Maaf Sehyun udah lama gak update hampir sebulan lebih /sujud didepan readers/
Kehilangan bias utama memang gak gampang buat hatiku... /usep airmata/ /peluk Luhan/
BIG THANKS!
Untuk para readers, reviews-nya, siders, silent readers, juga yang udah follow favorite ff Sehyun /kecupin satu satu/ :*:*:*{}{}{}
I LOVE YOU ALL! ^^
.
.
WARN!
YAOI! DLDR!
NO BASH for another chara okay?
30 PAGE !
Just close the web if you already overdose! T_T
We Are One
Enjoy
.
.
.
.
.
-BaekYeol Area-
Chanyeol membuka mata saat seluruh kamarnya terbiaskan cahaya mentari pagi. Matanya berkedip beberapa kali menyesuaikan pandangan sekitar. Dia belum sadar sepenuhnya. Maka dia mengusap pelan kepala depannya sambil menguap lebar bak singa jantan. Entah kenapa tadi malam dia merasa tertidur dengan sangat nyenyak.
Chanyeol berinisiatif memposisikan tubuhnya untuk duduk. Namun pergerakannya terhenti saat jemari lentik hinggap di dada bidangnya. Chanyeol menoleh. Mata bulatnya menatap biasa pada objek yang tertangkap oleh retina. Pikirannya mulai melayang pada kejadian semalam. Seulas senyum tampan tercetak dibibir seksinya.
Jika dia boleh jujur dan berteriak sekeras mungkin menyerukan pada dunia. Baginya ini adalah pagi terbaik sepanjang delapan belas tahun kehidupan Park Chanyeol. Pagi ini dirinya mendapati seorang malaikat mungil yang meringkuk bak kucing kedinginan disamping tubuhnya.
Chanyeol memindahkan tangan mungil itu dengan sangat hati-hati sambil berusaha terduduk. Takut si pemilik terbangun di kala dia sedang menyesapi dalam-dalam wajah cantik kekasihnya. Chanyeol merendahkan dadanya. Punggung tangan besar itu mengusap perlahan pipi putih sang namja mungil. Hatinya berdesir seketika mengingat kembali kejadian semalam.
Ya.. mereka sudah memiliki seutuhnya satu sama lain.
Dan Chanyeol tidak bisa memungkiri bahwa dia sangat sangat bahagia karena telah sepenuhnya memiliki seorang Byun Baekhyun—namja yang selama ini selalu memenuhi hati dan pikirannya. Bahkan dia pun tahu kalau seorang Baekhyun terbilang pemalu dan enggan melakukan tindakan awal jika mereka ingin melakukan kontak fisik. Namun lain halnya kemarin. Baekhyun serasa menjadi orang yang berbeda dan Chanyeol menyukai perbedaan itu. Sebenarnya pria tampan ini masih menerka-nerka, apa yang ada di otak Baekhyun sehingga si mungil cerewet ini bisa mengambil sikap berani padanya? Apa mungkin Baekhyun cukup teransang oleh kegiatan Kai dan Kyungsoo yang mereka lihat?
Ahh, Kai dan Do Kyungsoo..
Chanyeol sempat terdiam mengingat hal tersebut yang membuatnya nyaris setengah shock. Namun sekarang baginya itu sama sekali bukan perihal besar. Toh, dia sudah melupakan segala masa lalunya dan lebih mementingkan si manis Byun ini.
"Hemmh..." Baekhyun semakin meringkukkan tubuhnya sembari mengigau tidak jelas.
Chanyeol terkekeh kecil ketika melihat ujung bibir Baekhyun bergerak-gerak mengatup berkali-kali seperti bebek. Dia lebih merendahkan tubuhnya lalu mencium bibir mungil tersebut dengan sangat hati-hati.
"Selamat pagi Baby Baek" lirihnya tepat di wajah Baekhyun.
Tidak lama wajahnya beralih. Chanyeol mencium kening Baekhyun lembut. Terlalu lembut seakan Baekhyun adalah benda rapuh yang patut di jaga sebaik mungkin. Chanyeol menjauhkan wajahnya. Menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh polos Baekhyun lalu bangkit mengambil celana jeans yang berceceran di bawah ranjangnya.
Pria jangkung itu sedikit berdecak kagum ketika berdiri berdiam diri melihat kondisi kamar yang sangat berantakan termasuk pada ranjangnya sendiri. Kemudian Chanyeol melirik Baekhyun lagi. Dia tersenyum dengan wajah teramat bahagia. Seakan dunia begitu menginginkannya tersenyum setiap saat memandang malaikat mungil didepannya. Tubuhnya merunduk lagi, mengusak pelan surai kekasihnya.
"Kau pasti masih lelah. Aku akan membuatkan sarapan. Tunggulah sebentar" ucapnya pada Baekhyun yang masih tertidur lelap bagai putri diranjang Chanyeol.
.
.
Baekhyun terbangun saat indra penciumannya tidak sengaja menangkap aroma lezat dari pintu kamar yang sedikit terbuka. Dia mengusap-usap mata layaknya anak anjing kemasukkan debu. Menetralkan seluruh pandangan sejenak dengan posisi tubuh masih terbaring diranjang. Kemudian dia diam.
Memang ini kebiasaan Byun Baekhyun jika bangun pagi. Mata sipitnya selalu melamun menatap langit-langit kamar sampai kesadarannya benar-benar pulih. Isi kepalanya memaksa me-review segala hal yang bisa dia ingat semalam.
"Apa yang terjadi?" gumamnya merasakan kejanggalan.
Namun Baekhyun cukup pintar untuk tahu bahwa kamar bernuansa biru mewah ini bukan kamarnya. Dia hanya lupa dengan apa yang terjadi sampai tubuhnya bisa berakhir tanpa busana di ranjang besar ini. Baekhyun memiringkan posisinya perlahan sambil membenamkan setengah wajahnya. Seolah tidak peduli pada ranjang siapa yang sedang dia tempati saat ini. Matanya kembali tertutup sejenak. Entah mengapa tubuhnya merasa pegal-pegal termasuk pada bagian pinggang kebawah. Tiba-tiba mata sipit itu terbuka saat mendengar suara bising piring maupun benda kaca lain yang di adukan oleh meja marmer.
Baekhyun memberikan sebuah senyuman manis saat otaknya mendapati jawaban siapa si pembuat onar dipagi hari.
"Chanyeol-ah..." bisiknya dengan sebuah senyuman terlampau manis.
Baekhyun berniat bangkit dengan sikutnya terlebih dahulu. Namun ia merasakan rasa sakit ketika bokongnya nyaris terduduk diranjang. Baekhyun meringis spontan sambil mengigit bibir.
"Akhh... Perih..." rintihnya pada bagian belakang sang tubuh.
Mata sipit Baekhyun melebar melihat sesuatu di atas sprei putih. Baekhyun sungguh terkejut setengah mati. Seharusnya dia sudah mengetahui alasan mengapa bokongnya semalam terasa perih bukan main. Hole keperjakaannya telah dibobol telak oleh kekasihnya sendiri. Meski Baekhyun tidak perlu memungkir karena itu merupakan ulahnya yang sangat spontan mengajak Chanyeol bercinta.
Oh, mengingat hal itu pipi Baekhyun kembali memanas. Dia sendiri bahkan tidak mengerti mengapa semalam dia begitu agresif menyerahkan dengan pasrah seluruh tubuh mulusnya untuk Park Chanyeol. Baekhyun merasa malu dan bodoh saat ini.
Tangan mungil itu terulur menyentuh noda kemerahan juga beberapa cairan bening yang mengering— bukti cintanya untuk si berandal sekolah Park Chanyeol. Sekali lagi seulas senyuman manis entah mengapa mengembang di bibir tipisnya.
"Ternyata kau memang benar mencintaiku..." paparnya berbicara sendiri. Hatinya terasa menghangat. Bahkan jantungnya berdegup tidak stabil memikirkan momen indah malam pertama mereka.
"Tapi apa noda darah ini bisa hilang? Ah, aku harus mencucinya nanti" ucap Baekhyun kemudian berusaha berdiri menggunakan lututnya. Meraih kemeja putih Chanyeol yang dia pakai semalam.
Baekhyun bersusah payah berjalan menuju sumber wangi-wangian yang teramat menggoda perutnya. Kakinya berjalan tertatih-tatih sesekali berdesis kesakitan. Tangannya meraba-raba dinding rumah Chanyeol sebagai penyangga sebagian tubuhnya.
Sial...
Nyatanya bercinta memang sangat menyakitkan meskipun nikmat. Baekhyun sedikit merutuki sumber rasa sakit dibagian bokongnya.
Tidak berapa lama Baekhyun sudah tidak menatap tembok lagi. Pemuda manis itu menangkap sosok pria jangkung tanpa busana—pada bagian atasnya. Punggung tegap pria itu langsung menyambut pandangan paginya. Uhh, pipi Baekhyun sontak merona membayangkan kejadian semalam. Baekhyun akui kekasihnya memang memiliki tubuh yang lebih bagus darinya. Dada bidang yang tegap. Beberapa lekukan abs diperutnya. Juga pundak lebar yang dapat merengkuhnya menghantarkan kehangatan. Pikiran Baekhyun jadi melantur kemana-mana. Lantas kenapa Park Chanyeol malah memasak tanpa mengenakan atasan? Apa dia sengaja ingin menggoda Baekhyun agar mengajaknya bercinta lagi?
Si topik yang sedang dibicarakan oleh pikiran Baekhyun pun menoleh menyadari seseorang berdiri membelakanginya. Mata mereka bertemu dalam diam. Namun Chanyeol lebih cepat merespon. Dia tersenyum lembut pada tempatnya berpijak. Sementara tubuh Baekhyun menengang. Otaknya seakan terbius oleh pesona senyuman hangat dari sang kekasih. Maka dia hanya mampu berdiam kaku di tempatnya dengan kemeja kebesaran yang membuat Chanyeol akhirnya terkekeh kecil.
"Selamat pagi Baby" suara berat yang mengalun terlalu lembut menyapa rongga telinga si mungil.
Baekhyun tersadar dari lamunannya—jujur dia sedikit berfantasi aneh setelah melihat dada bidang Chanyeol yang—Ouh, jangan katakan dia tidak teransang karena hal itulah yang membuat jantungnya berdegup kesetanan. Dan nyatanya sekarang wajah Baekhyun memanas layaknya kompor tersulut api.
"Pa—pagi... Chan—yeol" gugup Baekhyun mengedarkan matanya kesana kemari menjauhi tatapan si pria jangkung.
Chanyeol hanya tersenyum sembari melangkah mendekati kekasihnya. Dia menarik tangan Baekhyun dan membawanya pada meja counter. Memperlihatkan apa yang baru saja dia hasilkan. Dan nyatanya mata sipit Baekhyun membulat dengan pipi menggembung ketika sesendok nasi goreng kimchi masuk kedalam mulutnya. Baekhyun speechless saat merasakan masakan buatan Chanyeol. Ternyata sangat enak!
"Aku tidak tahu kau bisa masak!" kagum Baekhyun dan menyendok sekali lagi nasi goreng itu kemulut tanpa duduk dimeja makan.
"Hm? Tentu saja. Namjachingu-mu ini bisa melakukan apa pun!" ungkap Chanyeol sambil melingkarkan lengannya di perut Baekhyun dan menaruh dagunya pada bahu sempit pemuda yang lebih pendek darinya.
Baekhyun mencibir. "Baru sekali di puji kau langsung berlagak sombong"
"Itu kenyataan. Bukankah memang sudah tugasku untuk membuatmu terpana akan keahlianku, Baby?" goda Chanyeol melesakkan hidungnya, menghirup aroma helai rambut krem itu.
Baekhyun menggeleng acuh. Dia lebih tertarik pada makanan di hadapannya. Sedangkan Chanyeol hanya tertawa melihat reaksi Baekhyun. Dia tahu kekasihnya ini sedang malu berat. Catat! Malu berat karena semalam telah meminta dirinya untuk bercinta dengan Chanyeol.
"Baekhyun-ah"
"Hem?"
"Wajahmu kenapa memerah?"
"..."
"Baekhyun?"
"Hem?"
"Kutanya kenapa wajahmu memerah?" Chanyeol semakin mendesak Baekhyun dan memeluknya erat dari belakang. Sedangkan Baekhyun tetap terdiam. Dia malu..
"Ya! Aku bertanya Baby Byun!"
"Aishh.. Yeol. Kenapa kau berisik sekali? Tidak tahukah kalau mukaku memang memerah alami? Babo!"
Dan jawaban Baekhyun membuat Chanyeol tergelak. Chanyeol tahu kalau kekasihnya sedang mencoba mencari-cari alasan konyol. Meski harus diakui bahwa Baekhyun tampak manis dengan wajah merona itu. Chanyeol semakin gemas menjahilinya.
"Baby"
"Hem?"
"Apa bagian belakangmu masih terasa sakit?" tanya Chanyeol sambil memutar tubuh Baekhyun agar berhadapan dengannya. Lalu menaruh piring berisi nasi goreng itu dan memandang Baekhyun dari dekat. Yang di pandangi malah menundukkan kepalanya.
Baekhyun terdiam ragu. Chanyeol kembali bertanya dan akhirnya kepala Baekhyun mengangguk kecil. Bibirnya dikulum rapat. Sebenarnya dia masih merasakan rasa sakit ini tapi lebih baik diabaikan. Toh, ini adalah salah satu bukti bahwa semalam dia dan Chanyeol sudah... Ah, biarkan saja mereka mengingatnya masing-masing.
Tiba-tiba Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun bak boneka. Begitu mudah dan ringan sehingga Baekhyun memekik kaget. Tapi itu tidak bertahan lama karena Chanyeol segera merengkuh tubuhnya erat. Baekhyun terheran-heran. Kenapa Chanyeol tiba-tiba mendudukkannya di meja counter? Tidak tahukah kalau meja berbahan dasar marmer ini begitu dingin saat menyentuh bokong Baekhyun?
"Maafkan aku.." bisik si pemilik suara berat.
Baekhyun hanya diam. Merasa paham, Baekhyun memberikan jarak dari dekapan pemuda dihadapannya sementara Chanyeol enggan melepaskan sang rengkuhan pada pinggang ramping itu.
"Kenapa kau minta maaf?" tanya Baekhyun menangkupkan wajah Chanyeol dengan kedua tangannya. Berusaha mengklaim tatapan mata coklat Chanyeol yang memandangnya teduh.
Chanyeol terdiam. Bibirnya mengecup pipi Baekhyun singkat lalu menatapnya lagi. "Karena kau kesakitan semalam. Apa aku begitu kasar? Maaf, sebenarnya aku sudah mencoba menahan untuk tidak bertindak terlalu terburu-buru sampai membuatmu takut atau berniat menyakitimu. Tapi nyatanya aku—"
"Sssttt... Berhentilah bicara.."
"Tidak. Aku tahu sampai saat ini kau masih kesakitan"
"Tapi itu bukan masalah Yeol. Lagipula ini memang yang pertama bagiku. Jadi, wajar saja jika terasa sakit" papar Baekhyun sedikit ragu mengucapkan hal tersebut namun tangannya tetap mengelus pipi Chanyeol lembut.
Kepala Chanyeol menggeleng. "Tidak Baek. Ayo cepat pukul aku keras-keras agar kita setimpal!"
Kepala Baekhyun mundur kebelakang. Dia mengeryit heran mendengar permintaan konyol kekasihnya.
"Kenapa aku harus?"
"Sudahlah cepat pukul kepalaku" titah Chanyeol lalu menaruh tangan Baekhyun pada kepalanya sendiri.
"Tidak mau!" Baekhyun beringsut mundur dari dekapan Chanyeol tapi Chanyeol yang keras kepala tetap bersikukuh dengan keinginannya.
"Pukul aku Baek!"
"Tidak!"
"Aku belum puas jika kau belum memukulku!"
"Ya! Berhentilah mengatakan hal-hal bodoh Chanyeol! Aku tidak akan memukulmu!"
"Tapi—"
"Chanyeol, dengar! Semalam aku yang meminta. Dan rasa sakit ini tidak seberapa. Aku baik-baik saja. Kumohon jangan salahkan dirimu sendiri sekarang. Kau telah memberikan semua hal terbaik yang bisa kau berikan padaku Park Babo!" sahut Baekhyun tegas namun menyiratkan ketulusan hatinya.
Chanyeol tertegun mendengar jawaban Baekhyun. Mata bulatnya menyusuri setiap inci dari wajah sang kekasih. Mereka saling bertatapan lama sampai akhirnya Chanyeol hendak membuka mulutnya dengan wajah penuh penyesalan. Baekhyun mendekatkan kening mereka berdua. Berbisik lirih pada pria jangkung dihadapanya.
"Kau tidak pernah menyakitiku..."
Baekhyun menutup mata. Dia berharap Chanyeol mengerti bahwa rasa sakit ini merupakan bukti cintanya semata bukan pengalaman pahit yang kekasihnya berikan.
"Gomawo Chanyeol-ah" timpal Baekhyun lalu mencium lembut bibir Chanyeol tanpa keraguan lagi.
Hati Chanyeol berdesir. Matanya mulai terpejam. Terbuai akan rasa dari benda kenyal yang menyapu seluruh permukaan bibirnya. Dia memejamkan mata. Berbalik menyesap bibir manis itu perlahan. Merasakan setiap momen yang bisa dia tangkap ketika bibirnya bertemu dengan bibir Baekhyun. Baekhyun memiringkan kepala. Alisnya berkerut dalam tanda dia sangat serius melumat-lumat bibir tebal Chanyeol kekanan maupun kekiri. Mencoba mencari posisi ternyaman ketika ciuman mereka larut semakin dalam.
Semakin lama ciuman Chanyeol semakin menuntut saat Baekhyun mengusap-usap leher belakang juga punggungnya. Bahkan Baekhyun sendiri tidak tahu entah sejak kapan satu kakinya melingkar manis pada pinggang sang kekasih.
"Emmhhh..." Baekhyun mulai mendesah. Membuat sesuatu yang seharusnya tidak bangun pada pagi hari ini terangsang.
"Ahh..." Chanyeol ikut mendesah saat bibir mereka mendapatkan celah.
Lidahnya segera masuk kedalam rongga mulut Baekhyun. Melesak lebih dalam sambil merasakan setiap detail langit-langit mulut si mungil. Mencium bibir Baekhyun lebih dalam lagi seakan tidak akan ada hari esok. Ciuman ini membangkitkan segala tindakan setan Park Chanyeol. Tangan nakal Chanyeol membuka satu persatu kancing kemeja yang melekat pada tubuh Baekhyun. Sehingga bagian atas tubuh Baekhyun terpampang jelas dimatanya. Dengan tiga kancing bawah yang masih menutupi area privasi si mungil.
"Ahh!" Baekhyun menjerit saat miliknya dan milik Chanyeol tanpa sengaja bergesekan dan terhimpit. Karena tubuh Baekhyun sedari tadi memang tidak bisa diam dan terus meliuk-liuk mengelus atau bahkan menyisir rambut Chanyeol kalap guna melampiaskan hasratnya.
Ciuman keduanya terlepas. Saliva entah milik Chanyeol atau Baekhyun sendiri turun membasahi dagu sampai keleher mulus Baekhyun. Ohh, salah. Leher Baekhyun sudah tidak mulus. Karena Chanyeol kembali memberikan tandanya kepemilikkannya berkali-kali dengan kecupan manis yang tak ada habisnya.
Baekhyun mendorong lemah wajah kekasihnya dari sang leher. Nafas mereka satu satu dengan wajah memanas sampai keubun-ubun. Obsidian mereka bertemu dalam sebuah pandangan penuh sirat akan cinta. Baekhyun tersenyum manis. Memberikan eye smile terbaiknya pada Chanyeol. Dia mengecup singkat pipi Chanyeol dengan mata terpejam. Sekali lagi, hatinya terasa hangat.
"Lakukan saja" ucapnya seolah memerintah seseorang yang berkuasa penuh akan tubuhnya. Dan Chanyeol bukan anak sekolah dasar yang harus mengatakan apa-maksud-dari-perkataan-mu-barusan-Baekhyun?
Tidak.
Sejenak pria itu menyingkap poni Baekhyun dan langsung menghadiahinya dengan satu kecupan lembut. Baekhyun terkekeh kecil ketika merasakan bibir pria jangkung itu terasa sangat hangat menyentuh dahinya. Kemudian dia memeluk Chanyeol erat ketika Chanyeol mulai menurunkan zipper jeans-nya sendiri. Jantung Baekhyun berdegup kencang saat merasakan Chanyeol sudah menurunkan celananya sambil terus mengecupi bahu Baekhyun.
"Ternyata sejak awal kau memang sudah menggodaku Baeby?" bisik Chanyeol dengan suara berat pada telinga Baekhyun.
Baekhyun hanya tertawa singkat lalu mendekatkan bibirnya pada cuping Chanyeol. Mengulumnya perlahan sambil menghembusan nafas yang memang masih terengah-engah akibat perbuatan kekasihnya.
"Aku tidak bermaksud begitu, mesum"
"Mesum? Kau sendiri nyatanya tidak memakai apa-apa di bawah sini"
"Bukan begitu... Aku—"
"Kau tidak pandai mengelak Byun Baekhyun"
"Ahh!"
Baekhyun spontan menjerit ketika tangan Chanyeol meremas kuat miliknya.
"Sekarang siapa yang terlihat sangat mesum dan menginginkan semua ini eoh?" goda Chanyeol terus mendesak Baekhyun. Membuat namja mungil ini mem-pout-kan bibirnya dengan wajah merona.
"Aku tidak mesum! Kau saja yang mudah tergoda. Hasratmu itu harus dijaga Park Babo!"
Chanyeol tertawa sambil memposisikan juniornya pada hole Baekhyun tanpa pria itu ketahui. "Kau benar. Memang hanya kau seorang yang dapat menggodaku untuk memasukimu Baek"
"Ahhh!" Baekhyun menjerit tertahan ketika batang Chanyeol melesak tiba-tiba. Kembali menembus hole-nya. Sekali lagi dia refleks mencekik leher Chanyeol begitu kuat.
Pada akhirnya Chanyeol benar-benar tidak bisa bermain sabar. Dengan cepat dia terus memaju mundurkan batangnya meski terlihat susah. Mengabaikan Byun Baekhyun yang menjerit-jerit entah itu rasa sakit ataupun nikmat disaat yang bersamaan. Chanyeol terus bergerak mencoba mencari letak kelenjar kecil yang dapat memuaskan hasratnya maupun Baekhyun.
"Ahh... Ngghh... Chanyeol... Chanyeol.. Ahh... Ahh..."
Baekhyun merancau penuh nikmat. Punggungnya sudah menyentuh meja counter yang terasa dingin sedangkan Chanyeol menindihnya. Merapatkan tubuh mereka yang lengket berpeluh. Dia semakin brutal melecehkan lubang Baekhyun. Pria itu menggeram tertahan sambil menghujam beberapa kali titik yang sama.
Tangan Baekhyun gelagapan mencari-cari pelampiasan. Maka dia menarik wajah Chanyeol dan memagut bibir tebal itu dengan rakus. Chanyeol tetap mengimbangi ciuman kekasihnya selagi terus menusuk ditempat yang sama.
"Ahh.. Yeollie... Aku..hhh... "
"Hemhh...? Wae...?"
"Hhh.. A—aku... mencintaimu... Ah!" ungkap Baekhyun mengigit bibirnya ketika Chanyeol menghentakkan miliknya sekali lagi.
Chanyeol tersenyum. Dia meraih bibir Baekhyun dan menciumnya lembut.
"Aku juga... Aku sangat mencintaimu Byun Baekhyun...hh"
Ucapnya kemudian berkonsentrasi pada ritme tusukannya. Tubuh Baekhyun bergetar. Sebenarnya dia merasakan kedinginan. Hanya saja kegiatan panas mereka mengalihkan semuanya. Chanyeol terus mendorong miliknya keluar masuk sementara Baekhyun mulai mendesah-desah memancing libido kekasihnya.
"Ahh... Uhh... Lebih kumohon..."
"Nnghh... I'm try baby. Damn! Kenapa masih sangat sempit?"
Baekhyun menggeleng tidak tahu sambil ikut memaju mundurkan tubuhnya. Kakinya menekan erat pinggang Chanyeol. Sebenarnya dia lelah dan perutnya merasakan sensasi menggelitik saat hendak menahan orgasme.
"Euunghhh... Aku tidak bi..sa.. menahannya lagi..Yeol..."
"Sedikit lagi Baekki..hhh"
"Uhh... Baekhyun..."
"Akhh... Chanyeol!"
Dan dengan dua kali hentakkan bersamaan dengan kedua jeritan tersebut Baekhyun maupun Chanyeol akhirnya sampai. Pria tampan itu membasahi hole Baekhyun dengan spremanya. Sedangkan milik Baekhyun sudah berceceran membasahi tubuh mereka berdua. Keduanya berlomba-lomba mengambil pasokan oksigen. Dada mereka naik turun tidak beraturan. Baekhyun menatap wajah Chanyeol yang masih terengah-engah akibat kegiatan mereka barusan. Dia tertawa manis membuat Chanyeol terhipnotis dan refleks tertawa sambil mencium pipinya gemas.
"Kau yang terbaik" lirih Chanyeol menyatukan kening keduanya dengan lengan Baekhyun yang bersandar pada kedua pundaknya.
"Hm. Aku tau"
Dan mereka mendekatkan wajah sampai kedua belah bibir tersebut bertemu kembali.
"Jangan meninggalkanku" bisik Baekhyun sangat pelan tepat didepan bibir Chanyeol namun Chanyeol masih bisa mendengar sejelas mungkin.
Chanyeol mengusap samping kepala Baekhyun. Dia tersenyum lembut dan berkata "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Byun Baekhyun.."
.
.
.
.
Sehun mencoba berkonsentrasi dengan bukunya sejak dia mendudukan kursinya di bangku perpustakaan. Namun apa daya jika seseorang yang ikut duduk disebelahnya memiliki aura gelap? Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol. Si Ketua penguasa sekolah yang sempat ribut dengannya beberapa bulan yang lalu.
Chanyeol memang tidak suka keperpustakaan. Ingat dia sangat benci dengan kertas-kertas tebal yang berbau seperti orang tua. Tapi ada satu hal yang membuat pria jangkung itu betah duduk manis dengan tenang disini sambil mengarahkan tatapan tajamnya pada pria mungil di ujung rak sana. Berdiri berdampingan bersama dengan sepupunya—Xi Luhan.
"Oh Sehun. Apa kau sudah pernah bercinta?" pertanyaan spontan Chanyeol dengan nada dingin langsung membuat Sehun tersedak botol air minum yang baru saja diteguk.
Sehun mengelap bekas hujan lokalnya dengan gelagapan. Dia membetulkan letak kacamatanya lalu meneguk ludahnya susah payah. Kenapa tiba-tiba Chanyeol mengatakan hal seperti itu padanya? Apa mungkin Chanyeol ingin mengajaknya—Ah! Tentu saja tidak!
"A—aku tidak pernah berbuat yang seperti itu Chanyeol-ssi" tutur Sehun dengan wajah merona.
Chanyeol mencibir, tersenyum penuh kemenangan. "Artinya kau kalah!"
"Maaf—maksudmu?"
"Jadi kau belum pernah bercinta?" Chanyeol bertanya sekali lagi. Kali ini merubah posisi duduknya menghadap si Kacamata.
Sehun menggeleng beberapa kali dengan wajah polos. Chanyeol kembali tersenyum layaknya seorang ahjjusi mesum yang hendak mengajari bocah berumur lima tahun mengenai seputar seks. Sehun sempat terdiam. Namun suatu hal terlintas di benaknya. Membuat dia terkejut dan mengeluarkan isi pikirannya.
"Tunggu! Jadi kau dan Baekhyun sudah—" Sehun tidak sempat melanjutkan kalimatnya. Dia hanya terlalu-tercengang-sampai-membuka-mulutnya-lebar-lebar. Bola matanya serasa ingin keluar dari tempat seharusnya.
Chanyeol mulai tersenyum aneh.
"Cobalah lakukan itu dengan Luhan" saran Chanyeol lalu menepuk pundak Sehun sok bersahabat.
Oh, jadi kalian berdua sudah sangat akrab begitu? Padahal niat Chanyeol hanya ingin bersombong ria saja. Dia terlalu malu untuk pamer pada Chen, Kai, dan Kris yang selalu melakukan itu dengan para kekasih mereka.
"Apa?! Tentu saja tidak Chanyeol-ssi!" pekik Sehun histeris.
"Yang benar saja! Kenapa tidak? Kau belum mengetahui kenikmatan didalamnya Kacamata!"
Sehun kembali menggeleng. "Luhan-ssi adalah temanku mana mungkin aku melakukan hal itu padanya"
"Mwo?! Teman?" sahut Chanyeol dan sontak semua murid pengunjung perpustakaan menoleh kearahnya.
Chanyeol berdecak pelan dengan ekspresi kesal. "Teman?! Kau bukan kekasihnya? Lalu kenapa kalian sangat dekat?" ujarnya merendahkan suara seolah berbisik.
"Kami hanya teman"
"Tapi kau menyukainya-kan?"
Sehun tidak menjawab. Entah kenapa pembicaraannya dengan Chanyeol lumayan nyaman. Tapi sekarang dia merasa terpojok secara tidak langsung. Sehun sendiri sebenarnya mempunyai perasaan khusus terhadap Xi Luhan. Dia ingin menyampaikannya. Namun dia selalu ragu.
"Emhh.. Chanyeol-ssi. Apakah sebelumnya Luhan-ssi sudah pernah berciuman?" tanya Sehun dengan sikap kikuk.
"Tidak"
"Apa? Tapi, dia mengatakan sudah.."
"Kalau kau ingin tahu siapa yang sudah pernah berciuman dengan Luhan sejak dulu jawabannya adalah ayahku. Paham?"
Mata Sehun kembali melebar. Jadi Luhan belum benar-benar mendapatkan ciuman manis dari seseorang yang disukainya. Berarti waktu itu hampir saja Sehun mendapatkan ciuman pertama Luhan. Hanya saja tidak jadi karena Kris datang dan membawa Luhan pulang. Sehun sempat menyesal namun sekarang seulas senyum mengembang dibibirnya. Chanyeol menoleh melihat Sehun tersenyum sendiri tidak jelas. Dia menghembuskan nafas setengah tertawa.
"Kurasa kalian benar-benar bodoh! Sama-sama menyukai satu sama lain tapi masih saja bersikap polos. Lebih baik kau cepat-cepat memiliki si cerewet itu sebelum ada yang mendekatinya lagi! Kelihatannya Kacamata sepertimu tidak buruk juga" papar Chanyeol dan beranjak dari tempatnya.
Sehun tertegun mendengar saran Chanyeol. Dia tersenyum sambil menatap Chanyeol yang berjalan mendekati teman masa kecilnya—Baekhyun. Pemuda itu langsung dirangkul mesra oleh Chanyeol dihadapan seluruh murid SM SHS yang ada di perpustakaan. Chanyeol menggeret leher Baekhyun gemas keluar ruangan megah ini sambil membisikkan kata-kata gombal yang membuat Baekhyun mencubit lengannya.
Sementara Luhan tersenyum maklum saat Baekhyun hendak pamit. Tidak berapa lama tatapannya bertemu dengan mata indah milik Oh Sehun. Mereka saling bertatapan lama sebelum akhirnya Luhan menarik sudut bibirnya. Tangan mulus itu melambai kecil tanpa cela pada si Kacamata. Sehun mencoba untuk tidak ragu lagi. Dia harus lebih berani dengan Luhan jika ingin mendapatkan hati namja itu seutuhnya.
.
.
"Byun Baekhyun, Seonsangnim ada perlu denganmu. Bisa ikut saya sebentar?" tanya Choi Seonsangnim pada Baekhyun.
"Ah, baiklah" Baekhyun menurut lalu melepaskan genggaman tangan Chanyeol darinya.
Namun tubuhnya tiba-tiba tertarik kebelakang oleh sebuah tangan. Choi Seonsangnim menatap cukup sangar perbuatan Chanyeol. Sementara Tuan Park hanya memandangnya datar. Tidak berniat mengucapkan apapun lalu menarik pergelangan tangan Baekhyun menjauh.
"Yak! Tuan Park!" sahut Choi Seonsangnim galak.
Chanyeol berhenti berjalan lalu berbalik malas. Choi Seonsangnim berjalan dengan tegap dihadapannya. Chanyeol memang penguasa disini. Tapi sudah beberapa bulan yang lalu Park Haraboji datang kesekolah ini dan mengatakan pada semua guru untuk tidak takut pada setiap ucapan cucu bengalnya.
"Apa?" acuh Chanyeol sementara Baekhyun sudah ketakutan karena Choi Seonsangnim merupakan salah satu guru ter-killer disekolah. Bisa sajakan dia juga ikut kena masalah akibat tindakan kekasih bodohnya ini?
"Kau mau membawa Tuan Byun kemana? Saya sedang ada urusan dengannya!"
"Apa urusanmu?" tanya Chanyeol masih acuh.
"Dia harus membantu saya mengerjakan laporan minggu ini!"
Baekhyun menarik pelan lengan seragam Chanyeol dari belakang punggungnya. "Sudahlah Chanyeol. Lebih baik aku pergi membantu Choi Seonsangnim dulu. Nanti kita bisa bertemu lagi kan?" bisik Baekhyun gelisah.
Chanyeol menggeleng tanpa melepaskan tatapan dinginnya pada Choi Seonsangnim yang sama-sama saling menatap lekat penuh kebencian. Baekhyun merasa situasi ini sangat genting. Ingin rasanya dia melarikan diri dari pada harus melihat si jangkung berdebat dengan guru berbahaya.
Mata Chanyeol menangkap seseorang yang dirasa pantas untuk di jadikan tumbal. Sudut bibirnya tertarik dan dia segera memanggil namja itu tanpa peduli keinginannya—hendak melakukan pembullyan samar didepan gurunya.
"Ah! Yuta kau ternyata disini hobae manis!" sahutan Chanyeol membuat salah satu adik kelas yang namanya di panggil menoleh dengan ketakutan.
"Ya—ya.. Chanyeol sunbae?"
"Kau hobaeku yang paling rajin. Kemarilah!" titah Chanyeol memanggil Yuta penuh keramahan. Yuta mendekat dengan ragu. Baekhyun melotot lalu menarik lengan seragam Chanyeol kesal. Tapi Chanyeol malah mencengkram tangannya erat membuat Baekhyun meringis dalam diam. Dia sudah tahu bagaimana sifat Chanyeol jika seseorang menolak permintaannya. Kali ini pasti Chanyeol ingin memanfaatkan orang lagi. Dan herannya Chanyeol tidak takut melakukan hal itu didepan sang guru killer.
Chanyeol menarik tubuh Yuta dengan kasar. Meremas pundaknya sedikit sambil mendekatkan bibirnya pada telinga Yuta. "Bantu Choi Seonsangnim mengerjakan laporannya menggantikan Baekhyun! Tidak ada penolakan jika kau dan teman se-kelompokmu ingin pulang selamat hari ini! Ingat itu!"
Perintah Chanyeol yang seakan berubah menjadi mantra bagi namja itu. Yuta langsung mengangguk patuh dan berlari kearah Choi Seonsangnim sambil mendorong-dorong tubuh guru itu mengajaknya menjauh. Baekhyun menghela nafas lelah. Chanyeol tersenyum puas memandang wajah kekasihnya yang sudah kesal maksimal.
"Kajja kita keatap!" ajaknya dengan senyuman manis lalu kembali melangkah.
"Chanyeol!"
"Shit! Ada apa lagi?" geram Chanyeol dengan suara kecil.
"Ya! Mau kemana kau?" tanya Kai yang berjalan mendekat bersama Kris dan Chen.
"Bukan urusanmu" ketus si jangkung.
"Kenapa waktu itu kau tidak mengangkat teleponku bodoh?! Untung saja malam itu Baekhyun mengabariku dan langsung ketempatmu!"
"Aku tidak melihat ponselku sejak sabtu kemarin" jelas Chanyeol acuh.
"Tentu saja karena kau selalu berduaan dengan Baekhyun bukan? Kelihatannya kalian mesra sekali akhir-akhir ini" puji Kris sambil bersedekap.
Chanyeol tersenyum sinis kemudian menarik pundak Baekhyun mendekat pada tubuhnya. Baekhyun yang berbadan kurus hanya bisa oleng jatuh kedalam dekapan Chanyeol. sementara Chen memperhatikan kedua namja itu dengan pandangan datar tanpa minat. Sebenarnya dia cukup khawatir akan sesuatu saat ini. Tapi dia mencoba tenang agar tidak ketahuan oleh teman-teman sekelompoknya.
"Pasti mereka sudah melakukan seks. Lebih baik kita cepat tinggalkan dua makhluk bodoh ini. Aku sudah bosan memandang kemesraan mereka layak bocah ingusan" papar Chen dingin.
"Ya! Siapa yang kau katakan bodoh bocah ingusan brengsek?!"
Chen hanya berlalu sambil mengangkat tangannya. Mengibaskannya beberapa kali tanda tidak ingin mendengar omelan Chanyeol lebih lanjut.
"Kalian sudah—"
"Bukan urusanmu hitam. Sudah kami mau pergi!" potong Chanyeol dan langsung menarik lengan Baekhyun berlari menjauh dari Kai dan Kris.
"Ya! Sialan kau Park Chanyeol! Aku belum selesai bicara!"
Chanyeol dan Baekhyun terus berlari tanpa mengabaikan teriakkan Kai yang menggema dilorong. Chanyeol tertawa-tawa sangat puas karena berhasil membuat teman-temannya terkejut. Sedangkan Baekhyun hanya ikut menimpalinya dengan terkekeh kecil. Tidak berapa lama bel pun berbunyi. Baekhyun sempat berhenti saat hendak menapaki kakinya ke tangga keatas. Namun Chanyeol tetap menarik tangannya. Mengartikan bahwa dia sudah tidak sabar.
Baekhyun merenggut. Niatnya ingin merajuk tadi kalah dengan keinginan Chanyeol yang lebih egois. Dia lalu menyodorkan kelima jarinya.
"Lima menit saja"
"Sepuluh" koreksi Chanyeol dan menarik tangan Baekhyun menapaki tangga pertama.
Pintu atap terbuka. Chanyeol menutupnya kasar. Lalu tanpa banyak aba-aba lagi Chanyeol sudah mendorong tubuh Baekhyun pada pintu dan menciumnya rakus. Baekhyun juga tidak menolak. Dia lebih suka mengalungkan lengannya pada leher Chanyeol. Mendekap tubuh Chanyeol erat sambil terus melumat-lumat bibir kekasihnya.
Ciuman mereka terlepas sejenak dengan kening yang bertemu. Nafas memburu menyapa seluruh permukaan wajah mereka masing-masing. Mata Chanyeol turun kebawah menatap Baekhyun yang menaikkan pupil matanya. Mereka tersenyum secara bersamaan tanpa sengaja.
Lalu Chanyeol kembali mencium singkat bibir Baekhyun yang terbuka. Melumatnya sekali dan membisikkan sebuah kalimat dengan penuh ketulusan.
"Aku sangat mencintaimu Baekhyun"
.
.
.
Langit sudah berubah senja. Pelajaran terakhir pun di tutup dengan bunyi bel yang memekik di seluruh sudut ruangan SM SHS. Para murid berhambur-hambur keluar kelas meski ada beberapa yang masih setia bercengkrama di dalam.
"Baekhyun, kekasihmu sudah datang menjemput" ucap Sehun ketika melihat Chanyeol berdiri di depan pintu.
Baekhyun menoleh. Sudut bibirnya menukik keatas melihat Chanyeol yang berdiri menatap tajam semua siswa kelas Baekhyun yang hendak keluar. Beberapa dari mereka bahkan bingung memilih keluar kelas atau tetap didalam kelas karena tubuh tinggi Chanyeol memblokir jalan utama para siswa siswi itu keluar.
Baekhyun terkekeh kecil melihat pemandangan itu. Chanyeol masih saja di takuti ternyata. Sebenarnya dia senang Chanyeol menjemputnya tapi dia hanya berpura-pura cuek. Entah kenapa dia masih saja malu dengan fakta bahwa Park Chanyeol adalah kekasihnya. Meski tidak seharusnya dia bersikap seperti itu karena tadi siang mereka sempat melakukan sesi bercinta kilat di atap.
Baekhyun sendiri heran dengan perasaannya yang mulai berubah akhir-akhir ini. Dia merasa menginginkan lebih seorang Park Chanyeol seutuhnya. Memilikinya. Mengklaimnya. Bahkan jika dia boleh memasang label pada tubuh Chanyeol dia akan melakukakn itu tanpa segan. Namun yang terpenting dari semua itu adalah mencintai Park Chanyeol dengan segala hal yang bisa Baekhyun berikan pada pria itu.
Baekhyun akui dia sudah jatuh cinta terlalu dalam pada pria berandal tersadis disekolah ini.
"Maaf lama menunggu" ucapnya sambil tersenyum manis pada Chanyeol yang seketika membeku di tempat.
"Ada apa? Apa ada yang aneh diwajahku?" heran Baekhyun dan mulai meraba-raba pipinya.
"Ada" jawab Chanyeol singkat.
Mata Baekhyun membulat. Dia mulai bergerak gelisah didepan Chanyeol. Mata pria itu begitu tajam memandang wajah Baekhyun. Membuat Baekhyun merona sambil terus mengusap-usap wajahnya kebingungan.
"Kau tidak bercanda kan? Bagian mana yang aneh?"
Baekhyun panik karena Chanyeol masih menatapnya lekat. Dirinya tidak ingin terlihat jelek didepan kekasihnya. Namun semua pikiran konyol akan sesuatu-yang-Chanyeol-sebutkan-aneh-ada-diwajahnya menghilang begitu saja ketika Chanyeol menangkupkan tangan kanannya pada pipi Baekhyun. Lalu entah bagaimana semua terjadi semudah itu bagi Tuan Park untuk mendaratkan bibirnya pada bibir si mungil. Tepat di pintu depan kelas!
Beberapa yeoja memekik iri dan beberapa ada yang terlihat antusias pada hubungan terlarang yang Chanyeol dan Baekhyun miliki. Mereka langsung mengeluarkan ponselnya hendak mengabadikan adegan kissing tersebut. Namun belum sempat mereka melakukannya Chanyeol sudah mendekap erat tubuh mungil Baekhyun dan membawanya pergi.
Yeoja-yeoja itu merengek kecewa. Sementara Oh Sehun yang sedari tadi berdiri dibelakang Baekhyun. Menyaksikan ciuman live itu hanya bisa berdiri membatu.
"Chanyeol! Kenapa kau berani sekali melakukan hal itu?!" histeris Baekhyun menutup mulutnya dengan rona padam.
Chanyeol hanya tertawa keras. Membuat Baekhyun semakin merenggut dan mulai melepaskan genggamannya dari tangan Chanyeol. Pria jangkung itu terlihat sangat menikmati ekspresi malu-malu kesal Baekhyun yang selalu menjadi bagian ter-favoritnya. Chanyeol mengulurkan tangannya. Merangkul kembali leher Baekhyun gemas lalu mencium kepala samping Baekhyun sambil berjalan menyusuri lorong sekolah.
"Aigo.. Kau manis sekali Byun Baek"
"Hentikan! Kau membuatku malu!"
"Benarkah? Kurasa tidak"
"Tentu saja! Aku tidak suka kau berbuat begitu didepan teman-temanku"
"Tapi aku suka"
"Ya!"
"Oh, aku mengerti. Jadi sebaiknya kita diam-diam saja jika ingin berciuman begitu?"
"Bu— bukan begitu maksudku—"
"Tenyata kau memang sangat mesum Baekki"
"Tidak! Bukan begitu! Kau salah memahami arti dari perkataan yang kumaksud Park Babo!"
"Kenapa aku harus? Yang kutahu kau hanya akan selalu merona jika kucium dimana saja. Benarkan?"
Baekhyun skakmat. Dia tidak menjawab lebih lanjut kalimat yang dilontarkan Chanyeol. Pipinya kembali memanas mengingat kejadian tadi. Kepalanya menunduk dalam menyembunyikan rona wajahnya dari sang kekasih. Chanyeol terkekeh kecil melihat sikap Baekhyun yang suka berubah-ubah mooddengan cepat. Baginya Baekhyun yang seperti ini terlihat sangat manis .
"Maksudku.. kau boleh menciumku. Tapi tidak didepan orang-orang babo. A—aku malu.." ungkap Baekhyun dan Chanyeol mengangguk mengerti.
"Baiklah. Maafkan aku Baby" pinta Chanyeol sambil tersenyum mencium tangan mungil yang digenggamnya. Baekhyun menoleh dan mengangguk malu-malu.
Chanyeol bersumpah dia ingin seperti ini selamanya dengan kekasihnya. Menatap wajah Baekhyun yang berkali-kali membuatnya jatuh cinta pada apapun perubahan sikapnya. Chanyeol tidak ingin kehilangan senyuman manis itu. Dia ingin selamanya melihat senyuman diwajah cantik Byun Baekhyun.
"Ternyata kalian baru keluar kelas" ucap Kai yang datang menghampiri BaekYeol bersama Kris dan Chen.
"Mana Luhan?"
"Aku disini! Ya! Ternyata kau sangat mesum babo! Kelas 12-2 jadi sangat heboh akibat ulahmu!" amuk Luhan yang baru saja datang bersama Sehun dan langsung memukul singkat kepala Chanyeol dari belakang.
"Ya! Tidak ada yang berhak melarangku mencium Baekhyun! Dia kekasihku!" sungut Chanyeol dan mereka pun tertawa entah mengapa.
"Aih... Berhentilah membuatku malu Chanyeol-ah" bisik Baekhyun namun kali ini Chanyeol yang tertawa aneh. Membuat para penguasa sekolah lainnya mengernyit heran akan tingkah bodoh Park Dobi satu ini.
"KYAAA! Akhirnya ketemu juga!" sebuah sahutan melengking mengagetkan para namja tampan yang sedang berdiri tepat di luar gedung sekolah SM SHS.
"Ap—"
"Kai-ah! Aku merindukanmuuuu!" jerit seorang yeoja berambut panjang sambil memeluk tubuh Kai dari belakang.
Kai yang terkejut sontak menoleh dan mendapatkan wajah cantik menyapa pengelihatannya. Matanya melebar ketika mengenali sosok wanita yang telah memeluknya erat. Para penguasa sekolah sontak terdiam kaku mematung seolah waktu memberhentikan rotasi dunia saat melihat rupa yeoja itu. Suasana entah mengapa menjadi hening mencekam bagi para pria tampan yang masih berdiri pada tempatnya.
Beberapa murid-murid yang berkeliaran di halaman sekolah menampilkan wajah yang tidak jauh berbeda dengan para penguasa sekolah. Mereka cukup terkejut dengan kembalinya gadis itu. Tidak heran jika mereka berbisik-bisik sambil memandang sang yeoja yang sepertinya terlalu acuh ketika dirinya telah menjadi pusat perhatian seluruh murid SM SHS.
"Kau.."
"Ternyata aku tidak salah! Ini memang kau Kai! Kenapa kau semakin tampan kkamjong?" tanyanya dengan senyuman manis.
"Ya! Kau—"
"Kulit eksotismu membuatku mengenalimu terlebih dahulu" lanjutnya tanpa mendengarkan omelan yang hendak Kai keluarkan. Kelihatannya seharian ini ucapan Kai selalu cepat diabaikan oleh lawan bicaranya.
Kepala yeoja itu berputar dan matanya menangkap pria tinggi nan tampan dihadapannya.
"Ah! Kris Oppa! Apa kabar?" sahut yeoja itu yang membuat Kris menatapnya tidak percaya bahkan ketika dia telah dipeluk erat olehnya.
"Kau juga semakin tampan. Aku merindukanmu Oppa. Kenapa kau tidak pernah meleponku?"
Kris tidak menjawab dia lebih suka menatap tajam sedingin mungkin yeoja yang masih melingkarkan lengan ditubuhnya. Kepala yeoja itu menoleh ketika mendapati Luhan disebelah Kris dan Chen disampingnya.
"Hai Chennie~" sapanya sementara Chen hanya mendengus pura-pura tidak tertarik atau bahkan peduli dengan yeoja yang baru saja datang dan semalam menghabiskan waktu bersamanya.
"Luhan Oppa! Kau semakin manis saja. Tidak pernah membuatku berhenti iri padamu" ungkapnya lalu merapatkan tubuhnya pada Kris seolah merengek.
"Kau... Kenapa—kau kembali?" tanya Luhan merasakan lidahnya kelu untuk semua kalimat yang hendak dia keluarkan. Luhan membulatkan matanya lebar-lebar dengan alis yang berkerut heran.
"Karena aku merindukan kalian. Makanya aku kembali!" paparnya menunjukkan seulas senyuman menawan.
Gadis itu mengedarkan pandangannya. Mata tajam layaknya seekor kucing menangkap sosok seorang pemuda yang masih saja berdiri kaku tidak begitu jauh darinya. Pemuda itu tetap tidak bergeming dengan ekpresi yang cukup memuakkan. Layaknya orang bodoh yang baru pertama kali melihat seorang dewi turun dari khayangan. Tubuhnya menegang dan nafasnya tercekat ditenggorokannya sendiri. Dirinya seolah menatap pemandangan yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya. Tidak bisa dideskripsikan bagaimana kondisi Park Chanyeol hanya bisa berdiam diri. Dengan mata saling bertatapan dengan gadis dihadapannya saat ini.
"Seulgi..."
Ucap Chanyeol sedikit berbisik. Bahkan tubuhnya bergetar saat menyebutkan nama itu. Sudut bibir gadis cantik itu tertarik keatas.
"Park Chanyeol" sapa gadis bermata kucing itu dengan nada rendah. Seakan nama pemuda tersebut tidak pernah terucap dari bibirnya. Sungguh lembut dan penuh siratan akan kerinduan terpendam.
Sang gadis cantik bernama Seulgi itu berjalan cepat kearah Chanyeol yang masih diam membeku. Dengan gerakan sangat cepat dan tiba-tiba. Lengan kurus itu sudah melingkar sempurna pada leher sang pria jangkung. Sampai pada akhirnya gerakan spontan tersebut mempertemukan 'sesuatu' yang menghasilkan wajah tercengang beberapa manusia disana.
"Hahhh..." Chen menghela nafas berat sambil bersandar bersedekap pada pintu mobil setelah sedari tadi menjauh ketika Seulgi datang. Diantara para murid yang masih tercengang. Kelihatannya hanya dia yang bersikap biasa saja. Pria yang memiliki senyuman joker itu sudah tahu akan seperti ini jadinya jika yeoja bermata kucing itu kembali.
Sedetik kemudian, semua pasang mata yang masih setia menjadi penonton di lingkungan sekolah bersuara riuh. Beberapa yeoja memekik histeris, bahkan ada yang berteriak heboh kesetanan melihat adegan Ketua Park dengan seorang yeoja asing yang tidak di kenal.
"Sial... Dia mulai terlihat sangat menyedihkan" lirih Chen berwajah datar.
Ah, ada satu fakta yang terlupakan—Baekhyun masih berdiri di belakang Chanyeol. Dan tangan mungilnya masih dalam genggaman hangat seorang Park Chanyeol.
Yang nyatanya dihadapannya saat ini kekasihnya sedang berciuman melepas rindu oleh gadis cantik bernama Seulgi.
.
.
.
.
TBC
Review?
