Ada pemberitahuan sedikit di akhir cerita. Mohon di baca yah readers! Kamsahamnida /bow/
We Are One
[Play BGM]
Hyorin – Don't Love Me
Enjoy
.
.
.
.
.
-BaekYeol Area-
"KYAAA!"
Baekhyun menjerit ketakutan setelah mendobrak pintu UKS yang terlihat menyedihkan.
Sehun menatap Baekhyun kaget. Sama halnya dengan Luhan, namun wajah namja itu terlihat menahan sakit. Sementara Chanyeol meneguk ludahnya kasar.
"Ahh.. Sehun-ah" ringis Luhan kemudian Sehun menoleh. Melakukan kembali pekerjaannya. Sementara Baekhyun menampakkan raut cemas sambil sesekali meringis saat melihat Luhan mengeluarkan banyak darah. Ini juga salah satu alasan mengapa dia berteriak heboh.
Tangan Sehun gemetaran ketika mencabut sebuah jarum dari dalam perpotongan antara lengan atas dan lengan bawah Luhan. Pemuda manis itu sempat menatap Sehun beberapa kali dengan senyuman terpana meski dia merasa kesakitan tapi dia kagum pada kemampuan pria ini.
Luhan kembali meringis pelan. Sehun meniup-niup bekas suntikkannya. Lalu menempelkan satu kapas bersih pada lengan Luhan dan memplesternya dengan hati-hati.
Kemudian pandangannya beralih pada Baekhyun dan Chanyeol yang berwajah lebih kacau dari mereka. Keringat di sekitar pelipis juga debaran jantung tidak karuan. Kondisi mereka begitu buruk akibat pikiran laknat Park Chanyeol yang membuat panik mereka berempat. Padahal Sehun dan Luhan hanya melakukan simulasi pengambilan sample darah. Tidak lebih.
"Ya ampun Baekki kau membuatku kaget! Hampir saja Luhan-ssi kehabisan darah. Maafkan aku Luhan-ssi. Aku benar-benar pemula" ujar Sehun sesekali mengelus dadanya lalu tersenyum kikuk pada Luhan.
Pria manis itu menggeleng senang. "Aniyo Sehun. Kau hebat! Mungkin kau pantas jadi dokter hehe" senyum Luhan lalu menatap Baekhyun dan Chanyeol dengan ekspresi berbeda.
"Dan apa yang kudengar tadi? Seks? Yang benar saja! Kami tidak melakukan apapun Baekhyun-ah!" sahut Luhan dengan semburat merona begitu pun Sehun.
"Ahh… Maaf. Habis tadi dari luar suara kalian benar-benar ambigu" tuturnya tersenyum canggung sambil menggaruk rambutnya tak gatal.
"Aku tahu semua ini pasti karena Chanyeol kan? Jika bukan dia kau pasti tidak akan histeris seperti ini. Lagipula Sehun hanya menyuktik-ku kok. Bukan hal macam-macam" ucap Luhan menatap tajam Chanyeol yang membuang muka.
"Hahhh… sudahlah aku lapar! Sebaikanya kita segera pergi!" jawabnya asal kemudian berbalik dan menutup mulut.
Sial! Ternyata bukan seks. Sebenarnya dia sudah menduga akan hal itu. Mana mungkin para bedebah polos seperti Sehun dan Luhan sudah mendahuluinya melakukan tahap kedewasaan? Mereka harus melewati seribu tahun terlebih dahulu baru mengenal apa itu arti bercinta. Well, terkadang pikiran Park Chanyeol memang terlalu jauh sampai-sampai menyusahkan banyak manusia.
Tapi suara desahan Luhan yang dia bayangkan menjadi Baekhyun membuat tubuhnya menegang. Ini bukan hal baik. Hasrat Tuan Park sudah teransang sedikit. Apalagi melihat ekspresi malu-malu Baekhyun saat berjalan keluar UKS.
Uhh, tahanlah Park Chanyeol!
Keempat namja itu telah sampai di sebuah restoran mewah—milik Chanyeol dulu saat pertama kali mengajak Baehkyun kencan. Tanpa malu lagi Baekhyun menggandeng tangan Chanyeol yang berjalan mendahuluinya. Luhan dan Sehun di belakang mereka sempat tersenyum kecil menanggapi gerakan-refleks-tak-sadar-Byun-Baekhyun.
"Silahkan"
Tidak berapa lama pesanan datang dan mereka mulai makan sambil sesekali melempar gurauan cerita. Namun beda halnya dengan Ketua Park yang tetap diam. Sebenarnya bukan apa-apa. Hal ini—double date, sudah terjadi beberapa kali! Hanya saja pria jangkung ini terdiam karena sedang menahan sesuatu.
"Ah aku lupa! Chanyeol kau bawa mobil kan? Habis ini aku harus pergi ke suatu tempat dengan Sehun. Bisakah kau mampir ke apartemen Kai dan menghantarkan kunci loker juga black card ini? Dia menitipkannya padaku kemarin" jelas Luhan. Chanyeol meraih kunci dan kartu itu dengan malas. Sedangkan Baekhyun menatap tercengang. Mereka memang benar-benar anak orang kaya.
"Kau mau kemana Luhan-ssi?" tanya Baekhyun sambil tersenyum pada Luhan dan Sehun yang saling berpandangan.
"Emm… Hanya ke perpustakaan kota saja kok. Kalian mau ikut?"
"Ah! Tidak! Aku sudah pernah kesana sekali dan jangan mengajakku lagi bersama kalian! Tempat itu bukan tempat hiburan yang menyenangkan!" tolak Chanyeol cepat.
Luhan mendecih. "Tentu saja bodoh! Perpustakaan bukan klub malam. Dasar mesum! Byun Baekhyun sebaiknya kau jangan mau jadi kekasihnya. Dia sangat menyebalkan"
"Ya Lu! Apa yang kau katakan barusan? Kau tidak lihat kelakuanmu dengan Oh Sehun saat di UKS?"
Sehun dan Luhan terdiam menunduk malu. Namun Baekhyun segera mencairkan suasana. "Sebenarnya bukan mauku juga Luhan-ssi. Tapi Chanyeol—" Baekhyun menghentikan ucapannya lalu melirik kekasihnya sekilas. Chanyeol menoleh padanya dengan tatapan tidak percaya.
"Baby! Kenapa kau bicara begitu?!" pekik Chanyeol histeris sedangkan Baekhyun dan Luhan tergelak. Sehun? Dia hanya tersenyum menanggapi sikap kekanakan si pria ganas.
"Kris lebih baik" tutur Luhan dan Sehun mengangguk.
"Benar" timpal Baekhyun.
Chanyeol menggeram tertahan. "Sudah lebih baik kita cepat pergi dari sini Baek. Dua bedebah polos ini baru saja mengotori otakmu tadi dengan desahan menjijikan mereka. Sampai kau jadi berkata aneh-aneh Baby hhh.." ejek Chanyeol menarik tangan Baekhyun pergi. Tidak lupa dia memperlihatkan senyum penuh kemenangan karena telah membuat canggung kembali suasana kedua namja itu.
Wajah Luhan dan Sehun memerah padam. Mereka memang duduk bersebelahan tapi atmosfir di sekeliling mulai berubah—akward. Jujur, Luhan sendiri bingung kenapa suaranya malah terdengar seperti desahan di telinga Baekhyun dan Chanyeol? Padahal dia hanya merintih biasa. Mungkin itu efek dari sentuhan lembut seorang Oh Sehun?
Luhan membuat pergerakan bergerak terlebih dahulu. Namun, tiba-tiba tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja. Sontak kedua namja itu mengangkat wajahnya. Menghasilkan semburat merah pekat dari Sehun maupun Luhan.
"Aishhh… Semua karena Chanyeol! Kenapa dia bisa mengira kalau kita habis melakukan—eumh… Ahh, sudahlah lupakan itu Sehun-ah" lirih Luhan frustasi menatap Sehun malu-malu. Sehun mengangguk paham.
"Emh, Luhan-ssi memang kau tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya?" pertanyaan Sehun membuat matanya membulat.
"Tentu saja tidak Sehun! Aku masih perjaka" jawabnya cepat.
"Begitukah?"
"Tentu! Tunggu. Apa kau—sudah pernah?" raut wajah Luhan berubah sendu. Sehun menggeleng cepat beberapa kali. Luhan bergumam.
"Aku belum pernah melakukan hal seperti itu. Mungkin jika ciuman—pernah" tambah si pria cantik dengan wajah merona. Sehun tersenyum tipis. Ternyata Luhan sudah pernah berciuman sebelumnya.
"Kalau kau? Apakah sudah pernah berciuman sebelumnya Sehun?" tanya Luhan sambil mengigit bibir.
"Dibibir?" tunjuk pria itu pada bibirnya sendiri.
Luhan mengangguk ragu. Sehun tersenyum lembut dan menggeleng lagi.
"Aku belum pernah melakukannya" tukas Sehun.
Dan suasana kembali hening. Namun Luhan mulai membuka mulut dengan kepala menunduk.
"Sehun-ah"
"Ya?"
"Apa—ehem. Apa jika ada yang menawarkan untuk mengajarimu cara berciuman. Apakah kau mau melakukannya?" tanya Luhan hati-hati.
Pria berkacamata itu sedikit terkejut mengangkat kedua alisnya. Sebenarnya dia tidak mau jika melakukan hal itu bukan dengan orang yang di cintainya. Tapi ekspresi penasaran Luhan membuatnya gemas. Setidaknya bercanda dengan Luhan bukan hal buruk. Sehun sudah nyaman dengan pria cantik ini.
"Mungkin" jawabnya singkat lalu meneguk gelasnya.
"Kalau begitu—" Luhan mulai mendekatkan tubuhnya pada Sehun. Mengambil kacamatanya. Melepaskannya dengan debaran jatung hebat. Lalu mendekatkan wajahnya pada pemuda itu.
CUP
Satu kecupan mendarat pada pipi putih Sehun. Pria itu melebarkan matanya—terkejut. Lalu memegangi pipi yang baru saja di cium si manis ini. Jantungnya berdegup kencang. Sikap Luhan membuatnya tercengang.
"Kalau kau tidak keberatan. Aku mau mengajarimu" tutur Luhan dengan semburat merah.
.
.
.
Chanyeol dan Baekhyun sudah sampai di apartemen Kai ketika matahari sudah terbenam sepenuhnya. Mobil Chanyeol terparkir di basement. Namun mereka harus berjalan cukup jauh menuju lift.
"Kenapa Kai tinggal di apartemen sendiri Yeol? Aku tahu kalian anak orang kaya. Tapi apa tidak sebaiknya dia tinggal di rumah keluarganya saja? Bersama keluarga itu lebih baik" tutur Baekhyun ketika memasukki lift dan Chanyeol tersenyum lembut.
"Kai sudah tidak punya orang tua Baekki"
Baekhyun terdiam sedikit kaget.
"Be—begitukah? Maaf.." lirihnya.
"Tidak apa-apa. Lagi pula dia di asuh oleh pamannya yang tinggal di Jepang dulu. Kami semua juga mengalami hal berat masing-masing" tutur Chanyeol dan Baekhyun menggenggam erat tangan kekasihnya.
"Kai sudah tidak punya orang tua. Chen lahir dari keluarga broken home. Sementara Kris. Ayahnya sudah lama tiada dan dia hanya tinggal bersama ibunya"
Baekhyun mengangguk mendengar penjelasan Chanyeol. Lift masih bergerak membawa mereka menuju lantai dua belas. Saat bunyi berdenting mereka melangkahkan kaki mereka keluar dan Baekhyun kembali bertanya.
"Bagaimana dengan Luhan?"
"Keluarga Luhan baik-baik saja. Hanya saja ayahnya yang berkewarganegaraan Cina harus tinggal disana dengan ibunya. Sejak kecil mereka sudah jauh"
"Lalu kau?" tanya Baekhyun berharap mendapat penjelasan.
Chanyeol berhenti berjalan. Menatap kekasihnya dalam. Padahal Baekhyun sampai menahan nafas untuk mengetahui kebenaran akan kehidupan Chanyeol. Sudah tiga bulan Chanyeol masih tertutup dengannya. Namun, Baekhyun tetap sabar sampai kekasihnya mau mengatakannya sendiri.
"Aku?"
Baekhyun mengangguk polos.
"Kalau aku. Aku memilikimu Baby" ucap Chanyeol dengan senyuman manis dan mengecup gemas kening Baekhyun singkat.
"Eiishhh… Bukan itu jawabannya Yeol!" sungut si kecil merona.
Chanyeol terkekeh dan berhenti di sebuah pintu bernomer 121 dia menekan kode password pintu apartemen Kai begitu mudah. Karena pria jangkung itu sering menginap di rumah sahabatnya ini jadi dia sudah hapal betul. Tapi tetap saja hal itu tidak baik karena dia sendiri belum di persilahkan masuk saat pintu terbuka dengan sendirinya. Baekhyun membungkuk ketika menapakkan kaki mungilnya kedalam. Dia melepaskan sepatunya seperti Chanyeol lalu perlahan-lahan berjalan di sekitar ruang tamu Kai.
Apartemen Kim Jongin sungguh mewah dan luas.
"Hoii Kai! Aku datang bersama Baekhyun nih. Ada kue dan kopi untukmu. Dimana kau?"
Hening.
Tidak ada jawaban dari si pemilik rumah.
"Mungkin dia sedang tidur?" terka Baekhyun.
Pemuda itu mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju kamar Kai. Baekhyun yang penasaran mengikuti Chanyeol bak anak ayam. Gagang pintu kamar terputar dan pintu kayu berwarna coklat itu menampakkan kamar Kai yang berhawa sedikit pengap.
Chanyeol memantung di tempatnya berdiri sementara Baekhyun masih di samping pintu kamar—bersandar pada tembok. Merasa aneh dengan tatapan kekasihnya. Si kecil mulai menolehkan kepala. Matanya membulat melihat Kai sedang berciuman panas tanpa busana. Hanya tertutup selimut dengan seorang namja yang Baekhyun kenal betul siapa dia.
Namja di bawah Kai membuka mata selebar mungkin ketika melihat dua namja lain berdiri kaku di depan pintu. Tangannya yang sedari tadi melingkar di leher Kai beralih pada dada Kai dan mendorongnya panik sambil menarik selimut dengan cepat.
"Ada apa?" heran Kai lalu mengikuti tatapan mata bulat namja ini.
"Chanyeol? Baekhyun?" ucap Kai nyaris tidak bersuara.
"Baekhyun…"
"Kyungsoo apa yang kau lakukan disini?" pertanyaan bodoh terlontar dari bibir Baekhyun yang masih-sangat-terkejut.
Wajar! Siapa yang tidak terkejut melihat sahabatmu yang polos berakhir di ranjang sedang berciuman panas tanpa pakaian bersama namja yang dulunya Kyungsoo bilang dia sangat membenci para penguasa sekolah— termasuk Kai.
"A—aku…" gugup Kyungsoo.
Kali ini matanya memandang pada Chanyeol. Pria itu hanya membuang muka dan berbalik menjauh. Dada Kyungsoo terasa terhimpit saat itu juga. Kai menatap kepergian Chanyeol lalu Kyungsoo bergantian. Pemuda bermata bulat sudah menunduk dalam pada lipatan kakinya sambil mengerang menyesal.
"Chanyeol! Kau mau kemana?" sahut Baekhyun yang segera berlari menghampiri kekasihnya. Tiba-tiba Kai keluar dari kamarnya tanpa atasan tapi dia sudah mengenakan jeans.
"Yeol. Aku bisa jelaskan"
"Jelaskan apa?"
"Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan"
"Kenapa kau jadi panik begitu? Berhentilah memasang wajah seakan kiamat besok. Aku baru tahu kau telah menjadi kekasihnya selama ini. Baguslah kalau begitu"
"Bukan! Dengarkan aku dulu Yeol!"
"Tidak apa-apa. Lagipula kalian serasi. Dan aku sudah tidak peduli lagi apa pun yang berhubungan dengannya. Oh ya, ini kunci loker dan card-mu yang Luhan titipkan padaku. Kami harus pulang. Kajja Baby" paparnya menarik kembali tangan Baekhyun tanpa melihat Kai dan Kyungsoo yang berdiri di depan pintu.
Kai menoleh kebelakang. Dia mendapati Kyungsoo di balut dengan selimut miliknya. Matanya berair dan tubuhnya seketika terduduk lemas. Kai segera menghampiri Kyungsoo dan memeluknya lembut.
"Sudah tidak apa-apa Soo. Aku ada disini" ucapnya menenangkan.
Kyungsoo mengangguk.
"Gomawo Kai…"
.
.
Baekhyun sejak tadi terdiam di mobil. Kepalanya berputar mencerna percakapan Kai dan Chanyeol barusan. Namun tidak sempat dia menjabarkan semua teka teki ini dengan baik. Mobil Chanyeol sudah berhenti tepat di depan rumahnya.
Si mungil ini segera turun. Matanya terus memandang sang kekasih yang berdiri di sebelah mobil. Chanyeol mengangkat tangannya. Mengusap pelan surai krem itu dan mengecup puncak kepala Baekhyun lembut.
"Sampai besok Baby" ucapnya lalu tersenyum. Kembali masuk pada mobil sport berwarna merah.
Baekhyun terpaku. Bahkan tidak membalas lambaian tangan Chanyeol ketika mobilnya menjauh dari kediaman keluarga Byun. Si mungil ini terheran-teran dengan sikap Chanyeol. Biasanya pemuda itu lebih suka menghabiskan waktu berlama-lama sampai malam bersama Baekhyun. Lantas kenapa sekarang Chanyeol bertindak aneh dan mengabaikan Baekhyun meski dia sendiri tidak sadar?
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Baekhyun masih bergelut dalam pikirannya. Dia merasa hari ini sangat aneh. Luhan dan Sehun yang terlihat seperti err—bercinta? Namun justru sebaliknya malah Kai dan Kyungsoo yang jelas-jelas tertangkap basah habis bersetubuh. Semua ini membingungkan dan terasa sangat aneh. Apalagi sikap Chanyeol yang berbeda tadi. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikannya.
Lay merasa bosan karena pengunjung Bar tidak ramai seperti biasa. Tapi pandangannya teralihkan pada dongsaeng-nya yang sedang melamun.
"Ada apa Baeby?" tanya Lay menepuk pundak Baekhyun.
Baekhyun menghela nafas pelan.
"Ohh, bertengkar dengan Chanyeol" kekehnya. kepala Baekhyun menggeleng.
"Lalu?"
"Chanyeol benar-benar misterius" ungkap Baekhyun—masih melamun. Lay mengangguk membenarkan.
"Hyung. Apa yang harus kulakukan jika ingin dia terbuka padaku?" tanya Baekhyun sedikit sedih. Entah kenapa dia merasa gagal menjadi kekasih Chanyeol.
"Memang hubunganmu sudah sampai mana?"
Si mungil terlihat berpikir. "Sudah hampir memasuki bulan keempat"
"Heishhh, bukan itu! Sudah sejauh mana hubungan kalian—maksudku. Apakah kalian sudah berciuman?" tanya Lay dan Baekhyun mengangguk dengan polosnya.
"Hebat juga untuk anak seusiamu! Tidak kusangka bibirmu sudah tidak perjaka Baeby" salut Lay sambil mengusap gemas bibir Baekhyun yang terus menghindar risih.
"Nah, kalau kalian sudah pernah berciuman itu artinya kalian sudah paham perasaan satu sama lain bukankah begitu?" terka pria berdimple ini.
Baekhyun hanya menunduk. Dia sendiri tidak tahu apa dia sudah paham betul mengenai perasaannya. Yang jelas saat ini Baekhyun menyayangi Chanyeol. Meski terkadang pria itu terlihat menyebalkan dan masih saja bersikap kasar. Tapi itulah salah satu poin plus Chanyeol di mata Baekhyun.
"Mungkin karena kau masih pasif Baeby" tutur Lay saat menangkap perubahan ekspresi dongsaeng-nya.
Alis Baekhyun berkerut. Pasif? Apa maksudnya? Kenapa malah membahas masalah pasif atau tidaknya dalam berhubungan?
"Lalu aku harus apa?"
"Kutanya. Apa teman-temanmu sudah pernah bercinta?"
DEG!
Pertanyaan Lay membuat mata Baekhyun membulat dan pipinya merona. "Su—sudah sepertinya"
"Lalu kau?"
"Ya Hyung! Tentu saja belum!"
"Ck! Berarti ini salahmu Baek" timpal Lay. Baekhyun terlihat berpikir.
Benar juga. Selama ini dia hanya berdiam dan menerima semua perlakuan manis dari Chanyeol. Jika begitu bagaimana dia bisa meyakinkan kalau dia juga mencintai pria itu? Pantas saja Chanyeol masih belum mau terbuka padanya.
"Setidaknya kau juga harus memikirkan perasaan pasanganmu Baeby. Mungkin saja alasan lain mengapa Chanyeol masih misterius—menurutmu, karena kau tidak berusaha keras untuk mencoba mengenalnya lebih dalam" papar Lay.
Baekhyun tertohok. Selama ini dia memang biasa-biasa saja bersama Chanyeol. Perkataan Lay memang 'agak' benar. Pria mungil ini selalu saja malu-malu jika bersama Chanyeol. Bahkan terkadang cuek. Itu sudah benar-benar membuktikan bahwa Baekhyun tidak bersikap seolah mereka pasangan. Hati Baekhyun terasa nyeri tiba-tiba.
"Hyung! A—ajari aku bagaimana menunjukkan perasaanku pada Chanyeol! Aku ingin menjadi seseorang yang dapat dia andalkan meski aku tahu mungkin sulit. Tapi kurasa setelah dia mengerti. Dia pasti akan terbuka padaku. Karena itu…" Baekhyun berhenti berucap. Kepalanya menunduk dalam menahan rona malu.
Lay tersenyum manis sesekali mengusap pelan surai krem Baekhyun.
"Ya ampun! Dongsaeng-ku ini benar-benar sedang jatuh cinta! Baiklah! Aku akan memberitahumu cara untuk menyampaikan perasaan juga tindakanmu bahwa kau memang serius mencintainya"
Baekhyun mengangguk dan mendekat pada Lay dengan wajah serius.
.
.
Empat belas tahun yang lalu.
Deru mesin mobil terdengar di jalanan sepi. Kediaman megah bak istana sungguh bagaikan penjara baginya. Wanita itu menangis. Terus menangisi segala masalah yang tidak kunjung selesai. Hidupnya benar-benar melelahkan. Dia ingin kabur sekarang juga.
"Hara. Kumohon bertahanlah" pinta pria yang sedari tadi terus mengejarnya dari belakang. Pria itu tidak sendirian. Dia menggendong anak kecil berusia empat tahun yang sedang tertidur.
"Maaf…. Seunghyun. Tapi aku sudah tidak bisa. Maafkan aku" isakknya pilu.
"Kumohon…. Demi anak kita" pinta Seunghyun, suaminya sekali lagi.
Hara, si wanita yang hendak kabur menatap sendu wajah mungil yang tertidur pulas. Hatinya terasa sesak berniat meninggalkan pria kecil yang telah memberikannya julukan ibu. Dia ingin lebih lama lagi bersama permata kecilnya. Namun sayang. Takdir berkata lain. Kehadirannya tidak pernah diinginkan meski pria di hadapannya bersikukuh mempertahankan hubungan mereka.
"Tuan Seunghyun! Sedang apa anda disana?" seruan seorang bodyguard berbadan tegap dari dalam rumah membuat panik suasana di depan pagar.
"Maaf Seunghyun. Tidak ada waktu lagi. Aku berjanji akan menemuimu kembali" gugup Hara sambil menarik kopernya.
"Kumohon jangan tinggalkan aku. Apa kau tidak menyadari bahwa dia akan merasa sangat kehilangan ibunya?" Seunghyun ikut terisak pelan.
Hara diam menatap sedih buah hatinya. Tangannya terulur mengusap surai coklat gelap anaknya. Sungguh, demi apappun yang ada di dunia ini. Meninggalkan anak dan suami bukanlah pilihannya. Tapi dia tidak akan punya kesempatan lain untuk kabur dari penjara mematikan ini. Sang ibu mertua terlalu kejam padanya. Mau tidak mau dia harus pergi.
"Kau harus jadi anak baik yah. Ibu akan menemuimu lagi. Ibu berjanji. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi..." ucap Hara dengan senyuman hangat. Dia mendekatkan wajahnya pada putra kecilnya meski berlinang airmata. Mencium keningnya penuh kelembutan.
"Ibu menyayangimu Chanyeol-ah. Jaga dirimu baik-baik"
Sebelum akhirnya menyisakan kenangan terakhir ciuman singkat sepasang suami istri. Gerbang besar berwarna hitam tertutup. Mata bulat si anak bersurai coklat gelap terbuka. Pandangannya buram. Keningnya merasakan hangat. Tapi sepintas dia juga merasa kehilangan.
"Ibu…."panggilnya tanpa mendapat jawaban lagi.
#Flashback end
Chanyeol membuka matanya. Deru nafas terputus-putus, peluh membasahi seluruh wajahnya, debaran jantung bergemuruh, juga bunyi bel apartemennya yang berdenting terus menerus hingga membangunkan dirinya dari alam bawah sadar.
Pemuda itu bangkit seraya mendudukkan tubuhnya. Kepalanya terasa sakit. Dia berusaha mengatur nafasnya kembali normal. Sial. Mimpi laknat itu datang kembali.
Pandangannya diarahkan keluar jendela besar yang terpajang di sebelah nakas. Hujan deras menguyur kota Seoul.
Tidak berapa lama beberapa dentuman keras di pintu depan membuat jantungnya serasa mendapat hentakkan. Chanyeol terkaget mendengar suara yang familiar di rongga telinganya. Dia segera bangkit dan melangkah sedikit cepat pada pintu utama. Dentingan bel tidak berhenti berbunyi. Sampai akhirnya pintu terbuka lebar dan menampakkan sosok anak anjing manis habis tercebur ke dalam selokan—Oh, bukan. Itu Byun Baekhyun ._.
"Baby?" ucap Chanyeol membelalakan mata.
"Hiks… Kupikir kau mati" perkataan spontan Baekhyun menghasilkan kerutan di kening si pria jangkung.
Namun tidak dapat di pungkiri dia masih tercengang. Ada dua alasan kenapa Tuan Park begitu kaget. Pertama, dari mana Baekhyun tahu lokasi tempat-bersembunyi-Chanyeol? Apartemen ini hanya para soulmate Chanyeol (minus sepupunya dan Kris) yang tahu dan pasti ini ulah Kim Jongin atau Kim Jongdae. Kedua, kenapa kekasihnya seperti habis di guyur air? Belum lagi penampilannya cukup menyedihkan. Basah dari atas rambut sampai kesepatunya. Tubuhnya sedikit meringkuk sambil memegangi kantong kertas besar yang sudah tidak berbentuk. Diluar memang hujan deras. Tapi apa dia tidak memakai mantel atau payung saat pergi kemari?
Chanyeol bukan pria tolol yang harus bertanya 'kenapa kau bisa disini?' di tengah ke-ter-cengangan-nya. Dia lebih suka mendorong tubuh Baekhyun masuk kedalam dan memberikannya baju ganti. Tidak lupa membuat susu strawberry hangat favorit Baekhyun.
"Terlalu besar" keluh Baekhyun setelah selesai mandi dan keluar dari kamar Chanyeol dengan piyama putih bergaris biru di setiap sisi baju.
Chanyeol terkekeh melihat si mungil memakai bajunya. Celana pendek yang Baekhyun pakai bahkan tidak terlihat. Yang tampak malah paha mulus seputih susu. Si jangkung menggelangkan kepala menepis pikiran kotornya. Dia memberikan senyum dengan satu tangan menepuk tempat kosong di sofa besar depan televisi. Sedangkan Baekhyun menuruti perintah Chanyeol dengan patuh.
"Minum ini dan mulailah bercerita" ucap Chanyeol menyodorkan susu strawberry hangat pada si mungil. Dia menyeruputnya sedikit sambil memandang Chanyeol dengan mata keatas. Baby Tuan Park yang satu ini sungguh menggemaskan!
"Tuhan berhentilah menggoda imanku" bisik si jangkung pelan sambil membuang pandangan dan memijit pelipisnya. Namun Baekhyun tidak mendengar permohonan konyol Chanyeol. Dia lebih tertarik menghabiskan susu manis itu.
"Aku habis kerja tadi"
Chanyeol menoleh. "Kerja? Ya! Kenapa kau malah—"
"Berhenti memotong jika aku sedang bicara" tegas Baekhyun sementara Chanyeol menahan ledakkan emosinya.
Dia tidak suka Baekhyun bekerja tanpa pengawasannya. Apalagi dia juga hujan-hujanan di tengah malam begini. Oh, ingatkan si mungil sekarang sudah tengah malam!
"Sesudahnya aku minta Lay hyung menggantikan shift-ku karena aku ada urusan. Tiba-tiba Luhan telepon dan bertanya apakah kau ada bersamaku atau tidak. Dia takut kau keluyuran lagi karena kau belum juga pulang kerumah utama. Setelah itu Kai menelponku dengan panik karena ponselmu tidak bisa di hubungi. Aku juga cemas! Park Babo ada apa dengan ponsel-mu ha? Kenapa tidak aktif?"
Chanyeol menggaruk kepalanya dengan cengiran khasnya. "Aku ketiduran Baby dan ponselku ada di dapur sepertinya"
Baekhyun menghela nafas dan memainkan jarinya pada pinggir gelas yang dia pegang.
"Kai bilang dia takut terjadi sesuatu padamu makanya dia memintaku untuk menemuimu dan minta maaf. Tapi aku kelewat panik dan tahu-tahu hujan sudah turun deras. Maka dari itu aku berlari secepat mungkin kealamat yang baru saja Kai kirim. Butuh waktu sejam untuk kemari berjalan kaki dan kukira… Kau benar-benar mati karena frustasi. Ahhh, ini semua salahmu Yeol! Aku benci jika kau seperti ini!" papar Baekhyun dan memandang Chanyeol lekat.
Chanyeol terdiam menunggu penjelasan Baekhyun sampai selesai. Dia tahu ada yang ingin Baekhyun bicarakan sampai dirinya rela kehujanan hanya untuk berlari menuju apartemen rahasia yang bahkan Luhan tidak tahu dimana itu. Jemarinya bergerak pada pipi chubby Baekhyun. Mengelusnya lembut dengan tatapan sayang.
"Jelaskan padaku kenapa kau dan Kai tadi berdebat? Apa yang kau sembunyikan dariku Yeol?" tanya si mungil, berwajah sendu.
Chanyeol meneguk ludahnya kasar. Dia lupa kalau tadi Baekhyun ada di sebelahnya dan mendengar percakapan bodoh itu. Padahal Chanyeol sudah bersikap biasa saja. Tapi sayang otak cerdas Baekhyun memang dapat diandalkan dalam mencerna kalimat tersembunyi.
"Apa… Kau pernah berhubungan dengan Kai sebelumnya?" lirih Baekhyun lalu menaruh gelasnya sambil menekuk wajah.
Chanyeol tertawa membuat Baekhyun memukul lengannya pelan. "Ya! Aku serius!"
"Kenapa kau bisa berpikir begitu?"
"Habis ucapan kalian tadi sangat aneh! Aku merasa kalian memang pernah menjalin hubungan. Lantas kalau bukan, Kai lalu—?" ucapan Baekhyun berhenti. Dia merasa paham sekilas pada sesuatu yang ganjil disini.
Tapi belum sempat Baekhyun kembali berucap Chanyeol mendekap tubuhnya erat. Deru nafas memburu terasa di leher Baekhyun. Chanyeol memejamkan matanya berharap Baekhyun tidak berbicara lebih lanjut hal yang selama ini selalu dia tutup-tutupi.
"Sudahlah. Lupakan apa yang kau lihat atau dengar hari ini" gumam Chanyeol lemah.
Baekhyun terdiam mendengar nada suara Chanyeol. Hatinya melemah. Tangan mungil itu terulur pada punggung si jangkung dan mengusapnya lembut. Kepala Baekhyun mengangguk sekali dengan mata terpejam.
"Baiklah" katanya pelan.
Chanyeol melepaskan pelukan mereka. Memandang lekat wajah Baekhyun tanpa cela sedikitpun. Seakan ingin mengklaim seluruh bola matanya. Si mungil hanya tersenyum lembut sambil mengusap pipi sang kekasih.
"Kalau kau belum siap aku akan menunggu sampai kapan pun" tuturnya membuat hati Chanyeol terasa nyeri.
Chanyeol menggenggam tangan mulus Baekhyun yang masih setia menerpa kulit wajahnya. Dia mencium telapak tangan itu dengan mata terpejam. Menyesapi aroma si mungil sambil menetralkan hatinya. Mata mereka kembali bertemu dengan pandangan yang lebih serius.
"Apakah aku bisa mempercayaimu?" tanya Chanyeol.
Entah kenapa sekarang hati Baekhyun merasa lega. Ternyata benar Chanyeol memang sedikit ragu padanya. Inilah alasan kenapa Baekhyun tadi harus pergi meninggalkan shiftnya. Dia sangat ingin bertemu dengan Chanyeol. Dan kesempatan Baekhyun untuk mengetahui semuanya adalah saat ini. Dia juga ingin membuktikan seluruh keseriusan perasaannya pada si Ketua penguasa sekolah yang terkenal garang.
Si mungil membetulkan posisi duduknya. Menghadap Chanyeol lalu menanangkupkan pipi pemuda itu. Wajahnya mendekat perlahan sampai akhirnya dia memiringkan wajah dan mencium bibir Chanyeol lembut.
Chanyeol tercengang! Baru kali ini Baekhyun menciumnya dan itu di bibir! Matanya membulat saat Baekhyun melepaskan ciuman mereka lalu menatap wajah merona kekasihnya.
"Percayalah padaku. Aku tidak akan memberitahu siapapun dan kau bisa mengandalkanku. Lalu… penuhi janjimu untuk menceritakan dirimu. A—aku sudah menciummu lebih dulu Yeol! Penuhi janjimu!" tagih si kecil sambil menggigit bibir.
Semburat rona mendominasi seluruh wajahnya. Tangannya juga menggenggam erat kaos Chanyeol saking gugupnya. Sementara Chanyeol malah tersenyum gemas sambil meraih dagu Baekhyun. Lalu mendekatkan bibirnya pada si mungil—membalas ciumannya.
"Kupikir kau tidak akan pernah melakukannya" goda si jangkung menempelkan kening mereka.
Baekhyun merenggut memukul dada Chanyeol. "Aishhh… Sudahlah aku malu! Cepat cerita!" titahnya galak.
Chanyeol tertawa.
"Baiklah, aku akan bercerita"
.
.
.
.
TBC
Jiahhh HunHan gajadi NCan malah Kaisoo tuh XD Yang minta Kyungsoo muncul nih squishy-nya hehe. Tapi mian dikit banget T^T Bagaimana dengan hubungan Kaisoo? Kaget nggak? Nggak yah? ._.
Oya buat penjelasan saja = HunHan disini belum jadian. Terus Sehun masih sungkan kalau ngobrol sama Luhan makanya pake –ssi. Sehyun suka bikin Sehuna jadi anak manis XD Dan Sehyun gatau harus buat HunHan jadian atau nggak.
Soal Kris dia memang calon sepupu Chanyeol. Nanti Sehyun jabarin kenapa.
Terus buat konfliknya mungkin next Chap? No Bash yah kalau ada chara lain huehehe~
Sesuai janji sehyun next chap bakal ada NC ChanBaek~ hohoho /bersorak/ !
Chingudeul bentar lagi The Lost Planet in Jakarta! Adakah yang nonton konsernya? Kalau ada semoga ketemu nanti di venuenya yah! XD
BIG THANKS FOR ALL READERS masih setia dan nungguin terus mau baca ff ini. Sehyun terharu /hiks/ :'* LOVE YOU ALL XOXO
Para Siders Sehyun harap kalian mau me-review ff ini meski sedikit T^T /puppies eyes gagal/
Last !
The most important!
Sehyun gak masalah kalau dari beberapa readers ada yang mau ngepromote ff badboy baekyeol. Tapi sehyun mohon dengan sangat... Tolong sebelumnya beritahu sehyun terlebih dahulu. Jangan lupa cantumkan nama author dan link page yang bakal di postkan ke akun sosmed sehyun. Mau twitter/PM/ facebook! Oke?
Mari bersama budidayakan NO PLAGIAT pada setiap ff supaya nyaman buat para author yang udah kerja keras mikir ide dan para readers yang menghargai mau membaca karyanya ^_^
Okelahhh
Sampai ketemu di next chap dan lost planet!
YEHET!
Review?
