aku tidak bisa melihat" ucap Sehun terbata-bata. Tapi Luhan malah menjauhkan kacamata itu ketika Sehun hendak menggapainya.

"Ambil sendiri" godanya.

Luhan mulai berlari kearah rak-rak. Sedangkan Sehun juga tidak mau tinggal diam. Kacamata itu sangat penting. Baginya dia tidak bisa melihat dengan jelas jika tidak ada kacamata.

"Luhan-ssi!" sahut Sehun sedikit serak.

"Ayo ambil Sehun-ah!" Luhan malah keasyikan berlari-lari di perpustakaan yang sepi.

Tidak berapa lama Luhan sengaja bersembunyi. Kepalanya menoleh kebelakang mencari keberadaan Sehun. Namun dia langsung menjerit ketika mendapati Sehun yang telah berdiri di hadapannya.

Dengan gerakan cepat Sehun segera mengukung Luhan dengan kedua lengannya. "Tertangkap" ucapnya sambil tersenyum puas.

Luhan tertawa mendengar Sehun terlihat sedikit menikmati permainannya. Tiba-tiba atmosfir di sekitar mereka berdua berubah sangat hangat dan penuh keceriaan.

Tapi pria jangkung itu cepat sadar. Sehun terdiam dan semua kembali menjadi canggung. Tidak bagi Luhan yang tetap tersenyum manis. Sehun sudah mau bercanda dengannya. Tidak diam seperti orang bisu lagi. Dan itu hal bagus.

"Kembalikan kacamataku Luhan-ssi" pinta Sehun dengan suara berat.

Luhan menggeleng sok polos. Entah kenapa pipinya sekarang memanas menatap mata Sehun yang tanpa kacamata memandang lekat dirinya. Otaknya serasa kosong. Ternyata mata Sehun sangat tegas dan indah. Pria itu juga secara tidak sadar mempunyai pesona yang mampu membuat siapapun terlena akan tatapannya. Tidak salah tadi Luhan mengambil kacamata ini.

"Kembalikan Luhan-ssi. Kumohon"

"Tidak"

"Kenapa?"

"Karena—" Luhan menggantungkan kalimatnya.

"Apa?"

"Karena kurasa kau tidak membutuhkannya" papar Luhan dan Sehun mengerutkan alis.

"Buktinya tadi kau bisa mengejarku dengan baik. Sepertinya kau memang tidak membutuhkan kacamata ini"

Penuturan Luhan membuat Sehun terkejut. Belum lagi jantungnya berdetak cepat bisa sedekat ini dengan namja yang di sukainya. Sehun yang cerdas tidak berkutik. Namun bukan berarti otaknya kosong seperti Luhan.

Maka dengan gerakan refleks tanpa cela Sehun mengecup singkat pipi kanan Luhan dan langsung mengambil kacamatanya. Mata Luhan membulat tidak percaya. Bibirnya tertutup rapat dan jantungnya serasa mendapat hentakan. Barusan Sehun melakukan apa? Mencium pipinya?

"Sekarang tidak lagi ada padamu Luhan-ssi. Dan aku memang membutuhkanny—"

"Sehun!" sekarang gantian Sehun yang terbelalak.

Luhan tengah memeluknya erat dari belakang. Entah kenapa tubuhnya bergerak sendiri. Ketika mendapat kejutan manis pria jangkung ini. Semburat merah mendominasi wajah Luhan yang terbenam punggung lebar Oh Sehun.

Sehun sendiri gugup harus melakukan apa. Sungguh otaknya sekarang serasa membeku total. Bahkan dia sendiri bingung saat tangan besar itu dengan sendirinya berjalan hendak menyentuh jemari Luhan yang berada di dadanya.

"Lu—Luhan-ssi..."

"AH! SEHUN-AH!" sahut Baekhyun yang datang tiba-tiba merusak acara peluk-memeluk-sehun-dan-luhan.

"Ternyata kau disini. Hampir saja Jung Ajusshi menutup pintunya. Kajja kita pulang! Loh! Luhan-ssi sedang apa kau di sudut sana?" tanya Baekhyun polos melihat Luhan berdiri membenamkan wajahnya pada salah satu rak. Padahal Baekhyun baru saja berhasil menjadi pengganggu berat.

Benar-benar... namja cerewet ini sangat menyebalkan!

Chanyeol terkekeh dibelakang Baekhyun. Sementara Baekhyun menengok tidak suka. Kenapa tiang listrik ini datang-datang malah tertawa aneh? Hey, kalian berdua sama saja menyebalkan bukankah begitu?

"Rasakan itu, Lu. Sekarang gantian kau yang di rusak acaranya oleh si manis ini. Haha, Tuhan memang sungguh adil" ejek Chanyeol pada Luhan yang sudah memerah menahan malu memberenggut.

Baekhyun terlihat bingung. Dia memutar kepalanya pada Chanyeol yang tersenyum menang, Luhan yang memerah padam, juga Sehun yang menundukkan kepala. Ah, Sehun yang seperti itu sih sudah biasa.

Meskipun mereka bukan makhluk pedalaman di hutan belantara (?) Ternyata hukum alam memang berlaku didunia ini.

.

.

.

.

.

TBC

Akhir ceritanya ngga banget deh -_-

Maaf yah ini juga buru-buru.

Sehyun punya alesan kenapa lama update. Pertama ffn lagi PMS (sepertinya) dari kemaren ngambek gak bisa di buka hihhhh.. /stress/

Kedua, sehyun sempat kecelakaan. Tangan kanan sehyun yang telapaknya robek susah ngetik makanya belum sempet ngedit. Sudah tidak usah dibayangkan yah~ ^^ dan hasilnya jadi gaje deh chapnya T_T

Anyways~

Kalian suka cerita exo shipper GS gak? Kalo iya bilang yah sehyun mau post soalnya hehe

Thanks buat Ra-ssi (flamyflame) yang nge-PM sehyun kasih saran banyak banget! Gomawo.. /bow/

Big Thanks juga buat para Readers Saranghae! I Love You All :**** ({}) /ciumin satu satu/

Last!

Sehyun minta review dikit gpp kan? /nyengir kuda/

YEHET! \^_^/