There's another Chara in here
But please do not bashing okay? ^^
WE ARE ONE!
.
.
-Enjoy-
.
.
.
-BaekYeol Area-
"Berhentilah tersenyum kau seperti orang bodoh, Yeol" ejek Baekhyun dengan wajah datar.
Chanyeol seakan tuli. Dia tetap tersenyum sesekali terkekeh sambil terus melajukan mobilnya pelan. Sementara Baekhyun yang duduk anteng di sebelah hanya memandang lurus pada jalanan depan mobil.
Mata bulat nan tajam itu melirik kaca atas mobil. Tampak wajah Luhan yang memerah padam dengan Sehun di sebelah yang ikut menjadi penumpang dadakan mobil Chanyeol. Meski tadi pria berandal itu sudah berkali-kali menolak pulang bersama si kacamata. Tapi siapa yang bisa mengelak puppies eyes Baekhyun?
Tidak ada tentu saja. Bahkan seorang Ketua penguasa sekolah, Park Chanyeol sekalipun.
"Baby, sebenarnya aku berniat mengajakmu jalan-jalan sebentar tadi. Tapi dua orang pengganggu ini malah kau suruh ikut. Mereka mau kuturunkan dimana?" tanya Chanyeol tidak tahu diri pada Baekhyun.
Baekhyun memutar kepala dengan tatapan sengit. Apa Chanyeol benar-benar tiang listrik idiot yang tidak punya sopan santun? Kenapa dia bisa berkata seenak jidatnya seperti itu tanpa sungkan pada Luhan dan Sehun?
"Emm.. Chanyeol-ssi. Sebaiknya sampai di sini saja. Aku bisa naik taksi nanti—"
"Jangan Sehun-ah! Sudah biarkan saja apa kata si bodoh ini" cegah Luhan menggenggam erat lengan Sehun seakan pria itu hendak meninggalkannya di dunia ini sendirian. Padahal Sehun hanya sekedar menyarankan. Belum berniat untuk beranjak dari tempatnya sedikit pun. Alhasil mereka kembali canggung, malu-malu kucing kembali.
"Kalau begitu turunkan aku! Siapa juga yang mau pergi jalan-jalan bersamamu?" sungut Baekhyun sambil membuka paksa pintu mobil.
Chanyeol panik karena Baekhyun memberi getsure seakan-akan dia akan melompat dari mobil. Maka dia memberhentikan mesin mobil dengan cepat dan men-auto lock semua pintu.
"Oke oke aku tidak akan menurunkan mereka Baby" pasrah Chanyeol mengangkat kedua tangannya.
"Ya! Jangan panggil 'Baby'!"
"Lalu apa? Baeby kah?" godanya menaikkan sebelah alis.
Baekhyun tetap cemberut membuat Chanyeol semakin gemas. Dia mengusak rambut pria di hadapannya dan menarik kepala belakang Baekhyun dengan cepat sampai kedua belah bibir itu bertemu.
Sontak mata penumpang di kursi belakang membelalak kaget. Luhan sampai nyaris memekik jika dia tidak ingat ada Sehun di sampingnya. Pasalnya baru kali ini dia melihat orang ciuman live secara terang-terangan.
"KYAAA! SIAPA SURUH KAU MENCIUMKU BODOH?!" pekik Baekhyun menutup mulutnya menahan malu, sesekali menoleh pada HunHan di belakang. Chanyeol hanya balas tertawa keras.
"Hukuman-mu karena belum menjawab perasaanku" tutur pria itu dan sukses memberhentikan lolongan Baekhyun.
Seketika suasana hening.
Sehun dan Luhan tetap diam. Tentu saja masih tercengang dengan kejadian yang baru mereka lihat barusan. Sedangkan Chanyeol menatap Baekhyun dengan senyuman maklum. Tenang saja. Tidak perlu terburu-buru. Dia pasti akan mendapatkan pria ini dengan sendirinya. Itulah yang ada di pikiran Chanyeol sekarang.
"Uhh— Sebaiknya kita pulang saja. Aku harus kerja hari ini" lirih Baekhyun sangat pelan lalu memainkan jarinya.
Chanyeol kembali menyalakan mesin mobil.
"Baiklah, Baekki-ah"
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Pria jangkung itu enggan beranjak dari kursinya sejak menemani si kecil bekerja empat jam yang lalu. Chanyeol terus memandang gerak gerik calon kekasihnya dengan tekun. Matanya begitu setia berlabuh pada Baekhyun yang mondar-mandir melakukan pekerjaannya.
Akhirnya suasana mulai sepi. Para pelanggan maniak dunia malam itu lebih tertarik pada atraksi DJ di bawah sana. Sehingga pekerjaan Baekhyun sedikit melonggar.
"Kemarilah" ucap Chanyeol melihat dia sudah senggang dan Baekhyun pun mendekati kursinya.
"Minum ini" Chanyeol menyerahkan segelas cappuccino yang di buatkan Baekhyun tadi.
"Tidak perlu. Aku tidak haus"
"Ayolah. Aku tahu kau kelelahan Baby"
"Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu Chanyeol" keluh Baekhyun.
Chanyeol menumpu pipinya dengan sebelah tangan. "Wae? Kenapa tidak boleh?"
"Aku tidak suka"
"Tapi aku suka"
"Ya! Sudah kubilang aku tidak suka. Jangan seenaknya mengganti nama orang"
"Tapi itu panggilan special-ku Baekki. Jarang ada orang yang kupanggil dengan panggilan spesial loh. Hanya kau saja" tutur Chanyeol sambil tersenyum tampan.
Baekhyun mendengus. "Kita belum resmi berpacaran. Jadi jangan bertindak seolah-olah memang begitu"
"Kalau begitu cepat jawab pernyataanku sekarang!" desak Chanyeol dengan wajah berbinar.
Baekhyun menggeleng malas. "No way Mr. Park" tukasnya dan kembali meninggalkan pria itu sendirian.
Chanyeol terkekeh kecil lalu kembali membuka mulut. "Istirahatlah sebentar Baekki. Yang kerja di sini bukan cuma kau saja"
"Tapi shift-ku belum selesai sebelum jam setengah sebelas" jelas Baekhyun dan wajah Chanyeol berubah. Pria mungil ini menghela nafas berat. Sebenarnya dia sudah menyuruh Chanyeol pulang sejak mereka sampai di bar. Tapi sayang orang ini sangat keras kepala sama seperti dirinya.
Chanyeol bilang dia ingin menjaga Baekhyun. Takut ada pria mesum yang menggodanya lagi dan Chanyeol tidak rela jika itu terjadi. Maka dengan sabar dia menunggu Baekhyun selesai bekerja setelah itu berniat menghantarnya pulang.
"Baiklah. Tapi hanya lima menit saja ya" ucap Baekhyun mengalah.
Pria itu tersenyum manis, mengangguk gembira. Baekhyun sampai terkekeh menanggapinya. Kenapa Ketua penguasa sekolah ini tiba-tiba terlihat seperti anjing kecil yang manis? Kemana perginya si wajah sangar super galak?
"Kau benar-benar telah bekerja keras" puji Chanyeol sambil menyodorkan gelasnya pada Baekhyun. Pria mungil itu tersipu. Mau tidak mau akhirnya dia meminum cappuccino Chanyeol karena dia sedang tidak ingin berdebat lagi.
"Tentu saja. Aku tidak ingin mengecewakan ibuku" papar si kecil mulai menyerup minuman Chanyeol dengan sikut bertumpu pada meja Bar.
Chanyeol tersenyum sambil mengusap lembut surai krem itu. "Kau tidak pernah mengecewakan ibumu. Karena kau sangat hebat Baek. Ibumu pasti sangat menyayangimu dan beruntung punya anak baik sepertimu"
Pipi Baekhyun merona malu mendengar penuturan Chanyeol. Namun dia berusaha mengatur ekspresinya agar tidak terlihat. "Hem, begitulah. Ibumu juga pasti akan menyayangimu jika kau berlaku baik Yeol"
Sontak ucapan Baekhyun membuat Chanyeol terdiam dengan mata sedikit melebar. Bingo! Baekhyun tepat sasaran. Dia sengaja mengatakan hal itu untuk memancing ekspresi Chanyeol dan dia mendapatkannya.
"Sebenarnya aku selalu ingin bertanya 'kenapa?'. Meski aku tahu itu privasi bagimu dan mungkin tidak seharusnya kau bercerita jika kau tidak suka. Tapi melihat wajahmu yang memendam sesuatu kalau boleh jujur… Aku—tidak suka Yeol" jelas Baekhyun menatap serius padanya.
Chanyeol hanya menghela nafas berat. Dia memalingkan muka. Sebenarnya dia ingin sekali mengatakannya. Hanya saja dia tidak cukup berani untuk mengulas kembali masa lalunya yang terlampau pahit.
"Jika kau ingin tahu alasan kenapa aku belum menerima perasaanmu. Itu karena hal ini"
Chanyeol mengangkat wajahnya. Dia menatap Baekhyun yang berwajah sendu kebingungan. Terlalu banyak misteri mengenai si pria bermarga Park sehingga Baekhyun merasa harus berpikir dua kali untuk menerima perasaan Chanyeol.
'Sebenarnya sejak dulu aku bertanya-tanya... Kenapa tiba-tiba kau bersikap baik padaku? Kenapa kau membelaku? Kenapa kau menyatakan perasaanmu padaku? Kenapa kau malah menyukaiku dan selalu melindungiku? Padahal dulu kita orang asing. Dan kau hanya anak berandal sekolah yang tidak tahu aturan. Kenapa sekarang kau mulai mengganggu hidupku dan mengacaukan isi hatiku?'
Gumaman itu nyaris keluar di bibir Baekhyun. Tapi keberaniannya hanya sebatas menggema di hati dan pikiran. Sebenarnya pria mungil ini tahu siapa yang dia suka. Dan dia rasa itu bukan Chanyeol. Dia terus berpendirian bahwa orang yang telah merebut ciuman pertamanya-lah yang seharusnya dia cintai.
Namun Baekhyun selalu ragu akibat perlakuan manis Chanyeol. Pria itu benar-benar berusaha keras memasuki pintu hatinya meski harus mengetuknya dengan kasar.
"Maaf" lirih Chanyeol mengambil tangan Baekhyun yang terkepal pada meja.
Menariknya mendekat. Menggenggam erat penuh perasaan. Darah Baekhyun berdesir. Tangan Chanyeol terasa sangat hangat sampai kehatinya. Genggamannya sungguh lembut. Ini seperti bukan Chanyeol yang selalu bersikap kasar pada seseorang.
"Kenapa kau minta maaf?" tanya Baekhyun dengan suara sedikit bergetar.
"Karena aku belum menjelaskan semuanya"
"Jadi kau tidak akan menarik syarat 'aku harus menciumu' jika aku benar-benar ingin mengetahui segala tentangmu? Kenapa kau sangat mesum babo?" ucap Baekhyun memajukkan bibirnya.
Chanyeol terkekeh.
"Tergantung. Jika kau bersedia. Aku akan dengan senang hati mengabulkannya"
"Ya! Kau menyebalkan! Bagaimana aku bisa membalas perasaanmu kalau aku saja tidak boleh mengerti dirimu Yeol? Kau tau? Semua hal ini begitu tiba-tiba.. Kau pasti punya alasan kenapa berlaku aneh padaku—Maksudku mengenai perasaan dan sikapmu"
Dengan gerakan cepat tangan Baekhyun tertarik hingga tubuhnya condong kedepan. Chanyeol mencium jemari lentik itu sampai memejamkan matanya. Deru nafas berat menyapu jari-jari Baekhyun yang telah merona bak apel busuk.
Sungguh! Tindakan Chanyeol selalu tidak terduga namun mampu menggemuruhkan hati si mungil.
"Maafkan aku—Aku tahu, kau pasti masih bingung dengan semua tindakanku yang sangat spontan. Tapi ketahuilah..."
Mata mereka kembali bertemu. Bola mata coklat itu seakan mengunci seluruh sudut pandangan Baekhyun. Oh, tidak. Pria ini begitu tegas menyiratkan pandangan kasih sayangnya.
"Setiap ungkapan perasaan tidak membutuhkan suatu alasan Baekhyun" tutur Chanyeol lembut.
Baekhyun menarik tangannya cepat mendengar ucapan pria itu. Lalu segera berbalik memunggunginya. Chanyeol hanya tersenyum miris. Kecewa dengan pergerakan si mungil. Tapi dia merasa maklum karena ini memang kesalahannya. Seharusnya dia mengatakan sejujurnya pada Baekhyun mengenai dirinya. Bukan terus menutupinya.
Sebenarnya pergerakan Baekhyun bukan menolak jawaban Chanyeol yang tidak berhubungan dengan pertanyaannya. Melainkan karena pipinya merona hebat sampai kedua tangannya harus mengangkupkan pipi chubby itu sekarang. Kepalanya menunduk sambil mengigit bibir. Jantungnya seakan-akan mengejek Baekhyun dengan ritme berantakan yang berdegup kencang.
'Ya Tuhan. Perasaan apa ini? Apa aku benar-benar menyukai Chanyeol?' batinnya gugup dalam hati.
.
.
.
Meanwhile at night~
Suara getaran ponsel menggema di kamar sepi yang terkesan gelap. Sudah berkali-kali bunyi bising itu mengganggu manusia yang sedang tertidur lelap akibat aktivitasnya semalam. Wanita itu merasa terganggu kemudian tangannya mengguncang bahu pemuda di sebelah. Mengingat nada dering suara bukan berasal dari handphonenya melainkan milik pria itu.
"Uhh, please angkat! Bunyinya berisik sekali!" titahnya.
Sambil menggeram tertahan pria itu bangkit dengan malas lalu mendudukan tubuh topless-nya. Mata sipitnya mencari-cari si perusak acara tidur. Padahal baru sejam dia bisa tertidur nyenyak. Tangannya merampas kasar benda kotak berkedip-kedip itu dan menggeser ke dial berwarna hijau.
"Ya! Kalau mau mengganggu orang tidur tidak harus sekarang kan brengsek?! Kau tidak tahu ini jam berapa hah?!—"
"Ah! Akhirnyaaaa kau mengangkat teleponnya!" jerit suara seorang yeoja di sebrang saja.
Pria ini mengeryit heran. "Siapa kau?!"
"Aishh... Yang benar saja! Kau melupakanku?" sungut yeoja itu lalu terkekeh.
"Ck! Kalau kau yeoja kemarin yang minta jatah tertunda maaf saja. Aku sedang tidak mood berganti-ganti"
Terdengar gelakkan tawa nyaring darinya. Namja ini mulai tersulut emosi. Bedebah macam apa yang mengganggu acara tidurnya? Sialan sekali dia.
"Aigoo... Sifat playboy-mu belum berubah yah. Apa sekarang kau sedang tidur bersama yeoja malam lagi?"
"Sudah jangan banyak omong! Siapa kau? Berani sekali menganggu tidurku. Tidak lihat kalau sekarang jam tiga pagi?"
"Ah! Maaf aku tidak tahu kalau di Seoul ternyata jam tiga pagi. Di New York sekarang sudah malam meski belum larut sih dan jalanan di sini begitu ramai seperti ada parade—"
"Infomu sama sekali tidak berguna. Lebih baik kututup saja"
"Eiiiittss! Tunggu dulu! Aku ingin memberitahumu sesuatu!" tahan sang yeoja dan pria itu hanya berdecak malas.
"Kim Jongdae~ Kau tidak melupakan siapa aku kan?" rengeknya dengan suara manja. Chen sontak membulatkan mata mendengar suara menyebalkan ditelinganya.
"Kau..."
"Hihi. Sudah kuduga hanya kau teman baikku. Maaf mengganggu tidurmu Jongdae-ah . Tapi aku hanya ingin mengatakan kalau aku akan kembali ke Seoul dalam waktu dekat. Maukah kau menjemputku nanti? Aku ingin memberikan kejutan pada Pangeranku dan aku membutuhkan bantuanmu Jongdae-ah~" tutur yeoja itu sementara Jongdae hanya terdiam menghela nafas berat.
"Nanti kupikirkan. Aku masih ngantuk dan jangan telepon lagi. Oke?" ucapnya memutuskan sambungan sepihak tanpa mengindahkan sahutan yeoja di sebrang sana.
"Oppa. Siapa yang menelpon?" tanya wanita yang tidur di sebelah Chen yang mulai merapatkan tubuhnya. Memeluk pinggang Chen possessif.
"Bukan siapa-siapa" paparnya.
Padahal dalam hati dirinya sangat terkejut mendengar penuturan yeoja tadi. Kehidupan seseorang akan mendapat masalah yang lebih besar sebentar lagi. Dan Chen sudah terlibat kedalamnya. Pria itu merasa harus memesan peti mati sekarang juga. Dia tidak yakin akan bisa bertahan lama lagi hidup di dunia ini.
'Sial... Dia kembali lagi' batinnya lelah.
-BaekYeol Area-
.
.
.
.
Rumor mengenai penguasa sekolah yang menyukai murid kelas menengah bawah tersebar luas dengan cepat. Desas desus itu cukup terdengar sampai ketelinga makhluk yang tidak lain sedang di gosipkan.
Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol?
Tapi pria yang menyandang gelar Ketua penguasa sekolah tidak menggubrisnya. Atau bahkan mencari si mulut ember yang menyebarluaskan berita palsu. Sudah sangat jelas itu bukan sekedar berita palsu.
Ingat waktu itu Chanyeol sudah berteriak mengancam akan mematahkan leher siapapun bagi yang berani menyentuh (yang hampir) miliknya saat dikantin? Meskipun begitu tetap saja masih saja ada saja murid yang nekat menjahili Baekhyun-nya. Ketua Park juga belum menyadari, kalau beberapa murid tidak menyukai hubungan yang sedang mereka jalin. Tentunya kalian tahu siapa yang sehyun maksud kan? /ups
"Baekhyun-ah. Kemarin kau membolos?"
"Huh?"
Baekhyun menoleh. Sebenarnya dia tidak fokus pada ucapan seseorang di sebelahnya tadi.
"Ani… tidak apa-apa. Kupikir bagus juga sesekali kau menghabiskan waktu bersama—namjamu, hehe"
"Kau melihatnya Kyung?" tanya Baekhyun terkejut dengan semburat malu di wajahnya.
Kyungsoo mengangguk.
"Ya. Dari kelasku terlihat jelas" paparnya tersenyum tipis.
Baekhyun menepuk jidatnya sendiri lalu menunduk gusar. "Aigoo… Si Park Babo itu. Ah! Chanyeol bukan namjaku. Aku belum menerima perasaannya Kyungie"
"Kenapa?" heran Kyungsoo raut wajahnya sulit diartikan.
Baekhyun terlihat berpikir.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku—"
"Yap! Olahraga hari ini cukup sampai disini. Bagi yang bertugas piket harap bawa bola-bola ini kegudang!" titah Choi Seonsangnim dan semua murid pun bubar. Begitupun Kyungsoo yang pamit duluan.
Pelajaran kedua kelas 12-2 dan 12-3 adalah olahraga. Mereka sengaja bermain basket indoor karena cuaca semakin menipis. Tentu para murid borjuis itu tidak ingin mati kedinginan akibat udara keseharian yang kian berubah.
Menurut mereka karena telah membayar mahal pada sekolah ini. Mereka berhak meminta keadilan. Semua yang berhubungan dengan SM SHS adalah uang. Maka tidak heran para penguasa sekolah yang notabane-nya penyumbang dana terbesar selalu berhak untuk berbuat seenaknya.
Lain lagi dengan si kecil yang terlampau hidup dengan kesederhanaan. Sekarang dia kebagian tugas piket. Sebetulnya Baekhyun punya teman sepiket tapi sayang. Anak-anak orang kaya itu tidak mau mengotori tangan hanya sekedar menaruh bola-bola basket digudang.
"Baekhyun-ah. Aku minta bantuanmu lagi yah. Maaf tanganku tadi terkilir. Annyeong!" sahut Yura dan Minah yang segera berlari meninggalkan Baekhyun di gym sendirian.
"Hahh… Baiklah. Apa boleh buat. Sehun juga pergi dipanggil guru. Aku sendirian deh"
Baekhyun mulai bergerak memunguti bola-bola yang berceceran satu persatu. Meski harus bersusah payah karena tidak sanggup membawa lima bola sekaligus. Tidak berapa lama Baekhyun selesai dan menaruh bola-bola itu di keranjang. Saking rajinnya dia mengambil kain lap dan mengelap beberapa bola yang sedikit berdebu.
"Yap! Sudah bersih. Saatnya kembali kekelas"
KLEK!
Baekhyun menoleh. Sepertinya tadi terdengar sesuatu. Kakinya berjalan menuju pintu.
"Omo!"
KLEK! KLEK! KLEK!
"Omo! Pintunya! Kenapa bisa terkunci?" herannya kemudian menarik turunkan kembali sang gagang pintu.
"Ya! Kenapa tidak terbuka? Apa tertutup otomatis ya? Tapi kuncinya kan masih menggantung di lubang kun—" Baekhyun terdiam ketika mendengar beberapa suara yang asing.
"Sudah biarkan saja. Dia tidak tahu ini" bisik suara seseorang.
"Yaaa! Hallo apa ada orang diluar?! Tolong keluarkan aku! Aku terkunci!"
Dan satuhan Baekhyun membuat lampu gudang gym padam. Mulut lebarnya diam. Tubuhnya kaku ketika lampu itu mati. Tamatlah sudah. Baekhyun bukan manusia yang tahan dengan ruang sempit dengan tempat gelap. Apalagi tertutup.
.
.
.
Bel istirahat kedua berbunyi. Sudah jam dua belas tepat dan Chanyeol tidak sabar untuk menemui Baekhyun lagi. Kaki jenjangnya melangkah kekelas sebelah. Tatapan pria itu memang ganas. Namun hatinya sedang berbunga-bunga seperti orang bodoh yang terlampau jatuh cinta pada seorang malaikat cantik.
Seketika kelas berubah hening saat Chanyeol menampakkan wajahnya di depan pintu. Mata nyalangnya mengedarkan pandangan dan berhenti pada Sehun yang sedang menulis. Tanpa pikir panjang lebih baik bertanya pada lelaki itu. Tidak ada salahnya bertanya pada si kacamata dari pada repot mencari si kecil. Lagipula beberapa hari yang lalu mereka sudah berbaikkan di depan banyak murid yang menjadi saksinya. Dan tentu saja dengan paksaan Luhan juga tatapan tajam Baekhyun.
"Oh Sehun" ucap Chanyeol dengan suara berat.
Sehun menoleh pelan. Kepalanya langsung menunduk takut. Mau apa Chanyeol menemuinya?
"Iya?"
"Kau melihat Baekhyun? Kemana dia?" tanya Chanyeol menurunkan volume suara agar pemuda ini tidak begitu takut padanya.
"A— aku tidak tahu Chanyeol-ssi. Tadi Baekhyun tidak kembali ke kelas sejak pelajaran olahraga berakhir"
Mata Chanyeol membulat.
"Apa maksudmu? Kau ini kan temannya! Kenapa kau malah tidak tahu dan kau meninggalkannya sendirian?!" tukas Chanyeol mulai emosian. Sehun tergagap berusaha menjelaskan.
"T—tadi aku sedang di panggil Seonsangnim, Chanyeol-ssi. Jadi aku tidak tahu" papar Sehun dan Chanyeol berkacak pinggang mendesah kesal.
"Kau sudah mencarinya?" Sehun menggeleng.
"Selesai olahraga semua langsung masuk kelas karena ada pengumuman dari Kim Seonsangnim" penuturan Sehun kembali membuat Chanyeol menghela nafas.
Pria itu langsung melangkahkan kakinya keluar. Dilihatnya Chen, Kai, dan Luhan yang berjalan menuju kearahnya setelah mereka keluar kelas.
"Oh, kau sudah menemukan Baekhyun?" tanya Luhan.
Chanyeol hanya diam dengan raut kesal. Luhan merasa paham akan raut jelek saudaranya. Kepalanya berputar mencari keberadaaan Baekhyun. Namun ketika sosok tinggi itu muncul dari kelas 12-2 matanya berhenti memandang sekitar. Satu senyuman terlampau manis merekah di bibirnya.
"Sehun-ah!" sahut Luhan dan Sehun terkejut.
Luhan berlari kecil mendekati si kacamata. Sedangkan yang di panggil tadi bereaksi super gugup entah kenapa malah merapat pada pinggiran pintu kelas. Kepala Sehun menunduk setelah para penguasa sekolah yang lain perlahan mendekatinya.
"Mana Baekhyun?" tanya si manis dengan senyum ramah. Sehun menggeleng tidak tahu sambil memegangi kacamatanya.
"Sepertinya dia hilang" celoteh Chen asal.
Semua yang disana terdiam dan saling berpandangan. Siapa tahu ucapan santai Kim Jongdae ada benarnya. Maka dari itu tanpa aba-aba lagi. Chanyeol berlari mencari Baekhyun.
.
.
.
Sosok jangkung itu mulai berpeluh. Berkali-kali dia men-shoot tree point dengan sempurna. Tingginya sangat pantas menjadi atlet basket meski dia sudah berhenti akibat cedera ringan.
Kris, salah satu penguasa sekolah yang paling dingin selesai dengan rutinitasnya. Yaitu bermain basket seorang diri. Kadang dia melakukan hal ini jika sedang stress. Dan kali ini dirinya butuh pelampiasan akibat rasa rindunya pada sang kekasih, Tao.
Pria itu men-dribble bola sesekali dan mulai berlari. Melakukan shoot lay up tanpa ada kesalahan sedikitpun. Lagi-lagi bola basket itu meringsuk masuk kedalam ring. Kris milik jam tangannya. Sudah hampir bel. Berapa lama dia menghabiskan waktu istirahat di sini?
Kakinya melangkah keruang penyimpanan peralatan olahraga atau sebut saja gudang gym. Sebenarnya tadi Kris kemari bukan untuk bermain basket. Namun ada satu bola nganggur yang luput dari mata Baekhyun untuk di taruh ketempatnya. Maka dia tidak menyia-yiakan bola basket itu.
Ketika hendak membuka pintu. Sang kunci berwarna perak terpasang manis di lubangnya. Kris mengerutkan alisnya mendengar sayup-sayup isakkan pilu yang terendam. Dia memutar sang kunci tanpa ada rasa curiga sedikit pun.
Hal pertama yang dia lihat adalah ruangan ini lembab dan gelap. Lalu matanya menangkap sosok mungil yang meringkuk dengan kepala terendam diantara lututnya. Orang yang menangis tersedu-sedu itu mengangkat kepalanya merasakan seberkas cahaya dari luar. Mata Kris membulat meilhat ternyata yang terkurung sambil menangis disini adalah Baekhyun.
"Kau.. Hey, kau kenapa bisa disi—" belum sempat Kris melanjutkan kata-katanya Baekhyun sudah memeluk Kris erat.
Tubuhnya gemetar di pelukan pria itu. Kris yang kebingungan harus merespon apa hanya mengelus pelan si surai krem. Menenangkan Baekhyun sambil sesekali bertanya kenapa dia bisa ada di dalam gudang yang gelap sendirian.
"Terima kasih Kris-ssi.. Sepertinya tadi ada yang sengaja mengunciku. Aku phobia ruang tertutup... hiks" isak Baekhyun.
Kris mengangguk. Lalu membawa Baekhyun keluar gudang dengan hati-hati. Karena tubuh Baekhyun mulai mendingin dan gemetaran dengan wajah basah akibat air mata.
Mereka sudah berada di taman sekolah yang sepi. Sepertinya para murid lebih suka masuk kelas daripada kena omel. Tapi Kris dan Baekhyun malah duduk di bangku taman sambil menyeruput sekaleng kopi dan susu strawberry. Meski keheningan panjang menyelimuti suasana canggung mereka berdua.
"Kris-ssi.. Maaf merepotkanmu lagi" ucap Baekhyun membuka percakapan.
"Bukan masalah. Lagipula kenapa kau tidak berteriak minta tolong tadi?"
Baekhyun mengigit bibir.
"Itu— Aku sebenarnya berusaha tadi. Tapi.."
"Tapi?"
"Tapi aku terlanjur takut dan aku lapar.." lirih Baekhyun menahan malu. Kris terkekeh kecil menanggapi ucapan polos pria kecil ini. Baekhyun memang menarik. Pantas saja Chanyeol menyukainya, batin Kris.
"Dasar. Sebaiknya kau habiskan susu itu segera jika kau lapar" ucap Kris dan Baekhyun mengangguk patuh menyinggungkan senyum.
Mereka berbincang kembali setelah sekian lama semenjak kejadian Kris menolong Baekhyun. Pria mungil itu tidak sempat mengucapkan kata terima kasih lebih lanjut. Atau bahkan, mengungkapkan isi hatinya (mungkin jika dia memiliki keberanian penuh).
Tidak dapat Baekhyun pungkiri. Dia masih menyukai sosok tampan di sampingnya. Kris begitu baik dan berbeda dengan yang lain meskipun dia berwajah dingin. Jantung Baekhyun berdebar lagi mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Dan rasa sukanya baru dia sadari lebih jauh beberapa bulan terakhir kelas tiga.
"Emm… Kris-ssi. Terima kasih telah menolongku dua kali. Waktu itu… Kau… Emm.. Memberikan nafas buatan itu. Aku merasa sangat tertolong" ucap Baekhyun malu-malu. Pipinya terasa panas sekarang.
Kris mengerutkan dahinya. "Nafas buatan?"
"I—iya. Kau waktu aku terjatuh ke kolam. Kau, memberikan nafas buatan itu—"
"—Sepertinya kau salah paham Baekhyun-ah"
Baekhyun mengangkat kedua alisnya.
"Maksudmu?"
"Aku tidak memberikan.." Kris berdehem sejenak. Pembahasan ini benar-benarkan canggung. Terkecuali Baekhyun yang meminta penjelasan dengan cara mengejapkan mata polosnya.
"Sepertinya kau salah paham. Bukan aku yang menolongmu memberikan nafas buatan waktu itu Baekhyun" papar Kris yang sukses membuat Baekhyun melongo hebat.
"Aku hanya mengantarkan kau yang tidak sadar ke UKS karena Luhan saat itu menyuruhku"
Baekhyun sangat shock bagai tersambar petir. Padahal selama ini dia berpikir bahwa Kris-lah penolongnya. Inilah salah satu alasan mengapa dia menyukai Kris. Karena ciuman pertama Baekhyun telah di ambil oleh pria ini. Namun penjelasan Kris semakin membingungkan Baekhyun.
'Kalau bukan Kris. Lantas siapa yang merenggut ciuman pertamaku?' batin Baekhyun mencelos.
Ternyata selama ini dugaan Baekhyun salah telak. Dia bahkan tenggelam dalam kesalah pahaman cinta maupun presepsinya sendiri. Benar-benar bodoh. Raut wajah Baekhyun begitu kacau saat ini. Seperti orang yang di vonis mengidap penyakit kanker hati. Menyedihkan..
Kris akhirnya membuka mulut melihat respon Baekhyun bagai manusia tidak bernyawa. Meskipun ini hanya dugaannya. Tapi siapa lagi orang yang disana waktu itu bersama Baekhyun selain pria itu?
.
.
.
.
Sekali lagi Chanyeol tidak menyerah. Sifat keras kepalanya tidak bisa di jinakkan layaknya kuda liar dengan mudah. Setelah tahu bahwa Baekhyun kemarin pulang duluan meninggalkannya. Chanyeol segera menghampiri kerumah Baekhyun. Namun pria mungil itu tidak langsung pulang dan malah pergi bersama seseorang.
Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan Kris?
Chanyeol sangat frustasi seharian. Berkali-kali Tuan Park mencoba menelponnya, mengiriminya pesan tapi Baekhyun tidak kunjung merespon sikap manisnya. Sampai akhirnya malam tiba Baekhyun baru pulang tanpa memberi kabar pada Chanyeol.
Hal itu semakin menyulut emosi Tuan Park ketika hari berikutnya Baekhyun bertingkah acuh seakan Chanyeol adalah tiang listrik di pinggir jalan. Terabaikan.
Mereka memang belum resmi terikat menjadi sepasang kekasih. Tapi usaha Chanyeol begitu gencar mendekati Baekhyun. Menelponnya. Menjemputnya kerumah. Bahkan mengajaknya makan siang. Namun tidak ada repon balik dari si mungil.
Sampai saat ini terhitung sudah sejak pernyataan cintanya di bar malam itu. Hampir seminggu. Perasaan Chanyeol di gantungkan bagai jemuran yang tidak kunjung kering oleh Baekhyun.
"Oh Sehun. Kau lihat Baekhyun?" Sehun menggeleng ketika tidak sengaja bertemu di lorong kelas.
"Aishh… Kemana lagi dia?"
"Aku tidak tahu" Sehun mulai membalas ucapan Chanyeol tanpa ada rasa takut lagi berbicara dengannya meski dia masih sungkan.
"Kenapa dia selalu menghilang? Sejak dia pulang malam hari itu Baekhyun menjadi aneh. Apa kau tahu dia pergi bersama siapa? Tunggu—Apa orang itu kau?"
Sehun menggeleng. Sebenarnya dia tahu. Tapi dia terlihat ragu memberitahukan curhatan Baekhyun malam itu pada pria sangar ini. Pasalnya Chanyeol pasti tidak akan menyukai cerita Sehun dan langsung menghabisi si namja yang telah menghabiskan waktu bersama pria manisnya.
"Waktu itu dia pulang lebih awal—Katanya bersama Kris"
"Kris?" ulang Chanyeol tidak percaya.
"Iya. Mereka pulang bersama" tutur Sehun polos.
Tidak tahu kalau Chanyeol bertanya-tanya dalam hati sambil sesekali menggeram kesal. Mau apa Kris dengan Baekhyun-nya?
"Chanyeol-ssi sebaiknya kau harus mengetahui sesuatu sebelum berhubungan dengan Baekhyun" ucap Sehun mengingatkan.
Entah kenapa dia merasa Chanyeol harus tahu hal ini. Demi kebaikan perasaan Baekhyun dan juga Chanyeol.
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
"Baekhyun masih menyukai Kris"
.
.
.
.
TBC
Maaf Sehyun update lama ffn-nya bener-bener minta di gebukin sekampung nih -_- Makanya kalau sehyun update lama salahin ffn-nya yah. Soalnya dia yang bikin lamaaa /plakkk
Oya ternyata dari para readers ternyata banyak yang ngeh yah siapa mantan Yeol ._. Padahal sehyun sengaja bikin kalimatnya rada musingin (?) biar kalian gak ngeh. Ternyata ada beberapa yang jeli :D
Daebak!
Soal Kaisoo hubungan mereka akan mengejutkan nantinya! /backsound horror
Juga HunHan bakal muncul kok. Cuma kalau jarang maklum aja yah. Ini kan ff BaekYeol. Nanti sehyun coba bikin HunHan deh~
Buat yang masih nanya NC sehyun cuma bisa perkirakan sekitar 2/3 chap lagi deh. Eh, gatau deh~
.
.
Chap 10 [sneakpeek (?)]
"Maaf Baekhyun-ah. Aku harus melakukan ini. Aku tidak terima Chanyeol dekat denganmu" ucapan sinis itu membuat Baekhyun merinding.
Kakinya sudah di ambang batas. Semuanya terlambat bagi Baekhyun.
"Tidak tunggu dulu!"
Don't be a silent readers yah chingudeul. Sehyun udah usaha setiap hari coba login ke ffn and its not easy in the middle of bussiness...
So, mind to review?
