First!

Thanks for the 1K Reviews! XD /tebar bunga/

Sehyun will work hard from now on!

Thank You So Much

to

MY SARANGHAE READERS :*:*:*{}{}{} *love sign

LOVE YOU ALL!

We Are One

Enjoy

.

.

.

.

.

-BaekYeol Area-


#Flashback

Park Seunghyun sedang sibuk berbicara dengan salah satu koleganya di telpon. Tidak berapa lama langkah seorang anak kecil menghampiri dirinya. Chanyeol kecil menunduk dan berjalan kecil menuju meja besar yang merupakan meja kerja ayahnya.

"Appa dimana eomma? Kapan eomma pulang?" Chanyeol bertanya dengan boneka rilakkuma dipelukannya.

Seunghyun menoleh, menjauhkan teleponnya sejenak. Menatap Chanyeol dengan senyuman palsu. Berusaha terlihat baik-baik saja menghadapi pertanyaan yang memang setiap hari tidak henti-hentinya sang anak lontarkan.

"Eomma pasti akan kembali Chanyeol-ah"

Hanya kalimat tersebut yang selalu Chanyeol dapatkan. Chanyeol tidak mengetahui kebenaran di balik kepergian ibunya. Semenjak neneknya meninggal dua bulan yang lalu. Sang ibu masih belum menampakkan wajahnya di hadapannya. Padahal alasan utama Hara kabur dari rumah keluarga Park adalah perbuatan sang ibu mertua yang terlampau kejam padanya.

Chanyeol kecil kerap merasa kesepian. Dia selalu berharap dapat kembali pada dekapan ibunya. Dia merindukan kehadiran malaikat penjaganya. Dirinya mulai gelisah disetiap malam dia menutup mata. Bahkan sekarang ayahnya jarang menemaninya sekedar membacakan dongeng penghantar tidur layak sang ibu. Seunghyun terlalu sibuk mengurusi perusahaan keluarga karena dia merupakan putra sulung keluarga Park.

Setelah lima bulan berlalu Chanyeol memasuki taman kanak-kanak. Disitulah Chanyeol yang berusia usia empat tahun, mengerti peran besar seorang ibu ketika menghantar anaknya belajar di sebuah sekolah. Setiap hari teman-temannya selalu mengejek dia dengan kata-kata kasar. Chanyeol bukan anak bodoh. Dia tahu bahwa keluarga lengkap adalah idaman para anak-anak seusianya. Dan anak seusia Chanyeol tidak pantas mengetahui masalah keluarga yang membebani pikiran polosnya maupun hatinya.

Sedikit demi sedikit hati anak berumur empat tahun ini berubah mendingin. Tidak jarang Chanyeol mulai berani berulah beberapa kali sampai Leeteuk juga kerepotan menangani tingkah aneh majikannya. Sampai pada suatu hari Chanyeol merasa jenuh karena sang ayah selalu memberinya harapan palsu ketika Chanyeol bertanya mengenai keberadaan ibunya. Dia ingin mendapatkan jawaban pasti dari sang ayah. Maka ketika dia menginjak usia tujuh tahun dan mulai memasuki sekolah dasar. Chanyeol kembali bertanya.

"Appa. Kapan eomma pulang? Sudah hampir tiga tahun appa. Kau bilang eomma akan pulang. Tapi kenapa dia belum pulang juga? Kemana sebenarnya eomma pergi?" bertubi-tubi pertanyaan yang sama memilukan hati Seunghyun.

Seunghyun tidak menjawab. Dia tetap terfokus pada berkas-berkas kantor di meja kerjanya. Memang akhir-akhir ini Seunghyun lebih dingin pada putranya sendiri. Karena kesibukkan dalam mencari uang dan memimpin perusahaan. Seunghyun melupakan pesan Hara—sang istri untuk menjaga Chanyeol.

Chanyeol kecil kembali memasang wajah sedih. Tangannya terkepal erat. Dia ingin tahu sesuatu. Semua anggota keluarga, baik maid maupun butlernya jika ditanya selalu menjawab hal yang sama—Tidak tahu. Dan Chanyeol tidak bisa lagi menahan semua emosi yang selama ini dia pendam. Dia ingin kejujuran dari ayahnya.

"APPA! DIMANA EOMMAKU? KENAPA EOMMA TIDAK PERNAH PULANG?! SEBENARNYA DIMANA DIA?!" teriak Chanyeol, marah.

Seunghyun menatap putranya sengit. Dia sangat terkejut! Baru kali ini Chanyeol bicara keras-keras padanya. Padahal Seunghyun selalu mengajarkan sikap sopan santun pada orang yang lebih tua. Emosi Seunghyun juga ikut tersulut.

"Kenapa nada bicaramu seperti itu pada appamu Park Chanyeol?"

"JAWAB SAJA DIMANA EOMMAKU?! AKU TIDAK INGIN MENDENGAR KEBOHONGAN LAGI! AKU INGIN EOMMAKU SEKARANG!" amuk Chanyeol lalu melempar kasar semua dokumen-dokumen Seunghyun.

Maid-maid kediaman keluarga Park segera berdatangan mendengar suara gaduh dari ruangan majikannya. Leeteuk hendak masuk ketika Chanyeol mengacaukan meja kerja Seunghyun dengan membuang barang-barang. Namun sebuah tamparan telak mengenai pipi Chanyeol kecil. Mata Seunghyun berkilat marah. Sedangkan Chanyeol jatuh terduduk dilantai berkarpet ruang kerja sang ayah. Meringis memegangi pipinya yang terasa perih. Para maid juga Leeteuk terkejut melihat Tuan Besarnya yang terkenal penyabar dan ramah menjadi sangat kasar dan dingin beberapa tahun terakhir ini.

"PERGI DARI RUANGANKU SEKARANG JUGA!" gertak Seunghyun penuh amarah.

Chanyeol menangis kencang. Leeteuk segera menggendong Chanyeol kecil sambil membungkuk cepat lalu berlari keluar. Air mata kesedihan dan rasa sakit di pipinya begitu menyayat hatinya. Dia hanya ingin mengetahui kebenaran. Kenapa tidak boleh?

Sementara Seunghyun duduk di kursinya dengan frustasi. Dia menghela nafas berat sambil sesekali memijit pelipisnya. Tak terasa airmata juga jatuh membasahi wajahnya. Dia sudah tahu setelah ini sang anak pasti akan sangat membencinya. Dirinya merasa gagal menjadi seorang ayah. Tanpa kehadiran sang istri. Seunghyun bukanlah siapa-siapa. Dia juga amat sangat sedih tidak bisa menemukan keberadaan Hara setelah wanita itu menghilang tiga tahun yang lalu. Yang bisa dia lakukan hanyalah menjaga Chanyeol. Tapi sayang tidak sesuai harapan.

"Maafkan aku Hara…"

.

.

Seiring dengan berjalannya waktu Chanyeol—anak tunggal keluarga Park mulai tumbuh besar. Saat masih di taman kanak-kanak memang tidak sedikit teman yang membully Chanyeol dan dia juga sudah terbiasa akan hal itu. Terkadang mereka mengejeknya atau bahkan mengganggunya bermain. Chanyeol hanya bisa menerimanya. Toh semua yang mereka katakan memang benar.

BRAK!

Pintu yang di dobrak keras menghasilkan getaran pada jendela besar kediaman Park. Dua orang dewasa dan satu anak kecil yang sedang duduk di ruang tamu menoleh. Mereka mendapati anak berusia sepuluh tahun yang berpenampilan kotor penuh luka.

"Aigoo! Chanyeol-ah! Gwencana? Apa yang terjadi padamu?" pekik Luhan kecil—terkejut.

Luhan berlari menghampiri Chanyeol. Wajahnya penuh luka berdarah juga lutut, tangan serta sikutnya penuh memar. Anak kecil berwajah manis itu menangkupkan tangannya pada pipi Chanyeol namun dengan cepat ditepis oleh Chanyeol ketika dia meringis pelan.

"Kau berkelahi lagi?"

Luhan tidak mendapat jawaban. Tiba-tiba Leeteuk masuk terburu-buru kedalam rumah. Butler itu membungkuk sopan pada dua orang dewasa yang sedang duduk—menatap heran padanya.

"Tuan Besar maaf mengganggu. Tuan Chanyeol baru saja mengirim temannya kerumah sakit. Sekarang orang tuanya meminta pertanggung jawaban atas walinya. Apakah Tuan Besar bersedia menemui keluarga teman Tuan Chanyeol?" jelas Leeteuk berusaha tenang namun tetap saja raut wajahnya panik.

"Rumah sakit? Memangnya kenapa dengan anak itu?" tanya seorang wanita cantik yang diketahui sebagai ibu Luhan—Park Hana.

"Umh, Tuan Chanyeol menghajar wajah temannya dengan batu sampai pelipisnya sobek. Sepertinya harus dijahit dan kondisinya juga terlampau cukup parah Nona Hana" jelas Leeteuk takut-takut.

Park Haraboji—Kakek Chanyeol, menghela nafas berat lalu berdiri mengikuti Leeteuk yang langsung berlari keluar menyiapkan mobil. Sebelum sampai pada pintu utama dia sempat berpesan pada Luhan untuk mengurusi Chanyeol. Dan Luhan kecil mengangguk patuh.

"Chanyeol-ah. Kenapa kau berbuat onar lagi? Memang apa yang dia lakukan padamu sampai kau berbuat jahat padanya?" cemas Park Hana.

Chanyeol tidak menjawab. Wajahnya berpaling acuh. Tatapan tajam seakan menusuk dan penuh dendam. Chanyeol sedikit puas setelah memukul temannya yang mengejek dia seperti biasa. Sehingga tanpa bisa direndam lagi emosinya. Chanyeol langsung menghabisi wajah anak itu. Menendangnya dan melakukan kekerasan fisik sampai temannya terkapar. Chanyeol memang sempat kalah saat teman-teman si pengejek mulai membantu memukulinya. Sampai para guru datang. Acara pukul memukul itu pun berakhir.

"Aku hanya memberinya sedikit pelajaran" ucapnya dengan seringai sadis.

.

.

"DIMANA EOMMA?!" sebuah jeritan kembali menggema pada ruang pribadi Park Seunghyun—ayah Chanyeol.

Mata pria dewasa itu membulat ketika Chanyeol kembali menanyakan keberadaan ibunya. Padahal sudah tiga tahun putranya berhenti bertanya. Ternyata luka kehilangan itu belum sembuh dari hatinya. Wajar jika Chanyeol kembali menanyakan hal ini. Sekarang adalah hari ulang tahunnya yang ke-sebelas. Dan dia berhak mendapatkan kado manis. Yaitu—keberadaan ibunya yang selama ini dia pikir sang ayah selalu sembunyikan.

"Bicara apa kau Chanyeol?" ucap Seunghyun berusaha tenang.

"Aku sudah bilang kan tadi? DIMANA EOMMAKU?! KENAPA KALIAN SELALU MENJAUHKANNYA DARIKU?! SEKARANG AKU INGIN TAHU KEBERADAAN EOMMAKU DAN AKU YAKIN KAU PASTI MENYEMBUNYIKANNYA KAN?!" pekik Chanyeol dengan kasar.

Seunghyun mengerutkan alisnya. Memandang lekat putra tunggalnya yang sedang marah berkilat-kilat. Sudah hampir tujuh tahun istrinya pergi meninggalkan dirinya dan Chanyeol. Sebenarnya dia juga merindukan istrinya sama seperti sang anak.

Namun—

"Maaf. Ayah tidak tahu Chanyeol-ah" papar Seunghyun membalikkan badannya.

Mata kecil itu membulat lebar. Jantungnya terasa sesak. Selama ini dia selalu mendapat jawaban eomma pasti akan kembali namun kenapa kali ini tidak? Ternyata memang benar ibunya tidak akan pernah kembali. Sang ibu telah meninggalkannya. Padahal Chanyeol sudah berusaha sabar dengan semua ejekan dan umpatan mengenai fakta bahwa dia tidak punya ibu. Atau bahkan yang lebih menyakitkan adalah dia adalah anak haram? Tapi ayah Chanyeol pernah mengatakan berkali-kali kalau dia bukan anak haram. Ibunya hanya pergi entah kemana meninggalkannya akibat rasa benci sang ibu mertua—nenek Chanyeol yang selalu merendahkannya.

Chanyeol menangis kembali. Dia kesal pada sikap egois ayahnya. Sikap tidak peduli ayahnya. Apa ayahnya selama ini selalu memberikan perhatian padanya?

Tidak.

Park Seunghyun terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Setiap Chanyeol berulang tahun dia hanya mendapat kado-kado dari pilihan sekertaris ayahnya. Hidup tanpa kasih sayang bagi Chanyeol memang sudah biasa. Bahkan dia selalu merasa dia tidak punya ayah. Namun dia menginginkan ibunya. Setidaknya dia ingin merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri. Bukankah itu merupakan hak para anak didunia?

"Baiklah kalau kau tidak mau memberitahukan dimana eomma berada. Aku akan mencarinya sendiri. Lagipula aku tidak membutuhkan orang tua sepertimu" ketus Chanyeol dan ucapannya memang tidak main-main.

.

.

"Kenapa kau duduk disini?" tanya sosok mungil dengan payung berwarna ungu senada dengan sepatu bootnya.

Chanyeol tidak menjawab. Tubuhnya meringkuk mengigil kedinginan akibat salju yang turun semakin deras. Sudah lebih dari lima jam setelah dia kabur dari rumah dan jujur dia tidak tahu arah dan tujuannya. Dirinya masih terlalu kecil untuk kesedar menghafal jalan pulang. Mengingat selalu ada supir yang mengantarnya pulang.

"Kau tidak kedinginan?" tanya anak kecil yang sepertinya sebaya dengannya.

Tanpa banyak bertanya si anak laki-laki berambut hitam lebat menempelkan tangannya pada tangan Chanyeol. Mata polosnya membulat merasakan tangan Chanyeol yang membeku. Dia segera menarik tangan itu dan menghembuskan nafas hangatnya—spontan.

"Tenang. Aku tahu kau mengigil kedinginan" ucapnya pelan tidak berhenti menggosokkan dan menghembuskan uap itu ke tangan Chanyeol.

Chanyeol mengangkat wajahnya. Bibirnya bergetar. Wajahnya basah dengan airmata. Chanyeol nyaris mati saking kedinginan di taman ini. Dia menatap lekat namja kecil yang berusaha menolongnya.

"Aigoo. Kenapa kau menangis? Uljima…" katanya lalu mengusap bulir airmata Chanyeol.

Chanyeol tersentuh. Usapan jemari mungil ini entah kenapa terasa sangat hangat. Dia malah semakin menangis terisak-isak tanpa mengabaikan ingus yang mulai keluar dari hidungnya. Pria kecil berambut hitam ini terkekeh. Lalu mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus jejak ingus itu. Kemudian dia menarik kepala Chanyeol mendekat. Memeluknya sesekali mengusap pelan kepala Chanyeol penuh kelembutan.

"Eomma… eommaku pergi…" isak Chanyeol membenamkan wajahnya pada dada pria kecil ini.

"Eomma-mu?" Chanyeol menangguk.

"Teman-temanku selalu mengejekku karena aku tidak punya ibu.. hiks"

"Aigoo. Mereka jahat sekali! Siapa yang berani mengatakan itu biar kupukul!" ancam si kecil tidak kenal takut. Chanyeol mengangkat kepala lalu menyeka pelan airmatanya. Ucapan manis yang keluar dari bibir lucu anak ini membuatnya terkekeh.

"Memangnya kau bisa berkelahi?" tanya Chanyeol dengan nada setengah mengejek.

Anak itu menggeleng polos. "Sebenarnya kata eomma kita tidak boleh berkelahi"

"Lalu kenapa kau mau memukulnya?"

"Supaya kau tidak sedih lagi"

Chanyeol tercengang. Hatinya merasa hangat ketika ada yang memperhatikannya. Anak ini begitu baik.

"Kau sendirian disini karena mencari ibumu? Memangnya ibumu kemana?" tanyanya dan Chanyeol memalingkan wajah.

"Dia meninggalkanku sejak aku kecil" jawabnya lesu. Anak kecil itu mengangguk imut.

"Begitu ya. Ngomong-ngomong siapa nama ibumu?"

"Lee Hara. Namanya Lee Hara" papar Chanyeol. Mata anak itu membulat.

"Ah! Benarkah? Namanya mirip dengan tante penjaga café milik ibuku. Bibi Hara" ucap anak ini dan mata Chanyeol membulat. Hatinya serasa lepas dan jantungnya bergemuruh tidak karuan.

"Be—benarkah?! Bisa aku bertemu dengan bibi penjaga café itu?" pinta Chanyeol menggebu-gebu.

Anak bersurai hitam itu mengangguk sambil tersenyum lembut. Lalu menggandeng tangan Chanyeol berjalan. Tidak berapa lama sebuah mobil sudah ada didepan area pintu taman. Pria kecil itu masuk bersama Chanyeol. Dan barulah Chanyeol tahu. Dia kembali berteman dengan Pangeran Muda seperti dirinya.

.

.

Kehidupan Chanyeol berubah dua tahun sesudahnya. Ternyata Tuhan memang adil padanya meski dia sudah terlanjur sangat kejam pada Tuhan masih menyayanginya dan memberikan kompensasi. Alasan seminggu Chanyeol menghilang adalah karena dia tinggal bersama ibunya. Meski akhirnya pihak keluarga Park menemukan Chanyeol namun dia enggan pulang kerumah. Maka tanpa sepengetahuan keluarga besar—minus Luhan, Chanyeol sering bolak-balik keapartemen seorang wanita yang tidak lain tempat ibunya tinggal.

Sungguh, jika di hari pertama dia tidak kabur saat ulang tahunnya. Dia tidak akan bertemu dengan anak yang telah membawanya pada sang ibu. Chanyeol sangat berterima kasih pada anak laki-laki itu. Perlahan-lahan hatinya berkata lain. Dari pada berterima kasih. Chanyeol ternyata mulai mempunyai perasaan khusus padanya.

Ini memang aneh. Namun dia tidak bisa memungkiri rasa berdebar setiap kali memandang wajah si mata bulat. Maka dia menyatakan cintanya pada si pria mungil saat malam pertama bulan Desember di dekat sungai Han.

"Aku tidak tahu bagaimana caranya bersikap romantis. Kau tahu sendiri aku cuma anak egois dan tidak beretika. Tapi sungguh. Ini bukan ungkapan terima kasih. Aku…. Kurasa aku menyayangimu. Kau—Mau jadi pacarku?"

Mungkin terdengar konyol untuk anak berusia dua belas tahun menjalin sebuah hubungan. Tapi tidak bisa dipungkiri. Mereka menyukai satu sama lain meskipun hubungan mereka salah. Kepala namja mungil itu mengangguk pelan dengan wajah merona.

Chanyeol begitu bahagia. Badannya bergerak spontan mendekat kearah wajah si manis dan menempelkan bibirnya pada bibir namja itu. Lalu memeluknya erat. Chanyeol merasa dia tidak membutuhkan apa-apa lagi saat ini.

Hidupnya sudah nyaris sempurna seperti seorang pangeran sesungguhnya. Dan saat itu Chanyeol tidak bisa lebih bahagia lagi. Mendapatkan seseorang yang di cintainya dan juga menemukan ibunya.

Tapi Tuhan selalu punya rencana lain.

.

.

4 Desember 20XX

Salju mulai turun dimalam awal bulan ini. Sudah seminggu sejak ulang tahunnya. Chanyeol tidak bertemu dengan kekasihnya akibat sibuk dengan urusan rumah sakit.

Ya. Sudah lebih dari dua tahun terakhir ini ternyata sang ibu menderita penyakit kanker hati. Karena itu Chanyeol selalu setia menjaga ibunya tanpa sepengetahuan sang ayah. Sementara Luhan yang merupakan keluarga Park juga ikut ambil bagian. Hanya Luhan yang bisa Chanyeol percaya di keluarganya. Maka dari itu Chanyeol tidak jarang kerap bergantung pada Luhan.

Malam ini seperti biasa. Kekasihnya meminta Chanyeol untuk datang kesungai Han tempat Chanyeol pertama kali mengungkapkan perasaannya. Hari ini juga merupakan hari spesial—Hari anniversary setahun hubungannya dengan namja manis itu.

Sejak masuk JHS Chanyeol sedikit demi sedikit berubah. Dia mulai mempunyai kelompok tersendiri. Tidak heran dia dijuluki penguasa sekolah bersama yang lain karena mereka begitu mempesona murid-murid sekolah SM JHS.

"Maaf menunggu lama. Tadi sedikit macet di depan sana" ucap Chanyeol dengan nafas terengah-engah.

Pemuda mungil itu berbalik. Tiba-tiba di hadapannya sudah ada beberapa ikat bunga mawar merah dengan senyuman manis Park Chanyeol yang menyapa pengelihatannya.

"Happy Anniversary satu tahun, sayang" serunya girang.

Tapi pemuda mungil itu hanya diam. Wajahnya terlihat muram membuat Chanyeol bingung. Chanyeol menurunkan bunganya sambil bertanya 'ada apa' pada raut sedih wajah kekasihnya. Tapi pemuda manis itu hanya menggeleng pelan tidak mau menatap Chanyeol.

"Maaf Chanyeol-ah…. Kurasa aku sudah tidak bisa bersamamu lagi" lirihnya pelan.

Mata Chanyeol membulat. Jantungnya langsung mendapat hentakan menyakitkan. Otaknya tidak bisa mencerna dengan baik setiap kata yang baru saja kekasihnya katakan.

"Sebaiknya kau pergi. Aku hanya mau mengatakan itu. Semoga kau bisa mendapatkan orang yang lebih baik. Annyeong Chanyeol-ah" paparnya cepat lalu berbalik.

Chanyeol menarik tangan pria kecil itu. Wajahnya memerah menahan luapan emosinya. Ada apa dengan kekasihnya tiba-tiba bicara tidak masuk akal seperti itu padanya?

"Apa yang kau bicarakan?! Kenapa kau meminta hubungan kita berakhir?"

"Aku sudah bilang tadi, Yeol! Aku tidak bisa bersamamu lagi! Maafkan aku. Carilah orang lain. Atau lebih baik kau bersama yeoja agar orang bisa menganggapmu normal. Kumohon lepaskan tanganku..."

"Tidak! Apa maksudmu mengatakan hal itu? Kebahagiaanku bukan orang lain yang menentukan! Aku tidak peduli mereka berkata apa. Aku mencintaimu!" teriak Chanyeol keras dan pemuda mungil itu menangis.

"Maaf…."

"Kumohon jangan begini. Kau… Jika tidak ada kau. Aku tidak akan bisa hidup dijalan yang benar lagi. Kau yang menyelamatkan kehidupanku. Kumohon jangan pergi" pinta Chanyeol memeluk pelan kekasihnya yang terisak hebat.

Tapi sayang. Tangan mungil itu mendorong pelan dada Chanyeol sampai pemuda itu menatap pedih setiap gerakan kekasihnya. Kepalanya menggeleng dengan airmata bercucuran. "Maaf. Hubungan kita sampai disini. Terima kasih Yeol" lirihnya pelan lalu berbalik dan berlari meninggalkan Chanyeol sendirian disana.

Tanpa sadar Chanyeol menitikkan airmata. Dadanya sesak. Hatinya seperti tertusuk ribuan jarum. Pandangannya buram dan dia tidak bisa berpikir jernih. Tidak berapa lama suara ponselnya bergetar. Chanyeol merogoh saku jaketnya dan mengangkat telepon dari Luhan.

"Chanyeol-ah! Cepat kerumah sakit ibumu sekarat!" sahutnya histeris.

Dan pada ulang tahun Chanyeol yang ke-empat belas. Untuk pertama kalinya Chanyeol begitu terluka. Begitu sakit. Begitu lemah. Begitu menyedihkan sampai membuat hati setiap orang yang melihatnya pilu.

Chanyeol kehilangan dua orang sekaligus yang teramat dia cintai. Cinta pertamanya. Juga ibunya yang sekarang telah benar-benar pergi meninggalkannya.

#Flashback end

.

.

.

Chanyeol menundukkan kepalanya. Suasana hening dengan isakkan juga rintikkan hujan menemani bulir bening yang lolos dari matanya. Sebenarnya dia tidak ingin menangis. Tapi apa daya? Dia juga manusia. Lemah akan sesuatu yang selalu menjadi mimpi buruknya.

Pria jangkung itu mengangkat kepala yang akhirnya harus bersandar lemah pada pinggir sofa. Dia memijit pelipis guna menghilangkan deyut perih yang melanda otaknya. Kala dia berusaha menahan tangis.

"Mianhae. Hah… Kenapa aku jadi cengeng begini. Benar-benar bukan Park Chanyeol" ocehnya dengan tawa lalu mengusap bulir airmata.

Chanyeol menoleh menyunggingkan senyum. Tapi matanya membulat melihat Baekhyun yang berurai air mata lebih sedih dari pada dirinya. Ternyata yang menangis memang bukan Chanyeol. Tapi itu adalah isakkan Byun Baekhyun—kekasihnya.

"Chanyeol-ah.." lirih Baekhyun yang tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan langsung memeluk leher Chanyeol erat dari depan.

"Baby. Kenapa malah kau yang menangis?"

Baekhyun menggeleng tidak tahu. Entah kenapa mendengar kisah Chanyeol dia sangat sedih. Dia merasakan segala perasaan Chanyeol. Ternyata hal buruk terkadang selalu menimpa manusia dan untuk bangkit kembali memang tidak mudah. Baekhyun juga pernah merasakannya ketika sang ayah tertangkap basah berselingkuh di belakang ibunya.

"Aku paham sekarang. Kenapa kau jadi brengsek seperti ini" ucap Baekhyun mempererat rengkuhan pada leher pria itu. Chanyeol terkekeh kecil lalu mengusap surai krem Baekhyun.

"Mianhae. Aku akan berusaha lebih baik untuk memperbaikinya"

Kepala Baekhyun menggeleng berkali-kali di pundak Chanyeol.

"Jangan. Jadilah Chanyeol apa adanya. Jadinya Chanyeol keparat yang kusuka. Mungkin itu memang sikapmu untuk menyalurkan emosi. Tapi selama sifat kasarmu baik untuk menolong seseorang aku tidak akan akan melarangnya. Lagipula—" Baekhyun memotong kalimatnya. Melepaskan pelukan Chanyeol dan duduk nyaman di pangkuannya.

"Aku lega akhirnya kau mau terbuka padaku" lanjutnya dengan sebuah senyuman manis.

Wajah Chanyeol sontak memerah. Dia memalingkan mukannya namun terlambat. Baekhyun sudah melihatnya dan dia terkekeh gembira. Mendengar tawa si mungil Chanyeol segera menutupnya dengan sebuah ciuman singkat.

"Tidak baik mentertawakan masa lalu orang" lirih Chanyeol ketika kening mereka bertemu.

"Aku tidak mentertawakan hidupmu. Aku mentertawakan wajahmu yang memerah seperti tomat busuk Park Babo!" senyum Baekhyun lalu mengalungkan tangannya di leher Chanyeol.

Pria jangkung itu mendekap pinggang ramping Baekhyun. Dia tersenyum tampan dan mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun. Hingga kedua belah bibir manis itu kembali bertemu. Chanyeol melumat perlahan bibir tipis Baekhyun. Mata si mungil telah terpejam menikmati tindakan sang kekasih. Dia juga balas melumat pelan. Menyesapi rasa dari bibir seseorang yang sedang memabukkan hatinya.

"Emmh…" Baekhyun melenguh kecil ketika lidah Chanyeol masuk kedalam bibirnya yang terbuka.

Lidah itu terus menyesak masuk lebih dalam seakan ingin mengeksplore semua yang ada di dalamnya. Wajah Baekhyun memerah ketika panas di pipinya menjalar sampai kekuping. Lenguhan-lenguhan kecil masih dia lantunkan dengan indah. Sementara setelah hampir menghabiskan beberapa menit berciuman cukup lama dan panas dengan kekasihnya. Chanyeol berinisiatif lebih dulu menghentikan perbuatannya.

"Yeol? Kau kenapa?" desah Baekhyun mengatur nafas.

Chanyeol menggeleng sambil memejamkan matanya. Dalam hati dia sudah berkomat kamit untuk tidak melakukan perbuatan lebih pada kekasihnya ini.

"Baek… menyingkirlah" ucapnya dengan nada memperingatkan.

Alis Baekhyun berkerut. "Kenapa?"

"Rrggghh" Chanyeol menggeram tertahan ketika badan Baekhyun bergeser sehingga kejantanan mereka ikut bergerak bergesekkan.

Baekhyun bukan sepenuhnya anak polos ketika merasakan sentuhan aneh itu. Dia juga sedikit mendesah biasa namun terasa begitu sensual di telinga Chanyeol. Sampai akhirnya Chanyeol mendorong pelan dada Baekhyun dengan wajah merona.

Tunggu! Kenapa situasinya seperti Chanyeol yang menjadi uke Baekhyun? Dirinya terlihat begitu keras berusaha untuk menolak keinginan tubuhnya.

"Baekkhhh… Cepat menyingkir!"

"Kenapa?" sungut Baekhyun merasa di tolak.

"Hhhhh… Sudah cepatlah menyingkir atau kau tidak akan selamat malam ini!"ucap Chanyeol sedikit meninggi.

Baekhyun mengerti arti dari ungkapan frustasi kekasihnya. Jantungnya berdebar kencang. Dia mengingat segala perkataan Lay padanya saat memberikan kiat-kiat dalam menjalankan sebuah hubungan bagai petuah. Baekhyun tidak ingin menjadi pasif lagi. Chanyeol telah terbuka padanya dan inilah saatnya untuk membalas seluruh perasaan tulus pemuda itu.

Si mungil menolak untuk bangkit dari pangkuan Chanyeol. Dia menurunkan tubuhnya. Kepalanya di miringkan, terkulai di bahu Chanyeol. Tubuhnya semakin erat menempel pada kekasihnya. Membuat Chanyeol terheran-heran.

"Aku sudah mendengar ceritamu. Dan aku merasa bersalah. Aku minta maaf karena belum sepenuhnya meyakinkan diriku untuk menjadi kekasihmu. Tapi setelah mengetahui semuanya aku merasa bodoh. Andai saja aku ada disana saat itu. Berbagi rasa sakit yang kau alami, Yeol. Andai saja aku bisa mengurangi rasa sakitmu. Aku—akan melakukannya" tutur Baekhyun lembut sedikit gugup.

Chanyeol terenyuh mendengar kalimat manis Baekhyun. Dia tersenyum hangat lalu mendekap erat tubuh si kecil. "Kau tidak perlu melakukannya Baekki. Hanya keberadaanmu disini membuatku melupakan masa laluku yang pahit" ujarnya sedikit berbohong.

Baekhyun melepaskan pelukkannya. Menatap dalam pada bola mata Chanyeol. Jantungnya berdegup lebih kencang. Tapi dia sudah siap.

"Kalau begitu maukah kau memilikiku malam ini?"

DEG!

Sontak mendengar kalimat Baekhyun, Chanyeol langsung terduduk kaku. Ada apa dengan Baekhyun-nya? Apa dia salah makan? Atau dia sedang demam akibat kehujanan tadi? Berbagai presepsi berkeliaran di kepala Chanyeol. Masalahnya ini sangat langka! Baekhyun tidak pernah ambil bagian awal untuk memulai kontak fisik mereka. Chanyeol sampai pusing menerka-nerka sikap spotan kekasihnya. Uhh, berhentilah berpikir Park Chanyeol!

Tiba-tiba Baekhyun menggenggam erat tangan Chanyeol. Mengangkatnya di sebelah wajahnya dan menciuminya perlahan.

"Kumohon jangan menolakku. Aku bisa merasakan perasaan sakit itu. Jika aku belum menjadi yang terbaik bagimu. Bagilah rasa sakitmu denganku. Aku sudah siap" ucap Baekhyun dengan tulus membuat jantung Chanyeol berdesir hangat.

Dia tidak bisa memungkiri bahwa dia begitu bahagia bisa memiliki kekasih yang sangat mencintainya seperti Baekhyun. Ternyata memang Baekhyunlah yang dia butuhkan selama ini. Pria manis ini mau berbagi suka duka bersamanya.

"Apa kau bersungguh-sungguh?" goda Chanyeol namun Baekhyun menganggapnya sangat serius dan mengganggukkan kepalanya dengan semangat 45 meski dengan rona diwajah. Sekali lagi— Chanyeol merasa speechless! -_-

"A—aku serius. Malam ini jadikan aku. Mi—milikmu sepenuhnya. Aku siap!" sahut Baekhyun bak seorang tentara yang siap berperang. Chanyeol ingin tertawa tapi tidak jadi. Baekhyun yang gugup terlihat sangat menggemaskan membuatnya semakin mencintai sosok mungil ini.

Chanyeol tersenyum tampan dan mulai mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Tapi tertahan ketika si mungil bergerak mundur dan memegangi dadanya.

"Tu—tunggu jantungku berdebar tidak karuan!" paniknya polos. Park Chanyeol akhirnya tergelak.

"Sudah jangan memaksakan diri Baby"

"Ti—tidak. Aku benar-benar si—siap! Hanya saja—"

"Hmm?"

"Tuntunlah aku. I—ini yang pertama. Aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan.." lirihnya sambil mengigit bibir.

Chanyeol tersenyum lalu mengecup lama kening Baekhyun.

"Okay. I will be gentle"

.

.

.


PERDANA PART NC XD!

WARN! YAOI!

BAGI YANG BELUM SIAP BACA/MASIH DIBAWAH UMUR DISARANKAN UNTUK TIDAK BACA

BAEKYEOL AREA HERE!


Mata Baekhyun terbuka saat dia di rebahkan pada kasur Chanyeol. Namun kembali tertutup rapat ketika tubuh Chanyeol merangkak mendekat perlahan padanya. Baekhyun bersumpah jantungnya berdetak sangat kencang saat ini. Dan pikiran akan telanjang di depan Chanyeol benar-benar membuatnya serasa ingin mati. Mereka memang sama-sama namja jadi tidak perlu malu. Tapi siapa yang tidak takut jika tahu mulai hari ini dan kedepannya dia tidak akan perjaka lagi?

"Berhentilah gugup dan lakukan segala hal yang dapat membuatmu rileks Baby" saran Chanyeol lalu mengecup lembut pipi Baekhyun.

Kepala Baekhyun mengangguk. Kulitnya serasa mendapat sengatan ketika Chanyeol menyesakkan wajahnya pada sang leher. Kemudian perlahan membuka kancing piyamanya satu persatu. Baekhyun hanya pasrah dan memejamkan matanya erat sambil terus mendekap erat Chanyeol.

Bibir Chanyeol beralih pada bahu Baekhyun yang terekspos. Lalu beralih lagi mengecup lembut kulit leher Baekhyun. Memberikan beberapa tanda di sana sampai Baekhyun melenguh merasakan geli di sekitar perutnya. Pemuda mungil itu hanya mampu menahan nafas juga desahan yang hendak keluar. Chanyeol mengusap perlahan nipple kiri Baekhyun. Bibirnya turun mengulumnya tanpa cela membuat wajah Baekhyun semakin memanas.

"Ahhh…." Desahan pertama keluar dari bibir Baekhyun.

"Babyhhh…" panggil Chanyeol ketika tangan Baekhyun ikut aktif menyusup masuk kedalam kaos Chanyeol. Meraba-raba perut yang sedikit mempunyai lekukan. Baekhyun mengelinjang kegelian saat nipplenya di hisap keras oleh Chanyeol.

"Yeoll… hhhhhh. Hentikan…"

Chanyeol tidak mengindahkan perkataan kekasihnya. Dia tahu Baekhyun sedang merancau aneh karena ini pengalaman pertamanya. Tangan kanan Chanyeol bergerak menurunkan celana pendek Baekhyun. Menyisakan underwear-nya dan meremas kuat junior Baekhyun. Pemuda mungil itu memekik cukup keras. Sentuhan kekasihnya benar-benar terasa sensual.

"Panas!" keluh Chanyeol dan segera berlutut diatas Baekhyun melepas kaos yang dipakainya.

Baekhyun terpana melihat tubuh berkilat Chanyeol. Wajahnya memanas melihat tubuh kekasihnya membuatnya sangat teransang. Begitu sempurna dan seksi. Maka entah setan dari mana bibirnya menggapai bibir Chanyeol rakus. Melumat, menghisap, bahkan menjilatnya tidak karuan. Chanyeol merasa juniornya menegak. Ibu jarinya menarik celana dalam Baekhyun dengan perlahan membuat Baekhyun mendesah frustasi di sela-sela pagutan mereka.

"Yeollie apa yang kau lakukan?" cegah si mungil ketika kepala Chanyeol bergerak kebawah hendak mengulum kejantanannya.

Sekali lagi Chanyeol tidak mendengarkan ucapan Baekhyun. Bibirnya turun mengecupi setiap inci tubuh Baekhyun. Memberikan satu kissmark yang sangat kentara pada paha dalam Baekhyun.

"Yeol…" Baekhyun frustasi membekap mulutnya sendiri entah mengapa.

"Ahhhhh….engghhh"

Baekhyun terkejut ketika kejantanannya dikulum oleh Chanyeol. Dia serasa berada di awang-awang menikmati tindakan kekasihnya. Dadanya bergemuruh cepat. Ini sangat nikmat! Mulut Chanyeol benar-benar hangat terasa pada batangnya. Dia melakukannya dengan teratur sampai Baekhyun akhirnya mencapai klimaks pertamanya. Pekikkan manis itu melantun indah bagai melodi surga di telinga Tuan Park.

"A—apa yang baru saja terjadi? Kenapa aku mengeluarkan sesuatu? Yeol kenapa aku tadi seperti habis pipis? Kau baik-baik saja?" heran Baekhyun dengan pipi memerah. Chanyeol terkekeh lalu bangkit menyalurkan sperma Baekhyun lewat bibirnya. Entah kenapa Baekhyun merasa sangat semangat melumat bibir tebal itu.

"Kau habis orgasme Baby hhhh.." jelas Chanyeol tersenyum saat kening mereka bertemu

"Apa?! Benarkah?"

Chanyeol mengangguk.

Baekhyun terkejut bukan main. Dia bukan anak bodoh yang baru tahu apa itu orgasme. Pelajaran seks sebelumnya sudah pernah dia dapatkan saat menginjak kelas dua. Hanya saja belum dia praktekkan. Dan Baekhyun sangat tercengang. Dia baru saja mendapatkan kenikmatan pertamanya.

Sontak Baekhyun malu-malu menutupi seluruh wajahnya. Sang pipi memerah padam dengan bibir yang tergigit. Chanyeol tersenyum lalu mengusap lembut pipi Baekhyun melihat ekspresi menggemaskan kekasihnya.

"A—aku sangat malu Yeol. Apa yang harus kulakukan sekarang?" aku Baekhyun terkesan bodoh di hadapan Chanyeol.

Chanyeol tertawa. Dia mengecup rahang bawah Baekhyun sambil melepas penutup terakhir. Baekhyun tidak berani memandang kejantanan Chanyeol. Dia hanya bisa meneguk ludah setelah melirik sedikit dan alhasil jantungnya berdebar kesetanan.

"Tahanlah sejenak Baby"

"Ah! Tu—tunggu!" pekiknya menahan dada bidang Chanyeol.

"Wae?"

"A—apakah akan terasa sangat… Sakit?" gugupnya meneguk ludah kasar.

Chanyeol mengecup kening Baekhyun lembut. Padahal libidonya sudah di ambang batas. Entah kenapa dia masih saja berusaha sabar menahan nafsunya. Apalagi Baekhyun dari tadi benar-benar memperlihatkan kesan seorang gadis perawan yang akan di renggut keperawanannya oleh sang kekasih.

"Aku akan melakukannya selembut mungkin" Baekhyun mengangguk cepat. Namun tidak bisa di pungkiri wajahnya terlihat ketakutan.

"Kalau begitu coba kau rasakan jariku terlebih dahulu Baekki" ucap Chanyeol berat lalu melesakkan jari tengahnya pada hole Baekhyun.

Baekhyun memekik kaget. Jari panjang Chanyeol seakan menusuk-nusuk tubuh bagian bawahnya. Lalu tanpa mengindahkan rintihan Baekhyun, Chanyeol memasukkan jari kedua dan ketiga. Menggerakkannya menggunting dan memutar guna melonggarkan hole Baekhyun.

"Ahh!"

Prostat si mungil kena telak. Chanyeol segera mengeluarkan jarinya dan memandang Baekhyun yang berpeluh sangat seksi di hadapannya. Wajahnya yang memerah. Bibir bengkak juga mata sayu itu. Mengalihkan seluruh saraf Chanyeol. Kejantanannya semakin mengeras. Bibir Chanyeol bergerak menciumi leher Baekhyun yang penuh dengan kissmark. Naik keatas rahang, pipi, dan sampai pada telinga Baekhyun.

"Chanyeol-ah.."

"Seandainya dunia tahu saat ini bahwa kau begitu indah dan cantik Baekhyun" puji Chanyeol dengan nada berat. Chanyeol menatap lekat pada bola mata Baekhyun.

"Mereka pasti akan sangat iri padamu saat ini" tuturnya dengan senyuman lembut.

Baekhyun merona dibuatnya. Chanyeol mengalihkan wajahnya, mengecup singkat bibir Baekhyun. Menatapnya dalam sambil menyiratkan arti penuh cinta sedangkan Baekhyun balas tersenyum manis. Menyatakan bahwa dia akan baik-baik saja. Tangannya terulur mengusap pelan kening Chanyeol sehingga dahinya terekspos. Ouh, Park Chanyeol sungguh seksi saat ini.

"Saranghae"

Ucap Baekhyun menghasilkan seulas senyuman bahagia di wajah si pemuda ganas. Ini adalah kali pertama Baekhyun mengucapkan kata cinta pada Park Chanyeol. Dan wajah malu-malunya tidak diragukan lagi. Sangat manis dan menggemaskan!

"Nado Saranghae Baekhyun-ah. Lakukan apapun yang membuatmu menghilangkan rasa sakit ini. Tahanlah sebentar aku akan berusaha selembut mungkin" jelas Chanyeol dan Baekhyun mengangguk patuh.

Chanyeol memposisikan juniornya di hole Baekhyun. Mendorongnya sedikit demi sedikit dengan Baekhyun yang mendekap erat lehernya bersiap menahan sakit.

"Akhhhh! Chan—Chanyeol… A—appo… Ahhh!"

Rintih Baekhyun merasakan kepala junior Chanyeol menerobos masuk kedalam lubangnya. Baru awal saja sudah terasa sangat perih. Chanyeol bergerak lagi perlahan. Memasukkan setengah juniornya. Sedangkan Baekhyun menjerit terendam pada pundak pria di atasnya. Chanyeol merasa punggungnya basah akibat airmata pria di bawahnya dan dia susah bernafas karena gugup juga dekapan erat Baekhyun yang mencekiknya. Namun dia berusaha selembut mungkin pada proses penyatuan ini. Dia tahu Baekhyun merasakan rasa sakit yang luar biasa sekarang.

Chanyeol berhenti sejenak membiarkan Baekhyun mengambil nafas. Setelah dirasa waktunya pas. Dengan satu hentakkan lagi Chanyeol melesakkan juniornya sampai masuk seutuhnya kedalam hole Baekhyun. Membuat Baekhyun berteriak. Merasakan holenya terbelah dua juga penuh dengan keberadaan kekasihnya didalam.

Mereka terdiam lagi menetralkan nafas yang memburu. Chanyeol merasakan lengket di sekitar batangnya. Matanya menoleh kebawah dan membulat melihat warna pekat itu. Baekhyun meringis perlahan.

"Baby… Ya Tuhan.. Maafkan aku" ujar Chanyeol dengan wajah panik.

Tiba-tiba saja Baekhyun menggeleng, Menandakan kalau dia baik-baik saja sambil tertawa kecil. Mengartikan bahwa tubuhnya dan tubuh Chanyeol telah bersatu.

"Chanyeol ada didalamku" kekehnya berurai airmata.

Chanyeol begitu terenyuh mendengar penuturan kekasihnya. Dia mengelus pipi Baekhyun dengan punggung tangannya. Mengusap bulir bening kekasihnya lalu mencium bibir Baekhyun dengan penuh perasaan. Rasa bahagia menguap dihatinya. Akhirnya mereka bisa memiliki satu sama lain.

"Sial Baekhyun! Aku sangat mencintaimu!"

"Aku tau" kekeh si mungil diikuti Chanyeol.

"Benar kau baik-baik saja?"

"It hurts a lot. But, its okay Chanyeollie. You just have to hold me tight tonight"

Kepala Chanyeol mengangguk mendengar perkataan Baekhyun. Dia menciumi wajah kekasihnya sampai Baekhyun meronta kegelian.

"Aku sangat mencintaimu Byun Baekhyun"

Baekhyun mengangguk lalu tersenyum manis. Berapa kali dia mendengar Park Chanyeol menyatakan cinta? Sepertinya pria itu tidak pernah bosan melantunkan mantra tersebut. Tapi dia tidak memikirkannya saat ini. Dia bahagia begitu di cintai si jangkung ini.

"Aku juga. Aku mencintaimu dengan sangat Park Chanyeol"

Chanyeol mulai bergerak perlahan memaju mundurkan batangnya dengan teratur berusaha tidak menyakiti kekasihnya. Baekhyun mengangkat kepalanya. Leher jenjangnya menjadi santapan Chanyeol yang mengecupnya lembut.

"Ahh….. Ahhh…. Chanyeol…"

Batang Chanyeol bergerak maju mundur dengan teratur. Nafas mereka terengah-engah saat mencari kenikmatan dunia. Chanyeol belum puas. Maka dia mencoba mengubah tempo tumbukannya.

"Appo…. Yeollie… Ughhh" rintihnya.

"Ouh, I'm so sorry Baekhyun… Damn, why you so tight?"

Gerakan Chanyeol semakin cepat. Niatnya untuk berlaku lembut sirna sudah ketika dia menemukan kelenjar kecil itu. Juniornya menumbuk prostat Baekhyun berkali-kali. Baekhyun merasakan surga. Dia meminta Chanyeol lebih menusuk holenya dalam-dalam. Otak polosnya berubah seketika. Kenapa dia baru merasakan kalau bercinta nyatanya sangat sakit sekaligus nikmat? Perasannya mulai bercampur aduk.

"Ahh!"Baekhyun memekik saat Chanyeol lebih brutal menghujam lubang miliknya. Urat-urat kejantanan Chanyeol seakan menggesek-gesek kasar hole sempit itu.

"Chanyeol.. Aku mau…"

"Tahan sebentar lagi Babyhh… Bersama-sama oke?"

Baekhyun mengangguk frustasi menahan orgasmenya. Pinggulnya sudah sangat pegal namun Chanyeol masih sangat kuat menusukkan juniornya. Lubang Baekhyun semakin licin seiring batangnya bergerak. Air mata kembali mengalir merasakan sakit di bagian bawahnya. Kepalanya terkulai lemas memeluk bahu Chanyeol. Kakinya juga telah melingkar begitu erat dengan pinggang Chanyeol.

"Ahhhh…. Yeoool! Eungghh…"

"Baekhyunnn…"

"Uhhh… sakittt.." ringisnya.

"Sebentar lagi Babyy hhhhh. Fuck! Kau terlalu nikmat. Lubangmu sangat sempit Baekhyun" pipi Baekhyun memanas mendengar ungkapan kotor Chanyeol.

Tidak berapa lama tubuh Baekhyun tersentak dengan keras pada ranjang dan Chanyeol sampai. Mereka sama-sama menjerit penuh kelegaan. Sperma Chanyeol membasahi lubang Baekhyun sampai mengalir keluar bercampur dengan darah perjaka Baekhyun.

"Oh my… I never felt so hurt and so good at the same time" keluh Baekhyun terengah-engah sambil tertawa. Chanyeol mengikutinya. Miring membaringkan tubuhnya di sebelah Baekhyun sambil perlahan melepaskan kontak mereka.

"Gomawo Baby. Saranghae" ucap Chanyeol mengecup lembut bibir kekasihnya.

"Nado saranghae Park Babo!"

Kekeh Baekhyun sebelum akhirnya mata mereka tertutup akibat terlalu lelah. Chanyeol mengangkat punggungnya sedikit. Bibirnya mengecup kening Baekhyun yang terlelap menuju alam mimpi. Dia begitu bahagia bisa memiliki Baekhyun seutuhnya. Tuan Park memejamkan mata tertidur sambil memeluk kekasih tercinta. Tidak menyadari dering ponselnya yang bergetar berkali-kali di dapur.

.

.

.

01.10 A.M

"Tidak diangkat" keluh seorang yeoja cantik dengan mata kucing.

"Mungkin dia sudah tidur. Sudahlah aku juga ngantuk! Hari ini sangat melelahkan lebih baik aku pulang!"

"Oppa tunggu! Biarkan aku bermalam di rumahmu" rengek yeoja itu sambil merengkuh lengan namja di sebelahnya.

"Apa? Yang benar saja! Tidak! Hari ini aku ingin tidur nyenyak dan jangan ganggu aku!"

"Oppaaa" erang yeoja itu semakin manja. Wajahnya berubah cemberut dan Chen menghela nafas kasar.

Sial! Dirinya benar-benar sial terpancing kebohongan ketika yeoja itu menelponnya panik dengan alasan paspornya hilang di bandara. Nyatanya? Itu hanya trik licik semata agar Kim Jongdae menjemput kedatangannya di Bandara Incheon.

"Baiklah! Tapi jangan macam-macam! Oke?"

Yeoja itu tersenyum manis lalu menyatukan ibu jari dan telunjuknya. "Oke! Tapi bukankah kau tidak gay oppa? Kita kan pernah menghabiskan beberapa malam. Kenapa kau bertindak seolah-olah kau jijik pada wanita seperti ku?"

Chen tersenyum remeh. "Karena kau adalah sumber masalah yeoja murahan! Dan aku pasti akan di bunuh si jangkung itu jika dia tahu aku bertemu denganmu disini"

Gadis berambut panjang itu terkekeh. "Perkataanmu sungguh kasar oppa. Tapi aku senang kau tidak melupakan fakta bahwa aku memang si pembawa masalah pada kehidupan seseorang"

Chen hanya menatap dingin yeoja yang memang sejak dulu merupakan teman dekatnya. Kenapa sekarang dia malah kembali? Dirinya hanya akan merusak segala hubungan sempurna yang akan di bina seseorang saat ini. Chen menggeleng lelah dan berjalan menuju mobilnya.

Mereka berdua sudah masuk kedalam mobil. Gadis itu terus menelpon seseorang yang sangat di cintainya. Namun tidak ada balasan. Chen yang jengah menarik ponsel itu lalu membuangnya ke jok belakang.

"Ya! Oppa!"

"Dengar. Aku tidak akan terlibat dalam trik kotormu suatu saat nanti jika kau melihat kejutan pada 'pangeran brengsekmu' itu. Mengerti?" tegas Chen dengan wajah menyeramkan.

Yeoja cantik bermata kucing itu hanya tersenyum lalu menarik wajah Chen mendekat.

"Tidak bisa oppa. Hanya kau yang dapat aku andalkan. Dan mengenai kejutannya. Aku sangat tidak sabar! Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk mendapatkan yang aku mau. Kau tahu aku kan?" jelas yeoja itu lalu mencium bibir Chen perlahan.

Chen tetap membuka matanya. Membiarkan gadis itu menggoda dirinya. Dia merasa benar-benar akan mati setelah ini. Karena baru saja menjemput Tuan Putri pembawa masalah kedalam kelompoknya.

.

.

.

TBC

CHANBAEK SHIPPER BERSORAKLAH! TLP BANYAK BANGET MOMEN CHANBAEKNYA *\T^T/* /angkat banner chanbaek tinggi tinggi/

Sehyun bersyukur banget bisa liat umma Baek dan appa Yeol mesra-mesra di depan komok! /hiks/

Anyways!

Udah jelaskan about Yeol flashback? Udah dong yaa /nyengir/

Gimana NCnya? Hohoho /tawa jahat/

Sehyun Perdana post NC nih jadi maaf-maaf saja kalau gak HOT yah hehe. Soalnya lebih menerangkan ke feelsnya BaekYeol. Gpp kan? Ya, readers yang menentukan deh.

Next Chap problem udah muncul. Agak berat kayaknya hohoho

Started juga barengan update sama BB BY. Maaf kalau sehyun update lama. Sehyun masih sibuk tugas kuliah dan ffn ngeselin banget -_- Tapi sehyun bakal nyempetin update fast kok. Makanya jangan ada silent readers yah !/nyengir lagi/

So, How about..

Reviews? XD